EVALUASI PENERAPAN SISTEM MANAJEMEN MUTU PERSEDIAAN BARANG JADI DENGAN ELEMEN-ELEMEN ISO 9002

125  Download (0)

Teks penuh

(1)

EVALUASI PENERAPAN SISTEM MANAJEMEN MUTU PERSEDIAAN BARANG JADI DENGAN ELEMEN-ELEMEN ISO 9002

Studi Kasus di PC Gabungan Koperasi Batik Indonesia,Sleman,Yogyakarta

S K R I P S I

Diajukan untukMemenuhi Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Akuntansi

Program Studi Akuntansi

Oleh :

Lidwina Gita Angesti NIM : 162114068

PROGRAM STUDI AKUNTANSI FAKULTAS EKONOMI UNIVERSITAS SANATA DHARMA

YOGYAKARTA 2020

(2)

i

EVALUASI PENERAPAN SISTEM MANAJEMEN MUTUPERSEDIAAN BARANG JADI DENGAN ELEMEN-ELEMEN ISO 9002

Studi Kasus di PC Gabungan Koperasi Batik Indonesia, Sleman,Yogyakarta

S K R I P S I

Diajukan untukMemenuhi Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Akuntansi

Program Studi Akuntansi

Oleh :

Lidwina Gita Angesti NIM : 162114068

PROGRAM STUDI AKUNTANSI FAKULTAS EKONOMI UNIVERSITAS SANATA DHARMA

YOGYAKARTA 2020

(3)
(4)
(5)

iv

HALAMAN PERSEMBAHAN

“Segala perkara dapat kutanggung di dalam Dia yang memberi kekuatan kepadaku”

(Filipi 4:13)

“Pertolonganku ialah dari TUHAN, yang menjadikan langit dan bumi. Ia takkan membiarkan kakimu goyah, Penjagamu tidak akan terlelap”

(Mazmur 121:2-3)

“Dia memberi kekuatan kepada yang lelah dan menambah semangat kepada yang tiada berdaya”

(Yesaya 40:29)

Kupersembahkan untuk :

Tuhan Yesus Kristus Bunda Maria Kedua orangtuaku Agus Haryadi dan Valentina Tri Yati Adikku Hieronimus Pandu Bramantyo Keluarga Besarku Sahabat-sahabatku Keluarga Besar Akuntansi FE USD Angkatan 2016

(6)
(7)
(8)

vii

KATA PENGANTAR

Puji syukur dan terima kasih ke hadirat Tuhan Yang Maha Esa, yang telah melimpahkan rahmat dan berkatNya kepada penulis sehingga dapat menyelesaikan skripsi ini. Penuliasan skripsi ini bertujuan untuk memenuhi salah satu syarat untuk memperoleh gelar sarjana pada Program Studi Akuntansi, Fakultas Ekonomi Universitas Sanata Dharma.

Penulis mendapat bantuan dalam menyelesaikan skripsi ini, serta bimbingan dan arahan dari berbagai pihak. Oleh karena itu penulis mengucapkan terima kasih yang tak terhingga kepada :

1. Drs. Johanes Eka Priyatama, M. Sc. Phd selaku Rektor Universitas Sanata Dharma yang telah memberikan kesempatan untuk belajar dan mengembangkan kepribadian kepada penulis.

2. Dr.Firma Sulistiyowati, Ak., QIA., CA selaku Ketua Jurusan Akuntansi Universitas Sanata Dharma Yogyakarta.

3. Dr. FA. Joko Siswanto, MM., Ak., QIA., CA selaku Dosen Pembimbing Skripsi yang telah membantu dan membimbing penulis dalam menyelesaikan skripsi.

4. Ir. Drs. Hansiadi Yuli Hartanto, M.Si., Ak., QIA., CAselaku Dosen Pembimbing Akademik yang telah membimbing dan memberikan arahan kepada penulis dalam perkuliahan pada semester satu sampai tujuh.

5. Orang tua penulis yang telah memberikan dukungan semangat dan doa yang tiada henti kepada penulis hingga skripsi ini dapat terselesaikan.

(9)

viii

6. Bapak Hikmat selaku HRD, Ibu Rita, Bapak Muzabih, Ibu Een selaku responden, dan seluruh karyawan PC Gabungan Koperasi Batik Indonesia yang telah memberikan izin penelitian serta memberikan data yang dibutuhkan penulis.

7. Hieronimus Pandu Bramantyo yang selalu mengingatkan dan memberi semangat selama proses penulisan skripsi ini.

8. Claudia Retno Widanti, Eka Andhita N.Y., Monita Aprilia, Linda Marcella, Brigita Novensa K., Budi Setio A., Brigita Arista P., Fr. Alexander Roy K., dan Maria Chintyayang selalu ada untuk membantu dan memberikan semangat, doa,dan waktu kepada penulis untuk menyelesaikan skripsi dan menjadi sahabat terbaik selama ini.

9. Keluarga besar PSM Cantus Firmus yang selalu memberikan semangat bagi penulis, dan menjadi tempat berkembang bagi penulis selama masa perkuliahan.

10. Keluarga Pakdhe Bambang, Budhe Nana, Canggih, Gemma, dan Dipo yang menjadi keluarga baru, memberikan motivasi dan semangat bagi penulis selama pandemi Covid 19.

11. Keluarga besar Brayat Mbah Prawiro dan Mbah Tumpal yang selalu memberikan dukungan doa dan semangat bagi penulis.

12. Teman-teman seperjuangan MPAT yang sealu memberikan semangat dan bantuan selama masa penulisan.

13. Paguyuban Sleman Barat, Rea dan Mas Gilang yang menjadi penghibur ketika penulis membutuhkan hiburan dikala penulisan skripsi.

(10)
(11)

x DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL ... i

HALAMAN PERSETUJUAN PEMBIMBING...ii

HALAMAN PENGESAHAN ... iii

HALAMAN PERSEMBAHAN ... iv

PERNYATAAN KEASLIAN KARYA TULIS SKRIPSI ... v

LEMBAR PERNYATAAN PERSETUJUAN ... vi

KATA PENGANTAR ... vii

DAFTAR ISI ... x

DAFTAR TABEL ... xii

DAFTAR GAMBAR ... xiv

ABSTRAK ... xv

ABSTRACT ... xvi

BAB I PENDAHULUAN ... 1

A. Latar Belakang Masalah ... 1

B. Rumusan Masalah ... 3

C. Tujuan Penelitian ... 3

D. Manfaat Penelitian ... 4

E. Sistematika Penulisan... 4

BAB II TINJAUAN PUSTAKA ... 6

A. Sistem Manajemen Mutu ... 6

B. Persediaan ... 29

C. Evaluasi...34

BAB III METODE PENELITIAN ... 37

A. Jenis Penelitian ... 37

B. Subjek dan Objek Penelitian ... 37

C. Waktu dan Tempat Penelitian ... 38

D. Teknik Pengumpulan Data ... 38

E. Data yang diperlukan ... 40

F. Teknik Analisis Data ... 40

BAB IV GAMBARAN UMUM PERUSAHAAN ... 43

(12)

xi

B. Visi dan Misi Perusahaan ... 44

C. Struktur Organisasi dan Uraian Tugas ... 45

D. Produk-Produk Pabric Cambric Gabungan Koperasi Indonesia ... 47

BAB V ANALISIS DATA DAN PEMBAHASAN ... 48

A. Melakukan Survey Pendahuluan ... 48

B. Deskripsi Data Hasil Checklist dan Wawancara mengenai Penerapan Sistem Manajemen Mutu Persediaan Barang Jadi ... 48

C. Analisis Hasil Checklist dan Wawancara mengenai Penerapan Sistem Manajemen Mutu Persediaan Barang Jadi dengan Elemen-elemen ISO 9002 di PC Gabungan Koperasi Batik Indonesia...51

D. Evaluasi Perbandingan Penerapan Sistem Manajemen Mutu Persediaan Barang Jadidi PC Gabungan Koperasi Batik Indonesia denganSistem Manajemen Mutu ISO 9002 ... 66

BAB VI PENUTUP ... 94 A. Kesimpulan ... 94 B. Keterbatasan Penelitian...96 C. Saran ... 95 DAFTAR PUSTAKA ... 96 LAMPIRAN ... 98

(13)

xii

DAFTAR TABEL

Halaman

Tabel 1. Tingkat Pencapaian/Skor Kuesioner ... 41

Tabel 2. Tabulasi data checklist pada elemen Tanggung Jawab Manajemen ... 52

Tabel 3. Tabulasi data checklist pada elemen Sistem Mutu ... 53

Tabel 4. Tabulasi data checklist pada ElemenPengendalian Dokumen Data ... 54

Tabel 5. Tabulasi data checklist pada elemen Pengendalian Produk yang Dipasok Milik Pelanggan ... 55

Tabel 6. Tabulasi data checklist pada elemen Identifikasi dan Kemampuan Penelusuran Produk ... 57

Tabel 7. Tabulasi data checklist pada elemen Inspeksi dan Pengujian ... 58

Tabel 8. Tabulasi data checklist pada elemen Pengendalian Inspeksi, Pengukuran, dan Peralatan Uji ... 59

Tabel 9. Tabulasi data checklist pada Elemen Status Inspeksi Uji ... 60

Tabel 10. Tabulasi data checklist pada Elemen PengendalianProduk Nonkonformans ... 61

Tabel 11. Tabulasi data checklist pada Elemen Penanganan,Penyimpanan, Pengepakan, Pemeliharaan/Pengawetan, dan Penyerahan. ... 62

Tabel 12. Tabulasi data checklist pada Elemen Pengendalian Catatan Kualitas .. 63

Tabel 13. Tabulasi data checklist pada Elemen Audit Kualitas Internal ... 65

Tabel 14. Perbandingan antara Penerapan Sistem Manajemen Mutu di PC GKBI dengan Elemen Tanggung Jawab Manajemen dalam ISO 9002 ... 68

(14)

xiii

Tabel 15. Perbandingan antara Penerapan Sistem Manajemen Mutu di PC GKBI dengan Elemen Sistem Mutu dalam ISO 9002. ... 72

Tabel 16. Perbandingan antara Penerapan Sistem Manajemen Mutu di PC GKBI dengan Elemen Pengendalian Dokumen Data dalam ISO 9002. ... 74

Tabel 17. Perbandingan antara Penerapan Sistem Manajemen Mutu di PC GKBI dengan Elemen Produk yang Dipasok Milik Pelanggan dalam ISO 9002. ... 76

Tabel 18. Perbandingan antara Penerapan Sistem Manajemen Mutu di PC GKBI dengan Elemen Identifikasi dan Kemampuan Penelusuran dalam ISO 9002. ... 78

Tabel 19. Perbandingan antara Penerapan Sistem Manajemen Mutu di PC GKBI dengan Elemen Inspeksi dan Pengujian ISO 9002. ... 80

Tabel 20. Perbandingan antara Penerapan Sistem Manajemen Mutu di PC GKBI dengan Elemen Pengendalian Inspeksi, Pengukuran, Peralatan Uji dalam ISO 9002. ... 82

Tabel 21. Perbandingan antara Penerapan Sistem Manajemen Mutu di PC GKBI dengan Elemen Status Inspeksi Uji dalam ISO 9002. ... 84 Tabel 22. Perbandingan antara Penerapan Sistem Manajemen Mutu di PC GKBI dengan Elemen Pengendalian Produk Nonkonformans dalam ISO 9002. ... 86

Tabel 23. Perbandingan antara Penerapan Sistem Manajemen Mutu di PC GKBI dengan Elemen Penanganan, Penyimpanan, Pengepakan, Pemeliharaan/Pengawetan, dan Penyerahan dalam ISO 9002. ... 88

Tabel 24. Perbandingan antara Penerapan Sistem Manajemen Mutu di PC GKBI dengan Elemen Pengendalian Catatan Kualitas dalam kerangka ISO 9002. ... 90

Tabel 25. Perbandingan antara Penerapan Sistem Manajemen Mutu di PC GKBI dengan Elemen Audit Kualitas Internal dalam ISO 9002. ... 92

(15)

xiv

DAFTAR GAMBAR

Halaman

Gambar 1. Pengencekan barang sebelum diserahka ke konsumen...104

Gambar 2. GKM Unit Niaga...105

Gambar 3. Target Unit Niaga...105

Gambar 4. GKM Unit Finishing...106

Gambar 5. Target unit Finishing...106

Gambar 6. Order Pengeluaran Barang...107

Gambar 7. Standar Oprasional Prosedur ...108

Gambar 8. Kegiatan Produksi Finishing...109

Gambar 9. Nota Pengeluaran Barang...109

Gambar 10. Rekapan Packing List...110

(16)

xv ABSTRAK

EVALUASI PENERAPANSISTEM MANAJEMEN MUTU PERSEDIAAN BARANG JADI DENGANELEMEN-ELEMEN ISO 9002

(Studi Kasus di PC Gabungan Koperasi Batik Indonesia, Sleman, Yogyakarta)

Lidwina Gita Angesti 162114068

Universitas Sanata Dharma Yogyakarta

2020

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui penerapan sistem manajemen mutu atas persediaan barang jadi yang dilakukan PC Gabungan Koperasi Batik Indonesia ditinjau dari Sistem Manajemen Mutu ISO 9002. Penelitian ini penting dilakukan agar perusahaan dapat mengetahui dan mengevaluasi sistem manajemen mutu yang telah diterapkan.

Jenis penelitian ini adalah studi kasus dengan menggunakan metode deskriptif komparatif dengan pendekatan kualitatif yaitu membandingkan sistem manajemen mutu di PC Gabungan Koperasi Batik Indonesia dengan sistem manajemen mutu ISO 9002dan mendeskripsikan hasil analisis. Teknik pengumpulan data yang digunakan yaituobeservasi, checklist, wawancara, dan dokumentasi.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa sistem manajemen mutu persediaan barang jadi yang diterapkan oleh perusahaan sudah sesuai dengan sistem manajemen mutu ISO 9002.

(17)

xvi ABSTRACT

EVALUATION OFQUALITY MANAGEMENT SYSTEM WITH ELEMENTS ISO 9002

(Case Study at PC Gabungan Koperasi Batik Indonesia, Sleman, Yogyakarta)

Lidwina Gita Angesti 162114068

Universitas Sanata Dharma Yogyakarta

2020

This research aims to study the implementation of a quality management system for finished goods inventory by the PC Gabungan Koperasi Batik Indonesia in terms of control standards according to ISO 9002. This research is important to be carried out so that companies can know and evaluate the internal controls that have been implemented.

The type of this research is a case study using a comparative descriptive method with qualitative considerations comparing standard to ISO 9002 and describing the results of the analysis. The data collection techniques used were interviews, observation, checklist, and documentation.

The result showes that the finished goods intventory quality management system implemented by the company is appropriate based on the quality management system ISO 9002.

(18)

1 BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah

Perusahaan industri adalah perusahaan yang kegiatannya mengolah bahan baku menjadi barang jadi.Sucipto, dkk (2011 : 73). Barang jadi tersebut kemudian dijual kepada konsumen. Perusahaan industri bertindak sebagai produsen dimana menjadi tempat produksi yang akan menawarkan produknya kepada konsumen melalui distributor, agen, atau toko.

Produk atau persediaan yang dihasilkan merupakan kekayaan yang dimiliki oleh perusahaan, maka persediaan berperan penting dalam bersaing dengan perusahaan sejenis. Persaingan yang ketat ini mengharuskan perusahaan untuk mengelola sumber daya yang dimiliki seoptimal mungkin agar perusahaan dapat bersaing, dan menghasilkan produk yang diminati oleh konsumen dengan kualitas baik dan harga yang terjangkau.Menurut Pontoh 2013:312 dalam Jurnal EMBA Vol. 2 No. 3 September 2014, Hal. 022-029, persediaan adalah sebuah aset yang vital bagi sebuah organisasi bisnis, dimana dengan penggunaan asset yang optimal, dapat membantu sebuah organisasi bisnis untuk mencapai tujuannya yaitu laba. Dengan pengelolaan yang optimal, maka persediaan yang dihasilkan memiliki kualitas yang optimal. Kualitas atau mutu harus diperhatikan dalam proses produksi dari bahan mentah hingga menjadi bahan jadi, maka dari itu perluadanya sistem manajemen mutu dalam suatu organisasi atau perusahaan dalam menjalankan kegiatan usahanya. Kondisi persediaan

(19)

yang rentan terjadi penyelewengan, dan kerusakanmenyebabkan persediaan perlu diolah dengan baik. Pengawasan terhadap persediaan dalam perusahaan mutlak diperlukan, karena persediaan merupakan sumber penghasilan bagi perusahaan melalui penjualannya. Sistem manajemen mutu dalam suatu entitas berperan dalam mengawasi, mengarahkan, dan mengendalikan dalam hal mutu atau kualtias.

Menurut Saleh dan Safitri (2015 : 38) Sistem Manajemen Mutuadalah sistem yang digunakan untuk menetapkan kebijakan (pernyataan resmi oleh manajemen puncak berkaitan dengan perhatian dan arah organisasinya di bidang mutu dan sasaran mutu (segala sesuatu yang terkait dengan mutu dan dijadikan sasaran atau target pencapaian dengan menetapkan ukuran atau kriteria pencapaiannya). Sistem manajemen mutu menurut ISO 9000 merupakan sistem manajemen untuk mengarahkan dan mengendalikan organisasi dalam hal mutu. Dengan adanya sistem manajemen mutu, perusahaan dapat mengatur hubungan antara pemasok (supplier), lembaga, dan konsumen.

PC GKBI (Gabungan Koperasi Batik Indonesia) merupakan perusahaan yang bergerak di bidang tekstil yang berdiri sejak 17 Juli 1962 yang beralamat di Jl. Magelang KM 14,5 Sleman, Yogyakarta. Persediaan merupakan salah satu aset di PC GKBI dan menjadi sumber utama pendapatan. Peran sistem manajemen mutu dalam perusahan sangatlah penting dalam meningkatkan sistem mutu persediaan barang jadi sebagai aset perusahaan. Sistem manajemen mutu yang efektif dapat membantu

(20)

perusahaan dalam melakukan produksi, inspeksi, dan instalasi. Penulis menggunakan ISO 9002 yang sudahditerapkan perusahaan dalam menjalankan kegiatan usahanyauntuk mengetahui apakahsistem manajemen mutu yang diterapkan di PC GKBIsudah sesuai dengan sistem manajemen mutu menurut elemen-elemen ISO 9002 yang berkaitan tentang persediaan barang jadi pada bagian produksi atau finishing, niaga, dan bagian gudangserta menilai penerapan sistem manajemen mutu di PC GKBI sudah sesuai denganISO 9002.

Berdasarkan uraian-uraian yang ada mengenai sistem manajemen mutu pada persediaan barang jadi di PCGKBI, maka penulis tertarik untuk meneliti penerapan sistem manajemen mutu persediaan barang jadi dengan elemen-elemen ISO 9002 yang berkaitan dengan persediaan barang jadi.

B. Rumusan Masalah

Apakah penerapan sistem manajemen mutupersediaan barang jadi di PCGKBI sudah sesuai dengan elemen-elemen ISO 9002?

C. Tujuan Penelitian

Untuk mengetahui apakah penerapan sistem manajemen mutupersediaan barang jadidi PCGKBIsudah sesuai dengan elemen-elemen dalam ISO 9002.

(21)

D. Manfaat Penelitian 1. Bagi Perusahaan

Hasil penelitian dapat menjadi bahan masukan bagi perusahaan yang menjadi subjek penelitian dalam memperbaiki dan meningkatkan sistem manajemen mutu di perusahaan.

2. Bagi Universitas Sanata Dharma

Dari penelitian ini diharapkan dapat memberikan mafaat sebagai referensi kepustakaan bagi mahasiswa Universitas Sanata Dharma yang memiliki ketertarikan dengan penelitian ini.

3. Bagi Penulis

Untuk memperluas pengetahuan dan wawasan serta memperdalam ilmu penulis dengan kesempatan untuk mengaplikasian ilmu pengetahuan yang diperoleh selama perkuliahan yang menyangkut pengauditan internal.

E. Sistematika Penulisan BAB I Pendahuluan

Bab ini berisi tentang latar belakang masalah, rumusan masalah, tujuan penelitian, manfaat penelitian dan sistematika penulisan.

BAB II Tinjauan Pustaka

Bab ini berisi teori-teori relevan dengan permasalahan yang diangkat dalam penelitian ini.

(22)

BAB III Metode Penelitian

Bab ini berisi jenis penelitian, subjek dan objek penelitian, waktu dan tempat penelitian, teknik pengumpulan data, data yang diperlukan, dan teknik analisis data.

BAB IV Gambaran Umum Perusahaan

Bab ini berisi mengenai gambaran umum perusahaan meliputi sejarah signkat, visi dan misi perusahaan, struktur organisasi, dan produk-produk yang dihasilkan oleh perusahaan.

BAB V Analisis Data dan Pembahasan

Bab ini berisi deskripsi data hasil checklist dan wawancara, analisis hasil checklist, danevaluasi perbandingan penerapan sistem manajemen mutu.

BAB VI Penutup

Bab ini berisi kesimpulan dari hasil analisis data, dan saran dari penulis.

(23)

6 BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

A. Sistem Manajemen Mutu

1. Pengertian Sistem Manajemen Mutu

Pemahaman tentang sistem manajemen mutu sebenarnya tidak lepas dari pengertian dasar tentang mutu. Pengertian tentang mutu mempunyai berbagai definisi dan pengertian tergantung dari posisi mutu itu sendiri berada. Mutu menurut KBBI dalam Saleh dan Safitri (2015 : 36) salah satu pengertian mutu adalah ukuran baik buruk suatu benda; kadar; taraf atau drajat (kepandaian, kecerdasan, dsb). Menurut Saleh dan Safitri (2015 : 38), sistem manajemen mutu adalah sistem yang digunakan untuk menetapkan kebijakan (pernyataan resmi oleh manajemen puncak berkaitan dengan perhatian dan arah organisasinya di bidang mutu dan sasaran mutu (segala sesuatu yang terkait dengan mutu dan dijadikan sasaran atau target pencapaian dengan menetapkan ukuran atau krteria pencapaiannya. Sistem manajemen mutu merupakan sistem manajemen untuk mengarahkan dan mengendalikan organisasi dalam hal mutu. Standar internasional ISO 9002 adalah salah satu standar dari tiga model standar mengenai sistem mutu yang terdapat dalam ISO 9000 yang merupakan model sistem jaminan mutu dalam produksi dan instalasi.

(24)

Elemen-elemen Sistem Mutu ISO 9002 diadopsi dari persyaratan Sistem Manajemen Kualitas ISO-9001 dalam Zulian (2010: 153) :

a. Tanggung jawab Manajemen (Manajemen Responsibility). 1) Kebijakan kualitas

Kebijakan kualitas, termasuk sasaran dan komitmen kualitas harus ditetapkan dan dikokumentasikakn oleh pimpinan dengan tanggung jawab tingkat eksekutif. Kebijakan kualitas harus relevan dengan tujuan organisasi dan sesuai dengan harapan dan kebutuhan pelanggan. Perusahan harus menjamin kebijakan kualitas itu dipahami, dilaksanakan dan dilestarikan pada semua jenjang organisasi. Contoh dari kebijakan kualitas ini adalah sebagai berikut :

Lima landasan pokok dalam menajlankan kegiatan usaha : a) Memberikan perlindungndan dan kepuasan kepada

pelanggan dengan memberikan kualitas sesuai kebutuhan dan persyaratan yang telah ditetapkan.

b) Melakukan pengendalian pada seluruh tahapan operasi melalui penerapan sistem manajemen kualitas terpadu untuk mencapai tingkat kinerja yang kompetitif.

c) Mengupayakan pencapaian target kecelakaan nihil d) Menerapkan konsep industri berwawasan lingkungan

e) Melakukan pembinaan untuk mencapai tingkat kemampan kerja sesuai kebutuhan perusahaan.

(25)

2) Organisasi

a) Tanggung jawab wewenang

Tanggung jawab, wewenang dan hubungan kerja antar personil yang mengelola, melaksanakan dan melakukan verifikasi pekerjaan yang mempengaruhi kualitas, harus ditetapkan dan didokumentasikan, terutama para personel yang memerlukan keluasaan dan wewenang untuk : (a) memprakarsai tindakan untuk mencegah terjadinyaketidak sesuaian apapun yang berkaitan dengan produk, proses dan sistem kualitas; (b) mengidentifikasi dan merekam masalah apa pun yang berkaitan dengan produk, proses, dan sistem kualitas; (c) memprakarsai, mengusulkan, atau mencarikan pemecahan melalui mekamisme atau saluran yang telah ditentukan; (d) melakukan verifikasi atau pemecahan yang telah dilakukan; (e) mengendalikan lebih lanjut terhadap proses, penyerahan, atau instalasi produk yang tidak sesuai sampai penyimpangan atau keadaan yang tidak memuaskan itu diperbaiki.

b) Sumber daya

Perusahaan harus mengidentifikasi persyaratan sumber daya yang diperlukan dan menyediakannya termasuk penugasan personil yang telah terlatih, untuk melakukan pengelolaan,

(26)

pelaksanaan pekerjaan dan kegiatan verifikasi termasuk audit kualitas internal.

c) Wakil manajemen

Pimpinan perusahaan dengan tanggung jawab tingkat eksekutif harus menunjuk seorang wakil dari organisasi sendiri yang disamping tanggung jawab lainnya harus memiliki wewenang yang cukup untuk; (a) menjamin sistem kualitas yang telah dikembangkan, ditetapkan dan dilestarikan sesuai dengan persyaratan standar internasional ISO-9001; (b) melaporkan secara berkala kinerja sistem kualitas pada manajemen untuk dievaluasi sebagai upaya penyempurnaan.

Tanggung jawab wakil manajemen ini dapat pula mencakup hubungan dengan pihak luar untuk hal-hal yang berkaitan dengan sistem kualitas.

3) Tinjauan Manajemen

Pimpinan perusahaan dengan tanggung jawab tingkat eksekutif harus mengevaluasi sistem kualitas secara berkala pada interval waktu yang cukup untuk menjamin kesesuaian dan keefektifannya dalam memenuhi persyaratan standar internasional ISO-9001 serta sesuai dengan kebijakan kualitas dan sasaran kualitas yang telah ditetapkan oleh perusahaan. Rekaman data hasil evaluasi harus disimpan.

(27)

4) Uraian tugas dan jabatan

Bentuk uraian tugas dan jabatan antara lain a) Nama jabatan

b) Kode jabatan

c) Tujuan umum jabatan

d) Kedudukan dalamm orgnaisasi seperti : atasan, dan bawahan langsung

e) Fungsi pokok

f) Rincian tugas seperti : tugas rutin; tugas periodik; dan tugas insidentil

g) Wewenang

b. Sistem Kualitas (Quality System) 1) Umum

Erusahaan harus menetapkan, mendokumentasikan dan memelihara sistem kualitas sebagai sarana untuk menjamin agar produk yang dihasilkan sesuai dengan persyaratan yang telah ditentukan. Perusahaan harus menyiapkan manual kualitas yang memuat atau dapat menjadi acuan untuk prosedur sistem kualitas dan menggambarkan struktur pendokuemtasian yang dikembangkan dalam sistem kualitas. Sebagai catatan : panduan pembuatan manual kualitas dijelaskan dalam ISO-10013. 2) Prosedur sistem kualitas

(28)

a) Perusahaan harus menyiapkan perosedur tertulis yang konsisten dengan persyaratan standar internasional sistem manajemen kualitas ISO-9001, serta terhadap kebijakan kualitas yang telah ditetapkan oleh perusahaan.

b) Perusahaan harus menerapkan secara efektif sistem kualitas yang telah dibuat, termasuk prosedur-prosedur yang telah didokumentasikan.

Untuk keperluan pemenuhan standar internasionalsistem manajemen kualitas ISO-9001, maka keketatan dan tingkat kerincian suatu prosedur, yang merupakan bagian integral dari sistem kualitas, sangat tergangtung pada kompleksitas suatu pekerjaan, metode yang dipakai, serta ketrampilan dan pelatihan yang diperlukan oleh personil yang terkait dalam melaksanakan pekerjaan tersebut. Prosedur yang telah didokumentasikan dapat dijadikan acuan untuk menyusun instruksi kerja yang menetapkan bagaimana suatu pekerjaan dilaksanakan.

3) Perencanaan kualitas

Perusahaan harus menetapkan dan mendokumentasikan bagaimana persyaratan kualitas akan dipenuhi. Perencanaan kualitas haris konsisten dengan semua persyaratan lainnya yang telah ditetapkan dalam sistem kualitas, dan harus didokumentasikan dalam bentuk yang paling sesuai dengan sistem operasi yang digunakan. Perusahaan harus

(29)

mempertimbangkan penerapan kegiatan berikut ini bila dipandang perlu dalam upaya memenuhi persyaratan produk, proyek, atau kontrak yang telah ditentukan, yaitu :

a) Membuat perencanaan kualitas

b) Mengidentifikasi dan mengupapyakan tersedianya sistem kontrol, proses, alat (termasuk alat inspeksi dan alat uji), perlengkapan, sumber daya dan ketrampilan yang diperlukan untuk dapat mencapai persyaratan kualitas yang diminta.

c) Memastikan kesesuaian terhadpa prosedur dalam desain, proses prodluksi instalasi, pelayanan, inspeksi, dan tes serta sesuai dengan dokumentasi lainnya yang berlaku.

d) Memperbarui bilamana perlu teknik-teknik pengendalian kualitas, inspeksi, dan pengujian termasuk pengembangan instrumentasi.

e) Mengidentifikasi persyaratan pengukuran apapun yang memerlukan kemapuan lebih dari apa yang dapat diketahui, dalam waktu yang cukup untuk mengembangkan kemampuan yang diperlukan.

f) Mengidentifikasi verifikasi yang sesuai pada tahap yang sesuai dalam mewujudkan produk.

(30)

g) Menjelaskan standar penerimaan (acceptance) untuk semua sifat dan persyaratan, termasuk hal-hal yang berisikan unsur-unsur yang bersifat subjektif.

h) Mengidentifikasi dan menyiapkan data rekaman kualitas. c. Pengendalian Dokumen Data (Document and Data Control)

1) Umum

Perusahaan harus menetapkan dan memelihara prosedur tertulis untuk mengendalikan semua dokumen dan data yang berkaitan dengan persyyaratan standar internasional ISO-9001. Termasuk sejauh dapat dilakukan, dokumen yang berasal dari luar seperti standar dan gambar acuan dari pelanggan. Dokuem dan data dapat dibuat dalam berbagai bentuk jenis media seperti, lembar kertas atau media elektronik.

2) Pengesahan dan penerbitan dokuemn data

Dokumen dan data harus ditinjau dan disyahkan kecukupannya oleh peronil yang berwenang sebelum dokumen tersebut diterbitkan. Harus pula dibuat daftar induk atau prosedur pengendalian dokumen yang mengidentifikasi status revisi terakhir dari dokumen-dokumen untuk mencegah pemakaian dikuem yang sudah tidak berlaku lagi atau yang sudah kadaluarsa.

(31)

a) Dokumen yang diperlukan harus tersedia disemua tempat dimana opersi dilakukan yang memerlukan berfungsinya sistem kualitas secara efektif.

b) Dokuem yang sudah tidak berlaku lagi atau sudah kadaluarsa segera disingkirkan dari semua tempat penerbitannya atau tempat penggunaannya. Jika tidak, maka haris dijalmin bahwa dokumen tersebut terhindar dari penggunaan yang salah.

c) Bila terdapat dokumen apapun yang sudah kadaluarsa dan sengaja disimpan karena segi hukum dan atau untuk keperluan preservasi pengetahuan, makan dokumen-dokumen tersebut hendaknya diidentifikasi dengan jelas. 3) Perubahan dokumen dan data

Perubahan-perubahan pada dokumen dan data harus ditinjau dan disyahkan oleh fungsi organsisasi yang sama pada waktu melakukan tinjauan dan pengesahan awalnya, kecuali bula secara khusus dilakuakn penunjukan lain. Fungsi organisasi yang ditunjuk harus mendapatkan informasi latar belakang yang berkiatan untuk dipakai sebagai dasar peninjauan dan pengesyahannya. Jika dapat dilakukan, maka sifat perubahan harus diidentifikasi di dalam dokumen atau dalam lampiran yang sesuai.

(32)

5) Identifikasi dokumen 6) Pemegang dokumen 7) Masa berlaku dokumen 8) Kodefikasi dokumen

d. Pengendalian Produk Milik Pelanggan (Cotrol of Customer Supplied Product)

Perusahaan harus menetapkan dan memeilihara prosedur terdokumentasi untuk mengendalikan dan melakukan verifikasi, penyimpanan, dan pemeliharaan prodk yang dipasok oleh pelanggan untuk dicampur dengan bahan milik perusahaan. Setiap produk yang hilang, rusak, harus direkam dan dilaporkan kepada pelanggan. Elemen dari pengendalian barang pasokan pelanggan ini adalah :

1) Identifikasi produk milik pembeli 2) Prosedur verifikasi penerimaan 3) Prosedur penyimpanan

4) Prosedur pemakaian 5) Prosedur perawatan 6) Kontrol ketidaksesuaian 7) Laporan ketidaksesuaian 8) Catatan atau rekaman data

e. Idetifikasi dan Kemampuan Telusur Produk (Product Identification and Tracer Abilty)

(33)

Apabila dapat dilakukan, perusahaan harus menetapkan dan memelihara prosedur tertulis untuk identifikasi produk dengan tata cara yang layak sejak tahap penerimaan, selama tahap produksi hingga pengiriman dan instalasi.

Bila tingkat kemampuan telusur adalah persyaratan yang ditentukan, maka perusahaan harus menetakan dan memelihara prosedur tertulis untuk identifikasi yang bersifat unik terhadap produk secara individual atau secara kelompok.

Elemen dari identifikasi dan mampu telusur produk ini adalah : 1) Kemampuan telusur produk

a) Tahap penerimaan b) Tahap penyimpanan c) Tahap proses d) Tahap pengiriman e) Tahap instalasi f) Adiminstrasi pendukung g) Dokumentasi 2) Identifikasi produk

a) Identifikasi bahan baku

b) Identifikasi prodik pada proses c) Identifikasi produk akhir d) Identifikasi kantong e) Identifikasi alat-alat

(34)

f) Identifikasi lingkungan g) Identifikasi dokuemn h) Identifikasi lokasi

f. Inspeksi dan Pengujian (Inspection and Testing) 1) Umum

Perusahaan harus menetapkan dan memelihara prosedur terdokumenasi untuk kegiatan inspeksi dan pengujian untuk memverifikasi bahwa persyaratan yang telah ditentukan utnuk suatu produk dipenuhi. Inspeksi dan pengujian yang diperlkan dan rekaman yang harus diadakan, harus dirinci dalam bagan mutu atau prosedur tertulis.

2) Inspeksi dan pengujian pada tahap penerimaan

a) Perusahaan harus menjamin bahwa produk yang masuk, tidak dipakai atau diproses dulu sampai produk tersebut telah diperiksa atau telah diverifikasi dam hasilnya memenyhi persyaratan yang telah ditentukan. Verifikasi harus sesuai dengan persuaratan yang telah ditentukan atau sesuai dengan rencana kualitas dan prosedur yang didokumentasikan.

b) Dalam menentukan jumalh dan sifat inspeksi pada penerimaan, maka harus dipertimbangkan jumlah pengendalian yang telah dilakukan di tempat subkontraktor dan bukti tertilis dari kesesuaian yang tersedia.

(35)

c) Bila produk yang masuk sebeluk diverifikasi dipakai untuk keperluan produksi yang mendesak, maka produk harus diidentifikasi secara jelas dan direkam sehingga memungkinkan untuk penarikan kembali dan penggantian seketika bila terjadi ketidaksesuaian persyaratan yang ditentukan.

3) Inspeksi dan pengujian dalam proses

a) Perusahaan harus menginspeksi dan menguji produk seperti yang disyaratkan oleh rencana mutu atau prosedur yang telah didokumentasikan.

b) Perusahaan harus menahan produk sampai inspeksi dan pengujian yang diminta telah diselesaikan atau laporan yang perlu telah diterima dan telah diverifikasi. Kecuali bila produk dipakai dengan prosedur penarikan kembali dengan jelas.

4) Inspeksi dan pengujian akhir

Perusahaan harus melaksanakan semua inspeksi dan pengujian sesuai dengna rencana kualitas dan atau prosedur terdokumentasi untuk membuktikan terpenuhinya kesesuaian produk akhir terhadap persyaratan yang telah ditentukan. Rencana kualitas atau prosedur tertulis untuk kegiatan inspeksi dan pengujian akhir harus mempersyaratkan bahwa semua inspeksi dan pengujian yang telah ditentukan pada saat

(36)

penerimaan produk atau dalam proses telah dilakukan dan hasilnya memenuhi persyaratan yang telah ditentukan. Tidak satupun produk boleh dikirimkan sampai semua kegiatan yang telah ditentuakn dalam rencana kualitas atau prosedur tertulis telah diselesaikan secara memuaskan dan data serta dokumentasinya telah disyahkan.

5) Rekaman hasil inspeksi dan pengujian

Perusahaan harus menetapkan dan memelihara rekana yang memberikan butki bahwa produk telah diinspeksi atau diuji. Catatan ini harus dengan jelas menunjukan apakah produk lulus atau gagal dalam inspeksi atau pengujian yang sesuai dengan kriteria penerimaan yang telah ditentukan. Bila produk gagal dalam inspeksi atau pengujian, maka harus diberlakukan prosedur untuk pengendalian produk yang tidak sesuai. Harus ada rekaman yang mengindentifikasi kewenangan inspeksi bagi yang bertanggng jawab untuk melepas produk.

g. Pengendalian Alat Inspeksi, Alat Ukur dan Alat Uji (Control of Inspection, Measuring, and Test Equipment)

(37)

Perusahaan harus membuat dan memelihara prosedur tertulis untuk mengendalikan, mengkalibrasikan, dan memeluhara alat inspeksi, alat ukur dan alat uji (termasuk perangkat lunak pengujuan) yang digunakan perusahaan untuk unjuk kesesuaian produk terhadap persyaratan yang telah ditentukan. Alat inspeksi, alat ukut, dan alat uji harus dipakai dengan cara yang dapat memastikan ketidak pastian diketahui dan konsisten terhadap kemampuan pengukuran yang diperlukan. Peralatan pengujian harus dicek untuk membuktikan bahwa peralatan tersebut mampu memverifikasi kesesuaian produk terhadap persyaratan , sebelum dilepas untuk penggunaan selama produksi, instalasi atau pelayanan, dan harus dicek ulang pada inteval waktu yang telah ditentukan dan memelihara rekaman data sebagai bukti pengendalian.

Bila informasi data teknis tentang alat inspeksi, alat ukur,a lat ujimerupakan persyaratan yang telah ditentukan, maka informasi tentan gdaa itu harus disediakan apabila diminta oleh pelanggan untuk keperluan veritikasi bahwa alat-alat digunakan tersebut berfungsi dengan baik.

(38)

Perusahaan harus :

a) Menetapkan pengukuran yang harus dilakukan dan akurasi yang disyaratkan, dan memilih alat inspeksi, alat ukur serta alat uji yang sesuai yang mampu bmemberikan akurasi dan persisi yang diperlukan.

b) Mengindentifikasi semua alat inspeksi, alat ukur serta alat uji yang dapat mempengaruhi mutu produk, dan mengkalibrasi serta menyetelnya pada interval waktu yang telah ditentukan atau sebelum dipakai dengan standar yang diakui secara nasional atau internasional. Bila standar itu tidak ada, maka dasar yang dipakai untuk kalibrasi harus dicatat.

c) Menetapkan cara yang dipakai untuk kalibrasi alat inspeksi, alat ukur, dan alat uji, termasuk oenetapan jenis alat, identidikasi, lokasi, frekuensi pengecekan, metode pengecekan, kriteria penerimaan dan tindakan yang harus dilakukan bila hasilnya menunjukan adanya penyimpangan.

d) Memberi identidiaksi pada alat nspeksi, alat ukur, dan alat uji dengan petunjuk ayng sesuai untuk menunjukan staus kalibrasi.

e) Memelihara rekaman kalibrasi alat inspeksi, alat ukur dan alat uji.

(39)

f) Menganalisa dan mendokumentasikan keabsahan hasil inspeksi dan pengujian sebelumnya bila diketahui adanya penyimpangan atas alat inspeksi, alat ukur, dan alat uji tersebut.

g) Memastikan bahwa kondisi lingkungan pada saat kalibrasi sesuai untuk melakukan kalibrasi atas alat inpseksi, alat ukur, dan alat uji.

h) Memastikan bahwa penanganan, pengawetan dan penyimpanan alat inspeksi, alat ukur dan alat uji sedemikian rupa sehingga ketelitain dan kesiapannya dapat dipertahankan.

i) Menjaga agar alat inspeksi, alat ukur dan alat uji, baik perangkat keras maupun perangkat lunak, terhindar dari penyetelan yang dapat membuat setelan kalibrasi menjadi tidak sah.

Elemen-elemen dari pengendalian peralatan inspeksi, pengukuran, dan pengujian ini adalah sebagai berikut :

1) Identifikasi 2) Klasifikasi

3) Daftar nama inspection, measuring, and test equipment 4) Program kalibrasi

5) Program pengecekan 6) Prosedur kalibrasi

(40)

7) Personel kalibrasi 8) Rekaman hasil kalibrasi 9) Sertifikat kalibrasi 10) Sentra kalibrasi 11) Alat-alat standar

h. Status Hasil Inspensi dan Pengujian (Inspection and Test Status) Status inspeksi dan pengujian produk harus diidentifikasi dengan sarana yang sesuai yang menunjukan kesesuaian dan ketidaksesuaian produk dalam inspeksi dan uji yang dilakukan. Identifikasi dari stats inspeksi yang diuji ahrus dipelihara seperti yang telah ditentukan dalam rencana kualitas atau prosedur tertulis lainnya, selama produksi, instalasi dan pelayanan produk untuk memastikan bahwa hanya produk yang telah lulus inspeksi dan pengujian yang dikirim, dipakai, atau dipasang.

Elemen dari statis hasil inspeksi dan pengujian ini adalah : 1) Tahap penerimaan material

2) Tahap proses 3) Tahap produk akhir 4) Pemeberian status

5) Prosedur inspeksi dan pengujian 6) Kontrol alat ketidaksesuaian

i. Pengendalian Produk yang Tidak Sesuai (Control of Non-Conforming)

(41)

1) Umum

Perusahaan harus mentepakan dan memelihara prosedur tertulis untuk menjamin produk yang tidak sesuai dihindari dari pemakaian atau instalasi yang tidak direncakana. Pengendalian ini harus meliputi identifikasi, dokuementasi, evaluasi, pemisahan (jika memungkinkan), disposisi produk yang tidak sesuai, dan pemberitahuan kepada fungsi-fungsi yang bersangkutan.

2) Tinjauan dan penentuan produk yang tidak sesuai

Tanggung jawab unutk meninjau dan wewenang untuk menentukan produk yang tidak sesuai harus tentukan. Prodik ang tidak sesuai harus ditinjau sesuai dengan prosedur yang telah ditetapkan seperti :

a) Kerjakan ulang agar dapat memenuhi persyaratan yang telah ditentukan

b) Dotero,a demga atai tampa perbaikan

c) Diturunkan tingkatnya untuk penggunaan lain d) Ditolak atau dibuang

Bila diminta dalam kontrak, penggunaan atau perbaikan yang diusulkan untuk produk yang tidak sesuai dengan persyaratan, harus dilaporkan kepada pelanggan untuk penentuan konsesi. Rincian mengenai ketidaksesuaian yang telah diterima, dan tentang perbaikan yang telah dilakukan, harus direkam untuk

(42)

memberitahukan kondisi yang sebernarnya. Produk yang diperbaiki dan atau dikerjakan ulang harus diinspeksi ulang sesuai dengan rencana mutu atau prosdur yang telah ditetapkan.

Elemen-elemen dari pengendalian produk yang tidak sesuai ini adalah :

1) Bahan baku dari penambangan 2) Bahan baku dari pembelian 3) Material dalam proses 4) Produk akhir

5) Berat produk

6) Ketidaksesuaian pada umumunya

j. Penanganan, Penyimpanan, Pengemasan, Pengawetan, dan Pengiriman (Handling, Storage, Packaging, Preservation, and Delivery = HSPPD)

1) Umum

Perusahaan harus menetapkan dan memelihara prosedur tertulis untuk penanganan, penyimpanan, pengemasan, pengawetan, dan pengiriman produk.

2) Penanganan

Perusahaan harus menyediakan metode penanganan produk yang dapat mencegah kerusakan dan penurunan kualitas.

(43)

Perusahaan harus menggunakan tempat penyimpanan yang telah ditentuakan atau ruang persediaan untuk mencegah kerusakan atau penurunan kualitas produk, dan tempat untuk produk yang ditunjda oemakainnya atau pengirimannya. Tata cara untuk pengesahan, penerimaan dan untuk pengiriman harus ditetapkan. Untuk mengetahui adanya kerusakan, keadaan produk dalam persediaan harus diadakan pemeriksaan secara berkala pada interval waktu yang sesuai.

4) Pengemasan

Perusahaan harus mengendalikan kemasan, proses pengemasan, dan proses penandaan sejauh diperlukan untuk menjamin kesesuaian terhdap persyaratan yang telah ditetapkan.

5) Pengawetan

Perusahaan harus menerapkan metode yang sesuai untuk pengawetan dan pemisahan produk bila produk masih dalam pengendalian pemasok.

6) Pengiriman

Perusahaan harus mengukur untuk penjagaan mutu prodik setelah inspeksi dan uji akhir. Bila dinyatakan dalam kontrak, pengjagaan ini harus diteruskan sampai pengiriman produk ketempat tujuan. Elemen dari HSPPD ini adalah :

1) Prosedur HSPPD tiap-tiap unit 2) Perawatan peralatan HSPPD

(44)

3) Standar persyaratan HSPPD 4) Penanggung Jawab HSPPD 5) Lokasi HSPPD

6) Personil HSPPD 7) Pemeriksa HSPPD

k. Pengendalian Rekaman Kualitas (Control of Quality Records) Perusahaan harus menetapkan dan memelihara prosedur tertulis untuk identifikasi, pengumpulan, pengambilan, pengarsipan, penyimpanan, pemeliharaan dan penghancuran rekaman kualitas. Rekaman kualitas harus dipelihara untuk membuktikan kesesuaian terhadap persyaratan yang telah ditentukan dan berjalannya sistem kualitas secara efektif. Rekaman kualitas yang sesuai dari sunkontraktor harus merupakan bagian dari data.

Semua rekaman kualitas harus mudah dinaca dan harus disimpan dan dipelihara sedemikian rupa hingga dapat dengan mudah dicari dan ditelusuri dalam tempat penyimpanannya yang layak dan aman untuk menghindari kerusakan, kehancuran, atau kehilangan. Masa simpan rekaman kualitas harus ditetapkam dan dituangkan dalam dokumentasi. Bila telah disepakati dalam kontrak, maka rekaman harus disediakan untuk penilaian oleh pelanggan untuk suatu periode waktu yang disepakati.

Elemen dari pengendalian rekaman kualitas ini adalah : 1) Identifikasi

(45)

2) Klasifikasi 3) Kodefikasi 4) Penyimpanan 5) Pemanfaatan 6) Masa retensi 7) Keamanan 8) Penaggung jawab 9) Kepraktisan

l. Audit Kualitas Internal (Internal Quality Audits)

Audit kualitas internal adalah suatu pemeriksaan yayng bersifat independen dan dilakukan secara sistematis untuk menentukan apakah sistem manajemen kualitas dan hasil implementasi sistem manajemen kualitas tersebut sesuai dengan perencanaan dan pengaturan yang telah ditetapkan dan apakah perencanaan dan pengaturan itu dilaksanakan secara efektif dan mencapai sasaran yang telah ditetapkan.

Elemen dari audit kualitas internal ini adalah : 1) Bentuk tim audit

2) Kualifikasi tim audit 3) Buat jadwal audit 4) Informasikan auditee 5) Siapkan daftar periksa 6) Laksanakan audit

(46)

7) Diskusikan temuan 8) Siapkan rekomendasi 9) Lakukan verifikasi

10) Siapkan laporan akhir audit

B. Persediaan

1. Pengertian Persediaan

Menurut Kieso (2008: 402), persediaan adalah pos-pos aktiva yang dimiliki oleh perusahaan untuk dijual dalam operasi bisnis normal, atau barang yang akan digunakan atau dikonsumsi dalam membuat barang yang akan dijual.

Persediaan adalah sebuah aset yang vital bagi sebuah organisasi bisnis, dimana dengan penggunaan asset yang optimal, dapt membantu sebuah organisasi bisnis untuk mencapai tujuannya yaitu laba menurut Pontoh 2013:312 dalam Jurnal EMBA Vol. 2 No. 3 September 2014, Hal. 022-029.

2. Jenis-Jenis Persediaan

Jenis persediaan di dalam perusahaan dagang, perusahaan industri, dan perusahaan jasa yang dikemukakan oleh La Midjan dan Susanto (2011:150) dalam Jurnal EMBA Vol. 2 No. 3 September 2014, Hal 022-029 adalah :

a. Persediaan bahan baku.

b. Persediaan barang dalam proses. c. Persediaan hasil jadi.

(47)

d. Persediaan suku cadang. e. Persediaan bahan bakar.

f. Persediaan barang cetakan dan alat tulis. g. Persediaan barang dagangan.

3. Penentuan Biaya Persediaan

Menurut Kieso (2018:303-304) terdapat dua metode arus biaya yang dapat digunakan dalam menentukan besarnya biasa persediaan yaitu:

a. Metode FIRST-IN, FIRST-OUT (FIFO)

Metode first-in, first-out mengasumsikan bahwa barang yang paling awal dibeli adalah yang pertama yang akan dijual. FIFO sering kali paralel dengan arus fisik barang yang sebenarnya. Dalam hal ini, FIFO umumnya meruapakan praktik bisnis yang baik untuk menjual unit-unit lama terlebih dahulu. Oleh karena itu, berdasarkan metode FIFO, biaya dari barang yang paling awal dibeli adalah yang pertama akan diakui saat menentukan beban pokok penjualan.Biaya Rata-rata (Avarage-cost method)

b. Metode biaya rata-rata (avarage cost metode)

Metode biaya rata-rata mengalokasikan beban pokok barang yang tersedia untuk dijual berdasarkan biaya rata-rata tertimbang per unit (weight-avarage unit cost) yang terjadi. Metode biaya rata-rata mengasumsikan bahwa barang-barang memiliki sifat yang sama. Untuk menghitung biaya persediaan dengan metode biaya rata-rata terlebih dahulu harus menghitung biaya rata-rata tertimbang perunit

(48)

dengan membagi beban pokok barang yang tersedia untuk dijual dengan total unit yang tersedia untuk dijual. Perusahaan menetapkan biaya rata-rata tertimbang perunit untuk unit-unit yang tersedia saat menentukan biaya persediaan akhir.

Menurut Kieso (2008: 416) terdapat metode penentuan biaya persediaan yang pertamakali digunakan selain metode FIFO dan Biaya rata-rata. Metode penentuan biaya persediaan tersebut adalah :

a. Metode Identifikasi Khusus

Identifikasi khusus (specific identification) digunakan dengan cara mengidentifikasi setiap baran gyang dijual dan setiap barang dalam pos persediaan. Biaya barang-barang yang telah terjual dimasukkan dalam harga pokok penjualan, sementara biaya barang-barang khusus yang masih berada di tangan dimasukan pada persediaan. Metode ini hanya bisa digunakan dalam kondisi yang memungkinkan perusahaan memisahkan pembelian yang berbeda yang telah dilakukan secara fisik.

4. Metode Pencatatan Persediaan

Sistem Pencatatan persediaan barang dagang pada umumnya dilakukan dengan dua metode yaitu sistem periodik (physical) dan sistem perpetual. Sistem pencatatan persediaan menurut Agus, Wibowo, dan Haxena (2016 : 97-98) :

(49)

Dalam pencatatan persediaan berdasarkan sistem periodik, mutasi barang tidak ditelusuri lebih lanjut. Pada pembelian barang dicatat dalam akun Pembelian Barang sebesar biaya perolehannya, sedangkan pada saat penjualan, barang dicatat dalam akun Penjualan Barang sebesar harga jualnya. Oleh karena tidak dicatatanya, mutasi barang, maka beban pokok penjualan tidak dapat diketahui setiap kali transaksi penjualan barang terjadi.

b. Sistem Perpetual

Pada sistem perpetual, tiap-tiap jenis barang dicatat secara detail dalam kartu persediaan (sebagai kartu pembantu persediaan). Pada kartu tersebut, mutasi tiap-tiap jenis barang dicatat secara kontinyu, baik kuantitas maupun biaya perolehannya. Pada saat terjadi pembelian barang dagang, hal tersebut dicatat pada di posisi debit akun Persediaan Barang sebesar biaya perolehannya dan posisi kredit akun Utang Usaha atau Kas. Pada saat PenjualanBarang sebesar biaya perorlehannya dicatat dalam dua jurnal. Jurnal pertama mencatat akun Penjualan Barang disposisi kredit sebesar nilai penjualan dan posisi debit akun Piutang Usaha atau Kas, sedanngkan jurnal kedua mengkredit akun Persediaan Barang dan mendebit akun Beban Pokok Penjualan. Oleh karena beban pokok penjualan dapat diketahui langsung, maka penyesuaian pada akhir periode tidak perlu dilakukan.

(50)

Menurut Haryono Jusup (2001: 100), persediaan memiliki dua karakteristik penting, yaitu persediaan tersebut merupkan milik perusahaan dan persediaan tersebut siap dijual kepada para konsumen. Oleh karena itu dalam perusahaan dagang persediaannya meluputi segala macam barang dagangan yang dimiliki perusahaan. Sedangkan perusahaan manufaktur persediaannya tidak semua siap untuk dijual. 6. Pengelolaan Persediaan

Menurut Kasmir (2010 : 263) dalam Sambara (2018), pengelolaan persediaan agar dapat berjala lancara sesuai dengan rencana perusahaan harus memperhatikan beberapa hal antara lain :

a. Harus ada sediaan dasar sebagai penyeimbang keluar masuknya barnag dari perusahaan. Artinya harus ada angka besarnya sediaan dan tergantung dari keluar masuknya barang apakah teratur atau tidak.

b. Perlunya menyediakan pengamanan persediaan (safety stock). Perlunya pengamanan perseidaan untuk memenuhi kebutuhan sediaan setiap saat bila dibutuhkan karena sering terjadinya hal-hal yang tidak terduga dan tidak terencana.

c. Antisipasi perseidaan (anticipation stock). Perlu adanya tambahan sediaan untuk mengantisipasi pertumbuhan persediaan dimasa yang akan datang.

7. Tujuan Pengelolaan Persediaan

Menurut Ristono (2013: 4-5), Tujuan pengelolaan perseidaan adalah sebagai berikut :

(51)

a. Dapat memenuhi kebutuhan atau permintaan konsumen dengan cepat.

b. Untuk menjaga kontinuitas produksi agar perusahaan tidak mengalami kekurangan atau kehabisan persediaan yang mengakibatkan terhentinya proses produksi.

c. Untuk mempertahankan dan meningkatkan penjualan serta laba perusahaan.

d. Menjaga agar pembelian secara kecil-kecilan dapat dihindari, karena dapat mengakibatkan biaya pesanan menjadi besar. e. Menjaga jumlah persediaan supaya penyimpanan dalam

emplacement tidak besar-besaran, karena akan mengakibatkan biaya menjadi bertambah.

C. Evaluasi

1. Pengertian Evaluasi

Pengertian evaluasi menurut Purwanto dalam Roma Decade secara garis besar, dapat dikatakan bahwa pemberian nilai terhadap kualitas tertentu. Selain dari itu, evaluasi juga dapat dipandang sebagai proses merencanakan, memperoleh, dan menyediakan informasi yang diperlukan dalam membuat alternatif-alternatif keputusan.

2. Tahap-tahap Evaluasi

Pada umumnya, evaluasi sendiri memiliki tahapan-tahapan yang harus diikuti. Walaupun tidak sealalu sama, tetap saja tahapan-tahapan ini

(52)

penting untuk dilaksanakan, mengingat hasil akhir dari proses jalannya evaluasi itu sendiri. Berikut dipaparkan salah satu tahapan evaluasi secara umum :

a. Menentukan apa saja yang akan dievaluasi

Dalam segala kegiatan yang dilaksanakan, di bidang apapun itu hasil akhirnya selalu berkaitan dengan evaluasi. Evaluasi ini sendiri dapat mengacu pada suatu program kerja atau kegiatan-kegiatan lainnya dimana terdapat aspek-aspek yang dapat dan perlu dievaluasi. Namun, secara umum hal yang diprioritaskan untuk di evaluasi adalah hal-hal yang menajdi kunci utamanya

b. Merancang kegiatan evaluasi

Sebelum melakukan kegiatan evaluasi, atau mengevaluasi si suatu kegiatan kerja, harus merancangkan terlebih dahulu, desain evaluasi sperti apa yang akan dilaksanakan, agar data-data apa saja yang diperlukan, tahap-tahap kerja apa saja yang dilalui, dan siapa saja yang dilibatkan, serta apa saja yang dihasilkan harus jelas sebelum melaksanakan kegiatan evaluasi ini

c. Pengumpulan data evaluasi

Setelah menyiapkan rancangan kegiatan evaluasi yang diperlukan, tahap selanjutnya adalah pengumpulan data. Tahap ini dapat dilakukan secara efiian dan efektif, yaitu sesuai kaidah-kaidah ilmiah yang berlaku dan sesuai dengan kebutuhan dan kemampuan.

(53)

d. Analisis data dan pengolahannya

Setelah tahap pengumpulan data sudah diselesaikan, maka tahap selanjutnya adalah menganalisis data yang diterima. Cara pengolahannya bisa beruapa pengelompokan agar lebih mudah dianalisis dengna menggunakan alat penganalisis yang sesuai, sehingga dapat menghasilkan fakta-fakta yang terpercaya. Selanjutnya, hasil analisis data ini kemudian dibandingkan dengan harapan atau rencana awal.

e. Pelaporan hasil evaluasi

Tahapan akhir adalah pelaporan hasil evaluasi. Agar pelaporan ini dimanfaatkan oleh pihak-pihak yang berkepentingan, karena itulah hasil evaluasi harus didokumentasikan secara tertulis agar bisa dibaca dan dimanfaatkan sebagaimana mestinya.

(54)

BAB III

METODE PENELITIAN A. Jenis Penelitian

Jenis penelitian yang digunakan oleh penulis dalam skripsi ini adalah studi kasus. Studi kasus merupakan salah satu jenis penelitian kualitatif, dimana penulis melakukan eksplorasi secata mendalam terhadap program, kejadian, proses, aktivitas, terhadap salah satu atau lebih orang. Metode penelitian yang dilakukan adalah penelitian deskriptif komparatif, yaitu dengan memahami fenomena tentang apa yang dialami oleh objek penelitian dengan cara membandingkan dengan teori-teori lalu mendeskripsikan hasil analisis dalam bentuk kata-kata dan bahasa. Penelitain ini berfokus pada pengumpulan informasi terkait penerapan sistem manajemen mutu persediaan barang jadi di PC Gabungan Koperasi Batik Indonesia (GKBI).

B. Subjek dan Objek Penelitian

Subjek penelitian menurut Kurniawan (2014: 69), adalah sesuatu, baik orang, benda, ataupun lembaga (organisasi), yang sifat keadaannya (“atribut”-nya) akan diteliti. Subjek dalam penelitian ini adalah :

1. Kepala Bagian Niaga 2. Kepala Bagian Produksi 3. Kepala Bagian Gudang

Objek penelitian menurut Kurniawan (2014, 69), adalah sifat keadaan dari benda, orang, atau keadaan,yang menajadi pusat

(55)

perhatian atau sasaran penelitian. Objek dari penelitian ini adalah sistem manajemen mutu pada persediaan barang jadi di PC GKBI.

C. Waktu dan Tempat Penelitian

Penelitian dilaksanakan pada bulan Maret 2020, bertempat di PC GKBI yang berlokasi diJl. Magelang KM 14,5 Sleman, Yogyakarta.

D. Teknik Pengumpulan Data 1. Observasi

Observasi merupakan cara pengumpulan data melalui proses pencatatan perilaku subjek (orang), objek (benda), atau kejadian yang sistematik tanpa adanya pertanyaan atau komunikasi dengan individu-individu yang diteliti. Observasi meliputi segala hal yang menyangkut pengamtan aktivitas atau kondisi perilaku maupun non perilaku. Observasi non perilaku meliputi (1) catatan (record), (2) kondisi fisik (physical condition), (3) proses fisik (physical process) menurut Anwar S. (2011 : 111). Observasi yang dilakukan penulis yaitu melihat secara langsung kegiatan usaha yang dilakukan di PC GKBI pada bagian Gudang, Niaga, dan Finishing.

2. Checklist

Checklist adalah pengumpulan data dengan cara membuat sebuah daftar, dimana responden hanya mebubuhkan tanda check (√) pada kolom jawaban yang sesuai (Arikunto, 2010 : 195). Pengumpulan data dengan daftar pertanyaan yang akan diajukan kepada fasiliator yang hanya memiliki jawaban “ya” dan “tidak”.Checklist yang terdapat

(56)

dalam lampiran merupakan pertanyaan yang dibuat berdasarkan Elemen-elemen Sistem Manajemen Mutu ISO 9002 yang berkaitan dengan persediaan barang jadi.

3. Wawancara

Wawancara merupakan teknik pengumpulan data dimana penulis atau pengumpulan data yang menggunakan pertanyaan secara lisan kepada subjek penelitian. Pada saat megajukan pertanyaan, penulis dapat berbicara berhadapan langsung dengan responden atau bila hal itu tidak mungkin dilakukan, juga bias melalui alat komunikasi, misalnya lewat telepon (Anwar S. 2011, 105). Wawancara dilakukaan untuk memperdalam hasil dari checklist yang telah dilakukan.

4. Dokumentasi

Cara dokumentasi biasanya dilakukan untuk mengumpulkan data sekunder dari berbagai sumber, baik secara pribadi maupun kelembagaan. Pada umumnya, data yang diperoleh dengan cara dokumentasi masih sangat mentah karena antara informasi yang satu dengan lainnya tercerai berai, bahkan kadangkala sulit unuk dipahami apa maksud yang terkandung pada data tersebut (Anwar S. 2011 : 114). Dokumentasi yang dilakukan dalam penelitian ini yaitu berupa pengumpulan surat-surat yang digunakan dalam kegiatan usaha pada bagian Gudang, Niaga, dan Finishing seperti formulir-formulir, dan foto.

(57)

E. Data yang diperlukan

1. Gambaran umum perusahaan 2. Struktur organisasi perusahaan 3. Visi-misi perusahaan

4. Prosedur penerimaan barang, penyimpanan barang, dan pengeluaraan barang

5. Dokumen yang terkait dengan persediaan barang jadi.

F. Teknik Analisis Data

Untuk dapat mengetahui jawaban dari rumusan masalah, teknik analisis data yang digunakan yaitu :

a) Melakukan Survey Pendahuluan

Survey pendahuluan ini dilakukan untuk memperoleh pemahaman mengenai penerapan sistem manajemen mutu persediaan barang jadi pada bagian finishing, bagian niaga, dan bagian gudang dengan cara pengamatan langsung.

b) Melakukan pengambilan data

Melakukan pengambilan data dengan menggunakan chcecklistyang terdapat dalam lampiran dengan sumber dari responden, dan melakukan wawancara untuk memperdalam hasil yang diperoleh dari pengisian chcecklist mengenai penerapan sistem manajemen mutu persediaan barang jadi. Penulis menggunakan 12 Elemen-elemen dari ISO 9002 yang berkaitan dengan persediaan barang jadi.

(58)

c) Menganalisis data hasil chcecklist mengenai sistem manajemen mutu persediaan barang jadi berdasarkan Elemen-elemen ISO 9002 serta menyimpulkan hasil atas analisis checklist.

Setelah melakukan pengisian chcecklist dan wawancara dengan responden, peneliti akan mendeskripsikan hasil dari keduanya untuk proses evaluasi. Penulis melakukan perekapan hasil jawaban checklist dan menghitung persentase tingkat kesesuaian jawaban berdaasarkan rumus perhitungan Arikunto (2010) yaitu :

𝑆𝑘𝑜𝑟 =𝐽𝑢𝑚𝑙𝑎ℎ 𝑗𝑎𝑤𝑎𝑏𝑎𝑛 "𝑦𝑎"

𝐽𝑢𝑚𝑙𝑎ℎ 𝑝𝑒𝑟𝑡𝑎𝑛𝑦𝑎𝑎𝑛 × 100%

Jika jawaban “Ya” memperoleh nilai 1, dan jawaban “Tidak” memperoleh nilai 0.

Hasil perhitungan dapat diinterpretasikan dalam range sebagai berikut :

Tabel 1.Tingkat Pencapaian/Skor Kuesioner

Skor Predikat 81 – 100% Sangat Sesuai 61 – 80% Sesuai 41 – 60% Cukup Sesuai 21 – 40% Kurang Sesuai 0 – 20% Tidak Sesuai Sumber : Arikunto (2010)

d) Membandingkan hasil checklist dan wawancara mengenai sistem manajemen mutu persediaan barang jadi berdasarkan elemen-elemen ISO 9002.

Membandingkan checklist dan wawancara terkait penerapan sistem manajemen mutu persediaan barang jadi di PC GKBI dengan

(59)

elemen-elemen menurut ISO 9002 mengunakan tabel perbandingan untuk mencocokan kesesuaian penerapan antara penerapan sistem manajemen mutu di PC GKBI dengan Elemen-elemen dalam ISO 9002.

e) Melakukan evaluasi dari hasil perbandingan antara penerapan sistem manajemen mutu persediaan barang jadi di PC GKBI dengan elemen-elemen ISO 9002.

Setelah menganalisis, peneliti akan mengevaluasi data hasil perbandingan sesuai dengantabel perbandingan yang telah dibuat dengan memberikan gambaran secara lengkap mengenai penerapan sistem manajemen mutu persediaan barang jadi yang diterapkan di PC GKBI sesuai dengan keadaan sebenarnya.

f) Menarik kesimpulan dari hasil perbandingan data

Penulis akan menarik kesimpulan dari hasil perbandingan yang telah dilakukan serta hasil evaluasi pada sistem manajemen mutu persediaan barang jadi sesuai dengan penerapan Elemen-elemen ISO 9002. Penulis juga akan memberikan saran kepada perusahaan dengan tujuan penerapan sistem manajemen mutu pada persediaan barang jadi di PC GKBI menjadi lebih baik di masa mendatang.

(60)

43 BAB IV

GAMBARAN UMUM PERUSAHAAN A. Sejarah Perusahaan

PC GKBI didirikan tanggal 17 Juli 1962, dimiliki oleh 40 Koperasi Batik Primer yang berlokasi di Indonesia dan beranggotakan 8.000 pengusaha batik perorangan.

Pada tahun 1971, diadakan perluasan pabrik dengan bantuan fasilitas PMSD I. Pada tahun 1977, menambah unit pemintalan dan pertenunan dengan fasilitas PMSD II. Pada tahun 1979 menambah mesin-mesin permintalan yang berkualitas lebuh halus dengan fasilitas PMDN III. Pada tahun 1982, diadakan penambahan mesin untuk finishing dengan bantuan fasilitas PMDN IV. Pada tahun 1992-1994 diadakan renovasi dan pemasangan AJL (Air Jet Loom) dengan bantuan fasilitas dari IDB (Islamic Development Bank).

Memasuki era globalisasi, PC GKBI terus menerus melakukan penambahan mesin-mesin dan pertenunan serta penguatan sumber daya manusia dan IPTEK, yang kini berjumlah 750 karyawan. Peningkatan kualitas PC GKBI juga didukung oleh penerapan ISO 9000 (Sertifikasi sari BBT-TIQA Bandung). Dengan kerja keras tanpa henti, akhirnya menajdikan PC GKBI mampu memasuki pasar internasional, dengan meraih beberapa pembeli tetap dari Jepang, Eropa, dan Amerika.

Pada tahun 2002 PC GKBI pernah mengalami musibah kebakaran pada unit pemintalan sehingga sejak tahun 2003 operasional perusahaan hanya meliputi Weafing (bagian pertenunan) dan Finishing (bagian

(61)

penyempurnaan). Kebutuhan benang dipenuhi dari perusahaan pemuntalan lain, sehingga jumlah tenaga kerja/karyawan juga mengalami perubahan dari yang semua ± 1.600 menjadi ± 750 orag. Disamping itu orientasi pasarnya juga mengalami perubahan yaitu hanya memenuhi pasar lokal, namun demikian tetap berorientasi kualiats ekspor dengan tujuan agar konsumen yang memakai produk PC GKBI bisa berorientasi ekspor.

Pada saat ini kapasitas produksi yang dimiliki PC GKBI untuk Weafing sebesar 2.500.000 meter/bulan sedangkan Finishing bisa mencapai 2.700.000 yard/bulan. Adapun realisasinya adalah produksi Weafing sebesar 2.300.000 meter/bulan sedangkan Finishing kain cambric sebesar 2.400.yard/bulan.

B. Visi dan Misi Perusahaan 1. Visi

Mempertahankan dan mengembangkan perusahaan sebagai pelaku industri tekstil yang bereputasi nasional dan internasional.

2. Misi

Berfikir dan keberja yang lebih baik untuk mencapai sasaran perusahaan.

(62)
(63)

Tugas dan wewenang masing-masing pihak, yaitu : 1. Direktur Utama

Direktur Utama adalah jabatan tertinggi pada PC GKBI mempunyai wewenang mengatur jalannya perusahaan, memberikan perintah kepada unit perencanaan pengendalian internal (PPI) dan setiap direktur departemen, dan menyusun anggaran perusahaan.

2. Unit Perencanaan Pengendalian Internal (PPI)

PPI mempunyai wewenang sebagai pihak pemeriksa internal perusahaan, memberikan peringatan atau teguran kepada pihak yang melanggar peraturan yang ada, serta sebagai pihak yang mengontrol jalannya perusahaan SOP berlaku.

3. Direktur Keuangan Umum

Direktur keuangan umum mempunyai wewenang sebagai pihak yang bertanggung jawab atas jalannya perusahaan di bawah perintah direktur utama, bertanggung jawab untuk mengoordinasikan kegiatan keuangan yang ada pada PC GKBI, seerta memberikan laporan secara berkala kepada direktur utama.

4. Direktur Produksi

Direktur produksi bertanggung jawab atas semua kegiatan produksi seperti weafing, finishing, dan utility dibawah perintah direktur utama serta memberikan laporan secara berkala kepada direktur utama.

(64)

5. Kepala Unit

Kepala unit mempunyai wewenang sebagai pihal yang bertanggung jawab atas pelaksanaan kegiatan pada perusahaan di mana setiap kepala unit bertanggung jawab atas setiap divisi di bawahnya, memberikan laporan kepada direktur menengah, serta memberikan verifikasi atau persetujuan atas semua kegiatan yang dilakukan pada divisi masing-masing agar kepala unit mengetahui setiap dokumen yang masuk dan keluar pada divisi masing-masing.

6. Kasie (Kepala Seksi)

Kepala seksi mempunyai wewenang untuk menjalankan perintah di bawah otorisasi kepala unit, serta memberikan arahan kepada setiap staf dalam menjalankan perintah.

7. Staf / Regu

Staf mempunyai tugas yaitu menjalankan perintah yang telah diberikan dari kepala seksi atau dari kepala unit.

D. Produk-Produk Pabric Cambric Gabungan Koperasi Indonesia 1. Kain produksi Weaving

(65)

48 BAB V

ANALISIS DATA DAN PEMBAHASAN

A. Melakukan Survey Pendahuluan

Survey pendahuluan ini dilakukan untuk memperoleh pemahaman mengenai penerapan sistem manajemen mutu persediaan barang jadi pada bagian finishing, bagian niaga, dan bagian gudang dengan cara pengamatan langsung atau observasi. Observasi yang dilakukan oleh peneliti yaitu untuk mengetahui prosedur pengelolaan persediaan barang jadi di PC Gabungan Koperasi Batik Indonesia (PC GKBI) yang terdiri dari tiga prosedur yaitu prosedur penerimaan, penyimpanan, dan pengeluaran barang jadi. Penerimaan dalam hal ini merupakan penerimaan barang jadi yaitu hasil produk berupa kain dari bagian finishing yang akan diserahkan dan diterma oleh bagian gudang. Setelah penerimaan barang jadi oleh bagian gudang, maka barang jadi yang diterima akan disimpan pada bagian gudang. Penyimpanan dilakukan oleh karyawan bagian gudang. Setelah adanya transaksi penjualan, maka barang jadi yang terdapat digudang akan dikeluarkan sesuai dengan pesanan konsumen.

B. Deskripsi Data Hasil Checklist dan Wawancara mengenai Penerapan Sistem Manajemen Mutu Persediaan Barang Jadi

Prosedur pengelolaan persediaan barang jadi di PC Gabungan Koperasi Batik Indonesia terdiri dari tiga prosedur yaitu prosedur

(66)

penerimaan barang jadi, prosedur penyimpanan barang jadi, dan prosedur pengeluaran barang jadi.

Berikut ini adalah uraian deskripsi mengenai keempat prosedur pengelolaan persediaan barang jadi di PC GKBI, Sleman, Yogyakarta yang diperoleh dari penelitian :

1. Deskripsi Prosedur Penerimaan Barang Jadi di Gudang PC GKBI Siklus penerimaan barang jadi berawal dari bagian finishing yang menyerahkan surat penyerahan atau Nota Penyerahan Barang kepada bagian gudang yang akan ditandatangani oleh pihak fiinishing yang menyerahkan, dan bagian gudang yang menerima. Bagian gudang yaitu karyawan yang bertugas akan melakukan pengecekan barang sebelum barang disimpan di gudang.

Setelah dilakukan pengecekan oleh bagian gudang, barang yang diserahkan oleh produksi disimpan di gudang dengan menggunakan alat angkut yaitu forklift.

2. Deskripsi Prosedur Penyimpanan Barang Jadi di Gudang PC GKBI Setelah dilakukan pmindahan dari bagian finishingke bagian gudang, maka persediaan disimpan digudang menyesuaikan jenis barang jadi yang diangkut. Bagian gudang akan mencatat barang yang masuk ke gudang di buku persediaan berdasarkan jenisnya. Penyimpanan menggunakan metode FIFO (First in First Out) namun terkadang terdapat perubahan karena perusahaan menyesuikan pelanggan yang membeli. Apabila pelanggan meminta barang baru, maka barang

Figur

Tabel 15. Perbandingan antara Penerapan Sistem Manajemen Mutu di PC  GKBI  dengan Elemen Sistem Mutu dalam ISO 9002

Tabel 15.

Perbandingan antara Penerapan Sistem Manajemen Mutu di PC GKBI dengan Elemen Sistem Mutu dalam ISO 9002 p.14
Tabel 1.Tingkat Pencapaian/Skor Kuesioner

Tabel 1.Tingkat

Pencapaian/Skor Kuesioner p.58
Tabel 3. Tabulasi data checklistpada elemen Sistem Mutu

Tabel 3.

Tabulasi data checklistpada elemen Sistem Mutu p.70
Tabel 5. Tabulasi data checklistpada elemen Pengendalian Produk  yang Dipasok Milik Pelanggan

Tabel 5.

Tabulasi data checklistpada elemen Pengendalian Produk yang Dipasok Milik Pelanggan p.72
Tabel 6. Tabulasi data checklistpada elemen Identifikasi dan  Kemampuan Penelusuran Produk

Tabel 6.

Tabulasi data checklistpada elemen Identifikasi dan Kemampuan Penelusuran Produk p.74
Tabel 7. Tabulasi data checklistpada elemen Inspeksi dan Pengujian

Tabel 7.

Tabulasi data checklistpada elemen Inspeksi dan Pengujian p.75
Tabel 8. Tabulasi data checklistpada elemen Pengendalian Inspeksi,  Pengukuran, dan Peralatan Uji

Tabel 8.

Tabulasi data checklistpada elemen Pengendalian Inspeksi, Pengukuran, dan Peralatan Uji p.76
Tabel 9. Tabulasi data checklistpada Elemen Status Inspeksi Uji

Tabel 9.

Tabulasi data checklistpada Elemen Status Inspeksi Uji p.77
Tabel 10. Tabulasi data checklistpada Elemen PengendalianProduk  Nonkonformans

Tabel 10.

Tabulasi data checklistpada Elemen PengendalianProduk Nonkonformans p.78
Tabel  11.  Tabulasi  data  checklistpada  Elemen  Penanganan,Penyimpanan,  Pengepakan,  Pemeliharaan/Pengawetan, dan Penyerahan

Tabel 11.

Tabulasi data checklistpada Elemen Penanganan,Penyimpanan, Pengepakan, Pemeliharaan/Pengawetan, dan Penyerahan p.79
Tabel 13. Tabulasi data checklistpada Elemen Audit Kualitas Internal

Tabel 13.

Tabulasi data checklistpada Elemen Audit Kualitas Internal p.82
Gambar 1 - Pengencekan barang sebelum diserahkan ke konsumen.

Gambar 1 -

Pengencekan barang sebelum diserahkan ke konsumen. p.118
Gambar 2 - GKM Unit Niaga

Gambar 2 -

GKM Unit Niaga p.119
Gambar 4 - GKM Unit Finishing

Gambar 4 -

GKM Unit Finishing p.120
Gambar 6 - Order Pengeluaran Barang

Gambar 6 -

Order Pengeluaran Barang p.121
Gambar 7 –Standar Oprasional Prosedur

Gambar 7

–Standar Oprasional Prosedur p.122
Gambar 8 – Kegiatan Produksi Finishing

Gambar 8

– Kegiatan Produksi Finishing p.123
Gambar 10 - Rekapan Packing List

Gambar 10 -

Rekapan Packing List p.124
Gambar 11 – Buku Sediaan

Gambar 11

– Buku Sediaan p.125

Referensi

Memperbarui...

Related subjects :