• Tidak ada hasil yang ditemukan

Usulan Presentasi Lisan

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "Usulan Presentasi Lisan"

Copied!
9
0
0

Teks penuh

(1)

1

Usulan Presentasi Lisan

1. Karya yang digunakan:

Novel Perempuan di Titik Nol karya Nawal el-Saadawi dan Cerpen “Malam Terakhir” dari kumpulan Malam Terakhir karya Leila S. Chudori.

2. Topik:

Pandangan tokoh Firdaus dari novel Perempuan di Titik Nol dan Si Kurus dari cerpen “Malam Terakhir” tentang ketidakseimbangan hukum di tempat mereka tinggal yang menjadi

masalah universal.

Topik ini didasarkan pada aspek:

Tema, penokohan, dan amanat.

3. Aktivitas yang dipilih:

Bermain peran/role play: dialog antara dua karakter dari karya serta era yang berbeda, mendiskusikan tentang isu tertentu.

(2)

2

Kerangka Presentasi

Dasar Pemikiran/

Rationale

Karya yang digunakan untuk presentasi lisan adalah novel Perempuan di Titik Nol yang dikarang oleh Nawal el-Saadawi dan cerpen “Malam Terakhir” dari kumpulan Malam Terakhir karya Leila S. Chudori. Topik yang akan dibahas dari kedua karya tersebut adalah pandangan tokoh Firdaus dari novel Perempuan di Titik Nol dan Si Kurus dari cerpen “Malam Terakhir” tentang keganjilan hukum di tempat mereka tinggal. Alasan yang mendasar mengenai pemilihan topik yang dimaksud adalah untuk menyorot kehidupan para penguasa yang semena-mena terhadap rakyat dan negaranya, untuk menggambarkan nasib rakyat kecil yang menjadi korban kejahatan para penguasa akibat hukum yang dibuat seenaknya, serta untuk menampilkan nasib kaum wanita akibat diskriminasi gender melalui tokoh Firdaus dan tokoh Si Kurus.

Presentasi ini akan disampaikan dengan bermain peran/role-play, dengan alasan penonton dapat lebih menghayati pesan/amanat yang ingin disampaikan melalui tindak laku sang aktor dan suasana yang terpancar selama aktor yang memainkan perannya (baik suasana fisik maupun suasana emosional). Pemilihan kedua karya tersebut didasari oleh tema yang terkandung dari kedua karya tersebut. Fokus dari cerpen “Malam Terakhir” adalah kebobrokan/keganjilan hukum yang dibuat oleh para penguasa. Walaupun novel Perempuan di Titik Nol membawakan tema utama pencapaian kehormatan/harga diri, namun ketidakseimbangan hukum yang dibuat oleh para penguasa (terutama laki-laki) menjadi tema sampingan karya ini dan terkandung di hampir seluruh cerita. Alasan pemilihan tokoh Firdaus dari novel Perempuan di Titik Nol karena tokoh ini merupakan tokoh yang mendominasi seluruh cerita (pemeran utama) serta tokoh yang memiliki watak pemberontak terhadap penguasa yang semena-mena, sedangkan Si Kurus dalam cerpen “Malam Terakhir” pun memiliki sifat yang serupa dengan tokoh Firdaus, yaitu sifat pemberontak, patriotik, dan kritis.

Presentasi ini dimainkan ketika tokoh Si Kurus sedang menghabiskan detik-detik terakhirnya di dalam bui, menunggu dieksekusi mati di depan para penguasa. Setelah itu, datang tokoh Firdaus yang ditempatkan di sebelah ruangan Si Kurus. Tokoh Firdaus akan dieksekusi besok pagi, sehari setelah Si Kurus dieksekusi. Dalam cerpen “Malam Terakhir”, diceritakan bahwa tokoh Si Kurus memiliki tiga teman (Si Gendut, Si Kacamata, dan seorang perempuan) yang akan dieksekusi pada pagi hari. Namun, cerpen “Malam Terakhir” tidak menuliskan bahwa mereka akan dieksekusi secara bersamaan, sehingga dalam presentasi ini, mereka (teman-teman Si Kurus) dibunuh satu per satu dalam selang waktu 30 menit. Si Kurus mendapat giliran yang terakhir. Oleh karena itu, Si Kurus memiliki waktu untuk berbicara dengan Firdaus di dalam bui mereka yang bersebelahan.

(3)

3 Dengan diselenggarakannya presentasi ini, diharapkan agar penonton dapat mengambil nilai-nilai positif dari permainan yang dibawakan oleh aktor. Nilai-nilai positif yang dimaksud berupa penolakan terhadap perilaku penguasa yang semena-mena dan hukum yang harus ditegakan secara adil dan sesuai dengan takarannya, serta keberadaan kaum wanita yang harus disamakan dengan kaum laki-laki dan diperlakukan secara adil.

(4)

4

Isi (Naskah Presentasi)

Latar

Tempat : dua ruang dalam penjara yang bersebelahan, namun dibatasi oleh pagar besi.

Waktu : pagi hari (dalam novel “Perempuan di Titik Nol”, tokoh Firdaus belum bertemu dengan psikiater dan dalam cerpen “Malam Terakhir”, teman-teman Si Kurus sudah digantung, sedangkan ia mendapatkan giliran terakhir).

Tokoh yang terlibat : Firdaus dari novel “Perempuan di Titik Nol” : Si Kurus dari cerpen “Malam Terakhir” : Petugas penjara (tokoh figuran) : Psikiater wanita (tokoh figuran)

Naskah

Seorang wanita didorong oleh petugas penjara ke dalam ruangan. Wanita ini menampilkan senyum kecutnya lalu duduk bersandar di tembok ruangan ia berada. Di ruangan sebelah terdapat seorang laki-laki yang kurus menatap wanita ini. Ia duduk mendekati wanita ini, namun ada pagar besi yang menjadi pembatas antara ruangan tempat mereka berada. Wanita ini duduk menatap lantai dengan sorotan mata yang dingin.

Si Kurus : Kau tidak apa-apa? Memang brengsek mereka itu.

Wanita itu tidak menjawab.

Si Kurus : Halo? Siapa namamu?

Wanita ini menoleh ke laki-laki ini dan menatapnya dengan pandangan yang dingin, lalu ia kembali menunduk dan menatap lantai.

Si Kurus : Ya, baiklah kalau kau tak mau berbicara. Cukup izinkan aku untuk berkisah saja. Toh hidupku di dunia ini hanya tinggal setengah jam.

Si Kurus mengambil napas panjang.

Si Kurus : Sebelum kau datang, ada empat orang dalam ruangan ini. Mereka teman- teman baikku. Teman seperjuangan melawan pemerintah tepatnya. Namun mereka hanya tinggal nama. Mati satu per satu di lapangan besar dan

(5)

5 dipertontonkan di depan para penguasa. Ya... seperti sebuah pertunjukan drama pembunuhan.

Si Kurus terdiam. Suaranya bergetar. Ia melihat ke arah wanita yang menjadi pendengarnya, namun wanita ini tetap tertunduk diam.

Si Kurus : Temanku, Si Gendut, meninggalkan dunia ini sejak dua jam yang lalu. Sedangkan Si Kacamata baru sejam yang lalu. Dan si perempuan, ia telah mati setengah jam yang lalu. Sial, mengapa aku yang mendapatkan urutan terakhir.

Firdaus : Cih... Kalian bertiga layak mati tersiksa. Namun si perempuan? Apa dosa yang telah diperbuatnya?

Si Kurus : Apa maksudmu dengan mengatakan bahwa aku dan dua teman laki-lakiku layak mati tersiksa? Tidakkah kau tahu–

Firdaus : Semua laki-laki itu sama. Sama brengseknya. Kalian adalah parasit dunia yang layak dibasmi. Kalian semua mahluk yang munafik. Hanya

bermodalkan mulut manis, disertai otak dan hati yang busuk!

Si Kurus terperanjat, kaget mendengar omongan wanita yang menjadi lawan bicaranya.

Si Kurus : Wah, tarik omonganmu, nona! Tidak hanya laki-laki saja yang brengsek. Di dunia ini, kaum hawa pun demikian. Malah lebih parah. Banyak dari mereka yang bertingkah bagaikan siluman. Menipu dunia dengan muslihat mereka. Nah, mungkin saja itu tindakan yang nona perbuat hingga nona bisa dimasukan ke ruangan ini. Sebenarnya yang menjadi sumber kesalahan itu ialah para penguasa yang semena-mena. Bertindak sebagai pahlawan negara, namun malah menghancurkannya.

Si Kurus menatap Firdaus. Firdaus membalas tatapan Si Kurus dengan padangan yang dingin.

Firdaus : Dan penguasa sendiri tidak lain adalah laki-laki.

Si Kurus : O-oh, sebegitu bencinya kah kau dengan kaum adam? Apa yang telah mereka perbuat hingga kau menyimpan rasa kebencian yang begitu mendalam?

Firdaus tidak menjawab. Wajahnya terlihat pucat.

(6)

6 kelak nanti kau keluar dari penjara ini, kau ceritakanlah kepada teman- temanmu, keluargamu, dan bahkan kepada media massa tentang apa yang kunarasikan kepadamu saat ini. Ini permintaan terakhirku. Kabulkanlah.

Si Kurus mengambil napas panjang.

Si Kurus : Kami berempat, almarhum ketiga temanku dan aku sendiri, adalah kelompok aktivis yang dianggap serigala berbulu domba oleh pemerintah. Padahal, kami berunjuk rasa untuk mengobati negara ini yang sudah

sekarat. Namun, mereka memandang kami sebagai musuh mereka. Sebagai sampah masyarakat yang hanya meminta sorotan perhatian.

Si Kurus diam sejenak. Ia menutupi wajahnya dengan kedua tangannya.

Si Kurus : Lalu kami ditangkap dan diminta untuk melakukan apa yang mereka minta. Kau tau apa permintaan mereka? Mereka meminta kami untuk menyatakan skenario yang telah mereka buat tentang aksi kriminal pembakaran kereta. Tentu saja kami menolak.

Si Kurus termenung.

Si Kurus : Alhasil, kepalaku diadu puluhan kali ke pintu besi hingga pecah rasanya otakku. Temanku, Si Kacamata, dicambuk ratusan kali. Si Gemuk tak

memiliki biji mata kiri lagi. Dan si perempuan... Alat kemaluannya digerogoti oleh tikus pemakan daging yang telah mereka latih. Namun aku senang karena mereka telah tenang di alam sana.

Firdaus tertawa. Si Kurus melotot.

Firdaus : Ceritamu lucu. Sayang sekali kalian bertiga tidak dihajar sampai mampus. Orang yang tidak layak mendapatkan hukuman itu hanyalah teman perempuanmu.

Si Kurus marah. Ia berdiri.

Si Kurus : Jaga omonganmu, hei nona!!! Kau tidak tahu apa-apa tentang perjuangan

kami! Kau tahu sendiri apa yang salah dengan hukum di negara ini. Cih,

terutama mereka yang membuatnya... Mereka memiliki hak untuk melakukan apa pun termasuk menyiksa rakyat kecil yang tak bersalah. Mereka memanipulasi sistem politik di negara ini hanya untuk mendapatkan harta semata. Mereka tidak lebih dari tikus-tikus yang rakus.

(7)

7

Si Kurus duduk.

Firdaus : Cih... semua penguasa hanya mementingkan uang. Mereka bagaikan panah beracun. Merekalah yang pantas dicap sebagai serigala berbulu domba! Dan aku tak heran mengapa penguasa itu brengsek. Karena mereka adalah laki- laki.

Si Kurus : Heh, apa maksudmu menga–

Firdaus : Tahan emosimu. Kini saatnya aku bercerita. Sejak kecil aku dipanggil Firdaus oleh keluargaku. Tidak ada keadilan bagi kaum perempuan di tempat aku dibesarkan. Diskriminasi terhadap perempuan merupakan sesuatu yang wajar dan harus diterima oleh siapa pun. Aku sendiri adalah seorang pelacur. Alasan aku menjadi seorang pelacur karena aku

menemukan harga diri yang tinggi dalam jiwa seorang pelacur. Namun, suatu saat aku disindir oleh temanku, seorang wartawan. Ia mengatakan bahwa pekerjaanku tidak terhormat. Berminggu-minggu lamanya pemikiran itu menghantuiku sampai akhirnya aku berhenti menjadi pelacur dan

menjadi seorang karyawati di sebuah perusahaan. Kau tau apa yang kulihat di perusahaan tersebut? Atasan-atasanku mencoba untuk menyewa

tubuhku. Pastinya kutolak. Mereka pun pernah mengancam untuk memecatku apabila aku tidak melayani mereka. Nah, bukankah kejadian yang kualami ini masih sering terjadi di negara ini? Seluruh karyawati menjadi pelacur perusahaan. Dan bukankah sudah ada hukum tentang perlindungan terhadap kaum wanita? Oh, di manakah keadilan itu berada?

Si Kurus : Aku setuju dengan perkataan dan cara pandangmu, namun apa yang membuatku membenci kaum laki-laki?

Firdaus : Seumur hidupku aku belum pernah menemukan laki-laki yang dapat menghargai kami, kaum wanita. Ayahku dan pamanku sendiri melakukan pelecehan seksual terhadap diriku. Polisi yang bertugas untuk memberikan perlindungan dan menetapkan nilai-nilai kemanusiaan bagi masyarakat pun memerkosaku. Ia menuduh aku sebagai penghancur rumah tangga, namun ia masih mempergunakan tubuhku untuk memuaskan libidonya. Lucu ya? Aku di sini karena telah membunuh seorang germo dan menakut-nakuti Pangeran Arab. Ia mengatakan bahwa ia telah menghabiskan uang negara untuk memenuhi kesenangannya, tanpa memikirkan kaum miskin. Ia menyewaku, dan pada saat ia membayarku, kurobek-robek uang

pemberiannya dan kulemparkan ke muka tebalnya. Dia menawarkan aku grasi, namun kutolak mentah-mentah. Oh, sayang sekali. Harga diriku tak bisa dijual.

(8)

8

Si Kurus tertawa. Firdaus memandang Si Kurus keheranan.

Si Kurus : Kita berdua memiliki kesamaan ya, Firdaus?

Firdaus : Maksudmu?

Si Kurus : Firdaus...

Si Kurus menatap lantai cukup lama. Hening. Lalu, ia berdiri dan berdeklamasi.

Si Kurus : Inilah contoh demokratisasi yang mereka teriakkan ke seluruh dunia. Inilah implementasi dari pembaruan yang sebenarnya tidak pernah baru. Inilah repetisi sejarah di mana... Di mana kita hanyalah ribuan ulat kecil yang menggelepar mampus dilindas sepatu mereka...

Si Kurus bercekak pinggang, sementara air matanya mulai mengalir.

Si Kurus : Ulat-ulat kecil... akan hancur diinjak sepatu bergerigi pemerintah. Tapi, ulat kecil itu akrab berdekapan dengan tanah. Dan mereka akan menyuburkan bumi ini dengan udara kebenaran!!!

Firdaus termenung.

Firdaus : Kuharap mulut dan hatimu itu serupa ya... Sehingga aku percaya bahwa ada laki-laki yang layak hidup.Kau baru saja membuka mataku, anak muda. Namun perasaan benciku kepada kaummu tak dapat kuhapus dari

ingatanku. Terlalu banyak luka yang tergores di hati ini.

Tiba-tiba terdengar suara langkah kaki seseorang yang datang mendekat.

Si Kurus : Nah, aku mendegar suara langkah kaki seseorang. Ini waktunya aku pergi, Firdaus.

Si Kurus berdiri.

Firdaus : Tunggu! Mengenai permintaan terakhirmu... Maaf, namun aku tak dapat mengabulkannya. Saat di mana aku dapat keluar dari penjara ini adalah besok, dan itu pun saat terakhir di mana aku berada di dunia ini karena aku juga mendapatkan hukuman serupa denganmu. Ada seorang psikiater wanita yang mendesak petugas penjara untuk bertemu denganku, namun kutolak. Mungkin saja–

(9)

9 merupakan hari di mana kau harus melepaskan segala beban dan

penderitaanmu. Satu-satunya cara hanyalah dengan melakukan apa yang telah kulakukan denganmu, yaitu mencurahkan segala perasaanmu! Ia pun seorang psikiater, pasti dapat menenangkan jiwamu. Matilah dengan tenang. Sama seperti yang aku rasakan. Dan, tolonglah Firdaus... Kita masih dapat berharap kepada psikiater ini. Ceritakanlah segalanya mengenai kehidupanku dan kehidupanmu.

Petugas penjara berada di depan pintu ruangan Si Kurus.

Petugas : Heh, kau anak muda, inilah giliranmu. Banyak orang yang membeli tiket untuk menontonmu. Mereka adalah para penguasa yang membawamu ke dalam bui ini.

Petugas penjara tertawa keras.

Petugas : Kini saatnya kau menghibur mereka dengan kematianmu di atas tali gantugan.

Petugas penjara menatap Firdaus.

Petugas : Dan kau, pelacur. Psikiater itu masih bersikeras untuk bertemu dengamu. Berikan jawaban terakhir. Bersediakah kau bertemu dengannya?

Firdaus : Ya... Suruhlah ia datang esok pagi. Satu jam sebelum aku dieksekusi.

Petugas penjara membuka pintu ruangan Si Kurus.

Petugas : Ayo, keluar kau!

Si Kurus : Selamat tinggal, Firdaus... Kabulkanlah permohonan terakhirku...

Firdaus : Baik, anak muda.

Petugas membawa Si Kurus menuju lapangan besar untuk dieksekusi. Sedangkan Firdaus duduk terdiam dan menatap dinding ruangan tempat ia berada.

Referensi

Dokumen terkait

Menurut Sunanto (2003), di Indonesia dikenal ada SLB A khusus menangani pendidikan anak tunanetra, SLB B khusus menangani pendidikan anak tunarungu (anak penderita gangguan

Sasaran Sasaran dalam pelaksanaan pekerjaan ini adalah pemangku kebijakan, instansi pengelola, P3A/GP3A/IP3A pemanfaat, serta stakeholder lainnya yang berkaitan dengan

Hal ini mengakibatkan semua pihak yang tidak dikenal dan mengetahui PIN tersebut dapat melakukan permintaan untuk berkomunikasi.Untuk menyediakan layanan otentikasi

Sedangkan pandangan fiqih siyasah terhadap peran kader Partai Persatuan Pembangunan (PPP) Kabupaten Kampar dalam pemenangan calon Bupati dan wakil Bupati Pilkada

Bogdan dan Taylor (dalam Subandi 2011:176) “penelitian kualitatif sebagai prosedur penelitian yang menghasilkan data deskriptif berupa kata-kata tertulis atau lisan

memberikan pertanyaan-pertanyaan yang membangkitkan semangat siswa untuk belajar dan guru juga mengajukan beberapa pertanyaan yang berkaitan dengan materi pembelajaran pada hari

Program Kampung Iklim (ProKlim) adalah program berlingkup nasional yang dikelola oleh Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan dalam rangka meningkatkan