• Tidak ada hasil yang ditemukan

Kata kunci: bantuan hukum, masyarakat miskin, laboratorium hukum.

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "Kata kunci: bantuan hukum, masyarakat miskin, laboratorium hukum."

Copied!
17
0
0

Teks penuh

(1)

UPAYA MEMAKSIMALKAN FUNGSI LABORATORIUM ILMU HUKUM UNTUK MENJAMIN AKSES TERHADAP KEADILAN BAGI MASYARAKAT MISKIN

Oleh : Heri Hartanto1

ABSTRAK

Asas persamaan dihadapan hukum (equality before the law) merupakan asas universal yang berlaku sebagai salah satu ukuran pelindungan Hak Asas Manusia. Salah satu wujudnya adalah memberikan akses terhadap keadilan bagi kelompok marjinal dengan memperoleh bantuan hukum terhadap masalah hukum yang dihadapinya. Indonesia telah memiliki beberapa peraturan perundang-undangan yang mengatur tentang pemberian bantuan hukum, dan secara khusus telah diatur dalam Undang-Undang Nomor 16 Tahun 2011 tentang Bantuan Hukum. Beragam peraturan tentang bantuan hukum belum memberikan solusi yang tepat karena isi peraturan perundangan yang satu tidak sinkron dengan yang lain, sehingga pemberian bantuan hukum menjadi tidak efektif.

Sasaran dari pemberian bantuan hukum adalah masyarakat miskin. Pemerintah dan Pemerintah Daerah berkewajiban menjamin akses keadilan bagi masyarakat melalui program bantuan hukum, tetapi dalam teknis pelaksanaannya, Pemerintah dan Pemerintah Daerah memerlukan bantuan tenaga ahli hukum untuk memberikan pelayanan hukum kepada masyarakat miskin. Pemerintah dan Pemerintah Daerah harus mengeluarkan seperangkat kebijakan untuk memenuhi kebutuhan atas bantuan hukum bagi masyarakat miskin, dan juga kebijakan untuk menjamin kebutuhan para pemberi bantuan hukum untuk memenuhi kebutuhan teknis bantuan hukum itu sendiri.

Perguruan Tinggi (Fakultas Hukum) sebagai satu institusi yang memiliki tenaga ahli untuk memberikan bantuan hukum merupakan salah satu pihak yang potensial untuk memberdayakan sumber daya manusia yang dimilikinya, yaitu dosen, alumni dan mahasiswa. Dengan memaksimalkan fungsi laboratorium ilmu hukum yang dimiliki oleh Perguruan Tinggi yang salah satunya mengelola unit bantuan hukum (LBH Kampus). LBH Kampus dapat menjadi tempat bagi dosen dalam melaksanakan pengabdian pada masyarakat, alumni dapat mengembangkan keilmuan dalam meniti karirnya di dunia kerja sedangkan bagi mahasiswa mendapat pengetahuan dan pengalaman hukum empiris tentang penyelesaian suatu sengketa hukum dengan bimbingan dari dosen dan/atau alumni.

Fungsi laboratorium ini memiliki sasaran masyarakat miskin yang membutuhkan bantuan hukum mendapat akses terhadap keadilan untuk membantu menyelesaikan masalah hukum yang ia hadapi. Sehingga dengan berjalannya fungsi laboratorium limu hukum dapat meningkatkan pengetahuan hukum kepada mahasiswa sekaligus memberikan bantuan hukum untuk mencapai akses keadilan bagi masyarakat miskin.

Kata kunci: bantuan hukum, masyarakat miskin, laboratorium hukum.

1 Dosen Fakultas Hukum Universitas Sebelas Maret, dan Sekertaris Badan Mediasi dan Bantuan Hukum (BMBH) Fakultas Hukum Universitas Sebelas Maret.

(2)

PENGANTAR

Ketentuan Pasal 1 ayat (3) Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 menegaskan bahwa “Negara Indonesia adalah negara hukum”. Dalam negara hukum, negara mengakui dan melindungi hak asasi manusia bagi setiap individu termasuk hak persamaan dihadapan hukum (equality before the law), salah satu wujud dari asas ini adalah pengakuan hak atas Bantuan Hukum bagi setiap warga negara. Penyelenggaraan pemberian Bantuan Hukum kepada warga negara merupakan upaya untuk memenuhi dan sekaligus sebagai implementasi negara hukum yang mengakui dan melindungi serta menjamin hak asasi warga negara akan kebutuhan akses terhadap keadilan (access to justice). Jaminan atas hak konstitusional tersebut belum mendapatkan perhatian secara memadai, sehingga dibentuk Undang-Undang Nomor 16 Tahun 2011 tentang Bantuan Hukum menjadi dasar bagi negara untuk menjamin warga Negara, khususnya bagi orang atau kelompok orang miskin untuk mendapatkan akses keadilan dan kesamaan di hadapan hukum.

Masyarakat yang memiliki tingkat ekonomi menegah ke atas ketika memiliki masalah hukumpada umumnya mampu membaya jasa Advokat untuk membela hak-haknya. Sehingga meskipun mereka tidak memahami hukum dengan baik, tetapi ada Advokat yang selalu membela kepenting hukumnya. Berbeda dengan masyarakat dari kelompok marginal (masyarakat desa, tingkat ekonomi rendah). Masyarakat miskin pada umumnya memiliki tingkat pendidikan yang rendah pula. Sehingga ketika menghadapi masalah hukum cenderung mengambil langkah yang salah karena ketidak tahuannya. Alas an ketidak tahuan hukum tidak akan dapat membantu untuk memperingan terlebih menghapuskan kesalahan seseorang. Dengan konsep fiksi hukum, setiap seorang dianggap tahu akan hukum yang berlaku di Indonesia. Sehingga ketidak tahuan akan hukum tidak akan menghapus atau memperingan dari pelanggaran hukum yang terjadi.

Biro Pusat Statistik (BPS) mempublikasikan data hingga September 2012, 11,66 % dari penduduk Indonesia atau sekitar 29 juta jiwa hidup dibawah garis kemiskinan2. Ketika

masyarakat miskin berhadapan dengan aparat penegak hukum (Petugas Polisi, Jaksa, Hakim, atau Advokat pihak lawan) yang sudah pasti memiliki pengetahuan dan pengalaman hukum yang baik, maka akan timbul posisi yang tidak berimbang. Masyarakat miskin tidak mampu membela

2 Sumber : http://www.bps.go.id/tab_sub/view.php?kat=1&tabel=1&daftar=1&id_subyek=23&notab=1, diakses tanggal 1 Juni 2013, pukul 10.00 WIB.

(3)

dirinya sendiri, bahkan beresiko menjadi kambing hitam dari masalah yang sedang terjadi. Sehingga proses hukum yang adil tidak dapat tercapai.

Pengaturan tentang hak atas bantuan hukum tidak hanya diatur dalam Undang-Undang Nomor 16 Tahun 2011 tentang Bantuan Hukum, sebelumnya telah banyak peraturan perundang-undangan yang menyinggung tentang hak atas bantuan hukum. Reglemen Acara Perdata, (Reglement op de Rechtsvordering), Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1981 tentang Kitab Undang-Undang Hukum Acara Pidana, Undang-Undang Nomor 39 Tahun 1999 tentang HAM, Undang-Undang Nomor 18 Tahun 2003 tentang Advokat, Undang-Undang Nomor 48 Tahun 2009 tentang Kekuasaan Kehakiman telah menyinggung tentang hak atas bantuan hukum. Banyaknya peraturan perundang-undangan yang mengatur tentang bantuan hukum tidak membuat pengaturan bantuan hukum menjadi lengkap, tetapi menimbulkan peraturan yang tumpang tindih antara peraturan satu dengan peraturan lain yang mengakibatkan tidak terjaminnya pemberian hak atas bantuan hukum.

Undang-Undang Nomor 16 Tahun 2011 tentang Bantuan Hukum dianggap sebagai salah satu solusi terhadap ketidakjelasan mekanisme pemberian bantuan hukum kepada warga Negara. Namun jika mencermati Undang-Undang Nomor 16 Tahun 2011 tentang Bantuan Hukum, semakin menambah ketidak konsistenan hukum dan masih banyak hal yang belum diatur secara baik yang mengakibatkan masyarakat pencari keadilan belum dapat mengakses bantuan hukum sebagaimana dimaksud dalam Undang-Undang Nomor 16 Tahun 2011 tentang Bantuan Hukum. Pemerintah maupun Pemerintah Daerah memiliki kewajiban untuk menjamin hak persamaan dihadapan hukum kepada seluruh warga Negara. Tetapi Pemerintah dan Pemerintah Daerah tidak dapat melaksanakan sendiri pemberian bantuan hukum. Pada aplikasinya Pemerintah dan Pemerintah Daerah memerlukan bantuan dari profesi advokat maupun Lembaga Bantuan Hukum.

Kebutuhan terhadap bantuan hukum bagi masyarakat miskin merupakan hal yang sangat penting. Masyarakat miskin pada umumnya memiliki tingkat pendidikan yang rendah, termasuk pengetahuan di bidang hukum, dan juga memiliki keterbatasan terhadap akses informasi. Masyarakat miskin yang akan berhadapan dengan aparat penegak hukum, baik itu Advokat, Petugas Polisi, Jaksa, dan Hakim yang kesemuanya memiliki pendidikan tinggi hukum. Posisi ini akan menimbulkan kondisi yang tidak seimbang, dan berpotensi menimbulkan perlakuan yang

(4)

sewenang-wenang terhadap masyarakat miskin. Hal ini mengakibatkan tidak terwujudnya asas persamaan di hadapan hukum sebagaimana diamatkan UUD 1945.

BANTUAN HUKUM DALAM PROSES PERADILAN

Proses hukum yang adil dan sistim peradilan tidak mungkin dapat dipisahkan. Tidak mungkin seseorang mendapatkan proses hukum yang adil tanpa melalui sistim peradilan. Sistim peradilan merupakan wadah bagi proses hukum yang adil bagi para pencari keadilan, sedangkan proses hukum yang adil merupakan roh dari sistim peradilan itu sendiri. Masalah bantuan hukum memiliki peran yang penting dalam penegakan proses hukum yang adil. Penegakan hukum menuntut adanya aparat penegak hukum yang bermental tangguh dan mempunyai integritas moral yang tinggi. Demikian juga dengan keberadaan bantuan hukum dalam sistim peradilan diharapkan dapat membantu jalannya proses peradilan yang jujur, berimbang dan tidak memihak, agar apa yang menjadi tujuan Negara hukum dapat diwujudkan.

Idealnya setiap aparat penegak hukum selalu mempertimbangkan tiga tujuan hukum, yaitu : kepastian hukum, kemanfaatan, dan keadilan3. Kepastian hukum diperlukan untuk

memberikan jaminan kepada masyarakat tentang perbuatan mana yang boleh dan mana yang tidak boleh dilakukan, sekaligus sebagai pedoman bagi aparat penegak hukum untuk melaksanakan tugasnya. Faktanya sangat sulit memenuhi ketiga unsur tersebut secara proporsional. Sering dijumpai kepastian hukum mendesak keadilan dan kemanfaatan, atau sebaliknya. Masyarakat pada umumnya tidak memahami bagaimana prosedur hukum sebagai jalan mencari keadilan. Oleh karenanya masyarakat membutuhkan bantuan pemberi bantuan hukum (advokat) untuk menyeimbangkan kedudukan sehingga tercapai ketiga tujuan hukum tersebut secara proposional.

Hak untuk mendapatkan bantuan hukum salah satunya diatur dalam Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1981 tentang Hukum Acara Pidana (KUHAP) Pasal 56 ayat (1) : “Dalam hal tersangka atau terdakwa disangka atau didakwa melakukan tindak pidana yang diancam dengan pidana mati atau ancaman pidana lima belas tahun atau lebih atau bagi mereka yang tidak mampu yang diancam dengan pidana lima tahun atau lebih yang tidak mempunyai penasihat hukum sendiri, pejabat yang bersangkutan pada semua tingkat pemeriksaan dalam proses peradilan wajib menunjuk penasihat hukum bagi mereka.”

(5)

Pencantuman kewajiban Negara menyediakan bantuan hukum tanpa disertai pengaturan tata cara tentang tata cara pemberian bantuan hukum bagi fakir miskin tidak akan memberikan manfaat yang berarti bagi masyarakat.

Berdasarkan data yang dipublikasikan oleh Badan Pembinaan Hukum Nasional (BPHN) Kementerian Hukum dan HAM RI, pada tahun 2010 pada Kepolisian Daerah Jawa Tengah telah memeriksa 38 tersangka yang ditahan dan hanya 7 orang tersangka yang didampingi oleh Penasihat Hukum. Sedangkan pada Kepolisian Daerah Kalimantan Selatan telah memeriksa 47 Tersangka, dan hanya 11 Tersangka yang didampingi Penasihat Hukum4. Penyidik selalu

menggunakan alasan bahwa Tersangka tidak bersedia didampingi Penasihat Hukum (Advokat) dan diminta membuat pernyataan tertulis. Surat pernyataan yang dibuat tersangka/terdakwa yang berisi tidak bersedia didampingi oleh advokat pada prinsipnya tidak dapat menggugurkan kewajiban negara untuk menyediakan bantuan hukum kepada tersangka/terdakwa, alasan tersebut tidak dapat generalisir pada seluruh tersangka/terdakwa. Bahkan ditemukan oknum petugas penyidik berusaha membujuk tersangka untuk mencabut kuasa yang diberika kepada Advokat, padahal advokat tersebut telah bekerja sangat baik membela kliennya sebagai tersangka. Alasan yang digunakan adalah Advokat sebagai penasihat hukum mempersulit penyidik dalam melaksanakan tugasnya. Pada prinsipnya yang dilakukan Penasihat Hukum hanya membela kepentingan hukum kliennya agar tidak dilanggar meskipun menjadi tersangka/terdakwa.

Pada umumnya, tersangka/terdakwa menyadari bahwa ia membutuhkan bantuan hukum untuk membela kepentingan hukumnya, tetapi terkendala oleh biaya yang harus dibayar jika menggunakan jasa Advokat. Terlebih jika tersangka/terdakwa tersebut berada dalam tahanan, maka ia tidak dapat mempersiapkan untuk membela diri dalam menghadapi tuntutan. Sehingga pernyataan tersangka/terdakwa tidak membutuhkan bantuan hukum tidak menghapuskan kewajiban negara untuk menyediakan bantuan hukum, karena hak untuk mendapat bantuan hukum merupakan hak konstitusional setiap warga negara.

Beberapa aspek penting dalam proses hukum yang adil, yaitu : asas persamaan di hadapan hukum (equality before the law), dan asas praduga tidak bersalah (persumtion of innocence). Untuk itu pembahasan kali ini akan membahas ketiga aspek tersebut dalam kaitannya dengan penyelenggaraan proses hukum yang adil dalam sistim peradilan.

4 Diolah dari laporan hasil penelitian : Mosgan Sitomorang dkk, 2011, Tanggung Jawab Negara dan Advokat dalam Memberikan Bantuan Hukum kepada Masyarakat, BPHN, Jakarta, hlm. 27. Diakses dari

(6)

1. Equality Before The Law

Asas persamaan di hadapan hukum merupakan aspek penting dalam proses hukum yang adil. Tanpa asas ini tidak mungkin proses hukum yang adil dapat ditegakan dalam proses peradilan. Oleh karena itu, setiap warga Negara tanpa kecuali harus diberi kesempatan yang sama untuk menggunakan hak-hak yang telah ditentukan oleh Undang-undang, seperti hak untuk mendapatkan bantuan hukum, hak untuk memberi keterangan secara bebas dan hak untuk mendapat peradilan yang jujur dan tidak memihak.

Kenyataannya pelaksanaan asas persamaan dihadapan hukum dalam proses hukum, khususnya perkara pidana masih terjadi disparitas dalam penjatuhan pidana maupun perlakuan antara tersangka/terdakwa/terpidana satu dengan yang lain. Ketika masyarakat kecil/miskin dijatuhi pidana oleh Pengadilan, serta merta harus menjalani pidana. Sebaliknya orang yang memiliki kekuasaan dijatuhi pidana masih diberi kesempatan untuk mencari justifikasi agar tetap bebas5. Pemasalahan ini dapat dilihat dari pengalaman proses

peradilan yang penah terjadi di Indonesia. Kasus nenek minah yang mencuri 3 buah kakao pada Pengadilan Negeri Banyumas, kasus pencurian sendal jepit oleh AAL yang diadili di Pengadilan Negeri Palu, Suyanto dam Kholil mencuri sebuah semangka yang diadili di Pengadilan Negeri Kediri dan masih ada kasus lain yang dihadapai masyarakat miskin. Pencurian pada prinsipnya memang melanggar hukum, tetapi jika melihat latar belakang pelaku dan nilai kerugian yang ditimbulkan, tindakan represif dengan menghukum pelaku seolah bukan solusi yang memberikan keadilan bagi korban itu sendiri. Masyarakat seperti nenek Milah, AAL tidak akan mampu untuk membayar jasa Advokat untuk membela hak-hak nya di persidangan, sehingga peran Lembaga Bantuan Hukum menjadi sangat penting.

Pengakuan terhadap asas persamaan dihadapan hukum dapat dilihat dalam penjelasan atas Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1981 tentang Hukum Acara Pidana yang berbunyi :”perlakuan yang sama atas diri setiap orang di hadapan hukum dengan tidak mengadakan perbedaan perlakukan”.

Sebagai upaya untuk mengawasi peradilan, maka pada prisipnya seriap persidangan harus diselenggarakan terbuka untuk umum. Persidangan dapat diselenggarakan secara tertutup dengan alasan kesusilaan, keteriban umum atau demi kepentingan nasional.

Setiap orang yang disangkan melakukan melakukan perbuatan pidana, berhak mendapatkan jaminan yang sama, yaitu :

5 Prof. Dr. H. Heri Tahir, S.H.,M.H., 2010, Proses Hukum yang Adil dalam Sistim Peradilan Pidana di Indonesia, LaksBang PRESSindo, Yogyakarta, hlm. 50.

(7)

a. Untuk diberitahukan secepatnya dalam detail dan dalam bahasa yang dapat dimengerti mengenai sifat dan sebab dari tuduhan terhadapnya.

b. Untuk memperoleh cukup waktu dan fasilitas bagi persiapan pembelaannya dan untuk berkomunikasi dengan pembela yang ia pilih sendiri.

c. Untuk diperiksa tanpa penundaan yang tidak beralasan.

d. Untuk diperiksa dalam kehadirannya, dan untuk membela dirinya secara pribadi atau melalui penasihan hukum yang dipilih sendiri. Bila ia tidak didampingi penasihat hukum, ia berhak disampaikan atas hak nya itu. Bagi mereka yang tidak mampu, pengadilan dapat menyediakan secara cuma-cuma.

e. Untuk memberikan kesempatan yang sama baik kepada saksi-saksi yang memberatkan maupun kepada saksi-saksi yang meringankannya.

f. Untuk mendapatkan bantuan penerjemah secara cuma-cuma apabila ia tidak mengerti atau tidak apat berbicara dalam bahasa yang digunakan di pengadilan.

g. Untuk tidak dipaksa memberikan kesaksian yang dapat merugikan dirinya sendiri atau mengaku salah6.

Asas Persamaan di hadapan hukum sesungguhnya bertujuan untuk mencegah situasi dimana ketidakmampuan finansial menjadi hambatan bagi terpenuhi hak yang dimilikinya. Diskriminasi harus dihilangkan dalam proses hukum, para aparat penegak hukum dituntut memberikan perlakuan yang sama pada setiap orang tanpa pandang bulu. Hanya dengan cara tersebut proses persidangan dapat dipertanggungjawabkan7.

2. Persumtion of Innocence

Asas praduga tidak bersalah (Persumtion of Innocence) pada dasarnya masnifestasi dari peradilan pidana modern yang melakukan pengambilalihan kekerasan atau sikap balas dendam oleh institusi yang ditunjuk oleh Negara8. Dengan demikian, seluruh pelanggaran

harus diselesaikan melalui prosedur hukum yang berlaku.

Dalam hukum positif di Indonesia, asas praduga tidak bersalah dirumuskan dalam Pasal 8 Undang-Undang Nomor 14 Tahun 1970 tentang Pokok-Pokok Kekuasaan Kehakiman Jo. Undang Nomor 35 Tahun 1999 tentang Perubahan Atas Undang-Undang Nomor 14 Tahun 1970 tentang Pokok-Pokok Kekuasaan Kehakiman, yang berbunyi :

“Setiap orang yang disangka, ditangkap, ditahan, dituntut dan/atau dihadapkan didepan Pengadilan, wajib dianggap tidak bersalah sebelum adanya putusan

6 A.A.G. Peters, et.al., 1988, Hukum dan Perkembangan Sosial, Buku Teks Sosiologi Hukum, Buku II, Pustaka Sinar Harapan, Jakarta, hlm. 63-64.

7 Prof. Dr. H. Heri Tahir, op. cit., hlm. 54. 8 Ibid, hlm. 80.

(8)

Pengadilan yang menyatakan kesalahannya dan memperoleh kekuatan hukum yang tetap.”

Sedangkan di dalam Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1981 tentang Hukum Acara Pidana asas praduga tidak bersalah ditegaskan pada penjelasan umum butir 3c, yang berisi : “setiap orang yang disangka, ditangkap, ditahan, dituntut atau dihadapkan di hadapan siding pengadilan, wajib dianggap tidak bersalahsampai ada putusan pengadilan yang menyatakan kesalahannya dan memperoleh kekuatan hukum yang tetap.”

Undang-Undang Nomor 39 Tahun 1999 tentang Hak Asasi Manusia dalam Pasal 18 ayat (1) juga mengatur tentang asas praduga tidak bersalah, yang berisi : “Setiap orang yang ditangkap, ditahan, dan dituntut karena disangka melakukan sesuatu tindak pidana berhak dianggap tidak bersalah, sampai dibuktikan kesalahannya secara sah dalam suatu sidang pengadilan dan diberikan segala jaminan hukum yang diperlukan untuk pembelaannya, sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.”

Pengakuan terhadap asas praduga tidak bersalah mengandung 2 (dua) maksut, disatu pihak ketentuan tersebut untuk memberikan jaminan dan perlindungan terhadap seorang manusia yang telah dituduh melakukan suatu tindak pidana dalam proses pemeriksaan perkara jangan sampai diperkosa hak asasinya. Sedangkan dipihak lain, keketentuan tersebut memnerikan pedoman kepada aparat penegak hukum agar membatasi tindakannya dalam melakukan pemeriksaan9. Sehingga aparat penegak hukum tidak dapat memaksa

tersangka/terdakwa untuk mengakui perbuatan yang disangkakan dan memberi stigma bersalah sampai ada putusan pengadilan yang menyatakan demikian.

Mardjono Reskodiputro berpendapat, asas praduga tidak bersalah adalah asas utama proses hukum yang adil (due prosess of law), yang sekurang-kurangnya memuat :

a. Perlindungan terhadap sikap sewenang-wenang dari pejabat Negara. b. Pengadilanlah yang berwenang memutuskan bersalah tidaknya terdakwa. c. Sidang pengadilan harus terbuka untuk umum.

d. Tersangka dan terdakwa harus mendapat jaminan untuk dapat membela diri sepenuhnya10.

Tersangka dan terdakwa mempunyai posisi yang setaraf dengan pejabat pemeriksa dalam kedudukan hukum dan berhak menuntut perlakuan yang telah digariskan dalam KUHAP11. Hak tersangka/terdakwa untuk membela hukum tidak dapat terpenuhi jika

tersangka/terdakwa tidak didampingi penasihat hukum yang membela hak-haknya.

9 Abdurrahman, 1979, Aneka Masalah Hukum dalam Pembangunan di Indonesia, Alumni, Bandung, hlm. 158. 10 Mardjono Reskodiputro, 1997, Bunga Rampai Permasalahan dalam Systim Peradilan Pidana, Kumpulan Karangan Buku kelima, Pusat Pelayanan Keadilan dan Pengabdian Hukum (D/H Lembaga Kriminologi Universitas Indonesia, Jakarta, hlm. 36.

(9)

AKSES KEADILAN BAGI MASYARAKAT MISKIN

Konsep akses terhadap keadilan pada intinya berfokus pada dua tujuan dasar dari keberadaan suatu sistem hukum yaitu: 1) sistem hukum seharusnya dapat diakses oleh semua orang dari berbagai kalangan; dan 2) sistem hukum seharusnya dapat menghasilkan ketentuan maupun keputusan yang adil bagi semua kalangan, baik secara individual maupun kelompok. Ide dasar yang hendak diutamakan dalam konsep ini adalah untuk mencapai suatu keadilan sosial (social justice) bagi warga negara dari semua kalangan12.

Akses terhadap keadilan dalam di Indonesia diartikan sebagai keadaan dan proses di mana negara menjamin terpenuhinya hak-hak dasar berdasarkan UUD 1945 dan prinsip-prinsip universal hak asasi manusia, dan menjamin akses bagi setiap warga negara agar dapat memiliki kemampuan untuk mengetahui, memahami, menyadari dan menggunakan hak-hak dasar tersebut melalui lembaga-lembaga formal maupun nonformal, didukung oleh mekanisme keluhan publik yang baik dan responsif, agar dapat memperoleh manfaat yang optimal dan memperbaiki kualitas kehidupannya sendiri13. Sehingga akses terhadap keadilan mengandung tujuan pencegahan dan

penanggulangan kemiskinan. Unsur penting dalam definisi ini adalah adanya kemampuan orang-orang dari kelompok marginal terhadap akses keadilan melalui institusi formal dan nonformal. Artinya, institusi keadilan negara dan masyarakat mendapat tempat yang sama sebagai penyedia keadilan bagi warga masyarakat, ketika mereka membutuhkan pemulihan hak.

Pemikiran mengenai akses terhadap keadilan akan lebih memiliki makna apabila digambarkan sebagai sebuah proses dalam rangka pemenuhan akses terhadap keadilan bagi kelompok terpinggirkan. Dalam proses tersebut terdapat berbagai faktor yang saling berhubungan. Interaksi antar faktor dapat dijelaskan melalui kerangka konseptual yang disarikan dari berbagai temuan dan tulisan para ahli di bidang akses terhadap keadilan serta dokumen resmi organisasi internasional, sebagaimana digambarkan di bawah ini14:

11 Yahya Harahap, Cetakan kedelapan, 2006, Pembahasan Permasalahan Permasalahan dan Penerapan KUHAP Penyidikan dan Penuntutan, Sinar Grafika, Jakarta, hlm.41.

12 BAPPENAS, 2009, Strategi Nasional Akses Terhadap Nasional, BAPPENAS, Jakarta, hlm. 5. 13 Ibid

14 Ibid, hlm, 9.

Kerangka

Normatif Kesadaran hukum Akses kepada forum yang sesuai Penanganan yang efektif terhadap masalah Penyelesaian yang memuaskan

(10)

Secara singkat, cakupan kerangka konseptual yang disarikan dari berbagai temuan dan tulisan para ahli di bidang akses terhadap keadilan serta dokumen resmi organisasi internasional dapat dijelaskan sebagai berikut:

1. Kerangka hukum normatif yang mendukung akses terhadap keadilan. Kerangka hukum normatif merujuk pada terbentuknya payung hukum yang merumuskan hak dan kewajiban, merefleksikan kebiasaan dan menerima perilaku sosial. Hal ini mencakup hukum negara dan hukum yang hidup dalam masyarakat yang meliputi dengan tiga elemen, yaitu: (i) substansi peraturan; (ii) proses penyusunan dan mekanisme perubahan; dan (iii) pelaku dan lembaga yang terlibat dalam proses dan substansi;

2. Kesadaran hukum, menyangkut peraturan, hak, kewajiban dan cara mengakses berbagai alternatif penyelesaian masalah;

3. Akses kepada lembaga di mana kelompok miskin dapat menerjemahkan kesadaran hukum dalam upaya nyata sebagaimana dinyatakan dalam World Development Report 2006, “people’s legal rights remain theoretical if the institutions charged with enforcing them are inaccessible.” Ketika perbaikan peraturan pro-kelompok miskin mulai terbentuk, serta kesadaran hukum mulai meningkat, pada saat itulah lembaga penegakan hukum formal atau nonformal, harus sudah dapat diakses;

4. Administrasi hukum yang efektif baik melalui lembaga formal maupun nonformal. Elemen lain yang penting dalam strategi akses hukum dan keadilan adalah kinerja lembaga hukum formal. Masyarakat seharusnya percaya bahwa kinerja lembaga hukum

Kerangka normatif berbagai undangundang, prosedur, dan struktur administratif berada pada tempatnya dan dipahami oleh para pemilik klaim dan pengemban tugas. Para pemilik klaim mengetahui hukum dan hakhaknya yang dijamin oleh hukum dan mengetahui apa yang harus dilakukan sekiranya mereka menghadapi masalah.

Para pemilik klaim mencari penyelesaian bagi masalah-masalah mereka melalui mekanismemekani sme yang sesuai dan masalah-masalah itu diterima oleh para pengemban t ugas. Para pengemba n tugas mengambil tindakan-tindakan yang diperlukan untuk memberikan penyelesaian bagi masalah-masalah. Para pemilik klaim menerima penyelesaianpen yelesaian yang sesuai, sejalan dengan standarstandar HAM.

(11)

adalah efisien, netral dan profesional. Lembaga hukum harus menerapan peraturan prosedur yang konsisten dan setara bagi berbagai status sosial masyarakat. Hal ini penting tidak hanya untuk menjamin kepuasan atas hasil akhir proses hukum untuk setiap kasus, tetapi juga untuk meningkatkan kepercayaan publik terhadap lembaga penegak hukum;

5. Pemulihan hak yang memuaskan yang mensyaratkan imparsialitas, tepat waktu, konsistensi norma, bebas korupsi dan intervensi politik, serta kesesuaian dengan norma dan standar hak asasi manusia nasional dan internasional;

6. Permasalahan mengenai kelompok miskin dan terpinggirkan merupakan permasalahan yang terdapat pada bagian akses terhadap keadilan yang lain;

7. Monitoring dan pengawasan yang akan mendukung transparansi dan akuntabilitas pada keenam bidang di atas15.

Tanggung jawab untuk menjamin terlaksananya akses keadilan bagi seluruh masyarakat Indonesia tidak dapat dibebankan seluruhnya kepada Negara. Fakultas Hukum sebagai lembaga pendidikan juga memiliki tanggung jawab untuk menjamin terlaksananya akses terhadap keadilan kepada seluruh golongan sebagai bentuk konkret dari pengabdian pada masyarakat. Penulis pun menyadari tanggung jawab tersebut, sehingga penulis melalui Badan Mediasi dan bantuan Hukum (BMBH) FH UNS pada tahun 2012 telah melaksanakan program kegiatan akses keadilan bagi masyarakat desa.

Masyarakat desa menjadi salah satu kelompok masyarakat yang termarjinalkan dikarenakan letak geografis yang jauh dari fasilitas kota, tingkat ekonomi dan pendidikan yang cenderung lebih rendah dari masyarakat di perkotaan. Beberapa masyarakat desa yang memiliki masalah hukum ragu untuk konsultasi hukum kepada tanaga ahli (advokat) dikarenakan khawatir biaya yang tinggi, dan mereka memiliki kesibukan berupa pekerjaan yang tidak dapat ditinggalkan. Dengan penghasilan yang rendah, tetapi jika ditinggalkan maka mereka kehilangan pendapatan untuk memenuhi kebutuhan hidup dan tidak dapat mencukupi kebutuhannya. Sehingga BMBH FH UNS pada tahun 2012 menyelenggarakan program Pos Bantuan Hukum (POSBAKUM) yang terletak ditengah-tengah masyarakat yaitu di kantor Kelurahan Plesungan, Kecamantan Gondangrejo, Kabupaten Karanganyar untuk memudahkan masyarakat mengakses layanan POSBAKUM.

(12)

Terdapat hubungan erat antara tingkat pertumbuhan ekonomi dan tingkat pendidikan masyarakat setempatnya. Data BPS tahun 2012, 11,66 % masyarakat Indonesia masih hidup dibawah garis kemisinan, kesulitan untuk memenuhi kebutuhan hidupnya sehari-hari, seringkali mengenyampingkan pendidikan. Persoalannya memang begitu gawat, menyangkut banyak aspek. Tidak saja dalam proses peradilan, tetapi justru suatu proses pendidikan hukum (legal education): bagaimana menumbuhkan suatu kesadaran hukum (legal conciousness) agar masyarakat mengerti akan hak-hak dan kewajibannya dalam pergaulan hukum di masyarakat16.

Proses pendidikan hukum ini bisa diartikan sebagai usaha untuk mengintrodusir nilai-nilai baru yang berguna tidak saja secara hukum, tetapi menyangkut banyak segi lain, lebih-lebih aspek ekonomis, terutama kalau kita hubungkan dengan kenyataan-kenyataan sosial, bahwa kita memang sedang menuju ke arah pertumbuhan ekonomi yang sejalan dengan pembagian pendapatan yang merata sesuai dengan sila keadilan sosial.

Pendidikan hukum pada masyarakat diawali dengan kegiatan penyuluhan hukum di dengan tema yang disesuaikan dengan kebutuhan masyarakat setempat. Penyuluhan hukum dihadiri oleh perangkat Rukun Tetangga (RT), Rukun Warga (RW), dan perangkat desa dengan tema yang disesuaikan kebutuhan masyarakat setempat.

Layanan POSBAKUM memiliki tujuan utama memberikan pendidikan hukum kepada masyarakat, sehingga nasihat hukum yang diberikan pada saat konsultasi berupa langkah konkret dan terperinci agar masyarakat dapat melaksanakan sendiri nasihat hukum tersebut. Dalam melaksanakan nasihat hukum, ada kalanya masyarakat menemukan kendala dan hambatan yang sebelumnya belum disampaikan. Maka masyarakat dapat melakukan konsultasi lanjutan untuk mencari solusi dari hambatan-hambatan tersebut. Apabila setelah beberapa kali konsultasi lanjutan, hambatan-hambatan tersebut masih belum dapat terselesaikan, maka diberikan bantuan hukum dengan mendamping secara langsung dalam penyelesaian masalah. Gambaran tentang proses konsulasi dan bantuan hukum dapat dilihat dari bagan berikut ini :

PELAYANAN KONSULTASI DAN BANTUAN HUKUM POSBAKUM KELURAHAN PLESUNGAN - FH UNS

16 T. Mulya Lubis, 1973, Bantuan Hukum : Arti dan Perannya, Prisma No. 6 Tahun II, Desember 1973, hlm. 1. Diakses dari http://ermanhukum.com/Makalah%20ER%20pdf/BANTUAN%20HUKUM%20ARTI%20DAN %20PERANANNYA.pdf, tanggal 1 Juni 2013.

Konsultasi Hukum

Kordinator

POSBAKUM

POSBAKUM

(13)

Petugas pada POSBAKUM terdiri dan Dosen, Advokat dan mahasiswa. Masyarakat yang datang ke POSBAKUM diposisikan sebagai seorang klien yang akan dilayani oleh Konsultan Hukum yang bertugas di POSBAKUM. Klien akan menguraikan seluruh masalah yang dihadapinya disertai dengan menganalisa bukti-bukti yang dimiliki untuk mengasilkan nasihat hukum. Nasihat hukum yang diberikan berisi tentang analisa secara objektif, tidak selalu membela klien yang datang, apabila klien secara objektif diposisi yang bersalah maka analisa konsultan hukum harus menyatakan yang sebenarnya dan mengupayakan solusi terbaik bagi klien. Selain itu konsultan hukum akan memberikan nasihat hukum tentang langkah hukum secara konkret yang dapat ditempuh untuk menyelesaikan masalah hukum yang dihadapi oleh klien, sehingga klien dapat melaksanakan sendiri nasihat hukum yang telah diberikan pada saat konsultasi hukum. Pemaparan nasihat hukum yang lengkap dan komprehensif akan memberikan dua manfaat sekaligus, yaitu dapat membantu klien penyelesaian masalah dan juga memberikan pendidikan hukum kepada masyarakat.

Adakalanya klien setelah berusaha melaksanakan nasihat hukum menemukan kendala yang tidak disampaikan sebelumnya, maka klien dapat melaksanakan konsultasi hukum lanjutan untuk mencari solusi dari kendala tersebut. Seluruh konsultasi yang telah dilaksanakan dilaporkan kepada kordinator POSBAKUM agar dapat dipantau dan dievaluasi seluruh pelaksanaan dan menilai apakah klien mampu melaksanakan sendiri nasihat hukum atau perlu bantuan hukum dalam penyelesaiannya.

Nasihat Hukum

Klien melaksanakan

nasihat hukum Bantuan Hukum Prodeo

Konsultasi

lanjutan

Advokat membuat Laporan perkembangan penanganan perkara

PERKARA

SELESAI

Mediasi Gagal

(14)

Kordinator POSBAKUM dapat merekomendasikan langkah mediasi sebagai salah satu alternative penyelesaian sengketa. Mediasi merupakan salah satu metode terbaik dalam penyelesaian sengketa karena menghasilan penyelesaian yang sama-sama menang (win-win solution), tetapi mediasi tidak selalu berhasil apabila pihak-pihak yang bersengketa tetap bersikukuh pada pendiriannya masing-masing. Metode madiasi menuntut kesedian dari pihak-pihak yang bersengketa untuk mau bersama-sama bernegosiasi tentang kepentingan masing-masing, untuk itu untuk menentukan apakah metode mediasi akan digunakan memerlukan analisa terlebih dahulu tentang jenis sengketa yang dihadapi dan karakter dari masing-masing pihak. Apabila dalam analisa para pihak terbuka untuk negosiasi, maka mediasi menjadi rekomendasi yang harus dilaksanakan untuk menyelesaikan sengketa. Konsultan Hukum pada POSBAKUM akan berkedudukan sebagai pihak ketiga yang netral (mediator) untuk membantu mencari solusi yang sama-sama menang, tetapi pada prinsipnya para pihak sendirilah yang menyelesaikan sengketa tersebut. Apabila mediasi yang telah dilaksanakan gagal mencapai kesepakatan, maka Mediator akan memberikan rekomendasi kepada para pihak tentang solusi pemecahan masalah.

Klien yang telah berusaha melaksanakan nasihat hukum dalam proses konsultasi dan konsultasi lanjutkan dan tidak mampu melaksanakan secara sepenuhnya, maka KOSBAKUM dapat memberikan bantuan hukum dengan menerima kuasa dari klien. Bantuan hukum dilaksanakan tanpa memumut biaya apapun dari pihak klien.

LABORATORIUM ILMU HUKUM

Masyarakat sering berpendapat bahwa apa yang dipelajari mahasiswa Fakultas Hukum berbeda dengan hukum dalam prakteknya. Maka mana yang benar, apakah teori pelajaran di Fakultas Hukum, atau praktek hukum yang benar? Kondisi yang ideal adalah teori dan praktek harus saling bersesuaian. Pembelajaran pada Fakultas Hukum di tingkat sarjana (S-1) lebih menekankan pada pembelajaran hukum positif (Das solen). Norma-norma hukum menjadi kurikulum wajib, tetapi bagaimana hukum hidup dimasyarakat tidak banyak dibahas. Sehingga seolah-olah menilai bahwa teori hukum berbeda dengan prakteknya.

Laboratorium ilmu hukum sebagai penunjang sarana pendidikan dan pengajaran terutama dalam peningkatan profesionalisme bidang hukum merupakan tempat bagi mahasiswa untuk menguji teori yang dipelajari dalam kelas untuk diterapkan dalam masyarakat. Keberadaan

(15)

Laboratorium Ilmu Hukum menjadi jantung di Fakultas Hukum, yang dapat menguji teori (Das Solen) untuk dapat diaplikasikan dalam kehidupan yang nyata (Das Sain) sehingga dengan demikian hukum tidak hanya dipahami sebagai norma tertulis yang kaku, tetapi hidup dan berkembang seiring dengan dinamika perkembangan kehidupan masyarakat itu sendiri.

LEmbaga Bantuan Hukum (LBH) Kampus sebagai salah satu unit pada Laboratorium Ilmu Hukum dapat menjadi tempat bagi mahasiswa untuk memperoleh ilmu dan pengalaman di bidang hukum praktis. LBH Kampus memiliki tugas utama untuk memberikan pelayanan hukum kepada masyarakat, baik yang bersifat sosialisasi hukum berupa penyuluhan hukum, sebagai upaya peningkatan pendidikan hukum juga sebagai upaya prefentif agar masyarakat tidak melanggar hukum yang berlaku. Selain itu LBH Kampus juga memberi konsultasi hukum dan bantuan hukum kepada masyarakat yang memiliki masalah hukum.

Tugas untuk penyuluhan hukum, konsultas hukum, dan bantuan hukum di LBH Kampus dapat dilaksanakan oleh dosen, alumni dan mahasiswa. Mahasiswa tersebut wajib lulus mata kuliah Hukum Acara Perdata, Hukum Acara Pidana, Hukum Acara Peradilan Agama dan Hukum Acara Tata Usaha Negara dan memperoleh pembekalan materi tentang strategi advokasi agar dapat melaksanakan tugas dengan baik. Penulis telah melaksanakan pada Badan Mediasi dan bantuan Hukum (BMBH) FH UNS dengan pengurus 15 orang dosen dan merekruit 4 orang alumni yang memiliki ijin advokat, serta 20 orang mahasiswa. Tingkat kepercayaan masyarakat kepada BMBH FH UNS cukup tinggi, sehingga selama tahun 2012, telah melayani konsultasi hukum sebanyak 130 kasus dan bantuan hukum sebanyak 25 kasus baik perdata maupun pidana. Mahasiswa yang aktif pada kegiatan LBH Kampus merupakan bagian dari Pendidikan Hukum Klinis. Mahasiswa akan dihadapkan masalah hukum konkriet di masyarakat dan harus dapat menganalisa dan memberikan solusi dari masalah tersebut. Keberadaan mahasiswa wajib mendapat pendampingan dari alumni (advokat) dan/atau dosen, sehingga menjamin tugas yang dilaksanakan mahasiswa dapat dilaksanakan dengan baik. Hambatan mahasiswa dalam melaksanakan tugas ini adalah kepercayaan masyarakat terhadap potensi yang dimiliki oleh mahasiswa, dan juga Undang-Undang Nomor 13 Tahun 2003 tentang Advokat. Sehingga mahasiswa hanya dapat memaksimalkan perannya pada penyelesaian sengketa non litigasi, sedangkan pada perkara litigasi peran mahasiswa hanya sebatas membahasan analisa kasus dan penyusunan dokumen persidangan.

(16)

Mahasiswa yang mengikuti kegiatan pendidikan hukum klinis di BMBH FH UNS pada umumnya memiliki pengetahuan, pengalaman dan kepercayaan diri yang lebih dibanding baik mahasiswa lain. Pengalaman belajar dalam menghadapi klien, lawan klien, atau aparat penegak hukum memberikan pengetahuan hukum dalam praktek (das sein), sehingga mahasiswa memiliki pengetahuan hukum secara teori dan praktiknya.

PENUTUP

Kelompok Masyarakat miskin dan masyarakat desa mesupakan salah satu kelompok masyarakat termarjinalkan, sehingga memiliki hak yang dilindungi oleh UUD 1945. Bagi masyarakat yang menghadapi masalah hukum, UUD 1945 mengamanatkan agar Negara memfasilitasi pemberian bantuan hukum secara prodeo kepada masyarakat tersebut. Peraturan Perundang-undangan tentang sistim peradilan juga mengatur hak bagi masyarakat untuk mendapatkan Bantuan hukum secara gratis untuk perkara-perkara tertentu untuk membeli perlindungan hukum kepada masyarakat. Bantuan hukum harus dilaksanakan oleh profesi Advokat yang juga memiliki kewajiban untuk memberikan bantuan hukum kepada masyarakat. Tetapi kewajiban melaksanakan bantuan hukum tidak dapat dibebankan sepenuhnya kepada profesi Advokat, Negara juga memiliki kewajiban untuk menjamin agar masyarakat mendapat bantuan hukum yang memadai, oleh karena itu Negara wajib menyadiakan anggaran yang khusus diperuntukan pelaksanaan program bantuan hukum kepada masyarakat yang tidak mampu.

Fakultas Hukum dapat memanfaatkan laboratorium ilmu hukum sebagai sarana pembelajaran hukum klinis bagi mahasiswa untuk meningkatkan pengetahuan dan pengalaman di bidang praktek hukum, sekaligus menjamin pemenuhan hak memperoleh bantuan hukum kepada masyarakat miskin sebagai bentuk akses terhadap keadilan.

DAFTAR PUSTAKA

A.A.G. Peters, et.al., 1988, Hukum dan Perkembangan Sosial, Buku Teks Sosiologi Hukum, Buku II, Pustaka Sinar Harapan, Jakarta.

Abdurrahman, 1979, Aneka Masalah Hukum dalam Pembangunan di Indonesia, Alumni, Bandung.

(17)

Mardjono Reskodiputro, 1997, Bunga Rampai Permasalahan dalam Systim Peradilan Pidana, Kumpulan Karangan Buku kelima, Pusat Pelayanan Keadilan dan Pengabdian Hukum (D/H Lembaga Kriminologi Universitas Indonesia, Jakarta.

Mosgan Sitomorang dkk, 2011, laporan hasil penelitian , Tanggung Jawab Negara dan Advokat dalam Memberikan Bantuan Hukum kepada Masyarakat, BPHN, Jakarta. Diakses dari

http://www.bphn.go.id/data/documents/lit-2011-10.pdf, tanggal 1 Juni 2013.

Prof. Dr. H. Heri Tahir, S.H.,M.H., 2010, Proses Hukum yang Adil dalam Sistim Peradilan Pidana di Indonesia, LaksBang PRESSindo, Yogyakarta.

Roscoe Pound, 1982, Pengantar Filsafat Hukum, Bharata Karya Aksara, Jakarta.

T. Mulya Lubis, 1973, Bantuan Hukum : Arti dan Perannya, Prisma No. 6 Tahun II, Desember 1973. Diakses dari http://ermanhukum.com/Makalah%20ER%20pdf/BANTUAN%20HUKUM

%20ARTI%20DAN%20PERANANNYA.pdf, tanggal 1 Juni 2013.

Yahya Harahap, Cetakan kedelapan, 2006, Pembahasan Permasalahan Permasalahan dan Penerapan KUHAP Penyidikan dan Penuntutan, Sinar Grafika, Jakarta.

http://www.bps.go.id/tab_sub/view.php?kat=1&tabel=1&daftar=1&id_subyek=23&notab=1,

Referensi

Dokumen terkait

Peran lembaga bantuan hukum dalam memberikan bantuan hukum secara cuma-cuma kepada masyarakat miskin pada peradilan pidana dapat penulis simpulkan menjadi tiga, legal aid yaitu

keadilan yang kurang mampu,dan lembaga bantuan hukum Makasssar,tidak mempersulit pemberian bantuan hukum kepada masyarakat yang kurang mampu.Berasal dari dana

Hingga saat ini, di Kabupaten BREBES belum ada Peraturan Daerah yang secara khusus menjamin terlaksananya hak konstitusional warga Negara tersebut, sehingga dengan

Walaupun penyelenggaraan Pemberian Bantuan Hukum sebagaimana yang diatur oleh Undang-Undang Nomor 16 Tahun 2011 tentang Bantuan Hukum lebih ditujukan

Penyelenggaraan bantuan hukum oleh pemerintah daerah yang diformilkan ke dalam suatu peraturan daerah sangat diperlukan dalam rangka untuk menjamin dan mewujudkan persamaan

Sementara itu, peran Lembaga Konsultasi dan Bantuan Hukum (LKBH) STAIN Purwokerto dalam menangani masalah Litigasi dan non litigasi berdasarkan hasil penelitian yang

Mengingat yang menjadi paralegal tersebut tidak semuanya orang-orang yang pernah mempelajari dan belajar di fakultas hukum serta sarjana hukum, maka dalam

Hingga saat ini, Pemerintah Daerah belum menetapkan Peraturan Daerah yang secara khusus menjamin terlaksananya hak konstitusional warga negara tersebut, sehingga