• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB III PERANCANGAN PETA BATAS LAUT TERITORIAL INDONESIA

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "BAB III PERANCANGAN PETA BATAS LAUT TERITORIAL INDONESIA"

Copied!
10
0
0

Teks penuh

(1)

BAB III

PERANCANGAN PETA BATAS LAUT

TERITORIAL INDONESIA

3.1 Seleksi Unsur Pemetaan Laut Teritorial Indonesia

Penyeleksian data untuk pemetaan Laut Teritorial dilakukan berdasarkan implementasi UNCLOS 1982. Data yang diperlukan yaitu :

1. Unsur untuk keperluan penentuan batas Laut Teritorial, meliputi :

• unsur garis pantai (shoreline), • unsur garis pangkal,

• unsur garis batas Laut Teritorial,

• unsur garis air rendah sepanjang pantai, • unsur karang-karang disekitar pulau,

• unsur garis air rendah pada sisi karang ke arah laut, • unsur deretan pulau sepanjang pantai di dekatnya,

• unsur titik-titik yang tepat untuk posisi garis pangkal lurus,

• unsur delta dan kondisi alam lainnya yang garis pantainya tidak tetap, • unsur titik-titik tetap yang paling menjorok ke laut,

• unsur pantai dan dan bagian laut yang berada di dalam garis pantai agar garis dangkal tidak terlalu jauh dari daratan untuk dapat tunduk pada rejim perairan pedalaman,

• unsur elevasi surut, • unsur mercusuar,

• unsur perairan pedalaman,

(2)

• unsur garis air rendah kedua tepi sungai, • unsur teluk pada pantai,

• unsur pintu masuk alamiah teluk,

• unsur air rendah pada pintu masuk alamiah teluk, • unsur teluk sejarah,

• unsur instalasi pelabuhan terluar, • unsur Instalasi lepas pantai, • unsur pulau buatan,

• unsur tempat berlabuh di tengah laut, • unsur air surut pada elevasi surut,

• unsur garis batas untuk negara pantai yang bersebelahan,

• daftar titik-titik koordinat geografis yang menjelaskan datum geodetik.

2. Unsur untuk keperluan hak lintas damai bagi kapal semua negara, meliputi :

• Unsur untuk keselamatan navigasi, terdiri dari Unsur: • garis pantai (shoreline),

foreshore dan area-area kering (drying areas),

angka kedalaman (sounding) dan drying height, • kontur kedalaman,

• kualitas dari dasar,

• pertolongan untuk navigasi,

objek-objek yang mencolok (conspicuous objects), • fitur-fitur kebudayaan laut,

• topografi dan fitur-fitur kebudayaan lainnya, • Unsur Perairan Pedalaman,

• Unsur tempat berlabuh di tengah laut (roadstead), • Unsur fasilitas pelabuhan di luar Perairan Pedalaman, • Unsur tempat membuang jangkar,

(3)

• Unsur batasan lintas pada alur laut, untuk kapal tanki, kapal bertenaga nuklir, kapal yang mengangkut bahan nuklir, dan kapal yang mengangkut barang atau bahan lain yang berbahaya atau beracun,

• peringatan bagi kapal selam dan kendaraan bawah air lainnya agar melakukan navigasi di atas permukaan air Laut Teritorial dan menunjukkan benderanya, • alur laut dan skema pemisah lalu lintas.

3.2 Manipulasi dan Generalisasi Unsur

Tahapan manipulasi dan generalisasi meliputi tahapan penyederhanaan dan penyimbolan objek-objek di permukaan bumi yang tidak mungkin disajikan seluruhnya pada peta. Penyederhanaan dan penyimbolan disajikan dalam bentuk titik, garis, luasan, dan singkatan yang terdapat pada Chart No.1 khususnya untuk keperluan penetapan batas Laut Teritorial, dan keperluan navigasi lintas damai. Secara umum batas laut pada peta disajikan berupa garis dengan ketebalan yang konstan meskipun disajikan dalam beberapa skala yang berbeda, hal ini bertujuan agar batas tersebut terlihat tetap tegas dan jelas tanpa dipengaruhi skala. Begitu pun objek-objek untuk keselamatan navigasi lainnya disajikan tanpa generalisasi berdasarkan ukuran skala, karena seberapa kecilnya ukuran objek yang dapat membahayakan ataupun memudahkan untuk navigasi harus disajikan dalam peta tersebut. Adapun penyimbolan objek-objek laut dapat dilihat pada sub bab 3.3.1.

3.3 Desain dan Konstruksi Peta Laut Teritorial Indonesia

3.3.1 Penyimbolan dan Singkatan

Penyimbolan dan singkatan untuk Peta Batas Laut Teritorial berdasarkan Chart

No.1 dapat diklasifikasikan sebagai berikut :

• Singkatan Posisi Geografis (lampiran A),

• Simbol Titik Kontrol (lampiran B), meliputi simbol titik triangulasi, titik pengamatan, titik tetap, dan benchmark,

(4)

• Simbol Garis Batas (lampiran D dan W), meliputi : simbol batas internasional di daratan, batas maritim internasional, batas lurus Laut Teritorial, batas Laut Teritorial, garis air rendah, dan garis pangkal,

• Simbol Pulau Buatan (lampiran E), • Simbol Garis Pantai (lampiran F),

• Simbol Kondisi Alam yang Garis Pantainya Tidak Tetap (lampiran G), • Simbol Instalasi Pelabuhan Terluar (lampiran H),

• Simbol Instalasi Lepas Pantai (lampiran I), • Simbol Tempat Membuang Jangkar (lampiran J),

• Simbol Alur Laut dan Skema Pemisah Lalu Lintas (lampiran K), • Simbol Kedalaman (lampiran L),

• Simbol dan Singkatan Dasar Laut (lampiran M), • Simbol Pertolongan Navigasi (lampiran N), • Simbol Radionavigasi (lampiran O),

• Simbol Objek-Objek yang Mencolok (lampiran P), • Simbol Sungai (lampiran Q),

• Simbol Kompas (lampiran R), serta • Informasi Pasut (lampiran S).

Simbol-simbol dalam Chart No.1 tersebut belum mencakup semua simbol yang dibutuhkan untuk Peta Batas Laut Teritorial. Oleh karena itu, dibuat simbol baru seperti simbol untuk garis pangkal (Tabel 3.1).

Tabel 3.1 Deskriosi Garis Pangkal

Bentuk Garis Pangkal Ketebalan Garis Warna

0,1 mm Biru (lebih tua dari warna biru perairan)

(5)

Selain penyimbolan, dan singkatan, terdapat beberapa bagian yang disajikan dalam Peta Batas Laut Teritorial yaitu:

• Judul peta

Judul Peta Batas Laut Teritorial merupakan identitas dari peta tersebut dengan menunjukkan nama wilayah yang dipetakan. Judul peta dapat ditulis seperti format di bawah ini:

PETA BATAS LAUT TERITORIAL INDONESIA (Nama Daratan Utama)-(Nama Pantai/Perairan)

(Nama Daerah Batas Pemetaan)

• Indeks Peta

Indeks peta disajikan untuk menunjukkan posisi relatif sebuah Peta Laut Teritorial terhadap Peta Laut Teritorial Indonesia seluruhnya. Contoh indeks peta dapat dilihat pada Gambar 3.1.

Gambar 3.1 Indeks Peta Batas Laut Teritorial Indonesia • Warna

Warna dalam Peta Batas Laut Teritorial disajikan berdasarkan warna simbol-simbol pada Chart No 1, seperti dapat dilihat dari simbol-simbol kontur kedalaman pada Gambar 3.2.

(6)

Gambar 3.2 Identifikasi Warna

Pada simbol tersebut terlihat bahwa wilayah daratan diberi warna kuning kecoklatan, area pasang surut diberi warna hijau, wilayah perairan dangkal (kedalaman kurang dari 10 m) diberi warna biru, dan wilayah laut lainnya diberi warna putih.

• Daftar koordinat geografis titik-titik dasar (Tabel 3.1), posisi tiap-tiap titik dasar (lihat lampiran T dan U).

Tabel 3.2 Daftar Koordinat Titik-Titik Dasar

Daftar Titik-Titik Koordinat

No.Titik Lintang Bujur Keterangan 1 _ ° _ ‘ _ “ _ ° _ ‘ _ “

2 _ ° _ ‘ _ “ _ ° _ ‘ _ “ … _ ° _ ‘ _ “ _ ° _ ‘ _ “

(7)

• Penamaan unsur peta mengacu pada Chart No.1. Penamaan objek pada Peta Batas Laut Teritorial (lihat lampiran V) meliputi:

Tabel 3.3 Penamaan Objek

Jenis Penamaan

Ukuran

Huruf Jenis Huruf Warna

Nama sungai 10 (2,5 mm) Century School Book Italic

Biru (lebih tua dari warna biru perairan) Nama perairan dan teluk 16-11 (4 mm – 2,75 mm) Century School Book Italic

Biru (lebih tua dari warna biru perairan)

Nama alur laut

12 (3 mm) Century School Book Italic

Biru (lebih tua dari warna biru perairan) Nama karang 10 (2,5 mm) News Gothic

Italic

Hitam

Nama daratan (sesuai luas daratan) Century School Book Hitam Nama batas negara 14-13 (3,5 mm – 3,25 mm) News Gothic Italic

Biru (lebih tua dari warna biru perairan)

Nama gunung 10 (2,5 mm) Century School Book Hitam Nama pelabuhan 14 (3,5 mm) Century School Book Italic Hitam

• Batasan lintas pada alur laut, untuk kapal tanki, kapal bertenaga nuklir, kapal yang mengangkut bahan nuklir, dan kapal yang mengangkut barang atau bahan lain yang berbahaya atau beracun dengan cara memberi tulisan

(8)

• Peringatan bagi kapal selam dan kendaraan bawah air lainnya dengan kalimat ”Kapal selam dan kendaraan bawah air lainnya harus melakukan navigasi di atas permukaan Laut Teritorial dan menunjukkan benderanya.

• Sistem koordinat yang digunakan menggunakan sistem koordinat geografis. • Sistem penggambaran peta menggunakan garis gratikul per 10 menit.

• Nomor Lembar Peta, menerangkan nomor registrasi dan posisi relatif tiap lembar peta terhadap posisi lembar peta lainnya, dalam peta laut ditempatkan disudut kiri atas dan kanan bawah dari peta. Cara penomoran Peta Laut Teritorial :

• penomoran ditulis dengan angka latin, • nomor terdiri atas tiga angka,

• angka pertama menjelaskan wilayah laut Indonesia yang dibagi menjadi tiga bagian yaitu laut Indonesia bagian utara, barat, dan selatan. Wilayah laut Indonesia bagian utara diberi nomor 1, wilayah laut bagian barat diberi nomor 2, dan wilayah laut bagian selatan diberi nomor 3.

• dua angka berikutnya menunjukkan posisi relatif lembar peta di dalam wilayah lautnya, penomoran dalam wilayah laut utara dan selatan dimulai dari barat hingga timur, dan penomoran dalam wilayah laut barat dimulai dari utara hingga selatan. 20-48-68.

Penjelasan mengenai penomoran dapat dilihat pada Gambar 3.3.

Gambar 3.3 Rancangan Penomoran Lembar Peta Laut Teritorial Indonesia

3

307

1

2

(9)

3.3.2 Proyeksi Peta

Proyeksi peta yang akan digunakan dalam pemetaan batas Laut Teritorial Indonesia ini adalah proyeksi Mercator, karena proyeksi ini cocok untuk kegiatan navigasi dimana garis loxodrome digambarkan sebagai garis lurus berarti mempunyai azimuth yang tetap, selain itu pula sifat dari proyeksi Mercator adalah normal konform yang baik digunakan untuk daerah ekuator dan dapat memberikan pengukuran sudut, jarak dan arah yang baik.

3.3.3 Skala

Sesuai dengan ketentuan yang tertera pada TALOS 1982 edisi tahun 2006, dicantumkan bahwa skala untuk pemetaan Laut Teritorial berkisar antara 1 : 50.000 hingga 1 : 100.000. Kesalahan pengeplotan 10 m hingga 20 m. Dalam perancangan ini dipilih skala peta 1 : 100.000 dengan alasan ketelitian skala 1 : 100.000 tidak melebihi ketelitian survei basepoint Indonesia yang digambarkan pada lembar lukis skala 1 : 5.000 ketelitian yaitu 5 m.

3.3.4 Datum Geodetik

Mengacu pada penggunaan datum geodetik yang dapat digunakan secara global maka datum yang dipilih dalam perancangan Peta Laut Teritorial Indonesia ini adalah WGS 1984, dan LAT sebagai datum vertikal.

3.4 Elemen Peta Batas Laut Teritorial

Peta Laut Teritorial Indonesia disajikan dalam lembar peta dengan ukuran

neatline 100,12 cm x 75,57 cm. Pada sebuah lembar peta laut terdapat

elemen-elemen peta. Perancangan Peta Batas Laut Teritorial Indonesia yang dilakukan pada penelitian ini mengandung beberapa elemen peta sesuai dengan elemen peta yang dicantumkan pada Chart No.1 yaitu nomor lembar peta dalam seri peta nasional, nama dan alamat pembuat peta, keterangan perlindungan terhadap hak cipta, edisi peta, berita pelaut Indonesia, dimensi dari batas dalam muka peta,

(10)

instansi nasional pembuat peta, skala peta, skala linier pada peta skala besar, batas peta, peringatan yang menjelaskan fitur-fitur khusus, diagram sumber data, referensi untuk peta skala besar, batas muka peta (neatline), bar code, nomor stok, nomor lembar peta dalam seri peta internasional, dan daftar koordinat titik-titik dasar. Penjelasan lebih lanjut dapat dilihat pada Gambar (3.4). Judul peta, catatan yang menjelaskan konstruksi peta, logo instansi nasional pembuat peta, skala peta, skala linier pada peta skala besar, diagram sumber data, referensi untuk peta skala besar, dan daftar koordinat titik-titik dasar diletakkan pada ruang kosong di muka peta.

Gambar

Tabel 3.1 Deskriosi Garis Pangkal
Gambar 3.1 Indeks Peta Batas Laut Teritorial Indonesia
Gambar 3.2 Identifikasi Warna
Tabel 3.3 Penamaan Objek
+3

Referensi

Dokumen terkait

Dengan demikian, mereka mampu berperan dalam setiap bidang kehidupan dengan sebaik- baiknya.Jadi, inti bangunan konsep pemikiran pendidikan Islam menurut Buya Hamka

Analis pasar modal mempertimbangkan suatu saham dengan rasio PBV yang rendah merupakan investasi yang aman, dengan demikian rasio PBV berpengaruh negatif terhadap

Sahabat MQ/ Forum Umat Islam FUI mencurigai/ adanya permainan untuk menyudutkan Islam di balik isu terorisme yang selalu dikaitkan dengan aksi oleh kelompok Islam

Tapi dilain sisi, penerapan sanksi pidana berdasarkan penelitian penulis, pelaku pelanggaran kelaikan kendaraan angkutan umum di Kabupaten Donggala yang dijatuhkan

Guru menjelaskan prosedur atau pola pembelajaran Jigsaw yang akan diterapkan. Siswa mencatat hasil temuan masing-masing dalam buku catatan tentang menggambar peta

Dari Tabel 4 dapat disimpulkan bahwa relevansi antara arah kebijakan pengembangan ristek dengan sebaran jumlah jurusan atau program keahlian yang tertinggi dipresentasikan oleh

Untuk itu dalam strategi siber polri yang dilakukan harus bertujuan untuk;.

Perbedaan konteks yang mempengaruhi pembentukan identitas telah menjadi isu utama dalam penelitian identitas pada abad 21 sehingga sudah banyak penelitian yang