Wawasan dan Kajian MIPA-2017 3 PERHITUNGAN SUARA PEMILIHAN UMUM DENGAN
MENGGUNAKAN QUICK COUNT GUNA MEMPREDIKSI HASIL PEMILIHAN UMUM PADA PEMILIHAN PRESIDEN TAHUN 2014
Prihantini (15305141044) Universitas Negeri Yogyakarta
Di Indonesia, pemilihan residen merupakan agenda rutin demokrasi di Indonesia yang diadakan setiap lima tahun sekali untuk memilih pemimpin negara. Pemilihan presiden adalah salah satu bentuk PEMILU yang dilkukan dengan cara memberikan suara kepada calon atau kandidat pemimpin suatu daerah maupun suatu negara. Untuk pemilihan pasangan presiden dan wakil presiden, PEMILU dilakukan secara langsung oleh penduduk daerah administratif setempat yang memiliki syarat serta hak memilih yang dilakukan dalam satu paket yaitu satu pasangan kandidat. Akan tetapi, penduduk di Indonesia tidaklah sedikit sedangkan pemungutan suara dilakukan secara langsung oleh tiap penduduk yang memiliki hak untuk memilih, sehingga dalam melakukan proses perhitungan suara memerlukan banyak waktu. Untuk itulah dengan adanya Perhitungan Suara Cepat (Quick Count) merupakan salah satu metode verifikasi hasil PEMILU yang datanya diperoleh dari sampel di lapangan yang berguna untuk memantau dan mempercepat perhitungan suara. Adapun yang menjadi tujuan dalam penulisan ini antara lain adalah untuk mengetahui langkah – langkah, cara penentuan sampel, cara menentukan Margin of Error dalam melakukan Quick Count. kegunaan dan manfaat Quick Count diantaranya adalah mencegah terjadinya kecurangan, untuk itu dibutuhkan publikasi yang luas dan organisasi yang kredibel dan transparan, mengidentifikasi terjadinya kecurangan dengan mencatat inkonsistensi antara hasil yang didapat dengan hasil akhir yang resmi, memprediksi hasil penghitungan suara, terutama jika hasil akhir memakan waktu lama dan dapat berpotensi pada iklim politik yang tidak menentu dan memicu instabilitas, meningkatkan kepercayaan terhadap proses PEMILU dan hasil akhir, melaporkan kualitas proses PEMILU melalui data kualitaf yang diperoleh, Mendorong partisipasi masyarakat, terutama dnagn melibatkan ratusan hingga ribuan relawan serta memperluas dan membangun kapasitas organisasi pemantau. Dalam makalah ini, penulis menggunakan langkah – langkah penulisan antara lain yaitu pengkajian dan identifikasi masalah mengenai Quick Count serta tinjauan pustaka, selanjutnya adalah pengumpulan dan pengolahan data, selanjutnya kesimpulan dan diakhiri dengan saran.
Wawasan dan Kajian MIPA-2017 4 BAB I
PENDAHULUAN I.1 Latar Belakang
Indonesia adalah negara demokrasi sehingga pemilihan umum merupakan ajang bagi rakyat untuk menyalurkan pilihannya termasuk pemilihan presiden. Pemilihan Presiden merupakan agenda rutin demokrasi di Indonesia yang diadakan setiap lima tahun sekali untuk memilih pemimpin negara. Di Indonesia, saat ini PEMILU dilakukan secara langsung oleh penduduk daerah administratif setempat yang memiliki syarat serta hak memilih. PEMILU dilakukan satu paket untuk memilih calon presiden serta calon wakil presiden. Diharapkan dengan adanya PEMILU ini dapat menghasilkan pemimpin yang sesuai dengan keinginan rakyat dan berkualits serta dapat memajukan negara. Sejauh ini perhitungan suara dalam PEMILU dilakukan secara manual. Proses perhitungan suara awalnya dilakukan dari tiap – tiap TPS (Tempat Pemungutan Suara), hasil perhitungan suara dari tiap – tiap TPS di bawa ke tempat perhitungan suara keseluruhan (pusat) oleh KPPS.
Dalam melakukan proses perhitungan suara memerlukan banyak waktu. Proses perhitungan suara di tingkat TPS kurang lebih mencapai 1 jam, proses rekap suara di tingkat kelurahan kurang lebih 2 hari. Dan dari sumber saksi suara di TPS untuk lama waktu perhitungan suara dari TPS sampai KPUD membutuhkan lama waktu 10 hari. Perhitungan suara membutuhkan waktu yang sangat lama dan sangat tidak efisien karena jumlah suara serta jumlah TPS yang begitu banyak.
Untuk itulah dengan adanya Perhitungan Suara Cepat (Quick Count) merupakan salah satu metode verifikasi hasil PEMILU yang datanya diperoleh dari sampel di lapangan yang berguna untuk memantau dan mempercepat perhitungan suara. Quick Count merupakan sebuah proses pengumpulan informasi oleh ratusan bahkan ribuan relawan melalui pemantauan langsung saat pemungutan dan perhitungan di seluruh tempat pemungutan suara (TPS) yang ada dengan menggunakan berbagai macam formulasi statistika. Sampel tidak diperoleh dari para responden yang ditanyai satu per stu akan tetapi sampel di dapatkan langsung menggunakan suatu formula statistika tertentu.
Dengan adanya Quick Count saat ini memiliki manfaat yang pentingdalam PEMILU khususnya PILPRES (Pemilihan Presiden) di negara Indonesia.Banyak dari lembaga survey seperti LSI, LP3ES, Puskabtis,
Wawasan dan Kajian MIPA-2017 5
CIRUS, LRI dan lain – lain melakukan survey perhitungan cepat untuk mengetahui hasil PEMILU. Tingkat kepuasan masyarakat terhadap Quick
Count ini cukup tinggi karena prosesnya yang cepat karena Quick Count tidak
menghitung semua TPS yang jumlahnya ratusan bahkan ribuan di Indonesia, namun cukup dengan sampel TPS. Akan tetapi metode Quick Count ini memiliki kelemahan yaitu hasil Quick Count ini bisa menjadi masalah (perhitungan meleset jauh) bagi masyarakat jika perhitungan tidak dilakukan dengan metodologi yang tepat serta pengorganisasian yang baik, sehingga perlu mengambil error yang seminimal mungkin.
I.2 Rumusan Masalah
Dari latar belakang yang telah dikemukakan, mak dapat ditentukan rumusan masalah sebagai berikut:
1. Bagimana langkah – langkah dalam melakukan Quick Count? 2. Bagaimana cara penentuan sampel dalam melakukan Quick Count?
3. Bagaimana perbedaan hasil Quick Count jika diambil tingkat error yang berbeda?
4. Bagaimana cara penentuan Margin of Error dalam Quick Count?
I.3 Tujuan Penulisan
Adapun yang menjadi tujuan dalam penulisan ini adalah:
1. Mengetahui langkah – langkah dalam melakukan Quick Count. 2. Mengetahui cara penentuan sampel dalam melakukan Quick Count.
3. Mengetahui perbedaan hasil Quick Count jika diambil tingkat error yang berbeda.
4. Mengetahui cara menentukan Margin of Error dalam Quick Count.
I.4 Manfaat Penulisan
Adapun yang menjadi manfaat dalam penulisan ini adalah:
1. Sebagai bahan pembelajaran mengenai cara penentuan Quick Count dalam mata kuliah statistika bagi kalangan mahasiswa maupun masyarakat. 2. Sebagai media penambah ilmu pengetahuan mengenai Quick Count. 3. Sebagai bahan dasar penambah pengetahuan selanjutnya bagi penulis.
Wawasan dan Kajian MIPA-2017 6 BAB II
TINJAUAN PUSTAKA II.1 Pengertian Quick Count
Sering kali kita lihat berbagai pemberitaan Quick Count di media televisi maupun media cetak, terutama saat PEMILU. Quick Count sendiri merupakan salah satu metode survey yang biasanya dilakukan oleh masyarakat. Terdapat dua jenis survey yang sering dilakukan yaitu metode Exit Polling dan Quick Count.
Quick Count sebenarnya sudah lama dikenal oleh publik dan sudah digunakan di
Indonesia mulai tahun 1997, yaitu pada saat PEMILU terakhir pada zaman Presiden Soeharto. Akan tetapi, baru akhir – akhir ini marak dibicarakan oleh masyarakat Indonesia, yaiu dimulai pada pemiliha presiden pada tahun 2004. Kata ‘Quick Count’ dapat diartikan sebagai penghitungan cepat, dimana dilakukan penghitungan hasil pemilihan umum secara cepat, lebih cepat daripada penghitungan yang resmi dilakukan oleh Komite Pemilihan Umum (KPU). Keabsahan Quick Count telah diakui secara luas di dunia, dan sampai saat ini merupakan metode yang paling canggih dalam menentukan perkiraan siapa pemenang dari suatu PEMILU, tanpa harus menghitung semua suara yang masuk.
Menurut beberapa para ahli, kegunaan dan manfaat Quick Count diantaranya adalah:
1. Mencegah terjadinya kecurangan, untuk itu dibutuhkan publikasi yang luas dan organisasi yang kredibel dan transparan.
2. Mengidentifikasi terjadinya kecurangan dengan mencatat inkonsistensi antara hasil yang didapat dengan hasil akhir yang resmi.
3. Memprediksi hasil penghitungan suara, terutama jika hasil akhir memakan waktu lama dan dapat berpotensi pada iklim politik yang tidak menentu dan memicu instabilitas.
4. Meningkatkan kepercayaan terhadap proses PEMILU dan hasil akhir. 5. Melaporkan kualitas proses PEMILU melalui data kualitaf yang diperoleh. 6. Mndorong partisipasi masyarakat, terutama dnagn melibatkan ratusan hingga
ribuan relawan.
7. Memperluas dan membangun kapasitas organisasi pemantau.
8. Dasar bagi aktivitas ke depan, yang tidak terkait langsung dengan PEMILU. Dari uraian manfaat Quick Count diatas, maka sangatlah penting bagi kita Warga Negara Indonesia yang mempunyai hak pilih untuk mempelajari dan memahami proses Quick Count.
Wawasan dan Kajian MIPA-2017 7 II.2 PEMILU (Pemilihan Umum)
Pemilihan Umum (PEMILU) adalah proses pemilihan orang – orang untuk mengisi jabatan – jabatan politik tertentu. Jabatan – jabatan tersebut beraneka ragam, mulai dari presiden, wakil rakyat di berbagai tingkat pemerintahan sampai kepala desa. Pada konteks yang lebih luas, PEMILU dapat juga berari proses pengisian jabatan- jabatan seperti ketua OSIS atau ketua kelas.
Menurut Arifin Anwar, PEMILU merupakan salah satu usaha untuk memengaruhi rakyat secara persuasif (tidak memaksa) dengan melakukan kegiatan retorika, public relations, komunikasi massa, lobby dan lain – lain kegiatan. Meskipun agitasi dan propaganda di Negara demokrasi sangat dikecam, namun dalam kampanye pemilihan umum, teknik agitasi dan teknik propaganda banyak juga diapaki oleh para kandidat atau politikus selalu komunikator politik.
Sistem pemilihan umum pada dasarnya dibagi menjadi dua yaitu berdasarkan peserta partai politik dan berdasarkan perhitungan. PEMILU berdasarkan peserta partai politik terbagi menjadi dua jenis yaitu:
1. Sistem Terbuka, yaitu pemilih mencoblos atau menconteng nama dan foto peserta partai politik.
2. Sistem Tertutup, yaitu pemilih mencoblos atau menconteng nama partai politik tertentu. Kedua system memiliki persamaan yaitu pemilih memilih nama tokoh yang sama di mana tokoh – tokoh tersebut bisa bermasalah di depan publik.
II.3 Perbedaan Quick Count dan Perhitungan KPU
Quick Count adalah proses pencatatan hasil perhitungan suara di ribuan
TPS yang dipilih secara acak maupun dengan meggunakan formulasi tertentu (Ujiyati, 2009). Menurut Ujiyati (2009), Quick Count adalah prediksi hasil PEMILU berdasarkan fakta bukan berdasarkan opini yang hal ini juga dijelaskan oleh Estok et. Al (2002) yang menerangkan bahwa Quick Count atau penghitungan suara cepat, atau dikenal sebagai Tabulasi Suara Paralel (Parallel
Vote Tabulation) merupakan salah satu metode yang berguna untuk memantau
pada hari pemungutan suara. Penghitungan suara cepat merupakan sebuah proses pengumpulan informasi oleh ratusan bahkan ribuan relawan melalui pemantauan langsung saat pemungutan dan penguhitungan suara di tempat pemungutan suara yang sudh ditentukan.
Pelaksana Quick Count biasanya adalah lembaga independen yang mempunyai kapasitas yang tinggi dalam dunia statistik. Hasil Quick Count di Indonesia yang dilakukan oleh lembaga independen di Indonesia selama ini
Wawasan dan Kajian MIPA-2017 8
selalu memberikan hasil yang akurat, sehingga masyarakat Indonesia meyakini seolah –olah hasil Quick Count adalah hasil serminana tabulasi KPU. Hal ini beralasan karena berdasarkan fakta PEMILU terakhir, selisih antara hasil Quick
Count dan tabulasi KPU sangat sedikit (Suhandojo, 2008). Bisa dilihat bahwa
pada pemilihan presiden, prosentase perolehan SBY-JK di putaran pertama berdasarkan hasil Quick Count adalah 33.20% yang diumumkan 6 Juli 2004, yang berdasarkan perolehan hasil perhitungan KPU adalah 33.57% yang diumumkan 26 Juli 2004.
Menurut beberapa ahli, terdapat perbedaan antara cara perhitungan Quick
Count dan perhitungan yang dilakukan oleh KPU sebagai berikut: Tabel 1.1 Perbedaan Quick Count dan Perhitungan KPU Proses
Penghitungan Suara
KPU Lingkaran Survey
Indonesia
Jumlah TPS Semua TPS yang ada TPS yang dipilih
berdasar formula atau random
Petugas KPU Relawan LSI
Parameter Berdasarkan rekapan data yang telah dihitung dari TPS melalui Kelurahan,
Kecamatan, Kabupaten, Provinsi dan Pusat
Berdasarkan data uang diinput oleh relawan yang dikirim ke server pusat
Waktu Beberapa hari bahkan
beberapa minggu setelah proses penghitungan suara selesai
2-3 jam setelh proses penghitungan suara selesai
Wawasan dan Kajian MIPA-2017 9 BAB III
METODE PENULISAN III.1 Sumber Literatur dan Data
Penulis dalam karya tulis ini menggunakan library research (studi pustaka). Library research merupakan metode penulisan dengan meggunakan objek kajian yang berfokus pada data dan pustaka – pustaka.
III.2 Pengolahan Data
Pengolahan data dilakukan dengan memadukan beberapa informasi untuk dijadikan suatu argument dan cara pandang suatu masalah, selain itu menggali beberapa data dari sumber yang telah diketahui sehingga dapat dikatakan teknik pengolahan data dan informasi dilakukan dengan deskriptif, dengan tulisan bersifat desktiptif yang menggambaran tentang Quick Count.
Secara keseluruhan langkah pembuatan karya tulis ini sebagai berikut:
1. Pengkajian terhadap kondisi cara penghitungan suara sebelum – sebelumnya tanpa menggunakan Quick Count.
2. Mengidentifikasi permasalahan yang terkait dengan bagaimana teknik penghitungan sura tanpa adanya Quick Count.
3. Merumuskan masalah supaya permasalahan lebih focus untuk dikaji kemudian dianalisis lebih lanjut mengenai keefektian waktu.
4. Mengumpulkan teori – teori atau materi terkait dengan focus masalah yang diangkat sebagai referensi untuk mendukung ketepatan dan ketajaman analisis permasalahan.
5. Menyusun metode penulisan agar karya tulis tersusun secara sistematis. 6. Menganalisis dan membahas beberapa contoh perhitungan Quick Count
serta membandingkan keakuratan dari berbagai pengambilan error.
7. Menarik kesimpulan dan saran berdasarkan rumusan masalah dan hasil analisis pembahasan yang dilakukan.
Gambar 1. Langkah Pembuatan Karya Tulis
Pengkajian dan Identifikasi Masalah Pengumpulan dan Pengolahan data
Tinjauan Pustaka Perumusan
Masalah
Simpulan
Wawasan dan Kajian MIPA-2017 10 BAB IV
PEMBAHASAN IV.1 Alur Pelaksanaan Quick Count
Langkah – langkah dala pelaksanaan Quick Count menurut LSI dan JIP (2007) adalah sebagai berikut:
1. Menentukan jumlah Tempat Pemungutan Suara (TPS) yang akan diamati lewat Quick Count.
2. Memilih TPS yang akan diamati. Terdapat beberapa metode dalam memilih sampel TPS yang akan digunakan untuk melakukan Quick Count, dalam hal ini penulis menggunakan metode pemilihan TPS dengan Rumus Slovin yaitu: 𝑛 = 𝑁
1+𝑁 𝑒 2. Dengan keterangan: 𝑛 = Jumlah TPS sampel
𝑁 = Jumlah TPS secara keseluruhan
𝑒 = Nilai error yang diambil (Interval keyakinan)
3. Manajemen data (pengamatan, pencatatan dan analsa data hasil perhitungan suara).
4. Publikasi hasil Quick Count.
IV.2 Jenis Data yang Digunakan
Menurut Ronald E. Walpole (1990), data statistik dibedakan menjadi dua macam yaitu data kualitatif (nominal dan ordinal) dan data kuantitatif (interval dan ratio).
Data kualitatif adalah data yang umumnya berupa data bukan angka, sedangkan data kuantitatif adalah data yang disajikan berupa angka. Berdasarkan dua kelompok data tersebut, data bisa dibedakan dalam empat jenis data, yaitu:
Nominal (apabila hanya memiliki satu kategori).
Ordinal (data nominal tetapi mempunyai tingkatan).
Interval (data angka yang bisa dilakukan prhitungan matematis dan mempunyai ukuran jarak antara data satu dengan lainnya).
Ratio (data angka yang bisa dilakukan perhitungan matematis dan mempunyai ukuran titik 0).
IV.3 Tingkat Kesalahan (Sampling Error)
Karena dalam Qucik Count data yang digunakan adalah data sample maka selalu terdapat kesalahan sampling error. Semakin kecil sampel yang digunakan maka kemungkinan kesalahan error akan semakin besar. Dan
Wawasan dan Kajian MIPA-2017 11
sebaliknya, apabila sampel diperbesar maka kesalahan akan semakin kecil. Karena sampling error menentukan derajat akurasi maka besarnya sampling
error harus ditentukan terlebih dahulu. Tujuan PEMILU untuk meramalkan
hasil perolehan suara kandidat, maka harus dibuat sampling error sekecil mungkin sehingga nantinya hasil yang didapatkan bisa akurat dan mewakili populasi.
Terdapat beberapa hal yang memungkinkan adanya kesalahan di masing-masing tahapan pada pelaksanaan Quick Count diantaranya adalah:
Kemungkinan kesalahan karena sukarelawan salah dalam mengirim data atau kesalahan teknik statistik yang digunakan. Kesalahan mungkin yang lain adalah penentuan lokasi TPS
yang dijadikan sampel.
Bersadarkan dengan sampling error yaitu ketepatan/akurasi perhitungan, maka selisih perhitungan antar kandidat juga bisa dijadikan parameter pengambilan kesimpulan.
Tingkat toleransi menyatakan seberapa besar hasil Quick Count akan menyimpang dari hasil sebenarnya (hasil KPU). Tingkat toleransi yang biasa dipergunakan dalam Quick Count adalah sebesar 2%, artinya jika selisih antara satu calon dengan calon lain kurang dari 2%, maka dimungkinkan bahwa kesimpulan hasil Quick Count akan berbeda dengan simpulan hasil KPU, meskipun hasil perhitungan suara antara Quick Count dan KPU tidak berbeda jauh.
IV.4 Tingkat Kepercayaan
Tingkat kepercayaan merupakan suatu keyakinan bahwa estimasi hasil
Quick Count bisa digunakan untuk populasi. Tingkat kepercayaan yang biasa
digunakan adalah 90%, 95% atau 99%. Namun yang sering digunakan adalah 95%. Misalkan tingkat kepercayaan 95% maka kita meyakini bahwa hasil estimasi data sampel akan sesuai dengan hasil perhitungan populasi sebesar 95%. Terdapat keterkaitan antara tingkat kepercayaan dengan kenormalan data, yaitu nilai Z (nilai distribusi sampling), dimana untuk tingkat kepercayaan 99%, 95%, 90% maka nilai Z berturut-turut adalah 1.65, 1.96 dan 2.58.
IV.5 Metode Sampling
Metode sampling adalah teknik penarikan sampel. Metode sampling dibedakan menjadi dua kategori, yaitu probabilistic dan non-probabilistik. Dalam hal ini, penulis menggunakan metode sampling secara random menggunakan rumus Slovin. Jumlah anggoota sampel sering dinyatakan
Wawasan dan Kajian MIPA-2017 12
dengan ukuran sampel. Jumlah sampel yang diharapkan 100% mewakili jumlah populasi adalah jumlah anggota populasi itu sendiri. Untuk jumlah populasi yang terlalu banyak akan diambil beberapa untuk dijadikan sampel yang harapannya sampel tersebut dapat mewakili populasi yang ada. Untuk menentukan ukuran sampel menggunakan rumus Slovin sebagai berikut:
𝑛 = 𝑁
1+𝑁 𝑒 2.
Dengan keterangan:
𝑛 = Jumlah TPS sampel
𝑁 = Jumlah TPS secara keseluruhan
𝑒 = Nilai error yang diambil (Interval keyakinan biasanya 0.05 atau 0.01)
IV.6 Perhitungan Statistika
Pada perhitungan statistika kali ini, Penulis menggunakan data pada pemilihan umum presiden dan wakil presiden pada tahun 2014. Dengan perencanaan pengambilan sampel sebagai berikut:
Populasi pmilih yang tersebar di 𝑁 buah TPS dirataka menurut provinsi. Jika provinsi ke−𝑖 mempunyai 𝑁𝑖 buah TPS, maka
𝑁 = 𝑁1+ 𝑁2+ ⋯ + 𝑁33 karena pada pemilihan umum presiden
tahun 2014 dilaksanakan serntak di 33 provinsi.
Jika direncakan akan mengambil 𝑛 buah TPS sebagai sampel dan sampel TPS harus tersebar di seluruh provinsi, maka 𝑛 = 𝑛1+ 𝑛2+ ⋯ + 𝑛33 dan besarnya 𝑛𝑖 harus proporsional terhadap besarnya 𝑁𝑖.
Berikut data jumlah TPS per provinsi pada pemilihan presiden tahun 2014:
Tabel 1.2 Jumlah TPS di Indonesia tahun 2014 di Tiap Provinsi No. Provinsi Total TPS No. Provinsi Total TPS No. Provinsi Total TPS 1 9508 12 75151 23 8549 2 27378 13 67850 24 4166 3 11001 14 8354 25 5857 4 12166 15 75979 26 16757 5 7523 16 17693 27 4849 6 16361 17 5939 28 1932 7 4220 18 8552 29 2767 8 15010 19 9605 30 3251 9 2741 20 11703 31 2123 10 3129 21 5856 32 2614 11 12408 22 8728 33 9113 Sumber: (https://data.kpu.go.id/ss8.php)
Wawasan dan Kajian MIPA-2017 13
Berdasarkan tabel diatas, sehingga diketahui bahwa jumlah seluruh populasi TPS (𝑁) sebanyak: 𝑁 = 𝑁1+ 𝑁2+ 𝑁3+ ⋯ + 𝑁33 𝑁 = 9508 + 27378 + 11001 + 12166 + 7523 + 16361 + 4220 + 15010 + 2741 + 3129 + 12408 + 75151 + 67850 + 8354 + 75979 + 17693 + 5939 + 8552 + 9605 + 11703 + 5856 + 8728 + 8549 + 4166 + 5857 + 16757 + 4849 + 1932 + 2767 + 3251 + 2123 + 2614 + 9113 𝑁 = 478833
Karena jumlah seluruh populasi TPS sudah diketahui, maka langkah selanjutnya adalah menghitung prosentase TPS di masing – masing provinsi. Berikut perhitungan prosentase TPS di masing – masing provinsi:
𝑃𝑟𝑜𝑣𝑖𝑛𝑠𝑖 1 = 4788339508 ∙ 100% = 2.0% 𝑃𝑟𝑜𝑣𝑖𝑛𝑠𝑖 18 =4788338552 ∙ 100% = 1.8% 𝑃𝑟𝑜𝑣𝑖𝑛𝑠𝑖 2 = 4788 3327378 ∙ 100% = 5.7% 𝑃𝑟𝑜𝑣𝑖𝑛𝑠𝑖 19 =4788339605 ∙ 100% = 2.0% 𝑃𝑟𝑜𝑣𝑖𝑛𝑠𝑖 3 = 47883311001 ∙ 100% = 2.3% 𝑃𝑟𝑜𝑣𝑖𝑛𝑠𝑖 20 =47883311703 ∙ 100% = 2.4% 𝑃𝑟𝑜𝑣𝑖𝑛𝑠𝑖 4 = 12166 478833 ∙ 100% = 2.5% 𝑃𝑟𝑜𝑣𝑖𝑛𝑠𝑖 21 = 5856 478833 ∙ 100% = 1.2% 𝑃𝑟𝑜𝑣𝑖𝑛𝑠𝑖 5 = 4788337523 ∙ 100% = 1.6% 𝑃𝑟𝑜𝑣𝑖𝑛𝑠𝑖 22 =4788338728 ∙ 100% = 1.8% 𝑃𝑟𝑜𝑣𝑖𝑛𝑠𝑖 6 = 47883316361 ∙ 100% = 3.4% 𝑃𝑟𝑜𝑣𝑖𝑛𝑠𝑖 23 =4788338549 ∙ 100% = 1.8% 𝑃𝑟𝑜𝑣𝑖𝑛𝑠𝑖 7 = 4788334220 ∙ 100% = 0.9% 𝑃𝑟𝑜𝑣𝑖𝑛𝑠𝑖 24 =4788334166 ∙ 100% = 0.9% 𝑃𝑟𝑜𝑣𝑖𝑛𝑠𝑖 8 = 47883315010 ∙ 100% = 3.1% 𝑃𝑟𝑜𝑣𝑖𝑛𝑠𝑖 25 =4788335857 ∙ 100% = 1.2% 𝑃𝑟𝑜𝑣𝑖𝑛𝑠𝑖 9 = 4788332741 ∙ 100% = 0.6% 𝑃𝑟𝑜𝑣𝑖𝑛𝑠𝑖 26 =47883316757 ∙ 100% = 3.5% 𝑃𝑟𝑜𝑣𝑖𝑛𝑠𝑖 10 =4788333129 ∙ 100% = 0.7% 𝑃𝑟𝑜𝑣𝑖𝑛𝑠𝑖 27 =4788334849 ∙ 100% = 1.0% 𝑃𝑟𝑜𝑣𝑖𝑛𝑠𝑖 11 =47883312408 ∙ 100% = 2.6% 𝑃𝑟𝑜𝑣𝑖𝑛𝑠𝑖 28 =4788331932 ∙ 100% = 0.4% 𝑃𝑟𝑜𝑣𝑖𝑛𝑠𝑖 12 =47883375151 ∙ 100% = 15.7% 𝑃𝑟𝑜𝑣𝑖𝑛𝑠𝑖 29 =4788332767 ∙ 100% = 0.6% 𝑃𝑟𝑜𝑣𝑖𝑛𝑠𝑖 13 =47883367850 ∙ 100% = 14.2% 𝑃𝑟𝑜𝑣𝑖𝑛𝑠𝑖 30 =4788333251 ∙ 100% = 0.7% 𝑃𝑟𝑜𝑣𝑖𝑛𝑠𝑖 14 =4788338354 ∙ 100% = 1.7% 𝑃𝑟𝑜𝑣𝑖𝑛𝑠𝑖 31 =4788332123 ∙ 100% = 0.4% 𝑃𝑟𝑜𝑣𝑖𝑛𝑠𝑖 15 =47883375979 ∙ 100% = 15.9% 𝑃𝑟𝑜𝑣𝑖𝑛𝑠𝑖 32 =4788332614 ∙ 100% = 0.5% 𝑃𝑟𝑜𝑣𝑖𝑛𝑠𝑖 16 =47883317693 ∙ 100% = 3.7% 𝑃𝑟𝑜𝑣𝑖𝑛𝑠𝑖 33 =4788339113 ∙ 100% = 1.9% 𝑃𝑟𝑜𝑣𝑖𝑛𝑠𝑖 17 =4788335939 ∙ 100% = 1.2%
Sehingga dari perhitungan diatas, dapat dibuat tabel prosentase TPS di masing – masing provinsi adalah sebagai berikut:
Wawasan dan Kajian MIPA-2017 14 Tabel 1.3 Prosentase TPS di Indonesia tahun 2014 di Tiap Provinsi
No. Provinsi Total TPS Prosentase (%) No. Provinsi Total TPS Prosentase (%) 1 9508 2.0 18 8552 1.8 2 27378 5.7 19 9605 2.0 3 11001 2.3 20 11703 2.4 4 12166 2.5 21 5856 1.2 5 7523 1.6 22 8728 1.8 6 16361 3.4 23 8549 1.8 7 4220 0.9 24 4166 0.9 8 15010 3.1 25 5857 1.2 9 2741 0.6 26 16757 3.5 10 3129 0.7 27 4849 1.0 11 12408 2.6 28 1932 0.4 12 75151 15.7 29 2767 0.6 13 67850 14.2 30 3251 0.7 14 8354 1.7 31 2123 0.4 15 75979 15.9 32 2614 0.5 16 17693 3.7 33 9113 1.9 17 5939 1.2
Dari hasil diatas, telah diketahui prosentase TPS di tiap – tiap provinsi. Langkah selanjutnya adalah menentukan jumlah sampel (𝑛) yang akan diambil. Dalam menentukan sampel, Penulis menggunakan sumus Slovin yaitu:
𝑛 = 𝑁
1 + 𝑁 𝑒 2
Jika diketahui jumlah Populasi Total (𝑁) = 478833 dan dengan mengambil nilai error (e) = 0.02 yang artinya mengambil tingkat keakuratan 98%, maka jumlah sampel yaitu:
𝑛 = 𝑁 1 + 𝑁 𝑒 2 𝑛 = 478833 1 + 478833 0.02 2 𝑛 = 478833 1 + 478833 0.0004 𝑛 = 478833 1 + 191.5332 𝑛 = 478833 112.5332 𝒏 = 𝟒𝟐𝟓𝟓
Wawasan dan Kajian MIPA-2017 15
Dari perhitungan diatas, maka didapatkan jumlah sampel yang akan diambil jika dihitung menurut rumus Slovin sebanyak 4255 TPS dengan pengambilan secara random dan rata. Maka direncanakan akan mengambil sebanyak 4255 TPS sebagai sampel dan sampel TPS harus tersebar di seluruh provinsi dan besar 𝑛𝑖 harus proporsional terhadap besarnya 𝑁𝑖. Berikut akan ditentukan banyak TPS sampel di tiap-tiap provinsi:
𝑃𝑟𝑜𝑣𝑖𝑛𝑠𝑖 1 =1002 ∙ 4255 = 85 𝑃𝑟𝑜𝑣𝑖𝑛𝑠𝑖 18 =1001.8 ∙ 4255 = 77 𝑃𝑟𝑜𝑣𝑖𝑛𝑠𝑖 2 =1005.7 ∙ 4255 = 242 𝑃𝑟𝑜𝑣𝑖𝑛𝑠𝑖 19 =1002 ∙ 4255 = 85 𝑃𝑟𝑜𝑣𝑖𝑛𝑠𝑖 3 =1002.3 ∙ 4255 = 98 𝑃𝑟𝑜𝑣𝑖𝑛𝑠𝑖 20 =1002.4 ∙ 4255 = 102 𝑃𝑟𝑜𝑣𝑖𝑛𝑠𝑖 4 =1002.5 ∙ 4255 = 106 𝑃𝑟𝑜𝑣𝑖𝑛𝑠𝑖 21 =1001.2 ∙ 4255 = 51 𝑃𝑟𝑜𝑣𝑖𝑛𝑠𝑖 5 = 1.6 100∙ 4255 = 68 𝑃𝑟𝑜𝑣𝑖𝑛𝑠𝑖 22 = 1.8 100∙ 4255 = 77 𝑃𝑟𝑜𝑣𝑖𝑛𝑠𝑖 6 =1003.4 ∙ 4255 = 145 𝑃𝑟𝑜𝑣𝑖𝑛𝑠𝑖 23 =1001.8 ∙ 4255 = 77 𝑃𝑟𝑜𝑣𝑖𝑛𝑠𝑖 7 =1000.9 ∙ 4255 = 38 𝑃𝑟𝑜𝑣𝑖𝑛𝑠𝑖 24 =1000.9 ∙ 4255 = 38 𝑃𝑟𝑜𝑣𝑖𝑛𝑠𝑖 8 =1003.1 ∙ 4255 = 132 𝑃𝑟𝑜𝑣𝑖𝑛𝑠𝑖 25 =1001.2 ∙ 4255 = 51 𝑃𝑟𝑜𝑣𝑖𝑛𝑠𝑖 9 = 0.6 100∙ 4255 = 26 𝑃𝑟𝑜𝑣𝑖𝑛𝑠𝑖 26 = 3.5 100∙ 4255 = 149 𝑃𝑟𝑜𝑣𝑖𝑛𝑠𝑖 10 =1000.7 ∙ 4255 = 30 𝑃𝑟𝑜𝑣𝑖𝑛𝑠𝑖 27 =1001 ∙ 4255 = 42 𝑃𝑟𝑜𝑣𝑖𝑛𝑠𝑖 11 = 2.6 100∙ 4255 = 111 𝑃𝑟𝑜𝑣𝑖𝑛𝑠𝑖 28 = 0.4 100∙ 4255 = 17 𝑃𝑟𝑜𝑣𝑖𝑛𝑠𝑖 12 =15.7100 ∙ 4255 = 668 𝑃𝑟𝑜𝑣𝑖𝑛𝑠𝑖 29 =1000.6 ∙ 4255 = 26 𝑃𝑟𝑜𝑣𝑖𝑛𝑠𝑖 13 =14.2100 ∙ 4255 = 604 𝑃𝑟𝑜𝑣𝑖𝑛𝑠𝑖 30 =1000.7 ∙ 4255 = 30 𝑃𝑟𝑜𝑣𝑖𝑛𝑠𝑖 14 =1001.7 ∙ 4255 = 72 𝑃𝑟𝑜𝑣𝑖𝑛𝑠𝑖 31 =1000.4 ∙ 4255 = 17 𝑃𝑟𝑜𝑣𝑖𝑛𝑠𝑖 15 =15.9 100 ∙ 4255 = 676 𝑃𝑟𝑜𝑣𝑖𝑛𝑠𝑖 32 = 0.5 100∙ 4255 = 21 𝑃𝑟𝑜𝑣𝑖𝑛𝑠𝑖 16 =1003.7 ∙ 4255 = 157 𝑃𝑟𝑜𝑣𝑖𝑛𝑠𝑖 33 =1001.9 ∙ 4255 = 81 𝑃𝑟𝑜𝑣𝑖𝑛𝑠𝑖 17 =1001.2 ∙ 4255 = 51
Setiap provinsi diambil sesuai dengan proporsi jumlah TPS di masing – masing provinsinya, sesuai dengan jumlah prosentase jumlah TPS secara keseluruhan. Jika dalam suatu provinsi TPS memiliki sebanyak 𝑎% dari jumlah TPS keseluruhan (𝑁), maka jumlah TPS sampel adalah 𝑎% dari jumlah TPS sampel keseluruhan (𝑛). Sehingga dari perhitungan diatas, dapat dibuat tabel prosentase sampel TPS di masing – masing provinsi adalah sebagai berikut:
Wawasan dan Kajian MIPA-2017 16 Tabel 1.4 Jumlah Sampel TPS di Indonesia tahun 2014 di Tiap Provinsi
No. Prov TPS Sampel (%) No. Prov TPS Sampel (%) No. Prov TPS Sampel (%) 1 85 2.0 12 668 15.7 23 77 1.8 2 242 5.7 13 604 14.2 24 38 0.9 3 98 2.3 14 72 1.7 25 51 1.2 4 106 2.5 15 676 15.9 26 149 3.5 5 68 1.6 16 157 3.7 27 42 1.0 6 145 3.4 17 51 1.2 28 17 0.4 7 38 0.9 18 77 1.8 29 26 0.6 8 132 3.1 19 85 2.0 30 30 0.7 9 26 0.6 20 102 2.4 31 17 0.4 10 30 0.7 21 51 1.2 32 21 0.5 11 111 2.6 22 77 1.8 33 81 1.9
Setelah menentukan jumlah sampel TPS di masing – masing provinsi, langkah selanjutnya adalah menghitung estimasi proporsi perolehan suara calon dengan rumus sebagai berikut:
𝑃 = 𝑁𝑖 𝑛𝑖𝑦𝑖𝑗 𝑛𝑖 𝑗 =1 𝑚 𝑖=1 𝑁𝑖 𝑛𝑖𝑥𝑖𝑗 𝑛𝑖 𝑗 =1 𝑚 𝑖=1
Dengan keterangan sebagai berikut:
𝑃 = Estimasi Proporsi Perolehan Suara Calon 𝑚 = Banyaknya jumlah provinsi
𝑖 = Indeks Provinsi 𝑗 = Indeks Nomor TPS
𝑁𝑖 = Banyaknya jumlah TPS di provinsi ke-𝑖
𝑛𝑖 = Banyaknya jumlah sampel TPS di provinsi ke-𝑖
𝑦𝑖 = Prolehan suara calon yang akan di hitung di provinsi ke-𝑖 𝑥𝑖 = Jumlah seluruh suara yang sah di provinsi ke-𝑖
Pada makalah kali ini, penulis akan menghitung proporsi suara pasangan Jokowi-JK pada hasil rekapitulasi pemilihan presiden tahun 2014 di Indonesia. Berikut merupakan tabel hasil rekapitulasi perolehan suara pasangan Jokowi-JK di masing – masing Provinsi:
Wawasan dan Kajian MIPA-2017 17 Tabel 1.5 Rekapitulasi Pilpres Indonesia kategori suara Jokowi-JK tahun
2014 di Tiap Provinsi No. Prov Total TPS Sampel TPS y x No. Prov Total TPS Sampel TPS y x 1 9508 85 7546 15885 18 8552 77 5673 20618 2 27378 242 29402 53135 19 9605 85 12571 18991 3 11001 98 4914 19098 20 11703 102 12923 22097 4 12166 106 10396 22684 21 5856 51 5926 10432 5 7523 68 7066 14240 22 8728 77 7745 15689 6 16361 145 16465 34812 23 8549 77 9537 15178 7 4220 38 4222 8413 24 4166 38 6228 11341 8 15010 132 19624 36809 25 5857 51 6542 11879 9 2741 26 3660 5291 26 16757 149 25387 36113 10 3129 30 4703 4336 27 4849 42 5558 9967 11 14208 111 24342 44404 28 1932 17 2141 4805 12 75151 668 80688 199911 29 2767 26 3870 5187 13 67850 604 105953 161213 30 3251 30 4363 8048 14 8354 72 10267 17966 31 2123 17 1996 5093 15 75979 676 97182 183430 32 2614 21 3124 4417 16 17693 157 20872 47963 33 9113 81 14308 20909 17 5939 51 12642 17208 Sumber: (https://data.kpu.go.id/ss8.php)
Dari hasil diatas diketahui jumlah provinsi yang akan diolah sebanyak 33 provinsi yang masing- masing provinsi memiliki jumlah populasi TPS dan sampel TPS yang berbeda – beda.
Dengan menggunakan rumus Estimasi Proporsi perolehan calon yaitu: 𝑃 = 𝑁𝑖 𝑛𝑖𝑦𝑖𝑗 𝑛𝑖 𝑗 =1 𝑚 𝑖=1 𝑁𝑖 𝑛𝑖𝑥𝑖𝑗 𝑛𝑖 𝑗 =1 𝑚 𝑖=1
Sehingga didapatkan hasil sebagai berikut:
𝑃 =133276625,170545182 = 0.5293 = 52.93%
Dari hasil diatas, didapatkan estimasi perolehan suara pasangan Jokowi-JK dengan 𝑃 = 52.93% yang artinya dapat dipastikan sebanyak 98% pasangan Jokowi-JK akan menang dalam Pemilihan Presiden, karena jumlah nilai estimasi perolehan suara lebih dari 50% dan artinya lebih dari setengah jumlah suara secara keseluruhan. Dapat dipastikan 98% karena error yang digunakan saat menghitung jumlah sampel TPS yaitu 0.02 artinya tingkat keakuratan perhitungan sebanyak 98%.
Wawasan dan Kajian MIPA-2017 18 IV.7 Perhitungan Margin of Error
Margin of Error (𝑚𝑜𝑒) digunakan untuk menghitung kisaran prosentase
estimasi perolehan suara yang telah dihitung sebelumnya. 𝑀𝑜𝑒 merupakan elemen statistic yang merepresentasikan jumlah kesalahan dalam pengambilan sampel pada suatu survey yang digunakan untuk mengukur seberapa dekat data yang didapat dari sampel dengan data yang ada pada populasi sesungguhnya, selain itu 𝑚𝑜𝑒 ini biasanya digunakan sebagai rentang hasil perhitungan yang sebenarnya. Pada pengambilan tingkat kepercayaan kisaran prosentase perhitungan suara sebesar 95%, 𝑚𝑜𝑒 dari estimasi proporsi (persentase) perolehan suara pasangan calon yang dihitung menggunakan rumus berikut:
𝑚𝑜𝑒 = 2 × 1 𝑋 2 𝑁𝑖(𝑁𝑖− 𝑛𝑖) 𝑛𝑖 × 𝑆𝑖2 𝑚 𝑖=1
Dengan 𝑆𝑖2 adalah variansi dari variable acak 𝐷
𝑖 = (𝑦𝑖𝑗 − 𝑝 𝑥𝑖𝑗) untuk provinsi
ke-𝑖, dengan 𝑚 adalah banyaknya provinsi yang akan dihitung.
Pada perhitungan estimasi proporsi suara pasangan Jokowi-JK pada pemilihan presiden tahun 2014, nilai 𝑚𝑜𝑒 yang dihitung berdasarkan rumus diatas yaitu 0.619% atau 0.62%. Sehingga dapat disimpulkan bahwa dengan estimasi perolehan suara pasangan Jokowi-JK dimana 𝑝 = 52.93% dan besarnya 𝑚𝑜𝑒 sebesar 0.62%, maka kisaran presentase perolehan suara pasangan Jokowi-JK pada perhitungan secara keseluruhan pasangan ini mendapatkan estimasi proporsi dengan rentang antara 52.31% sampai 53.55%.
Wawasan dan Kajian MIPA-2017 19 BAB V
PENUTUP V.1 Kesimpulan
Adapun yang menjadi kesimpulan dalam makalah ini adalah:
1. Quick Count adalah penghitungan cepat, dimana dilakukan penghitungan hasil pemilihan umum secara cepat, lebih cepat daripada penghitungan yang resmi dilakukan oleh Komite Pemilihan Umum (KPU).
2. Pemilihan Umum (PEMILU) adalah proses pemilihan orang – orang untuk mengisi jabatan – jabatan politik tertentu. PEMILU merupakan salah satu usaha untuk memengaruhi rakyat secara persuasif (tidak memaksa) dengan melakukan kegiatan retorika, public relations, komunikasi massa, lobby dan lain – lain kegiatan.
3. Karena dalam Qucik Count data yang digunakan adalah data sample maka selalu terdapat kesalahan sampling error. Semakin kecil sampel yang digunakan maka kemungkinan kesalahan error akan semakin besar. Dan sebaliknya, apabila sampel diperbesar maka kesalahan akan semakin kecil.
4. Tingkat kepercayaan merupakan suatu keyakinan bahwa estimasi hasil
Quick Count bisa digunakan untuk populasi. Tingkat kepercayaan yang
biasa digunakan adalah 90%, 95% atau 99%.
5. Metode sampling adalah teknik penarikan sampel. Metode sampling dibedakan menjadi dua kategori, yaitu probabilistic dan non-probabilistik. Dalam hal ini menggunakan metode sampling secara random yaitu dengan rumus Slovin:
𝑛 = 𝑁
1 + 𝑁 𝑒 2
Dan rumus estimasi proporsi perolehan suara calon sebagai berikut: 𝑃 = 𝑁𝑖 𝑛𝑖𝑦𝑖𝑗 𝑛𝑖 𝑗 =1 𝑚 𝑖=1 𝑁𝑖 𝑛𝑖𝑥𝑖𝑗 𝑛𝑖 𝑗 =1 𝑚 𝑖=1 V.2 Saran
Adapun yang menjadi kesimpulan dalam makalah ini adalah:
1. Perlunya kajian lebih lanjut terkait Quick Count dan perlunya penerapan uji – coba sederhana cara kerja Quick Count agar semakin efektif dalam penerapannya tidak hanya pada pemilu tertentu.
Wawasan dan Kajian MIPA-2017 20
2. Quick Count sebaiknya diaplikasikan ke perhitungan pemilu dalam skala kecil seperti pemilihan ketua OSIS dan lain – lain sehingga masyarakat akan jauh familiar dengan Quick Count.
DAFTAR PUSTAKA
Budiwaskito, Raihan. 2011. Margin of Error. Bandung : Institut Teknologi Bandung.
Estok M, Nevitte N & Cowan G. 2002. The Quick Count and Election Observation. Washington : NDI.
Indra. 2013. Aplikasi Quick count untuk Pilkada dengan Metode Sistematik Random Sampling Berbasis SMS. Jakarta : Universitas Budi Luhur.
Joko Sungkono dan Adiyono. 2015 Penerapan Metode Jackknife Terhapus-1 pada Pengolahan Data Metode Quick Count.
Kismiantini. 2010. Pengumpulan Data dengan Quick Count dan Exit Poll. Yogyakarta: Universitas Negeri Yogyakarta.
KPU. 2014. Data Pemilih Tetap Pilpres 2014. Diakses di
https://data.kpu.go.id/ss8.php pada tanggal 14 April 2017 pukul 13.20 WIB.
Raden Putra, dkk. 2013. Aplikasi SIG untuk Penentuan Daerah Quick Count Pemilihan Kepala Daerah (Studi Kasus : Pemilihan Walikota Cirebon 2013, Jawa Barat ). Semarang : Universitas Diponegoro.
Suhandojo. 2008. Pembelajaran Politik Masyarakat Menggunakan Penerapan Metode Statistika. Lampung : Universitas Lampung.
Ujiyati. 2004. Quick Count (Online).
http://www.lp3es.or.id/program/pemilu2004/QCount.htm. pada tanggal 15 April 2017 pukul 15.14 WIB.
Wagaerto, Budi Indri. 2009. Aplikasi Real Quick Count untuk Perhitungan Cepat Pemilu dengan Menggunakan Konseptual Comprehensive Paralel Vote Tabulation. Semarang: Universitas Dian Nuswantoro.
Walpole, Ronald E. 1990. Pengantar Statistika alih Bahasa Bambang Sumantri. Jakarta: Gramedia.
Wirdaniyati, Sri Siska. 2013. Modul 1 Sistem Informasi Manajemen tentang Quick Count. Yogyakarta: Universitas Islam Indonesia.