• Tidak ada hasil yang ditemukan

PENGANTAR ILMU PERTANIAN

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "PENGANTAR ILMU PERTANIAN"

Copied!
78
0
0

Teks penuh

(1)

PENGANTAR ILMU PERTANIAN

OLEH

LUKMAN HAKIM, SP. MP.

JURUSAN SOSIAL EKONOMI PERTANIAN

FAKULTAS PERTANIAN

UNIVERSITAS SYIAH KUALA

DARUSSALAM – BANDA ACEH

(2)

Puji syukur ke hadirat Allah SWT, yang telah memberikan rahmat dan karunia-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan modul kuliah dengan judul Pengantar Ilmu Pertanian. Tujuan penulisan semata-mata untuk memberikan arahan utama bagi pembaca khususnya mahasiswa yang ingin mengenal pertanian sebagai suatu disiplin ilmu dan profesi. Terutama bagi mahasiswa yang baru memasuki arena yang berkaitan dengan ilmu pertanian, perlu mengenal secara luas cakrawala pertanian sebelum lebih jauh mendalami ilmu pertanian sebagai suatu bidang studi.

Modul ini dibuat berdasarkan kebutuhan belajar dan mengajar di Fakultas Pertanian Universitas Syiah Kuala dan sebagai salah satu upaya untuk memperkaya khasanah pengetahuan dan bahan bacaan bagi mahasiswa, baik yang bersifat teoritis maupun yang mengarah kepada aplikatif. Penyusunan modul ini bersumber dari menggali dan menggabungkan beberapa referensi yang terkait dan himpunan dari makalah-makalah yang telah diseminarkan.

Diharapkan bahwa modul ini dapat bermanfaat bagi mahasiswa Fakultas Pertanian dan bagi pencinta ilmu-ilmu pertanian, termasuk penulis sendiri. Modul ini masih jauh dari kesempurnaan, untuk itu penulis mengharapkan saran dan perbaikan guna kemajuan kita bersama. Akhirnya, penulis mengucapkan selamat membaca dan mempelajari semoga dengan rahmat Allah bisa dipahami dan ada manfaatnya.

Darussalam, 12 Januari 2010

(3)

KATA PENGANTAR... i

DAFTAR ISI ... ii

BAB I SAINS DAN PERTANIAN... 1

BAB II APAKAH PERTANIAN ITU ? ... 5

BAB III PERTANIAN USAHA ... 10

BAB IV ENERGI BAGI MANUSIA... 21

BAB V BAHAN PANGAN MANUSIA ... 27

BAB VI MASALAH GIZI MANUSIA ... 36

BAB VII DAUR HARA KEHIDUPAN (1)... 44

BAB VIII DAUR HARA KEHIDUPAN (2) ... 53

BAB IX DAUR HARA KEHIDUPAN (3) ... 62

BAB X TEKNOLOGI PASCAPANEN... 69

(4)

BAB I

SAINS DAN PERTANIAN

1. Bilamana Pengetahuan Berubah menjadi Sains?

Setelah merenungkan bagaimana secara tidak sengaja manusia mendapatkan pengetahuan dari pengalaman, kita dapat bertanya-tanya apakah pengetahuan itu sama dengan ilmu. Kalau pengetahuan tidak sama dengan ilmu, kita pun dapat bertanya-tanya bilamana pengetahuan itu berubah menjadi ilmu. Karena sering juga kita mendengar orang berbicara mengenai sains, kita pun dapat bertanya-tanya apa perbedaan antara ilmu dan sains.

Kata sains berasal dari kata Inggris science. Kata ini pun diturunkan dari kata Yunani

scire yang makna harfiahnya ialah mengetahui. Karena itu sains sebagai suatu kegiatan dapat

diartikan sebagai cara-cara untuk mengetahui. Selain itu sains juga dapat diartikan sebagai

kumpulan pengetahuan yang telah mengalami pemberian, penggolongan, dan pendefinisian untuk menemukan berbagai keteraturan hubungan di antara berbagai butir pengetahuan di dalamnya yang berlaku secara umum. Dalam makna seperti ini sains

sudah biasa kita sebut ilmu pengetahuan, walaupun makna asli ilmu di dalam bahasa Arab sebenarnya sama saja dengan pengetahuan.

2. Pengetahuan dan Sains

Manusia dilahirkan ke dunia dengan dilengkapi otak sebagai alat untuk berfikir dan bernalar. Itulah ciri yang membedakannya dari makhluk hidup yang lain. Walaupun misalnya harimau juga mempunyai otak, otak itu hanya dapat digunakannya untuk mengingat apa yang telah terjadi. Ingatan itu kemudian disimpan sebagai pengalaman. Kalau hal serupa terjadi lagi harimau dapat menggunakan pengalaman itu untuk memberikan tanggapan. Lain halnya dengan manusia karena pengalamannya itu kemudian dapat dirangkai-rangkaikan untuk dijadikan suatu kumpulan pengetahuan yang saling kait-mengait. Kumpulan pengetahuan ini yang kemudian dapat pula digunakan mengembangkan pengetahuan baru berkat daya-ramalnya dinamakan sains atau ilmu pengetahuan.

(5)

3. Ilmu-ilmu Pertanian Sebagai Ilmu Empirik

Dalam usaha bercocoktanam dan pemeliharaan hewan pun manusia mengumpulkan pengalaman. Salah satu pengalaman pertama manusia mengenai bercocoktanam yang tercatat dalam sejarah ialah mengenai ditemukannya pengetahuan tentang perkembangbiakan pohon kurma yang terjadi secara seksual. Pada zaman peradaban Babilonia telah diketahui bahwa satu pohon kurma tidak dapat berkembangbiak tanpa adanya pohon kurma yang lain yang belainan jenis kelaminnya. Bagaimana caranya mereka mengetahui hal itu? Mungkin sekali dari pengalaman para petani menyingkirkan semua pohon kurma yang mandul dan tidak menghasilkan kurma, karena dianggap mubazir untuk dipelihara. Ternyata setelah semua pohon itu disingkirkan, pohon lainnya pun tidak mampu berproduksi, karena pohon yang tadinya menghasilkan kurma itu adalah pohon betina dan pohon yang disingkirkan itu adalah pohon jantan. Peristiwa tersebut tercatat dalam sejarah terjadi pada zaman Babilonia (Ronan, 1982).

Tampaklah bahwa pengetahuan muncul karena pengalaman. Bahwa dalam pengembangan pengetahuan pengalaman itu diperlukan untuk mendukung atau menolak kebenaran suatu pendapat tercatat dalam sejarah dalam bentuk suatu hadis yang sahih (Muslim, Kitab 43 Bab 38, Hadis 140-141):

Melihat orang-orang yang sedang menyerbuki bunga kurma, Nabi bertanya: ”Apa yang sedang kamu perbuat?” Setelah diberitahu apa yang mereka kerjakan, Nabi berkata lagi: ”Barangkali lebih baik jika tidak kamu lakukan itu.” Setelah tenyata kemudian buah kurma itu berguguran dan Nabi diberitahu, Nabi berkata: ”Aku hanya seorang manusia, jika perintahku mengenai agama, ikutilah. Kalau yang kuperintahkan mengenai sesuatu itu dari pendapatku sendiri, aku hanya seorang manusia juga.” Dalam peristiwa yang sama tetapi

sedikit berbeda redaksinya, Nabi berkata (Ibnu Majah IV:1259, Hadis 5830-5832): ”Kamu

lebih mengetahui soal duniamu.”

Hikmah yang dapat diperoleh dari kedua hadis ini ialah bahwa pendapat seseorang itu gugur kalau kenyataan yang diamati tidak sesuai dengan pendapat tersebut. Dari pola berpikir ini muncullah ilmu pengetahuan yang berdasarkan pengalaman atau empirisme (Yunani:

empeira – pengalaman). Ilmu pengetahuan empirik ini pada mulanya adalah buah pikiran Ibnu

Khaldun dan kemudian diserap menjadi milik orang Eropa dalam Zaman Kebangkitan Eropa serta dikembangkan menjadi tulang punggung sains modern oleh Francis Bacon.

(6)

Dalam bidang kegiatan pertanian juga banyak sekali pengetahuan yang telah dikumpulkan berdasarkan pengalaman dalam perjalanan sejarah. Pengalaman-pengalaman itu kemudian dihimpun menjadi sekumpulan ilmu terapan yang dinamakan ilmu-ilmu pertanian. Salah satu ciri ilmu terapan ialah bahwa semua yang terdapat dalam ilmu itu akhirnya dapat diterangkan dengan menggunakan ilmu dasar. Dalam hal ilmu-ilmu pertanian, semua peristiwa yang menyangkut pengetahuan tentang alam dapat diterangkan oleh biologi, dan semua peristiwa biologi dapat diterangkan oleh ilmu kimia yang akhirnya dapat pula diterangkan dengan menggunakan ilmu fisika. Dalam hal ilmu pertanian yang berkaitan dengan perilaku manusia, semuanya dapat diterangkan oleh ilmu ekonomi dan ilmu sosial.

4. Apa yang Dihadapi dalam Kegiatan Pertanian?

Usaha pertanian pada dasarnya bersandar pada kegiatan menyadap energi surya agar menjadi energi kimia melalui peristiwa fotosintesis. Hasil fotosintesis ini kemudian menjadi bagian tumbuhan dan hewan yang dapat dijadikan manusia sebagai bahan makanan, bahan sandang dan papan, sumber energi, dan bahan baku industri. Untuk dapat menghasilkan bahan-bahan organik itu tumbuhan dan hewan harus dapat hidup di dalam suatu lingkungan yang terdiri atas tanah, air, dan udara pada suatu iklim yang sesuai. Karena itu ilmu-ilmu

pertanian mencakup ilmu tanah, ilmu tataair, dan ilmu cuaca dan iklim yang tergolong ke

dalam kelompok ilmu-ilmu lingkungan kehidupan dan budidaya.

Tumbuhan yang dipelihara manusia dengan sengaja agar dapat memberikan manfaat kita namakan tanaman, sedangkan hewan yang dipelihara untuk hal yang sama kita sebut

ternak. Setelah lingkungan kehidupan dan budidaya yang sesuai untuk tanaman dan ternak

tersedia, segala usaha pertanian belum dapat berjalan dengan baik tanpa adanya ilmu-ilmu yang memecahkan persoalan pembudidayaannya. Ilmu-ilmu yang termasuk dalam kelompok budidaya ini ialah ilmu budidaya tanaman atau agronomi, hortikultura yang menyangkut budidaya sayuran, buah-buahan, dan tanaman-hias, budidaya hutan, ilmu budidaya ternak,

ilmu budidaya perairan, proteksi tanaman, kedokteran hewan, keteknikan kelautan dan keteknikan pertanian.

Sebagian hasil usaha pertanian digunakan langsung sebagai makanan manusia atau pangan dan makanan ternak atau pakan. Penggunaannya sudah tentu haruslah dengan menganut azas manfaat. Karena itu dipandang dari segi kepentingan manusia harus diketahui

(7)

cara menyajikan makanan yang baik dari segi kebersihan, kesehatan, dan daya beli masyarakat. Itulah sebabnya ilmu-ilmu pertanian juga mencakup ilmu gizi masyarakat dan

sumberdaya keluarga, sedangkan untuk permasalahan pakan diperlukan juga suatu ilmu yang

berkenaan dengan hal itu dan disebut ilmu makanan ternak atau ilmu pakan. Hasil usaha pertanian itu sebagian juga tidak digunakan secara langsung tetapi diubah bentuknya sehingga lebih tahan lama atau lebih mudah dicerna. Untuk hal itu ilmu-ilmu pertanian juga mencakup

teknologi pangan dan gizi, serta bioteknologi. Bioteknologi ini dapat dipelajari sebagai

bagian teknologi pangan dan gizi atau juga sebagai bagian dari biologi, yaitu di dalam

mikrobiologi.

Penggerak usaha pertanian adalah manusia. Karena itu kelancaran usaha pertanian sangat bergantung pada sikap dan perilaku manusia penggeraknya. Perilaku dan sikap manusia ini ditentukan oleh sikapnya dalam mencari nafkah bagi kehidupannya yang dibahas dalam

ilmu ekonomi pertanian. Selain itu sikap hidup ini juga tergantung sekali pada caranya

bermasyarakat. Oleh karena itu ilmu-ilmu pertanian juga mencakup sosiologi pedesaan. Permasalahan penting yang mencakup sikap hidup manusia penggerak usaha pertanian ini adalah juga bagaimana caranya mereka itu dapat dengan segera memahami perkembangan baru dalam berbagai teknik budidaya dan pemasaran. Untuk itu ilmu komunikasi pertanian adalah faktor kunci yang penting yang menjembatani hasil penelitian pertanian dengan pengusaha pertanian sebagai manusia penggerak usaha pertanian.

5. Sains Pertanian Bertumpu pada Ilmu-ilmu Dasar

Semua ilmu dan teknologi yang mencakup ilmu-ilmu pertanian yang telah disebutkan tadi bertumpu pada ilmu-ilmu dasar fisika, kimia, dan biologi. Selain itu ilmu-ilmu ini sangat tergantung pada matematika dan statistika sebagai bahasa komunikasi ilmiah. Karena itu kesemua ilmu dasar ini dapat dianggap sebagai ilmu-ilmu penunjang dalam ilmu-ilmu pertanian.

(8)

BAB II

APAKAH PERTANIAN ITU?

1. Asal Mula Pertanian

Mungkin sekali secara kebetulan beberapa biji-bijian yang terbuang sewaktu kaum ibu menyiapkan makanan mengecambah dan tumbuh menjadi tanaman yang menghasilkan. Kejadian seperti itu menimbulkan keinginan pada kaum ibu untuk menanam kembali sebagian bebijian yang mereka kumpulkan dari lapangan dan muncullah usaha bercocoktanam sebagai salah satu kegiatan pertama pertanian. Demikian pula sebagian hewan yang tertangkap sebagai hasil perburuan mungkin sekali tidak dibunuh untuk dimakan karena ada anggota keluarga yang menggunakannya sebagai permainan. Akhirnya hewan yang dipelihara itu berkembangbiak dan lahirlah usaha peternakan yang pertama sebagai imbangan bercocoktanam dalam kegiatan pertanian.

Di dalam kepustakaan kuno terdapat cerita bahwa penemu kegiatan pertanian ialah Kaisar Cina Shen Nung. Ketika ia melihat rakyatnya senang makan daging sapi dan ayam, ia mencetuskan gagasan membuat suatu alat pengolah tanah dari sebilah kayu yang ditajamkan dan ditempelkan pada suatu tongkat. Itulah model bajak yang pertama dan dengan bajak itu ia menyuruh rakyatnya mengolah tanah dan bertanam jawawut. Jawawut itu tidak hanya digunakan langsung sebagai makanan rakyatnya tetapi juga dapat digunakan untuk makanan sapi dan ayam.

Dari berbagai penggalian kepurbakalaan terungkapkan bahwa rakyat Kaisar Shen Nung yang hidup 100 abad yang lalu di lembah sungai Kuning, pada mulanya hidup dari berburu hewan dan mengumpulkan buah-buahan, bebijian, dan kekacangan. Akan tetapi setelah rakyatnya bertambah banyak, lingkungannya tidak dapat memberikan hasil alam yang cukup untuk mendukung kehidupan sehingga terjadilah kelaparan. Menurut cerita, Kaisar Chen Ning kemudian menciptakan bajak dari kayu yang pipih untuk mengolah tanah dan rakyatnya disuruhnya menanam jawawut. Itulah katanya permulaan adanya pertanian, dan beralihlah kebudayaan dari Zaman Batu Lama atau Paleolitikum ke Zaman Batu Baru atau Neolitikum yang ditandai oleh adanya pertanian yang menetap.

Dimana-mana di seluruh dunia pada suatu tahap dalam peradaban kuno orang akan beralih dari usaha berburu dan mengumpulkan hasil alam ke usaha bercocoktanam. Dengan

(9)

usaha bercocoktanam ini keperluan akan bahan makanan dapat diperoleh sewaktu-waktu dari tempat yang letaknya dekat ke tempat bermukim, sedangkan sebagai akibatnya juga setiap hari selama keadaan cuaca mengizinkan, tersedia bahan makanan segar yang tidak perlu diawetkan. Apalagi ketika itu cara-cara mengawetkan makanan belum banyak diketahui orang selain barangkali cara-cara mengeringkan dan mengasap makanan. Akan tetapi, atas dasar berbagai pengamatan kepurbakalaan, keras dugaan orang bahwa usaha pertanian itu di berbagai masyarakat primitif diprakarsai oleh kaum wanita dengan maksud untuk lebih mudah menyediakan makanan bagi keluarganya. Karena itu pertanian dapat dianggap sebagai suatu usaha untuk mengadakan suatu ekosistem buatan yang bertugas menyediakan bahan

makanan bagi manusia.

2. Pertanian Ladang Menuju Ekosistem Lalang

Apabila manusia mengadakan usaha pertanian, maka ia memerlukan lahan usaha yang biasanya diambil dari suatu ekosistem alam yang sudah ada dalam kesetimbangan. Kalau lahan itu diambil dari hutan, maka yang dilakukannya ialah menebang pepohonan dari hutan itu dan kemudian menanami lahan yang terbuka itu dengan bebijian, misalnya padi. Terjadilah ladang padi. Seluruh permukaan lahan akan ditumbuhi padi dan padi itu akan menghasilkan gabah. Mula-mula produksinya tinggi, akan tetapi setelah usaha yang kedua dan seterusnya hasil padi akan sangat menurun karena persediaan hara tanah yang tadinya berasal dari serasah hutan yang membawa mineral dari lapisan bawah tanah ke lapisan atas mulai habis diserap oleh tanaman padi.

Lagi pula hama dan penyakit tanaman padi semakin banyak saja mengganggu padi ladang itu sehingga akhirnya padi tidak dapat tumbuh lagi di ladang itu. Petani primitif zaman dahulu akan meninggalkan ladang itu dan membuka kembali hutan baru untuk mendapatkan lahan yang dapat diladangkan kembali selama dua musim tanam. Lahan ladang yang lama ditinggalkannya untuk diperbaiki sendiri oleh alam. Kalau ladang yang sudah tandus itu dibiarkan selama delapan hingga sepuluh tahun maka pada lahan tadi akan tumbuh kembali hutan baru yang disebut hutan sekunder yang sudah cukup matang untuk diladangkan kembali. Akan tetapi dengan bertambahnya penduduk, lahan yang tersedia menjadi berkurang dan orang terpaksa datang kembali ke bekas ladangnya yang lama dalam waktu yang lebih cepat, sehingga sebelum tanah hutan itu sempat mengalami kesetimbangan, sudah mulai

(10)

kembali digarap sebagai lahan untuk bercocoktanam. Inilah yang menimbulkan malapetaka karena di atas lahan itu tidak akan dapat ditumbuhkan padi untuk menghasilkan gabah. Yang tumbuh malah tumbuhan lain yang lebih dapat bersaing tumbuh di lahan yang sangat miskin. Tumbuhan itu adalah alang-alang atau lalang (imperata cylindrica) yang kemudian lebih merusak tanah lagi. Inilah yang terjadi di seluruh Indonesia. Kalau kita misalnya menempuh jalan lintas Sumatera dari arah Sumatera Barat ke Sumatera Utara, maka selepas Rimbo Panti menjelang masuk ke perbatasan Sumatera Utara akan dapat kita amati di sebelah kiri kita bukit-bukit di dataran tinggi Pakantan yang sudah tidak lagi tertutup hutan melainkan tertutup alang-alang. Keadaan yang serupa juga dapat kita amati di pulau-pulau yang lain. Oleh karena itu bercocoktanam sistem ladang yang menggunakan prinsip Pertanian Bergeser itu tidak dapat dipertanggungjawabkan karena hanya akan menciptakan ekosistem padang lalang.

3. Pertanian Menetap

Di Indonesia salah satu cara untuk dapat menciptakan usaha pertanian menetap yang lestari ialah dengan mengubah lahan itu menjadi sawah. Diharapkan bahwa dengan membuat piringan-piringan yang datar tanah yang dijadikan lahan akan terhindar dari erosi sedangkan air irigasi yang masuk akan mengembalikan mineral hara yang hilang diresap tanaman melalui garam-garam yang terlarut di dalam air irigasi itu. Pada tahap kemajuan teknologi berikutnya, pupuk buatan menjadi salah satu sarana produksi yang dapat mengembalikan kesuburan lahan pertanian.

Pada umumnya ada dua cara utama pengusahaan lahan pertanian. Usaha pertama ialah

bercocoktanam, sedangkan usaha kedua ialah usaha peternakan. Akan tetapi usaha yang

terbaik kiranya ialah campuran kedua kegiatan itu yang berimbang dan dinamakan pertanian

campuran. Dalam sistem pertanian campuran ini sebagian hasil bercocoktanam diberikan

sebagai makanan ternak atau pakan kepada ternak untuk menghasilkan protein hewani. Sebagian pakan itu akan tidak tercernakan dan sebagai pupuk kandang akan memperkaya kembali lahan pertanian dengan mineral hara dan bahan organik yang menggemburkan tanah. Selain itu tenaga hewan yang dipelihara pun dapat dimanfaatkan pada pengolahan tanah atau usaha pengangkutan hasil pertanian ke pasar.

(11)

4. Usahatani Gurem

Usahatani gurem bertujuan menghasilkan hasil pertanian untuk keperluan sendiri. Salah satu usahatani gurem yang sudah dibahas ialah sistem berladang. Jenis usahatani gurem kedua yang juga penting di negara kita ialah sistem bercocoktanam di atas lahan sawah, yaitu lahan yang diberi lapisan air yang mengalir pada sawah yang diairi, dan lahan yang diberi lapisan air tergenang, seperti pada sawah tadah-hujan. Tanaman yang dipelihara sudah tentu ialah padi yang menghasilkan beras sebagai sumber karbohidrat yang menghasilkan kalori di dalam menu makanan kita. Selain memiliki sawah itu, petani gurem biasanya memelihara berbagai macam tanaman keperluan sehari-hari di pekarangan rumahnya. Pekarangan ini adalah lahan kering di sekitar rumah yang ditanami. Bagian lahan di sekitar rumah yang tidak ditanami dan dibiarkan bera dinamakan halaman dan gunanya ialah untuk tempat pertemuan, tempat pengolahan pascapanen, lantai-jemur, dan tempat bermain anak-anak.

Budidaya sawah mungkin sekali dikembangkan pada mulanya di India di sepanjang daerah pasang-surut tepi sungai-sungai besar seperti sekarang juga masih dapat dilihat di Muang Thai, Sumatera Selatan, dan Kalimantan Selatan dengan padi mengambangnya. Padi mengambang ini berkembang sebagai suatu penyesuaian di daerah pasang-surut seperti ini sebagai penyesuaian terhadap keadaan lingkungan. Dalam satu hari padi seperti ini batangnya mampu tumbuh satu sampai dua jengkal untuk mengimbangi naiknya air pasang.

Kemudian, kepandaian bersawah itu menyebar ke Asia Tenggara dan di daerah yang berbukit-bukit dikembangkan menjadi pertanian sawah berteras yang sangat jelas dapat dilihat disekitar Garut, Bali, dan di luar negeri di Filipina. Pertanian padi sawah di Asia Tenggara pada mulanya adalah suatu sistem bercocoktanam yang padat karya akan tetapi tipis modal. Lahan diolah di dalam piringan sawah yang telah digenangi sehingga berbentuk lumpur. Air penggenang dapat berasal dari air hujan yang ditadah dari langit dan sawah seperti itu disebut sawah tadah-hujan. Air juga dapat berasal dari sungai dan sawah demikian disebut sawah

irigasi. Penggenangan tanah dan pengubahan bentuk tanah menjadi lumpur adalah suatu usaha

meniru kembali ekosistem mantap di daerah rawa di tepi sungai. Air sungai itu menjadi sumber hara mineral bagi tanaman padi yang dengan akarnya yang mencengkeram tanah juga meresap hara dari lumpur itu. Sama sekali tidak ada usaha mengadakan pemupukan tambahan. Selama pertumbuhan tanaman padi itu, semua gulma yang tumbuh di sekitar tanaman padi dan hama serta penyakit yang menganggu tanaman diberantas satu demi satu dengan

(12)

tangan. Yang dimaksudkan dengan hama ialah semua jenis hewan yang menganggu suatu pertanaman, seperti serangga, tikus dan babi, sedangkan yang dimaksudkan dengan penyakit ialah semua jenis tumbuhan yang menganggu pertanaman, seperti cendawan karat atau virus kerdil-rumput pada padi.

Pemanenan padi di beberapa daerah dilakukan dengan memotong satu demi satu malai-malai yang sudah masak dengan pisau ketam yang dinamakan juga ani-ani. Dengan cara ini juga benih padi untuk pertanaman berikutnya dipilih dari malai-malai yang bernas yang tumbuh pada batang yang kekar dan tingginya sebatas pinggang para penuai padi itu. Lama-kelamaan terbentuklah jenis padi yang rasanya sesuai dengan kesukaan lidah setempat dan bentuknya juga cocok dengan kebiasaan bercocoktanam dan menuai para petani di tempat itu. Secara tidak sengaja para petani zaman dahulu telah melakukan apa yang disebut seleksi

massa terhadap tanaman padinya sehingga terbentuklah jenis padi yang rasanya enak,

bentuknya mudah dituai, tidak mudah rontok, dan dapat tumbuh dalam keadaan lingkungan yang tidak perlu diberi pemupukan tambahan.

Padi seperti itu memang sangat cocok bagi petani yang bercocoktanam padi dengan maksud terutama menghasilkan padi untuk dimakan sendiri beserta keluarganya. Akan tetapi apabila pertanian dilakukan dengan cara ini, yaitu dengan maksud terutama menghasilkan hasil pertanian untuk keperluan sendiri saja, maka lahan yang diperlukan untuk mengusahakan hasil pertanian yang mencukupi bagi seluruh penduduk dunia ini menjadi sangat luas dan sama sekali tidak tersedia. Oleh karena itu sistem pertanian yang mantap dipandang dari segi kehidupan umat manusia secara keseluruhan seharusnya bukanlah sistem pertanian gurem dengan tujuan utama menghasilkan untuk keperluan sendiri melainkan sistem pertanian yang ditujukan untuk menghasilkan komoditi niaga. Dengan cara ini, sistem bercocoktanam dapat dilakukan dengan efisiensi penggunaan lahan dan tenaga yang sangat tinggi. Kalau petani gurem hanya dapat menghasilkan pangan bagi keperluan dirinya dan keluarga terdekatnya saja, maka petani pengusaha dengan cara berusahatani yang bersifat bisnis akan dapat menutupi permintaan bahan makanan bagi ratusan orang.

(13)

BAB III PERTANIAN USAHA

1. Petani Gurem

Pada mulanya pertanian di tanah air kita ini dilaksanakan sebagai usaha menghasilkan keperluan sehari-hari petani dari tanah tempatnya berpijak. Ketika itu setiap manusia pada dasarnya juga adalah petani yang besama-sama dengan orang tuanya, anaknya, dan pasangan hidupnya, mengelola tanah untuk mendapatkan bahan makanan nabati maupun hewani, serta keperluan hidup lain seperti bahan membuat rumah dan pakaian.

Petani seperti itu kita tahu adalah petani gurem dan hidup dalam suatu sistem perekonomian tertutup. Lama-kelamaan keadaan seperti itu menekan berat di atas kehidupan mereka, karena apabila lingkungannya sudah berkembang, akan banyak hal-hal yang tadinya tidak dianggap keperluan hidup berubah menjadi keperluan hidup yang tidak dapat dihasilkan sendiri. Di dalam keadaan seperti itu petani gurem mencoba menyesuaikan diri dengan peralihan suasana. Ia mulai melihat bahwa ada apa-apa yang dihasilkan olehnya yang agaknya dapat dijual untuk dijadikan uang. Termasuk juga tenaganya yang pada masa-masa tidak ada kegiatan di ladang atau sawah dapat ditawarkannya untuk melakukan pekerjaan kasar di daerah perkotaan.

2. Rumah dan Halaman

Pola pemukiman pada ketika itu terdiri atas kumpulan rumah yang didirikan berdekatan dan membentuk suatu kampung yang biasanya dikelilingi oleh batas berupa pagar hidup rumpun bambu. Di dalam kampung ini didirikan rumah-rumah yang masing-masing mempunyai halaman tempat bermain dan mengerjakan pekerjaan sehari-hari yang berkenaan dengan pengolahan lanjutan hasil pertanian, seperti menjemur padi dan kayu bakar serta menumbuk padi. Halaman itu kemudian dikitari oleh pekarangan.

3. Pekarangan

Pekarangan disekitar rumah dan halaman ditanami dengan sangat tepat guna. Tanaman yang besar terdiri atas pohon buah-buahan seperti manggis (Garcinia mangostana), rambutan (Nephelium lappaceum), duku (Lansium domesticum), durian (Durio zibethinus), bisbul

(14)

(Diospyros discolor), gandaria (Bouca macrophylla), gowok (Eugenia polycephala), kecapi (Sandorium koetjape), lobi-lobi (Flacourtia inermis), serta pohon lain yang dapat dijadikan sumber sayuran teman nasi seperti nangka (Artocarpus integra), kelewih (Artocarpus

communis), dan melinjo (Gnetum gnemon). Dapat pula ditanam pepohonan yang menghasilkan rempah-rempah seperti pala (Myristica fragrans) dan cengkeh (Eugenia

aromatica). Di bawah tajuk pepohonan ini ditanam pepohonan dan perdu yang lebih kecil

yang dapat menghasilkan buah seperti berbagai jenis jeruk (Citrus sp.), berbagai jenis jambu (Eugenia sp.), namnam (Cynometra cauliflora), dan salak (Salacca edulis); ramuan rempah-rempah untuk memasak seperti jahe (Zinger officinalis), lengkuas (Alpinia galanga), dan lada (Piper nigrum). Sebagian rempah-rempah ini juga berperan sebagai bahan obat-obatan sehingga pekarangan yang ditanami tanaman berkhasiat obat disebut juga apotek hidup. Sebagai tanaman di lapisan terendah dapat juga ditanam bahan sayuran seperti pepaya (Carica

papaya), cabai (Capsicum sp.), bayam merah (Alternanthera amoena), bayam (Amaranthus sp.) dan kangkung darat (Ipomoea reptans). Bagaimana susunan jenis tumbuhan yang ditanam

tentu saja berbeda-beda untuk setiap tempat bergantung pada keadaan iklim dan tanahnya. Tanaman pekarangan semacam yang disebutkan di atas itulah yang menjadi jembatan bagi petani gurem untuk beralih menjadi petani usaha. Apa yang dihasilkannya di sawah sebagian besar diperlukannya untuk keperluan hidupnya sendiri, akan tetapi apa yang dihasilkannya dari pekarangan akhirnya menjadi sumber penghasil uang tunai. Apalagi kalau tempat kediamannya dekat dengan kota. Dengan cara demikianlah kemudian orang mengenal apa yang disebut duku Condet, rambutan Binjai dan Stabat, durian Rancamaya, serta apel Malang. Kalau kita berjalan-jalan di Batu misalnya, boleh dikatakan setiap jengkal tanah dipekarangan rumah yang sempit sudah ditanami dengan dua tiga batang apel yang berbuah dengan lebat.

4. Pekarangan Tempat Menjinakkan Tumbuhan dan Hewan

Semua tanaman yang ditanam di pekarangan itu asalnya tentu saja dari hutan dan kemudian dijadikan tanaman peliharaan. Demikian pula halnya dengan hewan yang dijadikan hewan piara dan dikandangkan di pekarangan, seperti kerbau, domba, dan kambing. Di tempat-tempat yang mudah mendapatkan air mengalir, di antara halaman dan pekarangan biasanya dibuat juga kolam tempat pemeliharaan ikan. Kalau di pekarangan kotoran kandang

(15)

ternak dijadikan pupuk penyubur tanaman pekarangan, maka ikan di kolam mendapatkan sisa-sisa makanan manusia yang dibuang ke dalam kolam.

Satu hal yang dapat diamati dengan jelas ialah bahwa tanaman pangan seperti padi dan jagung tidak pernah di tanam di pekarangan. Tempatnya ialah di sawah atau tegalan di luar lingkungan pemukiman. Hanya di daerah transmigrasi baru saja hal itu dilanggar karena misalnya di daerah Sitiung dan Subulussalam padi, jagung, dan ubi kayu justru ditanam di pekarangan. Bahkan hampir tidak ada tersisa lahan untuk dijadikan halaman untuk melakukan kegiatan pascapanen seperti menjemur hasil pertanian dan menumbuk padi, serta mengadakan pertemuan bagi kegiatan ketetanggaan bagi orang dewasa dan kegiatan bermain bagi anak-anak. Alasannya mudah sekali karena dengan menanam padi dan tanaman pangan lainnya di sekitar rumah tugas menyelamatkannya dari hama babi menjadi lebih ringan.

5. Rempah-rempah Awal Mula Pertanian Usaha

Beberapa dari antara tanaman pekarangan itu dahulu kala menjadi perhatian orang Eropa, seperti misalnya buah pala dan bunga cengkeh. Bahwa Columbus pada suatu ketika berani menentang arus pendapat bahwa dunia ini datar dan berlayar ke arah barat untuk mencari jalan lain ke nusa rempah-rempah berlandaskan perkiraan bahwa dunia ini bulat adalah berkat adanya rempah-rempah yang dihasilkan kepulauan Maluku. Untung saja setelah ia bertolak dari Palos di Spanyol pada tanggal 3 Agustus 1492 melalui kepulauan Canary, ia terdampar di pulau Karang Samana, di tenggara San Salvador dan di sebelah timur Kuba. Untunglah ia tersesat dan menemukan Amerika Serikat. Kalau saja tidak demikian halnya, Amerika Serikat mungkin ada di Indonesia, dan kita atau mungkin sekali hanya sebagian dari kita sekarang ini bermukim di cagar-cagar budaya Indian.

Adanya rempah-rempah ini yang menjadi alasan untuk orang Belanda mendirikan Serikat Hindia Timur (Vereenigde Oost Indische Compagnie atau VOC) yang maksudnya berdagang akan tetapi akhirnya berkat kekuatan armadanya dan berkat tiadanya rasa persatuan di kalangan suku-suku bangsa di Indonesia ketika itu, menjadi penguasa mutlak untuk beberapa lamanya di kepulauan nusantara. Dari serikat dagang ini kemudian berkembang pemerintahan jajahan yang mengubah Nusantara ini menjadi Hindia Belanda yang menginduk ke negeri Belanda. Keuntungan dari perdagangan rempah-rempah itu pula yang membuka

(16)

kesempatan bagi Negeri Belanda untuk memupuk modal bagi pembangunan kerajaannya. Hal yang sama juga terjadi dengan Inggris yang mempunyai Serikat Hindia Inggris.

6. Tanaman Industri

Dalam rangka mendukung program kolonialisme ini untuk menyediakan sumber bahan mentah bagi perindustrian di negeri Belanda didirikanlah perusahaan-perusahaan pertanian di seluruh wilayah Indonesia, terutama di Jawa dan Sumatra. Bibit teh telah dimasukkan ke Jawa sebelum tahun 1700 oleh Gubernur Jenderal Camphuys hanya sebagai pekerjaan iseng-iseng saja.

Kemudian barulah dimasukkan bibit teh dari Jepang pada akhir abad ke-18 dan dalam awal abad ke-19. akan tetapi percobaan baru berhasil setelah didatangkan bibit teh yang berasal dari India, yaitu dari daerah Assam, pada tahun 1878. Inilah boleh dikatakan sumber semua perkebunan teh di Jawa, dan kemudian juga di Sumatera.

Dataran rendah Jawa Barat terkenal sebagai tempat perkebunan karet, sedangkan bagiannya yang lebih tinggi dijadikan perkebunan teh dan ditempat yang lebih tinggi lagi selain teh juga ditanam kopi dan kina. Bahkan kina merupakan monopoli. Sampai sekarang salah satu wilayah perkebunan teh yang terbaik letaknya di dataran tinggi pengalengan. Di daerah ini pula hingga sekarang masih ditemukan perkebunan kina. Selain di Jawa Barat perkebunan teh juga dikembangkan di Jawa Tengah (Pekalongan, Semarang, Banyumas, Kedu, dan Surakarta), serta di Jawa Timur (Madiun, Kediri, Malang, dan Besuki). Sekarang sebagian besar perkebunan teh yang dapat bertahan hanyalah yang ada di dataran tinggi, karena semakin tinggi letak perkebunan teh itu semakin baik mutunya walaupun produksinya akan berkurang. Lagi pula sejak penyakit cacar teh (Exobasidium vexans) masuk ke Indonesia pada awal tahun limapuluhan, bercocoktanam teh di dataran tinggi yang agak rendah tidak menguntungkan lagi. Di Sumatera perkebunan teh masih bertahan di Sumatera Utara di sekitar Pematang Siantar, di Sumatera Barat, dan di Bengkulu serta Jambi (Kerinci).

Perkebunan lain yang penting ialah perkebunan kelapa sawit, kopi, tembakau, dan tebu. Perkebunan kelapa sawit pusatnya di Sumatera Utara dan kini dikembangkan sampai ke Kalimantan Barat, sedangkan perkebunan kopi yang penting di Jawa terutama ada di sekitar Jember di Jawa Timur. Kopi juga dihasilkan oleh pengusaha swasta di Timor Timur, Sumatera, Bali dan Tana Toraja. Pada umumnya ada dua jenis kopi yang penting. Kopi

(17)

arabica ditanam di tempat-tempat yang di atas 1000 m dari permukaan laut sedangkan kopi robusta dapat ditanam di bawah ketinggian itu. Semakin tinggi tempat kopi arabica ditanam, semakin baik mutunya. Dahulu kopi arabica juga ditanam di tempat-tempat di bawah 1000 m dari permukaan laut. Dengan datangnya penyakit daun kopi Hemileia vastatrix yang terbawa dari daerah asal kopi di Amerika Selatan, kopi arabica tidak dapat lagi ditanam di bawah 1000 m dari permukaan laut.

Daerah kopi arabica yang penting diantaranya adalah dataran tinggi Sidikalang dan Pakantan di Sumatera Utara, dataran tinggi Gayo di Nanggroe Aceh Darussalam, dan Tana Toraja. Kopi arabica yang berasal dari dataran tinggi Pakantan dikenal di luar negeri sebagai

Mandheling coffee akan tetapi sekarang ada dalam keadaan yang merana karena di kampung

itu penduduknya sebagian besar adalah orang yang berusia lanjut dan tidak sanggup lagi mendaki ke kebun-kebun di ketinggian di atas 1000 m. Karena itu mereka bertanam kopi di lahan yang dekat ke rumah, yaitu masih di dalam batas perkampungan pada ketinggian 900 m. Karena itu yang ditanam pun adalah kopi robusta. Lampung dan Bali adalah penghasil kopi robusta yang penting. Kopi jenis mana yang dianggap enak tergantung pada cara kita hendak meminumnya. Kopi arabica sangat baik untuk keperluan pembuatan kopi tersaring yang dibubuhi susu, sedangkan kopi robusta sangat cocok untuk diminum sebagai kopi tubruk. Penjual kopi tertentu mempunyai rumus campuran masing-masing bagi kopi yang mereka jual. Di Timor Timur dari kopi arabica dan robusta telah terjadi persilangan yang kemudian dikenal sebagai kopi arabusta. Di pasaran juga dikenal kopi yang diberi nama kopi luak. Pada mulanya kopi luak berasal dari biji kopi yang dikeluarkan kembali dari sistem pencernaan luak pemakan kopi. Karena luak hanya mau makan buah kopi yang sudah masak, dengan sendirinya biji kopi yang keluar lagi dari sistem pencernaannya terdiri atas biji yang berasal dari buah masak yang terpilih. Pemilihannya jauh lebih baik daripada pemilihan yang dapat dilakukan oleh para pemetik buah kopi.

Tembakau pada mulanya merupakan komoditi sangat penting yang berasal dari Indonesia. Tembakau Deli misalnya tadinya adalah bahan penyalut luar serutu yang terbaik di dunia karena tipisnya dan kuatnya digulung tanpa mengalami keretakan. Tembakau daerah kesultanan atau Vorstenland digunakan sebagai lapisan pembungkus di bawah lapisan pembungkus luar, sedangkan tembakau Besuki terdiri atas dua macam. Tembakau yang di panen pada musim kemarau dinamakan tembakau panen-awal (Voor-oogst) yang

(18)

diselenggarakan oleh penduduk dan hasilnya terutama digunakan untuk membuat Cigaret. Jenis kedua adalah tembakau panen-akhir atau Naa-oogst yang diselenggarakan oleh perkebunan dan yang hasilnya sangat baik untuk membuat cerutu.

Dahulu kala penanaman tembakau Deli dilakukan pada lahan yang setelah dipanen diberakan untuk menjadi hutan kembali selama delapan tahun. Setelah jangka waktu selama itu barulah lahan boleh dibuka kembali untuk ditanami tembakau. Dengan cara ini kualitas tembakau Deli dapat dipertahankan. Akan tetapi lama-kelamaan dengan pesatnya pertambahan penduduk cara bercocoktanam seperti itu tidak dapat dipertahankan lagi dan pendaur-ulangan lahan dipersingkat dengan akibat menurunnya kualitas tembakau.

Sementara itu dengan teknologi pasca-panen daun tembakau dapat dibuat menjadi tipis dan kenyal sehingga dengan teknologi dapat diperoleh daun tembakau yang hampir sama mutunya dengan daun tembakau Deli. Dengan demikian ada pihak-pihak yang sudah dapat membuat daun tembakau salut-luar cerutu dengan proses yang lebih murah sehingga pengusahaan tembakau salut-luar cerutu di Deli mendapat saingan yang sangat berat. Karena itu sekurang ini banyak areal yang tadinya ditanami tembakau di Sumatera Timur diubah menjadi perkebunan sawit.

Perluasan tanaman sawit di Indonesia sekarang dilakukan secara besar-besaran menggunakan teknologi canggih, yaitu teknik kultur jaringan. Dari meristem daun atau akar yang belum di diferensiasi, dengan menggunakan larutan hara tertentu dibiakkan jaringan

callus, yaitu jaringan seperti yang terbentuk pada tepi kulit batang. Jaringan ini kemudian

dipelihara dalam larutan hara lain untuk menumbuhkan pucuk. Setelah pucuk tumbuh jaringan kemudian dipelihara dalam larutan hara lain untuk menumbuhkan akar. Semuanya ini dilakukan dalam tabung-tabung yang ditempatkan dalam lemari-lemari yang dipanasi secara buatan dan diberi cahaya matahari buatan. Dengan cara ini dapat diperoleh bibit sawit dalam jumlah yang sangat besar dalam waktu yang singkat. Akan tetapi akhir-akhir ini di beberapa pertanaman ternyata muncul pohon-pohon yang menghasilkan tandan-tandan bunga yang hermafrodit. Seharusnya tandan bunga itu atau jantan atau betina. Dengan munculnya tandan hermafrodit, daya hasilnya menjadi sangat berkurang. Apa yang menyebabkan terjadinya perubahan seperti ini masih menjadi pertanyaan. Akan tetapi hal ini adalah suatu teladan tentang teknologi yang berkembang jauh lebih cepat daripada sains yang mendukungnya. Dalam hal teknik kultur jaringan ini agaknya para peneliti lebih terpesona untuk menemukan

(19)

cara-cara mendapatkan bibit dari meristem yang belum berdiferensiasi, tanpa mencoba memahami apakah dengan cara itu tidak akan muncul penyimpangan-penyimpangan yang disebabkan oleh adanya mutasi genetik di dalam sel-sel callus.

Di Indonesia gula dihasilkan dari tebu sedangkan di Eropa dihasilkan dari bit. Budidaya tebu di Indonesia mula-mula diadakan di Jawa di dataran rendah yang mudah diairi. Bahkan sistem pengairan yang baik yang terdapat di daerah persawahan di Jawa dahulu dibuat oleh Pemerintah Hindia Belanda terutama untuk mendukung perusahaan perkebunan tebu yang menyewa sawah-sawah terbaik selama 18 bulan untuk bercocoktanam tebu. Perkebunan itu sendiri tidak memiliki lahan melainkan hanya bermodalkan emplasemen yang menjadi tempat kegiatan penggilingan tebu untuk mendapatkan niranya dan kemudian pembuatan gula dari nira tersebut.

Pengolahan tanah untuk ditanami tebu sangat bersifat padat karya karena di petak-petak sawah dibuat alur-alur tempat stek batang tebu ditanamkan. Setelah tumbuh pada suatu ketika alur itu ditutup dan dibumbun menjadi guludan. Setelah 18 bulan tebu itu ditebas semuanya pada suatu saat ketika kadar niranya mencapai suatu maksimum dan kemudian segera digiling dan diolah. Cara budidaya ini dinamakan sistem Reynoso dan sangat berbeda dengan cara budidaya tebu yang dilakukan di Kuba dan di Hawaii. Di kedua tempat itu tebu setelah ditebas dibiarkan tumbuh kembali tunas atau ratoonnya untuk ditebas kembali setelah cukup besar. Hal ini dilakukan berkali-kali sampai produksinya mulai menurun. Baru diadakan pembongkaran dan penanaman kembali. Metode ini dinamakan sistem ratooning dan tidak terlalu banyak memerlukan tenaga kerja. Kekurangannya ialah bahwa produksinya memang tidak mencapai produksi setinggi yang dapat dicapai dengan metode Reynoso.

Sistem pengusahaan perkebunan tebu seperti yang diwariskan oleh Belanda itu mempunyai segi negatif karena terlalu berpihak pada pengusaha dengan merugikan petani pemilik lahan. Karena itu sekarang ada pengaturan baru yang dikenal dengan metode TRI (Tebu Rakyat Intensifikasi). Dengan cara ini rakyat sendiri bercocoktanam tebu di atas lahannya sendiri dan kemudian menjualnya ke penggilingan tebu. Akan tetapi karena hasil akhir sangat ditentukan oleh kadar nira tebu sewaktu ditebas dan oleh kecepatan mengolah tebu itu di pabrik sebelum kadar nira turun karena fermentasi. Tebu rakyat intensifikasi ini banyak mengalami kerugian hasil yang disebabkan karena tidak dapat memanfaatkan saat panen dan giling yang tepat.

(20)

Dari apa yang telah dibahas dapat kita simpulkan bahwa perusahaan pertanian perkebunan yang bentuknya sebenarnya telah dimantapkan sejak lama, pada saat ini dan dimasa depan tetap harus mengalami peninjauan dan penyesuaian terhadap keadaan lingkungan sosial dan keadaan pasar. Perkebunan tebu misalnya sekarang ini sedang diusahakan untuk dialihkan ke lahan-lahan di luar Jawa dengan menggunakan sistem anakan atau ratooning.

7. Pengalihan Pertanian Gurem Menjadi Usahatani

Penghasilan hasil pertanian untuk bahan pangan seperti padi-padian sampai beberapa waktu yang lalu lebih bersifat usaha untuk memenuhi keperluan sendiri yang dapat kita juluki

pertanian gurem. Dengan meningkatnya penduduk dunia cara menghasilkan bahan pangan

seperti ini tentu saja menimbulkan masalah kurang gizi karena munculnya kelaparan dimana-mana. Sebenarnya di Indonesia sejak tahun tiga puluhan telah diadakan usaha memperbaiki jenis padi sehingga dapat memberikan hasil yang lebih tinggi. Usaha ini dilakukan di kebun percobaan padi di Bogor oleh Van der Meulen dan Hadrian Siregar. Pemulia-pemulia padi yang sekarang bekerja di Bogor sebagian besar adalah didikan Hadrian Siregar yang karena ketekunannya menemukan padi unggul baru dianugerahi Bintang Mahaputera oleh Pemerintah dan Doctor Honoris Causa oleh Institut Pertanian Bogor, dan oleh International Rice Research

Institute (IRRI) diberi Piagam Penghargaan selaku Peneliti Padi Utama secara anumerta.

Filsafat pemuliaan tanaman yang mula-mula dianut oleh Van der Meulen dan Siregar ialah menemukan jenis unggul baru yang dapat menghasilkan tinggi pada lingkungan yang tidak perlu dipupuk. Filsafat ini diikuti dengan anggapan bahwa para petani tidak mampu membeli pupuk untuk pemeliharaan sawah mereka. Filsafat ini masih menggunakan pemikiran bahwa petani itu bukan usahawan. Akan tetapi di seberang lautan, di Meksiko suatu satuan tugas pemulia tanaman yang berasal dari 17 bangsa di bawah pimpinan ahli agronomi Amerika Serikat Norman Borlaug menggunakan suatu filsafat yang lain untuk mengembangkan gandum dan jagung yang mampu menghasilkan tinggi dan tahan serangan penyakit. Filsafat ini kemudian dikembangkan pula untuk padi dengan didirikannya Lembaga Penelitian Padi Internasional di Los Banos, Filipina. Lembaga ini dikenal dengan nama

International Rice Research Institute atau IRRI. Semuanya ini mendapat dukungan dana

(21)

tadinya dipertimbangkan untuk ditempatkan di Bogor, akan tetapi karena keadaan politik ketika itu tidak menentu di Indonesia, akhirnya Filipina-lah yang beruntung menjadi tuan rumah bagi IRRI. Adanya IRRI di Los Banos adalah juga suatu keuntungan besar bagi perkembangan ilmu-ilmu pertanian di Universitas Filipina Los Banos yang perhatian utamanya adalah ilmu-ilmu pertanian.

Filsafat pembuatan jenis unggul baru yang diikuti oleh mazhab pemulia tanaman Norman Borlaug ialah mencari jenis tanaman yang bentuknya cocok untuk dapat menangkap dan mengubah energi surya menjadi karbohidrat, pada keadaan tanah yang dibuat sesubur-suburnya, dan tahan akan serangan hama dan penyakit. Umurnya pun harus dipersingkat sehingga dalam setahun petani dapat memanen lebih dari sekali. Dalam hal padi telah dikembangkan jenis padi yang dapat ditanam tiga kali dalam setahun asal saja keadaan pengairan terjamin.

Hasil pemikiran Borlaug inilah yang mencetuskan apa yang dikenal sebagai Revolusi

Hijau yang dalam kurun waktu 1950-1980 membuat banyak negara dunia ketiga mampu

berusaha menjadi berswasembada pangan, termasuk Indonesia. Untuk itu Norman Borlaug menjadi penerima anugerah Nobel pada tahun 1970.

Dengan adanya jenis unggul baru ini sistem budidaya pertanian berkembang sehingga petani bukan saja dapat memenuhi keperluan dirinya sendiri akan tetapi juga mendapat tambahan penghasilan yang dapat dipakai untuk pembentukan modal dan perbaikan mutu kehidupan. Sudah tentu ada kekurangan-kekurangan yang terjadi karena misalnya petani yang sangat gurem karena pemilikan lahannya sangat kecil. Walaupun hasil pertaniannya sudah meningkat, masih saja belum dapat mencukupi keperluan hidupnya sehari-hari. Sedangkan petani kaya sebagai akibatnya menjadi lebih kaya lagi. Dengan perkataan lain, memang terjadi kenaikan hasil padi per satuan luas, akan tetapi tidak terjadi kenaikan produktivitas diukur per satuan tenaga kerja. Hal ini termasuk gejala yang disebut involusi pertanian oleh Clifford Geertz.

8. Hortikultura

Jauh sebelum para petani padi di Indonesia mengenal sarana produksi pertanian seperti pupuk dan obat pemberantas hama dan penyakit. Para petani sayuran dan buah-buahan sebenarnya sudah lebih dahulu menggunakan sarana produksi seperti itu. Petani sayuran dan

(22)

buah-buahan pada mulanya hanya dapat berkembang usahanya di dekat kota-kota besar yang padat penduduknya, karena untuk pemasaran sayuran dan buah-buahan itu diperlukan pasar yang dekat. Hal itu disebabkan karena sayuran dan buah-buahan tidak tahan lama. Sekarang ini pola itu mulai berubah karena teknologi pascapanen sudah mulai berkembang sehingga cara mengemas dan cara menyimpan bahan kemasan di dalam ruang yang disejukkan sangat membantu para petani sayuran dan buah-buahan untuk memasarkan hasil pertaniannya ke tempat yang lebih jauh. Daerah produksi sayuran dan buah-buahan penting di Indonesia ialah misalnya Tanah Karo untuk daerah pemasaran Medan dan Singapura, Bukit Tinggi untuk Padang, Pengalengan untuk Bandung, Bogor, dan Jakarta, Puncak/Sindanglaya untuk Bogor dan Jakarta, Batu untuk Malang dan Surabaya.

Salah satu kelemahan dalam peningkatan mutu hasil pertanian sayuran dan buah-buahan atau hortikultura ialah bahwa jenis-jenis unggul baru belum cepat dapat dimanfaatkan oleh para petani karena belum banyak pengusaha yang berani menanamkan modalnya dalam bidang penangkaran bibit unggul tanaman buah-buahan. Memang untuk buah-buahan diperlukan waktu yang lebih lama untuk menemukan bibit unggul baru dan diperlukan waktu yang lebih lama lagi untuk memperbanyak bibit unggul itu karena sifat tanaman yang umurnya lebih dari setahun.

Hal ini menjadi tantangan bagi kita, apalagi karena di Muang Thai pihak swastalah yang berperan mengembangkan pertanaman sayuran dan buah-buahan. Anggur hijau yang dihasilkan oleh Muang Thai misalnya tidak kalah mutunya dengan yang dihasilkan di Eropa atau Australia. Kuncinya ialah penemuan bibit yang baik dan cara penggunaan sarana produksi pertanian yang tepat. Bukan saja anggur yang telah mereka kembangkan dengan baik. Buah-buahan asli Indonesia telah mereka perbaiki sehingga kita sekarang tergila-gila akan durian Bangkok dan jambu Bangkok. Kalau kita disini menggunakan kata Bangkok sebagai penunjuk mutu buah yang baik, di Bangkok kebalikannya mereka menggunakan kata ”Jawa” untuk menunjukkan suatu gulma yang membuat kepala mereka pusing, yaitu Eceng gondok (Eichornia crassipes), yang memperdangkal saluran air di seluruh kota Bangkok. Padahal yang membawa eceng gondok itu kesana pada tahun tigapuluhan dari Kebun Raya Bogor adalah Raja Rama V yang terpesona akan bunganya yang berwarna ungu kebiru-biruan. Boleh juga kita ketahui bahwa mangga Filipina yang sekarang menjadi komoditi ekspor telah berhasil diatur pembungaannya sehingga musim mangga sekarang diadakan

(23)

bergiliran untuk berbagai provinsi. Dengan cara itu persediaan mangga untuk ekspor selalu ada. Mangga Filipina ini sebenarnya dimasukkan ke Filipina oleh ahli botani Filipina Dr. Valmayor pada tahun 1938 dari Jawa Timur. Di tempat aslinya ini mangga tersebut dikenal dengan nama ”Si Manalagi”.

Kalau kita mempunyai kesempatan berjalan-jalan di dataran tinggi Atherton di Queensland Utara, Australia, kita akan terpesona melihat begitu banyaknya pohon mangga yang mereka tanam dan sudah menjadi komoditi ekspor. Pagar rumah pun ditumbuhi pohon markisa (Passiflora sp.), sehingga pada suatu ketika kalau kita tidak hati-hati, bukanlah suatu kemustahilan kalau kita di Ujung Pandang atau Medan terpaksa minum sirup yang di impor dari Australia. Mengapa? Karena markisa telah punah di Indonesia sebab tidak dipelihara. Bagi orang Australia hal itu bukan suatu kemustahilan, karena mereka sudah mengirim kerbau ke Indonesia, mengekspor bir kembali ke Jerman, dan memasok unta bagi Saudi Arabia. Apakah kita akan membiarkan kekayaan alam kita punah di Indonesia tetapi berkembang di negara lain?

(24)

BAB IV

ENERGI BAGI MANUSIA

1. Fotosintesis

Dalam peristiwa fotosintesis, klorofil dalam tumbuhan hijau mengikat energi surya yang sebenarnya adalah energi elektromagnetik melalui pembentukan karbohidrat dari karbondioksida dan air. Karbohidrat ini menjadi dasar pembentukan bahan organik lainnya, yang kemudian dapat dimanfaatkan manusia. Akan tetapi juga bahan organik ini dapat berubah menjadi bahan organik fosil dan tersimpan beribu-ribu tahun lamanya serta berubah menjadi minyak bumi, gas alam, dan batubara. Ketiga jenis bahan organik fosil ini dihasilkan tumbuhan hijau dan hewan yang hidup dari tumbuhan hijau itu secara langsung atau tak langsung berjuta-juta tahun yang lalu dan sekarang juga menjadi sumber energi yang diperebutkan oleh manusia di dunia ini (minyak bumi).

Energi kimia yang diikat tumbuhan hijau melalui fotosintesis dalam bentuk karbohidrat itu adalah sumber energi kehidupan makhluk hidup seperti manusia dan hewan. Akan tetapi energi kimia yang tersimpan sebagai hasil fotosintesis dalam bentuk bahan bakar fosil sampai saat ini adalah penggerak utama berbagai bentuk kerja yang dilakukan di bumi ini. Minyak bumi yang diubah menjadi bensin, minyak tanah, dan solar misalnya digunakan sebagai bahan bakar penggerak kendaraan bermotor di darat, laut, maupun udara. Solar juga dapat digunakan untuk membangkitkan tenaga listrik. Tenaga listrik ini dapat dijadikan penggerak mesin-mesin industri dan mesin-mesin peralatan perkantoran dan rumah tangga. Semuanya ini tidak langsung berasal dari energi surya.

2. Energi Surya Sebagai Sumber Energi Mekanik

Matahari juga dapat menghasilkan energi untuk kepentingan manusia melalui perubahan bentuk energi elektromagnetiknya menjadi energi fisik yang bersifat mekanik. Hal itu dapat terjadi karena panas matahari dapat menggerakkan massa udara dan air. Pergerakan massa udara terjadi dengan munculnya angin. Angin muncul karena dipermukaan bumi terjadi perbedaan tekanan udara. Seperti kita ketahui hal itu terjadi karena daratan pada siang hari menjadi lebih cepat panas daripada perairan dan pada malam hari lebih cepat mendingin

(25)

daripada perairan. Perbedaan suhu di atas dua macam permukaan bumi ini menimbulkan perbedaan tekanan udara yang menimbulkan angin sebagai gerakan udara. Energi kinetik angin ini dapat ditampung melalui baling-baling yang dihubungkan ke suatu generator listrik untuk membangkitkan listrik. Dapat pula baling-baling itu menimbulkan energi mekanik seperti misalnya pada kincir angin yang memompa air atau menggiling gandum.

Hal yang sama juga dapat terjadi di lautan dan perpindahan massa air karena perpindahan massa udara dipermukaannya menimbulkan gelombang yang mengandung energi kinetik. Sekarang ini telah diciptakan turbin-turbin yang dapat menyadap energi gelombang menjadi energi listrik. Dengan demikian energi surya pun telah dapat disadap melalui perubahan menjadi energi kinetik berupa arus gelombang laut.

Sinar matahari juga bekerja menguapkan air dari permukaan bumi yang kemudian dikumpulkan menjadi awan. Awan ini dibawa angin naik menuju puncak gunung dan dalam proses pengangkutan itu mengalami pendinginan dan pengembunan. Terjadilah hujan. Dengan demikian sebagian air dari laut dipindahkan ke pegunungan sehingga energi surya itu telah berubah menjadi energi potensial melalui air yang mengalir kembali ke laut dan sebelum sampai di laut ditampung dahulu di danau-danau buatan yang telah dilengkapi dengan turbin penggerak air. Turbin ini kemudian membangkitkan energi listrik. Hal seperti itu kita lihat misalnya di Jatiluhur, Asahan, Karang Kates, dan Cirata.

3. Energi Panas Matahari

Energi elektromagnetik matahari dapat pula diubah menjadi energi termal. Hal itu misalnya terjadi dengan usaha-usaha pengeringan hasil panen langsung di bawah sinar matahari atau di dalam kotak-kotak hitam yang disuruh menyerap energi surya untuk membangkitkan panas. Energi panas yang dapat dibangkitkan oleh matahari ini juga dapat memanaskan permukaan lautan sehingga lapisan air laut di atas menjadi lebih panas daripada lapisan di bawahnya. Dengan kata lain, ada suatu gradien termal antara lapisan air laut di permukaan dengan lapisan air di bagian dalam laut. Lapisan air laut yang panas itu dapat dipakai untuk menguapkan suatu cairan yang mudah menguap, misalnya amoniak. Sewaktu menguap amoniak ini disalurkan melalui suatu turbin untuk menggerakkan turbin itu. Setelah selesai menggerakkan turbin itu uap ammoniak itu dicairkan kembali melalui pendinginan dengan air laut dingin yang dipompakan ke permukaan laut dari bagian laut yang dalam.

(26)

Turbin yang digerakkan oleh adanya gradien termal antara lapisan air laut di permukaan dan di kedalaman menjadi perantara mengubah energi surya yang telah disimpan sebagai gradien termal di dalam air laut menjadi energi listrik. Karena pengubahan energi termal lautan memerlukan perbedaan suhu kira-kira 20oC, penyadapan energi termal lautan ini hanya dapat dilakukan di sekitar katulistiwa, termasuk di wilayah Nusantara ini.

4. Energi Geotermal atau Energi Panas Bumi

Selain melalui energi surya, kita dapat pula menyadap energi dari dalam bumi. Energi

geotermal ini membangkitkan panas yang memanaskan air dan batuan di dalam tubuh bumi.

Air yang panas ini kemudian dapat menimbulkan mata air panas yang energinya dapat disadap melalui pembangkit listrik tenaga uap. Salah satu negara yang banyak menggunakan energi termal seperti ini adalah Selandia Baru. Kita pun sudah mulai merintis penggunaannya. Salah satu tempat yang memberi harapan adalah daerah sekitar Gunung Salak.

5. Energi Gravitasi

Adanya dua massa yang besar akan menimbulkan saling tarik-menarik. Energi

gravitasi seperti ini menimbulkan peristiwa pasang-surut yang adalah suatu gerakan massa air.

Gerakan massa air ini adalah energi mekanik kinetik dan potensial yang dapat diubah melalui suatu turbin menjadi energi listrik. Usaha pertama mengubah energi gelombang pasang-surut ini telah dilakukan di Perancis pada tahun-tahun enampuluhan. Pembangkit listrik tenaga gelombang pasang di St. Malo, Perancis ini menghasilkan listrik 500 MW setahunnya. Tentu saja muncul persoalan pelestarian lingkungan hidup, karena pembangkit listrik itu dibangun di sekitar muara sungai tempat bertelur dan menetasnya berbagai jenis makhluk hidup. Hal ini adalah suatu contoh masalah terganggunya kesetimbangan lingkungan karena masuknya suatu teknologi baru.

6. Energi Nuklir

Bentuk energi lain yang dapat dimanfaatkan ialah energi nuklir atau energi inti yang berasal dari energi yang terkandung dalam atom itu sendiri. Kita tahu bahwa suatu atom tersusun atas suatu inti yang dikitari oleh elektron-elektron bermuatan negatif. Inti itu terjadi atas perpaduan erat proton-proton bermuatan positif dengan neutron-neutron yang tidak bermuatan. Muatan negatif elektron suatu atom biasa diimbangi oleh muatan positif intinya

(27)

sehingga atom itu sendiri bersifat netral. Sewaktu inti terbentuk dari kedua jenis zarrah pembentuk inti atau nukleon ini, haruslah sebagian kecil sekali dari massanya dihilangkan yaitu di sekitar beberapa peroktiliun (10-27) gram, yang diubah menjadi energi. Energi ini setara dengan jumlah energi yang diperlukan untuk mengikat nukleon-nukleon itu menjadi satu dalam bentuk inti, dan disebut energi pengikat. Energi pengikat nukleon ini terkecil untuk atom yang ringan dan meningkat dengan bertambahnya ukuran inti. Besarnya energi pengikat ini meningkat sampai mencapai ukuran inti besi yang mengandung 56 zarrah di dalam intinya.

Setelah itu energi pengikat itu menurun lagi perlahan-lahan untuk atom-atom yang lebih berat. Demikianlah energi pengikat zarrah-zarrah di dalam inti Uranium 235 lebih rendah daripada energi pengikat unsur-unsur lain yang lebih ringan seperti besi dan timah. Kalau suatu nukleus berat seperti Uranium 235 dipisah, akan terjadi dua buah inti baru yang lebih kecil, akan tetapi yang masing-masing mempunyai energi pengikat yang lebih besar daripada energi pengikat atom uranium yang semula. Oleh karena itu harus terjadi pengubahan sedikit massa menjadi energi. Energi yang dilepaskan inilah yang dimanfaatkan sebagai energi nuklir. Usaha pertama menghasilkan energi nuklir melalui pemecahan atom secara terkendali dilakukan oleh ahli fisika Italia bernama Enrico Fermi di Universitas Chicago pada tanggal 2 Desember 1941.

Prinsip pembangkitan energi nuklir itu adalah melalui pemboman atom Uranium 235 dengan neutron. Pemboman ini mengubah atom Uranium 235 menjadi Uranium 236 yang tidak stabil. Uranium 236 ini memecah diri menjadi atom-atom yang intinya lebih kecil. Dalam proses ini dilepaskan pula neutron yang tiba gilirannya membom atom Uranium 235 lainnya. Terjadilah reaksi berantai dan muncullah sejumlah besar energi. Reaksi berantai inilah yang telah berhasil dikendalikan oleh Enrico Fermi. Penemuannya inilah kemudian yang menjadi dasar pembuatan reaktor nuklir. Salah satu kegunaan reaktor nuklir ini adalah untuk membangkitkan tenaga listrik. Salah satu pembangkit listrik tenaga nuklir yang terkenal ialah PLTN Three Miles Island di Harrisburg, Pennsylvania, yang pada tahun 1979 menimbulkan musibah karena mengalami kebocoran sehingga mencemarkan atmosfer dengan limbah radioaktif. Akan tetapi bagaimana pun juga berbahayanya penggunaan tenaga nuklir ini, pada akhirnya kalau manusia sesudah kekurangan sumber energi, ia akan menggunakan

(28)

juga. Yang diusahakannya sudah tentu ialah agar semua proses pembangkit tenaga nuklir ini diperbaiki sehingga lebih aman.

Karena sebelum mencapai ukuran inti besi 56 energi pengikat suatu atom meningkat dengan bertambah besarnya nukleus, maka selain dari pemecahan atom juga dapat dihasilkan energi dari pemaduan dua atom menjadi satu atom. Hal itu misalnya dapat dilakukan apabila dua atom Hidrogen dipadukan dan diubah bentuknya menjadi inti Helium. Pemaduan atom-atom Deuterium atau atom-atom Deuterium dengan isotop hidrogen yang lebih berat lagi, yaitu Tritium, dapat pula menghasilkan energi karena pembentukan inti yang lebih besar dengan energi pengikat yang lebih besar daripada inti-inti penyusunnya.

7. Sumber Energi Utama Berubah dengan Tingkat Peradaban

Dalam peradaban manusia primitif hanya ada satu sumber energi yang digunakannya untuk keperluan hidupnya, apakah itu sumber energi untuk makan, untuk memasak, untuk bekerja, ataukah untuk bepergian. Untuk makan, sumber energi yang dipakainya berupa karbohidrat yang dihasilkan oleh tumbuhan. Selain itu ia juga memerlukan protein dalam susunan makanannya. Protein itu sebagian besar dihasilkan oleh hewan, yang pada gilirannya memerlukan energi untuk tumbuh dan berkembangbiak. Energi untuk keperluan ini diambil oleh hewan dari tumbuhan atau hewan lain sebagai makanannya. Untuk bekerja di ladang misalnya, manusia menggunakan tenaganya secara langsung. Kalau pun ia sudah mendapat alat bantu seperti bajak, tenaga penarik bajak itu ialah hewan juga yang mengambil energinya dari tumbuhan pula. Demikian pula halnya kalau manusia bepergian. Kendaraan yang digunakannya ialah hewan tunggang atau kereta yang ditarik hewan.

Dengan meningkatnya peradaban manusia ia mampu menciptakan alat bantu yang menggunakan sumber energi yang bukan berasal dari energi matahari, misalnya kincir air, kincir angin, dan perahu layar. Makin meningkat lagi peradabannya, energi dari sumber yang lain pula dapat digunakannya, dan makin sedikit saja ia menggunakan energi matahari secara langsung untuk keperluan kehidupannya selain untuk keperluan pangan. Hal itu memang merupakan suatu keharusan, karena sementara itu populasi manusia yang menghuni bumi ini meningkat dengan pesat, yang juga berarti bahwa keperluan bahan makanan pun meningkat berlipat ganda.

(29)

Karena itulah telah diuraikan suatu ringkasan tentang berbagai sumber energi yang dapat dimanfaatkan manusia. Sumber energi yang sangat penting bagi manusia karena menyangkut sumber makanan ialah energi matahari yang melalui fotosintesis menghasilkan energi kimia untuk sumber energi kehidupan manusia. Oleh karena itu peristiwa fotosintesis ini akan kita telaah lebih lanjut, juga dalam hubungannya dengan berbagai faktor alam yang dapat mempengaruhinya agar dapat berlangsung dengan lebih efisien menghasilkan hasil pertanian yang tidak dapat digantikan peranannya oleh produk-produk yang dibuat menggunakan bentuk energi lainnya.

Namunpun demikian, banyak sekali bentuk energi lainnya itu yang sifatnya tidak terbarukan dan pada suatu ketika akan habis. Ada pula bentuk energi lainnya itu yang sifatnya mencemarkan lingkungan hidup, seperti misalnya energi yang berasal dari minyak bumi dan energi nuklir. Karena itu persoalan pemanfaatan berbagai jenis energi oleh manusia untuk keperluan menunjang kehidupannya adalah masalah yang sangat penting dibahas berdasarkan berbagai pandangan dan pertimbangan. Karena itulah apabila kita berbicara mengenai pemanfaatan energi surya untuk kepentingan hidup manusia, kita tidak dapat melepaskan diri dari permasalahan penggunaan bentuk energi lainnya sebagai sumber energi pengganti maupun sebagai sumber energi yang dapat digantikan oleh energi hasil panenan dari sinar surya, bergantung pada pilihan mana yang lebih menguntungkan bagi manusia.

(30)

BAB V

BAHAN PANGAN MANUSIA

1. Keanekaragaman Jenis Pangan Berkurang Pada Manusia Modern

Manusia purba bergantung pada beraneka-ragam jenis tumbuhan dan hewan sebagai sumber makanannya. Sewaktu ia hidup mengembara pola makannya ditentukan oleh jenis bahan makanan yang ditemukannya atau dapat diburu olehnya dalam pengembaraannya itu. Begitu ia mulai menetap hanya sebagian saja tumbuhan dan hewan yang dijinakkannya. Begitu ia mulai menjinakkan berbagai jenis tumbuhan dan hewan liar di sekitar tempat pemukimannya, jenis makanannya mulai terbatas. Ia akan cenderung memilih macam tumbuhan dan hewan yang mudah dipelihara, mudah diolah, mudah disimpan dan diawetkan, serta mempunyai manfaat yang paling banyak seperti memilih tumbuhan bebijian (serealia dan kekacangan) yang menghasilkan terbanyak pada keadaan tanah yang tersedia secara alami, dan yang hasilnya itu paling mudah dan tahan disimpan. Ia hanya akan menanam tanaman umbi-umbian (uwi atau gadung) kalau keadaan terpaksa, karena masa tanamnya lebih lama, sedangkan hasilnya tidak tahan lama disimpan.

Pada kelompok masyarakat yang budidayanya berpola pemanfaatan lahan kering, tumbuhan yang diandalkannya untuk menghasilkan sumber pati atau karbohidrat lebih beragam dan sangat bergantung pada musim. Di bagian barat Indonesia dapat diharapkan bahwa pada musim penghujan ia akan bertanam padi dan jagung di ladangnya, sedangkan untuk menunggu sampai ladangnya berhasil ia juga bertanam umbi-umbian seperti ubijalar, ubikayu, dan keladi. Makin ke timur jagung dan umbi-umbian makin menjadi penting sedangkan di Indonesia bagian timur sagu yang diambil dari inti batang sagu (Metroxylon

sago) merupakan sumber karbohidrat utama.

Kalau manusia primitif Indonesia dahulu mengandalkan sumber makanannya yang berupa daging dari hewan perburuan, maka lambat laun mereka mulai mengurung berbagai jenis hewan dalam keadaan setengah liar di dalam hutan yang berdekatan dengan tempat pemukiman. Hewan yang diperlakukan seperti itu dan hingga sekarang masih dapat ditemukan walaupun sudah semakin jarang ialah kawanan kerbau setengah liar, yang misalnya dapat ditemukan di beberapa tempat di Sumatera, Nusa Tenggara Timur, dan Sulawesi.

(31)

Pengkhususan sumber bahan makanan lebih berlanjut lagi di daerah-daerah yang menerapkan budidaya persawahan. Makanan manusia di tempat-tempat seperti itu menjadi makin terbatas jenisnya menjadi padi dan palawija, sedangkan hewan piaraan terutama ialah kerbau, sapi, kambing, domba, dan unggas. Apabila suatu masyarakat makhluk hidup makanannya bergantung dari berbagai macam sumber, masyarakat itu lebih luwes menghadapi keperluan makanannya. Kebalikannya, apabila masyarakat itu makanannya tergantung pada satu jenis sumber saja, maka kemampuannya untuk dapat bertahan sebagai makhluk hidup hanya tergantung pada satu sumber. Ada saja timbul malapetaka dengan sumber makanannya itu, masyarakat itu akan menghadapi kesulitan mencukupi keperluan makanannya.

Karena itu juga pengkhususan sumber pangan yang terjadi dengan manusia Indonesia yang hanya menganggap sudah makan hanya setelah makan nasi, membuat beras menjadi faktor keperluan hidup yang sangat penting di Indonesia. Karena itu pulalah sudah lama diusahakan agar bangsa Indonesia dapat menganekaragamkan bahan pangannya, yang sampai sekarang belum berhasil. Faktor-faktor yang menyebabkan hal itu diantaranya ialah: rasa nasi yang enak sehingga hanya memerlukan laut-pauk yang sederhana sebagai makanan pendamping, cara mengolahnya yang mudah, daya tahannya terhadap penyimpanan apakah berupa padi, gabah, atau beras, tingginya kadar proteinnya sehingga lauk-pauk tambahan untuk menyukupi keperluan protein hanya sedikit, dan bentuknya yang padat sehingga mudah dikemas dan diangkut.

2. Tanaman dan Ternak Utama di Dunia

Dengan adanya pengkhususan bahan pangan, maka ada beberapa jenis tumbuhan dan hewan dihasilkan dalam jumlah yang besar di seluruh dunia ini. Tumbuhan yang sengaja ditanam manusia untuk mendapatkan hasil dinamakan tanaman, sedangkan hewan yang dipelihara manusia dengan sengaja untuk mendapatkan hasil dari tubuhnya disebut ternak.

Ada 30 jenis tanaman di dunia ini yang menghasilkan tidak kurang dari 10 juta ton, yaitu seperti yang tercantum pada Tabel 1. Tampaklah bahwa dari 30 jenis tanaman itu ada tujuh macam yang menghasilkan masing-masing tidak kurang dari 100 juta ton. Kalau hasil ini dijumlahkan untuk ketujuh macam tanaman itu maka hasilnya akan melampaui hasil keseluruhan 23 jenis tanaman lainnya. Data ini diteliti hingga tahun 1976 akan tetapi dapat

(32)

mengalami perubahan pada masa ini, terutama untuk 23 jenis tanaman yang menghasilkan kurang dari 100 juta ton.

Tabel 1. Tiga Puluh Tanaman Utama Dunia

No Macam Tanaman Hasil Dalam Juta Ton/Tahun

1 Gandum 360 2 Padi 320 3 Jagung 300 4 Kentang 300 5 Barli 170 6 Ubi Jalar 130 7 Ubi Kayu 100 8 Anggur 60 9 Kedelai 60 10 Oats (Haver) 50 11 Sorgum 50 12 Tebu (Gula) 50 13 Jawawut 45 14 Pisang 35 15 Tomat 35 16 Bit (Gula) 30 17 Rai 30 18 Jeruk orange 30 19 Kelapa 30

20 Minyak Biji Kapas 25

21 Apel 20 22 Uwi 20 23 Kacang Tanah 20 24 Semangka 20 25 Kubis 15 26 Bawang 15 27 Buncis 10 28 Ercis 10

29 Biji Bunga Matahari 10

30 Mangga 10

Dikutip dari: Harlan, J. R. 1976. The Plants and Animals that Nourish Man. (Dalam Food and Agriculture, A Scientific American Book)

Untuk ternak ada Enam sumber utama penghasil daging. Seperti yang tercantum pada Tabel 2. berikut:

(33)

Tabel 2. Enam Jenis Ternak Penghasil Utama Daging

No Jenis Ternak Hasil Daging Dalam Juta Ton/Tahun

1 Babi 42.5 2 Sapi 42.0 3 Unggas 20.7 4 Domba 5.4 5 Kambing 1.4 6 Kuda 0.7

Dikutip dari Harlan (1976)

3. Asal-Usul Tanaman

Dari mana asal tanaman yang sekarang merajai dunia sebagai penghasil bahan makanan bagi manusia? Seorang ahli genetika Rusia bernama Vavilov dari Leningrad, selama 20 tahun dari tahun 1916 hingga tahun 1936 bekerja menelusuri kembali karya

Alphonse de Candolle yang diterbitkan pada tahun 1822 dengan judul Origin of Cultivated Plants. De Candolle berkesimpulan bahwa iklim yang sesuai serta adanya kerabat liar

merupakan petunjuk tempat asal tanaman tertentu, apalagi jika ada petunjuk-petunjuk sejarah. Vavilov dengan menggunakan teknik-teknik yang lebih baru dan atas dasar koleksi tumbuhan yang lebih lengkap mencakup wilayah yang lebih luas, selama 20 tahun itu memperbaiki kesimpulan de Candolle.

Vavilov, mengambil kesimpulan bahwa pusat-pusat asal suatu tanaman dicirikan oleh adanya keragaman bentuk tanaman yang sangat luas. Ketika beberapa tumbuhan menyebar keluar dari pusat asal itu sebagai tanaman yang dibudidayakan atau kultivar, beberapa genotipe menjadi tanaman yang berhasil dan mendominasi populasi. Hal ini berarti bahwa di daerah itu gen-gen milik kultivar itu menjadi yang terbanyak ditemukan dengan gen-gen resesif hanya mungkin muncul di tepi daerah sebaran kultivar itu.

Menurut Vavilov peyebaran jenis tanaman ke seluruh muka bumi yang dapat ditumbuhi tumbuhan tidaklah merata. Misalnya saja suatu wilayah sempit yang mencakup dua negara kecil di Amerika Tengah, yaitu San Salvador dan Costa Rica, memiliki jumlah spesies asli yang sama banyaknya dengan seluruh spesies asli yang dimiliki oleh Canada dan Amerika Serikat. Beberapa wilayah yang ditemukan kaya akan berbagai jenis tumbuhan asli dijuluki sebagai Pusat Keragaman dan dianggap mencakup pusat-pusat asal primer dan sekunder

(34)

tanaman yang dibudidayakan pada masa kini. Pusat-pusat asal berbagai tanaman budidaya itu, menurut pandangan Vavilov ialah sebagai berikut:

Dunia Lama:

I. Cina – Daerah pegunungan Cina Tengah dan Barat serta daerah dataran rendah di dekatnya adalah pusat asal terbesar untuk tanaman budidaya dan tanaman pertanian dunia. Tumbuhan asli mencakup jawawut (makanan burung), bukweit, kedelai, berbagai kekacangan, bambu, sayuran krusifera, bawang, salada, terong, mentimun, peer, ceri, jeruk, kesemek, tebu, kulit manis, dan teh.

II. (A) Asia Selatan (Hindustan) – Wilayah ini dianggap sebagai pusat asal padi, tebu, berbagai kekacangan, dan buah-buahan seperti mangga, jeruk (orange), jeruk lemon, dan jeruk keprok.

(B) Indo-Malaya – Wilayah ini dianggap sebagai daerah asal pisang, kelapa, tebu, cengkeh, pala, lada, dan sisal.

III. Asia Tengah – Daerah ini adalah pusat terpenting sebagai daerah asal terigu. Tumbuhan asli lainnya ialah ercis, buncis, lentil, hennep, kapas, wortel, radis, bawang putih, bayam, pistacio, aprikot, peer, dan apel.

IV. Asia Kecil – Sekurang-kurangnya ada sembilan jenis gandum dan rai berasal dari daerah ini. Daerah ini menjadi pusat asal banyak sekali buah-buahan daerah subtropik dan iklim sedang seperti ceri, delima, walnut, almond, tin, serta tumbuhan makanan ternak seperti alfalfa, semanggi parsi, dan vetch.

V. Mediteranean – Wilayah Laut Tengah ini adalah pusat asal zaitun dan banyak lagi sayuran budidaya serta tanaman makanan ternak. Karena kebudayaan sudah berkembang sejak lama, tanaman dari pusat asal ini sudah mengalami perbaikan yang sangat lanjut.

VI. Habsyi – Daerah ini kaya dengan berbagai jenis gandum dan barli. Tumbuhan yang berasal dari daerah ini juga ialah wijen, kacang kastor, kopi, dan okra.

Dunia Baru:

VII. Amerika Tengah – Berbagai macam tumbuhan berasal dari daerah ini seperti jagung, buncis, ubi jalar, cabai, kapas, pepaya, agave, kakau, dan nangka belanda.

(35)

VIII. Amerika Selatan:

(A) Ekuador – Peru – Bolivia: Daerah asal berbagai jenis kentang, tomat, kacang lima, labu, cabai, koka, kapas mesir, dan tembakau.

(B) Pulau Chiloe di Cili Selatan dianggap sebagai daerah sumber kentang.

(C) Daerah semiarid Brazil di wilayah ini dianggap sebagai daerah asal kacang tanah dan nenas, sedangkan ubi kayu dan hevea dianggap berasal dari daerah tropik Amazon.

Kalau kita amati di peta, kesemua daerah asal ini hanyalah sebagian kecil saja wilayah keseluruhan dunia, yaitu antara 2 – 3 % dari seluruh luasan bumi, secara geografi berbeda dengan jelas, dipisahkan oleh sempadan-sempadan alami seperti gurun pasir dan pegunungan. Kekayaan flora di tempat-tempat ini bekerjasama dengan masyarakat manusia yang menghuni daerah ini membentuk kantung-kantung perkembangan pertanian yang bergantung pada pola budidaya setempat. Limaperenam dari semua spesies yang disenaraikan oleh Vavilov berasal dari Dunia Lama, sedangkan sisanya, yaitu seperenam bagian berasal dari Dunia Baru. Setelah penelitian dan pengalaman berkembang selama ini, orang mulai percaya bahwa pusat-pusat itu sebenarnya saling berimpitan dan tidak memiliki sempadan yang jelas.

Sekarang kita dapat bertanya-tanya di wilayah manakah berbagai tumbuhan dan hewan itu mengalami penjinakan. Hal itu dapat disimpulkan dalam bentuk suatu tabel seperti yang dapat dilihat dalam Tabel 3. berikut:

Tabel 3. Daerah Penjinakkan Tanaman dan Hewan

No Daerah Perkembangan Tanaman Hewan

1 Eropa Oats,bitgula,rai,kubis,anggur, zaitun.

Sapi,babi,angsa,itik.

2 Eropa Utara - Rusa kutub. 3 Afrika Padi Afrika,sorgum,jawawut,

mutiara,jawawut jari,uwi, semangka,kacang hijau,kopi, kapas(?), wijen.

Keledai,unggas,itik, angsa.

4 Timur Tengah Gandum,barli,bawang,ercis,lentil, ercis ayam,tin,kurma,linen,peer, delima,anggur,zaitun,apel(?)

Domba,kambing,unta, sapi,babi.

5 Asia Tengah Jawawut,bukweit,alfalfa,hennep, anggur,buncis lebar.

Kuda,unta,yak.

6 Cina Kedelai,kubis,bawang,peer, Jawawut ekor-rubah.

Gambar

Tabel 1. Tiga Puluh Tanaman Utama Dunia
Tabel 2. Enam Jenis Ternak Penghasil Utama Daging
Tabel 3. Daerah Penjinakkan Tanaman dan Hewan
Gambar 1. Horizon Tanah Gambar 2. Terminologi Deskriptif Bagi Horizon Profil Tanah
+5

Referensi

Dokumen terkait

Berbagai asumsi mengenai bencana dalam berbagai disiplin ilmu tentang bencana sepakat bahwa tidak semua peristiwa dan fenomena alam seperti bencana dapat dan harus menjadi

Jumlah total biomassa tanaman okra dan partisinya ke berbagai bagian organ tanaman dapat dipengaruhi oleh faktor genetik maupun lingkungan tempat tumbuhnya seperti ketersediaan

Kajian Sifat Fisika Tanah dan Berbagai Penggunaan Lahan Dalam Hubungannya dengan Pendugaan Erosi Tanah.. Konservasi Tanah

masyarakat membuat pilihan, dengan atau tanpa penggunaan uang, dengan menggunakan sumber daya yang terbatas tetapi dapat dipergunakan.. dalam berbagai cara untuk menghasilkan