• Tidak ada hasil yang ditemukan

INSTITUT AGAMA ISLAM BUNGA BANGSA CIREBON TAHUN 2020

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "INSTITUT AGAMA ISLAM BUNGA BANGSA CIREBON TAHUN 2020"

Copied!
96
0
0

Teks penuh

(1)

(Studi Kasus Toko Arpi Hijab Kuningan)

SKRIPSI

Diajukan sebagai Salah Satu Syarat untuk Memperoleh Gelar Sarjana Ekonomi (S.E)

pada Program Studi Ekonomi Syariah

Oleh :

FERI HARDIYANTO

NIM. 2016.2.5.1.00542

FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS ISLAM

INSTITUT AGAMA ISLAM

BUNGA BANGSA CIREBON

TAHUN 2020

(2)

COVID-19 (Studi Kasus Toko Arpi Hijab Kuningan

. Beserta isinya adalah

benar-benar karya sendiri, dan saya tidak melakukan penjiplakan atau mengutip yang tidak sesuai dengan etika keilmuan yang berlaku dalam masyarakat akademik.

Atas pernyataan di atas, saya siap menanggung resiko atau sanksi apapun yang dijatuhkan kepada saya sesuai dengan peraturan yang berlaku, apabila dikemudian hari ditemukan adanya pelanggaran terhadap etika keilmuan, atau ada klaim terhadap keaslian karya saya ini.

Cirebon, Mei 2020

Yang membuat pernyataan,

FERI HARDIYANTO

NIM. 2014.1.3.00135

(3)

DALAM MENGHADAPI PANDEMI COVID-19

(Studi Kasus Toko Arpi Hijab Kuningan)

Oleh :

FERI HARDIYANTO

NIM.2016.2.5.1.00542

Menyetujui,

Pembimbing I, Pembimbing II,

Taufik Ridwan M.Hum NIDN.2118018201

Mohammad Ridwan, M.E.Sy NIDN. 2121048904

(4)

Bunga Bangsa Cirebon pada tanggal

Skripsi ini diterima sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar Sarjana Ekonomi ( S.E ) pada Program Studi Ekonomi Syariah Fakultas Ekonomi dan Bisnis Institut Agama Islam Bunga Bangsa Cirebon.

Cirebon, Mei 2020

Sidang Munaqosah,

Ketua Sekretaris

Merangkap Anggota, Merangkap Anggota,

Dr. H. Oman Fathurohman,M.A

Drs. Sulaiman, M.Mpd

NIDN. 8886160017 NIDN. 21180962021

Penguji I, Penguji II,

(5)

Dekan FEBI

IAI Bunga Bangsa Cirebon Di

Cirebon

Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh

Setelah melakukan bimbingan, telaah, arahan dan koreksi terhadap penulisan skripsi dari Feri Hardiyanto Nomor Induk Mahasiswa 2016.2.5.1.00542, berjudul “Analisis Marketing Syariah Dalam Menghadapi Pandemi Covid-19 (Studi Kasus Pada Toko Arpi Hijab Kuningan).” Bahwa skripsi tersebut sudah dapat diajukan kepada Dekan FEBI untuk dimunaqosahkan.

Wassalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh

Pembimbing I, Pembimbing II,

Taufik Ridwan M.Hum Mohammad Ridwan, M.E.Sy NIDN. 2118018201 NIDN. 2121048904

(6)

MARKETING SYARIAH DALAM MENGHADAPI PANDEMI COVID-19 (Studi Kasus Pada Toko Arpi Hijab Kuningan)

Penelitian ini memiliki dua rumusan masalah, yaitu tentang strategi pemasaran syariah pada saat pandemi Covid 19, kendala pemasaran syariah pada saat pandemi Covid 19. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui bagaimana strategi pemasaran syariah pada Toko Arpi hijab Kuningan pada masa pandemi Covid-19 dalam perspektif ekonomi Islam serta apa saja kelebihan dan kekurangannya.

Pemasaran adalah hasil prestasi kerja kegiatan usaha yang berkaitan dengan mengalirnya barang dan jasa dari produsen sampai ke konsumen. Di samping penafsiran tersebut juga terdapat pandangan yang luas, yang menyatakan pemasaran merupakan proses kegiatan usaha yang berkaitan mengalirnya barang-barang atau bahan-bahan masuk dalam proses produksi.

Penelitian ini menggunakan metode kualitatif lapangan. Metode ini dipilih karena data yang diperoleh dari hasil wawancara peneliti dengan pihak-pihak yang terkait. Pada penelitian ini, peneliti mengumpulkan data dan informasi melalui wawancara, observasi dan dokumentasi.

Dalam pembahasannya peneliti menjelaskan cara marketing pada toko Arpi Hijab, karakteristik marketing syariah, dan strategi marketing syariah dalam praktik pemasaran produk. Dan disini peneliti menemukan cara yang unik pada setiap jawaban yang diajukan terhadap narasumber, namun adapula jawaban yang serupa yang sebenarnya memiliki maksud yang sama.

Dari penelitian yang dilakukan penulis diperoleh hasil sebagai berikut: strategi marketing syariah yang relevan menggunakan empat key success factors yaitu Shiddiq, Amanah, Fathanah, dan Tablight. Dalam hal ini materi dan biaya marketing menjadi tanggung jawab pihak penjual. Keempat key success factors ini sesuai dengan tinjauan perspektif Islam setiap praktik jual beli harus dilihat dari seberapa besar kemaslahatan dan kemudharatannya, agar transaksi menjadi sah sesuai dengan ajaran islam.

Kata Kunci : Marketing Syariah, Menghadapi Pandemi, Covid-19

(7)

Bismillahirahmanirrahiim

Puji Syukur Kehadirat Allah SWT atas limpahan rahmat, taufik , hidayah, dan inayahNya, Shalawat dan salam semoga senantiasa abadi tercurahkan kepada Nabi Muhammad SAW dan umatnya. Alhamdulillah berkat RidhoNya, bantuan. Bimbingan serta dorongan dari berbagai pihak skripsi ini dapat selesai tapat waktunya.

Skripsi ini tidak akan berhasil tanpa adanya bantuan dari berbagai pihak, untuk itu penulis menyampaikan terima kasih kepada semua pihak yang telah membantu baik secara langsung maupun tidak langsung sehingga tersusunnya skripsi ini, terutama kepada :

1. Bapak Dr. H. Oman Fathurohman, MA Rektor IAI Bunga Bangsa Cirebon

2. Bapak Taufik Ridwan M.Hum selaku Dosen Pembimbing I dan Bapak Mohammad Ridwan, M.E.Sy selaku Dosen Pembimbing II yang telah banyak memberikan bimbingan dan arahan dalam penyusunan skripsi ini. 3. Kedua orang tua dan keluarga yang selalu mensupport dan mendoakan

dalam penyusunan skripsi ini.

4. Teman-teman kuliah yang banyak membantu dan membagi ilmu nya dalam penyusunan skripsi ini.

5. Semua pihak yang telah membantu dalam penyusunan skripsi ini.

(8)

pembaca, dengan harapan adanya saran dan kritik yang bersifat konstruktif demi perbaikan. Semoga skripsi ini bermanfaat dan mendapat ridho Allah SWT.

Cirebon, Mei 2020

Feri Hardiyanto 2016.2.5.2.00542

(9)

BAB I ...1

Latar Belakang Masalah ...1

Fokus Penelitian ...3

Rumusan Masalah Penelitian ...4

Tujuan Penelitian ...4 Manfaat Penelitian ...4 BAB II ...7 KAJIAN PUSTAKA ...7 Kajian Pustaka ...7 Kerangka Teoritik ...47 Penelitian Terdahulu ...50

BAB III ... Error! Bookmark not defined. METODOLOGI PENELITIAN ...52

Pendekatan Penelitian ...52

Desain Penelitian ...53

Data dan Sumber Data Penelitian ...54

Teknik Pengumpulan Data ...55

Pemeriksaan Keabsahan Data ...56

Teknik Analisis Data ...58

BAB IV ...60

PENELITIAN DAN PEMBAHASAN ...60

Hasil Penelitian ...60

Pembahasan ...61

BAB V ... Error! Bookmark not defined. KESIMPULAN DAN SARAN ...80

Kesimpulan ...80

Saran-Saran ...82 x

(10)

1

Tingkat persaingan dalam dunia bisnis menuntut setiap pemasar untuk mampu melaksanakan kegiatan pemasarannya dengan lebih efektif dan efisien. pemasaran tersebut membutuhkan sebuah konsep pemasaran yang mendasar sesuai dengan kepentingan pemasar dan kebutuhan serta keinginan pelanggan. Dalam hal ini, pemasaran syariah atau marketing syariah memiliki posisi yang sangat strategis, karena pemasaran syariah merupakan salah satu strategi pemasaran yang didasarkan pada Al-Qur’an dan Sunnah Rasulullah SAW. Pemasaran syariah merupakan sebuah disiplin bisnis strategis yang mengarahkan proses penciptaan, penawaran, dan perubahan values (nilai) dari satu inisiator (pemrakarsa) kepada stakeholder-nya, yang dalam keseluruhan prosesnya sesuai dengan akad serta prinsip-prinsip syariah dan muamalah dalam Islam (Ridhawati, 2015)

Pada level intelektual (rasional), pemasar menyikapi pemasaran secara fungsional teknikal, dengan menggunakan berbagai teknik pemasaran, kualitas, harga lokasi, layanan, positioning, branding dan sebagainya. Pada level emosional pemasar berusaha memahami dan menyentuh emosi atau perasaan pelanggan. Beberapa konsep pemasaran yang ada pada level emosional ini antara lain experiaental marketing dan emotional branding, dan terakhir era pemasaran telah bergeser lagi ke arah spiritual marketing (Kalimah, 2018)

(11)

Dalam dunia bisnis, pemasar dituntut untuk mampu melaksanakan kegiatan pemasaran secara efektif dan efisien. Kegiatan pemasaran tersebut membutuhkan konsep yang mendasar sesuai dengan kebutuhan dan kepentingan konsumen. Salah satu keinginan masyarakat sebagai konsumen dalam memenuhi kehidupan hidupnya adalah tercukupinya seluruh kebutuhan primer dan sekunder bahkan tersier. Sebagaimana dalam kegiatan pemasaran, untuk memenuhi kebutuhan tersebut tentu lapangan kerja dalam bidang pemasaran dibutuhkan dan perekonomian harus tersedia (Ridwan, 2020). Pada perspektif Islam, bisnis sebagai bagian dari usaha merupakan suatu keharusan bahkan kewajiban yang perlu dilakukan oleh setiap individu yang beriman untuk mempersiapkan kehidupannya yang lebih baik kedepannya. sebagaimana Firman Allah SWT: “Allah Swt telah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba” (Qs. Al-Baqarah: 275). Berdasarkan ayat diatas dijelaskan bahwa Allah SWT telah menghalalkan jual beli bagi manusia sebagai usaha untuk memenuhi kebutuhan serta menggapai keberkahan hidup (NURMUIZZ & Rosyadi, 2020)

Pemikiran manajemen dalam Islam bersumber dari nash-nash Alquran dan petunjuk-petunjuk sunnah. Selain itu, ia juga berasaskan pada nilai-nilai kemanusiaan yang berkembang dalam masyarakat pada waktu tersebut. Berbeda dengan manajemen konvensional, ia merupakan suatu sistem yang aplikasinya bersifat bebas nilai serta hanya berorientasi pada pencapaian manfaat duniawi semata. Manajemen konvensional berusaha unuk diwarnai dengan nilai-nilai, namun dalam perjalanannya tidak

(12)

mampu, karena ia tidak bersumber dan berdasarkan petunjuk syariah yang bersifat sempurna, komprehensif dan sarat kebenaran (Ahmad Ibrahim Abu Sinn, 2012)

Di Indonesia mayoritas masyarakatnya beragama Islam, marketing yang dilakukan secara konvensional menimbulkan persoalan dikalangan umat Islam diantaranya tidak ada kepastian hukum Islam yang mengatur tentang penjualan, transaksi dan halal atau tidaknya marketing yang dilakukan. Hal ini membuat masyarakat mengalami keraguan untuk melakukan bisnis tersebut serta keraguan tentang keabsahannya.

Berdasarkan uraian diatas, maka penulis tertarik untuk melakukan penelitian dengan judul “ANALISIS MARKETING SYARIAH

DALAM MENGHADAPI PANDEMI COVID-19 (Studi Kasus Pada Toko Arpi Hijab Kuningan)”

B. Fokus Penelitian

Berdasarkan latar belakang masalah diatas, maka fokus penelitian ini adalah Analisis Marketing Syariah dalam menghadapi Pandemi Covid-19 (Studi Kasus Arpi Hijab Kuningan) .

(13)

C. Rumusan Masalah Penelitian

Dengan memperhatikan latar belakang dan uraian yang telah diungkapkan maka permasalahan yang akan dianalisis dalam penelitian ini adalah :

1. Bagaimana Strategi Pemasaran Syariah Pada Saat Pandemi Covid 19 ?

2. Apa Saja Kendala Pemasaran Syariah Pada Saat Pandemi Covid 19 ?

D. Tujuan Penelitian

Tujuan Penelitian yang akan dicapai antara lain

1. Strategi Pemasaran Syariah pada Toko Arpi Kuningan dalam menghadapi Pandemi Covid-19 dalam perspektif ekonomi Islam. 2. Apa saja kendala pemasaran syariah pada Toko Arpi Kuningan

dalam menghadapi Pandemi Covid-19 dalam perspektif ekonomi Islam.

E. Manfaat Penelitian

Manfaat penelitian ini diharapkan dapat memberi manfaat antara lain :

1. Penulis

Agar menambah pengetahuan, pemahaman serta wawasan tentang bagaimana strategi pemasaran syariah pada saat pandemi Covid-19 pada Instansi atau perusahaan khususnya pada Toko Arpi Kuningan.

(14)

Untuk ditambahkan sebagai referensi dan pertimbangan Toko Arpi Kuningan dalam menentukan Strategi Pemasaran Syariah pada saat Pandemi Covid-19.

3. Kampus

Bagi Kampus hasil penelitian ini bisa dijadikan temuan yang didapatkan dalam penelitian dan menambah Khasanah ilmu pengetahuan pada bidang teoritis maupun praktis dalam perkembangan ilmu pengetahuan yang inspiratif.

(15)
(16)

7

a. Pengertian Marketing

Menurut American Marketing Association dalam penelitian ilmiah (Assauri, 2013) yang menyatakan bahwa pemasaran adalah hasil prestasi kerja kegiatan usaha yang berkaitan dengan mengalirnya barang dan jasa dari produsen sampai ke konsumen. Disamping penafsiran tersebut juga terdapat pandangan yang luas, yang menyatakan pemasaran merupakan proses kegiatan usaha yang berkaitan mengalirnya barang-barang atau bahan-bahan masuk dalam proses produksi.

Menurut Kotler dalam (Veithzal Rivai, 2012) pemasaran adalah proses sosial dan manajerial dimana seseorang atau sekelompok orang memperoleh apa yang dibutuhkan dan diinginkannya melalui penciptaan dan pertukaran produk dan nilai.

Menurut (Indriyo Gitosudarmo, 2014) Pemasaran dapat diartikan sebagai suatu kegiatan yang mengusahakan agar produk yang dipasarkannya itu dapat diterima dan disenangi oleh pasar.

Berdasarkan dari berbagai pendapat tersebut, dapat disimpulkan bahwa pemasaran merupakan suatu proses, fungsi

(17)

dan sekumpulan di mana bisnis dan organisasi lainnya menciptakan pertukaran nilai di antara bisnis dan perusahaan itu sendiri dan para pelanggannya.

b. Strategi Marketing

Strategi pemasaran memiliki peranan penting dalam sebuah perusahaan maupun organisasi. Karena dengan begitu perusahaan tersebut harus selalu mampu untuk menyesuaikan strategi. Strategi harus tetap dilakukan untuk keberlangsungan perusahaan dan kepuasan pelanggan. Pemasaran membutuhkan suatu kegiatannya guna mencapai tujuan yang diinginkan oleh perusahaan. Program pemasaran tersebut terdiri dari sejumlah keputusan tentang bauran alat pemasaran disebut bauran pemasaran yang lebih dikenal dengan marketing mix. Bauran pemasaran merupakan kebijakan yang digunakan pada perusahaan untuk mampu memasarkan produknya dan mencapai keuntungan. Setiap perusahaan tentunya tidak menginginkan kehilangan pelanggan dan dapat menembus pasar yang potensial. Dengan demikian, perusahaan harus bisa melayani dan memenuhi permintaan pasar yang ada. Untuk bisa memenuhi hal itu perusahaan harus membuat produknya lebih unggul untuk menarik minat konsumen. Hal tersebut bisa ditempuh dengan mengadakan perubahan-perubahan warna,

(18)

bentuk, ukuran, kualitas atau menambah variasi yang ada (Nurbaya, Suaib, & Bintari, 2017).

Dilansir dari Wikipedia menurut Boeing strategi pemasaran adalah lengkap disini logika pemasaran, dan berdasarkan itu, unit bisnis diharapkan untuk mencapai sasaran-sasaran pemasarannya. Strategi pemasaran terdiri dari pengambilan keputusan tentang biaya pemasaran dari perusahaan, bauran pemasaran, dan alokasi pemasaran. Strategi pemasaran dapat dinyatakan sebagai dasar tindakan yang mengarah pada kegiatan atau usaha pemasaran, dari suatu perusahaan, dalam kondisi persaingan dan lingkungan yang selalu berubah agar dapat mencapai tujuan yang diharapkan. Strategi pemasaran biasanya direalisasikan lewat strategi penjualan, yang merupakan proses akhir ("ujung tombak") antara produsen / distributor / retailer dengan pembeli.

Strategi pemasaran adalah alat fundamental yang direncanakan untuk mencapai perusahaan dengan mengembangkan keunggulan bersaing yang berkesinambungan melalui pasar yang dimasuki dan program pemasaran yang digunakan untuk melayani pasar sasaran tersebut. Perusahaan Konsultan manajemen Arthur D. Little yang berpusat di

(19)

posisi perusahaan dalam bersaing di dunia industri sebagai berikut.

1. Dominan. Perusahaan mampu mengendalikan pesaing-pesaing yang lain serta memiliki banyak pilihan dalam menentukan strategi.

2. Kuat. Perusahaan mampu bertindak bebas tanpa membahayakan posisi jangka panjangnya walaupun pesaing-pesaing berbuat apa saja yang dikehendaki.

3. Baik. Perusahaan mempunyai kekuatan dalam strategi tertentu serta mempunyai peluang di atas rata-rata untuk meningkatkan posisinya.

4. Sedang. Prestasi perusahaan cukup memuaskan untuk kelangsungan usahanya, namun sering kalah dari perusahaan yang dominan dan peluang yang dimiliki untuk meningkatkan posisinya cenderung rendah.

5. Lemah. Perusahaan tampil tidak memuaskan tetapi memiliki peluang untuk perbaikan. Jika tidak ingin keluar dari industri solusinya harus mengubah diri berinovasi.

6. Tidak ada harapan. Perusahaan berprestasi dengan sangat tidak memuaskan serta tidak memiliki peluang perbaikan (“Strategi Pemasaran,” 2019).

(20)

Menurut Boeing yang dilansir dari Wikipedia bahwasanya perusahaan pemimpin pasar cenderung akan mencari pemakai baru, kegunaan baru, dan penggunaan yang lebih banyak atas produknya. Setiap kelas produk mempunyai peluang menarik pembeli yang belum mengenal produknya atau menolaknya karena harga atau kurangnya ciri tertentu pada produk.

1. Pemakai baru. Contohnya pada kasus Boeing yang mengalami kemunduran mencolok dalam pesanan Jumbo Jet B-747 karena perusahaan penerbangan menyatakan jumlah pesawat sudah cukup untuk melayani pasar yang ada. Boeing kemudian menyimpulkan bahwa untuk menaikkan penjualan B-747 adalah dengan membantu perusahaan penerbangan memikat lebih banyak orang untuk terbang. Pada saat itu, perusahaan penerbangan saling bersaing ketat menarik konsumen yang ada dibanding konsumen baru. Boeing melakukan analisis segmen pasar dan menemukan temuan bahwa kalangan pekerja tidak banyak terbang meski biaya terjangkau. Boeing kemudian menganjurkan kalangan perushaaan dan biro jasa perjalanan agar mencoba menawarkan satu paket wisata carteran bagi serikat buruh, kelompok agama, dan

(21)

tempat-tempat penginapan. Strategi itu berhasil dijalankan Boeing di kawasan Eropa.

2. Kegunaan baru. Pasar dapat diperluas dengan menemukan dan memperkenalkan kegunaan baru suatu produk. Contohnya selama tahun 70-an di Indonesia, Unilever sibuk mengkampanyekan Blue Band yang sebelumnya hanya dikenal untuk mengoles roti tawar dan adonan kue, sebagai suatu yang melezatkan masakan bila dicampurkan ke dalamnya.

3. Penggunaan yang lebih baik. Strategi berikutnya adalah meyakinkan masyarakat konsumen agar menggunakan produk lebih banyak pada setiap kesempatan. Contohnya adalah strategi yang dilakukan Michelin Tire Company dari Prancis, Michelin menghendakisupaya pemilik mobil di Prancis mengendarai mobilnya lebih sering karena dengan begitu penggantian ban akan lebih sering juga. Michelin juga mencetak buku pedoman dengan peta dan pemandangan sepanjang jalan agar membuat perjalanan lebih memikat. (“Strategi Pemasaran,” 2019).

Sambil memperluas pasar, perusahaan yang dominan juga harus mempertahankan pangsa pasarnya supaya tidak lepas ke pesaing. Dalam kenyataannya,

(22)

terdapat enam strategi pertahanan militer yang bisa diadopsi oleh perusahaan sebagai berikut:

1. Kedudukan bertahan. Pertahanan mendasar dengan membangun kubu benteng yang kokoh dan sulit direbut di sekitar daerahnya.

2. Pertahanan sisi (Flanking defense). Perusahaan market

leader tidak hanya menjaga daerah kekuasaannya, tetapi

juga membangun beberapa sayap atau pos-pos di luar daerahnya.

3. Pertahanan aktif mendahului (Preemptive defense). Menyerang lawan sebelum lawan tersebut menyerangnya atau dikenal pertahanan dengan menyerang.

4. Pertahanan serang-balas (Counteroffensive defense). Bila perusahaan pemimpin pasar diserang, maka reaksi pertama adalah serangan balasan. Pimpinan pasar tidak boleh tinggal diam dalam menghadapi tindakan-tindakan pesaing.

5. Pertahanan mobil. Pertahanan ini dilakukan dengan jalan memperluas daerah penjualannya yang di masa depan bisa dimanfaatkan sebagai pusat pertahanan maupun penyerangan. Perusahaan dalam memperluas daerah penjualan tidak hanya melalui pengembangbiakan merk,

(23)

namun dengan cara pembaruan pada dua front, misalnya memperluas pasar dan diversifikasi pasar.

6. Aksi penciutan. Terkadang perusahaan besar menyadari bahwa tidak mungkin seluruh daerah penjualannya dipertahankan. Kekuatan tersebar terlalu luas sehingga terasa kurang efektivitasnya, apalagi para pesaing secara terus-menerus menggerogoti berbagai sudut pertahanannya. Maka jalan terbaik adalah kontraksi atau juga sering disebut pengunduran diri/penarikan diri. Kontraksi yang terencana bukanlah suatu tindakan menyerah pada pasar tetapi lebih ke melepaskan daerah penjualan yang kurus dan mengatur kembali kekuatan daerah yang gemuk. Strategi ini merupakan konsolidasi atas kekuatan bersaing perusahaan di pasar serta memusatkan sumber daya pada posisi-posisi yang sangat penting (“Strategi Pemasaran,” 2019)

2) Marketing Syariah

a. Pengertian Marketing Syariah

Pemasaran syariah adalah disiplin sebuah disiplin bisnis strategis yang mengarahkan proses penciptaan, penawaran dan perubahan value dari suatu inisiator kepada stakeholdes-nya yang dalam keseluruhan prosesnya sesuai dengan akad dan prinsip-prinsip muamalah (bisnis) dan Islam, dan merupakan

(24)

salah satu bentuk muamalah yang dibenarkan Islam, sepanjang dalam segala proses transaksinya terpelihara dari hal-hal yang terlarang oleh ketentuan syariah (Nurul Huda, 2017)

Dalam jurnal Ilmiah yang di teliti oleh (Srisusilawati, Ibrahim, & Ganjar, 2019) Pemasaran syariah adalah sebuah disiplin bisnis strategi yang mengarahkan proses penciptaan, penawaran, dan perubahan nilai dalam pemasaran dan satu inisiator kepada Stakeholders-nya yang dalam keseluruhan prosesnya sesuai dengan akad dan prinsip muamalah dalam islam.

Menurut (Buchari Alma dan Donni Juni Priansa, 2014) pemasaran syariah sebuah disiplin bisnis strategis yang menarahkan proses penciptaan, penawaran, dan perubahan

value dari satu inisiator kepada stakeholder-nya, yang dalam

keseluruhann prosesnya sesuai dengan akad serta prinsip-prinsip syariah dan muamalah dalam Islam.

Pemasaran dalam Islam adalah bentuk muamalah yang dibenarkan dalam Islam, sepanjang dalam segala proses transaksinya terpelihara dari hal-hal terlarang oleh ketentuan syariah. Menurut Hermawan Kartajaya dan Muhammad Syakir Sula yang dilansir dari Wikipedia Pemasaran Syariah adalah sebuah disiplin bisnis strategis yang mengarahkan proses penciptaan, penawaran dan perubahan value dari suatu inisiator

(25)

kepada stakeholders-nya, yang dalam keseluruhan prosesnya sesuai dengan akad dan prinsip-prinsip muamalah (business) dalam Islam. Hal ini berarti bahwa dalam pemasaran syariah, seluruh proses baik proses penciptaan, penawaran, maupun perubahan nilai (value), tidak boleh ada hal-hal yang bertentangan dengan akad dan prinsip-prinsip muamalah Islam. Sepanjang hal tersebut dapat dijamin, dan penyimpangan prinsip-prinsip muamalah Islami tidak terjadi dalam suatu transaksi atau dalam proses suatu bisnis, maka bentuk transaksi apapun dalam pemasaran dapat dibolehkan. Syariah Manajemen marketing syariah adalah sebagai suatu ilmu memilih pasar sasaran dan mendapatkan, menjaga, dan menumbuhkan pelanggan dengan menciptakan, menyerahkan dan mengkomunikasikan nilai yang unggul kepada pelanggan dengan berorientasi pada ketentuan-ketentuan syariah. Manajemen dalam organisasi bisnis (perusahaan) merupakan suatu proses aktivitas penentuan dan pencapaian tujuan bisnis melalui pelaksanaan empat fungsi dasar, yaitu POAC (planning, organizing, actuating, dan controlling) dalam penggunaan sumber daya organisasi. Pada dasarnya strategi pemasaran adalah mencarikan kecocokan antara kemampuan internal perusahan dengan peluang eksternal yang ada dipasar. Mengenali karekteristik pasar dan struktur pasar

(26)

sangatlah menguntungkan bagi perusahaan untuk dapat tetap bersaing surviove (kelangsungan hidup perusahaan). Dalam strategi marketing organisasi bisnis perlu juga merumuskan suatu manajemen strategi untuk bisa mengedentifikasi kekuatan (strength) dan kekurangan (weakness) internal dan dibandingkan dengan peluang (opportunity) dan tantangan (threath) external, sehingga organisasi tersebut dapat membuat dan memilih strategi apa yang layak untuk digunakan. Setelah menyusun strategi, kita harus menyusun taktik untuk memenangkan market-share yang disebut Syariah Marketing

Tactic. Pertama-tama, setelah mempunyai positiong yang jelas

di benak masyarakat, perusahaan harus membedakan diri dari perusahaan lain yang sejenis. Untuk itu diperlukan differensiasi sebagai core tactic dalam segi content (apa yang ditawarkan), context (bagaimana menawarkannya) dan

infrastrukture (yang mencakup karyawan, faslitas dan

teknologi) (Afwan Rifqi Muhammad, 2019).

Konsep pemasaran syariah baru berkembang seiring berkembangnya ekonomi syariah. Beberapa perusahaan dan bank khususnya yang berbasis syariah telah menerapkan konsep ini dan telah mendapatkan hasil yang positif. Ke depannya dipredikan marketing syariah ini akan terus berkembang dan dipercaya masyarakat karena nilainilainya

(27)

yang sesuai dengan apa yang masyarakat, yaitu strategi yang mengarahkan proses penciptaan, penawaran, dan perubahan value dari inisiator kepada stakeholdernya yang dalam kesulurahan prosesnya sesuai dengan akad dan prinsip-prinsipnya muamalah dalam islam. Artinya dalam pemasaran syariah, seluruh proses baik proses penciptaan, proses penawaran, maupun proses perubahan nilai, tidak boleh ada yang bertentangan dengan prinsip-prinsip syariat (M.Nur Rianto, 2012)

Berdasarkan dalam berbagai pendapat tersebut dapat disimpulkan marketing syariah merupakan proses yang sesuai dengan akad dan prinsip-prinsip muamalah dalam Islam baik dari proses penciptaan, proses penawaran maupun proses perubahan nilai.

b. Karakteristik Marketing Syariah

Menurut (M.Nur Rianto, 2012) Ada 4 karakteristik yang terdapat pada syariah marketing. Antara lain :

1) Ketuhanan (rabbaniyah)

Salah satu ciri khas pemasaran syariah adalah sifatnya yang religus. Jiwa seorang syariah marketer menyakini bahwa hukum-hukum syariat yang bersifat ketuhanan merupakan hukum yang paling adil, sehingga aakan mematuhinya dalam setiap aktivitas pemasaran yang

(28)

dilakukan. Dalam setiap langkah, aktivitas, dan kegiatan yang dilakukan harus selalu menginduk kepada syariat Islam. Pemasaran syariah menyakini bahwa hukum-hukum ke Tuhanan ini adalah hukum yang paling ideal, paling sempurna, paling tepat untuk segala bentuk kebaikan serta paling dapat mencegah segala bentuk kerusakan. Seorang pemasar syariah meskipun ia tidak mampu melihat Allah, ia akan selalu merasa merasa bahwa Allah senantiasa mengawasinya. Sehingga ia akan mampu untuk menghindari segala macam perbuatan yang menyebabkan orang lain tertipu atas produk-produk yang dijualnya. Sebab seorang pemasar syariah akan selalu merasa bahwa setiap perbuatan yang dilakukan akan dihisab dan dimintai pertanggungjawabannya kelak pada hari kiamat. Dengan konsep ini seorang pemasar syariah akan sangat hati-hati dalam perilaku pemasarannya dan berusaha untuk tidak merugikan konsumen. Apabila seorang pemasar dengan memberikan janji palsu. Namun seorang pemasar syariah memiliki orientasi maslahah, sehingga tidak hanya mencari keuntungan namun diimbangi pula dengan keberkahan didalamnya. “Barangsiapa yang mengerjakan kebaikan seberat dzarrahpun, niscaya dia akan melihat (balasan)nya. Dan barangsiapa yang mengerjakan kejahatan sebesar 88

(29)

dzarrahpun, niscaya dia akan melihat (balasan) nya pula”. (Q.S.Al-Zalzalah:7-8).

2) Etis (akhlaqiyyah)

Keistimewaan yang lain dari syariah marketer adalah mengedapankan masalah akhlak dalam seluruh aspek kegiatannya. Pemasaran syariah adalah konsep pemasaran yang sangat mengedapankan nilai-nilai moral dan etika tanpa peduli dari agama manapun, karena hal ini bersifat universal. Terjadinya kasus Enron, worldcom adalah karena ketiadaan etika mengakibatkan perusahaan tersebut jatuh. Enron pada masa jayanya terkenal sebagai salah satu perusahaan pesaingnya. Namun setelah disediliki ternyata keuntungan tersebar tersebut didapat dari mengalihkan kerugian yang dimiliki kepada anak-anak perusahannya sehingga seakan-akan Enron mampu menghasilkan keuntungan yang besar. Selain itu praktik manipulasi laporan keuangan dilakukan untuk mendukung praktik keuangan yang ada. Setelah semua terbongkar tidak hanya Enron yang hancur akan tetapi kantor akuntan publik dan kantor konsultan hukum yang selama ini mendukung Enron turut hancur. Contoh yang terjadi pada Enron ini menandakan bahwa hilangnya etika dalam bisnis akan menyebabkan kehancuran tidak hanya kepada Enron sendiri

(30)

namun turut pula melibatkan selurruh pihak yang terkait dengannya. Seorang pemasar syariah harus menjunjung tinggi etika dalam melakukan aktivitas pemasarannya salah satunya dengan tidak memberikan janji manis yang tidak benar selalu mengedepankan kejujuran dalam menjelaskan tentang kualitas produk yang sedang ditawarkan.

3) Realitas (al-waqi’yyah)

Syariah marketing bukanlah konsep yang ekslusif, fanatik, anti modernitas, dan kaku, melainkan konsep pemasaran yang fleksibel. Syariah marketer bukanlah berarti para pemasar itu harus berpenampilan ala bangsa arab dan mengharamkan dasi. Namun syariah marketer haruslah tetap berpenampilan bersih, rapi, dan bersahaja apapun model atau gaya berpakaian yang dikenakan. Sifat realistis dikarenakan pemasaran syariah sangat fleksibel dan luwes dalam tafsir hukum dan implementasinya terhadap pemasaran konvensional.

4) Humanistis (insaniyyah)

Keistimewaan yang lain adalah sifatnya yang humanistis universal. Pengertian humanistis adalah bahwa syariah diciptakan untuk manusia agar derajatnya terangkat, sifat kemanusiannya terjaga dan terpelihara, 90 serta sifat-sifat kehewanannya dapat terkekang dengan panduan

(31)

syariah. Syariah Islam adalah syariah humanistis, diciptakan untuk manusia sesuai dengan kapitasnya tanpa memperdulikan ras, warna kulit, kebangsaan, dan status. Sehingga syariah marketing bersifat universal. Marketing syariah yang humanitis diciptakan untuk manusia sesuai dengan kapasitasnya tanpa menghiraukan agama, suku, ras, warna kulit, kebangsaan, dan status. Hal ini membuat syariah memiliki universal sehingga menjadi syariah humanistis universal, setiap nasabah yang membutuhkan pelayanan bank syariah harus dilayani tanpa memandang apakah ia seorang muslim ataupun non muslim, apakah ia dari status sosial yang rendah ataukah status sosial yang tinggi semuanya harus dilayani dalam industri perbankan syariah. Pemasar syriah tidak boleh melakukan segmentasi pasar hanya berdasarkan kepada ras, warna kulit, kebangsaan, dan status, seluruh masyarakat merupakan pasar potensial bagi produk-produk syariah.

Selain itu karakteristik berupaya menjelaskan posisi antara perusahaan dan konsumen. Posisi perusahaan dan konsumen berada pada tingkatan yang sama yaitu mitra sejajar dan posisi antara perusahaan dan konsumen diikat oleh persaudaraan. Sehingga konsumen dalam konsep pemasaran syariah bukanlah obyek belaka namun 91

(32)

bertindak pula sebagai subyek dalam pemasaran. Dengan meletakkan konsumen sebagai subyek dalam aktivitas pemasaran menunjukkan bahwa posisi konsumen bukanlah hanya “sapi perah” bagi perusahaan, namun ia merupakan aset berharga yang dimiliki bagi kemajuan perusahaan ke depan. Sehingga pemasar syariah sebagai ujung tombak perusahaan harus mampu mmerangkul konsumen agar dapat menjadi kunci kemanjuan perusahaan.

c. Stratergi Marketing Syariah

Dalam sebuah pemasaran, dibutuhkannya strategi pemasaran syariah yang relevan untuk memimpikan penerapan bisnis agar sesuai dengan nilai dan kaidah agama. Ada empat hal yang menjadi Key Success Factors (KSF) dalam mengelola suatu bisnis, agar mendapat nilai-nilai moral yang tinggi. Ke empat Key Succsess Factors tersebut menurut jurnal ilmiah yang diteliti oleh (Tresnati & Maharani, 2014) yaitu :

1) Shiddiq (benar dan jujur),

Jika seorang pemimpin senantiasa berperilaku benar dan jujur dalam sepanjang kepemimpinannya, jika seorang pemasar sifat shiddiq haruslah menjiwai seluruh perilakunya dalam melakukan pemasaran, dalam berhubungan dengan pelanggan, dalam bertransaksi dengan

(33)

nasabah, dan dalam membuat perjanjian dengan mitra bisnisnya.

2) Amanah (terpercaya, kredibel)

Artinya, dapat dipercaya, bertanggung jawab, dan kredibel, juga bermakna keinginan untuk untuk memenuhi sesuatu sesuai dengan ketentuan. Diantara nilai yang terkait dengan kejujuran dan melengkapinya adalah amanah.

3) Fathanah (cerdas)

dapat diartikan sebagai intelektual, kecerdikan atau kebijaksanaan. Pemimpin yang fathanah adalah pemimpin yang memahami, mengerti dan menghayati secara mendalam segala hal yang menjadi tugas dan kewajibannya.

4) Thabligh (komunikatif)

Artinya komunikatif dan argumentatif. Orang yang memiliki sifat ini akan menyampaikannya dengan benar dan dengan tutur kata yang tepat (bi al-hikmah). Berbicara dengan orang lain dengan sesuatu yang mudah dipahaminya, berdiskusi dan melakukan presentasi bisnis dengan bahasa yang mudah dipahami sehingga orang tersebut mudah memahami pesan bisnis yang ingin kita sampaikan. Kiat membangun citra sesuai dengan Rasulullah SAW:

(34)

1) Penampilan: tidak membohongi pelanggan, baik menyangkut besaran (kuantitas).

2) Pelayanan: pelanggan yang tidak sanggup membayar kontan hendaknya memberi tempo untuk melunasinya. Selanjutnya, pengampunan (bila memungkinkan) hendaknya diberikan jika ia benar-benar tidak sanggup membayarnya.

3) Persuasi: menjahui sumpah yang berlebihan dalam menjual suatu barang.

4) Pemuasan: hanya dengan kesepakatan bersama, dengan seatu usulan dan penerimaan, penjualan akan sempurna (Kampus, 2016)

Sebelum mencapai kepada titik loyalitas, pelanggan/nasabah akan melewati tahapan kepuasan terlebih dahulu. Dengan pelayanan yang dapat memuaskan pelanggan/nasabah perusahan memiliki peluang untuk mendapatkan pelanggan yang loyal. Pemahaman loyalitas pelanggan sebenarnya tidak hanya diliat dari transaksinya saja atau pembelian berulang (repeat customer). Ada beberapa ciri pelanggan bisa dianggap loyal. Antara lain.

1) Pelanggan yang melakukan pembelian secara teratur

2) Pembelian yang membeli untuk produk yang lain ditempat yang sama

(35)

3) Pelanggan yang mereferensikan kepada orang lain

4) Pelanggan yang tidak dapat dipengaruhi oleh pesaing untuk pindah.

Customer loyal merupakan invisible advocate bagi

kita. Mereka akan berupaya membela produk kita dan secara sukarela akan selalu berusaha merekomendasikan kepada orang lain. Secara otomatis word of mount akan bekerja. Sedangkan dimensi loyalitas ada 4 yaitu: Transaction,

Relationship, Partnership dan Ownership. Bahwasanya ketika

pelanggan loyal, maka tidak hanya ada keinginan untuk bertransaksi tetapi juga berelasi, menjalin kerjasama bahkan mungkin rasa memiliki. Loyalitas pelanggan merupakan kekuatan kita dalam menciptakan barrier to new entrans (mengalangi pemain baru masuk). Dalam rangkan menciptakan customer satisfaction terlebih dahulu. Salah satunya yaitu melalui Relationship Marketing yang tidak hanya mengutamakan pada bagaimana menciptakan penjualan saja tetapi bagaimana menciptakan penjualan saja tetapi bagaimana mempertahankan pelanggan dengan dasar hubungan kerjasama dan kepercayaan supaya tercipta kepuasan pelanggan yang maksimal dan sustainability marketing. Islam menawarkan solusi dan strategy jitu dalam sistem pemasaran yaitu pasar syariah. Banyak pendapat yang mengatakan bahwa pasar

(36)

syariah adalah pasar yang bersifat emosional sedangkan pasar konvensional adalah pasar yang lebih rasional. Maksud dari pernyataan tersebut adalah orang lebih tertarik berbisnis pada pasar syariah hanyalah karena alasan emosional keagamaan semata dan bukan karena ingin mendapatkan keuntungan finansial yang menurut sebagian pihak dikatakan sebagai sesuatu yang bersifat rasional. Sebaliknya pada pasar konvensional, orang ingin mendapatkan keuntungan finansial sebesar-besarnya tanpa terlalu peduli apakah bisnis yang digelutinya mungkin menyimpang atau malah bertentangan dengan ajaran Islam atau apakah cara yang dipergunakann cara-cara yang kotor ataukah tidak. Benarkah telah terjadi dikotomi antara pasar emosional dan pasar rasional? Dan apakah pasar syariah itu awalnya hanyalah pasar emosional kemudian bergeser ke pasar rasional? Pakar ekonomi syariah K.H Didin Hafidhudin membantah argumentasi di atas, menurut beliau orang-orang yang selama ini dikatakan berada di pasar emosional justru sangat rasional dalam menentukan pilihan.orang yang berada dalam kategori pasar emosional biasanya justru lebih kritis, lebih teliti dan lebih cermat dalam membandingkan dengan lembaga keuangan konvensional yang selama ini digunakan sebelum menentukan pilihan ke pasar syariah. Pendapat ini diperkuat oleh salah seorang praktisi

(37)

perbankan syariah yang merupakan salah satu mantan direksi Bank Muamalat Indonesia Budi Wisakseno yang mengatakan bahwa pemahaman dikotomi antara nasabah rasional dan nasaba emosional adalah keliru. Cara berpikir seperti itu, dilandasi oleh teori pemasaran konvensional yang berpaham sekuler yang memisahkan kehidupan dunia dengan spiritual-spiritual, dimana segala hal yang berlandaskan cara berpikir keagamaan serta merta akan dianggap sebagai sesuatu yang tidak rasional.Ketika seorang nasabah rasional mendapatkan informasi bahwa suku bunga bank konvensional sedang tinggi, ia akan menarik dananya di bank syariah dan memindahkannya ke bank konvensional. Menurut teori pemasaran konvensional ini adalah sikap yang rasional karena dia mencoba menghindar dari situasi yang kurang menguntungkan. Namun sebenarnya ini juga bisa dikatakan cara berpikir emosonal, karena mengedepankan nilai-nilai ajaran agama Islam dalam setiap pengambilan keputusan investasi sebenarnya mempunyai dua prespektif waktu. Pertama, perspektif waktu sekarang yaitu ketika ia masih hidup di dunia. Kedua, prespektif waktu setelah mati, yaitu periode sejak nasabah meninggal atau kehidupan alam kubur sampai dengan waktu saat manusia akan dihitung amal baik dan buruknya selama hidup di dunia (hisab). Salah satu hal yang menarik dalam marketing syariah

(38)

adalah implementasi model marketing yang dikenal dengan nama Sustainable Marketing Enterprise (SME). Dalam model SME, konsep pemasaran disini tidaklah berarti pemasaran sebagi sebuah fungsi atau departemen dalam perusahaan, tetapi bagaimana kita bisa melihat pasar secara kreatif dan inovatif. Pemasaran bukanlah hanya seperti anggapan orang, yaitu study untuk menjual. Atau seperti yang dipahami beberapa kalangan hanyalah marketing mix semata, yaitu pembuatan strategi untuk produk (product), harga (price), tempat (place) atau promosi (promotion). Namun pengertian terhadap pemasaran itui sendiri cakupannya lebih luas. Dalam syariah marketing

strategy yang pertama harus dilakukan dalam mengeksplorasi

pasar. Besarnya ukuran pasar (market size), pertumbuhan pasar (market growth),, keunggulan kompetitif (competitive

advantages) dan situasi persaingan (competitive situation).

Setelah menyusun strategi, kita harus menyusun taktik untuk memenangkan market-share yang disebut Syariah Marketing

Tactic. Pertama-tama, setelah mempunyai positiong yang jelas

di benak masyarakat, perusahaan harus membedakan diri dari perusahaan lain yang sejenis. Untuk itu diperlukan

differensiasi sebagai core tactic dalam segi content (apa yang

ditawarkan), context (bagaimana menawarkannya) dan infrastruktur (yang mencakup karyawan, faslitas dan

(39)

teknologi). Kemudian menerapkan differensiasi secara kreatif pada marketing mix (product, price, place, promotion). Karena itu marketing-mix disebut sebagai creation tactic. Walaupun bergitu selling yang memegang peranan penting sebagai

capture tactic juga harus diperhatikan karena merupakan

elemen penting yang berhubungan dengan kegiatan transaksi dan langsung mampu menghasilkan pendapatan.

Dari penjelasan tersebut mengenai kajian tentang pemasaran syariah, dapat ditarik kesimpulan bahwa marketing syariah merupakan sebuah solusi dalam menghadapi praktik pemasaran konvensional yang kurang menjunjung tinggi nilai – nilai moralitas serta hak dan kewajiban pembeli kurang dihargai dalam transaksi jual beli, keadaan ini dirasa masyarakat sangat merugikan konsumen, sehingga terjadi perubahan persepsi masyarakat yang menginginkan kondisi pasar yang jauh dari praktik kebohongan dan kecurangan yang sering dilakukan penjual atau pebisnis saat ini. Dalam marketing syariah, seluruh proses, baik proses penciptaan, proses penawaran, maupun proses perubahan nilai (value), tidak boleh ada hal-hal yang bertentangan dengan akad dan prinsip-prinsip muamalah yang Islami. Sepanjang hal tersebut dapat dijamin, dan penyimoangan prinsip-prinsip muamalah islami tidak terjadi dalam suatu transaksi apapun dalam

(40)

pemasaran dapat dibolehkan. Rasulullah sendiri telah memberikan contoh kepada kita, tentang cara-cara berbisnis yang berpegang teguh pada kebenaran, kejujuran, sikap amanah serta tetap memperoleh keuntungan. Nilai-nilai inilah yang menjadi landasan atau hukum dalam melakukan suatu bisnis. Rasulullah adalah profile kesuksesan dalam melakukan spititualisasi pemasaran. Oleh karena itu, kita bisa mencontoh sikap nabi dengan mengutamakan nilai-nilai spiritual (Islam). Dalam melakukan pemasaran dan bisnis hendaknya kita memenuhinya dengan nilai-nilai ibadah. Selain itu menjadikan Allah sebagai persinggahan terakhir dari spirit aktifitas ekonomi yang kita lakukan. Dalam Al-Quran (QS. Al-An’am (6):162) dinyatakan ”Sesungguhnya shalatku, ibadahku, hidup

dan matiku hanyalah untuk Allah”. Praktik marketing syariah

ini tidak hanya berlaku bagi kaum Muslim saja, melainkan kaum non – Muslim pun dapat menjalankan praktik syariah karena Nabi Muhammad itu menyebarkan ajaran Islam pasti bukan hanya untuk umat Islam saja. Jadi tidak apa-apa jika nilai marketing syariah ini inisiatif orang Islam supaya bisa menginspirasikan orang lain. Makin banyak non-Muslim yang ikut menerapkan nilai ini, makin bagus agar tercipta kondisi pemasaran yang mensejahterakan penjual dan pembeli dengan menjauhi praktik – praktik yang bersifat penipuan atau

(41)

kecurangan dalam pemasaran. Konsep marketing syariah ini sendiri saat ini baru berkembang seiring berkembangnya ekonomi syariah. Beberapa perusahaan dan bank khususnya yang berbasis syariah telah menerapkan konsep ini dan telah mendapatkan hasil yang positif. Kedepannya diprediksikan

marketing syariah ini akan terus berkembang dan dipercaya

masyarakat karena nilai-nilainya yang sesuai dengan apa yang dibutuhkan masyarakat yaitu kejujuran. Akhirnya, seorang pebisnis hendaknya menerapkan praktik pemasaran syariah ini sebagai bentuk ibadah kepada Allah sehingga usaha yang dijalankan akan mendapat ridho dan rahmat dari Allah dengan bentuk kesuksesan di dunia dan akherat kelak dan pemasaran spiritual ini jangan sampai menjadi tren saja, tapi terbentuk secara sistemik dalam aktivitas bisnis sehari-hari kita. Kejujuran adalah instrumen penting dalam merengguh keunggulan bersaing. Dengan demikian persaingan tak lagi dilumuri oleh kecurangan dan penindasan (Nabila Amalia, 2015).

3) Covid-19

a. Pengertian Covid-19

Suatu kelompok virus yang dapat menyebabkan penyakit pada hewan atau manusia. Beberapa jenis coronavirus diketahui menyebabkan infeksi saluran nafas pada manusia

(42)

mulai dari batuk pilek hingga yang lebih serius seperti Middle

East Respiratory Syndrome (MERS) dan Severe Acute Respiratory Syndrome (SARS). Coronavirus jenis baru yang

ditemukan menyebabkan penyakit COVID-19 (World Health Organization, 2020)

Coronavirus adalah kumpulan virus yang bisa menginfeksi sistem pernapasan. Pada banyak kasus, virus ini hanya menyebabkan infeksi pernapasan ringan, seperti flu. Namun, virus ini juga bisa menyebabkan infeksi pernapasan berat, seperti infeksi paru-paru (pneumonia) (dr. Merry Dame Cristy Pane, 2020).

Coronavirus atau virus corona merupakan keluarga besar virus yang menyebabkan infeksi saluran pernapasan atas ringan hingga sedang, seperti penyakit flu. Banyak orang terinfeksi virus ini, setidaknya satu kali dalam hidupnya (dr. Rizal Fadli, 2020).

b. Dampak Covid-19 terhadap Ekonomi

Peningkatan negara yang terdampak virus Covid-19 di seluruh dunia seperti Amerika, Spanyol dan Italia membuat situasi ekonomi dunia semakin memburuk. Beberapa lembaga bahkan memprediksikan perlemahan ekonomi dunia, antara lain International Monetary Fund (IMF) yang memproyeksikan ekonomi global tumbuh minus di angka 3%.

(43)

Menteri Keuangan (Menkeu) menjelaskan Pendapatan Negara pada bulan Maret 2020 tumbuh positif. Meskipun kemudian Pemerintah waspada terhadap dampak pandemi di bulan mendatang, mengingat wabah ini baru mulai meluas di Indonesia pada minggu kedua Maret 2020. “Untuk Indonesia kita lihat sudah ada 5.516 kasus baru Covid-19 sesuai data kemarin dan masih terkonsentrasi mayoritas ada di Daerah Khusus Ibukota (DKI) Jakarta. Ini yang menyebabkan bahwa DKI Jakarta, Jawa Barat, dan Jawa Timur, serta Banten adalah tempat terbesar dari penularan positif dari kasus Covid-19”, jelas Menkeu. Menkeu juga menambahkan bahwa pulau Jawa adalah pulau yang memberikan kontribusi sangat besar bagi perekonomian Indonesia. “Lebih dari 57% ini nanti akan mempengaruhi cukup besar dari sisi prospek ekonomi dan kegiatan dari ekonomi masyarakat”, tukas Menkeu dalam video

conference APBN KITA April 2020.

1) Pendapatan Negara Masih Mampu Tumbuh Positif

Akhir Triwulan I Namun Tekanan Di Depan Harus Diwaspadai

Menkeu mengungkapkan pendapatan negara dan hibah pada akhir Triwulan I 2020 telah mencapai Rp375,95 triliun. Capaian pendapatan negara tersebut

(44)

tumbuh 7,75% (yoy) jauh lebih baik dibandingkan pertumbuhan di bulan Februari lalu sebesar minus 0,5% (yoy). "Namun demikian, kita melihat refleksi penerimaan negara di bulan Maret yg tumbuh 7,7% terlihat cukup baik dibandingkan tahun lalu yang tumbuh 4,46%, meskipun basis supporting-nya bukan basis ekonomi secara luas", ungkap Menkeu.

Hal ini menunjukkan dukungan berbagai sumber pendapatan negara dalam upaya memperkuat Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) di tengah tekanan ekonomi akibat pandemi Covid-19. Realisasi Pendapatan Negara yang bersumber dari Penerimaan Perpajakan dan Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP) masing-masing secara nominal telah mencapai Rp279,89 triliun dan Rp95,99 triliun. Sementara itu, realisasi dari Hibah pada periode yang sama baru mencapai Rp0,08 triliun. Penerimaan Perpajakan dan PNBP tumbuh masing-masing sebesar 0,43% dan 37% (yoy).

Sementara itu, secara keseluruhan pertumbuhan komponen penerimaan Pajak hingga akhir bulan Maret 2020 masih bersumber dari pajak atas konsumsi rumah

(45)

tangga, meskipun penerimaan pajak juga masih dibayangi tekanan akibat tren pelemahan industri manufaktur dan aktivitas perdagangan internasional, serta pelemahan aktivitas ekonomi akibat penyebaran Covid-19.

Kemudian, seiring adanya aturan terkait Work From

Home (WFH) baik untuk sektor pemerintah maupun

sektor swasta, maka mulai terjadi perlambatan kegiatan usaha di akhir bulan Maret 2020 yang berpotensi menurunkan penyerahan dalam negeri yang kemudian akan menekan penerimaan Pajak Pertambahan Nilai Dalam Negeri (PPN DN) di bulan April 2020. Kondisi tersebut kemungkinan akan berlanjut dan semakin terkontraksi di bulan Mei, mengingat di bulan April sebagian daerah sudah melaksanakan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) di beberapa wilayah terdampak. Sejalan dengan penerapan WFH dan PSBB tersebut, Pemerintah memberikan fasilitas perpajakan berupa relaksasi pembayaran PPh Pasal 29 OP dan pelaporan SPT PPh OP, yang mana berimbas pada belum optimalnya realisasi penerimaan PPh Pasal 29 OP.

(46)

Lebih lanjut, penerimaan Kepabeanan dan Cukai secara nominal utamanya masih didukung oleh penerimaan dari Cukai dan Bea Masuk (BM). Dilihat dari pertumbuhannya, penerimaan Kepabeanan dan Cukai tumbuh mencapai 23,60% (yoy), yang terutama berasal dari pertumbuhan penerimaan Cukai yang tercatat sebesar 36,50% (yoy). Di sisi lain, realisasi penerimaan Bea Keluar (BK), pertumbuhannya secara kumulatif masih tumbuh negatif 32,56% (yoy). Kontraksi pada pertumbuhan pajak perdagangan internasional terjadi akibat turunnya volume impor, penurunan harga komoditas, dan melambatnya aktivitas ekspor barang mentah sebagai dampak mewabahnya Covid-19 di berbagai negara.

Realisasi PNBP sampai dengan Triwulan I Tahun 2020 tumbuh positif sebesar 36,80 % dibandingkan periode yang sama tahun 2019 (Rp70,16 triliun). Secara lebih terperinci, pencapaian realisasi triwulan ini terutama bersumber dari PNBP SDA migas tercatat sebesar Rp28,64 triliun (22,5% dari APBN 2020) atau tumbuh 7,42% (yoy). Penerimaan PNBP nonmigas sampai akhir Maret mengalami penurunan sebesar 22,41%. Sementara itu, capaian pendapatan dari

(47)

Kekayaan Negara yang Dipisahkan hingga Maret 2020 menunjukkan pertumbuhan 907.314,82% dibandingkan periode yang sama tahun 2019. Demikian juga dengan pendapatan Badan Layanan Umum (BLU) hingga Maret 2020 mencatatkan pertumbuhan positif 37,17% dibandingkan periode yang sama tahun 2019 yaitu dari Rp9,38 triliun menjadi Rp12,87 triliun.

2) Akselerasi Belanja Maret 2020

Menkeu menyampaikan Realisasi Belanja Pemerintah Pusat sampai dengan Maret 2020 tumbuh sebesar 6,58% (yoy) dari tahun sebelumnya. “Karena adanya Covid-19 dan adanya prioritas yang lebih ditujukan kepada kesehatan, bansos, dan pemulihan ekonomi diperkirakan belanja modal akan mengalami perlambatan”, jelas Menkeu.

Realisasi Belanja Negara tersebut meliputi realisasi Belanja Pemerintah Pusat dan realisasi Transfer ke Daerah dan Dana Desa (TKDD). Meningkatnya kinerja realisasi Belanja Pemerintah Pusat tersebut utamanya dipengaruhi oleh kinerja realisasi belanja modal sebesar Rp11,95 triliun dan bantuan sosial sebesar Rp47,17 triliun. Realisasi belanja modal hingga Maret 2020

(48)

mengalami peningkatan sebesar 32,06% (yoy), sedangkan realisasi bantuan sosial tumbuh sebesar 27,61% (yoy) jika dibandingkan tahun sebelumnya sebagai upaya Pemerintah untuk melaksanakan program-program jaring pengaman sosial. Peningkatan kinerja realisasi belanja tersebut mencerminkan komitmen Pemerintah untuk melakukan percepatan belanja produktif serta peningkatan pelayanan, termasuk melindungi masyarakat miskin dan rentan.

Realisasi TKDD sampai dengan Maret 2020 mencapai Rp174,50 triliun yang meliputi Transfer ke Daerah (TKD) sebesar Rp167,30 triliun dan Dana Desa Rp7,20 triliun. Realisasi TKDD sampai dengan Maret 2020 lebih rendah sekitar Rp16,82 triliun atau 8,79% (yoy) apabila dibandingkan dengan periode yang sama tahun 2019. Secara umum hal ini terutama disebabkan belum optimalnya penyaluran dana TKDD sampai dengan Triwulan I 2020 karena adanya proses pemenuhan persyaratan penyaluran TKDD oleh Pemerintah Daerah.

Realisasi TKD sampai dengan Maret 2020 lebih rendah Rp13,94 triliun atau sekitar 7,69% bila

(49)

dibandingkan realisasi TKD pada periode yang sama tahun 2019. Rendahnya realisasi TKD tersebut terutama disebabkan karena: (1) Realisasi Dana Bagi Hasil (DBH) hanya sekitar 38,39% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. (2) Realisasi Dana Alokasi Umum (DAU) hanya sekitar 6,10% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Hal ini terutama disebabkan karena adanya penyaluran DAU yang berbasis kinerja, sehingga penyaluran hanya dapat dilakukan setelah Menkeu (c.q Direktorat Jenderal Perimbangan Keuangan) menerima laporan belanja pegawai dari daerah sebagaimana amanah dari Peraturan Menteri Keuangan (PMK) Nomor 139 Tahun 2019 tentang Pengelolaan Dana Bagi Hasil, Dana Alokasi Umum, dan Dana Otonomi Khusus.

Sementara itu, realisasi penyaluran Dana Desa sampai dengan Maret 2020 sebesar Rp7,20 triliun. Secara spesifik, kinerja penyaluran TKDD sampai dengan Maret 2020 juga dipengaruhi oleh faktor lain yaitu dampak mewabahnya pandemi Covid-19 di ibukota dan berbagai daerah di Indonesia, sehingga turut mempengaruhi implementasi penyaluran TKDD di daerah karena Pemerintah Pusat dan Pemerintah Daerah

(50)

masih terfokus pada penanganan dampak akibat Covid-19 tersebut.

Pada dasarnya pemotongan TKDD tersebut digunakan untuk penanganan Covid-19 secara terkoordinasi di Pemerintah Pusat, antara lain untuk pengadaan Alat Pelindung Diri (APD), pembayaran insentif dan santunan kematian tenaga medis, berbagai jenis bantuan sosial, dan insentif untuk Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM). Dengan demikian, uang pemotongan tersebut pada dasarnya juga kembali kepada masyarakat di daerah. Selain itu, telah dikeluarkan pula Surat Keputusan Bersama Menkeu dan Menteri Dalam Negeri yang isinya mengatur penyesuaian APBD. Hal ini utamanya agar daerah melakukan penghematan di seluruh aspek (belanja pegawai, belanja barang dan jasa, serta belanja modal) dan merealokasinya untuk fokus kepada belanja penanganan Covid-19 serta bantuan sosial dan insentif untuk mengatasi dampak ekonomi di daerah. Dalam pelaksanaan bantuan sosial ini, harus dilakukan koordinasi antara Pemerintah Pusat dan Daerah agar tidak terjadi tumpang tindih dalam pencapaian sasarannya.

(51)

3) Pengelolaan Fiskal Untuk Menjaga Keberlanjutan

Keuangan Negara

Pemerintah berkomitmen untuk menjaga keberlanjutan fiskal di tahun 2020, dimana realisasi defisit APBN hingga Maret 2020 mencapai 0,44% Produk Domestik Bruto (PDB). Sementara itu posisi defisit keseimbangan primer pada Maret 2020 telah turun hampir Rp30 triliun dibandingkan periode yang sama di tahun sebelumnya. Dengan kondisi tersebut, realisasi pembiayaan APBN melalui utang hingga Maret 2020 juga mengalami penurunan sebesar 57,17% jika dibandingkan realisasi pada periode tahun sebelumnya. Penurunan tersebut juga didorong oleh adanya tekanan di pasar keuangan pada bulan Maret, yang berdampak pada menurunnya likuiditas karena meningkatnya volatilitas pasar keuangan yang ditunjukkan oleh peningkatan yield, turunnya IHSG, dan melemahnya nilai tukar Rupiah terhadap Dolar AS. Dalam menghadapi kondisi tersebut, Pemerintah menjalankan strategi pengelolaan pembiayaan utang secara hati hati (prudent) dan terukur. Sejalan dengan hal ini, Pemerintah telah mengubah jadwal penerbitan

(52)

Surat Berharga Negara (SBN) dalam valuta asing, dari semula di bulan Maret menjadi di bulan April 2020.

4) Kebijakan Penanganan Pandemi ke Depan Dalam

Menjaga Keuangan Negara

Menkeu menyatakan bahwa stimulus yang sudah disampaikan kepada seluruh dunia usaha dan masyarakat itu sifatnya broadbase. “Jadi APBN

meng-cover kebutuhan kesehatan, bidang sosial, dan bidang

ekonomi yang semuanya mengalami dampak seperti domino efek, kesehatan memukul sosial, sosial memukul ekonomi dan nanti ekonomi juga pasti akan mempengaruhi dari sektor keuangan, terutama dari lembaga-lembaga keuangan bank dan bukan bank”, ucap Menkeu.

Menkeu juga menambahkan dari sisi sosial masyarakat Kementerian Keuangan mencoba melancarkan stimulus/kebijakan-kebijakan untuk bisa mengurangi dampak shock Covid-19 yang sangat besar ini. “Untuk masyarakat, tentu tidak bisa seluruhnya shock di absorb oleh APBN. Namun APBN berusaha untuk bisa mendukung ketahanan sosial masyarakat. Dari sisi sosial ekonomi APBN mencoba

(53)

untuk memberikan dukungan agar shock itu tidak merusak atau dalam hal ini menyebabkan kebangkrutan yang sifatnya masif”, ungkap Menkeu. Pemerintah menyadari bahwa dampak kerusakan akibat wabah Covid-19 akan amat masif ke depannya sehingga kewaspadaan dan kehati-hatian dalam penetapan kebijakan serta pengelolaan Keuangan Negara akan dilakukan ke depan. Kebijakan extraordinary kemudian dilakukan Pemerintah untuk mengurangi dampak akibat penyebaran virus Covid-19 di Indonesia melalui penerbitan Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang No. 1 Tahun 2020 (PERPPU 1/2020) yang baru saja disahkan pada bulan April 2020.

Dalam rangka menunjang perekonomian, pemerintah telah menerbitkan PMK-23/2020 dan PMK 28/2020 yang mengatur mengenai insentif fiskal dalam rangka menghadapi pandemic Covid-19. Dengan adanya insentif fiskal ini, diperkirakan penerimaan pajak di bulan April akan menurun. Terkait dengan (PERPPU 1/2020) yang antara lain mengatur penurunan tarif Pajak Penghasilan (PPh) Badan untuk tahun pajak 2020 (SPT PPh Badannya disampaikan di April 2021), diperkirakan akan terjadi penurunan angsuran PPh Pasal

(54)

25 badan mulai bulan Mei 2020. Lebih lanjut Pemerintah berkomitmen untuk menjaga industri dalam negeri ditengah pandemi Covid-19. Melalui PMK-30/2020, Pemerintah memberikan relaksasi penundaan pembayaran cukai akibat tersendatnya logistik di lapangan karena Covid-19.

Pemerintah berharap dengan adanya penundaan ini dapat membantu arus kas perusahaan sehingga perusahaan dapat terus menjalankan usahanya. Keberlangsungan industri sangat penting untuk mengatasi terhambatnya penyediaan logistik dan penyerapan tenaga kerja agar tidak terjadi pemutusan hubungan kerja. Selain itu Pemerintah juga telah mengantisipasi keadaan kahar ini dengan berbagai kebijakan yang relevan seperti relaksasi aturan impor untuk bahan baku pembuatan alat kesehatan.

Insentif fiskal dan prosedural dari segi kepabeanan dan cukai juga dilakukan Pemerintah untuk mereduksi dampak pandemi Covid-19 ini yang terdiri atas larangan sementara atas ekspor Alat Kesehatan, relaksasi Free Alongside Ship (FAS) Impor, pembebasan cukai alkohol dalam rangka penanganan

(55)

Covid-19, relaksasi ijin impor untuk Alat Kesehatan, relaksasi PPh impor untuk perusahaan Kemudahan Impor Untuk Tujuan Ekspor (KITE), percepatan layanan online untuk penanganan Covid-19, relaksasi pelunasan cukai dan produksi rokok, percepatan logistik dengan sistem National Logistik Ecosystems (NLE), dan relaksasi penjualan lokal dari perusahaan KB/KITE. Komitmen Pemerintah untuk menjaga keberlanjutan keuangan negara guna mewujudkan keselamatan dan kesejahteraan masyarakat ditunjukkan dengan upaya-upaya Pemerintah untuk mengelola fiskal dengan sebaik-baiknya melalui peningkatan pendapatan negara secara optimal, pengelolaan utang yang pruden dan terus berupaya melakukan perbaikan kinerja penyerapan anggaran. Hal ini diarahkan agar pelaksanaan APBN dapat memberikan manfaat yang optimal dan berkeadilan bagi seluruh lapisan masyarakat.

(56)

b. Kerangka Teoritik

Pemasaran merupakan suatu proses, fungsi dan sekumpulan di mana bisnis dan organisasi lainnya menciptakan pertukaran nilai di antara bisnis dan perusahaan itu sendiri dan para pelanggannya. Menurut American Marketing Association dalam penelitian ilmiah (Assauri, 2013) yang menyatakan bahwa pemasaran adalah hasil prestasi kerja kegiatan usaha yang berkaitan dengan mengalirnya barang dan jasa dari produsen sampai ke konsumen.

Menurut (Indriyo Gitosudarmo, 2014) Pemasaran dapat diartikan sebagai suatu kegiatan yang mengusahakan agar produk yang dipasarkannya itu dapat diterima dan disenangi oleh pasar.

Menurut (Buchari Alma dan Donni Juni Priansa, 2014) pemasaran syariah sebuah disiplin bisnis strategis yang menarahkan proses penciptaan, penawaran, dan perubahan value dari satu inisiator kepada

stakeholder-nya, yang dalam keseluruhann prosesnya sesuai dengan akad

serta prinsip-prinsip syariah dan muamalah dalam Islam.

Konsep pemasaran syariah baru berkembang seiring berkembangnya ekonomi syariah. Beberapa perusahaan dan bank khususnya yang berbasis syariah telah menerapkan konsep ini dan telah mendapatkan hasil yang positif. Ke depannya dipredikan marketing syariah ini akan terus berkembang dan dipercaya masyarakat karena nilainilainya yang sesuai dengan apa yang masyarakat, yaitu strategi yang mengarahkan proses penciptaan, penawaran, dan perubahan value dari inisiator kepada stakeholdernya yang dalam kesulurahan prosesnya sesuai

(57)

dengan akad dan prinsip-prinsipnya muamalah dalam islam. Artinya dalam pemasaran syariah, seluruh proses baik proses penciptaan, proses penawaran, maupun proses perubahan nilai, tidak boleh ada yang bertentangan dengan prinsip-prinsip syariat (M.Nur Rianto, 2012).

Suatu kelompok virus yang dapat menyebabkan penyakit pada hewan atau manusia. Beberapa jenis coronavirus diketahui menyebabkan infeksi saluran nafas pada manusia mulai dari batuk pilek hingga yang lebih serius seperti Middle East Respiratory Syndrome (MERS) dan

Severe Acute Respiratory Syndrome (SARS). Coronavirus jenis baru yang

ditemukan menyebabkan penyakit COVID-19 (World Health Organization, 2020).

Coronavirus atau virus corona merupakan keluarga besar virus yang menyebabkan infeksi saluran pernapasan atas ringan hingga sedang, seperti penyakit flu. Banyak orang terinfeksi virus ini, setidaknya satu kali dalam hidupnya (dr. Rizal Fadli, 2020).

Peningkatan negara yang terdampak virus Covid-19 di seluruh dunia seperti Amerika, Spanyol dan Italia membuat situasi ekonomi dunia semakin memburuk. Beberapa lembaga bahkan memprediksikan perlemahan ekonomi dunia, antara lain International Monetary Fund (IMF) yang memproyeksikan ekonomi global tumbuh minus di angka 3%. Ekonomi dunia saat ini sedang berperang dengan virus Covid-19 yang sangat mematikan. Akibatnya pergerakan ekonomi saat ini menjadi lumpuh. Berbagai strategi yang dirancang oleh tatanan dunia untuk

(58)

mengubah model bisnis dan menaklukkan Covid-19 agar pergerakan ekonomi dunia kembali normal. Pesiapan yang dibutuhkan dalam pembangkitan ini antara lain kesiapan mental dan menguatkan daya tahan tubuh agar terhindar dari Virus Covid-19.

Dari beberapa teori yang sudah dijelaskan diatas maka kerangka berpikir dalam penelitian ini dapat digambarkan sebagai berikut :

Gambar 2.1 Kerangka Berpikir

Marketing Syariah Pandemi Covid-19

(59)

c. Penelitian Terdahulu

1. Nia dalam penelitiannya yang berjudul “Strategi dalam Meningkatkan Kepuasan Anggota Penabung dengan Akad Wadiah di Baitul Maal Wat Tamwil (BMT) Pahlawan Tulungagung”, bertujuan untuk mengetahui strategi apa yang digunakan BMT Pahlawan dalam meningkatkan kepuasan anggota penabung dengan akad wadiah. Hasil penelitian menunjukan bahwa Strategi BMT Pahlawan Tulungagung dalam meningkatkan kepuasan anggota penabung adalah dengan menjaga kepuasan dari anggota dengan cara membangun kepercayaan antar anggota dan karyawan yang berdasarkan hubungan kemitraan serta dengan strategi peningkatan kinerja perusahaan terbukti mampu meningkatkan kepuasan anggota. Persamaan dalam penelitian ini adalah terletak pada tujuan penelitian yaitu sama-sama berupaya untuk meningkatkan kepuasan anggota (NURGIANTI, 2017).

2. Aditya Indra Febrianto yang berjudul Penerapan Strategi Marketing

Mix pada Biro Jasa transportasi Safara Tour Travel Bojonegoro Jawa

Timur, penelitian yang digunakan adalah kualitatif dengan pendekatan deskriptif. Perbedaan dari penelitian terdahulu adalah penelitian lebih ke pemasaran dengan menggunakan empat variable atau dengan bauran pemasaran yaitu strategi promosi, strategi produk, dan strategi harga dan strategi layout (tempat) sedangkan penelitian yang sekarang menggunakan Sembilan variable yaitu strategi Marketing Mix (Febrianto, 2014).

(60)

3. Skripsi yang ditulis oleh Siti Nur Azizah, mahasiswa STAIN Jember tahun 2009 dengan judul ”Sistem Produksi Dan Pemasaran 17 Krupuk Barokah Mangli Jember Dalam Perspektif Ekonomi Islam”. Persamaan penelitian ini dengan penelitian sebelumnya adalah sama-sama mengkaji tentang sistem produksi dan pemasaran serta bagaimana aplikasi bisnis Islam dalam menjalankan suatu bisnis, perbedaannya dalam penelitian ini lebih memfokuskan pada produksi dan pemasaran batu bata UD. Andri Putra yang terjadi di desa Alassapi, sedangkan penelitian sebelumnya adalah terletak pada obyek penelitian. Penelitian ini lebih pada bagaimana penerapan ekonomi Islam serta pandangan hukum Islam dalam penerapan pabrik krupuk barokah Mangli Jember (KHADIJAH, 2016).

(61)

52

Pendekatan penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan kualitatif (qualitative research). Menurut Bogdan dan Taylor dalam jurnal ilmiah penelitian (Lestari & Sukmawan, 2018) menjelaskan bahwa metode kualitatif merupakan sebuah prosedur penelitian yang menghasilkan data deskriptif berupa kata-kata tertulis atau lisan dari orang-orang dan perilaku yang dapat diamati.

Menurut Sugiyono dalam penelitian (NURGIANTI, 2017) menyatakan bahwa metode penelitian kualitatif adalah metode penelitian yang berlandaskan pada filsafat postpositivisme, digunakan untuk meneliti pada kondisi objek yang alamiah, (sebagai lawannya adalah eksperimen) dimana peneliti adalah sebagai instrumen kunci, pengambilan sampel sumber data dilakukan secara purposive dan snowbaal, teknik pengumpulan dengan trianggulasi (gabungan), analisis data bersifat induktif/ kualitatif, dan hasil penelitian kualitatif lebih menekankan makna dari pada generalisasi.

Penelitian kualitatif ini secara spesifik lebih diarahkan pada penggunaan metode studi kasus. Penelitian kualitatif ini secara spesifik lebih diarahkan pada penggunaan metode studi kasus. Sebagaimana pendapat Lincoln dan Guba dalam jurnal Socius (Hasanah & Ratumbuysang, 2017) yang menyebutkan bahwa pendekatan kualitatif

Referensi

Dokumen terkait

Berdasarkan hasil wawancara dengan pegawai Kantor Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil Kabupaten Bone Bolango, sarana dan prasarana terbilang belum.. Sehingga

penelitian ini dengan penelitian sebelumnya, yaitu digunakannya analisis RCA, EPD, dan CMS untuk menganalisis daya saing komoditas susu Indonesia. Selain

Dari hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa hipotesis dalam penellitian ini dite- rima karena ada hubungan yang signifikan antara fanatisme dengan agresivitas

Burung beo Alor di penangkaran Oilsonbai, NTT, memiliki tiga perilaku utama, yaitu perilaku diam, bergerak, dan ingestif dengan 13 aktivitas (istirahat, stationer,

antara varietas non hibrida dan hibrida. Pada umumnya, varietas hibrida memberikan pertumbuhan dan produksi yang baik dibandingkan dengan varietas non hibrida apabila

Berdasarkan penelitian ini dapat diketahui pasien DM di RSUD Ulin Banjarmasin yang mengalami gangguan laju aliran saliva yang ditandai dengan adanya penurunan laju aliran saliva

a) Agregat Ringan adalah agregat yang dalam keadaan kering dan gembur mempunyai berat 1100 kg/m3 atau kurang. b) Agregat Halus adalah pasir alam sebagai hasil

Mengacu dari temuan penelitian dan pembahasan maka dapat disimpulkan sebagai berikut : (1) Sebagian besar karyawan staff non operasional PT Jasa Marga (Persero) Tbk