GAMBARAN DUKUNGAN KELUARGA TERHADAP PEMANFAATAN POSBINDU LANSIA DI KELURAHAN KARASAK KOTA BANDUNG
Alnidi Safarach Bratanegara1Mamat Lukman1Nur Oktavia Hidayati1 1
Fakultas Ilmu Keperawatan Universitas Padjadjaran, Bandung, Jawa Barat
Dukungan keluarga merupakan suatu proses yang terjadi sepanjang hidup dimana didalamnya terdapat sebuah informasi, saran, bantuan nyata dan sikap yang diberikan oleh keluarga dan orang terdekat. Penelitian ini bertujuan untuk menggambarkan bagaimana dukungan keluarga yang diberikan kepada lansia di Kelurahan Karasak Kota Bandung. Desain dari penelitian ini adalah deskriptif kuantitaif dengan metode purposive sampling, jumlah sampel sebanyak 77 orang. Pengumpulan data dilakukan menggunakan instrumen berupa kuesioner. Analisa data menggunakan persentase. Dari pengumpulan data tersebut didapatkan hasil bahwa lebih dari setengah responden (53,2%) memiliki dukungan keluarga yang tidak mendukung, lebih dari setengah responden (58,4%) memiliki dukungan emosional yang tidak mendukung, lebih dari setengah responden (59,7%) memiliki dukungan penghargaan yang mendukung, lebih dari setengah responden (81,8%) memiliki dukungan informasi yang tidak mendukung, lebih dari setengah responden (53,2%) memiliki dukungan instrumental yang mendukung, lebih dari setengah responden (66,2%) memiliki dukungan jaringan yang tidak mendukung. Penelitian ini diharapkan dapat memberi data aktual kepada petugas posbindu untuk memperbaiki dukungan keluarga dalam kegunaannya.
Keywords: dukungan keluarga, lansia, posbindu
Family support is a process that occurs throughout life in which there are an information, advice, real help and attitude provided by the family and the people nearby. This study aimed to describe how the support provided to elderly families in the Karasak village, Bandung. The design of this research is descriptive quantitative method using purposive sampling, technique sample number as many as 77 people. The data was collected using a questionnaire instrument. Data were analized using presentage. Of the data collection showed that almost more then half of the respondents (55.84%) had family support that do not support, almost more then half of the respondents (58.44%) have the emotional support that supports, almost more then half of the respondents (69.94%) have the esteem support that support, almost more then half of the respondents (57.14%) had the informational support that supports, almost more then half of the respondents (53.25%) had instrumental support that does not support, almost more then half of the respondents (55.84%) have a network support that does not support.The study is expected to provide actual data to the officer elderly health care to improve the usefulness of family support.
Keywords: family support, elderly, elderly health care ABSTRAK
Lanjut usia (lansia) adalah orang yang telah mencapai usia 60 tahun ke atas yang mempunyai hak yang sama dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara (UU RI No 13 tahun 1998). Salah satu hasil pembangunan kesehatan di Indonesia adalah meningkatnya Usia Harapan Hidup (UHH). Keberhasilan Pembangunan Nasional memberikan dampak meningkatnya UHH yaitu dari 68,6 tahun 2004 menjadi 70,6 pada tahun 2009 dan diperkirakan pada tahun 2014 UHH sudah mencapai 72 tahun. Meningkatnya UHH menyebabkan peningkatan jumlah lansia, dimana pada tahun 2020 diperkirakan akan mencapai 28,8 juta jiwa (Kemenkes, 2008).
Dengan semakin
meningkatnya usia harapan hidup
penduduk, menyebabkan jumlah lansia terus meningkat dari tahun ke tahun. Begitu juga dengan jumlah lansia di seluruh Indonesia juga mengalami peningkatan tiap dekade dan diperkirakan pada tahun 2020, akan mencapai 28,28 juta jiwa atau 11,34 persen dari total penduduk Indonesia (Menkokesra, 2011). Hal ini terbukti berdasarkan data Biro Pusat Statistik Jawa Barat menunjukkan jumlah penduduk lansia di atas 60 tahun terjadi peningkatan dari tahun ke tahun, pada tahun 2009 sebesar 3.331.241 jiwa (7,9%), pada tahun 2010 sebesar 3.441.746 jiwa (8,01%) (BPS Jabar, 2010).
Peningkatan usia harapan hidup tersebut belum disertai dengan peningkatan kualitas hidup yang baik karena bersamaan dengan bertambahnya usia, terjadi pula PENDAHULUAN
penurunan fungsi organ tubuh dan berbagai perubahan fisik yang terjadi pada semua tingkat seluler, organ, dan sistem. Hal ini mengakibatkan terjadinya peningkatan kejadian penyakit pada lansia (Nurchasanah, 2003).
Mengingat kondisi tersebut, lansia merupakan suatu kelompok penduduk yang cukup rentan terhadap masalah baik masalah ekonomi, sosial, budaya, kesehatan maupun psikologis yang menyebabkan lansia menjadi kurang mandiri dan tidak sedikit lansia yang membutuhkan bantuan orang lain untuk melakukan aktivitas sehari-hari (Suardiman, 2004). Pembinaan kesehatan lansia yang terpadu dan berkesinambungan diperlukan bagi lansia baik berupa upaya promotif, preventif, kuratif dan rehabilitatif dengan memperhatikan faktor
lingkungan sosial budaya serta potensi yang ada pada masyarakat dalam Primary Health Care (Suwandono dkk, 2000).
Undang Undang Kesehatan No.36 tahun 2009 menyebutkan bahwa upaya untuk meningkatkan dan memelihara kesehatan masyarakat termasuk lanjut usia dilaksanakan berdasarkan prinsip non diskriminatif, partisipatif dan berkelanjutan. Pelayanan kesehatan lansia dimulai dari tingkat masyarakat di kelompok-kelompok lansia, dan pelayanan di sarana pelayanan kesehatan dasar dengan mengembangkan Posbindu (pos binaan terpadu) sebagai wadah perawatan bagi lansia yang berada dibawah pengawasan Puskesmas setempat. Pelayanan di puskesmas lebih mengutamakan upaya promotif
dan preventif tanpa mengabaikan upaya kuratif dan rehabilitatif.
Pemanfaatan pelayanan kesehatan dipengaruhi oleh banyak faktor, menurut Denver (1984) dalam Juanitas (1998) salah satu faktor yang mempengaruhi seseorang dalam memanfaatkan pelayanan kesehatan adalah faktor sosial budaya.
Sampai saat ini di Kota Bandung, khususnya di Kelurahan Karasak yang terdiri dari enam RW telah memiliki dua posbindu, yaitu di wilayah RW 01 dan RW 06 yang secara rutin mengadakan kegiatan posbindu setiap satu bulan sekali. Berdasarkan hasil studi pendahuluan yang dilakukan, ternyata jumlah kunjungan lansia yang datang secara rutin di wilayah kerja posbindu RW 06 dan RW 01 tidak lebih dari setengah atau 50% dari total lansia
yang terdaftar di kedua posbindu tersebut yang berjumlah 144 orang, dengan target pemanfaatan posbindu sebanyak 50% yaitu 36 prang setiap bulannya.
Ketidakhadiran lansia menurut para kader, salah satunya adalah tidak adanya anggota keluarga yang mengantar ke posbindu yang mengakibatkan rata-rata kunjungan lansia yang datang ke posbindu setiap bulannya dapat dikatakan sedikit.
Seperti yang dikemukakan oleh pendapat Narwoko dan Suyanto (2004), keluarga adalah lembaga sosial dasar dari mana semua lembaga atau pranata sosial lainnya berkembang. Di masyarakat mana pun di dunia, keluarga merupakan kebutuhan manusia yang universal dan menjadi pusat terpenting
dari kegiatan dalam kehidupan individu.
Pendapat diatas diperkuat oleh pernyataan dari Commission on the Family (1998) dalam Dolan dkk (2006) bahwa dukungan keluarga dapat memperkuat setiap individu, menciptakan kekuatan keluarga, memperbesar penghargaan terhadap diri sendiri, mempunyai potensi sebagai strategi pencegahan yang utama bagi seluruh keluarga dalam menghadapi tantangan kehidupan sehari-hari serta mempunyai relevansi dalam masyarakat yang berada dalam lingkungan yang penuh dengan tekanan.
Friedman (1998), menyatakan bahwa fungsi dasar keluarga antara lain adalah fungsi afektif, yaitu fungsi internal keluarga untuk pemenuhan kebutuhan psikososial, saling mengasuh dan memberikan
cinta kasih, serta saling menerima dan saling mendukung. Sehingga dukungan keluarga merupakan bagian integral dari dukungan sosial. Dampak positif dari dukungan keluarga adalah meningkatkan penyusuaian diri seseorang terhadap kejadian-kejadian dalam kehidupan.
Maka dari itu dapat disimpulkan bahwa salah satu permasalahan yang dihadapi oleh lansia antara lain adalah kurangnya dukungan dan kepedulian dari anggota keluarga kepada lansia, sehingga disinyalir berdampak pada tingkat kunjungan lansia ke posbindu. Dari permasalahan tersebut peneliti tertarik untuk meneliti tentang “Gambaran Dukungan Keluarga Terhadap Pemanfaatan Posbindu Lansia di Kelurahan Karasak Kota Bandung”.
Jenis penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah deskriptif kuantitatif. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran tentang dukungan keluarga terhadap pemanfaatan posbindu lansia di Kelurahan Karasak Kota Bandung. Variabel dalam penelitian ini adalah “dukungan keluarga” dengan subvariabel dari dukungan keluarga menurut Sarafino (2004) adalah dukungan emosional, dukungan penghargaan, dukungan informasi, dukungan instrumental dan dukungan jaringan.
Populasi dalam penelitian ini adalah keluarga inti yang mempunyai lansia dengan ketidakhadiran lansia ke posbindu lebih dari 3 kali, lansia tidak memiliki cacat atau gangguan fisik dan tidak mengalami
kepikunan. Jumlah populasi sebanyak 144 orang dan dari jumlah tersebut diambil sampel sebanyak 77 orang dengan teknik pengambilan sampel secara purposive sampling.
Alat pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah dengan menggunakan kuesioner. Pengumpulan data pada saat penelitian
dilakukan dengan menyebarkan kuesioner kepada responden dan menjelaskan petunjuk pengisisn kuesioner. Kemudian kuesioner yang telah diisi dikumpulkan dan dicek kelengkapannya oleh peneliti untuk diolah dan dianalisis.
Teknik analisa data yang digunakan dalam penelitian ini adalah analisa deskriptif, dengan menggunakan skala Likert.
Lokasi penelitian di Kelurahan Karasak Kota Bandung.
Penelitian ini dilakukan pada bulan Mei 2012.
Tabel 1 Distribusi Responden Berdasarkan Pendidikan (N=77)
No Pendidikan f % 1 SD 7 9,1 2 SMP 11 14,3 3 SMA/SMK 34 44,2 4 D1 3 3,9 5 D2 1 1,3 6 D3 2 2,6 7 S1 19 24,7 Jumlah 77 100,00
Tabel 2 Distribusi Responden Berdasarkan Pekerjaan (N=77)
No Pekerjaan f % 1 Guru 9 11,7 2 Tidak Bekerja 28 36,4 3 Pensiunan 6 7,8 4 PNS 15 19,5 5 Staf TU 2 2,60 6 Swasta 1 1,3 7 Wiraswasta 16 20,8 Jumlah 77 100,00
Tabel 3 Mean dan standar deviasi dukungan keluarga (N=77)
Variabel Kemungkinan Skor Mean Standar Deviasi Dukungan Keluarga 30 - 120 73,4 9,9 HASIL PENELITIAN
Tabel 4 Distribusi frekuensi dukungan keluarga berdasarkan subvariabel (N=77) Komponen Dukungan Keluarga Mendukung Tidak Mendukung Total f % f % f % Dukungan Emosional 32 41,6 45 58,4 77 100,0 Dukungan Penghargaan 46 59,7 31 40,3 77 100,0 Dukungan Informasi 14 18,2 63 81,8 77 100,0 Dukungan Instrumental 41 53,2 36 46,8 77 100,0 Dukungan Jaringan 26 33,8 51 66,2 77 100,0
Total Dukungan Keluarga 36 46,8 41 53,2 77 100,0
Gambaran Dukungan Keluarga
Kehadiran orang lain di dalam kehidupan pribadi seseorang begitu sangat diperlukan. Hal ini terjadi karena seseorang tidak mungkin memenuhi kebutuhan fisik maupun psikologisnya sendirian. Individu membutuhkan dukungan sosial yang dimana salah satunya berasal dari keluarga (Sarafino, 2004).
Hasil penelitian menunjukan bahwa hampir sebagian besar dari setengah responden (53,2%) keluarga
lansia yang terdapat pada tabel 4.3 menyatakan bahwa dukungan keluarga yang diberikan kepada lansia terhadap pemanfaatan posbindu berada pada nilai yang tidak mendukung. Dukungan keluarga yang rendah tersebut disebabkan karena keluarga lansia bekerja sehingga kurang memperhatikan kesehatan dan segala macam kebutuhan yang dibutuhkan oleh lansia. Dengan keluarga lansia yang bekerja maka keluarga lansia memiliki pendapatan yang cukup, dengan pendapatan yang cukup PEMBAHASAN
tersebut keluarga lansia tersebut akan mudah untuk memanfaatkan pelayanan kesehatan yang tidak bebas biaya dan mendapatkan kualitas pelayanan kesehatan yang lebih baik untuk menangani dan merawat lansia.
Gambaran Dukungan Emosional
Menurut Sarafino (2004), dukungan emosianal melibatkan ekspresi empati, perhatian, pemberian semangat, kehangatan pribadi, cinta, atau bantuan emosional. Dengan semua tingkah laku yang mendorong perasaan nyaman dan mengarahkan individu untuk percaya bahwa ia dipuji, dihormati, dan dicintai, dan bahwa orang lain bersedia untuk memberikan perhatian dan rasa aman.
Hal ini sesuai dengan apa yang terdapat di lokasi penelitian.
Hampir sebagian besar dari responden (58,44%) memberikan dukungan emosional yang tidak mendukung. Hampir setiap responden tidak memberikan perhatian yang baik terhadap kesehatan seperti mengingatkan jadwal posbindu, keluarga menginginkan dan mendukung lansia untuk datang ke posbindu. Ekspresi simpati juga tidak diberikan keluarga kepada lansia dalam pemanfaatan posbindu seperti sabar dalam menghadapi masalah yang dialami oleh lansia dan mendengarkan keluhan yang diutarakan oleh lansia. Dalam pemanfaatan posbindu, keluarga juga tidak memberikan perlindungan kepada lansia dalam pemanfaatan posbindu seperti mengantar lansia pergi ke posbindu dan memperhatikan situasi saat lansia akan pergi ke posbindu saat
kondisi cuaca buruk atau jarak posbindu yang cukup jauh dari rumah.
Gambaran Dukungan
Penghargaan
Dukungan penghargaan terjadi melalui ekspresi penghargaan yang positif melibatkan pernyataan setuju dan panilaian positif terhadap ide-ide, perasaan dan performa orang lain yang berbanding positif antara individu dengan orang lain (Sarafino, 2004).
Hampir sebagian besar dari responden (59,7%) memberikan dukungan penghargaan yang mendukung. Seperti yang terdapat di lokasi penelitian, keluarga memberikan dukungannya berupa motivasi lansia untuk datang ke posbindu, mengingatkan lansia pada saat jadwal posbindu tiba, memberikan kesempatan dan
mengizinkan lansia untuk datang ke posbindu. Kebanyakan lansia memperoleh banyak manfaat dengan mengunjungi posbindu dan menghadiri pertemuan kelompok pendukung dimana lansia dapat berbagi cerita juga keluh kesah dengan lansia lain dan memperoleh dukungan yang diperlukan untuk melakukan perubahan gaya hidup baru yang dialami oleh terkait dengan masalah perubahan fisik maupun psikologis yang dialami oleh lansia (Azizah, 2011).
Gambaran Dukungan Informasi
Dukungan informasi terjadi dan diberikan oleh keluarga dalam bentuk nasehat, saran dan diskusi tentang bagaimana cara mengatasi atau memecahkan masalah yang ada (Sarafino, 2004).
Hal ini terdapat kesesuaian dengan apa yang ada di lokasi
penelitian. Hampir sebagian besar dari responden (81,8%) memberikan dukungan informasi yang tidak mendukung. Bantuan informasi berupa saran dan nasehat dapat membantu lansia dalam memecahkan masalah yang lansia hadapi. Dukungan informasi berupa saran dan nasihat yang diperoleh lansia dapat menambah keterampilan interpersonal lansia, selain itu juga dapat lansia beradaptasi menghadapi stress atau kecemasan, terutama kecemasan yang terkait dengan masalah lansia tentang perubahan fisik dan biologis.
Hasil penelitian ini tidak sesuai dengan hasil penelitian yang dilakukan oleh Marlina (2010) yang mengatakan bahwa keluarga atau teman dapat memberikan dukungan informatif dengan memberikan saran dan nasehat tentang apa saja yang
harus dilakukan oleh lansia untuk menghadapi masalah baik fisik maupun psikologis. Kebanyakan lansia selama ini mendapatkan nasehat atau saran yang berasal dari orang terdekat mereka yaitu keluarga.
Gambaran Dukungan
Instrumental
Dukungan instrumental merupakan dukungan yang diberikan oleh keluarga secara langsung yang meliputi bantuan material seperti memberikan tempat tinggal, memimnjamkan atau memberikan uang dan bantuan dalam mengerjakan tugas rumah sehari-hari (Sarafino, 2004).
Teori tersebut tidak sama dengan kenyataan yang terdapat di lokasi penelitian. Yang dimana hampir sebagian besar dari responden (53,2%) memberikan
dukungan instrumental yang mendukung kepada lansia. Dalam hal ini keluarga lansi menyediakan obat-obatan dan keperluan lainnya yang dibutuhkan oleh lansia. Keluarga lansia juga memberikan bantuan secara materi kepada lansia. Mengingat adanya perubahan fisik yang bersifat degenerasi pada lansia, keluarga lansia tersebut juga membantu lansia dalam beraktifitas dan mengerjakan tugas sehari hari. Keluarga membantu lansia untuk datang ataupun beraktifitas di posbindu yang jarak tempuhnya cukup jauh dari tempat tinggal lansia.
Gambaran Dukungan Jaringan
Dukungan jaringan
merupakan suatu bentuk dukungan sosial yang dapat memberikan dukungan bagi seseorang dalam usaha untuk mengurangi tekanan yang dirasakan (Sarafino, 2004).
Dukungan jaringan ini berasal dari kelompok atau anggota masyarakat dalam berbagi minat dan kegiatan sosial seperti pemberian dorongan dan semangat pada individu yang membutuhkan untuk menyelesaikan permasalahan yang dihadapi.
Akan tetapi hal ini tidak sesuai dengan keadaan di lokasi penelitian yang dimana hampir sebagian besar dari responden (66,2%) memberikan dukungan jaringan yang tidak mendukung kepada lansia. Dengan kurangnya bentuk dukungan jaringan dari keluarga dan teman dekatnya membuat lansia merasa menjadi tidak memiliki suatu kelompok yang memiliki kesamaan minat dan aktivitas sosial dengan kelompoknya, sehingga membuat lansia akan merasa kesulitan untuk menceritakan keluh kesah dan mengutarakan isi
hatinya. Dengan menceritakan isi hatinya kepada orang lain akan membantu lansia untuk mengurangi stres yang dialami, karena lansia mendapatkan pertolongan untuk memecahkan masalahnya.
1. Hampir sebagian besar dari responden (53,2%) memiliki dukungan keluarga yang tidak
mendukung terhadap
pemanfaatan posbindu lansia. 2. Hampir sebagian besar dari
responden (58,4%) memiliki dukungan emosional yang tidak
mendukung terhadap
pemanfaatan posbindu lansia. 3. Hampir sebagian besar dari
responden (59,7%) memiliki dukungan penghargaan yang
mendukung terhadap
pemanfaatan posbindu lansia.
4. Hampir sebagian besar dari responden (81,8%) memiliki dukungan informasi yang tidak
mendukung terhadap
pemanfaatan posbindu lansia. 5. Hampir sebagian besar dari
responden (53,2%) memiliki dukungan instrumental yang
mendukung terhadap
pemanfaatan posbindu lansia. 6. Hampir sebagian besar dari
responden (66,2%) memiliki dukungan jaringan yang tidak
mendukung terhadap
pemanfaatan posbindu lansia.
1. Disarankan bagi Puskesmas untuk lebih meningkatkan dalam memberikan informasi dan pelayanan kesehatan dengan optimal tentang penyuluhan penyakit degeneratif.
SARAN SIMPULAN
2. Bagi keluarga yang memiliki lansia disarankan untuk dapat memberikan dukungan keluarga semaksimal mungkin.
3. Bagi Fakultas Keperawatan Universitas Padjadjaran untuk
lebih meningkatkan
pembelajaran pada peserta
didiknya tentang
penatalaksanaan keperawatan
komunitas terutama
berhubungan dengan lansia 4. Bagi profesi perawat disarankan
untuk lebih menguasai tugas dan fungsi sebagai perawat.
5. Bagi peneliti selanjutnya dapat melakukan penelitian lebih dalam dan mengembangkan penelitian mengenai “Hubungan Dukungan Keluarga Terhadap Pemanfaatan Posbindu Lansia”.
Bismillahirrohmannirrohim
Alhamdullillahhirobbil’alami n, saya bersyukur kepada Allah SWT karena atas berkat dan rahmat-Nya saya dapat menyelesaikan artikel ini.
Dengan segala kerendahan hati, ucapan terima kasih kepada seluruh pihak yang telah membantu proses penulis artikel ini.
Azizah, L.M. (2011). Keperawatan Lanjut Usia. Yogyakarta: Graha Ilmu.
Azwar, S. 2011. Sikap Manusia Teori dan Pengukurannya: Edisi Ke-2. Yogyakarta : Pustaka Pelajar.
Bagong, S.J. Dwi Narwoko. 2004. Sosiologi Teks Pengantar dan Terapan. Jakarta: Kencana Media Group.
Bappenas – BPS. 2010. Proyeksi Penduduk Indonesia 2000-2025. Jakarta.
Dolan, P., Canavan, J., Pinkerton, J. 2006. Family Support as Reflective Practice. London : Jessica Kingsley Publishers. DAFTAR PUSTAKA
______. 2010. Profil Puskesmas Kelurahan Karasak. Bandung ______. 2005. Pedoman Pembinaan Kesehatan Usia Lanjut Bagi Petugas Kesehatan. Jakarta. Bina Kesehatan Masyarakat Departemen Kesehatan. Effendy, N. 1998. Dasr-dasar
Keperawatan Kesehatan Masyarakat. Edisi 2. Jakarta : EGC.
Friedman, M. Ma. 1998. Keperawatan Keluarga : Teori dan Praktik. Jakarta : EGC.
Henniwati. 2008. Faktor Faktor Yang Mempengaruhi Pemanfaatan Pelayanan Posyandu Lanjut Usia di Wilayah Kerja Puskesmas Kabupaten Aceh Timur : Tesis. Universitas Sumatra Utara. Medan.
Marlina. 2010. Dukungan Keluarga Terhadap Pengontrolan Hipertensi Pada Anggota Keluarga Yang Lansia Di Gampoeng Aceh Darussalam : Thesis. Universitas Syiah Kuala Banda Aceh.
Mariam, Siti, R,. 2010. Buku Panduan Bagi Kader Posbindu Lansia. Indonesia. Muzaham, F. 1995. Sosiologi
Kesehatan. Jakarta : Universitas Indonesia.
Notoatmodjo. 2002. Metode Penelitian Kesehatan. Jakarta : Rineka Cipta.
Notoatmodjo. 2003. Metode Penelitian Kesehatan. Jakarta : Rineka Cipta.
Nurchasanah. 2003. Mudah Lupa? Cukup Dua Buah Pisang Seharai.
http:www//depkes.go.id/inde x.php?option=articles&task= viewarticle&artid=196&item ed=3. diperoleh tanggal 10 Oktober 2011.
Sarafino, Edward. P. 2004. Health Psychology Biopsychology Interaction. Third Edition. New York : John Willey and Sans.
Setiadi. 2007. Konsep dan Penulisan Riset Keperawatan. Surabaya : Graha Ilmu.
Sugiyono. 2010. Statistika untuk Penelitian. Bandung : Alfabeta.
Suardiman, Siti Partini. 2011. Psikologi Usia Lanjut. Gajah Mada University Press : Yogyakarta.
Suwandono dkk. 2000.
Pengembangan Model Pembinaan Kesehatan Usia Lanjut Terpadu. http://digilib.litbang.depkes.g o.id/go.php?id=jkpkbppk- gdl-res-2000-afus-84-model&q=lanjut+usia.
diperoleh tanggal 10 Oktober 2011.