STUDI PERENCANAAN PERBAIKAN TANAH
DENGAN STONE COLUMN PADA STOCK PILE BATU BARA
RENCANA PLTU SORONG (4X7 MW)
JURNAL
TEKNIK PENGAIRAN KONSENTRASI SISTEM INFORMASI
SUMBER DAYA AIR
Diajukan untuk memenuhi persyaratan memperoleh gelar Sarjana Teknik
SYARIFUDIN BAHRI NIM. 115060400111060 - 64
UNIVERSITAS BRAWIJAYA
FAKULTAS TEKNIK
MALANG
2017
STUDI PERENCANAAN PERBAIKAN TANAH
DENGAN STONE COLUMN PADA STOCK PILE BATU BARA RENCANA PLTU SORONG (4X7 MW)
(Study On Soil Improvement Plan With Stone Column On Coal Stock Pile Area On The Plan Of Steam Power Plant Sorong (4 X 7 MW) )
Syarifudin Bahri1, Suwanto Marsudi2, Runi Asmaranto2
1)
Mahasiswa Program Sarjana Teknik Jurusan Teknik Pengairan Universitas Brawijaya 2)
Dosen Jurusan Teknik Pengairan Fakultas Teknik Universitas Brawijaya Jurusan Teknik Pengairan Fakultas Teknik Universitas Brawijaya Jl. MT. Haryono No. 167 Malang – 65145 Jawa Timur – Indonesia
Telp/Fax. 0341-562454 Email : [email protected]
ABSTRAK
Untuk menjamin kebutuhan listrik di Sorong, direncanakanlah sebuah pembangkit listrik tenaga uap (PLTU) Sorong (4 x 7 MW). Namun diketahui bahwa kondisi tanah pada area tersebut adalah tanah lunak dan berrawa, sehingga proses konsolidasi harus diatasi dengan seksama. Penggunaan metode prapembebanan dan stone column adalah salah satu alternatif perbaikan tanah untuk solusi permasalahan tersebut. Tujuan dari penelitian ini adalah mendesain pola stone column yang sesuai sehingga besar penurunan dan waktu konsolidasi berkurang. Selain itu, di studi ini, hasil dari proses konsolidasi akan dihitung dengan analitis dan Plaxis 8.2 2D. Menurut hasil perhitungan, didapatkan bahwa besarnya penurunan dan waktu penurunan dengan perhitungan analitis dan Plaxis 8.2 2D adalah mendekati sama. Perbedaan perhitungan antara analitis dan Plaxis 8.2 2D sebesar 6,96 % untuk penurunan konsolidasi, dan 10,77 % untuk waktu konsolidasi. Hasil perhitungan dengan adanya stone column menunjukkan penurunan dan waktu konsolidasi berkurang, selisih penurunan dan waktu konsolidasi sebelum dan sesudah adanya stone column dipilih rencana yang terbaik dengan pola bujur sangkar dengan diameter 2 m adalah 31,5% untuk besar penurunannya, 99,84% untuk waktu konsolidasinya. Total harga biaya bahannya sebesar Rp. 2.920.953.600,00.
Kata kunci : Penurunan konsolidasi, metode prapembebanan, stone column, Plaxis 8.2 2D ABSTRACT
To ensure the availability of electricity demand in Sorong, this plan design to built a power plant with steam energy (PLTU) Sorong (4 x 7 MW). It has been found, however, that the soil condition at the area was very soft, so the consolidation process must e solved accurately. The use of preloading method and stone column is one of the selected alternative soil improvement to solve these problems. The aim of this study is to design the pattern of stone column which correlated with settlement and time of consolidation being decreased. In addition, in this study, the result of consolidation process will be calculated by using analytical and Plaxis 8.2 2D. From the results, it can be obtained that the magnitude of consolidation and time of consolidation which calculated from analytical and Plaxis 8.2 2D were almost similar. Calculation difference between analytical and plaxis 8.2 2D 6,96 % for consolidated settlement, and 10,77% for time of consolidation. The result with adding stone column showing that settlement and time of colnsolidation being decreased, the result difference between before and after adding stone column by choosing the best planning with square pattren which 2 m of diameter showing 31,5% for settlement, 99,84% for time of consolidation. The total cost of the material cost is Rp. 2.920.953.600,00.
PENDAHULUAN
Dalam rangka mendukung peranan pembangunan nasional dan daerah, khususnya dalam sektor industri, maka permintaan energi listrik terus meningkat. Untuk memenuhi kebutuhan di atas, direncanakanlah Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) Sorong sebesar (4 x 7 MW). Pembangunan dilakukan di atas tanah yang strukturnya terbentuk oleh pasang surut air laut dengan kondisi tanah lunak, sehingga berpotensi mengalami penurunan akibat konsolidasi. Untuk penanganan permasalahan diatas, diperlukan pengetahuan tentang perbaikan tanah. Salah satu metode yang sering digunakan sekarang ini adalah perbaikan tanah dengan beban awal (preloading) yang dikombinasikan dengan stone column. Maksud dari penelitian ini adalah memberikan alternatif perencanaan perbaikan tanah dengan cara pembebanan awal (preloading) dan dengan pemakaian
stone column serta memberikan gambaran
mengenai software Plaxis 8.2 2D.
Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui besar penurunan serta lama penurunan akibat adanya metode perbaikan tanah lunak dengan stone column, serta dapat membandingkan hasil perhitungan secara analitis dengan software dan mengetahui besarnya biaya bahan pekerjaan.
TINJAUAN PUSTAKA Konsolidasi Tanah
Konsolidasi tanah adalah suatu proses pengecilan volume secara perlahan-lahan pada tanah jenuh sempurna dengan permeabilitas rendah akibat pengaliran sebagian air pori. Proses tersebut berlangsung terus sampai kelebihan tegangan air pori yang disebabkan oleh kenaikan tegangan total telah benar-benar hilang. (Craig, 1994:213).
Pada umumnya, tahapan konsolidasi dapat ditunjukkan oleh grafik hubungan antara pemampatan dan waktu. Dari grafik tersebut dapat dilihat bahwa ada tiga tahapan yang berbeda yang dapat dijalankan :
Gambar. 1. Hubungan waktu pemampatan selama konsolidasi untuk suatu penambahan beban yang diberikan
Sumber : Das, B.M, 1994 : 184
Tahap I : Pemampatan awal (initial
compression), yang pada umumnya terjadi
disebabkan oleh pembebanan awal (preloading).
Tahap II : Konsolidasi primer (primary
consolidation), yaitu periode selama
tegangan air pori secara lambat laun dipindahkan ke dalam tegangan efektif, sebagai akibat dari keluarnya air dari pori-pori tanah.
Tahap III : Konsolidasi sekunder (secondary consolidation), yaitu terjadi setelah tegangan air pori hilang seluruhnya. Pemampatan yang terjadi adalah disebabkan oleh penyesuaian yang bersifat plastis dari butir-butir tanah setelah konsolidasi primer.
Penurunan Tanah (Settlement)
Penambahan beban vertikal di atas permukaan tanah akan menyebabkan penurunan (settlement). Besarnya penurunan yang terjadi pada lapisan tanah yang diakibatkan adanya beban, adalah merupakan penjumlahan dari tiga komponen penurunan yaitu :
St = pi + Sc + Ss (1) dengan :
St = penurunan total (m)
pi = penurunan segera (m)
Sc = penurunan akibat konsolidasi primer (m)
Ss = penurunan akibat konsolidasi sekunder (m)
Namun, dalam penelitian ini untuk nilai Ss tidak dihitung karena dianggap nilainya relatif kecil. Sehingga dapat diabaikan.
Penurunan Segera (Si)
Untuk menghitung penurunan segera, persamaannya diturunkan dengan menggunakan prinsip dasar teori elastis atau formula dari BIAREZ :
pi = q . ∑
(2)
dengan :
pi = penurunan segera (m)
hi = kedalaman tanah lapisan i (m) E’ = modulus elastis Oedometrik di
lapisan i (t/m2)
Penurunan Akibat Konsolidasi Primer (Sc)
Untuk tanah yang terkonsolidasi normal (normally consolidated), besarnya penurunan dihitung dengan persamaan :
Sc =
log(
) (3)
Sedangkan tanah yang terkonsolidasi berlebih (over consolidated), besarnya penurunan dihitung dengan persamaan : Bila σ’o + Δσ ≤ σ’c, maka : Sc = log( ) (4) Bila σ’o + Δσ > σ’c, maka : Sc = log( ) + log( ) (5) dengan :
h = tebal lapisan lempung (m)
eo = angka pori awal (Initial Void Ratio) Cc = Compression Index
Cs = Swelling Index
Δp = besarnya tegangan dimuka tanah (Surcharge) (t/m2)
po = tegangan overburden efektif (t/m2) pc = tegangan prakonsolidasi efektif
(t/m2)
Kecepatan Waktu Penurunan
Untuk mengetahui kecepatan penurunan konsolidasi didapat dari penurunan matematis yang diperkenalkan oleh Terzaghi (1925) dengan asumsi-asumsi tetap berpegang kepada teori konsolidasi satu dimensi.
Tv (time factor) = (6)
dengan :
Tv = faktor waktu
Cv = koefisien konsolidasi t = waktu
h = tebal lapisan tanah (m)
Perbaikan Tanah Lunak
Lapisan tanah lunak pada umumnya adalah lempung (clay) atau lanau (silt), kendala yang dihadapi ketika merencanakan suatu bangunan pada kondisi tanah tersebut adalah daya dukung (bearing capacity) dan penurunan (settlement).
Perbaikan Tanah dengan Pembebanan Awal (Preloading)
Metode pembebanan awal
(preloading) adalah metode penimbunan beban yang besarnya sama dengan besar beban konstruksi yang akan dilaksanakan. Ada pula yang menentukan tinggi timbunan sesuai dengan nilai penurunan, agar tanah timbunan tidak dibuang sia-sia dan dapat dijadikan suatu pondasi dari suatu konstruksi.
Pemasangan Stone Column
Pemasangan stone column adalah salah satu metode perbaikan tanah. Fungsi utama pemasangan stone column adalah untuk meningkatkan daya dukung tanah yang lembek sehingga tanah lembek tersebut dapat menerima beban yang lebih besar dan settlement yang terjadi akan berkurang. Selain untuk meningkatkan daya dukungtanah, menurut Barksdale dan Banchus, 1982, ada beberapa keuntungan lain, seperti :
1.Mengurangi total settlement tanah. 2.Memperpendek waktu konsolidasi. 3.Mengurangi bahaya liquefaction.
Stone column merupakan kolom-kolom vertikal dari kerikil, semacam tiang-tiang pancang tetapi dari bahan-bahan lepas yang dipadatkan. Kerikil tersebut merupakan kerikil lepas yang tidak diikat oleh bahan pengikat semen atau yang lainnya.
Perencanaan Stone Column
perencanaan diameter, jarak, dan panjang stone column. Perencanaan tersebut dikontrol terhadap kapasitas daya dukung batas stone column sebagai stone
column tunggal dan kelompok, overall stability terhadap sliding, serta settlement
yang terjadi setelah dipasang stone column. Di dalam perencanaan stone column banyak hal-hal yang harus dipertimbangkan, antara lain :
1. Diameter stone column dan konsep
unit cell:
Stone column diidealisasikan
sebagai suatu silinder dengan penampang berbentuk lingkaran berdiameter D. Diameter stone
column menentukan besarnya area replacement ratio dan besarnya
distribusi tegangan pada tanah dan
stone column. Perencanaan
diameter stone column tergantung dari tipe tanah yang diperbaiki, beban yang harus didukung tanah, dan pola pemasangannya. Untuk mempermudah perhitungan, suatu
stone column dan tanah lunak
disekelilingnya akan diisolasikan dari stone column kelompok (stone
column group). Stone column dan
tanah lunak disekelilingnya tersebut disebut sebagai unit cell (Gambar 2). Pola pemasangan stone column akan mempengaruhi bentuk unit
cell. Pola pemasangan stone
column dibedakan menjadi dua
pola, yaitu pola segitiga (equilateral triangular pattern) dan pola bujur sangkar (square pattern).
Gambar. 2. Idealisasi unit cell Sumber: Anonim
Pola pemasangan segitiga akan memberikan bentuk segienam pada penampang unit cell, dan pola bujur sangkar akan memberikan bentuk bujur sangkar. Kedua bentuk penampang tersebut bisa didekati dengan bentuk lingkaran yang mempunyai diameter Dw (diameter equivalen). Untuk pola segitiga, Dw = 1.05s dan untuk pola bujur sangkar Dw = 1.13s, dimana s adalah jarak antar stone column. 2. Panjang dan jarak stone column
Panjang stone column yang direncanakan diukur dari muka tanah asli sampai dengan batas bawah perencanaan. Jarak stone
column adalah jarak antara pusat
penampang stone column dengan pusat penampang stone column di sebelahnya. Dengan demikian suatu kelompok stone column
mempunyai dua arah spacing, yaitu arah x dan arah y yang besarnya sama. Selain itu spacing juga akan
mempengaruhi besarnya
pengurangan settlement stone column dan tanah disekelilingnya. 3. Area replacement ratio
Area replacement ratio adalah
perbandingan antara luas penampang stone column dengan luas tanah lunak di sekelilingnya.
as = atau as =C1 ( ) (7)
ac = = 1 – as (8)
dimana :
as = Area replacement ratio
stone column
ac = Area replacement ratio tanah lunak
As = Luas penampang stone
Ac = Luas penampang tanah lunak dalam 1 unit cell A = Luas penampang total 1 unit cell
D = Diameter stone column S = spacing antar stone column C1 = konstanta yang tergantung pada pola penyusunan stone column Pola segitiga C1 = 0.907,
dan pola bujur sangkar C1 = π/4. 4. Konsentrasi tegangan
Pada saat beban embankment
bekerja pada tanah yang diperbaiki dengan stone column, konsentrasi tegangan yang lebih besar terjadi pada stone column dan pengurangan tegangan terjadi pada tanah disekitarnya. Faktor konsentrasi tegangan (n), adalah perbandingan tegangan antara tegangan pada stone column dan tegangan pada tanah sekitarnya.
n = (9)
dimana :
σs = tegangan pada stone column σc = tegangan tanah disekitar stone
columm
Berdasarkan keseimbangan gaya-gaya vertikal yang ada sepanjang unit cell, maka tegangan rata-rata yang bekerja pada unit
cell adalah fungsi dari area replacement ratio (as).
Gambar. 3. Stone Column dengan Pola Pemasangan Segitiga
Sumber: Anonim
Gambar. 4. Stone Column dengan Pola Pemasangan Bujur Sangkar
Sumber: Anonim
σu = σs as + σc (1 – as) (10) Dengan menggunakan persamaan-persamaan di atas, tegangan yang bekerja pada stone column dan tegangan yang bekerja pada tanah lunak di sekeliling stone
column dapat ditentukan, yaitu:
σc = σu/(1+(n-1) . as) = . σ (11) σs = n/(1+(n-1) . as) = . σ (12) = 1/(1+(n-1) . ac) (13) = n/(1+(n-1) . as) (14) dimana :
n = faktor konsentrasi tegangan as = area replacement ratio σu = tegangan rata-rata di atas unit
cell akibat beban luar
σs = tegangan pada stone column akibat beban luar
σc = tegangan pada tanah lunak disekeliling stone column akibat beban luar
μc = rasio tegangan pada tanah lunak μs = rasio tegangan pada stone
column
5. Daya dukung stone column tunggal Menurut Moreau (1835), sedikit sekali beban yang mencapai dasar
stone column jika panjang stone column lebih besar dari dua kali
lebarnya. Beban yang bekerja akan ditransfer oleh stone column ke
tanah lunak sekitarnya. Pada saat
stone column mengalami bulging
dan penurunan, material butiran
stone column tertekan ke dalam
tanah lunak dan mentransferkan tegangan geser ke tanah.
Dengan menggunakan persamaan (14) dengan asumsi deep bulging terjadi di atas stone column.
̃ult = σs = c ̃c (15) dimana :
̃ult atau σs = tegangan rerata pada stone column akibat beban luar c = kekuatan geser undrained sekitar stone column ̃c = faktor daya dukung stone column ( 18 < ̃c < 22 )
6. Daya dukung stone column group Daya dukung ultimat stone column
group sangat dipengaruhi oleh
tegangan pasif horisontal dari tanah disekitar kelompok stone column,
undrained shear strenght blok
komposit, (Cavg) dan koefisien tekanan tanah ke samping pasif untuk blok komposit, (Kpkom).
Pult = ̃ult . As (16) dimana :
̃ult atau σs = tegangan rerata pada stone column akibat beban luar As = Luas penampang
stone column Pult = tegangan pada
luas penampang stone column akibat beban luar
Gambar. 5. Pengaturan global-lembartab
proyek
Sumber: Pedoman Plaxis 8.2 Indonesia
Penggunaan Plaxis 8.2 2D Untuk Analisis Penurunan
Plaxis 8.2 2D adalah program elemen hingga untuk aplikasi geoteknik dimana digunakan model-model tanah untuk melakukan simulasi terhadap perilaku dari tanah. Tampilan pengaturan awal pada
software Plaxis 8.2 2D disajikan Pada
Gambar. 5.
Simulasi permasalahan geoteknik dengan menggunakan metode elemen hingga sendiri telah secara implisit melibatkan kesalahan pemodelan dan kesalahan numerik yang tidak dapat dihindari. Plaxis 8.2 2D dimaksudkan sebagai suatu alat bantu analisis untuk digunakan oleh ahli geoteknik yang tidak harus menguasai metode numerik.
METODOLOGI PENELITIAN
Langkah-langkah studi disusun secara sistematis sehingga mempermudah dalam penyelesaian analisa ini. Langkah-langkah studi yang dilakukan, disajikan dalam bentuk flowchart Pada Gambar. 6. Sebagai berikut.
Perhitungan Penurunan Akibat Pembebanan Awal (Preloading)
Perhitungan penurunan akibat pembebanan awal secara berurutan sebagai berikut :
- Tinggi timbunan rencana yang dipertahankan (H) adalah +5,25 dari permukaan tanah (+0,00), sesuai dengan nilai HWL+tinggi jagaan pada lokasi studi. - Dalam perhitungan tinggi timbunan rencana adalah 4, 5, 6, 7, 8, 9, 10 dan 11 m.
Langkah-langkah perhitungan penurunan adalah sebagai berikut :
1. Menghitung tegangan efektif overburden (σ’o) dari setiap lapisan tanah.
2. Menetukan nilai pengaruh akibat pembebanan dari grafik OSTERBERG.
3. Hitung penambahan tegangan (Δσ) sesuai dengan tinggi timbunan rencana (Hr).
4. Menentukan nilai OCR (over
consolidated ratio) pada setiap
lapisan tanah.
5. Menghitung penurunan primer dan penurunan segera pada setiap lapisan tanah, kemudian
menjumlahkannya guna
mendapatkan penurunan totalnya. 6. Hitung waktu konsolidasi akibat
penurunan primer. Mulai Pengumpulan data ` Tes Laboratorium Standard Penetration Test (SPT) Data Topografi Data Tanah
Pemodelan dengan Stone
Column
Menvariasikan Diameter, Jarak Antar
Stone Column dan Menggunakan Fixed
Type Stone Column
Model Stone Column Pola Bujur Sangkar Model Stone Column
Pola Segitiga Hasil Pemodelan Analisa Biaya Kesimpulan dan Saran Selesai Menghitung Likuifaksi Menentukan Parameter
Stone Column dan
Parameter Tanah
Menghitung Penurunan
Gambar. 6. Diagram Alir Penyelesaian Studi
Sumber: Hasil Perhitungan
Perhitungan Penurunan dengan Pembebanan Awal (Preloading) dengan Program Plaxis 8.2 2D
Dari perhitungan pembebanan awal didapatkan nilai tinggi timbunan efektif yaitu besarnya nilai penurunan sama dengan tinggi timbunan rencana dikurangi tinggi timbunan yang dipertahankan (Hr – H = Sc). Dari nilai penurunan tersebut didapatkan waktu penurunan. Apabila diharapkan penyelesaian waktu penurunan lebih cepat, maka dapat digunakan kombinasi dari pembebanan awal dan stone
column.
Langkah-langkah pengerjaannya adalah sebagai berikut :
1. Gambarlah model lapisan tanahnya. 2. Masukkan data-data tanahnya. 3. Susunlah jaring elemennya. 4. Hitung kondisi awal.
Gambar. 7. Perhitungan besar penurunan dan besar waktu penurunan dengan
Perhitungan Penurunan Akibat Pembebanan Awal (Preloading) dan Kombinasi Stone Column dengan Program Plaxis 8.2 2D
Untuk memulai perhitungan Plaxis 8.2 2D terlebih dahulu menentukan tinggi beban timbunan, dalam hal ini tinggi timbunan yang dipakai adalah tinggi efektif dari perhitungan analitis.
Untuk perhitungan penurunan akibat pembebanan dengan bantuan program Plaxis 8.2 2D secara berurutan sebagai berikut :
1. Pembuatan model geometri dari lapisan tanah dan timbunan dengan bantuan (geometri line).
2. Input data material tanah dan stone
column pada (material sets).
3. Penyusunan jaring elemen (mesh
generation)
4. Perhitungan kondisi awal, dalam hal ini meliputi tekanan air pori awal (generate water pressure) dan tegangan awal (generate initial
stresses).
5. Perhitungan konsolidasi.
ANALISA PERHITUNGAN DAN PEMBAHASAN
Perhitungan Penurunan Total (Stot)
Perhitungan penurunan total (Stot) akibat beban timbunan (γ = 1,8 t/m3) disajikan dalam Tabel 1. Dari perhitungan, dapat dibandingkan besarnya nilai penurunan total akibat pembebanan pada setiap bore hole. Hal ini dapat membantu untuk memberikan referensi awal dalam memilih perhitungan dari bore hole berapa yang sekiranya dipakai untuk perencanaan. Tinggi timbunan efektif (Hef) adalah tinggi timbunan yang direncanakan sesuai dengan penurunan total (Stot) yang terjadi pada lapisan tanah. Sehingga, tinggi timbunan efektif adalah besarnya tinggi timbunan rencana dikurangi dengan penurunan total.
Tabel 1. Rekapitulasi Penurunan Total Akibat Si dan Sc
Sumber : Hasil Perhitungan
Sehingga, tinggi timbunan efektif dapat dilihat Pada Tabel 2. Berikut :
Tabel 2. Rekapitulasi Heff
H timbunan (m) 5,25 Total Penurunan Primer
(Sc) m 1,137682 Total Penurunan Segera
(Si) m 0,109158 Total Penurunan (Stot) m 1,24684
Sumber: Hasil Perhitungan
Perhitungan Waktu Penurunan Untuk Masing-masing Derajat Konsolidasi
Dengan persamaan (6), hubungan antara waktu penurunan (t) dengan besar penurunan (Sc) disajikan Pada Gambar. 8.
Dari perhitungan penurunan akibat pembebanan telah diketahui bahwa,
penurunan yang terjadi tidak terlalu besar, namun akan selesai dalam waktu sangat lama pula. Untuk mempercepat waktu penurunan konsolidasi tersebut, salah satu metode yang dapat digunakan adalah dengan mengkombinasikan pembebanan awal dengan pemasangan stone column.
Perhitungan Penurunan Dengan Pembebanan Awal (Preloading) Menggunakan Plaxis 8.2 2D
Jenis material yang digunakan pada analisis ini adalah model Mohr- Coulomb dan Soft Soil, dan parameterparameter tanah yang akan dipakai pada program ini adalah berat isi jenuh dan tak jenuh (γsat dan γunsat), permeabilitas (kx dan ky), modulus Young (E), angka Poisson (μ), kohesi (c), sudut geser ( ) dan sudut dilatasi (ψ). Jenis material yang digunakan
Htim 4 5 6 7 8 9 10 11
Sc 1,00 1,11 1,21 1,30 1,38 1,45 1,52 1,58
Si 0,06 0,10 0,14 0,19 0,25 0,32 0,40 0,48
bisa dilihat Pada Tabel 3. Adapun keluaran
software Plaxis 8.2 2D untuk besar
penurunan dan waktu penurunan disajikan Pada Gambar 9.
Perbandingan Penurunan dan Waktu Konsolidasi Secara Analitis Dengan Program Plaxis 8.2 2D
Pada sub bab ini akan membandingkan hasil perhitungan antara analitis dengan program Plaxis 8.2 2D, dengan membandingkan nilai penurunan akhir dan waktu penurunan akhir. Hasil perbandingan dapat dilihat Pada Gambar 10 dan Tabel 4.
Gambar. 8. Kurva Korelasi Stot dengan t Menggunakan Perhitungan Analitis Sumber:Hasil Perhitungan
Tabel 3. Sifat-sifat Material dan Paameter Desain
Sumber: Hasil Perhitungan 0,00 0,20 0,40 0,60 0,80 1,00 1,20 0,00 50,00 100,00 150,00 200,00 250,00 P enurun a n (m )
Waktu Penurunan, t (tahun)
St - t Analitis
Parameter Timbunan Lapisan 1 Lapisan 2 Lapisan 3 Tebal (m) 5,25 5 7 5 Kondisi Tanah Padat Lunak Lunak Lunak
Model Mohr
Coulomb Soft Soil Soft Soil Soft Soil Tipe Drained Undrained Undrained Undrained y unsat (kN/m3) 10 13,55106228 15,5438656 15,0456647
y sat (kN/m3) 18 20,03 20,13 20,13 kx (m/hari) 1 9,52132E-05 1,73387E-05 1,7628E-06
ky (m/hari) 1 9,52132E-05 1,73387E-05 1,7628E-06
E (kN/m2) 3000 - - - µ 0,3 - - - c (kN/m2) 1 6,974811469 15,9424262 65,7625081 ᶲ (°) 30 19,76 31,73 36,67 Cc - 0,31 0,46 0,26 Cs - 0,062 0,092 0,052 eo - 0,95 1,73 1
Gambar. 9. Kurva Korelasi Stot dengan t Menggunakan Perhitungan Plaxis 8.2 2D Sumber:Hasil Perhitungan
Tabel 4. Selisih Antara Analitis dan Plaxis 8.2 2D
Hr (m) S (m) selisih (%) t (tahun) selisih (%) Analitis 5,25 1,25 6,96 209,77 10,77 Plaxis 1,16 189,37
Sumber: Hasil Perhitungan
Gambar. 10. Perbandingan Kurva Korelasi Stot dengan t Antara Perhitungan Analitis dengan Plaxis 8.2 2D
Sumber:Hasil Perhitungan
Perhitungan Estimasi Potensi Likuifaksi
Tabel 5. Perhitungan Nilai FSL
Sumber: Hasil Perhitungan
Hasil perhitungan menunjukkan bahwa lapisan tanah dengan kedalaman > 5 m atau lapisan 2 dan 3 tidak mengalami likuifaksi, dikarenakan FSL > 1,
sedangkan pada kedalaman 5 m atau lapisan 1 mengalami likuifaksi, dikarenakan FSL < 1. Untuk itu dibutuhkan penanganan terhadap tanah di lokasi tersebut. Metode yang digunakan adalah metode pemasangan stone column.
0,00 0,20 0,40 0,60 0,80 1,00 1,20 0 50 100 150 200 P enurun a n (m )
Waktu Penurunan, t (tahun)
St - t Plaxis 0,00 0,20 0,40 0,60 0,80 1,00 1,20 0 50 100 150 200 250 P enurun a n (m )
Waktu Penurunan, t (tahun)
St -t Analitis St -t Plaxis No Lapisan CSR CRR MSF SFL 1 1 0,399 0,129 0,323 2 2 0,115 0,520 4,528 3 3 0,068 0,675 9,892 1,001
Fungsi utama pemasangan stone column adalah untuk meningkatkan daya dukung tanah yang lembek sehingga tanah lembek tersebut dapat menerima beban yang lebih besar dan settlement yang terjadi akan berkurang dan juga bisa mengatasi terjadinya likuifaksi.
Penurunan Akibat Pembebanan Awal (Preloading) dengan Adanya Stone Column
Dalam pemodelan geometri tidak ada perbedaan dengan pemodelan penurunan tanpa stone column, hanya saja kondisi tanah lunak yang sebelumnya tak
terdrainase (undrained) di ganti dengan pilihan terdrainase (drained). Dengan menggunakan 2 pola, yaitu pola bujur sangkar dan pola segitiga. Dengan menggunakan 3 variasi diameter dan jarak pemasangan, yaitu (D = 1 m, s = 2 m), (D = 1,5 m, s = 3 m), (D = 2 m, s = 4 m). Sedangkan untuk parameter stone column bisa dilihat Pada Tabel 6. Hasil perhitungan besar penurunan dan waktu penurunan dengan adanya stone column pada Plaxis 8.2 2D ditunjukkan Pada gambar 11 dan 12.
Tabel 6. Data Parameter Stone Column
Pemodelan h (m) ysat (kN/m2) yunsat (kN/m2) E' (kN/m2) v c (kN/m2) φ (o) Kh=Kv (m/hari) Stone column 17 21 20 45000 0,2 5 42 7,128
Sumber: Hasil Perhitungan
Gambar. 11. Kurva Korelasi St dengan t Hasil Keluaran (output) Dengan Adanya Stone
Column Pola Bujur Sangkar
Sumber:Hasil Perhitungan 0,00 0,10 0,20 0,30 0,40 0,50 0,60 0,70 0,80 0 0,1 0,2 0,3 0,4 0,5 0,6 0,7 P enurun a n (m )
Waktu Penurunan, t (tahun)
St - t BS D1 S2 St - t BS D1,5 S3 St - t BS D2 S4
Gambar. 12. Kurva Korelasi St dengan t Hasil Keluaran (output) Dengan Adanya Stone
Column Pola Segitiga
Sumber:Hasil Perhitungan
Perbandingan Antara Hasil Perhitungan Penurunan Akibat Pembebanan Awal (Preloading) Sebelum dan Sesudah Adanya Stone Column
Pada sub bab ini akan membandingkan secara keseluruhan semua hasil perhitungan yang telah dilakukan sebelumnya, dan harapannya dari hasil tersebut dapat di berikan analisa mengenai kedua metode perhitungan penurunan konsolidasi dan lama waktu konsolidasi dengan
pembebanan maupun pembebanan yang digabungkan dengan pemakaian stone
column, baik secara analitis maupun plaxis
8.2 2D.
Untuk mendukung analisa diatas, maka diperlukan penggabungan hasil dari semua perhitungan. Penggabungan tersebut dapat dilihat pada grafik yang akan disajikan Pada Tabel 7 dan Gambar 13.
Tabel 7. Perbandingan Penurunan dan Waktu Penurunan Sebelum dan Sesudah Adanya Stone
Column no D (m) S (m) S 90% (m) t (tahun) Selisih S (%) Selisih t (tahun) Keterangan 1 - 1,247 1,122 209,773 - - Analitis 2 - 1,160 1,044 189,370 - - Plaxis 3 1 0,805 0,724 0,684 30,633 99,639 Bujur Sangkar 4 1,5 0,762 0,686 0,456 34,280 99,759 5 2 0,795 0,715 0,342 31,492 99,819 6 1 0,788 0,709 0,592 32,063 99,687 Segitiga 7 1,5 0,855 0,769 0,395 26,317 99,792 8 2 1 0,9 0,296 13,793 99,844
Sumber: Hasil Perhitungan 0,00 0,10 0,20 0,30 0,40 0,50 0,60 0,70 0,80 0,90 1,00 0 0,1 0,2 0,3 0,4 0,5 0,6 P enurun a n (m )
Waktu Penurunan, t (tahun)
St - t SG D1 S2 St - t SG D1,5 S3 St - t SG D2 S4
Gambar 13. Perbandingan Kurva Korelasi St dengan t Hasil Keluaran (output) Dengan Adanya Stone Column
Sumber: Hasil Perhitungan
Perhitungan Volume Pekerjaan dan Biaya Bahan
Perhitungan Volume Pekerjaan
a) Pembebanan Awal (Preloading) Untuk kebutuhan material urugan total dapat dihitung berdasarkan luas area rencana perbaikan tanah. Contoh perhitungannya sebagai berikut:
Luas area perbaikan tanah (A) = 120 x 60 = 7200 m2 Tinggi timbunan pembebanan (Heff)
= 5,25 m Total volume timbunan (V) = A x Heff
= 7200 x 5,25 =37800 m3 b) Stone column
Untuk satu titik pemasangan memerlukan kedalaman sebesar 17 m. Dengan menggunakan dua pola, yaitu pola segitiga dan pola bujur sangkar. Dari dua pola tersebut dibagi lagi dengan tiga diameter yang berbeda.
Pola segitiga
D1 = 1 m
s = 2 m
Jumlah titik pemasangan = 732 Luas stone column (As) = d2
= 12 = 0,79 m2 Volume stone column (Vs) = As . z
= 0,79 . 17 =13,35 m3 Kebutuhan bahan = Vs . jumlah titik
pemasangan = 13,35 . 732 = 9768,54 m3
Jadi, unuk melaksanakan pemasangan
stone column dibutuhkan setidaknya
9768,54 m3. Untuk perhitungan selanjutnya, bisa dilihat Pada Tabel 8 di bawah ini. 0,00 0,10 0,20 0,30 0,40 0,50 0,60 0,70 0,80 0,90 1,00 0 0,1 0,2 0,3 0,4 0,5 0,6 0,7 Pen u ru n an (m )
Waktu Penurunan, t (tahun)
St -t BS D1 S2 St - t BS D1,5 S3 St - t BS D2 S4 St - t SG D1 S2 St - t SG D1,5 S3 St - t SG D2 S4
Tabel 8. Kebutuhan Bahan Stone Column no z D (m) s (m) As (m2) Vs (m3) jumlah titik pemasangan kebutuhan bahan Keterangan 1 17 1 2 0,79 13,35 732 9768,54 Pola Segitiga 2 1,5 3 1,77 30,03 332 9968,72 3 2 4 3,14 53,38 167 8914,46 4 1 2 0,79 13,35 741 9888,65 Pola Bujur Sangkar 5 1,5 3 1,77 30,03 338 10148,87 6 2 4 3,14 53,38 171 9127,98
Sumber: Hasil Perhitungan
Perhitungan Biaya Bahan
Analisa biaya yang dilakukan hanya berdasarkan harga pokok bahan tanpa memperhitungkan faktor pelaksanaan dan pengangkutan bahan sampai ke lokasi, berikut adalah contoh perhitungannya.
a. Biaya timbunan (Preloading) Harga bahan = Rp. 50.000/m3 (Daftar harga upah dan bahan Kota Sorong 2016)
Total timbunan = 37800 m3 Total biaya bahan = 50.000 x 37.800
= Rp. 1.890.000.000
b. Biaya stone column
Harga bahan = Rp. 320.000/m3
Pola segitiga
D1 = 1 m
Kebutuhan bahan = 9768,54 m3 Total biaya bahan = Harga bahan x
Kebutuhan bahan = 320.000 x 9768,54 = Rp. 3.125.932.800,00 Perhitungan lengkapnya dapat dilihat Pada Tabel 9 berikut.
Tabel 9. Total Biaya Bahan Stone Column
no D (m)
kebutuhan bahan
Harga
Bahan Total Biaya Bahan Keterangan 1 1 9768,54 320000 3125932800,00 Pola Segitiga 2 1,5 9968,72 3189988800,00 3 2 8914,46 2852627200,00 4 1 9888,65 3164366400,00 Pola Bujur Sangkar 5 1,5 10148,87 3247639200,00 6 2 9127,98 2920953600,00
Sumber: Hasil Perhitungan
KESIMPULAN
Dari hasil perhitungan yang telah dilakukan sebelumnya, maka dapat diambil kesimpulan sebagai berikut:
1. penurunan akibat pembebanan awal telah diketahui tinggi timbunan efektif sebesar 5,25 m dengan total penurunan akibat penurunan segera dan penurunan primer sebesar 1,25 m. Dan dari hasil perhitungan derajat konsolidasi 90% waktu
penurunan diketahui membutuhkan waktu penurunan sebesar 209,77 tahun dengan besar penurunannya 1,12 m. Dari perhitungan penurunan akibat pembebanan awal pada program Plaxis 8.2 2D telah diketahui total penurunan sebesar 1,16 m dengan tinggi timbunan sebesar 5,25 m. Dan dari hasil perhitungan derajat konsolidasi 90% waktu penurunan diketahui
membutuhkan waktu penurunan sebesar 189 tahun dengan besar penurunannya 1,04 m. Selisih penurunan antara perhitungan analitis dengan plaxis hanya sebesar 6,96 % saja. Sedangkan untuk waktu penurunannya sebesar 10,77 %.
2. Pada lapisan tanah dengan kedalaman > 5 m tidak terjadi likuifaksi, dikarenakan nilai faktor keamanan ( factor of safety, FS) lebih dari satu, FS > 1. Nilai FS ini masing-masing sebesar 4,528 pada lapisan kedua dan 9,892 pada lapisan ketiga. Sedangkan pada lapisan dengan kedalaman 5 m atau pada lapisan pertama mengalami likuifaksi, dikarenakan FS < 1, dengan nilai FS sebesar 0,323. Diperoleh dari cyclic resistance ratio (CRR) dibagi
dengan cyclic stress ratio (CSR) (Youd dan Idris, 1971).
3. Dari perhitungan penurunan dengan
stone column akibat pembebanan
awal pada program Plaxis 8.2 2D dengan pola bujur sangkar dengan (D = 1 m, S = 0,80466 m), ( D = 1,5 m, S = 0,76235 m) dan (D = 2 m, S = 0,79469). Dengan pola segitiga (D= 1 m, S = 0,78807), (D = 1,5 m, 0,85472 m) dan (D = 2 m, S = 1 m). Sedangkan hasil perhitungan derajat konsolidasi 90% waktu penurunannya adalah pola bujur sangkar dengan (D = 1 m, t = 0,59 tahun), ( D = 1,5 m, t = 0,39 tahun) dan (D = 2 m, t = 0,29 tahun). Dengan pola segitiga (D= 1 m, t = 0,53 tahun), (D = 1,5 m, t = 0,35 tahun) dan (D = 2 m, t = 0,26 tahun).
4. Untuk total biaya bahan pola bujur sangkar dengan (D = 1 m, total
biaya bahan = Rp.
3.164.366.400,00), (D = 1,5 m, total biaya bahan = Rp. 3.247.639.200,00) dan (D = 2 m, total biaya bahan = Rp. 2.920.953.600,00). Sedangkan untuk pola bujur sangkar dengan (D = 1 m, total biaya bahan = Rp. 3.125.932.800,00), (D = 1,5 m, total biaya bahan = Rp. 3.189.988.800,00) dan (D = 2 m, total biaya bahan = Rp. 2.852.627.200,00).
Tabel 10. Hasil Perhitungan Perencanaan Pemasangan Stone Column
No D (m) S (m) t (tahun) Total Biaya Bahan Pola 1 1 0,805 0,597 3164366400,00 Bujur Sangkar 2 1,5 0,762 0,398 3247639200,00 3 2 0,795 0,298 2920953600,00 4 1 0,788 0,537 3125932800,00 Segitiga 5 1,5 0,855 0,358 3189988800,00 6 2 1,000 0,269 2852627200,00
Sumber: Hasil Perhitungan
Dari tabel diatas untuk penurunannya, pola bujur sangkar lebih kecil jika dibandingkan dengan pola segitiga, sedangkan waktu konsolidasi pola bujur sangkar lebih besar. Untuk total biaya bahannya, pola segitiga lebih kecil dibandingkan dengan pola bujur sangkar, maka perencanaan perbaikan tanah dengan
menggunakan stone column dipilih hasil terbaik dari segi teknis dan dari segi ekonomisnya. Yaitu perencanaan pemasangan stone column pola bujur sangkar dengan diameter sebesar 2 m dan total harga biaya bahannya sebesar Rp. 2.920.953.600,00.
SARAN
Penggunaan metode perbaikan tanah dengan mengkombinasikan pembebanan (preloading) dan stone column bukanlah satu-satunya metode perbaikan tanah yang ada. Hal ini tergantung dari beberapa faktor seperti geologi tanah, topografi tanah dan sebagainya.
Untuk mendapatkan tingkat akurasi yang tinggi dari hasil perhitungan analitis maupun program Plaxis 8.2 2D perlu dilakukan perbandingan dengan hasil yang ada di lapangan. Parameter tanah yang digunakan sebagai data masukan sangat berpengaruh terhadap analisis, oleh karena itu dalam penentuan harga parameter tersebut harus dilakukan secermat mungkin.
DAFTAR PUSTAKA
Anhar, R., 2016. Pengaruh Floating Stone
Column Dalam Perbaikan Tanah
Pada Tanah Lempung Lunak
Menggunakan Metode Elemen Hingga.
Skripsi.Tidak dipublikasikan.
Malang: Institut Teknologi Nasional. Das, Braja, M., 1994. Mekanika Tanah II
(Prinsip-prinsip Rekayasa Geoteknis) Jilid 1 dan 2. Jakarta: Erlangga.
FHWA-NHI 132034 Ground Improvement
Techniques
FHWA/RD-83/026. 1983. Design and
Construction of Stone column Vol. I
FHWA/RD-83/027. 1983. Design and
Construction of Stone column Vol. II
Fitriani, F., 2016. Pemodelan Numerik
Pada Perbaikan Tanah Menggunakan
Stone Column Di Tanah Lempung
Lunak Di Bawah Tanah Timbunan.
Skripsi. Tidak dipublikasikan.
Malang: Institut Teknologi Nasional. Hepma, I., 2016. Studi Parameter
Perencanaan Stone Column untuk
Perbaikan Bearing Capacity dan
Settlement Pada Tanah Lempung.
Skripsi. Tidak dipublikasikan.
Bandung: Institut Teknologi Bandung. Indraratna, B. & Redana, I.W., 2000.
Numerical modelling of vertical drains
with smear and well resistance
installed in soft clay. Canadian
Geotechnical Journal. 37(1): 132–
145.
Indraratna, B, 2013. Numerical Solution of
Stone Column Improved Soft Soil Considering Arching, Clogging and Smear Effects.
Nurtjahjaningtyas, I., 2016. Efektifitas
Penggunaan Stone Column Untuk
Mengurangi Besar Pemampatan
Pada Tanah Dengan Daya Dukung
Rendah. Skripsi. Tidak
dipublikasikan. Jember: Universitas Jember.
Pramukti, Daru, N., 2014. Perencanaan
Drainase Vertikal (Vertical Drain)
Untuk Mempercepat Waktu
Konsolidasi Pada Pembangunan Pltu Ipp Kaltim 3 ( 2X 100 Mw). Skripsi.
Tidak dipublikasikan. Malang: Universitas Brawijaya.
Saito, A., K. Tagawa, T. Tamura, H. Oishi, H. Nagayama and H. Shimaoka., 1987.
A countermeasure for sand
liquefaction by gravel drains method.
Nippon Kokan Technical Report Overseas. No. 51, pp. 46-52.
Seed, H.B. and Idriss, I.M., 1982. Ground
Motions and Soil Liquefaction During Earthquakes. Earthquake Engineering
Research Institute Monograph.
Weber, T.M. & Springman, S.M.
Numerical modelling of stone columns in soft clay under an embankment.