• Tidak ada hasil yang ditemukan

JURNAL DELIMA HARAPAN 2021

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "JURNAL DELIMA HARAPAN 2021"

Copied!
12
0
0

Teks penuh

(1)

STUDI DESKRIPTIF TINGKAT PENGETAHUAN KADER PASCA PELATIHAN PEMBERIAN MAKAN BAYI DAN ANAK (PMBA)

DI KECAMATAN KALASAN KABUPATEN SLEMAN

Ajeng Ersyam Putri1, Prastiwi Putri Basuki2, Yuli Ernawati3

1Program Studi Kesehatan Masyarakat (S1) STIKES Wira Husada Yogyakarta Email: ajengputri122[email protected]

2Program Studi Kesehatan Masyarakat (S1) STIKES Wira Husada Yogyakarta Email: [email protected]

3

Program Studi Keperawatan (S1) STIKES Wira Husada Yogyakarta Email:[email protected]

Abstract

One of the efforts to improve community nutrition is through PMBA training for cadres. In the implementation, training has been carried out in several generations in the Kalasan sub-district, but there is no evaluation data on the level of knowledge about Infant and Young Child Feeding (IYCF) to cadres. The research purposed to know the description of cadres' knowledge level on the Infant and Young Child Feeding in Kalasan District. This study used a quantitative descriptive method. The sampling technique used was purposive sampling by involving 52 Posyandu cadres in Kalasan District. The results showed that 33 people (63.5%) are in the good category, 18 people (34.6%) are in the moderate category and 1 person (1.9%) is in the poor category. Most of the cadres who already knew the definition of IMD is 51 (98.1%) people, but had a lack of understanding about the implementation of IMD at surgical birth (36.5%), a sign of good attachment during breastfeeding (17.3%), and about snacks in infants 6-9 months (44.2%). The distribution results on the knowledge levels of infant and child feeding are mostly good, especially in understanding the definition of IMD, although there is a lack of knowledge on understanding the implementation of IMD in operative births, about signs of attachment during breastfeeding and about complementary foods.

Keywords: Knowledge level, IYCF, posyandu cadres

Abstrak

Upaya peningkatan gizi masyarakat salah satunya melalui pelatihan Pemberian Makan Bayi dan Anak (PMBA) pada kader. Dalam pelaksanaan, pelatihan yang telah terlaksana dalam beberapa angkatan di wilayah Kalasan, akan tetapi belum adanya data evaluasi tingkat pengetahuan tentang pemberian makan bayi dan anak pada kader. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui gambaran tingkat pengetahuan kader tentang Pemberian Makan Bayi dan Anak di Kecamatan Kalasan. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kuantitatif. Teknik sampel yang digunakan adalah purposive samping dengan melibatkan 52 kader posyandu di Kecamatan Kalasan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dari tingkat pengetahuan tentang PMBA sebanyak 33 kader (63,5%) kategori baik, 18 kader (34,6%) kategori cukup dan 1 kader (1,9%) kategori kurang. Sebagian besar kader telah mengetahui definisi dari IMD sejumlah 51 (98,1%) kader, akan tetapi memiliki pemahaman yang kurang tentang pelaksanaan IMD pada kelahiran

(2)

[Type text] Page 43 secara operasi (36,5%), tanda perlekatan yang baik saat menyusui (17,3%), dan tentang makanan selingan pada bayi 6-9 bulan (44,2%). Hasil distribusi tingkat pengetahuan Pemberian Makan bayi dan Anak sebagian besar adalah baik, terutama pada pemahaman tentang definisi IMD, meskipun terdapat pengetahuan yang kurang pada pemahaman tentang pelaksanaan IMD pada kelahiran operasi, tentang tanda perlekatan saat menyusui dan tentang makanan selingan MPASI.

Kata kunci: Tingkat pengetahuan, PMBA, kader posyandu

PENDAHULUAN

Pemberian Makan pada Bayi dan Anak atau sering disingkat dengan PMBA merupakan salah satu program pemerintah untuk menurunkan angka kematian anak dan meningkatkan kualitas hidup ibu sesuai dengan

Millenium Developments Goals yang ke

empat dan ke lima. Selain itu, program PMBA juga bertujuan meningkatkan status gizi dan kesehatan, tumbuh kembang dan kelangsungan hidup anak di Indonesia. Menurut WHO dan UNICEF tahun 2002 yang tercantum dalam Global Strategy for Infant and

Young Child Feeding, WHO dan

UNICEF merekomendasikan empat hal penting yang harus dilakukan dalam praktik PMBA yaitu memberikan air susu ibu (ASI) kepada bayi segera dalam waktu 30 menit setelah bayi lahir, memberikan ASI saja atau pemberian ASI secara eksklusif sejak lahir sampai bayi berusia 6 bulan, memberikan makanan pendamping air susu ibu (MPASI) sejak bayi berusia 6 bulan sampai 24 bulan serta meneruskan pemberian ASI sampai anak berusia 24 bulan atau lebih (Kemenkes, 2020).

Infant and Young Child Feeding (IYCF) training atau pelatihan Pemberian

Makan pada Bayi dan Anak (PMBA) adalah sebuah pelatihan yang dirancang untuk membekali petugas kesehatan di tingkat masyarakat (bidan desa) atau kader, untuk membantu para ibu, ayah dan pengasuh lainnya untuk dapat memberi makan anak dan bayi mereka secara optimal (Fadjri, 2017).

Sebagai salah satu bagian dari kecamatan yang berada di kabupaten Sleman, Kalasan masih menjadi penyumbang angka permasalahan gizi.

Menurut data kabupaten Sleman tahun 2017, prevalensi gizi kurang dan gizi buruk di Kalasan sebesar 7,92% dengan prevalensi gizi buruk sebesar 0,84% dan gizi kurang 7,08%, nilai tersebut lebih besar dari persentase prevalensi gizi kurang dan gizi buruk Kabupaten Sleman. Jika dibandingkan dengan kecamatan lain disekitarnya yaitu Kecamatan Depok III (5,17%), Ngemplak I (6,74%), Ngemplak II (7,14%), Berbah (6,94%) dan Prambanan (7,64%), nilai gizi kurang dan gizi buruk di Kalasan masih lebih tinggi.(Dinkes Sleman, 2018)

Pelaksanaan Pelatihan Pemberian Makan pada Bayi dan Anak (PMBA) di Wilayah Puskesmas Kalasan telah dimulai sejak 2017 dan masih berjalan hingga tahun 2019. Hingga tahun 2020 telah terdapat 60 kader yang telah mendapatkan pelatihan PMBA. Berdasarkan survei awal melalui wawancara kepada 10 kader yang telah mendapatkan pelatihan PMBA tahun 2017-2019 didapatkan kendala yang dirasakan oleh kader yaitu 6 kader mengatakan pengetahuan yang mereka miliki kurang bisa menjawab semua permasalahan gizi bayi dan anak di masyarakat. Selain itu kendala lain yang ditemukan kader merasa pemberian informasi ke masyarakat tidak maksimal dikarenakan jumlah kader yang kurang.

Berdasarkan latar belakang yang diuraikan di atas, peneliti tertarik melakukan penelitian tentang studi deskriptif tingkat pengetahuan kader pasca Pelatihan Pemberian Makan Bayi dan Anak di Kecamatan Kalasan Kabupaten Sleman.

(3)

[Type text] Page 44

METODE

Dalam penelitian ini

menggunakan metode deskriptif kuantitatif. Variabel yang diteliti yaitu pengetahuan kader tentang PMBA, umur kader, pendidikan, latar belakang pendidikan, lama menjadi kader, dan paparan informasi dan pelatihan gizi sebelumnya. Populasi dalam penelitian ini adalah semua kader posyandu yang bertugas dalam kawasan Kecamatan

Kalasan dan telah mengikuti pelatihan PMBA periode tahun 2017-2019. Pengambilan sampel dilakukan dengan

Purposive sampling dan perhitungan

dengan rumus slovin sehingga didapatkan kader sejumlah 52 kader. Instrumen yang digunakan untuk mengumpulkan data dalam penelitian ini menggunakan kuesioner. Analisa data menggunakan rumus persentase dan

crosstab data variabel karakteristik

kader dengan pengetahuan PMBA.

HASIL

1. Karakteristik kader

Tabel 1 Distribusi Frekuensi Karakteristik Kader Di Kecamatan Kalasan, Juli 2020 (n=52)

Karakteristik Kader Frekuensi % Usia (Tahun) 18-40 11 21,2 41-60 41 78,8 >60 0 0 Tingkat Pendidikan Pendidikan dasar 3 5,8 Pendidikan menengah 44 84,6 Pendidikan tinggi 5 9,6 Jenis pendidikan Kesehatan 1 1,9 Non-kesehatan 51 98,1

Lama menjadi kader (Tahun)

<5 22 42,3

>5 30 57,7

Sumber informasi gizi bayi dan anak Membaca artikel/buku

Ya 51 98,1

Tidak s 1 1,9

Mengikuti seminar/pelatihan gizi

Ya 34 65,4

Tidak 18 34,6

Tahun pelatihan PMBA

2017 15 28,8

2018 18 34,6

2019 19 36,5

Total kader 52 100

Sumber : Data Primer Berdasarkan tabel 1 diketahui bahwa sebagian besar kader kategori dewasa madya yaitu pada kelompok usia 41-60 tahun sejumlah 41 kader (78,8%). Pada tingkat pendidikan sebagian besar pada kategori pendidikan menengah sejumlah 44 kader (84,6%). Data jenis pendidikan sebagian besar kader pada

jenis pendidikan non kesehatan yaitu 51 kader (98,1%). Data karakteristik lama menjadi kader sebagian besar kader adalah yang telah bertugas menjadi kader lebih dari 5 tahun sejumlah 30 kader (57,7%). Data sumber informasi gizi bayi dan anak sebagian besar kader pernah membaca tentang gizi bayi dan

(4)

[Type text] Page 45 anak sejumlah 51 kader (98,1%) juga

pernah mengikuti seminar/pelatihan gizi bayi dan anak selain PMBA sejumlah 34 kader (65,4%). Pada data tahun

pelatihan PMBA, sebagian besar kader mengikuti pelatihan pada tahun 2019 sejumlah 19 kader (36,5%).

Tabel 2 Distribusi Frekuensi Keikutsertaan Kader dalam Seminar Lain Berdasarkan Lama Menjadi Kader Di Kecamatan Kalasan, Juli 2020 (n=52)

Lama Menjadi

Kader

Mengikuti Seminar lain

Jumlah Ya Tidak n % n % n % ≤5 tahun 13 25 9 17,3 22 42,3 ˃5 tahun 21 40,4 9 17,3 30 57,7 Total 34 65,4 18 34,6 52 100

Sumber : Data Primer

Berdasarkan tabel 2 menunjukkan sebagian besar kader telah bertugas lebih dari 5 tahun pernah mengikuti seminar gizi lainnya sejumlah 21 kader

(40,4%). Sedangkan kader yang bertugas kurang dari 5 tahun pernah mengikuti seminar lain sejumlah 13 kader (25%).

2. Pengetahuan tentang Pemberian Makan Bayi dan Anak

Tabel 3 Distribusi Frekuensi Tingkat Pengetahuan Kader Tentang PMBA Di Kecamatan Kalasan, Juli 2020 (n=52)

Pengetahuan Frekuensi Persentase (%)

Baik 33 63,5

Cukup 18 34,6

Kurang 1 1,9

Total 52 100

Sumber : Data Primer

Hasil analisis menunjukkan bahwa sebagian besar kader memiliki

pengetahuan yang baik tentang PMBA yaitu sejumlah 33 kader (63,5%). Tabel 4 Distribusi Frekuensi Kader Menurut Hasil Kuisioner Tentang Pemberian Makan

Bayi dan Anak Di Kecamatan Kalasan, Juli 2020 (n=52)

Item Pengetahuan PMBA Soal Pernyataan Jumlah Benar Salah n % n %

Inisiasi Menyusu Dini 1 51 98,1 1 1,9 52

2 48 92,3 4 7,7 52 3 48 92,3 4 7,7 52 4 33 63,5 19 36,5 52 5 40 76,5 12 23,1 52 ASI Eksklusif 6 47 90,4 5 9,6 52 7 45 86,5 7 13,5 52 8 44 84,6 8 15,4 52 9 50 96,2 2 3,8 52 10 43 82,7 9 17,3 52 MP-ASI 11 29 55,8 23 44,2 52 12 43 82,7 9 17,3 52

ASI hingga 2 tahun 13 46 88,5 6 11,5 52

(5)

[Type text] Page 46 Hasil analisis menunjukkan

pemahaman kader tentang PMBA khususnya pada item Inisiasi Menyusu Dini sebagian besar kader telah mengetahui definisi dari IMD sejumlah 51 kader (98,1%), akan tetapi sebagian besar kader memiliki pemahaman yang kurang tentang pelaksanaan IMD pada kelahiran secara operasi sejumlah 19 kader (36,5%) dan kecukupan ASI untuk bayi kembar sejumlah 12 kader (23,1%). Pada pemahaman kader tentang PMBA

pada item ASI eksklusif sebagian besar kader kurang memahami tanda perlekatan yang baik saat menyusui sejumlah 9 kader (17,3%). Pada item MP-ASI sebagian besar kader kurang memahami tentang makanan selingan pada bayi 6-9 bulan sejumlah 23 kader (44,2%). Pada pemahaman PMBA pada item ASI hingga 2 tahun sebagian besar kader telah memahami pemberian ASI harus dilanjutkan sejumlah 46 kader (88,5%).

3. Tingkat pengetahuan berdasarkan kakarteristik kader

Tabel 5 Distribusi Frekuensi Tingkat Pengetahuan Kader Posyandu Tentang PMBA Berdasarkan Karakteristik Kader Di Kecamatan Kalasan, Juli 2020 (n=52)

Karakteristik Kader

Pengetahuan

Total Baik Cukup Kurang

N % n % n % n % Usia (Tahun) 18-40 9 17,3 2 3,8 0 0 11 21,2 41-60 24 46,2 16 30,8 1 1,9 41 78,8 Tingkat Pendidikan Pendidikan dasar (SD,SMP) 1 1,9 2 3,8 0 0 3 5,8 Pendidikan menengah (SMA) 28 53,8 15 28,8 1 1,9 44 84,6 Pendidikan tinggi (Perguruan Tinggi) 4 7,7 1 1,9 0 0 5 9,6 Jenis pendidikan

Kesehatan 1 1,9 0 0 0 0 1 1,9

Non-kesehatan 32 61,5 18 34,6 1 1,9 51 98,1 Lama menjadi kader (Tahun)

<5 14 26,9 7 13,5 1 1,9 22 42,3

>5 19 36,5 11 21,2 0 0 30 57,7

Sumber informasi gizi bayi dan anak Membaca artikel/buku Ya 32 61,5 18 34,6 1 1,9 51 98,1 Tidak 1 1,9 0 0 0 0 1 1,9 Mengikuti seminar/pelatihan Ya 24 46,2 10 19,2 0 0 34 65,4 Tidak 9 17,3 8 15,4 1 1,9 18 34,6

Tahun pelatihan PMBA

2017 8 15,4 7 13,5 0 0 15 28,8

2018 12 23,1 6 11,5 0 0 18 34,6

2019 13 25 5 9,6 1 1,9 19 36,5

Total Kader 33 63,5 18 34,6 1 1,9 52 100 Sumber : Data Primer

Berdasarkan tabel 5, gambaran tingkat pengetahuan kader posyandu tentang PMBA berdasarkan karakteristik kader sebagian besar baik pada dewasa madya atau rentang 41-60 tahun

sejumlah 24 kader (46,2%), sebagian besar juga baik pada tingkat pendidikan menengah yakni 28 kader (53,8%) dan baik juga pada pengalaman kader yang lebih dari 5 tahun sejumlah 19 kader

(6)

[Type text] Page 47 (36,5%), yang juga ditunjang baik pada

kader yang memiliki kebiasaan membaca artikel atau buku sejumlah 32 kader (61,5%) maupun memiliki pengalaman mengikuti seminar atau pelatihan gizi lainnya sejumlah 24 kader (46,2%). Sebagian besar kader yang memiliki riwayat pelatihan PMBA pada pelaksanaan pelatihan tahun terakhir memiliki pengetahuan yang lebih baik yakni sejumlah 13 kader (25%).

Semakin awal tahun pelaksanaan pelatihan yaitu pada tahun 2017, pengetahuan tentang PMBA semakin berkurang. Sebagian besar kader merupakan lulusan non kesehatan memiliki pengetahuan yang baik sejumlah 32 kader (61,5%). Hal ini ditunjang dengan adanya paparan terhadap informasi serta pelatihan yang

diberikan kepada Kader.

PEMBAHASAN

1. Pengetahuan tentang Pemberian Makan Bayi dan Anak

Berdasarkan hasil penelitian, sebagian besar pengetahuan kader posyandu tentang PMBA adalah baik sejumlah 33 kader (63,5%). Dari item pengetahuan PMBA, kader paling banyak mengetahui tentang definisi IMD (98,1%) dan yang paling sedikit mengetahui tentang pelaksanaan IMD saat kelahiran secara operasi (63,5%). Pada item ASI eksklusif paling banyak kader yang kurang memahami tentang tanda perlekatan yang baik saat menyusui (17,3%). Pada pengetahuan tentang MP-ASI sebagian besar kader kurang mengetahui tentang makanan selingan saat MP-ASI (44,2%).

Menurut teori Lawrance Green, pengetahuan merupakan bagian dari faktor predisposisi yang mempengaruhi perilaku seseorang. Faktor predisposisi yaitu faktor yang mendahului perilaku, memberikan dasar rasional dan motivasi untuk perilaku tersebut. Berdasarkan teori faktor-faktor yang mempengaruhi pengetahuan yaitu pendidikan, paparan informasi, lingkungan, pengalaman dan usia (Notoatmodjo, 2007). Berdasarkan penelitian Suprihatin dan Ema (Suprihatin & Ema, 2018) bahwa faktor yang mempengaruhi pengetahuan kader adalah usia, tingkat pendidikan, pengalaman, paparan informasi dan lingkungan pekerjaan.

Pada penelitian yang dilakukan Mesra (Mesra et al., 2013), bahwa pengetahuan yang baik mempunyai peluang melakukan IMD dan mendapatkan proses laktasi lancar pada hari ke 3 setelah melahirkan sebesar 12,694 kali dibandingkan dengan pengetahuan yang kurang. Dengan pengetahuan yang dimiliki kader, hal tersebut akan menjadi cara dalam melakukan transfer informasi kepada masyarakat terutama ibu. Kader dalam memberikan pemahaman lebih terampil sehingga informasi mengenai IMD yang disampaikan bukan hanya sekedar tahu akan tetapi juga dapat diaplikasikan ibu. Berdasarkan penelitian oleh Novianti (Novianti et al., 2018), proses IMD dapat dilakukan sesaat setelah persalinan baik pada ibu yang melahirkan normal pervaginam maupun operasi Caesar, dan peluang pelaksanaan didukung oleh adanya SOP pelaksanaan IMD di suatu rumah sakit. Hal ini menunjukkan bahwa pelaksanaan IMD dapat dilakukan pasca kelahziran dengan operasi, akan tetapi regulasi juga menentukan pelaksanaan IMD.

Pada penelitian yang dilakukan di wilayah Puskesmas Pengasih II Kulonprogo, menunjukkan bahwa terdapat hubungan antara pengetahuan dan tekhnik menyusui dengan ASI eksklusif (p = 0,002) (Lina et al., 2014). Hal ini sesuai dengan penelitian lain yang menunjukkan terdapat hubungan yang signifikan

(7)

[Type text] Page 48 antara teknik menyusui dengan

keberhasilan menyusui (p = 0,043), sehingga diharapkan kepada bidan dan petugas kesehatan terkait agar dapat memberikan informasi yang benar tentang pentingnya teknik menyusui yang benar pada ibu sejak awal kehamilan hingga masa nifas sehingga target pemberian ASI eksklusif dapat tercapai (Rusyantia, 2019).

Dalam penelitian pada kader kesehatan di Dusun Mejing Lor merupakan Ibu Rumah Tangga yang mempunyai komitmen tinggi dalam upaya meningkatkan kesehatan Ibu

dan Anak, namun belum

mempunyai pengalaman tentang MP-ASI sehat sesuai usia balita (Purwati et al., 2018). Berdasarkan hal tersebut pengalaman serta pengetahuan tentang MP-ASI menjadi hal yang penting dalam memberikan makan pada bayi dengan benar. Variasi MP-ASI yang banyak serta banyaknya informasi yang salah, menyebabkan ketidaktahuan serta kebingungan masyarakat termasuk kader. Oleh karena itu perlunya pemberiannya penyuluhan dan pelatihan oleh pemerintah melalui puskesmas. Pada penelitian yang dilakukan di Ibadan, Nigeria menunjukkan pengetahuan yang rendah tentang Pemberian Makan Bayi dan Anak terutama pada pengetahuan tentang MP-ASI, akan tetapi mengalami peningkatan setelah diberikan pelatihan (Samuel et al., 2016).

Pengetahuan Pemberian Makan Bayi dan Anak utamanya meliputi pengetahuan kader tentang IMD, ASI eksklusif, MP-ASI dan ASI lanjutan hingga 2 tahun. Secara garis besar pengetahuan tentang PMBA oleh kader di Kalasan adalah baik, akan tetapi terdapat beberapa hal yang kurang dipahami kader. Hal ini dapat dikarenakan beberapa kader di kecamatan Kalasan mengikuti pelatihan 3 tahun yang lalu, juga tidak semua kader

mengikuti evaluasi PMBA secara berkala dari puskesmas. Sebuah penelitian menunjukkan pelatihan gizi dapat meningkatkan pengetahuan akan gizi anak, akan tetapi 4 minggu setelah pelatihan ditemukan terdapat penurunan tingkat pengetahuan. Lamanya masa intervensi kepada peserta pelatihan akan lebih efektif dikarenakan waktu paparan informasi yang lebih lama terhadap peserta (Sunguya et al., 2013). Hal ini menunjukkan perlunya evaluasi berkala dan keberlanjutan intervensi terhadap peserta pelatihan untuk mempertahankan pemahaman kader. Beberapa teori dan penelitian sebelumnya menunjukkan bahwa pengetahuan merupakan faktor penting yang menentukan pelaksanaan yang dilakukan kader terkait gizi bayi dan anak.

Penelitian yang dilakukan terhadap pendamping anak di daerah pengungsian kader terlantar di Somalia menunjukkan malnutrisi yang terjadi pada anak disebabkan oleh kesenjangan dari pengetahuan, sikap dan praktik mengenai kebersihan dan pemberian makan bayi dan anak. Kesadaran akan masalah tersebut akan meningkatkan perencanaan program gizi pendampingan di daerah kumuh (Kalid et al., 2019). Berdasarkan penelitian tersebut, pengetahuan yang baik akan PMBA akan menjadi salah satu faktor yang bisa mendukung keberhasilan dari pelaksanaan IMD, keberhasilan ASI eksklusif, MP-ASI yang tepat serta keberlanjutan menyusui di masyarakat.

2. Tingkat Pengetahuan Berdasarkan Karakteristik Kader

Berdasarkan hasil,

karakteristik kader mempengaruhi hasil tingkat pengetahuan. Pengetahuan yang baik yaitu pada dewasa madya atau 41-60 tahun sejumlah (46,2%), pendidikan menengah (53,8%), pendidikan non

(8)

[Type text] Page 49 kesehatan (61,5%), lama menjadi

kader lebih dari 5 tahun (36,5%), memiliki riwayat paparan dengan informasi gizi dari membaca (61,5%) juga mengikuti seminar (46,2%), dan riwayat pelatihan PMBA yang terbaru (25%).

Usia seseorang mempengaruhi daya tangkap dan pola pikir seseorang, dimana semakin berkembang daya tangkap dan pola pikir sehingga pengetahuan yang diperoleh akan semakin baik (Notoatmodjo, 2007). Pada masa dewasa madya, individu melakukan penyesuaian diri secara mandiri terhadap kehidupan dan harapan sosial. Kebanyakan kader telah mampu menentukan masalah-masalah mereka dengan cukup baik, sehingga menjadi cukup stabil dan matang emosinya. Pada masa ini kemampuan kognitif dan intelektual tidak banyak mengalami perubahan. Waktu reaksi tidak berkurang,

memori dan kemampuan

memecahkan masalah tetap sama, dan proses belajar terus berlanjut dan dapat dikembangkan dengan motivasi yang kian meningkat. Penelitian oleh Kholisoh, menunjukkan kelompok umur kader terbanyak yaitu 43-56 tahun dimana kelompok umur tersebut termasuk dalam kelompok dewasa madya. Hasil penelitian yang dilakukan menunjukkan kader yang berada pada kategori dewasa menengah atau dewasa madya memiliki tingkat pengetahuan baik dengan lebih banyak kader (Kholisoh & Sartono, 2017). Hal ini sesuai dengan teori yang disampaikan Notoadmojo (2007) dimana bertambahnya usia, pengetahuan seseorang akan semakin meningkat.

Sebagian besar kader dalam penelitan ini merupakan lulusan SMA yang termasuk dalam tingkat pendidikan menengah. Dari 44 kader yang termasuk dalam kategori pendidikan menengah sebanyak 28 kader (53,8%) memiliki tingkat

pengetahuan yang baik. Dari 5 kader yang memiliki pendidikan tinggi, 4 kader memiliki tingkat pengetahuan yang baik. Teori dari Nursalam dan Parini (Nursalam & Pariani, 2001), menyatakan bahwa makin tinggi tingkat pendidikan seseorang makin mudah menerima informasi sehingga makin banyak pula pengetahuan yang dimiliki. Dari penelitian lain, hasil analisis statistik yang dilakukan menunjukkan bahwa tingkat pendidikan dapat mempengaruhi pengetahuan dan keterampilan kader setelah diberi intervensi. Semakin tinggi tingkat pendidikan akan semakin baik pengetahuan yang dimiliki oleh kader (Pratiwi, 2012).

Lama menjadi kader adalah waktu yang menunjukkan berapa lama kader bertugas menjadi kader posyandu. Berdasarkan hasil penelitian, jumlah kader yang bertugas lebih dari 5 tahun lebih banyak yaitu sejumlah 30 kader (57,7%) dengan 19 kader (36,5%) diantaranya memiliki tingkat pengetahuan yang baik. Dari data sebagian besar kader yang bertugas lebih dari 5 tahun tersebut pernah mengikuti seminar gizi lainnya sejumlah 21 (40,4%) Kader. Menurut Notoadmojo, pengalaman merupakan salah satu cara untuk memperoleh kebenaran suatu pengetahuan. Masa kerja yang lama dalam sebuah lingkungan pekerjaan dapat menjadikan seseorang memperoleh pengalaman dan pengetahuan baik secara langsung maupun secara tidak langsung sehingga dengan pengalaman dan pengetahuan yang baik, seseorang akan lebih mudah dalam

menjalankan perannya

(Notoatmodjo, 2007). Dalam penelitian Kholisoh (Kholisoh & Sartono, 2017),rata-rata kader telah menjadi kader lebih dari 5 tahun, setelah mengikuti pelatihan PMBA memiliki pengetahuan yang lebih baik. Hal ini dapat disimpulkan

(9)

[Type text] Page 50 bahwa semakin lama kader menjadi

kader posyandu maka akan semakin baik pengetahuan yang dimilikinya, akan tetapi perlu diperhatian semakin bertambahnya umur kader dapat menyebabkan penurunan kinerja kader akibat faktor fisiologi yang menurun (Mubarak, 2007).

Keterpaparan informasi tentang gizi bayi dan anak yaitu dimana kader mendapat informasi bersumber dari artikel atau buku yang dibaca serta seminar atau pelatihan lain yang pernah diikuti. Dari hasil penelitian menunjukkan sebanyak 51 kader (98,1%) pernah membaca artikel dan buku tentang gizi dimana 32 kader (61,5%) diantaranya memiliki tingkat pengetahuan yang baik. Kader yang pernah mengikuti seminar atau pelatihan gizi lainnya sebanyak 34 kader (65,4%) dengan 24 kader (46,2%) diantaranya memiliki pengetahuan baik. Sumber informasi adalah segala sesuatu yang menjadi perantara dalam menyampaikan

informasi, mempengaruhi

kemampuan dan semakin banyak sumber informasi yang diperoleh semakin banyak pengetahuan yang dimiliki (Notoatmodjo, 2007). Pelatihan adalah suatu proses dimana kader – kader mencapai kemampuan tertentu untuk membantu mencapai suatu tujuan (Robert L, 2002). Tujuan yang ingin dicapai dari pelatihan adalah meningkatkan kemampuan dan pengetahuan tertentu. Menurut penelitian yang dilakukan Wahyuningsih (2015) adanya pengaruh peningkatan pengetahuan kader setelah dilakukan pelatihan. Hal ini menunjukkan bahwa dengan adanya keterpaparan informasi serta pelatihan akan meningkatkan pengetahuan kader, dalam hal ini yaitu pengetahuan tentang pemberian makan bayi dan anak (Wahyuningsih et al., 2019).

Dalam 3 tahun pelaksanaan pelatihan PMBA di wilayah

kecamatan Kalasan, jumlah peserta terbanyak yaitu pada tahun 2019 sejumlah 19 kader (36,5%), dengan 13 kader (25%) memiliki tingkat pengetahuan yang baik. Berdasarkan penelitian dampak dari pelatihan PMBA membuat kader bisa memberikan konseling kepada masyarakat dengan baik sehingga dapat mengubah pola asuh kader tua dalam memberikan makanan pada bayi dan anak dengan tepat dan benar sesuai aturan gizi seimbang (Wijayanti & Fauziah, 2019). Penelitian yang dilakukan di daerah pedesaan wilayah barat laut Ethiopia, menunjukkan pengetahuan ibu yang sedang dan tinggi tentang pemberian makan bayi dan anak akan meningkatkan peluang pemberian makanan pada bayi dan anak dengan baik dan tepat sesuai kebutuhan gizi. Dengan adanya pelatihan PMBA, kader dapat memberikan informasi kepada masyarakat terutama ibu untuk mengatasi permasalahan gizi dalam pemberian makan bayi dan anak.

Kegiatan tersebut akan

meningkatkan pengetahuan ibu sehingga akan terjadi peningkatan status gizi bahkan mencegah penambahan angka kejadian

stunting (Biks et al., 2018).

Sebagian besar kader di kecamatan Kalasan memiliki pengetahuan yang baik (63,5%). Tingkat pendidikan, lama menjadi kader, adanya paparan informasi serta tahun pelatihan cukup mempengaruhi tingkat pengetahuan kader tentang PMBA. Rentang usia kader yang bertugas berada diantara usia 40-60 tahun atau dewasa menengah, dimana pada usia tersebut seseorang telah memasuki usia mapan dan telah lama mendiami suatu pemukiman, serta lebih mengenal warga sekitar sehingga akan lebih mudah untuk menjalankan tugas kader.

Sebagian besar kader yang memiliki latar belakang pendidikan

(10)

[Type text] Page 51

non kesehatan memiliki

pengetahuan yang baik, hal ini membuktikan bahwa pengalaman menjadi kader, kebiasaan membaca serta mengikuti seminar/pelatihan dapat meningkatkan pengetahuan sekader. Walaupun modal yang dimiliki kader sudah cukup baik, akan tetapi kader masih menemukan kendala di lapangan. Kader telah berupaya untuk mengedukasi warga terutama ibu akan pentingnya ASI eksklusif, akan tetapi pada pelaksanaannya tidak semua dusun memiliki tingkat keberhasilan ASI eksklusif yang baik. Masih terdapat warga yang merasa pemberian ASI eksklusif merepotkan, salah satu alasannya karena adanya hambatan dari keadaan ibu yang bekerja. Dari temuan tersebut, kader terus berupaya menemukan solusi terbaik

yaitu dengan menambah

informasi/pengetahuan bagaimana meningkatkan motivasi ibu dalam memberikan ASI eksklusif.

KESIMPULAN

1. Karakteristik sebagian besar kader PMBA di Kecamatan Kalasan adalah berusia 41-60 tahun (78,8%); tingkat pendidikan menengah (84,6%); latar belakang pendidikan non kesehatan (98,1%); lama menjadi kader lebih dari 5 tahun (57,7%); pernah membaca materi tentang gizi (98,1%) dan mengikuti seminar/pelatihan gizi lainnya (65,4%); tahun pelatihan PMBA 2019 (36,5%).

2. Hasil distribusi tingkat pengetahuan Pemberian Makan bayi dan Anak sebagian besar adalah baik, terutama pada pertanyaan tentang definisi

IMD, meskipun terdapat

pengetahuan yang kurang pada item pertanyaan tentang pelaksanaan IMD pada kelahiran operasi, tentang tanda perlekatan saat menyusui dan tentang makanan selingan MPASI.

3. Sebagian besar kader PMBA di Kecamatan Kalasan yang memiliki pengetahuan yang baik adalah berusia 41-60 tahun (46,2%); tingkat pendidikan menengah (53,8%), latar belakang pendidikan non kesehatan (61,5%), lama menjadi kader lebih dari 5 tahun (36,5%), pernah membaca materi tentang gizi

(61,5%) dan mengikuti

seminar/pelatihan gizi lainnya (46,2%); dan tahun mengikuti pelatihan PMBA 2019 (25%).

SARAN

1. Bagi Akademik

Agar bisa meningkatkan bentuk kerjasama antara Stikes Wira Husada dengan Puskesmas Kalasan melalui pengabdian masyarakat

dalam kaitannya untuk

meningkatkan pemahaman kader tentang Pemberian Makan Bayi Dan Anak.

2. Bagi Tempat Penelitian

Pihak puskesmas perlu melakukan

refresh secara berkala terhadap

implementasi pengetahuan kader tentang Pemberian Makan Bayi dan Anak serta menyediakan media informasi tentang gizi bayi dan anak serta aplikasi atau situs lain yang dapat diakses kader.

3. Bagi Kader

Mengikuti pelatihan dan seminar yang diselenggarakan puskesmas secara adekuat sehingga meningkatkan kemampuan dalam melaksanakan tugasnya di

masyarakat serta terus

meningkatkan informasi tentang gizi bayi dan anak melalui media cetak, media digital, seminar dan pelatihan lainnya.

4. Bagi Peneliti

Perlu adanya penelitian lebih lanjut terkait edukasi kepada kader tentang MP-ASI di wilayah Kecamatan Kalasan.

(11)

[Type text] Page 52

DAFTAR PUSTAKA

Biks, G. A., Tariku, A., Wassie, M. M., & Derso, T. (2018). Mother ’ S Infant And Young Child Feeding ( IYCF ) Knowledge Improved

Timely Initiation Of

Complementary Feeding Of Children Aged 6 – 24 Months In The Rural Population Of Northwest Ethiopia. BMC

Research Notes, 1–7.

https://doi.org/10.1186/s13104-018-3703-0

Dinkes Sleman. (2018). Profil Dinas

Kesehatan Kabupaten Sleman

tahun 2018.

Fadjri, T. K. (2017). Pengaruh Pelatihan Pemberian Makan Pada Bayi dan

Anak (PMBA) Terhadap

Keterampilan Konseling dan Motivasi Bidan Desa. AcTion:

Aceh Nutrition Journal, 2(2), 97.

https://doi.org/10.30867/action.v2i 2.61

Kalid, M., Osman, F., Sulaiman, M., Dykes, F., & Erlandsson, K. (2019). Infant And Young Child Nutritional Status And Their Caregivers’ Feeding Knowledge And Hygiene Practices In Internally Displaced Person Camps, Somalia. BMC Nutrition,

5(1), 1–11.

https://doi.org/10.1186/s40795-019-0325-4

Kemenkes. (2020). MP-ASI Sehat, Anak Kuat Corona Lewat.

Webinar Gizi Berseri Ke 4.

Kholisoh, S., & Sartono, A. (2017).

Pengaruh Pelatihan Konseling

Pemberian Makan Bayi Dan Anak Terhadap Tingkat Pengetahuan Dan Keterampilan Kader Dalam Pemantauan Pertumbuhan Bayi Dan Baduta Di Puskesmas Klwut Kecamatan Bulukamba Kabupaten Brebes. Universitas Muhamadiyah

Semarang.

Lina, H., Yunengsih, & Solikhah. (2014). Hubungan Pengetahuan dan Teknik Menyusui dengan

Pemberian ASI Eksklusif di Wilayah Kerja Puskesmas Pengasih. Jurnal Kesmasindo, 6(3), 232–239.

Mesra, E., Rumdasih, J., & Fauziah. (2013). Pengetahuan Inisiasi Menyusui Dini Berpengaruh Terhadap Proses Laktasi pada Ibu Nifas. Jurnal Ilmu Dan Teknologi

Ilmu Kesehatan, 1(1), 40–46.

Mubarak. (2007). Promosi Kesehatan

Sebuah Pengamatan Proses

Belajar. Graha Ilmu.

Notoatmodjo, S. (2007). Promosi Kesehatan dan Ilmu Perilaku.

Rineka Cipta.

Novianti, Mujiati, & Nurillah, A. (2018). Analisa Proses Pelaksanaan Inisiasi Menyusu Dini (Studi Kasus Di Rumah Sakit Swasta X Dan Rumah Sakit Pemerintah Y di Jakarta). Jurnal

Kesehatan Reproduksi, 2(9), 135–

148.

Nursalam, & Pariani, S. (2001).

Pendekatan Praktis Metodelogi

Riset Keperawatan. Salemba

Medika.

Pratiwi, N. (2012). Pengaruh Pelatihan

Gizi Seimbang Terhadap

Peningkatan Pengetahuan Dan Keterampilan Kader Posyandu Lansia. Universitas Indonesia.

Purwati, Y., Salmiyati, S., & Imallah, R. N. (2018). Pendampingan Kader Kesehatan Dalam Strategi Produksi Dan Promosi MP-ASI.

Abdimas Dewantara, 1(2), 96–108.

Robert L, M. (2002). Manajemen

Sumber Daya Manusia. Salemba.

Rusyantia, A. (2019). Hubungan Teknik Menyusui Dengan Keberhasilan Menyusui Pada Bayi Usia. Jurnal

Holistik Kesehatan, 11(2), 90–94.

Samuel, F. O., Olaolorun, F. M., & Adeniyi, J. D. (2016). A Training Intervention On Child Feeding Among Primary Healthcare Workers in Ibadan Municipality.

African Journal of Primary Health Care & Family Medicine, 8(1), 1–

6.

(12)

[Type text] Page 53 .884

Sunguya, B. F., Poudel, K. C., Mlunde, L. B., Shakya, P., Urassa, D. P., & Jimba, M. (2013). Effectiveness Of Nutrition Training Of Health Workers Toward Improving Caregivers ’ Feeding Practices For Children Aged Six Months To Two Years : A Systematic Review.

Nutrition Journal, 12(1), 1.

https://doi.org/10.1186/1475-2891-12-66

Suprihatin, E., & Ema, W. (2018).

Gambaran Tingkat Pengetahuan Kader tentang ASI Eksklusif di Desa Tegalombo Wilayah Kerja

Puskesmas Kalijambe Sragen

Jawa Tengah.

Wahyuningsih, Endang, & Handayani, S. (2019). Pengaruh Pelatihan Pemberian Makan Pada Bayi Dan Anak Terhadap Pengetahuan Kader Di Wilayah Puskesmas Klaten Tengah Kabupaten Klaten.

Jurnal Motorik, 10(21), 55–63.

Wijayanti, H. N., & Fauziah, A. (2019). The Impact Of Pmba Training For Posyandu Cadres On Improving.

Jurnal Gizi Dan Kesehatan,

Referensi

Dokumen terkait

Hubungan yang terjadi diantara kedua variabel ini sejalan dengan teori-teori yang dipakai dalam penelitian ini dimana pertukaran pesan untuk mendapatkan mutual

Apabila rumah yang dipesan sudah jadi atau telah tersedia maka bagian penjualan akan menerima informasi dan meminta bagian finance untuk meminta customer melunasi sisa pembayaran

Kinerja perusahaan yang semakin baik menunjukkan bahwa manajemen perusahaan tersebut sudah sesuai dengan kepentingan pemegang saham sehingga manajer akan berpikir dan

32 Sebab Secara lebih luas kekuasaan dapat didefinisikan sebagai segala macam pengaruh antar individu atau sekelompok orang, termasuk percobaan dalam pertukaran, dimana

Actor atau user ketika membuka menu pemandu wisata maka sistem akan menampilkan menu pilihan pemandu wisata, ketika memilih menu info wisata pantai maka sistem

Pasal 8 memberikan perlindungan kepada konsumen dengan mencantumkan ketentuan tentang beberapa perbuatan yang dilarang bagi pelaku usaha, tak terkecuali bagi pelaku

Untuk merumuskan rencana pengembangan tata laksana, dengan mengacu pada analisis SWOT sebelumnya, antara lain diperlukan evaluasi tata laksana, pengembangan standar

Judul Tugas Akhir : Alokasi Biaya Bersama Atas Produk Bersama Menggunakan 4 (Empat) Metode Perhitungan (Studi Kasus pada PT Pos Indonesia (Persero) Pusat, Bandung)