1
BAB I
PENDAHULUAN
I.1. Latar Belakang
Dengan berlakunya Konvensi PBB tentang Hukum Laut (UNCLOS) tahun 1982 yang diratifikasi melalui Undang-Undang Nomor 17 Tahun 1985 maka salah satu prioritas utama bagi Indonesia sebagai negara kepulauan dalam rangka implementasi Konvensi tersebut adalah penetapan batas maritim dengan negara-negara tetangga. Selain diamanatkan oleh Konvensi tersebut, Undang-Undang Nomor 6 Tahun 1996 tentang Perairan Indonesia juga mengatur dengan jelas tentang penetapan wilayah maritim Indonesia, termasuk batas-batas maritim yang berkaitan dengan negara-negara tetangga.
Arsana (2013) mengatakan bahwa, “Indonesia berbatasan kawasan maritim dengan sepuluh negara sahabat, yakni dengan India, Thailand, Malaysia, Singapura, Vietnam, Filipina, Palau, Papua Nugini, Timor Leste, dan Australia. Sampai tahun 2013, ada 17 perjanjian batas maritim yang telah disepakati Indonesia dengan negara tetangga dan belum ada perjanjian batas maritim dengan Filipina, Palau, dan Timor Leste.” Di tahun 2014, Indonesia berhasil menyelesaikan perjanjian batas maritim yang ke-18 dan 19 dengan dua negara tetangga yaitu Filipina dan Singapura (Arsana 2015). Perjanjian batas maritim yang disepakati dengan Singapura yaitu perjanjian Laut Teritorial di bagian timur Selat Singapura, sementara perjanjian ke-19 adalah perjanjian batas Zona Ekonomi Eksklusif dengan Filipina. Sampai saat ini, Indonesia masih terus melakukan perundingan batas maritim untuk batas Laut Teritorial, Landas Kontinen, dan Zona Ekonomi Eksklusif dengan beberapa negara tetangga.
Tujuan delimitasi batas maritim antarnegara adalah untuk menentukan batas wilayah atau kekuasaan suatu negara yang kemudian diakui oleh baik negaranya, negara tetangga, dan dunia internasional. Batas maritim sangat diperlukan bagi suatu negara. Batas maritim dapat diumpamakan sebagai pagar dari suatu negara yang berfungsi sebagai pelindung dari ancaman atau gangguan negara lainnya (Yuniar 2014).
Keberhasilan Indonesia melakukan perundingan delimitasi batas maritim dengan delapan negara tetangganya merupakan suatu prestasi yang membanggakan. Di tahun 2014, disepakati dua perjanjian batas maritim yaitu antara Indonesia-Filipina dan Indonesia-Singapura (Kompas 2014). Disepakatinya perjanjian dengan Negara Filipina merupakan hasil perundingan yang telah berlangsung selama 20 tahun. Perjanjian ini menyepakati garis batas Zona Ekonomi Eksklusif sepanjang 1162,13 km. Zona Ekonomi Eksklusif seluas 170.510 km2 ditentukan menjadi milik Filipina, sementara Indonesia mendapatkan Zona Ekonomi Eksklusif seluas 218.950 km2 (Kemlu 2014).
Delimitasi batas Zona Ekonomi Eksklusif yang telah dilakukan oleh Indonesia dan Filipina diselesaikan dengan perundingan damai. Menurut pasal 74 ayat 1 UNCLOS Tahun 1982, penetapan batas Zona Ekonomi Eksklusif antara negara yang pantainya berhadapan atau berdampingan harus diadakan dengan persetujuan atas dasar hukum internasional, sebagaimana ditetapkan dalam Pasal 38 Statuta Mahkamah Internasional untuk mencapai suatu penyelesaian yang adil. Dijelaskan lebih lanjut pada Pasal 74 ayat 4 UNCLOS Tahun 1982 dalam hal adanya suatu persetujuan yang berlaku antara negara-negara yang bersangkutan, maka masalah yang berkaitan dengan delimitasi batas maritim Zona Ekonomi Eksklusif harus ditetapkan sesuai dengan ketentuan persetujuan itu.
Pada umumnya, perjanjian batas maritim antarnegara ditetapkan dengan perundingan atau negosiasi bilateral. Jika perundingan antar kedua negara tidak bisa menyelesaikan permasalahan batas maritim diantara keduanya, maka tahap selanjutnya bisa menggunakan pihak ketiga untuk menyelesaikan permasalahan batas maritim. Pihak ketiga menyelesaikan melalui mediasi ataupun arbitrase. Mediasi adalah proses penyelesaian sengketa melalui proses perundingan atau mufakat para pihak dengan dibantu oleh mediator yang tidak memiliki kewenangan memutus atau memaksakan sebuah penyelesaian (PN Surakarta 2014). Sedangkan, arbitrase menurut Undang-Undang No. 30 Tahun 1999 tentang Arbitrase (UU Arbitrase), pasal 1 ayat (1): "Arbitrase merupakan cara penyelesaian suatu sengketa perdata di luar peradilan umum yang didasarkan pada perjanjian arbitrase yang dibuat secara tertulis oleh para pihak yang bersengketa". Langkah penyelesaian terakhir yang dapat ditempuh adalah
mengajukan kasus tersebut kepada pengadilan internasional yaitu Mahkamah Internasional (International Court of Justice/ICJ) atau ITLOS (International Tribunal for the Law of the Sea).
Mahkamah Internasional maupun ITLOS belakangan ini melakukan penyelesaian batas maritim dengan satu pendekatan baru yaitu Pendekatan Tiga Tahap. Pendekatan Tiga Tahap (Three-Stage Approach) pertama kali diperkenalkan dalam penyelesaian kasus delimitasi batas maritim antara Negara Ukraina dan Romania pada tahun 2009 (ICJ 2009). Pendekatan Tiga Tahap yaitu pertama dengan pembuatan garis tengah sementara, kedua dengan memodifikasi garis tengah yang telah dibuat dengan memperhatikan faktor-faktor relevan yang ada, dan ketiga dengan uji disproporsionalitas.
Perjanjian batas Zona Ekonomi Eksklusif antara Indonesia dan Filipina ditandatangani pada 23 Mei 2014 (Suryanto 2014). Penyelesaian perjanjian batas Zona Ekonomi Eksklusif Indonesia dan Filipina telah dilakukan dengan perundingan damai, menganut asas keadilan untuk kedua pihak dan mengacu pada tata hukum laut yang berlaku yaitu UNCLOS 1982.
Perangkat lunak yang digunakan untuk membuat konstruksi garis batas Zona Ekonomi Eksklusif antara Indonesia dan Filipina adalah perangkat lunak CARIS LOTS (Law of The Sea). Perangkat lunak ini digunakan dalam penelitian ini karena dapat membuat garis batas maritim yang telah mengakuisisi dan sesuai dengan pasal-pasal yang ada di dalam UNCLOS 1982. Penggunaan perangkat lunak CARIS LOTS bertujuan agar hasil yang didapat lebih baik dari perangkat lunak manual seperti ArcGIS yang tidak mengakuisisi dan sesuai dengan aturan UNCLOS 1982.
Pada penelitian ini akan dikaji Pendekatan Tiga Tahap (Three-Stage Approach) untuk delimitasi batas maritim antara Indonesia dan Filipina dan menguji kehandalan metode Pendekatan Tiga Tahap untuk dapat diterapkan dalam sebuah kasus delimitasi batas maritim, khususnya perundingan bilateral.
I.2. Rumusan Masalah
Penyelesaian batas maritim dengan penerapan metode Pendekatan Tiga Tahap merupakan hal yang baru yang diperkenalkan oleh Mahkamah Internasional maupun International Tribunal for the Law of the Sea (ITLOS). Pendekatan ini belum pernah diterapkan dalam penyelesaian delimitasi yang dilakukan melalui perundingan bilateral. Oleh karena itu, peneliti akan mengkaji penerapan Pendekatan Tiga Tahap ini dalam delimitasi batas maritim yang dilakukan dengan perundingan bilateral. Dalam hal ini, studi kasus yang penulis ambil adalah batas Zona Ekonomi Eksklusif Indonesia dan Filipina yang telah disetujui pada 23 Mei 2014. Selama ini, belum ada penelitian yang membandingkan penyelesaian delimitasi batas maritim dengan penerapan Pendekatan Tiga Tahap (Three-Stage Approach) dengan batas maritim hasil perundingan khususnya untuk kawasan laut Indonesia dan Filipina. Berdasarkan rumusan masalah tersebut, pertanyaan pada penelitian ini adalah:
1. Bagaimana hasil penyelesaian delimitasi batas maritim Zona Ekonomi Eksklusif dengan penerapan Pendekatan Tiga Tahap antara Indonesia dan Filipina?
2. Berapa besar perbedaan hasil delimitasi batas maritim antara penerapan Pendekatan Tiga Tahap dengan perundingan bilateral yang sudah disepakati? 3. Bagaimana penerapan metode Pendekatan Tiga Tahap diterapkan dalam demilitasi
batas maritim yang diselesaikan melalui perundingan bilateral?
I.3. Tujuan Penelitian
Tujuan dilakukannya penelitian ini adalah:
1. Membuat peta batas Zona Ekonomi Eksklusif antara Indonesia dan Filipina dengan penerapan metode Pendekatan Tiga Tahap.
2. Membandingkan batas Zona Ekonomi Eksklusif antara Indonesia dan Filipina dengan penerapan metode Pendekatan Tiga Tahap dengan batas Zona Ekonomi Eksklusif yang telah disepakati dalam perundingan kedua negara tahun 2014. 3. Membentuk opsi penyelesaian delimitasi batas maritim dengan penerapan metode
I.4. Manfaat Penelitian
Manfaat yang dapat diambil dari dilaksanakannya penelitian ini adalah:
1. Tercapainya pemahaman yang jelas bagi akademisi maupun pihak pemerintah tentang penerapan Pendekatan Tiga Tahap dalam delimitasi batas maritim internasional, terutama antara Indonesia dan Filipina.
2. Diketahuinya nilai perbedaan antara penetapan batas Zona Ekonomi Eksklusif dengan negosiasi atau perundingan bilateral dan Pendekatan Tiga Tahap.
3. Menjadi rekomendasi terkait penerapan metode Pendekatan Tiga Tahap dalam delimitasi batas maritim melalui perundingan bilateral.
I.5. Batasan Masalah
Penelitian ini dibatasi dengan cakupan sebagai berikut:
1. Wilayah penelitian adalah Laut Sulawesi (Celebes Sea) letak Zona Ekonomi Eksklusif Indonesia dan Filipina saling tumpang tindih.
2. Data koordinat garis batas Zona Ekonomi Eksklusif antara Indonesia dan Filipina yang didapat dari perjanjian yang telah ditandatangani pada 23 Mei 2014.
3. Peta dasar yang digunakan adalah peta British Admiralty Chart (BAC) nomor 2575 (Mindanao to Sulawesi) skala 1:745000, nomor 2576 (Sulu Archipelago) skala 1:725600 nomor 943, dan Peta ZEE nomor lembar ZEE14 dan ZEE15 yang dibuat oleh Pusat Pemetaan Batas Wilayah (PBW) Badan Informasi Geospasial.
4. Studi literatur mengenai penyelesaian delimitasi batas maritim dengan penerapan Pendekatan Tiga Tahap (Three-Stage Approach) dilakukan dengan mengkaji keputusan Mahkamah Internasional dan ITLOS.
5. Kajian delimitasi batas Zona Ekonomi Eksklusif antara Indonesia dan Filipina ini akan dilakukan secara teknis dengan menggunakan perangkat lunak CARIS LOTS (Law of The Sea).
I.6. Tinjauan Pustaka
Pasha (2012) melakukan penelitian yang berjudul “Kajian Prinsip Ekuidistan dan Proporsionalitas dalam Penetapan Batas Laut Antarnegara Kepulauan, Studi Kasus: Indonesia dan Filipina”. Metode yang digunakan dalam penelitian tersebut adalah dengan prinsip ekuidistan dan proporsionalitas dalam delimitasi batas maritim. Prinsip ekuidistan termasuk dalam Pendekatan Tiga Tahap (Three-Stage Approach). Data yang digunakan yaitu peta digital batas Zona Ekonomi Ekslusif Indonesia tahun 2012. Pada penelitian ini diperoleh hasil penarikan batas antarnegara Indonesia dan Filipina dengan prinsip ekuidistan dan proporsionalitas berupa empat batas ZEE Indonesia-Filipina, Peta ZEE prinsip ekuidistan konsep lingkaran, Peta ZEE prinsip ekuidistan konsep bisek, Peta ZEE proporsionalitas 70:30 konsep bisek, dan Peta ZEE proporsionalitas 60:40 konsep bisek. Diharapkan hasil kajian batas maritim ini yaitu bisa menjadi masukan bagi penarikan batas ZEE bagi Indonesia dan Filipina, untuk menentukan prinsip penarikan batas mana yang digunakan dalam proses perundingan perbatasan bagi Indonesia-Filipina.
Yuniar (2014) melakukan penelitian yang berjudul “Kajian Delimitasi Batas Zona Ekonomi Eksklusif (ZEE) antara Indonesia dan Malaysia di Selat Malaka”. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah delimitasi batas maritim dengan penerapan Pendekatan Tiga Tahap (Three-Stage Approach) dengan mengacu pada UNCLOS 1982. Hasil yang diperoleh dari penelitian ini adalah dua opsi penyelesaian garis batas ZEE antara Indonesia dan Malaysia. Opsi pertama diperoleh dengan memasukkan faktor garis pangkal normal Malaysia dan opsi kedua memasukkan garis pangkal lurus Malaysia. Terdapat dua opsi dalam delimitasi batas maritim antara Indonesia-Malaysia karena Malaysia belum mendeklarasikan jenis garis pangkal yang digunakan. Uji disproporsionalitas juga dilakukan dengan hasil perbandingan luas ZEE opsi pertama 1.198:1 untuk Indonesia dan perbandingan luas ZEE opsi kedua 1.08:1 untuk Indonesia. Hasil kajian batas maritim ini yaitu dapat menjadi masukan bagi penarikan batas maritim bagi Indonesia dan Malaysia dalam menentukan prinsip penarikan batas ZEE yang digunakan dalam proses perundingan perbatasan kedua negara.
Arsana (2013) melakukan penelitian yang berjudul Challenges and Opportunities in The Delimination of Indonesia’s Maritime Boundaries: A Legal and Technical Approach. Penelitian ini ditujukan sebagai pilihan dalam penyelesaian batas maritim antara Indonesia dan negara-negara tetangganya. Ada tiga studi kasus yang dianalisis dalam penelitian ini yaitu yang berada di Laut Sulawesi, Selat Singapura dan Selat Malaka. Metode penyelesaian batas maritim yang digunakan adalah penerapan Pendekatan Tiga Tahap (Three-Stage Approach). Manfaat dari penelitian ini adalah memberikan opsi dalam penyelesaian batas maritim antara Indonesia dan negara tetangganya dan juga memberikan kontribusi terhadap dunia internasional tentang penerapan Pendekatan Tiga Tahap (Three-Stage Approach) dalam penyelesaian batas maritim yang nantinya akan bisa dipertimbangkan dalam penyelesain sengketa batas maritim. Hasil dari penelitiannya adalah berupa opsi delimitasi batas maritim Indonesia dengan negara tetangganya dengan menggunakan penerapan Pendekatan Tiga Tahap.
Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan tersebut, metode Pendekatan Tiga Tahap merupakan suatu metode baru yang perlu dikaji dan dievaluasi penerapannya, khususnya di dalam perundingan bilateral. Dalam penelitian ini, studi kasus yang diambil adalah batas ZEE antara Indonesia dan Filipina yang telah disetujui dengan perundingan bilateral yang belum pernah dilakukan penelitian sebelumnya.
I.7. Landasan Teori I.7.1. Klaim Atas Kawasan Maritim
United Nations Convention on the Law of the Sea (UNCLOS) yang dilakukan pada tahun 1982 telah berarti banyak bagi dunia. UNCLOS sebagai kontistusi laut mengatur dan memberi kerangka yang lengkap untuk penguasaan atas laut yang meliputi: hak navigasi, pelestarian lingkungan laut, eksploitasi sumber daya, yurisdiksi ekonomi, dan isu maritim lain. Ada banyak aspek yang diatur dalam UNCLOS, salah satunya batas maritim. Sebuah negara pantai, bisa melakukan klaim atas wilayah maritim dengan ketentuan-ketentuan yang sudah diatur dalam UNCLOS. Wilayah maritim yang dapat diklaim oleh suatu negara pantai menurut UNCLOS yaitu meliputi
Perairan Pedalaman, Laut Teritorial, Zona Tambahan, Zona Ekonomi Eksklusif (ZEE), dan Landas Kontinen. Selain itu, wilayah maritim internasional terdiri dari Laut Bebas dan Dasar Laut Dalam (Arsana 2007).
I.7.1.1. Perairan Pedalaman (Internal Waters) Perairan Pedalaman atau Perairan Nasional adalah perairan yang terletak pada sisi dalam garis pangkal yang diukur ke arah daratan. Sebuah negara memiliki kedaulatan penuh terhadap Perairan Pedalaman dengan pengecualian bahwa hak lintas damai tetap berlaku bagi kapal asing di kawasan yang tidak dikategorikan sebagai Perairan Pedalaman sebelum ditentukannya sistem garis pangkal lurus (Pasal 8 ayat (2) UNCLOS). Pengaturan tentang Perairan Pedalaman ini terdapat dalam Pasal 8 UNCLOS.
I.7.1.2. Laut Teritorial (Territorial Sea) Laut Teritorial merupakan wilayah laut sejauh 12 mil laut yang diukur dari garis pangkal suatu negara. Pengaturan Laut Teritorial dapat dilihat dalam Pasal 2 dan 3 UNCLOS. Dalam Laut Teritorial, sebuah negara memiliki kedaulatan penuh, tetapi padanya berlaku hak lintas damai bagi kapal-kapal asing (Arsana 2007). Semua kapal-kapal asing yang melintasi Laut Teritorial suatu negara wajib mematuhi semua peraturan dan undang-undang dari negara terkait dan juga peraturan-peraturan internasional yang terkait dengan pencegahan tabrakan di laut (Pasal 21 UNCLOS).
I.7.1.3. Zona Tambahan (Contigous Zone) Zona Tambahan merupakan wilayah laut sejauh tidak lebih 24 mil laut yang diukur dari garis pangkal suatu negara. Zona Tambahan terletak berdampingan dengan Laut Teritorial. Pengaturan terhadap Zona Tambahan tercantum dalam Pasal 33 UNCLOS.
Zona Tambahan dimaksudkan agar negara pantai dapat melaksanakan pengawasan yang diperlukan untuk:
a. Mencegah pelanggaran peraturan perundang-undangan tentang bea cukai, fiskal, imigrasi atau kesehatan (saniter) di wilayah laut teritorial.
b. Menghukum pelanggaran tersebut di atas yang dilakukan di wilayah laut teritorial.
I.7.1.4. Zona Ekonomi Eksklusif atau ZEE (Exclusive Economic Zone) Zona Ekonomi Eksklusif merupakan wilayah maritim sejauh maksimal 200 mil laut yang diukur dari garis pangkal suatu negara (Pasal 57 UNCLOS). Pada kawasan ini suatu negara pantai mempunyai hak eksklusif untuk melakukan eksplorasi dan eksploitasi, pelestarian, dan pengelolaan sumber daya alam (hayati dan non-hayati) di dasar, di bawah, dan di atas, serta kegiatan lain seperti produksi energi dari air, arus, dan angin (Pasal 56 UNCLOS). Pengaturannya terdapat dalam Pasal 55 sampai dengan Pasal 75 UNCLOS.
I.7.1.5. Landas Kontinen (Continental Shelf) Landas Kontinen suatu negara pantai meliputi suatu kawasan dasar laut dan tanah di bawahnya dari daerah di bawah permukaan laut yang terletak di luar Laut Teritorial, sepanjang kelanjutan alamiah daratan hingga pinggiran luar tepi kontinen atau hingga suatu jarak 200 mil laut dari garis pangkal (dalam hal ini tepian kontinen tidak mencapai jarak tersebut). Jika jarak tepian kontinen lebih dari 200 mil laut, maka penetapan pinggiran luar kontinen dilakukan dengan cara:
a. Menghubungkan titik-titik tetap terluar yang ketebalan sedimen dasar laut paling sedikit 1% dari jarak terdekat antara titik-titik tersebut dan kaki lereng kontinen (titik perubahan maksimum), atau
b. Suatu garis lurus yang ditarik dari titik-titik tetap yang terletak tidak lebih dari 60 mil laut dari kaki lereng (foot of slope) kontinen.
Namun demikian, dalam penentuan Landas Kontinen, garis batas terluar tidak boleh melebihi 350 mil laut atau 100 mil laut dari garis kedalaman (isobath) 2500 m, kecuali untuk elevasi dasar laut yang merupakan bagian alamiah tepian kontinen. Landas Kontinen biasanya tidak terlalu dalam, sehingga sumber-sumber alam dari Landas Kontinen dapat dimanfaatkan dengan teknologi yang ada (Djurnasjah dan Dewantara 2002 dalam Arsana 2007). Terkait dengan Landas Kontinen, diatur dalam Pasal 76 hingga Pasal 85 UNCLOS.
I.7.1.6. Laut Bebas (High Sea) Semua bagian laut yang tidak tergolong wilayah perairan suatu negara seperti di atas dapat dikategorikan sebagai Laut Bebas. Pengaturannya terdapat dalam UNCLOS pasal 86 hingga pasal 120. Laut Bebas terbuka bagi negara pantai atau tidak berpantai untuk melakukan kegiatan-kegiatan:
a. Berlayar di bawah satu bendera negara b. Penerbangan
c. Memasang pipa dan kabel bawah laut
d. Membangun pulau buatan dan instalasi lainnya e. Menangkap ikan
f. Penelitian ilmiah.
Kebebasan ini dilaksanakan oleh semua negara dengan memperhatikan kepentingan negara lain dan ketentuan lainnya dalam konvensi. Laut Lepas pada dasarnya memang dicadangkan untuk maksud damai (Suhaedi 2007). Berikut ilustrasi klaim kawasan maritim suatu negara dapat dilihat pada Gambar I.1.
Gambar I.1. Pembagian kawasan maritim
menurut UNCLOS (TALOS 2012 diadaptasi oleh
Gambar I.1 mengilustrasikan pembagian kawasan maritim menurut UNCLOS. Semua kawasan maritim diukur dari garis pangkal masing-masing negara pantai. Khusus untuk Landas Kontinen, Foot of Slope (FOS) atau kaki lereng juga berperan dalam penentuan kawasan maritim tersebut.
Klaim kawasan maritim yang diatur dalam UNCLOS terkait erat dengan kewenangan yang menyertai wilayah maritim tersebut. Kewenangan yang melekat pada klaim wilayah maritim dibedakan menjadi:
a. Kedaulatan (Sovereignty)
Kedaulatan adalah kewenangan penuh (absolut) sebuah negara untuk menjalankan kekuasaan terhadap suatu wilayah atau masyarakat. Sebuah negara tidak perlu meminta persetujuan dari negara lain untuk melaksanakan atau menjalankan kehendaknya di wilayah ini. Wilayah maritim yang termasuk dalam kedaulatan adalah Perairan Pedalaman (Internal Waters), Perairan Kepulauan (Archipelagic Waters), dan Laut Teritorial (Territorial Sea).
b. Hak Berdaulat (Sovereign Right)
Hak berdaulat adalah kewenangan suatu negara terhadap wilayah tertentu yang dalam pelaksanaannya harus tunduk pada aturan hukum yang dianut oleh masyarakat internasional. Hak berdaulat umumnya adalah hak untuk memanfaatkan sumber daya alam yang ada pada kawasan tertentu. Wilayah maritim yang termasuk dalam hak berdaulat adalah Zona Tambahan (Contiguous Zone), Zona Ekonomi Eksklusif (Exclusive Economic Zone), dan Landas Kontinen (Continental Shelf).
I.7.2. Prinsip Delimitasi Bata s Maritim
Suatu negara pantai memliki hak klaim kawasan maritim yang sama dengan negara lainnya. Seringkali terjadi sengketa maritim di suatu kawasan yang sama. Sengketa maritim yaitu dalam suatu kawasan dimiliki atau diklaim milik dua negara atau lebih. Hal ini disebut tumpang tindih atau pertampalan klaim (overlapping claim).
Untuk menyelesaiakan tumpang tindih klaim maka negara pantai memerlukan delimitasi batas maritim. Arsana (2007) mengatakan bahwa, “Tumpang tindih klaim bisa terjadi untuk Laut Teritorial, Zona Ekonomi Eksklusif, dan Landas Kontinen. Masing-masing diselesaikan dengan cara berbeda sesuai ketentuan hukum yang berlaku”.
Tumpang tindih klaim antar negara satu dengan negara lainnya seringkali terjadi. Ini karena, kedua atau lebih negara mempunyai hak yang sama dalam klaim kawasan maritim namun, kawasan maritim tersebut tidak dapat memenuhi sesuai aturan yang berlaku. Situasi tumpang tindih klaim dan perlunya delimitasi batas maritim diilustrasikan dengan Gambar I.2.
Legenda
Daratan Laut
Daerah Tumpang Tindih Klaim Garis Bantu
Gambar I.2. Prinsip delimitasi batas maritim (Arsana 2013)
Gambar I.2 merupakan prinsip dari delimitasi batas maritim. Sesuai yurisdiksi UNCLOS, lebar ZEE negara A dan negara B masing-masing 200 mil laut. Namun, kawasan maritim yang memisahkan keduanya tidak mencapai 400 mil laut, terjadilah tumpang tindih (overlapping claim) di Zona Ekonomi Eksklusif. Adanya area tumpang tindih menyebabkan harus dilakukan delimitasi batas maritim.
I.7.2.1. Delimitasi Laut Teritorial UNCLOS telah mengatur delimitasi Laut Teritorial dalam Pasal 15. Pasal tersebut menyatakan bahwa dua negara yang saling berhadapan atau berdampingan tidak diperkenankan mengklaim laut teritorial melebihi garis tengah (median line) antara kedua negara tersebut, kecuali jika ada kesepakatan lain antara kedua negara, atau karena adanya hak pertimbangan sejarah atau kondisi khusus lainnya. Kesepakatan lain, hak pertimbangan sejarah atau kondisi khusus yang ada di antara kedua negara dalam delimitasi Laut Teritorial dapat mempengaruhi pemilihan garis batas maritim selain yang umum diterapkan yaitu garis tengah (median line). Pada praktik delimitasi batas Laut Teritorial, tiga faktor yang menjadi pengecualian dalam penggunaan garis tengah (median line) harus diterima oleh kedua negara yang menyelesaikan delimitasi batas maritim. Contoh kasus batas maritim yang mempertimbangkan kondisi khusus adalah pemberian bobot tertentu (nol, setengah, penuh) kepada pulau-pulau kecil di sekitar area delimitasi.
I.7.2.2. Delimitasi Zona Tambahan Zona Tambahan adalah zona maritim yang berdampingan dengan Laut Teritorial. UNCLOS dengan jelas menyatakan bahwa zona tambahan semestinya mencakup lebar maksimum hingga 24 mil laut. Tidak ada aturan eksplisit yang disebutkan mengenai delimitasi Zona Tambahan. Dua alasan yang menyebabkan ini karena Zona Tambahan sebenarnya berada di dalam Zona Ekonomi Eksklusif dan karena Zona Tambahan bukanlah merupakan wilayah kedaulatan atau yuridiksi eksklusif, sehingga tidak ada alasan adanya delimitasi khusus untuk Zona Tambahan (Churchill dan Lowe 1999 dalam Arsana 2007).
I.7.2.3. Delimitasi Landas Kontinen Berdasarkan UNCLOS 1982, delimitasi Landas Kontinen diatur dalam Pasal 83. Delimitasi Landas Kontinen antara negara-negara dengan pantai yang berseberangan atau berdampingan diperngaruhi oleh perjanjian-perjanjian berdasarkan hukum internasional, seperti dinyatakan pada Pasal 38 Statuta Mahkamah Internasional, untuk mencapai solusi yang adil (Pasal 83 ayat 1). Pasal 83 tidak memuat petunjuk rinci dalam proses delimitasi batas Landas Kontinen, sama halnya dengan Statuta Mahkamah Internasional yang diacu dalam Pasal 83 tidak juga memberikan petunjuk tentang delimitasi Landas Kontinen. Penekanan dalam kedua pasal yang mengatur delimitasi Landas Kontinen adalah untuk mencapai solusi yang adil (equitable solution). Tidak ada yang menyebutkan secara tegas prinsip delimitasi Landas Kontinen, namun penyelesaiannya dapat menggunakan prinsip sama jarak sangat ditekankan sebagai alternatif delimitasi dalam Konvensi Landas Kontinen 1958 (Churchill dan Lowe 1999 dalam Arsana 2007). Arsana (2007) mengatakan bahwa “Lepas dari kenyataan bahwa Konvensi Landas Kontinen 1958 menyarankan penggunaan prinsip sama jarak, tidak ada ketentuan atau konvensi yang benar-benar memberi petunuk rinci untuk delimitasi Landas Kontinen. Hal ini mengindikasikan bahwa negara-negara yang bersengketa dapat mencapai kesepakatan melalui negosiasi dengan mempertimbangkan faktor yang dianggap mempengaruhi dan metode yang sesuai”. Selain itu, putusan-putusan dalam penyelesaian kasus batas maritim terdahulu dapat juga menjadi acuan dalam delimitasi batas Landas Kontinen.
I.7.2.4. Delimitasi Zona Ekonomi Eksklusif Delimitasi Zona Ekonomi Eksklusif penting dilakukan karena menyangkut banyak hal antara lain eksploitasi dan eksplorasi dalam, bawah, dan atas laut. Di dalam UNCLOS, delimitasi ZEE diatur oleh Pasal 74. Sama dengan Pasal 83, Pasal 74 tidak menjelaskan secara rinci tentang delimitasi Zona Ekonomi Eksklusif. Perundingan delimitasi batas ZEE baik metode ataupun faktor yang mempengaruhi didasarkan atas kesepakatan kedua negara yang bersengketa. Seringkali dalam praktiknya, batas ZEE sama dengan batas Landas Kontinen.
I.7.3.1. Pulau Dalam hak klaim zona maritim suatu negara, pulau berperan sangat penting. Pengaturan tentang pulau dijelaskan pada Pasal 121 dalam UNCLOS. Terdapat empat kriteria sebuah fitur maritim dapat didefinisikan sebagai pulau. Keempat kriteria tersebut yaitu berupa daratan atau wilayah tanah (area of land), terbentuk secara alami (naturally formed), dikelilingi oleh air (surrounded by water), dan berada di atas permukaan air laut saat pasut tertinggi (above water at high tide).
Pulau juga dapat didefinisikan sebagai batu yang dapat mendukung kehidupan manusia atau kehidupan ekonomi dari makhluk hidup. Pulau harus memenuhi kedua definisi yang telah disebutkan, jika tidak maka tidak bisa digunakan untuk mengklaim wilayah maritim untuk Laut Teritorial, Zona Ekonomi Eksklusif, dan Landas Kontinen. Jika empat syarat pulau telah terpenuhi tetapi fitur maritim tersebut tidak dapat mendukung kehidupan manusia, maka dinamakan karang (rocks). Karang hanya dapat digunakan untuk mengklaim wilayah maritim untuk Laut Teritorial dan Zona Tambahan. Pemahaman atas pengertian pulau ini penting mengingat keberadaanya dapat mempengaruhi delimitasi batas maritim (Arsana 2007). Ilustrasi pulau, elevasi pasang terendah, dan fitur bawah permukaan laut dapat dilihat pada Gambar I.3.
Gambar I.3. Ilustrasi pulau, elevasi pasang
terendah, dan fitur bawah permukaan laut
(diadaptasi dari IHO 2006)
I.7.3.2. Elevasi Pasang Terendah/Low Tide Elevation (LTE) Elevasi Pasang Terendah didefinisikan sebagai daratan yang nampak pada saat pasang terendah tetapi tenggelam pada saat pasang tertinggi, yang dapat berperan dalam delimitasi batas maritim sebuah negara pantai untuk Laut Teritorial. Elevasi Pasang Terendah dapat dijadikan sebagai titik pangkal jika berada di dalam Laut Teritorial (kurang dari 12 mil laut dari garis pangkal) sebuah negara dan digunakan untuk klaim Laut Teritorial suatu negara. Namun, jika Elevasi Pasang Terendah tersebut terletak di luar dari wilayah Laut Teritorial (lebih dari 12 mil laut dari garis pangkal), maka tidak dapat digunakan sebagai bagian dari garis pangkal, kecuali negara tersebut telah membangun mercusuar atau instalasi lain di atas air secara permanen di atasnya sesuai dengan Pasal 13 UNCLOS.
Legenda
Daratan Laut
I.7.3.3. Titik Dasar (Basepoint) Titik dasar merupakan titik koordinat yang berada pada bagian terluar dari garis air rendah atau chart datum yang akan digunakan sebagai acuan dalam menentukan garis pangkal suatu negara. Untuk mendapatkan luas wilayah maritim yang optimal, maka dipilih titik-titik menonjol pada garis nol kedalaman sebagai titik dasar.
Bentukan geografis yang dianggap mewakili bentuk geografis pada wilayah perairan yang paling memungkinkan untuk ditentukan suatu titik dasar adalah:
a. Pantai landai (pada garis air rendah di tepi pantai landai)
b. Elevasi surut (bentukan alamiah yang tampak pada waktu air surut) c. Pantai curam (karena sulitnya diperoleh kontur nol kedalaman)
Dalam tugas akhir ini, penentuan titik-titik dasar dilakukan berdasarkan koordinat titik pangkal kepulauan Negara Indonesia dan Filipina yang telah diumumkan di Division for Ocean Affairs and Law of the Sea PBB.
I.7.3.4. Garis Pangkal (Baseline) Garis pangkal adalah garis yang disusun oleh titik-titik pangkal sepanjang muka laut terendah, yang menjadi acuan dalam menentukan wilayah maritim suatu negara (IHO 2006).
Garis pangkal dalam UNCLOS Pasal 5 mempunyai pengertian yang merujuk pada pengertian garis pangkal normal yang merupakan kedudukan garis air rendah (low water line) sepanjang pantai. UNCLOS memberikan kebebasan kepada setiap negara pantai untuk menentukan garis pangkal yang akan digunakan untuk menetapkan batas wilayah perairan negaranya. Hal yang perlu ditentukan sebelum menentukan garis pangkal suatu negara adalah terlebih dahulu menentukan titik-titik dasar yang digunakan sebagai dasar dalam menentukan garis pangkal yang akan digunakan. Nantinya, garis pangkal yang telah ditentukan oleh suatu negara harus dicantumkan dalam peta skala besar resmi suatu negara pantai atau diberikan dalam bentuk koordinat geografis yang selanjutnya diumumkan secara resmi serta diserahkan salinannya kepada Sekretaris Jenderal PBB. Macam-macam garis pangkal bagi suatu negara pantai dapat dilihat pada Gambar I.4.
Gambar I.4. Macam-macam garis pangkal
(Arsana 2007)
Gambar I.4 merupakan macam-macam garis pangkal yang terdapat dalam aturan UNCLOS. Huruf A pada gambar untuk menyatakan Negara A, sedangkan huruf B untuk menyatakan Negara B. Terdapat dua negara yang memiliki karakteristik garis pantai yang berbeda. Karakteristik garis pantai yang berbeda menyebabkan garis pangkal yang digunakan Negara A dan Negara B berbeda. Negara A menggunakan beberapa macam garis pangkal karena memiliki bentuk garis pantai yang tidak beraturan dan juga terdapat teluk, karang, dan sungai yang menuju ke laut, sedangkan Negara B menggunakan garis pangkal kepulauan karena negara tersebut tersusun atas pulau-pulau. Definisi macam-macam garis pangkal dijelaskan sebagai berikut (UNCLOS):
a. Garis Pangkal Normal (Normal Baseline)
Garis pangkal normal didefinisikan sebagai garis air rendah (the low-water) sepanjang muka laut yang mengikuti bentuk alami pantai di sekeliling benua, pulau, batas terluar dari pelabuhan permanen, atau batu karang yang muncul,
Legenda
Daratan Laut
dan terumbu karang sekitar pulau. Garis pangkal normal ini ditetapkan pada peta laut skala besar yang ditetapkan pada negara pantai. Ketentuan tentang garis pangkal normal dapat dilihat pada Pasal 5 UNCLOS. Ilustrasi Garis Pangkal Normal terlihat pada Gambar I.4 dengan penunjuk normal. Garis pangkalnya mengikuti bentuk alami garis pantai.
b. Garis Pangkal Lurus (Straight Baseline)
Garis pangkal lurus adalah garis yang terdiri atas segmen-segmen lurus menghubungkan titik-titik tertentu yang memenuhi syarat (TALOS, 2006). Syaratnya antara lain, jika garis pantai benar-benar menikung dan memotong ke dalam atau bergerigi (deeply indented and cut into), atau jika terdapat pulau tepi (fringing island) di sepanjang pantai yang tersebar tepat di sekitar (immediate vicinity) garis pantai, hal ini sesuai dengan aturan Pasal 7 UNCLOS. Ilustrasi Garis Pangkal Lurus terlihat pada Gambar I.4 dengan penunjuk straight. Garis pangkal ini adalah penyederhanaan dari garis pantai yang tidak beraturan.
c. Garis Pangkal Penutup Sungai (Mouth of Rivers)
Garis pangkal yang menutup mulut sungai dapat dilakukan jika terdapat aliran sungai langsung menuju laut. Ditutup dengan sebuah garis lurus yang merupakan satu kesatuan sistem garis pangkal. Garis pangkal ini bisa memotong garis lurus muara sungai antara titik pada garis air rendah (Pasal 9 UNCLOS). Ilustrasi garis pangkal normal terlihat pada Gambar I.4 dengan penunjuk straight yang beratri Garis Pangkal Lurus. Garis pangkal ini adalah penyederhanaan dari garis pantai yang tidak beraturan.
d. Garis Pangkal Penutup Teluk (Bay)
Teluk adalah bagian laut yang secara jelas teramati menjorok ke daratan yang jarak masuknya dan lebar mulut teluknua memenuhi perbandingan tertentu, bukan hanya lekukan pantai biasa. Suatu lekukan pantai dianggap sebagai teluk, jika luas lekukan tersebut sama atau lebih luas dari setengah lingkaran yang diameternya melintasi mulut lekukan tersebut. Garis pangkal dibuat
dengan menarik garis lurus antara titik-titik pada garis air rendah di pintu masuk alamiah (mulut) suatu teluk yang panjangnya tidak lebih dari 24 mil laut. Apabila melebihi 24 mil laut, maka suatu garis lurus yang panjangnya 24 mil laut ditarik sehingga menutup suatu daerah perairan yang maksimal dicapai oleh garis tersebut (Pasal 10 UNCLOS). Namun, hal ini tidak berlaku pada teluk yang disebut sebagai teluk bersejarah (historic bays). Ilustrasinya dapat dilihat pada Gambar I.5.
Gambar I.5. Garis pangkal lurus yang menutup
mulut teluk
(Arsana 2007)
e. Garis pangkal kepulaun (Archipelagic Baseline)
Garis pangkal ini, yang hanya bisa dimilki oleh negara kepulaun, dengan menghubungkan titik-titik pulau terluar suatu negara dan karang
kepulauan dengan jarak maksimal tiap segmen garis 100 mil laut kecuali 3% dari total segmen garis pangkal kepulauan yang panjangnya bisa mencapai 125 mil laut. Tidak ada batasan jumlah segmen garis pangkal yang bisa digunakan. Jika panjang suatu segmen garis pangkal lebih dari 100 mil laut maka harus diputuskan untuk mengurangi panjang garis pangkal dengan menambah titik pangkal baru sehingga panjang segmen
garis pangkal kurang dari 100 mil laut (Pasal 47 UNCLOS). Ilustrasi garis pangkal kepulauan dapat dilihat pada Gambar I.6.
Gambar I.6. Garis pangkal kepulauan (IHO 2014)
I.7.3.5. Garis Pangkal Indonesia dan Filipina Indonesia dan Filipina merupakan negara yang tersusun atas ribuan pulau, baik pulau besar maupun pulau kecil. Garis pangkal yang digunakan keduanya adalah Garis Pangkal Kepulauan. Syarat suatu negara dapat menggunakan garis pangkal kepulauan dapat dilihat pada Pasal 47 UNCLOS. Garis Pangkal Kepulauan pada dasarnya disusun atas garis pangkal normal dan lurus, dapat dilihat pada Gambar I.7.
Titik pangkal kepulauan kedua negara terletak di wilayah negara terluarnya, dapat terletak di pulau terluar ataupun karang. Garis yang menghubungkan titik-titik pangkal kepulauan disebut Garis Pangkal Kepulauan.
Gambar I.7. Persebaran titik pangkal kepulauan
Indonesia (dimodifikasi dari basemap ArcGIS
online)
Sementara itu, gambar persebaran titik pangkal Filipina dapat dilihat pada Gambar I.8.
Legenda
Gambar I.8. Persebaran titik pangkal kepulauan
Filipina
(dimodifikasi dari basemap ArcGIS online)
I.7.3.6. Sistem Koordinat Koordinat suatu titik biasanya dinyatakan dengan koordinat 2D (dua dimensi) maupun 3D (tiga dimensi) yang mengacu pada suatu sistem koordinat tertentu.
Sistem koordinat itu sendiri didefinisikan dengan parameter sebagai berikut: a. Lokasi titik nol dari sistem koordinat
b. Orientasi dari sumbu-sumbu koordinat
c. Paramater-parameter (kartesian, kurvilinier) yang digunakan untuk mendefinisikan posisi sutu titik dalam sistem koordinat tersebut.
Posisi 2D dan 3D umumnya dinyatakan dalam (φ, λ) maupun dalam sistem tertentu (X, Y) seperti sistem referensi koordinat polieder, transverse merkator, maupun UTM (Universal Transverse Mercator). Sistem referensi koordinat atau sering juga disebut sistem koordinat digunakan agar suatu koordinat konsisten dan
Legenda
standar. Realisasi dari sistem referensi koordinat dinamakan kerangka referensi koordinat.
Sebelum menentukan sistem referensi koordinat, terlebih dahulu ditentukan bidang datum yang digunakan. Bidang datum adalah bidang yang akan digunakan untuk memproyeksikan titik-titik yang diketahui koordinat geografis atau koordinat geodetiknya (φ, λ) (Prihandito 2010). Dalam hal ini φ = lintang (latitude) dan λ = bujur (longitude).
Dalam penetapan datum harus memperhatikan hal-hal sebagai berikut (Kahar 2008):
a. Menetapkan elipsoid putaran sebagai bidang acuan hitungan geodetik dengan menetapkan setengah sumbu panjang a dan penggepengan f b. Menentukan koordinat awal (φ, λ, h)
c. Menentukan azimuth dari titik datum ke titik jaringan geodetik lainnya d. Mengukur jarak dari titik datum ke titik jaringan geodetik lainnya.
Ada dua cara untuk menentukan datum dengan cara tradisional yaitu dengan menggunakan dua datum terdiri dari datum vertikal dan datum horizontal dan dengan cara modern yang berdasarkan pada beberapa titik yang sudah terdefinisi. Datum Vertikal digunakan sebagai acuan untuk arah vertikal (ketinggian). Sedangkan datum horizontal digunakan sebagai referensi untuk posisi arah X dan Y yang didefinisikan dengan menggunakan ellipsoid yang mendekati harga geoid dan titik asal.
Setelah penentuan datum, koordinat dapat diproyeksikan di bidang proyeksi. Bidang proyeksi adalah bidang yang akan digunakan untuk memproyeksikan titik-titik yang mempunyai sistem koordinat (X,Y) (Prihandito 2010). Dalam hal ini X = absis dan Y = ordinat. Koordinat yang doproyeksikan di bidang proyeksi mengikuti aturan sistem referensi koordinat tertentu. Sistem referensi koordinat adalah sistem (termasuk teori, konsep, deskripsi fisis serta standar, dan parameter) yang digunakan dalam pendefinisian koordinat dari suatu atau beberapa titik dalam ruang.
Salah satu proyeksi yang sering digunakan dalam batas maritim adalah Proyeksi Merkator. Proyeksi merkator adalah proyeksi permukaan bumi dengan bidang proyeksi yang digunakan berupa silinder, dan posisi sumbu simetri berimpit dengan sumbu bumi (normal). Meredian bumi tergambar sebagai garis lurus yang
berjarak sama sedangkan paralel tergambar sebagai garis lurus yang memiliki jarak makin pendek bila mendekati ekuator. Hal ini disebabkan silinder menyinggung permukaan bumi (tangent) di ekuator. Semakin menjauhi ekuator, distorsi/perubahan-perubahan semakin besar, dengan demikian kutub tidak dapat tergambarkan karena letaknya tak terhingga. Garis grid dalam proyeksi merkator dinyatakan dalam kilometer sebenarnya (Prihandito 2010).
I.7.4. Metode Delimitasi Batas Maritim
Delimitasi batas maritim antara kedua negara atau lebih harus dilakukan jika terjadi tumpang tindih klaim maritim (Yuniar 2014). Aturan yang digunakan dalam delimitasi batas maritim adalah aturan-aturan hukum internasional. UNCLOS merupakan aturan hukum internasional bagi sebuah negara pantai untuk melakukan deimitasi batas maritim dengan negara yang berbatasan.
Dalam delimitasi batas maritim, ada beberapa metode yang biasanya digunakan untuk menentukan garis batas maritim, metode-metode tersebut antara lain (IHO 2006 dan IHO 2014):
I.7.4.1. Garis Ekuidistan Garis ekuidistan (Equidistance Line) atau garis tengah (Median Line) adalah metode penentuan batas maritim dengan menggunakan dua garis yang memiliki jarak sama dari garis pangkal masing-masing negara. Ilustrasi delimitasi batas maritim dengan garis ekuidistan dapat dilihat
Gambar I.9. Garis ekuidistan untuk negara
berhadapan (IHO 2006)
Gambar I.10. Garis ekuidistan untuk negara
berdampingan (IHO 2014)
Garis ekuidistan yang dapat diterapkan dalam delimitasi batas maritim antara kedua negara atau lebih yaitu garis ekuidistan murni, ekuidistan yang disederhanakan dan ekuidistan yang dimodifikasi. Garis ekuidistan murni dihasilkan dengan menarik garis dari titik pangkal terdekat antar kedua negara, kemudian membaginya sama panjang dan dilakukan sepanjang bentuk geometri negara (Yuniar 2014). Garis ekudistan yang disederhanakan dihasilkan dari metode penarikan garis ekuidistan murni dengan pengurangan titik beloknya. Sedangkan, garis ekuidistan yang dimodifikasi berkaitan dengan efek parsial.
I.7.4.2. Efek Parsial Efek parsial adalah efek yang diberikan pada garis batas maritim yang telah dibuat konstruksinya dengan garis ekuidistan murni. Efek parsial ini dapat berupa bobot nol (Nil Effect), bobot setengah penuh (Half Effect) atau bobot penuh (Full Effect) dari sebuah fitur maritim yang dapat mengubah garis ekuidistan murni sesuai dengan kesepakatan kedua negara. Ilustrasi pemberian efek parsial (nol, setengah, dan penuh) dapat dilihat pada Gambar I.11.
Gambar I.11. Efek Parsial (IHO 2014)
I.8.7.3. Enklaf Pada kasus delimitasi batas maritim, terkadang terdapat sebuah pulau yang keberadaanya jauh dari pulau utama (mainland) tetapi lebih dekat dengan negara lainnya. Enklaf (Enclave) adalah memberikan suatu wilayah maritim terhadap suatu pulau yang berada jauh dari pulau utamanya. Terdapat dua jenis enklaf yaitu semi
enclave dan full enclave. Semi enclave ataupun full enclave ditentukan oleh kedua negara yang berbatasan. Ilustrasinya dapat dilihat pada Gambar I.12.
Gambar I.12. Enklaf (IHO 2014)
I.7.4.4. Proporsional Delimitasi batas maritim yang dilakukan antar kedua negara dapat dilakukan dengan penarikan garis ekuidistan murni, enklaf di beberapa pulau, dan juga dengan efek parsial yang dilakukan di suatu fitur maritim. Proporsional adalah proporsi atau presentasi yang akan diberikan dari ketiganya yang
mempengaruhi garis batas maritim antar kedua negara tersebut. Ilustrasinya dapat dilihat pada Gambar I.13.
Gambar I.13. Proporsional (IHO 2014)
I.7.5. Pendekatan Tiga Tahap (Three-Stage Approach)
Pendekatan Tiga Tahap adalah metode baru yang dilakukan dalam penyelesaian batas maritim. Metode Pendekatan Tiga Tahap digunakan oleh Mahkamah Internasional (ICJ) dan International Tribunal Law of The Sea (ITLOS) dalam menetapkan batas Zona Ekonomi Eksklusif dan Landas Kontinen untuk penyelesaian sengketa-sengketa batas maritim yang ditangani. Secara umum, tiga tahapan yang dilakukan yaitu:
b. Memodifikasi garis ekuidistan sementara dengan sebelumnya menentukan faktor-faktor yang berpengaruh
c. Uji disproporsionalitas pada hasil yang diperoleh dengan membandingkan panjang pantai relevan dan luas Zona Ekonomi Eksklusif yang diperoleh masing-masing negara dari delimitasi.
Three-Stage Approach digunakan pertama kali pada penyelesaian sengketa antara Rumania dan Ukraina. Secara umum proses delimitasi batas maritim diawali dengan penentuan pantai relevan dan area relevan. Pantai relevan digunakan untuk menentukan titik-titik pangkal yang tepat untuk kemudian digunakan dalam garis pangkal yang akan digunakan dalam pembentukan garis ekuidistan. Area relevan dapat ditentukan setelah diketahui pantai relevan, untuk mengetahui wilayah yang menjadi area delimitasi batas maritim. Penentuan pantai relevan dan area relevan akan digunakan dalam Uji disproporsional pada tahap akhir delimitasi batas maritim.
Metode delimitasi Three-Stage Approach meliputi tiga tahapan, yaitu: 1. Konstruksi garis batas sementara
Penentuan garis batas sementara dilakukan dengan metode bisektor sehingga didapat garis ekuidistan sementara dengan mempertimbangkan titik pangkal masing-masing negara. Metode bisektor adalah konstruksi garis ekuidistan dengan memperhatikan jarak dan sudut yang sama.
2. Modifikasi garis batas sementara
Modifikasi garis batas sementara dilakukan karena terdapat faktor-faktor relevan yang mempengaruhi suatu garis batas. Pada keputusan Mahkamah Internasional yang sudah ditetapkan untuk beberapa kasus sengketa batas maritim, faktor relevan yang berpengaruh dapat berupa keberadaan fitur maritim seperti pulau, panjang pantai dari masing-masing negara, maupun kemudahan transportasi di wilayah tersebut.
3. Uji Disproporsionalitas
Uji disproporsionalitas adalah tahap ketiga dalam metode Pendekatan Tiga Tahap (Three-Stage Approach). Uji disproporsionalitas dapat juga disebut Uji Keadilan atau Tes Keadilan. Pada tahapan ini panjang pantai relevan masing-masing negara dan luas wilayah maritim yang sudah didapatkan dari delimitasi
dibandingkan. Uji disproporsionalitas digunakan untuk memastikan bahwa garis batas maritim yang dihasilkan pada tahap-tahap sebelumnya adil dan tidak melanggar asas proporsionalitas, terutama pada perbandingan pantai relevan dan area hasil delimitasi. Uji disproporsionalitas dapat memberi perubahan pada garis batas maritim yang dihasilkan, namun bisa juga tidak memberi pengaruh apapun jika pada kasus tersebut perbandingan pantai relevan dan area hasil delimitasi tidak signifikan. Signifikan yang dimaksudkan dapat dilihat pada subbab I.7.7.
I.7.6. Dasar Hukum Penentuan Delimitasi Batas Zona Ekonomi Eksklusif
1. Undang-undang Nomor 37 Tahun 1999 tentang Hubungan Luar Negeri 2. Undang-undang Nomor 5 Tahun 1983 tentang Zona Ekonomi Eksklusif
Indonesia
3. Undang-Undang RI Nomor 17 Tahun 1985 tentang Pengesahan UNCLOS (Konvensi PBB tentang Hukum Laut)
4. Undang-undang Nomor 43 Tahun 2008 tentang Batas Wilayah Negara Indonesia
5. Undang-undang Nomor 32 Tahun 2014 tentang Kelautan
I.7.7. Signifikan
Istilah signifikan yang digunakan dalam penelitian ini tidak mengacu kepada parameter atau hasil proses statistik. Signifikan atau tidak signifikan, dalam hal ini, mengacu kepada keputusan-keputusan hakim terdahulu atau yurisprudensi dari International Court of Justice (ICJ) dan International Tribunal Law of The Sea (ITLOS). Hasil keputusan dari ICJ dan ITLOS dijadikan acuan karena keduanya menggunakan metode Pendekatan Tiga Tahap (Three-Stage Approach) dalam penyelesaian sengketa batas maritim antarnegara.
Sengketa batas maritim antara Ukraina dan Romania diselesaikan oleh ICJ pada tahun 2009 (ICJ 2009). Dari yurisprudensi pada kasus tersebut, diketahui perbandingan dari garis pangkal dan area relevan kedua negara tidak mengubah garis
batas sementara yang dibuat oleh ICJ karena dianggap tidak ada perbedaan yang signifikan. Garis batas sementara dibuat dengan metode garis ekuidistan atau prinsip sama jarak. Perbandingan dari garis pangkal Romania dan Ukraina adalah 1:1,28 lebih panjang Ukraina yaitu 705 km. Sedangkan, untuk perbandingan area relavan kedua negara adalah 1,2:1 lebih luas Romania.
Sengketa batas maritim di Teluk Benggala antara Bangladesh dan Myanmar diselesaikan oleh ITLOS pada tahun 2012 (ITLOS 2012). Dari yurisprudensi pada kasus tersebut, diketahui bahwa area relevan dalam delimitasi tersebut seluas 283.471 km2. Setelah mengetahui area relevan dari delimitasi, ITLOS mengecek signifikan atau tidak signifikan perbandingan dari garis pangkal dan luas area relevan masing-masing negara dari garis batas sementara yang telah dibuat. Garis pangkal relevan Bangladesh yaitu sepanjang 423 km, sedangkan Myanmar yaitu sepanjag 587 km. Perbandingan dari garis pangkal relevan kedua nagera adalah 1:1,42 untuk Myanmar. Area relevan yang didapat Bangladesh seluas 111.631 km2 dan Myanmar seluas 171.832 km2. Perbandingan dari luas area relevan kedua negara adalah 1:1,54 untuk Myanmar. Dengan perbedaan dan perbandingan terhadap garis pangkal relevan dan luas area relevan, ITLOS tidak melakukan perubahan terhadap garis batas sementara dikarenakan perbedaan yang ada tidak signifikan dan tetap menganut prinsip solusi adil dalam delimitasi batas maritim sesuai UNCLOS Pasal 83.
I.7.8. Caris LOTS
Caris Law of The Sea (LOTS) adalah perangkat lunak yang digunakan untuk membuat konstruksi garis batas maritim yang telah disesuaikan dengan aturan Konvensi Hukum Laut Internasional (UNCLOS). Caris LOTS dapat digunakan untuk melakukan beberapa fungsi yaitu (Caris 2015):
1. Klaim Landas Kontinen Ekstensi
Pada kategori ini, Caris LOTS dapat digunakan untuk desktop study klaim Landas Kontinen Ekstensi yang dilakukan oleh sebuah negara. Perhitungan foot of continental slope dan perhitungan teknis pasal 76 UNCLOS juga dapat dilakukan dengan menggunakan Caris LOTS.
Beberapa aplikasi terkait dengan batas maritim negara adalah aplikasi negosiasi batas maritim yang lengkap, meliputi pembuatan, analisis, dan menghasilkan solusi untuk permasalahan batas.
3. Global digital data
Caris LOTS dilengkapi dengan data global berformat digital yang dapat digunakan pada aplikasi hukum laut yang berguna untuk menjadi referensi visual dalam pembuatan batas maritim antarnegara.
4. Aplikasi hukum laut
Untuk pekerjaan terkait aplikasi hukum laut, Caris LOTS dapat melakukan pekerjaan-pekerjaan pemetaan dari proses editing sampai dengan pencetakan, juga transformasi geometrik ekspor data.
5. Aplikasi khusus lainnya
Beberapa aplikasi khusus yang didukung oleh Caris LOTS adalah analisis data seismik, tools perencanaan survei, dan managemen garis pangkal Laut Teritorial.
I.8. Hipotesis
Metode Pendekatan Tiga Tahap (Three-Stage Approach) sudah digunakan dalam delimitasi batas maritim dalam sengketa batas maritim Rumania dan Ukraina (2009) dan sengketa batas maritim di Teluk Benggala (2012), serta kajian delimitasi batas maritim pada tahun 2012 dan 2013 yang dilakukan oleh Yuniar dan Arsana. Penelitian ini akan menerapkan metode Pendekatan Tiga Tahap (Three-Stage Approach) untuk delimitasi batas Zona Ekonomi Eksklusif antara Indonesia dan Filipina. Selain itu, garis batas ZEE yang dibuat dengan metode Pendekatan Tiga Tahap akan dibandingkan dengan garis batas ZEE yang telah disepakati oleh kedua negara pada Mei 2014. Hasil dari penerapan metode Pendekatan Tiga Tahap (Three-Stage Approach) dalam penelitian ini diduga akan menghasilkan perbedaan bentuk garis batas dan perbedaan luas ZEE yang tidak signifikan dengan hasil dari perundingan bilateral kedua negara.