• Tidak ada hasil yang ditemukan

Volume20,No.1EdisiJuni2020

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "Volume20,No.1EdisiJuni2020"

Copied!
11
0
0

Teks penuh

(1)
(2)

Jurnal Matematika & Ilmu Pengetahuan Alam ISSN 1829-751X

1 Analisis Model Pembelajaran Inkuiri Terbimbing Dengan Teknik Scaffolding Dalam Meningkatkan Pemahaman Konsep Fisika Siswa I Wayan Sukarjita

1-12 2 Analisis Miskonsepsi Tentang Benda Terapung Dalam Fluida Pada

Buku Ajar IPA SMP Fakhruddin

13-17 3 Perubahan Kualitas Minyak Kelapa Murni, Minyak Kelapa

Tradisional, dan Minyak Goreng Kemasan Selama Penggorengan Berulang

Jasman1), Nenabu, D.A.L2), Dan Sudirman3)

18-23

4 Karakter Keasaman Katalis Ni-Mo/Nb2o5-Zaaf Dan Aktivitas Desulfurisasi Pada Proses Hydrocracking Aspal Buton

Kasimir Sarifudin

24-31 5 Menumbuhkan Kesadaran Lingkungan Melalui Pendidikan Biologi

Sri Sumiyati 32-38

6 Penerapan Pembelajaran Kontekstual Berbasis Hands On Activity Untuk Meningkatkan Hasil Belajar Fisika Siswa Kelas XI SMA N 5 Kupang

Yusniati Muh Yusuf 1), I Wayan Sukarjita 2)

39-48

7 Isolasi Senyawa Fenolik Dan Uji Aktivitas Antibakteri Ekstrak Etanol Buah Terong Ungu (Solanum Melongena L.) Terhadap Bakteri Escherichia Coli

Eirene E. L. Sailan1), Lolita A. M. Parera2), Jasman3)

49-56

8 Penerapan Model Pembelajaran Project Based Learning (PjBL) Untuk Meningkatkan Hasil Belajar Dan Kreativitas Peserta Didik Kelas XI MIPA Pada Materi Fluida (Pembuatan Air Mancur Sederhana)

Marsi D. S. Bani

57-65

9 Penerapan Problem Solving Dengan Game Pohon Pengetahuan Untuk Meningkatkan Aktivitas Dan Hasil Belajar Siswa

Paulus Taek

66-70 10 Strategi Belajar Bahasa Inggris Berdasarkan Studi Kasus Untuk

Meningkatkan Kemampuan ‘Speaking’ Siswa Kelas XI IA 2 SMA Kristen Mercusuar Kupang

Soleman Dapa Taka

71-76

11 Implementasi Penilaian Berbentuk Portofolio Terhadap Hasil Belajar Siswa Pada Mata Pelajaran Pkn Di Kelas X SMA

Semuel Sabat

77-86 12 Penerapan Model Pembelajaran Discovery Learning Dengan Media

Animasi Untuk Meningkatkan Pemahaman Konsep Fisika Peserta Didik

Amiruddin Supu

(3)

Jurnal Matematika & Ilmu Pengetahuan Alam

13 Penerapan Tutor Sebaya Untuk Meningkatkan Hasil Belajar Fisika Siswa

Antonius Suban Hali

93-98 14 Penerapan Model Pembelajaran Kooperatif Tipe Jigsaw Untuk

Meningkatkan Keaktifan Belajar Siswa Kelas XI IPS 3 SMA Negeri 6 Kupang

Soleman Bully

99-105

15 Penerapan Pembelajaran STAD Untuk Meningkatkan Prestasi Dan Aktivitas Belajar Mahasiswa Pada Mata Kuliah Sumber Daya Manusia Soleman D. Nub Uf

106-111 16 Pemanfaatan Lingkungan Sebagai Media Pembelajaran Untuk

Meningkatkan Prestasi Belajar Bahasa Inggris Siswa Kelas XI IPA 2 SMA Negeri 3 Kupang

Yanpitherzon Liunokas

112-116

117-121

18 Peningkatan Keaktifan Dan Hasil Belajar Melalui Metode Time Token Siswa Kelas XI IPS 2 SMA Negeri 6 Kupang

Leonard Lobo

122-129 19 Peningkatan Kedisplinan Guru Melalui Teknik Individual Conference

Pada Guru SDI Oesapa Kecil 1 Kota Kupang Marthen Boboy

130-136

Diterbitkan oleh

Jurusan Pendidikan Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam

Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan

Universitas Nusa Cendana

ISSN 1829-751X

17 Meningkatkan Hasil Belajar Kewarganegaraan Siswa Melalui Penerapan Model Pembelajaran Think Pair Share Berbasis Keterampilan Berpikir Kritis Pada Siswa Kelas XI IPS SMA Negeri 6 Kupang

(4)

PENASEHAT : Dr. Malkisedek Taneo, M.Si. (Dekan FKIP Undana Kupang) DEWAN REDAKSI

Ketua

Bendahara : : Dr. Moses Kopong Tokan, M.Si. Yusniati, S. Si.,M. Pd.

DEWAN PENELAAH : : : : : Dr. Paul Taek, M.S.

(Pendidikan Biologi P MIPA FKIP Undana Kupang) Dr. Amiruddin Supu, S.Pd., M.Si.

(Pendidikan Fisika P MIPA FKIP Undana Kupang) Drs. Fakhruddin, M.Si.

(Pendidikan Fisika P MIPA FKIP Undana Kupang) Dr. Siprianus S. Garak, M.Sc.

(Pendidikan Matematika P MIPA FKIP Undana Kupang) Sudirman, S.Pd., M.Pd.

(Pendidikan Kimia FKIP Undana Kupang) EDITOR & LAYOUT : Marsi D. S. Bani, S. Pd., M .Si.

PENERBIT : Jurusan P MIPA FKIP Undana, Kampus Baru Penfui Jl. Adisucipto Penfui Kupang – NTT

Tlp (0380)881369

e-mail : [email protected] REKENING BANK : Rekening Bank BNI Capem Undana

No. Rek. 229.001044308.901,a.n Christine K . Ekowati TERBIT : Juni dan Desember, edisi khusus diantara Juni dan

Desember

Jurnal Matematika & Ilmu Pengetahuan Alam ISSN 1829-751X

(5)

32

MENUMBUHKAN KESADARAN LINGKUNGAN MELALUI PENDIDIKAN BIOLOGI Sri Sumiyati

Dosen Prodi Pendidikan Biologi FKIP UNDANA e-mail: [email protected]

Abstrak

Lingkungan dan manusia merupakan dua unsur yang saling terkait dan tak terpisahkan. Adanya bencana lingkungan hidup karena diakibatkan dari peran manusia dalam pembangunan yang tidak berwawasan lingkungan. Manusia hanya memikirkan cara untuk dapat memenuhi kebutuhan hidupnya tanpa memikirkan akibat yang ditimbulkan dari perbuatannya. Keadaan seperti ini perlu disadari oleh masyarakat Indonesia, khususnya mereka yang mempelajari biologi semenjak SD sampai Perguruan Tinggi. Untuk itu perlu ditumbuhkan kesadaran lingkungan, salah satu di antaranya adalah melalui pendidikan biologi. Pendidikan biologi dalam menumbuhkan kesadaran lingkungan dapat dilaksanakan di setiap jenjang pendidikan dengan menggunakan pendekatan pembelajaran biologi di kelas. Pembelajaran biologi di setiap jenjang pendidikan yang ada memberikan kesadaran untuk peduli terhadap lingkungan, maka manusia di Republik ini akan bertanggungjawab terhadap lingkungan, sehingga sumber daya alam yang ada dapat dimanfaatkan untuk kemakmuran masyarakat bangsa dan negara, secara bijaksana, agar berdaya guna dan berhasil guna, baik untuk generasi sekarang maupun yang akan datang.

Kata kunci: kesadaran lingkungan, pendidikan biologi PENDAHULUAN

Lingkungan dan manusia merupakan dua unsur yang saling terkait dan tak terpisahkan. Untuk mempertahankan hidupnya, manusia akan selalu berhubungan dengan lingkungannya, baik lingkungan sosial maupun lingkungan fisik. Dengan terjadinya kerusakan lingkungan pada saat ini, menjadikan banyaknya bencana yang terjadi dalam kehidupan manusia. Adanya bencana lingkungan hidup seperti kajadian kebakaran hutan, banjir dan tanah longsor yang tak terkendali terjadi dari tahun ke tahun, hal ini mengakibatkan sumber daya alam di Indonesia dari waktu ke waktu mengalami penurunan, bahkan ada yang mengalami kerusakan akibat pemanfaatan sumber daya yang tidak terkendali, kondisi seperti ini membawa dampak pada sektor pertanian sehingga sektor ini tidak mampu lagi memenuhi kebutuhan pangan. Hal ini tidak lepas atau karena

diakibatkan dari peran manusia dalam pembangunan yang tidak berwawasan lingkungan. Manusia hanya memikirkan cara untuk dapat memenuhi kebutuhan hidupnya tanpa memikirkan akibat yang ditimbulkan dari perbuatannya. Keadaan seperti ini perlu disadari oleh masyarakat Indonesia, khususnya mereka yang mempelajari biologi semenjak SD sampai Perguruan Tinggi.

Tidak setiap orang memiliki kesadaran untuk menanggulangi kerusakan yang ada sehingga lingkungan ini tidak dapat terjamin kelestariannya. Mereka juga tidak mengerti besarnya manfaat dan peran lingkungan dalam proses kehidupan. Untuk itu perlu ditumbuhkan kesadaran lingkungan, salah satu di antaranya adalah melalui pendidikan biologi. Walaupun membutuhkan proses yang lama dan kerja keras, pendidik diharapkan untuk dapat mengajarkan dan mengajak peserta didik bersama-sama

Jurnal Matematika & Ilmu Pengetahuan Alam

(6)

Media Sains, Volume 20 No 1 Edisi Juni 2020 ISSN 1829-751X

33 menjaga lingkungannya sejak usia dini agar

kelak keadaan lingkungan ini menjadi lebih baik.

Menurut Soemarwoto (2004), inti permasalahan lingkungan hidup adalah hubungan makhluk hidup khususnya manusia dengan lingkungan hidupnya. Ilmu tentang hubungan timbal balik makhluk hidup dengan lingkungannya disebut ekologi. Karena itu, permasalahan lingkungan hidup pada hakekatnya adalah permasalahan ekologi. Makhluk hidup yang mempunyai akal dan nalar adalah manusia, jadi penyebab masalah lingkungan adalah manusia yang memiliki sifat anthroposentris. Manusia perlu meiliki etika lingkungan yang benar untuk hidup dengan lingkungannya, dengan kata lain semua masalah lingkungan yang ada sekarang bersumber dari perilaku manusia. Karena itu, yang menderita akibat rusaknya lingkungan adalah manusia itu sendiri. Jadi manusia yang perlu diperbaiki dan bukan lingkungannya, untuk itu yang paling penting dilakukan adalah “menyadarkan manusia” agar mengetahui bahwa manusia tidak bisa hidup tanpa lingkungannya.

Institusi pengajaran melalui pendidikan formal merupakan cara yang paling tepat membangkitkan kesadaran dan kecintaan orang banyak terhadap lingkungan hidup. Biologi berkaitan dengan cara mencari tahu dan memahami tentang alam secara sistematis, sehingga biologi bukan hanya penguasaan kumpulan pengetahuan yang berupa fakta-fakta, konsep-konsep, prinsip-prinsip saja tetapi juga merupakan suatu proses penemuan. Pendidikan Biologi diharapkan dapat menjadi wahana bagi siswa untuk mempelajari dirinya sendiri dan alam sekitarnya.

Biologi merupakan salah satu ilmu pengetahuan yang unik karena obyek yang dipelajari adalah makhluk hidup dan lingkungan alam yang mempengaruhi kelangsungan hidupnya. Setiap makhluk hidup memiliki sifat, tingkah laku dan kebiasaan yang selalu mengalami perubahan sejalan dengan perubahan situasi dan kondisi lingkungan tempat hidupnya. Manusia, sebagai makhluk hidup paling sempurna, berperan sangat besar terhadap proses terjadinya perubahan lingkungan. Hal ini tercermin dari adanya kerusakan lingkungan yang setiap saat terus bertambah sejalan dengan semakin bervariasinya kebutuhan umat

manusia. Salah satu cara untuk mencegahnya adalah dengan upaya peningkatan kesadaran manusia terhadap kelestarian lingkungan tempat hidupnya. Upaya ini akan lebih nampak hasilnya apabila diawali sedini mungkin melalui Proses Belajar Mengajar (PBM ) di kelas.

Mempersiapkan sumber daya manusia yang berkualitas berarti memberdayakan manusia seutuhnya, yaitu segi fisik dan cara berpikirnya, mereka seyogianya kritis dan memiliki kesadaran akan pentingnya melestarikan fungsi lingkungan untuk keperluan generasi mereka dan generasi yang akan datang dalam mengelola sumber daya alam hayati.

Berdasarkan uraian tersebut di atas, tulisan ini bertujuan untuk mengkaji kompetensi dasar biologi, pendidikan biologi dan menumbuhkan kesadaran lingkungan melalui pendidikan biologi. Tulisan ini bermanfaat bagi pengajar biologi dalam menumbuhkan kesadaran lingkungan bagi siswanya.

PENGKAJIAN

a) Kompetensi Dasar Biologi

Pada masa kini, biologi mencakup bidang akademik yang sangat luas, bersentuhan dengan bidang-bidang sains yang lain, dan sering kali dipandang sebagai ilmu yang mandiri. Namun, percabangan biologi selalu mengikuti tiga dimensi yang saling tegak lurus yaitu:

keanekaragaman (berdasarkan kelompok

organisme), organisasi kehidupan (taraf kajian dari sistem kehidupan), dan

interaksi (hubungan antarunit kehidupan

serta antara unit kehidupan dengan lingkungannya).

Obyek kajian biologi pada masa kini sangat luas dan mencakup semua makhluk hidup dalam berbagai aspek kehidupannya. Karenanya, dikenal berbagai cabang biologi yang mengkhususkan diri pada setiap kelompok organisme seperti mikrobiologi, zoologi, dan botani. Berbagai aspek kehidupan dikaji, (a) Ciri-ciri fisik dipelajari dalam anatomi, sedang fungsinya dalam fisiologi; (b) Perilaku dipelajari dalam etologi, baik pada masa sekarang dan masa lalu (dipelajari dalam biologi evolusioner dan paleobiologi); (c) Bagaimana makhluk hidup tercipta

(7)

Media Sains, Volume 20 No 1 Edisi Juni 2020 ISSN 1829-751X

34 dipelajari dalam evolusi; (d) Mekanisme

pewarisan sifat yang berguna dalam upaya menjaga kelangsungan hidup suatu jenis makhluk hidup dipelajari dalam genetika: (e) Interaksi antarsesama makhluk dan dengan alam sekitar mereka dipelajari dalam ekologi.

Manusia sebagaimana makhluk lainnya memiliki keterkaitan dan ketergantungan terhadap alam dan lingkungannya. Namun demikian, pada akhir-akhir ini, manusia justru semakin aktif mengambil langkah-langkah yang merusak, atau bahkan menghancurkan lingkungan hidupnya. Hampir setiap hari terjadi hal-hal yang menyedihkan tentang kerusakan alam yang timbul pada sumber air, gunung, laut, atau bahkan udara. Bencana lumpur lapindo yang tak kunjung usai, banjir di Jakarta, jatuhnya Adam Air, demam berdarah, flu burung, kekeringan, Hama belalang kembara (Locusta

migratoria) yang mengepung sentra-sentra

produksi padi, jagung dan sorgum di Kabupaten Sumba Timur NTT, dan sebagainya yang selalu menghiasi berita di televisi maupun di koran-koran (Sumber: Kompas 31 Juli 2004).

Pemanfaatan alam lingkungan secara serampangan dan tanpa aturan telah dimulai sejak manusia memiliki kemampuan lebih besar dalam menguasai alam lingkungannya. Dengan mengeksploitasi alam, manusia menikmati kemakmuran hidup yang lebih banyak. Namun sayangnya, seiring dengan kemajuan ilmu dan teknologi, alam lingkungan malah dieksploitasi sedemikian rupa sehingga menimbulkan kerusakan yang dahsyat.

Kerusakan alam yang ditimbulkan oleh manusia bersumber dari bagaimana cara pandang manusia terhadap alam lingkungannya. Dalam pandangan manusia yang oportunis, alam dianggap sebagai barang dagangan yang dapat menguntungkan dan manusia secara bebas dapat melakukan apa saja terhadap alam. Menurutnya, alam dapat dimanfaatkan semaksimal mungkin untuk memenuhi kesenangan manusia. Sebaliknya, bagi manusia yang religius akan menyadari adanya keterkaitan antara dirinya dan alam lingkungan. Manusia seperti ini akan memandang alam sebagai sahabatnya yang

tidak bisa dieksploitasi secara sewenang-wenang.

Prinsip-prinsip pengelolaan lingkungan pada hakekatnya mensyaratkan perubahan perilaku manusia dalam kaitan dengan pemanfaatan sumberdaya alam, dalam konteks mengusahakan perubahan perilaku ini peranserta masyarakat menjadi penting. Kurangnya pengetahuan akan Biologi atau kurangnya sikap yang bijaksana dalam mengeksploitasi sumber daya alam, dapat mengancam keseimbangan dan kelestarian alam kita sendiri di masa datang. Berbekal pengetahuan Biologi kita akan mengetahui bagaimana mengelola sumber-sumber daya alam tersebut secara bijaksana, agar berdaya guna dan berhasil guna, baik untuk generasi sekarang maupun yang akan datang.

Kajian Biologi sangatlah luas dan beragam, mencakup segala sesuatu mengenai peri kehidupan makhluk hidup, mulai dari lingkup yang paling kecil yaitu tingkat molekuler hingga lingkup bioma di permukaan bumi. Setelah mempelajari Biologi, diharapkan siswa tidak lagi menganggap Biologi sebagai pelajaran hafalan, tetapi sebagai pelajaran yang dapat membangun intelektual serta memperluas wawasannya. Sedangkan tujuan kajian biologi adalah : (a) Meningkatkan kesadaran akan kelestarian lingkungan; (b) Kebanggaan nasional dan kebesaran serta kekuasaan Tuhan Yang Maha Esa; (c) Memahami konsep-konsep biologi dan saling keterkaitannya; (d) Mengembangkan daya penalaran untuk memecahkan masalah yang dihadapi dalam kehidupan sehari-hari; (e) Mengembangkan keterampilan dasar biologi untuk memperoleh konsep-konsep biologi dan menumbuhkan nilai serta sikap ilmiah; (f) Menerapkan konsep dan prinsip biologi untuk menghasilkan karya teknologi sederhana yang berkaitan dengan kebutuhan manusia; (g) Memberikan bekal pengetahuan dasar untuk melanjutkan ke jenjang selanjutnya (Tjan Kiaw Nio, dkk 2001)

Selanjutnya sebagai contoh kompetensi umum biologi (di SMU) adalah kompetensi yang harus dikuasai melalui proses pendidikan biologi ( Tjan Kiaw Nio, dkk 2001) yaitu:(a) Melakukan

(8)

Media Sains, Volume 20 No 1 Edisi Juni 2020 ISSN 1829-751X

35 kerja ilmiah untuk mendapatkan sikap dan

nilai ilmiah; (b) Mengaplikasikan konsep klasifikasi untuk mengklasifikasikan organisme, mendeskripsikan adanya keanekaragaman hayati untuk menghargai keteraturan pola dan keanekaragaman hayati Indonesia dan mengaplikasikan konsep genetika dan evolusi untuk memahami keanekaragaman hayati untuk menghargai keteraturan pola dan keanekaragaman hayati Indonesia dan mengaplikasikan konsep genetika dan evolusi untuk memahami keanekaragaman hayati dunia; (c) Berdasarkan percobaan/kegiatan ilmiah memahami struktur seluler dan metabolisme sel serta mengaitkan struktur dan fungsi pada hewan dan tumbuhan; (d) Dengan pemahaman mengenai ekologi, mempunyai sikap mencintai dan menjaga kelestarian lingkungan; (e) Memahami aplikasi biologi dalam bidang bioteknologi modern.

Proses pendidikan memberikan kontribusi dalam pembentukan pribadi yang berbudi pekerti luhur melalui jalur sekolah. Oleh karena itu, sekolah melalui guru mata pelajaran, termasuk guru biologi dituntut agar dapat berperan untuk mengembangkan dan menanamkan sikap ke arah pembentukan budi pekerti yang luhur atau akhlak mulia.

b) Pendekatan Pendidikan Biologi

Tilaar (1990) menekankan pentingnya peranan pendidikan dalam membangun masa depan. Pendidikan yang seimbang antara kebutuhan lahiriah dan kebutuhan lahiriah menjadi tujuan pendidikan nasional. Pendidikan diarahkan kepada terwujudnya manusia Indonesia yang sadar berada dalam lingkungannya dan mengenali lingkungannya. Kesadaran akan lingkungan berarti sadar akan lingkungan vertikal dan lingkungan horizontal. Manusia Indonesia seutuhnya tidak lebur dalam lingkungannya, tetapi bertanggung jawab terhadap lingkungannya, terhadap alam sekitarnya dan terhadap Penciptanya. Dia menguasai dunia sekitarnya, sekaligus menjadi pemelihara. Baginya ilmu pengetahuan dan teknologi bukanlah tujuan, melainkan alat atau wahana.

Jika bekal untuk mengembangkan potensi dirinya dapat ditransfer melalui pendidikan, maka pendidikan biologi

mempunyai peluang yang sangat besar dan sangat tepat untuk mencapai hal tersebut. Berpikir biologi (bernalar verbal) dalam berbagai bentuk dapat dikembangkan melalui pembelajaran biologi yang sesuai dengan karakteristik materinya. Misalnya berpikir klasifikasi melalui sistematik, berpikir sibernatik melalui fisiologi, berpikir probabilitas melalui genetika, berpikir "antiseptik" melalui mikrobiologi. Bekal berpikir semacam itu akan sangat diperlukan bagi generasi muda Indonesia untuk berkompetisi dengan generasi muda negara lain dalam era globalisasi.

Kurikulum berbasis kompetensi mungkin merupakan salah satu alternatif dalam menjawab tantangan perkembangan ilmu dan teknologi. Khusus untuk biologi sejak SD hingga SMA diupayakan ada bekerja ilmiah yang terdiri dari sejumlah keterampilan proses yang perlu dikuasai untuk kemudian diaplikasikan pada pembelajaran konsep. Berpikir melalui biologi, dan mendidik melalui biologi diharapkan dapat menghasilkan manusia Indonesia seutuhnya.

Biologi merupakan wahana untuk meningkatkan pengetahuan, keterampilan, sikap, dan nilai. Biologi juga merupakan wadah untuk membangun warga negara yang memperhatikan lingkungan serta bertanggungjawab kepada masyarakat, bangsa, dan negara disamping beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa. Biologi berkaitan dengan cara mencari tahu dan memahami alam secara sistematis, sehingga biologi bukan hanya penguasaan kumpulan pengetahuan yang berupa fakta-fakta, konsep-konsep, prinsip-prinsip saja tetapi juga merupakan suatu proses penemuan. Pendidikan Biologi diharapkan dapat menjadi wahana bagi siswa untuk mempelajari dirinya sendiri dan alam sekitarnya.

Pendidikan Biologi menekankan pada pemberian pengalaman secara langsung, karena itu, siswa perlu dibantu untuk mengembangkan sejumlah keterampilan proses supaya mereka mampu menjelajahi dan memahami alam sekitar. Keterampilan proses ini meliputi keterampilan mengamati dengan seluruh indera, mengajukan hipotesis, menggunakan alat dan bahan secara benar dengan selalu mempertimbangkan keselamatan kerja,

(9)

Media Sains, Volume 20 No 1 Edisi Juni 2020 ISSN 1829-751X

36

mengajukan pertanyaan, menggolongkan, menafsirkan data dan mengkomunikasikan hasil temuan secara beragam, menggali dan memilah informasi faktual yang relevan untuk menguji gagasan-gagasan atau memecahkan masalah sehari-hari. Di samping itu kemungkinan untuk mengembangkan teknologi relevan dari konsep-konsep biologi yang dipelajari sangat dianjurkan dalam kegiatan pembelajaran. Dengan demikian, siswa dapat merasakan manfaat pembelajaran biologi tersebut bagi diri serta masyarakatnya.

Gagasan ‘belajar sains termasuk biologi yang tidak sekedar belajar sederetan fakta’ sudah lama dicanangkan dan secara eksplisit dikenalkan sejak kurikulum 1975 di ‘launching’. Ini berimplikasi pada strategi pengajaran IPA, dengan bergesernya orientasi “telling

science” ke orientasi “doing science”

(Rustaman, 2004). Salah satu alasan perubahan orientasi ini adalah kehendak kuat agar ‘outcome lulusan’ memiliki kinerja sinergis hasil interpenetrasi (proses kait-mengkait) ketiga ranah kemampuan:

“cognitive-affective-psychomotor”.

Kemampuan afektif yang dikembangkan dalam sains adalah sikap ilmiah yang lazim dikenal dengan ‘scientific attitude’ (Rustaman, 2004).

c) Menumbuhkan Kesadaran Lingkungan

Neolaka (2008), hasil penelitian teoritik tentang kesadaran lingkungan hidup, menyatakan bahwa kesadaran adalah keadaan tergugahnya jiwa terhadap sesuatu, dalam hal ini terhadap lingkungan hidup, dan dapat terlihat pada perilaku dan tindakan masing-masing individu. Kesadaran Lingkungan ialah pengertian yang mendalam pada diri seseorang atau sekelompok orang yang terwujud dalam pemikiran, sikap, dan tingkah laku yang mendukung pengembangan lingkungan, sehinnga individu tersebut akan menjaga dan melestarikan lingkungan tempat ia berada atau tempat ia tinggal. Dalam pelaksanaan, kesadaran terhadap lingkungan tidak begitu saja tumbuh dalam masyarakat, melainkan harus ditanamkan melalui beberapa cara yang salah satu di antaranya adalah melalui pendidikan biologi.

Walaupun diharapkan agar setiap orang peduli akan lingkungan, namun kenyataannya masih banyak angota masyarakat yang belum sadar akan makna lingkungan itu sendiri, untuk membangun sebuah kesadaran diperlukan rangkaian tiga hal yang saling mendukung, yaitu : (a) pengetahuan, (b) sikap dan (c) perilaku (Harun, 2009). Selanjutnya dikatakan bahwa peningkatan kesadaran lingkungan dapat dilakukan melalui berbagai cara antara lain: Pendidikan biologi dalam arti memberi arahan pada sistem nilai dan sikap hidup untuk mampu memelihara keseimbangan antara pemenuhan ke-pentingan pribadi, keke-pentingan lingkungan sosial, dan kepentingan alam. Serta, memiliki solidaritas sosial dan solidaritas alam yang besar mengingat tindakan pribadi berpengaruh kepada lingkungan sosial dan lingkungan alam.

Proses pendidikan memberikan kontribusi dalam pembentukan pribadi yang berbudi pekerti luhur melalui jalur sekolah. Oleh karena itu, sekolah melalui guru mata pelajaran, termasuk guru biologi dituntut agar dapat berperan untuk mengembangkan dan menanamkan sikap ke arah pembentukan budi pekerti yang luhur atau akhlak mulia (Rustaman, 2000). Pemikiran, sikap dan tingkah laku peduli terhadap lingkungan ditanamkam melalui proses belajar. Penanaman pemikiran sikap dan tingkah laku ini dilakukan dengan berulang-ulang dengan konteks yang berbeda agar tidak terjadi suatu pengulangan materi dan disertai dengan bukti hasil perlakuan manusia terhadap lingkungannya, sehingga siswa sebagai penerima materi biologi akan merasa memiliki kewajiban untuk memelihara lingkungan agar tidak berakibat buruk terhadap manusia lain. Sikap demikian seperti yang dikemukanan oleh Allport dalam Sears (1988), ialah “keadaan mental dan syaraf dari kesiapan

yang diatur melalui pengalaman yang memberikan pengaruh dinamik atau terarah terhadap respon individu pada semua objek dan situasi yang berkaitan dengannya”. Sikap peduli terhadap

lingkungan akan muncul apabila ada motivasi. Motivasi akan muncul dengan hadirnya minat dan perhatian terhadap adanya bukti-bukti yang jelas dari

(10)

Media Sains, Volume 20 No 1 Edisi Juni 2020 ISSN 1829-751X

37 perlakuan manusia terhadap lingkungan,

setelah siswa melihat, mendengar, mengamati bukti tersebut, baik dalam bentuk gambar, maupun pengalaman pengajaran di luar kelas.

Lingkup, keluasan dan kedalaman materi biologi sekolah terdapat di dalam garis-garis besar program pengajaran (GBPP) masing-masing kurikulum yang berlaku pada masanya. Keterkaitan antara konsep dan proses biologi di dalam kurikulum biologi tidak selalu jelas eksplisit. Biologi sebagai salah satu disiplin dalam IPA memiliki proses yang dikenal dengan metode ilmiah. Keterkaitan antara konsep dan proses di dalam GBPP biasanya terdapat dalam bagian pendahuluan dan bagian program pengajaran, khususnya dalam rumusan tujuan. Tujuan kurikuler dalam bagian pendahuluan memuat tujuan kurikulum bidang studi tertentu yang harus dicapai sesuai dengan tingkat jenjangnya, sedangkan di dalam bagian program pengajaran rumusan tujuan instruksional atau tujuan pembelajaran mengandung konsep dan proses (Rustaman, 2000). Maka guru sebagai pendidik dituntut kreatif dalam mengolah materi pelajaran dengan memasukkan unsur-unsur lingkungan ke dalamnya, sedangkan untuk menumbuhkan kesadaran akan pentingnya keseimbangan lingkungan pada siswa dapat dilakukan melalui pengajaran biologi di luar kelas, dengan membawa siswa ke tempat-tempat yang berhubungan dengan hasil perlakuan buruk manusia terhadap lingkungan. Jika hal ini tidak dapat dilakukan, maka guru dapat memberikan tugas-tugas pada siswa untuk membuat kliping yang berhubungan dengan kerusakan lingkungan, eksploitasi sumber daya alam yang berlebihan, bencana alam yang diakibatkan oleh adanya kerusakan lingkungan. Untuk mengetahui hasil penanaman sikap, dapat dilakukan test yang paling sederhana, seperti essay dan siswa menjawab secara ideal dalam menghadapi kerusakan lingkungan dan pengukuran skala sikap.

Penanaman sikap juga banyak dipengaruhi oleh guru dan lingkungan sekolah sebagai tempat utama proses kegiatan belajar mengajar. Perilaku guru akan dilihat oleh siswa yang kemungkinan

akan dijadikan contoh dalam menghadapi masalah lingkungan. Oleh karena itu, guru harus hati-hati dalam bertindak dan mengajar, seperti membuang sampah sembarangan, cara berpakaian dan lain-lain. Keadaan di dalam kelas yang bersih sebelum guru mengajar akan memberikan semangat untuk belajar, karena kelas merupakan contoh yang paling awal dalam menanamkan kesadaran akan kepedulian lingkungan. Dengan demikian, motivasi kesadaran terhadap lingkungan akan muncul dari keadaan lingkungan sendiri, karena motivasi merupakan segi dinamis untuk mencapai tujuan, yaitu peduli terhadap lingkungan, maka guru mutlak untuk mengembangkan motivasi terhadap lingkungan dari masing-masing siswanya.

Pengajaran biologi yang diberikan di kelas berdasarkan GBPP tidak akan cukup untuk membentuk kesadaran terhadap lingkungan apabila tidak disertai dengan kesediaan dan kecenderungan untuk bertindak sesuai dengan pengetahuan biologi. Oleh karenanya, tugas guru biologi tidak saja menyampaikan aspek kognitif dari materi pelajaran, namun juga aspek afektif, sehingga dapat membentuk sikap peduli terhadap lingkungan. Usaha ini merupakan jalan membentuk individu yang bertanggungjawab atas keseimbangan lingkungan, yang dimulai dari lingkungan yang terdekat.

Pembelajaran biologi di setiap jenjang pendidikan dapat mengenalkan dan memberi pemahaman bahwa biologi bukan mata pelajaran yang semata-mata ilmu pengetahuan berdasarkan buku dan kegiatan motorik belaka, tetapi dapat membangkitkan motivasi untuk peduli terhadap lingkungan pada setiap orang yang mempelajarinya. Menanamkan sikap peduli terhadap lingkungan bukanlah hal yang mudah, tetapi dengan melibatkan siswa sebagai bagian dari lingkungan serta berperan dalam ekosistem, diharapkan akan tumbuh kesadaran terhadap lingkungan, sehingga siswa dapat menyadari setiap perbuatannya terhadap lingkungan sebagai pemelihara lingkungan.

Keuntungan bila siswa sadar lingkungan adalah berpikir jauh kedepan, cara berpikir siswa dapat menghubungkan berbagai hal, bukan hanya aspek teknologi

(11)

Media Sains, Volume 20 No 1 Edisi Juni 2020 ISSN 1829-751X

38 saja. Karena implementasi lingkungan

hidup biasanya harus dilakukan tidak sendirian, maka wahana ini dapat membangun kebiasaan untuk bekerjasama sehingga sangat baik dalam persiapan generasi untuk era penuh perubahan ini, serta memahami cara hidup bersama dibumi ini sehingga diharapkan menjadi lulusan yang siap dalam era globalisasi dalam aspek lingkungan hidup. Lebih mudah untuk menegakkan hukum lingkungan, sehingga akan mendukung kemakmuran generasi yang akan datang.

PENUTUP

Kesadaran lingkungan yang telah tertanam pada mereka yang telah mempelajari biologi di setiap jenjang pendidikan, diharapkan dapat membangkitkan motivasi untuk bersikap peduli terhadap lingkungan

sehingga dapat memperkecil kerusakan lingkungan, dan sumber daya alam yang ada dapat dimanfaatkan untuk kemakmuran masyarakat bangsa dan negara, secara bijaksana, agar berdaya guna dan berhasil guna, baik untuk generasi sekarang maupun yang akan datang.

Untuk memelihara dan menjaga lingkungan, banyak faktor yang perlu disertakan selain melalui pendidikan biologi dengan pendekatan kelingkungannya di dalam setiap jenjang pendidikan, juga masih banyak mata pelajaran lain yang materinya berhubungan dengan lingkungan. Untuk itu, perlu dintegrasikan materi-materi yang berkaitan dengan lingkungan, sehingga kesadaran lingkungan dapat ditumbuhkan, dan pada saatnya nanti diharapkan bencana alam yang terjadi setiap tahun dapat diminimalkan.

Daftar Rujukan

Harun, R.M. (2009). Peningkatan Kesadaran Lingkungan Hidup. http://www.kabarindonesia.com

………. (2004). Pendidikan Biologi dan Trend Penelitiannya. FPMIPA UPI. Jakarta

Neolaka, A. (1991). Kesadaran Lingkungan Serta Hubungannya dengan Latar Belakang Pendidikan dan Sosial Ekonomi, Analisis Teoritik didasarkan Pada Pendekatan Psikologi : Jakarta : Lemlit IKIP Jakarta.

--- (2008). Kesadaran Lingkungan. Jakarta : P.T Rineka Cipta.

Rustaman. N.Y. (2000). Arah Pendidikan Biologi Pra-Universitas Di Indonesia. Makalah disajikan pada Simposium Biologi dalam Seminar Nasional Biologi XVI dan Kongres Nasional Perhimpunan Biologi Indonesia XU di Kampus Institut Teknologi Bandung. Bandung, 25-27 Juli 2000

Soemarwoto, O. (2004). Ekologi, Lingkungan Hidup dan Pembangunan. Bandung : Djambatan Sears, David O, Jonathan L Freedman dan L Anne Peplau. Alih Bahasa oleh Michael Adryanto dan

Savitri Soekisno 1991 Psikologi Sosial, Jilid 1 dan 2. Jakarta : Erlangga.

Tilaar, H.A.R. (1990). Pendidikan Dalam Pembangunan Nasional Menyongsong Abad XXI. Jakarta: Balai Pustaka.

Tjan Kiaw Nio, dkk. (2001). Kurikulum Berbasis Kompetensi Mata Pelajaran Biologi Untuk: Sekolah Menengah Tingkat Atas. Departemen Pendidikan Nasional Badan Penelitian dan Pengembangan Pusat Kurikulum. Jakarta

Referensi

Dokumen terkait

Mengolah materi pelajaran yang diampu secara kreatif sesuai dengan tingkat perkembangan peserta did Menerapkan konsep manajemen dalam kegiatan sekolah.. 42.Mengidentifikasi

Berdasarkan perumusan lingkungan hidup di atas, mencakup di dalamnya unsur-unsur : (1) kesatuan ruang; (2) semua benda, daya, keadaan, dan makhluk hidup, termasuk di dalamnya

Khusus untuk mata pelajaran Kimia, diperlukan pendidik yang benar-benar kreatif dalam mengatur strategi pembelajarannya. Hal ini disebabkan karena banyak materi

Selain itu, yang lebih utama untuk diperhatikan oleh guru adalah unsur kreatif dalam mengajarkan materi bahasa Arab, yaitu dalam penggunaan media yang diterapkan

kompetensi dasar yang harus dikuasai siswa. Isi Materi: di dalamnya berisi materi pelajaran yang digali dari substansi materi ajar.. Informasi pendukung: di

Pengingkatan kemampuan siswa dalam menyerap suatu materi pelajaran dan upaya untuk menumbuhkan ketertarikan siswa dalam mempelajari suatu materi pelajaran khususnya

Artinya, pendidikan haruslah dilihat sebagai bagian yang utuh, yang memosisikan pendidik, materi pelajaran, metode pembelajaran yang diberikan, serta lingkungan peserta

Kegiatan pengabdian di Desa Sidodadi mengajarkan masyarakat untuk memilah sampah kemudian menumbuhkan kesadaran masyarakat untuk mengolah sampah organik maupun anorganik terutama sampah