• Tidak ada hasil yang ditemukan

PT Voksel Electric Tbk dan Entitas Anak

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "PT Voksel Electric Tbk dan Entitas Anak"

Copied!
66
0
0

Teks penuh

(1)

Laporan Keuangan Konsolidasian dan

Laporan Auditor Independen

Tahun yang Berakhir pada Tanggal-tanggal

31 Desember 2012 dan 2011

(2)

Daftar Isi

Halaman

Surat Pernyataan Direksi Laporan Auditor Independen

Laporan Posisi Keuangan Konsolidasian ……….. 1 - 2

Laporan Laba Rugi Komprehensif Konsolidasian ……… 3

Laporan Perubahan Ekuitas Konsolidasian ……….. 4

Laporan Arus Kas Konsolidasian ……… 5

Catatan atas Laporan Keuangan Konsolidasian ……….. 6 - 57

(3)
(4)
(5)

Catatan terlampir merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari

Catatan 2012 2011*)

ASET

ASET LANCAR

Kas dan setara kas 2d,2e,5 156.850.174.509 132.922.679.125

Dana yang terbatas penggunaannya 2e,6 162.364.043 206.803.784.203

Piutang usaha 2e,2s,7

Pihak ketiga

(setelah dikurangi cadangan kerugian penurunan nilai 2012: Rp8.536.342.417 dan

2011: Rp8.473.537.816) 763.562.463.001 540.308.121.442

Pihak berelasi 11.244.795.715 45.716.157.954

Piutang lain-lain 2e,8 100.188.001.023 59.992.367.012

Piutang derivatif 2e,9 12.678.543.456 23.793.980.731

Persediaan 2g,10 321.885.974.691 316.069.391.959

Pajak dibayar di muka 2m,20a 25.984.723.146 13.766.157.891

Aset lancar lainnya 11 38.060.313.256 18.004.014.956

Total Aset Lancar 1.430.617.352.840 1.357.376.655.273

ASET TIDAK LANCAR

Aset pajak tangguhan 2m,20d 6.466.872.807 7.668.130.845

Penyertaan saham 2f,13 5.000.000.000 -

Proyek dalam pelaksanaan 2u,12 11.133.269.918 3.035.350.813

Aset tetap

(setelah dikurangi akumulasi penyusutan masing-masing sebesar 2012: Rp326.676.235.364

dan 2011: Rp293.354.415.005) 2i,14 232.745.037.636 193.288.855.939

Aset tetap yang tidak digunakan dari operasi yang dihentikan (setelah dikurangi akumulasi penyusutan masing-masing sebesar 2012: Rp3.093.144.686

dan 2011: Rp3.060.525.854) 2j,15 83.603.398 116.222.230

Aset tidak lancar lainnya 16 12.032.218.872 11.553.947.137

Total Aset Tidak Lancar 267.461.002.631 215.662.506.964

TOTAL ASET 1.698.078.355.471 1.573.039.162.237

(6)

LIABILITAS DAN EKUITAS LIABILITAS JANGKA PENDEK

Utang bank 2e,17 127.060.385.578 278.283.205.689

Utang usaha 2e,2s,18

Pihak ketiga 760.181.363.300 546.951.902.491

Pihak berelasi 30.196.074.310 119.986.619.269

Utang lain-lain 2e,19 67.779.218.899 43.986.127.180

Utang pajak 2m,20b 8.943.568.259 7.608.088.058

Biaya masih harus dibayar 2e,21 4.732.267.289 8.151.101.086

Uang muka pelanggan 22 71.958.000.540 46.980.433.580

Pinjaman jangka panjang jatuh tempo dalam waktu satu tahun

- Utang sewa guna usaha 2e,2t,23,39 1.378.794.475 2.425.916.559

- Utang pembiayaan konsumen 2e,24,39 248.160.359 179.678.667

Total Liabilitas Jangka Pendek 1.072.477.833.009 1.054.553.072.579

LIABILITAS JANGKA PANJANG

Pinjaman jangka panjang - setelah dikurangi bagian jatuh tempo dalam waktu satu tahun

- Utang sewa guna usaha 2e,2t,23,39 1.410.751.427 1.632.463.173

- Utang pembiayaan konsumen 2e,24,39 167.142.151 243.080.288

Liabilitas imbalan kerja 2q,25 20.956.576.137 19.965.043.707

Total Liabilitas Jangka Panjang 22.534.469.715 21.840.587.167

TOTAL LIABILITAS 1.095.012.302.724 1.076.393.659.746

EKUITAS

Ekuitas yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk Modal saham - nilai nominal

Rp500 per saham

Modal dasar - 2.000.000.000 saham Modal ditempatkan dan disetor penuh

831.120.519 saham 26 415.560.259.500 415.560.259.500

Agio saham 940.000.000 940.000.000

Saldo laba 185.409.605.837 78.413.771.168

Cadangan lainnya 30 1.153.198.004 1.153.198.004

Jumlah ekuitas yang dapat diatribusikan kepada :

Pemilik entitas induk 603.063.063.341 496.067.228.672

Kepentingan non pengendali 2.989.406 578.273.819

Total Ekuitas 603.066.052.747 496.645.502.491

TOTAL LIABILITAS DAN EKUITAS 1.698.078.355.471 1.573.039.162.237

(7)

Catatan terlampir merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari

Catatan 2012 2011

PENJUALAN BERSIH 2k,31 2.484.172.510.398 2.014.608.187.195

BEBAN POKOK PENJUALAN 2k,32 (2.112.066.541.490) (1.711.066.779.583)

LABA KOTOR 372.105.968.908 303.541.407.613

BEBAN USAHA

Beban penjualan 2k,33 (87.177.882.872) (78.691.845.882)

Beban umum dan administrasi 2k,34 (67.689.230.985) (49.540.254.521)

Beban bunga (19.048.656.469) (20.296.966.622)

Rugi selisih kurs - bersih 2l (26.122.026.758) (5.990.939.556)

Laba atas penjualan aset tetap 8.969.964.752 8.391.285.745

Keuntungan (kerugian) atas transaksi

kontrak derivatif 6.775.840.074 (8.955.468.830)

Beban lain-lain, bersih (3.870.051.087) (7.868.954.912)

Penghasilan bunga 711.303.565 415.865.351

Beban kerugian penurunan

nilai piutang 7 - (107.777.574)

Total beban usaha (187.450.739.780) (162.645.056.800)

LABA SEBELUM PAJAK PENGHASILAN 184.655.229.128 140.896.350.813

MANFAAT (BEBAN) PAJAK PENGHASILAN

Pajak kini 2m,20c (36.433.396.800) (31.381.327.289)

Pajak tangguhan 2m,20d (1.201.258.037) 1.106.004.523

Total beban pajak penghasilan (37.634.654.837) (30.275.322.765)

LABA BERSIH 147.020.574.291 110.621.028.048

PENDAPATAN KOMPREHENSIF LAIN - -

LABA KOMPREHENSIF TAHUN BERJALAN 147.020.574.291 110.621.028.048

Laba Komprehensif yang Dapat Diatribusikan Kepada:

Pemilik entitas induk 146.894.619.622 110.546.891.727

Kepentingan non pengendali 125.954.669 74.136.321

LABA KOMPREHENSIF TAHUN

BERJALAN 147.020.574.291 110.621.028.048

LABA BERSIH YANG DAPAT DIATRIBUSIKAN KEPADA PEMILIK

ENTITAS INDUK PER SAHAM, DASAR 176,74 133,01

(8)

Kepentingan

Saldo Laba Cadangan Non Jumlah

Modal Saham Agio Saham (Rugi) Lainnya Jumlah Pengendali Ekuitas

Saldo per 31 Desember 2010 415.560.259.500 940.000.000 (32.133.120.559) 1.153.198.004 385.520.336.945 504.137.498 386.024.474.443

Laba komprehensif tahun berjalan - - 110.546.891.727 - 110.546.891.727 74.136.321 110.621.028.048

Saldo per 31 Desember 2011 415.560.259.500 940.000.000 78.413.771.168 1.153.198.004 496.067.228.672 578.273.819 496.645.502.491

Laba komprehensif tahun berjalan - - 146.894.619.622 - 146.894.619.622 125.954.669 147.020.574.291

Tambahan setoran modal anak - - - 97.000.000 97.000.000

Pengaruh perubahan ekuitas anak perusahaan - - - (803.239.082) (803.239.082)

Penyesuaian kepentingan non pengendali - - (5.000.000) - (5.000.000) 5.000.000 -

Pembayaran dividen - - (39.893.784.953) - (39.893.784.953) - (39.893.784.953)

Saldo per 31 Desember 2012 415.560.259.500 940.000.000 185.409.605.837 1.153.198.004 603.063.063.341 2.989.406 603.066.052.747

(9)

Catatan terlampir merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari ARUS KAS DARI AKTIVITAS OPERASI

Penerimaan dari pelanggan dan lainnya 3.042.312.053.493 1.859.392.342.628

Pembayaran kas kepada pemasok,

karyawan dan lainnya (2.704.862.941.639) (1.577.557.807.755)

Kas dihasilkan dari aktivitas operasi 337.449.111.854 281.834.534.872

Penerimaan dari pendapatan bunga 705.163.512 280.428.226

Penerimaan dari restitusi pajak 6.731.362.350 14.742.199.251

Pembayaran pajak - bersih (69.418.852.034) (41.168.814.606)

Pembayaran beban bunga (18.618.034.971) (20.129.710.362)

Pembayaran untuk kegiatan operasi

lainnya - bersih (152.065.239.413) (97.544.318.956)

Kas bersih diperoleh dari aktivitas

operasi 104.783.511.298 138.014.318.424

ARUS KAS DARI AKTIVITAS INVESTASI

Penjualan aset tetap 12.292.995.000 23.299.595.455

Penerimaan (penempatan) deposito

berjangka - bersih 70.000.000.000 (69.895.500.000)

Pembelian aset tetap (72.888.141.724) (9.786.545.597)

Kas bersih diperoleh dari (digunakan untuk)

aktivitas investasi 9.404.853.276 (56.382.450.142)

ARUS KAS DARI AKTIVITAS PENDANAAN

Penambahan (pembayaran) utang bank

- bersih (151.222.820.111) 121.253.969.508

Kenaikan (penurunan) dana yang terbatas

penggunaannya 136.641.420.160 (119.474.660.383)

Pembayaran utang sewa guna usaha

dan pembiayaan konsumen (3.210.703.213) (2.141.907.647)

Pembayaran dividen (39.626.427.449) -

Kas bersih digunakan untuk aktivitas

pendanaan (57.418.530.613) (362.598.522)

KENAIKAN BERSIH KAS DAN SETARA KAS 56.769.833.961 81.269.269.760

Pengaruh selisih kurs kas dan setara kas (32.842.338.577) 14.443.286.281

KAS DAN SETARA KAS AWAL TAHUN 132.922.679.125 37.210.123.084

KAS DAN SETARA KAS AKHIR TAHUN 156.850.174.509 132.922.679.125

Saldo kas dan setara kas pada akhir tahun

terdiri dari: 6 Kas 694.577.998 701.586.470 Bank 156.155.596.511 132.221.092.655 Total 156.850.174.509 132.922.679.125

(10)

a. Pendirian dan Informasi Umum

PT Voksel Electric Tbk (“Perusahaan”) didirikan di Jakarta berdasarkan akta notaris Rachmat Santoso, S.H., No. 58 tanggal 19 April 1971, pengganti notaris Ridwan Suselo, S.H. Akta pendirian tersebut telah diubah dengan akta notaris Ridwan Suselo, S.H., No. 46 dan 85 masing-masing tanggal 16 Oktober dan 20 Desember 1971. Akta pendirian dan perubahannya tersebut telah disahkan oleh Menteri Kehakiman dalam Surat Keputusan No. JA 5/219/17 tanggal 24 Desember 1971 serta diumumkan dalam Berita Negara No. 99, Tambahan No. 893 tanggal 11 Desember 1973. Pada tahun 1989, Badan Koordinasi Penanaman Modal menyetujui perubahan status Perusahaan dari Penanaman Modal Dalam Negeri(PMDN) menjadi Penanaman Modal Asing (PMA). Berdasarkan akta notaris Ny. Poerbaningsih Adi Warsito, S.H., No. 21, tanggal 17 Maret 2006, Perusahaan mengajukan perubahan anggaran dasar antara lain sehubungan dengan peningkatan modal ditempatkan dan disetor Perusahaan. Perubahan ini telah mendapat persetujuan dari Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia dalam Surat Keputusan No. C-11987.HT.01.04.TH.2006 tanggal 27 April 2006. Anggaran Dasar Perusahaan telah mengalami beberapa kali perubahan, yang terakhir adalah perubahan anggaran dasar yang disesuaikan dengan Undang-undang No. 40 Tahun 2007 tentang Perseroan Terbatas dan Peraturan Bapepam No : IX.J.1 tanggal 14 Mei 2008 tentang Pokok-pokok Anggaran Dasar Perusahaan Yang Melakukan Penawaran Umum Efek Bersifat Ekuitas dan Perusahaan Publik. Perubahan ini telah termaktub dalam akta notaris Ny. Poerbaningsih Adi Warsito, S.H., No. 31, tanggal 8 Agustus 2008 dan telah mendapat persetujuan dari Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia dalam Surat Keputusan No. AHU-88902.AH.01.02.Tahun 2008 tanggal 21 Nopember 2008.

Berdasarkan pasal 3 Anggaran Dasar Perusahaan, ruang lingkup kegiatan Perusahaan antara lain meliputi bidang usaha produksi dan distribusi kabel listrik, kabel telekomunikasi, dan kawat enamel serta peralatan listrik dan telekomunikasi. Saat ini, Perusahaan terutama bergerak dalam industri pembuatan kabel listrik, kabel telekomunikasi serta kabel fiber optik.

Perusahaan memulai kegiatan usaha komersialnya pada tahun 1973 dan berkedudukan di Jakarta dengan lokasi Pabrik di Cileungsi. Pada tanggal 14 Januari 2008, Perusahaan resmi berpindah kantor pusat dari Jalan Gajah Mada No. 199, Jakarta Barat ke Gedung Menara Karya Lantai 3 unit D, Jl. HR. Rasuna Said Blok X-5, Kav.1 - 2, Jakarta 12950.

b. Penawaran Umum Efek Perusahaan

Kebijakan/tindakan Perusahaan yang dapat mempengaruhi efek yang diterbitkan sejak tanggal penawaran umum perdana sampai dengan tanggal 31 Desember 2012, adalah sebagai berikut :

Saham yang Nilai nominal

Tanggal Kebijakan Perusahaan dicatatkan per saham

20 Desember 1990 Penawaran umum perdana dan pencatatan

terbatas 4.580.000 1.000

13 Agustus 1991 Pencatatan terbatas II (1.500.000 saham) 6.080.000 1.000

3 Juli 1992 Pencatatan perusahaan (13.920.000 saham) 20.000.000 1.000

18 Pebruari 1994 Penerbitan hak memesan efek terlebih dahulu

(6.000.000 saham) 26.000.000 1.000

22 Pebruari 1994 Saham bonus (16.000.000 saham) 2.000.000 1.000

12 Juli 1996 Saham bonus (21.000.000 saham) 63.000.000 1.000

22 Agustus 1997 Pemecahan nilai nominal saham dari Rp 1.000

per saham menjadi Rp 500 per saham 126.000.000 500

24 Mei 2006 Penambahan modal tanpa hak memesan efek

terlebih dahulu (705.120.519 saham) 831.120.519 500

(11)

c. Struktur Entitas Anak

Pada tanggal 31 Desember 2012 dan 2011, Perusahaan mempunyai pemilikan langsung pada Entitas Anak sebagai berikut :

Persentase Jumlah Aset Sebelum Kepemilikan Eliminasi Kegiatan Operasi

Entitas Anak Domisili Usaha Komersial 2012 2011 2012 2011

PT Prima Mitra Jakarta Perdagangan umum, 2004 99% 99% 91.806.917.798 75.335.440.210

Elektrindo (PT PME) pembangunan dan

jasa

PT Bangun Prima Semesta Jakarta Kontraktor 2007 98% 98% 107.090.202.918 72.035.863.854

(PT BPS) umum dan

perdagangan

PT Cendikia Global Solusi Jakarta Perdagangan 2010 99% 99% 17.668.218.581 11.277.363.401

(PT CGS) umum dan jasa

PT Anugrah Bakti Nusa Jakarta Perdagangan umum - - - -

(PT ABN) * dan jasa

*) Belum beroperasi komersial

Berdasarkan Akta Pernyataan Keputusan RUPS PT PME pada tanggal 16 Oktober 2012 No. 11 yang di setujui oleh KEMENKUMHAM No. AHU-56182.AH.01.02 Tahun 2012 pada tanggal 1 November 2012, Perusahaan melakukan penambahan setoran modal di PT PME sebesar Rp9.603.000.000, di mana setelah penyetoran tersebut, tidak mengubah persentase kepemilikan Perusahaan di PT PME.

d. Dewan Komisaris, Direksi dan Karyawan

Susunan Dewan Komisaris dan Direksi Perusahaan pada tanggal-tanggal 31 Desember 2012 dan 2011 adalah sebagai berikut :

2012 2011

Dewan Komisaris :

Presiden Komisaris : Kumhal Djamil Kumhal Djamil

Komisaris : Michael Tjandrawinata Michael Tjandrawinata

Akihisa Takizawa Akihisa Takizawa

Hardi Sasmita Hardi Sasmita

Komisaris Independen : Christianto Wibisono Christianto Wibisono

Dewan Direksi :

Presiden Direktur : Heru Gondokusumo Heru Gondokusumo

Direktur : Linda Lius Linda Lius

Fumiaki Nakajima Fumiaki Nakajima

Muliany Anwar Muliany Anwar

Tan Yong Han Masahiko Saegusa

Tan Yong Han

Paket imbalan bagi Dewan Komisaris dan Direksi Perusahaan untuk tahun-tahun yang berakhir pada tanggal 31 Desember 2012 dan 2011 masing-masing sebesar Rp11,88 milyar dan Rp5,15 milyar.

Jumlah karyawan Perusahaan rata-rata pada tanggal 31 Desember 2012 dan 2011 masing-masing sebanyak 857 dan 692 karyawan (tidak diaudit).

(12)

Kebijakan akuntansi yang signifikan yang diterapkan secara konsisten dalam penyusunan Laporan Keuangan untuk tanggal 31 Desember 2012 dan 2011 dan tahun yang berakhir pada tanggal-tanggal 31 Desember 2012 dan 2011 adalah sebagai berikut :

a. Pernyataan Kepatuhan

Laporan keuangan Perusahaan dan Entitas Anak (“Grup”) telah disusun sesuai dengan Standar Akuntansi Keuangan (SAK) di Indonesia yang diterbitkan oleh Dewan Standar Akuntansi Keuangan - Ikatan Akuntan Indonesia (IAI).

b. Dasar Penyusunan Laporan Keuangan Konsolidasian

Laporan keuangan konsolidasian telah disusun sesuai dengan Standar Akuntansi Keuangan di Indonesia (“SAK”) yang mencakup Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan (PSAK) dan Interpretasi Standar Akuntansi Keuangan (ISAK) yang dikeluarkan oleh Dewan Standar Akuntansi Keuangan Ikatan Akuntansi Indonesia serta peraturan Badan Pengawas Pasar Modal dan Lembaga Keuangan (BAPPEPAM-LK) dan otoritas jasa keuangan.

Laporan keuangan konsolidasian disusun berdasarkan konsep akrual, dan dasar pengukuran dengan menggunakan konsep harga historis, kecuali laporan arus kas konsolidasian dan beberapa akun tertentu yang disusun berdasarkan pengukuran lain sebagaimana diuraikan dalam kebijakan akuntansi masing-masing akun tersebut.

Laporan arus kas konsolidasian disusun dengan metode langsung dengan mengelompokkan arus kas atas dasar kegiatan operasi, investasi dan pendanaan. Seluruh angka dalam laporan keuangan konsolidasian disajikan dalam Rupiah, kecuali dinyatakan lain.

Transaksi–transaksi termasuk dalam laporan keuangan pada tiap entitas Perseroan diukur dengan mata uang lingkungan ekonomi utama dimana entitas beroperasi (“mata uang fungsional”).

c. Prinsip-prinsip Konsolidasian

Kebijakan akuntansi yang digunakan dalam penyusunan laporan keuangan konsolidasian telah diterapkan secara konsisten oleh Perusahaan dan Entitas Anak, kecuali dinyatakan lain.

Laporan keuangan konsolidasian meliputi laporan keuangan Entitas Anak seperti yang disebutkan pada Catatan 1c, dimana Perusahaan secara langsung, memiliki lebih dari 50% kepemilikan saham.

Semua saldo dan transaksi antar entitas yang material, termasuk keuntungan atau kerugian yang belum direalisasi, jika ada, dieliminasi untuk mencerminkan posisi keuangan dan hasil operasi Perusahaan dan Entitas Anak sebagai satu kesatuan usaha.

Entitas Anak dikonsolidasi secara penuh sejak tanggal akuisisi, yaitu tanggal Perusahaan memperoleh pengendalian, sampai dengan tanggal Entitas Induk kehilangan pengendalian. Pengendalian dianggap ada ketika Perusahaan memiliki secara langsung atau tidak langsung melalui Entitas Anak, lebih dari setengah kekuasaan suara entitas.

Rugi Entitas Anak yang tidak dimiliki secara penuh diatribusikan pada Kepentingan Non Pengendali (KNP) bahkan jika hal ini mengakibatkan KNP mempunyai saldo defisit.

(13)

c. Prinsip-prinsip Konsolidasian (lanjutan)

Jika kehilangan pengendalian atas suatu Entitas Anak, maka Perusahaan :

 menghentikan pengakuan aset (termasuk setiap goodwill) dan liabilitas entitas anak;

 menghentikan pengakuan jumlah tercatat setiap KNP;

 menghentikan pengakuan akumulasi selisih penjabaran, yang dicatat di ekuitas, bila ada;

 mengakui nilai wajar pembayaran yang diterima;

 mengakui setiap sisa investasi pada nilai wajarnya;

 mengakui setiap perbedaan yang dihasilkan sebagai keuntungan atau kerugian dalam laporan

laba rugi komprehensif; dan

 mereklasifikasi bagian induk atas komponen yang sebelumnya diakui sebagai laba komprehensif ke laporan laba rugi komprehensif, atau mengalihkan secara langsung ke saldo laba.

KNP mencerminkan bagian atas laba atau rugi dan aset neto dari Entitas Anak yang tidak dapat diatribusikan secara langsung maupun tidak langsung pada Perusahaan, yang masing-masing disajikan dalam laporan laba rugi komprehensif konsolidasian dan dalam ekuitas dalam laporan posisi keuangan konsolidasian, terpisah dari bagian yang dapat diatribusikan kepada pemilik Entitas Induk.

d. Setara Kas

Setara kas meliputi deposito yang jangka waktunya sama atau kurang dari 3 (tiga) bulan sejak tanggal penempatan dan tidak dijaminkan, kecuali setara kas yang dibatasi penggunaannya.

e. Aset dan Liabilitas Keuangan

Efektif tanggal 1 Januari 2012, Grup menerapkan PSAK No. 50 (Revisi 2010), “Instrumen Keuangan: Penyajian”, PSAK No. 55 (Revisi 2011), “Instrumen Keuangan: Pengakuan dan Pengukuran” dan PSAK No. 60, “Instrumen Keuangan: Pengungkapan”.

PSAK No. 50 direvisi sehingga hanya mengatur penyajian instrumen keuangan, sedangkan prinsip pengungkapan instrumen keuangan dipindahkan ke PSAK No. 60.

Revisi PSAK No. 55 tersebut tidak memberikan pengaruh bagi laporan keuangan konsolidasian pada saat penerapan awal, sedangkan penerapan PSAK No. 50 dan PSAK No. 60 yang direvisi tersebut memberikan pengaruh bagi pengungkapan dalam laporan keuangan konsolidasian.

(i) Aset Keuangan

Pengakuan awal

Aset keuangan dalam ruang lingkup PSAK No. 55 (Revisi 2011) diklasifikasikan sebagai aset

keuangan yang dinilai pada nilai wajar melalui laba atau rugi, pinjaman yang diberikan dan piutang, investasi yang dimiliki hingga tanggal jatuh tempo dan aset keuangan tersedia untuk dijual. Aset keuangan pada awalnya diukur pada nilai wajar, dan dalam hal aset keuangan yang tidak diukur pada nilai wajar melalui laporan laba rugi, ditambah dengan biaya transaksi yang dapat diatribusikan secara langsung.

Pembelian atau penjualan aset keuangan yang mensyaratkan penyerahan aset dalam kurun waktu yang ditetapkan oleh peraturan atau kebiasaan yang berlaku di pasar (pembelian yang lazim/regular) diakui pada tanggal perdagangan, yaitu tanggal Grup berkomitmen untuk membeli atau menjual aset tersebut.

(14)

e. Aset dan Liabilitas Keuangan (lanjutan)

(i) Aset Keuangan (lanjutan)

Pengakuan awal (lanjutan)

Grup mengklasifikasikan aset keuangannya menjadi asset keuangan yang diukur pada nilai wajar melalui laba rugi, pinjaman yang diberikan dan piutang, dan aset keuangan tersedia untuk dijual. Klasifikasi ini tergantung dari tujuan perolehan aset keuangan tersebut. Manajemen menentukan klasifikasi aset keuangan tersebut pada saat awal pengakuannya dan jika diperbolehkan dan sesuai, akan dievaluasi kembali setiap akhir tahun keuangan.

Pengukuran setelah pengakuan awal

Pengukuran aset keuangan setelah pengakuan awal tergantung pada klasifikasinya sebagai berikut:

 Aset keuangan yang diukur pada nilai wajar melalui laporan laba-rugi

Aset keuangan yang diukur pada nilai wajar melalui laporan laba-rugi adalah aset keuangan yang diperoleh untuk tujuan diperdagangkan. Aset keuangan yang diklasifikasikan dalam kelompok ini jika diperoleh terutama untuk tujuan dijual dalam jangka pendek. Derivatif juga diklasifikasikan sebagai kelompok diperdagangkan kecuali yang merupakan kontrak jaminan keuangan atau instrumen lindung nilai yang ditetapkan efektif. Keuntungan atau kerugian yang timbul dari perubahan nilai wajar dari aset

keuangan ini disajikan didalam laporan laba-rugi konsolidasian sebagai

“keuntungan/(kerugian) lain-lain - bersih” di dalam periode terjadinya. Pendapatan dividen dari aset keuangan ini diakui didalam laporan laba-rugi konsolidasian sebagai bagian dari pendapatan lain-lain pada saat ditetapkannya hak Grup untuk menerima pembayaran tersebut.

Aset keuangan yang diukur pada nilai wajar melalui laporan laba-rugi, pada awalnya diakui sebesar nilai wajar dan biaya transaksi dibebankan pada laporan laba-rugi konsolidasian, dan kemudian diukur pada nilai wajarnya.

Aset dalam kategori ini diklasifikasikan sebagai aset lancar jika diharapkan dapat direalisasikan dalam 12 bulan; sebaliknya, diklasifikasikan sebagai tidak lancar.

 Pinjaman yang diberikan dan piutang

Pinjaman yang diberikan dan piutang adalah aset keuangan non derivatif dengan pembayaran tetap atau telah ditentukan dan tidak mempunyai kuotasi di pasar aktif. Pada saat pengakuan awal, aset keuangan ini diakui pada nilai wajarnya ditambah biaya transaksi dan selanjutnya dinyatakan sebesar biaya perolehan yang diamortisasi dengan menggunakan metode suku bunga efektif. Pendapatan dari aset keuangan dalam kelompok ini disajikan sebagai pendapatan keuangan dalam laporan laba rugi komprehensif konsolidasian.

Dalam hal terjadi penurunan nilai, kerugian penurunan nilai dilaporkan sebagai pengurang dari nilai tercatat dari aset keuangan dalam kelompok pinjaman yang diberikan dan piutang dan diakui di dalam laporan laba rugi komprehensif konsolidasian.

(15)

e. Aset dan Liabilitas Keuangan (lanjutan) (i) Aset Keuangan (lanjutan)

Pengukuran setelah pengakuan awal (lanjutan)

 Aset keuangan yang tersedia untuk dijual

Aset keuangan tersedia untuk dijual adalah aset keuangan non derivatif yang ditetapkan sebagai tersedia untuk dijual atau yang tidak diklasifikasikan ke dalam dua kategori sebelumnya. Setelah pengukuran awal, aset keuangan tersedia untuk dijual diukur pada nilai wajar dengan laba atau rugi yang belum direalisasi diakui dalam ekuitas sampai investasi tersebut dihentikan pengakuannya. Pada saat itu, laba atau rugi kumulatif yang sebelumnya diakui dalam ekuitas harus direklasifikasi ke dalam laba atau rugi sebagai penyesuaian reklasifikasi.

Investasi yang diklasifikasi sebagai aset keuangan tersedia untuk dijual adalah sebagai berikut :

- Investasi pada saham yang tidak tersedia nilai wajarnya dengan kepemilikan kurang dari 20% dan investasi jangka panjang lainnya dicatat pada biaya perolehannya.

Aset keuangan diturunkan nilainya dan kerugian penurunan nilai telah terjadi, jika dan hanya jika, terdapat bukti yang obyektif mengenai penurunan nilai tersebut sebagai akibat dari satu atau lebih peristiwa yang terjadi setelah pengakuan awal aset tersebut (peristiwa yang merugikan) dan peristiwa yang merugikan tersebut berdampak pada estimasi arus kas masa depan atas aset keuangan yang dapat diestimasi secara handal.

Untuk menentukan adanya bukti obyektif bahwa rugi penurunan nilai telah terjadi atas aset keuangan, Grup mempertimbangkan faktor-faktor seperti kemungkinan adanya insolvabilitas atau kesulitan keuangan signifikan yang dialami debitur dan kelalaian atau penundaan signifikan pembayaran.

Grup pertama kali menentukan apakah terdapat bukti obyektif penurunan nilai secara individual atas aset keuangan yang secara individual signifikan atau secara kolektif untuk aset keuangan yang jumlahnya tidak signifikan secara individual.

(ii) Penurunan Nilai dari Aset Keuangan

Grup melakukan penilaian pada setiap tanggal laporan posisi keuangan apakah terdapat bukti obyektif bahwa aset keuangan mengalami penurunan nilai.

Jika Grup menentukan tidak terdapat bukti obyektif mengenai penurunan nilai atas aset keuangan yang dinilai secara individual, terlepas aset keuangan tersebut signifikan atau tidak, maka Grup memasukkan aset tersebut ke dalam kelompok aset keuangan yang memiliki karakteristik risiko kredit yang serupa dan menilai penurunan nilai kelompok tersebut secara kolektif. Aset yang penurunan nilainya dinilai secara individual dan untuk itu kerugian penurunan nilai diakui atau terus diakui, tidak termasuk dalam penilaian penurunan nilai secara kolektif.

Jumlah kerugian penurunan nilai diukur berdasarkan selisih antara nilai tercatat aset keuangan dengan nilai kini dari estimasi arus kas masa datang (tidak termasuk kerugian kredit di masa depan yang belum terjadi) yang didiskontokan menggunakan tingkat suku bunga efektif awal dari aset keuangan tersebut.

(16)

e. Aset dan Liabilitas Keuangan (lanjutan)

(ii) Penurunan Nilai dari Aset Keuangan (lanjutan)

Nilai tercatat aset tersebut dikurangi melalui akun cadangan penurunan nilai dan jumlah kerugian diakui pada laporan laba rugi komprehensif konsolidasian. Jika pinjaman yang diberikan memiliki suku bunga variabel, maka tingkat diskonto yang digunakan adalah suku bunga efektif yang berlaku yang ditetapkan dalam kontrak.

Perhitungan nilai kini dari estimasi arus kas masa datang atas aset keuangan dengan agunan (collateralized financial asset) mencerminkan arus kas yang dapat dihasilkan dari utilisasi dari jaminan deposit yang diberikan oleh pelanggan kepada Grup.

Estimasi tahun antara terjadinya peristiwa dan teridentifikasinya kerugian ditentukan oleh manajemen untuk setiap portofolio yang diidentifikasi. Untuk tujuan evaluasi penurunan nilai secara kolektif, aset keuangan dikelompokkan berdasarkan kesamaan karakteristik risiko kredit yaitu berdasarkan jenis pelanggan.

Arus kas masa datang dari aset keuangan Grup yang penurunan nilainya dievaluasi secara kolektif, diestimasi berdasarkan arus kas kontraktual atas aset-aset di dalam kelompok tersebut dan kerugian historis yang pernah dialami atas aset-aset yang memiliki karakteristik risiko kredit yang serupa dengan karakteristik risiko kredit kelompok tersebut. Kerugian historis yang pernah dialami kemudian disesuaikan berdasarkan data terkini yang dapat diobservasi untuk mencerminkan kondisi saat ini yang tidak berpengaruh pada tahun terjadinya kerugian historis tersebut, dan untuk menghilangkan pengaruh kondisi yang ada pada tahun historis namun sudah tidak ada lagi saat ini.

Ketika piutang tidak tertagih, piutang tersebut dihapusbukukan dengan menjurnal balik cadangan kerugian penurunan nilai. Piutang tersebut dapat dihapus buku setelah semua prosedur yang diperlukan telah dilakukan dan jumlah kerugian telah ditentukan. Beban penurunan nilai yang terkait dengan piutang diklasifikasikan ke dalam “Cadangan Kerugian Penurunan Nilai”.

Jika, pada tahun berikutnya, jumlah kerugian penurunan nilai berkurang dan pengurangan tersebut dapat dikaitkan secara obyektif pada peristiwa yang terjadi setelah penurunan nilai diakui maka kerugian penurunan nilai yang sebelumnya diakui dipulihkan, dengan menyesuaikan cadangan kerugian penurunan nilai. Jumlah pemulihan aset keuangan diakui pada laporan laba rugi komprehensif konsolidasian.

Penerimaan kemudian atas piutang yang telah dihapusbukukan sebelumnya, jika pada tahun berjalan, dikreditkan pada cadangan kerugian penurunan nilai, sedangkan jika setelah tanggal laporan posisi keuangan konsolidasian, dikreditkan sebagai pendapatan operasional lainnya.

(iii) Liabilitas Keuangan

Pengakuan awal

Liabilitas keuangan dalam ruang lingkup PSAK No. 55 (Revisi 2011) diklasifikasikan sebagai liabilitas keuangan yang diukur pada nilai wajar melalui laba rugi, utang dan pinjaman. Pada tanggal laporan posisi keuangan konsolidasian, Grup hanya memiliki jenis liabilitas keuangan utang dan pinjaman. Grup menetapkan klasifikasi atas liabilitas keuangan pada saat pengakuan awal.

(17)

e. Aset dan Liabilitas Keuangan (lanjutan) (iii) Liabilitas Keuangan (lanjutan)

Pengakuan awal (lanjutan)

Liabilitas keuangan pada awalnya diukur pada nilai wajar dan, dalam hal pinjaman dan utang, ditambah biaya transaksi yang dapat diatribusikan secara langsung.

Grup mengklasifikasikan liabilitas keuangan dalam kategori liabilitas keuangan yang diukur dengan biaya perolehan diamortisasi. Liabilitas keuangan dihentikan pengakuannya ketika kewajiban yang telah ditetapkan dalam kontrak dihentikan atau dibatalkan atau kadaluwarsa.

 Liabilitas keuangan yang diukur dengan biaya perolehan diamortisasi

Liabilitas keuangan yang tidak diklasifikasikan sebagai liabilitas keuangan yang diukur pada nilai wajar melalui laba rugi dikategorikan dan diukur dengan biaya perolehan diamortisasi.

Setelah pengakuan awal, Grup mengukur seluruh liabilitas keuangan yang diukur dengan biaya perolehan diamortisasi dengan menggunakan metode suku bunga efektif.

(iv) Penentuan Nilai Wajar

Nilai wajar untuk instrumen keuangan yang diperdagangkan di pasar aktif ditentukan berdasarkan nilai pasar yang berlaku pada tanggal laporan posisi keuangan. Termasuk di dalamnya adalah nilai pasar dari IDMA (Interdealer Market Association) atau harga yang diberikan oleh broker (quoted price) dari Bloomberg dan Reuters pada tanggal laporan posisi keuangan.

Instrumen keuangan dianggap memiliki kuotasi di pasar aktif, jika harga kuotasi tersedia sewaktu-waktu dan dapat diperoleh secara rutin dari bursa, pedagang efek (dealer), perantara efek (broker), kelompok industri, badan pengawas (pricing service or regulatory

agency) dan harga tersebut mencerminkan transaksi pasar yang aktual dan rutin dalam

suatu transaksi yang wajar. Jika kriteria di atas tidak terpenuhi, maka pasar aktif dinyatakan tidak tersedia. Indikasi-indikasi dari pasar tidak aktif adalah terdapat selisih yang besar antara harga penawaran dan permintaan atau kenaikan signifikan dalam selisih harga penawaran dan permintaan dan hanya terdapat beberapa transaksi terkini.

Grup menggunakan beberapa teknik penilaian yang digunakan secara umum untuk menentukan nilai wajar dari instrumen keuangan, seperti opsi suku bunga dan swap mata uang asing. Input yang digunakan dalam teknik penilaian untuk instrumen keuangan di atas adalah data pasar yang dapat diobservasi.

Untuk instrumen yang lebih kompleks, Grup menggunakan model penilaian internal, yang pada umumnya berdasarkan teknik dan metode penilaian yang umumnya diakui sebagai standar industri.

Beberapa input dari model ini tidak berasal dari data yang dapat diobservasi di pasar dan demikian merupakan hasil estimasi berdasarkan asumsi tertentu.

Structured interest rate derivatives ditentukan menggunakan option pricing models (sebagai

(18)

e. Aset dan Liabilitas Keuangan (lanjutan) (v) Penghentian Pengakuan

Penghentian pengakuan aset keuangan dilakukan ketika hak kontraktual untuk menerima arus kas yang berasal dari aset keuangan tersebut berakhir, atau ketika aset keuangan tersebut telah dialihkan dan secara substansial seluruh risiko dan manfaat atas kepemilikan aset telah ditransfer (jika, secara substansial seluruh risiko dan manfaat tidak ditransfer, maka Grup melakukan evaluasi untuk memastikan keterlibatan berkelanjutan atas kontrol yang masih dimiliki tidak mencegah penghentian pengakuan). Liabilitas keuangan dihentikan pengakuannya ketika liabilitas yang telah ditetapkan dalam kontrak dihentikan atau dibatalkan atau kadaluwarsa.

(vi) Penyesuaian Risiko Kredit

Grup menyesuaikan harga di pasar yang lebih menguntungkan untuk mencerminkan adanya perbedaan risiko kredit pihak lawan antara instrumen yang diperdagangkan di pasar tersebut dengan instrumen yang dinilai untuk posisi aset keuangan. Dalam menentukan nilai wajar posisi liabilitas keuangan, risiko kredit Grup terkait dengan instrumen harus diperhitungkan.

(vii) Klasifikasi atas Instrumen Keuangan

Grup mengklasifikasikan instrumen keuangan ke dalam klasifikasi tertentu yang mencerminkan sifat dari informasi dan mempertimbangkan karakteristik dari instrumen keuangan tersebut. Klasifikasi ini dapat dilihat pada tabel di bawah ini.

Instrumen Keuangan Kategori yang didefinisikan oleh PSAK No. 55 (Revisi 2011) Golongan Subgolongan Aset keuangan

Aset keuangan yang diukur pada nilai

wajar melalui laporan laba rugi

Piutang derivatif Pinjaman yang

diberikan dan piutang

Kas dan setara kas

Dana yang terbatas penggunaannya Piutang usaha

Piutang lain-lain Aset keuangan

tersedia dijual Investasi jangka panjang

1) 2)

Liabilitas keuangan

Liabilitas keuangan yang diukur dengan

biaya perolehan diamortisasi

Utang bank Utang usaha Utang lain-lain

Biaya yang masih harus dibayar

Pinjaman jangka panjang jatuh tempo dalam waktu satu tahun Pinjaman jangka panjang - setelah dikurangi bagian jatuh tempo dalam

waktu satu tahun

Catatan:

1) Perusahaan memiliki investasi saham pada PT Alcarindo Prima sebesar Rp2.600.000.000 dengan persentase kepemilikan sebesar 12,85%. Perusahaan mencatat investasi tersebut dengan nilai nihil karena pengakuan penurunan nilai investasi dan sampai dengan tanggal penyelesaian laporan keuangan konsolidasian, Manajemen belum mengevaluasi kembali nilai wajar investasi tersebut.

2) Kepemilikan saham pada PT Alcas Dharma Property dicatat nihil karena Perusahaan tersebut telah menghentikan aktivitas usahanya.

(19)

e. Aset dan Liabilitas Keuangan (lanjutan) (viii) Saling Hapus Instrumen Keuangan

Aset keuangan dan liabilitas keuangan saling hapus buku dan nilai netonya disajikan dalam laporan posisi keuangan konsolidasian jika memiliki hak yang berkekuatan hukum untuk melakukan saling hapus buku atas jumlah yang telah diakui tersebut dan berniat untuk menyelesaikan secara neto atau untuk merealisasikan aset dan menyelesaikan liabilitasnya secara simultan.

f. Penyertaan saham

Penyertaan saham pada entitas dimana Grup tidak memiliki pengaruh yang signifikan dicatat sesuai dengan PSAK No. 55 (Revisi 2011).

Investasi Grup pada entitas asosiasi diukur dengan menggunakan metode ekuitas. Entitas asosiasi adalah suatu entitas di mana Grup mempunyai pengaruh signifikan. Sesuai dengan metode ekuitas, investasi pada entitas asosiasi diakui sebesar biaya perolehan pada laporan posisi keuangan konsolidasian dan yang selanjutnya disesuaikan dengan perubahan pasca perolehan dalam bagian Grup atas aset neto dari entitas asosiasi tersebut.

Laporan laba rugi komprehensif konsolidasian mencerminkan bagian atas hasil operasi dari entitas asosiasi. Bila terdapat perubahan yang diakui langsung pada ekuitas dari entitas asosiasi, Grup mengakui bagiannya atas perubahan tersebut dan mengungkapkan hal ini jika dapat dipakai, dalam laporan perubahan ekuitas konsolidasian.

Laba atau rugi yang belum direalisasi sebagai hasil dari transaksi-transaksi antara Grup dengan entitas asosiasi dieliminasi pada jumlah sesuai dengan kepentingan Grup dalam entitas asosiasi. Laporan Keuangan entitas asosiasi disusun atas tahun pelaporan yang sama dengan Grup. Grup menentukan apakah diperlukan untuk mengakui tambahan rugi penurunan nilai atas investasi Grup dalam entitas asosiasi. Grup menentukan pada setiap tanggal pelaporan apakah terdapat bukti yang obyektif yang mengindikasikan bahwa investasi dalam entitas asosiasi mengalami penurunan nilai. Dalam hal ini, Grup menghitung jumlah penurunan nilai berdasarkan selisih antara jumlah terpulihkan atas investasi dalam entitas asosiasi dan nilai tercatatnya dan mengakuinya dalam laporan laba rugi komprehensif konsolidasian.

g. Persediaan

Persediaan dinyatakan berdasarkan biaya perolehan atau nilai realisasi bersih, mana yang lebih rendah. Biaya perolehan persediaan ditentukan dengan metode rata-rata tertimbang (weighted

average method). Biaya perolehan meliputi biaya-biaya yang terjadi untuk memperoleh persediaan

(20)

g. Persediaan (lanjutan)

Cadangan keusangan/kerugian ditetapkan untuk menurunkan nilai tercatat persediaan ke nilai realisasi bersihnya.

Nilai realisasi neto adalah taksiran harga jual dalam kegiatan usaha normal setelah dikurangi dengan taksiran biaya penyelesaian dan taksiran biaya yang diperlukan untuk melaksanakan penjualan.

h. Biaya Dibayar Dimuka

Biaya dibayar dimuka diamortisasi selama masa manfaatnya.

i. Aset tetap dan Penyusutan

Efektif tanggal 1 Januari 2012, Grup menerapkan PSAK No. 16 (Revisi 2011), “Aset Tetap”. Revisi PSAK No. 16 ini juga mengatur akuntansi tanah sehingga PSAK ini juga mencabut PSAK No. 47, “Akuntansi Tanah”. ISAK No. 25 yang juga berlaku efektif pada tanggal yang sama, memberikan pedoman lebih lanjut mengenai perlakuan beberapa hak atas tanah di Indonesia beserta biaya terkait.

Aset tetap dinyatakan sebesar biaya perolehan termasuk pajak impor yang berlaku, bea masuk, biaya pengangkutan, biaya penanganan, biaya penyimpanan, biaya penyediaan lokasi, biaya pemasangan, biaya upah tenaga kerja internal, estimasi awal biaya pembongkaran, pemindahan aset tetap dan restorasi lokasi aset tetap dikurangi akumulasi penyusutan.

Penyusutan dimulai sejak aset mulai atau siap digunakan, dengan menggunakan metode saldo menurun (declining balance method) kecuali bangunan, berdasarkan estimasi masa manfaat ekonomis yang menghasilkan persentase penyusutan tahunan dari harga perolehan sebagai berikut :

Tahun

Hak atas tanah 20

Bangunan dan prasarana 20

Mesin 15-16

Instalasi listrik, peralatan dan pengangkutan 8

Perabotan dan peralatan 4-5

Hak atas tanah, termasuk biaya pengurusan legal hak yang timbul pada awal perolehan hak atas tanah, dinyatakan sebesar biaya perolehan dan tidak diamortisasi. Biaya-biaya yang terjadi sehubungan dengan pembaharuan atau perpanjangan hak atas tanah ditangguhkan dan diamortisasi selama periode hak atas tanah atau taksiran masa manfaat ekonomis tanah, mana yang lebih pendek.

(21)

i. Aset tetap dan Penyusutan (lanjutan)

Penerapan ISAK No 25 (2011) tidak memberikan pengaruh yang signifikan terhadap laporan keuangan konsolidasian.

Tanah dinyatakan sebesar biaya perolehan dan tidak disusutkan/diamortisasi.

Bila nilai tercatat suatu aset melebihi taksiran jumlah yang dapat diperoleh kembali (estimated

recoverable amount) maka nilai tersebut diturunkan ke jumlah yang dapat diperoleh kembali

tersebut, yang ditentukan sebagai nilai tertinggi antara harga jual bersih atau nilai pakai.

Jumlah tercatat aset tetap dihentikan pengakuannya pada saat dilepaskan atau saat tidak ada manfaat ekonomis masa depan yang diharapkan dari penggunaan atau pelepasannya. Laba atau rugi yang timbul dari penghentian pengakuan aset (dihitung sebagai perbedaan antara jumlah neto hasil pelepasan dan nilai tercatat dari aset) dimasukkan dalam laporan laba rugi komprehensif konsolidasian pada tahun aset tersebut dihentikan pengakuannya.

Pada setiap akhir tahun buku, nilai residu, umur manfaat dan metode penyusutan ditelaah dan jika sesuai dengan keadaan, disesuaikan secara prospektif.

Biaya-biaya setelah perolehan awal dimasukkan di dalam jumlah tercatat aset dan diakui secara terpisah, hanya jika terdapat kemungkinan besar biaya yang dikapitalisasi tersebut akan memberikan manfaat ekonomis bagi Grup dan dapat diukur secara andal.

Jumlah tercatat dari komponen yang diganti dihapuskan. Seluruh biaya pemeliharaan dan perbaikan lainnya diakui sebagai beban pada laporan laba rugi pada saat terjadinya.

j. Aset Tetap yang Tidak Digunakan dari Operasi yang dihentikan

Sesuai dengan PSAK No. 58 (Revisi 2009), aset tidak lancar dan kelompok lepasan yang diklasifikan sebagai dimiliki untuk dijual diukur pada nilai terendah antara nilai tercatat aset dan nilai wajar dikurangi dengan biaya untuk menjual. Aset tidak lancar dan kelompok lepasan diklasifikasikan sebagai dimiliki untuk dijual jika nilai tercatatnya akan dipulihkan melalui penjualan daripada melalui penggunaan aset berkelanjutan. Kondisi ini dianggap terpenuhi hanya jika transaksi penjualan dianggap sangat mungkin terjadi dan aset atau kelompok lepasan tersedia untuk segera dijual dalam kondisi sekarang. Manajemen harus berkomitmen untuk penjualan tersebut, yang diharapkan akan diakui sebagai penjualan dalam jangka waktu satu tahun sejak tanggal pengklasifikasian. Aset tetap dan aset tak terwujud pada saat diklasifikasi sebagai dimiliki untuk dijual tidak didepresiasi atau diamortisasi.

Aset tetap yang tidak digunakan dalam kegiatan usaha karena penutupan divisi dicatat sebesar nilai buku pada saat penutupan divisi tersebut terjadi. Penyusutan aset tetap yang tidak digunakan dari operasi dalam penghentian diakui pada laporan laba rugi sebagai akun “Beban Lain-lain”.

k. Pengakuan Pendapatan dan Beban

Grup menerapkan PSAK No. 23 (Revisi 2010), “Pendapatan”. PSAK revisi ini mengidentifikasi terpenuhinya kriteria pengakuan pendapatan, sehingga pendapatan dapat diakui, dan mengatur perlakuan akuntansi atas pendapatan yang timbul dari transaksi dan kejadian tertentu, serta memberikan panduan praktis dalam penerapan kriteria mengenai pengakuan pendapatan.

(22)

k. Pengakuan Pendapatan dan Beban (lanjutan)

Penjualan lokal diakui pada saat penyerahan barang kepada pelanggan, sedangkan penjualan ekspor diakui pada saat barang dikapalkan. Beban diakui pada saat terjadinya.

l. Transaksi dan Saldo dalam Mata Uang Asing

Efektif tanggal 1 Januari 2012, Grup menerapkan PSAK No. 10 (Revisi 2010), “Pengaruh Perubahan Nilai Tukar Mata Uang Asing”, yang menggambarkan bagaimana memasukkan transaksi mata uang asing dan kegiatan usaha luar negeri dalam laporan keuangan entitas dan menjabarkan laporan keuangan ke dalam mata uang penyajian. Grup mempertimbangkan indikator utama dan indikator lainnya dalam menentukan mata uang fungsionalnya. Jika ada indikator yang tercampur dan mata uang fungsional tidak jelas, manajemen menggunakan penilaian untuk menentukan mata uang fungsional yang paling tepat menggambarkan pengaruh ekonomi dari transaksi, kejadian dan kondisi yang mendasarinya.

Penerapan PSAK No. 10 (Revisi 2010) tidak memberikan pengaruh yang signifikan terhadap laporan keuangan konsolidasian.

Laporan keuangan konsolidasian disajikan dalam rupiah, yang merupakan mata uang fungsional Perusahaan dan mata uang penyajian Grup. Transaksi dalam mata uang asing dicatat dalam mata uang rupiah berdasarkan kurs tengah yang berlaku pada saat transaksi dilakukan. Pada akhir periode pelaporan, aset dan liabilitas moneter dalam mata uang asing dijabarkan ke dalam rupiah berdasarkan rata-rata kurs jual dan beli yang diterbitkan oleh Bank Indonesia pada tanggal terakhir transaksi perbankan pada periode yang bersangkutan. Laba atau rugi kurs yang timbul dikreditkan atau dibebankan pada operasi tahun berjalan.

Pada tanggal-tanggal 31 Desember 2012 dan 2011, kurs mata uang asing (dalam jumlah rupiah penuh) yang digunakan adalah sebagai berikut:

Mata Uang Asing 31 Desember 2012 31 Desember 2011

Poundsterling Inggris 15.578,86 13.969,27

Euro 12.809,86 11.738,99

Dolar Amerika Serikat 9.670,00 9.068,00

Yen Jepang 111,96 11.680,32

Dolar Singapura 7.907,12 6.974,33

Transaksi dalam mata uang lainnya tidak signifikan.

m. Pajak Penghasilan

Efektif tanggal 1 Januari 2012, Grup menerapkan PSAK No. 46 (Revisi 2010) “Pajak Penghasilan”, yang menetapkan perlakuan akuntansi untuk pajak penghasilan dalam memperhitungkan konsekuensi pajak kini dan mendatang dari pemulihan (penyelesaian) jumlah tercatat aset (liabilitas) masa depan yang diakui dalam laporan posisi keuangan konsolidasian dan transaksi dan kejadian lain dari periode kini yang diakui dalam laporan keuangan konsolidasian. PSAK revisi ini juga mensyaratkan entitas untuk mencatat kekurangan/kelebihan pembayaran pajak penghasilan beserta bunga/denda, jika ada, sebagai bagian dari “Beban Pajak Kini” dalam laporan laba rugi komprehensif konsolidasian.

(23)

m. Pajak Penghasilan (lanjutan)

Sebelum tanggal 1 Januari 2012, Grup mencatat tambahan pajak penghasilan yang berasal dari periode yang lalu yang ditetapkan dengan SKP, jika ada, dalam “Beban Operasi Lain” dalam laporan laba rugi komprehensif konsolidasian.

Penerapan PSAK No. 46 (Revisi 2010) tidak memberikan pengaruh yang signifikan terhadap laporan keuangan konsolidasian.

Pajak penghasilan kini

Aset atau liabilitas pajak penghasilan kini yang berasal dari periode berjalan dan periode sebelumnya dicatat sebesar jumlah ekspektasi direstitusi dari atau dibayarkan kepada Kantor Pajak yang besarnya ditentukan berdasarkan tarif pajak dan peraturan perpajakan yang berlaku atau secara substansial telah berlaku.

Pajak penghasilan kini yang terkait dengan transaksi yang dibebankan atau dikreditkan ke ekuitas diakui pada ekuitas. Manajemen secara periodik mengevaluasi posisi yang diambil Perusahaan sehubungan dengan situasi dimana relevan pajak terkait memerlukan interpretasi dan melakukan pencadangan jika diperlukan.

Jumlah tambahan pokok dan denda pajak yang ditetapkan dengan SKP diakui sebagai pendapatan atau beban dalam operasi periode berjalan, kecuali jika diajukan upaya penyelesaian selanjutnya. Jumlah tambahan pokok pajak dan denda yang ditetapkan dengan SKP ditangguhkan pembebanannya sepanjang memenuhi kriteria pengakuan aset.

Pajak tangguhan

Pajak tangguhan diakui dengan menggunakan metode liabilitas atas perbedaan temporer antara dasar pengenaan pajak aset dan liabilitas dan nilai tercatatnya dalam laporan keuangan pada akhir periode pelaporan.

Liabilitas pajak tangguhan diakui untuk setiap perbedaan temporer kena pajak.

Aset pajak tangguhan diakui untuk semua perbedaan temporer yang dapat dikurangkan dan rugi fiskal yang belum dikompensasi, sejauh terdapat kemungkinan besar bahwa laba kena pajak akan tersedia untuk dimanfaatkan dengan perbedaan temporer yang dapat dikurangkan dan rugi fiskal yang belum dikompensasi.

Nilai tercatat dari aset pajak tangguhan direviu pada setiap akhir periode pelaporan dan diturunkan ketika tidak lagi terdapat kemungkinan bahwa akan terdapat laba kena pajak yang memungkinkan semua atau sebagian dari aset pajak tangguhan tersebut untuk direalisasi. Penelaahan dilakukan pada setiap akhir periode pelaporan atas aset pajak tangguhan yang tidak diakui sebelumnya dan aset pajak tangguhan tersebut diakui sepanjang kemungkinan besar laba kena pajak mendatang akan tersedia sehingga aset pajak tangguhan tersebut dipulihkan.

Pajak tangguhan yang terkait dengan pos-pos yang diakui diluar laba rugi diakui diluar laba rugi. Pos pajak tangguhan diakui terkait dengan transaksi yang mendasarinya baik dalam pendapatan komprehensif lain atau langsung ke ekuitas.

Aset dan liabilitas pajak tangguhan saling hapus ketika terdapat hak yang dapat dipaksakan secara hukum untuk melakukan saling hapus aset pajak kini terhadap liabilitas pajak kini dan pajak tangguhan tersebut terkait dengan entitas kena pajak yang sama dan otoritas perpajakan yang sama.

(24)

n. Laba Per Saham

Efektif tanggal 1 Januari 2012, Grup menerapkan PSAK No. 56 (Revisi 2011), “Laba per Saham”. Penerapan PSAK No. 56 (Revisi 2011) tidak memberikan pengaruh yang signifikan terhadap laporan keuangan konsolidasian.

Laba per saham dasar dihitung dengan membagi laba bersih konsolidasian tahun berjalan dengan jumlah rata-rata tertimbang dari jumlah saham yang beredar dalam tahun berjalan.

o. Informasi Segmen

Grup menerapkan PSAK 5 (Revisi 2009): Segmen Operasi. Standar mengharuskan entitas untuk mengungkapkan informasi yang memungkinkan pengguna laporan keuangan untuk mengevaluasi sifat dan dampak keuangan dari aktivitas bisnis. Standar juga menyempurnakan definisi segmen operasi dan prosedur yang digunakan untuk mengidentifikasi dan melaporkan segmen operasi. Standar mengharuskan “pendekatan manajemen” dalam menyajikan informasi segmen menggunakan dasar yang sama seperti halnya pelaporan internal. Segmen operasi dilaporkan dengan cara yang konsisten dengan pelaporan internal yang disampaikan kepada pengambil keputusan operasional. Dalam hal ini pengambil keputusan operasional yang mengambil keputusan strategis adalah Direksi.

Untuk tujuan manajemen, grup dibagi menjadi enam segmen operasi berdasarkan produk dan jasa yang dikelola secara independen oleh masing-masing pengelola segmen yang bertanggung jawab atas kinerja dari masing-masing segmen. Para pengelola segmen melaporkan secara langsung kepada manajemen yang secara teratur mengkaji hasil operasi sebagai dasar untuk mengalokasikan sumber daya ke masing-masing segmen untuk menilai kinerja segmen. Pengungkapan tambahan masing-masing segmen terdapat dalam Catatan 37, termasuk faktor yang digunakan untuk mengidentifikasi segmen yang dilaporkan dan dasar pengukuran informasi segmen.

Aset dan liabilitas yang digunakan bersama dalam satu segmen atau lebih dialokasikan kepada setiap segmen jika, dan hanya jika, pendapatan dan beban yang terkait dengan aset tersebut juga dialokasikan kepada segmen-segmen terebut.

p. Penurunan Nilai dari Aset Non-Keuangan

Pada setiap akhir periode pelaporan, Grup melakukan pengujian untuk menentukan apakah terdapat indikasi penurunan nilai aset. Jika terdapat indikasi tersebut, maka Grup akan mengestimasi jumlah terpulihkan aset tersebut. Dalam rangka menguji penurunan nilai, aset-aset dikelompokkan hingga unit terkecil yang menghasilkan arus kas terpisah. Aset non-keuangan berupa aset tetap dan aset tidak lancar lainnya diuji untuk mengetahui apakah telah terjadi kerugian akibat penurunan nilai apabila terjadi kondisi atau perubahan yang mengindikasikan bahwa nilai tercatat aset tidak dapat diperoleh kembali secara penuh.

Jika jumlah terpulihkan (recoverable amounts) aset lebih kecil dari jumlah tercatatnya, maka jumlah tercatat aset diturunkan menjadi sebesar jumlah terpulihkan dan kerugian akibat penurunan nilai diakui segera pada laporan laba rugi berjalan. Jumlah terpulihkan adalah jumlah mana yang lebih tinggi antara nilai wajar dikurangi biaya untuk menjual atau nilai pakai aset.

(25)

q. Imbalan Kerja

Efektif 1 Januari 2012, Grup menerapkan PSAK No. 24 (Revisi 2010), “Imbalan Kerja”. Revisi PSAK ini antara lain memperbolehkan entitas untuk menerapkan metode sistematis atas pengakuan yang lebih cepat dari keuntungan/kerugian aktuaria yang timbul dari imbalan pasti, antara lain pengakuan langsung keuntungan/kerugian yang terjadi pada periode berjalan ke dalam pendapatan komprehensif lain. Grup memilih mempertahankan metode yang dipakai sebelumnya yaitu metode 10% koridor sehubungan dengan pengakuan keuntungan/kerugian aktuaria yang timbul.

Grup memberikan imbalan pasca kerja imbalan pasti untuk karyawan sesuai dengan Undang-undang Ketenagakerjaan No. 13/2003. Tidak terdapat pendanaan yang disisihkan sehubungan dengan imbalan pasca kerja ini.

Perhitungan imbalan pasca kerja menggunakan metode Projected Unit Credit. Akumulasi keuntungan atau kerugian aktuarial yang belum diakui yang melebihi 10% dari nilai kini kewajiban imbalan pasti pada awal periode pelaporan diakui dengan metode garis lurus selama rata-rata sisa masa kerja yang diperkirakan dari para pekerja dalam program tersebut. Biaya jasa lalu dibebankan langsung apabila tersebut menjadi hak atau vested, dan sebaliknya akan diakui sebagai beban dengan metode garis lurus selama periode rata-rata sampai imbalan tersebut menjadi vested.

Jumlah yang diakui sebagai kewajiban imbalan pasti di laporan posisi keuangan konsolidasian merupakan nilai kini kewajiban imbalan pasti disesuaikan dengan keuntungan atau kerugian aktuarial yang belum diakui, dan biaya jasa lalu yang belum diakui.

r. Dividen

Pembagian dividen kepada para pemegang saham Perusahaan diakui sebagai liabilitas dalam laporan keuangan konsolidasian pada periode ketika dividen tersebut disetujui oleh para pemegang saham Perusahaan.

s. Transaksi dengan Pihak-pihak Berelasi

Perusahaan dan Entitas Anak mempunyai transaksi dengan pihak berelasi. Definisi pihak berelasi sesuai dengan yang diatur dalam Peraturan BAPEPAM-LK No. VIII.G.7 tentang Penyajian dan Pengungkapan Laporan Keuangan Emiten atau Perusahaan Publik yang terdapat dalam lampiran keputusan ketua BAPEPAM-LK Nomor Kep-347/BL/2012 tanggal 25 Juni 2012.

Seluruh transaksi dan saldo yang material dengan pihak berelasi diungkapkan dalam Catatan 35 atas laporan keuangan konsolidasian.

t. Sewa

Efektif tanggal 1 Januari 2012, Grup menerapkan PSAK No. 30 (Revisi 2011), “Sewa”. Penerapan PSAK yang direvisi tersebut tidak memberikan pengaruh yang signifikan terhadap laporan keuangan konsolidasian.

(26)

t. Sewa (lanjutan)

Penentuan apakah suatu perjanjian merupakan perjanjian sewa, atau perjanjian yang mengandung sewa, didasarkan atas substansi perjanjian pada tanggal awal sewa dan apakah pemenuhan perjanjian tergantung pada penggunaan suatu aset dan perjanjian tersebut memberikan suatu hak untuk menggunakan aset tersebut. Sewa yang mengalihkan secara substansial seluruh risiko dan manfaat yang terkait dengan kepemilikan aset, diklasifikasikan sebagai sewa pembiayaan.

Dalam sewa pembiayaan, dari sudut pandang Grup sebagai lessee, Grup mengakui aset dan liabilitas dalam laporan posisi keuangan konsolidasian pada awal masa sewa, sebesar nilai wajar aset sewa pembiayaan, atau sebesar nilai kini dari pembayaran sewa minimum, jika nilai kini lebih rendah dari nilai wajar. Pembayaran sewa minimum dipisahkan antara bagian yang merupakan beban keuangan dan bagian yang merupakan pelunasan liabilitas sewa.

Beban keuangan dialokasikan ke setiap periode selama masa sewa, sehingga menghasilkan tingkat suku bunga periodik yang konstan atas saldo liabilitas yang tersisa. Beban keuangan diakui dalam laporan laba rugi komprehensif konsolidasian.

Aset sewa pembiayaan disusutkan konsisten dengan metode yang sama yang digunakan untuk aset yang dimiliki sendiri, atau disusutkan secara penuh selama jangka waktu yang lebih pendek antara periode masa sewa dan umur manfaat aset sewa pembiayaan, jika tidak ada kepastian yang memadai bahwa Grup akan mendapatkan hak kepemilikan pada akhir masa sewa.

Suatu sewa yang tidak mengalihkan secara substansial seluruh risiko dan manfaat yang terkait dengan kepemilikan aset diklasifikasikan sebagai sewa operasi. Pembayaran sewa dalam sewa operasi diakui sebagai beban dalam laporan laba rugi komprehensif konsolidasian dengan dasar garis lurus (straight-line basis) selama masa sewa.

u. Proyek Dalam Pelaksanaan

Proyek dalam pelaksanaan dinyatakan sebesar biaya perolehan termasuk biaya pinjaman yang terjadi selama masa pembangunan yang timbul dari utang yang digunakan untuk pembangunan proyek tersebut. Akumulasi biaya perolehan akan dipindahkan ke masing-masing proyek yang bersangkutan pada saat selesai dan siap dipasarkan dan akan disusutkan sesuai dengan masa manfaat pola bagi hasil.

v. Penggunaan Estimasi

Penyusunan laporan keuangan konsolidasian sesuai dengan Standar Akuntansi Keuangan di Indonesia mengharuskan manajemen untuk membuat estimasi dan asumsi yang mempengaruhi jumlah aset dan liabilitas dan pengungkapan aset dan liabilitas kontinjen pada tanggal laporan keuangan konsolidasian serta jumlah pendapatan dan beban selama tahun pelaporan. Hasil yang sebenarnya mungkin berbeda dengan jumlah yang diestimasi.

w. Penerapan standar akuntansi revisi lain

Selain standar akuntansi revisi yang telah disebutkan sebelumnya, Grup juga telah menerapkan standar akuntansi berikut pada tanggal 1 Januari 2012 yang dianggap relevan terhadap laporan keuangan konsolidasian namun tidak menimbulkan dampak yang signifikan kecuali bagi pengungkapan terkait :

(27)

w. Penerapan standar akuntansi revisi lain (lanjutan)

1. PSAK No. 13 (Revisi 2011): “Properti Investasi”

2. PSAK No. 18 (Revisi 2010): “Akuntansi dan Pelaporan Program Manfaat Purnakarya” 3. PSAK No. 26 (Revisi 2011): “Biaya Pinjaman”

4. PSAK No. 30 (Revisi 2011): “Sewa”

5. PSAK No. 34 (Revisi 2010): “Kontrak Konstruksi”

6. PSAK No. 53 (Revisi 2010): “Pembayaran Berbasis Saham”

Manajemen berpendapat penerapan standar ini tidak berdampak material terhadap laporan keuangan Grup.

PPSAK

Pencabutan standar dan interpretasi standar berikut yang penerapannya efektif untuk tahun buku yang dimulai 1 Januari 2012 tidak berdampak material terhadap kinerja dan posisi keuangan Grup :

1. PSAK No. 11, “Penjabaran Laporan Keuangan Dalam Mata Uang Asing”. 2. PSAK No. 27, “Akuntansi Koperasi”.

3. PSAK No. 29, “Akuntansi Minyak dan Gas Bumi”. 4. PSAK No. 39, “Akuntansi Kerja Sama Operasi”.

5. PSAK No. 44, “Akuntansi Aktivitas Pengembangan Real Estate”. 6. PSAK No. 52, “Mata Uang Pelaporan”.

7. ISAK No. 4, “Alternatif Perlakuan yang Diizinkan atas Selisih Kurs”.

8. ISAK No. 5, “Intepretasi atas Paragraf 14 PSAK 50 (1998) tentang Pelaporan Perubahan Nilai Wajar Investasi Efek dalam Kelompok Tersedia untuk Dijual”.

Grup sedang mengevaluasi dampak yang mungkin ditimbulkan oleh pencabutan standar tersebut. Pernyataan yang telah dikeluarkan tapi belum berlaku efektif

Standar akuntansi revisi yang relevan terhadap kegiatan operasi Grup, telah dipublikasikan dan akan efektif pada tahun 2013 adalah PSAK No. 38 - Kombinasi Bisnis Entitas Sepengendali. Grup masih mempelajari dampak yang mungkin timbul atas penerbitan standar akuntansi keuangan tersebut.

3. MANAJEMEN RISIKO KEUANGAN DAN MANAJEMEN PERMODALAN a. Manajemen Risiko Keuangan

Berbagai aktivitas Grup menyebabkan Grup memiliki risiko potensial terhadap berbagai macam risiko-risiko keuangan yaitu: risiko pasar (termasuk risiko nilai tukar mata uang asing, risiko harga dan risiko tingkat suku bunga), risiko kredit dan risiko likuiditas. Secara keseluruhan, program manajemen risiko keuangan Grup berfokus pada ketidakpastian pasar keuangan dan untuk meminimalisasi potensi kerugian yang berdampak buruk pada kinerja keuangan Grup.

Grup menggunakan instrumen keuangan derivatif seperti kontrak swap mata uang asing dan kontrak swap komoditas untuk mengantisipasi risiko-risiko yang mungkin terjadi. Manajemen Grup berpendapat transaksi derivatif Grup digunakan untuk aktivitas lindung nilai (hedging) dan tidak sebagai instrumen yang diperdagangkan atau untuk spekulasi. Direksi Grup menelaah dan menyetujui kebijakan untuk mengelola risiko-risiko yang dirangkum di bawah ini.

(28)

a. Manajemen Risiko Keuangan (lanjutan) (i) Risiko pasar

Risiko nilai tukar mata uang asing

Risiko nilai tukar mata uang asing adalah risiko dimana nilai wajar atau arus kas masa datang dari suatu instrumen keuangan akan berfluktuasi akibat perubahan nilai tukar mata uang asing. Eksposur Grup terhadap fluktuasi nilai tukar terutama berasal dari utang usaha Grup yang sebagian besar dalam Dolar Amerika Serikat.

Sebagai bagian dari usaha Grup untuk mengelola eksposur atas mata uang asing, Grup memasuki kontrak swap nilai tukar mata uang asing dengan lembaga-lembaga keuangan internasional. Sebagai hasil dari kontrak tersebut, Grup yakin bahwa Grup telah mengurangi beberapa risiko nilai tukar mata uang asing, meskipun aktivitas lindung nilai yang dilakukan oleh Grup tidak mencakup seluruh eksposur mata uang asing.

Aset dan liabilitas moneter Grup dalam mata uang asing pada tanggal 31 Desember 2012 dan 2011 disajikan pada Catatan 38.

Risiko harga

Risiko harga adalah risiko kerugian finansial yang disebabkan pergerakan harga komoditas bahan baku produksi Grup. Grup menghadapi risiko harga akibat perubahan harga dimasa yang akan datang untuk rencana pembelian aluminium dan tembaga dengan kandungan tinggi (High Concentrate Aluminum and Copper). Oleh karena itu, Grup menggunakan kontrak

komoditas berjangka (jual-beli) dengan lembaga-lembaga keuangan internasional

sehubungan dengan adanya risiko perubahan harga bahan baku tersebut. Grup yakin bahwa Grup telah mengurangi beberapa risiko perubahan harga komoditas di masa yang akan datang.

Risiko tingkat suku bunga

Risiko tingkat suku bunga adalah risiko nilai wajar atau arus kas masa depan dari instrumen keuangan yang berfluktuasi akibat perubahan tingkat suku bunga pasar. Eksposur Grup terhadap perubahan tingkat bunga pasar berhubungan dengan utang bank dan utang pembiayaan jangka pendek dan panjang. Pada saat ini Grup memiliki eksposur terutama pada utang bank dan utang pembiayaan jangka pendek dan panjang, yang berpengaruh pada pengembalian pinjaman tersebut pada saat jatuh tempo.

Tabel berikut menampilkan nilai tercatat, serta masa jatuh tempo dari aset dan liabilitas keuangan Grup yang terkena risiko suku bunga :

Suku bunga Kurang dari Lebih dari

efektif satu tahun Satu tahun Total

Aset

Kas dan setara kas 2-3 156.850.174.509 - 156.850.174.509

Dana yang terbatas

(29)

a. Manajemen Risiko Keuangan (lanjutan) (i) Risiko pasar (lanjutan)

Risiko tingkat suku bunga (lanjutan)

Suku bunga Kurang dari Lebih dari

efektif satu tahun satu tahun Total

Liabilitas

Utang bank 11 127.060.385.578 - 127.060.385.578

Pinjaman jangka panjang jatuh tempo dalam waktu satu tahun

- Utang sewa guna usaha 9,85 - 15,70 1.378.794.475 - 1.378.794.475

- Utang pembiayaan konsumen 4,99 - 6 248.160.359 - 248.160.359

Pinjaman jangka panjang - setelah dikurangi bagian jatuh tempo dalam waktu satu tahun

- Utang sewa guna usaha 9,85 - 15,70 - 1.410.751.427 1.4110.751.427

- Utang pembiayaan konsumen 4,99 - 6 - 167.142.151 167.142.151

(ii) Risiko kredit

Risiko kredit adalah risiko kerugian keuangan kepada Grup jika pelanggan gagal untuk memenuhi liabilitas sesuai kontrak, tidak ada konsentrasi atas risiko kredit yang signifikan. Grup mengelola dan mengendalikan risiko kredit dengan menetapkan batas-batas risiko yang dapat diterima bagi setiap pelanggannya dan memantau eksposur yang terkait dengan pembatasan ini.

Grup melakukan hubungan bisnis hanya dengan pihak ketiga yang memiliki reputasi dan kredibel. Grup juga mempunyai kebijakan yang mengharuskan setiap pelanggannya untuk melalui prosedur verifikasi kredit. Selain itu, jumlah piutang dipantau secara terus menerus untuk mengurangi risiko kerugian penurunan nilai.

Tabel berikut menampilkan eksposur atas aset keuangan Grup yang berhubungan dengan risiko kredit dari Grup :

2012

Konsentrasi Risiko Kredit

Eksposur

Institusi Lainnya Maksimum

Piutang usaha, bersih 774.807.258.716 - 774.807.258.716

Piutang lain-lain 100.188.001.023 - 100.188.001.023

874.995.259.739 - 874.995.259.739

Manajemen berkeyakinan bahwa seluruh aset keuangan di atas tidak ada yang mengalami penurunan nilai aset atau telah lewat dari masa jatuh tempo dalam setiap tanggal pelaporannya dan selalu memiliki kualitas kredit yang baik.

(iii) Risiko likuiditas

Risiko likuiditas adalah risiko bahwa Grup akan mengalami kesulitan dalam pencairan dana untuk memenuhi komitmen terkait dengan instrumen keuangan. Kebijakan Grup adalah untuk secara teratur memantau kebutuhan likuiditas saat ini dan masa depan untuk memastikan bahwa Grup mempunyai cadangan uang tunai yang cukup untuk memenuhi kebutuhan likuiditas dalam jangka pendek serta jangka panjang.

Gambar

Tabel  berikut  menampilkan  eksposur  atas  aset  keuangan  Grup  yang  berhubungan  dengan  risiko kredit dari Grup :

Referensi

Dokumen terkait

Tahap pengujian kode program dan sistem yang telah dibuat yaitu untuk menguji adjacency matrix dan algoritma djikstra pada Perancangan Aplikasi Rute jalan dengan

Kemudian dilakukan pembuatan model gigi.. tiruan dengan mencampurkan serbuk HA dari gigi sapi dengan mencapurkan resin, dilanjukan pengujian struktur mikro,

Cabang kekuasaan eksekutif dipimpin seorang perdana mentri atau kanselir, yang bersama-sama dengan cabinet adalah bagian dari parlemen, dipilih oleh parlemen dan setiap saat

Bertempat di kantor Sekretariat Unit Layanan Pengadaan Kabupaten Lampung Tengah, dengan jadwal kegiatan sebagai berikut : CV.

PORTAL SERTIFIKASI PENDIDIK UNTUK DOSEN TAHUN 2013 Kopertis Wilayah 03.. Kopertis Wilayah III (ptu_03) Login sebagai PT Pengusul UBAH

Seluruh asli dokumen penawaran Saudara yang telah diunggah melalui LPSE

Dalam upaya untuk pembentukan sikap dan perilaku Sumber Daya Manusia yang dimiliki oleh perusahaan sehingga mempunyai kepedulian terhadap bahaya kebakaran di tempat kerja, bersama

permasalahan hanya merujuk pada al-Qur’an saja. Lantas ia datang pada Abdullah ibn Umar dan berkata bahwa di dalam al-Qur’an dia hanya menemukan masalah.. 204 H.) dengan ditandai