• Tidak ada hasil yang ditemukan

TESIS ORANG BALI YANG LAIN Proses Saling Me-“liyan”-kan Antara Orang Nusa Penida dan Bali Daratan

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2019

Membagikan "TESIS ORANG BALI YANG LAIN Proses Saling Me-“liyan”-kan Antara Orang Nusa Penida dan Bali Daratan"

Copied!
144
0
0

Teks penuh

(1)

i

TESIS

ORANG BALI YANG LAIN

Proses Saling Me-

liyan

-kan Antara Orang Nusa Penida

dan Bali Daratan

Diajukan untuk memenuhi sebagian persyaratan guna memperoleh gelar Magister Humaniora (M.Hum) pada Program Magister Ilmu Religi dan Budaya

Disusun Oleh :

I Dewa Nyoman Ketha Sudhiatmika 06 6322 007

PROGRAM MAGISTER ILMU RELIGI DAN BUDAYA UNIVERSITAS SANATA DHARMA

(2)
(3)
(4)
(5)
(6)

vi

KATA PENGANTAR

Seorang kawan pernah berkata kalau saya hanya numpang lahir di Nusa

Penida dan memang benar demikian adanya. Saya tidak pernah benar-benar bertanah

air di pulau kecil itu, saya besar, mendapat pendidikan dan menghabiskan sebagian

besar hidup saya di Bali daratan. Akan tetapi saya tetap memiliki hubungan yang tak

terkatakan dengan Nusa Penida, saya selalu merasa kalau saya tidak pernah benar-

benar menjadi orang Bali daratan, saya selalu dan tetap orang Nusa Penida. Ketika

akhirnya saya memutuskan untuk menulis tentang Nusa Penida, saya tidak pernah

menyangka akan sampai di titik ini, di titik dimana saya menemukan banyak hal

mencengangkan dalam hubungan antara Nusa Penida dan Bali daratan.

Penelitian ini mengantarkan saya sampai ke Gedong Kirtya, Singaraja. Teks

mengenai sejarah Bali tersebar acak di tempat tersebut, mulai dari yang belum

mengalamai proses transliterasi sampai yang telah di gandakan dalam bentuk buku

sederhana. Saya menemukan sampai tiga Babad Dalem yang ditulis dengan perspektif

yang berbeda. Kesulitan pertama adalah memilah Babad Dalem versi mana yang

mesti saya gunakan. Kesulitan awal ini mengantarkan saya bertemu dengan Gus Tut

Akah yang kemudian memberikan teks Babad Usana Bali Pulina. Teks inilah yang

saya pakai sebagai teks utama untuk menyusuri sejarah Bali. Melalui Gus Tut Akah

(7)

vii sering tergabung dalam proyek alih aksara lontar dan mendapatkan banyak kisah

mengenai Bali daratan dan Nusa Penida.

Ketika saya berhasil menyelesaikan draft bab II dari tesis ini, saya diminta

untuk mempresentasikan temuan saya di Taman 65, Denpasar. Sebuah diskusi kecil

dan hangat pun terjadi. Komentar-komentar baik yang langsung mengenai tesis ini

maupun tidak secara tidak langsung mempengaruhi cara saya menulis tesis ini.

Setelah diskusi itu, seorang teman, Roro memperkenalkan saya dengan Gusti Mangku

Kebyar, seorang pemangku (pemuka agama) yang berasal dari Bedulu. Dari beliaulah

saya mendapatkan kisah mengenai raja Bedahulu sampai perubahan nama Bedahulu

menjadi Bedulu.

Dalam perjalanan menyelesaikan penelitian ini saya sempat tersandung dan

mengira tidak akan bisa menyelesaikannya tepat waktu. Tapi saya cukup beruntung

karena Dr. Budiawan sebagai pembimbing satu selalu memberi semangat dengan

sms-sms beliau yang menusuk dan membangkitkan semangat. Dalam banyak

kesempatan ketika saya tersandung, Degung Santikarma hampir selalu hadir menjadi

teman diskusi yang menyenangkan. Dan Tumm Tumm untuk sebuah alasan yang

terlalu jelas untuk disebutkan. Tidak lupa, kedua orang tua saya yang selalu ada untuk

saya dari awal (dan saya yakin) akan selalu ada untuk saya. Demikian juga Wiss,

orang yang telah menjadi sahabat, saudara dan musuh saya selama ini. Kepada orang-

(8)

viii Teman-teman selama saya di IRB: Udin, Hasan, Dona, Elida, Mba Budis, dan

Ridho, terimakasih untuk kisah pertemanan yang saya harap tak akan pernah

berakhir. Kepada mereka yang menemani saya belajar: Pak Nardi, Mba Katrin, Mba

Devi, Mas Tri, Romo Bas, Pak George, dan Romo Banar semoga masih mau

menemani saya belajar meski saya telah meninggalkan IRB serta Dr. Anton Haryono

yang telah bersedia menjadi pembimbing dua. Kawan-kawan yang menemani saya

melewati hari-hari selama di Jogja: Jicek, Tombro, Goen, Tjuan, Eat, Tatang, dan

Hendra. Saudara-saudara saya di Nusa Penida yang dengan sabar menjawab setiap

pertanyaan bodoh saya. Teman-teman sepermainan di Denpasar yang juga banyak

membantu dalam proses pengerjaan tesis ini. Kalian semua tahu betapa berartinya

kalian untuk saya.

(9)

ix

BAB II: MEMBACA ULANG SEJARAH KLUNGKUNG: Kisah-kisah Usaha Penjinakan

I. Bali Sebelum Majapahit: Kuasa Berwajah Angkara 25

II. Dari Samprangan Sampai Puputan Klungkung 34

III. Nusa Penida Versus Bali Daratan 42

BAB III: RATU GEDE MECALING DAN PRIMITIVISASI NUSA PENIDA: Anak Sakti, Masiat Kapetengan dan Ngeleak

II. Absurditas Ke-lokal-an Pasca Kolonial 93

(10)

x BAB V: KESIMPULAN

I. Kumpulan Kepentingan Hasrat 111

II. Mitos, Primitivisasi dan Pe-liyan-an 115

III. Sebuah Perulangan Yang Disepakati 117

DAFTAR PUSTAKA 121

(11)

ABSTRAK

Tesis ini mendiskusikan proses saling me-liyan-kan antara orang Nusa Penida dan orang Bali daratan. Tesis ini mencoba melihat bagaimana orang Bali daratan dan orang Nusa Penida pandang-memandang. Dengan latar belakang industri pariwisata di Bali modern, apa yang terjadi dalam aktivitas pandang-memandang tersebut.

Untuk kepentingan tersebut, tesis ini pertama-tama mengeksplorasi sejarah Bali baik dalam bentuk tertulis maupun oral. Rentang waktu yang diambil untuk mendiskusikan sejarah Bali diambil dari jaman pra kolonial sampai masa kerajaan Klungkung. Sejarah oral Bali penuh dengan mitos yang masih diamini sampai sekarang, karena itu tesis ini juga mengeksplorasi mitos-mitos yang berkaitan dengan aktivitas pandang-memandang antara orang Bali daratan dan orang Nusa Penida. Secara umum Bali (modern) tergantung pada industri pariwisata, karena itulah tesis ini juga mendiskusikan pengalaman orang Nusa Penida dan Bali daratan yang

“hidup” dalam industri ini.

Diskusi akhir tesis ini menunjukkan bahwa proses saling me-liyan-kan telah terjadi semenjak masa pra kolonial dan terus berlanjut sampai masa Bali modern. Proses ini terekam dalam bentuknya yang paling modern, yaitu tulisan serta tertanam dalam mitos yang diceritakan selama bergenerasi-generasi.

(12)

1

BAB I

PENDAHULUAN

I. Latar Belakang

Pada tahun 1920 Belanda menetapkan sebuah cetak biru “pembangunan” Bali.

Belanda merancang Bali sebagai benteng terakhir terhadap serbuan nasionalisme

dengan melancarkan program Baliseering, mem-Bali-kan Bali. Otak di belakang

program ini adalah Bali Instituut, yang secara umum bertugas mengkaji dan

mengusulkan kebijakan-kebijakan yang harus dilakukan pemerintah kolonial Belanda

di Bali. Pada masa ini pula pengajaran bahasa, kesusastraan dan seni tradisi Bali di

kalangan anak muda Bali dilaksanakan dengan tujuan agar mereka sadar akan

kekayaan budayanya.

Pada dekade 1960-an ketika Bank Dunia terlibat dalam pengembangan

industri turisme internasional, Bali kembali menjadi sorotan. Sebelumnya Bank

Dunia meminta Kurt Krapf, seorang ekonom Swiss, menganalisa keuntungan industri

turisme bagi perkembangan ekonomi negara dunia ketiga dan perdagangan

internasional secara umum. Pada periode ini pula Bank Dunia memberi pinjaman

kepada pemerintah Indonesia untuk proyek perluasan bandara Ngurah Rai, untuk

kemudian diresmikan pada tahun 1969 sebagai bandara internasional. Bersamaan

dengan Repelita I (1969-1974), Bank Dunia, International Monetary Fund (IMF),

(13)

2 internasional sebagai penentu ekonomi nasional dan menjadikan Bali sebagai situs

utama. Tahun 2000-an Bank Dunia (bekerja sama dengan United Nations

Educational, Scientific and Cultural Organization (UNESCO) dan United Nations

Conference on Trade And Development (UNCTAD)) kembali meluncurkan

rancangan pembangunan Bali di bawah judul ‘Kebijakan dan Strategi untuk

Konservasi Warisan Budaya Bali’ dengan menekankan pentingnya perawatan dan

pelestarian budaya bagi kelangsungan industri turisme. Master plan Bank Dunia

menargetkan wilayah Sanur-Kuta-Nusa Dua-sebagian kecil ujung selatan Pulau Bali

sebagai target utama pengembangan industri turisme1. Dari paparan singkat ini

tampak bahwa tema “keaslian” Bali pada dasarnya telah ditetapkan semenjak

1920-an.

Pasca jatuhnya Soeharto, wacana otonomi daerah berkembang. Segala macam

keputusan yang bersifat lokal adalah kewenangan pemerintah daerah, demikian juga

halnya dengan masalah pendanaannya. Di Bali sendiri wacana otonomi daerah

“dimulai” dengan penguatan masyarakat adat dan nilai-nilai ke-Bali-an. Sebagai

penanda adalah lahirnya pecalangan2. Ketika bom meledak di Kuta pada tahun 2002

(dan kemudian di Jimbaran dua tahun setelahnya) pecalangan lalu menunjukkan

eksistensinya sebagai penjaga kebudayaan Bali dari serangan “pihak luar”.

1 Ambara, Alit, “Proyek Kolonial Bank Dunia Mem-Bali-kan Bali”, sisipan Media Kerja Budaya edisi

05/2001.

(14)

3 Penduduk Bali pun terpecah menjadi dua kubu: “penduduk pendatang” dan

“penduduk asli”. “Penduduk pendatang” adalah orang-orang yang berasal bukan dari

Bali, seperti misalnya yang selama ini menjadi stereotipe; orang Jawa, beragama

Islam, berjenggot dan seterusnya. Pasca ledakan inilah kekuatan “penduduk

pendatang” dieliminir dengan memunculkan anggapan bahwa mereka adalah

pengacau. Sementara “penduduk asli” adalah orang yang bernama khas Bali (seperti

misalnya Gede, Made dan seterusnya), berbahasa Bali, dan seterusnya. Berbanding

terbalik dengan apa yang terjadi dengan “penduduk pendatang”, “penduduk asli”

dianggap sebagai pemilik sah segala apapun yang terberi dan terkandung di tanah

Bali. Sampai di sini terlihat bahwa Yang lain dalam masyarakat Bali adalah mereka

yang “benar-benar bukan Bali”. Namun sebenarnya tidaklah demikian yang terjadi

pada tingkat “akar rumput”. Di antara orang Bali sendiri terjadi proses saling

me-liyan-kan.

Proses saling me-“liyan”-kan di antara orang-orang Bali ini bisa dikatakan

sebagai sebuah proses yang nyaris tak terlihat. Saya katakan demikian karena Bali

pasca wacana otonomi daerah, pasca bom, telah memiliki “musuh bersama” yang

jelas terpampang di depan mata. Letupan-letupan kecil di dalam dianggap sebagai

konsekwensi hidup bersama. Demikian tersebutkan dalam peribahasa lokal:

celebingkah batan biu, gumi linggah ajak liu3. Peribahasa ini seakan mengajak untuk

3 Bahasa Bali: secara kasar bisa diterjemahkan sebagai; potongan genteng di bawah pisang, dunia

(15)

4 memendam dalam-dalam sesuatu yang terjadi, mengapa ia terjadi, siapa pelaku

kejadian dan seterusnya selama pelakunya bisa diidentifikasikan sebagai “orang

dalam”. Namun ia tidak dilupakan begitu saja, ia mengendap dan menunggu waktu

untuk meledak. Dalam hal ini, Yang lain bukan hanya mereka yang berasal dari luar

pulau, melainkan juga mereka yang bukan berasal dari Denpasar.

Denpasar (dan Badung) sebagai sebuah ruang yang selama ini

merepresentasikan Bali merupakan sebuah “kota besar” dimana orang-orang Bali

“berkumpul” dan mencari peluang untuk memperbaiki taraf hidupnya. Kebanyakan

dari mereka yang bukan dari Denpasar (dan Badung) mencari peluang kerja di sektor

pariwisata, bersaing dengan orang-orang setempat dan orang-orang dari luar pulau.

Sementara bagi mereka yang tidak cukup memiliki modal untuk bertarung di wilayah

pariwisata, biasanya menjadi buruh dan atau pedagang keliling.

Salah satu kelompok orang Bali “Yang lain” adalah mereka yang berasal dari

Nusa Penida. Nusa Penida secara geografis adalah sebuah pulau kecil di kaki pulau

Bali, yang berada di wilayah administratif kabupaten Klungkung, salah satu

kabupaten terkecil di Bali. Pulau kecil ini kerapkali disebut sebagai pulau yang

tertinggal, kering, “primitif”, dan seterusnya. Kebanyakan penghuni pulau ini

merantau ke Denpasar untuk memperbaiki taraf hidupnya. Demikian pula dengan

anak-anak muda yang ingin melanjutkan sekolah. Mereka pertama-tama akan

(16)

5 Pilihan Denpasar sebagai tujuan utama ini bukannya tanpa alasan.

Pertama-tama karena Denpasar adalah “kota besar” yang menunjukkan gengsi yang lebih

tinggi4. Kota ini memiliki apa yang tidak dimiliki kota lain di Bali, sebutlah mulai

dari pusat-pusat perbelanjaan sebagai penanda kemajuan sampai sekolah-sekolah

hingga perguruan tinggi ternama sebagai penanda keberkelasan. Kemudian di kota ini

pula kesempatan untuk mendapat penghidupan lebih layak terbuka jauh lebih luas

dibandingkan dengan kota lainnya (meski tidak selalu tepat demikian). Yang menarik

untuk dicatat adalah bagaimana orang-orang Nusa Penida menyebut kota tujuannya di

Bali daratan, entah itu Denpasar ataupun kota lainnya, dengan sebutan Bali atau

kaja5. Istilah kaja sendiri sudah merujuk pada suatu ambiguitas kuasa. Istilah kaja

biasanya disandingkan dengan istilah kelod6 (sebagaimana orang-orang Bali daratan

menyebut Nusa Penida).

Istilah kaja-kelod sendiri mungkin bisa disandingkan dengan istilah

kiwa-tengen7, atau dengan kata lain; baik-buruk. Suatu peristilahan yang ambigu dalam

konsep masyarakat Bali secara umum. Ia adalah semacam istilah lain untuk menyebut

dualitas yang selalu hadir dalam kehidupan masyarakat Bali. Dalam pemikiran

masyarakat Bali secara umum, yang baik tidaklah selalu baik demikian juga

sebaliknya. Namun tidak demikian setelah “pemapanan” Hindu oleh gerakan Hindu

4 Untuk perbandingan luas wilayah dan jumlah populasi di Denpasar dibandingkan dengan

kabupaten-kabupaten lain di Bali, lihat lampiran I.

(17)

6 Dharma melalui organisasi Parisada Hindu Darma sebagai “agama resmi” di Bali

tahun 1950-an8. Batasan baik-buruk, kiwa-tengen, kaja-kelod, dipertegas: hal yang

mengacu pada kelod, dan atau kiwa selalu merujuk pada hal yang salah dan atau

buruk.

Dengan kalimat yang lain bisa dikatakan kalau pada akhirnya kaja

dipresentasikan hanya sebagai simbol kebaikan dan kelod adalah kebalikannya.

Dengan demikian, jika ditarik kembali pada diskusi hubungan Nusa Penida-Bali

daratan, Bali daratan dengan demikian merepresentasikan suatu kebaikan dan

sebaliknya dengan Nusa Penida. Dari penyebutan antar dua tempat ini saja sudah

terlihat bagaimana mereka saling me-liyan-kan satu dengan yang lainnya.

II. Rumusan Masalah

Penelitian ini dimaksudkan untuk mendiskusikan persoalan identitas

ke-Bali-an yke-Bali-ang di permukake-Bali-an terlihat tunggal dke-Bali-an solid. Persoalke-Bali-an besar ini dipecah menjadi

tiga permasalahan pokok, yaitu: permasalahan historis, perwujudannya dalam bentuk

folklore, dan peranan industri pariwisata.

Hal pertama yang akan didiskusikan adalah proses historis terbentuknya

praktek saling me-liyan-kan antara orang-orang Nusa Penida dan Bali daratan.

Sebagai pengantar diskusi akan dibahas perjalanan historis kerajaan Klungkung

sebagai kerajaan tertua di Bali. Seperti yang telah disebutkan di atas, Nusa Penida

(18)

7 berada dalam wilayah administrasi Klungkung. Dari pembahasan mengenai kerajaan

Gelgel kemudian akan dibahas perjalanan Gelgel menaklukkan Nusa Penida sampai

akhirnya Nusa Penida menjadi bagian dari kerajaan Gelgel. Setelah kedatangan

Belanda di Bali, sampai akhirnya cetak biru pembangunan Bali dibuat oleh

pemerintah Belanda.

Seperti yang telah disebutkan di atas, sejak tahun 1920-an pemerintah

kolonial Hindia Belanda telah memberikan cetak biru pembangunan Bali secara

umum. Yang kemudian akan didiskusikan dalam penelitian ini adalah apakah

kejadian-kejadian di Bali daratan secara historis mempengaruhi kehidupan di Nusa

Penida. Juga akan didiskusikan apakah kolonialisme bisa dijadikan penanda

pembentukan proses tersebut.

Hal kedua yang akan didiskusikan adalah bagaimana proses tersebut mewujud

ke dalam kehidupan sehari-hari. Yang dicermati dalam diskusi ini adalah folklore.

Folklore dipilih dengan asumsi ia telah menyebar secara massif dalam kehidupan

“relijius” dan keseharian orang-orang Bali secara umum. Pemilihan folklore dalam

diskusi ini berdasarkan kisah yang tertuang di dalamnya. Kisah yang saya maksudkan

adalah yang berhubungan dengan permasalahan pandang-memandang antara

orang-orang Nusa Penida dan Bali daratan.

Hal selanjutnya yang akan didiskusikan adalah peranan industri pariwisata

(19)

8 digunakan sebagai sarana untuk memulihkan citra rezim orde baru setelah peristiwa

1965 (dan tentu saja merupakan salah satu proyek Bank Dunia), seberapa penting

industri ini bagi orang-orang Bali. Industri pariwisata telah masuk sampai ke

ruang-ruang privat orang-orang Bali: mulai dari rapat keluarga untuk menjual tanah warisan

sampai menentukan sekolah pariwisata yang paling bonafid untuk sang anak. Dengan

demikian apakah industri ini mampu mengeliminir proses saling me-liyan-kan antara

orang Nusa Penida dan orang Bali daratan. Lebih jauh lagi apakah dalam industri ini

mereka menemukan momen untuk menyatakan “kita”. Hal ini penting untuk dilihat

karena Bali pasca kolonial, pasca wacana otonomi daerah, pasca bom telah terlatih

untuk menyenangkan hati para wisatawan. Lebih jauh lagi, momen seperti apa serta

apa yang menyebabkan momen ini terjadi, juga penting untuk didiskusikan.

III. Tujuan Penelitian

Selama ini proses saling me-liyan-kan yang terjadi di Bali dipandang hanya

terjadi di antara “penduduk pendatang” dalam arti orang-orang dari luar pulau Bali

dengan “penduduk asli”. Seperti yang telah saya paparkan di atas, proses saling

me-liyan-kan itu juga terjadi dalam pergaulan antara orang-orang Bali sendiri. Dua proses

ini saya bedakan karena ketika orang-orang Bali memandang keluar, mereka

menemukan orang lain, dalam artian orang-orang dari luar pulau. Kemudian ketika

(20)

9 Namun tidak bisa dipungkiri, persoalan pandang-memandang ini masih dalam

kerangka pencarian “luar-dalam”. Bisa dikatakan kalau proses ini merupakan dua hal

yang berbeda sekaligus sama. Ia tidak bisa disamakan dan pada waktu bersamaan ia

tidak bisa dibedakan.

Penelitian ini mencoba mendiskusikan bagaimana proses itu terjadi secara

kultural dan historis. Diskusi ini bertujuan memeriksa bagaimana proses itu bisa

terjadi secara historis, kemudian dilanggengkan secara kultural, lalu “disahkan” dan

dianggap sudah semestinya terjadi. Secara umum proses ini terjadi melalui industri

pariwisata yang telah dikenal di Bali selama bertahun-tahun. Hampir sebagian besar

orang-orang Bali secara umum menggantungkan hidupnya pada industri ini.

Tidak hanya orang-orang Bali yang bergantung pada industri ini, orang-orang

dari luar pulau Bali yang merantau ke Bali juga banyak yang tergantung pada industri

ini. Namun dalam penelitian ini yang akan dicermati adalah apakah industri

pariwisata berperan dalam proses saling me-liyan-kan antar orang-orang Bali sendiri,

ataukah ia mengeliminir proses saling me-liyan-kan tersebut. Dalam hubungannya

dengan industri pariwisata, penelitian ini bertujuan untuk memahami peran industri

ini dalam proses historis tersebut.

Signifikansi penelitian ini adalah untuk lebih memahami posisi orang-orang

Nusa Penida di Bali daratan. Dan juga sebaliknya, untuk bisa memahami posisi

(21)

10

keilmuan, mengingat kajian politik identitas dalam ranah Bali studies merupakan

kajian minor, penelitan ini diharap bisa menjadi catatan kaki atas penelitian-penelitian

yang telah ada sebelumnya, dan bisa pula menjadi bahan pertimbangan untuk

penelitian-penelitian selanjutnya. Secara lebih spesifik dalam kaitannya dengan kajian

tentang Bali, penelitian ini mengetengahkan dua hal kecil yang terkadang luput dari

pandangan. Pertama, bahwa mitos memegang peranan penting dalam pembentukan

identitas dalam kerangka pandang-memandang. Kedua, ke-lokal-an adalah sesuatu

yang absurd, yang tidak cukup untuk digunakan sebagai dasar pembentukan identitas

solid sebagaimana dibayangkan oleh ajeg Bali. Dalam hal ini, ke-lokal-an yang

dipandang secara esensialistik adalah sesuatu yang absurd dan berbahaya karena ia

tidak akan mengindahkan perbedaan dan dalam satu sisi ia akan menuju kepada

purifikasi (kultural).

IV. Kerangka Teori

Seperti yang telah disebutkan di atas, penelitian ini akan berusaha

mendiskusikan jalinan masalah identitas ke-Bali-an yang terlihat solid di permukaan.

Identitas ke-Bali-an yang pasca bom jilid I dan II dipertegas oleh sekelompok elit

melalui program Ajeg Bali ternyata menyimpan permasalahan di dalamnya. Bali

pasca ledakan bom berusaha menguatkan diri ke dalam. “Musuh” utamanya adalah

(22)

11 yang didukung oleh negara, Bali Tv, Denpost, dan Bali Post. “Orang luar” yang

pantas dicurigai merusak kebudayaan Bali memiliki stereotype berikut; beragama

Islam, berjenggot, dan bernama khas Jawa (baca: Islam). Media jugalah yang secara

implisit menegaskan kesamaan identitas ke-Bali-an orang-orang Bali. Ketiga media

tersebut berada dalam naungan Kelompok Media Bali Post. Kelompok media inilah

yang “melahirkan” istilah Ajeg Bali9.

Pada dasarnya identitas menjadi penting ketika seseorang berhadapan dengan

Yang lain. Ketika berhadapan dengan Yang lain, kemungkinan terjadi misrecognition

dalam mengenali siapa berhadapan dengan siapa. Pada fase cermin Lacan,

misrecognition terjadi ketika seorang anak melihat pantulan dirinya di cermin. Ia

tidak bisa membedakan siapa yang ia lihat atau ia dilihat oleh siapa. Pada tahapan

inilah fantasi narsistik berkembang dan memapankan tatanan imajiner, yang

kemudian berurusan dengan masalah identifikasi serta penyamaan-penyamaan10.

Pada kasus penelitian ini, misrecognition menegaskan keberadaan Yang lain melalui

penegasan diri. Dengan kata lain, orang-orang Denpasar melihat pada dirinya sendiri

untuk menegaskan perbedaan antara dirinya dengan orang-orang Nusa Penida.

Hubungan self-other diperantarai oleh bahasa dalam pengertiannya yang

paling luas. Pada level inilah mitologi Barthesian memberikan faedahnya. Karena

komunikasi pada suatu komunitas tidak selalu terbatas pada oral speech,

9 Narada, ABG Satria [et al], Ajeg Bali: Sebuah Cita-cita, Bali Post, tanpa tahun terbit.

10 Fink, Bruce, Lacanian Subject: Between Language and Jouissance, Princeton University Press, New

(23)

12 hubungan pada suatu komunitas bisa dan dapat dimaknai melalui cara komunikasinya

yang lain, yakni mitos. Sebagaimana dikatakan oleh Roland Barthes dalam mitologi,

bahwa mitos merupakan sebuah sistem komunikasi, yakni sebuah pesan. Dan pada

dasarnya mitos adalah sebuah type of speech, sebuah cara pemaknaan11. Namun yang

paling penting adalah ia tidak hanya terbatas pada oral speech, ia bisa berbentuk

tulisan, fotografi, pertunjukan, publikasi, dan seterusnya. Ia bisa dimaknai oleh

penggunanya dalam suatu proses dialog. Ia dikenali dan dimengerti sebagai ungkapan

yang telah diterima dalam komunitas tersebut.

Gramsci dalam Prison Notebooks menyebutkan bahwa urbanisme di Itali

tidaklah murni, atau “khususnya”, sebuah fenomena perkembangan kapitalistik atau

industri besar. Namun dalam kota tipe medieval, ada dasar populasi yang kuat dari

tipe urban modern; tapi apa posisi relatifnya? Mereka berada di bawah, tertekan,

dihancurkan oleh sisi yang lain, yang tidak merupakan tipe modern dan mayoritas

terbesar. Paradoks dari “city of silence”.12 Belajar dari sejarah Itali yang disusun

Gramsci dalam Prison Notebooks, kita bisa membuat pembedaan yang kurang lebih

sama, dalam konteks Bali. Pembedaan yang bisa dibuat adalah antara daerah industri

(pariwisata) dengan daerah pedesaan yang “tidak tersentuh” efek-efek dari industri

11 Barthes, Roland (Nurhadi: penerjemah), Mitologi, Kreasi Wacana, Yogyakarta, 2004.

12 Gramsci, Antonio, (Quintin Hoare and Geoffrey Nowell Smith: editor and translator), Selection

(24)

13 pariwisata. Hubungan antara daerah industri (pariwisata) dengan daerah pedesaan

terkesan saling mendukung. Dalam kenyataannya hubungan ini merupakan sebuah

hubungan yang sangat kompleks dan muncul dalam sebuah bentuk permukaan yang

kontradiktif13. Hubungan ini kemudian diperumit dengan munculnya ajeg Bali.

Marx berargumen bahwa basis ekonomi merupakan level kehidupan sosial

yang paling kuat dan krusial. Basis ekonomilah yang meng-ada-kan superstruktur dan

memberikannya karakter. Pada gilirannya superstruktur bekerja untuk menjaga

struktur ekonomi yang ada dan menyamarkan atau melegitimasi kondisi riil dari

eksploitasi ekonomi14. Sebagai contoh, industri pariwisata merupakan struktur

ekonomi di sebagian besar wilayah Bali semenjak 1920-an. Industri pariwisata

kemudian menguatkan hukum tak tertulis yang menyebutkan tentang penjagaan

kebudayaan Bali yang adi luhung. Ia menghasilkan banyak sekali sekolah pariwisata

(yang menghasilkan banyak tenaga kerja aktif) dan seterusnya. Sebagian besar

fenomena ini memperkuat praktek “perbudakan” (melalui berlimpahnya tenaga kerja

aktif yang disebabkan oleh menjamurnya sekolah pariwisata) pada satu sisi dan pada

sisi lain memperkuat praktek pe-liyan-an (salah satunya) melalui penjagaan

kebudayaan (a la Ajeg Bali), sementara ia menampilkan dirinya terpisah dari

praktek-praktek tersebut.

13 Gramsci, Antonio, (Quintin Hoare and Geoffrey Nowell Smith: editor and translator), Selection

From The Prison Notebooks of Antonio Gramsci, International Publisher, New York, 2005:91.

(25)

14

V. Tinjauan Pustaka

Ada banyak sekali penelitian mengenai Bali, tentang masyarakat serta

kebudayaannya yang dianggap unik. Akan tetapi tidak banyak studi mengenai

identitas ke-Bali-an dalam kancah Bali studies. Michel Picard meneliti Bali dengan

menggunakan industri pariwisata sebagai jalan masuknya. Bali telah lama dikenal

sebagai sebuah daerah tujuan wisata, dimulai dari masa pemerintahan kolonial

Belanda sampai sekarang, Bali hampir selalu sama dengan obyek wisata. Dalam

pandangan Michel Picard yang meneliti industri pariwisata Bali mengenai efek

pariwisata, ia mencatat bahwa industri ini telah membelah kelompok masyarakat

menjadi dua kubu: “kita” dan “mereka”. “Kita” dalam catatan Picard adalah

orang-orang Bali pada umumnya. Sedangkan “mereka” adalah orang-orang luar yang mencari

penghidupan di Bali. Pada ruang lingkup lain, Picard mencatat bahwa “kita” adalah

orang-orang Bali (pelaku wisata) sedangkan “mereka” adalah pemodal dari Jakarta

atau siapapun yang memboncengnya. Penelitian yang dilakukan oleh Picard tidak

melihat bahwa ada pertarungan di wilayah yang di klaim sebagai “kita” itu. Siapakah

dan dalam kondisi seperti apa “kita” bisa terlontar dalam berbagai percakapan, lalu

siapakah yang bukan “kita” tidak terjelaskan oleh penelitian yang dilakukan Picard.

(26)

masalah-15 masalah besar saja. Ia melihat bagaimana Bali menjadi ajang pertarungan antar modal

lokal dan nasional, antara modal nasional, lokal, dan internasional. Serta bagaimana

Bali dipertaruhkan sebagai piala yang diperebutkan oleh pihak-pihak berseteru yang

tersebut diatas15. Penelitian Picard tidak menceritakan bagaimana perseteruan antar

orang-orang Bali sendiri dalam industri tersebut.

Sementara itu, Degung Santikarma dalam tulisannya, ‘Ajeg Bali: Dari Gadis

Cilik ke Made Schwarzeneger’, menegaskan bahwa Ajeg Bali sebagai sebuah

“institusi” resmi yang didukung oleh kekuatan negara (dan dalam sudut pandang lain

adalah suatu medan perlawanan terhadap kuasa negara) menjadi penegas identitas

ke-Bali-an orang-orang Bali. Melalui Ajeg Bali, semua hal yang berbau tradisional digali

lagi dari liang kubur, dihidupkan, dan dipakai sebagai semacam the original past.

Ketika orang-orang Bali berhadapan dengan orang bukan Bali (dalam tulisan ini

tersirat sebagai orang dari luar pulau), “identitas tradisional” inilah yang

dikedepankan. Demikian juga ketika orang-orang Bali berhadapan dengan angkuhnya

industri pariwisata, hal yang sama ditegas-tegaskan untuk menunjukkan suatu

identitas yang solid.

Titik awal yang menjadi “pemicu” adalah perbuatan Amrozi dan

kawan-kawannya di Bali. Apa yang dilakukan Amrozi tidak hanya memunculkan ledakan

yang membinasakan dan melukai ratusan orang, tetapi juga melahirkan ledakan

15 Michel Picard (Jean Couteau dan Warih Wisatsana; penerjemah), Bali: Pariwisata Budaya dan

(27)

16 wacana yang mempertanyakan hubungan antara yang lokal dan yang global serta

interaksi nasionalisme dengan identitas etnis dan agama, demikian Degung

Santikarma16. Serpihan-serpihan ledakan wacana tersebut yang kemudian menetaskan

sebuah jawaban atas segala kebingungan: Ajeg Bali. "Ajeg Bali" menjadi tema

hangat di kalangan konsumen media di Bali, yang kebanyakan berasal dari kelas

menengah mapan yang dibentuk oleh kucuran dollar pariwisata. Kelompok ini jelas

yang paling terpukul oleh kehancuran ekonomi Bali akibat bom, tetapi mereka juga

yang paling siap ber-manuver untuk mencari posisi kuat yang baru di lapangan

pasca-kolonial, pasca-Soeharto, dan pasca-bom. Dengan memakai wacana "Ajeg Bali"

sebagai alat perlawanan terhadap "penjajahan" “orang luar”, mereka mengharap bisa

membersihkan medan bisnis dari kompetitor luar untuk mengelola modal pariwisata

mereka sendiri. Ini memang kedengaran agak sumir, mengingat hubungan yang

eksploitatif antara buruh dan majikan di dalam industri pariwisata lebih berbasis pada

kelas daripada etnisitas.

Demikian wacana Ajeg Bali yang berusaha menegaskan identitas ke-Bali-an

dengan menggalinya dari “original past” yang dianggap niscaya. Original past ini

yang oleh industri pariwisata, atau meminjam kalimat Degung, kapitalisme pariwisata

dijajakan untuk memperlancar kucuran dolar ke dalam pundi-pundi mereka.

Tulisan-tulisan tersebut di atas banyak menyinggung hubungan antara orang-orang Bali dan

16 Lihat: Degung Santikarma, “Ajeg Bali: Dari Gadis Cilik ke Made Schwarzeneger”, Kompas,

(28)

17 bukan Bali. Namun yang banyak disebut bukan Bali adalah mereka yang dari luar

pulau. Dengan kata lain tulisan tersebut di atas memeriksa hubungan orang dalam dan

orang luar di mana yang disebut sebagai orang luar adalah orang luar pulau. Akan

tetapi “kelemahan” tulisan-tulisan di atas adalah ia tidak memberi perhatian yang

cukup akan tegangan-tegangan yang terjadi di antara orang-orang Bali sendiri. Di

satu pihak tulisan ini menggugat identitas ke-Bali-an yang disolidkan oleh Ajeg Bali,

akan tetapi di pihak lain ia memberi kesan bahwa di antara orang Bali, persoalan

identitas yang rapuh tidaklah membawa persoalan yang signifikan atau paling tidak

tulisan tersebut hanya sekedar menyenggol sedikit permasalahan tersebut.

Antropolog Hildred Geertz dalam essainya yang berjudul Theater of Cruelty:

The Contexts of a Topéng Performance17 meneliti bagaimana sebuah pertunjukan

topéng yang memiliki sisi relijius bisa dipakai untuk kepentingan politik praktis.

Demikian Hildred Geertz; pertunjukan topéng yang merupakan bagian integral (salah

satu dari banyak sekali) kegiatan spiritual di Bali, digunakan tidak dalam konteksnya

namun memakai semua peristilahan dalam sebuah kegiatan spiritual. Hal ini

dilakukan sebagai salah satu cara untuk mengesahkan kegiatan politik secara kultural.

Dalam penelitiannya Hildred Geertz menemukan bahwa seorang penari topéng yang

tubuhnya dirasuki oleh mahluk gaib (dewa-dewa), mampu menggerakkan

orang-orang untuk melakukan apa saja yang diminta. Demi kebaikan umat, orang-orang-orang-orang

17 Dalam State and Society in Bali: Historical, Textual, and Anthropological Approaches, KITLV

(29)

18 mesti mematuhi dan memenuhi permintaan mahluk gaib yang menggunakan tubuh si

penari. Demikianlah kegiatan politik bisa mendapat legitimasinya melalui kegiatan

kultural semacam ini di Bali. Lebih jauh lagi kegiatan semacam ini bisa menjadi

senjata negara untuk menyembunyikan ketidakmampuannya dalam memberikan

fasilitas yang lebih baik untuk warganya.

VI. Metode Penelitian

Penelitian ini membutuhkan beberapa jenis data: data historis, teks budaya

yang berupa folklore, dan pengalaman orang-orang Nusa Penida di Denpasar.

Data historis mengenai Nusa Penida yang diperlukan dalam penelitian ini

dikumpulkan melalui penelusuran sejarah “besar” yang tercatat dalam buku-buku

sejarah dan sejarah “kecil” yang dikumpulkan melalui wawancara. Wawancara

dilakukan di Nusa Penida. Saya mewawancarai orang-orang yang memiliki akses

pada sejarah entah itu tertulis ataupun dalam bentuk oral. Wawancara tidak dilakukan

dalam kerangka ruang resmi dan formal akan tetapi dilakukan dengan santai. Dengan

demikian akan memberikan ruang pada mereka untuk berkata atau bercerita tentang

apa saja. Penetapan waktu wawancara dilakukan secara “acak”, tanpa “birokrasi”

yang rumit. Dalam artian, saya tidak dengan sengaja mendatangi mereka hanya untuk

melakukan wawancara dan menyodorkan recorder di depan hidung mereka lalu pergi

(30)

19 sengaja” bertemu lalu ngobrol. Strategi ini saya pilih karena dengan cara demikian

akan tercipta sebuah ruang yang lebih egalitarian. Dengan model wawancara

demikian mereka tidak akan merasa ditempatkan dalam posisi hanya sebagai “obyek

penderita”, melainkan sebagai subyek yang juga memiliki hak atas apa yang

dibicarakan. Selain itu mereka akan lebih leluasa mendebat pertanyaan-pertanyaan

atau pernyataan-pernyataan yang mungkin menurut mereka tidak tepat. Meski

demikian, etika penelitian tetap ada dalam prosesi ini. Sebelumnya mereka tetap saya

beritahu bahwa saya sedang melakukan penelitian dan akan mewawancarai mereka.

Orang-orang yang diwawancara ini dipilih secara sistematis mulai dari yang

paling muda sampai ke yang paling tua. Pemilihan informan ini dipengaruhi oleh

kisah-kisah oral dan atau mitos yang mereka ceritakan mengenai sejarah Bali secara

umum. Data-data yang terkumpul melalui proses wawancara ini diperlakukan sebagai

informasi “faktual” yang membangun sebuah teks historis. Teks “sejarah kecil” inilah

yang kemudian disandingkan dengan teks “sejarah besar”. Dalam asumsi saya,

perbedaan-perbedaan akan terlihat ketika dua hal yang sama namun berbeda

disandingkan. Sebagaimana anak kembar yang dipisahkan kemudian bertemu lagi,

tentu akan ada perbedaan-perbedaan kecil yang terlihat. Perbandingan kedua teks

sejarah inilah yang kemudian dipermasalahkan dalam diskusi pada poin ini.

Teks budaya yang berupa folklore adalah artefak yang dicermati dalam rangka

(31)

20 kehidupan sehari-hari masyarakat Bali. Dengan kata lain artefak ini membantu untuk

melihat pe-liyan-an orang-orang Nusa Penida secara kultural dalam pergaulannya

dengan orang-orang Bali daratan. Selain artefak tersebut di atas, ungkapan-ungkapan

yang bernada “merendahkan” (dari sudut pandang orang-orang Bali daratan) dan atau

“sinisme” (dari sudut pandang orang-orang Nusa Penida) juga dicermati dalam

rangka melengkapi diskusi wujud dari proses saling me-liyan-kan tersebut.

Ungkapan-ungkapan ini diperlakukan sebagai signifier dari artefak yang didiskusikan

di atas.

Pada poin ini saya berasumsi bahwa industri pariwisata melekatkan citra

bahwasannya Bali secara keseluruhan adalah sesuatu yang solid dan tunggal.

Pertanyaan yang muncul disini apakah kemudian pencitraan ini mampu mengeliminir

proses saling me-liyan-kan di antara orang-orang Nusa Penida dan orang-orang Bali

daratan dalam field yang sama. Untuk itu data berupa pengalaman orang-orang Nusa

Penida di Denpasar (dan Badung) diperlukan dalam diskusi ini.

Pengalaman-pengalaman ini dikumpulkan melalui wawancara dengan mereka yang beraktifitas

dalam wilayah kepariwisataan. Strategi pengumpulan data melalui wawancara pada

poin ini sedikit berbeda dengan poin sebelumnya. Pada poin ini saya mengikuti para

informan yang berprofesi sebagai guide liar, surfer, dan seterusnya ke tempat kerja

mereka. Tempat kerja yang saya maksudkan disini bukanlah kantor atau sejenisnya,

(32)

21 karena di sinilah terjadi banyak interaksi antara orang-orang Nusa Penida dan Bali

daratan. Sedapat mungkin saya mengikuti mereka mulai dari bekerja sampai mereka

memasuki kehidupan malam di wilayah-wilayah tersebut. Data berupa hasil

wawancara ini kemudian dipilah-pilah sesuai dengan kepentingan penelitian ini

melalui perspektif pandang-memandang.

VII. Sistematika Penulisan

Untuk memudahkan pembacaan alur pemikiran dalam penelitian “Orang Bali

Yang Lain: Proses Saling Me-liyan-kan Antara orang Nusa Penida dan

Orang-orang Bali Daratan” ini, saya membaginya ke dalam lima bab pembahasan. Bab I

merupakan pendahuluan, yang menguraikan latar belakang, perumusan masalah,

tujuan penelitian dan signifikansinya, kerangka teoritis, metode penelitian yang

digunakan, serta sistematika penulisan dari penelitian ini.

Selanjutnya saya menguraikan proses historis saling me-liyan-kan antara

orang-orang Nusa Penida dan orang-orang Bali daratan pada Bab II. Diskusi dalam

bab ini saya batasi periodenya mulai zaman pra kolonial sampai awal masa kolonial

untuk pembahasan mengenai sejarah Klungkung, dan untuk sejarah Nusa Penida saya

membatasinya sampai periode dikuasainya Nusa Penida oleh kerajaan Klungkung.

Bab III mendiskusikan analisis mitos atas folklore yang mencerminkan proses

(33)

22 jalan untuk melihat proses saling me-liyan-kan tersebut mewujud dalam kehidupan

sehari-hari. Teori mitos juga dipakai sebagai teropong untuk mengamati bagaimana

relasi sosial orang-orang Nusa Penida di Denpasar, serta bagaimana orang-orang Bali

daratan memandang orang-orang Nusa Penida. Pengalaman saling

pandang-memandang ini akan dibahas lebih lanjut di bab selanjutnya.

Bali, tidak bisa dipungkiri, memiliki sejarah yang demikian panjang dalam

sektor pariwisata. Pulau ini telah menjadi arena pertarungan modal dan berbagai

kepentingan lokal-nasional-internasional dalam industri pariwisata selama kurang

lebih 30 tahun terakhir. Jika dirunut lebih jauh lagi, Bali sebenarnya telah menjadi

“arena perang” bahkan semenjak masa kolonial. Berdasarkan latar belakang ini, maka

pada bab IV ini diskusi mengenai pengalaman saling pandang-memandang ini akan

disempitkan pada sektor pariwisata serta diarahkan pada penyingkapan selubung

industri pariwisata dalam proses saling me-liyan-kan antara orang-orang Nusa Penida

dan orang-orang Bali daratan.

Bab terakhir dari penelitian ini tidak lain berisi kesimpulan-kesimpulan dari

diskusi-diskusi yang telah disajikan pada bab-bab sebelumnya. Demikianlah tujuan

dari bab ini: berusaha untuk menyimpulkan proses saling me-liyan-kan antara

orang-orang Nusa Penida dan orang-orang-orang-orang Bali daratan, sebuah kesimpulan atas

(34)

23

BAB II

MEMBACA ULANG SEJARAH KLUNGKUNG:

Kisah-kisah Usaha Penjinakan

Bab ini mendiskusikan perjalanan sejarah Klungkung mulai dari zaman pra

kolonial sampai sekarang. Rentang waktu yang cukup panjang ini diambil dengan

alasan sederhana: bahwa proses saling me-liyan-kan telah dimulai jauh sebelum

kedatangan Belanda dengan proyek Baliseeringnya dan proses ini tertuang dalam

bentuknya yang paling modern: tulisan.

Bahan-bahan yang dipilah dan dipilih dalam bab ini cukup banyak tersebar di

beberapa tempat di Bali, satu hal yang memudahkan sekaligus menyulitkan.

Memudahkan karena terdapat cukup banyak catatan mengenai hal yang akan dibahas,

dan menyulitkan karena catatan-catatan yang tersebar ini menyatakan hal yang sama

dengan perspektif yang berbeda. Di tengah sebaran informasi yang “berlebihan”, saya

memilih beberapa bahan tertulis yang sekiranya berhubungan dengan tema tesis ini:

Babad Usana Bali Pulina (saya pilih karena di dalamnya mengisahkan proses

“terbentuknya” Bali dari sebuah pulau yang mengapung sampai akhirnya para Dewa

menurunkan seorang raja), Pamencangah Ida I Dewa Kulit ring Nusa Penida (saya

pilih karena membeberkan kisah ksatria dalem yang diutus ke Nusa Penida), Prasasti

I Dewa Anom (dipilih karena prasasti ini memberikan kisah bantuan yang diberikan

(35)

24

buku yang penuh dengan kisah-kisah mengenai Nusa Penida) dan Sejarah

Klungkung: Dari Smarapura sampai Puputan (buku sejarah resmi Pemerintah

Daerah Klungkung yang memberikan gambaran umum Klungkung dari terbentuknya

kerajaan Bali sampai Puputan Klungkung).

Selain menggunakan bahan-bahan tersebut di atas, saya juga menggunakan

potongan-potongan satwa, baik itu satwa1 yang saya dapatkan melalui wawancara

maupun yang telah menjadi semacam common sense di Bali. Kisah-kisah tersebut

kemudian saya satukan dengan kisah yang ditemukan dalam babad dan atau prasasti

tersebut di atas. Orang-orang yang saya wawancarai untuk kepentingan bab ini adalah

Ida I Dewa Catra (seorang ahli lontar yang seringkali terlibat dalam proyek alih

aksara lontar), I Gusti Mangku Kebyar (seorang pemangku dari desa Bedulu,

Gianyar), I Dewa Made Bagus (seorang mantan pegawai negeri yang sedang

menelusuri proses kedatangan leluhurnya di Nusa Penida).

Kisah-kisah yang tidak tertuang dalam bentuk tulisan, saya asumsikan

memiliki kekuatan yang kurang lebih sama dengan kisah dalam Babad. Selain itu

kisah-kisah yang diceritakan secara oral lebih “hidup” dibandingkan dengan kisah

dalam bentuk tulisan, karena kisah oral bisa diakses secara lebih luas bila

dibandingkan dengan tulisan. Seperti yang telah kita ketahui, akses pada suatu bentuk

(36)

25

tulisan adalah suatu akses eksklusif yang terbatas hanya pada orang-orang tertentu2.

Sebaliknya, satwa3 (yang hampir oleh seluruh sistem pengetahuan formal dianggap

bukan sebuah bentuk pengetahuan) tersebar lebih massif karena ia tidak memiliki

batasan seketat tulisan dan semua orang memiliki hak untuk mesatwa4 dan

mendengarkan satwa. Dalam satwa-mesatwa inilah suatu bentuk pengetahuan

ditransfer, disebarkan, diterima, dipahami dan karena sebuah satwa tidak memiliki

bentuk yang ketat sebagaimana tulisan, ia berubah sejalan dengan perubahan ruang,

waktu dan siapa yang mesatwa.

I. Bali Sebelum Majapahit: Kuasa Berwajah Angkara

Sebelum Bali berada di bawah kuasa Majapahit diceritakan bahwa pulau Bali

terombang-ambing di lautan. Kemudian Betara Pasupati mengambil puncak

Mahameru (yang kemudian menjadi gunung Agung) dan meletakkannya di Bali.

Bedawangnala (seekor kura-kura raksasa) diperintahkan untuk menyangga gunung

tersebut dari bawah, sementara Naga Taksaka, Naga Anantaboga, dan Naga Basuki

diperintahkan untuk mengikat gunung tersebut agar tak lepas dari pulau Bali. Betara

2 Sebagai contoh yang yang tepat dalam konteks tulisan ini adalah penyebaran pengetahuan yang

terdapat pada kitab-kitab suci Hindu di Bali. Tidak semua orang Hindu di Bali boleh membaca kitab suci, karena dianggap tidak pantas semua orang membaca kitab suci. Sehingga pemahaman orang-orang yang tidak membaca secara langsung adalah pemahaman yang sama dengan yang dimiliki oleh orang-orang yang dianggap pantas membaca kitab suci. Dengan kata lain, pengetahuan dalam bentuk tertulis adalah sebuah pengetahuan untuk kalangan tertentu.

3 Bahasa Bali: dongeng, cerita, kisah.

(37)

26 Pasupati kemudian memerintahkan putranya, Mahadéwa, untuk menempati gunung

itu dan ia dipuja di Pura Besakih.

Babad Usana Bali Pulina menyebutkan bahwa pada jaman dahulu ada mahluk

sakti tanpa tanding, bersenjatakan taring tajam menakutkan, berperilaku raksasa,

rakus, bingung, pemarah. (…) Dia adalah anak raja Détya Balingkang. Sang

Mayadenawa bertahta di Bedahulu, rakyatnya banyak, sama rakus, angkara, dursila,

irsiya, poraka, mengacau dan menentang5. Dikisahkan bahwa Mayadenawa melarang

orang-orang untuk memuja Dewa-dewa yang bersemayam di Pura Besakih. Ia

meminta orang-orang untuk memuja dirinya dan semua persembahan ditujukan hanya

kepada dirinya. Gerah dengan kepongahan Mayadenawa, Betara Mahadéwa

melaporkan kejadian tersebut kepada Betara Pasupati yang kemudian meminta tolong

Betara Indra untuk menumpas Mayadenawa. Setelah melalui pertarungan yang

panjang dan melelahkan, para dewa berhasil memenangkan pertarungan dan

membunuh Mayadenawa.

Kisah di atas bisa dimaknai sebagai kisah penguasaan Bali dari perspektif

“pendatang” atau yang menginvasi. Disebutkan bahwa Mayadenawa memiliki rakyat

yang banyak dan sama-sama barbarnya, dari sini bisa dilihat kalau kisah tersebut

merupakan sebuah cara subyek memandang Yang lain. Mengikuti Lacan, kita hanya

5 Dalam bahasa aslinya: pūrwwa kāla hana maya sakti tan pahingan, asiyung adhangastra tiksna

angamah-amah kadi trapning dhanawa, lobha, mohā, mūrkka. (…) Sira anak ing Ratu Détya

Balingkang. Sang Mayādhanawa aňjeneng ring Bhédhahulu, akwéh wadwanya. Sama lobha angkara

(38)

27

bisa memahami fase cermin sebagai sebuah cara identifikasi6. Pada fase cermin

seseorang untuk pertama kalinya menjadi subyek. Ia tidak mampu membayangkan

dirinya, maka pada fase inilah realitas imajiner bekerja di mana realitas subyek

dipengaruhi oleh citra dalam cermin. Citra dalam realitas imajiner adalah citra yang

berubah-ubah (changeable). Perubahan-perubahan ini ditentukan oleh tatanan

masyarakat. Pada fase ini realitas simbolik kemudian mengambil alih pencitraan

dalam cermin. Selanjutnya ditentukanlah apa yang benar dan apa yang salah melalui

hukum ayah (law of the father). Pada fase inilah seseorang membedakan dirinya

dengan Yang lain, dalam kasus ini menyalahkan Yang lain. Karena kesalahan

Mayadenawa memerintahlah maka rakyat mengikuti polah tingkah sang raja: rakus,

angkara, suka mengacau dan menantang. Kesalahan ini perlu dihentikan, karena

itulah Mayadenawa perlu dibinasakan. Di lain pihak, keberadaan Mayadenawa

merupakan halangan untuk menguasai Bali. Selama Mayadenawa masih dipandang

sebagai raja yang baik oleh rakyatnya (mengingat disebutkan bahwa Mayadenawa

dan rakyatnya sama-sama barbar), maka penguasaan atas pulau Bali tidak bisa

dibenarkan. Demikian maka subyek melihat pada hukum ayah dalam realitas

simbolik untuk memberikan pembenaran pada penyerangan atas pulau Bali.

Sebuah satwa di Bali menyebutkan bahwa setelah Mayadenawa berhasil

dikalahkan, ia kembali turun ke dunia melalui perantaraan buah kelapa. Di dalam

buah kelapa itulah ia bersemayam dengan meminjam bentuk tubuh dua orang anak

(39)

28

kembar laki-perempuan yang kemudian diberi nama Masula-Masuli7. Buah kelapa itu

ditemukan oleh seorang pendeta Brahmana di halaman Pura Besakih. Buah kelapa

yang digunakan sebagai medium kelahiran Mayadenawa adalah simbol dari

keperluan upacara yang signifikan dalam ritual di Bali. Buah kelapa adalah

satu-satunya buah dalam pejati8 yang mesti ada dalam ritual mecaru9. Sementara itu,

pendeta Brahmana adalah person yang mesti ada dalam suatu ritual di Bali. Pendeta

Brahmana yang memungut buah kelapa dengan isi Masula-Masuli itu saya kira

adalah pendeta Brahmana Siwa-Budha10. Jika kisah ini dihubungkan dengan ritual

mecaru11. Transfer pengetahuan dalam bentuk satwa, sebagaimana saya katakan di

atas, lebih mudah dibandingkan dengan tulisan. Menurut Roland Barthes, sebuah

7

Dalam Babad Usana Bali Pulina disebutkan bahwa Mur Śri Jaya Pangus, mangsilih diri wangsan

ira bhiniséka Śri Eka Jaya Lancaňa matuh ing patni Kadhiri. (...) Arawas rawas těka pwa nalikaning

samayan ira Mahārāja umungśi sunyatmaka. Wangśan ira mangalih i prabhu, Śri Maśula Maśuli

sajňan ira. Sadampati pwa sira mětu, binuňcingakěn awan sang ari, sira ratu Cakrawartti, prabhū

Bhuňcing naman ira wanéh. (...) Wěkasan wangśan ira mangsiliha nātha hanéng nusa Bali, bhiniséka Śri Gaja Wahana, Tapolung nāman ira wanéh. (Setelah Sri Jaya Pangus wafat, beliau digantikan oleh

putranya yang bergelar Sri Eka Jaya Lancana yang lahir dari seorang putri Kediri. (...) Beberapa lama beliau berpulang dan digantikan oleh putra baginda yang bergelar Sri Masula Masuli, beliau dilahirkan kembar pria-wanita. Beliau dinikahkan kakak-beradik, prabu Bhuncing nama beliau yang lain. (...) Kemudian putra beliau menggantikan tahta pulau Bali, bergelar Sri Gaja Wahana, Sri Tapolung nama beliau yang lain.)

8 Bahasa Bali: dari akar katanya Jati bisa bermakna memantapkan (hati).

9 Bahasa Bali: salah satu ritual Bhuta Yadnya, yaitu ritual yang ditujukan pada Bhuta Kala; yang

bertujuan untuk menyeimbangkan alam.

10 Di Bali ada dua jenis Brahmana, yaitu Brahmana Siwa dan Brahmana Siwa-Buddha (yang biasanya

disingkat hanya sebagai Brahmana Buddha), yang menurut Ida Bagus Mantra, dalam Pengertian Siwa Buddha dalam Sejarah Indonesia (dalam Çiwa-Buddha Puja di Indonesia, Yayasan Darma Sastra, Denpasar, 2002), bermula di Jawa Timur. Ajaran Siwa yang terlebih dulu ada kemudian dalam perkembangannya disatukan dengan ajaran Buddha Mahayana, karena disebutkan bahwa struktur dasar dari kedua agama ini dianggap “sama” dalam beberapa hal. Seperti misalnya pandangan bahwa dunia ini penuh dengan kesengsaraan dan tidak kekal, pandangan bahwa penderitaan adalah buah perbuatan terdahulu, dan seterusnya. Disebutkan juga bahwa Buddha merupakan saudara Siwa yang lebih muda.

11 Dalam wawancara saya dengan I Dewa Gede Catra tanggal 28 Februari 2009, ia menyebutkan

(40)

29

pemaknaan (melalui satwa) berarti harus kembali lagi mengacu pada semiologi. (Jika

satwa dianggap sebagai suatu fakta) Oleh karena itu definisi dan eksplorasi

fakta-fakta tersebut merupakan tanda bagi sesuatu yang lain12. Pada analisa semiologis

tingkat pertama rangkaian satwa di atas merupakan sebuah peristiwa “kelahiran

kembali” Bali setelah sekian lama dikuasai oleh angkara. Penjelasannya demikian:

kelahiran kembali Mayadenawa melalui buah kelapa merupakan sebuah penanda,

sedangkan petandanya adalah pendeta Brahmana yang memungut kelapa tersebut di

halaman Pura Besakih. Penanda dan petanda tersebut merupakan tanda bagi sebuah

peristiwa “kelahiran kembali” dalam konteks Hindu di mana keseimbangan alam

dikembalikan melalui ritual Bhuta Yadnya yang diselesaikan oleh pendeta Brahmana

dan simbol-simbol yang ada dalam satwa tersebut di atas menegaskan kalau peristiwa

ini adalah ritual Bhuta Yadnya. Pada analisa semiologis tingkat kedua “kelahiran

kembali” adalah penanda dan keseimbangan dunia setelah dipulihkan menjadi

petanda merupakan tanda bagi dimulainya pengaruh kuasa Yang lain serta

berakhirnya kuasa angkara di Bali. Mengingat mitos merupakan metabahasa, karena

ia adalah bahasa kedua, di mana orang berbicara mengenai yang pertama13, satwa

tersebut di atas pada dasarnya berkisah tentang tunduknya Bali pada kuasa Yang lain.

Selanjutnya dikisahkan kakak-beradik Masula-Masuli memerintah Bali

sebagai suami dan istri sampai keduanya moksah (suatu konsep dalam Hindu

12Barthes, Roland, ( Nurhadi: penerjemah), Mitologi, Kreasi Wacana, Yogyakarta, 2004: 155. Kalimat

dalam tanda kurung merupakan tambahan dari penulis.

(41)

30

mengenai bersatunya atman (roh) dengan brahman (tuhan) untuk menuju

kesempurnaan). Dengan mencapai moksa maka seseorang akan terhindar dari siklus

reinkarnasi. Anak Masula-Masuli juga kembar, menikahi saudaranya, dan

memerintah Bali. Hal yang sama terus berulang sampai beberapa generasi, sampai

akhirnya terlahir seorang anak laki-laki yang tidak menikahi saudarinya. Anak itu

bernama Tapaulung, yang lebih dikenal sebagai penguasa Bedaulu. Dikisahkan

Tapaulung adalah seorang yang sakti, sebagaimana pendahulunya, Mayadenawa.

Demikian sakti-nya sampai-sampai dia bisa memotong kepalanya sendiri dengan

keris kemudian meletakkannya lagi di tempatnya semula. Karena kesaktian dalam

konteks Bali didapatkan dari suatu proses mempelajari suatu pengetahuan, bisa

dikatakan kalau Tapaulung adalah seorang yang cerdas, sedemikian cerdasnya

sampai-sampai ia disamakan dengan para Dewa. Akan tetapi karena ia adalah

manusia yang mencoba menyamai kuasa para Dewa, ia dihukum, kepalanya diganti

dengan kepala babi14. Buat masyarakat Bali, kisah bertukarnya kepala Tapaulung

inilah yang membuat ia lebih dikenal sebagai penguasa Bedaulu15. Sebutan penguasa

Bedaulu sendiri bisa bermakna ganda. Bisa jadi ia adalah penguasa di Bedaulu

(daerah sekitar kabupaten Gianyar), atau mungkin penguasa dengan ulu16 yang

14 Sebuah satwa di Bali menyebutkan bahwa Tapaulung pernah mengirimkan kepalanya ke swargan

(surga) ketika para Dewa sedang melaksanakan suatu pertemuan dan hal ini membuat Dewa Siwa marah besar. Kepala Tapaulung kemudian ditukar dengan kepala babi. Semenjak saat itu, semua orang dilarang menengadah apalagi memandang wajahnya.

15 Dalam sense Bahasa Bali, Bedaulu secara ketat bisa dimaknai sebagai kepala, hulu, bagian atas,

pusat yang berbeda.

(42)

31

berbeda. Pada sisi lain penguasa dengan ulu yang berbeda ini bisa dimaknai secara

harfiah dan bisa jadi dimaknai sebagai penguasa yang berbeda dengan ulu-nya

(Majapahit). Seperti yang sudah diketahui Bali sebelum Majapahit berada di bawah

kekuasaan kerajaan Singasari. Ketika Singasari pecah, dan Majapahit berdiri atas

prakarsa Raden Wijaya, Majapahit mengklaim bahwa Bali berada di bawah

kekuasaannya. Tetapi sebaliknya, Tapaulung tidak mau mengakui kekuasaan

Majapahit atas Bali. Lebih jauh lagi, kuasa para Dewa yang menggantikan kepala

Tapaulung dengan kepala babi bisa saja dimaknai sebagai kuasa Majapahit yang

menggantikan kuasa Tapaulung sebagai raja di Bali.

Pada suatu waktu, seorang juru masak istana ketika sedang memasak

hidangan untuk Tapaulung tanpa sengaja melukai jarinya. Darah dari luka tersebut

menetes kena pada masakan yang sedang ia masak. Karena takut terlambat

menyajikan hidangan, ia menyajikan masakan yang bercampur tetesan darah tersebut.

Tanpa disangka-sangka oleh juru masak itu, Tapaulung ternyata menyukai hidangan

yang bercampur darah manusia itu dan meminta masakan yang sama lagi dan lagi.

Kebiasaan baru Tapaulung memakan masakan bercampur darah manusia itu

meresahkan masyarakat Bedaulu. Perwakilan dari masyarakat Bedaulu kemudian

meminta perlindungan dari Majapahit. Majapahit menjawab permintaan itu dengan

mengutus Gajah Mada. Pada awalnya Gajah Mada tidak percaya bahwa ada seorang

(43)

32 mengunjungi kerajaan Bedaulu. Dalam kunjungannya ke kerajaan Bedaulu ia

ditawari makanan dan ia meminta paku, sejenis sayuran berserabut yang dimakan

dengan cara menengadahkan wajah, dengan demikian ia bisa melihat kepala sang

raja. Karena malunya, Tapaulung dikisahkan meninggalkan kerajaannya untuk

selamanya. Versi lain kisah ini menyebutkan kalau Tapaulung dibunuh oleh Gajah

Mada. Segera setelah kematian Tapaulung, Gajah Mada menyatakan perang pada

Bedaulu dan Bali berhasil ditaklukkan.

Dalam Babad Usana Bali Pulina, disebutkan bahwa tak terkirakan sedih hati

baginda Sri Maharaja Gaja Wahana, karena putra beliau mangkat, merasa terputus

keturunannya. Sedu sedan mengenang kepergian sang putra terdengar dari istana.

Jenazah putra baginda diupacarai, disucikan dan dibakar di pekuburan. Sang

Maharaja tak sanggup menahan duka lara menceburkan diri ke dalam api unggun,

beliau pun wafat17. Jadi Gajah Mada tidak pernah menyentuh Tapaulung, entah dalam

kiasan atau dalam arti sesungguhnya. Bahkan dikisahkan Majapahit mengalami

kekalahan ketika menghadapi pasukan Bedaulu. Dalam babad yang sama disebutkan

kalau Tapaulung adalah seorang raja yang ”cerdas dan bijaksana. Tampan

18 Dalam bahasa aslinya: guna widhya wicaksana. Rupawan, silawan, punyawan saksat manobhū

(44)

33

Grigis sang patih agung dan Kebo Iwa sang patih digambarkan sebagai nak sakti19

yang bijaksana, pintar, dan seterusnya. Akan tetapi ketika (dalam Babad yang sama)

Pasung Grigis berhadapan dengan Gajah Mada, ia dipersonifikasikan sebagai

seseorang yang menunggangi kuda cundang, berkain hitam, berselimut kain poleng

merah, berdestar hitam dengan ikatan dara kepek, kulit dan giginya hitam, berkumis

dan berjenggot, menakutkan mereka yang melihat, bagaikan Sang Hyang Rudra

Murti pesiar ke dunia20. Sebaliknya, Gajah Mada dipersonifikasikan sebagai

penunggang kuda putih, penampakannya seperti Wisnu, tutur katanya halus mengalir

bagaikan madu21.

Kisah-kisah Babad bukanlah kisah yang cukup akrab dalam kehidupan

sehari-hari orang Bali. Pada titik ini kita bisa melihat bahwa kenyataan babad berbeda

dengan kenyataan satwa. Di tengah masyarakat oral, kisah-kisah yang disampaikan

secara lisan lah yang memiliki kekuatan cukup besar untuk membentuk common

sense. Sebagaimana kisah Bedaulu tersebut di atas, bahkan Tapaulung sendiri

bukanlah nama yang populer. Tapaulung dalam berbagai kisah dikenal sebagai raja

dengan kepala babi dan jahat. Karena kejahatannyalah maka Gajah Mada datang

sebagai penolong, membebaskan orang-orang Bali dari cengkraman angkara Bedaulu.

19 Bahasa Bali: orang yang memiliki kesaktian.

20 Dalam bahasa aslinya: anunggang kuda cundhang, awastra ulung, akampuh poléng bhang, papě

t

hirěng inikět dara képék, asěkar wari bang saléya, carmma mahirěng kalawan untu tuhu Rūdra mūrtti

aměng-aměng éng mrěcca-pada krawis ajéjénggot, wěnang kagiri-girin rěsrěs wwang tuminghal.

21 Dalam bahasa aslinya: anunggang kuda pětak, sang kadi Wisnu, halěp harum amanis kadi madhū

(45)

34 Gajah Mada adalah sosok ksatria yang menunggang kuda putih yang mengangkat

Bali dari lumpur angkara. Bahkan penyebutan nama daerah Bedaulu kemudian

disamarkan menjadi Bedulu, karena orang-orang Bedaulu tidak mau disangkutkan

dengan raja Tapaulung yang dikisahkan sebagai pembelot, pemberontak dan

seterusnya22.

II. Dari Samprangan Sampai Puputan Klungkung

Setelah kerajaan Bedaulu berhasil ditaklukkan, Bali berada dalam keadaan

stateless” selama beberapa saat. Pemberontakan-pemberontakan kecil digalang oleh

sisa-sisa pasukan Bedaulu. Pasukan yang ditinggalkan Gajah Mada di Bali setelah

peperangan besar, tidak mampu memadamkan pemberontakan-pemberontakan kecil

tersebut. Buku Sejarah Klungkung: Dari Smarapura Sampai Puputan (selanjutnya

hanya akan disebut Sejarah Klungkung) menyebutkan demikian: dengan alasan

mengamankan pulau Bali, Gajah Mada mengangkat dan menempatkan penguasa

sebagai bangsawan baru dengan seluruh daerah taklukannya. Gajah Mada mohon

bantuan Empu Kepakisan (Brahmana penasehatnya) untuk menyelesaikan

permasalahan di Bali. Empu Kepakisan memberikan empat orang cucunya untuk

diangkat oleh Gajah Mada menjadi cakradara, dan masing-masing memerintah

(46)

35 Blambangan, Pasuruan dan Bali. Satu cucu perempuan dikawinkan dengan Prabu

Sukania yang memerintah Sumbawa23.

Sri Kresna Kepakisan, cucu terkecil Empu Kepakisan ditunjuk sebagai

penguasa Bali dengan gelar Dalem Ketut Kresna Kepakisan, yang di kemudian hari

menurunkan klan Ksatria Dalem di Bali. Bersama Kresna Kepakisan, turut juga

beberapa ksatria Jawa yang bergelar arya dan tiga orang weisya mengiringinya ke

Bali. Gajah Mada juga membekali Sri Kresna Kepakisan dengan sebilah keris yang

bernama Si Ganja Dungkul. Pada awal pemerintahannya, Kresna Kepakisan hampir

tidak bisa berkutik menghadapi pemberontakan-pemberontakan kecil tersebut dan

meminta Gajah Mada untuk memulangkannya ke Jawa. Permintaan Kepakisan

dijawab oleh Gajah Mada dengan memberikan sebilah keris yang bernama Ki Lobar

yang merupakan manifestasi dari Si Sangkapancajanya, salah satu senjata Dewa

Wisnu, serta seperangkat pakaian kebesaran seorang adipati Majapahit. Dikatakan

bahwa jika Ki Lobar dicabut, maka yang terlihat adalah Durga Dingkul (Durga yang

meringkuk). Dikisahkan juga bahwa Ki Lobar adalah penjelamaan Gajah Mada

sendiri. Menurut saya, Kresna Kepakisan tidak pernah bisa menjadikan dirinya

perwakilan Majapahit di Bali. Ketakutannya akan pemberontakan yang terus menerus

terjadi (meski kecil), membuatnya memerlukan simbol yang menegaskan bahwa

dirinya adalah perwakilan dari Majapahit. Kejadian lain yang menyurutkan

23 Kanta, I Made, Drs. Ida Bagus Sidemen [et.al], Sejarah Klungkung: Dari Smarapura Sampai

(47)

36 pemberontakan-pemberontakan kecil tersebut adalah diangkatnya anak Pasung Grigis

ke dalam jajaran pemerintahan Sri Kresna Kepakisan. Dikisahkan dalam Babad

Usana Bali Pulina demikian: sekarang kiranya tuan jangan menolak yang saya

katakan, tuan wajib menerima segala titah Dalem. Tuan dijadikan pejabat oleh Dalem

Kresna Kepakisan. Tuan seorang ksatria, sekarang menjadi arya, menurut ucapan

dalam pustaka Slokantara24.

Penunjukan Kresna Kepakisan sebagai penguasa Bali, pemberian keris dan

pakaian kebesaran adipati Majapahit oleh Gajah Mada dalam skema wacana tuan

(master discourse) Lacanian merupakan master signifier dan Kresna Kepakisan

adalah other signifier. Seorang tuan harus dipatuhi – bukan karena kita semua akan

menjadi lebih baik dengan cara tersebut atau karena alasan-alasan rasional – tapi

karena dia menyatakannya demikian. Tiada pembenaran yang bisa diberikan untuk

kuasanya, hanya karena demikianlah adanya25. Sang tuan tidak memiliki pengetahuan

apapun. Yang ia tahu hanyalah bagaimana kekuasaannya dipelihara dan terus

berkembang. Ia tidak tertarik untuk tahu bagaimana atau mengapa sesuatu bisa

berjalan. Di sisi lain other signifier mencari pengetahuan untuk mengembangkan

kuasa sang tuan, dan pengetahuan itu menubuh dalam dirinya. Kegiatan other

24 Dalam bahasa aslinya:

mangké pwa kita kaki aryya, aywa wihang ri sawuwusku, wěnang

sinaddhyan dén sawuwus tuwan ta. Kitanggěh tandha mantrin ira Śri Cili Krěsna Kepakisan. Kita

ksatriya, mangké aryya pāwakan ta, ling ning Ślokantara’.

25 Fink, Bruce, The Lacanian Subject: Between Language and Jouissance, Princeton University Press,

(48)

37 signifier dalam skema wacana tuan memunculkan object (a) yang merepresentasikan

nilai lebih atau surplus jouissance, dalam konteks ini pemberian jabatan pada anak

Pasung Grigis adalah object (a). Kemampuan sang tuan untuk menyembunyikan

kelemahannya, bahwa ia sama seperti orang lainnya merupakan keberadaan dari

bahasa dan menyerah pada kastrasi simbolik, menghadirkan posisi kebenaran:

kebenaran yang disembunyikan26.

Kresna Kepakisan kemudian digantikan oleh anak tertuanya, Agra

Samprangan, yang bergelar Dalem Samprangan dan Dalem Ile. Disebutkan bahwa

Dalem Ile adalah seorang yang suka bersolek. Dia bahkan sering tidak menghadiri

pertemuan kerajaan karena saking lamanya ia berdandan. Kebiasaannya itu membuat

kesal aparat kerajaan, yang kemudian memutuskan untuk mengangkat adik Dalem

Ile, Dalem Ktut yang dikenal sebagai seorang penjudi, sebagai penggantinya, dan

memindahkan pusat kerajaan ke Gelgel. Pergantian ini diprakarsai oleh Tumenggung

Kubon Tubuh. Ia bahkan memberikan tempat tinggalnya sebagai istana. Jadi saat itu

ada dua kerajaan yang merupakan perpanjangan tangan Majapahit di Bali:

Samprangan dan Gelgel.

Setelah menduduki singgasana, Dalem Ktut mendapatkan gelar: Dalem Ktut

Ngulesir, Dalem Ktut Kresna Kepakisan, dan Sri Aji Semara Kepakisan. Setelah

”pusat kerajaan” dipindahkan ke Gelgel, Samprangan tidak pernah disebut-sebut lagi

26 Fink, Bruce, The Lacanian Subject: Between Language and Jouissance, Princeton University Press,

Referensi

Dokumen terkait

para mujtahid, karena para mujtahid hanya terbatas pada memperjelas atau memunculkan hukum Allah serta menemukannya melalui jalan Istimbath (penetapan hukum yang berdasarkan

dan n %u %u&u &u. ;ntu& itu< &ami menghara,&an &e&urangan dan masih !auh dari &esem,urnaan.. #alah satu su% sistem &esehatan nasional

Pelaksanaan kegiatan, setelah bahan dan peralatan disiapkan, maka tahap selanjutnya adalah tahap pelaksanaan kegiatan yaitu dilakukan kegiatan berupa pengoperasian/

Sebagian besar anak yang menderita TB paru adalah anak yang memiliki status gizi yang tidak normal dan terdapat pengaruh yang signifikan antara status gizi

Alhamdulillahhirobbil’aalamin, puji syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT, karena atas rahmat-Nya penulis dapat menyelesaikan penelitian yang berjudul “ Hubungan

Waduk Cirata merupakan waduk yang juga digunakan untuk pembangkitan listrik terletak kurang lebih 51 km di hilir Waduk Saguling. Waduk Cirata dengan luas DAS 4.119 km 2 dan

mahasiswa praktikan untuk belajar menjadi guru yang lebih inovatif, provisional dengan gaya. mengajar yang menarik

maksud untuk memahami makna yang terkandng dalam ajaran tersebut. b) Metode komparatif, yaitu ajaran ajaran islam itu dikomparasikan dengan fakta-fakta yang terjadi dan