PENDIDIKAN KEPRIBADIAN DAN PEMBINAAN MENTAL SPIRITUAL MELALUI ILMU BELADIRI PENCAK SILAT (STUDI KASUS PADA LEMBAGA BELADIRI PENCAK SILAT PERSAUDARAAN SETIA HATI TERATE (PSHT) CABANG KUDUS). - STAIN Kudus Repository

17 

Loading.... (view fulltext now)

Loading....

Loading....

Loading....

Loading....

Teks penuh

(1)

20

1. Pendidikan Kepribadian

a. Pengertian

Bila kita melihat pengertian pendidikan dari segi bahsa, maka kita akan melihat kepada kata arab karena islam diturunkan dalam bahasa tersebut. Kata Pendidikan yang umum kita gunakan sekarang yaitu “Tarbiyah”, dengan kata kerja “Rabba”.1 Sedangkan secara umum Sebagaimana termaktub dalam UU No. 20 Tahun 2003 tentang SISDIKNAS, yakni: Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan negara. Sedangkan John Dewey mendefinisikan pendidikan sebagai proses pembentukan kecakapan-kecakapan fondamental secara intelektual dan emosional kearah alam dan sesama manusia.

Masalah pendidikan adalah merupakan masalah yang sangat penting dalam kehidupan. Bukan saja sangat penting, bahkan masalah pendidikan itu sama sekali tidak dapat dipisahkan dari kehidupan. Baik dalam kehidupan keluarga, maupun dalam kehidupan bangsa dan negara. Maju mundurnya suatu bangsa sebagian besar di tentukan oleh maju mundurnya pendidikan di negara itu.

Mengingat sangat pentingnya pendidikan itu bagi kehidupan bangsa dan negara, maka hampir seluruh negara di dunia ini menangani secara langsung masalah-masalah yang berhubungan langsung dengan

1

(2)

pendidikan. Dalam hal ini masing-masing negara menentukan sendiri dasar dan tujuan pendidikan di negaranya. Pendidikan dapat di tempuh melalui tiga jalur yaitu:

1) Pendidikan Formal

Menurut Undang-Undang No 20 Tahun 2003 pendidikan formal didefinisikan sebagai jalur pendidikan yang terstruktur dan berjenjang yang terdiri atas pendidikan dasar, penddikan menengah, dan pendidikan tinggi.2

2) Pendidikan Non Formal

Pendidikan Non formal dapat didefinisikan sebagai jalur pendidikan diluar pendidikan formal yang dapat dilaksanakan secara terstruktur dan berjenjang (Undang-Undang No 20 TAHUN 2003)

Pendapat para pakar pendidikan non formal mengenai definisi pendidikan non formal cukup bervariasi. Philip H.Coombs berpendapat bahwa pendidikan non formal adalah setiap kegiatan pendidikan yang terorganisir yang diselenggarakan diluar system formal, baik tersendiri maupun merupakan bagian dari suatu kegiatan yang luas, yang dimaksudkan untuk memberikan layanan kepada sasaran didik tertentu dalam mencapai tujuan-tujuan belajar.3 Pencak silat bagian dari pendidikan non formal yang mengarahkan pengolaan jiwa dan raga melalui seni bela diri patut dijadikan rujukan alternative dalam membentuk kepribadian dan mental seorang remaja, dalam silat terdapat ajaran-ajaran dan jurus yang bisa mengarahkan remaja kedalam keseimbangan hidup karna pendidikan fisik merupkana kegiatan fisik yang paling penting dalam pengembangan karakter moral.4

2

Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 20 Tahun 2003 Tentang Sistem Pendidikan Nasional

3

Soelaman Joesoef,Konsep Dasar Pendidikan non formal, Bumi Aksara, Jakarta, 1992, ham 50.

4

(3)

3) Pendidikan Informal

Pengertian pendidikan informal adalah jalur pendidikan mandiri yang diperoleh dari keluarga maupun lingkungan dengan bentuk kegiatan pembelajaran secara mandiri. Hasil jalur pendidikan informal dapat diakui jika peserta didik dapat lulus ujian sesuai dengan standar nasional pendidikan yang diselenggarakan oleh lembaga yang ditunjuk pemerintah.5

Sedangkan kepribadian adalah keseluruhan sikap, perasaan, ekspresi, dan temperamen seseorang. Sikap, perasaan, ekspresi, dan temperamen itu akan terwujud dalam tindakan seseorang jika dihadapkan pada situasi tertentu. Setiap orang mempunyai kecenderungan berperilaku yang baku, atau berpola dan konsisten, sehingga menjadi ciri khas pribadinya. Pendidikan kepribadian adalah proses pengubahan sikap dan tatalaku seseorang atau kelompok dalam usaha mendewasakan manusia dan membentuk karakter atau ciri khas yang unik didalam tingkah laku secara lahiriah maupun sikap batinnya, sebagai bentuk terhadap penyesuaian dengan lingkungannya melalui upaya pengajaran dan pelatihan, proses perbuatan dan cara mendidik, sehingga akan terbentuk pribadi yang integratif yaitu pribadi yang menyadari dan menaruh perhatian pada jati diri atau konsep diri atau identitas diri. Konsep diri adalah suatu pemahaman mengenai siapa dirinya dan seperti apa dirinya sehingga mereka akan berusaha memahami dan mendefinisikan nilai-nilai (kebaikan, keburukan, keindahan, kebenaran, kearifan dan lain-lain) yang diyakininya.6

b. Aspek-aspek kepribadian

Kepribadian disini meliputi kualitas keseluruhan dari seseorang, kualitas itu akan tampak dari cara-caranya berbicara, berpendapat,

5

Pasal 1 ayat 13 Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional

6

(4)

sikapnya, niatnya, filsafat hidupnya serta kepercayaannya. Secara garis besar aspek-aspek kepribadian dibagi menjadi tiga:

1) Aspek-aspek kejasmanian, meliputi tingkah laku luar yang mudah nampak dan ketahuan dari luar, misalnya: cara-caranya berbuat, cara-caranya berbicara dll.

2) Aspek-aspek kejiwaan, yaitu aspek-aspek yang tidak segera dilihat dan ketahuan dari luar, misalnya: cara-caranya berfikir, minat dan sikap.

3) Aspek-aspek kerohanian yang luhur, meliputi aspek-aspek kejiwaan yang lebih abstrak yaitu filsafat hidup dan kepercayaan, ini meliputi sistem nilai-nilai yang telah meresap kedalam kepribadian itu, yang telah menjadi bagian dan sudah mendarah daging dalam kepribadian itu yang mengarahkan dan memberi corak seluruh kehidupan individu itu. Hal ini sesuai dengan lima pilar pendidikan dalam pencak silat yaitu, Takwa, Tangguh, Tanggap, Trengginas dan Tanggon.7

Sedangkan Ny. Yoesoef Noesyirwan sebagaimana dikutip oleh Abdul Aziz Ahyadi menganalisis kepribadian kedalam empat aspek, yaitu:

1) Vitalitas adalah konstanta (keadaan tetap) dan semangat hidup pribadi seseorang. Aspek ini merupakan faktor pembawaan bukan jasmaniah dan merupakan unsur penting yang ikut menentukan kemampuan berprestasi, sikap hidup dan sikap terhadap sesama manusia.

2) Temperamen adalah konstanta dari warna dan bentuk pengalaman pribadi serta cara bereaksi dan bergerak.

3) Watak adalah konstanta dari hasrat, perasaan dan kehendak pribadi mengenai nilai-nilai yang berlaku dalam masyarakat.

4) Kecerdasan,bakat daya nalar adalah konstanta kemampuan pribadi.

7

(5)

c. Faktor-faktor yang mempengaruhi kepribadian

Faktor yang besar pengaruhnya terhadap kepribadian adalah hasil hubungan kita dengan lingkungan atau pengalaman hidup kita. Para ahli membedakan dua macam faktor pengalaman yang mempengaruhi kepribadian manusia:

1) Faktor pengalaman umum.

Yang dimaksud pengalaman umum adalah pengalaman yang dihayati oleh hampir semua anggota masyarakat atau bahkan oleh semua manusia, misalnya: dalam hal nilai-nilai, prinsip-prinsip moral dan cara-cara hidup yang dihayati oleh semua anggota masyarakat tentunya nilai-nilai tersebut yang bersifat universal.

2) Faktor pengalaman unik.

Yang dimaksud faktor pengalaman unik adalah pengalaman-pengalaman yang hanya pernah dialami oleh dirinya sendiri. Setiap manusia telah memiliki ciri-ciri tertentu serta kecenderungan-kecenderungan tertentu, maka reaksi dirinya terhadap lingkungan atau reaksi lingkungan terhadap dirinya bersifat khas pula. Pengalaman unik ini menentukan bagian dirinya yang bersifat khas, unik dan tidak ada duanya.8

Dalam proses pembentukan kepribadian setidaknya ada tiga unsur di bawah ini:

a) Unsur-unsur dinamik, yaitu bermacam-macam dorongan bagi perangai dan tujuannya.

b) Ciri-ciri watak yang berhubungan dengan ciri-ciri yang membedakan respon-respon seseorang tanpa memperhatikan rangsangan yang menyebabkannya, seperti kecepatan bereaksi atau kekuatan dan tingkat kegiatannya.

c) Kemampuan dan kesanggupan mental, yaitu yang menentukan kemampuan untuk melakukan pekerjaan tertentu yang

8

(6)

tercermin dalam kecerdasan dan kemampuan hitung serta ketrampilannya.9

Pembentukan kepribadian yang sempurna, terpadu akan tercapai bila dalam prosesnya tanpa mengabaikan hal kecil sekalipun. Dan tiga tahap pembentukan yang harus berjalan lancar dan bersamaan dengan aspek-aspek serta unsur-unsur penunjang yang mempengaruhi pembentukan kepribadian itu, semua itu dibutuhkan proses kerjanya secara serasi dan seimbang.

d. Proses pembentukan kepribadian

Pembentukan kepribadian yang sempurna, terpadu akan tercapai bila dalam prosesnya tanpa mengabaikan hal kecil sekalipun. Dan tiga tahap pembentukan yang harus berjalan lancar dan bersamaan dengan aspek-aspek serta unsur-unsur penunjang yang mempengaruhi pembentukan kepribadian itu, semua itu dibutuhkan proses kerjanya secara serasi dan seimbangProses pembentukan individu sangat ditentukan oleh waktu dan kematangan pribadi. Kepribadian sering hanya diukur dari penampilan fisik, karakter atau watak dan sifat- sifat yang terbentuk dalam diri seseorang. Makna kepribadian bukan hanya itu, karena proses terbentuknya kepribadian Islam adalah yaitu ketika kepribadian manusia yang tersusun antara dua unsur Aqliyah10 dan

Nafsiyah11saling seimbang diantara keduanya.12

Ini berarti perkembangan itu tidak hanya terus menerus, tetapi juga perkembangan fase yang satu diikuti dan menghasilkan (menentukan) perkembangan pada fase berikutnya. Dengan demikian pembentukan

9

Patty dkk,Pengantar Psikologi Umum, Usaha Nasional , Surabaya, 1982, hlm. 179. 10

Aqliyah memiliki makna bahwa manusia yang memilii Aqliyah adalah manusia yang memiliki akal, tetapi akal tersebut tidak hanya digunakan untuk berfikir saja, namun manusia yang memiliki Aqliyah adalah manusia yang ketika berfikir menggunakan akal pemikirnnya akan dipimpin, diikat atau standarisasi dengan pandangan hidup tertentu.

11

Manusia yang mempunyai yang memiliki nafsu namun menggunakan nafsunya dengan untuk dipenuhi, pemenuhhannya akan dipimpin.

12

(7)

kepribadian itu tidak mungkin terlepas dari proses perkembangannya itu sendiri. Sedangkan proses itu selalu mengaitkan faktor indogen dan eksogen (sosial).

Dalam proses pembentukan kepribadian setidaknya ada tiga unsur di bawah ini:

1) Unsur-unsur dinamik, yaitu bermacam-macam dorongan bagi perangai dan tujuannya.

2) Ciri-ciri watak yang berhubungan dengan ciri-ciri yang membedakan respon-respon seseorang tanpa memperhatikan rangsangan yang menyebabkannya, seperti kecepatan bereaksi atau kekuatan dan tingkat kegiatannya.

3) Kemampuan dan kesanggupan mental, yaitu yang menentukan kemampuan untuk melakukan pekerjaan tertentu yang tercermin dalam kecerdasan dan kemampuan hitung serta ketrampilannya.

Dengan demikian pembentukan kepribadian itu tidak mungkin terlepas dari proses perkembangannya itu sendiri. Sedangkan proses itu selalu mengaitkan faktor indogen dan eksogen (sosial). Sedangkan cara peningkatan kualitas pribadi yang sedikit mendekati tipe ideal adalah sebagai berikut:13

1) Hidup secara Islami.14

2) Melakukan latihan Intensif yang bercorak Psiko edukatif.15 3) Pelatihan disiplin diri yang lebih berorientasi spiritual

religius.16

13

Saefullah, Psikologi perkembangan dan Pendidikan, Pustaka Setia, Bandung 2012, Hlm. 100

14

Berusaha secara sadar untuk mengisi kegiatan sehari- hari denga hal- hal yang bermanfaat dan sesuai dengan nilai- nilai Aqidah, Syariat dan Ahlak serta berusaha menjahui hal-hal yang dilarang Agama.

15

Dengan hal tersebut manusia diharapkan sadar diri akan keunggulan dan kelemahannya, mampu menyesuaikan diri, menemukan arti dan tujuan hidupnya serta menyadari dan menghayati betapa pentingnya meningkatkan diri.

16

(8)

Dalam hal ini individu memerlukan dan sangat butuh peran sosial untuk mendewasakan pribadinya, melalui proses imitasi, sugesti, identifikasi dan simpati serta komunikasi individu akan mengalami penyesuaian, perubahan dan perkembangan yang kemudian akan menjadi muatan kepribadian.

2. Pembinaan Mental Spiritual

a. Pengertian

Kata pembinaan berasal dari kata bina yang berarti bangunan dan bentuk, kemudian mendapatkan tambahan pe-an yang berarti proses membina, pembangunan, penyempurnaan, perbaikan, upaya untuk mendapatkan hasil yang lebih baik.Sedangkan kata mental dalam kamus umum bahasa Indonesia adalah “mengenai batin”.17

Peangertian Pembinaan Mental Spiritual Dalam kamus besar bahasa Indonesia kata pembinaan berasal dari kata bina yang berarti bangunan dan bentuk, kemudian mendapatkan tambahan pe-an yang berarti proses membina, pembangunan, penyempurnaan, perbaikan, upaya untuk mendapatkan hasil yang lebih baik. Sedangkan menurut Mangun Hardjo, pembinaan adalah; “Suatu proses belajar dengan melepaskan hal-hal yang sudah dimiliki dan mempelajari hal baru yang belum dimiliki dengan tujuan membangun orang yang menjalankannya untuk membetulkan dan mengembangkan pengetahuan dan kecakapn yang sudah ada, serta mendapatkan pengetahuan dan kecakapan yang baru untuk mencapai hidup dan kerja yang dijalani secara efektif.”18

Pembinaan merupakan suatu proses yang membantu individu melalui usaha sendiri dalam rangka menemukan dan

17

WJS. Poerwodarminto, Kamus Umum Bahasa Indonesia, Jakarta: PN. Balai pustaka, 1982, hlm. 645

18

(9)

mengembangkan kemampuannya agar memperoleh kebahagiaan pribadi dan kemanfaatan sosial.19

Sehingga bisa dikatakan bahwa pembinaan merupakan sebuah bimbingan terhadap seseorang untuk memperbaiki, membangun, menambah dan mengembangkan pengetahuan mereka agar memperoleh kebahagiaan pribadi dan bisa memanfaatkannya dalam kehidupan sosial.

Menurut Zakiah Darajat kata mental sering digunakan sebagai ganti dari kata personality (kepribadian) yang berarti bahwa mental adalah semua unsur jiwa termasuk fikiran, emosi, sikap dan perasaan yang dalam keseluruhan dan kebulatannya akan menentukan corak laku dan cara menghadapi suatu hal.20 Masih

menurut Zakiah Daradjat, dalam buku Pendidikan Agama Dalam Kesehatan Mental, menyebutkan bahwa manusia dibagi menjadi dua golongan. Yaitu golongan pertama adalah golongan yang sehat mentalnya dan yang kedua adalah golongan yang kurang sehat.21

Mental diambil dari konsep mental hygiene. Kata mental berasal dari bahasa Yunani yang artinya Jiwa.22

Orang yang sehat mentalnya adalah orang-orang yang mampu merasakan kebahagiaan dalam hidup. Karena mereka dapat merasakan bahwa dirinya berguna dan mampu menggunakan segala potensi dalam dirinya semaksimal mungkin. Sehingga orang yang sehat mentalnya tidak akan ambisius, sombong, randah diri dan apatis. Namun lebih mempunyai rasa percaya diri, menghargai orang lain, dan selalu berfikir postitif.

19

Jumhur dan Muh. Suryo,Bimbingan dan Penyuluhan di Sekolah, Bandung: CV. Ilmu, 2010, hlm. 25

20

Zakiah Darajat,Pendidikan Agama Dalam Pembinaan Mental, Bulan bintang,Jakarta, 1993, hlm. 35

21

Ibid, hal. 36 22

(10)

Sedangkan orang yang kurang sehat mentalnya adalah orang-orang yang tidak mampu mendapatkan ketrentaman hatinya karena mereka tidak bisa memanfaatkan segala potensi dala dirinya semaksimal mungkin.

Definisi tersebut menjelaskan bahwa orang yang sehat mentalnya akan selalu mendorong orang untuk mengembangkan dan memanfaatkan segala potensi yang ada pada dirinya.23

Sehingga diharapkan dia bisa membawa kebaikan dan kemanfaatan baik kepada diri sendiri maupun orang lain. Ketika bakat dan potensinya tidak dapat berkembang dengan baik maka akan membawa kepada kegelisahan dan pertentangan batin. Seperti perasaan sedih, marah, minder, malu pada dirinya maupun orang lain.

Dalam pendidikan nasional, yang dituju pada dasarnya adalah pembinaan mental yang sehat, sehingga setiap anak didik mulai dari kecilnya telah dipersiapkan untuk mengalami ketrentaman jiwa yang akan menjadi dasar dari pembinaan mental selanjutnya.

Secara etimologi, kata spirit berasal dari kata latin “spiritus”, yang diantaranya berarti “roh, jiwa, sukma, kesadaran diri, wujud tak berbadan, nafas hidup, nyawa hidup. Dalam perkembangan selanjutnya kata spirit diartikan lebih luas lagi.24

Para filosof mengonotasikan spirit dengan (1) kekuatan yang menganimasi dan memberi energy pada cosmos, (2) kesadaran yang berkaitan dengan kemampuan, keinginan, dan intelegensi, (3) makhluk immaterial, dan (4) wujud ideal akal pikiran (intelektualitas,rasionalitas, moralitas, kesucian atau keahlian).

Dengan penjelasan di atas dapat diambil kesimpulan bahwa pembinaan mental spiritual adalah suatu pembinaan terhadap seseorang dengan maksud ditujukan kepada mental (jiwa) orang

23

Ibid, hal.47

24

(11)

itu dengan berlandaskan pada nilai-nilai agama, dalam hal ini adalah agama Islam. Melalui berbagai kegiatan amaliah agama dengan harapan terciptanya suatu kondisi mental yang sehat yang sesuai dengan hukum atau norma agama. pembinaan mental spiritual bukanlah suatu proses yang terjadi dengan cepat dan dipaksakan tapi secara berangsur-angsur, wajar, sehat dan sesuai dengan pertumbuhan,kemampuan dan keistimewaan umur yang sedang dilalui.

b. Dasar dan tujuan pembinaan mental spiritual

Akhir- akhir ini semakin erat hubungan antara dokter- dokter terutama dokter jiwa dengan Agama, dimana ditemukan pula kadang-kadang peyakit itu terjadi disebabkan hal- hal yang berhubungan dengan Agama. Beberapa pengalaman Dokter Jiwa, selama beberapa tahun dalam menghadapi penderita- penderita, baik yang datang karna putus asa, telah bosan berobat atau yang datang dengan bermacam-macam keluhan penyakit- penyakit, seperti sakit jantung, tekanan darah tidak normal, terganggu pencernaan dan sebagainya atau karna perasaan- perasaan takut seperti cemas, takut, ngeri, tidak bisa, tidur dan tidak bisa belajar dengan beraneka ragam penderitaan. Terasa sekali betapa eratnya hubungan antara Agama dan perawatan jiwa, demikian sebaliknya hubungn penyakit dengan keyakinan beragama.25

Manusia diperintahkan untuk saling membantu dengan sesamanya, mengajak kepada kebaikan dan mencegah terhadap kejahatan. Secara tidak langsung pembinaan mental agama Islam berpengaruh besar dalam hal ini, seperti disebutkan dalam al-Qur’an, surat Ali Imron 104 disebutkan:





yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang

25

(12)

ma’ruf dan mencegah dari yang munkar, merekalah orang-orang yang beruntung.26

Dari ayat tersebut di atas dapat disimpulkan bahwa betapa pentingnya mengajak kepada perbuatan yang baik dan mencegah perbuatan tercela, dan mengajak kepada perbuatan baik itu antara lain dengan pembinaan mental spiritual. Banyak para ahli psikologi yang menyatakan pentingnya pembinaan keagamaan bagi kesehatan mental, dalam hal ini seperti yang dikemukakan Zakiah Daradjat dalam bukunya berjudul “Peranan Agama Dalam Kesehatan Mental”.

Peran penting agama dalam pembinaan mental menurut Zakiah daradjat yaitu:

1) Memberikan bimbingan dalam hidup 2) Menolong dalam kesukaran

3) Menentramkan batin27.

3. Seni beladiri Pencak Silat

Pencak silat memiliki arti permainan (keahlian) dalam mempertahankan dengan kepada menangkis, menyerang, dan membela diri baik dengan atau tanpa senjata. Penjelasn tersebut tidak serta merta diterima oleh pendekar di daerah- daerah makna penck adalah gerakan langkah keindahan dengan menghindar dengan disertakan unsur komedi dan boleh dipertontonkan, sedangkan silat ialah unsur beladiri dengan teknik dan tidak boleh dipertontonkan didepan umum.28

Hal ini memang penting dipelajari karena pendeta Budha saat itu sering bepergian dari Cina ke India atau sebaliknya untuk belajar agama Budha. Jalur Sutra saat itu tidak pernah sepi dari perampok.

26

Departemen Agama Republik Indonesia,Al Qur’an dan Terjemah edisi baru revisi terjemah, CV. ALWAAH, 1993, hlm. 93

27

Zakiah Daradjat,Peranan Agama Dalam Kesehatan Mental, Jakarta: PT Gunung Agung, 1978, hlm. 56-61

28

(13)

Kemudian seni ini dikembangkan di Kuil Shaolin, yang kemudian disebut sebagai Kung Fu Shaolin. Seiring perjalanan waktu, seni ini merambah ke berbagai negara di dunia ini. Di Jepang, adopsi seni ini melahirkan Ju Jitsu, Aikido, Hapkido, Judo, dan Karate. Di Thailand, Thai Boxing. Di Indonesia, Pencak Silat. Di Korea, Tae Kwon Do. Bahkan di zaman moderen sekarang ini, seni ini masih melahirkan beladiri baru seperti Mixed Martial Art dan Shinto Ryu.

Sedangkan beladiri dalam arti luas pengertiannya lebih luas dari pada dalam arti sempit. Mencakup metode apapun yang digunakan manusia untuk membela dirinya. Tidak masalah bersenjata atau tidak. Gulat, Tinju, permainan pedang, menembak, dan seni beladiri yang terurai di atas termasuk bagian dalam pengertian ini. Walaupun banyak ahli beladiri Timur yang berpendapat bahwa Gulat dan Tinju tidak termasuk dalam seni bela diri, namun dua ini sekarang dikategorikan sebagai seni beladiri. Secara sistematis, keduanya memenuhi syarat untuk disebut sebagai “Seni Beladiri”.29

Pencak silat adalah sarana dan materi pendidikan untuk membentuk manusia-manusia yang mampu melaksanakan perbuatan dan tindakan yang bermanfaat dalam rangka menjalin keamanan dan kesejahteraan bersama. Pencak silat merupakan hasil budi daya manusia yang bertujuan untuk menjamin keamanan dan kesejahteraan bersama, pencak silat merupakan bagian dari kebudayaan dan peradaban manusia yang diajarkan kepada warga masyarakat yang meminatinya.30

Sebelum ada kesepakatan untuk mengukuhkan kata pencak silat sebagai istilah nasional, bahkan mungkin sampai sekarang walaupun mungkin hanya kelompok minoritas, dikalangan pendekar masih ada

29

Seminar Pencak Silat Menggali Nilai Filosofi dan Relevansi dalam Konteks Zaman “, http://silatindonesia.com/2009/05/seminar-pencak-silat-di-universitas-indonesia-kampusdepok/ 12042010.

30

(14)

yang mengartikan istilah pencak silat yang berasal dari dua kata yang berbeda masing-masing artinya. eberapa pendekar pencak silat mengungkapkan arti pencak silat sebagai berikut:

1. Abdus Syukur mengatakan pencak adalah gerak langkah keindahan dengan menghindar, yang besertakan gerakan berunsur komedi. Pencak dapat dipertontonkan sebagai sarana hiburan, sedangkan silat adalah unsur teknik beladiri menangkis, menyerang dan engunci yang tidak dapat diperagakan didepan umum.

2. Menurut Mr. Wongsonegoro31 mengatakan bahwa pencak adalah gerak serang bela yang berupa tari dan berirama dengan peraturan adat kesopanan tertentu yang biasanya untuk pertunjukan umum. Sedangkan silat adalah intisari dari pencak untuk berkelahi membela diri mati-matian yang tidak dapat dipertunjukan di depan umum.

3. R.M. Imam Koesoepangat, Guru Besar PSHT di Madiun mengartikan pencak sebagai gerakan beladiri tanpa lawan, sedangkan silat sebagai gerakan beladiri yang tidak dapat dipertontonkan.32

4. Menurut Prof. Dr. Purbo Tjaroko dalam bukunya ”Pencak Silat Diteropong dari Sudut Kebangsaan Indonesia”, dikatakan bahwa kata pencak berasal dari kata cak (injak), lincak-lincak (berulangulang menginjak), macak (berias diri), pencak baris (mengatur baris), pencak (memasang diri). Sedangkan kata silat berasal dari kata lat (pisah), welat (bambu yang pisah dari batangnya), silat (memisahkan diri).

Baru dengan pendirian IPSI33 (Ikatan Pencak Silat Indonesia) pada tahun 1948 di Surakarta, istilah pencak silat mulai dibukukan

31

Mr. Wongsonegoro adalah ketua Ikatan Pencak Silat Indonesia yang pertama.

32

Ibid,Hlm. 120 33

(15)

sebagai istilah nasional. Kemudian pada seminar olah raga asli Indonesia di Tugu, Cisaruah bulan November 1973, disepakati dan diresmikan kata pencak silat sebagai sebutan olah raga asli Indonesia. Definisi pencak silat selengkapnya yang pernah dibuat PB IPSI tahun 1975 adalah sebagai berikut : “Pencak silat adalah hasil budaya manusia Indonesia untuk membela atau mempertahankan eksistensi (kemandirian) dan integritasnya (manunggalnya) terhadap lingkungan hidup atau alam sekitarnya untuk encapai keselarasan hidup guna meningkatkan iman dan taqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa”.

B. Hasil Penelitian Terdahulu

Dalam penelitian terdahulu, penulis belum menemukan judul yang sama akan tetapi penulis mendapatkan suatu karya yang ada relevansinya sama dengan judul penelitian ini. Adapun karya tersebut antara lain:

Skripsi yang pertama berjudul “Peran Unit Kegiatan Mahasiswa Perguruan Pencak Silat Cepedi Uin Sunan Kalijaga Yogyakarta Dalam

Membina Religiusitas Siswa” karya Yusron Daraini menjelaskan tentang : 1. Kegiatan pembinaan yang dilakukan melalui kegiatan Unit mahasiswa

Pencak Silat Cepedi.

2. Peran Unit mahasiswa Pencak Silat Cepedi di kampus sebagai tempat menempa fisik, sikis dan mental secara integral dan saling berhubungan sehingga menghasilkan pesilat yang mentalnya kuat dan religius.

(16)

C. Kerangka Berpikir

Bisa dikatakan bahwa mental spiritual berhubungan erat dengan soal akhlak dan kejiwaan serta berfungsi sebagai pola pembentukan manusia yang berakhlak yang baik, beriman dan bertakwa kepada Allah serta memiliki kekuatan spiritual yang tinggi dalam hidup. Mental spiritual juga dapat didefinisikan sebagai konsep pembentukan kesadaran jiwa dalam bermakrifat dan berlaku taat kepada Allah.

(17)

Pengertian PKPMS

Perguruan PSHT cabang Kudus

Sejarah PSHT Kudus

Langkah-langkah pelaksanaanPKPMS

Jenis Latihan

Tujuan dan Manfaat PSHT

Implementasi Strategi

pembelajaranQuantum Learning

bermuatan karakter pada mata pelajaran sejarah kebudayaan

Islam

Faktor pengaruh PKPMS

Figur

Memperbarui...

Referensi

Memperbarui...