BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
G. Pengertian Belajar
Manusia sebagai makhluk individu dan makhluk sosial. Manusia dikatakan sebagai makhluk sosial, artinya yaitu bahwa manusia bagaimanapun juga tidak dapat terlepas dari individu yang lain. Maka, secara kodrati manusia akan selalu hidup bersama yang nantinya antar manusia akan terjadi berbagai bentuk komunikasi dan situasi. Dengan demikian, kegiatan hidup manusia akan selalu dibarengi dengan proses interaksi.
Dalam proses belajar mengajar di kelas terdapat keterkaitan yang erat antara guru, siswa, kurikulum, sarana, dan prasarana. Guru mempunyai tugas untuk mengajar, sehingga seorang guru harus memilih model atau media pembelajaran yang sesuai dengan materi yang disampaikan demi tercapainya tujuan pendidikan.
kebiasaan, kegemaran dan sikap seseorang terbentuk, dimodifikasi dan berkembang disebabkan karena belajar. Oleh karena itu, seseorang dikatakan belajar dapat diasumsikan pada diri orang itu menjadi suatu proses kegiatan yang mengakibatkan suatu perubahan tingkah laku. Berhasil tidaknya kegiatan belajar akan sangat dipengaruhi oleh faktor-faktor yang terlibat dalam proses belajar itu sendiri, yaitu : peserta didik, pengajar, sarana dan prasarana serta penilaian (Hudojo, 1988:6-7). Menurut Slameto (2003: 2), belajar adalah suatu proses usaha yang dilakukan seseorang untuk memperoleh sesuatu perubahan tingkah laku yang baru secara keseluruhan, sebagai hasil pengalamannya sendiri dalam interaksi dengan lingkungannya.
Menurut Sardiman (2007: 21), belajar adalah “berubah”. Dalam hal ini, arti dari belajar berarti usaha mengubah tingkah laku yang nantinya akan membawa suatu perubahan pada individu-individu yang belajar. Perubahan yang terjadi dalam hal ini tidak hanya berkaitan dengan penambahan ilmu pengetahuan, tetapi juga berbentuk kecakapan, ketrampilan, sikap, pengertian, harga diri, minat, watak, dan penyesuaian diri yang menyangkut segala aspek organisme dan tingkah laku seseorang.
yang disengaja. Aliran psikologi kognitif menganggap bahwa belajar merupakan peristiwa mental, bukan peristiwa behavioral yang bersifat jasmani.
Dari pengertian di atas dapat disimpulkan bahwa belajar adalah proses terbentuknya tingkah laku baru dari rangkaian kegiatan jiwa raga, psiko-fisik dalam membentuk pribadi manusia seutuhnya, termasuk unsur cipta, rasa dan karya, ranah kognitif, afektif, dan psikomotor yang disebabkan dari interaksi individu dengan lingkungannya.
H. Model pembelajaranCreative Problem Solving (CPS)
Creative Problem Solving (CPS), menurut istilahnya terbentuk dari tiga
unsur. Kata ”creative” yang bermakna memiliki daya cipta, kata ”problem” yang bermakna masalah, dan kata ”solving” yang bermakna memecahkan. Oleh karana itu, model pembelajaran CPS dapat bermakna suatu daya cipta untuk memecahkan masalah yang dimiliki oleh siswa.
siswa tidak hanya menghafal tanpa berpikir, tetapi ketrampilan memecahkan masalah dapat memperluas proses berpikir pada siswa (Pepkin, 2004: 1).
I. Tujuan Model pembelajaranCreative Problem Solving (CPS)
Menurut Pepkin (2004: 2), tujuan model pembelajara CPS sebagai berikut:
1. Siswa mampu menyatakan urutan langkah-langkah pemecahan masalah. 2. Siswa mampu memilih strategi yang akan digunakan untuk menyelesaikan
masalah.
3. Siswa mampu menemukan strategi untuk memecahkan masalah.
4. Siswa mampu mengembangkan rencana dalam mengimplementasikan strategi pemecahan masalah.
5. Siswa mampu mengimplementasikan model pembelajaranCPS.
6. Siswa mendapatkan solusi yang optimal dalam menyelasaikan masalah.
J. Prosedur Model PembelajaranCreative Problem Solving (CPS)
Menurut Pepkin (2004: 2), prosedur dalam pembelajaran CPS sebagai berikut:
1. Menemukan fakta, melibatkan penggambaran masalah, mengumpulkan, dan meneliti data informasi yang bersangkutan.
2. Menemukan gagasan, berkaitan dengan memunculkan dan memodifikasi gagasan tentang strategi pemecahan masalah.
K. Langkah-langkah Model PembelajaranCreative Problem Solving (CPS)
Dua fase proses kreatif dalam pemecahan masalah menurut Von Oech (1990), yaitu fase imaginatif dan fase praktis. Dalam fase imaginatif gagasan strategi pemecahan masalah diperoleh, dan dalam fase praktis, gagasan tersebut dievaluasi dan dilaksanakan. Pepkin (2004:2), menuliskan langkah-langkah model pembelajaran creative problem solving dalam pembelajaran matematika sebagai hasil gabungan prosedur Von Oech dan Osborn sebagai berikut:
1. Klarifikasi masalah
Klarifikasi masalah meliputi pemberian penjelasan kepada siswa tentang masalah yang diajukan, agar siswa dapat memahami tentang penyelesaian yang diharapkan.
2. Pengungkapan gagasan
Siswa dibebaskan untuk mengungkapkan gagasan tentang berbagai macam strategi penyelesaian masalah.
3. Evaluasi dan seleksi
Setiap kelompok mendiskusikan pendapat-pendapat atau strategi-strategi yang cocok untuk menyelesaikan masalah.
4. Implementasi
Dengan membiasakan siswa menggunakan langkah-langkah yang kreatif dalam memecahkan masalah, diharapkan dapat membantu siswa untuk mengatasi kesulitan dalam mempelajari matematika. Implementasi model pembelajaranCPSdalam pembelajaran matematika yaitu:
a) Tahap awal
Guru menanyakan kesiapan siswa dalam mengikuti pembelajaran matematika, kemudian mengulas kembali materi sebelumnya yang dijadikan prasayarat materi yang akan dipelajari siswa dan menjelaskan aturan main dalam pembelajaran matematika dengan menggunakan model creative problem solving. Guru juga memberikan motivasi kepada siswa tentang pentingnya pembelajaran yang akan dilaksanakan.
b) Tahap inti
pendampingan siswa dalam menyelesaikan permasalahan adalah sebagai berikut:
(1) Klarifikasi masalah
Setelah guru menjelaskan materi pembelajaran matematika, siswa dikelompokkan menjadi kelompok-kelompok kecil dan menerima beberapa masalah yang berkaitan dengan materi pelajaran. Guru bersama siswa mengklarifikasi permasalahan yang ada dalam masalah tersebut sehingga siswa mengetahui solusi yang diharapkan dari masalah tersebut. Dalam tahap ini, masing-masing kelompok mencari permasalahan, kemudian diajukan kepada guru tentang masalah yang akan dipecahkan permasalahannya.
(2) Pengungkapan gagasan
Pada tahap ini, siswa diberi kebebasan untuk mengungkapkan pendapat tentang berbagai macam strategi penyelesaian masalah yang dihadapi dalam permasalahan tersebut.
(3) Evaluasi dan seleksi
(4) Implementasi
Dalam tahap ini, siswa bersama kelompoknya memutuskan tentang strategi penyelesaian yang tepat dalam penyelesaian permasalahannya, kemudian menerapkannya sampai memperoleh penyelesaian dari permasalahan tersebut. Setelah selesai mengerjakan, siswa bersama kelompoknya mempresentasikan hasil diskusinya di depan kelas dengan menggunakan media sesuai dengan kreatifitasnya untuk menyampaikan gagasannya dan mendapatkan saran dan kritik dari pihak lain, sehingga diperoleh solusi yang optimal berkaitan dengan pemecahan masalah. Kemudian guru bersama siswa menyimpulkan materi pembelajaran ke arah matematika formal.
c) Tahap Penutup
Dengan bantuan guru siswa menyimpulkan materi pembelajaran yang telah diajarkan. Sebagai pemantapan materi, secara individual siswa mengerjakan pop quiz yang ditampilkan dengan media pembelajaran dan guru memberikan poin bagi siswa yang mampu memecahkan permasalahan sebagai upaya memotivasi siswa dalam mengerjakan soal-soal.
tidak tahu cara menyelesaikannya. Siswa menggunakan segenap pemikiran, memilih strategi pemecahannya, dan memproses hingga menemukan penyelesaian dari suatu masalah.
L. Lembar Kerja Siswa (LKS)
1. Pengertian Lembar Kerja Siswa (LKS)
Lembar kerja siswa (LKS) merupakan salah satu jenis alat bantu dalam pembelajaran, bahkan ada yang menggolongkan dalam jenis alat peraga pembelajaran matematika. Secara umum LKS merupakan perangkat pembelajarn sebagai pelangkap atau sarana pendukung Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP). LKS adalah sumber belajar atau media cetak yang terdiri dari beberapa lembar kegiatan yang disertai dengan ringkasan materi, contoh soal, dan latihan-latihan soal yang diberikan kepada siswa, LKS membantu siswa dalam memahami bahan kajian yang menjadi isi tujuan pembelajaran khusus dari pokok bahasan tertentu. LKS bertujuan untuk menemukan konsep atau prinsip dan aplikasi konsep atau prinsip.
hirarki materi (matematika) dan pemilihan pertanyaan-pertanyaan sebagai stimulus yang efisien dan efektif (Hidayah, 2007: 8).
Lembar Kerja siswa (LKS) adalah lembaran-lembaran yang digunakan sebagai pedoman di dalam pembelajaran serta berisi tugas yang harus dikerjakan oleh peserta didik dalam kajian teretentu.. LKS sangat baik dipergunakan dalam rangka strategi heuristik maupun ekspositorik. Dalam strategi heuristik LKS dipakai dalam metode penemuan terbimbing, sedangkan dalam strategi ekspositorik LKS dipakai untuk memberikan latihan pengembangan. Selain itu LKS sebagai penunjang untuk meningkatkan aktifitas siswa dalam proses belajar dapat mengoptimalkan hasil belajar (Darmojo dan Kaligis, 1991; Depdiknas, 2004; Yuningsih, 2006).
Sebagai alat pengajaran, (4) Mengecek tingkat pemahaman, (3) Pengembangan dan penerapannya, (5) Semua permasalahan sudah dijawab dengan benar setelah selesai pembelajaran (Yuningsih, 2006).
Manfaat LKS dalam proses belajar mengajar adalah 1) Mengaktifkan siswa dalam proses pembelajaran, 2) Membantu siswa dalam pengembangan konsep, 3) Melatih siswa dalam menemukan dan mengembangkan keterampilan proses, 4) Sebagai pedoman guru dan siswa dalam proses pembelajaran, 5) Membantu siswa memperoleh catatan tentang materi yang dipelajari, dan 6) Membantu siswa untuk menambah informasi tentang konsep yang dipelajari melalui kegiatan belajar secara sistematis (Suyitno, 1997: 40).
2. Kriteria Pembuatan Lembar Kerja Siswa (LKS)
LKS yang digunakan siswa harus dirancang atau dibuat dalam bentuk yang menarik, dari pendesainan cover, isi, sampai dengan latihan-latihan soal. Sehingga dengan bentuk LKS yang menarik, dapat menarik perhatian siswa untuk mengerjakan latihan-latihan soal yang telah disediakan dalam LKS dengan baik dan dapat memotivasi belajar siswa. Menurut Tim Penatar Provinsi Dati I Jawa Tengah, hal-hal yang diperlukan dalam penyususunan LKS adalah
a) Berdasarkan GBPP berlaku, AMP, buku pegangan, siswa (buku paket). b) Mengutamakan bahan yang penting.
3. Peran dan Fungsi Lembar Kerja Siswa (LKS)
Peran LKS sangat besar dalam proses belajar mengajar, karena LKS dapat meningkatkan aktifitas dan kreatifitas siswa dalam belajar untuk menyelesaikan permasalahan yang telah ada dalam LKS tersebut. Dalam pembelajaran, LKS dapat membantu guru untuk mengarahkan dan mengaktifkan peran siswa dalam proses belajar mengajar, memacu siswa menemukan konsep-konsep melalui aktifitasnya. Disamping itu, LKS juga dapat mengembangkan ketrampilan proses, meningkatkan aktifitas siswa dan dapat mengoptimalkan hasil belajar.
masalah. Lembar Kerja siswa digunakan untuk memotivasi siswa ketika sedang melakukan tugas latihan, sehingga siswa mampu belajar mandiri dan mengetahui tingkat pemahaman terhadap materi pelajaran.
4. Langkah-langkah menyusun Lembar Kerja Siswa (LKS)
Dalam penyusunan LKS dapat dilakukan langkah-langkah sebagai berikut:
a) Analisis kurikulum
Analisis kurikulum bertujuan untuk menentukan kompetensi atau materi mana yang memerlukan bahan ajar LKS. Analisis dilakukan dengan cara mempelajari standar kompetensi, kompetensi dasar, materi pokok, pengalaman belajar, dan indicator ketercapaian belajarnya.
b) Menyusun peta kebutuhan LKS
Peta kebutuhan LKS sangat diperlukan untuk mengetahui jumlah LKS yang harus ditulis dan urutan LKS-nya juga dapat dilihat. Urutan LKS ini sangat diperlukan dalam menentukan prioritas penulisannya.
c) Menentukan judul-judul LKS
pokok (MP) terdapat maksimal empat MP, maka kompetensi itu telah dapat dijadikan sebagai satu judul LKS. Namun, apabila diuraikan menjadi lebih dari empat MP, maka perlu direncanakan kembali apakah perlu dipecah menjadi dua judul LKS. Judul LKS tidak harus sama dengan yang tercantum pada kurikulum, yang lebih penting adalah kompetensi dasar harus dicapai secara esensi tidak berubah. Penentuan judul akan lebih mudah apabila pengalaman belajar siswa diuraikan terlebih dahulu.
d) Penulisan LKS
Penulisan LKS dibuat setelah silabus disusun, dimulai dengan analisis kurikulum. Langkah-langkah penulisan LKS sebagai berikut: (1).Perumusan kompetensi dasar yang harus dikuasai
Rumusan kompetensi dasar LKS langsung diturunkan dari buku Pedoman Khusus Pengembangan Silabus.
(2).Menentukan alat penilaian
(3).Penyusunan Materi
Materi LKS tergantung pada kompetensi dasar yang akan dicapai. Materi LKS dapat berupa informasi pendukung, yaitu gambaran umun atau ruang lingkup substansi yang akan dipelajari. Materi dapat diambil dari berbagai sumber seperti buku, majalah, internet, jurnal hasil penelitian, dan masih banyak lagi sumber lain yang berhubungan dengan materi pada LKS. Agar pemahaman siswa terhadap materi lebih kuat, maka dalam penulisan LKS dapat ditunjukan referensi yang digunakan agar siswa belajar lebih mendalam tentang materi tersebut. Tugas-tugas harus ditulis secara jelas untuk mengurangi pertanyaan pada siswa tentang hala-hal yang seharusnya siswa dapat melakukannya, misalnya tentang tugas diskusi. Judul diskusi diberikan secara jelas dan didiskusikan dengan siapa, berapa orang dalam kelompok diskusi, dan berapa lama waktu yang diberikan untuk diskusi.
(4).Struktur LKS
Struktur LKS secara umum sebagai berikut: Halaman Depan(Cover)
Kata Pengantar Daftar isi
Standar Kompetensi dan Kompetensi Dasar Tujuan Pembelajaran
Pokok Bahasan fungsi Sub Pokok Bahasan Kegiatan Siswa Latiahan Soal Diskusi Soal Daftar Pustaka
5. Macam-macam Lembar Kerja Siswa (LKS)
a) Lembar Kerja Siswa Tak Berstruktur
Lembar Kegiatan siswa tak berstruktur adalah lembaran yang berisi sarana untuk materi pelajaran, sebagai alat bantu kegiatan siswa yang dipakai untuk menyampaiakan materi pelajaran. LKS merupakan alat bantu mengajar yang dapat dipakai untuk mempercepat pembelajaran, memberi dorongan belajar siswa, berisi sedikit petunjuk tertulis atau lisan untuk mengarahkan kegiatan siswa.
b) Lembar Kerja Siswa Berstruktur
telah disusun petunjuk dan pengarahannya, namun LKS ini tidak dapat menggantikan peran guru dalam kelas. Guru tetap mengawasi kelas, memberi dorongan belajar dan memberi bimbingan pada setiap siswa. LKS berstruktur memuat komponen-komponen antara lain: 1) Judul, 2) Tujuan pembelajaran, 3) Petunjuk pembelajaran, dan 4) Kegiatan belajar.
Penelitian yang dikembangkan dalam pengembangan LKS ini termasuk dalam penelitian pengembangan LKS yang berstruktur, karena terdapat komponen-komponen tersebut.
6. Syarat-syarat Lembar Kerja Siswa (LKS ) yang baik
Rumaharto (dalam Hartati, 2002:22) menyebutkan bahwa LKS yang baik harus memenuhi berbagai persyaratan yaitu syarat konstruksi, syarat didaktik, dan syarat teknis. Untuk lebih jelasnya mengenai persyaratan tersebut dapat dijelaskan sebagai berikut:
Syarat konstruksi adalah syarat-syarat yang meliputi penggunaan bahasa, susunan kalimat, kosa kata, tingkat kesukaran, dan kejelasan yang pada hakekatnya haruslah tepat guna, yang artinya dapat dimengerti oleh pengguna LKS yaitu siswa. Kriteria dari syarat konstruksi sebagai berikut: (1).Harus menggunakan bahasa yang sesuai dengan tingkat kemampuan
pemahaman siswa.
(2).Menggunakan struktur kata yang jelas.
(3).Tata urutan pelajaran sesuai dengan tingkat kemampuan siswa, dari tingkat yang mudah dipahami siswa sampai tingkat yang sukar untuk dipahami, sehingga siswa harus berfikir ekstra dalam menggunakan penalaran atau dengan keahliannya sesuai dengan tingkat pemahaman siswa.
(4).Menghindari pertanyaan yang bersifat terbuka.
(5).Hindari penggunaan buku sumber yang diluar kemampuan keterbacaan siswa.
(6).Sediakan lembar jawab yang cukup, agar siswa mudah untuk menulis jawaban dari pertanyaan maupun untuk menggambar pada LKS. (7).Gunakan kalimat yang sederhana dan pendek.
(8).Gunakan ilustrasi untuk mempermudah siswa dalam memahami apa yang dimaksudkan atau diisyaratkan LKS.
(10). Memiliki identitas, sehingga mudah dalam administrasinya.
b) Syarat Didaktif
LKS merupakan salah satu sumber belajar yang digunakan guru atau pengajar dalam proses belajar mengajar, sehingga proses belajar mengajar berjalan lancar sesuai dengan yang diharapkan. LKS harus memenuhi syarat didaktif, artinya yaitu suatu LKS harus sesuai dengan asas belajar mengajar yang efektif. Kriteria dari syarat didaktif sebagai berikut:
(1).Memperhatikan adanya perbedaan individual siswa, artinya suatu LKS yang baik adalah LKS yang dapat digunakan semua siswa, baik oleh siswa yang lamban, sedang, maupun yang pandai dalam mengikuti pembelajaran.
(2).Lebih menekankan pada proses untuk menemukan konsep-konsep pemecahan masalah, sehingga LKS berfungsi sebagai petunjuk penyelesaian masalah bagi siswa.
(3).Memiliki variasi stimulus dalam berbagai kegiatan siswa.
(4).Dapat mengembangkan kemampuan komunikasi sosial, emosional, moral, dan estetika pada diri siswa.
(5).Keberhasilan belajarnya ditentukan oleh tingkat kemampuan masing-masing siswa (intelektual, emosional, dan sebagainya), bukan ditentukan dari materi bahan pelajaran.
Syarat teknis merupakan syarat dari keseluruhan LKS yaitu:
(1).Tulisan
Tulisan dalam LKS haruslah mudah dimengerti dan dipahami oleh pengguna LKS. Besar kecilnya tulisan pada LKS juga harus dibedakan, agar pengguna LKS lebih mudah dalam memahami isi atau makna yang terdapat dalam LKS. Dengan demikian, LKS dapat berfungsi sebagi sumber belajar yang efektif dan efisien dalam proses belajar mengajar. Syarat-syarat tulisan dalam LKS yaitu:
(a) Menggunakan huruf cetak dan tidak menggunakan huruf latin atau romawi.
(b) Menggunakan huruf tebal yang agak tebal, bukan huruf biasa yang diberi garis bawah.
(c) Menggunakan tanda baca yang sesuai dengan kalimat, sehingga dapat membedakan antara kalimat perinntah dengan jawaban siswa.
(d) Perbandingan antara besarnya huruf dengan gambar harus sesuai, sehingga menarik perhatian pengguna LKS yaitu siswa.
(2).Gambar
menyampaikan pesan atau isi secara efektif kepada pengguna LKS. Dalam hal ini, yang lebih penting adalah kejelasan pesan atau isi dari gambar tersebut secara keseluruhan.
(3).Penampilan
Selain tulisan dan gambar yang terdapat dalam LKS, yang tidak kalah pentingnya yaitu penampilan dari LKS tersebut. Penampilan adalah hal yang sangat penting dalam LKS. Penampilan dari LKS juga mempengaruhi minat pengguna LKS untuk membaca dan mempelajari isi dari LKS. Apabila suatu LKS ditampilkan dengan penuh kata-kata, kemudian ada sederet pertanyaan yang harus dijawab oleh pengguna LKS yaitu siswa, hal ini akan menimbulkan kesan jenuh, sehingga LKS tersebut membosankan dan menjadi tidak menarik. Namun, apabila ditampilkan dengan gambar saja, hal itu juga tidak mungkin, karena pesan atau isinya tidak dapat disampaikan. Oleh karena itu, penampilan LKS yang baik adalah LKS yang memiliki kombinasi antara gambar dan tulisan.
7. Kelebihan dan kelemahan pembelajaran menggunakan LKS
Setiap penggunaan bahan ajar pada proses pembelajaran, pasti memiliki kelebihan dan kekuranagn, begitu juga dengan LKS. LKS memiliki kelebihan dan kekuranagan dalam proses pembelajaran sebagai berikut:
(1).Meningkatkan aktivitas belajar
(2).Mendorong siswa mampu bekerja sendiri
(3).Membimbing siswa secara baik ke arah pengembangan konsep.
(4).Materi yang ada di LKS sesuai dengan kurikulum.
(5).Pemberian latihan soal teratur, yaitu denngan adannya latihan soal terkontrol siswa diberi cara-cara mengerjakan soal.
(6).Setiap memasuki sub pokok bahasan baru ditulis TIK, sehingga siswa mengetahui apa yang dicapai pada sub pokok bahasan tersebut.
(7).Ringkasan materi lengkap pada pokok bahasan.
b) Kelemahan
(a) Tanda baca kurang diperhatikan, sehingga ada kata-kata atau kalimat yang keliru dalam penulisan.
8. Materi Lembar Kerja Siswa (LKS)
Pokok bahasan yang akan dibahas dalam LKS adalah funsi, sebagai berikut:
a) Relasi
(1).Membahas pengertian relasi melalui contoh-contoh dalam kehidupan sehari-hari.
(2).Membahas pengertian relasi dari himpunan A ke B dinyatakan dengan:
(a) Diagram panah
(b) Diagram cartesius
(c) Dengan himpunan pasangan berurutan
b) Fungsi dan koresponden satu-satu
(1).Membahas pengertian fungsi dan koresponden-korespondenya, seperti daerah asal, daerah kawan, dan daerah hasil.
(2).Membahas fungsi dalam bentuk diagrm panah, diagram cartesius, dan himpunan pasangan berurutan.
(3).Menentukan banyaknya pemetaan yang memungkinkan dari dua himpunan yang banyak anggotanya.
(4).Membahas pengertian korespondensi satu-satu.
c) Menentukan nilai fungsi
(1).Mencari dan menghitung banyaknya nilai fungsi. (2).Menyusun tabel fungsi.