Panorama Nusantara Vol.2 No.1 / Januari – Juni 2007
1
MANFAAT PERATURAN KEPARIWISATAAN
BAGI INDUSTRI PARIWISATA
Oleh: Parlagutan Silitonga(Dosen STEIN)
Abstract
The Government regulations enables the Entrepreneurs to fulfill the needs of the stakeholders. It will be better if the regulations made by legislative and executives as well, are mutually supports. In this study, it is found that the Local Government regulations made by Pemda DKI Jakarta, has been in line with the professional competence, but it is not in terms of certification process and issuance.
Peraturan memberikan arahan kepada pelaku bisnis agar dapat memenuhi kebutuhan para pihak berkepentingan. Akan lebih baik bila peraturan yang dibuat oleh Lembaga Legislatif dan Eksekutif saling mendukung. Dalam penelitian ini ditemukan peraturan yang dikeluarkan Pemda DKI Jakarta sudah mengacu pada kompetensi para pelaku di industri pariwisata namun bila dibandingkan dengan peraturan pemerintah sebagai peraturan yang lebih tinggi, sistem pemberian sertifikat kompetensi tersebut tidak sesuai dan tidak independent.
Kata kunci : Peraturan Pemerintah, Perda (Peraturan Daerah), Surat Keputusan Gubernur, Legislatif, Eksekutif, Sertifikat Kompetensi.
Panorama Nusantara Vol.2 No.1 / Januari – Juni 2007
2
A. PENDAHULUAN 1. Latar Belakang
Dalam era reformasi, keterbukaan, globalisasi dewasa ini perlu menyimak ulang setiap peraturan yang masih
berlaku dalam rangka menguji
keefektifan dan akuntabilitasnya. Pada industri pariwisata peraturan perundang-undangan diatur dalam bentuk Undang-undang, Peraturan Pemerintah, Peraturan Daerah dan Keputusan Gubernur.
Peraturan yang baik mencakup tiga unsur yaitu dalam dimensi pengaturan, pembinaan dan pengawasan. Dari ketiga unsur atau dimensi di atas hendaknya memberikan manfaat yang
sebesar-besarnya bagi pemerintah,
masyarakat dan industri pariwisata. Untuk memastikan adanya peraturan kepariwisataan yang memberikan iklim kondusif bagi masyarakat dan industri
pariwisata, maka penulis mencoba
membahas Undang-undang
Kepariwisataan, peraturan pelaksanaan teknis yaitu Peraturan Daerah DKI Jakarta tentang Kepariwisataan dan
Keputusan Gubernur DKI Jakarta
tentang Kepariwisataan.
2. Tujuan
2.1. Adanya kepastian bahwa peraturan kepariwisataan yang ada memberikan
iklim kondusif dan kepastian
memperoleh kesempatan berpartisipasi bagi masyarakat dan industri pariwisata di DKI Jakarta.
2.2. Adanya pemahaman dan kesadaran melaksanakan peraturan yang berlaku bagi masyarakat dan industri pariwisata di DKI Jakarta.
3. Sasaran
3.1. Para peserta seminar memahami manfaat dan dampak peraturan yang ada dalam pelaksanaan industri pariwisata. 3.2. Para peserta dapat memberikan usul
perbaikan pada peraturan yang berlaku bila diperlukan.
B. PERATURAN KEPARIWISATAAN 1. Undang-undang No. 9 Tahun 1990
Tentang Kepariwisataan 1.1. Azas
Berdasarkan azas manfaat, usaha bersama dan kekeluargaan, adil dan
merata, perikehidupan dalam
keseimbangan, dan kepercayaan pada diri sendiri.
1.2. Tujuan Penyelenggaraan:
Memperkenalkan, mendayagunakan,
melestarikan dan meningkatkan mutu obyek dan daya tarik wisata; Memupuk rasa cinta tanah air dan meningkatkan persahabatan antar bangsa; Memperluas dan memeratakan kesempatan berusaha
dan lapangan kerja; Meningkatkan
pendapatan nasional dalam rangka
meningkatkan kesejahteraan dan
kemakmuran rakyat; Mendorong
pendayagunaan produksi nasional. Penyelenggaraan kepariwisataan di atas mengacu pada Undang-Undang
Dasar Republik Indonesia yang
kesemuanya bermuara pada peningkatan kesejahteraan dan kemakmuran rakyat Indonesia.
1.3. Penggolongan Usaha Pariwisata:
Usaha jasa pariwisata, Pengusahaan obyek dan daya tarik wisata dan Usaha sarana pariwisata
1.4. Peran Serta Masyarakat
Masyarakat mempunyai kesempatan yang sama dan seluas-luasnya untuk berperan serta dalam penyelenggaraan kepariwisataan, dalam rangka proses
pengambilan keputusan, Pemerintah
dapat mengikutsertakan masyarakat
melalui penyampaian saran, pendapat dan pertimbangan.
1.5. Pembinaan
Pembinaan pemerintah dalam bentuk
pengaturan, pembimbingan dan
pengawasan terhadap penyelenggaraan
kepariwisataan. Pembinaan dengan
memberikan kesempatan kepada
masyarakat setempat untuk ikut serta dalam pembangunan, pengembangan, pengelolaan dan pemilikan kawasan pariwisata. Pembinaan SDM melalui pendidikan tenaga kepariwisataan guna memenuhi kebutuhan tenaga ahli dan
terampil di bidang kepariwisataan,
sebagai bagian dari Sistem Pendidikan Nasional.
1.6. Penyerahan Urusan
Pemerintah dapat menyerahkan
Panorama Nusantara Vol.2 No.1 / Januari – Juni 2007
3 penyelenggaraan kepariwisataan kepada
Pemerintah Daerah.
1.7. Ketentuan Pidana
1.7.1. Barangsiapa melakukan perbuatan
melawan hak, dengan sengaja
merusak, mengurangi, mengurangi nilai, memisahkan atau membuat tidak dapat berfungsi atau tidak dapat berfungsinya secara sempurna suatu obyek dan daya tarik wisata, atau bangunan obyek dan daya tarik wisata, atau bagian dari bangunan obyek dan daya tarik wisata dipidana penjara paling lama 5 (lima) tahun dan/ atau denda setingi-tingginya Rp.
50.000.000,- (lima puluh juta
Rupiah)
1.7.2. Ketentuan-ketentuan pada 1.7.1.
tidak mengurangi ancaman pidana yang ditetapkan dalam ketentuan
perundang-undangan mengenai
lingkungan hidup, benda cagar budaya, konservasi sumber daya
alam hayati dan eksistensinya,
perikanan, dan Undang-undang
lainnya.
1.7.3. Yang merusak keseimbangan atau mengakibatkan gangguan terhadap kelancaran kegiatan yang menjadi obyek dan daya tarik wisata dalam wisata budaya dipidana paling lama 1 (satu) tahun atau denda setinggi-tingginya Rp.10.000.000,- (sepuluh juta Rupiah).
Undang-undang ini mengatur secara
umum tentang kepariwisataan dan
menyerahkan pelaksanaan teknis kepada
Pemerintah Daerah. Demi meninjau
peraturan terkini yang berlaku di Daerah Khusus Ibukota Jakarta, maka Perda sebagai peraturan pelaksanaan teknis adalah sbb :
2. Peraturan Daerah Propinsi Daerah Khusus Ibukota Jakarta Nomor 10 tahun 2004 tentang Kepariwisataan 2.1. Azas :
Berdasarkan azas manfaat, kepentingan umum, inovasi sumber daya, proporsional, profesional, transparan, akuntabilitas dan adanya kepastian hukum.
2.2. Tujuan Penyelenggaraan Kepariwisataan bertujuan:
2.2.1. Melestarikan kekayaan sumber daya
2.2.2. Memupuk rasa cinta dan kebanggaan terhadap Tanah Air
2.2.3. Mendorong pengelolaan dan
pengembangan sumber daya
destinasi yang berbasis komunitas secara berkelanjutan.
2.2.4. Memberikan arah dan fokus
keterpaduan pelaksanaan
pembangunan destinasi.
2.2.5. Memperluas kesempatan usaha dan
meningkatkan pendapatan asli
daerah.
2.3. Kode Etik Pariwisata
2.3.1. Saling memberikan kontribusi untuk
saling memahami dan saling
menghormati antara manusia dan masyarakat.
2.3.2. Menjadikan pariwisata sebagai
aktivitas yang menguntungkan bagi Negara, daerah, dan masyarakat lokal.
2.3.3. Menjamin kebebasan pergerakan
wisatawan
2.3.4. Wajib mengembangkan hak-hak
tenaga kerja dan wirausahawan dalam industri pariwisata.
2.4. Sumber Daya Pariwisata
2.4.1. Sumber daya alam ciptaan Tuhan Yang Maha Esa berupa letak geografi, kepulauan, laut, flora dan fauna, sungai, danau, hutan, bentang alam dan iklim.
2.4.2. Sumber daya hasil karya manusia berupa hasil-hasil rekayasa sumber daya alam, perkotaan, kebudayaan, nilai-nilai sosial, warisan sejarah, dan teknologi.
2.4.3. Sumber Daya Manusia berupa kesiapan, kompetensi, komitmen dan peran serta masyarakat.
2.5. Penyelenggaraan Kepariwisataan
2.5.1. Usaha akomodasi : hotel, motel, losmen, penginapan remaja, resor wisata, hunian wisata, caravan, pondok wisata dan wisma.
2.5.2. Usaha penyedian makanan dan minuman : Restoran, bar, pusat jajan, jasa boga, bakeri.
2.5.3. Usaha jasa pariwisata : Jasa BPW,
APW, Impresariat, Pramuwisata,
fasilitas teater, konvensi dan
Panorama Nusantara Vol.2 No.1 / Januari – Juni 2007
4 2.5.4. Usaha rekreasi dan hiburan : Klab
malam, diskotik, musik hidup,
karaoke, mandi uap, griya pijat dan spa, dll.
2.5.5. Usaha kawasan Pariwisata.
2.6. Atraksi Pariwisata
2.6.1. Atraksi alam : Letak geografi, kepulauan, laut, danau, dll
2.6.2. Atraksi buatan manusia: Museum, situs peninggalan bersejarah dan purbakala, Gedung bersejarah, galeri budaya, dll
2.6.3. Atraksi event : Pameran, Konvensi, Festival, Karnaval, Parade, Kontes, Konser, Pekan Raya dll.
2.7. Kawasan Destinasi Pariwisata
Pengembangan kawasan melalui
penataan kawasan dan jalur wisata; penyediaan sarana dan prasarana kota; pemeliharaan kelestarian dan mutu lingkungan hidup.
2.8. Pemasaran Destinasi Pariwisata 2.9. Penelitian dan Pengembangan
Pariwisata
2.10. Bentuk Usaha dan Permodalan 2.11. Perizinan dan Rekomendasi 2.12. Izin Tetap Usaha Pariwisata 2.13. Izin Pertunjukan Temporer
2.14. Waktu penyelenggaraan industri pariwisata
2.15. Pelatihan Ketenagakerjaan
2.15.1. Dinas Pariwisata
menyelenggarakan pelatihan untuk meningkatkan mutu tenaga kerja bidang kepariwisataan
2.15.2. Penyelenggaraan pelatihan
berpedoman pada Standar
Kompetensi Profesi
Kepariwisataan berdasarkan
profesi masing-masing.
2.15.3. Setiap tenaga kerja pariwisata wajib memiliki Sertifikat Profesi
Kepariwisataan sebagai lisensi
kekaryaan berdasarkan
profesi/jabatan di bidangnya
masing-masing.
2.15.4. Setiap tenaga kerja yang memiliki Sertifikat Profesi Kepariwisataan diberikan tanda identitas profesi
yang wajib dipakai saat
melaksanakan tugas.
2.15.5. Sertifikat Profesi Kepariwisataan dan Tanda Identitias dikeluarkan oleh Kepala Dinas Pariwisata. 2.15.6. Persyaratan dan tata cara untuk
memperoleh Sertifikat Profesi
Kepariwisataan dan Tanda
Identitas Profesi ditetapkan dengan Keputusan Gubernur.
2.15.7. Setiap pengelola industri
pariwisata yang akan
memperpanjang Izin
mempekerjakan Tenaga Kerja
Warga Negara Asing Pendatang (TKWNAP) wajib mendapatkan rekomendasi dari Kepala Dinas Pariwisata.
2.16. Peran serta masyarakat
Masyarakat berperan meningkatkan Sadar Wisata, partisipasi aktif dalam pengembangan, penggalian potensi,
pembentukan organisasi yang
mendukung pengembangan dan
penyelenggaraan pendidikan dan
latihan kepariwisataan.
2.17. Kewajiban dan larangan
2.17.1. Penyelenggara kepariwisataan
wajib menjamin keamanan,
keselamatan, ketertiban, ketertiban dan kenyamanan pengunjung.
2.17.2. Wajib memelihara kebersihan,
keindahan, dan kesehatan lokasi kegiatan dan mutu lingkungan hidup.
2.17.3. Wajib mencegah dampak sosial yang merugikan masyarakat. 2.17.4. Wajib membayar Pajak Daerah dan
Retribusi Daerah.
2.18. Ketentuan Lain-lain
Setiap industri pariwisata, jasa terkait, dan masyarakat berprestasi,
berdedikasi dan memberikan
kontribusi penyelenggaraan
kepariwisataan, diberikan
penghargaan Adikarya Wisata oleh Gubernur.
2.19. Pembinaan :
Dinas Pariwisata melakukan
pembinaan terhadap
penyelenggaraan kepariwisataan.
2.20. Pengawasan :
Dinas Pariwisata melakukan
pengawasan terhadap
Panorama Nusantara Vol.2 No.1 / Januari – Juni 2007
5
2.21. Sanksi
2.22.1. Berupa Pidana kurungan dan atau denda.
2.22.2. Berupa teguran lisan atau
panggilan, teguran
tertulis,penghentian atau
penutupan penyelenggaraan usaha atau pencabutan ISUP, ITUP, IPT dll.
3. Keputusan Gubernur DKI Nomor 118 Tahun 2004 tentang Petunjuk Pelaksanaan Pengawasan Penyelenggaraan Industri Pariwisata di Propinsi DKI Jakarta.
3.1. Pengawasan. Lingkup pengawasan terdiri dari :
3.1.1.Perizinan yang berkaitan dengan penyelenggaraan industri pariwisata 3.1.2.Kegiatan tenaga kerja pariwisata 3.1.3.Sarana, prasarana dan peralatan yang
digunakan dalam penyelenggaraan industri pariwisata
3.1.4. Lingkungan tempat penyelenggaraan industri pariwisata.
3.1.5.Kegiatan, peralatan dan tenaga kerja
lain yang bertentangan dengan
peraturan perundangan yang berlaku
pada tempat penyelenggaraan
pariwisata
3.2. Pelaksanaan pengawasan
3.2.1.Pengawasan terhadap
penyelenggaraan industri
dilaksanakan oleh Tim Pengawasan berdasarkan penugasan Kepala Suku Dinas Pariwisata secara rutin dan khusus.
3.2.2.Pengawasan pada hari besar
keagamaan, malam pergantian tahun
masehi/tahun baru dan adanya
laporan mengenai terjadinya
pelanggaraan atau musibah dalam penyelenggaraan industri pariwisata.
3.2.3. Setiap pelaksanaan pengawasan
harus dicatat dalam Berita Acara Pengawasan.
3.3. Sanksi administrasi
3.3.1.Sanksi administrasi berupa teguran lisan atau pemanggilan, teguran tertulis, penghentian atau penutupan penyelenggaraan industri pariwisata atau pencabutan ijin : ISUP, ITUP, IPT dll.
C. PEMBAHASAN
1. Perbandingan antara peraturan yang berlaku
1.1.Dari sisi azas:
Azas dalam Undang-Undang No. 9 tahun 1990
Berdasarkan azas manfaat, usaha
bersama dan kekeluargaan, adil dan
merata, perikehidupan dalam
keseimbangan, dan kepercayaan pada diri sendiri.
Azas dalam Peraturan Pemerintah
Daerah DKI Jakarta Berdasarkan azas manfaat, kepentingan umum, inovasi sumber daya, proporsional, professional, transparan, akuntabilitas dan adanya kepastian hukum.
Azas pada Undang-undang diikuti dalam peraturan yang lebih rendah artinya peraturan pelaksanan di Pemda DKI Jakarta memenuhi keselarasan dengan hukum yang lebih tinggi. Sebagai peraturan pelaksanaan Perda DKI Jakarta menekankan inovasi sumber
daya, proporsional, transparan dan
akuntabilitas.
1.2. Dari sisi Tujuan penyelenggaraan: Undang-Undang No. 9 tahun 1990 dan Perda DKI Jakarta
Kedua peraturan ini sama-sama
mendayagunakan sumberdaya alam,
buatan manusia dan sumber daya manusia itu sendiri. Ditambah lagi dengan pemberian kesempatan kepada
masyarakat untuk berperan serta
melakukan usaha jasa pariwisata. Bahkan Perda DKI Jakarta secara khusus menggariskan manfaat bagi Pemda berupa peningkatan pendapatan asli daerah.
1.3. Dari sisi bidang usaha dan peran serta masyarakat
Undang-undang No. 9 Tahun 1990. Undang-undang membagi tiga jenis usaha,al:
Usaha jasa pariwisata, Pengusahaan obyek dan daya tarik wisata dan Usaha
sarana pariwisata dan memberi
kesempatan seluas-luasnya untuk
berperan dalam penyelenggaraan
kepariwisataan. Di sisi lain Perda DKI
Jakarta membagi lebih rinci tiga
Panorama Nusantara Vol.2 No.1 / Januari – Juni 2007
6 per satu usaha yang dapat dilaksanakan
masyarakat.
1.4. Dari sisi pembinaan
Undang-undang No.9 tahun 1990 tentang kepariwisataan mengatur pemeliharaan kelestarian serta keutuhan obyek dan daya tarik wisata. Pembinaan SDM yang terampil sebagai bagian dari Sistem Pendidikan Nasional.
Perda DKI Jakarta mengatur perizinan dan hal lain yang lebih teknis. Di
dalamnya juga termasuk pelatihan
ketenagakerjaan dengan rincian sbb : a. Dinas Pariwisata menyelenggarakan
pelatihan untuk meningkatkan mutu tenaga kerja bidang kepariwisataan.
b. Penyelenggaraan pelatihan
berpedoman pada Standar
Kompetensi Profesi Kepariwisataan berdasarkan profesi masing-masing. c. Setiap tenaga kerja pariwisata wajib
memiliki Sertifikat Profesi
Kepariwisataan sebagai lisensi
kekaryaan berdasarkan
profesi/jabatan di bidangnya masing-masing.
d. Setiap tenaga kerja yang memiliki Sertifikat Profesi Kepariwisataan diberikan tanda identitas profesi
yang wajib dipakai saat
melaksanakan tugas.
e. Sertifikat Profesi Kepariwisataan dan Tanda Identitias dikeluarkan oleh Kepala Dinas Pariwisata.
f. Persyaratan dan tata cara untuk
memperoleh Sertifikat Profesi
Kepariwisataan dan Tanda Identitas Profesi ditetapkan dengan Keputusan Gubernur.
g. Setiap pengelola industri pariwisata yang akan memperpanjang Izin mempekerjakan Tenaga Kerja Warga
Negara Asing Pendatang
(TKWNAP) wajib mendapatkan
rekomendasi dari Kepala Dinas Pariwisata.
Dalam hal ini Perda DKI Jakarta menekankan perlunya pelatihan tenaga kerja pariwisata mengacu pada Standar Kompetensi Kerja Nasional Indonesia (SKKNI) diberikan sertifikat oleh Kepala Dinas Pariwisata. Dua peraturan ini tidak serupa. Undang-undang belum mengenal
SKKNI. Perda DKI Jakarta sudah
mengenal SKNNI namun belum
mengenal dan belum mengacu pada sistim sertifikasi profesi yang diatur oleh Undang-undang Nomor 13 Tahun 2003, Pasal 18. Di mana pelatihan tenaga kerja harus berbasis kompetensi berdasarkan SKKNI. Dilakukan Uji Kompetensi berdasarkan kriteria unjuk kerja yang ada pada SKKNI di TUK(Tempat Uji Kompetensi) oleh Asesor yang ditunjuk oleh LSP (Lembaga Sertifikasi Profesi) Pariwisata setelah direkomendasikan ke
BNSP (Badan Nasional Sertfikasi
Profesi) untuk diterbitkan Sertifikat Kompetensi Kerja. Kewenangan BNSP
memberikan sertifikat kompetensi
berdasarkan Peraturan Pemerintah
Nomor 23 Tahun 2004 tentang Badan Nasional Sertifikafesi. Dalam hal ini pengaturan tenaga kerja kompeten dalam undang-undang perlu ditinjau ulang agar selaras dengan Undang-undang Nomor 13 tahun 2003 tentang Ketenaga kerjaan dan PP No. 23 tahun 2004 tentang BNSP. Saat ini LSP Pariwisata telah
diberi lisensi oleh BNSP untuk
melaksanakan sertifikasi profesi bagi seluruh tenaga kerja pariwisata di Indonesia, termasuk DKI Jakarta.
1.5. Dari sisi pengawasan
Undang-undang, Perda DKI dan
Keputusan Gubernur mengatur larangan dan sanksi. Undang-undang mengatur
sanksi berupa pidana dan denda
sementara Peraturan Daerah DKI Jakarta dan Keputusan Gubernur berupa sanksi bertingkat yang dimulai dari peneguran lisan, pemanggilan, pencabutan ijin dan pidana. Sesuai dengan hakekatnya kedua peraturan ini lebih teknis tentang
pengawasan dan tata cara
pelaksanaannya sehingga peraturan ini transparan dan dapat dipertanggung jawabkan.
2. Pelaksanaan peraturan kepariwisataan
Pelaksanaan teknis tidak dapat
diuraikan di sini karena datanya tidak ada. Data ini sejogyanya melalui publikasi hasil penelitian. Sistimatika Perda tentang pengaturan, pembinaan termasuk pemberian penghargaan dan
Panorama Nusantara Vol.2 No.1 / Januari – Juni 2007
7 pengawasan sudah bagus. Perda DKI
juga mengatur pelatihan dengan jelas dan bagus, namun pemberian sertifikasi belum sesuai dengan Undang-undang
Nomor 13, Pasal 18 tentang
ketenagakerjaan dan PP No. 23 Tahun 2004 tentang Badan Nasional Sertfikasi Profesi. Di mana kedua peraturan yang
lebih tinggi ini mengatur sistim
sertifikasi profesi secara independen.
D. KESIMPULAN
1). Undang-undang, Perda dan Keputusan
Gubernur dalam pengaturan dan
pengawasan saling mendukung dan sesuai dengan fungsinya masing-masing. 2). Dalam bidang pembinaan ada perbedaan
dalam pengembangan sumber daya manusia. Undang-undang mengacu pada SISDIKNAS, sementara Perda DKI Jakarta mengacu pada SKKNI.
3). Pelaksanaan SKKNI oleh Dinas
Pariwisata DKI Jakarta menurut Perda
DKI Jakarta tidak sesuai dengan
Undang-undang Nomor 13 tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan. Gubernur juga memberikan penghargaan kepada para pihak yang secara sungguh-sungguh membangun kepariwisataan DKI Jakarta. 4). Larangan, sanksi diawasi oleh Dinas Pariwisata sesuai Keputusan Gubernur DKI Jakarta. Pengawasan dilakukan
secara transparan dan dapat
dipertanggungjawabkan.
5). Secara umum semua peraturan sudah mengacu kepada Undang-Undang Dasar
yang bermuara pada pelaksanaan
masyarakat adil dan makmur.
E. SARAN
1). Hendaknya Undang-undang
Kepariwisataan dapat direvisi khususnya yang menyangkut pembinaan SDM agar masyarakat dan industri pariwisata dapat mempunyai pegangan yang pasti dan
jelas tentang arah dan kebijakan
pengembangan SDM.
2). Hendaknya Perda DKI Jakarta dapat
ditinjau ulang dalam pelaksanaan
sertifikasi profesi guna menjaga
independensi mutu lulusan lembaga pelatihan dan mutu SDM Indonesia.
Sejogyanya diselaraskan dengan
peraturan yang lebih tinggi.
REFERENSI
Brown, Stanley, Customer Relationship
Management, Price Waterhouse
Coopers, Toronto, 2000
Departemen Tenaga Kerja & Transmigrasi, Undang-undang No. 13 Tahun 2003, Jakarta, 2003
Hadinoto, Kusudianto, Perencanaan
Pariwisata, Penerbit Universitas
Indonesia, Jakarta, 1996
Harssel , Jan van, Tourism: An Exploration, Prentice Hall International Editions, New Jersey, 2000
Lindberg, Kreg, Ekotourism, The Ecoturism Society, Washington University, North Bennington, Vermont, 1993
Mill, Robert Christie, The Tourism
International Business, Terjemahan, PT Raja Grafindo Persada, Jakarta, 1990
Wahab, Salah, Manajemen Kepariwisataan, di Indonesiakan oleh Frans Gromang, PT Pradnya Paramita, Jakarta, 2003 --- Peraturan Pemerintah tentang Badan
Nasional Sertifikasi Profesi, 2004 --- Peraturan Pemerintah No. 31 Tahun
2006 tentang SITLAKERNAS (Sistem Pelatihan Kerja Nasional)
--- Undang-undang Kepariwisataan No. 9 Tahun 1990