• Tidak ada hasil yang ditemukan

PERANCANGAN DECISION SUPPORT SYSTEM (DSS) UNTUK MANAJEMEN PERSEDIAAN MATERIAL KESTASIUNAN (HDG0) (Studi Kasus: PT. Garuda Indonesia, Tbk)

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "PERANCANGAN DECISION SUPPORT SYSTEM (DSS) UNTUK MANAJEMEN PERSEDIAAN MATERIAL KESTASIUNAN (HDG0) (Studi Kasus: PT. Garuda Indonesia, Tbk)"

Copied!
10
0
0

Teks penuh

(1)

PERANCANGAN DECISION SUPPORT SYSTEM (DSS) UNTUK MANAJEMEN

PERSEDIAAN MATERIAL KESTASIUNAN (HDG0)

(Studi Kasus: PT. Garuda Indonesia, Tbk)

Guntur Saptha Panggabean dan Suparno

Jurusan Teknik Industri

Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya Kampus ITS Sukolilo Surabaya 60111 Email: [email protected]; [email protected]

Abstrak

PT. Garuda Indonesia merupakan perusahaan penerbangan milik pemerintah Indonesia yang melayani penerbangan domestik dan internasional. Sebagai satu-satunya maskapai penerbangan di Indonesia yang memberikan pelayanan penuh atau “Full Service Airline”, Garuda Indonesia berkomitmen semakin meningkatkan pelayanannya kepada para pengguna jasa. Semua aktifitas penerbangan harus sesuai dengan standar dari International Air Transport Association (IATA). Beberapa material mutlak diperlukan oleh penumpang terkait prosedur penerbangan seperti barcode boarding pass (BCBP) untuk proses boarding, baggage tag thermal paper (BTTP) untuk label bagasi penumpang dan beberapa material yang lain. Saat ini kondisi persediaan di gudang cukup tinggi dan bila tidak terdapat inventory control yang baik dapat menyebabkan overstock. Akan tetapi terdapat juga beberapa material yang tidak memiliki persediaan di gudang (stockout). Terjadinya stockout ini dapat menyebabkan terganggunya proses penerbangan di bandara. Salah satu faktor yang mengakibatkan kedua hal tersebut yaitu inventory control yang belum memperhatikan pola pemakaian material. Tiap material memiliki karakteristik yang berbeda. Dari material kestasiunan yang ada, dilakukan pengelompokan material menjadi 3 kelas agar dapat membedakan kebijakan penanganan material. Setelah diklasifikasi, dilakukan perhitungan pengendalian persediaan material dengan menggunakan metode eksisting perusahaan, metode (s,Q) dan metode (R,s,S) untuk mengetahui parameter inventori. Dari hasil parameter tersebut didapatkan hasil service level dan biaya inventori. Perancangan Decision Support System (DSS) sangat

membantu perusahaan dalam membuat keputusan berkaitan dengan

strategi perencanaan pengadaan

material kestasiunan.

Kata Kunci: Inventory control, (R,s,S) System, Decision Support System

ABSTRACT

PT. Garuda Indonesia is state-owned airlines serving domestic and international flights. As the only Indonesian airlines providing full service airline, Garuda Indonesia comitte to improve its service to its customer. All aviaton activities shall be in accordance with the standards of tha International Air Transport Association (IATA). Some materials, for instance barcode boarding passes (BCPC) for boarding process, baggage tag thermal paper (BTTP) for passenger baggage labels, etc. Are absolutely needed by the passenger. Now, warehouse inventory is high enough. Still, poor inventory control system will lead to overstock. However, there are other materials with zero inventory in the warehouse (stockout). This condition cause disruption in flights process. One of causing factor in both cases is inventory control system regardless consumption materials pattern. Every material has different characteristic. From stationary existing materials, materials are classifed into 3 classes so that different handling materials policy can be done in every class. Then, material handling are calculated using existing method, (s,Q) method, and (R,s,S) method to determine inventory parameter. From the parameter, service level and inventory cost are obtained. The Design of Decission Support System absolutely assist the company in making decission related to stationary's material procurement planning.

Keywords: Inventory control, (R,s,S) System, Decision Support System

1.

Pendahuluan

Kenyamanan

dan

keselamatan

penumpang adalah hal yang sangat diperhatikan

bagi perusahaan penerbangan khususnya PT.

Garuda Indonesia. Menurut keputusan Menteri

Perhubungan No 26/2010 pada April 2010,

Garuda Indonesia merupakan satu-satunya

(2)

maskapai penerbangan di Indonesia yang

memberikan pelayanan penuh atau “

Full Service

Airline

dikutip

dari

www.bisniskeuangan.kompas.com

. Selain itu,

Garuda Indonesia juga merupakan maskapai

penerbangan yang masuk dalam

the world’s 4

star airlines

versi skytrax. Predikat tersebut

membuat Garuda Indonesia berkomitmen

semakin meningkatkan pelayanannya kepada

para konsumen. Kenyamanan penumpang tidak

hanya dinilai dari saat penumpang berada di

dalam pesawat atau

inflight

tapi dimulai saat

penumpang memilih jadwal penerbangan hingga

sampai ke kota tujuan. Untuk mendukung

proses penerbangan, prosedur penerbangan dan

standar penerbangan sangat diperhatikan,

standar penerbangan harus sesuai dengan

International Air Transport Association (IATA)

yaitu suatu organisasi penerbangan internasional

yang

terdiri

dari

maskapai-maskapai

penerbangan seluruh dunia. Salah satu prosedur

yang harus dilewati penumpang pesawat adalah

boarding

, standar penerbangan yang lain adalah

memberi label pada bagasi penumpang

.

Dalam proses penerbangan, beberapa

item mutlak diperlukan seperti

barcode

boarding pass (BCBP)

dan

baggage tag thermal

paper (BTTP)

karena material tersebut termasuk

no go item

yaitu material yang harus ada saat di

setiap penerbangan yang berarti harus ada di

tiap

branch office (BO)

di seluruh jalur

penerbangan Garuda Indonesia

.

Sebelum

material sampai ke BO, material tersebut

dikirim oleh

vendor

ke gudang HO kemudian

disimpan di gudang HO. Untuk pemenuhan

kebutuhan material di BO, pihak BO melakukan

pemesanan ke gudang HO. Di kondisi eksisting,

perusahaan menggunakan sistem persediaan

mix-max level

yaitu dengan mempertimbangkan

reorder point

dan

maximum stock

. Dengan

system persediaan tersebut, proses pemenuhan

material oleh pihak HO ke BO mempunyai

kendala karena permintaan dari BO tidak selalu

dipenuhi oleh HO karena beberapa kali HO

mengalami

stockou

t. Beberapa demand dari BO

yang tidak dapat dipenuhi oleh HO

menyebabkan terganggunya proses penerbangan

di bandara, seperti proses

boarding

, proses

penempelan label bagasi, dan kelengkapan yang

lain. Terganggunya proses tersebut dapat

mengakibatkan

delay

yang akan mengurangi

kenyamanan dan kepercayaan penumpang

terhadap

pelayanan

Garuda

Indonesia.

Presentase kejadian

shortage

untuk permintaan

material di BO dalam negeri dapat dilihat dalam

gambar 1.1 berikut.

Gambar 1. 1 Presentase Kejadian Shortage Barcode

Boarding Pass (BCBP)dan Bagggage Label

Thermal Paper (BTTP)

Sumber: (Unit business supportPT. Garuda

Indonesia, 2009)

Berdasarkan gambar 1.1 masih ada

demand

dari beberapa BO yang belum bisa

terpenuhi dengan baik oleh HO. Oleh karena itu,

untuk memperbaiki kondisi eksisting diperlukan

sistem persediaan yang baik yaitu dengan

menggunakan sistem persediaan

periodic review

(R,s,S) system

. Karena dengan menggunakan

sistem persediaan ini dapat mempertimbangkan

reorder point, maximum stock

dan

review

period

. Untuk mempermudah

user

dalam

melakukan perhitungan dan melihat

output

dari

kedua sistem persediaan dibuatlah sebuah alat

bantu.

Output

yang dijadikan variabel keputusan

antara lain:

maximum stock

,

reorder point

,

service level

dan

total inventori cost

.

Permasalahan yang akan diselesaikan

dalam penelitian ini adalah perancangan

Decision

Support

System

(DSS)

untuk

mempermudah perhitungan dan membantu

user

dalam melihat

output

dengan menggunakan

persediaan eksisitng dan persediaan usulan.

Dengan demikian,

user

dapat dengan mudah

menentukan keputusan strategi pengadaan.

Tujuan yang ingin dicapai dalam penelitian ini

adalah menghasilkan parameter inventori yang

lebih baik (

review period, reorder point

dan

maximum stock

), melakukan analisis metode

pengendalian persediaan perusahaan dengan

metode usulan, merancang DSS untuk

membantu penentuan strategi pengadaan dan

kontrol inventori material.

Manfaat dari

penelitian ini adalah rancangan alat bantu untuk

membantu perusahaan dalam pengambilan

keputusan dalam

inventory control

sehingga

dapat mempermudah proses penentuan jumlah

material yang diminta dan tercapainya target

(3)

service level.

Batasan yang digunakan dalam

penelitian ini yaitu penelitian dilakukan pada

unit

business support

PT

.

Garuda Indonesia,

penelitian

dilakukan

terhadap

barang

kestasiunan,

data demand

yang digunakan

adalah pada kantor cabang dalam negeri.

Asumsi yang ada dalam penelitian ini yaitu

tidak ada perubahan terhadap proses bisnis

perusahaan selama penelitian berlangsung dan

l

ead time

konstan

2.

Metodologi Penelitian

Bab ini berisi tahapan-tahapan sistematis

yang digunakan dalam melakukan penelitian

tugas

akhir.

Tahapan-tahapan

tersebut

merupakan suatu kerangka berfikir yang

dijadikan sebagai acuan agar proses penelitian

berjalan secara sistematis, terstruktur, dan

terarah, serta dijadikan pedoman penelitian

untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan

sebelumnya. Pada tahapan persiapan dilakukan

perumusan masalah, tujuan penelitian, dan studi

bahan pustaka dan literatur. Pada tahapan ini,

peneliti merumuskan permasalahan yang akan

diteliti, dimana akan dibahas mengenai kondisi

eksisting pengelolaan material kestasiunan.

Kemudian akan dijadikan pertimbangan dan

input

untuk perancangan strategi proses untuk

perencanaan barang kestasiunan supaya dapat

meningkatkan

service

level

serta

mengoptimumkan biaya yang dikeluarkan. Dan

akan dihasilkan suatu

Decision Support System

(DSS)

untuk

strategi

perencanaan

pengadaannya. Studi pustaka yang dilakukan

antara lain seperti teori persediaan, sistem

persediaan

probabilistik,

mekanisme

pengendalian persediaan,

periodic review

,

Decision Support System (DSS)

dan lain

sebagainya. Setelah itu akan dilakukan

pengumpulan data yang didapatkan dari

database

perusahaan,

file-file

laporan dari unit

tertentu, dan wawancara dengan pihak dari unit

tertentu di PT. Garuda Indonesia.

2.1 Klasifikasi Material

Proses klasifikasi material dilakukan

menggunakan ABC

analysis

80-20

concept

dengan mempertimbangkan 2 kriteria, yaitu

nilai penggunaan material yang merupakan hasil

perkalian antara

demand

dengan harga material.

Beberapa material akan diklasifikasikan menjadi

3 kelas yaitu :

A : Material yang kritis

B : Material yang tingkat kekritisannya di

bawah material kelas A

C : Material yang kurang kritis

2.2 Eksperimen Perhitungan (R,s,S) Periodic

Review System

Dengan menggunakan konsep (R,s,S)

periodic

review

maka akan dilakukan eksperimen

perhitungan dengan menggunakan data historis

tiap material. Dengan melakukan perhitungan

pada parameter tertentu seperti

review period,

reorder point,

dan

base stock

, akan didapatkan

hasil yang optimum baik dari optimum biaya

yang dikeluarkan maupun

service level

yang

dicapai.

2.3 Perbandingan Metode

Terdapat 2

metode yang akan

dibandingkan yaitu metode eksisting dengan

menggunakan

min-max level

dan metode usulan

dengan menggunakan

(R,s,S) System Periodic

Review.

2.3.1 Metode Eksisting Min-Max Level

Metode eksisting yaitu dengan

menentukan

jumlah

reorder point

(s) dan

maksimum stok (S). Perhitungan dilakukan

dengan menggunakan formulasi praktis yang

diterapkan perusahaan. Berikut formulasi

matematis yang dipakai perusahaan untuk

mendapatkan nilai kedua parameter tersebut.

= ( ) ×

min. = ( 3 ℎ ) ×

= . +

= + (3 × . )

2.3.2

Metode Usulan (R,s,S) System

Periodic Review

Parameter yang diukur dalam metode

(R, s, S) yaitu besarnya

reorder point

(s) dan

maksimum stok (S). Perhitungan dilakukan

dengan persamaan 5 hingga 15 untuk

mendapatkan nilai s dan S.

Langkah 1

= 1.30

. .

1 +

.

(4)

= 0.973

+

.

+ 1.063

2.192

dimana:

=

=

=

(

+

)

Langkah 2

Jika Qp / > 1.5, maka

=

=

+

Jika tidak, maka lanjut ke langkah 3

Langkah 3

=

+

Dimana k didapatkan dari

( )

=

Kemudian

=

{ , }

=

{ +

,

So}

Keterangan :

Q

p

= kuantitas optimum pemesanan

s =

reorder point

S = maksimum stok

A = biaya

order

v = biaya variabel

r = biaya simpan

B

3

= biaya

shortage

R =

review period

L =

lead time

x

R

= rata-rata

demand

selama

review period

x

R+L

= rata-rata

demand

selama

review period

dan

lead time

σ

R+L

= standar deviasi

demand

selama

review

period

dan

lead time

Dengan algoritma tersebut akan didapatkan nilai

maksimum stok (S) dan

reorder point

(s).

R

eview period

yang digunakan yaitu 3. Untuk

eksperimen perhitungannya akan dilakukan

dengan konsep (R,s,S)

periodic review

.

2.4 Perancangan Decision Support System

(DSS)

DSS yang dirancang dalam penelititan

ini berfungsi sebagai alat hitung dan alat bantu

pengambilan keputusan yang cepat dan mudah

dalam menentukan keputusan terkait strategi

perencanaan pengadaan barang kestasiunan

(HDG0) di PT Garuda Indonesia. DSS ini juga

berfungsi sebagai sistem untuk membandingkan

dan menganalisis metode yang dipakai baik dari

konsep akademis maupun konsep praktis atau

metode yang diterapkan perusahaan. Berikut

framework

DSS yang ditampilkan dalam

gambar 2.1

Gambar 2.1 FrameworkDSS

3. Pengumpulan dan Pengolahan Data

Bab ini meliputi tahap penentuan

data-data yang akan dipakai dalam penelitian serta

pengolahan data dengan metode tertentu untuk

didapatkan suatu hasil yang ingin dicapai.

3.1 Data Demand Material

Berikut adalah data

demand

untuk

material kestasiunan (HDG0) dari bulan Januari

2008 hingga bulan Juli 2010.

Tabel 3. 1 DataDemandBarang Kestasiunan Tahun

2008

(5)

Tabel 3. 2 DataDemandBarang Kestasiunan Tahun

2009

(sumber: Data SAP PT. Garuda Indonesia, Tbk)

Tabel 3. 3 DataDemandBarang Kestasiunan Tahun

2010

(sumber: Data SAP PT. Garuda Indonesia, Tbk)

3.2 Harga Material

Berikut data harga material kestasiunan

yang ada di PT. Garuda Indonesia dari periode

Juli 2008 sampai Juli 2010.

Tabel 3. 4 Daftar Harga Material Kestasiunan (sumber: Data SAP PT. Garuda Indonesia, Tbk)

3.3 Biaya Penyimpanan

Biaya penyimpanan yang diterapkan di

PT. Garuda Indonesia menggunakan persentase

pertahun dari biaya material.

Rincian biaya penyimpanan yaitu sebagai

berikut :

- Biaya modal tersimpan : 12%

- Biaya asuransi : 5%

- Biaya keusangan : 4%

- Biaya

storage

: 2%

- Pajak : 2%

3.5 Klasifikasi Material

Proses klasifikasi material dilakukan

menggunakan ABC

analysis

80-20

concept

dengan mempertimbangkan 2 kriteria, yaitu

nilai penggunaan material yang merupakan hasil

perkalian antara

demand

dengan harga material.

Berikut hasil klasifikasi material

kestasiunan

dengan

menggunakan

ABC

analysis

.

Tabel 3.5 Material Kelas A

5.1.1.Sub Sub Bab

JANUARIFEBRUARI MARET APRIL MEI JUNI JULI 1 AMPLOP PAX MANIFEST HELAI 5000 0 9700 10300 0 0 0 2 AMPLOP RESTRICTED/SECURITY HELAI 1000 1900 6500 22600 900 0 0 3 BOARDING PASS MAGNETIC CLASS EXECUTIVE HELAI 0 30000 0 40000 0 5000 35000 4 BOARDING PASS MAGNETIC CLASS ECONOMI HELAI 85000 100000 0 150000 0 26000 124000 5 BOARDING PASS MANUAL INFANT ( Putih ) HELAI 0 0 0 0 0 0 0 6 BOARDING PASS MANUAL Y CLASS ( Hijau ) HELAI 0 0 0 0 0 0 0 7 BOARDING PASS MANUAL FOR CHILDREN ( Hijau ) HELAI 0 0 0 0 0 0 0 8 BOARDING PASS MANUAL F CLASS ( Pink ) HELAI 0 0 0 0 0 0 0 9 BOARDING PASS KUNING ECONOMI BOX 0 0 0 0 0 0 0 10 BOARDING PASS KUNING EXECUTIVE BOX 0 0 0 0 0 0 0 11 BOARDING PASS CITY CHECK-IN ECONOMI BOX 0 0 0 0 0 0 0 12 BOARDING PASS CITY CHECK-IN EXECUTIVE BOX 0 0 0 0 0 0 0 13 BOARDING PASS 1 PLY Y/CASS (HIJAU) BARU BOX 50 0 69 111 0 0 0 14 BOARDING PASS 1 PLY C/CASS (BIRU) BARU BOX 0 0 30 0 0 0 0 15 BOARDING PASS NON MAGNETIC Y/ CLASS HELAI 0 0 0 0 0 0 0 16 BAR CODE BOARDING PASS (BCBP) HELAI 600000 1100000 550000 1400000 750000 750000 1500000

… … … …

… … … …

187 BALLET CASE HELAI 4000 0 3000 0 0 1500 1500 188 KLIP PLASTIK TRANSPARAN HELAI 0 0 0 0 0 0 0 189 BADGE PENUMPANG UMROH HELAI 0 0 0 0 0 0 0 190 TRANSIT CARD INT'L CAN 0 0 0 0 0 0 0 191 GFF LOUNGE CARD CAN 0 0 60000 60000 0 0 0

(6)

Tabel 3. 5 Material Kelas B

Tabel 3. 6 Material Kelas C

3.6 Eksperimen Perhitungan Inventori

Dengan menggunakan langkah-langkah

yang telah diterangkan sebelumnya maka

didapatkan hasil eksperimen perhitungan untuk

barcode boarding pass (BCBP)

scebagai

berikut:

3.6.1 Perhitungan Inventori Metode Eksisting

Perhitungan yang digunakan perusahaan

yaitu metode minimum maksimum

(min-max)

level

. Parameter yang dihitung dalam metode

min-max level yaitu jumlah

reorder point

(s)

dan maksimum stok (S). Perhitungan dilakukan

dengan menggunakan formulasi praktis yang

diterapkan perusahaan

Tabel 3. 8 Hasil Eksperimen Perhitungan Metode Eksisting

3.6.2 Hasil Perhitungan Inventori Metode

Usulan (R,s,S) System Periodic Review

Parameter yang diukur dalam metode

(R, s, S) yaitu besarnya

reorder point

(s),

maksimum stok (S) dan

review period

(R).

Tabel 3.9 Hasil Eksperimen Perhitungan Periodic Review (R,s,S) System

3.7. Perancangan DSS

DSS yang dirancang dalam penelititan

ini berfungsi sebagai alat hitung dan alat bantu

pengambilan keputusan yang cepat dan mudah

dalam menentukan keputusan terkait strategi

perencanaan pengadaan barang kestasiunan

(HDG0) di PT Garuda Indonesia.

Demand On hand Replenishment Replenishment receipt On Replenishment Total Biaya Penyimpanan Total Biaya Pemesanan Total Biaya Shortage Biaya Pengadaan Tahun Bulan 325890 2008 Jul 0 325890 2775310 0 2775310 Rp 5,132,767.50Rp 12,000.00 0 Rp 5,144,767.50 2008 Aug 383000 2718200 0 2775310 0 Rp 42,811,650.00 0 0 Rp 42,811,650.00 2008 Sep 590000 2128200 0 0 0 Rp 33,519,150.00 0 0 Rp 33,519,150.00 2008 Oct 485000 1643200 0 0 0 Rp 25,880,400.00 0 0 Rp 25,880,400.00 2008 Nov 531000 1112200 0 0 0 Rp 17,517,150.00 0 0 Rp 17,517,150.00 2008 Dec 60000 1052200 0 0 0 Rp 16,572,150.00 0 0 Rp 16,572,150.00 2009 Jan 546000 506200 0 0 0 Rp 7,972,650.00 0 0 Rp 7,972,650.00 2009 Feb 310000 196200 2595000 0 2595000 Rp 3,090,150.00Rp 12,000.00 0 Rp 3,102,150.00 2009 Mar 545050 2246150 0 2595000 0 Rp 35,376,862.50 0 0 Rp 35,376,862.50 2009 Apr 687000 1559150 0 0 0 Rp 24,556,612.50 0 0 Rp 24,556,612.50 2009 May 659200 899950 0 0 0 Rp 14,174,212.50 0 0 Rp 14,174,212.50 2009 Jun 738000 161950 2201250 0 2201250 Rp 2,550,712.50Rp 12,000.00 0 Rp 2,562,712.50 2009 Jul 837000 1526200 0 2201250 0 Rp 24,037,650.00 0 0 Rp 24,037,650.00 2009 Aug 651000 875200 0 0 0 Rp 13,784,400.00 0 0 Rp 13,784,400.00 2009 Sep 948000 -72800 2226000 0 2226000 Rp (1,146,600.00)Rp 12,000.00Rp 458,640.00Rp (675,960.00) 2009 Oct 718000 1435200 0 2226000 0 Rp 22,604,400.00 0 0 Rp 22,604,400.00 2009 Nov 900060 535140 0 0 0 Rp 8,428,455.00 0 0 Rp 8,428,455.00 2009 Dec 647000 -111860 2566060 0 2566060 Rp (1,761,795.00)Rp 12,000.00Rp 704,718.00Rp (1,045,077.00) 2010 Jan 600000 1854200 0 2566060 0 Rp 29,203,650.00 0 0 Rp 29,203,650.00 2010 Feb 1100000 754200 0 0 0 Rp 11,878,650.00 0 0 Rp 11,878,650.00 2010 Mar 550000 204200 2347000 0 2347000 Rp 3,216,150.00Rp 12,000.00 0 Rp 3,228,150.00 2010 Apr 1400000 1151200 0 2347000 0 Rp 18,131,400.00 0 0 Rp 18,131,400.00 2010 May 750000 401200 0 0 0 Rp 6,318,900.00 0 0 Rp 6,318,900.00 2010 Jun 750000 -348800 2700000 0 2700000 Rp (5,493,600.00)Rp 12,000.00 2197440 Rp (3,284,160.00) 2010 Jul 1500000 851200 0 2700000 0 Rp 13,406,400.00 0 0 Rp 13,406,400.00 TOTAL COST Rp 375,207,325.50 Periode

(7)

3.7.1 Tampilan Awal DSS

Dalam membuat

interface

DSS desain

dan pilihan menu harus diperhatikan. Berikut

merupakan tampilan awal dari DSS yang

dirancang dimana terdiri dari tombol “

start

untuk memulai program dan

about program

yang berisi penjelasan tentang DSS.

Gambar 3. 10 Tampilan awal DSS

3.7.2 Proses Pemilihan Menu Dalam DSS

Di dalam DSS ini terdapat beberapa

proses pemilihan menu. Setelah dilakukan

proses “

start

”, berikutnya akan tampil

interface

pemilihan menu yang diinginkan. Menu yang

ditampilkan ada 2, yaitu klasifikasi material

dimana menu ini menentukan kelas material dan

comparing

method

dimana

menu

ini

menampilkan hasil perhitungan pengendalian

persediaan dengan menggunakan perhitungan

perusahaan (eksisting) dan perhitungan usulan

yaitu dengan menggunakan

periodic review

(R,s,S)

system.

Gambar 3. 11 Pemilihan Menu

3.7.3 Menu Klasifikasi Material

Di dalam menu ini user dapat

melakukan klasifikasi material dimana dalam

pengklasifikasian materialnya berdasarkan

80-20 concept. Menu klasifikasi ini terdiri dari 3

tombol yaitu ambil data, klasifikasi dan reset.

Tombol ambil data berfungsi untuk mengambil

data dari SAP. Setelah data dari SAP

dimasukkan ke dalam sistem, langkah

selanjutnya adalah melakukan klasifikasi

dengan memilih tombol klasifikasi. Dengan

fasilitas ini,

user

tidak perlu melakukan

pengklasifikasian

dengan

melakukan

perhitungan manual. Untuk menghapus data,

user

dapat memilih tombol

reset

. Berikut

tampilan menu klasifikasi.

Gambar 3.12 Tampilan Pilihan Menu pada Menu Klasifikasi

Gambar 3.13 Tampilan Hasil dari Menu Klasifikasi

3.7.4 Main Menu DSS

Main menu

merupakan bagian inti dari

DSS karena semua perhitungan dilakukan pada

bagian ini. Dalam main menu, ditampilkan

beberapa perintah untuk membantu

user

dalam

menampilkan hasil perhitungan yang membantu

dalam mengambil keputusan. Perintah yang

ditampilkan pada menu ini antara lain: ambil

data untuk pengambilan data periode

demand

,

jumlah

demand

dan karakteristik

demand

.

Dalam memilih jenis material yang dipilih

terlebih dahulu memasukkan kelas material dari

jenis material yang akan dihitung. Setelah jenis

material sudah dipilih,

user

dapat memilih menu

eksisting untuk melihat hasil perhitungan

dengan metode perusahaan atau memilih menu

improvement

untuk melihat hasil perhitungan

dengan metode pengendalian

persediaan

(8)

periodic review (R,s,S) system

. Berikut tampilan

menu yang ada di main menu.

Gambar 3. 14 Tampilan Pilihan Menu pada Main Menu

Berikut gambar dari main menu secara

keseluruhan.

Gambar 3.15 Tampilan Main Menu

3.7.5 Comparing Result DSS

Untuk

membandingkan

metode

perhitungan

perusahaan

dengan

metode

perbaikan dapat dipilih menu

comparing

pada

tampilan main menu. Kemudian muncul

form

baru yang menampilkan parameter inventori

yang dibandingkan beserta hasil perhitungan

seperti

reorder point

, maksimum stok,

service

level

dan biaya pengadaan. Berikut tampilan

menu

comparing

dalam DSS.

Gambar 3. 16 Tampilan Menu Comparing

4. Analisis dan Interpretasi Hasil

Pada bab ini akan dilakukan analisis dan

interpretasi hasil dari pengolahan data yang

telah dilakukan.

4.1 Analisis Hasil Klasifikasi Material

Dalam proses klasifikasi material,

material dikelompokkan menjadi 3, yaitu kelas

A, B, dan C. Proses klasifikasi menunjukkan

tingkat kekritisan material. Material kelas A

merupakan material yang paling kritis,

kemudian material kelas B, dan material kelas C

adalah material yang tingkat kekritisannya

rendah. Data yang digunakan dalam proses

klasifikasi material yaitu total penggunaan

selama 1 tahun dan harga material.

4.2 Analisis Hasil Perhitungan Metode

Eksisting Min-Max Level (s,S) System

Perhitungan pengendalian persediaan

perusahaan dilakukan dengan metode

min-max

level

(s,S). Perhitungan dilakukan untuk

menentukan parameter pengendalian persediaan

yaitu

reorder point

(s) dan maksimum stok (S)

yang

nantinya

akan

digunakan

dalam

menentukan

inventori on hand, order, order

receipt

,

on order

, jumlah

shortage

dan

service

level

. Selain parameter tersebut, komponen

biaya inventori juga dapat diketahui. Berikut

contoh hasil dari perhitungan material

barcode

boarding

pass

(BCBP)

tersebut

yang

ditampilkan melalui DSS.

Tabel 4. 1 Hasil Perhitungan Reorder Point

(s) danMaximum Stock(S)

Dari hasil perhitungan didapatkan hasil

bahwa dengan menggunakan metode eksisting

perusahaan

didapatkan

jumlah

shortage

sebanyak 3,

probability shortage

sebesar 12%

dan

service level

sebesar 88% dan biaya total

inventori sebesar Rp. 375.207.325.

(9)

4

.3 Analisis Hasil Perhitungan Pengendalian

Persediaan dengan periodic review (R,s,S)

system

Perhitungan pengendalian persediaan

usulan dilakukan dengan menggunakan metode

periodic review

(R,s,S)

system

. Perhitungan

dilakukan

untuk

menentukan

parameter

pengendalian persediaan yaitu

reorder point

(s),

maksimum stok (S) dan

reorder point

(R).

perusahaan dilakukan dengan metode metode

min-max level (s,S). Perhitungan dilakukan

untuk menentukan parameter pengendalian

persediaan yaitu

reorder point

(s) dan

maksimum stok (S) yang nantinya akan

digunakan dalam menentukan

inventori on

hand, order, order receipt

,

on order

, jumlah

shortage

dan

service level

. Selain parameter

tersebut, komponen biaya inventori juga dapat

diketahui. Berikut contoh hasil dari perhitungan

material

barcode boarding pass (BCBP)

dengan

review period

selama 3 bulan yang ditampilkan

melalui DSS.

Tabel 4. 3 Hasil Perhitungan Reorder Point(s) dan

Maximum Stock(S) dengan Review Period3 Bulan

Dari hasil perhitungan dapat dilihat

bahwa dengan menggunakan metode

periodic

review

(R,s,S) didapatkan jumlah

shortage

sebanyak 0,

probability shortage

sebesar 8%

dan

service level

sebesar 92% dan biaya total

inventori sebesar Rp. 670.544.679. \

Tabel 4. 4 Hasil Service levelMetode Periodic Review (R,s,S) System

4.4 Analisis Comparing Result DSS

Setelah mendapatkan hasil perhitungan

dengan metode eksisting dan metode

periodic

review

(R,s,S) dapat dilakukan perbandingan

hasil yang didapat. Untuk membandingkan

metode perhitungan perusahaan dengan metode

perbaikan dapat dipilih menu

comparing

pada

tampilan main menu. Kemudian muncul

form

baru yang menampilkan parameter inventori

yang dibandingkan beserta hasil perhitungan

seperti

reorder point

, maksimum stok,

service

level

dan biaya pengadaan. Hasil

comparing

method

tersebut ditampilkan juga dalam bentuk

grafik. Di dalam grafik dapat dilihat

perbandingan

service level

dan biaya pengadaan

antara metode eksisting dan perbaikan. Berikut

grafik yang menampilkan hasil

comparing

.

Dari hasil

comparing

didapatkan hasil

bahwa

service level

untuk material

barcode

boarding pass (BCBP)

dengan metode eksisting

lebih rendah dibanding

service level

yang

dihasilkan dari perhitungan

periodic review

(R,s,S)

yaitu 88% untuk metode eksisting dan

92% untuk metode

periodic review (R,s,S)

.

Sedangkan total biaya yang dihasilkan dari

metode eksisting sebesar Rp. 375.651.814

selama 2 tahun dan untuk metode

periodic

review

menghasilkan biaya yang lebih tinggi

yaitu sebesar Rp. 670.054.468 selama 2 tahun.

Dari hasil tersebut dapat ditarik kesimpulan

bahwa dengan menggunakan metode

periodic

review

dapat menghailkan

service level

yang

lebih tinggi daripada metode eksistng namun

biaya inventori yang dihasilkan tinggi. Dengan

hasil tersebut, perusahaan dapat menentukan

kebijakan terkait pengelolaan persediaan barang.

5. Kesimpulan

Pada bab ini akan dilakukan tahap

kesimpulan dari hasil penelitian dan usulan

saran baik untuk penelitian selanjutnya maupun

untuk perusahaan. Kesimpulan yang dapat

diambil dari penelitian yang dilakukan yaitu :

1. Hubungan antara

service level

dengan

reorder point

(s) berbanding lurus, hal

ini dapat dilihat dari perhitungan

diketahui

dengan

semakin

meningkatnya nilai

reorder point

(s)

maka

service

level

mengalami

peningkatan.

2. Dari perbandingan dua metode yang

dipakai, maka metode

periodic review

(R,s,S ) menghasilkan

service level

yang

tinggi dibandingkan dengan metode

eksisting.

3. DSS yang dirancang mampu untuk

membantu

penentuan

strategi

pengadaan material kestasiunan.

Holding Cost Rp 15.75 Order Cost Rp 12,000.00 Shortage Cost Rp 6.30 Harga Material Rp 63.00 Review Period 3 Lead Time 1 ROP 2529449 Maksimum Stok 4079877 Jumlah Shortage 2 Jumlah Data 25 Probability Shortage 8% SL Aktual 92%

(10)

7. Daftar Pustaka

Ballou,

Ronald

H.

(2003).

Business

Logistics/Supply Chain Management

,

Edisi kelima. Prentice Hall, Inc. USA.

IATA., (2010).

Bar Coded Boarding Passes

(BCBP).

diakses 24 Agustus 2010,

dapat dilihat di

www.iata.org/stb/bcbp

.

Kompas.com., (2010). Hanya Garuda yang

Full

Service

Enam Maskapai Berbiaya

Rendah. diakses 20 Agustus 2010, dapat

dilihat di

www.bisniskeuangan.Kompas

.com/read/2010/08/02/0728141/Enam.

Maskapai.Berbiaya.Rendah

.

Kurniyah, Wilda. (2010). Analisis Pemilihan

Metode

Pengendalian

Persediaan

Material

Consumable

Pesawat B737

Berdasarkan Klasifikasi Material (Studi

Kasus di PT. GMF Aero Asia). Tugas

Akhir S1 Jurusan Teknik Industri,

Institut Teknologi Sepuluh Nopember.

Surabaya.

Pujawan, I Nyoman. (2005).

Supply Chain

Management

. Edisi Pertama. Penerbit

Guna Widya. Surabaya.

Pramoedhitya, Bathamas. (2010). Perancangan

Alat Bantu Pengambilan Keputusan

Untuk

Pengadaan

dan

Kontrol

Inventori

Sparepart Seat

Kabin

B737-800 NG Dengan Pendekatan (R,s,S).

Tugas Akhir S1 Jurusan Teknik

Industri, Institut Teknologi Sepuluh

Nopember. Surabaya.

Silver, E., Pyke, David F., Peterson, R. (1998).

Decision

Systems

for

Inventory

Management and Production Planning.

3

rd

edition. John Wiley & Sons, Inc.

New York.

Tersine, Richard J. (1994).

Principles of

Inventory and Materials Management

.

4

th

edition. Prentice Hall, Inc. USA.

Gambar

Gambar 1. 1 Presentase Kejadian Shortage Barcode
Gambar 2.1 Framework DSS 3. Pengumpulan dan Pengolahan Data
Tabel 3. 2 Data Demand Barang Kestasiunan Tahun 2009
Tabel 3. 5 Material Kelas B
+4

Referensi

Dokumen terkait

Dengan mengikutkan batas bawah integral dan lebar interval sebagai dua variabel tambahan diperoleh bobot baru, batas bawah dan lebar interval yang digunakan untuk membentuk

Bersumber dari statistic keuangan yang dipublikasikan oleh Badan Pusat Statistik (BPS) dan diperoleh dari situs resmi Direktorat Jenderal Perimbangan Keuangan

Pada penelitian ini, desain penelitian yang digunakan oleh peneliti adalah cross-sectional dengan tujuan untuk mengetahui apakah terdapat hubungan antara tingkat

Namun, dalam pembuatan Barong komodifikasi semua itu tidak dilakukan karena beberapa alasan tertentu seperti; Barong komodifikasi tidak untuk upacara keagamaan

Hasil penelitian menunjukkan bahwa dalam proses akomodasi penilaian hasil belajar bahasa Indonesia yaitu meliputi: (1) fungsi penilaian telah terlaksana walaupun guru belum

( 4) Ar t i kel hasi l penel i t i an, kaj i an at au p engem bangan merupakan paparan yang disarikan dari hasil penel it ian, kaj i an at au pengembangan t ugas

Dapat dikenakan pada seluruh aspek “pengelolaan diri internal”.. Panduan Laporan Mata Kuliah Metodologi Penelitian Kualitatif 2 Peneliti yang sedang belajar menulis proposal

◦ Jika hujan yang terjadi lebih lama dari tc maka debit puncak aliran permukaan akan tetap sama dengan Qpuncak.. 