III - 1
BAB III
RANCANGAN KERANGKA EKONOMI
DAN KEBIJAKAN KEUANGAN DAERAH
3.1. Arah Kebijakan Ekonomi Daerah
Perekonomian global sejauh ini masih cenderung melemah, hal tersebut berdampak langsung pula pada kondisi perekonomian Indonesia serta khususnya perekonomian Jawa Tengah, kondisi pelemahan tersebut diperkirakan masih akan terus berlangsung sampai dengan akhir tahun depan.
Terkait hal tersebut rangka mendorong pertumbuhan ekonomi daerah yang inklusif dan berkualitas serta mengantisipasi berbagai dampak persaingan MEA, maka kebijakan perekonomian Jawa Tengah ke depan antara lain diarahkan pada peningkatan perekonomian daerah berbasis potensi unggulan daerah, pembangunan infrastruktur wilayah dan pengembangan iptek, serta peningkatan kualitas sumber daya manusia.
Di sisi lain, kinerja perekonomian Jawa Tengah akan didukung pula antara lain melalui pengembangan sektor investasi, pertanian dan maritim, industri pengolahan serta peningkatan belanja infrastruktur pemerintah, untuk memacu percepatan pertumbuhan ekonomi Jawa Tengah. Hal lain yang perlu untuk dicermati adalah terkait kebijakan-kebijakan pemerintah pusat yang berpengaruh dan berimbas langsung pada kondisi perekonomian di Jawa Tengah, sehingga diperlukan upaya sinergitas untuk memadukan kebijakan pusat, provinsi dan kabupaten/kota.
3.1.1 Kondisi Ekonomi Daerah a. Pertumbuhan Ekonomi
III - 2 Sumber: BPS Provinsi Jawa Tengah, 2016
Gambar 3.1.
Laju Pertumbuhan Ekonomi Jawa Tengah Tahun 2012 – 2016
b. Produk Domestik Regional Bruto (PDRB)
Nilai PDRB Provinsi Jawa Tengah Atas Harga Dasar Berlaku (ADHB) dan Atas Dasar Harga Konstan (ADHK) selama tahun 2011 – 2015 mengalami peningkatan positif. Nilai PDRB ADHB pada tahun 2011 sebesar Rp.692,561 Trilyun, meningkat menjadi Rp.1.014,074 Trilyun pada tahun 2015. Sedangkan nilai PDRB ADHK pada tahun 2012 sebesar Rp.691,343 Trilyun meningkat menjadi Rp.806,609 Trilyun pada tahun 2015.
Perkembangan distribusi dan kontribusi sektor pada PDRB Provinsi Jawa Tengah, selama kurun waktu 2011–2015, dapat diketahui bahwa sektor dengan kontribusi terbesar adalah pada sektor industri pengolahan. Selama periode tahun tersebut, semua sektor ini mengalami fluktuasi kenaikan dan penurunan secara berimbang. Perkembangan nilai dan laju pertumbuhan PDRB Provinsi Jawa Tengah secara lengkap dapat dilihat pada Tabel 3.1, Tabel 3.2, dan Tabel 3.3.
Tabel 3.1.
Nilai dan Laju Pertumbuhan PDRB Menurut Lapangan Usaha Atas Dasar Harga Berlaku (ADHB) di Jawa Tengah
Tahun 2011 - 2015
No Lapangan Usaha 2011 2012 2013 2014*) 2015
(Rp) % (Rp) % (Rp) % (Rp) % (Rp) %
A Pertanian, Kehutanan,
Perikanan 110,425 10,90 119,706 8,41 131,671 10,00 136,857 3,94 157,498 12,00
B Pertambangan & Galian 13,955 4,56 14,734 5,58 16,069 9,06 19,621 22,10 23,01 17,32
C Industri Pengolahan 241,531 12,26 263,739 9,19 294,967 11,84 336,070 13,93 357,50 7,81
D Pengadaan Listrik & Gas 0,689 8,38 0,744 8,00 0,769 3,27 0,793 3,20 0,814 1,83 5,34
5,14
5,42
5,44
5,06
4,80 5,00 5,20 5,40 5,60
III - 3
I Penyediaan Akomodasi &
Makan Minum 20,608 9,78 22,358 8,49 24,581 9,94 27,991 13,87 31,29 12,36 Sumber : Berita Resmi Statistik (BRS), 2016
Keterangan : *) Angka Sementara
Tabel 3.2.
Nilai dan Laju Pertumbuhan PDRB Menurut Lapangan Usaha Atas Dasar Harga Konstran (ADHK) di Jawa Tengah
Tahun 2011 – 2015
No Lapangan Usaha 2011 2012 2013 2014*) 2015
(Rp) % (Rp) % (Rp) % (Rp) % (Rp) %
A Pertanian, Kehutanan,
Perikanan 103,389 3,83 106,536 3,04 109,252 2,55 106,029 -2,95 113,825 5,60
B Pertambangan & Galian 13,054 -2,19 13,054 5,30 14,594 6,17 15,542 6,50 16,099 3,59
III - 4
I Penyediaan Akomodasi &
Makan Minum 19,818 5,57 20,871 5,31 21,802 4,46 23,465 7,63 25,12 7,09 Sumber : Berita Resmi Statistik (BRS), 2016
Keterangan : *) Angka Sementara
Tabel 3.3.
Perkembangan Konstribusi Lapangan Usaha dalam PDRB Provinsi Jawa Tengah berdasarkan ADHB dan ADHK
Tahun 2011 - 2015 (%)
Lapangan Usaha ADHB (%) ADHK Tahun 2010 (%)
2011 2012 2013 2014*) 2015**) 2011 2012 2013 2014*) 2015**)
A Pertanian, Kehutanan
dan Perikanan 15,94 15,87 15,84 14,78 15,20 15,75 15,41 14,98 14,11 14,11 B Pertambangan
III - 5
I Penyediaan Akomodasi &
Makan Minum 2,98 2,96 2,95 3,01 3,09 3,02 3,02 3 3,07 3,12
Sumber : Berita Resmi Statistik (BRS), 2016 Keterangan : *) Angka Sementara
III - 6 Tabel 3.4.
Persentase PDRB Jawa Tengah Berdasarkan Jenis Penggunaan Tahun 2011 – 2015 (%)
No Jenis Penggunaan Persentase (ADHB)
2011 2012 2013 2014*) 2015
1 Konsumsi Rumah Tangga 62,08 62,94 64,16 64,03 61,14
2 Konsumsi Lembaga Swasta 1,03 1,05 1,11 1,16 1,13
3 Konsumsi Pemerintah 7,98 8,16 8,32 8,28 8,49
4 PMTB 28,65 30,16 29,07 29,56 30,30
5 Perubahan Inventori 4,80 7,10 5,32 2,92 1,25
6 Ekspor 34,50 34,59 36,69 36,69 9,07
7 Impor 39,02 44,00 44,67 42,63 18,84
PDRB Total 100,00 100,00 100,00 100,00 100,00
Sumber :Berita Resmi Statistik (BRS), 2016 Keterangan : *) Angka Sementara
PDRB per kapita merupakan PDRB yang dibagi dengan jumlah penduduk pada pertengahan tahun. Pada tahun 2015, PDRB per kapita Jawa Tengah ADHB mencapai Rp. 30,025 juta, meningkat dibandingkan dengan tahun 2014. Sedangkan PDRB per kapita Jawa Tengah ADHK tahun 2015 adalah Rp. 23,882 juta meningkat pula dibandingkan tahun 2013.. PDRB per kapita Jawa Tengah secara lengkap dapat dilihat pada Tabel 3.5.
Tabel 3.5.
Nilai PDRB per Kapita Jawa Tengah Tahun 2011 – 2015 (Rp)
Tahun ADHB ADHK
2011 19.245.629,58 19.245.629,58
2012 21.215.839,33 20.104.029,23
2013 22.678.832,03 20.779.645,77
2014 25.040.436,82 21.852.221,58
2015 30.025,170,00 23 882,440,00
Sumber : Berita Resmi Statistik (BRS), 2016
c. Inflasi
III - 7 Sumber : Badan Pusat Statistik (BPS), 2017
Gambar 3.2.
Inflasi Jawa Tengah Tahun 2012 - 2016
3.1.2 Tantangan dan Peluang Perekonomian Daerah
Kondisi perekonomian Jawa Tengah tahun 2018 diperkirakan masih akan dipengaruhi oleh pelambatan pertumbuhan ekonomi global, melemahnya harga komoditas ekspor, prospek ekonomi dan kebijakan moneter negara-negara maju serta ketidak pastian kondisi pasar keuangan global yang berdampak pada pelemahan nilai tukar rupiah. Beberapa tantangan yang dihadapi Jawa Tengah antara lain:
1. Kondisi perekonomian global yang cenderung melemah;
2. Meningkatnya persaingan pasar tenaga kerja dari luar dengan upah rendah;
3. Masih tingginya kandungan impor pada bahan baku industri Jawa Tengah;
4. Pertumbuhan perekonomian Jawa Tengah masih bergantung pada beberapa wilayah regional tertentu;
5. Besarnya dampak dari fluktuasi harga dan ketersediaan berbagai komoditas administered price;
6. Belum meratanya ketersediaan dan kualitas SDM di berbagai wilayah kabupaten/kota;
7. Meningkatnya tuntutan sertifikasi dan peningkatan standar kualitas produk;
8. Rencana pelaksanaan Pilkada Provinsi/kabupaten/kota di Jawa Tengah yang dilaksanakan serentak pada Tahun 2018 akan menimbulkan berbagai dampak perekonomian;
9. Tingginya risiko bencana alam nasional dan lokal.
,
, ,
, ,
III - 8
Peluang yang dapat dimanfaatkan Jawa Tengah antara lain meliputi:
1. Pasar ekspor Jawa Tengah semakin terbuka dengan membaiknya perekonomian negara tujuan ekspor
2. Masih cukup tingginya daya saing produk manufaktur dan pertanian Jawa Tengah (TPT, furniture dan produk makanan minuman);
3. Semakin tumbuhnya sektor investasi yang berdaya saing ditunjang pelayanan yang profesional;
4. Berkembangnya klaster usaha berbasis komoditas unggulan daerah; 5. Meningkatnya proses hilirisasi industri manufaktur berbasis produk
pertanian;
6. Makin tertibnya penataan kawasan peruntukan industri dan komitmen kabupaten/kota;
7. Dukungan konektivitas infrastruktur lintas wilayah yang semakin optimal;
8. Meningkatnya kualitas SDM tenaga kerja didukung upah tenaga kerja yang kompetitif;
9. Meningkatntya sinergitas kebijakan pusat, provinsi dan kabupaten/kota.
Berdasarkan kondisi perekonomian Jawa Tengah saat ini, serta memperhatikan tantangan dan peluang ke depan, maka perekonomian Jawa Tengah tahun 2018 dapat diprediksikan sebagaimana tertuang dalam Tabel 3.6.
Tabel 3.6.
Perkembangan Ekonomi Jawa Tengah Tahun 2014 – 2015, Target Tahun 2016 dan Prediksi Tahun 2017 – 2018
No Indikator 2014 2015 2016*) 2017**) 2018**) 4. PDRB/Kapita atas dasar harga
konstan (Juta Rp) 21,85 18,06 7,75 26,06 27,13 5. Nilai Realisasi Investasi
(Trilyun Rp.) 18,59 26,04 38,10 25,00 27,00
6. Tingkat Pengangguran Terbuka
(TPT) (%) 5,68 4,99 4,66 - 4,43 4,2 4,13
7. Kemiskinan (%) 13,58 13,32 12,20 - 11,73 11,30 – 10,83 10,40 – 9,93
8. NTP 100,55 102,03 102,63 102,86 103,27
Sumber : BRS Jawa Tengah, 2015; RPJMD Prov. Jateng 2013-2018
III - 9
Arah kebijakan pembangunan Jawa Tengah Tahun 2018 yang merupakan tahun terakhir atau tahun kelima pelaksanaan RPJMD, ditujukan untuk “Mewujudkan Kesejahteraan Masyarakat Yang Berkeadilan dan Berdikari”, dengan arah kebijakan meliputi :
1. Penguatan daya saing ekonomi daerah yang berbasis pada potensi unggulan daerah dan berorientasi pada ekonomi kerakyatan;
2. Penguatan percepatan penanggulangan kemiskinan melalui upaya pengurangan beban pengeluaran, peningkatan pendapatan, dan pemberdayaan ekonomi mikro dan kecil untuk masyarakat miskin; 3. Penguatan kualitas dan kompetensi sumber daya manusia diberbagai
bidang dan cakupan layanan sosial dasar;
4. Penguatan ketahanan pangan dan energi yang didukung pembangunan pertanian dalam arti luas serta pengembangan dan pemanfaatan energi secara berkelanjutan;
5. Pemantapan pembangunan infrastruktur dengan memperhatikan keberlanjutan sumberdaya alam dan lingkungan serta pengurangan resiko bencana;
6. Pemantapan penyelenggaraan tata kelola pemerintahan yang bersih dan baik.
Upaya yang dilakukan untuk mencapai tujuan di atas antara lain melalui:
1. Mengembangkan daya saing wilayah berbasis pada potensi unggulan lokal;
2. Peningkatan produktivitas dan daya saing Koperasi dan UKM serta peningkatan pendapatan bagi masyarakat miskin;
3. Pengembangan SDM di berbagai sektor pendukung pembangunan dan peningkatan layanan sosial dasar;
4. Peningkatan produksi pertanian dalam arti luas, pengembangan diversifikasi pangan dan optimalisasi kapasitas SDM sektor pertanian; 5. Peningkatan pelayanan jaringan listrik dan fasilitasi dukungan
pengembangan energi baru terbarukan;
6. Peningkatan realisasi dan persebaran investasi padat karya;
7. Peningkatan dan pemeliharaan infrastruktur pendukung perekono-mian daerah;
8. Pemantapan tata kelola pemerintahan yang profesional; 9. Pengurangan risiko dampak bencana.
3.2. Arah Kebijakan Keuangan Daerah
3.2.1 Proyeksi Keuangan Daerah dan Kerangka Pendanaan
III - 10
III - 11 Tabel 3.7.
Realisasi dan Proyeksi Pendapatan Daerah Provinsi Jawa Tengah Tahun 2014 – 2018
No Uraian Jumlah (Rp. milyar,-)
R. 2014 R. 2015 2016*) 2017**) 2018***)
1. PAD 9.916,35 10.904,85 12.767,54 12.171,13 12.577,88
1.1. Pajak Daerah 8.213,11 9.090,67 10.922,52 10.305,42 10.639,00
1.2. Retribusi Daerah 79,47 95,87 94,33 98,00 102,00
1.3. Hasil Pengelolaan Kekayaan daerah yang dipisahkan 291,84 320,60 344,01 361,77 387,46
1.4. Lain-lain Pendapatan Asli Daerah 1.331,92 1.397,67 1.406,67 1.405,93 1.449,42
2. Dana Perimbangan 2.542,62 2.257,14 8.151,33 10.743,78 10.736,01
2.1. Dana Bagi Hasil Pajak/ Bukan Pajak 659,53 569,74 916,34 926,79 919,02
2.2. DAU 1.803,93 1.629,42 1.859,90 4.600,00 4.600,00
2.3. DAK 79,16 57,97 5.375,08 5.216,98 5.216,98
3. Lain-lain Pendapatan Daerah yang Sah 2.698,47 3.666,18 69,49 62,43 62,43
3.1 Dana Penyesuaian 2.664,96 3.606,19 - - -
3.2 Dana Insentif Daerah 3,00 24,32 38,94 38,94 38,94
3.3 Pendapatan Hibah dari Badan/ Lembaga 29,18 34,51 30,54 23,48 23,48
3.4 Dana Percepatan Pembangunan Infrastruktur Daerah - - - - -
3.5 Pendapatan lainnya 1,32 1,14 - - -
Jumlah Pendapatan Daerah (1+2+3) 15.157,46 16.828,15 20.988,37 22.997,22 23.376,33
Sumber : Bappeda Prov. Jateng, BPPD Prov. Jawa Tengah, dan BPKAD Prov. Jateng, 2017 Keterangan : *) APBD Perubahan Tahun 2016 **) APBD Murni Tahun 2017
III - 12
Proporsi PAD Jawa Tengah terhadap total pendapatan daerah dalam kurun waktu tahun 2014 – 2018, cenderung mengalami penurunan karena berkurangnya pembelian kendaraan bermotor dan beralihnya kepeminatan masyarakat terhadap kendaraan Low Cost Green Car (LCGC). Kontribusi masing-masing sumber pendapatan daerah Provinsi Jawa Tengah tahun 2014 – 2018 dapat dilihat pada Tabel 3.8.
Tabel 3.8.
Persentase Sumber-Sumber Pendapatan Daerah Provinsi Jawa Tengah Tahun 2014 - 2018
No. Uraian 2014 2015 2016*) 2017**) 2018***)
1 Pendapatan Asli Daerah 65,42 64,80 60,83 52,97 53,81
1.1 Pajak daerah 54,19 54,02 52,04 44,85 45,51
1.2 Retribusi daerah 0,52 0,57 0,45 0,43 0,44
1.3 Hasil pengel. Kekada yg dipisahkan 1,93 1,91 1,64 1,57 1,66
1.4 Lain - lain PAD yang sah 8,79 8,31 6,70 6,11 6,20
2. Dana Perimbangan 16,77 13,41 38,83 46,76 45,93
2.1 Dana Bagi Hasil Pajak/ Bukan Pajak 4,35 3,39 4,36 4,03 3,93
2.2 DAU 11,90 9,68 8,86 20,02 19,67
2.3 DAK 0,52 0,34 25,61 22,70 22,31
3. Lain-lain Pendapatan yang Sah 17,80 21,79 0,33 0,27 0,27
3.1 Dana penyesuaian 17,58 21,43 - - -
3.2 Dana insentif daerah 0,02 0,14 0,18 0,17 0,17
3.3 Pendapatan Hibah dari Badan/Lembaga 0,19 0,21 0,14 0,10 0,10
3.4 Dana Percepatan Pemb. Infrastruktur Daerah 0,00 0,00 - - -
3.5 Pendapatan lainnya 0,01 0,01 - - -
Jumlah Pendapatan
Daerah(1+2+3) 100,00 100,00 100,00 100,00 100,00
Sumber : Bappeda, BPPD dan BPKAD Prov. Jateng, 2017 Ket : *) APBD Perubahan Tahun 2016
**) APBD Murni Tahun 2017
***) Proyeksi tahun 2018 dalam RPJMD Provinsi Jawa Tengah Tahun 2013-2018 (Perubahan)
3.2.2 Arah Kebijakan Keuangan Daerah
III - 13
3.2.2.1 Arah Kebijakan Pendapatan Daerah
Peningkatan kinerja pendapatan daerah dapat ditempuh melalui kebijakan umum pengelolaan pendapatan daerah tahun 2018 yang meliputi :
a.Optimalisasi pungutan PAD melalui;
1). Peningkatan Intensifikasi pungutan pajak daerah dan retribusi daerah serta pendapatan lain-lain yang sah;
2). Penyesuaian tarif pajak dan penyesuaian dasar pengenaan pajak tertentu;
3). Peningkatan kualitas dan kuantitas pelayanan umum kepada masyarakat/wajib pajak secara akuntabel;
4). Membangun sistem dan prosedur administrasi pelayanan perpajakan dan retribusi berbasis online system;
b.Meningkatkan keterampilan dan pengetahuan serta profesionalisme SDM aparatur;
c. Peningkatan kerjasama dengan instansi terkait dalam rangka optimalisasi penerimaan Dana Bagi Hasil Pajak/Bukan Pajak;
d.Inventarisasi dan optimalisasi serta pemberdayaan aset daerah; e. Meningkatkan kualitas manajemen aset daerah;
f. Optimalisasi BUMD;
g. Penyempurnaan dasar hukum pungutan.
3.2.2.2 Arah Kebijakan Belanja Daerah
Upaya untuk mewujudkan sinergitas rencana program dan kegiatan prioritas pembangunan daerah tahun 2018 melalui pelaksanaan kebijakan Belanja Daerah, yaitu :
1) Belanja Tidak Langsung, merupakan belanja yang dianggarkan tidak terkait secara langsung dengan pelaksanaan program dan kegiatan, meliputi :
a) Belanja Pegawai merupakan belanja kompensasi, dalam bentuk gaji dan tunjangan, serta penghasilan lainnya yang diberikan kepada Pegawai Negeri Sipil yang ditetapkan sesuai dengan ketentuan Perundang-undangan;
b) Belanja Bunga dari pejabat daerah digunakan untuk pembayaran bunga atas pinjaman pemerintah daerah kepada pihak lainnya; c) Subsidi, digunakan untuk menganggarkan bantuan biaya produksi
kepada perusahaan/lembaga tertentu agar harga jual produksi/ jasa yang dihasilkan dapat terjangkau oleh masyarakat banyak; d) Belanja Hibah digunakan untuk menganggarkan pemberian hibah
III - 14
e) Bantuan Sosial, yaitu bantuan sosial organisasi kemasyarakatan antara lain bantuan keagamaan, pendidikan, kemasyarakatan, pengadaan pangan dan bantuan partai politik;
f) Belanja Bagi Hasil, meliputi belanja bagi hasil pajak daerah dan retribusi daerah kepada kabupaten/kota;
g) Bantuan Keuangan yang bersifat umum maupun khusus kepada pemerintah kabupaten/kota dan pemerintah desa;
h) Belanja Tak Terduga merupakan belanja untuk kegiatan yang sifatnya tidak biasa atau tidak diharapkan berulang seperti penanggulangan bencana alam dan bencana sosial yang tidak diperkirakan sebelumnya, termasuk pengembalian atas kelebihan penerimaan daerah tahun sebelumnya yang telah ditutup.
Belanja Tidak Langsung diarahkan untuk :
a. Mendukung program/kegiatan strategis yang terkait dengan agenda nasional, dengan tetap memprioritaskan pembangunan daerah serta memiliki skala pelayanan nasional dan regional;
b. Meningkatkan keserasian pembangunan antar wilayah dan daerah Kabupaten/Kota melalui :
1).Bantuan keuangan kepada kabupaten/kota dengan mempertimbangkan Luas wilayah; Jumlah penduduk dan jumlah penduduk miskin; Besarnya Pendapatan Asli Daerah (PAD);
Product Domestic Regional Bruto (PDRB); Keterkaitan dengan
program/kegiatan/peran/posisi strategis yang menjadi prioritas dalam pembangunan di Provinsi Jawa Tengah; Komitmen Kabupaten/Kota dalam penyediaan dana pendampingan pada tahun sebelumnya; Kinerja pelaksanaan kegiatan (realisasi fisik) pada tahun sebelumnya; Kontribusi dalam penyediaan Lahan Pertanian Berkelanjutan.
2).Bantuan keuangan kepada pemerintah desa dengan mempertimbangkan prioritas provinsi Jawa Tengah meliputi : Peningkatan sarana dan prasarana perdesaan, rintisan model desa berdikari, peningkatan ketahanan masyarakat desa dan pendampingan operasional Kader Pemberdayaan Masyarakat Desa (KPMD)
2) Belanja Langsung, merupakan belanja yang dianggarkan terkait langsung dengan program dan kegiatan, meliputi :
a) Belanja Pegawai, untuk pengeluaran honorarium PNS, honorarium non PNS dan uang lembur, Belanja Pegawai BLUD, Belanja Jasa Non PNS;
III - 15
sosialisasi, bimbingan teknis, perjalanan pindah tugas dan lain sebagainya;
c) Belanja Modal, untuk pengeluaran pengadaan tanah, gedung, alat-alat berat, alat-alat-alat-alat angkutan darat bermotor, alat-alat-alat-alat angkutan darat tidak bermotor, alat-alat angkutan air bermotor, alat-alat angkutan air tidak bermotor, alat-alat bengkel, pengolahan pertanian dan peternakan, peralatan kantor, perlengkapan kantor, komputer dan lain-lain.
Belanja Langsung yang diarahkan untuk :
a. Memenuhi pelaksanaan program prioritas daerah dan urusan pemerintahan yang harus dilaksanakan;
b. Memenuhi pelaksanaan program yang berstandar pelayanan minimal dan operasional;
c. Mengakomodir program pembangunan yang dijaring melalui aspirasi masyarakat melalui forum koordinasi di bidang perencanaan;
d. Pemenuhan pembiayaan belanja yang bersifat wajib dan mengikat untuk menjamin pelayanan dasar masyarakat;
e. Mempertahankan alokasi belanja sebesar 20% untuk fungsi pendidikan;
f. Membiayai program dan kegiatan yang menjadi prioritas pembangunan Jawa Tengah Tahun 2018.
Kebijakan belanja daerah ini disusun berdasarkan prinsip-prinsip penganggaran dengan pendekatan anggaran berbasis money follow
program dan memperhatikan prioritas pembangunan sesuai
permasalahan serta perkiraan situasi dan kondisi pada tahun mendatang, secara selektif, akuntabel dan transparan.
III - 16 Tabel 3.9.
Realisasi dan Proyeksi Belanja Daerah Jawa Tengah Tahun 2014 – 2018 (Rp.000,-)
No. Uraian Realisasi 2016*) 2017**) 2018***)
2014 2015
1. Belanja Tidak langsung 10.808.021.354,07 12.396.063.965,86 15.200.293.154 17.390.342.088 17.549.568.965
1.1. Belanja Pegawai 1.887.758.056,06 2.186.704.011,85 2.401.601.621 5.719.852.846 4.996.837.065
1.2. Belanja Bunga 0 0 0 0 0
1.3. Belanja Hibah 2.963.856.035,21 3.745.182.609,43 5.316.031.116 4.944.718.071 5.420.449.900
1.4. Belanja Bantuan Sosial 23.281.040,0 18.715.300,0 41.650.000 248.292.000 348.782.000
1.5. Belanja Bagi Hasil kpd Kab/Kota 3.263.403.899,36 4.130.087.481,10 5.098.998.289 4.452.126.432 4.653.500.000
1.6. Belanja Bantuan Keuangan kpd Kab/Kota, Pemdes &
Prov. Lain 2.661.510.573,13 2.303.371.332,75 2.304.344.378 2.005.352.739 2.110.000.000
1.7. Belanja Tidak Terduga 8.211.750,3 12.003.230,71 46.667.750 20.000.000 20.000.000
2. Belanja Langsung 4.278.048.680,34 5.424.696.529,48 5.954.916.067 5.973.175.937 6.301.759.451
Total Jumlah Belanja
(1+2) 15.086.065.034,42 17.820.760.495,34 21.155.209.221 23.363.518.025 23.851.328.416
Sumber : Bappeda prov. Jateng dan Biro Keuangan Provinsi Jawa Tengah, 2016 Keterangan : *) APBD Perubahan TA. 2016
**) APBD Murni TA. 2017
III - 17
3.2.2.3 Arah Kebijakan Pembiayaan Daerah
Pembiayaan daerah mencakup seluruh penerimaan yang perlu dibayar dan/atau pengeluaran yang akan diterima kembali, baik pada tahun anggaran berkenaan maupun pada tahun anggaran berikutnya, dan pada hakekatnya meliputi semua transaksi keuangan untuk menutup defisit atau untuk memanfaatkan surplus. Penerimaan pembiayaan daerah Provinsi Jawa Tengah dari tahun 2015-2016 sebagian besar bersumber dari Sisa Lebih Perhitungan Anggaran (SiLPA) tahun anggaran sebelumnya. Sedangkan pengeluaran pembiayaan daerah diperuntukan sebagai pembentukan dana cadangan dan penyertaan modal.
Kebijakan pembiayaan daerah dari sisi penerimaan pembiayaan diarahkan untuk:
1. Penggunaan Sisa Lebih Perhitungan Anggaran (SiLPA) tahun 2018 sebagai sumber penerimaan pada APBD Tahun Anggaran 2019, didasarkan pada perhitungan yang cermat dan rasional;
2. SiLPA diupayakan menurun seiring dengan semakin efektifnya penggunaan anggaran;
Sedangkan pembiayaan daerah dari sisi pengeluaran pembiayaan, diarahkan untuk :
1. Penyertaan modal dalam rangka pemenuhan kewajiban dalam prinsip kehati-hatian (prudential) dan pengelolaannya berdasarkan Peraturan Daerah tentang Penyertaan Modal.
2. Pembentukan dana cadangan Pemilu Kepala Daerah dan Wakil Kepala Daerah.
III - 18 Tabel 3.10.
Realisasi dan Proyeksi Pembiayaan Daerah Provinsi Jawa Tengah Tahun 2014 – 2018
No. Pengeluaraan Pembiayaan Jenis Penerimaan dan Daerah
JUMLAH (Rp. 000,-)
R. 2014 R. 2015 2016*) 2017**) 2018***)
1. Penerimaan Pembiayaan
1.1. SiLPA 1.688.808.490 1.688.833.254 416.830.293 200.000.000 0
1.2. Penerimaan Pinjaman Pokok Dana Talangan 254.090.908 0 0 0 0
1.3. Penerimaan Pinjaman Pokok Dana Bergulir 375.703.027 591.835.923 0 0 0
1.4. Penerimaan Pinjaman Pokok Dana Bergulir UKM & IKM 0 0 0 0 0
1.5. Penerimaan Pinjaman Pokok Dana Bergulir Sapi Kereman 0 0 0 0 0
1.6. Penerimaan Pinjaman Pokok Dana Bergulir Peralatan utk
IKM 0 0 0 0 0
1.7. Penerimaan Piutang Daerah 0 0 0 0 0
1.8 Penerimaan Dana Bergulir Penempatan TKI ke LN 0 0 0 0 0
1.9 Penerimaan Dana Bergulir Kemitraan Hutan Rakyat 0 0 0 0 0
1.10 Penerimaan Pinjaman Pokok Dana Bergulir Kepada
Kelompok Tani 0 0 0 0 0
1.11 Penerimaan Kembali Dana Bergulir Pembangunan Gedung
III - 19
No. Pengeluaraan Pembiayaan Jenis Penerimaan dan Daerah
JUMLAH (Rp. 000,-)
R. 2014 R. 2015 2016*) 2017**) 2018***)
1.12 Pencairan dana cadangan Pemilukada 0 0 0 0 550.000.000
Jumlah penerimaan
pembiayaan 1.689.438.284 1.689.438.284 416.830.293 200.000.000 550.000.000
2. Pengeluaran Pembiayaan
2.1. Pembentukan Dana Cadangan 200.000.000 200.000.000 150.000.000
2.2. Penyertaan Modal (investasi) 72.000.000 80.000.000 50.000.000 154.000.000 75.000.000
2.3. Pemberian Dana Talangan Pengadaan Pangan 0 0 0 0 0
2.4 Pembayaran Utang Daerah 0 0 0 0 0
Jumlah pengeluaran
pembiayaan 72.000.000 280.000.000 250.000.000 304.000.000 75.000.000
Jumlah Pembiayaan Netto 1.617.438.284 1.409.425.090 166.830.293 (104.000.000) 475.000.000
Sumber : Bappeda Prov. Jateng dan BPKAD Prov. Jateng, 2017 Keterangan : *) APBD Perubahan TA 2016
**) APBD Murni TA. 2017
***) Proyeksi tahun 2018 dalam RPJMD Provinsi Jawa Tengah Tahun 2013-2018 (Perubahan)
III - 20
Selain pendanaan pembangunan bersumber dari Anggaran Pendapatan Belanja Daerah (APBD) terdapat juga sumber pendanaan pembangunan lainnya yang diterima oleh Pemerintah Provinsi Jawa Tengah dari Pemerintah Pusat yaitu Anggaran Pendapatan Belanja Negara (APBN), berupa Dana Dekonsentrasi dan Tugas Pembantuan. Jumlah alokasi dana APBN yang diterima oleh Pemerintah Provinsi Jawa Tengah tahun 2014-2017 menurut Kementerian/Lembaga, dapat dilihat pada Tabel 3.11.
Tabel 3.11.
Alokasi Dana APBN (Dekonsentrasi dan Tugas Pembantuan) Provinsi Jawa Tengah Tahun 2014 – 2017
No. Kementerian / SKPD Provinsi JUMLAH (Rp. 000,-)
2014 2015 2016* 2017*
I Kementerian Dalam Negeri (DK) 81.899.515 4.830.230 146.019.423 146.019.423
1 Bappeda 850.000 270.000 490.000 490.000
2 Dishubkominfo - - - -
3 Inspektorat - - - -
4 Kesbangpolinmas - - 629.650 629.650
5 Satpol PP 867.539 850.000 400.000 400.000 6 Bapermasdes 76.519.236 1.134.446 141.693.180 141.693.180
7 Biro Tapem 904.664 1.620.584 - -
II Kementerian Pertanian (DK &
TP) 645.108.122 1.589.906.789 229.525.399 229.525.399
1 Dinpertan & TPH 329.430.169 1.014.947.440 41.508.785 41.508.785 2 Disbun 163.694.006 419.306.928 4.597.972 4.597.972 3 Disnakeswan 62.282.395 60.959.766 25.426.322 25.426.322 4 BKP 23.168.500 20.764.500 43.972.660 43.972.660 5 Set. Bakorluh 66.533.052 73.928.155 114.019.660 114.019.660
6 Balai Proteksi TPH - - - -
7 BPSBPH - - - -
III Kementerian Perdagangan (DK) 4.883.839 10.018.299 7.131.000 7.131.000
Disperindag 4.883.839 10.018.299 7.131.000 7.131.000
IV Kementerian ESDM (DK) 969.435 - - -
Dinas ESDM 969.435 - - -
V Kementerian Pendidikan (DK) 3.692.467 132.215.588 33.240.103 33.240.103
Dinas Pendidikan 3.692.467 132.215.588 33.240.103 33.240.103
VI Kementerian Kesehatan (DK) 49.695.171 83.296.538 154.509.957 154.509.957
1 RS Moewardi - - - -
III - 21
No. Kementerian / SKPD Provinsi JUMLAH (Rp. 000,-)
2014 2015 2016* 2017*
3 RS Tugurejo - - - -
4 RS Kelet - - - -
5 RSUD Surakarta - - - -
6 RSJD Amino Gondo Hutomo - - - -
7 Balai Lab Semarang - - - -
8 Dinas Kesehatan 49.695.171 83.296.538 154.509.957 154.509.957
VII Kementerian PU (DK & TP) 222.679.484 192.025.326 257.684.859 257.684.859
1 Dinas Bina Marga 90.885.237 88.472.597 156.133.899 156.133.899 2 Dinas PSDA 123.001.819 95.765.229 97.634.024 97.634.024 3 Dinas Cipkataru 8.792.428 7.787.500 3.936.943 3.936.943
VIII Kementerian Tenaga Kerja(DK &
TP) 17.641.891 29.355.969 33.225.557 33.225.557
1 Dinas Tenaga Kerja 17.641.891 29.355.969 26.321.303 26.321.303 6.904.254 6.904.254
2 BPPTK - - - -
3 BKK Cilacap - - - -
IX Kementerian Sosial (DK & TP) 30.694.313 47.382.541 46.558.799 46.558.799
Dinas Sosial 30.694.313 47.382.541 46.558.799 46.558.799
X Kementerian Kehutanan (DK) 6.104.079 4.295.000 4.295.000 4.295.000
Dinas Kehutanan 6.104.079 4.295.000 4.295.000 4.295.000
XI Kementerian Lutkan (DK & TP) 17.557.238 24.498.612 21.177.136 21.177.136
Dinas Lutkan 17.557.238 24.498.612 14.077.136 14.077.136 7.100.000 7.100.000
XII Kementerian LH (DK) 3.500.000 1.750.000 1.750.000 1.750.000
BLH 3.500.000 1.750.000 1.750.000 1.750.000
XIII Kementerian Koperasi & UKM
(DK) 8.097.730 9.260.052 6.545.095 6.545.095
Dinas Koperasi &
UMKM 8.097.730 9.260.052 6.545.095 6.545.095
XIV Perpustakaan Nasional (DK) 416.300 618.055 748.617 748.617
Badan Arpus 416.300 618.055 748.617 748.617
XV Kementerian Pora (DK) 12.756.663 12.438.782 15.255.000 15.255.000
Dinas Pora 12.756.663 12.438.782 15.255.000 15.255.000
XVI Kementerian Pariwisata dan
Ekonomi Kreatif 1.075.000 7.983.460 7.952.500 7.952.500
Dinas Budpar 1.075.000 7.983.460 7.952.500 7.952.500
XVII BKPM (DK) 500.000 845.665 840.874 840.874
III - 22
No. Kementerian / SKPD Provinsi JUMLAH (Rp. 000,-)
2014 2015 2016* 2017*
XVIII Kementerian Pemberdayaan
Perempuan - 650.000 812.500 812.500
BP3AKB - 650.000 812.500 812.500
XIX Kementerian Perindustrian (DK) 7.017.000 10.018.229 3.302.451 3.302.451
Disperindag 7.017.000 10.018.229 3.302.451 3.302.451
XX
Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional (DK)
915.690 915.692 915.691 915.691
Jumlah Total 2.025.164.257 1.193.806.724 970.239.641 970.239.641