• Tidak ada hasil yang ditemukan

Estetika dan Kekuasaan. Pinggir dan Pusa

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "Estetika dan Kekuasaan. Pinggir dan Pusa"

Copied!
18
0
0

Teks penuh

(1)

JILFEST. Jakarta, 12 Dec 2008

Estetika dan Kekuasaan

(2)

Teks ini terjemahan sederhana dari makalah asli B. Inggris

Estetika dan Kekuasaan

Pinggir dan Pusat dalam Sistem Sastra Dunia

Dr. Stefan Danerek

Makalah ini akan membahas Pramoedya Ananta Toer (selanjutnya Pram) sebagai

contoh pengarang pinggir yang menuju ke alam pusat, di mana Hadiah Nobel Sastra

termasuk. Estetika pengarang dibanding dengan Pram sejak nominasi pertamanya

1980/1981 dalam rangkaian relasi pinggir-pusat, kriteria Akademi Swedia dan politik

budaya internasional.

Horace Engdahl sekretaris tetap Akademi Swedia yang menentukan pemenang sastra, pada bulan

Oktober sebelum Jean-Marie Gustave Le Clézio diumumkan sebagai pemenang menyatakan:

‘Eropa masih pusat dunia sastra’ dan ‘AS terlalu terpencil, terlalu kedesa2an. Mereka kurang

menerjemahkan dan tidak begitu terlibat dalam diskusi besar sastra.’

Pernyataan kasar ini mengakibatkan kenaikkan darah di seberang Atlantik. Apa orang Amerika

memang perlu diperingati bahwa budaya mereka tidak seunggul budaya Eropa? Dan oleh seorang

‘topi tua’ akademis Swedia? Pernyataan provokatifnya Engdahl didasari otoritas apa? Apakah

Stockholm, kota markas Akademi Swedia, pusat dunia sastra? Dan seberapa penting terjemahan?

Pertanyaan2 di atas ketemu jawaban dengan karya Pascale Casanova The World Republic of

Letters (2004). Patut dipertimbangkan bahwa karya itu berupa terjemahan dari aslinya B. Perancis

(1999). Yang menurunkan kepercayaan padaku adalah bahwa karya Casanova baru diperhatikan

aku dua tahun yang lalu, sebagai pembelaan, karyanya masih dalam proces mengumpulkan

perhatian dan prestise, khususnya lewat terjemahan B. Inggrisnya (diberi kuasa oleh E. Said), di

gelanggang akademis internasional. Proses kumpulkan prestise dan ‘pengesahan’ di tingkat

internasional ini adalah apa yang karya Casanova membahas.

Karya Casanova dilandasi teori ‘sistem dunia’. Ekonomi kapitalis yang sudah muncul secara

global, seriring kolonialisme, sejak abad 16 dipahami sebagai satu sistem global dengan ekonomi

nasional yang saling bersaing2 dan berhubungan, di mana ekonomi yang lebih tua dan lebih kaya

(seperti Inggris dan Prancis) berada di pusat dan yang ketergantungan di pinggiran. Persaingan

ruang nasional sastra telah memungkinkan satu ruang sastra global yang sejalan dan relatif

otonom dengan ekonomi prestasi sendiri, di mana kebangsaan tidak masalah dan tetap Hadiah

(3)

tadi memperlihatkan ekonomi budaya yang paralel dan menolak politik dan komersialisme.1

Negara-negara Eropa memiliki ekonomi yang lebih tua daripada Amerika Serikat dan telah lebih

lama mengumpulkan modal budaya dan kesusasteraan, dan Amerika Serikat diidentifikasi dengan

perdagangan (dan baru-baru ini, satu pemandangan dunia yang ke-Texas2an).

Pusat2 kapitalis yang tidak hanya memiliki kekayaan amassed ekonomi, tetapi juga budaya dan

kesusasteraan modal. Dengan kekayaan modal kesusasteraannya para pendiri sastra nasional yang

saling bersaing2 negara Eropa mengontrol alat2 pengesahan budaya di tingkat internasional dari

negara-negara pinggiran. Casanova mencatat bahwa hubungan yang jumplang antara sastra utama

(seperti Inggris, Perancis) dan yang masih ringan, dan ini tercermin di hal bahwa yang terakhir

hanya memiliki kemampuan untuk mencapai pengakuan internasional jika mereka memungkiri

keanehannya dan memosiskan diri sebagai universal. Ini berarti bagi contohnya Pram dan posisi

sastra SE-Asia dan Dunia Ketiga pada umumnya dalam sistem internasional, khususnya karena

sastra “universal” bangsa-bangsa lain memasuki ruang2 nasional melalui terjemahan. Orang

cenderung percaya bahwa karya terjemahan yang ditemukan mereka berupa yang terbaik dari

negara itu. Tetapi yang pasti, itu bukan selalu apa yang pembaca di negara asal berpikir. Dan

begitu juga halnya dengan pemenang2 Hadiah Nobel Sastra, yang sering tidak dikenal oleh

pembaca oada umumnya. Namun, para kritikus juga menerima, walaupun dengan sesekali

keluarkan tuduhan politik. Keuniversalan dianggap ada seolah adil kekuasan kesusasteraan

internasional yang ada. Tetapi mengapa suatu karya diterjemahkan? Mekanisme dan perjuangan

apa yang melatarbelakanginya, dan kriteria apa yang terlibat?

Karena apa yang akhirnya diadukan adalah visi sah dunia, pertanyaan yang membayangi soal

jenis estetika apa yang dihargai dan siapa yang mengonstruksi nilai harga itu, adalah pertama

kalau dan dengan tujuan apa. Dengan itu saya maksud politik, suatu tuduhan yang sering

diontarkan pada Akademi Swedia, apalagi selama Perang Dingin. Dan politik menanam modal

dalam estetika.2

Seberapa banyak pentingnya produksi sastra dan budaya telah menjadi jelas dengan perjuangan

politik Perang Dingin. Amerika Serikat menyediakan perlindungan budaya di seluruh dunia dalam

upayanya melawan realisme sosialis dan gagasan revolusioner, terutama melalui Congress for

1 Kekuatan yang diharamkan dalam kesusastraan adalah, sebagaimana dijelaskan oleh P. Bourdieu di ranah

kesusasteraan Perancis, politik, tetapi terutama pasar dan keuntungan.

2 ‘Singkatnya, pancang yang mendasar dalam perjuangan sastra adalah monopoli legitimasi sastra...’ (Bourdieu

(4)

Cultural Freedom (CCF) yang anti-Komunis, diganti International Association for Cultural

Freedom (IACF) setelah diexpose sebagai kedok CIA pada tahun 1967. Salah satu contoh yg

menampakkan adalah pendirian dan pendanaannya jurnal sastra Moundo Nouvo, yang melaluinya

‘boom writing’, penulis realis magis tertentu seperti G. G. Marquez, dan penting, bentuk itu, jadi

terkenal di dunia sastra B. Spanyol.3

Kunjungan mengejutkan ini ke arus balik sejarah sastra dunia tidak hanya menjelaskan tentang

politik estetika, tetapi juga sekaligus menjawab pertanyaan tentang kota mana ibukota sastra

dunia, serta membawa ke permukaan hubungan pusat/pinggiran (Kekaisaran dan Dunia Ketiga).

Moundo Nouvo terbit di Paris 1966-1968, kemudian, signifikan juga, dipindahkan ke Buenos

Aires dan mengalami kemunduran. Bahwa markas utama CCF berada di Paris juga bukan suatu

kebetulan: Paris adalah ibu kota Dunia Republik Kesusastraan, dimana menurut Casanova bahkan

negara seperti Amerika Serikat dan Jerman harus mengabdi untuk memperoleh reputasi dan

konsekrasi global. Contoh: Faulkner masih tidak dikenal di AS ketika ia telah dirayakan di

Perancis sejak lama, dan Hemingway juga menjadi terkenal di Paris. Karya Joyce Ulysses pertama

kali diterbitkan di Perancis. Ibsen, Beckett, Borges, Kundera, Rushdie dan banyak lagi penulis

dan karya besar yang lebih dulu dibaca dalam bahasa Perancis terjemahan dan mendapat

pengesahan oleh Paris sebelum dibaca di negara asal mereka. Hal ini disebabkan keramahtamahan

Paris yang tidak tertandingi terhadap avant-garde internasional. Semua penulis ini, baik dari

negara ‘pinggir’ maupun ‘pusat’, telah melakukan Paris tersebut dan mempengaruhi kanon sastra

dunia, dengan harga mengabdi pada beberapa norma minimalnya.

Sastra Indonesia dalam Sistem Dunia

Indonesia negara muda, dengan itu juga perekonomian nasionalnya dan sastra modernnya. Karena

proses sejarah pembentukan ranah sastra nasional itu panjang, harus ditanyakan lebih dulu apakah

ada sesuatu seperti itu? Hal ini butuh keterbukaan dan membutuhkan perhatian dengan segera:

3 Menurut Cobb (2008:81-82), majalah itu hampir seluruhnya didanai oleh Institut untuk Hubungan Amerika

Latin, yang didanai oleh CCF, pada gilirannya didanai oleh CIA. Program CCF/IACF telah aktif di setidaknya tiga puluh lima negara. Di Indonesia CCF berusaha untuk memelihara ikatan dengan penulis Manikebu, serta membiayai penerbitan karya sastra dan terjemahan, termasuk program buku Yayasan Obor di bawah pimpinan Mochtar Lubis. Lubis sudah pada tahun 1956 bertugas di “panitia interrim” cabang CCF di Indonesia (kemudian dipenjarakan) dengan Alisjabana ST. Dia juga pendiri, sponsor dan ketua editor jurnal sastra Horison

(5)

Saya merujuk kepada antagonisme yang diarahkan terhadap suatu komunitas budaya terkemuka di

Jakarta dan gelombang perempuan penulis liberal, yang diperkaitkan dengan komunitas itu. Dan

hingga 1998 politik nasional mengajarkan kepatuhan oleh seniman dan melakukan intervensi

langsung dalam sastra melalui sensor.4 Dalam keadaan seperti ini penulis avant-garde atau

marjinal mencari perhatian di luar perbatasan negara.

Pram seorang warga negara di yang makalah ini panggil negara ‘pinggir’ dalam ekonomi global.

Bagaimana seorang penulis pinggiran masuk ranah sastra global? Kasus Pram mungkin luar biasa

tetapi menerpa cahaya pada mekanisme yg bersangkut, dan mitos atau kebenaran keuniversalan

dan keadilan Republik Kesusastraan Dunia. Peralihan Pram dari budaya ke politik di tahun

1960an menempatkan dia dalam konflik dengan kelompok humanis universal dan militer, dan

dengan ekstensi, Kekaisaran (keuangan internasional) karena dia sejalan dengan Soekarnoism dan

gerakan non-blok (yang menolak kekuasaan keuangan tersebut). Itu mengakibatkan nasib sialnya.

Di penjara atau di bawah tahanan rumah, Pram tidak sempat bergabung dengan avant-garde Paris.

Larangan karya2 Pram dan statusnya di negeri sendiri tidak mungkin diabaikan oleh masyarakat

penulis internasional, karena tidak hanya nilai-nilai sastra dinyatakan mandiri di atas politik

nasional di Republik ini, tetapi penulis juga dilindungi sesama penulis lain. Dari luar negeri upaya

lobi diluncurkan untuk membebaskan Pram dan kembalikan kepadanya hak untuk menulis, seperti

melalui penghargaan P.E. N.

Meskipun sudah dikenal di luar negeri di kalangan sastra, Pram baru dikatapelkan ke atas

ruangan sastra dunia ketika pertama dicalonkan untuk Nobel 1980/1981, segera setelah

kepulangannya dari Pulau Iblis Indonesia dan muncul kembali di bidang sastra secara

mengejutkan. Karena Pram tetap tinggal antagonis terhadap rezim Orde Baru, yang semakin

dilihat dunia sebagai otoriter, maka status dan karismanya yang dipelihara dengan pintar,

meningkat melalui pendirian teguhnya terhadap rezim.

Pada umumnya penulis Indonesia terlebih dahulu dikonsekrasi internasional oleh Belanda, yang

dengan Indonesia telah menderita dan menikmati sebuah hubungan ‘pusat-pinggir’ melalui

kolonialisme. Holland juga menyediakan pasar kecil untuk sastra Indonesia. Bahasa dan sastra

Indonesia berkelas telah membantu mentahbiskan penulis Indonesia di luar negeri. Prof A.

Teeuw, ahli sastra modern Indonesia dari Belanda, sudah mengesahkan karya Pram sejak dia

masih penulis muda. Dia juga, sangat mungkin, terlibat dalam pencalonan pertama Hadiah Nobel

4 The concept of universal humanism, in the early days of the republic defined as a conviction that humanity’s

problems originate in universal human nature, was in the 1960s revised to include the artist’s autonomy and freedom from political involvement as the precondition for genuine artistic achievement. This universal humanism were upheld since 1966, particularly through H. B. Jassin and the editorial board of the literary journal Horison (1966-) and institutionalised with the New Order cultural oasis, TIM. The focus on formal experimentation and spirituality was in line with New Order politics, but artists, also the ones associated with the

(6)

Sastra untuk Pram. Dan desus2 tentang hadiah ini sudah cukup untuk membuat seorang penulis

terkenal secara internasional, dan itu membuktikan betapa bergengsi penghargaan ini.

Karya2 Pram yang paling penting, yaitu tetralogi Buru, mencapai dunia berbahasa Inggris

melalui tetangga Australia, yang juga merupakan pasar kecil untuk sastra Indonesia, dengan

terjemahannya Max Lane, terbitan Penguin Australia. Terjemahan ini penting untuk distribusi

global karya Pram, karena B. Inggris adalah bahasa yang paling internasional di zaman ini.

Hari ini prestise diberikan Indonesia oleh penghargaan Se-Asia Tenggara dan beberapa

penghargaan sastra internasional, salah satunya adalah Prince Claus Award di Belanda. Yang

akhir dimuliakan Ayu Utami pada tahun 2000 untuk Saman, seorang penulis dan karya yang telah

mewakili sastra Indonesia mutakhir di gelanggang internasional.5 Saman juga mengalami sukses

di pasar yang mungkin belum pernah terjadi sebelumnya di Indonesia dan telah diterjemahkan ke

dalam beberapa bahasa Eropa.

Hadiah Nobel Sastra – dari Idealisme Konservatif ke Sastra Dunia

Pertama2 satu kekesalan: anggaran dasar Yayasan Nobel membatasi penyebaran informasi

tentang pencalonan, apakah publik atau swasta, selama 50 tahun. Pembatasan menyangkut para

calon dan nominator, serta penyelidikan dan pendapat yang berkaitan dengan sebuah

penghargaan. Situasi tidak transparan ini meyakini terjadinya spekulasi. 6

The hadiah Nobel Sastra telah diberikan sejak 1901, berdasarkan interpretasi yang berbeda dari

instruksi lebar wasiatnya Alfred Nobel (1895) kepada seorang penulis yang telah menghasilkan

‘karya yang paling bagus dengan jurusan yang ideal di bidang kesusastraan’, Ditambah

persyaratan umum untuk hadiah Nobel, ‘manfaat yang paling besar pada umat manusia’.

Wasiatnya Nobel serahkan tugas ke Akademi Swedia, yang telah dirancang untuk menilai sastra

Swedia, serta berperan sebagai benteng terhadap para penulis Swedia yang radikal. Dewan itu

jauh terlalu konservatif untuk menjadi juri internasional kesusasteraan. Institusi ini yang sering

didakwa kiri semula adalah sebuah lembaga sangat borjuis.

Sekretaris tetap Akademi Swedia pada masanya, C. D. Wirsén, berargumentasi untuk menerima

tugas Nobel: Penolakan akan buat ‘tokoh-tokoh sastra besar benua’ kehilangan satu pengakuan

yang luar biasa. Wirsén melihat kesempatan untuk Akademi ‘mendapatkan posisi yang

5 From www.princeclausfund.org: ‘Excellence is of crucial importance in the selection of recipients of the Prince

Claus Awards. Another decisive factor is “added value”: the positive effects of the work of a laureate in the cultural or wider social field.’ About the author: ‘Her tolerance and openness offer a balance to conservative streams. She makes a difference in the present period of Indonesian history.’

6 The Nobel information in this section is mainly taken from former member of the akademi Kjell Espmark’s

(7)

berpengaruh di dunia sastra’. Ia dan para pendukungnya ingin meraih peluang besar ini di bidang

politik budaya dan menikmati ‘kekuatan dan prestise yang sangat besar wasiat Nobel mewariskan

kepada yang delapanbelas (18 anggota Akademi). Komentar besarkan diri ini mengungkapkan

kepercayaan kepada kekuasaan sastra.

Wasiat Nobel memiliki cakrawala internasional dan menolak semua pertimbangan kebangsaan

calon. Namun Akademi tidak mampu survei sastra dari seluruh dunia, dan dalam waktu yang

lama dikritik untuk membuat hadiah Nobel urusan Eropa. Ide bahwa hanya estetika yang dinilai

mungkin bisa dirtertawakan oleh orang Asia, karena lebih banyak orang Scandinavia telah

memenangkan penghargaan daripada seluruh Asia. Sebagai pembelaan akademi, Espmark

berpendapat, nominasi wajar dari negara-negara Asia tidak tiba sebelum tahun 1950 dan Akademi

pada waktu itu belum kembangkan sistem survei sendiri di dunia sastra. ‘Baru sampai di tahun

1940an [...] Akademi, yang sudah terganti anggotanya dengan orang baru, memiliki kemampuan

untuk menilai pengarang [...] dari Dunia Barat.’7

Akademi Swedia yang memutuskan siapa yang akan menerima hadiah dan si pemenang dipilih

dari 200-300 nama yang diajukan setiap tahun. 8 Jelas semua penulis yang layak tidak mungkin

dapat menerima hadiah. Apa yang Akademi benar-benar tidak bisa melakukan adalah

memberikan hadiah kepada penulis yang tak layak. Sejarah hadiah juga merupakan sejarah

interpretasi Akademi akan wasiat Nobel. Espmark membagi sejarah hadiah ke delapan periode

yang saling melipat, yang mencerminkan perubahan akademi dan zaman.

“Idealisme yang adiluhung dan sehat” (1901-12)

Sekretaris permanen Wirsén, “Don Quixote idealisme romantis Swedia”, membawakan kampanye

kedesa2annya ke ranah sastra internasional. Ini menyebabkan hadiah untuk B. Bjørnson, R.

Kipling dan P. Heyse, sedangkan Tolstoy, Zola dan Ibsen ditolak. Aplikasi sempit hasil idealisme

konservatif yang ini bukan apa yang diharapkan Nobel.

7 After 1984 efforts have been made to widen the horizon so that it is possible to weigh candidates from closer

parts of the linguistic atlas against each other. Yet the feeling remains that a prize to an Egyptian author closes the door for other Egyptians in the years to follow, which has happened French writers in the past.

8 To be a candidate you must first be nominated: According to the rules have organisations similar to the

(8)

“Sebuah Kebijakan Netral” (Perang Dunia I)

Selama Perang Dunia I kebijakan panitia menyingkirkan negara2 yang meneriakkan perang (para

penulis juga berteriak untuk berperang), memberikan kesempatan kepada negara-negara kecil.

“Gaya Besar” (1920an)

Periode ini menguak sambungannya dengan zamannya Wirsén dan bekas klasisismenya. Akademi

masih dari dengan sentuhan kontemporer sastra. Jurusan yang ideal diartikan sebagai

‘kemanusiaan yang besar hati’ dan terbuka jalannya untuk A. Prancis dan GB Shaw, keduanya tak

dpt sebelumnya.

“Daya Tarik Universal” (1930an)

Manusia yang dalam persyaratan “manfaat yang paling besar pada umat manusia” disetarakan

dengan pembaca segera.

“Para Pioner” (1946 -)

Seperti dalam ilmu pengetahuan, pemenang harus orang-orang yang membuka jalan untuk

perkembangan baru. Calon yang sempurna adalah seseorang yang memberikan kemungkinan2

baru dalam memandang dunia dan berbahasa. ‘Fokus eksplisit kepada inovator dapat dilihat [...]

hingga tahun2 akhir ini. Akademi mulai perhatikan perintis dari daerah lingvistik tertentu. Dalam

kategori ini jatuh novelis Naguib Mahfouz dari Mesir, pemenang 1988, bersaingan dengan

penyair Arab Adonis. ‘Masih ditemukan di antara daerah bahasa tertentu pemenang tahun 2000,

Gao Xingjian, yang ‘telah membuka jalan baru untuk novel drama Cina’. Penghargaan ini tidak

disambut baik oleh Cina resmi, karena Gao dianggap dissident (menetap di Paris).

“Perhatian untuk Master yang belum diketahui” (1978-)

Hadiah tahun 1982 diberi kepada master dan pelopor G. G. Marquez yang relatif tidak dikenal.

Kriteria menguntungkan puisi. ‘Penyair paling dimanjakan dalam periode 1990-1996 dimana

empat dari tujuh hadiah pergi ke O. Paz, D. Walcott, S. Heaney, dan W. Szymborska’.

“Sastra dari Seluruh Dunia” (1986-)

Perhatian untuk penulis non-Eropa telah meningkat secara bertahap dalam akademi yang berusaha

untuk mencapai “distribusi global” dengan memperkuat kompetensi untuk tugas internasional.

(9)

pada tahun 1986 dan N. Mahfouz (Mesir) pada tahun 1988. Kemudian diikuti N. Gordimer

(Afrika Selatan), K. Oe (Jepang), D. Walcott (St Lucia), T. Morrison (Afro-Amerika pertama),

Gao Xingjian (Cina), O. Pamuk (Turki).

“Hadiah yang Menjadi Hadiah Sastra” (sekarang)

‘Interpretasi semakin pemurah terhadap formula ‘jurusan yang ideal’ terus berlangsung pada

tahun 1980-an dan 1990-an [...].’ Konsepsi dunia gelap Cela membawa ke masalah yang sama

dengan Beckett, namun hadiah akhirnya diberikan ‘untuk prosa yang kaya dan intens, yang

dengan iba tertahan membentuk visi yang menantang dari sifat mudah luka manusia’.

Hadiah terakhir abad ke20 seharusnya dibagi Günther Grass dan Pram.9 Kata sekretaris akademi,

Grass adalah ‘salah satu penulis yang benar-benar penting yang menginvestigasi dan menjelaskan

abad ke20 kepada kami’, merupakan alasan hadiah seharusnya dibagi dengan Pram, menurut

pendapat penulis. Grass berfokus pada sejarah Eropa dan Pram pada sejarah nasional sekaligus

sejarah dunia. Pram menulis terbangunnya kesadaran nasional Indonesia, yang memang datang

untuk menutup era kolonialisme 500 tahun panjang yang membawa bangsa dan budaya dunia ke

dalam kontak dalam satu ‘sistem dunia’.

Kritikan pasca PD II lebih sering dilontarkan pada pertimbangan politik daripada kualitas

sastra.10 Akademi Swedia sendiri tentu saja yang paling menyadari bahwa prestise mereka dan

hadiah akan hancur jika politik terlibat dalam pertimbangan. Ada aspek politik hadiah sastra

internasional dan mungkin ia memiliki efek politik, tetapi niat politis jelas diharamkan oleh

Akademi, yang memegang prinsip ‘integritas politik’. Di luar Eropa, khususnya di mantan

republik2 Uni Soviet, sulit untuk memahami posisi otonom Akademi Swedia terhadap negara:

‘Akademi tidak menerima subsidi dari negara, dan tidak akan menerima gangguan apapun dalam

bekerja.’ Namun 18 anggota Akademi adalah manusia yang bagian dari dunia, dan mungkin saja

dapat dipengaruhi dan dimanipulasi, dan itu satu alasan mengapa calon tidak dipilih pada tahun

nominasi pertama.

Sebuah komentar biasa tentang non-penghargaan untuk Pram adalah bahwa jika ia dissident

Blok Timur, bukan dissident Orde Baru, ia telah diberikan hadiah. Sikap politik seorang penulis di

9 Grass had been sidelined for his countryman H. Boell in 1972. Then a reference was made to moral values,

which is hard to imagine in the present Akademi since the 2004 award to E. Jelinek. With Jelinek it seemed that the akademi had left its humanistic tradition. One member resigned because of the controversial awarding, stating that the prestige of the prize had been irreparably damaged.

10 Among missing laureates, critics have identified Proust, Kafka, Rilke, Musil, Cavafy, Mandelstam, Lorca and

(10)

luar tulisannya hanya dianggap dalam keadaan ekstrim, misalnya, pencalonan E. Pound

diberhentikan karena dukungannya kepada kebijakan Nazi terhadap orang-orang Yahudi selama

PD II pernah tersiar di radio Italia. Pengarang yang duduk di pemerintahan saat ini juga

dihentikan sebagai calon sampai mereka keluar. Kasus terakhir adalah W. Churchill pada 1958,

suatu pilihan yang seharusnya paling kontroversial (pertimbangkan bahwa dia yang pertama

mengusulkan untuk menggunakan gas terhadap bangsa Kurdi dan politik pasca perang).

Bila Akademi menganggap Solzhenitsyn calon yang paling layak pada tahun 1970, sekretaris

akademi menghubungi Duta besar Swedia ke Moskow. Akademi ingat sekali konsekuensi sedih

untuk Pasternak dari Hadiahnya (1958). Mereka ingin ‘mengetahui posisi Solzhenitsyn,

menekankan bahwa pertanyaan terkait [...] dengan apa yang mungkin “terjadi kepadanya secara

pribadi”’. Akademi diminta Duta besar untuk menunda keputusan karena ‘akan membawa

kesulitan bagi hubungan kami dengan Uni Soviet’. Menurut Espmark pertukaran ini membuktikan

‘fakta yang mendasar: Akademi sama sekali tidak menganggap apa yang diingini atau tidak

Kantor Luar Negeri Swedia’.

Mengenai hadiah lain untuk dissident, Milosz, diungkapkan oleh anggota Akademi A.

Lundkvist. Milosz telah terdaftar setidaknya sejak tiga tahun sebelumnya dan telah masuk di

daftar pendek sebelum bulan Mei 1980, jauh sebelum pemogokan Danzig, yang menjadi lensa

yang melalui penghargaan dilihat tahun itu. Espmark: ‘Juri tidak hanya menyadari bahwa

kerusakan hadiah suatu pilihan politik akan menyebabkan, integritas penghargaan dapat

dibahayakan juga oleh ketidak-pilihan dalam situasi yang rumit.’

Milosz seorang dissident, demikian juga Seifert dan Brodsky, para pemenang tahun 1984 dan

1987. Pilihan ini membuat ketidaksukaan di blok Timur, di mana orang tidak dapat melihat bahwa

‘keprihatinan utama Akademi adalah sastra’. Yang ‘utama’ dalam kalimat Espmark tidak

sepenuhnya mengecualikan pertimbangan politik. Ditekankan dimensi existensial penyair-penyair

ini, ‘nilai-nilai yang sesuai dengan tradisi humanis Hadiah Sastra’. Dan terletak di sini salah satu

masalah. Espmark: ‘Integritas dan panggilan untuk berkumpul di sekitar nilai2 kemanusiaan – ini

kualitas yang Akademi Swedia, berikut semangat Nobel, telah berulang2 mencari dalam

kombinasi dengan pencapaian besar kesenian. Dan berulang kali juga, modus evaluasi ini telah

tabrak dengan estetika Marxis/Leninis, yang menafsirkan hal tersebut sebagai kamuflase untuk

niat politis melulu’.

Beberapa pembukaan rahasia baru-baru ini memberi dukungan kepada ‘kecurigaan Marxis’ ini.

Perang budaya dingin yang dilakukan melalui lembaga seperti CCF merupakan

Marxis-Leninis-Trotskyis di segi jangkauan, karena semua bidang kegiatan budaya manusia dijadikan lahan

(11)

H. Boell, pemenang 1972, telah diketahui, aktif di beberapa aparat intelijen Barat.11 Operasi

CIA, dengan menggunakan agen kenalan Boell menjangkau ke dalam panitia Hadiah Nobel Sastra

di Stockholm. Tawaran untuk Nobel Penyair dan anggota Partai Komunis Chile Pablo Neruda

pada tahun 1964 menyebabkan operasi fitnah samar-samar yang telah dijalankan lewat CCF

diintensifkan (Saunders 1999:351).12 Operasi menargetkan seniman kiri pada umumnya, untuk

mencegah mereka dari menerima pengakuan. Neruda akhirnya diberikan hadiah pada tahun 1971,

yang membuktikan bahwa Komunis juga menerima penghargaan.

Pemilihan Harold Pinter di tahun 2005 juga dilihat dari lensa politik karena sikap anti-perang

dan imperialismenya di luar karyanya telah dikenal baik, apalagi setelah ia menggunakan seluruh

pidato Nobelnya untuk mengkritik setajam2nya serangan ke Irak US/UK, imperialisme dan

kebohongan media massa.

Kemungkinan besar Pram telah kena upaya lobi anti-pencalonan terhadapnya oleh seniman

Indonesia, yang barangkali didukung oleh pemerintah, yang tidak mengampuni Pram atas

perannya dalam politik budaya di awal tahun 1960an. Di masa itu itu ia adalah pendukung

realisme sosialis dan mungkin saja itu bikin integritasnya tercemar di dalam mata Akademi,

walaupun Pram tidak pernah minta ma’af. Asosiasinya dengan Komunisme tidak langsung dan

telah lewat, sehingga barangkali tidak jadi alasan kenapa dia tidak diberikan hadiah, terutama

setelah Perang Dingin sudah berakhir. Dan akademi akan kurang khawatir dengan pemerintah

Indonesia dibanding Uni Soviet.

Karena mustahil membuktikan niat politis, saya beralih ke efek politik. Distribusi seluruh dunia

karya2 seorang penulis yang dijamin hadiah, posisi di kanon dunia diperkuat – sebuah propagasi

suatu estetika dalam perjuangan untuk kuasa pembebanan definisi kenyataan, mempengaruhi

penulis lain dan pada gilirannya lebih banyak pembaca – merupakan salah satu alasan kenapa

tugas mengurus hadiah diterima Akademi Swedia pada awalnya, serta alasan mengapa hadiah

menjadi target propaganda perang samar2 oleh Kekaisaran.

11 ‘Boell “was a diamond in the CIA’s collection”, said the author of the ARTE documentary in a discussion with

german-foreign-policy.com’ (www.german-foreign-policy.com 2006a). Boell’s friend and publisher, J. C. Witsch of “Kiepenheuer and Witsch”, the former Nazi cultural functionary, was the head of the CCF Cologne group, a post later offered to Boell. The well-known writer I. Silone had been an informer of Mussolini’s secret police before taking up secret service activities for the US. He ‘socialized in the entourage around Boell and the Witsch publishers in Cologne, which published Silone’s works in Germany’ (www.german-foreign-policy.com 2006a and 2006b).

12 According to internal documents quoted in Minow’s (2006) Artists in the trap of the CIA. The members of the

(12)

N. Mahfouz vs P. A. Toer

Berikut beberapa perbandingan singkat antara estetika Pram dengan pemenang hadiah tahun 1988

Naguib Mahfouz, yang seperti Pram juga berasal dari negara ex-koloni bermayoritas Muslim,

untuk menggambarkan kerangka ‘kekuasaan dan estetika’ (tidak dimaksudkan untuk mengecilkan

Mahfouz, seorang penulis besar): ‘Hadiah 1988 diberikan pada seorang penulis yang, dari sudut

pandang Barat, memelihara pewarisan dari Flaubert dan Thomas Mann. Dalam dunia Arab, di sisi

lain, Naguib Mahfouz tampil sebagai pencipta novel kontemporernya.’ Ungkapan Espmark ini

tentang Mahfouz adalah sejalan dengan argumennya Casanova bahwa keuniversalan diperlukan

untuk mendapatkan penerimaan di kanon dunia sastra yang didominasi Barat (sementara genre

novel berasal dari Barat).

Dalam Adrift on the Nile, sekelompok teman-teman intelektual berkumpul tiap malam pada

sebuah rumah perahu yang diikat ke tepi sungai Nil. Pipa shisha dikelililingi mereka yang

mendiskusikan dan menanyakan apapun. Salah satu karakter utama, seorang pegawai kantor,

bahkan mabuk haschisch di tempat kerjanya, terlepas dari lingkungannya. Diskusi2 malam

menjadi eksistensialis, hampir nihilis, pengembaraan filosofis. Tidak ada jawaban, kecuali untuk

berpegang teguh pada tanggung jawab suatu kecelakaan fatal yang terjadi. Akhirnya, kesimpulan

yang diambil tokoh2 adalah bahwa lebih baik kalau manusia tidak pernah turun dari pohon. Novel

ini cocok di dalam garis novel, katakan, Camus.

Children of the Alley menceritakan sejarah rohani manusia. Para nabi membawa kelegaan

singkat kepada umat manusia tetapi tidak pernah dapat membawa perdamaian yang lama, dan

masyarakat mereka yang buat sementara adil berubah korup. Umat manusia terus sengsara karena

kekejaman (sejak Kain dan Abel) dan kehilangan daya ingat berupa kutukan warisan umat. Tuhan

di langit, Gabalawi, tampaknya tak peduli terhadap penderitaan makhluk-Nya. Lebih buruk lagi,

buat Ulama konservatif, Muhammad bukan penyelamat terakhir, itu adalah satu makhluk yang

dipanggil Arafa, yang membawa ilmu pengetahuan. Pada akhir novel masyarakat berkata: ‘Kami

hanya meletakkan harapan di sihir Arafa, dan jika kami harus memilih antara Gabalawi dan sihir,

kami memilih sihir. Arafa adalah manusia terbesar di gang kita, kalaupun dia yang membunuh

Gabalawi.’ Pencarian manusia ini berakhir dengan pendekatan humanis sekuler ke kenyataan,

tentu dalam semangat Nobel (ilmu sebelum Tuhan). Sains adalah ideal yang terakhir di novel

yang agak bersifat kuno ini, di mana kemanusiaan tertangkap antara kebaikan dan kejahatan.

Karena merupakan novel allegori, fakta-fakta sejarah sosial khusus hanya muncul sedikit.

Trilogi Kairo Mahfouz, seperti tetralogi Pram, mengabadikan pencarian kebebasan dan

modernitas bangsanya. Ini kisah keluarga dalam gaya realis, yang sering dibandingkan dengan

Buddenbrooks karya Mann, tetapi tokoh2 masih ditarik oleh yang baik dan yang buruk. Al-Sayyid

(13)

subyektif mengikuti perasaan. Walaupun beliau mendukung gerakan nasionalis, pikiran itu tidak

satu dengan sejarah yang dia seharusnya menjadi bagian dari. Sensibilitas individualnya menarik

dia ke bawah, ke arah kepuasan instan (anggur, perempuan, lagu). Sisi jiwa lainnya yang lebih

taat kepada tata cara keagamaan menarik dia ke atas. Manusia modern Mesir di gambaran

Mahfouz koyak antara naluri dan aspirasi metafisik agama, supaya dia tercondong antara bumi

dan langit. Meskipun tokoh2 bersifat idealis, kesadaran mereka tidak mengembangkan sebuah

penemuan sejarah sebagai urutan linear, seperti yang dialami tokoh utama di tetralogi Pram.

Pram juga bekerja di dalam tradisi novel Barat, tetapi sekaligus berada di garis Gorky, penulis

revolusioner Rusia yang sekali pernah diterjemahkan Pram, dan tidak kurang penting, humanis

Multatuli penulis Max Havelaar yang ikut mengawali proses dekolonisasi Indonesia. Tetralogi

Pram mencapai agenda sosial politik yang dianggap terkait dengan novel, di garis Dostoevsky.

Semua suara sosial utama ikut bersuara, baik proponen politik maupun dari masyarakat umum,

meninggalkan pembaca bebas mengidentifikasi dengan siapa dia ingin. Dengan begitu estetika

novel subversiv secara intrinsik terhadap ‘monologisme’ Orde Baru. Jawaisme, sebuah alat

ideologi Orde Baru, juga jelas terhina dan dilihat sebagai kendala untuk negara modern Indonesia.

Gaya Pram tetap revolusioner all-round di luar keistimewahan nasional, walaupun ia bertujuan

untuk meluruskan sejarah nasional Indonesia dengan menulis semi-biografi samaran pemimpin

nasionalis Tirto Adhi Soerjo yang peran sejarahnya terabaikan. Alur menyatu dengan sejarah

dunia dan tokoh utama terinspirasi oleh warisan ide dunia, sdi antaranya ide dari revolusi

Perancis, perkembangan internasional dan pendidikan Eropa. Minke adalah ‘Anak semua

Bangsa’, mengumpulkan sendiri identitas dari sisi yang baik dari warisan sendiri dan dunia.

Karena dua novel pertama juga bildungsroman, mengikuti terbangunnya kesadaran tokoh utama

kepada dirinya dan nasib rakyatnya yang dia sebelumnya tidak kenal sebagai bangsawan.

Perkembangan tersebut pada gilirannya secara alami membalikkan pandangan pembaca. Musuh

bangsanya adalah feodalisme dan kolonialisme, dan tidak kurang signifikan, bangsa itu sendiri.

Pertama2 manusia harus bebaskan diri dari belenggu pikirannya, ‘penjajahan mental’.

Minke harus mengalami sensor non-negara ketika ia menulis tentang ketidakadilan yang harus

dialami petani2 di Jawa. Lambat2 kenyataan mendatanginya; yaitu koran2 hampir semua dimiliki

oleh kepentingan gula. Minke harus belajar sosiologi Hindia Belanda lewat jalan keras. Seperti

pernah dikatakan Max Lane, Minke adalah ‘anak sejarah di titik tolak sejarah bangsanya.

Pramoedya telah menunjukkan bagaimana lahirnya seorang revolusioner.’ Dalam Jejak Langkah

dia telah menggerakkan perkembangan, yaitu asli dan penerbitan, yang akan membawakan

emansipasi dan penentuan nasib sendiri.

Dalam Rumah Kaca narasi subjek beralih dari ‘pinggir’, warganegara kolonial, ke antagonis,

(14)

untuk survei, memantau dan membatasi pertumbuhan organisasi pribumi dan sentimen

anti-kolonial. Penduduk kolonial diawasi seperti di dalam sebuah rumah kaca: Pangemanann kenal

Minke lebih baik daripada Minke kenal dirinya, dia merasa nafasnya dan hampir mendengar apa

yang ia pikirkan. Kendatipun semua upaya ambisius, memanfaatkan seluruh isi trik kotor kolonial

– terorisme counterinsurgency, menyewa preman, penghasutan antar golongan dan pembunuhan –

jelas bahwa protagonis sebenarnya adalah sejarah (ide2, nasionalisme dan proses dekolonisasi).

Semua yang didapat lakukan Kekaisaran adalah untuk sementara memperlambat dan menahan

gerakan perkembangan melalui manipulasi dan adu domba.

Bahwa Rumah Kaca hampir dibaca sebagai sebuah allegori Orde Baru tahun 1980-an itu

mungkin kebetulan. Warisan sistem kolonial kuat di dalam sistem Orde Baru. Pergerakan

reformasi akan kena strategi yang telah dijelaskan – pengawasan besar2an, terorisme

counterinsurgency, gangsters menyewa, penghasutan antar golongan, pembunuhan dan media

massa di tangan segelintir orang – ketika mereka bekerja untuk membebaskan rakyat lewat jalan

membangktkan kesadaran dan membangun organisasi. Orde Baru sebagaimana Belanda tak bisa

menghentikan sejarah (demokratisasi).

Pengarang, di sudut mata Bakhtin, adalah subjek yang terikat dengan kebutuhan sejarah dan

genre, seorang pewaris dalam sebuah garis strategi populer anti-otoriter dan anti-kanonik. Pram

masuk ke skema ini sebagai penulis sejarah avant-garde yang menilai ulang sejarah dan

masyarakat. Bahkan, tetralogi ditulis supaya Minke, karakter yang sangat idealis, dapat

disulapkan di setiap sistem yang tidak adil, karena itu bersifat subversif universal.

Dalam kerangka yang dibahas, idealisme konservatif Mahfouz, eksistensialisme dan gaya

bersifat kuno dan allegorisnya, nampak kontras sekali dengan gaya pendekatan realisme sejarah

Pram yang emansipatoris dalam kuartet Buru. Mahfouz tidak bertentangan dengan kriteria dari

panitia Nobel maupun para tradisi Nobel. Mann, penerima hadiah 1929 di era yang masih

dipengaruhi idealisme konservatif, dan karya utamanya Buddenbrooks disebutkan komite dalam

pembahasan Mahfouz. Dalam dunia Mahfouz kita menemukan individu dalam pencarian

keselamatan, yang dia tidak menemukan, selain jalan2 menuju surga atau ilmu pengetahuan

seperti disarankan. Kenyataan menjadi samar2 dan individu adalah pada diri sendiri. Ini sangat

berbeda dengan dunia sastra Pram, di mana individu juga merupakan individu tetapi secara moral

dipaksa untuk bekerja memperbaiki keadaan bangsanya, melalui kesadaran dan organisasi yang

tepat. Estetika Karya Mahfouz, setidaknya di luar jangkauan Persaudaraan Muslim Mesir, netral

secara ideologis, sehingga mereproduksi hubungan sosial, termasuk terhadap Kekaisaran. Yaitu

pencarian individualis kanon yang didominasi Barat, yang masih terasa sampai Hadiah Nobel

(15)

keberangkatan baru, petualangan puitis dan suka cita sensual, penjelajah kemanusiaan dari luar

dan di bawah peradaban yang berkuasa.’

Ringkasan

Rahasia ketat organisasi Nobel menjadikannya mustahil untuk mengungkapkan dengan pasti

bahwa Akademi Swedia sengaja terlibat dalam politik budaya hari ini, tetapi mereka dengan

terang telah mempraktekkan politik budaya, khususnya dua dasawarsa yang pertama Akademi

menjalankan tugas mulianya.

Non-penghargaan Pram bisa dilihat sebagai kelalaian, mengingat bahwa dia cocok dalam setiap

kategori post 1978, dan mungkin memegang rekor nominasi (dari 1981 ke tahun 2006,

kemungkinan 26 kali), tetapi semua penulis layak tidak dapat menerima hadiah. Bagaimanapun,

tanpa hadiah itu Pram sudah menjadi bagian kanon dunia; Beliau dan karyanya sering muncul

dalam daftar ‘100 buku yang harus dibaca sebelum anda mati’. Hal ini menunjukkan keadilan di

Republik Kesusastraan Dunia, walaupun ibukotanya Paris dan dimanipulasi oleh Washington.

Ekonomi budaya paralel yang memungkinkan penulis pinggiran dan berbakat menjangkau

khalayak dunia.

Penelitian terhadap faktor seperti perlindungan budaya dapat menjawab mengapa estetika2

tertentu tersingkir atau disingkirkan, dan ditambah pendekatan sosiologis seperti Casanova,

memungkinkan kita menguraikan kenapa beberapa kesusastraaan non-Barat, khususnya dengan

perbedaan objektif dari kanon universal. Estetika tidak hanya soal para kritikus, ternyata sangat

penting untuk Kekaisaran juga. Kemenangan politik para pejuang Perang Dingin adalah untuk

meyakinkan sebagian besar seniman dan cendekiawan prestisius di seluruh dunia akan

kemandirian dari politik dan kepercayaan seni untuk seni.13 Tetapi apa yang nampaknya menjadi

sengketa non-negara politik dan budaya dalam kenyataan telah disetir oleh negara! Eksperimen

formal murni, pada ekstrimnya seni abstrak, – sebagaimana hiburan ringan untuk massa –

subversif pada satu macam totaliterisme, namun harus diingat, bahwa kesenian seperti itu juga

adalah alat Macciavellis penguasa. Dogma seniman atau intelektual yang bebas dari keberpihakan

politik masih luas, sebagaimana juga masih berlaku keperluan kontrol dan penipuan atas

perbedaan pendapat (alasannya). Sejarah menunjukkan bahwa individu diuntungkan (disponsori,

beasiswa dll) dengan mengabdi kepada wacana dominan dan Kekaisaran, daripada

menelanjanginya. Tetapi menelanjangi Kaisar adalah salah satu tugas sastra dari banyak tugas,

yang tercapai dalam tetralogi Pram dengan penciptaan kesadaran sejarah.

13 “The German, European and international public have all been deceived for decades. [...] Writers such as

(16)

Hari ini Kekaisaran (fraksi keuangan internasional Anglo-Amerika-Israel) sedang mencari jalan

keluar yang irasional dari proses sejarah dekolonisasi, terutama naiknya Asia (seiring dengan

surutnya hegemoni), melalui membangun kekuatan militer secara besar2an, perang, dan negara

keamanan global (mail saya dibaca, percakapan dan pesan teks disaring dan dibaca. Negara

keamanan ini bahkan ingin melihat bagian pribadi badan saya [x-ray] dan otak saya mereka ingin

scan). Semua ini dilakukan di bawah lindungan, dan memang, ‘bentrokan peradaban pro-aktif’ –

termasuk terorisme counterinsurgency (seperti P20G), penghasutan kekerasan antar golongan,

pembunuhan dan muslihat media massa – yang semuanya mengakibatkan bahwa konflik

kepentingan yang sesungguhnya menjadi samar2. Non-penghargaan Pram telah menghilangkan

dari dunia – yang sekarang berada dalam proces menjadi rumah kaca global – masyarakat

pembaca yang lebih luas dan meluasnya pengaruh estetika anti-otoriter yang terikat dengan

kebutuhan sejarah dan genre, ‘seorang pewaris dalam sebuah garis strategi populer anti-otoriter

dan anti-kanonik’, yang menajamkan daripada menumpulkan persepsi realitas, yang senantiasa

(17)

Bibliografi

Bakhtin. 1982. ‘Discourse in the Novel’, The Dialogic Imagination, pp. 259-422. Austin:

University of Texas Press.

____. 1986. ‘The Bildungsroman and Its Significance in the History of Realism (Toward a

Historical Typology of the Novel)’, Emerson and Holquist (eds.) Speech Genres and Other Late

Essays, pp. 11-59. Austin: University of Texas Press.

Bourdieu, P. 1984. Distinction A Social Critique of the Judgement of Taste. Cambridge: Harvard

University Press.

____. 1993. The Field of Cultural Production. Cambridge: Polity Press.

Casanova, P. 2004. The World Republic of Letters. New York: Harvard press.

Cobb, R. ‘The Politics of Literary Prestige: Promoting the Latin American “Boom” in the Pages

of Mundo Nuevo’, A Journal on Social History and Literature in Latin America, Vol. 5, No. 3,

Spring 2008, pp. 75-94.

Danerek, S. 2006. Tjerita and Novel: Literary Discourse in Post New Order Indonesia. Lund:

Lund University.

Espmark, K. 1999. The Nobel Prize in Literature.

(http://nobelprize.org/nobel_prizes/literature/articles/espmark/index.html [accessed 2 Dec 2008])

http://nobelprize.org

Joyce. J. Ulysses. 1922. Paris.

Lubis, M. 1963. Twilight in Jakarta. Congress for Cultural Freedom/Vanguard.

Mahfouz, N. 1993. Adrift on the Nile. Doubleday Books.

____. 1996. Children of the Alley. New York: Anchor Books.

____. 2001. The Cairo Trilogy: Palace Walk, Palace of Desire, Sugar Street. Everyman's Library

Mann, T. 1901. Buddenbrooks.

Minow, H. R. 2006. Artists in the trap of the CIA, premiered on Arte TV (www.arte-tv.com) 29

Nov 2006.

Multatuli. 1860. Max Havelaar (of De Koffijveilingen der Nederlandsche Handel-Maatschappij).

Amsterdam: De Ruyter.

Saunders, F. S. 2000. The Cultural Cold War: The CIA and the World of Arts and Letters. New

York: The New Press.

____. 1999. Who Paid the Piper: The CIA and the Cultural Cold War

London: Granta Books).

Steele, J. S. 2005. Wars Within: The Story of Tempo, an Independent Magazine in Soeharto’s

Indonesia. Singapore: Equinox Publishing.

(18)

____. 1980b. Anak Semua Bangsa. Jakarta: Hasta Mitra.

____. 1985. Jejak Langkah. Jakarta: Hasta Mitra.

____. 1988. Rumah Kaca. Jakarta: Hasta Mitra.

www.cia.gov. Origins of the Congress for Cultural Freedom, 1949-1950.

www.cia.gov/library/center-for-the-study-of-intelligence/kent-csi/docs/v38i5a10p.htm (accessed

29 Nov 2008)

www.german-foreign-policy.com. 2006a. Heinrich Boell: “State Directed”. 24 Nov 2006.

(www.german-foreign-policy.com/en/fulltext/56036 [accessed 3 Dec 2008])

____. 2006b. Heinrich Boell and Co: “Drinking CIA Brandies”. 29 Nov 2006.

(www.german-foreign-policy.com/en/fulltext/56037 [accessed 3 Dec 2008])

Referensi

Dokumen terkait

Kemampuan model tersebut menjelaskan bahwa pengaruh umur, pendidikan, jumlah anggota keluarga, jumlah sumber pendapatan dan indeks keberlanjutan perkebunan kelapa

coating menggunakan sukrosa sebagai sumber karbon yang memiliki ukuran partikel dengan range 2.5-6.0 μm dengan bentuk partikel yang tidak beraturan. Tetapi setelah

Dalam pembelajaran mata pelajaran seni rupa di kelas VII SMP Islam Al Ittihad Godong semester II (genap) tahun ajaran 2014/2015 Kompetensi Dasar membuat karya seni

Adapun perumusan masalah yang diajukan dalam penelitian ini adalah “Bagaimana perbedaan komunikasi politik yang dilakukan calon legislatif berlatar belakang keluarga biasa

Secara umum hanya sang penjaga gawang saja yang berhak menyentuh bola dengan tangan atau lengan di dalam gawangnya,sedangkan 10 (sepuluh) pemain lainnya hanya diijinkan

reinforcement (penguatan) untuk meningkatkan kedisiplinan mahasiswa mahasiswa semester III B Program studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar Universitas Bangun Nusantara

Control valve adalah sebuah katup pada konverter kit yang berfungsi untuk mengatur jumlah aliran gas yang masuk ke mixer , atau disebut juga dengan katup utama