1.1. Latar Belakang
Salah satu kemajuan di bidang teknologi informasi pada dekade 80-an adalah diciptakannya telepon selular. Tidak dapat dihindari dengan adanya jenis telepon selular ini telah mengubah kehidupan manusia dan meningkatkan keterhubungan antara seseorang dengan yang lain tanpa adanya keterbatasan lokasi. Pada tahun 2014, jumlah telepon selular yang aktif di Indonesia sebanyak 281.963.665 (snapshot, Indonesia) dan menurut data World Bank, pada tahun 2014 jumlah telepon selular yang aktif di Indonesia sebanyak 126 per 100 penduduk (http://data.worldbank.org/indicator/IT.CEL.SETS.P2), artinya jumlah telepon selular di Indonesia sebanyak 126 % dari jumlah penduduk Indonesia yang pada tahun 2014 berjumlah 252 juta penduduk (http://www.bps.go.id) atau sebasar 317,52 juta telepon selular. Hal demikian dapat menimbulkan pertanyaan apakah kemajuan teknologi seperti ini baik atau buruk. Tidak dapat dipungkiri bahwa telepon selular pada saat ini telah banyak membantu manusia dan lingkungan, namum bagaimana dengan radiasi elektromagnetik (electromagnetic radiation, EMR) yang ditimbulkan oleh perangkat telepon selular ini. Sangat banyak masyarakat menggunakan telepon seluler untuk keperluan pekerjaan maupun untuk hal-hal lain dimanapun dia berada, tetapi sangat sedikit sekali orang yang memiliki kepedulian terhadap implikasi paparan radiasi EMF dari telepon seluler atau dari antena BTS terhadap lingkungan hidup (Kaushal et al., 2012).
untuk mengurangi biaya (Chamberland dan Pierre, 2005). Setiap sel dilengkapi dengan antena Base Transceiver Station (BTS) yang mengandung gelombang radio sebagai antarmuka udara (air interface) dengan telepon selular. Satu atau lebih BTS dihubungkan dengan Base Station Controller (BSC) yang memfasilitasi beberapa fungsi terkait dengan manajemen sumber daya dan mobilitas, demikian pula terhadap operasi dan pemeliharaan untuk keseluruhan jaringan radio (Operation and Maintenance, OM). Gelombang radio ini memiliki medan elektromagnetik yang mengandung medan listrik dan medan magnet. Agar transmisi dari gelombang radio ini dapat mencapai zona daerah cakupan maka pada umumnya antena BTS dipasang pada suatu menara (Heriyanto, 2011).
Gambar 1.1. Daerah cakupan BTS
Sinyal medan elektromagnetik (electromagnetic field, EMF) yang dipancarkan dari antena BTS menimbulkan EMR. Sinyal EMF dari antena BTS dapat mencakup radius sampai dengan 9 km, tergantung pada besarnya daya yang dipancarkan antena BTS tersebut. Jumlah BTS sangat tergantung pada jumlah pemakaian telepon selular (Bikram, 2014). Di kota Medan, misalnya terdapat sekitar 7 (tujuh) operator telepon selular. Data sampai tahun 2012 jumlah antena operator PT. Telkomsel di kota Medan (inner Medan) sebanyak 976 antena dan operator XL memiliki antena 2G sebanyak 1.338 antena sedangkan antena 3G sebanyak 2.384
1200
1200
1200
300
300
antena, sehingga seluruh operator di kota Medan diperkirakan memiliki lebih dari 5.000 antena.
Satu antena BTS digunakan untuk memancarkan sinyal EMF dengan EIRP (Effective Isotropically Radiated Power) sebesar 200 sampai dengan 1.000 watt tergantung dari luas daerah cakupan yang akan dicakup. Semakin besar daya yang dipancarkan maka semakin luas daerah cakupan yang dapat dicakup sinyal tersebut. 1.1.1. Efek negatif terhadap kesehatan masyarakat
Paparan radiasi dari gelombang EMF yang dipancarkan oleh antena BTS ini dapat memberikan dampak negatif terhadap lingkungan hidup apabila telah melampaui batas ambang yang diperbolehkan, khususnya bagi masyarakat dan mahluk hidup lainnya yang berada pada daerah cakupan BTS tersebut (Berg-Beckhoff et al., 2009; Frei et al., 2012; Kaushal et al., 2012; Bikram, 2014; Shahbazi-Gahrouei et al., 2014; Mederiros dan Sanchez, 2015; Yadav et al., 2015). Tubuh manusia akan lebih mudah menyerap radiasi EMF karena tubuh manusia mengandung 70 persen air (Kaushal et al., 2012).
memiliki resiko kanker 3 kali lebih besar dibanding bila jauh dari antena BTS (Kaushal et al., 2012).
Tabel 1.1. Persentase pengaruh power density dari antena BTS terhadap gender
No. Gejala Laki-laki (%) Wanita (%)
1 Kelelahan 41,4 57,5
2 Lekas marah 17,9 28,3
3 Sakit kepala (headaches) 14,4 45,6
4 Mual 0 5,9
5 Kehilangan nafsu makan 1,9 8
6 Gangguan tidur 45,4 61
7 Kecenderungan depresi 9,8 26,7
8 Merasa tidak nyaman 15 25,4
9 Kesulitan berkonsentrasi 18,4 21,6
10 Sering lupa 18 27,7
11 Masalah kulit 8 13,1
12 Ganguan penglihatan 12,2 22
13 Gangguan pendengaran 9,6 19
14 Pusing (dizziness) 6 9,8
15 Sulit bergerak 3,3 2,7
16 Masalah kardiovaskular 8,3 8,8
17 Menurunkan libido 18 12
Sumber : Santini et al., (2003)
1.1.2. Efek negatif terhadap hewan dan tumbuhan.
India Ministry of Communication & Information Technology Department of Telecommunications, 2010). Radiasi elektromagnetik dari menara BTS mempengaruhi burung, hewan, tumbuhan dan lingkungan (Goverment of India Ministry of Communication & Information Technology Department of Telecommunications, 2010). Penelitian yang dilakukan oleh Vijay et al. (2015) menyebutkan bahwa sejumlah besar burung seperti merpati, burung pipit, angsa tersesat karena gangguan dari "musuh yang tak terlihat", yaitu sinyal radiasi EMF dari menara antena BTS. Penelitian tersebut juga menyebutkan bahwa hewan yang berada di dekat menara BTS rentan terhadap berbagai bahaya dan ancaman terhadap kehidupan termasuk terjadi aborsi spontan, cacat lahir, masalah perilaku dan penurunan kesehatan secara keseluruhan. Terlepas dari burung dan hewan, radiasi elektromagnetik yang berasal dari menara BTS juga dapat mempengaruhi sayuran, dan tanaman.
1.1.3. Penolakan warga terhadap pembangunan antena BTS.
Beberapa kasus terjadi penolakan warga terhadap pembangunan menara antena BTS di Indonesia pada lokasi pemukiman masyarakat seperti pada Tabel 1.2. Dari beberapa kasus keberatan dan penolakan warga pada Tabel 1.2. dapat disimpulkan bahwa warga disekitar menara BTS khawatir akan efek negatif dari radiasi EMF terhadap kesehatan masyarakat yang tinggal di dalam radius menara antena BTS.
Tabel. 1.2. Kasus penolakan warga terhadap pembangunan menara BTS No. Tanggal Tempat Alasan Keberatan
1 26-03-2008
http://news.detik . com/
Akper Prima Medan
Lanjutan Tabel. 1.2.
No. Tanggal Tempat Alasan Keberatan
2 23-05-2011
1. Rasa tidak nyaman saat terjadi hujan lebat disertai angin kencang dana diiringi halilintar.
2. Menganggu siaran televisi
3. Udara di sekitar menara juga terasa panas.
3 27-05-2011 http://www.infowonogir
1. Pembangunan menara belum mengantongi ijin lingkungan.
2. Merasa khawatir keamanan dan kenyamanan di sekitar menara akan terganggu.
4 13-07-2011
1. Berada ditengah pemukiman padat penduduk. 2. Dapat mengundang petir
3. Radiasi membahayakan kesehatan warga 4. Roboh akan menimpa rumah disekitarnya.
6 21-03-2014
2. Dapat berdampak negatif terhadap lingkungan
7 22-05-2014
1. Petir yang bisa merusak barang elektronik 2. Radiasi yang bisa menyebabkan penyakit 3. Jika roboh membahayakan manusia.
8 20-07-2014
1. Dampak radiasi membahayakan kesehatan. 2. Mengganggu sinyal televisi warga. 3. Bahaya petir bagi warga sekitar menara. 4. Bila roboh maka rumah warga akan hancur.
9 3-09-2014
Dapat membahayakan penduduk setempat karena dibangun dekat dengan perumahan warga.
10 15-04-2015
1. Khawatir terjadi atau adanya radiasi terhadap manusia serta barang elektronik dimiliki 2. Tidak memberikan jaminan kesehatan serta
sosialisasi tentang dampak yang timbul terhadap antena tersebut kepada masyarakat.
11 30-07-2015
1. Radiasi dan tegangannya akan
membahayakan kesehatan warga sekitarnya. 2. Tanpa seijin warga sekitar.
1.2. Formulasi Masalah
penduduk, sehingga tata letak atau topologi jaringan antena BTS yang berdekatan dengan lingkungan tersebut harus menjadi regulasi dalam rencana pembangunan antena BTS. Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) yang ketentuannya dimuat pada UU No. 26 Tahun 2007 mengatur bahwa rencana tata ruang wilayah yang diantaranya memuat rencana struktur ruang, yang mencakup rencana sistem perkotaan dan rencana sistem jaringan prasarana utama (transportasi, energi dan kelistrikan, telekomunikasi, dan sumber daya air). Pemerintah menerbitkan Peraturan Pemerintah No. 26 Tahun 2008 sebagai amanat UU 26 Tahu 2007 yang menetapkan RTRW Nasional, tetapi tidak menyinggung dan mengatur tentang penempatan sebuah menara antena BTS. Demikian juga Perda Kota Medan No. 13 Tahun 2011 Tentang Rencana Tata Ruang Wilayah Kota Medan Tahun 2011-2031 tidak menyinggung dan mengatur tentang penempatan menara antena BTS. Perda RTRW kota Medan ini dalam strateginya menyebutkan peningkatan kualitas dan jangkauan pelayanan jaringan prasarana transportasi, telekomunikasi, energi, dan sumber daya air yang terpadu serta merata di seluruh kawasan, yang salah satunya meliputi mendorong pengembangan prasarana telekomunikasi. Dalam Perda Kota Medan, salah satu rencana struktur ruang wilayah kota meliputi rencana sistem jaringan telekomunikasi. Pasal 26 menyebutkan bahwa sistem jaringan telekomunikasi bertujuan untuk meningkatkan akses masyarakat dan dunia usaha terhadap layanan telekomunikasi yang meliputi sistem kabel, sistem nirkabel, dan sistem satelit, yang terdiri atas :
b. Rencana penataan penempatan menara telekomunikasi Base Transceiver Station
(BTS) secara terpadu.
c. Rencana peningkatan pelayanan jaringan telekomunikasi di wilayah kota. Pasal 56 ayat (2) pada tahap kedua diprioritaskan pada pengembangan dan
pemantapan jaringan telekomunikasi meliputi jaringan tetap dan bergerak. Pasal 26 butir b di atas dimaksudkan hanya penataan penempatan menara BTS secara terpadu, yang artinya menggunakan menara bersama, tetapi tidak mengatur penempatan BTS pada lokasi yang berbasis terhadap kepentingan yang ramah terhadap lingkungan.
Surat Keputusan yang dikeluarkan oleh Menteri Kominfo Nomor : 02/PER/M.KOMINFO/3/2008 tentang Pedoman Pembangunan dan Penggunaan Menara Bersama Telekomunikasi, dalam konsiderannya menyebutkan harus memperhatikan faktor keamanan lingkungan, kesehatan masyarakat dan estetika lingkungan tetapi dalam keputusannya tidak ada pasal yang menyangkut perlindungan lingkungan hidup dan kesehatan masyarakat. Demikian juga pada Surat Keputusan Bersama Menteri Dalam Negeri (No. 18 Tahun 2009), Menteri Pekerjaan Umum (No. 07/PRT/M/2009), Menteri Komunikasi dan Informatika (No. 19/PER/ M.KOMINFO/03/2009), dan Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (No. 3/P/2009) tidak terdapat pada konsideran maupun pada pasal-pasal keputusan yang menyangkut perlindungan lingkungan hidup dan kesehatan masyarakat.
selular dengan sistem sewa, artinya menara BTS tersebut digunakan secara bersama-sama (collocation) oleh beberapa operator telepon selular (tower sharing). Peraturan tersebut mengharuskan setiap menara menampung beberapa antena dari operator yang berbeda, sehingga banyak terdapat antena dalam sebuah menara. Hal ini akan menambah besarnya EMR yang dipancarkan dari menara BTS tersebut, karena akan terjadi akumulasi EMR (ITU K70, 2007) dari beberapa antena. Hal ini akan menimbulkan efek negatif yang lebih besar bagi lingkungan hidup dan masyarakat yang berdiam disekitarnya.
Pada awal adanya industri telepon selular, ijin regulasi pembangunan menara
hanya IMB (Ijin Mendirikan Bangunan) dan beberapa rekomendasi KKOP
(Kawasan Keselamatan Operasi Penerbangan) jika lokasi yang di tentukan radio
planning operator berdekatan dengan bandar udara. Namun sejak menjamur dan
tidak tertatanya pembangunan menara BTS yang terkesan menjadi hutan menara dan
keluhan dari pemerintah kabupaten/kota, maka terbitlah SKB 3 menteri dan
peraturan turunannya di tingkat kabupaten/kota seluruh Indonesia. Dalam semangat
penataan menara ini ijin regulasinya melebar menjadi ijin prinsip dan rekomendasi
cell plan. Cell plan sendiri di beberapa kabupaten/kota di buat guna penataan dan
pengendalian pembangunan menara di suatu kabupaten/kota. Adanya cell plan
dimaksudkan agar radio planning titik menara tidak asal berdiri. Pemkab/pemkot
dalam pelaksanaannya juga menerbitkan retribusi pengendalian menara 2,5 % tiap
tahun yang di atur dalam SKB 3 menteri tersebut. Namun seiring realita kebutuhan
mengatasi kemacetan lalulintas komunikasi data/suara diperkotaan dan pemenuhan
order dari operator kepada Tower Provider (TP), ketentuan cell plan yang sudah di
buat tidak jarang di abaikan dan di jadikan “transaksi” agar ijin regulasi pendirian
terkadang TP tetap diminta oleh operator tentang kelengkapan ijin dari pemerintahan
setempat agar tidak ada gangguan dalam proses “jualan” sinyal mereka. Akibat
dilema proses perijinan menara antena BTS tersebut, membuat pengaturan menara
bersama yang sudah di buat SKB nya tersebut tidak “bergigi” Sebab kepentingan
industri yang lebih di utamakan dengan mengedepankan kebutuhan komunikasi
masyarakat tanpa memperhatikan perlindungan lingkungan hidup dari paparan EMF
dengan power density yang dapat melebihi nilai batas ambang (4.5 watt/m2 untuk
frekuensi 900 MHz. dan 9 watt/m2 untuk frekuensi 1.800 MHz.). Dalam jangka
panjang perihal kesemerawutan tata letak menara dan perlindungan kesehatan
masyarakat akan jadi bom waktu bagi semua stake holder yang harus di carikan
solusi bersama, diantaranya :
1. Dari sisi pemerintah dan masyarakat harus segera ditemukan sebuah model untuk
menentukan lokasi menara antena BTS yang sesuai dengan tata ruang dan bebasis
perlindungan terhadap lingkungan hidup termasuk di dalamnya kesehatan
masyarakat.
2. Dari sisi para TP, tentu mereka ingin hubungan komunikasi dapat diandalkan
sehingga secara ekonomi dapat menguntungkan TP.
(Singh dan kaur, 2013). Teknik baku yang dapat membantu untuk melokasikan jumlah optimal sel di zona tertentu tidak ada, hal ini disebabkan lokasi pemakai yang tidak seragam dan fluktuasi trafik telepon (Singh dan Sengupta, 2012). Tujuan utama perencanaan topologi pemilihan letak BTS adalah memaksimumkan cakupan dengan memperhatikan hal-hal yang mendasar, misalnya permintaan trafik untuk mencakup daerah tertentu, ketersediaan tempat BTS, ketersediaan kapasitas saluran di setiap BTS dan kualitas layanan pada Traffic Demand Area (TDA) yang potensial dan yang terpenting adalah perlindungan lingkungan hidup pada daerah cakupan antena BTS. Pada awal konsep selular diajukan, lokasi menara antena BTS biasanya dipilih bersesuaian dengan pola pemakaian regular. Dengan semakin bertumbuhnya teknologi selular, semakin tinggi pula kepentingan operator selular untuk memiliki suatu jaringan yang tidak hanya lebih baik dalam hal kualitas pelayanan dari pada pesaing tapi juga dapat memberikan keuntungan lebih tinggi. Biaya terkait dalam pengadaan jaringan dan kualitas pelayanan yang ditawarkan berbanding langsung dengan jumlah BTS yang diinstalasi. Semakin banyak BTS semakin tinggi biaya namun semakin baik cakupan (Tutschku, 1998).
ramah lingkungan yang dimaksud dalam penelitian ini berkaitan dengan lokasi penempatan BTS dan batas power density yang aman bagi lingkungan hidup.
Penelitian ini mengajukan Rancangan Topologi Jaringan (RTJ) antena BTS untuk telekomunikasi selular yang didalamnya tercakup penentuan lokasi BTS (BTSL), frequency channel assigment (FCA), rancangan jaringan berbasis power density (RJPD) untuk perlindungan lingkungan hidup.
1.3. Tujuan Penelitian
Tujuan penelitian ini adalah untuk memperoleh model topologi antena BTS di kota Medan yang aman bagi lingkungan hidup termasuk di dalamnya kesehatan masyarakat yang berada dalam radius daerah cakupan antena BTS.
1.4. Manfaat Penelitian
Manfaat dari penelitian ini dapat dijadikan regulasi oleh pemerintah kota Medan sebagai model dalam menata topologi menara BTS, baik yang dimiliki oleh operator telepon selular maupun yang dimiliki oleh tower provider di kota Medan, sehingga nantinya diharapkan dapat melindungi hal yang lebih penting yaitu perlindungan lingkungan hidup.
1.5. Hasil Keluaran yang diharapkan (Novelty)
Power density gelombang EMF pada daerah cakupan antena BTS selalu berada di bawah nilai ambang batas sehingga lingkungan hidup khususnya masyarakat pada daerah cakupan BTS tersebut terhindar dari bahaya radiasi EMF antena BTS.
1.6. Kerangka Berpikir
Gambar 1.2. Kerangka Berpikir
Kerangka berpikir dibangun didasarkan kepada beberapa hal yaitu :
1. Dampak negatif dari EMR yang melebihi nilai ambang batas terhadap manusia. 2. Realita implementasi dan banyaknya antena BTS di kota Medan yang dibangun tanpa memperhatikan koordinat menara yang berdekatan dengan lingkungan hidup khususnya masyarakat yang berdiam disekitarnya (dampak negatif terhadap kesehatan).
3. Tidak ada peraturan daerah ataupun peraturan pemerintah yang mengatur tata letak antena BTS yang berdekatan dengan lingkungan hidup.
Antena BTS
Gel. EMF
Efek pada manusia
Fisiologis Psikologis
Non Thermal Thermal
Kota Medan, ± 5.000 antena BTS - Permen Kominfo No.
02/PER/M.KOMINFO/3/2008 -SKB 3 Menteri (Menara Bersama) - Perda Kota Medan No. 13 Tahun
2013tentang RT/RW Kota Medan T e m p a t :
Diatas Gedung/Ruko (Roof Top)
Diatas Tanah Penduduk (Green Field)
Menara Rumah Ibadah (Kamuflase) Lokasi
Pemukiman
P. Perbelanjaan
Rumah Sakit
Sekolah
Rumah Ibadah
Power Density Mitigasi Menara BTS
Model Matematis dari Topologi antena BTS Batas Ambang
BTSL
FCA
4. Lokasi antena BTS di kota Medan yang berada di pemukiman penduduk, rumah sakit, sekolah, dan rumah ibadah.
5. Tempat berdirinya menara BTS berada di atas atap rumah atau gedung (roof top), di atas tanah (green field), dan menara rumah ibadah (kamuflase).
6. Menara bersama yang digunakan oleh beberapa operator telepon selular menempatkan antenanya pada menara yang sama sehingga terjadi akumulasi gelombang EMF yang terpapar pada radius pancar antena tersebut.
7. Batas ambang power density (PD) yang aman terhadap manusia (4,5 watt/m2 untuk frekuensi 900 Mhz, dan 9 watt/m2 untuk frekuensi 1800 Mhz.)
8. Mitigasi lokasi antena BTS (BTSL)
9. Menjamin koneksitas komunikasi mobile station (FCA) 10. Biaya pembangunan dan instalasi yang minimal
1.7. Batasan Masalah
Ruang lingkup dari perencanaan suatu jaringan telepon seluler sangat luas dan meliputi banyak faktor, sehingga perlu dibuat batasan masalah pada disain topologi antena BTS yang dilakukan ini yaitu :
1. Jenis menara antena BTS adalah macro cell untuk aplikasi outdoor.
2. Pemodelan hanya meliputi FCA, BTSL, dan PD.
3. Pengukuran besaran power density di lokasi BTS tanpa memperhatikan terjadinya akumulasi radiasi EMF dari pemancar lain atau tidak.