TUGAS
RENCANA BISNIS
Nama : Peri Yanto
Nim : 2011 31 052
PROGRAM STUDI TEKNIK SIPIL DI
Mengapa Perlu Menulis Rencana Bisnis
“Aku ingin berbisnis”. Satu keinginan sederhana ini dengan serta-merta memunculkan banyak sekali pertanyaan yang harus dijaawab dengan keputusan-keputusan. Setiap keputusan dimulai dengan pertanyaan yang memunculkan banyak kemungkinan jawaban. Satu keputusan, didahului banyak pertanyaan yang di ikuti banyak pilihan.
Bandingkan dengan kalimat “Aku ingin membangun rumah”. Kalimat sederhana ini pun membuka ruang yang penuh pertanyaan, yang masing-masing menimbulkan banyak
kemungkinan jawaban, yang memerlukan banyak keputusan juga.
Untuk keperluan apa anda membangun rumah ? siapa yang akan menghuni? Dimana lokasinya? Berapa luas tanahnya? Berapa luas bangunannya? Berapa banyak kamarnya? Berapa tingkat? Seperti apa gaya arsiteknya? Siapa arsiteknya? Berapa biayanya? Berapa lama jadinya?
Katakanlah anda sudah mrmutuskan, dan sebagian besar pertanyaan penting sudah anda temukan jawabannya. “Rumah untuk disewakan”. “Untuk pendapatan tambahan”. “Rumah mewah dua tingkat dengan gaya minimalis”. Diperumahan alam sutera”. Tanahnya 3.000 m²”.Kamarnya empat dengan lima kamaar mandi”. Arsiteknya Ir.Ono”.
Otomatis muncul deretan pertanyaan lain.Oke,jadi, berapa total biayanya? Bagaimana keuntunganya? Dari mana sumber uangnya? Kapan uang tersebut kembal? Tentu saja lain pertanyaan-pertanyaan pertanyaan-pertanyaan yang sama pentingnya seperti: siapa saja yang akan melakukan pembangunan rumah itu ?
Proyek bisnis mirip dengan proyek rumah. Kadang sederhana, kadang rumit. Kalau anda hanya ingin dan membangun gubuk untuk dipakai sendiri di tengah sawah untuk mengusir burung dan melepas penat setelah bertani, tentu hanya sedikit pertanyaan yang perlu anda jawab dan putuskan. Tetapi kalau rumah itu untuk disewakan, atau ternyata adalah sebuah hotel
berbintang lima dengan seribu kamar di daerah segitiga emas Jakarta, tentunya banyak keputusan yang harus anda ambil dan kerumitannya akan sangat jauh meningkat!”
Semua keputusan anda perlu dicatat. Semua konsekuensi keuangannya perlu di ukur. Dan tentunya, karena proyek berbisnis, untung ruginya harus di hitung.”Wah, tidak mungkin untung nih!”atau “Wah,hebat sekali keuntungannya!”
Misalnya yang muncul dibenak anda “Aku ingin membuka hotel”. Tanpa perencanaan dan langsung membangun, resikonya besar sekali. Siapa tamu yang di sasar? Desain arsitektur macam apa yang bisa menarik segmen pasar yang dituju? Bagaimana mencari orang-orang yang tepat untuk mengelola hotel? Bagaimana jika uangnya tidak cukup? Bagaimana jika
keuntungannya kecil? Bagaimana jika kalah bersaing? Bagaimana membujuk pihak lain ikut mendanai? Bagaimana meningkatkan kemungkinanan untung besar?
Dokumen yang memuat ringkasan keputusan-keputusana anda, konsekuensi-konsekuensi keuangannya, serta rencana ekskusinya tersebut RENCANA BISNIS.
Menulis rencana bisnis memungkinkan Anda mencari solusi terbaik diatas kertas sebelum anda benar-benar mulai mendirikan bisnis. Rencana Bisnis bisa mengurangi kemungkinan kegagalan mencapai tujuan yang diharapkan dan meningkatkan kemungkinan berhasil.
Buku ini mengajak Anda berdiskusi mengenai perencanaan bisnis dan meringkasnya sebagai dokumen tertulis. Diskusi bisa dalam bahasa yang sederhana dan dengan contoh-contoh yang sederhana pula. Tetapi konsep-konsep dan teknik-teknik yang dibahas dalam buku ini dapat diterapkan kesemua jenis bisnis dengan berbagai tingkat kerumitan. Dari bisnis membuat sambal botol rumahan, bisnis konsultasi penggabungan dan pembelian perusahaan (merger and acquensitions, M&A), hingga bisnis rekayasa genetika atau pembiakan sel punca.
Salah seorang yang berberan sebagai pembisnis adalah sebagai berikut :
Manajer/profesional di bidang bisnis, yaitu seorang yang berwenang dan bertangtung jawab membuat rencana, mengatur, me-mimpin, dan mengendalikan pelaksananya untuk mencapai sasaran tertentu, yang merencanakan suatu bisnis atas nama perusahaan tempat ia bekerja.
Pebisnis, yaitu seorang yang mempunyai suatu bisnis, seperti dalam bidang perdagangan (pedagang,”juragan”, saudagar), bidang menufaktur, bidang profesi, dan sebagainya, yang sedang merencanakan kegiatan usaha baru, atau
Wiraswastawan/ entrepreneur, yaitu orang yang pandai atau berbakat mengenali produk atau layanan baru, menyusun operasi untuk pengadaan produk baru, menyusun operasi untuk pengadaan produk baru, memasarkannya, serta mengatur pemodalan operasinya, yang lebih berani mengambil resiko dan siap bekerja jauh lebih keras dari pada dua golongansebelumnya.
Untuk konsistensi dan kemudahan untuk membaca, buku ini menggunakan istilah “pebisnis” yang mewakili ketiganya.
JENIS BISNIS
Ada empat macam bisnis berdasarkan siapa pembelinya dan apa yang ditawarkan.
Dari sisi siapa pembelinya, ada dua macam bisnis, yaitu:
a. Bisnis yang akhirnya adalah individu atau kelompok individu yang membeli sesuatu untuk dipakai sendiri. Bisnis semacam itu disebut sebagai bisnis ke konsumen (business to caonsumers, atau B2C/”bi-tu-si”),
b. Bisnis yang pembeli akhirnya adalah perusahaan yang membeli sesuatu untuk menjadi bagian dari kegiatan usaha atau bagian dari produk/layanan akhir mereka. Bisnis sebagai itu disebut sebagai bisnis kebisnis (business to business, atau B2B/”bi-tu-bi”).
Dari sisi apa ditawarkan, ada dua macam bisnis, yaitu:
a. Bisnis yang terutama
menyangkut barang berwujud, seperti kue-kue, telpon genggam, atau perkebunan kelapa sawit,
b. Bisnis yang terutama menyangkut layanan yang tidak beruwujud, seperti layanan totok urat syaraf, klinik dokter spesialis, konsultasi hukum, atau layanan pembayaran
pembelian lewat internet, seperti PayPal.
TINGKAT RISIKO BISNIS
Bisnis selalu mengandung risiko, yaitu kemungkinan terjainya sesuatu yang berbeda dengan yang diharakan. Umumnya risiko dikaitkan dengan hasil yang dibawah harapkan. Bab 51 (Risiko dan penanganannya) akan membahas masalah risiko dengan lebih mendalam.
Jika bisnis yang direncanakan memiliki risiko rendah, penulisan Rencana Bisnis secara rinci dan mendetail tidak terlalu bermanfaat dibandingkan dengan bisnis berisiko tinggi.Semakin tinggi risiko bisnis, penyusunan Rencana Bisnis akan semakin tinggi.
Misalnya, bisnis layanan jual-jual properti, seperti rumah dan ruko, tidak mempunyai risiko tinggi. Kalau laku oke, kalau tidak laku juga oke. Tetapi bisnis seperti pengembangan obat baru untuk penyakit Alzheimer memiliki resiko kegagalan yang sangat tinggi. Jika berhasil, keuntungan akan sangat besar. Jika gagal, kerugian akan sangat besar.
SKALA BISNIS
Skala menyangkut besar kecilnya ukuran usaha. Ada ukuran absolute, misanya jumlah rupiah ysng diperlukan akan banyaknya manusia yang dilibatkan. Sebagai contoh, secara absolute, bisnis gerai tunggal yang menjual martabak yang hanya memerlukan dana beberapa juta rupiah dan melibatkan satu hingga empat orang memiliki skal usaha yang kecil. Bandingkan dengan bisnis jembatan tol antar pulau yang memerlukan dana ratusan triliun rupiah dan melibatkan ribuan orang.
Ukuran usaha juga reatif. Misalnya, bagi calon pebisnis yang sama sekali tidak bermodal, membuka bisnis gerai tunggal martabak adalah cukup besar bagi yang bersangkutan. Sedangkan bagi pebisnis modal besar, ukuran usaha gerai martabak tadi sangat kecil.
Tentu saja, semakin besar skala usaha-relatif ataupun absolute-semakin diperlukan penulisan rencana bisnis secara formal.
TINGKAT KERUMITAN BISNIS
Tingkat kerumitan bisnis bercermin pada produk/layanan, proses manufaktur/operasi layanan, dan pengelolaan manajerial/administrasi.
Kerumitan bisa juga tergantung pada tingkat dan ragam keahlian yang diperlukan untuk
menjalankan suatu bisnis, misalnya antara klinik bersalin dengan rumah sakit bedah jantung, atau antara gerai makanan cepat saji, seperti restoran mie ayam dengan menu terbatas (misalnya, “Mie Uban”) dan restoran Indonesia bermenu lengkap serta berlayanan penuh (misalnya restoran “Kembang Goela”).
Semakin rumit suatu produk atau proses, semakin penting manfaat penyiapan Rencana Bisnis secar menyeluruh dan formal. Jika digabungkan, terlihat ada berbagai kemungkinan jenis bisnis dari sisi skala usaha dan tingkat kerumitannya (lihat skema 3.2).
Sebenarnya, semua bisnis bisa dirancang untuk memiliki skala dan tingkat kerumitan berbeda-beda. Misalnya, gerai kebab adalah bisnis yang umumnya berskala kecil dan tidak rumit. Tetapi jika anda merancangnya menjadi usaha berskala nasional dengan ratusan lokasi gerai, skala dan tingkat kerumitannya akan bertambah sehingga pentingnya penulisan Rencana Bisnis juga meningkat.
SKALA USAHA
KECIL BESAR
A.
Gerai kebab
RENDAH
B
Perkebunan kebun
kelapa kopra
TINGKAT KERUMITAN BISNIS
C
Restursasi lukisan
D
Pembangkit listrik tenaga nuklir
TINGGI
MENGOLAH IDE BISNIS
Langkah pertama penyusun Rencana Bisnis adalah lupakan bahwa kita sedang menulis Rencana Bisnis. Fokus dulu dapa bisnis yang direncanakan.
Bisnis bisa sangat sederhana, seperti gerai ayam goring, bisa juga sangat mutakhir dan surat teknologi, seperti pembiakan sel punca (stem cells), penerbitan majalah, hingga produksi computer tablet untuk membaca buku digital.
PENGERTIAN BISNIS
Bisnis adalah kegiatan untuk mencari laba. Laba akan kita proleh jika kita bisa menjual sesuatu kepada calon pembeli potensial kepada pembeli potensial pada harga yang memberikan kita keuntungan di atas semua biaya yang kita keluarkan untuk membuat produk tersebut. Dengan kata lain, bisnis menciptakan “nilai”, yaitu sesuatu yang berharga dan bermanfaat bagi
pembelinya. Dan, tentunya, calon pembeli potensial dengan senang hati mengeluarkan uang sebesar yang kita minta. Pembeli menuntut bahwa “nilai” yang ia proleh lebih dari uang yang ia bayarkan, dan pembayaran si pebeli membelikan profil bagi bisnis kita.
Ringkasanya, inti suatu bisnis adalah menyediakan produk atau layanan yang bisa memuaskan seorang calon pembeli potensial lebih dari penawaran pihak-pihak lain pada harga yang kita tentukan.
Untuk bisa mendapatkan ide produk atau layanan yang bisa menarik calon pembeli seperti dibelakang, ada dua langkah yang perlu dilakukan:
1. Mencari peluang bisnis atau ide
2. Mengolah peluang menjadi produk atau layanan yang spesifik, unik, dan sulit untuk ditiru.
Tiga unsure penting dalam menentukan dan menjalankan suatu ide bisnis:
a. Kebutuhan yang belum terpenuhi dari pasar tertentu, b. Jawaban atas kebutuhan yang belum terpenuhi tadi, dan
c. Ada perusahaan yang memang menyiaplan diri untuk memenuhi kebutuhan tadi.
Misalnya, kita membuka bisnis perkebunan buah-buahan langka yang buahnya di cari-cari orang. Ada tiga unsur penting tadi.
1. Ada orang-orang yang mempunyai kebutuhan akan buah dengan cirri-ciri tertentu yang belum ada dipasar.
2. Kita menemukan bibit bauh yang sesuai dengan kebutuhan mereka yang belum terpenuhi tadi
3. Kita mendirikan usaha untuk menanam pohon tersebut dan kemudian menjual buah-buahnya kepada meraka.
A. MENCARI PELUANG DAN IDE BISNIS
Ada dua pendekatan dalam mencari peluang,
1. Kita sudah mempunyai produk atau layanan itu,
2. Kita melihat kepasar mencari kebutuhan yang belum terpenuhi (lihat Ilustrasi 4.1).
Secara formal, istilahnya cukup seram, yaitu antara “market full” dan “technology push”.
Contoh pendekatan pertama, kita sudah mempunyai resep ayam gorengyang menurut kita sangat lezat. Kita kemudian berkeliling menawarkan ayam goring tadi. Bisa laris, bisatidak laku, tergantung apakah ayam goring kita bisa memenuhi kebutuhan pasar untuk ayam goring lezat, dan walaupun dipasar sudah ada berpuluh macam ayam goring tapi tidak cukup lezat sebagian bagi sebagian mereka.
Kemudian kita memutuskan untuk mencari lebih tahu mendalam akan kebutuhan ayam goreng seperti apa yang akan memuaskan sebagian pasar itu. Kemudian kita memperbaiki terus resep ayam goreng kita sesuai temuan kita sebelumnya. Jika sesuai, tentu penjualan ayam goreng kita bisa meledak. Kisah tersebut adalah kisah kelahiran resep rahasia Kentucky Fried Chicken temuan Kolenel Sanders yang ia mulai sejak tahun 1930.
PRODUK/LAYANAN SUDAH ADA, BARU MUNCUL PERMINTAAN
Technology/Project Push
1
2
ANDA
PASAR 2. PERMINTAAN
SUDAH ADA, PRODUK/LAYANAN BELUM ADA
Market Pull
Sebagai contoh, Jepang adalah Negara dengan empat musim. Pada musim dingin, peralatan yang terbuat dari atau keramik menjadi sangat dingin. Banyak penduduk jepang yang menghemat listrik, baik di apartemen maupun diperdesaan, dan kamar mandi mereka tidak dibedakan penghangat. Tentu saja jika mereka harus kekamar kecil, mereka akan sangat tersiksa karena bersentuhan dengan kloset dari keramik yang dingin dan air yang sedingin es pula. Jadi, ada kebutuhan untuk kloset yang bisa tidak dingin tetapi jika tidak boros energy karena tidak perlu seluruh ruangan kamar mandi di hangatkan.
Parayang pebisnis yang jeli kemudian mendesain dan menyediakan kloset dengan pemanas sekucupnya yang selalu siap menerima kehadiran penghuni rumah di musim dingin dengan hangat. Fitur kloset ini menjadi populer di jepang.
B. MENGOLAH IDE BISNIS MENJADI PRODUK DAN LAYANAN YANG BERSAING
Ide kloset berpenghamat tadi jelas merupakan ide yang menarik dan menguntungkan. Tetapi, para entrepreneur Jepang tidak hanya berhenti pada menawarkan kloset berpenghamat. Mereka menyelidiki lebih mendetai mengenai kebutuhan-kebutuhan sekitar kloset yang belum
terpuaskan dan menemukan banyak kebutuhan yang belum disadari pasar. Mereka merancang berbagai fitur yang memenuhi kebutuhan-kebutuhan tadi dan menawarkan kepasar, yaitu kloset yang di lengkapi beraneka ragam fitur. Pasar menyambut dengan gembira. Saat ini jepang adalah Negara produsen kloset terhebat di dunia, dan para entrepreneur kloset tersenyum gembira karena karya mereka menghasilkan profil yang bertumbuh.
C. PERUSAHAAN ATAU PEBISNIS YANG MENGISI KEBUTUHAN
Unsur ketiga adalah adanya pebisnis yang berusaha mengisi kebutuhan yang belum terpenuhi. Ini mungkin merupakan unsure yang paling penting.
Unsure ketiga mempertemukan kedua unsure kedua unsure sebelumnya. Kitalah unsure ketiga ini. Sekedar menemukan produk atau layanan yang memenuhi kebutuhan yang belum terpenuhi tidak cukup. Harus ada orang yang mengubah penemuan tadi menjadi bisnis.
Jika kita sudah mempunyai perusahaan yang memiliki banyak inovasi yang belum terpasarkan, kita bisa menggali peluang baru akan kebutuhan inovasi-inovasi kita tadi. Banyak segmen pasar yang belum mungkin mempunyai kebutuhan belum terpenuhi yang berbeda-beda. Kita harus rajin menggali informasi seperti itu.
Sebelum diproduksi dan dipasarkan, ide produk atau layanan masih berupa mimpi. Tetapi tahap bermimpilah justru yang paling penting. Kita perlu meluangkan waktu mengolah mimpi kita tentang produk atau layanan yang ingin kita tawarkan sebagai selusi nyata kebutuhan yang belum terpuaskan.
banyak peluang yang sepintas di anggap tidak menarik, tetapi setelah diolah dengan seksama dan penuh empati menjadi produk atau layanan yang hebat. Sebagai contoh, rumah makanan
hidangan laut D’cost dan gerai donat J.Co.
, Rumah makan yang menyajikan hidangan laut sudah lama ada di Indonesia dan sudah tersedia dimana-mana dengan rentang harga dan mutu yang lebar. Mengapa masih ada yang tertarik untuk berusaha di bidang ini? Beberapa entrepreneur menemukan kebutuhan yang belum pernah terpenuhi disebagian pasar, yaitu rumah makan hidangan laut yang menyajkan makanan lezat, porsi mencukupi, dalam ruangan bersih, dengan kualitas makanan terjaga,dan yang
terpenting harga dapat disesusaikan dengan kondisi anggaran keluarga yang berubah disepanjang bulan. Para entrepreneur ini menyadari kebutuhan-kebutuhan tersebut dan merancang produk dan layanan sebagai solusi. Lahirlah D’Cost.
Mereka ingin pembeli tidak merasa makanan yang mereka santap terlau mahal, bahkan merasa mendapatkan makanan bersih yang enak dan murah. Sebagai contoh, nasi putih
dikenakan harga hanya seribu rupiah dan bisa nambah sekenyangnya, es the tawar juga sangat murah dan bisa di isi ulang sepuasnya.
Lauk yang di tawarkan-walaupun porsinya tidak tidak terlalu besar-umumnya berkisar dari Rp. 8.000 hingga Rp. 35.000 per porsi, dan mereka laris.
Demikian pula J.Co. pendirinya melihat peluang kedai donat yang berkualitas setara merek donat terkenal di Amerika Serikat dengan dapur terbuka dan kebersihan terjamin. Disamping itu, perusahaan ini juga aktif mengembangkan produk-produk donat yang sesuai dengan selera masyarakat Indonesia. Pasar memberikan tranggapan baik dan produk doant yang sebenarnya sudah umum ini berhasil menjadi usaha menguntungkan.
BAGAIMANA JIKA KITA MEMPUNYAI LEBIH DARI SATU IDE ?
sering kali, seseorang (calon) pebisnis mempunyai lebih dari satu ide yang menarik. Tentu saja tidak semuanya bisa dijalankan bersamaan umumnya yang bersangkutan harus memilih salah satu di antara ide-ide yang ada.
Seorang entrepreneur, Chris Guillebeau menawarkan pendekatan sederhana yang efektif untuk menyaring ide-ide. Walaupun penyaringannya untuk pebisnis skala kecil, tapi
pendapatankannya bisa diterapkan untuk usaha berskala besar (lihat Tabel 4.1).
Ada empat factor untuk memeringkatkan ide bisnis. Untuk tiap factor, berikan penilaian dari “1” hingga “5”, dengan “1” sangat kecil dan “5” sangat tinggi. Keempat factor tersebut :
Dampak : Secara keseluruhan, sejauh mana ide bisnis akan berpengaruh pada (calon) pembeli?
Upaya : Bagaimana dengan waktu dan usaha merealisasikan ide bisnis
Profitabilitas : Sejauh mana ide bisnis mampu menyajikan keuntungan, relatif terhadap ide bisnis lainnya?
Profitabilas : Sejauh mana ide bisnis mampu menyajikan keuntungan, relatif terhadap ide Bisnisnya lainnya?
Visi : Sejauh man aide bisnis sesuai dengan misi dan visi Kita?
Ide Bisnis Dampak Upaya Profitabilitas Visi Jumlah
Sumber : Guillebeau 2012
Tabel 4.1 Matriks Penyaring Ide
WAJIB BERBISNIS DALAM KORIDOR
Philip Kotler dengan tepat merumuskan bahwa bisnis adalah “menciptakan,
mengokumunikasikan, menyampaikan sesuatu yang bernilai untuk pasar sasaran tertentu guna mendapat profil”(create,communicate,[and]deliver value to target market at profil : CC-DV-TP).
Pendapat itu sangat benar, sayangnya belum lengkap. Dengan hanya berdasarkan
pendapat diatas, semua kegiatan mencari profilt pembeli. Jadi, smua kegiatan bisnis oke ini tidak bena! Definesi itu berfotensi besar menciptakan monster-monster pebisnis yang mengerikan.
Hanya berfokus pada profilt memunculkan berbagai bisnis yang hanya menguntung sang pebisnis dan kelompoknya saja dan sangat merugikan pihak-pihak lain (pecipta nilai total yang negative).
Sebagai contoh, bisnis berbasis korupsi, bisnis mencuri uang Negara (Negara adalah rakyat, jadi sama saja dengan mencuri uang rakyat), bisnis yang tidak etis (misalnya berbasis eksploitasi keluguhan masyarakat), bisnis yang legal tetapi tidak etis (lihatlah contoh-contohnya dari berita-berita media massa), bahkan bisnis yang tidak legal seperti perjudian, narkoba, atau layanan “percurian uang”.
Saat ini, bisnis seperti ini bahkan makin terus berkembang. Karena itu, bisnis wajib dijalankan dalam koridor yang tegas.
Bisnis memiliki batasan yang tegas. Bisnis adalah kegiatan mencari laba dengan
menyumbangkan sesuatu yang bernilai positif bukan saja pembeli.penambahan nilai itu juga bagi semua pihak yang berkepentingan; pemasok, karyawan, pemegang saham, masyarakat, dan seterusnya. Pebisnis adalah pencipta nilai positif bagi masyarakat luas.?
Bila kita ingin berbisnis, letakkanlah kegiatan “mencari profilt” kita didalam koridor bersisi tiga, yaitu memenuhi tiga keharusan :
1. Legal (L) 2. Etis (E)
3. Mempertimbangkan pemangkukepentingan yang menjemuk (multiple stakeholders)(Ms)
Jadi bisnis ada
“Create, Communicate, and Deliver Value to a Target market at a Profilt,Legally, Ethical, and considering Multiple Stakeholders)(Ms)”.
Menciptakan, mengomunikasikan, dan menyampaikan nilai bagi target pasar tertentu untuk memperoleh profilt,SECARA legal, etis, dan mempertimbangkan kepentingan majemuk.
Versi-Versi Rencana Bisnis
Rencana Bisnis menjabarkan mimpi kita mengenai usaha baru yang akan kita dirikan. Dokumen ini memuat dan merinci hal-hal penting yang akan kita lakukan-dalam kata-kata dan angkat-dari hari baru pertama kita dimulai hingga berjalan lancer.
Rencana bisnis tidak terbatas pada bisnis laba saja. Individu atau lembaga nirlaba pun perlu memulai suatu kegiatan atau kegiatan usaha dalam pelayannya, misalnya lembaga social seperti rumah sakit atau klinik untuk pelayanan masyarakat. Pihak-pihak nirlab itu juga perlu menyusun Rencana Bisnis untuk meningkatkan keberhasilan proyek dan aspek keuangan serta kebutuhan pendanaan proyeknya.
Untuk selanjutnya buku ini memang akan membahas Rencana Bisnis dari sudut pandang bisnis untuk laba. Tetapi pihak-pihak nirlaba bisa memanfaatkan buku ini dengan cukup
mengubah ukuran-ukuran keberhasilan nonfinansial yang sesuai dengan misi mereka.
Misalnya, ada sebuah klinik cuci darah untuk kerusakan ginjal tahap awal yang didirikan oleh lembaga social bagi kalangan yang kurang mampu. Misi Klinik bukan mencari keuntungan, tetapi membantu segmen sasaran mereka agar mendapatkan akses cuci darah untuk kerusakan ginjal tahap akhir dengan minuman. Ukuran keberhasilan klinik bukan banyaknya profilt, tetapi, misalnya, peresentasi pemanfaatan kapasitas mesin pencuci darah, perpanjangan usia pasien, dan kepuasan pasien selama prawatan. Bisa juga ukuran lain, seperti banyaknya donasi tidak
menigkat dari masyarakat. Klinik seperti ini perlu menyusun Rencana Bisnis untuk menyiapkan kegiatan dan untuk mengestimasikan sisi keuangannya di masa mendatang.
BENTUK RENCANA BISNIS
Ada 4 kegunaan Rencana Bisnis, yaitu:
1. Sebagai dokumen induk perencanaan
2. Sebagai dokumen panduan eksekusi atau implementasi,
3. Sebagai dokumen komunikasi ke pihak-pihak calon pendukung usaha, dan 4. Sebagai dokumen untuk mencari pembiayaan.
Keempat kegunaan tersebut memunculkan empat bentuk dokumen, dengan dokumen perencanaan sebagai dokumen induk (lihat Skema 5.1).
1. Dokumen perencanaan
Kegunaan Rencana Bisnis yang pertama adalah sebagai pemandu langkah-langkah pelaksanaan bagi pendiri usaha baru.
Mendirikan usaha baru ibarat membangun rumah. Orang perlu menyiapkan; apa yang akan dilakukan, bagaimana melakukannya, berapa lama waktu yang diperlukan. Namun berbeda dengan membangun rumah, perndirian usaha baru adalah menghasilkan keuntungan, sedangkan membangun rumah henya selalu menyangkut masalah uang saja.
Usaha baru selalu melibatkan banyak pihak di dalam dan diluar usaha tersebut, seperti calon pemasok dan calon distributor. Seperti halnya semua proyek yang rumit,setiap pihak akan mempunyai bayangan sendiri-sendiri tentang usaha yang di rencanakan. Proses menyusun Rencana Bisnis akan mengorganisir pihak-pihak tersebut karena setiap pihak yang terlibat akan menjelaskan rencananya, sekaligus mengetahui rencana pihak-pihak lain. Efek akhirnya adalah menyamakan visi tentang bisnis yang akan didirikan.
2
2
3
Skema 5.1 Empat Bentuk Dokumen Rencana Bisnis
Dokumen Rencana Bisnis adalah dokumen yang dinamis, terutama selama tahap penyusun. Dokumen Rencana Bisnis memungkinkan semua pihak mengidentifikasi masalah-masalah potensial dan titik kesalahan-kesalahan fatal karena semua pihak melihat rencana tertulis gabungan yang sama.
Dengan kata lain, proses penyususn Rencana Bisnis memungkinkan semua pihak yang terlibat untuk membuat kesalahan di atas kertas. Jika ada ketidakserasian, kesalahan-kesalahan dapat diidentifikasi dapat dihindarkan. Baru setelah rencana semua pihak terjalin dengan optimal, dokumen Rencana Bisnis dapat di cetak.
2. Pedoman Pelaksana
Rencana sekaligus apapun pasti meleset. Itu pasti. Tapi dengan Rencana Bisnis yang disusun sepenuh hati, “Tingkat kemelesetannya” diharapkan tidak drastis. Yang penting, dengan adanya dokumen perencanaan yang rapi, pelaksanaan memiliki pedoman.
1. Semua pihak mempunyai pedoman melakukan apa, bagaimana, dan kapan. Perencanaan yang rapi memberikan patokan ukuran kekuatan dan kelemahan riil pasca pendirian, sekaligus meminimalkan kesalahan pelaksanaan.
2. Semua pihak mempunyai pedoman memahami angka-angka keuangan dan operasional usaha. Rencana Bisnis Bukan Anggaran. Angka-angka yang disajikan dalam Rencana Bisnis adalah asumsi dan estimasi. Disatu sisi, biaya dana pngeluaran kas sering meleset (pakai a, artinya maju dengan pesat) diatas yang direncakan. Di sisi lain, penjualan umumnya pasti melesat (pakai e, artinya tidak sama dengan harapan), sering kali jauh dibawah harapan. Itu wajar.
Dengan adanya dokumen Rencan Bisnis, maka semua pihak yang berkepentingan dapat mengusai dan memahami angka-angka dalam Rencana Bisnis. Dalam ekskusinya, masing-masing pihak juga dapat dengan jelas mengetahui angka-angka keuangan mana yang perlu di awasi terus menerus sesuai perannya dalam masyarakat.
3. Dokumen Komunikasi Unutk Mitra Usaha
4. Dokumen Untuk Calon Investor dan Bank
Semua usaha baru memerlukan pendanaan, baik untuk pembelian aktiva tetap walaupun modal kerja. Sering kali seseorang atau beberapa entrepreneur memiliki ide bisnis hebat tetapi
kekurangan dana untuk mendirikan usaha barunya. Bila demikian, maka Rencana Bisnis adalah unutk memperoleh sumber perdanaan.
Sumber pendanaan usaha baru, selain dana yang disetorkan para pendiri dan pemegang saham aktif, juga dapat berasal dari calon pemegang saham pasif tambahan, kredit bank, utang dagang dari calon pemasok, dana modal vantura (Perusahaan yang selalu mencari proyek bisnis untuk mereka danai untuk meraup keuntungan melalui proses go public jika perusahaan sudah berjalan sudah baik), dan para “investor malaikat” (angel investor,orang-orang kaya yang ingin mencari bisnis-bisnis untuk mereka danai dengen criteria yang berbeda dengan dana modal vantura). Dokumen Rencana Bisnis adalah alat yang sangat penting dalam mencari perdanaan dari pihak ketiga (lihat Bab 55).
Para pengambil keputusan yang akan menjadi sumber perdanaan membutuhkan Rencana Bisnis sebagai dasar keputusan apakah mereka akan melibatkan diri dalam usaha baru ini dan berapa banyak alat untuk menyakinkan mereka. Tanpa Rencana Bisnisyang jelas, mereka tidak bisa memperkirakan kemungkinan keberhasilan atau kegagalan suatu usaha baru yang
bersangkutan.
PEMBACA
Setiap presentasi ide, penyampiaan harus di sesuaikan dengan para pembaca atau pendengar. Satu dokuumen yang sama, sering perlu disesuaikan bentuknya untuk audiens yang berbeda. Demikian pula penyajian Rencana Bisnis. Pembaca dapt dari pihak internal atau pihak eksternal (Lihat Ilustrasi 5.1)
PEMBACA RENCANA BISNIS
Ilustrasi 5.1 Pembaca Internal dan Eksternal
1. Pihak Internal
Sebagai dokumen penyatu visi di antara pihak internal, yaitu seluruh tim inti perusahaan baru, dokumen Rencana Bisnis perlu disajikan mendetail. Pihak-pihak internal yang akan melaksanakan bagian-bagian Rencana Bisnis harus memahami dengan jelas dan detail apa tujuan dan rencana keseluruhan masing-masing bagian.
2. Pihak Eksternal
Dokumen Rencana Bisnis untuk mengekomunikasikan bisnis yang direncanakan guna mendapatkan dukungan dari pihak-pihak luar, seperti calon rekan usaha, calon investor, bank, calon pemasok, calon distributor, bahkan anggota tim inti yang di rekrut.
Untuk pemegang saham dan sumber pendanaan lainya, ada beberapa bagian yang dapat diringkas penyajiannya. Perhatian utama mereka adalah beberapa dan bagaimana dana yang akan ditanamkan mendatang keuntungan. Mereka perlu gambaran kepastian.
Biasanya mereka akan bertanya cukup tajam mengenai kemampuan usaha baru menghasilkan produk atau layanan yang di rencankan, dan sejauh mana pelayanan itu mampu menciptakan pembeli yang setia dalam jumlah yang mencukup. Mereka tertarik untuk
mengetahui bagaimana usaha baru memanfaatkan dana mereka dan keamanan dana yang di tanamkan.
Jika bisnis yang akan kita rencanakan adalah bagian dari suatu perusahaan, biasanya pembaca yang berasal dari perusahaan induk dapat dianggap sebagai “pihak eksternal” dari unit bisnis yang kita siapkan. Biasanya, audiens kita adalah dewan komisaris, direksi, atau
eksekutif senior perusahaan induk. Mereka cenderung berfokus pada kemampuan kita dalam menciptakan penjualan dan keuntungan serta patokan-patokan waktu yang menunjukan hasil dari tahap-tahap pelaksanaan Rencana Bisnis. Selain itu, mereka mungkin menilai bagaimana
Rencana Bisnis kita menunjukan kesiapan bekerja sama dan memanfaatkan bagian-bagian lain dalam perusahaan demi keberhasilan Rencana Bisnis kita
APAKAH ADA BERMACAM-MACAMRENCANA BISNIS?
Ya dan tidak. “Ya” karena penekanan isi suatu Rencana Bisnis bisa bermacam-macam sesuai keperluan. Berkisar dari sangat rinci untuk keperluan panduan eksekusi hingga yang sangat ringkas hanya memuat ringkasan pokok-pokok dalam suatu lembar untuk bacaan pengantar (lihat Bab 41 dan Bab 42).
“Tidak” kerena teperinci atau ringkas berasal dari satu dokumen induk yang sama. Apapun bentuknya, dokumen induk harus sama. Penyajian dan fokus presentasi saja yang berbeda. Misalnya, informasi untuk mencari pinjaman bank atau audiensnya pejabat bank bisa berbeda dengan informasi untuk calon distributor.
Bentuk paling ringkas bisa hanya dalam beberapa paragraf saja. Bentuk itu sering disebut “presentasi 60 detik” atau “presentasi dalam elevator”.
“Hanya dalam beberapa paragraph saja?”Ya. Sering kali kita akan bertemu dengan seseorang yang penting, misalnya pejabat bank, investor potensial, atau bahkan calon pembeli potensial yang hanya mau memberi waktu sangat singkat untuk kita, menyampaikan pokok-pokok ide bisnis kita hanya beberapa menit atau bahkan hanya satu menit.
Kita perlu menyiapkan pokok-pokok yang meringkas Rencana Bisnis kita dengan jelas. Walaupun sangat ringkas, tetapi apa dan bagaimana pokok-pokok bisnis kita sangat menentukan apakah meraka tertarik untuk mendalaminya.
BERDASARKAN SIAPA YANG MENYUSUN
Rencana Bisnis juga tergantung siapa kita. Kita bisa saja seorang entrepreneur yang baru akan memulai bisnis pertamanya, seorang usahawan yang sudah berpengalaman yang ingin
menambah bisnisnya, atau seorang eksekutif perusahaan yang di tugaskan untuk menyiapkan bisnis baru atau perluasan bisnis yang sudah ada dari perusahaan tempat kita bekerja.
Bentuk spesifik Rencana Bisnis tergantung siapa kita. Rencana Bisnis dapat disusun sebagai usaha baru bagian dari perusahaan besar bagian dari perusahaan besar dengan sumber daya berlimpah, atau sebagai usaha baru dalam lingkup sumber daya terbatas. Rencana Bisnis unutk keduanya akan dibaca oleh kelompok orang berbeda dengan kebutuhan yang berbeda pula.
1. Rencana Bisnis yang merupakan bagian dari perusahaan induk
2. Rencana Bisnis bagi seorang (para) entrepreneur: usaha baru yang berdiri sendiri
Usaha baru yang berdiri sendiri tidak mempunyai banyak sumber daya. Dalam hal ini, pembaca Rencana Bisnis akan menuntut penjelasan mendetail atas kegiatan-kegiatan yang harus memang dimulai dari awal. Rencana pemasaran, misalnya, harus dijelasakan dengan sangat teliti dan mendetail. Pembaca ingin erlihat kesiapan tim pendiri dalam hal tersebut. Tuntutan yang sama akan dikenakan pada kegiatan-kegiatan lam dalam usaha baru ini.
BEBERAPA KELEMAHAN PENULISAN RENCANA BISNIS
Kelamahan penyusun Rencana Bisnisyang sangat sering terjadi, dapat dikelompokan menjadi tiga:
1. Kelemahan penguasaan bisnis dan kecukupan informasi
Penulisan tidak mengusai detail bisnis yang direncanakannya.
Penulis tidk memahami detail segmen pasar yang dituju.
Tidak mencari informasi yang cukup mengenai persaingan.
Tidak mencari informasi yang cukup mengenai pasar dan segmennya.
Terlalu mengandalkan informasi dan data sekunder
Sangat kurang melakukan penelitian kualitatif
2. Kelemahan pengembangan Strategi dan Rencana-rencana Fungsional
Menyusun strategi tanpa memanfaatkan hasil analisis persaingan dan pasar.
Tidak ada strategi bersaing yang jelas dan realities.
Terjebak dalam pembahasan teori.
Kurang fokus pada produk atau layanan yang benar-benar menyajikan solusi.
Terlalu mendetail dan teknis dalam memberikan penjelasan.
Kurang realities dalam menyusun estimasi penjualan (terlalu optimis terhadap hasil penjualan, akan meleda dahsyat).
3. Kelemahan penyusun proyeksi keuangan dan kelayakan bisnis
Godaan kuat untuk “menipu diri”, yaitu mengutak-atik asumsi dan angka-angka agar bisnis yang direncanakan terlihat “sangat menguntung”.
Angka-angka disajikan rumit dan terlalu terperinci sampai ke satuan rupiah, seperti
Rp. 5.397.485.633,16
Terlalu mempercayai angka-angka proyeksi
Tidak objektif menilai kelayakan potensi investasi.
Memaksakan kesimpulan kepada pembaca bahwa bisnis yang di ajukan hebat sekali.
MENGHINDARI DAN MENGATASI KELEMAHAN-KELEMAHAN PENYUSUNAN RENCANA BISNIS
Pahami sebaik-baiknya bisnis yang sedang kita rencanakan (lihat bab-bab dibagian B).
Carilah informasi kritkal tentang bisnis dan persaingannya.
Carilah data dan informasi primer (Kita car sendiri) dan tidak hanya menganalkan sumber
sekunder (seperti berita di media, laporan, majalah, atau internet).
Lakukan penelitian kualitatif untuk memperoleh pencerahan mengenai kebutuhan inti
segmen pasar yang dituju (insight).
Gunakan hanya pengetahuan dan teori-teori yang menunjang bisnis yang kita rencanakan,
tidak perlu memasukan semua hal yang kita ketahui.
Pilihlah strategi bersaing yang dapat memberi kita kemengan, jangan asal “biaya
rendah”(berbeda) atau “biaya rendah”(lihat lima uji Porter di Bab 23).
Harus berhati-hati dalam menyusun estimasi Rencana Penjualan. Gunakan naluri
bernisnis Kita.
Konservasif dalam mengestimasi angka biaya-biaya (lakukan analisis sensitivitas,
misalnya kurangi beberapa puluh persen, lihat efeknya).
Angka-angka jangan disajikan terlalu rumit. Tuliskan secara ringkasan.Misalnya, hindari
Rp. 5.387.485.633,16, lebih baik tulis Rp 5.390 juta.
Gambara Umum
Penyusun Rencana Bisnis
Penyusun Rencana Bisnis ibarat mempersiapkan peperangan yang terdiri atas beberapa babak
1. “MEMILIH MUSUH UNTUK BERPERANG”
Babak pertama adalah menemukan dan mengolah ide bisnis (lihat Bab 2).
Katakan kita sudah mempunyai ide bisnis yang lumayan jelas. Misalnya kita ingin mendirikan bisnis perkebunan buah-buahan organic. Apakah kita langsung membeli tanah, mencari bibit, dan segera bercocok tanam? Tentu saja tidak, bukan? Ide mudah didapat, tetapi untuk mengolahnya menjadi bisnis yang berhasil, kita harus bekerja keras.
Kita perlu mempelajari latar belakang yang penting bagi bisnis yang kita rencanakan (lihat skema 6.1), yaitu melakukan “Analisis Medan Bisnis” sebelum menyusun Rencana Bisnis.
Skema 6.1 Tiga Babak Persiapan
Skema 6.1 Tiga Babak Persiapan Perang
2. “MUNDUR SELANGKAH, MENGAMATI MEDAN”
Babak kedua dalam berbisnis bukanlah langsung menyusun Rencana Bisnis. Jurus pertama yang manjur untuk babak ini adalah jurus “mundur selangkah, mengamati medan perang”. Secara umum, kita harus cukup ahli dalam bidang bisnis yang akan kita tekuni. Secara khusus, kita harus benar-benar ahli dalam 3 bidang hal, yaitu:
1. Produk dan atau layanan yang kita rencanakan 2. Pasar yang relavan, dan
3. Persaingan serta industry yang relavan
Sebagai contoh, kita ingin berbisnis kedai kopi, bukan sekedar kedai kopi, tetapi kedai yang membuka banyak gerai diberbagai wilayah kota diberbagai wilayah kota dibeberapa kota dalam waktu 2 tahun. Kita perlu ahli dalam perkopian, mengamati pasar dan pesaing kedai kopi.
Kalaupun kita ahli peroduk kopi termasuk teknologinya, itu pun belum cukup. Dunia bisnis penuh penemu dan investor yang tidak berhasil memasarkan karya mereka. Mengusai sangat mendalam dari segi teknis tidak cukup untuk berhasil dalam bisnis.
Seandainya kita adalah ahi menjual dan apa pun bisa kita jual dengan sukses. Tapi kita tidak mengerti dengan produk, pasar, dan persaingan secara mencukupi. Bagaimana bisnis kita bisa sukses?
DIBAHAS DI
B A G I A N D
2
Hasil analisis ini bisa saja tidak kita laporkan dalam Rencana Bisnis kita. Tetapi mutlak kita lakukan. Hasil akhir yang terpenting dari jurus ini:
1. Kita bisa mematangkan ide bisnis kita dengan batasan produk atau layanan yang jelas, dan
2. Mengertahui factor-faktor penting yang melatar belakangi kesuksesan suatu bisnis. Hal-hal yang perlu untuk ini akan di bahas dalam Bagian B (Bab 7-18)
3. “MEMUTAR OTAK, MENYUSUN RENCANA”
Dalam babak ini kita mengolah ide kita menjadi gerakan-gerakan eksekusi yang hasil. Kita meliput semua sisi, merumuskan strategi, membuat keputusan,menyiapkan tindakan, dan menghitung angka-angka.
Babak ketiga ini terdiri atas tiga jurus:
3.1 “Menyiapkan perang, menghitung kebutuhan modal”
Bagian C2 dan C3 yang terdiri atas empat belas gerakan (bab) yang membawa kita merumuskan jati diri bisnis kita, menyusun strategi, menyiapkan rencana dengan langkah-langkah spesifik, serta menghiyung aspek-aspek keuangan.
3.2 “Menghitung untung-rugi maju berperang”
Dalam bagian C4, kita menggabungkan sisi-sisi keuangan dari bagian-bagian sebelumnya menjadi proyeksi keuangan untuk kemuadian dijadikan dasar untuk menyimpulkan apakah bisnis yang akan kita dirikan bisa menguntungkan.
Terakhir, Kita dapat memberikan saran akhir mengenai bisnis yang kita rencanakan kepada para pembaca Rencana Bisnis Kita.
3.3 “Susun rencana, latih pasukan, siap menyerang”
Pada bagian D1, Kita akan diajak untuk menyiapkan dokumen Rencana Bisnis yang singkat, tetapi komprehensif. Di samping itu, Kita juga akan disiapkan untuk