• Tidak ada hasil yang ditemukan

FAKTOR FAKTOR YANG MEMPENGARUHI TUNARUNG

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "FAKTOR FAKTOR YANG MEMPENGARUHI TUNARUNG"

Copied!
10
0
0

Teks penuh

(1)

FAKTOR – FAKTOR YANG MEMPENGARUHI TUNARUNGU

TUGAS

disusun guna memenuhi tugas presentasi mata kuliah Keperawatan Kebutuhan Khusus. Dosen pengampu: Ns. Latifa Aini S,M.Kep.,Sp.Kom

oleh:

Ratna Lauranita Anggraeni NIM 112310101029

Meisita Tiara NIM 1123101010

PROGRAM STUDI ILMU KEPERAWATAN UNIVERSITAS JEMBER

(2)

PEMBAHASAN

A. Definis

Istilah tunarungu diambil dari kata “tuna” dan “rungu”, tuna artinya kurang dan rungu artinya pendengaran. Orang dikatakan tunarungu apabila tidak mampu mendengar atau kurang mampu mendengar suara. Apabila dilihat secara fisik, anak tunarungu tidak berbeda dengan anak dengar pada umumnya. Pada saat berkomunikasi barulah diketahui bahwa anak tersebut mengalami tunarunguan.

Tunarungu juga diartikan sebagai suatu istilah umum yang menunjukkan kesulitan mendengar dari yang ringan sampai berat, digolongkan ke dalam tuli dan kurang dengar. Orang tuli adalah yang kehilangan kemampuan mendengar sehingga menghambat proses informasi bahasa melalui pendengaran, baik memakai ataupun tidak memakai alat bantu dengar dimana batas pendengaran yang dimilikinya cukup memungkinkan keberhasilan proses informasi bahasa melalui pendengaran, Winarsih (2007: 22).

Menurut Suryanah (1996) tunarungu diartikan sebagai kekurangan atau kehilangan kemampuan mendengar yang disebabkan oleh kerusakan atau tidak berfungsinya sebagian atau seluruh alat-alat pendengaran. Selain itu Tunarungu diartikan juga bagi mereka yang menjalani kekurangan tetapi masih mampu (tidak kehilangan kemampuan berbicara), (Sardjono,2000).

B. Klasifikasi

Menurut Boothroyd (dalam Winarsih, 2007:23) klasifikasi ketunarunguan adalah sebagai berikut.

a. Kelompok I : kehilangan 15-30 dB, mild hearing losses atau ketunarunguan ringan; daya tangkap terhadap suara cakapan manusia normal.

b. Kelompok II: kehilangan 31-60, moderate hearing losses atau ketunarunguan atau ketunarunguan sedang; daya tangkap terhadap suara cakapan manusia hanya sebagian.

c. Kelompok III: kehilangan 61-90 dB, severe hearing losses atau ketunarunguan berat; daya tangkap terhadap suara cakapan manusia tidak ada.

(3)

e. Kelompok V: kehilangan lebih dari 120 dB, total hearing losses atau ketunarunguan total; daya tangkap terhadap suara cakapan manusia tidak ada sama sekali.

Sedangkan menurut Suryanah (1996) terdapat beberapa klasifikasi dari tunarungu menurut etiologinya, antara lain:

a. Faktor endogen 1) Keturunan;

2) Ibu hamil yang terkena cacar atau rubella;

3) Ibu hamil yang mengalami keracunan sehingga terjadi kerusakan pada plasenta janin.

b. Faktor eksogen

1) Terkena infeksi saat proses kelahiran

2) Terjadi otosklerosis atau tumbuhnya tulang pada sekitar fenestra ovalis atau pada ketiga tulang pendengaran

3) Kecelakaan

Gangguan pada organ pendengaran bisa terjadi pada telinga luar, tengah, maupun telinga bagian dalam. Keadaan ini dapat diklasifikasikan tunarungu berdasarkan tempat terjadinya kerusakan pendengaran yaitu:

1. Tunarungu tipe konduktif yaitu hilangnya pendengaran diakibatkan adanya gangguan pada telinga luar dan tengah,sehingga menghambat jalannya suara ke telinga bagian dalam

Karakteristik tunarungu menurut Somad dan Hernawati (1995: 35-39) dapat dilihat dari segi: intelegensi, bahasa dan bicara, emosi, dan sosial.

a) Karakteristik Intelegensi

(4)

daripada prestasi anak normal karena dipengaruhi oleh kemampuan anak tunarungu dalam mengerti pelajaran yang diverbalkan.

b) Karakteristik Bahasa dan bicara

Kemampuan anak tunarungu dalam berbahasa dan berbicara berbeda dengan anak normal pada umumnya karena kemampuan tersebut sangat erat kaitannya dengan kemampuan mendengar. Karena anak tunarungu tidak bisa mendengar bahasa, maka anak tunarungu mengalami hambatan dalam berkomunikasi.

c) Karakteristik Emosi dan Sosial

Ketunarunguan dapat menyebabkan keterasingan dengan lingkungan. Keterasingan tersebut akan menimbulkan beberapa efek negatif seperti: egosentrisme yang melebihi anak normal, mempunyai perasaan takut akan lingkungan yang lebih luas, ketergantungan terhadap orang lain, perhatian mereka lebih sukar dialihkan, umumnya memiliki sifat yang polos dan tanpa banyak masalah, dan lebih mudah marah dan cepat tersinggung.

D. Faktor yang mempengaruhi Tunarungu

Howard dan Orlensky (1994: 263-264) memberikan contoh penyebab kerusakan pendengaran yaitu :

1) Materna Rubella (campak), pada waktu ibu mengandung mudah terkena penyakit campak sehingga dapat menyebabkan rusaknya pendengaran anak.

2) Faktor keturunan, yang tampak dari adanya beberapa anggota keluarga yang mengalami kerusakkan pendengaran.

3) Ada komplikasi pada saat dalam kandungan dan kelahiran premature, berat badan kurang, bayi lahir biru, dan sebagainya.

4) Meningitis (radang otak), sehingga ada semacam bakteri yang dapat merusak sensitivitas alat dengar di bagian dalam telinga.

5) Kecelakaan/trauma atau penyakit.

(5)

1) Faktor-faktor sebelum anak dilahirkan (pre natal) a) Faktor keturunan

b) Cacar air, campak (rubella, gueman measles) c) Terjadi toxaemia (keracunan darah)

d) Penggunaan pilkina atau obat-obatan dalam jumlah besar e) Kekurangan oxygen (anoxia)

f) Kelainan organ pendengaran sejak lahir 2) Faktor-faktor saat anak dilahirkan (natal)

a) Faktor rhesus (Rh) ibu dan anak yang sejenis b) Anak lahir pre mature

c) Anak lahir menggunakan forcep (alat bantu tang) d) Proses kelahiran yang terlalu lama

3) Faktor-faktor sesudah anak dilahirkan (post natal) a) Infeksi

b) Meningitis (peradangan selaput otak)

c) Tunarungu perseptif yang bersifat keturunan d) Otitis media yang kronis

e) Terjadi infeksi pada alat-alat pernafasan

sedangkan menurut Suryanah (1996), faktor penyebab tunarungu adalah: 1) Faktor endogen

a) Keturunan;

b) Ibu hamil yang terkena cacar atau rubella;

c) Ibu hamil yang mengalami keracunan sehingga terjadi kerusakan pada plasenta janin.

2) Faktor eksogen

a) Terkena infeksi saat proses kelahiran

b) Terjadi otosklerosis atau tumbuhnya tulang pada sekitar fenestra ovalis atau pada ketiga tulang pendengaran

(6)
(7)

DAFTAR PUSTAKA

Howard dan Orlensky. 1994. Special Needs Education. Jakarta: Unindo Press

Sardjono.1997. Orthopaedagogiek Tuna Rungu I (Seri Pendidikan bagi Anak Tuna Rungu). Surakarta: UNS Press Suryanah.1996.Keperawatan Anak Untuk Siswa SPK. Jakarta: EGC

Sardjono. 2000. Orthopaedagogik Anak Tuna Rungu. Surakarta: UNS Press.

Somad, Permanarian dan Tati Hernawati.1996.Orthopedagogik Anak Tunarungu. Bandung: Depdikbud Jendral Perguruan Tinggi

(8)

Soal Kasus

1. Ny. S, tiga hari yang lalu baru saja melahirkan anak pertamanya. Saat ini, ia hendak pergi ke rumah sakit untuk check up. Namun, di tengah jalan kendaraan yang ditumpanginya mengalami kecelakaan. Setelah dibawa ke rumah sakit diketahui terdapat masalah di telinga bayi Ny. S. Dokter memfonis bahwa anak Ny. S akan mengalami gangguan pendengaran secara permanen. Berdasarkan ilustrasi diatas, faktor yang mempengaruhi terjadinya tuna rungu adalah…

2. Perawat x sedang memberi penjelasan pada salah satu orang tua siswa di SLB dengan gangguan tunarungu tentang faktor yang mempengaruhi tunarungu ini. Berikut faktor yang mempengaruhi tunarungu adalah…

a. Cacar air bumil, meningitis, terkena asap rook

b. Keturunan, meningitis, mendengarkan music dengan volume keras c. Otitis media kronis, kecelakaan, cacar air pada bumil

d. Toxaemia, anoxia, ayah perokok

e. ayah perokok, mendengarkan music dengan volume keras, Otitis media kronis

3. keluarga Y adalah salah satu keluarga yang tinggal di daerah pedesaan. Dalam satu keluarga hampir semua anggotanya mengalami tunarungu. Berdasarkan penjelasan diatas faktor apa yang mempengaruhi kondisi tunarungu keluarga Y diatas…

(9)

e. Faktor eksogen

4. Seorang ibu sedang mendengarkan pendidikan kesehatan dari salah satu mhasiswa keperawatan yang sedang praktek. Kemudian ibu tersebut bertanya dan menceritakan bahwa ia memiliki anak yang mengalami tunarungu. Ibu tersebut mengatakan dulu ia tidak menyadari kalau sedang hamil, sehingga ia meminum obat (pil kb) ataupun obat lain saat sakit. Sampai kehamilannya diketahui umur 6 bulan. Berdasarkan kasus diatas faktor apa yang berpengaruh pada keadaan tunarungu anak ibu tersebut…

a. Faktor keturunan

b. Cacar air, campak (rubella, gueman measles) c. Terjadi toxaemia (keracunan darah)

d. Penggunaan pilkina atau obat-obatan dalam jumlah besar e. Kekurangan oxygen (anoxia)

5. Ibu D saat ini sedang memasuki kehamilan trimester pertama. Namun, saat ini ia juga mengalami cacar. Kemungkinan apa yang akan terjadi pada janin ibu D…

a. Faktor rhesus (Rh) ibu dan anak yang sejenis b. Anak lahir pre mature

c. Anak lahir menggunakan forcep (alat bantu tang) d. Proses kelahiran yang terlalu lama

e. Faktor keturunan

(10)

b. Anak lahir pre mature

c. Cacar air, campak (rubella, gueman measles) d. Terjadi toxaemia (keracunan darah)

e. Penggunaan pilkina atau obat-obatan dalam jumlah besar

8. Menurut Suryanah, terdapat beberapa faktor yang mempengaruhi tunarungu anatara lain:

a. Prenatal dan endogen b. Eksogen dan natal c. Endogen dan eksogen d. Post natal dan natal e. Natal dan endogen

9. Secara umum faktor yang mempengaruhi kejadian tuna rungu adalah… a. Faktor pre natal, natal, endogen

b. Faktor pre natal, natal, post natal c. Faktor natal, endogen, eksogen d. Faktor keturunan, kecelakaan, natal e. Faktor eksogen, endogen, keturunan

10. Berikut beberapa faktor yang mempengaruhi tuna rungi antara lain infeksi, meningitis, otitis media yang kronis, adanya infeksi. Termasuk dalam faktor apa beberapa yang disebutkan diatas…

Referensi

Dokumen terkait

(3) bukti memilikiilmu pengetahuan dinilai dari keterampilannya, bukan dari sert ifikatnya, (4) biasanya tidak terlalu terikat dengan ketentuan yang ketat, (5) isi, staf

Untuk maksud tersebut maka Dinas Kesehatan melalui Seksi Peningkatan Mutu Tenaga Kesehatan mengadakan Pelatihan Asuhan Persalinan Normal ( APN ) yang bekerjasama

Disahkan dalam rapat Pleno PPS tanggal 26 Februari 2013 PANITIA PEMUNGUTAN SUARA. Nama

Pencon bagian depan dari kuningan, bagian bahu dari besi dicat dengan Brom warna kuning emas, rancakan diberi list dengan brom warna kuning emas Pencon bagian depan dari

DEGRADASI LAHAN PADA SAWAH BEKAS PERTAMBANGAN BATU BATA DI KECAMATAN SALAMAN KABUPATEN MAGELANG TAHUN 2014 (Sebagai Bahan Pengayaan dalam Pembelajaran Geografi Pada

Oleh karena itu bagi lembaga pendidikan yang mengembangkan pendidikan vokasi tidak perlu minder dan kemudian mengubah menjadi pendidikan akademik, karena akan

Selain dari beberapa karya di atas, Fazlur Rahman pernah menulis artikel yang berjudul “Iqbal in Modern Muslim Thoght” Rahman mencoba melakukan survei terhadap

Dengan mempertimbangkan pilihan-pilihan adaptasi yang dikembangkan PDAM dan pemangku kepentingan, IUWASH juga merekomendasikan untuk mempertimbangkan aksi-aksi adaptasi