• Tidak ada hasil yang ditemukan

SKETSA PEMIKIRAN POLITIK ISLAM ERA KLASI

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "SKETSA PEMIKIRAN POLITIK ISLAM ERA KLASI"

Copied!
21
0
0

Teks penuh

(1)

SKETSA PEMIKIRAN POLITIK ISLAM ERA KLASIK

MAKALAH PENDIDIKAN AGAMA ISLAM

Disusun :

Lusi Julianti (0612 3060 0513)

Nyimas Halimah Tusyakdiah (1612 3060 0517)

Resti Lestaria (0612 3060 0519)

Selvy Fitriyani (0612 3060 0521)

Yuli Wulandari (0612 3060 0526)

JURUSAN ADMINISTRASI BISNIS

POLITEKNIK NEGERI SRIWIJAYA

PALEMBANG

(2)

KATA PENGANTAR

Assalamualaikum Wr. Wb.

Alhamdulillah segala puji bagi Allah S.W.T., yang telah melimpahkan berkah dan rahmat-Nya sehingga penulis dapat menyelesai kan makalah ini tepat pada waktunya dan tanpa halangan yang berarti. Laporan ini penulis buat dalam rangka untuk memenuhi salah satu tugas dalam mata kuliah Pendidikan Agama Islam pada Politeknik Negeri Sriwijaya. Adapun judul dari makalah ini adalah “Sketsa Pemikiran Politik Islam era Klasik”.

Penulis menyadari bahwa dalam penyusunan makalah ini masih jauh dari kesempurnaan. Untuk itu penulis sangat mengharapkan kritik dan saran yang bersifat membangun demi tercapainya kesempurnaan laporan ini. Demikianlah penulisan makalah ini penulis sampaikan, semoga dikemudian hari dapat memberikan manfaat bagi pembaca serta semua pihak.

Akhir kata semoga Allah S.W.T. senantiasa melimpahkan rahmat dan hidayah-Nya kepada kta semua dan semoga kita selalu dalam lindungan-hidayah-Nya.

Amin

Palembang, Desember 2012

(3)

DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL... I

KATA PENGANTAR...II

DAFTAR ISI...III

BAB I PENDAHULUAN...1

1.1 LATAR BELAKANG...

1.2 RUANG LINGKUP ...

1.3 TUJUAN DAN MANFAAT...

1.3.1 TUJUAN PENULISAN MAKALAH...

1.3.2 MANFAAT PENULISAN MAKALAH...

BAB II ISI...

2.1 PENGERTIAN POLITIK...

2.2 PEMBAGIAN ZAMAN BAGI SEJARAH ILMU POLITIK...

2.3 SKETSA PEMIKIRAN POLITIK ISLAM ERA KLASIK...

2.4 ISLAM SEBAGAI AGAMA YANG BERSIFAT UNIVERSAL...

BAB III KESIMPULAN DAN SARAN...

3.1 KESIMPULAN...

3.2 SARAN...

(4)

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

PERKATAAN “politik” sekarang sudah menjadi bahasa internasional, dikenal oleh hampir segenap manusia yang terdiri dari berbagai bangsa dan mempunyai bermacam-macam bahasa. Perkataan itu masuk di dalam bahasa berbagai bangsa, diucapkan, dipakai dalam pergaulan sehari-hari, dan diakui oleh masing-masing bangsa bahwa perkataan politik sudah menjadi bahasa nasioalnya. (tarbiyah siyasiyah hal 1)

Di zaman sekarang setelah ilmu politik mencapai puncak kemajuannya, masih dirasakan kesukaran-kesukaran untuk menentukan lingkungan ilmu politik. Maka janganlah diherankan kalau untuk menggambarkan perkembangan ilmu politik pada 10 abad yang lampau di kalangan umat islam, kita mengalami kesukaran yang serupa. Sukar untuk kita memisahkan antara ilmu politik dengan ilmu-ilmu Islam lainnya yang di dalam banyak hal memiliki hubungan yang erat. (IPS hal 11)

Untuk memperkaya sekaligus membandingkan ruang lingkup definisi politik dalam berbagai pandangan seperti Barat dengan Ism maka patut kiranya kita melihat bagaimana pengertian politik baik secara terminologis maupun definitif dalam Islam.

(5)

Ilmu politik Islam sudah menjadi kenyataan yang tidak bisa dibantah. Ia telah melahirkan sejarah yang gemilang tentang pengalaman-pengalaman negara, dan ia telah menciptakan para sarjana yang mempunyai teori-teori politik.

Sungguhpun begitu, harus diakui bahwa pengetahuan dunia mengenai ilmu politik Islam itu sangat sedikit sekali. Bahkan umat Islam sendiri amat kurang perhatiannya kepada soal yang sangat penting ini. Sama saja bodohnya di dalam hal ini antara umat Islam sendiri sebagai pemilik yang asli dari ilmu politik Islam itu, dengan bangsa-bangsa barat. Bahasa Arab yang dipandang sebagai sumber dari ilmu-ilmu Islam, tidak pula banyak membicarakan soal ini di masa kita ini, sehingga tenggelamlah segala brilliant yang berharga dari ilmu politik Islam itu.

1.2 Ruang Lingkup

Agar pembahasan ini tidak menyimpang dari tujuan penulisan makalah, maka kami akan membatasi ruang lingkup pembahasan sebagai berikut :

1. Penjelasan mengenai makna politik secara umum dan Islam 2. Sejarah lahirnya sistem politik Islami

3. Politik Islam pada era klasik

1.3 Tujuan dan Manfaat

1.3.1 Tujuan penulisan makalah

Adapun tujuan dari penyusunan makalah ini adalah sebagai berikut:

1. Untuk meningkatkan keterampilan dan wawasan khususnya dalam pengetahuan mengenai politik dalam Islam.

(6)

1.3.2 Manfaat penulisan makalah

Adapun manfaat dari hasil penyusunan makalah ini adalah sebagai berikut:

1. Bagi dosen pembimbing adalah diharapkan dapat memberikan pengarahan atau bimbingan kepada mahasiswa dalam menyusun makalah.

2. Bagi penulis adalah agar menambah wawasan mengenai politik Islam khususnya pada era klasik.

3. Bagi pihak lain adalah agar dapat mengembangkan ilmu pengetahuan khususnya dalam ilmu politik dalam dunia Islam.

BAB II

ISI

2.1 Pengertian politik

(7)

judged, prudent. Kata ini terambil dari kata Latin politicus dan bahasa Yunani (Greek)

politicos yang berarti relating to a citizen. Pemakaian kata itu yang pertama kali dalam abad ke 5 S.M. Kata tersebut juga berasal dari kata polis yang bermakna city ”kota”.

Politic kemudian diserap ke dalam bahasa Indonesia dengan arti:

Segala urusan dan tindakan (kebijaksanaan, siasat, dan sebagainya) mengenai pemerintahan sesuatu negara atau terhadap negara lain, tipu muslihat atau kelicikan, dan juga dipergunakan sebagai nama bagi sebuah disiplin pengetahuan, yaitu ilmu politik.

(KKPA hal 34)

Kata “politik” sekarang sudah menjadi bahasa internasional, dikenal oleh hampir segenap manusia yang terdiri dari berbagai bangsa dan mempunyai bermacam-macam bahasa. Perkataan itu masuk di dalam bahasa berbagai bangsa, diucapkan, dipakai dalam pergaulan sehari-hari, dan diakui oleh masing-masing bangsa bahwa perkataan politik sudah menjadi bahasa nasioalnya.

Bangsa Indonesia termasuk bangsa-bangsa jajahan ini dahulu. Karena tekanan penjajahan Belanda, barulah pada akhir abad ke 19, bangsa kita mengenl kata “politik”. Setelah terjadi kebangunan nasional pada permulaan abad ke 20, dengan berdirinya Serikat Islam (1912), barulah perkataan politik terpakai dalam bahasa kita. Tetapi, pastilah pemakaiannya itu di bawah pengawasan yang sangat keras dan kecurigaan yang hebat dari pihak penjajah, dibawah ancaman hukuman penjara atau buangan ke Digul, dan sebagainya.(IPI hal 18)

(8)

Secara terminologis, siyasah merupakan bentuk masdar (gerund) dari akar kata

sasa-yasusu-siyasatan. Dalam kalimat “sasa ad-dawwaba-yasusuha siyasatan”

memiliki arti “qama ‘alaiha wa radhaha wa adabbaha” yakni mengurusi, melatih, dan mendidiknya. Bila dikatakn “sama al-amra” maka berarti”dabbarahu” yakni mengurusi atau mengatur perkara. Jadi, makna siyasah jika dikaitkan dengan masyarakat maka dapat diartikan sebagai pemeliharaan (riayah), perbaikan (ishlah),

pemberian petunjuk (taqwim) dan pendidikan (ta’dib).

Menukil keterangan Ibnu Manzhur dalam Lisanul Arab, assaus yang berasal dari kosa kata sawasa memiliki arti kepemimpinan. Sasuhum sausan berarti mereka mengangkat pemimpin dan jika dikatakan sawassuhu wa asasuhu wa sasal amra siyasatan maka berarti seseorang yang mengatur urusan politik. Adapun orang yang mengatur dan memimpin suatu kaum disebt sasah was suwwas.

Rasulullah SAW. Sendiri menggnakan istilah siyasah dalam sabdanya:

Bani Israil diursi oleh para nabi(tasusuhumul anbiya). Ketika seorang nabi wafat, nabi yang lain datang menggantinya. mengak ada nabi setelahku, namun akan ada banyak khalifah. (HR. Bukhari dan Muslim)

Hadist ini menjelaskan makna siyasah sebaga upaya mengurusi urusan bani Israil yang dilakukan para nabi. Sedangkan sepeninggal Rasulullah saw., para khalifah akan menggantikan tugas Nabi dalam mengursi urusan kaum Muslimin.

Jadi ruang lingkup pengertian as-siyasah adalah kewajiban menjalankan sesuatu yang dapat mendatangkan kemaslahatan. Adapun as-sa’is adalah pemimpin yang mengatur dan menangani urusan rakyat serta mampu mendatangkan kemaslahatan bagi rakyatnya.

(9)

kaum Muslimin hendaknya mengetahui apa yang dilakukan pemimpin, mengngar keburukan yang dilakukan pemimpin atas rakyatnya, mensihai pemimpin jika melakkan kedurhakaan kepada rakyat dan memeranginya jika melakukan kekufuran yang nyata (kufran bawahan).

Ruang lingkup peran siyasah ini sejalan dengan pengertian hadits:

Siapa saja yang tidak memperhatikan urusan kaum Muslimin maka dia bukan dari golongan mereka. (HR. Thabrani)

Jihad yang utama adalah kalimat hak di depan penguasa jahat. (HR. Ahmad) (TS hal 16)

2.2 Pembagian zaman bagi sejarah ilmu politik

Menurut Abder Rahman ek Kawakibi, pembagian zaman bagi sejarah ilmu politik terdiri atas sebagai berikut:

1. Zaman purbakala, berjalan 10 abad lamanya. Yakni sejak abad 5 SM sampai abad ke 5 M. Seluruh sejarah Yunani dan Romawi dimasukkan di dalamnya. 2. Zaman tengah, berjalan 8 abad lamanya, sejak abad ke-6, abad lahirnya

Nabi Muhammad SAW sampai kepada wafatnya politikus Islam yang terbesar Ibnu Chaldun (808 H = 1405 M). Di dalam zaman yang berabad-abad ini, kata Kawakibi, tidaklah ada buku-buku politik yang ditulis kecuali buku-buku karangan sarjana Islam. Merekalah yang merupakan rantai penghubung antara zaman yang terlehih dahulu (Purbakala) dengan zaman yang di belakangnya (Baru). Segala buku-buku itu memuat teori-teori kenegaraan yang masih tetap up to date sampai sekarang ini.

(10)

2.3 Sketsa Pemikiran Politik Islam era Klasik

Sebelum memasuki era klasik nabi-nabi terhadulu sudah mengenal system pemerintahan jauh sebelum islam turun contoh nya Nabi Ibrahim dengan raja Namrud. Selanjutnya Nabi Muhammad juga memperkenalkan system politik pertama kalinya dengan membentuk pemerintahan di Negara Madinah, dimulai dari masa Khulafaurrasyidin. Pada masa itu corak pemerintahan belum terlalu jelas, maka pergantian Khalifah pun berubah-ubah dari masa Abu Bakar kepada umar dengan cara wasiat, kepada Ali dengan cara aklamasi. Setelah itu, akhirnya kekuasaan Islam diambil alih oleh Mu’awiyah dan mengawali sistem monarki dalam pemerintahan.

Pada zaman pemerintahan dinasti Abbasyah, ilmu pengetahuan pun berkembang dengan pesat sehingga bermuncullah para ilmuwan-ilmuwan termasuk para pemikir system politik di zaman itu. Azhar (1997:75) menyatakan bahwa sarjana islam yang pertama kali menuangkan teori politi islam pertam kali dalam suatu karya ilmiah adalah Syihab al-Din Ahmad Ibn Rabi’, yang hidup di Baghdad semasa pemerintahan Mu’tasim, khalifah Abbasyiah yang kedelapan. Dan muncullah para pemikir-pemikir politik di era Klasik (620 M-1250 M), diantaranya Abu Nasr Muhammad al-Farabi (870 M-950 M), Abu Hasan Ali ibn Habib al-Mawardhi al-Bashri (364 M-450), serta Abu Hamid Muhammad Ibn Muhammad al-Tusi al-Ghazali (1058-1111 M).

Berikut ini akan diuraikan satu persatu tentang pemikiran politik yang mewakili para pemikir politik islam di zaman klasik.

1. Abu Nasr Muhammad al-Farabi

(11)

dunia ilmu sehingga tidak terlalu dekat dengan penguasa Abbasyiah. Pada teori olitiknya tidak didasarkan pada system pemerintahan, melainkan obyektif sesuai dengan idealismenya.

a. Hubungan Politik dan Pemerintahan

Filsafat kenabian itulah yang erat dengan teori politiknya. Sejalan dengan Plato, Aristoteles dan Ibnu Abi Rabi’, Farabi berpendapat bahwa manusia itu adalah makhluk sosial yang mempunyai kecendrungan sifat untuk bermasyarakat. Adapun tujuan bermasyarakat adalah karena kita tidak bisa hidup sendiri tanpa bantuan orang lain. Kebahagiaaan sejati akan lah terwujud dengan kepemimpinan yang ditegakkan dengan benar. Kepemimpinan dapat berjalan dengan lancar apabila dibarengi dengan keahlian. Keahlian itu berupa meminpin orang-orang untuk menegakkan nilai-nilai kebenaran . Keahlian itu berupa pemerintahan atau sejenisnya, sementara politik adalah bentuk dari operasional keahlian tersebut.Al-Farabi membagi politik menjadi 2 yaitu, pertama pemerintahan yang rasional yang dapat menciptakan sebuah keselarasan. Dan yang kedua, yaitu pemerintahan yang tidak rasional dan mengakibatkan sebuah jahiliah. Tentunya berbanding terbalik dengan macam politik sebelumnya.

b. Pemerintahan dan Kepala Negara

Azhar (1997:76) berpendapat menurut Farabi criteria seorang kepala negara harus memenuhi kualitas luhur yaitu ;

1. Lengkap anggota badannya 2. Baik intelegensinya

(12)

4. Pandai mengemukakan pendapatnya dan mudah dimengerti 5. Pecinta pendidikan dan gemar mengajar

6. Tidak loba 7. Pecinta kejujuran 8. Berbudi luhur

9. Tidak utamakan keduniaan 10. Bersifat adil

11. Optimisme dan besar hati

12. Kuat pendirian, penuh keberanian,antusiasme dan tidak berjiwa kerdil.

Semua komponen diatas memang susah ditemukan pada sosok seseoarang, dan Farabi mengakuinya , akan tetapi itulah yang harus dimiliki oleh para peminpi agar tercipta pemerintahan yang stabil dan diharapkan oleh para masyarakat.

2.Abu Hasan Ali ibn Habib al-Mawardhi al-Bashri

Abu Hasan Ali ibn Habib al-Mawardhi al-Bashri hidu[ antara tahun 364-450 M atau 975-1059 M. Ia seorang pemikir Islam yang terkenal .

a.Teori Kontrak Sosial

(13)

itulah yang menyebabkan timbulnya kerja sama. Dari kerja sama ini akhirnya, manusia membentuk sebuah Negara. Negara merupakan hajat manusia untuk mencukupi kebutuhan bersama dan mereka akan dapat saling membantu dengan keahlian yang masing-masing dimilki oleh indivual itu sendiri. Dengan adanya Negara melalui kontal sosial atau perjajnjinan yang sudah disepakati. Hubungan antara abl al –Hall wa al-Aqad (legislative) dengan kepala Negara ( eksekutif) akan menimbulkan kontrak sosial yang memiliki kewajiban antrara dua komponen tersebut sehingga terciptalah hubungan timabal balik. Karena itu Mawardhi berpendapat, kepala Negara merupakan tempatnya mengatur jalannya pemerintahan, serta menyebar luaskan agama. Di dalam islam menjalankan amanah sebagai khalifah itu sangat wajib.

Untuk menegakkan Negara, ada 6 sendi dasar yang harus diupayakan 1. Agama untuk mengendalikan hawa nafsu

2. Pengusaha yang berwaibawa 3. Keadilan kepada semua elemen

4. Stabilitas keamanan yang terkendali dan merata’

5. Kesuburan tanah (lahan) yang berkesinambungan sehingga tidak tumbuh sebagai aggressor

6. Menjamin kesejahteraan hidup. Rasul bersabda :”Adanya harapan adalah salah satu nikmat dari Allah kepada umatku, kalau tidak ada harapan orang tidak akan (payah-payah) menanam pohon, dan seorang ibu tidak akan menyusui anaknya” Berbeda dengan Farabi yang mendasarkan teorinya secara idealistic, maka Mawardhi mendasarkan teori politiknya secara realistic.

(14)

Azhar (1997:85 dan 86) mengungkapkan, menurut Mawardi yang berwenang memilih kepala negara adalah lembaga legislative (abl al-ikhtiar), mereka dipersyaratkan:

1. Memiliki keadilan 2. Memiliki pengetahuan 3. Memiliki wawasan

Sementara itu, jabatan kepala negara dipersyaratkan: 1. Adil dalam arti luas

2. Ilmu pengetahuan yang memadai untuk ijtihad 3. Sehat pendengaran

4. Sehat jasmani sehingga tidak terlarang untuk melaksanakan aktivitas 5. Pandai dalam mengendalikan urusan rakyat

6. Berani tegas membela rakyat dan menghadapi aggressor 7. Keturunan etnis Quraisy

3.Abu Hamid Muhammad Ibn Muhammad al-Tusi al-Ghazali

(15)

a.Profesi politik

Sejalan dengan ilmuwan-ilmuwan sebelumnya, Ghazali juga berpendapat bahwa manusia itu adalah makhluk sosial. Beliau memilike beberapa alasana pertama, yaitu kebutuhan akan meneruskan kelangsungan hidup manusia, hal ini diperlukan hubungan laki-laki dan perempuan. Kedua saling membantu dalam kelangsungan hidup. Bagi Ghazali, profesi politik meliputi empat departmenn:

a.departmen agraria

b.departmen pertahanan dan keamanan c.departmen kehakiman

d.kejaksaan.

Untuk menempati posisi politik tersebut diperlukan SDM yang memiliki keahlian di bidang tersebut. Dan tentunya professional, mandiri terpisag dari unsur kekuasaan.

b. Teori Kepemimpinan Negara

(16)

sendiri melainkan agama mengatur segalanya yang berhubungan erat dengan lingkungan hidup sekitar individu.

c. Kepala Negara

Azhar (1997:90) berpendapat, dengan mendasarkan pada Al-Alqurán surah al-Nisa:59 dan surat Ali-Imran:26, Al-Ghazali berpendapat bahwa Allah telah memilih bani Adam dua kelompok pilhan: pertama para Nabi yang bertugas menjelaskan kepada hamba-hamba Allah tentang jalanyang benar yang akan membawa kebahagiaan dunia dan akhirat , dan kedua para raja (kepala negara ), dengan tugas menjaga agar hamba-hamba Allah tidak saling bermusuhan dan saling melanggar hak, dan memandu mereka ke ara kedudukan yang terhormat. Karena itu sulatan adalah bayangan Allah di muka bumi, maka wajib dicintai, harus ikut dan tunduk serta tidak dibenarkan menentang.dalam hal ini tentu saja terbatas pada sabda Rasulullah “Tidak Boleh ada ketaatan kepada makhluk yang durhaka kepada Allah (al- Khaliq)” ketaatan itu hanya terbatas pada hal-hal yang baik saja.

Sejalan dengan itu Ghazali menentukkan kriteria kepala negara yang sama dengan kriteria menjadi hakim, ditambah dengan keturunan dari Quraisy. Kriteria itu diantaranya:

1. Merdeka 2. Laki-laki 3. Mujtawahid 4. Berwawasan luas 5. Adil

(17)

7. Bukan wanita, orang buta, orang fasik, orang jahil dan pembeo.

Kriteria itu adalah salah satu syarat yang harus dimiliki seoran khalifah dalam memimin sebuah negara, agar pemerintahan dapat berjalan dengan lancar sesuai apa yang diharapkan.Mengapa bukan wanita menjadi salah satu kriteria dalam menjadi seorang khalifah karena hadits menyatakan “Tidak akan sukses masyarakat yang menyerahkan (untuk memimpin) utusan mereka kepada wanita.

Dari aspek politik, orang-orang Arab tidak mengenal istilah Negara dalam arti negara dalam arti yang sesuai menurut undang-undang, karena Negara dengan definisi ini harus memiliki aturan, undang-undang dasar, perudang an, kehakiman, tentara sebagai pelindung dari serangan luar, dan polisi sebagai pelindung dari dalam. Inilah yang tidak ditemukan dari orang-orang Arab, mereka hanya hidup dalam system kabilah, setiap kabilah ada pemipimpin dan tidak ada kekuasaan yang menyatukan semua pemimpin kabilah yang ada sebagai peguasa dan pelaksana pemerintahan, yang akan memerangi tangan-tangan jahat. Bahkan setiap orang bebas untuk melakukan pembalasan sendiri, dan menjadi wajib atas kabilahnya untuk membela sampai ia mendapatkan haknya.

Walaupun system kabilah ini dapat bertahan dan berkuasa, namun kepjutusan pemimpin kabilah tidak mengikat setiap orang atau warga kabilah bersangkutan. Setiap orang dalam kabilah memiliki hak untuk menolak dan tidak ada yang bisa menyatukan system kabilah ini, menyatukan kekuatannya di bawah satu panji pada saat mereka mempertahankan diri. Jika satu kabilah mendapat serangan dari luar maka mereka akan mempertahankannya bersama-sama walaupun ada perbedaan atau kesepakatan antarindividu untuk mempertahankan diri atau menjaga dan melindungi harta, jiwa, dan kehormatan.

(18)

umum masyarakat pada saat itu sebelum Islam sehingga tidak dapat melahirkan sebuah system prundang-undangan yang sempurna., yang ada hanya berupa aturan-aturan adat kebiasaan local. Tradisi Mekah berbeda dengan tradisi masyarakat Madinah, dan keduanya memiliki peranan masing-masing yang berbeda dengan tradisi masyarakat primitive (badui).

Dengan nilai-nilai keadilan dan akhlak mulia, ditambah lagi semua aturan ini tidak menyebutkan hukuman meteril bagi yang melanggar selain menunggu keputusan masyarakat. Dari sini dapat disimpulkan bahwa aturan ini lebih dekat kepada regulasi normative daripada sebuah regulasi perundangan, dan kami akan menjelaskan beberapa aturan dan kaidah perundang-undangan utama yang ada pada masyarakat Arab sebelum diutusnya Muhammad

2.4 Islam sebagai agama yang bersifat universal

Bagi para pemikir Islam klasik, bukanlah suatu kekeliruan menerima warisan intelektual dari mana pun datangnya, termasuk yang berasal dari Yunani-Romawi. Bahkan, sebagaimana dibuktikan dalam sejarah, umat Islam tidak alergi terhadap peradaban Mesopotamia, Bizantium, Persia, Hindu, danCina. Kunci memahaminya karena pada hakikatnya Islam adalah agama inklusif, bersikap terbuka dan toleran terhadap berbagai pengaruh peradaban ‘asing’, sejauh tidak bertentangan dengan prinsip ketuhanan (tauhid) dan mampu memperkaya tradisi keilmuan Islam. Watak inilah yang membuat Islam memiliki self confident (percaya diri) yang tinggi dan bebas dari

inferiority complex (rasa rendah diri) berhadapan dan berinteraksi dentan peradaban-peradaban dunia. Watak Islam inilah yang menyebabkan penaklukan-penaklukan Islam tidak diiringi oleh proses penghancuran peradban-peradaban lokal negeri-negeri yang ditaklukkan. Bahkan, dalam batas-batas tertentu, Islam berani berselaras dengan peradaban negara taklukan atau juga ikut memperkaya peradaban yang ada.

(19)

Mereka memandang diri mereka sebagai bagian dari seluruh kemanusiaan universal yang berada dalam lingkungan kewrganegaraan ddunia.

(INDNP hal 200)

Islam adalah agama yang dengan tegas nyata mengumumkan bahwa soal-soal kenegaraan dan soal-soal politik, adala soal-soal yang bersifat uiversal. Dia

mengajarkan bahwa tiap-tiap bangsa dan masing-masing orang mempunyai hak yang sama terhadap politik. Islam menolak tiap bentuk kezaliman terhadap hak itu, sebagai mana pernah diucapkan oleh Khalifah ke II Omar bin Khatthab sewaktu perkosaan itu dilakukan orang:

“Apa alasannya kamu memperbudak (menzalimi hak) manusia, padahal mereka dilahirkan oleh ibunya sebagai seorang merdeka”.

BAB III

KESIMPULAN DAN SARAN

(20)

Berdasarkan penjelasan pada Bab II, maka penulis menyimpulkan bahwa Islam merupakan agama yang universal. Sumber hukum Islam yang bersumber dari Al-quran maupun As-sunnah dapat diterapkan kepada semua bidang kehidupan, termasuk dalam ilmu politik. Sebagai mana telah difirmankan Allah dalam salah firman-Nya bahwa manusia di muka bumi ini telah diamanatkan untuk menjadi khalifah. Bermakna, berpolitik merupakan naluri kita sebagai manusia. Yaitu untuk menjadi pemimpin, untuk menjaga bumi Allah dan sekaligus menghindari segala tindak kezaliman di dunia. Sosok Rasulullah sebagai uswatun hasanah, termasuklah sebagai pemimpin khususnya dalam dunia politik pada masa pemerintahannya dulu, dapat dijadikan acuan bagi umat seluruh dunia untuk menjalankan kehidupan berpolitik dengan baik, sehingga dapat mendatangkan kemaslahatan bagi semua umat manusia.

3.2 Saran

Adapun saran yang dapat kami sampaikan pada bab ini adalah agar kita dapat menjalankan kehidupan berpolitik kita dengan mengutamakan keridhaan Allah. Karena kita sebagai hamba Allah yang telah dipercaya untuk menjalankan amanah sebagai khalifah di bumi, maka sekecil apapun peran kita dalam menjalankan kehidupan politik yang sehat adalah sangat berharga untuk kebaikan dan kemaslahatan semua umat manusia.

(21)

Ahmad, H. Zainal Abidin. 1977. Ilmu Politik Islam I. Jakarta: PT Bulan Bintang

Dzakirin, Ahmad. 2011. Tarbiyah Siyasiyah. Solo: PT Era Adicitra Intermedia

Ismatulllah, Deddy dan Asep A. Sahid Gatara. 2007.Ilmu Negara dalam Multi Perspektif. Bandung: CV. Pustaka Setia

Salim, Abdul Muin. 2002. Konsepsi Kekuasaan Politik dalam Al-Quran. Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada

Lewis, Bernard. 1994. Bahasa Politik Islam. Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama

Referensi

Dokumen terkait

Dewi Sinta memiliki watak setia kepada sang suami, jatmika (selalu dengan sopan santun) dan suci trilaksita (ucapan, pikiran, dan hatinya). Ia dapat menjaga

Dari kata yang ditemukan dari beberapa analisis STP, USP dan SWOT yang telah menemukan beberapa keyword akan disempitkan lagi untuk mendapatkan kata kunci yang

Terdapat hubungan yang sangat kuat antara laju produktivitas primer perairan dengan klorofil-a dan faktor fisika kimia perairan (suhu, kecerahan, intensitas cahaya, DO

Demokrasi merupakan sustu perencanaan institusional untuk mencapai keputusan politik dimana individu-individu memperolah kekuasaan untuk memutuskan cara perjuangan kompetitif atas

Berkaitan dengan hal tersebut maka pengalokasian anggaran belanja yang secara rutin merupakan kebutuhan dalam rangka pelaksanaan setiap urusan pemerintahan daerah

Korpus data diambil dari bahasa Mentawai umum, yaitu bahasa Mentawai dialek Sikakap. Daerah dialek ini ialah Kecamat- an Pagai Utara/Selatan. Dialek Sikakap dipilih

dasar yaitu kompetensi pedagogik, kompetensi profesional, kompetensi sosial dan kompetensi personal. Apabila telah menguasai keempat kompetensi tersebut, baru

Kualitas air pada dua sistem pengelolaan air bersih berbasis masyarakat diKampung Bale Atu dan Hakim Tunggul Naru, ditinjau dari parameter fisika, kimia dan