• Tidak ada hasil yang ditemukan

Kompetisi dan Tumpang tindih Relung anta

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "Kompetisi dan Tumpang tindih Relung anta"

Copied!
105
0
0

Teks penuh

(1)

UNIVERSITAS INDONESIA

KOMPETISI DAN TUMPANG-TINDIH RELUNG ANTARA

SIAMANG (

Symphalangus syndactylus

) DAN MAMALIA

ARBOREAL LAINNYA DI TAMAN NASIONAL BUKIT

BARISAN SELATAN

SKRIPSI

MARSYA CHRISTYANTI 1006675991

FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM DEPARTEMEN BIOLOGI

(2)

UNIVERSITAS INDONESIA

KOMPETISI DAN TUMPANG-TINDIH RELUNG ANTARA

SIAMANG (

Symphalangus syndactylus

) DAN MAMALIA

ARBOREAL LAINNYA DI TAMAN NASIONAL BUKIT

BARISAN SELATAN

SKRIPSI

Diajukan sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar Sarjana Sains

MARSYA CHRISTYANTI 1006675991

FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM DEPARTEMEN BIOLOGI

(3)
(4)
(5)

iv

Puji syukur penulis panjatkan kepada Allah Tritunggal karena hanya oleh

kasih karunia dan penyertaan-Nya, penulis dapat menyelesaikan skripsi ini.

Skripsi ini dapat dituntaskan karena dukungan dan bantuan berbagai pihak. Oleh

karena itu, penulis mengucapkan terima kasih kepada:

1. Dr. Noviar Andayani, M.Sc. sebagai pembimbing I dan Dr. Nurul Laksmi

Winarni, M.Sc. sebagai pembimbing II yang telah membimbing penulis dari

awal pencetusan ide penelitian sampai akhir masa penulisan. Penulis

berterima kasih untuk seluruh masukan, gagasan, kritik, dukungan, dan

terutama inspirasi yang telah diberikan.

2. Drs. Wisnu Wardhana, M.Si. sebagai penguji I dan Dr.rer.nat. Yasman, M.Sc.

sebagai penguji II yang telah memberikan banyak masukan dan kritik dalam

rancangan penelitian dan penulisan hasil penelitian.

3. Dr. Anom Bowolaksono, M.Si. sebagai Penasihat Akademik atas bimbingan

dan dukungan selama masa perkuliahan.

4. Dr. Andi Salamah sebagai Ketua Prodi S1 Departemen Biologi FMIPA UI dan

Dr.rer.nat. Yasman, M.Sc. sebagai Ketua Departemen Biologi FMIPA UI.

5. Seluruh staf pengajar dan karyawan Departemen Biologi FMIPA UI atas

bantuan selama masa perkuliahan.

6. Dr. Susan Lappan untuk ilmu, kritik, dan saran dalam pembuatan rancangan

penelitian.

7. Wildlife Conservation Society-Indonesia Program yang telah memberikan

kesempatan untuk melakukan penelitian di Stasiun Penelitian Way Canguk.

Penulis berterima kasih kepada Pak Opo yang telah memberikan perizinan dan

saran untuk penelitian, Mas Seti sebagai asisten lapangan, dan Mas Gawik,

Mas Jayus, Mas Lazi, dan Mas Rahman yang telah membantu selama

pengambilan data di lapangan.

(6)

v

setia berdoa dan memberikan dukungan finansial.

10.Almarhum Ayah yang semasa hidupnya merupakan seorang petualang dan

pecinta alam. Jiwa petualang dan kisah hidupnya yang hanya penulis dengar

sebagai cerita selalu menjadi motivasi bagi penulis untuk tidak berhenti

mengeksplorasi alam.

11.Partner ekologi hewan, yaitu Sheherazade, Ardiantiono, Shafia Zahra, Pramita

Indrarini, dan Achmad Ridha Junaid, yang telah menjadi sahabat diskusi yang

menyenangkan; Dyna, Abinubli, Ricky, Ninda, Elisabeth, Ayu, Deka, Cindy

Kus, dan seluruh anggota keluarga B10GENESIS lainnya untuk persahabatan

dan kekeluargaan selama masa perkuliahan.

12.Teman-teman, junior, dan senior Biologi serta ketiga BSO (KSHL Comata,

OMPT Canopy, dan SIGMA-B UI), terutama Nuruliawati, Niken Ekatiwi,

Lucia, Kak Sasha, Kak Sisil, Kak Eman, Kak Wendy, untuk tumpahan ilmu,

diskusi, motivasi, dan pengalaman lapangan.

13.Teman-teman persekutuan dalam Kristus, yaitu Octy, Gina, Aviana, Livia,

Septi, Zendy, Inez, dan seluruh anggota Persekutuan Alumni SMAN 8 untuk

doa dan semangat.

Walaupun naskah ini tidak sempurna, penulis berharap hasil penelitian ini dapat

berkontribusi bagi perkembangan ilmu pengetahuan, terutama untuk konservasi

biodiversitas hutan hujan tropis Indonesia.

Depok, 30 Juni 2014

(7)
(8)

vii

Nama : Marsya Christyanti

Program Studi : S1 Biologi

Judul : Kompetisi dan Tumpang-tindih Relung antara Siamang (Symphalangus syndactylus) dan Mamalia Arboreal Lainnya di Taman Nasional Bukit Barisan Selatan

Siamang hidup berdampingan dengan berbagai spesies mamalia arboreal yang berpotensi sebagai kompetitor di Taman Nasional Bukit Barisan Selatan (TNBBS). Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui apakah terjadi kompetisi antara siamang dan mamalia arboreal lainnya serta mengetahui tumpang-tindih relung berdasarkan penggunaan habitat dan pemilihan pakan di antara komunitas mamalia arboreal di Stasiun Penelitian Way Canguk, TNBBS. Pengambilan data dilakukan pada bulan Februari hingga April 2014 dengan dua metode, yaitu metode focal instantaneous sampling untuk pengamatan perilaku siamang dan metode transek garis untuk survei mamalia arboreal. Hasil penelitian menunjukkan bahwa siamang berkompetisi dengan simpai, bajing kelapa, dan jelarang hitam. Tumpang-tindih relung terbesar terjadi antara siamang dengan jelarang hitam berdasarkan pemilihan pakan (Ro = 0,418) dan penggunaan habitat

(Uji Wilcoxon, p-value > 0,05). Dari 57 interaksi interspesifik antara siamang dan mamalia arboreal lainnya, terdapat 61,40% interaksi netral, 19,30% agresi, dan 19,30% dominansi. Kesimpulan penelitian ini adalah kompetisi interferensi dan eksploitatif terjadi antara siamang dan ketiga spesies mamalia arboreal serta terdapat tumpang-tindih relung antara siamang dan ketiga spesies mamalia arboreal.

Kata Kunci : kompetisi interspesifik, mamalia arboreal, relung, siamang.

(9)

viii

Name : Marsya Christyanti

Study Program : S1 Biologi

Judul : Competition and Niche Overlap between Siamang (Symphalangus syndactylus) and Other Arboreal Mammals in Bukit Barisan Selatan National Park

Siamang coexists with various arboreal mammal species which are potential competitors to siamang in Bukit Barisan Selatan National Park (BBSNP). The aims of this study are to determine whether interspecific competition occurs between siamang and other arboreal mammals and to determine niche overlap in terms of habitat use and food selection among mammals community in Way Canguk Research Station, BBSNP. Data collection was conducted on February until April 2014 using two methods: focal instantaneous sampling to measure siamang behavior and line transect method to survey coexisting mammals. The result of this research suggests that siamang competes with banded langur, plaintain squirrel, and black giant squirrel. Niche overlap is the highest between siamang and black giant squirrel based on food preference (Ro = 0,418) and habitat use (Uji Wilcoxon, p-value > 0,05). Among 57 interspecific interactions between siamang and other arboreal mammals, 61,40% are netral interactions, 19,30% are agressions, and 19,30% are dominance interactions. This research concludes that interference and exploitative competition occur between siamang and three other arboreal mammals and there is niche overlap among them.

Keywords : interspecific competition, arboreal mammals, niche, siamang.

(10)

ix

HALAMAN JUDUL ... i

HALAMAN PERNYATAAN ORISINALITAS ... ii

LEMBAR PENGESAHAN ... iii

KATA PENGANTAR ... iv

LEMBAR PERSETUJUAN PUBLIKASI KARYA ILMIAH ... vi

ABSTRAK ... vii

ABSTRACT ... viii

DAFTAR ISI ... ix

DAFTAR GAMBAR ... xi

DAFTAR TABEL ... xii

DAFTAR LAMPIRAN ... xiii

1. PENDAHULUAN... . 1

2. TINJAUAN PUSTAKA... 5

2.1. Kompetisi Interspesifik dan Relung ... 5

2.2. Siamang ... 7

2.2.1. Klasifikasi siamang ... 7

2.2.2. Morfologi siamang... 7

2.2.3. Habitat dan distribusi ... 9

2.2.4. Perilaku ... 10

2.2.5. Struktur sosial ... 11

2.2.6. Pakan ... 12

2.2.7. Peran ekologis ... 13

2.3. Mamalia Arboreal ... 14

2.3.1. Suku Tupaiidae ... 16

2.3.2. Suku Cercopithecidae ... 17

2.3.3. Suku Ursidae ... 17

2.3.4. Suku Mustelidae ... 17

2.3.5. Suku Sciuridae ... 18

2.4. Stasiun Penelitian Way Canguk, Taman Nasional Bukit Barisan Selatan ... 18

3. METODOLOGI PENELITIAN... 22

3.1. Waktu dan Lokasi Penelitian ... 22

3.2. Alat, Bahan, dan Subjek Penelitian ... 22

3.3. Cara Kerja ... 23

3.3.1. Pengambilan data ... 23

3.3.2. Analisis data ... 27

4. HASIL DAN PEMBAHASAN... 31

4.1. Tumpang-tindih Relung Berdasarkan Pakan ... 33

(11)

x

4.4. Partisi Relung antara Siamang dan Kompetitornya ... 50

4.4.1. Partisi Relung antara Siamang dan Simpai ... 51

4.4.2. Partisi Relung antara Siamang dan Bajing Kelapa ... 52

4.4.3. Partisi Relung antara Siamang dan Jelarang Hitam ... 53

5. KESIMPULAN DAN SARAN... 54

5.1. Kesimpulan ... 54

5.2. Saran ... 54

DAFTAR ACUAN... . 56

(12)

xi

Gambar 2.2.2. Siamang betina (kiri) dan siamang jantan (kanan) ... 8

Gambar 2.2.3. Peta distribusi Hylobatidae di Asia Tenggara ... 10

Gambar 2.2.6. Komposisi pakan siamang di TNBBS ... 12

Gambar 2.4(1) Lokasi Stasiun Penelitian Way Canguk, TNBBS ... 19

Gambar 2.4(2) Area penelitian tenggara (atas) dan area penelitian barat laut (bawah) di Way Canguk ... 21

Gambar 3.3.1. Wilayah jelajah beberapa kelompok siamang yang telah terhabituasi di area penelitian selatan ... 26

Gambar 4. Tiga spesies mamalia arboreal dengan frekuensi pertemuan tertinggi di area survei ... 32

Gambar 4.1(1) Diagram komposisi pakan tiga kelompok siamang subjek penelitian ... 33

Gambar 4.1(2) Diagram perbandingan komposisi pakan siamang, simpai, bajing kelapa, dan jelarang hitam ... 34

Gambar 4.2(1) Proyeksi variabel-variabel penggunaan habitat pada PC1 (sumbu-x) dan PC2 (sumbu-y) ... 39

Gambar 4.2(2) Ordinasipenggunaan habitat oleh empat spesies mamalia arboreal terhadap PC1 (sumbu-x) dan PC2 (sumbu-y) ... 40

Gambar 4.2(3) Boxplot ketiga variabel yang berkorelasi tinggi dengan PC1 dan PC2 ... 42

Gambar 4.3(1) Proyeksi variabel-variabel penggunaan habitat pada sumbu PC1 dan PC2 ... 46

(13)

xii

Tabel 2.3. Daftar famili dan spesies mamalia di Way Canguk beserta pola aktivitas dan arborealitas ... 14 Tabel 3.2. Komposisi kelompok siamang subjek penelitian ... 23 Tabel 3.3.2(1) Variabel penggunaan habitat yang dianalisis dengan PCA

untuk mengetahui tumpang-tindih relung di antara mamalia arboreal ... 28 Tabel 3.3.2(2) Variabel kondisi habitat yang dianalisis dengan PCA

untuk mengetahui perbedaan kondisi habitat yang

berhubungan dengan interaksi interspesifik ... 29 Tabel 4.1(1) Tabel ringkasan catatan spesies pakan dan tumpang-tindih

relung berdasarkan pemilihan pakan... 35 Tabel 4.1(2) Daftar spesies tumbuhan pakan siamang yang juga dimakan

oleh simpai, bajing kelapa, dan jelarang hitam ... 36 Tabel 4.2(1) Ringkasan variabel-variabel penggunaan habitat ... 37 Tabel 4.2(2) Hasil uji Kruskal-Wallis variabel penggunaan habitat

dengan faktor keempat spesies mamalia arboreal (siamang, simpai, bajing kelabu, dan jelarang hitam)... 41 Tabel 4.3(1) Frekuensi interaksi interspesifik antara siamang dengan

mamalia arboreal lainnya ... 44 Tabel 4.3(2) Hasil uji Kruskal-Wallis terhadap kedua PC dan variabel

yang berkorelasi tinggi dengan PC1 dan PC2 ... 47 Tabel 4.3(3) Perbandingan ukuran tubuh siamang, simpai, bajing

kelapa, dan jelarang hitam ... 48 Tabel 4.3(4) Perbandingan laju penanganan buah antara siamang dan

(14)

xiii

Lampiran 1. Daftar sepuluh mamalia arboreal yang terdapat di ruang

jelajah siamang ... 62 Lampiran 2. Daftar kategori dan spesies pakan siamang, simpai, bajing

kelapa, dan jelarang hitam ... 63 Lampiran 3. Perhitungan indeks tumpang-tindih Horn ... 66 Lampiran 4. Analisis variabel penggunaan habitat oleh siamang dan tiga

spesies mamalia arboreal menggunakan metode PCA ... 72 Lampiran 5. Analisis penggunaan habitat dengan uji Kruskal-Wallis dan

uji Wilcoxon ... 78 Lampiran 6. Analisis dengan metode PCA pada variabel kondisi habitat

yang memungkinkan terjadinya interaksi interspesifik ... 82 Lampiran 7. Analisis kondisi habitat yang memfasilitasi interaksi

(15)

1 Universitas Indonesia BAB 1

PENDAHULUAN

Kompetisi interspesifik terjadi jika dua spesies yang berbeda

menggunakan sumber daya yang sama dan hanya tersedia dalam jumlah terbatas.

Menurut MacArthur (1972: 21), mekanisme terjadinya kompetisi tidak terlihat

secara langsung, tetapi dapat disimpulkan dari bukti-bukti yang dapat ditemukan

di alam. Pada prinsipnya, dua spesies disebut berkompetisi jika peningkatan

populasi spesies yang satu berakibat pada penurunan populasi spesies yang lain

(Connell 1961: 715, 722; Krohne 2001: 223).

Subjek penelitian kompetisi interspesifik pada umumnya adalah

spesies-spesies berkerabat dekat yang hidup simpatrik, seperti yang dilaporkan antara lain

pada komunitas kadal di Amerika Utara, Afrika bagian selatan, dan Australia

Barat (Pianka 1973), burung dari famili Bucerotidae di Sumatra (Hadiprakarsa

2000), owa dengan siamang di Sumatra (Elder 2009), serta dua spesies marsupial

dari genus Didelphis di Amerika Selatan (Cáceres & Machado 2013). Hal

tersebut dilatarbelakangi oleh pandangan bahwa kompetisi terkuat terjadi di antara

spesies-spesies yang berkerabat dekat dengan kebutuhan sumber daya yang serupa

(Tokeshi 1999: 155).

Organisme tidak hanya hidup berdampingan dengan spesies yang

berkerabat dekat, melainkan juga dengan spesies-spesies lain dari taksa yang lebih

luas. Kompetisi interspesifik juga dapat terjadi pada spesies-spesies berkerabat

jauh yang memanfaatkan sumber daya serupa, baik pakan maupun ruang.

Fenomena itu pernah dilaporkan oleh Estrada & Coates-Estrada (1985: 34--35)

yang menyatakan bahwa monyet howling (Alouatta palliata) dan serangga

herbivora mengalami kompetisi interspesifik secara asimetris untuk

memperebutkan sumber daya pakan berupa daun di hutan hujan tropis Los

Tuxtlas, Meksiko. Marshall dkk. (2009: 173--175, 181) juga pernah melaporkan

bahwa kompetitor paling berpengaruh terhadap owa kalimantan (Hylobates

(16)

(Callosciurus prevostii) yang mengonsumsi buah muda yang menjadi pakan

primata tersebut.

Kompetisi interspesifik telah lama diduga berpengaruh terhadap

pembentukan struktur komunitas satwa. Walaupun hal tersebut masih sering

diperdebatkan hingga saat ini (Schoener 1983: 240; Krohne 2001: 279; Rohde

2013: 371), Beaudrot dkk. (2012: 182) secara tegas mengemukakan bahwa

interaksi interspesifik di dalam dan di antara kelompok-kelompok taksa yang

berbeda memiliki peran penting terhadap distribusi spesies dan struktur

komunitas. Dalam penelitiannya, Beaudrot dkk. (2012: 182) dan Beaudrot dkk.

(2013: 1061) menemukan bahwa struktur komunitas vertebrata di Kalimatan

dipengaruhi oleh competitive exclusion di antara spesies-spesies yang berkerabat

jauh. Oleh karena itu, penelitian mengenai kompetisi interspesifik di dalam suatu

komunitas penting dilakukan untuk memahami dinamika komunitas, terutama

untuk mengetahui bagaimana berbagai spesies berbagi sumber daya yang terbatas.

Siamang merupakan primata arboreal sejati yang menghuni hutan hujan

tropis Semenanjung Malaysia dan Sumatra. Sebagai primata arboreal sejati,

hampir seluruh aktivitas harian siamang dilakukan di lapisan tajuk tengah dan atas

(Gittins & Raemaekers 1980: 80--84; Markhamah 2007: 76). Siamang di

Semenanjung Malaysia dilaporkan lebih bersifat foliovora dibandingkan dengan

kerabatnya di Sumatra yang lebih banyak mengonsumsi buah (Gittins &

Raemaekers 1980: 90; Nurcahyo 1999: 24; O‟Brien dkk. 2003: 120). Komposisi

pakan siamang di Semenanjung Malaysia terdiri atas 43% daun, 22% buah

Ficus spp., 15% materi hewani, 14% buah pohon lain, dan 6% bunga (Gittins &

Raemaekers 1980: 90), sedangkan di Sumatra terdiri atas 52,07% buah, 42,62%

daun, dan 5,3% bunga (Nurcahyo 1999: 24).

Salah satu habitat siamang di Sumatra adalah Taman Nasional Bukit

Barisan Selatan (TNBBS). Kepadatan siamang di dalam kawasan konservasi

tersebut cukup tinggi, yaitu 2,23 kelompok/km2. O‟Brien dkk. (2004: 278--279) menyatakan bahwa TNBBS memiliki populasi siamang yang tinggi dibandingkan

lokasi lainnya di Semenanjung Malaysia dan Sumatra. Berdasarkan hasil

penelitian yang dilakukan di Stasiun Penelitian Way Canguk yang berada di

(17)

(Iqbal dkk. 2001: 13). Dari 26 famili mamalia yang terdapat di TNBBS,

setidaknya terdapat lima famili yang memiliki kemiripan cara hidup dengan

siamang, yaitu bersifat arboreal, frugivora, dan diurnal. Kelima famili mamalia

tersebut adalah Tupaiidae, Cercopithecidae, Ursidae, Mustelidae, dan Sciuridae

(Payne 1980: 266--267; Payne & Francis 1985; Iqbal dkk. 2001: 14).

Kompetisi terjadi ketika ketersediaan sumber daya yang dibutuhkan suatu

spesies berkurang akibat aktivitas spesies lain, baik secara eksploitatif maupun

interferensi. Oleh karena itu, fauna yang bersifat arboreal, baik parsial maupun

sejati, berpotensi mengalami kompetisi dengan siamang (Payne 1980: 261).

Tubuh siamang yang besar dan populasi siamang yang tinggi di TNBBS menjadi

dasar untuk menduga bahwa siamang merupakan kompetitor yang dominan.

Penelitian mengenai kompetisi interspesifik di antara tiga spesies primata paling

melimpah di TNBBS telah dilakukan oleh Elder (tidak dipublikasikan). Namun,

interaksi kompetitif antara siamang dan satwa selain kelompok primata belum

banyak diketahui. Penelitian ini dilakukan untuk mengkaji potensi kompetisi

antara siamang dengan spesies-spesies mamalia arboreal di Stasiun Penelitian

Way Canguk.

Penelitian noneksperimental di alam untuk mengetahui terjadinya

kompetisi pada umumnya menggunakan pendekatan indeks tumpang-tindih

relung walaupun indeks tersebut tidak secara tegas mengindikasikan kompetisi

(Estrada & Coates-Estrada 1985: 35; Marshall dkk. 2009:181; Cáceres &

Machado 2013: 13). Tiga parameter umum untuk mendefinisikan relung adalah

penggunaan habitat, pemilihan pakan, dan pola aktivitas harian (Holt 1987: 111).

Melalui penelitian ini, tumpang-tindih relung di antara mamalia arboreal akan

dikaji dari segi penggunaan habitat dan pemilihan pakan, kemudian dianalisis

kaitannya dengan kompetisi. Pola aktivitas harian tidak menjadi bahasan karena

spesies-spesies mamalia subjek penelitian merupakan satwa diurnal.

Tujuan penelitian ini adalah mengetahui apakah terjadi kompetisi antara

siamang dan mamalia arboreal lainnya serta mengetahui tumpang-tindih relung

berdasarkan penggunaan habitat dan pemilihan pakan di antara komunitas

mamalia arboreal di Stasiun Penelitian Way Canguk, TNBBS. Berdasarkan

(18)

antara siamang dan mamalia arboreal lainnya serta terdapat tumpang-tindih relung

di antara komunitas mamalia arboreal dari segi penggunaan habitat dan pemilihan

pakan.

Penelitian tentang kompetisi interspesifik dalam cakupan taksa yang luas

penting dilakukan untuk memahami peran kompetisi dalam pembentukan suatu

komunitas. Pengetahuan tentang dinamika komunitas penting dalam manajemen

kawasan konservasi, misalnya dalam menentukan area prioritas konservasi, luas

kawasan, dan lokasi pelepasliaran satwa yang dikembalikan ke hutan tanpa

mengganggu komunitas yang ada. Jika kompetisi merupakan faktor penting

dalam komunitas, pengambilan keputusan dalam manajemen konservasi

sebaiknya tidak hanya didasarkan pada faktor abiotik, melainkan juga

mempertimbangkan interaksi interspesifik.

(19)

5

BAB 2

TINJAUAN PUSTAKA

2.1. Kompetisi Interspesifik dan Pembagian Relung

Kompetisi merupakan bentuk interaksi yang menarik untuk dikaji karena

memberikan dampak negatif kepada pihak-pihak yang terlibat. Kompetisi terbagi

menjadi dua tipe, yaitu kompetisi intraspesifik dan kompetisi interspesifik.

Kompetisi intraspesifik terjadi di antara individu dari spesies yang sama,

sedangkan kompetisi interspesifik terjadi pada spesies yang berbeda. Kedua

bentuk kompetisi tersebut terjadi oleh penyebab yang sama, yaitu perebutan

sumber daya (Caughley & Sinclair 1994: 110 & 131). Bagian yang akan dikaji

pada penelitian ini adalah kompetisi interspesifik.

Kompetisi interspesifik adalah interaksi di antara individu dari spesies

yang berbeda akibat penggunaan sumber daya yang sama dan terbatas. Kompetisi

dapat juga terjadi saat sumber daya yang tersedia tidak terbatas jika suatu spesies

melukai spesies lain dalam proses pencarian sumber daya (Birch 1957: 6).

Menurut MacArthur (1972: 21), dua spesies disebut berkompetisi jika

peningkatan populasi suatu spesies berdampak pada penurunan populasi spesies

yang lain. Contoh proses yang memungkinkan antara lain suatu spesies

mengurangi persediaan makanan spesies lain, kedua spesies saling berkelahi, atau

keberadaan suatu spesies meningkatkan predator spesies lainnya. Bukti kompetisi

biasanya tidak teramati secara langsung di alam (MacArthur 1972: 21).

Definisi kompetisi memberikan empat implikasi penting. Pertama,

kompetisi berpengaruh terhadap kesintasan individu-individu yang terlibat.

Pengaruh tersebut dapat terjadi dalam bentuk penurunan kemampuan bertahan

hidup, pertumbuhan, atau reproduksi. Kedua, penggunaan sumber daya yang

sama tidak secara langsung mengindikasikan kompetisi jika tidak diketahui bahwa

sumber daya tersebut terbatas. Ketiga, dua spesies tidak berkompetisi jika tidak

memiliki kemampuan untuk memengaruhi ketersediaan sumber daya untuk

(20)

kompetisi eksploitatif atau kompetisi interferensi (Caughley & Sinclair 1994:

131--132). Dalam kompetisi eksploitatif, individu dari suatu spesies mengambil

alih sumber daya yang digunakan oleh spesies lain, sedangkan kompetisi

interferensi terjadi secara langsung melalui perkelahian atau produksi racun

(Schoener 1983: 257).

Kompetisi sudah menjadi topik bahasan ahli ekologi sejak setidaknya

delapan dekade yang lalu. Penelitian eksperimental klasik yang menjadi dasar

teori kompetisi dilakukan oleh Connell (1961). Dalam penelitian tersebut,

Connell menemukan bahwa kompetisi interspesifik di antara dua spesies teritip,

yaitu Balanus dan Chthamalus,merupakan faktor terpenting yang memengaruhi

populasi Chthamalus dibandingkan faktor lainnya seperti predator dan kondisi

fisik. Keberadaan Balanus meningkatkan mortalitas dan menurunkan

kemampuan reproduksi Chthamalus (Connell 1961: 715, 722).

Kompetisi interspesifik memiliki kaitan yang erat dengan relung (Wiens

1989: 147). Konsep relung mulai berkembang sejak tahun 1917 dan telah banyak

terdapat definisi relung. Namun, definisi yang paling sering digunakan adalah

definisi yang diajukan oleh Hutchinson yang mendefinisikan relung secara

matematis sebagai “n-dimensional hypervolume” (Hutchinson 1957: 416).

Berdasarkan perumusan oleh Hutchinson tersebut, relung dapat diartikan sebagai

seluruh kisaran kondisi biotik dan abiotik yang memungkinkan suatu spesies

mempertahankan ukuran populasi yang stabil (Wiens & Graham 2005: 519).

Relung dapat dibagi menjadi dua tipe, yaitu relung fundamental dan relung nyata.

Relung fundamental adalah kondisi abiotik yang memungkinkan suatu spesies

bertahan hidup, sedangkan relung nyata adalah bagian dari relung fundamental

yang ditempati suatu spesies jika dibatasi oleh interaksi dengan organisme lain

(Hutchinson 1957: 416--418).

Kompetisi sering kali dikaitkan dengan tumpang-tindih relung antara dua

spesies. Tumpang-tindih yang besar dapat mengindikasikan kompetisi

interspesifik. Namun, terdapat perdebatan di antara ahli ekologi mengenai

hubungan tumpang-tindih relung dengan kompetisi interspesifik. Tumpang-tindih

relung yang besar dapat juga terjadi akibat toleransi interspesifik, sedangkan

(21)

kemudian berusaha menempati relung yang berbeda untuk menghindari kompetisi

(Pianka 1974: 2141; Schoener 1983: 270). Walaupun demikian, indeks

tumpang-tindih relung sering digunakan sebagai pendekatan untuk memperkirakan

kompetisi (Estrada & Coates-Estrada 1985: 35; Marshall dkk. 2009:181; Cáceres

& Machado 2013: 13).

2.2. Siamang

Siamang merupakan salah satu spesies primata dari famili Hylobatidae,

yaitu salah satu famili dari kelompok primata yang bersifat diurnal, arboreal, dan

teritorial (Nowak 1999: 169, 171). Di antara kera lainnya, famili Hylobatidae

merupakan kelompok kera dengan ukuran tubuh terkecil sehingga disebut juga

kera kecil (lesser ape). Selain ukuran tubuh, perbedaan antara Hylobatidae

dengan kera lainnya--orangutan, gorila, dan simpanse--adalah gaya hidup yang

sepenuhnya arboreal, memiliki bantalan duduk (ischial callosities), dan tidak

membuat sarang untuk tidur (Bartlett 1999: 44).

2.2.1. Klasifikasi Siamang

Siamang dikelompokkan ke dalam genus Hylobates bersama owa bertubuh

kecil lainnya oleh beberapa ahli (Miller 1933: 159; Napier & Napier 1985: 161),

tetapi Brandon-Jones dkk. (2004: 153) mengelompokkannya ke dalam genus

tersendiri, yaitu Symphalangus. Genus Symphalangus hanya terdiri atas satu

spesies, yaitu S. syndactylus, dengan dua subspesies. Kedua subspesies siamang

dibedakan berdasarkan distribusinya. Symphalangus syndactylus syndactylus

Raffles(1821) terdistribusi di Sumatra, Indonesia, sedangkan S. syndactylus

continentis Thomas (1908) terdistribusi di Semenanjung Malaysia.

2.2.2. Morfologi Siamang

Siamang mudah dibedakan dengan spesies Hylobatidae lain karena

(22)

siamang merupakan spesies yang memiliki ukuran tubuh terbesar. Rentang

tangan siamang dapat mencapai 1,5 m, panjang tubuh termasuk kepala berkisar

antara 750--900 mm, dan berat tubuh sekitar 8--13 kg (Nowak 1999: 168). Tubuh

siamang ditutupi oleh rambut berwarna hitam, tetapi bagian kantung udara di

bawah dagu tidak tertutupi rambut (Napier & Napier 1985: 161).

Siamang tidak menunjukkan adanya dimorfisme seksual. Warna rambut,

ukuran tubuh, dan panjang gigi taring siamang jantan dan betina sama (Bartlett

1999: 45). Baik siamang jantan maupun betina juga memiliki kantung udara yang

berfungsi untuk vokalisasi. Walaupun tidak terdapat dimorfisme seksual, individu

jantan dan betina dapat dibedakan (Gambar 2.2.2.). Individu jantan memiliki

rambut skrotal, sedangkan individu betina tidak (Prasetyaningrum 2001: 30).

Gambar 2.2.2. Siamang betina (kiri) dan siamang jantan (kanan).

Keterangan:

Jenis kelamin siamang dapat dibedakan berdasarkan ada atau tidaknya rambut skrotal. Individu jantan memiliki rambut skrotal (a) di antara kedua kakinya.

[Sumber: Dokumentasi pribadi]

(a)

(23)

Seperti spesies dari famili Hylobatidae lainnya, siamang memiliki

ekstremitas anterior yang lebih panjang daripada ekstremitas posterior sebagai

adaptasi untuk pergerakan brakiasi. Di antara spesies-spesies Hylobatidae

lainnya, siamang memiliki intermembral index terbesar, yaitu 145--152 (Miller

1933: 159). Ciri khas siamang yang tidak dimiliki oleh spesies Hylobatidae

lainnya adalah selaput antarjari yang menghubungkan jari kaki kedua dan ketiga

(LBN-LIPI 1982: 85; Nowak 1999: 168).

2.2.3. Habitat dan Distribusi

Siamang terdapat di Sumatra dan Semenanjung Malaysia (LBN-LIPI

1982: 85; Nowak 1999: 168). Siamang pada umumnya dapat ditemukan di

dataran rendah sampai daerah pegunungan setinggi 2000 m (LBN-LIPI 1982: 85).

Menurut Wilson & Wilson (1976: 17), siamang di Sumatra terdapat di rangkaian

Pegunungan Bukit Barisan yang terletak memanjang di bagian barat Sumatra

(Gambar 2.2.3.) dan lebih menyukai hutan dataran rendah dan perbukitan.

Siamang simpatrik dengan dua kerabat dekatnya, yaitu Hylobates agilis

dan H. lar, di rangkaian pegunungan bagian barat Sumatra, tetapi siamang tidak

ditemukan di dataran rendah bagian timur Sumatra. Siamang simpatrik dengan H.

agilis dari bagian selatan Sumatra sampai Simpangkiri, Aceh, dan Sungai

Wampu, Sumatra Utara, sedangkan daerah simpatrik siamang dengan H. lar

meliputi bagian utara dari Simpangkiri dan Sungai Wampu (Wilson & Wilson

1976: 17). Hasil studi O‟Brien (2004: 276--278) menunjukkan bahwa kepadatan

siamang berkorelasi negatif dengan kepadatan Hylobatidae yang simpatrik

dengannya. Kepadatan siamang tertinggi terdapat pada hutan dataran rendah

(< 300 mdpl), terendah di hutan ketinggian sedang, kemudian meningkat kembali

di hutan pegunungan. Sementara itu, kepadatan H. agilis tertinggi terdapat di

hutan ketinggian sedang. Kepadatan siamangmenunjukkan peningkatan dari

lintang utara ke selatan, yaitu dari Semenanjung Malaysia ke Sumatra, sementara

(24)

Gambar 2.2.3. Peta distribusi Hylobatidae di Asia Tenggara.

Keterangan:

Siamang terdistribusi di bagian barat Sumatra dan Semenanjung Malaysia (warna hijau).

[Sumber: www.gibbons.de]

2.2.4. Perilaku

Siamang merupakan primata diurnal, yaitu melakukan sebagian besar

aktivitas pada siang hari. Aktivitas harian siamang dimulai antara pukul

06.00--07.00. Secara umum, aktivitas harian siamang dapat dibagi ke dalam lima

kategori, yaitu istirahat, makan, mencari makan, bergerak, dan perilaku sosial.

Aktivitas utama siamang adalah istirahat (56,80%) dan makan (25,96%).

Siamang paling aktif mencari makan pada pagi hari (07.00--08.00) dan sore hari

(14.00--16.00). Aktivitas bergerak terbagi ke dalam empat tipe, yaitu brakiasi,

memanjat, berjalan, dan melompat. Sebagian besar pergerakan siamang (81,64%)

dilakukan dengan cara brakiasi. Aktivitas sosial terdiri atas menggaruk individu

(25)

jarang terjadi di antara individu dewasa dengan jenis kelamin yang berbeda.

Namun, individu dewasa terkadang menunjukkan perilaku agresi terhadap

individu pradewasa yang memiliki jenis kelamin sama (Chivers & Raemaekers

1980: 229; Nurcahyo 1999: 37).

2.2.5. Struktur sosial

Siamang hidup dalam kelompok keluarga (selanjutnya hanya disebut

kelompok) yang bersifat teritorial. Satu kelompok siamang pada umumnya terdiri

atas empat individu yang beranggotakan pasangan jantan dan betina dewasa serta

beberapa anak yang belum mandiri (Chivers 1974: 274; Gittins & Raemaekers

1980: 68). Siamang dan juga semua spesies dari famili Hylobatidae memiliki

ukuran kelompok yang kecil untuk mengurangi kompetisi antarindividu saat

mencari makanan. Semakin besar ukuran kelompok, kompetisi antarindividu juga

semakin besar. Sifat teritorial siamang berkaitan dengan distribusi sumber pakan

yang bervariasi dari waktu ke waktu. Walaupun mempertahankan suatu teritori

membutuhkan energi yang besar, siamang mendapatkan keuntungan berupa

jaminan persediaan makanan sepanjang tahun (Gittins & Raemaekers 1980:

101--103).

Berbeda dengan primata dan bahkan sebagian besar mamalia lain, induk

jantan siamang terlibat dalam pengasuhan bayi. Menurut Gittins & Raemaekers

(1980: 70), selama satu tahun sejak kelahiran, bayi siamang diasuh oleh induk

betina, kemudian pada tahun kedua, bayi diasuh oleh induk jantan. Perilaku

tersebut berbeda dengan kerabat simpatriknya, yaitu owa ungko (Hylobates agilis)

yang hanya menunjukkan pengasuhan bayi oleh induk betina.

Siamang pada umumnya bersifat monogami. Namun, beberapa kelompok

poliandri ditemukan pada populasi siamang di Way Canguk. Menurut Lappan

(2008: 1314--1315), keberadaan individu jantan sekunder tidak berhubungan

dengan peningkatan total asuhan yang diterima bayi serta ikatan antara jantan dan

induk betina. Poliandri pada siamang diduga merupakan mekanisme untuk

mengurangi interval antarkelahiran pada siamang betina, dengan kata lain

(26)

2.2.6. Pakan

Pakan siamang dapat dibagi menjadi tiga kategori, yaitu bagian

reproduktif tumbuhan (bunga dan buah), bagian vegetatif tumbuhan (daun), serta

materi hewani (Gittins & Raemaekers 1980: 88). Siamang sering dideskripsikan

sebagai foliovora (Gittins & Raemaekers 1980: 100--101; Napier & Napier 1985:

161; Supriatna & Wahyono 2000: 294), tetapi siamang di Sumatra diketahui lebih

bersifat frugivora (Nurcahyo 1999: 37). Komposisi pakan siamang di TNBBS

(Gambar 2.2.6.) didominasi oleh buah dengan persentase sebesar 52,07%

(Nurcahyo 1999: 24).

Gambar 2.2.6. Komposisi pakan siamang di TNBBS.

[Sumber: Nurcahyo 1999:24]

Siamang menunjukkan preferensi terhadap buah Ficus spp. Siamang

cenderung memakan lebih banyak buah Ficus spp. pada pagi hari saat memulai

aktivitas. Hal tersebut diduga karena buah Ficus spp. menyediakan nutrisi yang

melimpah dan siap dicerna untuk memenuhi kebutuhan nutrisi setelah berpuasa

sepanjang malam (Gittins & Raemaekers 1980: 90--93). Persentase buah Ficus

Buah Daun Bunga

Tumbuhan lain 0.45% 0% 0%

Liana 1.28% 11.88% 0%

Pohon lain 18.91% 19.75% 5.30%

Ficus spp. 31.43% 10.99% 0%

0.00% 10.00% 20.00% 30.00% 40.00% 50.00% 60.00%

Tumbuhan lain

Liana

Pohon lain

Ficus spp.Ficus spp.

(27)

spp. dalam komposisi pakan siamang adalah 31,43% (Nurcahyo 1999: 24).

Spesies Ficus yang dikonsumsi siamang antara lain F. albipila, F. altissima, F.

caulocarpa, F. depressa, F. drupacea, F. elastica, F. stupenda, F. sundaica, F.

variegata, dan F. virens (Nurcahyo 1999: 24, 27; Rusmanto 2001: 18).

Menurut Nurcahyo (1999: 27) spesies tumbuhan selain Ficus spp. yang

diketahui merupakan pakan siamang adalah Actinodaphne nigrescens, Aglaia

odoratissima, Alseodaphne nigrescens, Anamirta cocculus, Antocephalus sp.,

Atuna racemosa, Bauhinia sp., Beilschmiedia lucida, Bridelia monoica, Cananga

odorata, Cryptocarya ferrea, Daemonorops sp., Diospyros truncata,

Dracontomelon dao, Durio sp., Dysoxylum caulostachyum, Eugenia jamboloides,

Garcinia sp., Horsfieldia bracteosa, Leuconotis eugenifolia, Michelia champaca,

Polyalthia spp., Popowia pisocarpa, Pterospermum sp., Shorea javanica,

Siphonodon celastrineus, Stelechocarpus burahol, dan Xerospermum

noronhianum. Sementara itu, Rusmanto (2001:18--20) mendata 43 spesies

tumbuhan yang dikonsumsi buahnya oleh siamang. Spesies-spesies tersebut

termasuk dalam famili Alangiaceae, Annonaceae, Arecaceae, Boraginaceae,

Clusiaceae, Combretaceae, Ebenaceae, Euphorbiaceae, Lauraceae, Meliaceae,

Menispermaceae, Moraceae, Myristicaceae, Myrtaceae, Olacaceae, Rhamnaceae,

Rutaceae, Sapotaceae, Sapindaceae, dan Vitaceae.

Puncak aktivitas makan siamang bersifat bimodal, yaitu antara pukul

07.00--08.00 dan 14.00--16.00. Aktivitas makan di pagi hari diduga berfungsi

untuk memenuhi kebutuhan energi untuk beraktivitas di siang hari. Sementara

itu, makanan yang dimakan pada sore hari berfungsi sebagai cadangan energi

untuk malam hari (Nurcahyo 1999: 26, 37).

2.2.7. Peran Ekologis

Siamang merupakan pemencar biji yang efektif. Siamang, seperti

Hylobatidae lainnya, tidak mengunyah atau menghancurkan biji dari buah yang

dimakan. Biji ditelan, kemudian dibuang secara utuh dalam bentuk feses

beberapa ratus meter dari pohon pakan (Gittins & Raemaekers 1980: 88).

(28)

endozoochory (90,7%), sedangkan sebagian kecil akan hancur selama proses

pencernaan. Jarak pemencaran biji oleh siamang berkisar antara 0 hingga 632 m

dari pohon pakan (Rusmanto 2001: 17--25).

2.3. Mamalia Arboreal

Mamalia arboreal adalah mamalia yang mencari makan di tajuk hutan,

baik pada bagian bawah, tengah, maupun atas (Beaudrot dkk. 2013: 1056).

Mamalia arboreal meliputi berbagai famili, antara lain Pteropodidae, Tupaiidae,

Lorisidae, Cercopithecidae, Hylobatidae, Sciuridae, Muridae, Ursidae, dan

Viverridae (Payne 1980: 266--267). Mamalia arboreal yang bersifat nokturnal

terhindar dari kompetisi secara langsung dengan siamang akibat pembagian

relung secara temporal. Walaupun demikian, mamalia nokturnal dapat

menyebabkan kompetisi karena aktivitas makan mamalia nokturnal dapat

mengurangi ketersediaan sumber daya bagi mamalia arboreal diurnal (Estrada &

Coates-Estrada 1985: 35). Tabel 2.3. berisi daftar famili dan spesies seluruh

mamalia yang terdapat di Way Canguk. Dari tabel tersebut, terlihat

spesies-spesies mamalia arboreal dan diurnal yang menjadi subjek penelitian. Berikut

adalah paparan singkat famili mamalia arboreal diurnal selain Hylobatidae yang

terdapat di Way Canguk, TNBBS.

Tabel 2.3. Daftar famili dan spesies mamalia di Way Canguk beserta pola aktivitas dan arborealitas.

Famili Spesies Nama Indonesia N/D A/T

Manidae Manis javanica Trenggiling leusing N T

Tupaiidae Tupaia tana Tupai tanah D T

Tupaia minor* Tupai kecil D A, T

Tupaia glis* Tupai akar D A, T

Cynocephalidae Cynocephalus

variegatus

Kubung malaya N A

Pteropodidae Cynopterus brachyotis Codot krawar N A

Pteropus vampyrus Kalong besar N A

Hipposideridae Hipposideros diadema Barong besar N A

(29)

Tabel 2.3. (lanjutan)

Tarsiidae Tarsius bancanus Krabuku ingkat N A

Lorisidae Nycticebus coucang Kukang bukang N A

Cercopithecidae Macaca fascicularis* Monyet kra D A

Macaca nemestrina* Monyet beruk D A, T

Presbytis melalophos* Simpai/cecah D A

Trachypithecus

cristatus*

Lutung kelabu D A

Hylobatidae Hylobates agilis* Owa ungko D A

Symphalangus

Viverridae Arctitis binturong Binturong N A, T

Arctogalidia trivirgata Musang akar N A

Rhinocerotidae Dicerorhinus

(30)

Tabel 2.3. (lanjutan)

Sciuridae Callosciurus notatus* Bajing kelapa D A

Lariscus insignis Bajing-tanah bergaris-tiga D T

Ratufa affinis* Jelarang bilalang D A

Ratufa bicolor* Jelarang hitam D A

Sundasciurus hippurus* Bajing ekor-kuda D A

Sundasciurus lowii Bajing ekor-pendek D T

Sundasciurus tenuis* Bajing bancirot D A, T

Pteromyidae Petaurista petaurista Bajing terbang raksasa

merah

N A

Erinaceidae Echinosorex gymnurus Rindil bulan N T

Muridae Rattus exulans Tikus ladang N T

Leopoldamys sabanus Tikus raksasa ekor panjang

N A, T

Chiropodomys sp. Nyingnying N A

Maxomys surifer Tikus duri merah N T

Hystricidae Hystrix brachyura Landak raya N T

Keterangan: N = nokturnal D = diurnal A = arboreal T = terestrial

* = spesies yang menjadi subjek penelitian

[Sumber: Payne 1980: 266—267; Payne & Francis 1985; Iqbal dkk. 2001: 14]

2.3.1. Famili Tupaiidae

Mamalia yang tergolong Tupaiidae memiliki morfologi seperti bajing,

tetapi dengan moncong yang lebih panjang. Tupaiidae memiliki tungkai depan

dan belakang dengan ukuran yang hampir sama (Lawlor 1979: 73). Famili ini

merupakan famili endemik di kawasan Indomalaya. Sebagian besar spesies yang

termasuk famili Tupaiidae bersifat arboreal dan diurnal. Tupaiidae tergolong

omnivora karena memakan buah dan juga invertebrata (Lawlor 1979: 73; Corbet

& Hill 1992: 46). Tiga spesies Tupaiidae terdapat di Way Canguk, yaitu Tupaia

tana, T. minor, dan T. glis. Dari ketiga spesies tupaiidae tersebut, hanya T. tana

(31)

2.3.2. Famili Cercopithecidae

Cercopithecidae terdapat di kawasan Indomalaya (enam spesies) dan

Afrika tropis (sepuluh spesies). Semua spesies merupakan primata diurnal dan

arboreal. Secara umum, Cercopithecidae merupakan omnivora. Buah-buahan

merupakan komponen utama pakan dengan tambahan materi hewani dan

dedaunan (Corbet & Hill 1992: 165). Empat spesies Cercopithecidae yang

terdapat di Way Canguk adalah Macaca fascicularis, M. nemestrina, Presbytis

melalophos, dan Trachypithecus cristatus.

2.3.3. Famili Ursidae

Hanya terdapat satu spesies Ursidae di Way Canguk, yaitu beruang madu

(Helarctos malayanus). Mamalia ini aktif pada malam dan siang hari serta

merupakan omnivora yang memakan sarang lebah, rayap, hewan kecil, dan buah.

Beruang tersebut bersifat terestrial dan arboreal (Payne & Francis 1985:

275--276).

2.3.4. Famili Mustelidae

Mustelidae memiliki tubuh yang memanjang, berkaki pendek, dan bersifat

terestrial (Corbet & Hill 1992: 194). Famili ini beranggotakan berang-berang,

musang, dan luwak. Dari lima spesies yang terdapat di Way Canguk, hanya

Martes flavigula yang bersifat diurnal dan arboreal. Martes flavigula pada

dasarnya diurnal, tetapi terkadang beraktivitas di malam hari. Spesies tersebut

merupakan generalis yang memakan berbagai vertebrata dan invertebrata kecil,

sarang lebah, serta nektar (Payne & Francis 1985: 276--277).

2.3.5. Famili Sciuridae

Famili Sciuridae terdiri atas tiga kelompok, yaitu bajing terbang, bajing

(32)

tungkai-tungkainya yang berfungsi untuk gliding. Pada umumnya, bajing terbang bersifat

nokturnal. Berbeda dengan bajing terbang, bajing pohon bersifat diurnal dan

tidak memiliki membran gliding. Sebagai adaptasi terhadapcara hidup arboreal,

bajing terbang dan bajing pohon memiliki kepala berbentuk bulat dengan mata

yang besar, cakar melengkung dan tajam, ekor panjang, dan pergelangan kaki

dengan kemampuan rotasi yang sangat baik. Bajing tanah bersifat terestrial

sehingga memiliki adaptasi yang berbeda dengan bajing terbang dan bajing

pohon, yaitu kepala yang relatif datar, cakar lurus, ekor pendek, dan pergelangan

kaki yang tidak terspesialisasi. Bajing tanah pada umumnya bersifat diurnal.

Sciuridae memakan daun, biji, buah, kulit kayu, kacang, resin, jamur, dan nektar.

Beberapa spesies juga memakan serangga (Lawlor 1979: 160). Dari delapan

spesies Sciuridae di Way Canguk, terdapat lima spesies yang merupakan

kompetitor potensial bagi siamang, yaitu Callosciurus notatus, Ratufa affinis,

R. bicolor, Sundasciurus hippurus, dan S. tenuis (Iqbal dkk. 2001: 14).

2.4. Stasiun Penelitian Way Canguk, Taman Nasional Bukit Barisan Selatan

Taman Nasional Bukit Barisan Selatan (TNBBS), diresmikan pada tahun

1981, merupakan salah satu taman nasional yang terletak di Pulau Sumatra.

Taman nasional tersebut meliputi kawasan seluas 3.568 km2 dan terletak pada dua provinsi, yaitu Lampung dan Bengkulu. Kawasan taman nasional berbentuk

memanjang dengan batas kawasan sepanjang lebih dari 700 km. Hal tersebut

menyebabkan perambahan untuk penebangan dan perkebunan lebih mudah

terjadi. Letak geografis TNBBS adalah 4o31'--5o57' LS dan 103o34'--104o43' BT. TNBBS terfragmentasi menjadi tiga blok besar hutan akibat pembangunan dua

jalan lintas di sebelah utara dan selatan taman nasional. TNBSS merupakan

habitat penting bagi mamalia besar Sumatra seperti harimau, badak, dan gajah

(33)

Gambar 2.4(1) Lokasi Stasiun Penelitian Way Canguk, TNBBS.

Keterangan:

Stasiun Penelitian Way Canguk terdiri atas dua area penelitian--area barat laut dan tenggara--yang mencakup wilayah seluas 900 ha dengan tipe ekosistem hutan hujan tropis dataran rendah.

[Sumber: WCS-IP 2001: 7]

Stasiun Penelitian Way Canguk terletak di bagian selatan TNBBS,

meliputi area seluas 900 ha, termasuk 165 ha yang terbakar akibat El Niño

-Southern Oscillation (ENSO) pada tahun 1997 (Gambar 2.4(1)). Letak geografis

stasiun penelitian ini adalah 5o39'325'' LS dan 104o24'21'' BT dengan ketinggian 0--100 mdpl. Stasiun Penelitian Way Canguk diresmikan pada bulan Maret 1997.

Tujuan pembangunan stasiun penelitian adalah sebagai tempat penelitian lapangan

jangka panjang dan pelatihan lapangan (WCS-IP 2001: 7).

Area penelitian di Way Canguk terbagi menjadi dua area yang dipisahkan

oleh Sungai Way Canguk, yaitu area di bagian barat laut dengan luas 200 ha dan

area di bagian tenggara dengan luas 600 ha (Gambar 2.4(2)). Pada area

penelitian, terdapat jalur-jalur melintang dan membujur dengan jarak antarjalur

200 m. Sebagian besar area merupakan hutan primer yang masih baik. Dalam

area penelitian terdapat pula blok-blok hutan yang mengalami gangguan akibat

(34)

Berdasarkan karakteristik vegetasi, hutan di area penelitian diklasifikasikan

menjadi empat tipe habitat: hutan yang masih utuh dengan tajuk pohon tertutup

dan banyak pohon berukuran besar; hutan yang masih utuh dengan tajuk pohon

tertutup dan banyak pohon berukuran kecil; hutan yang terganggu dengan tajuk

pohon terbuka dan beberapa pohon berukuran kecil; serta hutan terganggu dengan

tajuk pohon terbuka dan beberapa pohon berukuran besar (Hadiprakarsa &

O‟Brien 2000 lihat WCS-IP 2001: 7).

Menurut Iqbal dkk. (2001: 13--16), Way Canguk merupakan habitat bagi

56 spesies mamalia yang tergolong ke dalam 26 famili. Primata yang umum

dijumpai adalah owa ungko (H. agilis), siamang (S. syndactylus), cecah (Presbytis

melalophos), dan beruk (Macaca nemestrina), sedangkan primata yang jarang

dijumpai adalah lutung kelabu (Trachypithecus cristatus) dan monyet ekor

panjang (Macaca fascicularis). Beberapa spesies ungulata yang ada di Way

Canguk adalah kijang muncak (Muntiacus muntjak), rusa sambar (Cervus

unicolor), babi (Sus sp.), pelanduk kecil (Tragulus javanicus), dan pelanduk napu

(T. napu). Terdapat pula mamalia besar seperti gajah asia (Elephas maximus),

tapir tenuk (Tapirus indicus), dan badak sumatra (Dicerorhinus sumatrensis).

Keanekaragaman avifauna di Way Canguk meliputi kurang lebih 207

spesies burung dari 41 famili. Spesies burung yang umum adalah dari famili

Timaliidae (18 spesies), Pycnonotidae (17 spesies), Cuculidae (15 spesies),

Picidae (12 spesies), dan Nectarinidae (12 spesies). Selain itu, terdapat delapan

spesies burung rangkong (famili Bucerotidae) di Way Canguk (Prasetyaningrum

& Hadiprakarsa 2001: 19).

Way Canguk diketahui memiliki lebih dari 330 spesies pohon. Hutan di

Way Canguk merupakan mosaik antara hutan hutan primer, hutan sekunder, dan

hutan yang rusak. Hutan primer ditandai oleh spesies-spesies Dipterocarpaceae

seperti Dipterocarpus spp., Shorea spp., dan Anisoptera costata serta memiliki

tajuk yang tinggi dan rapat. Hutan sekunder pada umumnya dicirikan oleh

Bombax valetonii, Tetrameles nudiflora, dan Octomeles sumatrana yang tidak

dapat tumbuh maksimal di bawah naungan. Way Canguk merupakan habitat bagi

setidaknya delapan spesies Ficus spp. (Prasetyaningrum & Hadiprakarsa 2001:

(35)

Gambar 2.4(2) Area penelitian tenggara (atas) dan area penelitian barat laut (bawah) di Way Canguk.

Keterangan:

Perpotongan jalur-jalur melintang dan membujur membentuk petak-petak berukuran 200 x 200 m. Sistem jalur tersebut memungkinkan pencatatan koordinat secara manual berdasarkan sistem Kartesius.

(36)

22 Universitas Indonesia BAB 3

METODOLOGI PENELITIAN

3.1. Waktu dan Lokasi Penelitian

Penelitian dilakukan selama tiga bulan pada Februari--April 2014 di

Stasiun Penelitian Way Canguk, TNBBS, Lampung. Kawasan terbagi menjadi

dua area, yaitu area penelitian barat laut dan tenggara (lebih sering disebut area

selatan dan utara), tetapi pengambilan data hanya dilakukan di area selatan. Pada

area tersebut, terdapat beberapa kelompok siamang yang telah terhabituasi dengan

manusia.

3.2. Alat, Bahan, dan Subjek Penelitian

Alat yang digunakan dalam penelitian adalah kamera [Canon PowerShot

SX40 HS], teropong binokular [Nikon], rangefinder [Nikon], dan jam tangan

digital [Eiger LS-88]. Bahan yang digunakan adalah pensil, lembar pengamatan,

pita penanda, dan kantung plastik zip lock. Subjek penelitian adalah tiga

kelompok siamang yang terdapat di area penelitian selatan dan mamalia arboreal

lain yang ditemukan di dalam ruang jelajah kelompok siamang. Kelompok

siamang yang dipilih merupakan kelompok yang seluruh ruang jelajahnya hutan

primer untuk menghindari bias akibat perbedaan struktur habitat. Komposisi

kelompok siamang yang dipilih sebagai subjek penelitian dapat dilihat pada Tabel

3.2. Individu yang masih bayi tidak diamati karena masih bergantung pada

(37)

Tabel 3.2. Komposisi kelompok siamang subjek penelitian.

Nama Kelompok

Individu

ke- Jenis kelamin Kelompok usia Keterangan

Bimo 1 Jantan Dewasa Diamati

2 Betina Dewasa Diamati

3 Betina Pradewasa Diamati

4 Jantan Remaja besar Diamati

5 Jantan Bayi Tidak diamati

Freddie 1 Jantan Dewasa Diamati

2 Betina Dewasa Diamati

3 Betina Pradewasa Diamati

Gatot 1 Jantan Dewasa Diamati

2 Betina Dewasa Diamati

3 Betina Pradewasa Diamati

4 (belum diketahui) Bayi Tidak diamati

Keterangan:

Individu yang diamati adalah individu yang sudah tidak bergantung pada induk. Individu ke-4 pada kelompok Gatot belum diketahui jenis kelaminnya.

3.3. Cara Kerja

3.3.1. Pengambilan data

Pengambilan data pada penelitian ini terbagi menjadi dua tahap, yaitu

pengamatan perilaku siamang dan survei mamalia arboreal. Data yang akan

diperoleh dari pengamatan perilaku siamang adalah komposisi pakan siamang,

penggunaan habitat, dan interaksi dengan mamalia arboreal lain. Data yang akan

diperoleh dari survei mamalia arboreal adalah frekuensi pertemuan setiap spesies

mamalia arboreal yang berada di ruang jelajah siamang, komposisi pakan, dan

penggunaan habitat.

1. Pengamatan perilaku siamang

Metode focal instantaneous sampling digunakan untuk pengamatan

perilaku siamang. Focal sampling merupakan metode yang dilakukan dengan

mengamati dan mencatat perilaku satu individu saja pada waktu yang ditentukan.

(38)

setiap interval waktu tertentu (Martin & Bateson 2007: 48--61). Selain itu,

metode ad libitum digunakan untuk mencatat interaksi interspesifik antara

siamang dan mamalia arboreal lainnya.

Subjek penelitian adalah tiga kelompok siamang yang seluruh ruang

jelajahnya hutan primer (Tabel 3.2.). Ketiga kelompok tersebut telah terhabituasi

terhadap manusia karena telah menjadi subjek penelitian perilaku sejak tahun

1998 (Nurcahyo 1999). Setiap kelompok siamang diikuti selama empat hari

berturut-turut. Satu hari sebelum memulai pengamatan perilaku, pengamat

mencari kelompok siamang dan mengikutinya hingga siamang kembali ke pohon

tidur. Hal tersebut dilakukan agar pencatatan perilaku keesokan harinya dapat

dimulai saat siamang baru memulai aktivitas, yaitu sekitar pukul 06.00.

Pengamatan dilakukan sampai siamang kembali ke pohon tidur dan berhenti

beraktivitas, yaitu sekitar pukul 17.00 (Chivers 1974: 23--24). Pengulangan

pengamatan perilaku dilakukan satu kali dengan urutan kelompok yang sama.

Waktu pengamatan dibagi menjadi interval-interval dengan periode satu

jam. Setiap satu jam, individu focal diganti secara sistematis. Hal tersebut

dilakukan untuk menghindari bias yang diakibatkan oleh faktor lingkungan,

seperti hari dengan curah hujan tinggi dan hari cerah. Dalam satu jam interval

pengamatan, perilaku individu focal dicatat setiap interval waktu lima menit.

Perilaku yang dicatat diklasifikasikan ke dalam lima kategori yang diadaptasi dari

Gittins & Raemaekers (1980: 96--97) dan O‟Brien & Kinnaird (1997: 326), yaitu

istirahat, makan, bergerak, vokalisasi, dan sosial.

Dua komponen utama dalam pengamatan perilaku siamang yang berfungsi

untuk menjawab pertanyaan penelitian adalah informasi mengenai penggunaan

habitat dan pemilihan pakan. Data penggunaan habitat dan pemilihan pakan akan

dicatat bersamaan dengan pengamatan perilaku. Variabel yang dicatat untuk

menjelaskan penggunaan habitat adalah tipe substrat, diameter substrat,

ketinggian siamang dari tanah, ketinggian pohon, jarak dari pusat tajuk, lebar

tajuk, fenofase pohon, skor fenofase, strata, dan kategori tajuk. Variabel

pemilihan pakan yang dicatat adalah kategori makanan dan spesies yang dimakan.

Jika memungkinkan, waktu yang dibutuhkan untuk menangani makanan juga

(39)

2. Survei mamalia arboreal

Survei mamalia arboreal dilakukan dengan metode transek garis. Metode

tersebut dilakukan dengan menyusuri jalur berbentuk garis lurus dan mencatat

jarak tegak lurus dari hewan yang ditemui ke garis transek (Rudran dkk. 1996:

89). Data yang dicatat adalah waktu pertemuan, spesies mamalia, jumlah

individu, jarak tegak lurus, koordinat, perilaku, dan penggunaan habitat. Jika

individu yang ditemukan sedang makan, kategori makanan dan spesies yang

dimakan dicatat. Waktu penanganan makanan dicatat jika memungkinkan.

Variabel penggunaan habitat dan pemilihan pakan sama seperti pada pengamatan

siamang.

Survei transek garis dilakukan di antara pukul 06.00--12.00 karena

sebagian besar mamalia arboreal lebih aktif pada pagi hari daripada sore hari.

Area survei mencakup wilayah jelajah ketiga kelompok siamang subjek

penelitian. Survei hanya dilakukan pada transek hutan primer. Pembatasan

wilayah pengamatan pada wilayah jelajah primata subjek penelitian juga telah

dilakukan oleh Estrada & Coates-Estrada (1985: 29). Jalur transek dapat dilihat

pada Gambar 3.3.1. Wilayah survei mencakup tiga jalur transek melintang

(40)

Gambar 3.3.1. Wilayah jelajah beberapa kelompok siamang yang telah terhabituasi di area penelitian selatan.

[Sumber: telah diolah kembali dari Prasetyaningrum 2001: 34 dan WCS-IP 2001: 6] Legenda

Daerah bekas kebakaran tahun 1997

Ruang jelajah siamang subjek penelitian

Ruang jelajah kelompok siamang yang tidak diamati

(41)

3.3.2. Analisis data

Analisis data dilakukan menggunakan dua metode utama, yaitu analisis

tumpang-tindih relung dan analisis komponen utama (PCA, Principal Component

Analysis). Analisis tumpang-tindih relung dilakukan dengan menghitung besar

indeks tumpang-tindih Horn. Rumus untuk menghitung indeks tersebut adalah:

𝑅

𝑜

=

𝑝𝑖𝑗

+𝑝𝑖𝑘 log 𝑝𝑖𝑗+𝑝𝑖𝑘 − 𝑝𝑖𝑗log 𝑝𝑖𝑗− 𝑝𝑖𝑘log𝑝𝑖𝑘

2 log 2

Keterangan:

Ro = Indeks tumpang-tindih Horn untuk spesies j dan k

pij = Proporsi sumber daya i dari sumber daya total yang digunakan spesies j

(spesies mamalia arboreal selain siamang)

pik = Proporsi sumber daya i dari sumber daya total yang digunakan spesies k

(siamang)

Indeks tersebut dipilih karena bias yang dihasilkan dari perhitungan tidak besar

dibandingkan indeks-indeks lainnya (Krebs 1989: 386--390). Perhitungan indeks

tumpang-tindih Horn dilakukan dengan perangkat lunak Microsoft Office Excel

2007.

Principal Component Analysis (PCA) adalah metode statistik yang

menggunakan transformasi ortogonal untuk mengonversikan kumpulan variabel

yang saling berkorelasi menjadi variabel baru yang disebut komponen utama (PC,

Principal Component). Variabel baru yang dihasilkan bersifat independen satu

sama lain. Kelebihan PCA adalah walaupun jumlah variabel berkurang, PC yang

dihasilkan tetap memiliki informasi mengenai hubungan antarvariabel. Reduksi

jumlah variabel menjadi PC memungkinkan analisis aspek ekologis difokuskan

pada beberapa variabel yang terpenting saja (Janžekovič & Novak 2012: 127).

Pada penelitian ini, PCA dilakukan untuk dua tujuan, yaitu (1) mengetahui

tumpang-tindih penggunaan habitat antara siamang dan mamalia arboreal lainnya

serta (2) mengetahui kondisi habitat yang berhubungan dengan interaksi

interspesifik. Analisis dilakukan menggunakan perangkat lunak R i386 3.0.2 dan

package vegan (Oksanen 2013: 8—11).

Untuk tujuan pertama, analisis dilakukan pada 12 variabel penggunaan

habitat yang terangkum dalam Tabel 3.3.2(1). Analisis dengan PCA

(42)

berdasarkan koefisien korelasinya dengan PC. Variabel dengan korelasi tinggi

(≥ 0,5) akan digunakan untuk menganalisis tumpang-tindih penggunaan habitat. Setelah itu, data diordinasi pada scatter plot yang terdiri atas dua PC sebagai

sumbu-x dan sumbu-y. Pengelompokan titik data berdasarkan spesies mamalia

arboreal dilakukan dengan membuat elips dengan interval kepercayaan 95%.

Tumpang-tindih penggunaan habitat dapat diketahui secara visual berdasarkan

tumpang-tindih elips. Analisis tambahan, yaitu uji perbedaan rerata, dilakukan

pada PC dan variabel-variabel yang berkorelasi tinggi (≥ 0,5) dengan PC jika

terdapat tumpang-tindih elips. Tujuan uji tersebut adalah untuk mengetahui

apakah terdapat perbedaan signifikan penggunaan habitat berdasarkan variabel

tertentu. Jika distribusi data normal, uji yang digunakan adalah uji Anova dan uji

t. Jika distribusi data tidak normal, uji Kruskal-Wallis dan uji Wilcoxon

digunakan.

Tabel 3.3.2(1) Variabel penggunaan habitat yang dianalisis dengan PCA untuk mengetahui tumpang-tindih relung di antara mamalia arboreal.

Kode Variabel Keterangan Tipe Variabel

Ds Diameter substrat Kontinu

Hdt Ketinggian dari tanah Kontinu

Hp Ketinggian pohon Kontinu

Ratio_H Rasio Hdt:Hp Kontinu

Rsp Jarak dari pusat tajuk Kontinu

Rt Jari-jari tajuk Kontinu

Ratio_R Rasio Rsp:Rt Kontinu

Substrat Tipe substrat Kategori

Fenofase Fenofase pohon Kategori

Skor Skor fenofase Kategori

Strata Strata hutan Kategori

(43)

Untuk tujuan kedua, analisis dilakukan pada 19 variabel kondisi habitat

yang terangkum dalam Tabel 3.3.2(2). Tahap-tahap analisis hampir sama dengan

tahap analisis penggunaan habitat. Namun, untuk tujuan kedua, pengelompokan

titik data dilakukan berdasarkan tiga kategori interaksi interspesifik, yaitu:

1. netral (toleransi), jika siamang dan spesies lain dapat berada pada satu

pohon tanpa terjadi agresi,

2. dominansi, jika spesies lain menjauhi siamang tanpa terjadi perilaku

agresif dari siamang, dan

3. agresi, jika terjadi perilaku agresif antarspesies, termasuk mengusir dan

berkelahi.

Hasil PCA kemudian digambarkan dalam bentuk scatter plot yang di-overlay

dengan elips untuk menggambarkan pengelompokan interaksi berdasarkan

kondisi terjadinya. Jika terdapat perbedaan kondisi habitat yang menyebabkan

ketiga kategori interaksi, elips yang terbentuk tidak tumpang-tindih. Demikian

pula sebaliknya.

Tabel 3.3.2(2) Variabel kondisi habitat yang dianalisis dengan PCA untuk mengetahui perbedaan kondisi habitat yang berhubungan dengan interaksi interspesifik.

Kode Variabel Keterangan Tipe Variabel

D Jarak antara siamang dengan kompetitor Kontinu

Ds1 Diameter substrat siamang Kontinu

Ds2 Diamater substrat kompetitor Kontinu

Hdt1 Ketinggian siamang dari tanah Kontinu

Hdt2 Ketinggian kompetitor dari tanah Kontinu

Hp Ketinggian pohon Kontinu

Selisih_H Selisih ketinggian siamang dan kompetitor Kontinu

Rsp1 Jarak siamang dari pusat tajuk Kontinu

Rsp2 Jarak kompetitor dari pusat tajuk Kontinu

Rt Jari-jari tajuk Kontinu

Selisih_R Selisih jarak siamang dan kompetitor dari pusat tajuk

Kontinu

Subs1 Tipe substrat siamang Kategori

(44)

Tabel 3.3.2(2) (lanjutan)

Fenofase Fenofase pohon Kategori

Skor Skor fenofase Kategori

Strata1 Strata siamang Kategori

Strata2 Strata kompetitor Kategori

Tajuk1 Kategori tajuk siamang Kategori

(45)

31 Universitas Indonesia BAB 4

HASIL DAN PEMBAHASAN

Pengamatan perilaku siamang telah dilakukan pada bulan Februari hingga

April 2014 dengan total 24 hari pengamatan dan meliputi 2.504 titik data yang

setara dengan 208,67 jam observasi. Selama periode pengamatan, terjadi dua

perubahan komposisi kelompok siamang. Pertama, individu pradewasa betina

dari kelompok Bimo memisahkan diri dari kelompoknya dan tidak diketahui

keberadaannya sampai akhir studi. Kedua, individu jantan dewasa pada kelompok

Freddie tercatat melakukan kopulasi dengan betina dewasa dan juga betina

pradewasa. Oleh karena itu, betina pradewasa tersebut selanjutnya dianggap

sebagai betina dewasa.

Survei mamalia arboreal telah dilakukan pada 23 hari pengamatan selama

periode penelitian. Hasil survei menunjukkan bahwa siamang hidup

berdampingan dengan sepuluh spesies mamalia arboreal (Lampiran 1). Namun,

hanya spesies yang melimpah yang dianalisis interaksinya dengan siamang.

Spesies yang hanya berjumlah sedikit tidak memberikan dampak kompetitif yang

besar. Mamalia arboreal yang akan dianalisis ditentukan berdasarkan frekuensi

pertemuan. Hewan dengan kelimpahan yang tinggi memiliki probabilitas

pertemuan yang besar sehingga frekuensi pertemuan merupakan indeks yang

dianggap representatif dan sederhana. Berdasarkan hasil survei (Lampiran 1),

mamalia arboreal dengan frekuensi pertemuan tertinggi (Gambar 4) adalah

Presbytis melalophos (51,16%), Callosciurus notatus (20,16%), dan Ratufa

bicolor (10,08%).

Dari kedua metode pengambilan data tersebut--pengamatan perilaku

siamang dan survei mamalia arboreal--telah diperoleh data yang dibutuhkan untuk

mencapai tujuan penelitian. Pemaparan hasil dan pembahasan dibagi menjadi

empat bagian, yaitu tumpang-tindih relung berdasarkan pakan, tumpang-tindih

relung berdasarkan penggunaan habitat, kompetisi interspesifik, dan partisi relung

(46)

Gambar 4. Tiga spesies mamalia arboreal dengan frekuensi pertemuan tertinggi di area survei.

Keterangan:

(a) = simpai (Presbytis melalophos) (b) = bajing kelapa (Callosciurus notatus) (c) = jelarang hitam (Ratufa bicolor)

[Sumber: Dokumentasi pribadi]

(a) (b)

(c) 20 cm

(47)

4.1. Tumpang-tindih Relung Berdasarkan Pakan

Komposisi pakan siamang terdiri atas 72,52% buah, 23,57% daun, 3,77%

bunga, dan 0,14% materi hewani (Gambar 4.1(1)). Hasil tersebut menunjukkan

bahwa siamang memiliki preferensi yang tinggi terhadap buah-buahan. Selama

dua bulan pengamatan, siamang tercatat memakan 23 spesies buah, 22 spesies

daun, dan lima spesies bunga. Frekuensi dan keanekaragaman spesies pakan

siamang dapat dilihat pada Lampiran 2. Berdasarkan penelitian Nurcahyo (1999:

24) yang dilakukan di lokasi yang sama, komposisi pakan siamang terdiri atas

52,07% buah, 42,62% daun, dan 5,3% bunga. Proporsi buah yang lebih besar

terjadi karena saat penelitian ini dilakukan, terdapat beberapa pohon pakan

siamang yang berbuah lebat seperti Beilschmiedia dyctioneura, Sandoricum

koetjape, Ficus altissima, dan spesies-spesies dari famili Annonaceae. Siamang

memakan lebih banyak daun jika ketersediaan buah sedikit (Elder 2009: 153).

Gambar 4.1(1) Diagram komposisi pakan tiga kelompok siamang subjek penelitian.

0% 10% 20% 30% 40% 50% 60% 70% 80% 90% 100%

Bimo Freddie Gatot Total

Invertebrata

Bunga

Daun

(48)

Gambar 4.1(2) Diagram perbandingan komposisi pakan siamang, simpai, bajing kelapa, dan jelarang hitam.

Keterangan:

Angka menunjukkan jumlah data suatu spesies mamalia tercatat memakan makanan dari kategori tertentu.

Komposisi pakan tiga spesies mamalia arboreal yang hidup di ruang

jelajah siamang dapat dilihat pada Gambar 4.1(2). Simpai diketahui memakan

73,91% buah dan 26,09% daun. Hasil tersebut berbeda dengan hasil yang

dilaporkan oleh Curtin (1980: 138) yang menyatakan bahwa simpai di Malaysia

memakan 48% buah dan 35% daun. Selama periode pengambilan data, bajing

kelapa hanya tercatat enam kali memakan buah dan satu kali memakan kayu

pohon. Berdasarkan hasil penelitian Payne (1980: 273) di hutan hujan tropis

Malaysia, komposisi pakan terbesar bajing kelapa adalah biji-bijian (> 40%),

dilanjutkan dengan kayu dan getah (30%), daun (25%), serta bunga dan materi

hewani. Jelarang hitam tercatat 12 kali memakan buah (92,31%) dan hanya sekali

memakan bunga (7,68%). Sifat frugivora jelarang hitam juga dilaporkan oleh

Payne (1980: 273--274) yang menyatakan bahwa hewan pengerat tersebut

memakan 81% buah. Perbedaan antara hasil pengamatan dengan literatur

kemungkinan besar disebabkan oleh jumlah sampel yang sedikit (< 30 per

Siamang Simpai Bajing Kelapa Jelarang Hitam

Kayu 0 0 1 0

Invertebrata 1 0 0 0

Bunga 27 0 0 1

Daun 168 6 0 0

Buah 520 17 6 12

(49)

spesies). Walaupun hasil pengamatan tidak meliputi seluruh variasi pakan, hasil

tersebut dianggap representatif untuk komponen pakan dominan ketiga spesies

mamalia arboreal.

Perhitungan indeks Horn dilakukan untuk mengetahui tumpang-tindih

relung antara siamang dan ketiga mamalia arboreal yang paling melimpah, yaitu

simpai, bajing kelapa, dan jelarang hitam. Kategori pakan materi hewani dan

kayu tidak diikutsertakan dalam perhitungan. Hasil perhitungan (Tabel 4.1(1) dan

Lampiran 3) menunjukkan bahwa tumpang-tindih relung terbesar terdapat di

antara siamang dan jelarang hitam (Ro = 0,418), sedangkan tumpang-tindih

terkecil terdapat di antara siamang dan simpai (Ro = 0,310). Spesies-spesies

tumbuhan pakan siamang yang juga merupakan sumber pakan bagi simpai, bajing

kelapa, dan jelarang hitam dirangkum pada Tabel 4.1(2). Berdasarkan tabel

tersebut, jumlah spesies pakan yang sama antara siamang dan simpai lebih banyak

daripada siamang dan jelarang hitam, tetapi indeks Horn menunjukkan

sebaliknya. Hal itu terjadi karena simpai memakan daun beberapa spesies

tumbuhan yang tidak dimakan oleh siamang.

Tabel 4.1(1) Tabel ringkasan catatan spesies pakan dan tumpang-tindih relung berdasarkan pemilihan pakan.

Spesies Frekuensi catatan

Jumlah spesies pakan

Jumlah spesies pakan yang sama dengan

siamang

Indeks Horn

Siamang 715 50 - -

Simpai 23 13 6 0,310

Bajing kelapa 6 4 3 0,334

Gambar

Gambar 2.2.2. Siamang betina (kiri) dan siamang jantan (kanan).
Gambar 2.2.3.  Peta distribusi Hylobatidae
Gambar 2.2.6. Komposisi pakan siamang di TNBBS.
Tabel 2.3. Daftar famili dan spesies mamalia di Way Canguk beserta pola   aktivitas dan arborealitas
+7

Referensi

Dokumen terkait