• Tidak ada hasil yang ditemukan

Implementasi model pembelajaran Al Quran

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "Implementasi model pembelajaran Al Quran"

Copied!
10
0
0

Teks penuh

(1)

IMPLEMENTASI MODEL PEMBELAJARAN AL-QURAN DI SEKOLAH

BERDASARKAN PENDEKATAN PAIKEM

1

Prof. Dr. Dedi Mulyasana, M.Pd2

A. Pengantar

Pendidikan adalah proses pembentukan jati diri, yang denganya manusia dapat menjalankan tugas hidup dan kehidupan secara cerdas, bermartabat dan bermanfaat. Pendidikan dimaknai sebagai proses penyadaran untuk membangun dan menjadikan kehidupan dunia sebagai alat untuk mempersiapkan perbekalan akhirat.

Pendidikan dikembangkan dalam proses belajar dan pembelajaran. Pembelajaran adalah proses pembebasan manusia dari kemalasan, keterbelakangan, dan dari sikap, pemikiran dan perilaku buruk. Pembelajaran adalah proses sugesti untuk menumbuhkan semangat dan motivasi siswa untuk menjadi yang terbaik. Pembelajaran dikembangkan sesuai bakat, minat, kemampuan, karakter dan gaya belajar siswa.

Pembelajaran adalah proses penguatan yang memungkinkan peserta didik mampu belajar dengan sendirinya. Belajar adalah proses berpikir dengan penjiwaan. Penjiwaan yang dimaksud adalah proses menyatunya aktivitas belajar dengan suasana hati dan keimanan.

Dengan demikian, pendidikan dan atau pembelajaran bukan sekedar proses menyampaikan sejumlah teori, konsep, ilmu pengetahuan, atau bukan sekedar urusan nilai, angka-angka dan ijazah semata. Pendidikan adalah wahana yang memungkinkan semua orang mampu melakukan proses pematangan kualitas diri secara benar. Melalui wahana itu, diciptakan iklim yang mendorong berkembangnya keragaman minat, karakter, kemampuan, kreativitas, dan budaya belajar peserta didik.

Sekolah dipersiapkan sebagai dapurnya masa depan bangsa yang membangun kualitas manusia sebagai pewaris masa depan. Selaku pewaris masa depan, peserta didik dibina agar mereka mampu belajar dan bekerja lebih awal dan lebih unggul dari yang seharusnya mereka lakukan. Di sinilah pentingnya mempersiapkan dan menata lembaga pendidikan yang terencana, produktif dan bermutu.

Belajar.

Hidup itu belajar. Tidak ada kehidupan tanpa belajar. Bermutu tidaknya kehidupan manusia tergantung dari mutu belajarnya. Belajar akan kehilangan maknanya apabila tidak diperkuat oleh spirit, motif berprestasi, kepercayaan diri, disiplin dan budaya belajar.

(2)

Belajar adalah berpikir dan berkreasi dengan penjiwaan. Belajar tanpa semangat, motivasi, konsentrasi dan penjiwaan hanyalah membaca dalam arti merangkai kalimat demi kalimat tanpa makan yang membekas. Itulah “kesia-siaan” dan itulah yang banyak dilakukan oleh para

pembelajar.

Dalam belajar ada konsentrasi dimana mata, jiwa dan pikiran tertuju pada materi yang sedang dipelajari. Ketika salah satu konsentrasi hilang, maka proses belajar akan kehilangan alat sambung yang dapat menghubungkan materi yang sedang dipelajari dengan otak. Itulah

sebabnya, mengapa pada saat belajar dibutuhkan minat dan motivasi yang kuat untuk mengetahui sesuatu dibalik bacaan. Tanpa minat dan motivasi, belajar tak lain hanya sebatas membaca kalimat semata.

Banyak pembelajar yang merasa dirinya telah belajar tapi tidak memperoleh sesuatu dari buku yang dipelajarinya. Mereka bukan belajar, tapi hanya membaca kalimat. Kalaulah ada materi yang mampu diingat melalui hapalan, pasti tidak bertahan lama. Sesaat setelah selesai belajar, materi itu akan “hilang” dari ingatan itu.

Masalah-masalah inilah yang umum terjadi di kalangan para pembelajar. Oleh karena itu, perlu mengubah pola yang ada dengan pola baru yang lebih nyaman, menyenangkan dan menantang. Dengan suasana itu, akan tumbuh minat dan motivasi yang baik sehingga para pembvelajar dapat berkonsentrasi penuh selama belajar.

Kurikulum 2013 yang dikembangkan berdasarkan pendekatan saintifik, mencoba mengenalkan pola pembelajaran baru yang diharapkan akan lebih efektif dalam mengembangkan pola pembelajaran bagi para pembelajar. Suasana belajar dalam pola tersebut dikembangkan ke arah suasana belajar yang nyaman, menantang dan menyenangkan. Materi pembelajarannya dikembangkan berdasarkan pendekatan saintifik. Proses pembelajarannya “dipaksa” menyentuh sikap, pengetahuan, dan keterampilan

B. Pembelajaran dengan Pendekatan PAIKEM

Pembelajaran Aktif, Inovatif, Kreatif, Efektif, dan Menyenangkan (PAIKEM) adalah pola pendekatan yang digunakan oleh guru agar tujuan pembelajaran dapat dicapai secara efektif. Jadi, menciptakan suasana pembelajaran yang nyaman dan menyenangkan itu bukan tujuan, tapi cara untuk mencapai tujuan. Untuk itu, melali pendekatan PAIKEM, pembelajaran dikembangkan dalam suasana yang nyaman, menantang dan menyenangkan.

Guru bertugas mendorong terciptanya budaya baca di kalangan para siswa. Dengan budaya tersebut siswa dapat berinisiatif dan aktif untuk berpendapat, bertanya, membantah dan berbagi ilmu dengan sesamanya dalam proses pembelajaran. Guru hanya berperan pendorong, pengatur dan pembimbing dalam pembelajaran.

Untuk meningkatkan mutu pembelajaran, guru harus melakukan berbagai inovasi

(3)

Guru harus kritis dalam memahami dan mempelajarai suatu konsep. Guru harus rajin dalam melakukan riset dan mempelajari hasil riset para ahli. Materi pembelajaran disajikan dengan memperhatikan hasil riset yang dikembangkan secara inovatif. Tidak menggunakan metode pembelajaran yang dapat membentuk motivasi dan kepribadian palsu, seperti penguatan

(reinforcement) dengan pendekatan hadiah (reward) dan hukuman (funishment). System evaluasi pun tidak terjebak pada terciptanya budaya hapalan semata.

Untuk itu, guru harus kreatif dalam melakukan berbagai upaya untuk menciptakan suasana pembelajaran sesuai bakat, minat, kemampuan, gaya dan budaya belajar siswa secara optimal. Pola pembelajaran yang kreatif dapat mendorong tumbuh.

Kreativitas pembelajaran pada umumnya lahir dari langkah dan pemikiran yang

efektif. Bermutunya pembelajaran tidak ditentukan oleh lamanya waktu belajar, tapi dipengaruhi efektif tidaknya pembelajaran. Kalau pemikiran dan perilaku siswa dapat diubah dengan satu langkah, mengapa guru harus melakukan langkah-langkah lain yang tidak menunjang. Bila siswa dapat diubah dengan cara yang baik, mengapa guru harus melakukan cara yang kasar untuk mengubah perilaku anak didiknya itu. Kalau guru yakin bahwa dengan tiga langkah dalam menjelaskan materi pembelajaran, siswa dapat memahami dan menguasai materi tersebut, mengapa guru berbelit-belit dalam melakukan langkah penjelasan.

Langkah efektif tersebut tetap dikelola dalam suasana pembelajaran yang

menyenangkan. Proses pembelajaran yang menyenangkan harus terhindar dari kejenuhan, kecemasan, ketersinggungan dan rasa takut. Guru mengajar dengan keceriaan, perhatian dan kasih sayang. Guru menghindari diterapkanya funishment karena funishment dapat merusak suasana kelas yang nyaman dan menyenangkan. Pola pembelajaran secara perlahan digeser dari konsep reward and funihsment ke pola teaching with love, dimana guru mengajar dengan penuh kecintaan, perhatian dan kasih sayang.

Dalam suasana belajar yang menarik, menantang dan menyenangkan dapat memacu pola pembelajaran yang efektif, bermutu dan produktif. Suasana belajar yang demikian dapat merangsang tumbuhnya neurotransmeter yang berfungsi sebagai alat kejut untuk mempercepat hubungan antar sel dalam otak. Makin cepat hubungan antar sel neuron makin besar peluang untuk membangun kecerdasan. Sebaliknya, makin lambat kontak antar sel dalam otak, makin lambat pula proses berpikir. Lambatnya hubungan antar sel tersebut antara lain disebabkan oleh makin terbatasnya jumlah neurotransmeter dalam otak. Terbatasnya sel tersebut antara lain disebabkan oleh kecemasan, ketakutan dan depresi. Untuk itu, penting didorong pola pembelajaran yang nyaman, menantang dan menyenangkan.

Pola pendekatan PAIKEM membatasi dominasi guru dalam pembelajaran. Siswa didorong agar bisa lebih aktif dalam pembelajaran. Dalam arti bahwa, siswa lebih bernisiatif dalam mengemukakan gagasan-gagasan barunya, lebih kritis dan rajin dalam bertanya, memberi masukan dan membantah materi yang dianggap tidak benar. Guru harus menciptakan suasana belajar yang nyaman, interaktif, kooperatif dan menyenangkan. Dengan demikian, guru harus punya cara yang dapat mendorong siswa bisa belajar dengan sendirinya tanpa harus diperintah dengan tugas dan ancaman.

(4)

Menciptakan suasana pembelajaran yang nyaman, menantang dan menyenangkan dapat meningkatkan kecerdasan siswa secara signifikan. Berpikir dengan otak sehat yang terbebas dari stress, kecemasan dan rasa takut, selain lebih kritis, kreatif, logis dan sistematis, juga akan

mempermudah mengembangkan kemampuan berpikir holistic, komprehensif, kontekstual dan mendalam.

Otak berperan penting dalam mengatur, mengendalikan dan

mengevaluasi semua fungsi organ tubuh manusia. Otak adalah organ yang tidak pernah berhenti bekerja sepanjang hayat. Ketika tidur, otak

menyusun, memadatkan dan membuang informasi-informasi yang dianggap tdai berguna. Otak dapat menyimpan semua informasi yang diperoleh dan dapat memanggilnya kembali saat manusia membutuhkkan. Kapasitanya luar biasa, dan jauh lebih canggih dari jenis computer apapun.

Para ilmuwan3 dari University of California, Berkeley, AS, pernah meneliti otak

tikus. Mereka menemukan, otak tikus tumbuh sebesar 4 persen saat mereka dipaksa menjalankan tugas mental setiap hari, misalnya mencari jalan keluar dari lorong yang berliku, memanjat tangga, dan bersosialisasi dengan tikus lain.

Pola pembelajaran dengan pendekatan PAIKEM dikembangkan dengan menggeser reward and funishment ke teaching with love dengan langkah-langkah sebagai berikut:

a. Guru menjadikan siswa sebagai bagian dari dirinya dengan memahami sifat, karakter, kemampuan dan kebutuhan belajarnya.

b. Memposisikan siswa sebagai orang terpenting dalam tugas dan kehidupanya. c. Menghargai sekecil apapun pendapat atau gagasan siswa.

d. Menciptakan suasana kelas yang mendorong semua siswa merasa dirinya penting dan berharga.

e. Mengubah perilaku yang buruk dengan cara yang baik. Dilakukan dengan cara mengubah perilaku buruknya dari jalan pikiran dan dari kepentinganya, bukan sekedar dari jalan pikiran dan kepentingan guru.

f. Lebih menekankan pada upaya mendorong motivasi, kepercayaan diri, disiplin dan semangat untuk menjadi yang terbaik.

g. Guru lebih peduli untuk menyembuhkan penyakit mental siswa sehingga siswa terhindar dari kemalasan, keburukan, minder, keraguan dan ketakutan untuk mengembangkankan kemampuan dan kreativitasnya.

h. Untuk menghindari kejenuhan dalam pembelajaran, guru harus pandai dalam mengelola kelas dan menciptakan suasana belajar yang lebih menarik dan bervariatif. Sesekali ajak siswa belajar di luar kelas. Sesekali diselingi dengan pujian-pujian, dan sesekali diselingi dengan kuis.

C. Akselerasi dan Efektivitas Pembelajaran Al-Quran

Untuk meningkatkan efektivitas pembelajaran Al-Quran, dapat dilakukan dengan dengan pengembangan model-model pembelajaran. Model-model pembelajaran dimaksud antara lain:

(5)

1. Quantum Learning Plus

Bobbi De Porter & Mike Hernacki memandang bahwa pembelajaran Quantum (Quantum Learning) dimaksudkan untuk mempercepat tingkat pemahaman dan penguasaan siswa terhadap materi yang disajikan dalam pembelajaran. Upaya tersebut dikembangkan dengan memperhatikan tiga kekuatan dasar, yaitu dengan cara

mengembangkan kemampuan visual, auditorial dan kinestetik.

Pendekatan visual dilakukan dengan mengembangkan kekuatan indera mata seperti, membaca teks, melihat dan mengamati, membandingkan, dan sebagainya. Kedua dilakukan dengan mengembangkan kemampuan auditorial seperti memperkuat indera pendengaran ketika mendengarkan dan menyimak suatu cerita, atau ketika menyimak penjelasan yang disampaikan oleh guru dalam pembelajaran. Ketiga mengembangkan kekuatan kinestetik dengan cara memperkuat indra perabaan seperti meraba, menyentuh atau melakukan aktivitas.

Penulis memandang bahwa disamping tiga kekuatan itu, ada kekuatan inti yang mempengaruhi baik dan buruknya sikap, pemikiran dan perilaku siswa. Seperti kekuatan keimanan dan hati nurani. Baik buruknya sikap dan perilaku hidup manusia akan

tergantung pada kekuatan logika, hati dan keimanan.

Pembelajaran dengan percepatan (accelerative learning) dapat mendorong siswa mampu belajar secara efektif dengan lompatan hasil yang berlipat. Inti ajaran quantum learning berakar pada hasil riset

eksperimen tentang “suggestology” yang dilakukan oleh doctor ahli ilmu pendidikan dari Bulgaria yaitu Dr Georgi Lozanov. Jadi, konsep Quantum Learning4

menggabungkan sugestologi, teknik pemercepatan belajar

(accelerated learning) dan program neurolinguistik dengan teori, metode dan keyakinan untuk memperoleh hasil belajar yang berlipat dengan percepatan.

Quantum learning memandang bahwa, sugesti dapat

mempengaruhi hasil belajar yang efektif dan berlipat. Quantum learning dapat mengubah energy belajar menjadi cahaya. Ingat bahwa semua kehidupan adalah energy. Fisika quantum memandang bahwa energy adalah masa kali kecepatan cahaya kuadrat (E=mc²). Belajar pada hakikatnya adalah proses mengubah interaksi jiwa dan otak menjadi energy cahaya. Kecepatan belajar dengan menggunakan pendekatan sugesti untuk memacu motivasi, semangat dan kepercayaan diri akan melahirkan kekuatan energy yang berlipat.

Belajar dalam ketegangan menurut Porter dapat membuat denyut nadi dan tekanan darah tinggi meningkat, gelombang otak lebih cepat dan tak beraturan, otot menjadi tegang. Sedangkan dalam

suasana menyenangkan dan menantang, denyut nadi dan tekanan darah stabil, gelombang otak teratur dan melambat, dan otot menjadi lebih rileks.

Untuk meningkatkan kecepatan energy belajar, guru dapat mengembangkan pendekatan sugesti melalui gelombang otak (brainwave), baik beta, alpha, theta, maupun delta.

Gelombang beta adalah gelombang otak terjaga saat manusia melakukan aktivitas dengan konsentrasi tinggi seperti, saat berdebat, menghadapi pertandingan, saat mempertahankan hak dan sebagainya. Karena itu kondisi emosi cenderung tidak stabil, marah, jengkel, stress

(6)

dan sebagainya. Saat itu, guru sulit mempengaruhi atau memberi sugesti pada siswa. Gelombang otak berputar sebanyak 14-24 putaran perdetik, sehingga dalam kondisi otak ketika itu tidak mudah menerima saran atau sugesti dari orang lain karena jumlah fokus cukup banyak dan sulit untuk diarahkan. Otak dalam kondisi beta sangat logis, analitis nonsugestif dengan jumlah fokus 5-9 fokus. Misal: ketika berada di sebuah ruangan pandangan bisa terfokus pada 5-9 objek, baik lemari, kursi, meja dan sebagainya.

Saat yang dominan gelombang Alpha, suasana lebih rileks, nyaman, harmoni, saat orang dalam kondisi hipnotis ringan (light trance ) Gelombang Alpha tumbuh saat pikiran sadar mulai pasif bergeser ke pikiran bawah sadar. Gelombang otak berputar antara 7-14 putaran per detik. Daya pengaruh guru akan lebih kuat terhadap siswa dalam

gelombang alpha.

Saat gelombang theta dominan, kesadaran manusia terfokus pada dirinya sendiri. Konsentrasi mulai masuk ke bawah sadar.

Gelombang ini muncul saat manusia mengantuk atau dalam kondisi setengah tidur (mediatif). Gelombang theta berada pada frekuensi yang rendah. Seseorang merasakan suasana yang sangat hening namun tetap masih bisa mendengar nurani bawah sadarnya. Dalam kondisi ini sugesti atau daya pengaruh bisa lebih kuat.

Ketika gelombang delta dominan, frekuaensi gelombang otak memasuki titik terendah, gelombang ini terdeteksi saat tertidur pulas dimana manusia tidak bisa menerima sugesti apapun. Dan seseorang yang memasuki kondisi ini tidak bisa terhipnotis. namun sekitar 10 menit memasuki gelombang theta dimana masih ada sedikit kontak dengan pendengaran bawah sadar, manusia masih bisa dipengaruhi. Tapi praktik ini tidak mungkin di laksanakan di dalam kelas.

Kecepatan energy belajar akan tumbuh secara berlipat apabila siswa terbebas dari penyakit mental seperti kemalasan, sikap tidak percaya diri, atau membiarkan hawa nafsu membawa pada energy negative.

Pemercepatan pembelajaran dilakukan dengan cara:

1) Tidak kehilangan minat, semangat, motivasi dan kepercayaan diri. “semua punya peluang yang sama untuk maju… tidak ada yang tidak mungkin dalam hidup… Saya bisa lebih bagus dari yang mereka lakukan..saya bisa.. saya bisa dan saya bisa…

2) Belajarlah mengingat masa kecil ketika anda tidak dapat berbicara, tidak dapat berbahasa dan ketika anda tidak dapat berjalan. Dengan penuh ketekunan dan tidak merasa malu/minder anda terus berlatih. Merangkak, mencoba berdiri, jatuh dan bangun lagi. Latihan itu terus dilakukan sampai sekarang akhirnya anda bisa berjalan.

3) Membangun keyakinan akan manfaat yang akan diperoleh siswa setelah belajar.

4) Menciptakan iklim belajar yang harmoni. Dapat dibantu dengan lantunan Al-Quran yang dibaca dengan kelembutan.

(7)

6) Geser dari latihan menghapal ke latihan mengingat (otak kiri ke otak kanan).

7) Bobbi De Porter & Mike Hernacki (1999) memandang bahwa

“Manusia dilahirkan dengan susunan otak yang sama. Dibesarkan dengan tumbuhnya rasa ingin tahu yang tak pernah terpuaskan, serta dibekali oleh alat yang memungkinkan manusia dapat

memenuhi kepuasan itu. Artinya, setiap orang punya peluang yang sama untuk menjadi manusia yang cerdas, maju dan berprestasi. 8) Hindari kalimat-kalimat: “saya tidak dapat berprestasi seperti orang

lain”… “saya tidak mungkin bisa belajar dan menguasai matematika dan bahasa inggris dengan baik”… “saya tidak memiliki bakat”… “saya malas dan tidak tertarik”… dan sebagainya. Kalimat-kalimat itu dapat “mematikan” masa depan anda.

9) Sekalipun demikian, guru harus berhati-hati mempraktikan konsep reward and funishment, karena konsep tersebut dapat membentuk semangat, motivasi dan kepribadian palsu. Untuk itu, mulailah

menggeser konsep penguatan tersebut ke arah pembelajaran dengan pendekatan kecintaan dan kasih sayang (teaching with love). Guru tidak membedakan dan membandingkan. Tidak mencap sebagai anak malas dan bodoh atau tidak menciptakan suasana yang dapat menurunkan semangat, motivasi dan kepercayaan diri anak.

10)Bentuk peserta didik menjadi manusia jenius. Jenius itu bukan sekedar bakat tapi kemampuan melakukan trik-trik dalam berpikir. Win (2011) menulis bahwa, “Di Chicago ada seorang anak yang hampir ditolak dalam tim bisbol sekolahnya. Penulis berdiskusi dan bekerjasama dengannya hampir kira-kira satu jam. Penulis ajarkan trik focus extra. Si anak itu diminta berkonsentrasi dan

membayangkan seolah-olah ada tahi lalat pada bola itu. Ia diminta mengayunkan pemukul bukan pada bolanya tapi pada tahi lalat hayalan. Hasilnya luar biasa. Dalam suatu pertandingan sekolah, ia bisa melakukan pukulan dengan akurat, dan mendapatkan skor 0,800. Akhirnya ia terus berprestasi bahkan mendapatkan hadiah MVP (Match Victory Point). Model ini dapat pula diterapkan dalam pembelajaran yang dilakukan melalui focus extra dengan membuat titik hayalan. Ketika belajar, pikiran terfokus pada satu titik yang dianggap paling menarik. Hindari suasana belajar dimana konsentrasi hilang.

D. Implementasi Pembelajaran Al-Quran dalam Suasana Yang Menarik dan Menyenangkan 1. Model Kuis. Kuis dapat digunakan untuk tahfidz dan atau tafsir Al-Quran.

a. Dibuat kelompok belajar (satu kelompok sekitar 5 orang. Setiap kelompok berkompetisi untuk mencapai nilai tertinggi, umpamanya nilai 50. Dengan catatan bahwa, setiap 10 ayat yang dihapal diberi point 10. Bila kelompok dapat menghapal 50 ayat artinya kelompok itu telah memenangkan kompetisi. b. Guru mengatur pembagian kesempatan bagi masing-masing kelompok untuk

unjuk kemampuanya.

c. Materinya bisa saja diubah menjadi pemahaman atas tafsir Al-Quran, atau konsep lainnya.

(8)

Learning (CTL) merupakan model pembelajaran yang bersifat holistic, kontekstual dan komprehensif. Model ini bertujuan untuk membantu siswa dalam memahami makna dibalik materi yang diajarkan secara kontekstual dan mengaitkannya dengan kehidupan sehari-hari, sehingga siswa memperoleh manfaat langsung yang bersifat praktis dalam kehidupan sehari-hari. Model ini bukan saja siswa diajak membaca (10 %), atau mendengar (20 %), melihat (30 %), mendengar dan melihat (50 %), mengatakan dan mengkomunikasikan (70 %) tapi juga mengatakan,

mengkomunikasikan dan melakukan (90 %).

a. CTLdilaksanakan dengan memperhatikan tujuah prinsip dasar, antara lain: (a) Konstruktivisme. Guru mengembangkan pengetahuan baru dalam struktur kognisi siswa berdasarkan pengalaman. (b) Inkuiri. Siswa diarahkan untuk belajar berpikir kritis dan sistematis untuk mencari dan menemukan konsep baru.Guru tidak mengajak siswa menghapal tapi meransang siswa dapat belajar menemukan makna dibalik materi yang dipelajarinya. (c) Bertanya, guru bertanya untuk mengetahui dan merefleksi daya serap siswa atas materi yang diajarkan. (d) Masyarakat belajar, untuk melakukan lompatan belajar, CTL membentuk masyarakat belajar dengan membangun kelompok-kelompok belajar dengan anggota yang beragam kemampaun dan latar belakang social budayanya. (e ) Pemodelan . cara dan temuan belajar dijadikan sebagai contoh dan sekaligus model untuk mengembangkan hasil belajar yang lebih optimal. (f) Refleksi. Merefpleski pengalaman dan hasil belajar untuk dikritisi dan dikembangkan sebagai pola pembelajaran yang bermutu, efektif dan produktif. (g) penilaian nyata (authentic assesement ) dilakukan dengan mengumpulkan informasi tentang perkembangan belajar siswa untuk mengetahui pengaruh belajar terhadap perkembangan intelektual dan kepribadian siswa.

b. Langkah-langkah pembelajaran dilakukan melalui tahapan, (Umpama akan mengkaji konsep amal kebaikan yang dianjurkan dalam Al-Quran):

1) Pendahuluan ( guru merancang dan menjelaskan kompetensi tentang pengamalan konsep kebaikan yang akan dicapai; membagi kelompok belajar yang ditugasi untuk melakukan pengamatan dan penelitian ke berbagai lembaga/ instansi (kantor pemerintahan, perusahaan, lembaga masyarakat, keluarga, dsb). 2) Kegiatan inti di lapangan (siswa mengamati, mencatat, bertanya/ berdialog,

merekam, dsb)

3) Kegiatan Pembelajaran di kelas (Siswa mendiskusikan hasil temuan observasi dan sekaligus membuat laporan)

4) Penutup (siswa menyimpulkan hasil diskusi dan membantu untuk meningkatkannya menjadi konsep ilmiah yang bisa diterbitkan)

3. Lesson Study. Lesson study merupakan pola refleksi untuk meningkatkan mutu, efektivitas dan produktivitas pembelajaran.

a. Langkah-langkah Lesson Study: (1) Perencanaan. Guru berkelompok untuk menyusun rencana pembelajaran yang berpusat pada kebutuhan belajar peserta didik. (2) Pelaksanaan. Pada tahap ini diselenggarakan pembelajaran yang dilakukan oleh guru, baik atas kehendak sendiri maupun hasil pemilihan kelompok. Proses pembelajaran diamati oleh tim guru lain yang tergabung dalam group lesson study, sedangkan guru undangan (kalau ada) juga bertugas mengamati proses pembelajaran. Tim pengamat mengkritisi kelebihan dan kekurangan yang dilakukan oleh guru model dalam kegiatan pembelajaran. (3)

(9)

dan usulan perbaikan. Hasilnya dikembangkan ke dalam RPP baru hasil diskusi tadi. (4) Tindak Lanjut. Hasil refpleksi tadi dijadikan sebagai bahan untuk perbaikan dan peningkatan proses pembelajaran. Hasilnya sangat penting sebagai bahan masukan bagi anggota LS dan bagi kepala sekolah sehingga mereka mengetahui secara pasti bagaimana kualitas pembelajaran yang dilakukan oleh para guru.

Penutup

Mengajar itu tidak sulit apabila anda memahami peserta didik dan mengetahui apa yang mereka inginkan. Guru bukanlah penguasa kelas yang tugasnya hanya mencari-cari kesalahan peserta didik. Guru adalah jadilah pelayan belajar yang tugas pokoknya membantu kesulitan belajar peserta didik.

Untuk mengakselerasi peningkatan mutu proses dan hasil belajar, perlu dikembangkan model, metode dan trik-trik pembelajaran yang lebih efektif, produktif dan bermutu.

Pembelajaran yang efektif dengan percepatan adalah pola

pembelajaran yang memanfaatkan dan mendorong tumbuhnya semangat, motovasi, disiplin dan kepercayaan diri dari para peserta didik.

Untuk meningkatkan mutu dan percepatan pembelajaran Al-Quran, guru selain dituntut menguasai materi secara baik, juga diwajibkan untuk mengembangkan metodologi mengajar yang dapat meningkatkan suasana belajar yang nyaman, menantang dan menyenangkan.

Guru harus mengajar dengan total (bukan saja berkemampuan logika, tapi juga dengan iman dan hati yang bersih) Guru tidak masuk kelas sebelum yakin anda menguasai materi dengan baik dan sebelum yakin peserta didik dapat memperoleh manfaat dengan baik. Apabila anda masuk kelas tanpa bekal yang cukup, anda hanya akan menjadi beban dan sumber masalah bagi peserta didik. Itulah kesia-siaan.

Guru harus jadi motivator yang baik bagi peserta didik, dan jadilah pendengar yang baik untuk mendengar dan mempelajari masalah,

kebutuhan, minat, kemampuan dan gaya belajar peserta didik. seringlah berdialog dan bertanya jawab dengan para peserta didik. janganlah jadi guru yang dibenci oleh mereka. Jadilah teladan yang baik yang diidolakan oleh para peserta didik.

Pahami dulu manfaat apa yang akan anda peroleh dari hasil belajar. Semakin banyak anda menemukan dan mendapatkan manfaat, semakin mudah anda memasukan informasi dan pengalaman ke dalam memori yang sesekali akan mudah dipanggil.

DAFTAR BACAAN

1. DePorter, Bobbi (1999) Quantum Learning, Kaifa, Bandung 2. Hughes, A.G (2012) Learning & Teaching. Pengantar Psikologi

Pembelajaran Modern, Nuansa, Bandung.

(10)

4. Wenger, Win (2011), Beyond Teaching & Learning. Memadukan Quantum Teaching dan Quantum Learning. Nuansa, Bandung

5. http://wegaclubban.wordpress.com/2010/07/24/melatih-otak-untuk-mempertajam-ingatan/

6. http://pkab.wordpress.com/2008/04/29/model-belajar-dan-pembelajaran-berorientasi-kompetensi-siswa/:

Referensi

Dokumen terkait

Pada aspek sintesis siswa kesulitan dalam mengkombinasikan transaksi, yaitu kesulitan dalam membedakan akun yang masuk ke kolom kertas kerja, hal ini

5 Berdasarkan ulasan diatas, maka penulis merasa tertarik untuk melakukan penelitian dengan judul “Pengaruh Kemasan Rokok dan Label Peringatan Kesehatan terhadap

Analisis individual selain digunakan untuk menentukan keperluan pelatihan dari individual tenaga kerja pada saat sekarang, juga dapat digunakan untuk mengidentifikasi

Adanya kesa- maan pola struktur lipatan dan sesar naik pada masing-masing formasi yang berbeda umur, menunjukan bahwa sistem tegasan kompresi ber- langsung pada

Sebaiknya jika dalam Laporan Hasil Pemeriksaan (LHP) Badan Pemeriksa Keuangan ini sudah menunjukkan ada gejala-gejala yang tidak sesuai dengan peraturan

Menurut penelitian Amiruddin 2009, secara umum ada tiga penyebab anemia yaitu kehilangan darah secara kronis, asupan zat besi yang tidak cukup dan penyerapan yan tidak adekuat

25 pengelolaan PBB dan BPHTB administrasi pengelolaan PBB dan BPHTB kelengkapan dokumen dan Sistem Pengelolaan PBB dan BPHTB 3 Membangun aplikasi pelayanan online yang