610
Relevansi Pendidikan Kewarganegaraan dengan Pendidikan Damai dalam membangun Warganegara Demokratis di Sekolah
Candra Cuga1 Abstrak
Relevansi pendidikan damaia (peace education) dengan pendidikan kewarganeraraan (civic education) ditinjau dari sisi urgensinya, yaitu keduanya memiliki komitmen dalam menyiapkan peserta didik menjadi warga negara yang (good and smart citizen) yang nantinya berperan sebagai agen perdamaiaan dimuka bumi dengan sikap, pengetahuan dan keterampilan yang diperlukan. Sementara secara konseptual, relevansi pendidikan damai dengan pendidikan kewarganegaraan, ditinjau dari dimensi tujuan, dimensi kurikulum, dimensi materi, dan dimensi pembelajaran, keduanya sama-sama memiliki hubungan yang berkesinambungan,yaitu menumbuhkan sikap mencegah kekerasan, menyelesaikan konflik secara damai, dan memajukan kondisi yang kondusif untuk terwujudnya perdamaiaan yang pada gilirannya membentuk warga negara demokratis.
A. Urgensi Pendidikan Damai (Peace Education)
Dalam masyarakat Indonesia, konflik yang berbau kekerasan menjadi sebuah fenomena yang akrab dijumpai oleh masayarakat. Kekerasan menjadi sebuah keniscayaan yang secara sadar atau tidak akan selalu menggerayangi dan mengahantui masyarakat. Kekerasan ada di sekitar rumah, lingkungan sekitar bahhkan di berbegai tempat, termasuk dalam lingkungan pendidikan
Fenomena kekerasan di masyarakat terus bergulir meski UU Perlindungan Anak No. 23 Tahun 2003 telah dilahirkan dan kata damai dan aman juga terus membanjir dari pendidik, tokoh masyarakat, hingga pejabat pemerintah. Dalam praktik kekerasan itu, korban paling banyak adalah anak-anak. Secara fisik dan psikis, mereka tak berdaya saat menghadapi kekerasan yang dilakukan orang dewasa. (Ariyani, F, dkk. 2010). Itu berarti anak-anak dalam dunia pendidikan tidak terlepas dari perilaku dan tindakan kekerasaan. Dalam kontek ini adalah kekerasan yang terjadi pada peserta didik di sekolah.
1 Candra C adalah Dosen Pendidikan Guru Sekolah Dasar, Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas
611
Tumpubolon dkk, dan atas kesepakatan dengan UNICEF (The United Nations Children’s Fund), melakukan screening sheet untuk mengetahui apakah seseorang peserta didik pernah menerima perlakukan kekerasan dari orangtua atau gurunya. Dalam screening sheet tersebut terindentifikasi 36 tindakan yang tergolong kekerasan pada anak, yaitu (1) dipukul/disabet; (2) dilempar dengan buku, penghapus, kapur, dll; (3) dicubit; (4) dijabak; (5) ditampar; (6) dijewer; (7) ditendang; (8) dicambuk; (9) diikat; (10) disiram air; (11) didorong; (12) dibanting; (13) dikurung di kamar mandi; (14) dicekik; (15) diinjak; (16) dijemur; (17) disuruh berdiri di depan kelas; (18) dibotakin kelapa; (19) disuruh lari; (20) diminta push up; (21) disuruh kerja (mengepel, dll); (22) dicolek; (23) dicium paksa; (24) dipeluk paksa; (25) paha dielus; (26) dada diraba; (27) disingkap roknya; (28) alat kelamin diraba/disentuh/dipegang; (29) dimarahi/diomelin; (30) dimaki/dicela; (31) dihina; (32) diusir; (33) diejek; (34) dibentak/digertak; (35) diancam; (36) disumpah. (Rianto, A. 2009: 249). Jika dikaji secara teoritis kekerasan tersebut mencakup kekerasan simbolik, kekerasan psikologis dan kekerasan fisik.
Berdasar dengan data tersebut, kekerasan yang terjadi di sekolah merupakan sebuah fenomena dimana selama ini kita beranggapan lembaga pendidikan adalah tempat untuk mencetak individu-individu yang memiliki moral dan mandiri di masa depan. Situasi kekerasan itu dapat tergambar dengan jelas, dimana tidak ada permasalahan ketika seorang guru menghukum peserta didiknya dengan cara memukul, mencubit, menampar. Hal ini dianggap sebagai satu proses pembelajaran untuk menegakkan disiplin di sekolah, tentu saja hal ini sangat jauh dari cita dan tujuan pendidikan nasional Indonesia.
612
Ada beberapa asumsi dan alasasan rasional mengenai pentingnya pendidikan bagi anak-anak (peserta didik) di sekolah dalam rangka mencegah kekerasan yang terjadi pada mereka. Adapun yang mendasari gagasan tersebut diantaranya adalah ( Fountain, S. 1999: 2-3):
a. Konvensi Hak Anak (1989), Pasal 29 menyatakan:
“...the education of the child shall be directed to...the preparation of the child
forvresponsible life in a free society, in the spirit of understanding, peace, tolerance,vequality of sexes, and friendship among all peoples...”
b. Tahun 1990, Deklarasi Dunia tentang Pendidikan untuk Semua mengatakan bahwa:
“Every person – child, youth and adult – shall be able to benefit from educational opportunities designed to meet their basic learning needs. These needs comprise both essential learning tools (such as literacy, oral expression, numeracy, and problem solving) and the basic learning content (such as knowledge, skills, values, and attitudes) required by human beings to be able to survive, to develop their full capacities, to live and work in dignity, to participate fully in development, to improve the quality of their lives, to make informed decisions,
and to continue learning …The satisfaction of these needs empowers individuals
in any society and confers upon them a responsibility to … further the cause of
social justice, … to be tolerant towards social political and religious systems
which differ from their own, ensuring that commonly accepted humanistic values and human rights are upheld, and to work for international
peace and solidarity in an interdependent world.”
c. Tahun 1990, Penelitian yang dilakukan Graça Machel tentang Dampak Konflik Bersenjata pada Anak-anak menegaskan kembali pentingnya pendidikan dalam membentuk masa depan damai :
“...Both the content and the process of education should promote peace, social justice, respect for human rights and the acceptance of responsibility. Children need to learn skills of negotiation, problem solving, critical thinking and communication that will enable them to resolve conflicts without resorting to
violence.”
d. The UNICEF ‘Anti-War Agenda’, set out in The State of the World’s Children
613
“...Disputes may be inevitable, but violence is not. To prevent continued cycles of
conflict, education must seek to promote peace and tolerance, not fuel hatred and
suspicion.”
Berdasar pada berbagai argumentasi dan rekomendasi yang tersebut, demi kelancaran amanat pendidikan yang diemban oleh sekolah, maka kelancaran proses yang terjadi di dalam sekolah menjadi fokus perhatian banyak kalangan yang mengkaji masalah manajemen sekolah. Salah satu isu yang dibawa adalah terciptanya situasi yang kondusif bagi peserta didik dalam mengembangkan potensi yang dimilikinya. Pada titik tertentu, situasi yang kondusif ini menjangkau tema mengenai kedamaian di sekolah, karena kedamaian berkaitan dengan kenyamanan dalam belajar, jaminan akan keamanan dalam beraktifitas di sekolah, kehangatan dalam berinteraksi dengan orang lain serta kebebasan dalam berkreasi dan berkarya, yang menyebabkan terpenuhinya kebutuhan psikologis peserta didik di sekolah.
Mengingat pentingnya masalah kedamaian di sekolah, pada tahun 2000 Majelis Umum PBB mengeluarkan mandat kepada UNESCO untuk menetapkan bahwa tahun 2000 sebagai tahun budaya damai internasional (International Year for the Culture of Peace) dan dekade tahun 2001 sampai 2010 sebagai dekade budaya
damai dan tanpa kekerasan (International Decade for a Culture of Peace and Non-Violence for the Children of the World). Penetapan dekade 2001 sampai 2010
sebagai dekade budaya damai anti kekerasan tersebut merupakan kelanjutan dari program berkesinambungan yang dimulai semenjak tahun 1974 mengenai Education for International Understanding, Co-operation and Peace and Education relating to
Human Rights and Fundamental Freedoms yang ditetapkan di Paris, World Plan of Action on Education for Human Rights and Democracy yang ditetapkan di Montreal pada tahun 1993, Declaration and Programme of Action of the World Conference on Human Rights yang ditetapkan di Wina pada tahun 1993, Declaration and Integrated
614
United Nations Decade for Human Rights Education yang dimulai dari 1995 sampai tahun 2005 ( M. Hadjam, NR dan Widhiarso, W. 2003).
Semenjak ditetapkan, berbagai macam program mulai dilakukan pada berbagai negara yang memusatkan pada pendekatan holistik yang menekankan pada metode partisipatif masyarakat terutama peserta didik di sekolah. Dimensi-dimensi yang dikembangkan pada program tersebut antara lain kedamaian dan anti kekerasan (peace and non-violence), hak asasi manusia (human rights), demokrasi (democracy), toleransi (tolerance), pemahaman antar bangsa dan antar budaya (international and intercultural understanding), serta pemahaman perbedaan budaya dan bahasa (cultural and linguistic diversity) ( M. Hadjam, NR dan Widhiarso, W. 2003).
Dalam kontek tersebut, pendidikan damai (peace education) menjadi urgen dalam upaya membangun budaya perdamaian yang harus ditumbuhkembangkan sebagai kebiasaan yang baik seperti nilai, sikap saling menghormati, adanya kebebasan bagi setiap orang, adanya sikap kepedulian, saling berbagi tanpa konflik. Kemudian apabila terjadi konflik harus dicari akar permasalahan dengan memperioritaskan cara-cara yang menguntungkan bagi semua. Berkaitan dengan cara-cara yang ditempuh efektif dan efesien untuk diberlakukan, yaitu bisa melalui dialog dan negosiasi antara pihak-pihak yang mengalami konflik sebagai wujud dari upaya membangun warga negara demokratis
Dalam beberapa penelitian yang telah dikembangkan oleh beberapa ahli dan akademisi telah banyak disimpulkan tentang kekuatan pendidikan damai dapat menekan dan mencegah kekerasan pada sebuah tatananan masyarakat yang memiliki keberagaman sehingga berpontensi terjadi tindakan kekerasan atau konflik, termasuk dalam literatur penelitian Internasional. Menurut International Peace Research Association (IPRA), dalam konferensi yang ke-17 di Durban, Afrika Selatan, pada tanggal 23 Juni 1998, dinyatakan bahwa pendidikan damai adalah proses memberdayakan orang dengan kecakapan, sikap dan pengetahuan (skills, attitudes, and knowledge) untuk: (1) Membangun, memelihara dan memperbaiki hubungan di
615
relationships at all levels of human interaction); (2) Mengembangkan
pendekatan-pendekatan positif terhadap cara untuk menangani konflik, dari level personal sampai tingkat internasional; (3) Menciptakan lingkungan yang aman, baik lingkungan fisik maupun emosi yang mengayomi semua individu; (4) Menciptakan sebuah dunia yang aman berdasarkan keadilan dan hak asasi manusia; (5) Membangun sebuah lingkungan yang lestari dan menjaganya dari eksploitasi dan peperangan. (Salomon, G & Cairns, E. 2010).
Studi lain yang dilakukan oleh Farida Ariyani, dkk tahun 2010, menunjukkan bahwa pengembangan pendidikan damai dan hak asasi manusia (PD-HAM) efektiv mencegah kekerasan di sekolah. Penelitian dilakukan di kota Makassar dengan mengambil sampel beberapa sekolah dasar (SD) yang menunjukkan bahwa model PD-HAM yang dikembangkan memiliki kelayakan (feasibility), ketepatan (accuracy), dan kegunaan (utility). Atau dengan kata lain model PD-HAM ini acceptable untuk digunakan secara terintegrasi pada pelajaran PKn di sekolah dasar untuk mencegah kekrasan di sekolah (Ariyani, F, dkk. 2010).
616
bangsa Indonesia dengan prinsip dan nilai kedamaian sebagai salah satu visi dari PKn dalam konteks konstitusional.
Sebagaimana visi PKn NKRI dalam landasan konstitusional adalah lahirnya manusia WNI dan kehidupan masyarakat bangsa NKRI, religius cerdas, demokratis dan lawful ness, damai-tentram-sejahtera, modern dan berkepribadian Indonesia. Dan Misi PKn adalah Program Pendidikan membelajarkan dan melatih anak didik secara demokratis-humanistic-fungsional (Djahiri, K. 2006:9-10). Visi dan Misi inilah yang menjadi arahan atau landasan kita dalam melaksanakan kegiatan belajar dan mengajar sehingga menjadi searah dan sesuai dengan arah tujuan Cita-cita NKRI baik secara idiil, maupun konstitusional.
Dengan demikian, untuk mencapai masyarakat yang damai tidak bisa dibangun secara taken for granted atau trial and error, sebaliknya harus diupayakan secara sistematis, programatis, integrated dan berkesinambungan. Salah satu strategi yang bisa dilakukan dalam konteks tersebut adalah melalui pendidikan kewarganegaraan. Pendidikan kewarganegaraan yang dimaksudkan dalam hal ini adalah pendidikan kewarganegaraan dalam arti luas (citizenship education) yang memiliki perspektif kewarganegaraan dunia abad ke-21 yang
terkenal dengan sebutan kewarganegaraan multidimensi yang salah satu cirinya memiliki karakteristik multikultural (Cogan, 1998:116).
Berdasarkan pemikiran tersebut, dapat dimaknai bahwa PKn memiliki peran yang sangat strategis dalam membentuk generasi muda sebagai warga negara yang baik. Hal tersebut senada dengan pendapat Kerr yang menyatakan bahwa:
Citizenship or civics education is construed broadly to encompass the preparation of young people for their roles and responsibilities as citizens and, in particular, the role of education (through schooling, teaching, and learning) in that preparatory process atau, “citizenship or civics education (Kerr, D. 1999:17)
617
bernegara dalam konteks Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) yang memegang perinsip Bhinneka Tungga Ika. Untuk itu, PKn memiliki peranan yang sangat penting dalam upaya mengembangkan masyarakat yang damai yang pada gilirannya dapat membentuk warga negara demokratis. Hal ini sebagaimana tertuang dalam UU Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional (Sisdiknas) secara prinsip telah termaktub di pasal (4), di mana dijelaskan bahwa
“pendidikan diselenggarakan secara demokratis, tidak diskriminatif dengan
menjunjung tinggi nilai-nilai damai, Hak Asasi Manusia (HAM), nilai-nilai
keagamaan dan kultural” (Candra, C. 2012).
Berdasarkan konsepsi tersebut, pendidikan damai di Sekolah merupakan salah satu instrument dalam konteks pendidikan nasional dalam memprogramkan secara kurikuler PKn sebagai wadah dalam membina warga negara demokratis agar menjadi baik dan cerdas sehingga dapat berperan menjadi agen perdamaiaan.
Dari pandangan-pandangan tersebut, cukup argumentatif bahwa pendidikan kewarganegaraan relevan sebagai kajian yang bersifat interdisipliner, multidisipliner bahkan transdisipliner. Oleh karena itu, mengkaji pendidikan kewarganegaraan dalam konteks tersebut merupakan suatu hal yang menantang, khususnya bagi penulis untuk mendalami dan menalaah secara lebih tajam mengenai peran pendidikan kewarganegaraan sebagai wahana pendidikan damai di sekolah yang tidak lain merupakan bagian dari komitmen akademik dan salah satu upaya untuk memperkuat jati diri dalam mewujudkan (body of knowlodge) PKn.
B. Relevansi Peace Education dengan Pendidikan Kewarganegaraan untuk membentuk Warganegara Demokratis
1. Dimensi Tujuan
618
ke arah terjadinya proses perubahan peserta didik dengan terlibat secara langsung di dalamnya yang tidak hanya sekadar diberikan materi saja, tetapi dipraktikkan secara langsung (Galtung, J. 1983: 281). Alasannya karena mereka yang akan merasakan secara langsung manfaatnya sebagai generasi muda pada masa yang akan datang melalui perdamaian.
UNESCO memberikan batasan tujuan peace education apabila dikembangkan dalam ruang kelas yang bisa diajarkan kepada peserta didik, peace education aims to develop skills, attitudes, and knowledge With cooperative and participatory learning
methods and an environment of tolerance, care, and resfect. Through dialogue and
exploration, teachers and students engage in a journey of shared learning. Tuiuan
peace education menurut UNESCO lebih mengarah pada pengembangan keterampilan, sikap, dan pengetahuan yang orientasinya pada kerja sama, metode pembelajaran partisipasi dengan lingkungan yang di dalamnya ada toleransi, kepedulian, saling menghormati, ada Tanya jawab eksplorasi, dan keterlibatan guru maupun para peseta didik dari pengalaman yang dibagi bersama. Sementara UNICEF memberikan pernyataan tentang tujuan peace education sebagai berikut, Peace education is an essential component of quality basic education that aims to build the
knowledge, skills, attitudes, and values that will enable young People to Prevent
violence, resolve conflict peacefully, and promote social conditions conductive to
peace and justice. Peace education adalah komponen penting penentu dasar mutu
pendidikan yang bertujuan untuk membangun pengetahuan, keterampilan, sikap, dan nilai-nilai yang akan memungkinkan peserta didik untuk mencegah kekerasan, menyelesaikan konfik secara damai, dan memajukan kondisi yang kondusif untuk perdamaian dan keadilan (Fountain, S. 1999).
619
Apabila mencermati dari tujuan pembelajaran pendidikan damai, maka memiliki keterkaitan dengan tujuan dari pendidikan kewarganegaraan (civic education) terutama dalam konteks membentuk warga negara demokratis dan bertanaggunjawab yang berlandaskan pada prinsip dan nilai kedamaian serta menolak akan sikap dan perilaku kekerasan dalam arti yang luas. Dilihat secara filosofis, sosio-politis dan psikopedagogis, pendidikan kewarganegaraan memegang misi suci (mission sacre) untuk pembentukan watak dan peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, dan menjadikan manusia sebagai warga negara yang demokratis dan bertanggung jawab (Winataputra, U.S. dan Budimansyah, D. 2007:156. Hal tersebut dapat ditelusuri dari rumusan pasal 3 UU No.20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional yang secara imperatif menggariskan bahwa:
Pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak dan peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis dan bertanggung jawab.
Secara khusus “Pendidikan kewarganegaraan dimaksudkan untuk
membentuk peserta didik menjadi manusia yang memiliki rasa kebangsaan dan
cinta tanah air” (Penjelasan Pasal 37 ayat (1)). Dalam konteks itu pendidikan
620
Apabila mencermati tujuan yang ingin dikembangkan dan dicapai dalam pelaksanaan pendidikan kewarganegaraan khususnya pada lingkungan sekolah maka dapat dimaknai bahwa bidang studi tersebut memiliki tujuan yang hampir sama dengan pendidikan damai yakni untuk mengembangkan dan meningkatkan kemampuan peserta didik untuk bisa hidup berdampingan dengan orang lain, karena tanpa itu , maka warga negara yang (good and smart citizen) dan atau warga negara yang demokratis dan bertanggungjawab susah untuk dicapai.
2. Dimensi Materi
Memahami peace education, tidak hanya terkait dengan perilaku kekerasan, peperangan, konflik, kriminalitas, dan seterusnya, tetapi juga terwujudnya kondisi perdamaian yang positif. Dengan demikian, peace education, akan mencakup seluruh aspek perdamaian yang dikembangkan dalam bentuk materi yang mengarahkan pada tiga aspek atau domain utama, yaitu pengetahuan, keterampilan dan sikap peserta didik melalui metode yang dinamis agar terarah dalam pengajaran di lingkungan sekolah. Pengembangan materi peace education berasal dari tujuan peace education sebagaimana dinyatakan UNESCO dan UNICEF, atau menurut pendapat para ahli dengan mengarahkan pada tiga aspek, yaitu kognitif, afektif, dan skill (Khun, D. 2008: 6). Masing-masing aspek sudah dijabarkan ke dalam berbagai bentuk materi khsusus menyangkut perdamaian. Idealnya, pengembangan peace education harus memiliki standar dalam pengajaran sehingga jelas sasaran yang akan dicapai.
antar-621
budaya, kepekaan jenis kelamin, sikap peduli dan empati, sikap rekonsiliasi dan tanpa kekerasan, tanggungjawab social, solidaritas, resolusi berwawasan global. Aspek skill meliputi komunikasi, kegiatan reflektif dan pendengaran aktif, bekerjasama, empati, berpikir kritis, dan kemampuan memecahkan masalah, apresiasi artistic dan estetika, kemampuan menegahi sengketa dan negosiasi dan resolusi konflik, sikap sabar dan pengendalian diri penuh imajinasi, kepemimpinan ideal dan memiliki visi (Loreta, N & Jasmin, N, 2008: 25).
Mencermati materi yang dimuat dan dikembangkan dalam pembelajaran pendidikan damai (peace education) tentu memiliki relevansi terhadap materi dan nilai yang ada pada pembelajaran pendidikan kewarganegaraan. Hal ini dapat dilihat pada kompetensi yang dikembangkan melalui kompetensi kewarganegaraan yang terdiri dari civic knowlodge, civic disposition and civic skill yang juga berkait dengan konsep kompetensi peserta didik dalam pembelajaran pendidikan damai yang dibagi ke dalam tiga ranah yakni kognitif, afektif dan psikomotorik.
Sebagaimana dalam tujuan dan misi suci dari pelaksanaan pendidikan kewarganegaraan yakni membentuk warga negara yang cerdas dan baik (good and smart citizen) serta membentuk warga negara yang demokratis dan bertanggung jawab maka tentu saja harus di barengi dengan berbagai nilai yang ada, termasuk pada nilai dan materi yang ada pada pendidikan damai itu sendiri.
622
kewarganegaraan dalam perspektif sosio cultural dan kurikuler merupakan salah satu bidang kajian yang sangat strategis dan relevan untuk mewadahi pelaksanaan dan pengembangan pendidikan damai di Indonesia.
3. Dimensi Pembelajaran
Mengajarkan perdamaian di sekolah atau perguruan tinggi kepada peserta didik/mahasiswa merupakan proses belajar yang menyenangkan. Guru atau dosen mengajarkan tentang masalah-masalah kekerasan dan alternatif pemecahan. Empat prinsip pokok dalam pengajaran peace education, yaitu 1) holistik/ menyeluruh; 2) dialog; 3) pemikiran lritis; 4) membentuk nilai-nilai perdamaian. Harris dalam tulisannya mengungkapkan peace educaton teach about problems of violence and alternatives to violence. Pendidik perdamaian mengajarkan tentang masalah
kekerasan dan alternative terhadap kekerasan, atau dengan bahasa yang lain, lebih jelasnya, peace education; memberikan pengetahuan tentang masalah kekerasan dan suategi untuk perdamaian, peace education; providing knowledge about prolems of violence and strategies for peace (Harris, I.M. 2004).
623
Selain itu, melalui dialog, akan terbangun suasana demokratis dan membuka kemungkinan semua pihak untuk berpartisipasi aktif dalam proses pembelajaran. Pengajaran peace education mendorong pemikiran kritis, artinya peace education dirancang untuk mendorong pemikiran kritis dari peserta didik, yang nantinya diharapkan akan memunculkan komitmen dari mereka untuk berperan dalam membangun budaya damai. Komitmen itu bisa saja pada tingkat personal, tetapi juga dapat mencakup pada lingkungan yang lebih luas. Pengajaran peace education membentuk nilai-nilai perdamaian artinya bahwa akhir pengajaran peace education diharapkan akan menghasilkan budaya damai yang mungkin digali dari budaya lokal, dan dapat pula merupakan bentukan baru yang merupakan konsensus bersama. (Saleh, I.N. 2012).
Jadi apabila mengembangkan pembelajaran peace education di sekolah, kapasitas pembelajarannya harus disesuaikan dengan situasi dan kondisi sekolah atau perguruan tinggi, seperti variasi tempat pendidikan, komunitas sekolah, kurikulum formal atau nonformal sekaligus juga kultur budaya yang mengarah pada budaya damai. Proses pembelajaran peace education akan memerhatikan peserta didik, pendidik, materi, dan model pengajaran. Menerapkan model pengajaran peace education memerlukan pengelolaan kelas, interaksi belajar mengajar, menyampaikan
materi dan metode dengan pendekatan humanistik. Alasannya agar guru dengan peserta didik dapat melakukan komunikasi multi-arah sehingga tercipta suasana demokratis di dalam kelas, dan tidak didominasi oleh peran guru/dosen secara berlebihan.
Mencermati pembelajaran yang dikembangkan pada peace education maka tentu berkait dengan prinsip pembelajaran PKn yang menginginkan ruang kelas sebagai “democratic laboratory” lingkungan sekolah/ kampus sebagai micro cosmos of democracy”, yang memungkinkan siswa dapat belajar demokrasi dalam situasi berdemokrasi, dan untuk tujuan melatih diri sebagai warganegara yang demokratis
624
menjadikan sekolah sebagai lingkungan demokratis dengan melibatkan siswa dalam kegiatan masyarakat. Selain itu pendidikan yang bersifat demokratis tidak cukup hanya melalui mengajar demokrasi (teaching democracy) akan tetapi lebih menekankan pada penerapan cara hidup berdemokrasi (doing democracy) sebagai modus penting dalam pembelajaran PKn. (Wahab, A dan Sapriya, 2011)
Jadi pembelajaran pendidikan kewarganegaraan haruslah bersifat multidimensional yang memungkinkan para peserta didik dapat mengembangkan dan menggunakan seluruh potensinya sebagai individu dan warganegara dalam masyarakat bangsa-negara yang demokratis.
Kesimpulan
Mencermati ulasan yang dikembangkan sebelumnya dapat dimaknai bahwa relevansi peace education dengan pendidikan kewarganeraraan ditinjau dari sisi historitas atau urgensinya, yaitu keduanya memiliki komitmen dalam menyiapkan peserta didik menjadi warga negara yang (good and smart citizen) yang nantinya berperan sebagai agen perdamaiaan dimuka bumi dengan keterampilan yang diperlukan dan pengetahuan serta sikap yang dicontohkan para pendiri bangsa Indonesia (Faunding Father and Mather Indonesia bagaimana mereka mengelola konflik untuk menciptakan kehidupan masyarakat yang menjunjung tinggi perdamaian. Sementara secara konseptual, relevansi peace education dengan pendidikan kewarganegaraan, ditinjau dari dimensi dimensi tujuan, dimensi kurikulum, dimensi materi, dan dimensi pengajaran, keduanya sama-sama memiliki hubungan yang berkesinambungan,yaitu menumbuhkan sikap mencegah kekerasan, menyelesaikan konflik secara damai, dan memajukan kondisi yang kondusif untuk terwujudnya perdamaiaan yang pada gilirannya membentuk warga negara demokratis.
Daftar Pustaka
625
Candra, C. (2012). Pendikan Kewarganegaraan sebagai Wahana Pendidikan Multikultural dalam Membagun Warga Negara Demokratis (Penelitian Grounded Theory di Universitas Negeri Jakarta). Tesis. SPS UPI: tidak diterbitkan.
Cogan (1998). Developing the Civic Society: The Role of Civic Education. Bandung: CICED.
Djahiri, K. (2006), Esensi Pendidikan Nilai Moral Dan Era PKN di Era Globalisasi dalam Pendidikan Nilai Moral Dalam Dimensi Pendidikan Kewarganegaraan, Bandung : Laboratorium Pendidikan Kewarganegaran (PKn) FIPS - UPI
Fountain, S. (1999). Peace Education in UNICEF (New York: UNICEF).
Galtung, J. (1983). Peace Education: Learning to Hate War, Love Peace, and to Do Something About It. Prancis: UNESCO Institute for Education.
Galtung, J. (2003). Studi Perdamaian: Perdamain dan Konflik, Pembangunan dan Peradaban, terj. Asnawi & Safruddin. Surabaya: Pustaka Eureka.
Ian M Harris, (2004). Comment: Peace Educatiors Teach Strategies for Peace," Dalam Journial of Peace Education, Vol. 1, No. 2, September 2004, (Francis: Canfax Publishing.
Kerr, D. (1999). Citezenship Education: an Inernational Comparison, london: National Foundation For Education Research-NFER.
Khun, D. (2008). Education for Thinking, (United State Of Amerika: Harvard University Press.
Loreta, N & Jasmin, N. (2008). Peace Education; A Pathway to A Culture of Peace. Philippines: Center For Peace Education.
M. Hadjam, NR & Widhiarso, W. (2003). Budaya Damai Anti Kekerasan (Peace And Anti Violence). Direktorat Jenderal Pendidikan Menengah Umum.
Rianto, A. (2009). Kekerasan dalam Pendidikan; Sebuah survey atas Praktek Pendidikan di Flores NTT, dalam jurnal Etika Sosial, Pusat Pengembangan Etika UNIKA Atma Jaya, Jakarta Selatan, Volume 14-Nomor 2.
Saleh, I, N. (2012). Peace Education (Kajian Sejarah, Konsep, dan Relevansinya dengan Pendidikan Islam. Jokjakarta: Ar-ruzzmedia.
Salomon, G & Cairns, E (edit.), (2010). Handboook on Peace Education. Psychology Press, Taylor & Francis, New York
UNESCO, (1998). Learning To Live Together in Peace and Harmony (Bangkok UNESCO PROAP
Wahab, A & Sapriya. (2011). Teori dan Landasan Pendidikan Kewarganegaraan. Bandung: Alfabeta.