• Tidak ada hasil yang ditemukan

Kepemimpinan Presiden dan Abdurrahman Wahid

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "Kepemimpinan Presiden dan Abdurrahman Wahid"

Copied!
9
0
0

Teks penuh

(1)

IBNU TSANI ROSYADA 071211331008

ABDURRAHMAN WAHID AD-DAKHIL

KH. Abdurrahman Wahid atau lebih dikenal dengan Gus Dur Dengan segala ide-ide yang menurut sebagian orang controversial yang menjadi ciri khasnya, sikap-sikapnya yang tidak dapat diduga, serta model kepemimpinan super ekstraordinary, Gus Dur memimpin negari ini dari 1999 sampai 2001 sebelum akhirnya harus lengser oleh persekongkolan para politisi haus akan kekuasaan. Walaupun memerintah hanya dalam waktu yang sangat singkat, Gus Dur telah melakukan perubahan besar dengan mengantarkan negeri ini menjadi salah negara kampium demokrasi dunia. Gus Dur telah berhasil menghindarkan Indonesia dari konflik berkepanjangan yang disebabkan oleh fanatisme agama, etnis, dan golongan.

Sebelum menjadi presiden, Gus Dur adalah seorang yang gigih dalam memperjuangkan demokrasi dan menentang pemerintahan otoriter Orde Baru. Dialah sang pemimpin Islam progresif yang secara gigih mengkontekstualisasikan nilai-nilai demokrasi Islam di Indonesia. Ketika menjadi ketua Nahdlatul Ulama (NU), Gus Dur banyak membuat gebrakan dengan mengubah image NU dari organisasi tradisional menjadi organisasi modern dan progresif.

Setelah turun dari jabatan presiden, Gus Dur masih tetap aktif dalam banyak organisasi internasional dan aktifitas lain dalam dunia internasional. Beliau pernah menjadi pimpinan dari The World Conference on Religion dan Peace (WCRP) yang berpusat di New York (1994-1998). Setelah turun dari jabatan Presiden Indonesia (1999-2001), beliau menjadi ketua Association of Moslem Community Leaders (AMCL), New York (2002). Belau juga menjadi presiden kehormatan The International Christian Organization for Reconciliation and Reconstruction (IICORR) yang bermarkas di London, Inggris. Selain itu, Gus Dur juga menjadi anggota dari International Advisory Board of the International and Inter-religious Federation for World Peace (IIFWP), New York, USA. Ia juga bagian dari International Board of International Strategic Dialogue Center, Netanya University, bersama dengan Mikhail Gorbachev, Ehud Barak and Carl Bildt (Bahar 1999). Sebagian besar aktifitas Gus Dur adalah berhubungan dengan isu-isu kemanusiaan, perdamaian, pluarlisme dan hak asasi manusia. Sebagai seorang kepala negara, ketua NU, dan juga ketua dari beberapa organisasi internasional, karakter kepemimipinan Gus Dur unik dan susah untuk didefinisikan.

(2)

berhasil mendesakralisasi istana dengan mengajak para kyai tradisional, seniman, dan rakyat bertandang ke istana dengan menggunakan sandal jepit dan kain sarung.

Gus Dur Pemimpin Sederhana dan Berkarakter

Gus Dur telah mengajarkan bangsa Indonesia mengenai banyak hal terkait mulai hubungan agama (Islam) dengan negara, toleransi antarumat beragama hingga persamaan hak sebagai warga negara. Selain itu, Gus Dur juga mengajarkan pentingnya menghargai perbedaan pendapat, menghilangkan diskriminasi berdasarkan ras dan agama serta mewujudkan kemandirian bangsa dalam arti luas. Semasa hidupnya Gusdur banyak memberikan nilai-nilai inspirasi kepemimpinan.

Rendah Hati

Ilmu pertama yang kita dapatkan dari seorang Gus Dur adalah kerendahan hati. Gus Dur adalah seorang keturunan darah biru (ningrat). Ayahnya, KH. Wahid Hasyim adalah putera KH. Hasyim Asy’ari, pendiri Ormas NU dan Pesantren Tebu Ireng Jombang. Namun, Gus Dur tidak pernah sombong dengan hal itu. Ketokohan dan kepopuleran Gus Dur bukan karena ia sudah terlahir sebagai cucu tokoh besar Indonesia, namun karena proses yang begitu panjang dalam hidupnya. Karakternya sebagai pemimpin yang rendah hati sudah terbentuk sejak ia masuk Pesantren Tambakberas, Jombang tahun 1956. Bersama santri-santri lainnnya, ia mengalami hal yang sama dalam proses belajar, tidak ada perbedaan. Hal itulah yang Gus Dur bawa kemanapun dan mudah diterima oleh siapa saja. Pemimpin yang memimpin dengan kerendahan hati, mulia perjuangannya.

Kesederhanaan

Barangkali diantara semua presiden Indonesia, hanya Gus Dur yang berani mengubah gaya formal dan kekakuan Istana Negara menjadi “istana rakyat”. Wartawan maupun masyarakat mendapatkan akses mudah, hubungan mencair dan penuh goyonan. Sandal jepit, sarung ataukah yang selama ini “diharamkan “ di Istana Negara tidak menjadi persoalan. Nuansa kesederhanaan semasa di pesantren seakan pindah ke Istana Negara. Gaya berpakaian Gus Dur tidak seelok dan perlente Soekarno. Cukup kopiah dan pakaian sederhana. Kita semua masih ingat, ketika Gus Dur digulingkan kekuasaannya secara inkonstitusional oleh DPR-RI tahun 2001, Gus Dur meninggalkan Istana Negara hanya menggunakan kaos, celana pendek dan sandal. Inilah gaya kepemimpinan Gus Dur, sederhana namun bersahaja dan bijaksana. Memimpin dalam kesederhanaan adalah hal biasa namun kaya makna

Humanis

(3)

berangkat dari nilai-nilai Islam yang paling dalam. Tetapi, humanismenya itu melintasi agama, etnis, teritorial dan negara.” Tidak mengherankan jika Gus Dur mendapatkan banyak penghargaan dalam bidang perdamaian seperti, Doktor Honoris Causa Bidang Perdamaian dari Soka University, Jepang (2003), Global Tolerance Award dari Friends of the United Nations, New York (2003) dan World Peace Prize Award dari World Peace Prize Awarding Council (WPPAC), Seoul, Korea Selatan (2003). Dengan gayanya yang humanis, Gus Dur tahu apa yang menjadi kebutuhan masyarakat . Gus Dur berbicara di Masjid, Gereja dan tempat-tempat ibadah lainnya, bukan atas nama agama, tetapi atas dasar prinsip kemanusiaan , bahwa manusia diciptakan untuk saling menghargai dan melindungi satu dengan yang lainnya. Inilah karakter pemimpin Indonesia yang saat ini sangat dibutuhkan,pendekatan secara humanis kepada rakyatnya bukan kekuasaan semata. Yang dipimpin adalah manusia maka selayaknya pemimpin juga mengedepankan nilai-nilai kemanusiaan

Humoris

Inilah gaya kepemimpinan Gus Dur yang sangat khas, humoris dan penuh guyonan-guyonan segar. Dengan pendekatan yang humoris inilah seakan tidak ada jarak antara lawan atau kawan. Guyonan-guyonan Gus Dur memecah kebuntuan dalam setiap persoalan. Namun yang perlu diingat, guyonan dan sikap humoris Gus Dur sarat makna dan mengandung nilai-nilai kritik serta edukatif. Mungkin inilah cara Gus Dur menyampaikan sebuah pesan dalam bentuk guyonan-guyonannya. Ucapan Gus Dur, “gitu aja kok repot,” menjadi karakteristik tersendiri. Dalam suatu pertemuan dengan Fidel Castro, presiden Cuba, Gus Dur mengatakan bahwa Indonesia mempunyai empat presiden yang semuanya “gila”. Presiden pertama (Soekarno), gila perempuan; Presiden kedua (Soeharto), gila harta; Presiden ketiga (Habibie), gila teknologi; dan Presiden keempat (Gus Dur) membuat orang jadi gila. Mendengar penjelasan Gus Dur, Fidel Castro tertawa terbahak-bahak. Dalam kesempatan lain, Gus Dur sering mengatakan, Indonesia telah mempunyai empat orang presiden yang mempunyai kelebihan tersendiri. Soekarno adalah Negarawan, Soeharto adalah Hartawan, Habibie adalah ilmuwan dan Gus Dur adalah wisatawan. Maksudnya wisatawan karena Gus Dur meskipun dalam jangka waktu relatif singkat menjadi presiden namun dapat mengunjungi banyak negara untuk tugas-tugas diplomasi kenegaraan. Suatu ketika, Gus Dur pernah mengeluarkan “joke” segar namun penuh kritik, bahwa di Indonesia hanya terdapat tiga polisi yang jujur. Pertama, (alm) Jenderal Hugeng, kedua, polisi tidur, ketiga, patung polisi. Inilah yang harus diteladani jika mau menjadi pemimpin seperti Gus Dur, Humanis yang humoris. Memimpin dengan humoris bagaikan setitik embun di padang gersang

Visioner

(4)

Dur mengandung nilai kostrukstif, demokrasi, penegakkan hak asasi manusia dan perdamaian. Di era Gus Dur, ia berhasil memisahkan Kepolisian daari ABRI (sekarang TNI). Pada tanggal 26 Oktober 1999, ia membubarkan Departemen Sosial dan Departemen Penerangan yang selama masa Orde Baru menjadi kekuatan Soeharto. Tanggal 17 Januari 2000, menerbitkan Keppres No. 6 Tahun 2000 tentang Pencabutan Instruksi Presiden Nomor 14 tahun 1967 tentang Agama, Kepercayaan dan Adat Istiadat China. Inilah cikal bakal hari raya Imlek dijadikan sebagai hari libur nasional. Selanjutnya pada tanggal 14 Maret 2000, mengusulkan pencabutan Tap MPRS No. XXV/1996 tentang pelarangan penyebaran marxisme, komunisme dan leninisme. Dalam hal ini banyak orang mengatakan bahwa Gus Dur cenderung melakukan pembelaan kepada eks PKI. Jika ditelan mentah-mentah memang akan demikian namun sebenarnya itu meruoakan upaya Gus Dur untuk menciptakan rekkonsiliasi di negeri ini. Tugas negara adalah melindungi segenap bangsa Indonesia dan tumpah darah Indonesia dan eks PKI merupakan bagian dari bangsa Indonesia yang harus dilindungi.

Pemimpin sekarang harus belajar dari visioner gaya Gus Dur, keputusan yang diambil bukan karena kepentingan elit politik, pribadi ataukah kekuasaan semata. Apayang Gus Dur lakukan untuk kemajuan bangsa. Baginya, keturunan Tionghoa adalah warga negara yang mempunyai hak sama serta banyak mengambil peran dalam perjuangan kemerdekaan Indonesia. Mantan tahanan politik adalah manusia yang berhak memperoleh hak hidup layaknya manusia biasa, tidak lagi didiskriminasikan. Untuk kaum minoritas inilah, Gus Dur berani melakukan terobosan dan pemikiran yang jauh kedepan dalam bingkai kesatuan negara Indonesia. Pemimpin harus mempunyai visi kedepan yang dapat dipertanggungjawabkan tentang apa yang dipimpinnya.

Sabar dan Memaafkan

(5)

Bukan pemimpin transaksional

Mungkin hal inilah yang menjadi salah satu alasan dibalik pemakzulan Presiden Abdurrahman wahid, cabinet persatuan nasional pertama banyak dihasilkan dari kompromi-kompromi politik yang kemudian disingkirkan satu persatu oleh Gus Dur, bahkan pada akhir kepemimpinan Gus Dur hamper 75% Departemen (sekarang kementrian) merupakan orang-orang dari kalangan professional. Hal inilah kemudian yang memicu orang-orang-orang-orang dari partai pengusung Gus Dur kecewa, selain itu Presiden juga mengganti pimpinan-pimpinan di TNI yang dianggap warisan orde baru. Ketika hari-hari menjelang lengsernya preside nada sekelompok orang dari kalangan partai politik di DPR yang berjanji akan mempertahankan posisi presiden dengan syarat, presiden harus mengganti komposisi cabinet persatuan nasional dengan komposisi yang mereka tentukan namun Presiden menolak denagn lantang beliau menjawab “lebih baik lengser daripada harus menjual konstitusi, pancasila dan konstitusi bukan tempat untuk jual beli jabatan” ujar presiden. (sumber: Mahfud MD, ketika pidato di haul Gus Dur tahun 2012, beliau juga bersama presiden ketika bertemu orang-orang parpol di DPR).

Tipologi kepemimpinan Abdurrahman Wahid Pribadi yang kuat, tegas, namun fleksibel

(6)

Dalam kaitannya dengan kepemimpinan demokratis. Dipercaya bahwa tidak ada satupun pendapat yang lebih baik dari yang lain, sampai suatu pendapat itu terbukti dapat terlaksana dengan lebih baik dari yang lain. Namun demikian, dalam demokrasi kita mengenal prinsip siapa saja yang akan terkena suatu kewajiban, mempunyai hak untuk berpartisipasi dalam membuatnya. Jadi claim bahwa suatu golongan lebih berhak bersuara tentang penyelenggaraan sistem persekolahan, adalah tidak sesuai dengan prinsip demokrasi. Masih lagi, apapun pendapat yang siterima, masih perlu diuji dalam praktik kita tidak akan mempertahankan pendapat yang ternyata gagal dalam praktik. Dalam praktik demokrasi di Indonesia khususnya, adalah wajar jika pemimpin untuk mendelegasikan pekerjaan atau tugas-tugas tertentu. Dalam hal ini pimpinan diharap dapat bertanggung jawab dan sekaligus kompeten. Pimpinan dalam melakukan tugasnya, tidak perlu mencari nasihat dari orang lain dalam pembuatan keputusan (kecuali hal itu memang telah ditentukan sebelumnya oleh aturan yang ada). Tidak perlu mencari nasihat mungkin dapat menimbulkan kesan adanya kepemimpinan yang tidak bijaksana, tapi kepemimpinan yang demikian itu sendiri tidak perlu berarti tidak demokratis, tidak ada konflik disini dengan kewajiban pimpinan menghargai hak-hak demokrasi yang bersifat pribadi dari orang lain; partisipasi dalam pembuatan keputusan bukanlah suatu hak pribadi, melainkan hak yang terkait dengan kedudukan seseorang. Contohnya, Presiden RI tidak perlu berkonsultasi dengan tiap warganegara untuk menyatakan negara dalam keadaan bahaya, tapi menyatakan keadaan bahaya tersebut atas dasar aturan yang telah ada (yang mungkin telah dibuat oleh wakil-wakil dari pada warganegara tersebut secara demokratis). Sementara itu tiap orang memiliki hak asasi atau pribadi yang dijamin dengan Undang-Undang Dasar. Seorang pemimpin yang demokratis tidak akanmelanggar hak-hak tersebut jika sampai ia melanggarnya, maka ia akan dipaksa untuk memperbaiki cara-cara yang telah tidak sesuai itu, atau ia akan mendapati dirinya didepak dari posisi kepemimpinannya. Apabila hak-hak pribadi itu tidak dipersoalkan, maka kriterianya adalah adanya pemerintahan atas dasar perwakilan. Prinsipnya sama, yaitu kelompok yang mengawasi adalah kelompok yang terkena akibat, tetapi mekanismenya saja yang berbeda. Bila suatu kelompok secara bebas/demokratis mendelegasikan hak mengontrolnya kepada seorang representatif, maka representatif itu sesungguhnya adalah kelompok yang ia wakili itu sendiri.

(7)

beliau otoriter namun karena kekuatanya dalam mempertahankan pendapatnya selain itu karakter kepemimpinan pesantren telah melekat pada diri beliau. para pengikutnya tetap setia kepadanya. Contohnya adalah pembentukan Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) yang secara struktural terpisah dari NU, namun secara kultural para pengikut cenderung mengikuti kemanapun Gus Dur melangkah. Padahal notabene pengikut PKB adalah pengikut NU dan simpatisan Gus Dur. Menginsipirasi

Gus Dur secara inspirasional menunjukan kualitas personal yang mempesona (attractiveness personal) yang dicirikan dengan sifat proaktif, kolaboratif, humanis, berjiwa avant-garde yang kesemuanya diorientasikan pada konsep keteladanan (al-uswat al-hasanah). Artikulasi Jawa tentang Gus Dur sebagai pemahaman “digugu lan ditiru” menjadi faktor determinan bagi tampilnya peran kepemimpinan yang membangkitkan semangat dan menjadi inspirasi (Inspirational leadership). Setidak-tidaknya seorang pemimpin yang inspiratif senantiasa memiliki gagasan-gagasan brilian, kreatif, inovatif yang mampu mencari jalan keluar bagi semua permasalahan bangsa. Dalam banyak kasus, gaya kepemimpinan Gus Dur cenderung nyleneh. Di tengah-tengah orang mensakralkan lembaga kepresidenan, Gus Dur malah sebaliknva. Istana Presiden yang semula terkesan tertutup dan formal, diubahnya menjadi “istana rakyat” dengan mengadakan open house bagi semua masyarakat, tidak peduli rakyat atau pejabat.

(8)

otokratik bahkan bisa sangat kharismatik. Dengan demikian, kelebihan dari gaya kepemimpinan Gus Dur adalah konsistensinya pada perjuangan membela hak-hak kaum minoritas dan demokrasi dan penghargaannya yang tinggi terhadap perbedaan Sikap kontroverialnya justru bisa dijadikan pelajaran berharga dalam Mendewasakan anak bangsa untuk tidak gampang kaget dengan sesuatu yang berbeda. Kekurangan gaya kepemimpinan ala Gus Dur bisa menimbulkan krisis kewibawaan seorang pemimpin karena ada kesan otoriter dan pernimpin tidak bekerja dengan standar- standar norma yang jelas. Keunikannya (baca: nyeleneh) dalam menentang arus pada umumnya: ancaman disintegrasi P. Madura) memberi kesan pemimpin tidak bisa mengendalikan diri dengan baik. Gaya kepemimpinan seseorang tidak bersifat “fixed”. Artinya, gaya kepemimpinan seseorang bisa berubah dari tipe dasarnya bila situasi menuntutnya demikian, meskipun perubahan itu kadang bersifat sementara. Gaya kepemimpinan Gus Dur diwarnai oleh gaya dan tipe khansmatik, demoktaris, dan pada situasi tertentu bergaya otokratis.

(9)

Terakhir, Gus Dur adalah sosok yang gigih dalam membela dan memperjuangkan demokrasi, humanisme dan anti kekerasan. Gus Dur bekerja menjaga kebebasan manusia dengan melindungi kaum minoritas dan berbicara untuk yang tertindas. Gus Dur Mendorong kaum perempuan untuk bertindak, membela kaum lemah dan berjuang untuk perdamaian. Beliau membangun identitas nasional dengan menjalin solidaritas di antara berbagai golongan yang berbeda. Selamat jalan Gus Dur, kami akan selalu mengenangmu dan mengikuti jejak teladanmu. DAFTAR PUSTAKA

Barton, greg. Biografi abdurahman wahid.

Ali, said. Gus dur bertutur. Harian proaksi. 2005. jakarta

http.kompas.com/ Gusdurologi , Ilmu Kepemimpinan ala Gus Dur http.islamib.com/mencari pengganti gusdur

Referensi

Dokumen terkait

Dua Kelinci dalam suatu perusahaan pasti ada suatu masalah, seperti halnya kepemimpinan yang kurang baik dapat menimbulkan persepsi karyawan yang tidak baik dan

Bahwa Kepemimpinan Paternalistik berupa menganggap bawahan sebagai manusia yang tidak atau belum dewasa atau anak sendiri yang perlu dikembangkan, bersikap terlalu melindungi

kepemimpinan yang tidak baik dalam sekolah, akan memberikan pengaruh yang buruk terhadap proses pembelajaran itu sendiri, kepemimpinan kepala sekolah menjadi

Karena gaya pemimpin ini kelihatannya baik sekali terhadap karyawan, maka lebih baik gaya ,"kepemimpinan"ini tidak disarankan digunakan sendiri karena dikhawatirkan

Abdurrahman Wahid, seperti dikemukakan oleh Douglas Ramage, sebuah negara Islam tidak perlu ada di negeri ini, yang harus diperjuangkan oleh umat dalam politik adalah sebuah

Susunan indeks yang baik adalah mampu menyelamatkan buku, dalam arti pembaca tidak perlu membaca secara keseluruhan dari setiap halaman, tetapi hanya cukup dengan mencari

Di sini perlu dipahami setiap orang mungkin memiliki gabungan dari kepemimpinan, sebagai contoh: tipe narsisistik dan tipe kompulsif, lihatlah angka hasil test tersebut dan kita dapat

Akan tetapi perlu diingat jika kepemimpinan tidak dapat dianggap berhasil dan tidak penting dalam konteks organisasi jika hasil yang diperoleh tidak sesuai dengan tujuan bersama Koech &