WACANA PEMIDANAAN PELAKU NIKAH SIRI MENU

Teks penuh

(1)

Deliberatif Vol 1, No 1, Juni 2017 107

WACANA PEMIDANAAN PELAKU NIKAH SIRI

MENURUT KAJIAN HUKUM ISLAM

Zulham Wahyudani

Fakultas Hukum

Universitas Sains Cut Nyak Dhien Email: zoelham679@yahoo.com

Abstract: There are some different opinions about the discourse of Nikah Siri criminalization that due to Nikah Siri is official and valid under Islamic jurisprudence. However, it is seen as unregistered marriage under Indonesia governmental law and has caused many problems for people who are engaged with it. This research aims to find out the fundamental problems and the perspectives of religious law towards criminalization of the perpetrators Nikah Siri. In order to answer the problems, the researcher collects the literature reviews based on primary and secondary data. Both data is analyzed by descriptive method. According to the results, the government can criminalize the

perpetrators of Nikah Siri by jarimah ta‟zir. It is done to prevent the practice that will impact for other

people. This prevention is called by saddudz az-zari‟ah. Keywords: Nikah siri, Islamic jurisprudence, Ta‟zir

Abstrak: Wacana pemidanaan pelaku nikah siri terdapat perbedaan pendapat karena Nikah siri sah dan halal secara hukum Islam, akan tetapi nikah siri menurut UU perkawinan di Indonesia adalah illegal dan banyak menimbulkan masalah dan kemudharatan bagi pelaku nikah siri. Penelitian ini bertujuan untuk mencari jawaban dari persoalan pokok, pandangan hukum Islam terhadap wacana pemidanaan pelaku nikah siri. Untuk memperoleh jawaban tersebut peneliti menggunakan kajian kepustakaan dengan data primer dan data sekunder. Kedua data tersebut dianalisis dengan mengunakan metode deskriptif. Berdasarkan kajian yang dilakukan, ditemukan pemerintah dapat memidanakan pelaku nikah siri dengan jarimah ta‟zir. Dengan pertimbangan memidanakan pelaku nikah siri untuk mencegah terjadinya perbuatan yang merugikan orang lain. Upaya pencegahan tersebut disebut saddudz az-zari‟ah.

Kata kunci: nikah siri, hukum islam, Ta‟zir

Pendahuluan

(2)

Deliberatif Vol 1, No 1, Juni 2017 108 Syarat saksi nikah adalah minimal dua orang laki-laki, hadir dalam ijab Kabul, dapat mengerti maksud akad, Islam, dan dewasa. Syarat ijab qabul adalah adanya peryataan mengawinkan dari wali, adanya pernyataan penerimaan dari calon mempelai, memakai kata-kata nikah, antara ijab dan qabul bersambungan dan jelas maksudnya, tidak sedang ihram haji dan umrah, dan majlis ijab dan qabul itu harus dihadiri minimum empat orang.1 Sedangkan menurut Undang-Undang No 1 Tahun 1974

tentang perkawinan pasal 2 ayat 2 “tiap-tiap perkawinan dicatat menurut peraturan perundang-undangan yang berlaku”. Jadi selain memenuhi rukun dan syarat

perkawinan, Pernikahan haruslah dicatat petugas nikah, jika pernikahan memenuhi kedua aturan itu, maka pernikahan itu disebut legalwedding, jika sebaliknya disebut

illegal wedding

Nikah siri termasuk dalam illegal wedding karena nikah siri yang telah memenuhi rukun dan syarat yang ditetapkan dalam hukum Islam, namun tanpa pencatatan resmi di instansi berwenang sebagaimana diatur oleh peraturan perundang-undangangan yang berlaku. Di samping itu nikah siri juga menambah daftar praktik diskriminasi yang dilakukan laki-laki (suami) terhadap hak-hak perempuan. Pihak perempuan sering mendapat perlakuan kekerasan dalam rumah tangga (KDRT) akibat pernikahan secara siri ini. Tidak hanya itu, anak-anak juga menjadi korban pernikahan siri yang tidak bertanggung jawab2. Sehingga nikah siri menjadi praktik pernikahan yang melanggengkan penindasan terhadap hak-hak perempuan.

Adapun langkah pemerintah untuk menjawab persoalan ini dengan Draf Rancangan Undang-Undang (RUU) tentang Hukum Materiil Peradilan Agama Bidang Perkawinan yang masuk dalam daftar Program Legislasi Nasional (Prolegnas) tahun 2010-2013. Beberapa isi draft RUU tersebut adalah3:

1

Ahmad Rafiq, Hukum Islam di Indonesia, (Jakarta: PT. Raja Grafido Persada, 2003), 72.

2

Asghar Ali Engneer, Hak-hak Perempuan dalam Islam, (Yogyakarta: Bentang, 1994), 151.

3

(3)

Deliberatif Vol 1, No 1, Juni 2017 109 1. Pasal 142 ayat 3 menyebutkan, calon suami yang berkewarganegaraan asing harus

membayar uang jaminan kepada calon istri melalui bank syariah sebesar Rp 500 juta.

2. Pasal 143, setiap orang yang dengan sengaja melangsungkan perkawinan tidak di hadapan pejabat pencatat nikah dipidana dengan ancaman hukuman bervariasi. Mulai dari enam bulan hingga tiga tahun dan denda mulai dari Rp 6 juta hingga Rp 12 juta. Selain kawin siri, draf RUU juga menyinggung kawin mut‟ah atau kawin kontrak.

3. Pasal 144, setiap orang yang melakukan perkawinan mut‟ah dihukum penjara selama-lamanya 3 tahun dan perkawinannya batal karena hukum. RUU itu juga mengatur soal perkawinan campur (antara dua orang yang berbeda kewarganegaraan).

Wacana pemerintah untuk memidanakan pelaku nikah siri dengan mengundang-undangkan pernikahan siri tersebut memancing perdebatan antara yang setuju dan ada pula yang menolak aturan tersebut. Pihak yang setuju dengan wacana ini dengan melihat dari perspektif perempuan sebagai korban, dan terlepas dari perdebatan soal sah tidaknya nikah siri dalam agama tersebut kiranya bisa memberi kemaslahatan bagi masyarakat, mereka mendukung adanya sanksi bagi pelaku nikah siri dalam RUU itu.

Bahkan dalam Undang-Undang No 1 tahun 1974 tentang perkawinan pasal 2 ayat 2, Nikah Siri tidak lengkapnya suatu perbuatan hukum karena tidak tercatat secara resmi dalam catatan resmi pemerintah. Demikian juga anak yang lahir dari pernikahan siri ini, dianggap tidak dapat dilegalisasi oleh Negara melalui akte kelahiran. Praktek Nikah Siri seperti inilah memberikan banyak dampak negatif bagi pelaku nikah siri. Pengadilan tidak bisa banyak membantu, karena tidak ada catatan hukumnya di negara. Perkawinan siri juga membawa kemudharatan secara sosial,

(4)

Deliberatif Vol 1, No 1, Juni 2017 110 dijadikan senjata untuk perselingkuhan dengan memanfaatkan rukun dan syarat perkawinan yang baku. Namun apabila kembali pada tujuan pernikahan menurut

Al-Qur‟an Surat Ar-Ruum ayat 21 “Supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikan-Nya diantaramu rasa kasih dan sayang”, maka pencatatan

pernikahan diwajibkan agar tidak mengusik ketentraman berumah tangga di kemudian hari.

Dalam tinjauan fiqh, kemaslahatan merupakan tujuan yang akan dicapai. Sebagai sebuah tujuan, tentu kemaslahatan tidak dapat dicapai begitu saja tanpa

melalui suatu proses hukum yang dijalankan secara syara‟. Apabila syari‟at dijalankan pasti akan timbul kemaslahatan baik di dunia maupun di akhirat. Begitu pula dengan pernikahan, agar tujuan dapat dicapai tentu membutuhkan proses yang baik dengan mengikuti peraturan yang berlaku. Sebaliknya, sesuatu yang dilarang hendaklah ditinggalkan untuk menghindari kerusakan yang lebih besar daripada mengambil manfaat yang bersifat sementara seperti nikah siri. Kaidah fiqh:

ءرد

لىوأ دسافلما

لحاصلما بلج

4

“Meninggalkan kerusakan (hakiki) lebih diutamakan dari pada mengambil

manfaat sementara.”

Berdasarkan pemaparan tersebut, dapat disimpulkan umat Islam dituntut untuk patuh pada peraturan yang dikeluarkan oleh pemerintah selama bertujuan untuk menciptakan kemaslahatan. Kepatuhan pada pemerintah merupakan bagian dari

syari‟ah agama. Namun berbeda dengan bentuk kepatuhan kepada Allah dan rasul-Nya yang bersifat mutlak, kepatuhan kepada pemerintah bersifat relatif, yaitu selama dalam kerangka kemaslahatan yang tidak bertentangan agama.

4Ahmad Bin Muhammad bin Muhammad „Uthman al

-Zarqa, ‟Sharh al-Qāwa‟id al-Fiqhiyyah,

(5)

Deliberatif Vol 1, No 1, Juni 2017 111 Adapun pihak yang tidak setuju dengan melihat bahwa nikah siri dalam ajaran Islam sudah sah memenuhi persyaratan. pernikahan merupakan hak manusia yang legalitasnya diatur dalam agama, bukan pemerintah. Dengan begitu, Rancangan Undang-Undang (RUU) yang memidanakan pernikahan tanpa dokumen resmi. pemerintah mungkin khawatir terhadap dampak dari pernikahan siri, misalnya tidak adanya dokumen pencatatan anak hasil pernikahan tersebut. Tapi, bukan berarti dapat memasukan nikah siri sebagai sebuah tindak pidana. Akan tetapi pemerintah hanya dapat mengatur tentang persoalan administrasi (dalam pernikahan).

Kenyataannya nikah bukanlah semata-mata mengikat hubungan antara satu orang laki-laki dengan satu orang perempuan, tetapi menimbulkan konsekuensi yang luas, tidak hanya bagi pasangan suami isteri tersebut, tetapi juga bagi anak-anak, keluarga luas, dan bagi masyarakat dan negara. Dengan demikian, pernikahan tidak selesai hanya dengan berlangsungnya akad nikah, melainkan harus juga dicatat.

Persoalan tersebut telah penulis lihat dan telaah di beberapa buku dan karya ilmiah yang lain, serta penulis yakin permasalahan ini merupakan persoalan yang kontemporer dan menarik untuk dikaji dan dibahas dalam sebuah jurnal.

Nikah Siri dan kaitannya dengan Pencatatan Perkawinan

Dalam khazanah ilmu fiqh, istilah nikah siri bukanlah suatu yang baru dalam pembahasan tentang fungsi saksi dalam pernikahan. Terbukti dalam beberapa kitab, para ulama sudah lebih dahulu membahas tentang nikah jenis ini. Terbukti dengan ditemukannya lafadz nikah siri dalam bebarapa kitab-kitab karangan ulama Hadits dan fiqh, diantaranya dalam kitab al-Muwatha‟ imam Mālik disebutkan:

(6)

Deliberatif Vol 1, No 1, Juni 2017 112

nikah siri dan aku tidak membolehkannya, dan jikalau aku mengetahui hal ini niscaya akan aku rajam" (H.R. Imam Mālik).5

Berdasarkan hadist yang diriwayatkan imam Mālik ini, nikah siri yang dimaksud adalah pernikahan yang hanya memiliki saksi satu orang laki-laki dan satu orang perempuan. Para fuqaha seperti imam Hanafi, imam Mālik, imam Syafi‟i dan imam Ahmad bin Hambal sepakat bahwa nikah siri ini adalah haram. Karena mereka sepakat bahwa fungsi kesaksian merupakan bagian dari pernikahan.6Alasan mereka bahwa saksi adalah bukti untuk mencegah dari pengingkaran terhadap keturunan mereka7 serta untuk menolak fitnah zina dengan bukti yang dapat dibenarkan melalui perkataan saksi. Perbedaan mereka terdapat dalam dua hal, yaitu: pertama, apakah saksi ini menjadi syarat atau rukun.

Mazhab Hanafiah dan Hanabilah berpendapat saksi merupakan syarat.

Sedangkan mazhab Syafi‟iah menetapkan sebagai rukun.8

Sedangkan mazhab

Mālikiah berpendapat bahwa saksi merupakan anjuran.

Pengikut mazhab Mālikiah berpendapat bahwa kesaksian hanyalah disyaratkan kesaksian ketika dukhul, apabila disaksikan oleh kedua saksi sebelum

dukhul maka sah nikah serta tidak dirahasiakan akad. Apabila keduanya sengaja tidak mengakui pernikahan tersebut, berdasarkan hadist Nabi tentang larangan terhadap nikah siri9 diperintahkan untuk menceraikan isterinya kemudian melakukan akad lagi.10

5Hasan „Abdul Manan

, al-Muwatha‟ lil Imām Mālik bin Ānas, (tt: Baitul Afkār, 2003), 321.

6Ahmad bin Rāsyid al

-Qarthabi, Bidāyatul Mujtahid wa Nihāyatul Muqtasid, juz II, cet. IV, (Damascus: Dārul Ma‟arif, 1982), 17.

7 Syamsudīn Muhammad bin Abdullah Zarkasyi, Syarhu Zarkasyi „alā Mukhtasar Khurqi

, juz V, (Riyadh: Maktabatul „Abikan, 1993), 324.

8Wazāratul Auqāf wa Syu‟ūn al

-Islamiyah, Mawsū‟ah Fiqhiyah…, 295.

9

)

نىابرطلا هاور

(

رسلا حاكن نع ىنه ملسو ويلع للها ىلص بينلا نأ ةريرى بيأ نع

10Wazāratul Auqāf wa Syu‟ūn al

(7)

Deliberatif Vol 1, No 1, Juni 2017 113 Akar permasalahan ini berdasarkan pada riwayat hadist dari „Aisyah:

لاإ حاكن لا

“Tidak ada pernikahan kecuali dengan wali dan dua orang saksi adil”.

Imam Syafi‟i dalam kitab al-Umm menjelaskan pentingnya peran dari dua saksi yang adil ini.

Syafi‟i berkata jika nikah disaksikan oleh orang banyak baik itu seluruh muslim atau seluruh penduduk, tetap nikah tersebut tidak diperbolehkan kecuali nikah tersebut disaksikan oleh dua saksi yang adil”13

Hadist dari „Aisyah yang mengisyaratkan bahwa nikah haruslah disaksikan

dua orang saksi yang adil karena yang membedakan nikah dengan perzinaan adalah adanya kesaksian. Adanya kesaksian sebagai kepentingan untuk menghindari fitnah zina.14 Yang kita kenal dalam ilmu ushul dengan sadd adz-dzarī‟ah, yakni menghindari bahaya yang lebih besar. Dapat dipahami bahwa dua saksi yang adil terhadap pernikahan adalah pembeda dengan perzinaan. Sedangkan, jika dikaitkan dengan nikah siri, maka dengan adanya dua orang saksi yang adil telah membuat nikah itu tidak siri lagi. Hasan Syaibani berpendapat demikian, bahwa „Umar bin Khattab melarang nikah siri ini, karena tidak terpenuhinya saksi. Namun jika terpenuhi saksi maka nikah tersebut diperbolehkan.15

Hal ini juga seperti yang diutarakan Abu Hanifah:

Abu Hanifah mengatakan nikah siri boleh apabila disaksikan oleh orang yang adil

meskipun diminta untuk merahasiakan”. 16

Baihaqi, Sunnanul Kubra,juz VII, (tt: Dārul Ma‟arif Ustmaniyah, tt), 124

13Imam Muhammad Idris Syafi‟i, al

-Umm, juz VI, (tt: Darul Wafai, 2001), 57.

14„Alaudin Abu Bakar bin Mas‟ud al

-Kasani Hanfi, Badā‟i Shanā‟i fi Tartibi Syara‟ juz 2, (Beirut: Dārul Kutub „Ilmiyah, 1986), 253.

(8)

Deliberatif Vol 1, No 1, Juni 2017 114 Imam Mālik memandang bahwa pernikahan yang dipesan tidak dipublikasi adalah sama dengan nikah siri sehingga harus di-fasakh. Karena menurutnya yang menjadi syarat mutlak sahnya perkawinan adalah pengumuman (i‟lan).17Ini disebabkan, Imam

Mālik menjadikan publikasi sebagai rukun dari akad nikah. Berdasarkan hadist Nabi:

لاق ملسو ويلع للها ىلص بينلا نأ اهنع للها يضر ةشئاع نع

" :

حاكنلا اذى اونلعأ

فوقدلا ويلع اوبرضاو دجاسلما في هولعجاو

."

)

ونسحو ،يذمترلاو ،دحمأ هاور

(

18

Berdasarkan hadist „Aisyah, Nabi Muhammad memberi pesan agar nikah itu dipublikasikan, diwalimahkan, dan disebarluaskan kepada keluarga dan tetangga. Pada saat permulaan Islam, mesjid-mesjid adalah tempat yang sangat tepat untuk tersampainya publikasi, karena masjid adalah tempat orang ramai berkumpul bahkan menjadi tempat pertemuan umum. Hikmah yang diperoleh dari publikasi nikah adalah agar terhindar dari fitnah dan buruk sangka orang lain kepada yang bersangkutan, sekaligus menutup adanya kemungkinan yang bersangkutan (khususnya isteri) diminati orang lain.

Jumhur mazhab Mālikiah memberi pandangan status hukum nikah siri ini

dengan haram. Dengan alasan, jika terjadi kejahatan atau penipuan dalam pernikahan ini, tidak ada perlindungan dan tidak dapat dibatalkan pernikahannya. Meskipun tidak terjadi kejahatan dalam nikah siri ini maka nikah siri itu tetap haram berdasarkan hadist Nabi larangan nikah siri. Pernikahan siri ini bisa dibatalkan sebelum berlangsung dukhul. Namun, apabila sudah dukhul maka mereka berbeda pendapat, hal ini pernah ditanyakan oleh Ibnu Syihab tentang seorang laki-laki yang menikah secara siri dan disaksikan oleh dua laki-laki, maka Mālikiah menjawab: apabila telah

dukhul maka pisahkan sampai habis masa iddah dan diberi hukuman kepada dua saksi karena merahasiakan ini. Kemudian memulai untuk menikah lagi secara pernikahan

17Muhammad Abū

Zahrah, Muhādarat fi „Aqdi al-Ziwaj wa Atharuhu, (ttp: Dār Fikr

al-„Arabiyah, tt), 92.

18Sayyid Sabīq, Fiqh Sunnah

, juz II, (al-Qāhirah: Fathul Islām ar-Rabi, tt), 149. Lihat juga

al-Tirmidhī, Sunan al-Tirmidhī, “kitāb nikāh”, hadist No. 1009. Ahmad, Musnad Ahmad, “Musnad al

(9)

Deliberatif Vol 1, No 1, Juni 2017 115 yang sah setelah habis masa iddah. Apabila belum dukhul tidak diberi mahar bagi perempuan, dan penguasa harus memisahkan mereka berdua dengan memberi sanksi kepada dua orang saksi tersebut ini karena hukum pernikahan siri ini tidak sah.19

Jadi Imam Mālik menganggap sebuah pernikahan yang disaksikan oleh dua orang saksi adil pun namun diminta untuk dirahasiakan pernikahan tetap dinamakan nikah siri. Namun, Abu Hanifah, Imam Syafi‟i, Imam dan Ahmad bin Hambal, berbeda pendapat, pernikahan tersebut, bukanlah pernikahan siri. Ahmad bin Hambal, ketika ditanya tentang pernikahan seperti ini apakah termasuk nikah siri apa bukan,

beliau menjawab:

Lebih baik untuk mempublikasi nikah dan bukanlah nikah siri jika ada wali serta adanya dipukul rebana sehingga dapat disaksikan dan diketahui”.

Hanafiah berpendapat:

Nikah siri yaitu nikah yang tidak dihadiri dua orang saksi, adapun nikah yang dihadiri saksi maka itu adalah nikah biasa (yang terbuka dan diketahui umum) karena rahasia jika melebihi dua orang, maka itu bukan lagi dinamakan rahasia".20

Sedangkan Hanabilah berpendapat:

tidak membatalkan nikah dengan dipesan untuk merahasiakan karena persaksian tidak menjadi rahasia meskipun dirahasiakan oleh kedua suami isteri, wali, dan

saksi”.21

Syafi‟i dan Abu Hanifah sepakat berpendapat:

“Apabila menikah dengan dua orang saksi dan merahasiakannya, pernikahan tetap

diperbolehkan”22

Syafi‟i berpendapat bahwa para fuqaha telah berselisih tentang hadist yang diriwayatkan imam Mālik yang disebutkan „Umar, bahwa nikah siri ini fasikh dan tidak ada toleransi maka mereka telah salah paham terhadap „Umar, sebenarnya

„Umar di sini menganggap jika ada yang mengajukan nikah yang hanya disaksikan oleh seorang laki-laki dan perempuan, maka akan dia rajam. Maksudnya adalah

jikalau „Umar mengetahui ada yang berbuat seperti ini „Umar tidak akan

19Wazāratul Auqāf wa Syu‟ūn al

-Islāmiyah, Mawsū‟ah Fiqhiyah.., 301.

20Wazāratul Auqāf wa Syu‟ūn al

-Islāmiyah, Mawsū‟ah Fiqhiyah.., 300.

21Wazāratul Auqāf wa Syu‟ūn al

-Islāmiyah, Mawsū‟ah Fiqhiyah.., 301

22Abdul Mu‟thiAmīn Qul‟aji,

(10)

Deliberatif Vol 1, No 1, Juni 2017 116 membolehkan sehingga orang tersebut tidak melakukan nikah seperti ini. „Umar merajam orang yang tetap melakukan perbuatan itu karena melakukan perbuatan yang dilarangnya.23

Kembali pada pernikahan yang dipesan untuk dirahasiakan, menurut Ibnu Hazm dalam bukunya al-Muhallā menerangkan bahwa nikah tersebut bukanlah nikah siri, karena dua alasan. Pertama, karena nikah itu telah disaksikan oleh dua orang saksi yang adil. Kedua, bukanlah rahasia apabila terdapat lima pihak yaitu wali, penganti pria, penganti wanita, dua orang saksi. Seperti yang dikatakan penyair:

Rahasia disembunyikan oleh dua orang dan setiap rahasia melewati dua

orang menjadi publikasi”24

Dapat dipahami bahwa nikah siri ini belum mencukupi dua orang saksi, maka apabila telah ada dua saksi maka nikah ini telah sempurna. Karena tidak ada rahasia apabila telah melebihi dua orang. Semua ulama sepakat bahwa pernikahan harus dipersaksikan supaya dapat menghindari pengingkaran. Mencegah pengingkaran dengan efektif yaitu dipersaksikan oleh banyak orang serta adanya izin dari pihak-pihak yang terlibat dalam akad nikah. Prosedur ini menjadi bukti yang dapat mencegah dari kelupaan atau pengingkaran pada hari kemudian.25

Rasulullah memerintahkan untuk mempublikasi pernikahan dengan menghadirkan dua saksi, kemudian Nabi juga menyuruh untuk memukul rebana. Ini memberi isyarat tambahan dalam publikasi. Sebagaimana hadist berikut:

هركي ،ملسو ويلع للها ىلص ناك

رسلا حاكن

فدب برضي تىح

26

Rasulullah membenci nikah siri sampai dipukul rebana”

23Imām Muhammad Idris Syafi‟i, al

-Umm…, 57

24

Ibnu Hazm, al-Muhalla, juz IX, (Mesir: Muniriyah, tt), 466.

25„Alaudīn Abū Bakar bin Mas‟ūd al

-Kasani Hanfi, Badā‟i Shāna‟i fi.., 253.

26 Ibrāhim bin Muhammad bin Salīm bin Dhawyan, Manār Sabīl fi Syarhi Dalīl

(11)

Deliberatif Vol 1, No 1, Juni 2017 117

Telah diriwayatkan dari Rasulullah, bahwasanya beliau melarang terhadap nikah siri, dan larangan merahasiakan pernikahan tersebut seharusnya menjadi perintah untuk disebarluaskan karena larangan terhadap sesuatu perintah dengan sebaliknya dan diriwayatkan dalam sebuah hadist nabi bersabda; publikasilah pernikahan

meskipun dengan pukul rebana”

Menurut syara‟ lebih baik untuk dipublikasi pernikahan. Upaya ini untuk keluar dari status nikah siri yang dilarang untuk mencapai apa yang telah Allah halalkan dari perbuatan yang baik-baik. Bila hal tersebut merupakan perbuatan yang hakikatnya adalah publikasi, untuk diketahui baik secara khusus dan umum, dekat maupun jauh menjadi publikasi yang anjurkan terhadap pernikahan.28Seperti disebutkan dalam hadist: shahabat bani Zariq, lalu mereka mendengar nyanyian dan permainan, baliau berkata: apa ini, mereka berkata ini pernikahan si fulan ya Rasulullah. Beliau berkata lagi sempurna agamanya, inilah yang dinamakan nikah bukan zina ataupun nikah siri, sehingga terdengar suara rebana atau terlihat asap"

(12)

Deliberatif Vol 1, No 1, Juni 2017 118 Kebanyakan para ulama sepakat bahwa pernikahan harus dipersaksikan, dipublikasikan dan haram terhadap nikah siri yang hanya disaksikan oleh seorang laki-laki dan seorang perempuan. Para ulama berselisih tentang hukum keharusan adanya saksi dalam pernikahan. Di sini penulis merincikan sebab terjadinya perselisihan pendapat tersebut. Pada dasarnya perselisihan ulama dalam masalah ini berkisar dalam hal apakah keberadaan saksi dalam pernikahan siri termasuk hukum

syari‟at yang harus dipenuhi atau anjuran yang hanya sekadar menghindari fitnah agar masyarakat tidak mengingkari pernikahan tersebut:

1. Mazhab Hanafiah dan Hanabilah berpendapat saksi merupakan syarat. Sedangkan

mazhab Syafi‟iah menetapkan sebagai rukun.

2. Sedangkan mazhab Mālikiah berpendapat bahwa saksi merupakan anjuran. Dari pembahasan di atas dapat ditarik beberapa kesimpulan. Pertama, sebagian para ulama sepakat mengharuskan saksi untuk sahnya akad nikah. Mayoritas

ulama menekankan pada kehadirannya, sementara imam Mālik lebih menekankan

pada fungsinya, yakni sarana publikasi. Kedua, semua ulama sepakat bahwa publikasi merupakan sarana pengumuman dan bukti terjadinya transaksi (akad nikah). Sebagai sebuah transaksi, akad nikah tentu akan melahirkan akibat-akibat hukum di antara para pihak maupun keturunan yang lahir dari perkawinan kelak.

Dari penjelasan ini, dapat dipahami bahwa nikah siri yakni nikah yang ada usaha dari para pihak untuk merahasiakan. Oleh karena itu, unsur pokok yang menjadikan haramnya nikah siri adalah adanya usaha merahasiakan pernikahan oleh para pihak. Karena unsur pengumuman kepada khalayak menjadi unsur penentu sah atau tidaknya pernikahan. Pada prinsipnya tujuan dan fungsi saksi dalam hal ini adalah untuk menjamin hak dan tanggung jawab pihak-pihak dalam pernikahan.

Nikah siri yang terjadi sekarang dalam masyarakat Indonesia tidak dapat dibenarkan. Perubahan waktu, tempat dan kondisi inilah yang menjadikan hukum

(13)

Deliberatif Vol 1, No 1, Juni 2017 119 dapat dipercaya. Namun, seiring perjalanan waktu, nikah siri ini berbeda seperti yang diterapkan pada masa lalu. Nikah siri sekarang hanya dimanfaatkan oleh oknum yang tidak bertanggungjawab untuk memenuhi hawa nafsu mereka. Hal di atas tentunya tidak sesuai dengan kemaslahatan yang hendak dituju oleh hukum syar‟i, yaitu kemaslahatan hakikiyah. Seperti firman Allah:

“dan tiadalah kami mengutus kamu, melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi

semesta alam.”(QS: 21: 107)

Kemaslahatan itu ialah sesuatu yang membawa kepada kebaikan manusia.

Karena setiap kebaikan yang dikaitkan dengan manusia dianggap sebagai kemaslahatan walaupun kemaslahatan itu kadangkala tidak membawa manfaat sepenuhnya kepada semua manusia. Singkatnya kemaslahatan adalah segala usaha yang dilakukan untuk mendapatkan kebaikan dan menolak kemudharatan yaitu memelihara dan meraih tujuan-tujuan syara‟ sekalipun ia bertentangan dengan kehendak individu atau golongan.

Kemaslahatan dalam pencatatan nikah dimaksudkan untuk mewujudkan ketertiban perkawinan umat manusia jelas akan membawa kepada kemaslahatan umat itu sendiri. Pencatatan merupakan bentuk pengakuan dan jaminan hak dalam perkembangan masyarakat, kemajuan administrasi, dan ketatanegaraan. Ketika dihubungkan dengan nikah siri yang tidak dilakukan pencatatan oleh Pegawai Pencatat Nikah, maka tidaklah menjadi sebuah bukti yang diterima oleh masyarakat dan pemerintah. Bentuk jaminan dan pengakuan di masa sekarang muncul dalam bentuk tulisan (hitam di atas putih). Dengan ungkapan lain, pada masa ulama fuqaha terdahulu, konteks dari publikasi sebagai sarana pengakuan dan jaminan dalam masyarakat komunal adalah terbiasa dengan lisan. Sementara konteks dari publikasi pengakuan dan jaminan hak pada zaman sekarang adalah tertulis.

Tujuan dari sertifikasi dengan dokumentasi yang resmi termasuk dalam

(14)

Deliberatif Vol 1, No 1, Juni 2017 120 keragu-raguan, kecuriagaan dan prasangka buruk. Seluruh perkara ini (pemeliharaan akan semua perkara di atas) akan terwujud dengan persaksian saksi-saksi, pemberitahuan umum tentang pernikahan, publikasinya melalui acara pesta dan walimah30 serta acara-acara lain yang serupa, dalam bentuk yang lebih sempurna lagi mendapatkan sertifikasi dari pihak yang berwenang pada saat ini. Maka sudah menjadi kewajiban apabila terjadi perubahan hukum karena disebabkan berubahnya zaman dan keadaan serta pengaruh dari gejala-gejala kemasyarakatan itu sendiri. Hal itu sesuai dengan kaidah yang berbunyi:

يوتفلا يرغت

(

مكلحا

)

لاوحلأاو ةنكملأاو ةنمزلأا يرغتب

31

”Suatu ketetapan fatwa (hukum) dapat berubah disebabkan berubahnya waktu, tempat, dan situasi (kondisi)”.

Kaidah ini menetapkan suatu prinsip bahwa pemerintah harus mempunyai kemampuan melihat fenomena sosial yang mungkin berubah dan berbeda karena

perubahan zaman dan perbedaan tempat. Karena pemerintah berperan untuk

melindungi agama serta mengatur urusan keduniaan.32 Dengan demikian, secara

sederhana kemaslahatan dalam pencatatan pernikahan dapat dinyatakan sebagai meraih semua kebaikan untuk manusia yang diatur oleh pemerintah dengan berdasarkan kemaslahatan serta mencegah semua keburukan yang sesuai dengan

syari‟ah. Landasan metodelogi secara al-mashlahat al-mursalah, menjadikan pencatatan perkawinan dengan status hukum yang jelas, maka berbagai macam bentuk kemudharatan seperti ketidakpastian status bagi wanita dan anak-anak akan dapat dihindari.

30

Yusuf ad-Duraiwisy, Nikah Siri, Mut‟ah & Kontrak dalam timbangan al-Qur‟ān .., 94.

31

Abdullah bin Abdul Muhsin, Ushul al-Madzhab al-Imām Ahmad, Cet III, (Beirut: Dār al-Fikr,1980), 164

32

(15)

Deliberatif Vol 1, No 1, Juni 2017 121

Wacana Ta’zir dalam Bentuk Pemidanaan Terhadap Pelaku Nikah Siri.

Pertimbangan paling mendasar adalah nikah siri yang tidak tercatat oleh pejabat yang berwenang kerap menimbulkan diskriminasi terhadap hak-hak perempuan,33karena dalam nikah siri ini posisi perempuan sangat lemah, mudah ditindas, dan banyak dirugikan. Lebih tepatnya, nikah siri ini menjadi ladang diskriminasi hak dan kepentingan perempuan. Dalam hubungan sebuah pernikahan, posisi perempuan tidak bisa dinafikan, hak-hak perempuan juga harus dipenuhi, seperti kesamaan hak dalam penggunaan atau pemeliharaan harta benda.34

Pemerintah sangat mengkhawatirkan terhadap praktik nikah siri, karena perempuan selalu menjadi korban. Ketika sepasang manusia menikah secara siri, jika di kemudian hari tidak mendapatkan kecocokan, biasanya perempuan akan ditinggalkan begitu saja, tanpa adanya penyelesaian perceraian secara bertanggungjawab, dan pada akhirnya pihak perempuan tidak bisa menuntut haknya. Lebih parah lagi, kalau perempuan tersebut sedang mengandung atau sudah mempunyai anak, pengadilan tidak dapat memberi sanksi terhadap suaminya.

Di samping perempuan (isteri), pihak anak juga bisa dirugikan karena tidak mendapatkan hak semestinya, termasuk dalam pengurusan dokumen-dokumen akta lahir, administrasi sekolah, dan sebagainya. Kewajiban suami isteri adalah memberi pendidikan yang baik bagi anak-anaknya. Sebelum memberi pendidikan formal di sekolah bagi anak-anak, orang tua harus mendaftarkan anaknya di kantor kependudukan untuk memperoleh akta kelahiran, sehingga anak-anaknya dianggap sebagai anak yang sah. Di antara syarat untuk mendapatkan akta kelahiran anak adalah bahwa orang tua menikah secara sah yang dibuktikan dengan akta nikah. Dengan demikian ayah ibu yang tidak menikah dengan sah, tidak dapat memperoleh akta kelahiran bagi anaknya, sehingga salah satu hak anak untuk memperoleh pendidikan formal jelas menjadi kendala.

33

Happy Susanto, NikahSiriApaUntungnya?, (Jakarta : Visi Media, 2007), 93

34

(16)

Deliberatif Vol 1, No 1, Juni 2017 122 Wacana pemidanaan pelaku nikah siri yang tercantum dalam draf rancangan undang-undang tentang hukum materiil peradilan agama dalam bidang perkawinan yang masuk dalam daftar program legislasi nasional (prolegnas) tahun 2010 tidak bertentangan dalam hukum Islam. Malah, mengandung semangat dari syari‟at Islam dan sejalan dengan maqāshid al-syari‟ah yang ingin melindungi agama, akal, keturunan, jiwa dan harta. Wacana pemidanaan ini termasuk dalam ranah siyāsah

syar‟iyah, karena segala perbuatan yang membawa manusia lebih dekat kepada kemaslahatan dan lebih jauh dari kemafsadatan, sekalipun Rasulullah tidak

menetapkannya dan (bahkan) Allah tidak menentukkannya.35Pemerintah bertanggungjawab memimpin umat manusia dengan memberi pedoman ke jalan yang benar dan menyelesaikan masalah serta mampu membuat keputusan mengikut dasar-dasar yang telah ditetapkan oleh syara‟. Upaya ini untuk menutup jalan terjadinya perbuatan yang merugikan pihak lain. Dalam fiqh, jalan yang membawa upaya pencegahan tersebut biasa disebut sadd adz-dzarī‟ah36.

Untuk mengantisipasi mudharat yang diakibatkan dari nikah siri, pemerintah menganjurkan agar nikah siri dicatatkan secara resmi pada lembaga yang berwenang.

Karena menurut syari‟at, nikah siri bisa jadi haram apabila ada mudharatnya.37 Maksudnya, nikah siri yang hukumnya sah karena memenuhi syarat-syarat dan rukun-rukun nikah, bisa menjadi haram karena ada pihak yang dirugikan atau menjadi korban. Sejalan dengan ini Majelis Ulama Indonesia (MUI) juga telah mengeluarkan Fatwa mengenai hal ini pada Tahun 2006, "Pernikahan di bawah tangan hukumnya sah kalau telah terpenuhi syarat dan rukun nikah, tetapi haram jika menimbulkan mudharat atau dampak negatif".38

35Mahmud „Abdur Rahman „Abdul Mun‟im, Mu‟jam Musthalat wal…,

307.

36

Amir Syarifuddin, Ushul Fiqh, Jilid 2, (Jakarta: Kencana, 2008), 398

37

Fatwa Tarjih Muhammadiyah Hukum Nikah Siri, 8 jumadal ula 1428 hijriah/ 25 Mei 2007, diperkuat dengan naskah Kepribadian Muhammadiyah sebagaimana diputuskan dalam Muktamar Muhammadiyah ke-35

38

(17)

Deliberatif Vol 1, No 1, Juni 2017 123 Perbuatan melanggar hukum atau tindak pidana dalam syari‟ah Islam disebut

al-jinayah atau al-jarimah. Kedua istilah ini menurut jumhur fuqaha mempunyai pengertian yang sama yaitu perbuatan yang dilarang syara‟, baik perbuatan itu mengenai jiwa, harta benda maupun yang lain.39Al-Jarimah dilarang karena perbuatan tersebut dapat merugikan hak-hak individu dan tata aturan yang berlaku dalam suatu masyarakat. Sedangkan manusia sebagai makhluk individu tidak dapat mewujudkan stabilitas kehidupannya ketahap yang sempurna, apabila tidak dipenuhi hak-hak dan aspek pengembangan dirinya. Hak yang paling utama dijamin oleh Islam adalah, hak

hidup, hak pemilikan, hak pemelihara kehormatan, dan hak menuntut ilmu pengetahuan. Dengan demikian tujuan dilarangnya jarimah oleh syara‟ adalah untuk memelihara kemashlahatan manusia yang mencakup agama, jiwa, akal, keturunan dan harta.40

Menurut teori siyāsah syar‟iyah dengan metode al-mashlahah al-mursalah

yang digunakan dalam mengatur dan mengendalikan persoalan-persoalan yang tidak

diatur oleh syari‟at al-Qur‟ān dan Hadist.41 Negara setelah melalui sejumlah pertimbangan termasuk dari MUI di Indonesia memang bisa membuat undang-undang yang memuat ketentuan sanksi terhadap pelaku. Dalam Islam disebut ta‟zir.

42Ta‟zir

adalah hukuman yang bersifat pengajaran terhadap kesalahan-kesalahan yang tidak diancam dengan hukuman had atau kejahatan-kejahatan yang sudah pasti ketentuan hukumnya, tetapi syarat-syaratnya tidak cukup. Sesuai dengan pengertian bahasa, maka pelaksanaan ta‟zir tidak dikhususkan pada hukuman pemukulan, tetapi dapat juga berbentuk lain, seperti penamparan. Secara harfiah, ta‟zir bermakna memuliakan atau menolong. Namun pengertian berdasarkan istilah hukum Islam,

ta‟zir adalah hukuman yang bersifat mendidik yang tidak mengharuskan pelakunya

39

Ahmad Hanafi, Azas-Azas Hukum Pidana cet 5, (Jakarta :Bulan Bintang, 1993). 1.

40

Hasbi Ash Shiddieqy, Penganta Ilmu Hukum, cet II, ed II, (Semarang: Pustaka Rizki Putra, 2001), 345.

41

Ahmad Djazuli, Fiqh Siyasah: Imlementasi Kemaslahatan Umat dalam Rambu-rambu Syariah, (Jakarta: Kencana, 2003), 32

42

(18)

Deliberatif Vol 1, No 1, Juni 2017 124 dikenai had dan tidak pula harus membayar kaffarah atau diyat.43 Tindak pidana yang dikelompokkan atau yang menjadi objek pembahasan ta‟zir adalah tindak pidana ringan seperti pelanggaran seksual yang tidak termasuk zina, tuduhan berbuat kejahatan selain zina dan lain-lain.

Ta‟zir berbeda dengan hukuman had yang jenis dan berat ringannya telah ditentukan oleh nash. Pelaksanaan ta‟zir diserahkan kepada imam atau penguasa yang akan menetapkan atau menjatuhkan hukuman. Hakim memiliki kebebasan untuk menetapkan ta‟zir kepada pelaku tindak pidana atau pelanggaran yang ancaman

hukumannya tidak ditentukan oleh nash al-Qur‟ān dan Hadist. Karena itu, ta‟zir dapat berubah sesuai dengan kepentingan dan kemaslahatan. Pemberian hak penentuan

ta‟zir kepada penguasa itu bermaksudkan agar mereka dapat mengatur kehidupan masyarakat secara tertib dan mampu mengantisipasi berbagai kemungkinan yang terjadi secara tiba-tiba. Kebijakan yang telah dibuat oleh pemerintah sebagai ūlil amri berdasarkan pada asas mashlahah yang harus dipenuhi sesuai dengan kaidah fiqh:

ةحلصلماب طونم ةيعرلا ىلع ماملاا فرصت

44

Landasan ta‟zir antara lain adalah surah al-Fath ayat 9:

“Supaya kamu sekalian beriman kepada Allah dan Rasul-Nya, menguatkan (agama)Nya, membesarkan-Nya, dan bertasbih kepada-Nya di waktu pagi dan

petang”. (QS. Al-Fath: 9)

Sebagian ahli tafsir mengartikan kata tersebut dengan mengokohkan agama. Sejalan dengan penafsiran ini, maka ta‟zir merupakan salah satu cara untuk menegakkan agama, yaitu dengan memberikan hukuman kepada para pelanggar hukum sehingga ajaran agama tetap kokoh. Para ulama sepakat tentang prinsip ta‟zir ini, walaupun mereka berbeda pendapat mengenai perlunya ta‟zir dilaksanakan dan ketentuan maksimalnya.

43

Wahbah Az-Zuhaili, al-Fiqh al-Islami wa Adillatuh, (Beirut: Dār al-Fikr, 1984), 5591

44”Kebijakan imām tergantung pada kemaslahatan rakyat”.

(19)

Deliberatif Vol 1, No 1, Juni 2017 125 Untuk memberlakukan sanksi hukum nikah siri, sangat ditentukan oleh sebab terjadinya nikah siri itu sendiri. Karena menurut kaidahnya, yang namanya hukum itu akan dapat berlaku kalau ada sebab tertentu. Artinya, jika nikah siri itu hanya disebabkan oleh faktor tidak tercatat secara resmi di Kantor Urusan Agama, maka sanksi hukum berupa pidana hudud45 tidak bisa berlaku. Tetapi apabila nikah siri disebabkan karena ketiadaan saksi atau wali dalam suatu pernikahan, maka sanksi pidana hudud dapat berlaku. Dikatakan demikian, karena orang yang menikah tanpa kehadiran saksi atau wali sama dengan melegalkan perzinaan46.

Di antara bentuk pelanggaran peraturan yang memungkinkan pemerintah untuk memberlakukan sanksi adalah berupa jarimah ta‟zir. Meskipun tetap mengacu

kepada syari‟at dari Allah SWT, jarimah ta‟zir adalah hukuman yang semua ketentuannya ditetapkan oleh penguasa (pemerintah) untuk menghindari kerusakan yang lebih besar dari pada mengambil manfaat yang bersifat sementara dalam nikah siri. Sesuai dengan kaidah fiqh: “Menghindari kerusakan harus lebih diutamakan

dari meraih manfaat”.47

Jenis hukuman yang termasuk jarimah ta‟zir antara lain: hukuman penjara, skors atau pemecatan, ganti rugi, pukulan, teguran dengan kata-kata dan jenis-jenis hukuman lainnya yang dipandang sesuai dengan pelanggaran dari pelakunya. Dalam hukum Islam, jenis hukuman yang berkaitan dengan hukuman ta‟zir diserahkan sepenuhnya kepada kesepakatan manusia. Menurut Iman Abu Hanifah, pelanggaran ringan yang dilakukan oleh seseorang berulang kali dapat dilakukan atau dapat dijatuhi hukuman oleh hakim dengan hukuman mati. Misalnya pencuri yang dimasukkan ke lembaga pemasyarakatan, lalu mengulangi perbuatannya yang tercela

45 Jarimah hudud

adalah sanksi hukum yang telah ditetapkan Allah dalam Al-Qur‟ān dan Sunnah. Berlakunya hukum ini bersifat mutlah, sehingga tidak dapat digantikan dengan yang lain. Berbeda dengan jarimah lainnya, seperti qishas dan ta‟zir yang masih memberikan hak kepada manusia untuk menentukan pilihan hukum. Lihat : As-Suyuti, al-Asbah wa an-Nazair fi al-Furu‟ (Beirut : Dār Al-Kutub al-„Ilmiyyah, 1983), 84

46

Burhanuddin, Nikah Siri: Menjawab Semua Pertanyaan Tentang Nikah Siri, . 90

47حلاصملا بلج نم يلوا دسافملاءرد„Ali Ahmad al

(20)

Deliberatif Vol 1, No 1, Juni 2017 126 itu ketika ia sudah dikenai sanksi hukum penjara, maka hakim berwenang menjatuhi hukuman mati kepadanya. 48

Kesimpulan

Pemerintah berhak membuat undang-undang pemidanaan nikah siri dengan alasan bahwa pelaku nikah siri tidak memenuhi persyaratan administratif yaitu pencatatan pernikahan. Adanya pemidanaan ini karena kerap kali pihak istri dan anak menjadi korban dalam pernikahan siri ini. Karena tidak diakui oleh Negara secara hukum sehingga banyak menimbulkan masalah bagi pelaku nikah siri.

Pandangan hukum Islam, terhadap wacana pemidanaan pelaku nikah siri dalam Rancangan Undang- Undang Tentang Hukum Materil Peradilan Agama Bidang Perkawinan (RUU-HMPAP) adalah wajib. Dengan alasan dalam hukum pidana Islam dikenal salah satu jarimah yaitu ta‟zir. Pemerintah bisa membuat undang-undang yang memuat ketentuan sanksi terhadap pelaku dengan sanksi ta‟zir. Pemidanaan pelaku nikah siri tidak dapat dimaknai lain selain dalam rangka tertib

hukum di mana semua warganegara harus mematuhi. Upaya ta‟zir adalah untuk mencegah terjadinya perbuatan yang merugikan orang lain. Bagi para pelaku nikah siri dianjurkan untuk mendaftarkan pernikahannya kepada pihak yang berwenang supaya mendapat legaslitas dari pemerintah.

48

(21)

Deliberatif Vol 1, No 1, Juni 2017 127

Bibliography

Books

„Alaudin Abu Bakar bin Mas‟ud al-Kasani Hanfi, Badā‟i Shanā‟i fi Tartibi Syara‟ juz 2, Beirut: Dārul Kutub „Ilmiyah, 1986.

„Ali Ahmad al-Nadwi, al-Qawā‟id al-fiqhiyyah, Damaskus: Dar al-Qalam, 1994. Abdullah bin Abdul Muhsin, Ushul al-Madzhab al-Imām Ahmad, Cet III, Beirut: Dār

al-Fikr,1980.

Abu Abdullah Muhammad bin Hasan Syaibani, Hujjatul „alā Ahli Madinah, juz III,

tt, „Alīmul Kutub, 1983.

Abū Abdullah Muhammad bin Hasan Syaibani, Hujjatul „alā Ahli Madinah, juz III,

tt, „Alīmul Kutub, 1983.

Abu al-Hasan 'Ali Ibn Muhammad Ibn Habib al-Basri aI-Baghdadi al-Mawardi, al-Ahkam al-Sultaniyyah wa al-Wilāyah al-Diniyyah., Beirut: Dār al-Kutub al- 'I1miyyah, tt.

Ahmad Bin Muhammad bin Muhammad „Uthman al-Zarqa, ‟Sharh al-Qāwa‟id al -Fiqhiyyah, cet.IV,(Damsyik: Dār al-Qalam, 1996)

Ahmad bin Rāsyid al-Qarthabi, Bidāyatul Mujtahid wa Nihāyatul Muqtasid, juz II, cet. IV, Damascus: Dārul Ma‟arif, 1982.

Ahmad Djazuli, Fiqh Siyasah: Imlementasi Kemaslahatan Umat dalam Rambu-rambu Syariah, Jakarta: Kencana, 2003.

Ahmad Hanafi, Azas-Azas Hukum Pidana cet 5, Jakarta :Bulan Bintang, 1993. Ahmad Rafiq, Hukum Islam di Indonesia, Jakarta: PT. Raja Grafido Persada, 2003. Amir Syarifuddin, Ushul Fiqh, Jilid 2, Jakarta: Kencana, 2008.

Asghar Ali Engneer, Hak-hak Perempuan dalam Islam, Yogyakarta: Bentang, 1994. As-Suyuti, al-Asbah wa an-Nazair fi al-Furu‟, Beirut: Dār Al-Kutub al-„Ilmiyyah,

1983.

Baihaqi, Sunnanul Kubra, juz VII, tt: Dārul Ma‟arif Ustmaniyah, tt.

Bisri Muhammad Djaelani, Ensiklopedi Islam, Yogyakarta: Panji Pustaka, 2007. Fachruddin Hasballah, Psikologi Keluarga dalam Islam, Banda Aceh: PENA, 2007. Fatwa Tarjih Muhammadiyah Hukum Nikah Siri, 8 jumadal ula 1428 hijriah/ 25 Mei

(22)

Deliberatif Vol 1, No 1, Juni 2017 128 Happy Susanto, NikahSiriApaUntungnya?, Jakarta : Visi Media, 2007.

Hasan „Abdul Manan, al-Muwatha‟ lil Imām Mālik bin Ānas, tt: Baitul Afkār, 2003. Hasbi Ash Shiddieqy, Penganta Ilmu Hukum, cet II, ed II, Semarang: Pustaka Rizki

Putra, 2001.

Ibnu Hazm, al-Muhalla, juz IX, Mesir: Muniriyah, tt.

Ibnu Hiban, Shahih Ibnu Hiban, juz IX, tt: Mu‟sasatur Risālah, tt.

Ibrāhim bin Muhammad bin Salīm bin Dhawyan, Manār Sabīl fi Syarhi Dalīl, juz II, Beirut: Maktabul Islāmiyah, 1982.

Imam Muhammad Idris Syafi‟i, al-Umm, juz VI, tt: Darul Wafai, 2001.

Jalal al-Din „Abd al-Rahman b. Abi Bakr Al-Suyuti, al-Asybah wa al-Naza‟ir fi

Qawa‟id wa Furu‟ al-Syafiiyyah, juz.I, Qaherah: Dar al-Salam, 2004.

Muhammad Abū Zahrah, Muhādarat fi „Aqdi al-Ziwaj wa Atharuhu, ttp: Dār al-Fikr al-„Arabiyah, tt.

Muhammad Syidqi Bin Ahmad Bin Muhammad al-Burnu Abi al-Harath al-Qazi,

al-Wajiz fi Idahi Qawa‟id al-Fiqh al-Kulliyah, Beirut: Muasasah al-Risalah, 1998.

Sayyid Sabīq, Fiqh Sunnah, juz II, al-Qāhirah: Fathul Islām ar-Rabi, tt.

Syamsudīn Muhammad bin Abdullah Zarkasyi, Syarhu Zarkasyi „alā Mukhtasar

Khurqi , juz V, Riyadh: Maktabatul „Abikan, 1993.

Wahbah Az-Zuhaili, al-Fiqh al-Islami wa Adillatuh, Beirut: Dār al-Fikr, 1984

Wazāratul Auqāf wa Syu‟ūn al-Islamiyah, Mawsū‟ah Fiqhiyah juz 41, cet II, Kuwait:

Dzātus Salāsal, 1983.

Yusuf ad-Duraiwisy, Nikah Siri, Mut‟ah & Kontrak dalam timbangan al-Qur‟ān dan as-Sunnah, Jakarta: Darul Haq, 2010.

Figur

Memperbarui...

Referensi

Memperbarui...