1
NIKAH SIRI: APA SIH HUKUMNYA?
Mahmud Hadi Riyanto
(Hakim PA Soreang – Kabupaten Bandung)
A. Latar Belakang
Pernikahan merupakan ikatan lahir batin antara laki-laki dan perempuan sebagai suami isteri dengan tujuan membentuk keluarga (rumah tangga) yang bahagia dan kekal berdasarkan Ketuhanan Yang Maha Esa.1
Allah menjadikan pernikahan yang diatur menurut syariat Islam sebagai penghormatan dan penghargaan yang tinggi terhadap harga diri yang diberikan oleh Islam khusus untuk manusia di antara makhluk-makhluk yang lain.2 Dengan adanya suatu pernikahan yang sah, maka pergaulan antara laki-laki dan perempuan menjadi terhormat sesuai dengan kedudukan manusia yang berperadaban, serta dapat membina rumah tangga dalam suasana yang damai, tentram dan penuh dengan rasa kasih sayang antara suami isteri.
Pernikahan dalam kajian Hukum Islam maupun Hukum Nasional di Indonesia dapat dilihat dari tiga segi yaitu, segi Hukum, Sosial, dan Ibadah.3 Apabila ketiga sudut pandang tersebut telah tercakup semuanya, maka tujuan pernikahan sebagaimana yang diimpikan oleh syariat Islam akan tercapai yaitu, keluarga yang saki>nah, mawaddah wa rah}mah. Ketiganya tidak bisa dipisahkan satu sama lain, apabila salah satunya terabaikan maka akan terjadi ketimpangan dalam pernikahan sehingga tujuan dari pernikahan tersebut tidak akan tercapai dengan baik.
Pernikahan dalam Islam memiliki syarat dan rukun, yang apabila telah terpenuhi maka hukum pernikahan tersebut menjadi sah. Hal ini berbeda dengan pandangan peraturan
1Pasal 1 Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang Nomor 16 Tahun 2019.
2Mah}mu>d al-S}abba>g, Tuntunan Keluarga Bahagia Menurut Islam, alih bahasa Bahruddin Fannani (Cet. 3;
Mesir: Da>r al-I’tis}a>m, 2004), h. 23.
3Kamal Mukhtar, Asas-asas Hukum Islam tentang Perkawinan (Jakarta: Bulan Bintang, 1993), h. 5-8.
2 pernikahan di Indonesia yang menyatakan bahwa pernikahan yang tidak dicatatkan pada pejabat yang berwenang, maka pernikahan tersebut tidak memiliki kekuatan hukum.
Hukum di Indonesia mengatur tata cara pernikahan yang sah menurut Agama Islam dan sah menurut Hukum Negara yang telah diatur dalam Undang-Undang Perkawinan Nomor 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan sebagaimana diubah dengan Undang-Undang Nomor 16 Tahun 2019 dan Kompilasi Hukum Islam (KHI). Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974 sebagaimana diubah dengan Undang-Undang Nomor 16 Tahun 2019 tentang Perkawinan menyebutkan bahwa:
“Tiap-tiap pernikahan harus dicatat dalam peraturan perundang-undangan yang berlaku”.4 Ketentuan ini lebih lanjut diperjelas dalam bab 11 Peraturan Pemerintah Nomor 9 Tahun 1975 yang intinya: Sebuah pernikahan baru dianggap memiliki kekuatan hukum dihadapan undang-undang jika dilaksanakan menurut aturan agama dan telah dicatatkan oleh pegawai pencatat nikah.
Kompilasi Hukum Islam menyebutkan bahwa “Agar terjamin ketertiban bagi masyarakat Islam maka setiap perkawinan harus dicatat”.5 Sedangkan berdasarkan konsep Konvensional pernikahan dikatakan sah apabila telah memenuhi syarat dan rukun pernikahan. Menurut Madhab Syafi’i yang termasuk dalam rukun pernikahan adalah akad (s}iqah ij>a>b qa>bu>l), calon mempelai laki-laki dan wanita, saksi dan wali. Selain itu dalam Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974 sebagaimana diubah dengan Undang-Undang Nomor 16 Tahun 2019 tentang Perkawinan juga menyebutkan bahwa, Perkawinan adalah sah apabila dilakukan menurut hukum masing-masing agama dan kepercayaanya.6
Dalam konteks kekinian, khususnya di Indonesia, aturan itu ditambah lagi dengan kewajiban untuk mencatatkan perkawinan ke Kantor Urusan Agama (KUA) dengan maksud agar kedua pasangan itu mendapatkan payung hukum jika terjadi hal-hal yang tidak diinginkan di kemudian hari. Apabila dalam mengarungi kehidupan berumah tangga mereka mendapatkan persoalan, maka mereka akan memperoleh bantuan dari hukum yang berlaku.
Berdasarkan latar belakang masalah yang telah disebutkan di atas, maka dapat dirumuskan dengan beberapa permasalahannya, yaitu Bagaimana hukum Nikah Siri menurut Hukum Islam dan hukum di Indonesia?
B. Nikah Siri Menurut Hukum Islam 1. Nikah
4Pasal 2 ayat (2)
5Pasal 5 ayat (1)
6Pasal 2 ayat (1)
3 Nikah menurut bahasa ialah berkumpul; bersenggama (wat}’u). Sedang menurut istilah adalah suatu perjanjian atau akad yang menghalalkan persetubuhan antara lelaki dan perempuan yang diucapkan oleh kata-kata nikah atau yang menunjukkan arti nikah.
Kata zawa>j7 pada awal penggunaannya berartikan pasangan, akan tetapi arti yang dimaksud dalam al-Qur’an adalah perkahwinan. Allah swt. menjadikan manusia berpasang- pasangan, menghalalkan perkahwinan dan mengharamkan zina. Nikah menurut syariat selain diartikan sebagai akad juga diartikan sebagai hubungan badan dan itu hanya metafora saja.
2. Siri
Kata siri berasal dari bahasa Arab yaitu sirri> yang artinya adalah rahasia.8 Namun apabila digabungkan antara kata nika>h} dan kata sirri> maka dapat diartikan secara bahasa dengan nikah diam-diam yang dirahasiakan yakni tidak ditampakkan.
Nikah Siri menurut terminologi, para ulama mengartikan dengan tiga pengertian yang berbeda-beda. Berikut uraiannya:
a.
Pernikahan tanpa dicatat oleh Kantor Urusan Agama (KUA)Nikah Siri adalah, pernikahan yang dilakukan oleh sepasang kekasih tanpa ada pemberitahuan (dicatatkan) di Kantor Urusan Agama (KUA), tetapi pernikahan ini sudah memenuhi unsur-unsur pernikahan dalam Islam, yang meliputi dua mempelai, dua orang saksi, wali, ijab-kabul dan juga mas kawin.
Nikah Siri ini hukumnya sah menurut agama, tetapi tidak sah menurut hukum positif (hukum negara) dengan mengabaikan sebagian atau beberapa aturan hukum positif yang berlaku, sebagaimana yang telah dijelaskan dalam Undang-Undang Perkawinan No. 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan, Pasal 2 bahwa setiap perkawinan dicatatkan secara resmi pada Kantor Urusan Agama (KUA). Sedangkan instansi yang dapat melaksanakan perkawinan adalah Kantor Urusan Agama (KUA) bagi yang beragama Islam dan Kantor Catatan Sipil (KCS) bagi yang beragama Non Islam.9
Oleh karena itu, pernikahan siri yang tidak dicatatkan di Kantor Urusan Agama itu tidak punya kekuatan hukum, sehingga jika suatu saat mereka berdua punya permasalahan yang berkenaan dengan rumah tangganya seperti perceraian, kekerasan dalam rumah tangga, warisan, perebutan hak asuh anak dan lainnya, pihak kantor urusan agama dan pengadilan agama tidak
7Ah}mad bin’Umar bin ‘Awad} al-Sya>t}iri>, al-Ya>qu>t al-Nafi>s (Bairu>t: Da>r al-Fikr, t.th), h. 141.
8Abu> al-Fad}l Jama>l al-Di>n Muh}ammad bin Mukrim al-Ans}a>ri> Ibn Manz{u>r, Lisa>n al-‘Arab. Bairu>t: Da>r S{a>dir, 1990), h. 356-357.
9Happy Susanto, Nikah Sirri Apa Untungnya? (Cet. I; Jakarta: Visimedia, 2007), h. 22.
4 bisa memutuskan bahkan tidak bisa menerima pengaduan mereka berdua yang sedang punya masalah.10
b.
Pernikahan tanpa wali atau saksiNikah Siri adalah, pernikahan yang dilangsungkan oleh suami istri tanpa kehadiran wali dan saksi-saksi, atau hanya dihadiri wali tanpa diketahui oleh saksi-saksi. Kemudian pihak-pihak yang hadir (suami-istri dan wali) menyepakati untuk menyembunyikan pernikahan tersebut.
1) Menurut pandangan seluruh ulama fikih, pernikahan yang dilaksanakan seperti ini adalah tidak sah, karena tidak memenuhi syarat pernikahan. Seperti keberadaan wali dan saksi-saksi.
Bahkan termasuk ke dalam perzinahan atau ittikha>z\ul akhda>n (menjadikan wanita atau laki-laki sebagai piaraan untuk pemuas nafsu). Namun apabila dua saksi telah berada di tengah acara menyertai mempelai laki-laki dan perempuan, sementara itu pihak wali belum hadir, kemudian mereka bersepakat untuk merahasiakan pernikahan tersebut dari masyarakat, maka pernikahan ini juga termasuk pernikahan yang batil karena tidak terpenuhinya rukun nikah, hal itu telah dikemukakan oleh Abu> Bakar al-H{usaini> dalam kitabnya Kifa>yah al-Akhya>r:
ِﻫﺎَﺷَو ٍجْوَزَو ٍِّﱄَو ِﺔَﻌَـﺑْرَأ ُرْﻮُﻀُﺣ ِحَﺎﻜِّﻨﻟا ِﺪْﻘَﻋ ِﺔﱠﺤِﺻ ِْﰲ ُطََﱰْﺸُﻳ . ٍلْﺪَﻋ ْيَﺪ
11
Artinya:
“Disyaratkan dalam keabsahan akad nikah hadirnya empat orang, yaitu: wali, calon pengantin dan dua orang saksi yang adil.”
Hal itu sesuai dengan hadis Nabi Muhammad saw:
ٍلْﺪَﻋ ْىَﺪِﻫﺎَﺷَو ٍِّﱃَﻮِﺑ ﱠﻻِإ َحﺎَﻜِﻧ َﻻ .
ُﻩاَوَر ) ْﻟا َـﺒ ْـﻴ َﻬ (ﱡﻲ ِﻘ
12
Artinya:
“Tidak sah suatu pernikahan tanpa seorang wali dan dua orang saksi.” (HR al-Baihaqi>) Kata “La>” dalam hadis di atas menunjukkan arti bukan hanya “tidak sempurna” akan tetapi ia berartikan “tidak sah”.
Pernikahan sirri menurut sebagian ulama madhab Hanafi adalah sah. Seorang wali tidak berhak membatalkannya, kecuali jika laki-laki yang menikahi wanita tersebut tidak sekufu (maka si wali boleh membatalkannya). Dalil-dalil yang mereka pakai untuk membangun pendapat ini antara lain:
10Nasiri, Praktik Prostitusi Gigolo ala Yusuf Al-Qardawi (Tinjauan Hukum Islam), (Surabaya: Khalista, 2010), h. 45-46.
11Taqiyy al-Di>n Abu>> Bakar bin Muh}ammad al-H{useini> al-H}is}ni>, Kifa>yah al-Akhya>r fi> H{ill Ga>yah al- Ikhtis}a>r (Bairu>t: Da>r al-Kutub al-‘Ilmiyyah, 2001 M/1422 H), h. 477.
12Abu>> Bakar Ah}mad bin al-H}usein bin ‘Ali al-Baihaqi>, al-Sunan al-Kubra>, Juz. 7 (Cet. III. Bairu>t: Da>r al- Kutub al-‘Ilmiyyah, 2003 M/1424 H), No Hadis. 13719, h. 202.
5 Dalil dari al-Qur’an
ْنِﺈَﻓ ﺎَﻬَﻘﱠﻠَﻃ ﱡﻞَِﲢ ﻼَﻓ
ُﻪَﻟ ْﻦِﻣ ُﺪْﻌَـﺑ ﱠﱴَﺣ َﺢِﻜْﻨَـﺗ ﺎًﺟْوَز ُﻩَْﲑَﻏ
Terjemahnya:
“Kemudian jika si suami mentalaknya (sesudah talak yang kedua), maka perempuan itu tidak halal lagi baginya hingga dia kawin dengan suami yang lain” (QS. Al-Baqarah/2 : 230).
اَذِإَو ُﻢُﺘْﻘﱠﻠَﻃ َءﺎَﺴِّﻨﻟا َﻦْﻐَﻠَـﺒَـﻓ ﱠﻦُﻬَﻠَﺟَأ ﱠﻦُﻫﻮُﻠُﻀْﻌَـﺗ ﻼَﻓ
ْنَأ ْﻨَـﻳ َﻦْﺤِﻜ ﱠﻦُﻬَﺟاَوْزَأ اَذِإ
اْﻮَﺿاَﺮَـﺗ ْـﻴَـﺑ ْﻢُﻬَـﻨ ِفوُﺮْﻌَمْﻟِ
Terjemahnya:
“Apabila kamu menalak istri-istrimu, lalu habis idahnya, maka janganlah kamu (para wali) menghalangi mereka kawin lagi dengan bakal suaminya, apabila telah terdapat kerelaan di antara mereka dengan cara yang makruf” (QS. Al-Baqarah/2 : 232).
َﻦﻳِﺬﱠﻟاَو َنْﻮﱠـﻓَﻮَـﺘُـﻳ ْﻢُﻜْﻨِﻣ َنوُرَﺬَﻳَو ﺎًﺟاَوْزَأ َﻦْﺼﱠﺑََﱰَﻳ ﱠﻦِﻬِﺴُفْـﻧَِ
َﺔَﻌَـﺑْرَأ ٍﺮُﻬْﺷَأ اًﺮْﺸَﻋَو اَذِﺈَﻓ َﻦْﻐَﻠَـﺑ ﱠﻦُﻬَﻠَﺟَأ َحﺎَﻨُﺟ ﻼَﻓ
ْﻢُﻜْﻴَﻠَﻋ
ﺎَمﻴِﻓ َﻦْﻠَﻌَـﻓ ﱠﻦِﻬِﺴُفْـﻧَأ ِﰲ
ِفوُﺮْﻌَمْﻟِ
ُﱠ اَو َنﻮُﻠَمْﻌَـﺗ ﺎَِﲟ ٌﲑِﺒَﺧ
Terjemahnya:
“Orang-orang yang meninggal dunia di antaramu dengan meninggalkan istri-istri (hendaklah para istri itu) menangguhkan dirinya (beridah) empat bulan sepuluh hari.
Kemudian apabila telah habis ‘iddahnya, maka tiada dosa bagimu (para wali) membiarkan mereka berbuat terhadap diri mereka menurut yang patut. Allah mengetahui apa yang kamu perbuat” (QS. Al-Baqarah/2 234).
Sisi pendalilannya :
Wanita adalah pelaku utama pernikahan, dan pernikahannya itu sah – berdasarkan ayat- ayat di atas – tanpa ada ijin dari wali.
Dalil dari As-Sunnah.
ﺎﻨﺛﺪﺣ ُﺔَﺒْـﻴَـﺘُـﻗ ُﻦْﺑ
،ٍﺪﻴِﻌَﺳ ﺎﻨﺛﺪﺣ
،ُنﺎَﻴْفُﺳ ْﻦَﻋ ِدَِز ِﻦْﺑ
،ٍﺪْﻌَﺳ ْﻦَﻋ ِﺪْﺒَﻋ ِﱠ ا ِﻦْﺑ
، ِﻞْﻀَفْﻟا َﻊَِﲰ
َﻊِﻓَ
َﻦْﺑ
،ٍْﲑَﺒُﺟ
،ُِﱪُْﳜ ِﻦَﻋ
ِﻦْﺑا ٍسﺎﱠﺒَﻋ ّنَأ : ﱠ ِﱯﱠﻨﻟا ﻰﱠﻠَﺻ ُﷲ ِﻪْﻴَﻠَﻋ َﻢﱠﻠَﺳَو َلﺎَﻗ " : ُﺐِّﻴﱠﺜﻟا ﱡﻖَﺣَأ ﺎَﻬِﺴْفَـﻨِﺑ ْﻦِﻣ
،ﺎَﻬِّﻴِﻟَو ُﺮْﻜِﺒْﻟاَو
،ُﺮَﻣْﺄَﺘْﺴُﺗ ﺎَُْذِإَو
ﺎَُﻮُﻜُﺳ
"
Artinya:6 Telah menceritakan kepada kami Qutaibah bin Sa’iid : Telah menceritakan kepada kami Ziyaad bin Sa’d, dari ‘Abdullah bin Al-Fadhl, ia mendengar Naafi’ bin Jubair mengkhabarkan dari Ibnu ‘Abbaas : Bahwasannya Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda : “Ats-tsayyibu (janda) lebih berhak kepada dirinya sendiri dibandingkan walinya. Adapun seorang gadis dimintai ijin, dan ijinnya itu adalah dengan diamnya”
(Diriwayatkan oleh Muslim no. 1421).
ﺎَﻨَـﺛﱠﺪَﺣ ُﺪْﺒَﻋ
، ِقاﱠزﱠﺮﻟا َََﱪْﺧَأ
،ٌﺮَمْﻌَﻣ ْﻦَﻋ ِﺢِﻟﺎَﺻ ِﻦْﺑ
،َنﺎَﺴْﻴَﻛ ْﻦَﻋ
ِﻊِﻓَ
ِﻦْﺑ ِْﲑَﺒُﺟ ِﻦْﺑ
،ٍﻢِﻌْﻄُﻣ ِﻦَﻋ ِﻦْﺑا
، ٍسﺎﱠﺒَﻋ ّنَأ َلﻮُﺳَر
ِﱠ ا ﻰﱠﻠَﺻ ُﷲ ِﻪْﻴَﻠَﻋ َﻢﱠﻠَﺳَو َلﺎَﻗ " : َﺲْﻴَﻟ ِِّﱄَﻮْﻠِﻟ َﻊَﻣ ِﺐِّﻴﱠﺜﻟا
،ٌﺮْﻣَأ ُﺔَمﻴِﺘَﻴْﻟاَو
،ُﺮَﻣْﺄَﺘْﺴُﺗ ﺎَﻬُـﺘْمَﺼَﻓ
ﺎَﻫُراَﺮْـﻗِإ "
Artinya:
Telah menceritakan kami ‘Abdurrazzaaq : Telah mengkhabarkan kepada kami Ma’mar, dari Shaalih bin Kaisaan, dari Naafi’ bin Jubair bin Muth’im, dari Ibnu ‘Abbaas : Bahwasannya Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda : “Tidak ada hak/kuasa bagi seorang wali terhadap seorang janda. Adapun gadis yatim dimintai ijin, dan diamnya adalah tanda persetujuannya” (Diriwayatkan oleh Ahmad 1/334; shahih).
Sisi pendalilannya :
Kedua hadis di atas menjelaskan bahwa Islam memberikan hak secara penuh kepada seorang janda untuk menikah dengan seorang laki-laki yang ia inginkan tanpa ada intervensi dari wali. Adapun bagi gadis (bukan janda), ia perlu dimintai persetujuannya. Disebutkan dalam hadis lain bahwa seorang wanita berhak menolak jika ia dinikahkan oleh walinya dengan seorang laki-laki yang tidak ia suka. Artinya, ijin dari wali bukanlah menjadi satu keharusan atau syarat sah bagi pernikahan tersebut, karena yang menjadi keharusan adalah keridlaan/kerelaan dari si wanita.
Selain itu, Hanafiyyah juga berhujjah dengan hadis :
ﺎَﻨَـﺛﱠﺪَﺣ
،ُﺪﻳِﺰَﻳ َلﺎَﻗ ﺎَﻨَـﺛﱠﺪَﺣ : ُدﺎﱠَﲪ ُﻦْﺑ
،َﺔَمَﻠَﺳ ْﻦَﻋ ٍتِﺑَ
،ِِّﱐﺎَﻨُـﺒْﻟا َلﺎَﻗ ِﲏَﺛﱠﺪَﺣ : ُﻦْﺑا َﺮَمُﻋ ِﻦْﺑ ِﰊَأ
،َﺔَمَﻠَﺳ ْﻦَﻋ
،ِﻪﻴِﺑَأ ْﻦَﻋ
ِّمُأ
،َﺔَمَﻠَﺳ ﱠنَأ َلﻮُﺳَر ِﱠ ا ﻰﱠﻠَﺻ ُﷲ ِﻪْﻴَﻠَﻋ َﻢﱠﻠَﺳَو َﺐَﻄَﺧ ﱠمُأ
،َﺔَمَﻠَﺳ ْتَﻟﺎَﻘَـﻓ َ : َلﻮُﺳَر
،ِﱠ ا ُﻪﱠﻧِإ َﺲْﻴَﻟ ٌﺪَﺣَأ ْﻦِﻣ ﻲِﺋﺎَﻴِﻟْوَأ
ِﲏْﻌَـﺗ
،اًﺪِﻫﺎَﺷ َلﺎَﻘَـﻓ " : ُﻪﱠﻧِإ َﺲْﻴَﻟ ٌﺪَﺣَأ ْﻦِﻣ ِﻚِﺋﺎَﻴِﻟْوَأ ٌﺪِﻫﺎَﺷ َﻻَو ٌﺐِﺋﺎَﻏ ُﻩَﺮْﻜَﻳ َﻚِﻟَذ "
...
Artinya:
Telah menceritakan kepada kami Yaziid, ia berkata : Telah menceritakan kepada kami Hammaad bin Salamah, dari Tsaabit Al-Bunaaniy, ia berkata : Telah menceritakan kepadaku Ibnu ‘Umar bin Abi Salamah, dari ayahnya, dari Ummu Salamah : Bahwasannya Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam melamar Ummu Salamah. Maka Ummu Salamah berkata : “Wahai Rasulullah, sesungguhnya tidak ada seorang pun dari
7 wali-waliku yang menyaksikannya”. Beliau bersabda : “Sesungguhnya tidak ada seorang pun dari wali-walimu yang menyaksikannya ataupun tidak menyaksikannya membenci hal itu…..” (Diriwayatkan oleh Ahmad, 6/295; dha’if).
Hadis ini menunjukkan bahwa keberadaan wali dalam pernikahan bukanlah satu hal yang wajib. Akan tetapi, sebagaimana telah dituliskan statusnya, hadis tersebut lemah, tidak bisa digunakan sebagai hujjah.
Ada riwayat yang semisal dari sebagian shahabat :
ﺐﻄﺧو ةﲑﻐﳌا ﻦﺑ ﺔﺒﻌﺷ ةأﺮﻣا ﻮﻫ ﱃوأ سﺎﻨﻟا
،ﺎ ﺮﻣﺄﻓ ﻼﺟر ﻪﺟوﺰﻓ
Artinya:
“Al-Mughiirah bin Syu’bah melamar seorang wanita, dan ia sendiri adalah orang yang paling dekat (kekerabatannya) dengan wanita tersebut. Lalu ia memerintahkan seorang laki-laki untuk menikahkannya” (Diriwayatkan oleh Al-Bukhaariy secara mu’allaq; namun disambungkan oleh Wakii’ dalam Mushannaf-nya dan Al-Baihaqiy dengan sanad shahih – silakan baca pembahasannya dalam Irwaaul-Ghaliil 6/256-257 no. 1855).
Juga riwayat lain :
، ِﲏَﺛﱠﺪَﺣَو ْﻦَﻋ
،ﻚِﻟﺎَﻣ ْﻦَﻋ ِﺪْﺒَﻋ ِﻦَْﲪﱠﺮﻟا ِﻦْﺑ
،ِﻢِﺳﺎَﻘْﻟا ْﻦَﻋ
،ِﻪﻴِﺑَأ ﱠنَأ َﺔَﺸِﺋﺎَﻋ َجْوَز ﱠﻨﻟا ِِّﱯ ﻰﱠﻠَﺻ ُﷲ ِﻪْﻴَﻠَﻋ َﻢﱠﻠَﺳَو ْتَﺟﱠوَز
َﺔَﺼْفَﺣ َتْﻨِﺑ ِﺪْﺒَﻋ
،ِﻦَْﲪﱠﺮﻟا َرِﺬْﻨُمْﻟا َﻦْﺑ
،ِْﲑَﺑﱡﺰﻟا ُﺪْﺒَﻋَو ِﻦَْﲪﱠﺮﻟا ٌﺐِﺋﺎَﻏ
،ِمﺎﱠﺸﻟِ
ﺎﱠمَﻠَـﻓ َمِﺪَﻗ ُﺪْﺒَﻋ
،ِﻦَْﲪﱠﺮﻟا َلﺎَﻗ ﻲِﻠْﺜِﻣَو :
ُﻊَﻨْﺼُﻳ اَﺬَﻫ
،ِﻪِﺑ ﻲِﻠْﺜِﻣَو ُتﺎَﺘْفُـﻳ ْﻴَﻠَﻋ ْتَمﱠﻠَﻜَﻓ ،ِﻪ
،ُﺔَﺸِﺋﺎَﻋ َرِﺬْﻨُمْﻟا َﻦْﺑ
،ِْﲑَﺑﱡﺰﻟا َلﺎَﻘَـﻓ ُرِﺬْﻨُمْﻟا ﱠنِﺈَﻓ : َﻚِﻟَذ ِﺪَﻴِﺑ ِﺪْﺒَﻋ
،ِﻦَْﲪﱠﺮﻟا
َلﺎَﻘَـﻓ ُﺪْﺒَﻋ ِﻦَْﲪﱠﺮﻟا " : ﺎَﻣ ُتْﻨُﻛ ﱠدُرَِﻷ اًﺮْﻣَأ ِﻪﻴِﺘْﻴَﻀَﻗ "
ْتﱠﺮَﻘَـﻓ ، ُﺔَﺼْفَﺣ َﺪْﻨِﻋ
،ِرِﺬْﻨُمْﻟا َْﱂَو ْﻦُﻜَﻳ َﻚِﻟَذ ﺎًﻗ َﻼ َﻃ
Artinya:
Dan telah menceritakan kepadaku, dari Maalik, dari ‘Abdurrahman bin Al-Qaasim, dari ayahnya : Bahwasannya ‘Aaisyah istri Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam menikahkan Hafshah bintu ‘Abdirrahmaan dengan Al-Mundzir bin Az-Zubair yang saat itu
‘Abdurrahmaan sedang berada di Syaam. Ketika ‘Abdurrahmaan tiba, ia berkata dengan kecewa : “Orang sepertiku memang pantas diperlakukan seperti ini, dan tidak pantas dimintai pertimbangan”. Lalu ‘Aaisyah berbicara kepada Al-Mundzir bin Zubair, lalu Al- Mundzir berkata : “Itu terserah ‘Abdurrahmaan”. ‘Abdurrahmaan berkata : “Aku tidak akan menolak sesuatu yang telah engkau putuskan”. Maka Hafshah pun tetap menjadi istri Al- Mundzir, dan perkataannya tidak dianggap sebagai thalaq” [Diriwayatkan oleh Maalik dalam Al-Muwaththa’ no. 1280; shahih].
Riwayat di atas secara jelas menunjukkan bahwa ‘Aisyah radliyallaahu ‘anhaa telah menikahkan Hafshah dengan Al-Mundzir (tanpa keberadaan wali bagi Hafshah).
c.
Pernikahan siri perspektif Islam8 Nikah Siri adalah, pernikahan yang dilaksanakan dengan syarat-syarat dan rukun-rukun yang terpenuhi, seperti ijab-kabul, wali dan saksi-saksi. Akan tetapi mereka (suami-istri, wali dan saksi) bersepakat untuk merahasiakan pernikahan ini dari masyarakat. Dalam hal ini, sering pihak lelakilah yang berpesan supaya dua saksi menutup rapat-rapat berita mengenai pernikahan yang terjadi.13
Para ulama berselisih pendapat dalam masalah ini. Jumhur ulama memandang pernikahan seperti ini sah akan tetapi hukumnya adalah makruh. Hukumnya sah dan resmi menurut agama karena sudah memenuhi rukun dan syarat pernikahan serta adanya dua saksi sehingga unsur kerahasiaannya hilang. Sebab suatu perkara yang rahasia, jika telah dihadiri oleh dua orang atau lebih, maka tidak lagi disebut dengan rahasia. Adapun sisi kemakruhannya adalah disebabkan adanya perintah Rasulullah saw., untuk melakukan mengumumkan pernikahan kepada masyarakat luas. Hal itu dilakukan untuk menghilangkan unsur yang berpotensial mengundang keragu-raguan serta tuduhan tidak benar (seperti kumpul kebo misalnya) pada keduanya.
Sebagaimana sabdanya:
اْﻮُـﻨِﻠْﻋَأ :ﻢﱠﻠَﺳو ﻪﻴَﻠَﻋ ُﷲ ﻰﱠﻠَﺻ ﷲ ُلْﻮُﺳَر َلﺎَﻗ ،ْتَﻟﺎَﻗ ،ﺎَﻬْـﻨَﻋ ﷲ َﻲِﺿَر َﺔَﺸِﺋﺎَﻋ ْﻦَﻋ ِّﻨﻟا اَﺬَﻫ
،َحﺎَﻜ
ِفْﻮُـﻓﱡﺪﻟِ ِﻪْﻴَﻠَﻋ اﻮُﺑِﺮْﺿاَو ،ِﺪِﺟﺎَﺴَمْﻟا ِْﰲ ُﻩْﻮُﻠَﻌْﺟاَو (ّيِﺬِﻣِّْﱰﻟا ُﻩاَوَر)
14
Artinya:
”Diriwayatkan dari Aisyah ra. bahwa Rasulullah saw. bersabda: tampakkanlah pernikahan ini dan laksanakan di masjid-masjid serta pukullah terbang atasnya.” (HR al-Tirmiz\i>)
Sedangkan kalangan ulama Malikiyyah menilai pernikahan yang seperti ini tidak sah, karena maksud dari perintah untuk menyelenggarakan pernikahan adalah pemberitahuan, dan ini termasuk syarat sahnya pernikahan.15 Pendapat yang rajih (kuat), nikah ini sah, karena syarat- syarat dan rukunnya telah terpenuhi, walaupun tidak diberitahukan kepada khalayak. Sebab kehadiran wali dan dua saksi telah merubah sifat kerahasiaan menjadi sesuatu yang diketahui oleh umum. Semakin banyak yang mengetahui, maka semakin baik. Oleh karena itu, dimakruhkan merahasiakan pernikahan agar supaya pasangan itu tidak mendapatkan gunjingan dan tuduhan tidak sedap, ataupun persangkaan-persangkaan yang buruk dari orang lain.16
Sementara itu dalam pengertian masyarakat, Nikah Siri sering disebut dengan “nikah dibawah tangan” yang lebih mengarah pada pernikahan yang tidak menyertakan petugas pencatat
13Tanwirul Afkar, Fiqh Rakyat (Yogyakarta: LKIS, 2000), h. 288.
14Abu> ‘I<sa> Muh}ammad Ibn ‘I<sa> al-Tirmiz\i>, al-Ja>mi’ al-S}ah}i>h} Sunan al-Tirmiz\i>, Juz. 3 (Bairu>t: Da>r al-Fikr, 1938), h. 398.
15Ahmad Kuzari, Nikah Sebagai Perikatan (Jakarta: Rajawali, 1995), h. 48.
16Ahmad Rofiq, Hukum Islam di Indonesia (Cet. II; Jakarta: Raja Grafindo, 1997), h. 70.
9 nikah (misalnya KUA) untuk mencatat pernikahan tersebut dalam dokumen negara. Akibatnya, dua mempelai tersebut tidak mengantongi surat nikah dari pihak yang berwenang. Perkawinan model seperti ini biasanya muncul berbagai masalah tatkala terjadi bentrokan dengan sebuah kepentingan dalam bentuk pengingkaran terjadinya pernikahan dan tak jarang pula anak yang dilahirkan dalam pernikahan ini juga tidak diakui bahkan merembet pada masalah hak waris.17
C. Nikah Siri Perspektif Hukum Positif
Berdasarkan sudut pandang hukum yang berlaku di Indonesia bahwa Nikah Siri merupakan pernikahan yang dilakukan tidak sesuai dengan ketentuan peraturan perundang- undangan yang berlaku. Sebagaimana dipahami bahwa berdasarkan ketentuan Pasal 2 ayat (1) dan (2) Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974 sebagaimana diubah dengan Undang-Undang Nomor 16 Tahun 2019 tentang Perkawinan Jo. Pasal 4 dan Pasal 5 ayat (1) dan (2) KHI, suatu perkawinan di samping harus dilakukan secara sah menurut hukum agama, juga harus dicatat oleh pejabat yang berwenang.18 Dengan demikian, dalam perspektif peraturan perundang- undangan, Nikah Siri tergolong pernikahan yang ilegal dan tidak sah.
Ada dua persyaratan pokok yang harus dikondisikan sebagai syarat kumulatif bagi kalangan umat Islam Indonesia yang menjadikan pernikahan mereka sah menurut hukum positif, yaitu:
1. Pernikahan harus dilakukan menurut hukum Islam, dan 2. Setiap pernikahan harus dicatat.
Pencatatan pernikahan tersebut dilakukan oleh PPN sesuai Undang-Undang U Nomor 22 Tahun 1946 jo. Undang-Undang Nomor 32 Tahun 1954. Dengan demikian, tidak terpenuhinya salah satu dari ketentuan dalam pasal 2 tersebut menyebabkan pernikahan menjadi batal atau setidaknya cacat hukum dan dapat dibatalkan. Akan tetapi kalau ketentuan pasal tersebut masih dipahami sebagai syarat alternatif, maka pernikahan dianggap sah meskipun hanya dilakukan menurut hukum agama dan tidak dicatatkan di KUA. Permasalahan hukum mengenai sah atau tidaknya suatu pernikahan yang tidak dicatatkan akan selalu menjadi polemik berkepanjangan bila ketentuan undang-undangnya sendiri tidak mengaturnya secara tegas. Dalam arti kewajiban pencatatan tersebut harus dinyatakan secara tegas yang disertai sanksi bagi yang melanggarnya.
Bagi umat Islam, kepentingan pencatatan itu sendiri sebenarnya mempunyai dasar hukum Islam yang kuat mengingat pernikahan adalah suatu ikatan perjanjian luhur dan merupakan
17Abdus Shomad, Hukum Islam: Penormaan Prinsip Syariah dalam Hukum Indonesia (Jakarta: Kencana, 2010), h. 309.
18Cik Hasan Bisri, Kompilasi Hukum Islam (Jakarta: Logos Wacana Ilmu, 1999), h. 145.
10 perbuatan hukum tingkat tinggi. Artinya, Islam memandang pernikahan itu lebih dari sekedar ikatan perjanjian biasa. Dalam Islam, pernikahan merupakan perjanjian yang sangat kuat (mi>s\aqan gali>z}an). Bagaimana mungkin sebuah ikatan yang sangat kuat dipandang ringan?
Mengapa logika sebagian umat Islam terhadap wajibnya pencatatan pernikahan seperti mengalami distorsi? Perlu diyakinkan kepada umat Islam bahwa pencatatan pernikahan hukumnya adalah wajib syar’i. Sungguh sangat keliru apabila pernikahan bagi umat Islam tidak dicatatkan sesuai dengan ketentuan hukum yang berlaku. Sedangkan ikatan perjanjian biasa, misalnya semacam utang piutang di lembaga perbankan atau jual beli tanah misalnya saja perlu dicatat, mengapa ikatan pernikahan yang merupakan perjanjian luhur dibiarkan berlangsung begitu saja tanpa adanya pencatatan oleh pejabat yang berwenang. Ironi bagi umat Islam yang ajaran agamanya mengedepankan ketertiban dan keteraturan tapi mereka mengabaikannya. Allah swt. berfirman dalam QS al-Nisa>’/4: 59.
ا ْاﻮُﻌﻴِﻃَأَو َّ ا ْاﻮُﻌﻴِﻃَأ ْاﻮُﻨَﻣآ َﻦﻳِﺬﱠﻟا ﺎَﻬﱡـﻳَأ َ َلﻮُﺳ ﱠﺮﻟ
َو َﻷا ِﱄْوُأ ْﻢُﻜﻨِﻣ ِﺮْﻣ ...
Terjemahnya:
“Hai orang-orang yang beriman, ta`atilah Allah dan ta`atilah Rasul (Nya), dan Ulil Amri di antara kamu…..”19
Berdasarkan firman Allah swt. di atas maka dapat ditarik garis tegas tentang adanya beban hukum “wajib” bagi orang-orang yang beriman untuk taat kepada Allah, Rasulnya dan kepada para pemmpin. Sampai pada tahapan ini umat Islam semua sepakat bahwa sebagai umat yang beriman memikul tanggung jawab secara imperatif (wajib) sesuai perintah Allah swt.
tersebut. Akan tetapi ketika perintah taat kepada para pemimpin diposisikan sebagai wajib taat kepada pemerintah, otomatis termasuk di dalamnya adalah perintah untuk menaati peraturan perundang-undangan yang berlaku mengenai pencatatan pernikahan, maka oleh sebagian umat Islam sendiri terjadi penolakan terhadap pemahaman tersebut sehingga kasus pernikahan di bawah tangan masih banyak terjadi dan dianggap sebagai hal yang tidak melanggar ketentuan hukum syara’.
Permasalahan masih banyaknya Nikah Siri di kalangan umat Islam adalah terletak pada pemahaman makna siapakah yang dimaksud dengan Ulil Amri dalam ayat di atas. Ada banyak pendapat mengenai siapakah Ulil Amri itu, antara lain ada yang mengatakan bahwa Ulil Amri adalah kelompok Ahl al-H}alli Wa al-‘Aqdi (DPR) dan ada pula yang berpendapat bahwa Ulil Amri adalah pemerintah. Dalam tulisan ini, penulis tidak ingin memperdebatkan tentang siapakah Ulil Amri itu? Akan tetapi lebih mengedepankan pemahaman terhadap hukum Islam
19Departemen Agama RI, al-Qur’an dan Terjemahannya, h. 128.
11 secara komprehensif sesuai dengan katakteristik hukum Islam itu sendiri. Komprehensifitas (dari hukum Islam) itu dapat dilihat dari keberlakuan hukum Islam di tengah-tengah mayarakat.
Hukum Islam tidak ditetapkan hanya untuk seseorang individu tanpa keluarga, dan bukan ditetapkan hanya untuk satu keluarga tanpa masyarakat, bukan pula untuk satu masyarakat secara terpisah dari masyarakat lainnya dalam lingkup umat Islam, dan ia tidak pula ditetapkan hanya untuk satu bangsa secara terpisah dari bangsa-bangsa di dunia yang lainnya, baik bangsa penganut agama Ahli Kitab maupun kaum penyembah berhala (paganis).
Perlu kiranya memahami penalaran hukum pada ayat di atas secara komprehensif dalam konteks ini. Oleh sebab itu, pendekatan terhadap penalaran makna Ulil Amri dalam hubungannya dengan kewajiban pencatatan pernikahan bagi umat Islam, dapat dipahami bahwa Undang-Undang Negara Republik Indonesia Nomor 1 Tahun 1974 Tentang Perkawinan dan peraturan perundangan lainnya yang berkaitan dengan itu adalah merupakan produk legislasi nasional yang proses pembuatannya melibatkan berbagai unsur mulai dari Pemerintah, DPR, Ulama dan kaum cerdik pandai serta para ahli lainnya yang keseluruhannya merupakan Ahl al- H{alli wa al-’Aqdi. Dengan demikian, apabila Undang-undang memerintahkan perkawinan harus dicatat, maka wajib syar’i hukumnya bagi umat Islam di Indonesia untuk mengikuti ketentuan undang-undang tersebut. Pernikahan bagi umat Islam adalah suatu keniscayaan dan ia merupakan suatu yang mutlak kebenarannya. Oleh karena itu, pernikahan perlu adanya sistem hukum yang mengaturnya.
D. Faktor-Faktor yang Melatarbelakangi Terjadinya Nikah Siri
Nikah Siri dilakukan pada umumnya karena ada sesuatu yang dirahasiakan, atau karena mengandung suatu masalah. Oleh karena Nikah Siri mengandung masalah, maka masalah itu akan berakibat menimpa pada orang yang bersangkutan, termasuk anak-anak yang dilahirkan dari pernikahan siri.20
Adapun faktor-faktor yang melatarbelakangi terjadinya Nikah Siri adalah sebagai berikut:
1. Faktor ekonomi
Faktor ekonomi diantaranya karena biaya administrasi pencatatan nikah, yaitu sebagian masyarakat khususnya yang ekonomi menengah ke bawah merasa tidak mampu membayar administrasi pencatatan yang kadang membengkak dua kali lipat dari biaya resmi.21
20Widiastuti, Beberapa Faktor Penyebab Pasangan Suami Isteri Melakukan Pernikahan di Bawah Tangan, Jurnal Eksplorasi, Vol. XX (1) tahun 2008, LPPM Slamet Riyadi, h. 78-89.
21Admin, Hukum Nikah Sirri, 04 April 2010, http:// dewandakwahjakarta.or.id/index.php/buletin/
april10/140-april4.html, akses tanggal 6 Februari 2011
12 Ada keluhan dari masyarakat bahwa biaya pencatatan pernikahan di KUA tidak transparan, berapa biaya sesungguhnya secara normatif. Oleh karena dalam praktik masyarakat yang melakukan pernikahan di kenai biaya yang beragam. Adanya kebiasaan yang terjadi di masyarakat, bahwa seorang mempelai laki-laki selain ada kewajiban membayar mahar, juga harus menanggung biaya pesta perkawinan yang cukup besar (meskipun hal ini terjadi menurut adat kebiasaan), di daerah Jawa Tengah selain mahar ada juga biaya untuk serah-serahan (pemberian biaya untuk penyelenggaraan pernikahan), alasan ini pula yang menjadi penyebab laki-laki yang ekonominya belum mapan lebih memilih menikah dengan cara diam-diam, yang penting halal alias ada saksi tanpa harus melakukan pesta seperti umumnya pernikahan.
2. Faktor belum cukup umur
Nikah Siri dilakukan karena adanya salah satu calon mempelai belum cukup umur. Kasus ini terjadi disebabkan alasan ekonomi juga, dimana orang tua merasa kalau anak perempuannya sudah menikah, maka beban keluarga secara ekonomi menjadi berkurang, karena anak perempuannya sudah ada yang menanggung biaya hidupnya yaitu suaminya. Salah satu contoh kasus yang ramai terjadi adalah kasus Nikah Sirinya Syekh Puji (Pujiono) dengan Ulfah yang masih anak-anak di Kabupaten Semarang.
3. Faktor ikatan dinas/kerja atau sekolah
Adanya ikatan dinas/kerja atau peraturan sekolah yang tidak membolehkan menikah karena dia bekerja selama waktu tertentu sesuai dengan perjanjian yang sudah disepakati, atau karena masih sekolah maka tidak boleh menikah dulu sampai lulus. Kalau kemudian menikah, maka akan dikeluarkan dari tempat kerja atau sekolah, karena dianggap sudah melanggar aturan.
4. Faktor adanya anggapan bahwa Nikah Siri sah menurut agama, pencatatan itu hanya tertib administrasi
Menurut Ahmad Rofiq, adanya anggapan yang menyatakan bahwa sahnya sebuah pernikahan hanya didasarkan pada norma agama sebagaimana disebut dalam Pasal 2 ayat (1) dan ayat (2) Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974 sebagaimana diubah dengan Undang-Undang Nomor 16 Tahun 2019 tentang Perkawinan, yang menyebutkan bahwa pencatatan perkawinan tidak memiliki hubungan dengan sah tidaknya sebuah perkawinan dipraktekkan sebagian masyarakat dengan menghidupkan praktek Nikah Siri tanpa melibatkan petugas Pegawai Pencatat Nikah (PPN).
Fenomena ini banyak terjadi pada sebagian masyarakat yang masih berpegang pada hukum perkawinan yang fiqh sentris.22
5. Hamil diluar nikah, sebagai efek pergaulan bebas
22Ahmad Rofiq, Hukum Islam di Indonesia (Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada, 2000), h. 109.
13 Akibat dari pergaulan bebas antara laki-laki dan wanita yang tidak lagi mengindahkan norma dan kaidah-kaidah agama adalah terjadinya hamil diluar nikah. Kehamilan yang terjadi diluar nikah tersebut, merupakan aib bagi keluarga yang akan mengundang cemoohan dari masyarakat. Dari sanalah orang tua menikahkan secara siri anaknya dengan laki-laki yang menghamilinya dengan alasan menyelamatkan nama baik keluarga dan tanpa melibatkan petugas PPN, tetapi hanya dilakukan oleh imam masjid atau mu’allim (ada istilah nikah secara kiyai) tanpa melakukan pencatatan.
6. Kurangnya pemahaman dan kesadaran masyarakat tentang pencatatan pernikahan Pemahaman masyarakat yang sangat minim tentang pentingnya pencatatan
pernikahan, akibatnya mempengaruhi masyarakat tetap melaksanakan pernikahan siri. Adanya anggapan bahwa pernikahan yang dicatat dan tidak dicatat sama saja. Padahal telah dijelaskan dalam Undang-undang Perkawinan yaitu: “Tiap-tiap perkawinan dicatat menurut peraturan yang berlaku (Pasal 2 ayat (1) Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974 sebagaimana diubah dengan Undang- Undang Nomor 16 Tahun 2019 tentang Perkawinan). Bagi mereka yang melakukan perkawinan menurut agama Islam, pencatatan dilakukan di Kantor Urusan Agama (KUA). Sedang bagi yang beragama Katholik, Kristen, Budha, Hindu, pencatatan itu dilakukan di Kantor Catatan Sipil (KCS).”
7. Faktor sosial
Faktor sosial, yaitu masyarakat sudah terlanjur memberikan stigma negatif kepada setiap orang (laki-laki) yang menikah lebih dari satu (berpoligami), maka untuk menghindari stigma negatif tersebut, seseorang tidak mencatatkan pernikahannya kepada lembaga resmi.
8. Sulitnya aturan berpoligami
Untuk dilakukannya pernikahan yang kedua, ketiga dan seterusnya (poligami) ada beberapa syarat yang harus dipenuhi, sesuai dengan syarat poligami yang dijelaskan dalam Pasal 5 Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974 sebagaimana diubah dengan Undang-Undang Nomor 16 Tahun 2019 tentang Perkawinan, yaitu harus mendapat izin dan persetujuan dari istri sebelumnya. Hal ini diharapkan dapat memperkecil dilakukannya poligami bagi laki-laki yang telah menikah tanpa alasan tertentu. Dan karena sulit untuk mendapatkan izin dari istri, maka akhirnya suami melakukan nikah secara diamdiam atau Nikah Siri.23
9. Masih adanya masyarakat yang melakukan Nikah Siri karena tidak ada yang mau mengambil tindakan yang tegas
23Heru Susetyo, “Revisi Undang-Undang Perkawinan”, Jurnal Lex Jurnalica 4 (2) April 2007 Universitas Indonusa Esa Unggul, h. 73.
14 Dalam Peraturan Pemerintah Nomor 9 Tahun 1975 Tentang Pelaksanaan Undang-undang Nomor 1 Tahun 1974 Tentang Perkawinan Pasal 45 menyatakan:
a. Kecuali apabila ditentukan lain dalam peraturan perundang-undangan yang berlaku, maka:
1) Barang siapa yang melanggar ketentuan yang diatur dalam Pasal 3, 10 ayat (3), 40 Peraturan Pemerintah ini dihukum dengan hukuman denda setinggi-tingginya Rp. 7.500 (tujuh ribu lima ratus rupiah);
2) Pegawai Pencatat yang melanggar ketentuan yang diatur dalam Pasal 6, 7, 8, 9, 10 ayat (1), 11, 13, 44 Peraturan Pemerintah ini dihukum dengan hukuman kurungan selama- lamanya 3 (tiga) bulan atau denda setinggi-tingginya Rp. 7.500 (tujuh ribu lima ratus rupiah).
b. Tindak pidana yang dimaksud dalam ayat (1) di atas merupakan pelanggaran Pegawai Pencatat Nikah atau aparat penegak hukum mestinya memberikan sanksi secara tegas terhadap pelaku Nikah Siri yang tidak bertanggung jawab dan mengabaikan kewajibannya, hal ini untuk membuat jera pelaku, meskipun sanksi yang ada cukup ringan.
Pelaku Nikah Siri yang tidak bertanggung jawab dan mengabaikan kewajibannya yang diproses secara hukum, akan memberikan gambaran atau contoh bahwa Nikah Siri itu berdampak buruk baik terhadap suami, isteri maupun anak-anaknya. Sebaliknya bila tidak diambil tindakan hukum, maka masyarakat menganggap tidak masalah melakukan Nikah Siri dan masyarakat akan terus dan banyak yang tetap melakukan Nikah Siri.24
E. Dampak Nikah Siri 1. Dampak Positif a) Menghindari zina
b) Apabila suami dan istri bekerja pada instansi yang melarang orang beristri bersuami maka Nikah Siri adalah solusi alternatif.
2. Dampak Negatif a) Hukum
1) Tidak ada Perlindungan hukum bagi wanita;25 2) Tidak ada kepastian hukum terhadap status anak;
3) Tidak ada kekuatan hukum bagi istri dan anak dalam harta waris.26
24Siti Ummu Adillah, Analisis Hukum Terhadap Faktor-Faktor Yang Melatarbelakangi Terjadinya Nikah Sirri Dan Dampaknya Terhadap Perempuan (Istri) Dan Anak-Anak (Jurnal Dinamika Hukum Vol. 11 Edisi Khusus Februari 2011), h. 106-108
25Tsuroya Kiswati dkk, Perkawinan di Bawah Tangan (Sirri) dan Dampaknya Bagi Kesejahteraan Istri dan Anak di Daeah Tapal Kuda Jawa Timur, (Surabaya: Pusat Studi G’ender IAIN Sunan Ampel, 2004), 151.
15 b) Ekonomi
1) Wanita yang diperistri tidak mempunyai kekuatan hukum untuk menuntut besarnya ekonomi yang diperlukan;
2) Terjadi kesewenangan dari pihak suami dalam memberikan nafkah;
3) Tingkat kesejahteraan kehidupan keluarga rendah;
4) Meningkatnya jumlah keluarga yang tidak memperoleh peluang untuk meningkatkan kesejahteraan keluarganya (kendala birokrasi);
5) Memperbanyak jumlah keluarga miskin.
c) Sosiologis
1) Terciptanya komunitas baru berupa masyarakat yang tidak mendapatkan jaminan hukum yang layak dan memadai. Ketika terjadi tindak kekerasan dalam rumah tangga, istri tidak bisa berbuat banyak, karena ia tidak memiliki kekuatan hukum legal formal;
2) Meningkatnya jumlah keluarga yang kurang bertanggung jawab dalam membina rumah tangga;
3) Munculnya patologi sosial, akibat rendahnya tingkat ekonomi masyarakat;
4) Meningkatnya jumlah generasi muda yang kurang mendapatkan perhatian dan kasih sayang dari orang tuanya (terutama dari pihak bapak), sehingga berdampak pada kehidupannya di masa mendatang;
5) Meningkatnya jumlah generasi muda yang tidak memiliki peluang dalam memperoleh lapangan kerja (kendala birokrasi).
d) Pendidikan
1) Meningkatnya jumlah generasi muda yang tidak terjamin pendidikannya;
2) Meningkatnya jumlah generasi muda yang memiliki tingkat pendidikan yang rendah;
3) Meningkatnya jumlah generasi muda yang tidak memiliki peluang untuk meningkatkan prestasinya (kendala birokrasi).
e) Budaya
1) Terciptanya budaya Nikah Siri dalam masyarakat menciptakan semakin banyak suami yang kurang bertanggung jawab;
2) Meningkatnya budaya mempermainkan wanita/istri;
3) Meningkatnya jumlah kaum lelaki untuk mengumbar nafsunya (perzinahan terselubung);
26Tsuroya Kiswati dkk, Perkawinan di Bawah Tangan (Sirri) dan Dampaknya Bagi Kesejahteraan Istri dan Anak di Daeah Tapal Kuda Jawa Timur, h. 154.
16 4) Merebaknya budaya hidup berpoligami dalam masyarakat secara diam-
diam/tersembunyi.
f) Psikologis
1) Munculnya perasaan was-was, terancam, atau pun dibohongi oleh lelaki secara terus menerus di dalam diri wanita yang diperistri secara siri;
2) Kedamaian dan ketentraman yang dialami oleh wanita yang diperistri adalah semu, tanpa mengetahui jalan keluarnya.27
F.
KesimpulanBerdasarkan pembahasan di atas maka dapat disimpulkan:
1. Bahwa Nikah Siri dihukumi sah bila memenuhi aturan yang berlaku dalam ketentuan ajaran agama Islam.
2. Bahwa secara hukum positif, nikah siri adalah tidak sah apabila tidak ada pencatatan secara hukum, sebagaimana yang telah dijelaskan dalam Undang-Undang Perkawinan Undang- Undang Nomor 1 Tahun 1974 sebagaimana diubah dengan Undang-Undang Nomor 16 Tahun 2019 tentang Perkawinan.
G.
Daftar PustakaAfkar, Tanwirul. Fiqh Rakyat. Yogyakarta: LKIS, 2000.
Al-Baihaqi>, Abu>> Bakar Ah}mad bin al-H}usein bin ‘Ali>. al-Sunan al-Kubra>. Cet. III. Beirut:
Da>r al-Kutub al-‘Ilmiyyah, 2003 M/1424 H.
Al-H}is}ni>, Taqiyy al-Di>n Abu>> Bakar bin Muh}ammad al-H{useini>. Kifa>yah al-Akhya>r fi> H{ill Ga>yah al-Ikhtis}a>r. Beirut: Da>r al-Kutub al-‘Ilmiyyah, 2001 M/1422 H.
Al-S}abba>g, Mah}mu>d. Tuntunan Keluarga Bahagia Menurut Islam, alih bahasa Bahruddin Fannani. Cet. 3. Mesir: Da>r al-I’tis}a>m, 2004.
Al-Sya>t}iri>, Ah}mad bin’Umar bin ‘Awad}. Al-Ya>qu>t al-Nafi>s. Bairu>t: Da>r al-Fikr, t.th.
Al-Tirmiz\i>, Abu> ‘I<sa> Muh}ammad Ibn ‘I<sa>. Al-Ja>mi’ al-S}ah}i>h} Sunan al-Tirmiz\i>. Bairu>t: Da>r al- Fikr, 1938.
Bisri, Cik Hasan. Kompilasi Hukum Islam. Jakarta: Logos Wacana Ilmu, 1999.
27Tsuroya Kiswati dkk, Perkawinan di Bawah Tangan (Sirri) dan Dampaknya Bagi Kesejahteraan Istri dan Anak di Daeah Tapal Kuda Jawa Timur, h. 169.
17 Departeman Agama RI. Al-Qur’an Dan Terjemahannya, Madinah -Munawwarah: Yayasan Penyelenggara Penterjemah al-Qur’an, Edisi Khusus, Mujamma’ Kha>dim al-Haramain al-Syari>fain, al-Malik Fahd li> T}iba’ah al-Mus}h}af al-Syari>f, 1990 M.
Ibn Manz{u>r, Abu> al-Fad}l Jama>l al-Di>n Muh}ammad bin Mukrim al-Ans}a>ri>. Lisa>n al-‘Arab. Beirut: Da>r S{a>dir, 1990.
Kansil, Pengantar Ilmu Hukum dan Tata Hukum Indonesia. Jakarta: Balai Pustaka, 1989.
Kiswati, Tsuroya dkk. Perkawinan di Bawah Tangan (Sirri) dan Dampaknya Bagi Kesejahteraan Istri dan Anak di Daeah Tapal Kuda Jawa Timur. Surabaya: Pusat Studi Gender IAIN Sunan Ampel, 2004.
Kuzari, Ahmad. Nikah Sebagai Perikatan. Jakarta: Rajawali, 1995.
Mukhtar, Kamal. Asas-asas Hukum Islam tentang Perkawinan. Cet. 3. Jakarta: Bulan Bintang, 1993.
Nasiri, Praktik Prostitusi Gigolo ala Yusuf al-Qardawi (Tinjauan Hukum Islam). Surabaya:
Khalista, 2010.
Rofiq, Ahmad. Hukum Islam di Indonesia. Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada, 2000.
Shomad, Abdus. Hukum Islam: Penormaan Prinsip Syariah dalam Hukum Indonesia. Jakarta:
Kencana, 2010.
Susanto, Happy. Nikah Sirri Apa Untungnya? Cet. I. Jakarta: Visimedia, 2007.
Susetyo, Heru. “Revisi Undang-Undang Perkawinan”, Jurnal Lex Jurnalica 4 (2) April 2007 Universitas Indonusa Esa Unggul.
Ummu Adillah, Siti. Analisis Hukum Terhadap Faktor-Faktor Yang Melatarbelakangi Terjadinya Nikah Sirri Dan Dampaknya Terhadap Perempuan (Istri) Dan Anak-Anak (Jurnal Dinamika Hukum Vol. 11 Edisi Khusus Februari 2011.
Widiastuti, Beberapa Faktor Penyebab Pasangan Suami Isteri Melakukan Pernikahan di Bawah Tangan, Jurnal Eksplorasi, Vol. XX (1) tahun 2008, LPPM Slamet Riyadi.