1 MAKALAH EKONOMI REGIONAL
POTENSI RELATIF DAN PERUBAHAN STRUKTUR EKONOMI REGIONAL
Disusun Oleh :
Fajrin Gunawan Kelirey Npm: 02031511077
FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS PROGRAM STUDI EKONOMI PEMBANGUNAN
2
KATA PENGANTAR
Puji syukur kami panjatkan kehadapan Tuhan Yang Maha Esa, karena berkat rahmat dan karuniahnya makalah ini dapat kami selesaikan tepat pada waktunya. Adapun makalah ini kami susun, untuk dapat memenuhi tugas mata kuliah Ekonomi Regional. Makalah ini berjudul “Potensi Relatif dan Perubahan Struktur Ekonomi Regional”.
Terlepas dari semua itu, kami menyadari sepenuhnya bahwa masih ada kekurangan baik dari segi susunan kalimat maupun tata bahasanya. Oleh karena itu dengan tangan terbuka kami menerima segala saran dan kritik dari pembaca agar kami dapat memperbaiki makalah ini.
Ternate 3 Maret 2018
3
DAFTAR ISI
Halaman
HALAMAN JUDUL ... i
KATA PENGANTAR ... ii
DAFTAR ISI ... ii
BAB I PENDAHULUAN ... 1
1.1 Latar Belakang ... 1
1.2 Tujuan ... 1
1.3 Manfaat ... 1
BAB II PEMBAHASAN ... 2
2.1 Pengertian Teori Basis ... 2
2.2 Pengganda Basis ... 5
2.3 Cara Memilih Kegiatan Basis Dengan Nonbasis ... 8
2.3.1 Metode Langsung ... 8
2.3.2 Metode Tidak Langsung ... 9
2.3.3 Metode Campuran ... 10
2.3.4 Metode Lacation Quotient ... 11
2.4 Evaluasi Atas Tingkat Kebasisan Suatu Produk ... 12
2.5 Perbedaan Basis Antara di Kota Dengan di Wilayah Belakangnya ... 13
2.6 Keunggulan Komparatif ... 14
2.6.1 Faktor Penentu Wilayah Memiliki Keunggulan Komparatif ... 17
2.7 Location Quotient ... 18
2.8 Analisis Shift-Share ... 22
2.8.1 Konsep dan Definisi ... 23
BAB III PENUTUP ... 27
3.1 Kesimpulan ... 27
3.2 Saran ... 27
4
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Seorang perencana wilayah harus memiliki kemampuan untuk menganalisis potensi ekonomi wilayahnya. Hal ini terkait dengan kewajibannya di satu sisi menentukan sektor-sektor rill yang perlu dikembangkan agar perekonomian daerah tumbuh cepat dan di sisi lain mampu mengidentifikasikan faktor-faktor yang membuat potensi sektor tertentu rendah dan menentukan apakan prioritas untuk menanggulangi kelemahan tersebut. Setelah otonomi daerah, masing-masing daerah sudah lebih bebas dalam menetapkan sektor/komoditi yang diprioritaskan pengembangannya. Kemampuan pemerintah daerah untuk melihat sektor yang memiliki keunggulan/kelemahan di wilayahnya menjadi semakin penting. Sektor yang memiliki keunggulan, memiliki prospek yang lebih baik untuk dikembangkan dan diharapkan dapat mendorong sektor-sektor lain untuk berkembang. Ada beberapa alat analisis yang dapat digunakan untuk menentukan potensi relatif perekonomian suatu wilayah. alat analisis itu antara lain keunggulan komparatif,
location quotient, dan analisis Shift-share.
1.2 Tujuan
1. Mengetahui pengertian Teori Ekonomi Basis dan penerapannya dalam pembangunan ekonomi daerah.
2. Mengetahui sumber-sumber pertumbuhan ekonomi suatu daerah 3. Mampu menganalisa metode pengukuran sektor basis suatu daerah
1.3 Manfaat
5
BAB II
PEMBAHASAN
2.1 PENGERTIAN TEORI BASIS
Teori basis ekonomi (economic base theory) mendasarkan pandangannya bahwa laju pertumbuhan ekonomi suatu wilayah ditentukan oleh besarnya peningkatan ekspor dari wilayah tersebut. Kegiatan ekonomi dikelompokkan atas kegiatan basis dan kegiatan nonbasis. Hanya kegiatan basis yang dapat mendorong pertumbuhan ekonomi wilayah. untuk melihat dampak dampaknya terhadap seluruh perekonomian maka perlu dilakukan analisis makro-wilayah, yaitu melihat dampaknya terhadap seluruh perekonomian wilayah. secara makro, dalam kasus tersebut dibuat asumsi tersembunyi bahwa produksi suatu komoditi tersebut masih laku dijual di pasar dan itu tidak membuat harga pasar menjadi turun.
Teori basis ekonomi ini dikemukakan oleh Richardson (1973) yang menyatakan bahwa faktor penentu utama pertumbuhan ekonomi suatu daerah adalah berhubungan langsung dengan permintaan akan barang dan jasa dari luar daerah (Arsyad, 1999). Pertumbuhan industri-industri yang menggunakan sumberdaya lokal, termasuk tenaga kerja dan bahan baku untuk diekspor, akan menghasilkan kekayaan daerah dan penciptaan peluang kerja. Asumsi ini memberikan pengertian bahwa suatu daerah akan mempunyai sektor unggulan apabila daerah tersebut dapat memenangkan persaingan pada sektor yang sama dengan daerah lain sehingga dapat menghasilkan ekspor (Suyatno, 2000).
6
Teori basis ekonomi berupaya untuk menemukan dan mengenali aktivitas basis dari suatu wilayah, kemudian meramalkan aktivitas itu dan menganalisis dampak tambahan dari aktivitas ekspor tersebut. Konsep kunci dari teori basis ekonomi adalah bahwa kegiatan ekspor merupakan mesin pertumbuhan. Tumbuh tidaknya suatu wilayah ditentukan oleh bagaimana kinerja wilayah itu terhadap permintaan akan barang dan jasa dari luar.
Dalam kondisi pasar tertutup, bertambahnya produsen atau produksi yang tidak dibarengi dengan bertambahnya permintaan lokal dapat membuat harga jual menjadi turun. Apabila harga jual berubah turun, nilai tambah dari kegiatan itu akan turun karena laba investor (petani) berkurang. Namun kerugian bukan hanya diderita oleh petani itu sendiri karena petani lain yang sebelumnya telah aktif pada kegiatan tersebut juga menderita penurunan nilai tambah (laba masing-masing berkurang). Hal ini berarti nilai tambah total belum tentu meningkat bahkan bisa menurun apabila petani yang sudah menderita kerugian tetap meningkatkan produksinya. Pada akhirnya akan ada petani yang tidak lagi berproduksi dan menutup usahanya. Total produksi akan turun dan kembali kepada kondisi semula (sebetulnya investasi itu ada mendorong meningkatnya permintaan lokal tetapi tidak bersifat langgeng).
7
kerja baru sehingga tidak mampu menyerap angkatan kerja baru yang terus bertambah. Keuntungan pengusaha yang makin mengecil juga berdampak terhadap penerimaan pemerintah dari sektor pajak karena penerimaan pajak menjadi sulit ditingkatkan. Apabila penerimaan pemerintah tidak meningkat maka kemampuan pemerintah untuk menciptakan lapangan kerja baru menjadi menurun. Hal ini berbeda misalnya apabila investor itu menghasilkan produk yang ditunjukan untuk ekspor. Kegiatan itu menciptakan nilai tambah, mendorong sektor lain untuk turut berkembang tetapi tidak ada investor lokal lain yang dirugikan.
Dalam pengertian ekonomi regional, ekspor adalah suatu kegiatan yang menjual produk/jasa ke luar wilayah baik ke wilayah lain dalam negara itu maupun ke luar negeri. Tenaga kerja yang berdomisili di wilayah kita, tetapi bekerja dan memperoleh uang dari wilayah lain termasuk dalam pengertian ekspor. Pada dasarnya kegiatan ekspor adalah semua kegiatan baik penghasil produk maupun penyedia jasa yang mendatangkan uang dari wilayah disebut kegiatan basis. Lapangan kerja dan pendapatan di sektor basis adalah fungsi dari permintaan yang bersifat exogenous (tidak tergantung pada kekuatan intern/permintaan lokal).
8
2.2 PENGGANDA BASIS
Analisis basis dan nonbasis pada umumnya didasarkan atas nilai tambah ataupun lapangan kerja. Misalnya, penggabungan lapangan kerja basis dan lapangan kerja nonbasis merupakan total lapangan kerja yang tersedia untuk wilayah tersebut. Demikian pula penjumlahan pendapatan sektor basis dan pendapatan sektor nonbasis merupakan total pendapatan wilayah tersebut. Di dalam suatu wilayah dapat dihitung berapa besarnya lapangan kerja basis dan lapangan kerja nonbasis, dan apabila kedua angka itu dibandingkan, dapat dihitung nilai rasio basis (base ratio) dan kemudian dapat dipakai untuk menghitung nilai pengganda basis (base multiplier). Rasio basis adalah perbandingan antara banyaknya lapangan kerja nonbasis yang tersedia untuk setiap satu lapangan kerja basis. Misalnya, dalam satu wilayah terdapat 3.000 lapangan kerja yang terdiri atas 1.000 lapangan kerja basis dan 2.000 lapangan kerja nonbasis. Dengan demikian, rasio basis (base ratio) adalah 1 : 2. Artinya, setiap satu lapangan kerja basis, tersedia dua lapangan kerja nonbasis. Apabila pada periode berikutnya ekspor bisa ditingkatkan dan menambah lapangan kerja basis, misalnya 100 unit maka diharapkan tercipta tambahan 200 lapangan kerja baru di sektor nonbasis. Dengan kata lain, peningkatan ekspor akhirnya menciptakan tambahan 300 lapangan kerja baru. Sebaliknya apabila produk pengusaha kita kalah bersaing di pasar global dan terpaksa mengurangi kegiatan termasuk jumlah karyawannya sebanyak 50 orang maka secar bertahap sektor nonbasis akan kehilangan lapanga kerja sebanyak 100 unit. Hal ini berarti pengurangan ekspor akhirnya menurunkan lapangan kerja yang tersedia sebanyak 150 unit. Perlu diingat bahwa akibat kenaikan atau penurunan ekspor, lapangan kerja yang langsung bertambah atau berkurang adalah di sektor basis, sedangkan kenaikan atau penurunan di sektor nonbasis akan menyusul secara bertahap sampai seluruhnya terjadi. Waktu yang diperlukan antara berubahnya lapangan pekerjaan di sektor basis dan perubahan di sektor nonbasis merupakan masa tenggang (time-lag). Masa tenggang dapat diperkirakan bila terdapat data
9
Dalam kasus perubahan lapangan kerja di atas, yang rasio basisnya 1 : 2 untuk setiap satu perubahan lapangan kerja di sektor basis akan menambah lapangan kerja total sebanyak 3 unit, yaitu satu di sektor basis dan dua di sektor nonbasis. Besarnya perubahan lapangan kerja total untuk setiap satu perubahan lapangan kerja di sektor basis disebut pengganda (base multiplier). Nilai pengganda basis lapangan kerja dapat dihitung dengan rumus sebagai berikut.
�engganda basis =lapangan kerja basistotal lapangan kerja
10
dikumpulkan lewat survei langsung ke unit usaha. Seandainya nilai pengganda basis sudah diketahui dari pengalaman terdahulu maka apabila pada suatu tahun tertentu diketahui besarnya perubahan lapangan kerja di sektor basis, bisa diramalkan jumlah lapangan kerja yang berubah untuk keseluruhan wilayah, yaitu dengan rumus:
= ×
Dalam menggunakan nilai pengganda basis sebagai alat peramalan, sering dipermasalahkan bahwa nilai pengganda basis yang dihitung adalah berdasarkan perbandingan lapangan kerja yang telah tersedia (kondisi saat ini). Hal ini mungkin berbeda dengan keadaan di masa yang akan datang (perubahan yang akan diramalkan). Oleh karena itu, disarankan untuk menggunakan angka perubahan rata-rata per tahun antara total lapangan kerja terhadap perubahan lapangan kerja di sektor basis. Apabila angka ini dihitung dalam bentuk tahunan, misalnya perubahan dari tahun sebelumnya terhadap tahun ini, akan diperoleh angka pengganda basis per tahun yang biasanya berbeda dari tahun ke tahun.
11
2.3 CARA MEMILIH KEGIATAN BASIS DENGAN NONBASIS
Dalam menggunakan analisis basis ekonomi adalah memilih antara kegiatan basis dan kegiatan nonbasis. Sebagaimana telah diuraikan bahwa analisis basis ekonomi dapat menggunakan variabel lapangan kerja, pendapatan, atau ukuran lain tetapi yang umum dipakai adalah lapangan kerja atau pendapatan. Secara logika penggunaan variabel pendapatan lebih mengena kepada sasaran. Peningkatan pendapatan di sektor nonbasis dalam bentuk korelasi yang lebih ketat dibanding dengan menggunakan variabel lapangan kerja. Beberapa metode untuk memilah antara kegiatan basis dan kegiatan nonbasis dikemukakan berikut ini.
2.3.1 Metode Langsung
12
Penggunaan variabel lapangan kerja juga memerlukan pemikiran dan kehati-hatian yang cukup tinggi. Dalam suatu kegiatan usaha sering kali tercampur kegiatan basis dan nonbasis. Misalnya pada pabrik sepatu, sebagian produknya diekspor/dijual ke luar wilayah dan sebagian lagi dijual di dalam wilayah. Sepintas lalu bisa dikatakan bahwa kita lihat saja porsi sepatu yang dijual di luar wilayah dengan yang dijual di dalam wilayah. Dalam menentukan porsi tersebut, timbul pertanyaan alat ukur apa yang dipakai, jumlah/unit sepatunya atau nilai jualnya. Setelah itu dapat diketahui bahwa porsi itu bisa berubah dari tahun ke tahun. Hal ini perlu ditentukan apakah dipakai rata-rata atau trennya (proyeksinya) atau porsi pada tahun tertentu yang dianggap normal/ideal. Masalah berikutnya, ada kemungkinan sepatu yang dipasarkan secara lokal oleh produsennya, oleh pedagang dibawa untuk dijual ke luar wilayah atau dibeli oleh orang yang datang dari luar wilayah. Semua itu memerlukan pendugaan yang mendekati kebenaran, sebelum sampai pada perhitungan jumlah lapangan kerja basis dan nonbasis yang ada di wilayah analisis.
2.3.2 Metode Tidak Langsung
Mengingat rumitnya melakukan survei langsung ditinjau dari sudut waktu dan biaya, banyak juga dipakai metode tidak langsung dalam mengukur kegiatan basis dan nonbasis tersebut. Salah satu metode tidak langsung adalah dengan menggunakan asumsi atau disebut metode asumsi. Dalam metode asumsi, berdasarkan kondisi di wilayah tersebut (berdasarkan data sekunder), ada kegiatan tertentu yang diasumsikan sebagai kegiatan basis dan kegiatan lainnya sebagai kegiatan nonbasis. Ada kegiatan yang secara tradisional dikategorikan sebagai kegiatan basis, misalnya:
1) Asrama militer karena gaji penghuninya dan biaya operasional/perawatan lokasi berasal dari uang pemerintah pusat.
13
Kegiatan yang mayoritas produknya dijual ke luar wilayah atau mayoritas uang masuknya berasal dari luar wilayah langsung dianggap basis, sedangkan yang mayoritas produknya dipasarkan lokal dianggap nonbasis. Misalnya, produk tambakau deli yang produknya hampir 100% dijual ke luar negeri otomatis dianggap basis. Akan tetapi, produk seperti karet dan cokelat yang sebagian besar produknya dijual ke luar negeri juga dianggap basis, walaupun produknya ada yang dijual kepada prosesor lokal dan produknya ada yang menjadi konsumsi wilayah dan ada yang dijual ke luar wilayah/ekspor.
2.3.3 Metode Campuran
14
2.3.4 Metode Location Quotient
Metode lain yang tidak langsung adalah dengan menggunakan location quotient (metode LQ). Metode LQ membandingkan porsi lapangan kerja/nilai tambah untuk sektor tertentu di wilayah kita bandingkan dengan porsi lapangan kerja/nilai tambah untuk sektor yang samas secara nasional. Dalam bentuk rumus, apabila yang digunakan adalah data lapangan kerja, hal tersebut dapat dituliskan sebagai berikut.
Keterangan:
1 i = Banyaknya lapangan kerja sektor i di wilayah analisis e = Banyaknya lapangan kerja di wilayah analisis
L i = Banyaknya lapangan kerja sektor i secara nasional E = Banyaknya lapangan kerja secara nasional
Catatan: Istilah nasional adalah wilayah yang lebih tinggi jenjangnya. Misalnya,
apabila wilayah analisis adalah provinsi maka wilayah nasional adalah wilayah negara. Apabila wilayah analisis adalah wilayah kabupaten/kota maka istilah nasional digunakan untuk wilayah provinsi, dan seterusnya. Dari rumus di atas diketahui bahwa apabila LQ > 1 berarti bahwa porsi lapangan kerja sektor i di wilayah analisis terdapat total lapangan kerja wilayah adalah lebih besar dibandingkan dengan porsi lapangan kerja untuk sektor yang sama secara nasional. Artinya, sektor i di wilayah kita secara proporsional dapat menyediakan lapangan kerja melebihi porsi sektor i secara nasional. LQ > 1 memberikan indikasi bahwa sektor tersebut adalah basis, sedangkan apabila LQ < 1 berarti sektor itu adalah nonbasis.
15
Metode LQ banyak dikritik karena didasarkan atas asumsi bahwa produktivitas rata-rata atau konsumsi rata-rata antarwilayah adalah sama. Bisa saja ada suatu wilayah yang lapangan kerjanya untuk sektor i lebih rendah, tetapi total produksinya lebih tinggi. Atau ada suatu wilayah yang lapangan kerjanya untuk sektor tertentu, misalnya sektor pangan cukup tinggi tetapi disebabkan oleh permintaan masyarakat setempat untuk pangan tersebut melebihi rata-rata nasional. Jadi, walaupun lapangan kerja yang tersedia melebihi porsi nasional, tetapi hal itu hanya untuk menutupi kebutuhan lokal yang juga tinggi. Dengan demikian, produknya tidak ditujukan untuk ekspor sehingga tidak dapat dianggap basis. Lagi pula jika hal itu dibandingkan antara lapangan kerja di suatu wilayah dengan lapangan kerja nasional, ada juga kemungkinan bahwa secara nasional produk itu ada yang diekspor atau diimpor berarti lapangan kerja yang tersedia secara nasional bukan lagi alat pengukur yang tepat untuk membandingkan apakah suatu wilayah itu dapat mencukupi kebutuhannya, kelebihan atau kekurangan. Artinya, harus dikalibrasi lagi berapa sebetulnya lapangan kerja nasional yang tepat yang membuat produk nasional tidak mengimpor dan juga tidak mengekspor.
2.4 EVALUASI ATAS TINGKAT KEBASISAN SUATU PRODUK
Untuk mendorong pertumbuhan suatu wilayah, perlu didorong pertumbuhan sektor basis karena akan mendorong pertumbuhan sektor lainnya, yaitu sektor nonbasis. Dalam suatu wilayah, sektor basis adalah sektor yang menjual produknya ke luar wilayah atau ada kegiatan yang mendatangkan uang dari luar wilayah. Namun demikian, apabila suatu kegiatan basis ingin dikembangkan secara besar-besaran, perlu dilihat apakah pasar di luar wilayah (luar negeri) masih mampu menampung perluasan dari produk basis tersebut.
Untuk melihat apakah pasar produk yang dihasilkan tidak cepat jenuh, perlu dilihat tingkat kebasisan suatu produk, yang pada dasarnya melihat berapa luas pasar yang dapat dijangkau oleh produk tersebut. Tingkat kebasisan suatu produk, misalnya, dapat dijenjangkan sebagai berikut:
16
2. Jangkauan pemasarannya hanya pada beberapa wilayah kecamatan; 3. Jangkauan pemasarannya hanya pada wilayah satu provinsi;
4. Jangkauan pemasarannya mencakup beberapa wilayah provinsi;
5. Jangkauan pemasarannya mencakup sebagian besar wilayah ekonomi nasional dan ekspor.
6. Jangkauan pemasarannya pada hampir seluruh wilayah ekonomi nasional dan merupakan ekspor tradisional.
Sebetulnya penjenjangan di atas tidaklah mutlak. Yang sulit adalah memberi bobot antara pemasaran di dalam negeri dengan ekspor. Ada komoditi yang wilayah pemasarannya di dalam negeri (ekspor). Dalam hal ini perlu diperhatikan apakah komoditi itu sudah lama sebagai komoditi ekspor atau belum dan berapa volumenya. Selain itu, perlu diperhatikan apakah ekspor itu hanya ke satu negara atau ke beberapa negara. Apabila sudah lama sebagai komoditi ekspor, volumenya juga cukup besar dipasarkan ke berbagai negara dan ekspor itu berkelanjutan maka komoditi itu harus dianggap memiliki tingkat kebasisan yang tinggi. Makin luas wilayah pemasaran suatu produk, pasarnya makin tidak mudah jenuh, yang berarti tingkat kebasisannya makin tinggi. Produk dengan tingkat kebasisan yang lebih tinggi, harus diprioritaskan untuk dikembangkan karena pasarnya tidak mudah jenuh.
2.5 PERBEDAAN BASIS ANTARA DI KOTA DENGAN DI WILAYAH
BELAKANGNYA
17
belakangnya. Namun perlu diingat bahwa pengembangan kegiatan perdagangan dan jasa di perkotaan tidaklah exogen murni. Kegiatan tersebut tetap terikat pertumbuhannya terhadap pertumbuhan sektor basis di wilayah belakangnya. Apabila kotaa dan wilayah belakangnya dijadikan satu satuan wilayah analisis maka kegiatan basis adalah yang menjual produknya keluar dari wilayah analisis atau mendatangkan uang dari luar wilayah analisis. Dalam kondisi seperti ini kegiatan perdagangan dan jasa, yang tetap berfungsi sebagai basis menjadi menciut.
2.6 KEUNGGULAN KOMPARATIF
Istilah comparative advantage (keunggulan komparatif) mula-mula dikemukakan oleh David Ricardo (1971) sewaktu membahas perdagangan antara dua negara. Dalam teori tersebut, Ricardo membuktikan bahwa apabila ada dua negara yang saling berdagang dan masing-masing negara mengkonsentrasikan diri untuk mengekspor barang yang bagi negara tersebut memiliki keunggulan komparatif maka kedua negara tersebut akan beruntung. Ternyata ide tersebut bukan saja bermanfaat dalam perdagangan internasional tetapi juga sangat penting diperhatikan dalam ekonomi regional.
Teori Comparative Advantage menyatakan bahwa suatu negara akan menghasilkan dan kemudian mengekspor suatu barang yang memiliki comparative advantage dan mengimpor barang yang memiliki comparative disadvantage, yaitu suatu barang yang dapat dihasilkan dengan lebih murah dan mengimpor barang yang kalau dihasilkan sendiri memakan ongkos yang besar (J.S Mill dalam Nopirin 1993).
Komparatif adalah suatu prinsip umum yang menerangkan keadaan di mana perniagaan yang menguntungkan, dapat timbul antara dua daerah ekonomi. Keuntungan komparatif timbul oleh karena “endownments” yang berbeda yang
18
Menurut (Sloan and Zurcher) comparative advantage adalah keadaan yang terdapat bilamana suatu negara atau daerah dapat menghasilkan dua barang dengan biaya produksi lebih rendah daripada negara atau daerah lain dan penghematan relatif dalam biaya produksi salah satu barang lebih besar dari pada barang kedua. (Winardi, 1992).
Keunggulan komparatif suatu komoditi bagi suatu negara atau daerah adalah bahwa komoditi itu lebih unggul secara relatif dengan komoditi lain di daerahnya. Pengertian unggul dalam hal ini adalah dalam bentuk perbandingan dan bukan dalam bentuk nilai tambah riel. Apabila keunggulan itu adalah dalam bentuk nilai tambah riel maka dinamakan keunggulan absolut. Komoditi yang memiliki keunggulan walaupun hanya dalam bentuk perbandingan, lebih menguntungkan untuk dikembangkan dibanding dengan komoditi lain yang sama-sama diproduksi oleh kedua negara atau daerah.
Jenis komoditi yang kemungkinan berpeluang untuk dapat secara aktif diperdagangkan pada pasar regional/global yang kompetitif tersebut, tampaknya tidak ada pilihan, kecuali yang mempunyai keunggulan komparatif (comparative advantage). Komoditi tersebut terutama berasal dari sektor pertanian khususnya subsektor perkebunan, sektor kelautan khususnya subsektor perikanan, serta sektor industri khususnya subsektor industri pengolahan dan industri kecil. (Suhendar Sulaeman, 2004).
19
perbandingan lebih mengguntungkan bagi pengembangan daerah. Ricardo menggunakan perbandingan jumlah tenaga kerja yang dibutuhkan untuk menghasilkan produk yang sama untuk dua kegiatan yang berbeda pada dua negara. Namun, saat ini contoh seperti itu tidak relevan lagi karena biaya untuk menghasilkan suatu produk bukan hanya upah buruh.
Dalam contoh berikut ini akan digunakan perbedaan nilai tambah, yang berarti dalamnya telah tercakup seluruh biaya produksi dan harga jual petani. Misalnya dua provinsi bertetangga Kota Tidore Kepulauan dan Halmahera Barat yang masing-masing memproduksi beras dan jagung. Misalnya pada tingkat produksi saat ini, nilai tambah petani per ha per tahun di kedua daerah tersebut secara rata-rata adalah sebagai berikut.
Komoditi Halmahera Barat Tidore Kepulauan
Padi Tidore Kepulauan lebih dekat ke pasar konsumen yang membuat harga penjualan petani lebih tinggi. Fakta ini tidak bisa dielakkan oleh petani Halmahera Barat tetapi mereka masih bisa menentukan komoditi mana yang sebaiknya lebih dikembangkan pada masa yang akan datang yang dapat memberikan lebih banyak keuntungan kepada mereka. Secara perhitungan sederhana kita melihat: untuk komoditi padi, petani Halmahera Barat memperoleh:
. ,
. , × % = , % dari petani Kota �idore Kepulauan
Untuk komoditi jagung, petani Halmahera Barat memperoleh:
. ,
20
Dengan demikian, bagi petani Halmahera Barat lebih menguntungkan apabila mereka mengembangkan padi dan bukan jagung. Tentunya hal ini berlaku sampai batas perluasan areal penanaman padi tidak menaikan ongkos atau berkurangnya produksi sehingga terjadi perbandingan yang terbalik (persentase untuk jagung lebih tinggi). Perlu diperhatikan bahwa perluasan areal/produksi tersebut masih dapat ditampung oleh pasar sehingga harganya tidak turun. Sebaliknya, bagi petani Kota Tidore Kepulauan lebih baik berkonsentrasi pada produksi jagung dan membeli beras dari Halmahera Barat. Hak ini membawa keuntungan bagi kedua daerah karena apabila petani Kota Tidore Kepulauan juga berkonsentrasi pada produksi padi, harga padi di Halmahera Barat pun akan turun sedangkan harga jagung akan naik karena supply rendah disebabkan jumlah jagung yang diproduksikan kedua daerah tidak optimum. Hal ini membuat kedua belah pihak akan rugi.
2.6.1 FAKTOR PENENTU WILAYAH MEMILIKI KEUNGGULAN
KOMPARATIF
Faktor – faktor yang bisa membuat suatu daerah memiliki keunggulan komparatif (comparative advantage) dapat berupa kondisi alam, yaitu sesuatu yang sudah given tetapi dapat juga karena usaha-usaha manusia. Faktor-faktor yang dapat membuat sesuatu wilayah memiliki keunggulan komparatif dapat dikelompokkan (Tarigan, 2005), sebagai berikut : 1. Pemberian alam.
2. Masyarakatnya menguasai teknologi mutakhir. 3. Masyarakatnya menguasai ketrampilan khusus. 4. Wilayah itu dekat dengan pasar.
5. Wilayah dengan aksesibilitas yang tinggi.
6. Daerah konsentrasi / sentra dari suatu kegiatan sejenis. 7. Dareah aglomerasi dari berbagai kegiatan.
8. Upah buruh yang rendah dan tersedia dalam jumlah yang cukup serta didukung oleh ketrampilan yang memadai dan mentalitas yang mendukung.
21 10. Kebijakan pemerintah.
2.7 LOCATION QUOTIENT
Location quotient (kuosien lokasi) atau disingkat LQ adalah suatu perbandingan tentang besarnya peranan suatu sektor/industri di suatu daerah terhadap besarnya peranan sektor/industri tersebut secara nasional. Ada banyak variabel yang bisa diperbandingkan, tetapi yang umum adalah nilai tambah (tingkat pendapatan) dan jumlah lapangan kerja. Berikut ini yang digunakan adalah nilai tambah (tingkat pendapatan). Rumusanya adalah sebagai berikut.
Dimana : Xi = Nilai tambah sektor i di suatu daerah
PDRB = Produk domestik regional bruto daerah tersebut Xi = Nilai tambah sektor i secara nasional
PNB = Produk nasional bruto atau GNP
Catatan : Semestinya menggunakan PRB (produk regional bruto), tetapi karena
seringkali sulit dihitung maka yang biasa digunakan orang adalah
PDRB (produk domestik regional bruto).
Istilah wilayah nasional dapat diartikan untuk wilayah induk/wilayah atasan. Misalnya, apabila diperbandingkan antara wilayah kabupaten dengan provinsi, maka provinsi memegang peran sebagai wilayah nasional, dan seterusnya.
Apabila LQ > 1 artinya peranan sektor tersebut di daerah itu lebih menonjol daripada peranan sektor itu secara nasional. Sebaliknya, apabila LQ < 1 maka peranan sektor itu di daerah tersebut lebih kecil daripada peranan sektor tersebut secara nasional. LQ > 1 menunjukan bahwa peranan sektor i cukup menonjol di daerah tersebut dan seringkali sebagai petunjuk bahwa daerah tersebut surplus akan produk sektor i dan mengekspornya ke daerah lain. Daerah itu hanya mungkin mengekspor produk ke daerah lain atau luar negeri karena mampu menghasilkan produk tersebut secara lebih murah atau lebih efisien. Atas dasar itu LQ > 1 secara
LQ
Xi PDRB
22
tidak langsung memberi petunjuk bahwa daerah tersebut memiliki keunggulan komparatif untuk sektor i dimaksud.
Menggunakan LQ sebagai petunjuk adanya keunggulan komparatif dapat digunakan bagi sektor-sektor yang telah lama berkembang, sedangkan bagi sektor yang baru atau sedang tumbuh apalagi yang selama ini belum pernah ada, LQ tidak dapat digunakan karena produk totalnya belum menggambarkan kapasitas riil daerah tersebut. Adalah lebih tepat untuk melihat secara langsung apakah komoditi itu memiliki prospek untuk diekspor atau tidak, dengan catatan terhadap produk tersebut tidak diberikan subsidi atau bantuan khusus oleh daerah yang bersangkutan melebihi yang diberikan daerah-daerah lainnya.
Analisis LQ sesuai dengan rumusnya memang sangat sederhana dan apabila digunakan dalam bentuk one shot analysis, manfaatnya juga tidak begitu besar, yaitu hanya melihat apakah LQ berada di atas 1 atau tidak, akan tetapi, analisis LQ bisa dibuat menarik apabila dilakukan dalam bentuk time-series/trend, artinya dianalisis untuk beberapa kurun waktu tertentu. Dalam hal ini, perkembangan LQ bisa dilihat untuk suatu sektor tertentu pada kurun waktu yang berbeda, apakah terjadi kenaikan atau penurunan. Hal ini bisa memancing analisis lebih lanjut, misalnya apabila naik dilihat faktor-faktor yang membuat daerah kita tumbuh lebih cepat dari rata-rata nasional. Demikian pula apabila turun, dikaji faktor-faktor yang membuat daerah kita tumbuh lebih lambat dari rata-rata nasional. Hal ini bisa membantu kita melihat kekuatan/kelemahan wilayah kita dibandingkan secara relatif dengan wilayah yang lebih luas. Potensi yang positif digunakan dalam strategi pengembangan wilayah. Adapun faktor-faktor yang membuat potensi sektor di suatu wilayah lemah, perlu dipikirkan lagi apakah perlu ditanggulangi atau dianggap tidak prioritas.
23
Perkembangan LQ Kota Tidore Kepulauan Tahun 2009 - 2013
Lapangan Usaha
LQ Kota Tidore Kepulauan Tahun 2009-2013
2009 2010 2011 2012 2013
1. PERTANIAN 126,050.90 134.993,8 142.602,6 150.674,5 158.413,2
a perikanan 17.205.18 18.304,6 19.101,9 19.764,7 20.428,9
b Tanaman perkebunan 64.872.10 71.132,3 76.534,5 82.216,2 87.804,5
2. PERTAMBANGAN & PENGGALIAN 1,379.06 1.518,9 1.593,4 1.695,0 1.765,6
3. INDUSTRI PENGOLAHAN 13,398.22 13.638,7 14.329,5 14.966,3 15.755,8
4. LISTRIK, GAS & AIR BERSIH 453.91 508,3 551,0 600,8 658,9
a. Listrik 142.29 171,5 189,4 212,4 239,7
b. Air bersih 311.62 336,7 361,5 388,4 419,1
5. BANGUNAN 6,076.18 6.689,3 7.153,8 7.675,3 8.068,1
6. PERDAGANGAN, HOTEL &
RESTORAN 72,915.76 78.052,7 83.421,1 89.774,5 96.775,4
7. PENGANGKUTAN & KOMUNIKASI 10,323.16 11.303,9 11.781,2 12.312,2 12.695,1
a. Angkutan Jalan Raya 2.142,92 2.372,6 2.523,8 2.683,3 2.868,1
9. JASA-JASA 18,459.25 19.205,0 20.547,8 21.873,2 23.591,9 1. Adm. Pemerintahan & Pertahanan 13.328,48 13.893,4 14.883,3 15.786,8 17.021,0
2. Sosial Masyarakat 3.845,46 3.999,6 4.291,3 4.620,3 4.988,6
24
Dari tabel di atas dapat diketahui bahwa pada tahun 2009 terdapat 7 sektor yang LQ nya di atas 1 yaitu sektor pertanian, perikanan, tanaman perkebunan, bangunan, perdagangan hotel dan restoran, angkutan laut, dan sosial masyarakat. Pada tahun 2010 ada 6 sektor yang LQ nya diatas 1 yaitu sektor pertanian, tanaman perkebunan, bangunan, perdagangan hotel dan restoran, angkutan laut, dan sosial masyarakat. Untuk data pada tahun 2011 terdapat 6 sektor yang LQ nya diatas 1 yaitu sektor pertanian, perikanan, tanaman perkebunan, bangunan, perdagangan hotel dan restoran, angkutan laut, dan sosial masyarakat. Pada tahun 2012 terdapat 6 sektor yang LQ nya diatas 1 yaitu sektor pertanian, perikanan, perkebunan, bangunan, angkutan laut, dan sosial masyarakat. Untuk data terakhir pada tahun 2013 sama seperti pada tahun-tahun sebelumya terdapat 6 sektor yang LQ nya diatas 1 yaitu sektor pertanian, perikanan, perkebunan, bangunan, angkutan laut, dan sosial masyarakat. Apabila kita mengetahui kondisi kabupaten yang dianalisis maka dapat diketahui faktor yang menyebabkan naiknya atau turunnya LQ tersebut. Untuk Kota Tidore Kepulauan tersebut di atas dapat dibuat perkiraan faktor penyebab sebagai berikut.
1. Sektor pertanian, perikanan, dan perkebunan LQ nya di atas 1 dan trendnya setiap tahun berubah namun perubahan tesebut tidak jauh dengan tahun-tahun sebelumya. Namun dapat dipastikan dari data di atas bahwa dari tahun-tahun ke tahun mengalami peningkatan.
2. Sektor bangunan, LQ nya diatas 1 dan terjadi kenaikan dari tahun 2009 sampai 2010, namun pada tahun tahun berikutnya yaitu tahun 2011 sampai dengan tahun 2013 sempat menurun. Patut diduga penyebabnya karena pesatnya penambahan bangunan di perkotaan sehingga peran kabupaten menjadi menurun.
25
4. Untuk sektor pengangkutan yaitu angkutan laut LQ nya diatas 1. Pada tahun 2009 sampai dengan tahun 2010 terjadi peningkatan yang baik namun pada tahun 2011 sampai dengan tahun 2012 sempat menurun tetapi tidak terlalu jauh dengan tahun sebelumnya. Namun pada tahun 2013 terjadi peningkatan yang sangat baik. Patut diduga penyebab naik maupun turunnya sektor tersebut dikarenakan pesatnya pertumbuhan sektor ini di perkotaan sehingga peran di kabupaten menjadi menurun.
2.8 ANALISIS SHIFT-SHARE
26
2.8.1 Konsep dan Definisi
Pertambahan lapangan kerja (employment) regional total (Δ Er) dapat diurai menjadi komponen shift dan komponen share. Komponen share sering pula disebut komponen national share. Komponen national share (N) adalah banyaknya pertambahan lapangan kerja regional seandainya proporsi perubahannya sama dengan laju pertambahan nasional selama periode studi. Hal ini dapat dipakai sebagai kriteria lanjutan bagi daerah yang bersangkutan untuk mengukur apakah daerah itu tumbuh lebih cepat atau lebih lambat dari pertumbuhan nasional rata-rata.
Komponen shift adalah penyimpangan (deviation) dari national share dalam pertumbuhan lapangan kerja regional. Penyimpangan ini positif di daerah-daerah yang tumbuh lebih cepat dan negatif di daerah-daerah yang tumbuh lebih lambat/merosot dibandingkan dengan pertumbuhan lapangan kerja secara nasional. Bagi setiap daerah, shift netto dapat dibagi menjadi dua komponen, yaitu
proportional shift component (P) dan differential shift component (D).
Porportional shift component (P) kadang-kadang dikenal sebagai komponen struktural atai industrial mix, mengukur besarnya shift regional netto
yang diakibatkan oleh komposisi sektor-sektor industri di daerah yang bersangkutan. Komponen ini positif di daerah-daerah yang berspesialisasi dalam sektor-saktor yang secara nasional tumbuh cepat dan negatif di daerah-daerah yang berspesialisasi dalam sektor-sektor yang secara nasional tumbuh dengan lambat atau bahkan sedang merosot.
Differential shift component (D) kadang-kadang dinamakan komponen lokasional atau regional adalah sisa kelebihan. Komponen ini mengukur besarnya
27
sedangkan daerah yang secara lokasional tidak menguntungkan akan mempunyai komponen yang negatif.
Syafrizal (2008) daerah memiliki keunggulan komparatif pada sektor tertentu. Pengukuran besarnya keunggulan komparatif tersebut tidak dapat diukur berdasarkan regresi melainkan metode yang lazim yang sering digunakan adalah analisis shift share sebagaimana yang dikatakan oleh John P Blair (1991). Ada 3 bagian dalam menganalisis Shift Share, antara lain:
Regional Share[�� ��
�0− ] adalah merupakan komponen share
pertumbuhan ekonomi daerah yang disebabkan oleh faktor ekternal yaitu peningkatan kegiatan ekonomi daerah akibat kebijakan nasional yang berlaku di setiap daerah.
Proporsional Shift [�� (���
��0) − ��− �0 ] adalah komponen pertumbuhan
ekonomi daerah yang disebabkan oleh struktur ekonomi daerah yang baik, yaitu berspesialisasi pada sektor yang pertumbuhannya cepat seperti sektor industri.
Differential Shift [�� (��
��0) − ( ���
��0) adalah komponen pertumbuhan ekonomi
daerah karena kondisi spesifik derah yang bersifat kompetitif. Unsur pertumbuhan inilah yang merupakan keunggulan kompetitif daerah yang dapat mendorong pertumbuhan ekspor daerah.
Shift Share = Regional Share + Proportional Share + Differential Share
28 Data shift share Kabupaten Halmahera Barat
Lapangan Usaha
Kabupaten Halmahera Barat Maluku Utara
yb 2009 Yb2013 Yn 2009 Yn 2013
A b c d
1. PERTANIAN 83.712,73 107.290,0 996.291,58 1.162.725,5
a Perikanan 7.285,55 8.346,2 126.762,67 142.569,2
b Tanaman perkebunan 54.159,61 71.759,5 508.334,28 623.071,8
2. PERTAMBANGAN & PENGGALIAN 290,06 337,1 117.186,04 135.015,1 3. INDUSTRI PENGOLAHAN 38.703,24 43.170,3 352.601,54 413.646,8 4. LISTRIK, GAS & AIR BERSIH 840,56 1.066,2 13.163,75 17.319,3
a. Listrik 513,38 681,2 6.872,64 9.324,3
b. Air bersih 327,18 385,0 6.291,11 7.995,1
5. BANGUNAN 1.913,71 1.924,7 50.798,65 71.305,3 6. PERDAGANGAN, HOTEL &
RESTORAN 62.788,38 82.675,2 733.421,84 1.134.328,4 7. PENGANGKUTAN & KOMUNIKASI 13.335,04 14.421,8 228.831,21 293.248,0
a. Angkutan Jalan Raya 3.102,39 3.398,4 43.307,79 53.405,1
b. Angkutan Laut 5.558,12 5.809,6 59.545,14 70.701,3
c. Ankt. Sungai, Danau &Pnybr 271,06 321,9 4.130,78 5.647,1
d. Angkutan Udara 0 0 29.594,69 42.163,2
e. Jasa Penunjang Angkutan 1.515,67 1.280,6 14.327,10 18.220,8
8. KEUANGAN, PERSEWAAN & JASA
PERUSAHAN 6.568,21 7.872,8 101.673,46 135.761,9 9. JASA-JASA 8.326,53 9.770,9 218.071,07 292.953,7
1. Adm. Pemerintahan & Pertahanan 6.971,05 8.215,9 28.938,1 216.532,1
2. Sosial Masyarakat 725,54 795,4 33.814,18 45.318,8
29
Perhitungan Regional Share, Proportional Share, dan Differential Shift Kabupaten Halmahera Barat
Lapangan Usaha SSA kabupaten Halmahera Barat
Regional Share Proportional Shift Differential Shift
1. PERTANIAN 25133,24 -11148,7398 9.592,77
a.perikanan 2.187,36 -1278,890737 152,16
b. Tanaman perkibunan 16.260,45 -4035,933827 5.375,33
2. Pertambangan & Penggalian 87,08529392 -42,9545682 2,95
3. INDUSTRI PENGOLAHAN 11.619,95 -4919,333149 -2233,60482
4. LISTRIK,GAS & AIR BERSIH 252,36 12,98776015 -39,66094887
a. Listrik 154,13 29,00109837 -15,30254099
b. Air Bersih 98,23 -9,613008117 -30,75873799
5. BANGUNAN 574,56 197,9795921 -761,5176684
6. PERDANGANGAN, HOTEL &
RESTORAN 18.851,08 15470,60208 -14434,8879 7. PENGANGKUTAN & KOMUNIKASI 4.003,61 -249,744059 -2667,057904
a. Angkutan jalan Raya 931,44 -208,1053868 -427,2891084
b. Angkutan Laut 1.668,73 -627,3766095 6.436,9
c. Ankt. Sungai, Danau & Pnyb 81,38 18,11940081 -48,6993117
d. Angkutan Udara 0,00 0 0
e. Jasa Penunjang Angkutan 455,05 -43,13753411 -647,021447
8. KEUANGAN, PERSEWAAN & JASA
PERUSAHAN 1.971,99 230,1627254 -897,5710429 9. JASA-JASA 2.499,89 359,3275178 -1414,849894
1. Adm. Pemerintah & Pertahanan 2.092,93 43097,55152 -43945,63542
30
BAB III
PENUTUP
3.1 Kesimpulan
Pertumbuhan suatu daerah harus memiliki prospek pada sektor-sektor basis agar setiap daerah mampu tumbuh dan berkembang secara baik. Arah dan pertumbuhan suatu wilayah ditentukan oleh ekspor, karena wilayah yang mempunyai keunggulan komparatif akan mendapatkan keuntungan tersendiri dan dapat meningkatkan pertumbuhan ekonomi. Jadi suatu wilayah harus ditompang oleh sektor basis agar bisa mendapatkan efek pengganda dan bisa mengatasi masalah-masalah yang terjadi pada setiap wilayah yang sedang berkembang.
3.2 Saran
31
DAFTAR PUSTAKA
Arsyad, Lincolin. 2004. Ekonomi Pembangunan. Yogyakarta: STIE YKPN.
Arsyad, Lincolin. 1999. Pengantar Perencanaan dan Pembangunan Ekonomi Daerah. Yogyakarta: BPFE
Robinson Tarigan. 2005. Ekonomi Regional Teori dan Aplikasi. Jakarta: PT Bumi Aksara.
Jhingan, ML. 2003. Ekonomi Pembangunan dan Perencanaan. Jakarta: PT Raja Graindo Persada.
Glason, John. 1990. Pengantar Perencanaan Regional. Terjemahan Paul Sitohang. Jakarta: LPEUI.
Sjafrizal, 2008. Ekonomi Regional, Teori dan Aplikasi, Baduose Media, Cetakan Pertama, Padang.
Tarigan, Robinson, 2007. Ekonomi Regional, Teori dan Aplikasi, PT. Bumi Aksara, Cetakan Keempat, Jakarta.
Adisasmita. H.R., 2005. Dasar-dasar Ekonomi Wilayah. Jakarta: Graha Ilmu. Suyatno, 2000. Analisa Econimic Base Terhadap Pertumbuhan Ekonomi Daerah
Tingkat II Wonogiri : Menghadapi Implementasi UU No. 22/1999 dan UU No. 25/1999. Dalam Jurnal Ekonomi PembangunanVol. 1. No. 2. Hal. 144-159. Surakarta: UMS.
Nopirin. 1992. Ekonomi Internasional Buku 3. Yogyakarta : BPFE.
Winardi, 1992. Manajemen Prilaku Organisasi. Bandung: PT Citra Aditya Bakti. Sulaeman, Suhendar. 2004. Pengembangan Usaha Kecil Dan Menengah Dalam