• Tidak ada hasil yang ditemukan

MAKALAH MANAJEMEN PEMELIHARAAN SAPI PERA

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "MAKALAH MANAJEMEN PEMELIHARAAN SAPI PERA"

Copied!
16
0
0

Teks penuh

(1)

MAKALAH MANAJEMEN PEMELIHARAAN SAPI PERAH

MAKALAH

PT143 ILMU TEKNOLOGI REPRODUKSI TERNAK PERAH

MANAJEMEN PEMELIHARAAN SAPI PERAH

Dosen Pengampu :

Dr.Ir. Arif,MS

Anggota Tim :

Sadri :1410621022

Fajri Maulana :1410621025

BAB I PENDAHULUAN

1.1. Latar belakang

Manajemen suatu peternakan sapi perah penting untuk diketahui oleh orang-orang yang berkecimpung dalam dunia peternakan khususnya peternakan sapi perah. Manajemen sebagai pedoman agar tidak terjadi kerugian baik secara materi maupun kerugian secara genetik dan agar terciptanya sebuah usaha peternakan yang efektif dan efisien. Susu sebagai hasil utama dari ternak perah khususnya sapi perah dihasilkan melalui suatu peternakan sapi perah. Kualitas dan kuantitas serta kontinuitas produksi susu dari suatu perusahaan

peternakan sapi perah sangat penting untuk menjamin kelangsungan produksi dari peternakan sapi perah. Dalam menjaga kelangsungan produksi susu yang stabil dan tidak terjadi

kesalahan manajemen yang mengakibatkan keadaan sapi tidak sesuai kriteria produksi atau laktasi.

Tatalaksana pemeliharaan, merupakan salah satu faktor lingkungan yang sangat berpengaruh terhadap peningkatan populasi dan produktivitas sapi perah . Tatalaksana pemeliharaan pedet sejak lahir sampai disapih men_jadi sangat penting dalam upaya

(2)

pedet baru lahir, mengingat 25-30% dari pedet yang lahir akan mengalami kematian pada periode 4 bulan pertama (SIREGAR,1992) .

Proses pemerahan merupakan aspek penting dalam peternakan sapi perah. Hal ini

disebabkan karena susu adalah produk utama dari sapi perah, dan jika tidak ditangani dengan baik, maka kualitas susu yang dihasilkan tidak akan sesuai dengan standar yang telah

ditetapkan. Susu sebagai bahan yang kaya dengan kandungan nutrisi menyebabkan mikroba akan mudah berkembang biak pada susu, demikian juga berbagai pencemer lainnya berupa material fisik dari lingkungan sekitar, dan juga susu sangat mudah menyerap bau yang ada. Berdasarkan hal ini, maka dibutuhkan penangan khusus sebelum, ketika, dan setelah proses pemerahan ternak, demikian juga susu yang dihasilkan, harus segera ditangani dengan baik dan benar, tentu tujuan utamanya adalah untuk menghindari kerusakan pada produk susu yang telah diperah.

Pemerahan pada umumnya masih tradisional atau manual yaitu masih menggunakan tangan dan jari-jari tangan manusia, sedangkan pemerahan secara mekanik masih jarang dijumpai, hal ini karena masih rendahnya pemilikan sapi perah yaitu antara 2-5 ekor per peternak. Begitu pula dalam penggunaan peralatan masih secara tradisional.

1.2. Tujuan

Untuk mengetahui dan menpelajari cara serta teknik pemerahan susu agar pada proses pemerahan tidak terjadinya pencemaran terhadap susu serta kualitas susu terjamin.

BAB II PEMBAHASAN

2.1.Sistem Pemeliharaan sapi pedet

2.1.1. Persiapan kandang menjelang kelahiran

Dilakukan dengan membersihkan kandang induk kemudian dilengkapi dengan alas kandang dari jerami padi . Kandang pedet dibagi atas dua yaitu :

1. Kandang Individu

Kandang yang dipergunakan untuk satu ekor anak sapi. Kandang ini dipergunakan sejak anak sapi dipisahkan dari induknya sampai anak sapi berumur 8-10 minggu. Dengan

menggunakan sistem kandang ini anak sapi tidak saling berhubungan satu dengan lainnya, hal ini sangat menguntungkan karena dapat mencegah menularnya penyakit apabila salah satu anak sapi tersebut menderita suatu penyakit.

2. Kandang Kelompok

Kandang untuk anak sapi yang lebih dari satu ekor. Banyaknya anak sapi tergantung dari besarnya kandang, tetapi berdasarkan A. Coletti (1966) bahwa kandang kelompok diisi 6 - 10 ekor dan kandang ini dipergunakan untuk anak-anak sapi yang tidak lagi mendapatkan air susu (diberikan air susu). Kandang dilengkapi dengan tempat makanan / konsentrat dan bak makanan ini harus cukup untuk semua anak sapi apabila makan pada saat yang sama. 3. Kandang mudah dibongkar atau dipasang

Kandang ini sebenarnya sama dengan kandang, hanya kandang ini di rancang sehingga dapat/mudah dibongkar/ dipasang dan dipindahkan. Dapat dibuat dari kayu, ram kawat atau jeruji besi. Kandang ini biasanya ditempatkan di padang rumput yang terbuka dan bersih. Halaman kandang anak sapi harus bebas dari parasit-parasit, terutanna cacing, lalat, dan serangga lainnya.

(3)

Perawatan terhadap pedet yang baru lahir dilakukan dengan membersihkan lendir pada hidung, mulut, dan lendir yang ada diseluruh tubuhnya karena cairan yang menutupi hidung akan mengganggu pernafasan anak sapi . Selanjutnya pedet dimasukan kedalam kandang anak yang sudah diberi alas jerami padi/kain kering yang tidak menimbulkan becek/basah Untuk mencegah terjadinya infeksi dilakukan pemotongan terhadap tali pusar. Tali pusar yang masih menggantung kemudian dicelupkan pada larutan yodium tinctuur . Pencelupan tali pusar kedalam larutan yodium dilakukan setiap hari sampai tali pusar kering.

2.1.3.Pemberian Kolostrum

Kolostrum diperoleh dengan cara memerah induk yang telah dibersihkan ambingnya . Kolostrum diberikan pada anak sapi dengan menggunakan dot bayi sebanyak 3 liter/ekor/hari . Kolostrum diberikan 2 kali sehari yaitu pagi pukul 08 :00 dan slang pukul 14 :00.

Selanjutnya kolostrum diberikan setiap hari secara berturut-turut dengan jumlah dan jadwal yang sama selama 4 hari sampai kolostrum habis. Pedet tidak memiliki antibodi (kekebalan tubuh) sebelum memperoleh kolostrum dari induknya. Untuk itu I jam setelah lahir pedet diberi kolostrum dari induknya. Apabila tidak diperoleh kolostrum dapat dibuat secara buatan sebagai pengganti kolostrum (SUDONO, 1989).

2.1.4. Pemberian susu

Pemberian susu terhadap pedet dilakukan dengan cara memerah induk setiap hari

kemudian pedet dilatih untuk meminumnya melalui ember. Susu diberikan 2 kali sehari yaitu pagi hari sekitar pkl. 08:00 dan slang hari sekitar pkl. 14:00. Jumlah pemberian setiap ekor pedet setiap hari masing-masing sebanyak 3 It, 4 It dan 3 It secara berturut-turut mulai umur 5-30 hari, 31-60 hari, dan 61-90 hari. Setelah kolostrum habis diperah dilanjutkan dengan pemberian susu sampai disapih. Susu merupakan makanan utama bagi pedet. Kelangsungan hidup dan pertumbuhannya ditentukan oleh kecukupan pedet memperoleh susu. Oleh karena itu pemberian susu bagi pedet perlu mendapat perhatian dan penanganan yang baik.

2.1.5. Pemberian konsentrat

Anak diajarkan makan konsentrat setiap hari dengan pemberian sebanyak 0,5- 1 kg pada mulai umur 60-90 hari. Pedet dilatih memakan konsentrat dengan menempelkan konsentrat pada mulut pedet. Pengenalan dan pemberian konsentrat perlu dilakukan sedini mungkin karena pada umur 2,5-3 bulan rumen dan reticulum pedet sudah sudah berkembang yang volumenya mencapai 70%. Sebaliknya volume abomasum dan omasum menyusut kecil mencapai 30% dari seluruh lambung. Setelah pedet bekembang menjadi dewasa volume rumen menjadi 80%, reticulum 5%, omasum 8% dan abomasum 7%. (AAK, 1995).

2.1.6. Pemberian hijauan

Mulai umur 3 minggu pedet diajarkan makan rumput. Pemberian rumput dilakukan setiap hari dengan jumlah pemberian masing-masing sebanyak 0,25 kg/ekor, 0,5 kg/ekor dan I kg/ekor secara berturut-turut mulai umur 21-30 hari, 31-60 hari dan 61- 90 hari. Rumput yang diberikan pada pedet dipilih yang masih muda dan kemudian dipotong-potong dengan golok atau mesin chopper sehinga mudah dicerna oleh anak sapi. Sebagaimana konsentrat rumput (hijauan) perlu dikenalkan dan diberikan sedini mungkin. Pemberian rumput yang dimulai pada umur I minggu dapat merangsang perkembangan rumen yang sangat

mendukung pertumbuhan selanjutnya (Hidayati, 1995)

2.1.7. Penyapihan

(4)

pedet dipisah dari pemberian susu untuk teals dipelihara atau dibesarkan sebagai pengganti induk atau untuk digemukkan sebagai ternak pedaging. Dengan melakukan penyapihan hiaya pembesaran pedet menjadi lebih hemat dan volume susu yang dijual dapat ditingkatkan .

2.2. Sisitem pemeliharaan sapi dara 2.1.1. Perkandangan

Bangunan kandang harus memberikan jaminan hidup yang sehat dan nyaman bagi sapi dan tidak menimbulkan kesulitan dalam pelaksanaan tatalaksana. Oleh karena itu, konstruksi, bentuk, macam kandang harus dilengkapi dengan ventilasi yang sempurna, dinding, atap, lantai, tempat pakan, tempat minum, drainase, dan bak penampungan kotoran yang baik pula. Tanpa kandang, peternak sangat sulit untuk melakukan kontrol, pemberian pakan,

pengawasan, pemerahan, dan pengumpulan kotoran.

Macam Kandang Sapi Dara yaitu :

1. Kandang tunggal

Kandang tunggal atau individu adalah kandang yang hanya terdiri satu ruangan atau bangunan dan didesain hanya digunakan untuk memelihara ternak satu ekor.

Kandang koloni

2. Kandang koloni adalah kandang yang hanya terdiri dari satu bangunan atau satu ruangan, tetapi digunakan untuk memelihara ternak secara berkelompok atau bersama-sama, biasanya pada kandang ini terdiri dari 2 macam yaitu : kandang face to face dan tail to tail.

2.2.2. Pemberian pakan dan minum

Pakan sapi terdiri dari hijauan sebanyak 60% (Hijauan, lamtoro, rumput gajah, rumput benggala atau rumput raja, daun dan batang jagung,) dan konsentrat (40%). Umumnya pakan diberikan dua kali per hari pada pagi dan sore hari. Pakan berupa rumput bagi sapi dara umumnya diberikan sebanyak 10% dari bobot badan (BB) dan pakan tambahan sebanyak 1-2% dari BB. .

2.2.3. Program perkawinan

Pada sapi dara untuk pertama kali harus diperhatikan dewasa tubuh dan kelaminnya karena ini berkaitan dengan kebuntingan sapi, partus( kelahiran ), umur sapi dara pada

umumnya pertama kali dikawinkan dengan 13 bulan – 15 bulan. Perkawinannya

dilaksanakan dengan cara inseminasi buatan (IB). Untuk setiap jenis sapi memiliki berat standar yang berbeda. Sapi dara rata-rata di kawinkan pertama kali di bobot badan 300 kg.

2.2.4.Penanganan kesehatan

Penganan kesehatan yang dilakukan pada sapi dara hampir sama dengan sapi laktasi yaitu :

1. Memandikan sapi

Sapi sebaiknya dimandikan sekali sehari, untuk mengurangi resiko adanya bibit penyakit yang timbul dan menyebabkan penularan penyakit.

2. Pemotongan kuku

Pemotongan kuku dilakukan 6 bulan sekali. Pemotongan kuku ini bertujuan agar keseimbangan kaki dan kesehatan sapi tidak terganggu.

(5)

Pemberian obat cacing dapat dilakukan 6 bulan sekali. Hal ini untuk memastikan ternak sapi tidak terjangkit penyakit cacingan( nematoda,cestoda ). Penyakit cacingan

mengakibatkan nutrisi yang seharusnya untuk sapi tidak terserap seluruhnya.

2.3. Sistem pemeliharaan sapi laktasi 2.3.1 Pakan Sapi Perah

Ransum induk laktasi pada dasarnya terdiri dari hijauan (leguminosa maupun

rumput-rumputan dalam keadaan segar atau kering) dan konsentrat yang tinggi kualitas dan

palatabilitasnya. Faktor-faktor yang perlu diperhatikan dalam penyusunan ransum sapi adalah

ransum cukup mengandung protein dan lemak, perlu di perhatikan sifat supplementary

effect dari bahan pakan ternak, dan ransum tersusun dari bahan pakan yang dibutuhkan ternak

(Akoso, 1996).

Bahan pakan ternak sapi pada dasarnya dapat digolongkan menjadi tiga, yakni pakan hijauan, pakan penguat dan pakan tambahan (Girisonta, 1995).

Pakan hijauan adalah semua bahan pakan yang berasal dari tanaman atau

tumbuhan berupa daun-daunan, terkadang batang, ranting, dan bunga. Kelompok jenis pakan hijauan adalah rumput, legume dan tumbuhtumbuhan lain, yang dapat diberikan dalam bentuk segar dan kering (Kusnadi dkk, 1983).

Hijauan segar adalah pakan hijauan yang diberikan dalam keadaan segar, dapat berupa rumput segar ,batang jagung muda, kacang-kacangan dan lain-lain yang masih segar (Sitorus, 1983).

Hijauan kering adalah pakan yang berasal dari hijauan yang dikeringkan misalnya jerami dan hay (Anonimus, 1996). Pakan hijauan untuk induk laktasi dapat diberikan dalam bentuk

kering(hay) maupun dalam bentuk basah atau hijauan segar (dalam bentuk silage).

Pembuatan “hay” biasanya berupa hijauan berbentuk tegak yang dikeringkan, sedangkan pembuatan “silage” di daerah tropis masih sulit dilakukan karena banyak hijauan yang sudah

tua dan sukar mengeluarkan udara dari dalam silo sehingga bersifat anaerob yang dibutuhkan

kurang sempurna (Zainuddin, 1982).

Pakan konsentrat adalah bahan pakan yang konsentrasi gizinya tinggi tetapi kandungan serat kasarnya relatif rendah dan mudah dicerna. Bahan dapat berupa dedak atau bekatul, bungkil kelapa, bungkil kacang tanah, ketela pohon atau gaplek dan lain-lain. Pada umumnya peternak menyajikan pakan konsentrat ini masih sangat sederhana, yakni hanya membuat susunan pakan/ ransum yang terdiri dari dua bahan saja, dan bahkan ada yang hanya satu macam bahan saja (Sudono, 1983).Pakan tambahan bagi ternak sapi biasanya berupa vitamin dan mineral. Pakan tambahan ini dibutuhkan oleh sapi yang dipelihara secara intensif dan hidupnya berada dalam kandang terus-menerus. Vitamin yang dibutuhkan ternak sapi adalah vitamin A, vitamin C, vitamin D dan vitamin E, sedangkan mineral sebagai bahan pakan tambahan dibutuhkan untuk berpropuksi, terutama kalsium dan posfor (Sutardi, 1984). Ukuran pemberian pakan untuk mencapai koefisien cerna tinggi dicapaidengan perbandingan BK hijauan : konsentrat = 60% : 40.

2.3.2. Cara pembuatan Hay dan Silase

(6)

Kelebihan Hay

a) Menghemat biaya peralatan

b) Lebih cepat prosesnya

c) Dapat dikontrol kerusakan fisiknya, karena mudah terlihat

d) Ternak tidak perlu penyesuaian cara makannya, seperti pada silase

Kelemahan

a) Sangat tergantung cuaca

Metode Pembuatan Hay

Ada 2 metode pembuatan Hay yang dapat diterapkan yaitu: a.Metode Hamparan

Merupakan metode sederhana, dilakukan dengan cara meghamparkan hijauan

yang sudah dipotong di lapangan terbuka di bawah sinar matahari. Setiap hari hamparan di balik-balik hingga kering. Hay yang dibuat dengan cara ini biasanya memiliki kadar air: 20 – 30% (tanda: warna kecoklat-coklatan).

b.Metode Pod

Dilakukan dengan menggunakan semacam rak sebagai tempat menyimpan hijauan yang telah dijemur selama 1 – 3 hari (kadar air ± 50%). Hijauan yang akan diolah harus dipanen saat menjelang berbunga (berkadar protein tinggi, serat kasar dan kandungan air optimal), sehingga hay yang diperoleh tidak berjamur.

Langkah Pembuatan Hay a) Alat

-Sabit rumput/gunakan mesin pemanen rumput

-Pelataran untuk menjemur rumput dan rak untuk menghamparkan rumput yang akan

dikeringkan

- Alat pengukur kandungan air hay (Delmhorst digital hay meter andbale sensor)

- Gudang untuk menyimpan hay.

- Tali untuk mengikat hay yang sudah kering.

b) Bahan

- Rumput yang berbatang halus sehingga mudah dikeringkan.

c) Cara Kerja

- Sabit rumput dikebun rumput

- Lakukan penimbangan berat rumput.

- Bila dilakukan pengeringan dengan sinar matahari kerjakan dilantai jemur, jika lantai jemur

menggunakan para-para yang mendatar maupun yang miring, hijauan hendaknya dibalik tiap 2 jam. Lama pengeringan tergantung tercapainya kandungan air antara12-20 %.

- Bila memakai ‘dryer’, hijauan dimasukkan ke pengering. Lakukan pemotongan dengan

panjang yang memadai dengan mesin pengering tersebut. Gunakan suhu pengering 100-250 _C, hentikan bila kandungan air sudah mencapai 12-20 %.

- Lakukan pengukuran kandungan air hay dengan menggunakan alat pengukur kandungan air

(7)

- Ukur suhu gudang tempat penyimpanan hay.

d) Penyimpanan Hay

- Hay harus di simpan di tempat yang kering, terlidung dari air hujan, sebaiknya jangan di

letakan di atas tanah, karena tanah bersifat lembab.

Adapun Kriteria Hay yang Baik :

- Berwarna tetap hijau meskipun ada yang berwarna kekuningkuningan

- Daun yang rusak tidak banyak, bentuk hijauan masih tetap utuh dan jelas, tidak terlalu kering

sebab akan mudah patah

- Tidak kotor dan tidak berjamur.

- Mohon di ingat Alat Pengukur Parameter keberhasilan pembuatan hay yang terbaik adalah

Ternak yang akan memakannya.

2. SILASE

Silase adalah hijauan makanan ternak ataupun limbah pertanian yang diawetkan dalam keadaan segar (dengan kandungan air 60-70 %) melalui proses fermentasi dalam silo. Silo dapat dibuat diatas tanah yang bahannya berasal dari: tanah, beton, baja, anyaman bambu, tong plastik, drum bekas dan lain sebagainya. Didalam silo tersebut tersebut akan terjadi beberapa tahap proses anaerob (proses tanpa udara/oksigen), dimana bakteri asam laktat akan mengkonsumsi zat gula yang terdapat pada bahan baku, sehingga terjadilah proses

fermentasi.

Tujuan Pembuatan Silase

Tujuan utama pembuatan silage adalah untuk memaksimumkan pengawetan kandungan nutrisi yang terdapat pada hijauan atau bahan pakan ternak lainnya, agar bisa di disimpan dalam kurun waktu yang lama, untuk kemudian di berikan sebagai pakan bagi ternak.

Sehingga dapat mengatasi kesulitan dalam mendapatkan pakan hijauan pada musim kemarau.

Pembuatan Silase - Alat

a) Silo

Alat yang akan dipakai untuk melakukan proses fermentasi, pengawetan hijauan, dan penyiapan. Sebaiknya dengan kapasistas untuk 50 kg hijauan yang telah dicacah. b) Mesin pencacah (Chopper) atau golok dan talenan

Untuk mencacah hijauan yang akan dibuat silase

c) Plastik atau bahan lain yang tidak tembus rembesan air sebagai pelapis pada dinding dan

penutup silo

d) Ban bekas/bahan-bahan yang digunakan sebagai pemberat.

- Bahan

a) Hijauan makanan ternak (bahan yang telah dipanen) yang akan diawetkan dengan dibuat

silase.

b) Bahan pengawet (additif) yang dipilih dari salah satu yang tersebut di atas.

- Langkah Kerja Pembuatan Silase

a) Hijauan makanan ternak (rumput maupun limbah pertanian), dilayukan dengan cara

(8)

b) Bila tidak dicampur dengan bahan pengawet/ additif, hijauan yang telah dicacah dapat

langsung di masukkan ke dalam silo. Jika diberi pengawet/additif, penambahannya dilakukan dengan cara menaburkan secara merata selapis demi selapis untuk hijauan dengan ketebalan 10 cm, kemudian diaduk sampai rata.

c) Hijauan yang telah dicampur dengan additif atau pengawet, ditekan kuat-kuat dalam silo

(bak silo/kantung plastik), dipadatkan dengan jalan diinjak-injak sehingga tidak ada lagi udara yang tersisa (hampa udara). Silo diisi padat atau nya.

d) Silo dapat dibongkar sesudah proses fermentasi selesai (30 hari).

Kualitas Silase yang Baik

- pH sekitar 4

- Kandungan air 60-70%

- Bau segar dan bukan berbau busuk

- Warna hijau masih jelas

- Tidak berlendir

- Tidak berbau mentega tengik

2.3.2 Perkandangan

Luas minimum per ekor untuk kandang sapi dara/dewasa adalah untuk umur 6-12 bulan 2,7 m2, umur 13-18 bulan 3,7 m2 dan untuk umur 19-24 4,7 m2 (Coletti, 1966). Ada tiga tipe yang bisa digunakan pada kandang konvensional dengan ukuran yang berbeda tergantung pada bangsa sapi yang dipelihara. Tipe-tipe tersebut adalah:

1. Stanchion Stalls ( Ieher sapi dimasukkan kedalam jeruji)

Pada sistem ini sapi-sapi Iehernya dimasukkan ke dalam jeruji, terbuat dari pipa besi atau kayu yang kuat. Sistem ini dapat dibuat untuk keseluruhan sapi-sapi atau dibuat untuk tiap ekor sapi. Sistem ini sapi-sapi kurang dapat bergerak bebas, tetapi mendapatkan keuntungan kebersihan dari sapi-sapi tersebut.

2. Tie Stalls (tipe kandang dimana leher sapi diikat dengan rantai pada pipa besi)

Tipe kandang di mana sapi-sapi diikat Iehernya dengan rantai besi atau tali yang kuat dan ditambatkan pada pipa besi yang dibuat khusus pada bagian dalam bak makanan.

3. Comfort Stalls (sapi-sapi dibariskan sampai batas maksimal sepanjang kandang).

Pada sistem ini di mana sapi-sapi dibariskan sampai batas maksimal sepanjang kandang tersebut. Sapi-sapi tidak diikat tetapi pada setiap kandang dibatasi besi yang dialirkan arus listrik, sehingga apabila sapi tersebut akan bergerak ke kanan atau ke kiri badan sapi terkena besi tersebut, akhirnya sapi akan terdiam.

4. Sistem Kandang Bebas (Long Housing System)

Pada sistem kandang ini semua sapi dilepas di dalam kandang yang luas sehingga sapi-sapi dapat bergerak bebas dan berkeliaran sesukanya. Dengan menggunakan sistem kandang ini memungkinkan biaya membuat kandang lebih murah dan untuk usaha peternakan yang besar serta membutuhkan sedikit tenaga kerja.

2.3.3. Penyakit

Penyakit yang biasa menyerang sapi perah laktasi dan mempengaruhi produksi susu

(9)

dengan cara sanitasi kandang, pengobatan, vaksinasi, menjaga kebersihan sapi, dan lingkungan (Siregar, 1993).

Mastitis adalah penyakit pada ambing akibat dari peradangan kelenjar susu. Penyakit ini

disebabkan oleh bakteri Streptococcus cocci dan Staphylococcus cocci yang masuk melalui

puting dan kemudian berkembangbiak di dalam kelenjar susu. Hal ini terjadi karena puting yang habis diperah terbuka kemudian kontak dengan lantai atau tangan pemerah yang terkontaminasi bakteri (Djojowidagdo, 1982 ).

Brucellosis adalah penyakit keluron/ keguguran menular pada hewan yang disebakan

oleh bakteri Brucella abortus yang menyerang sapi, domba, kambing, babi, dan hewan ternak

lainnya.Brucellosis bersifat zoonosa artinya penyakit tersebut dapat menular dari hewan ke

manusia.

Penyakit milk fever disebabkan karena kekurangan kalsium (Ca) atau zat kapur dalam

darah(hypocalcamia) (Sudono et al, 2003). Milk fever menyerang sapi perah betina dalam 72

jam setelah melahirkan dengan tandatanda tubuhnya bergoyang kanan kiri saat berjalan (sempoyongan), bila tidak cepat diobati sapi akan jatuh dan berbaring. Pengobatan dilakukan dengan menyuntikkan 250 - 500 ml kalsium boroglukonat ke dalam pembuluh darah). Jika dalam 8-12 jam tidak berdiri maka penyuntikkan dapat dilakukan lagi.

2.3.4. Masa kering kandang

Masa kering sapi perah mulai dilaksanakan kira-kira delapan minggu sebelum ternak tersebut melahirkan. Pada kondisi ini ternak perlu mendapatkan perhatian yang ekstra agar ternak tetap sehat sehingga untuk produksi yang akan datang menjadi lebih baik. Tujuan di laksanakannya masa kering pada sapi ternak yang bunting ini adalah untuk mengembalikan kondisi tubuh atau memberi istirahat sapi dan mengisi kembali kebutuhan vitamin serta mineral dan menjamin pertumbuhan foetus di dalam kandang. Menurut Siregar dalam Adika Putra (2009), masa kering sapi perah yang terlalu pendek menyebabkan produksi susu turun. Masa kering sapi perah secara normal adalah 80 hari dan pakan terus dijaga mutunya, terutama 2-3 bulan terakhir sebelum masa kering kandang.

Proses Pengeringan Dengan Cara Pengaturan Pemerahan

Menurut Syarief dan Sumoprastowo (1990) dalam proses pengeringan atau menuju masa kering sapi perah dapat dilakukan dengan cara pengaturan pemerahan, proses pemerahan tersebut dapat di lakukan dengan 3 cara yaitu sebagai berikut :

a. Pemerahan berselang yaitu pengeringan yang menggunakan cara sapi hanya diperah sekali sehari selama beberapa hari. Selanjutnya satu hari diperah dan hari berikutnya tidak diperah. Kemudian induk diperah 3 hari sekali hingga akhirnya tidak diperah sama sekali.

b.Pemerahan tidak lengkap yaitu pemerahan tetap dilakukan setiap hari, tetapi setiap kali pemerahan tidak sekali puting atau keempat puting itu diperah, jadi keempat puting itu diperah secara bergantian. Setiap kali memerah hanya 2 puting saja, dan hari berikutny a bergantian puting lainnya. Hal ini dilakukan beberapa hari hingga akhirnya tidak diperah sama sekali. Cara ini dilakukan pada sapi yang mempunyai kemampuan produksi tinggi.

c.Pemerahan yang dihentikan secara mendadak yaitu pengeringan ini dilakukan dengan tiba-tiba. Cara pengeringan semacam ini didahului dengan tidak memberikan makanan penguat 3 hari sebelumnya, dan makanan kasar berupa hijauan pun dikurangi tinggal seperempat bagian saja. Cara ini lebih efektif dan memperkecil gangguan kesehatan pada ambing, bila kombinasikan dengan cara pemerahan berselang.

(10)

Pemerahan adalah tindakan mengeluarkan susu dari ambing. Pemerahan bertujuan untuk mendapatkan produksi susu yang maksimal. Terdapat tiga tahap

pemerahan yaitu pra pemerahan, pelaksanaan pemerahan dan pasca pemerahan (Syarief dan Sumoprastowo, 1990).

2.3.1.Fase Persiapan

Sebelum pemerahan dimulai, pemerah mencuci tangan bersih-bersih dan

mengeringkannya, kuku tangan pemerah dipotong pendek agar tidak melukai puting sapi, sapi yang akan diperah dibersihkan dari segala kotoran, tempat dan peralatan telah disediakan dan dalam keadaan yang bersih (Muljana, 1985).

2.3.1.Pelaksanan Pemerahan Susu

Proses pemerahan yang baik harus dalam interval yang teratur, cepat, dikerjakan dengan kelembutan, pemerahan dilakukan sampai tuntas, tengan menggunakan prosedur sanitasi, serta efisien dalam menggunaan tenaga kerja (Prihadi, 1996).

Berusaha memperoleh hasil air susu sebanyak-banyaknya, merupakan tugas yang pokok dari keseluruhan pekerjaan bagi usaha ternak perah. Tugas kedua adalah menjaga agar sapi tetap sehat dan ambing tidak rusak. Pelaksanaan pemerahan yang kurang baik, mudah sekali menimbulkan kerusakan pada ambing dan puting karena infeksi mastitis, yang sangat merugikan hasil susu.

Dengan menggunakan 2 teknik pemerahan yaitu teknik pemerahan menggunakan mesin perah (teknologi) dan teknik pemerahan manual/ tangan.

. a. Menggunakan Mesin Perah

Sebelum sapi diperah, kandang dan sapi harus dibersihkan terlebih dahulu menggunakan air bersih. Yang lebih penting adalah bagian puting ambingnya. Karena jika puting sapi yang akan diperah dalam keadaan masih kotor, maka mikroba yang menenempel dapat terbawa dan menyebabkan terjadinya kontaminasi atau pencemaran bakteri. Dalam waktu yang singkat, mikroba pada susu akan tumbuh dan berkembang lebih cepat dan nilai kwalitas susu menjadi jelek dan dianggap susu rusak. Jika susu sudah dalam keadaan rusak dan terkontaminasi bakteri, maka dampaknya pada konsumen yang meminumnya.

Langkah-langkah yang harus diperhatikan dalam pemerahan menggunakan mesin perah yaitu :

a) Sapi dan kandang dibersihkan dengan air

b) Ambing harus diperhatikan kebersihannya

c) Mesin perah disediakan

d) Listrik dinyalakan

e) Dengan hati-hati mesin penyedot (vacum leaner) ditempatkan satu-persatu pada bagian

putingnya

f) Ketika pemerahan sedang berjalan, berilah catatan (recording) pada setiap tabung yang sudah

terisi susu sesuai dengan nomor sapinya.

g) Setelah pemerahan selesai, maka alat-alat dibersihkan dan disimpan kembali pada tempat

yang tersedia

Kelebihan dan kekurangan

1. Kelebihan menggunakan mesin perah

a) Dengan menggunakan mesin perah, maka hasil pemerahan lebih

optimal. Karena pada saat pemerahan susu tidak tercecer kemana-mana b) Waktu yang dibutuhkan lebih efisien dan relatif cepat

c) Pekerja tidak terlalu berat dalam memerah

(11)

2. Kekurangan

a) Biaya untuk membeli mesin terlalu mahal

b) Jika semua mesin dinyalakan maka listrik yang terpakai juga harus besar

Pelaksanan penanganan susu yang baik (Good Handling Practices) memerlukan peralatan penanganan yang baik dan benar sesuai tempat tahapan penanganan susu dilakukan. (Anonim, 2011)

Alat Yang Ada Dipemerahan Sapi Antara lain: a. Ember Susu

Fungsi : Sebagai wadah penampungan susu yang diperah secara manual. Spesifikasi : SK Ditjen Peternakan No. 17/1983 tentang wadah susu b. Saringan Susu / Strainer

Fungsi : Benda-benda asing yang terikut air susu pada waktu pemerahan (rambut, sel ephithel, kotoran lain), perlu disaring agar air susu benar-benar bersih.

Spesifikasi : SK Ditjen Peternakan No. 17/1983 tentang wadah susu c. Milk Can

Fungsi : Sebagai alat untuk menampung dan menyimpan sementara susu hasil pemerahan, untuk segera dikirim ke Koperasi / MCC (Milk Collecting Center) maupun ke Industri Pengolahan Susu yang jarak dan waktu tempuhnya tidak lebih 2 jam dari proses pemerahan. Alat ini berbahan stainless steel/aluminium, berpenutup rapat dan umumnya berkapasitas 5, 10, 20, 30, 40, 50 liter.

Spesifikasi : SK Ditjen Peternakan No. 17/1983 tentang wadah susu d. Mesin Pemerah Susu

Fungsi : Sebagai sarana untuk memerah susu secara pneumatis, dimana pemerahan dilakukan dengan membuat tekanan vakum pada penampung dan susu diperah kedalam penampung melalui unit perah . Pemerahan dengan mesin perah akan mengurangi kontak susu dengan tukang perah dan lingkungan kandang, sehingga susu hasil perahan lebih bersih dan higienis. Selain itu juga jumlah sapi dan kapasitas pemerahan jauh lebih tinggi

Pada dasarnya semua mesin pemerah susu terdiri atas : 1. Pompa Vakum

2. Pulsator 3. Milk claw

4. Sedotan puting (Teat cup) 5. Wadah susu (Bucket)

Dikenal 3 (tiga) macam model mesin perah susu, yaitu :

1.Sistem Bangsal Pemerahan (Milking parlor system)

Pemerahan berlangsung di suatu bangsal atau ruang khusus yang disiapkan untuk pemerahan.Di bangsal ini ditempatkan beberapa mesin perah.Setiap satu mesin melayani seekor sapi.Sasu hasil pemerahan langsung ditampung di tangki pendingin (cooling unit) sesudah melalui tabung pengukur produksi yang terdapat pada setiap mesin. Sapi yang akan diperah digiring ke bangsal pemerah melalui suatu tempat (holding area) yang luasnya terbatas dan sapi berdesakan. Di holding area sapi dibersihkan dengan sprayer dari segala arah, selanjutnya sapi satu per satu masuk bangsal (milking parlor).

Sistem bangsal perah (milking parlor system) mempeunyai bentuk yang bermacam-macam,

antara lain:

a.Sistem sirip ikan tunggal atau ganda (single/double heringbone milking,parlor)

b.Sistem sirip ikan berbentuk wajik (heringbone diamond shaped polygon milking parlor}

c.Sistem komidi putar (rotary milking parlor)

(12)

Sistem ember adalah salah satu sistem pemerahan yang menggunakan mesin sebagai pengganti tangan yang dapat dipindah-pindah dari tempat satu ke tempat lain. Sitem ini cocok digunakan untuk petemak kecil.Susu hasil perahan dari sistem ini ditampung di ember yang terdapat di setiap mesin. Setelah itu, susu hasil perahan setiap ekor sapi ditakar terlebih dahulu, kemudian dituang di tangkipendingin.

Pemerahan dengan sisitem ini dapat diterapkan di Indonesia pada peternak sapi perah yang jumlah sapi induk kurang dari 10 ekor atau pada peternak sapi perah rakyat yang kandangnya berkelompok. Pemerahan dengan sistem ember ini perlu dirintis di Indonesia dengan harapan dapat menekan kandungan kuman dalam susu.

3.Sistem Pipa (Pipe line system)

Pada sistem ini, pemerahan langsung juga berada di dalam kandang dimana sapi yang akan diperah tetap terikat ditempatnya. Mesin perah dipindah dari sapi satu ke sapi

berikutnya. Sedang susu hasil pemerahan langsung dialirkan ke dalam tangki pendingin melalui pipa tanpa berhubungan dengan udara luar.

b.Pemerahan dengan Tangan/Manual

Pemerahan dengan tangan ini menghendaki suatu pekerjaan yang teliti dan halus, sebab kalau dilakukan dengan kasar akan buruk pengaruhnya terhadap banyaknya susu yang

dihasilkan. Sebelum melakukan pemerahan sususapi, ada beberapa hal yang harus disiapkan

oleh peternak, diantaranya :

cuci/bersihkan ambing sapi dengan air hangat,kandang sapi sudah dibersihkan, peralatan yang akan digunakan berada dalam keadaan steril

Kegunaan pembersihan ambing dengan air hangat bertujuan untuk : merangsang keluarnya air susu,mengurangi kemungkinan air susu terkontimanasi oleg bakteri ,mengurangi munculnya mastitis (menurunkan produksi susu hingga 30 %.)

Suhu air yang digunakan untuk mencuci ambing sapi berada diantara 48 – 57 derajat celcius, dan lebih baik jika air mengandung disenfektan.

2.3.3.Setelah fase pemerahan Ada 3 cara pemerahan dengan tangan yaitu : 1.Whole hand (tangan penuh)

Cara ini adalah yang terbaik, karena puting tidak akan menjadi panjang olehnya. Cara ini dilakukan pada puting yang agak panjang sehingga dapat dipegang dangan penuh tangan. Caranya tangan memegang puting dengan ibu jari dan telunjuk pada pangkalnya. Tekanan dimulai dari atas puting diremas dengan ibu jari dan telunjuk, diikuti dengan jari tengah, jari manis, dan kelingking, sehingga air dalam puting susu terdesak ke bawah dan memancar ke luar. Setelah air susu itu keluar, sekluruh jari dikendorkan agar rongga puting terisi lagi dengan air susu. Remasan diulangi lagi berkali-kali.

Jika ibu jari dan telunjuk kurang menutupi rongga puting, air susu tidak akan memancar keluar, tetapi masuk lagi ke dalam ambing dan sapi akan kesakitan. Sedapat mungkin semua pemerahan dilakukan dengan sepenuh tangan. Teknik ini dilakukan dengan cara menggunakan kelima jari. Puting dipegang antara ibu dari dan keempat jari lainnya, lalu ditekan dengan keempat jari tadi (Syarief dan Harianto, 2011).

2. Stripping (perah jepit)

(13)

untuk pemerahan penghabisan dan untuk puting yang kecil atau pendek yang sukar dikerjakan dengan cara lain.

3. Knevelen (perah pijit)

Cara ini sama dengan cara penuh tangan, tetapi dengan membengkokan ibu jari, cara ini sering dilakukan jika pemerah merasa lelah.. Lama-kelamaan bungkul ibu jari menebal lunak dan tidak menyakiti puting. Teknik ini hanya dilakukan pada sapi yang memiliki puting pendek. (Syarief dan Harianto, 2011).

2.3.4.Pasca Pemerahan

Selesai diperah, ambing dilap menggunakan kain yang telah dibasahi oleh

desinfektan. Kemudian dilap kembali dengan kain yang kering. Setelah itu ,puting juga dicelupkan ke dalam cairan desinfektan selama 4 detik. Semua peralatan yang digunakan untuk memerah juga harus dibersihkan, kemudian dikeringkan. Susu hasil pemerahan juga harus segera ditimbang, dicatat, kemudian disaring agar kotoran saat pemerahan tidak ikut masuk ke dalam susu (Syarief dan Harianto, 2011).

Sesudah pemerahan sebaiknya bagian puting dicelupkan dalam larutan desinfektan untuk menghindari terjadinya mastitis (Syarief dan Sumoprastowo, 1990).

2.3.5.Pengaturan Waktu Pemerahan a)Musim

Sapi yang melahirkan di musim dingin atau musim gugur umumnya produksi susunya lebih tinggi dibandingkan yang melahirkan di musim panas. Jadi pada cuaca yang panas produksi susu sapi umumnya menurun.

Pada sapi yang digembalakan, umumnya produksi susunya menurun pada musim kemarau dibandingkan pada musim hujan, ini hubungannya dengan ketersediaan hijauan makanan ternak.

b) Frekuensi Pemerahan

Pada umumnya sapi diperah 2 kali sehari ialah pagi dan sore hari. Pemerahan yang dilakukan lebih dari 2 kali sehari hanya dilakukan pada sapi yang dapat berproduksi susu tinggi, misalnya pada sapi yang produksi susunya 20 liter per hari dapat diperah 3 kali sehari; sedangkan sapi yang berproduksi susu 25 liter atau lebih per hari dapat diperah 3 kali sehari. Pada sapi yang berproduksi tinggi bila diperah 3 – 4 kali sehari produksi susunya lebih tinggi dibandingkan dengan yang hanya diperah 1 – 2 kali sehari. Pemerahan 3 kali sehari akan meningkatkan produksi susu sebanyak 10 – 25 % dibandingkan dengan pemerahan 2 kali sehari. Peningkatan produksi susu tersebut karena pengaruh hormon prolaktin yang lebih banyak dihasilkan dari pada yang diperah 2 kali sehari.

Bila sapi diperah dua kali sehari dengan selang waktu yang sama antara pemerehan tersebut, maka sedikit sekali terjadi perubahan kualitas air susu. Bila sapi diperah 4 kali sehari, kadar lemak akan tiggi pada besok paginya pada pemerahan pertama. Makin sering sapi diperah, produksi susu akan naik seperti yang ditunjukkan oleh penelitian dari Kendrik

(1953).Kenaikan hasil susu itu tergantung pada kemampuan sapi itu untuk perproduksi, makanan dan manajemen.

2.4. Penaganan Susu

Cara penanganan air susu sesudah pemerahan adalah sebagai berikut:

(14)

2. Air susu tersebut disaring dengan saringan yang terbuat dari kapas atau kain putih dan bersih,

susu tersebut disaring langsung dalam milk can. Segera setalah selesai penyaringan milk

can tersebut ditutup rapat. Kain penyaring harus dicuci bersih dan digodok kemudian

dijemur. Bila kain penyaring tersebut hendak dipakai kembali sebaiknya disetrika terlebih dahulu.

3. Tanpa menghiraukan banyaknya kuman yang telah ada, air susu

perlu didinginkan secepat mungkin sesudah pemerahan dan penyaringan

sekurang-kurangnya pada suhu 4oC–7oC selama 2 atau 3 jam. Hal ini dilakukan untuk

mencegah berkembangnya kuman yang terdapat didalam air susu.bila tidak mempunyai alat pendingin maka pendinginan tersebut dilakukan dengan menggunakan balok es, dalam hal

inimilk can yang telah berisi susu dimasukkan kedalam bak yang berisi es balok dan ditutup

rapat. Jika peternakan tidak mempunyai alat pendingin, susu harus dibawa ke cooling

unit atau KUD yang mempunyai alat pendingin dalam waktu tidak lebih dari 2,5 jam sesudah

pemerahan. Bila tidak dapat ditempuh dalam waktu 2,5 jam maka dianjurkan menambahkan

H2O2 (Hidrogen Peroksida) dengan kepekatan 35% sebanyak 2 cc untuk setiap liter air susu.

Dengan perlakuan demikian air susu dapat tahan selama 24 jam di daerah tropis. Tanpa perlakuan penanganan, susu tidak dapat disimpan lebih dari 12 jam.

Berdasarkan uji reduktase, penambahan H2O2 0,06%, air susu dapat disimpan selama 48 jam,

sedangkan berdasarkan uji alkohol, susu dapat disimpan selama 24 jam. Susu masak dan susu kukus dapat disimpan selama 24 jam berdasarkan uji reduktase dan 12 jam berdasarkan uji

alkohol (Ernawati,et al., 1986).

Ernawati (1991) menyatakan hasil penelitiannya tentang pengaruh tata laksanan pemerahan terhadap kualitas susu kambing, sebagai berikut: Tata laksana pemerahan yang baik akan menghasilkan susu dengan jumlah mikroorganisme yang lebih sedikit (3,86%) dibandingkan dengan tata laksana yang kurang baik. Selain itu dikatakan bahwa tata laksana pemerahan tidak berpengaruh terhadap komposisi, keasaman dan pH susu kambing.

2.5. Pengolahan prodak susu 2.5.1.Susu Homogen

Susu homogen adalah susu yang telah mengalami homogenisasi. Proses homogenisasi bertujuan untuk menyeragamkan besarnya globula-globula lemak susu. Apabila setelah proses homogenisasi dilakukan penyimpanan pada suhu 10-15 °C selama 48 jam tidak akan terjadi pemisahan krim pada susu. Didalam susu yang belum dihomogenisasi, globula-globula lemak ini besarnya tidak seragam yaitu antara 2-10 mikrometer. Alat untuk

menyeragamkan globula-globula lemak tersebut disebut homogenizer. Ketidakhomogenan

didalam pembuatan produk-produk olahan susu tertentu, salah satu misalnya es krim, karena hasilnya tidak akan terasa halus, tetapi kerugian susu homogen adalah mudah

mengalami creaming yaitu memisahnya kepala susu (krim) dibagian atas terpisah dari serum

yang terletak dibagian bawah. Homogenisasi dapat meningkatkan viscositas (viscosity) + 10

%.

Tahapan proses homogenisasi dapat dilakukan dengan :

1. Single stage homogenization, digunakan untuk homogenisasi:

- Produk dengan kandungan lemak rendah

- Produk yang memerlukan homogenisasi berat (heavy) - Produk yang memerlukan viscositas tinggi

2. Two stage homogenization, digunakan untuk:

- Produk dengan kandungan lemak tinggi

- Produk dengan kandungan bahan kering (konsentrasi susu) tinggi - Produk dengan viscositas rendah

(15)

Krim adalah bagian susu yang banyak mengandung lemak yang timbul ke bagian atas dari susu pada waktu didiamkan atau dipisahkan dengan alat pemisah. Ada pula yang

menyebutnya ‘kepala susu”. Susu skim adalah bagian susu yang banyak mengandung protein, sering disebut “serum susu”. Susu skim mengandung semua zat makanan dari susu kecuali lemak dan vitamin-vitamin yang larut dalam lemak. Krim dan susu skim dapat dipisahkan

dengan alat yang disebutseparator. Alat ini bekerja berdasarkan gaya sentrifuge. Pemisahan

krim dan susu skim dapat terjadi karena kedua bahan tersebut mempunyai berat jenis yang berbeda. Krim mempunyai berat jenis yang rendah karena banyak mengandung lemak. Susu skim mempunyai berat jenis yang tinggi karena banyak mengandung protein, sehingga dalam sentrifugasi akan berada dibagian dalam.

Susu skim dapat digunakan oleh orang yang menginginkan nilai kalori rendah di dalam makanannya, karena susu skim hanya mengandung 55% dari seluruh energi susu, dan susu skim juga digunakan dalam pembuatan keju dengan lemak rendah dan yoghurt. Susu skim seharusnya tidak digunakan untuk makanan bayi tanpa adanya pengawasan gizi karena tidak adanya lemak dan vitamin-vitamin yang larut dalam lemak.

Ada enam macam krim, yaitu:

a. Half and half cream

Yaitu yang hanya mengandung lemak 10,5-16%. Krim ini biasanya diperoleh dari mencampur krim yang kandungan lemaknya tinggi dengan susu segar sehingga tercapai kadar lemak tersebut diatas.

b. Light cream

Yaitu krim yang mempunyai kadar lemak 18-22%. Biasanya telah mengalami homogenisasi.

c. Light whipping cream

Yaitu krim yang mempunyai kandungan lemak 30-34%. Krim ini tidak dihomogenisasi sebab perlakuan homogeniasi akan menyebabkan krim mempunyai daya mengembang yang kecil.

d. Heavy whipping cream

Yaitu krim yang mempunyai kandungan lemak lebih besar dari pada 34%. Krim ini juga tidak dihomogenisasi.

e. Sour cream (krim asam)

Yaitu krim yang kadar lemaknya tidak kurang daripada 18%. Yang diperam dengan bakteri asam laktat. Krim dipasteurisasi.

f. Whips

Yaitu krim pasteurisasi yang mengandung gula. Bahan-bahan pemberi cita rasa dan zat penstabil.

BAB III KESIMPULAN

Tatalaksana pemeliharaan, merupakan salah satu faktor lingkungan yang sangat berpengaruh terhadap peningkatan populasi dan produktivitas sapi perah . Tatalaksana pemeliharaan pedet sejak lahir sampai disapih men_jadi sangat penting dalam upaya

menyediakan bakalan balk sebagai pengganti induk mapun untuk digemukan sebagai ternak pedaging . Penerapan tatalaksana pemeliharaan perlu dilakukan sedini mungkin atau sejak pedet baru lahir, mengingat 25-30% dari pedet yang lahir akan mengalami kematian pada periode 4 bulan pertama (SIREGAR,1992) .

Proses pemerahan merupakan aspek penting dalam peternakan sapi perah. Hal ini

(16)

ditetapkan. Susu sebagai bahan yang kaya dengan kandungan nutrisi menyebabkan mikroba akan mudah berkembang biak pada susu, demikian juga berbagai pencemer lainnya berupa material fisik dari lingkungan sekitar, dan juga susu sangat mudah menyerap bau yang ada.. Pemerahan dilakukan 2 kali dalam sehari yaitu pada pagi hari jam 06.00 WIB dan sore hari jam 16.00 WIB. Persiapan yang dilakukan yaitu sapi digiring ke tempat pemerahan kemudian sebelum diperah ambingnya dibersihkan terlebih dahulu dengan menyemprotkan air menggunakan selang serta memberikannya konsentrat agar sapi tenang. Hal ini sesuai dengan pendapat Muljana (1985) yang menyatakan bahwa sebelum pemerahan dimulai, pemerah mencuci tangan bersih-bersih dan mengeringkannya, kuku tangan pemerah dipotong pendek agar tidak melukai puting sapi, sapi yang akan diperah dibersihkan dari segala kotoran, tempat dan peralatan telah disediakan dan dalam keadaan yang bersih.

DAFTAR PUSTAKA

Muljana, W. 1985.Pemeliharaan dan Ternak Kegunaan Sapi Perah. Aneka Ilmu. Semarang. Prihadi.1996. Tata Laksana dan Produksi Sapi Perah. Fakultas Peternakan

Universitas Wangsa Manggala. Yogyakarta.

Putra, A. 2009. Potensi Penerapan Produksi Bersih Pada Usaha Peternakan Sapi erah (Studi Kasus Pemerahan susu sapi Moeria Kudus Jawa Tengah). Magister Ilmu Lingkungan Universitas Diponegoro, Semarang

Syarief, M. Z. dan C. D. A. Sumoprastowo.1990. Ternak Perah. CV. Yasaguna. Jakarta. Syarif, E dan Harianto, B. 2011.Buku Pintar Beternak dan Bisnis Sapi Perah. Agromedia Pustaka, Jakarta

Laporan Koperasi Produksi Susu Bogor . 1995. Rapat Anggota Tahunan 1995.Petunjuk Teknis Informasi Peternakan, Dinas Peternakan Daerah Tingkat I Jawa Barat

Referensi

Dokumen terkait

perpustakaan.uns.ac.iddigilib.uns.ac.idcommit to user86.Sawi Monumen Sawi monumen tubuhnya amat tegak dan berdaun kompak. Penampilan sawi jenis ini sekilas mirip dengan petsai. Tangkai daun berwarna putih berukuran agak lebar dengan tulang daun yang juga berwarna putih. Daunnya sendiri berwarna hijau segar. Jenis sawi ini tegolong terbesar dan terberat di antara jenis sawi lainnya. D.Syarat Tumbuh Tanaman Sawi Syarat tumbuh tanaman sawi dalam budidaya tanaman sawi adalah sebagai berikut : 1.Iklim Tanaman sawi tidak cocok dengan hawa panas, yang dikehendaki ialah hawa yang dingin dengan suhu antara 150 C - 200 C. Pada suhu di bawah 150 C cepat berbunga, sedangkan pada suhu di atas 200 C tidak akan berbunga. 2.Ketinggian Tempat Di daerah pegunungan yang tingginya lebih dari 1000 m dpl tanaman sawi bisa bertelur, tetapi di daerah rendah tak bisa bertelur. 3.Tanah Tanaman sawi tumbuh dengan baik pada tanah lempung yang subur dan cukup menahan air. (AAK, 1992). Syarat-syarat penting untuk bertanam sawi ialah tanahnya gembur, banyak mengandung humus (subur), dan keadaan pembuangan airnya (drainase) baik. Derajat keasaman tanah (pH) antara 6–7 (Sunaryono dan Rismunandar, 1984). perpustakaan.uns.ac.iddigilib.uns.ac.idcommit to user9E.Teknik Budidaya Tanaman Sawi 1.Pengadaan benih Benih merupakan salah satu faktor penentu keberhasilan usaha tani. Kebutuhan benih sawi untuk setiap hektar lahan tanam sebesar 750 gram. Benih sawi berbentuk bulat, kecil-kecil. Permukaannya licin mengkilap dan agak keras. Warna kulit benih coklat kehitaman. Benih yang akan kita gunakan harus mempunyai kualitas yang baik, seandainya beli harus kita perhatikan lama penyimpanan, varietas, kadar air, suhu dan tempat menyimpannya. Selain itu juga harus memperhatikan kemasan benih harus utuh. kemasan yang baik adalah dengan alumunium foil. Apabila benih yang kita gunakan dari hasil pananaman kita harus memperhatikan kualitas benih itu, misalnya tanaman yang akan diambil sebagai benih harus berumur lebih dari 70 hari. Penanaman sawi memperhatikan proses yang akan dilakukan misalnya dengan dianginkan, disimpan di tempat penyimpanan dan diharapkan lama penyimpanan benih tidak lebih dari 3 tahun.( Eko Margiyanto, 2007) Pengadaan benih dapat dilakukan dengan cara membuat sendiri atau membeli benih yang telah siap tanam. Pengadaan benih dengan cara membeli akan lebih praktis, petani tinggal menggunakan tanpa jerih payah. Sedangkan pengadaan benih dengan cara membuat sendiri cukup rumit. Di samping itu, mutunya belum tentu terjamin baik (Cahyono, 2003). Sawi diperbanyak dengan benih. Benih yang akan diusahakan harus dipilih yang berdaya tumbuh baik. Benih sawi sudah banyak dijual di toko-toko pertanian. Sebelum ditanam di lapang, sebaiknya benih sawi disemaikan terlebih dahulu. Persemaian dapat dilakukan di bedengan atau di kotak persemaian (Anonim, 2007). 2.Pengolahan tanah Sebelum menanam sawi hendaknya tanah digarap lebih dahulu, supaya tanah-tanah yang padat bisa menjadi longgar, sehingga pertukaran perpustakaan.uns.ac.iddigilib.uns.ac.idcommit to user10udara di dalam tanah menjadi baik, gas-gas oksigen dapat masuk ke dalam tanah, gas-gas yang meracuni akar tanaman dapat teroksidasi, dan asam-asam dapat keluar dari tanah. Selain itu, dengan longgarnya tanah maka akar tanaman dapat bergerak dengan bebas meyerap zat-zat makanan di dalamnya (AAK, 1992). Untuk tanaman sayuran dibutuhkan tanah yang mempunyai syarat-syarat di bawah ini : a.Tanah harus gembur sampai cukup dalam. b.Di dalam tanah tidak boleh banyak batu. c.Air dalam tanah mudah meresap ke bawah. Ini berarti tanah tersebut tidak boleh mudah menjadi padat. d.Dalam musim hujan, air harus mudah meresap ke dalam tanah. Ini berarti pembuangan air harus cukup baik. Tujuan pembuatan bedengan dalam budidaya tanaman sayuran adalah : a.Memudahkan pembuangan air hujan, melalui selokan. b.Memudahkan meresapnya air hujan maupun air penyiraman ke dalam tanah. c.Memudahkan pemeliharaan, karena kita dapat berjalan antar bedengan dengan bedengan. d.Menghindarkan terinjak-injaknya tanah antara tanaman hingga menjadi padat. ( Rismunandar, 1983 ). 3.Penanaman Pada penanaman yang benihnya langsung disebarkan di tempat penanaman, yang perlu dijalankan adalah : a.Supaya keadaan tanah tetap lembab dan untuk mempercepat berkecambahnya benih, sehari sebelum tanam, tanah harus diairi terlebih dahulu. perpustakaan.uns.ac.iddigilib.uns.ac.idcommit to user11b.Tanah diaduk (dihaluskan), rumput-rumput dihilangkan, kemudian benih disebarkan menurut deretan secara merata. c.Setelah disebarkan, benih tersebut ditutup dengan tanah, pasir, atau pupuk kandang yang halus. d.Kemudian disiram sampai merata, dan waktu yang baik dalam meyebarkan benih adalah pagi atau sore hari. (AAK, 1992). Penanaman dapat dilakukan setelah tanaman sawi berumur 3 - 4 Minggu sejak benih disemaikan. Jarak tanam yang digunakan umumnya 20 x 20 cm. Kegiatan penanaman ini sebaiknya dilakukan pada sore hari agar air siraman tidak menguap dan tanah menjadi lembab (Anonim, 2007). Waktu bertanam yang baik adalah pada akhir musim hujan (Maret). Walaupun demikian dapat pula ditanam pada musim kemarau, asalkan diberi air secukupnya (Sunaryono dan Rismunandar, 1984). 4.Pemeliharaan tanaman Pemeliharaan dalam budidaya tanaman sawi meliputi tahapan penjarangan tanaman, penyiangan dan pembumbunan, serta pemupukan susulan. a.Penjarangan tanaman Penanaman sawi tanpa melalui tahap pembibitan biasanya tumbuh kurang teratur. Di sana-sini sering terlihat tanaman-tanaman yang terlalu pendek/dekat. Jika hal ini dibiarkan akan menyebabkan pertumbuhan tanaman tersebut kurang begitu baik. Jarak yang terlalu rapat menyebabkan adanya persaingan dalam menyerap unsur-unsur hara di dalam tanah. Dalam hal ini penjarangan dilakukan untuk mendapatkan kualitas hasil yang baik. Penjarangan umumnya dilakukan 2 minggu setelah penanaman. Caranya dengan mencabut tanaman yang tumbuh terlalu rapat. Sisakan tanaman yang tumbuh baik dengan jarak antar tanaman yang teratur (Haryanto et al., 1995). perpustakaan.uns.ac.iddigilib.uns.ac.idcommit to user12b.Penyiangan dan pembumbunan Biasanya setelah turun hujan, tanah di sekitar tanaman menjadi padat sehingga perlu digemburkan. Sambil menggemburkan tanah, kita juga dapat melakukan pencabutan rumput-rumput liar yang tumbuh. Penggemburan tanah ini jangan sampai merusak perakaran tanaman. Kegiatan ini biasanya dilakukan 2 minggu sekali (Anonim, 2007). Untuk membersihkan tanaman liar berupa rerumputan seperti alang-alang hampir sama dengan tanaman perdu, mula-mula rumput dicabut kemudian tanah dikorek dengan gancu. Akar-akar yang terangkat diambil, dikumpulkan, lalu dikeringkan di bawah sinar matahari, setelah kering, rumput kemudian dibakar (Duljapar dan Khoirudin, 2000). Ketika tanaman berumur satu bulan perlu dilakukan penyiangan dan pembumbunan. Tujuannya agar tanaman tidak terganggu oleh gulma dan menjaga agar akar tanaman tidak terkena sinar matahari secara langsung (Tim Penulis PS, 1995 ). c.Pemupukan Setelah tanaman tumbuh baik, kira-kira 10 hari setelah tanam, pemupukan perlu dilakukan. Oleh karena yang akan dikonsumsi adalah daunnya yang tentunya diinginkan penampilan daun yang baik, maka pupuk yang diberikan sebaiknya mengandung Nitrogen (Anonim, 2007). Pemberian Urea sebagai pupuk tambahan bisa dilakukan dengan cara penaburan dalam larikan yang lantas ditutupi tanah kembali. Dapat juga dengan melarutkan dalam air, lalu disiramkan pada bedeng penanaman. Satu sendok urea, sekitar 25 g, dilarutkan dalam 25 l air dapat disiramkan untuk 5 m bedengan. Pada saat penyiraman, tanah dalam bedengan sebaiknya tidak dalam keadaan kering. Waktu penyiraman pupuk tambahan dapat dilakukan pagi atau sore hari (Haryanto et al., 1995). perpustakaan.uns.ac.iddigilib.uns.ac.idcommit to user13Jenis-jenis unsur yag diperlukan tanaman sudah kita ketahui bersama. Kini kita beralih membicarakan pupuk atau rabuk, yang merupakan kunci dari kesuburan tanah kita. Karena pupuk tak lain dari zat yang berisisi satu unsur atau lebih yang dimaksudkan untuk menggantikan unsur yang habis diserap tanaman dari tanah. Jadi kalau kita memupuk berarti menambah unsur hara bagi tanah (pupuk akar) dan tanaman (pupuk daun). Sama dengan unsur hara tanah yang mengenal unsur hara makro dan mikro, pupuk juga demikian. Jadi meskipun jumlah pupuk belakangan cenderung makin beragam dengan merek yang bermacam-macam, kita tidak akan terkecoh. Sebab pupuk apapun namanya, entah itu buatan manca negara, dari segi unsur yang dikandungnya ia tak lain dari pupuk makro atau pupuk mikro. Jadi patokan kita dalam membeli pupuk adalah unsur yang dikandungnya (Lingga, 1997). Pemupukan membantu tanaman memperoleh hara yang dibutuhkanya. Unsur hara yang pokok dibutuhkan tanaman adalah unsur Nitrogen (N), Fosfor (P), dan Kalium (K). Itulah sebabnya ketiga unsur ini (NPK) merupakan pupuk utama yang dibutuhkan oleh tanaman. Pupuk organik juga dibutuhkan oleh tanaman, memang kandungan haranya jauh dibawah pupuk kimia, tetapi pupuk organik memiliki kelebihan membantu menggemburkan tanah dan menyatu secara alami menambah unsur hara dan memperbaiki struktur tanah (Nazarudin, 1998). 5.Pengendalian hama dan penyakit Hama yang sering menyerang tanaman sawi adalah ulat daun. Apabila tanaman telah diserangnya, maka tanaman perlu disemprot dengan insektisida. Yang perlu diperhatikan adalah waktu penyemprotannya. Untuk tanaman sayur-sayuran, penyemprotan dilakukan minimal 20 hari sebelum dipanen agar keracunan pada konsumen dapat terhindar (Anonim, 2007). perpustakaan.uns.ac.iddigilib.uns.ac.idcommit to user14OPT yang menyerang pada tanaman sawi yaitu kumbang daun (Phyllotreta vitata), ulat daun (Plutella xylostella), ulat titik tumbuh (Crocidolomia binotalis), dan lalat pengerek daun (Lyriomiza sp.). Berdasarkan tingkat populasi dan kerusakan tanaman yang ditimbulkan, maka peringkat OPT yang menyerang tanaman sawi berturut-turut adalah P. vitata, Lyriomiza sp., P. xylostella, dan C. binotalis. Hama P. vitatamerupakan hama utama, dan hama P. xylostella serta Lyriomiza sp. merupakan hama potensial pada tanaman sawi, sedangkan hamaC. binotalis perlu diwaspadai keberadaanya (Mukasan et al., 2005). Beberapa jenis penyakit yang diketahui menyerang tanaman sawi antara lain: penyakit akar pekuk/akar gada, bercak daun altermaria, busuk basah, embun tepung, rebah semai, busuk daun, busuk Rhizoctonia, bercak daun, dan virus mosaik (Haryanto et al., 1995). 6.Pemanenan Tanaman sawi dapat dipetik hasilnya setelah berumur 2 bulan. Banyak cara yang dilakukan untuk memanen sawi, yaitu: ada yang mencabut seluruh tanaman, ada yang memotong bagian batangnya tepat di atas permukaan tanah, dan ada juga yang memetik daunnya satu per satu. Cara yang terakhir ini dimaksudkan agar tanaman bisa tahan lama (Edy margiyanto,

perpustakaan.uns.ac.iddigilib.uns.ac.idcommit to user86.Sawi Monumen Sawi monumen tubuhnya amat tegak dan berdaun kompak. Penampilan sawi jenis ini sekilas mirip dengan petsai. Tangkai daun berwarna putih berukuran agak lebar dengan tulang daun yang juga berwarna putih. Daunnya sendiri berwarna hijau segar. Jenis sawi ini tegolong terbesar dan terberat di antara jenis sawi lainnya. D.Syarat Tumbuh Tanaman Sawi Syarat tumbuh tanaman sawi dalam budidaya tanaman sawi adalah sebagai berikut : 1.Iklim Tanaman sawi tidak cocok dengan hawa panas, yang dikehendaki ialah hawa yang dingin dengan suhu antara 150 C - 200 C. Pada suhu di bawah 150 C cepat berbunga, sedangkan pada suhu di atas 200 C tidak akan berbunga. 2.Ketinggian Tempat Di daerah pegunungan yang tingginya lebih dari 1000 m dpl tanaman sawi bisa bertelur, tetapi di daerah rendah tak bisa bertelur. 3.Tanah Tanaman sawi tumbuh dengan baik pada tanah lempung yang subur dan cukup menahan air. (AAK, 1992). Syarat-syarat penting untuk bertanam sawi ialah tanahnya gembur, banyak mengandung humus (subur), dan keadaan pembuangan airnya (drainase) baik. Derajat keasaman tanah (pH) antara 6–7 (Sunaryono dan Rismunandar, 1984). perpustakaan.uns.ac.iddigilib.uns.ac.idcommit to user9E.Teknik Budidaya Tanaman Sawi 1.Pengadaan benih Benih merupakan salah satu faktor penentu keberhasilan usaha tani. Kebutuhan benih sawi untuk setiap hektar lahan tanam sebesar 750 gram. Benih sawi berbentuk bulat, kecil-kecil. Permukaannya licin mengkilap dan agak keras. Warna kulit benih coklat kehitaman. Benih yang akan kita gunakan harus mempunyai kualitas yang baik, seandainya beli harus kita perhatikan lama penyimpanan, varietas, kadar air, suhu dan tempat menyimpannya. Selain itu juga harus memperhatikan kemasan benih harus utuh. kemasan yang baik adalah dengan alumunium foil. Apabila benih yang kita gunakan dari hasil pananaman kita harus memperhatikan kualitas benih itu, misalnya tanaman yang akan diambil sebagai benih harus berumur lebih dari 70 hari. Penanaman sawi memperhatikan proses yang akan dilakukan misalnya dengan dianginkan, disimpan di tempat penyimpanan dan diharapkan lama penyimpanan benih tidak lebih dari 3 tahun.( Eko Margiyanto, 2007) Pengadaan benih dapat dilakukan dengan cara membuat sendiri atau membeli benih yang telah siap tanam. Pengadaan benih dengan cara membeli akan lebih praktis, petani tinggal menggunakan tanpa jerih payah. Sedangkan pengadaan benih dengan cara membuat sendiri cukup rumit. Di samping itu, mutunya belum tentu terjamin baik (Cahyono, 2003). Sawi diperbanyak dengan benih. Benih yang akan diusahakan harus dipilih yang berdaya tumbuh baik. Benih sawi sudah banyak dijual di toko-toko pertanian. Sebelum ditanam di lapang, sebaiknya benih sawi disemaikan terlebih dahulu. Persemaian dapat dilakukan di bedengan atau di kotak persemaian (Anonim, 2007). 2.Pengolahan tanah Sebelum menanam sawi hendaknya tanah digarap lebih dahulu, supaya tanah-tanah yang padat bisa menjadi longgar, sehingga pertukaran perpustakaan.uns.ac.iddigilib.uns.ac.idcommit to user10udara di dalam tanah menjadi baik, gas-gas oksigen dapat masuk ke dalam tanah, gas-gas yang meracuni akar tanaman dapat teroksidasi, dan asam-asam dapat keluar dari tanah. Selain itu, dengan longgarnya tanah maka akar tanaman dapat bergerak dengan bebas meyerap zat-zat makanan di dalamnya (AAK, 1992). Untuk tanaman sayuran dibutuhkan tanah yang mempunyai syarat-syarat di bawah ini : a.Tanah harus gembur sampai cukup dalam. b.Di dalam tanah tidak boleh banyak batu. c.Air dalam tanah mudah meresap ke bawah. Ini berarti tanah tersebut tidak boleh mudah menjadi padat. d.Dalam musim hujan, air harus mudah meresap ke dalam tanah. Ini berarti pembuangan air harus cukup baik. Tujuan pembuatan bedengan dalam budidaya tanaman sayuran adalah : a.Memudahkan pembuangan air hujan, melalui selokan. b.Memudahkan meresapnya air hujan maupun air penyiraman ke dalam tanah. c.Memudahkan pemeliharaan, karena kita dapat berjalan antar bedengan dengan bedengan. d.Menghindarkan terinjak-injaknya tanah antara tanaman hingga menjadi padat. ( Rismunandar, 1983 ). 3.Penanaman Pada penanaman yang benihnya langsung disebarkan di tempat penanaman, yang perlu dijalankan adalah : a.Supaya keadaan tanah tetap lembab dan untuk mempercepat berkecambahnya benih, sehari sebelum tanam, tanah harus diairi terlebih dahulu. perpustakaan.uns.ac.iddigilib.uns.ac.idcommit to user11b.Tanah diaduk (dihaluskan), rumput-rumput dihilangkan, kemudian benih disebarkan menurut deretan secara merata. c.Setelah disebarkan, benih tersebut ditutup dengan tanah, pasir, atau pupuk kandang yang halus. d.Kemudian disiram sampai merata, dan waktu yang baik dalam meyebarkan benih adalah pagi atau sore hari. (AAK, 1992). Penanaman dapat dilakukan setelah tanaman sawi berumur 3 - 4 Minggu sejak benih disemaikan. Jarak tanam yang digunakan umumnya 20 x 20 cm. Kegiatan penanaman ini sebaiknya dilakukan pada sore hari agar air siraman tidak menguap dan tanah menjadi lembab (Anonim, 2007). Waktu bertanam yang baik adalah pada akhir musim hujan (Maret). Walaupun demikian dapat pula ditanam pada musim kemarau, asalkan diberi air secukupnya (Sunaryono dan Rismunandar, 1984). 4.Pemeliharaan tanaman Pemeliharaan dalam budidaya tanaman sawi meliputi tahapan penjarangan tanaman, penyiangan dan pembumbunan, serta pemupukan susulan. a.Penjarangan tanaman Penanaman sawi tanpa melalui tahap pembibitan biasanya tumbuh kurang teratur. Di sana-sini sering terlihat tanaman-tanaman yang terlalu pendek/dekat. Jika hal ini dibiarkan akan menyebabkan pertumbuhan tanaman tersebut kurang begitu baik. Jarak yang terlalu rapat menyebabkan adanya persaingan dalam menyerap unsur-unsur hara di dalam tanah. Dalam hal ini penjarangan dilakukan untuk mendapatkan kualitas hasil yang baik. Penjarangan umumnya dilakukan 2 minggu setelah penanaman. Caranya dengan mencabut tanaman yang tumbuh terlalu rapat. Sisakan tanaman yang tumbuh baik dengan jarak antar tanaman yang teratur (Haryanto et al., 1995). perpustakaan.uns.ac.iddigilib.uns.ac.idcommit to user12b.Penyiangan dan pembumbunan Biasanya setelah turun hujan, tanah di sekitar tanaman menjadi padat sehingga perlu digemburkan. Sambil menggemburkan tanah, kita juga dapat melakukan pencabutan rumput-rumput liar yang tumbuh. Penggemburan tanah ini jangan sampai merusak perakaran tanaman. Kegiatan ini biasanya dilakukan 2 minggu sekali (Anonim, 2007). Untuk membersihkan tanaman liar berupa rerumputan seperti alang-alang hampir sama dengan tanaman perdu, mula-mula rumput dicabut kemudian tanah dikorek dengan gancu. Akar-akar yang terangkat diambil, dikumpulkan, lalu dikeringkan di bawah sinar matahari, setelah kering, rumput kemudian dibakar (Duljapar dan Khoirudin, 2000). Ketika tanaman berumur satu bulan perlu dilakukan penyiangan dan pembumbunan. Tujuannya agar tanaman tidak terganggu oleh gulma dan menjaga agar akar tanaman tidak terkena sinar matahari secara langsung (Tim Penulis PS, 1995 ). c.Pemupukan Setelah tanaman tumbuh baik, kira-kira 10 hari setelah tanam, pemupukan perlu dilakukan. Oleh karena yang akan dikonsumsi adalah daunnya yang tentunya diinginkan penampilan daun yang baik, maka pupuk yang diberikan sebaiknya mengandung Nitrogen (Anonim, 2007). Pemberian Urea sebagai pupuk tambahan bisa dilakukan dengan cara penaburan dalam larikan yang lantas ditutupi tanah kembali. Dapat juga dengan melarutkan dalam air, lalu disiramkan pada bedeng penanaman. Satu sendok urea, sekitar 25 g, dilarutkan dalam 25 l air dapat disiramkan untuk 5 m bedengan. Pada saat penyiraman, tanah dalam bedengan sebaiknya tidak dalam keadaan kering. Waktu penyiraman pupuk tambahan dapat dilakukan pagi atau sore hari (Haryanto et al., 1995). perpustakaan.uns.ac.iddigilib.uns.ac.idcommit to user13Jenis-jenis unsur yag diperlukan tanaman sudah kita ketahui bersama. Kini kita beralih membicarakan pupuk atau rabuk, yang merupakan kunci dari kesuburan tanah kita. Karena pupuk tak lain dari zat yang berisisi satu unsur atau lebih yang dimaksudkan untuk menggantikan unsur yang habis diserap tanaman dari tanah. Jadi kalau kita memupuk berarti menambah unsur hara bagi tanah (pupuk akar) dan tanaman (pupuk daun). Sama dengan unsur hara tanah yang mengenal unsur hara makro dan mikro, pupuk juga demikian. Jadi meskipun jumlah pupuk belakangan cenderung makin beragam dengan merek yang bermacam-macam, kita tidak akan terkecoh. Sebab pupuk apapun namanya, entah itu buatan manca negara, dari segi unsur yang dikandungnya ia tak lain dari pupuk makro atau pupuk mikro. Jadi patokan kita dalam membeli pupuk adalah unsur yang dikandungnya (Lingga, 1997). Pemupukan membantu tanaman memperoleh hara yang dibutuhkanya. Unsur hara yang pokok dibutuhkan tanaman adalah unsur Nitrogen (N), Fosfor (P), dan Kalium (K). Itulah sebabnya ketiga unsur ini (NPK) merupakan pupuk utama yang dibutuhkan oleh tanaman. Pupuk organik juga dibutuhkan oleh tanaman, memang kandungan haranya jauh dibawah pupuk kimia, tetapi pupuk organik memiliki kelebihan membantu menggemburkan tanah dan menyatu secara alami menambah unsur hara dan memperbaiki struktur tanah (Nazarudin, 1998). 5.Pengendalian hama dan penyakit Hama yang sering menyerang tanaman sawi adalah ulat daun. Apabila tanaman telah diserangnya, maka tanaman perlu disemprot dengan insektisida. Yang perlu diperhatikan adalah waktu penyemprotannya. Untuk tanaman sayur-sayuran, penyemprotan dilakukan minimal 20 hari sebelum dipanen agar keracunan pada konsumen dapat terhindar (Anonim, 2007). perpustakaan.uns.ac.iddigilib.uns.ac.idcommit to user14OPT yang menyerang pada tanaman sawi yaitu kumbang daun (Phyllotreta vitata), ulat daun (Plutella xylostella), ulat titik tumbuh (Crocidolomia binotalis), dan lalat pengerek daun (Lyriomiza sp.). Berdasarkan tingkat populasi dan kerusakan tanaman yang ditimbulkan, maka peringkat OPT yang menyerang tanaman sawi berturut-turut adalah P. vitata, Lyriomiza sp., P. xylostella, dan C. binotalis. Hama P. vitatamerupakan hama utama, dan hama P. xylostella serta Lyriomiza sp. merupakan hama potensial pada tanaman sawi, sedangkan hamaC. binotalis perlu diwaspadai keberadaanya (Mukasan et al., 2005). Beberapa jenis penyakit yang diketahui menyerang tanaman sawi antara lain: penyakit akar pekuk/akar gada, bercak daun altermaria, busuk basah, embun tepung, rebah semai, busuk daun, busuk Rhizoctonia, bercak daun, dan virus mosaik (Haryanto et al., 1995). 6.Pemanenan Tanaman sawi dapat dipetik hasilnya setelah berumur 2 bulan. Banyak cara yang dilakukan untuk memanen sawi, yaitu: ada yang mencabut seluruh tanaman, ada yang memotong bagian batangnya tepat di atas permukaan tanah, dan ada juga yang memetik daunnya satu per satu. Cara yang terakhir ini dimaksudkan agar tanaman bisa tahan lama (Edy margiyanto,