• Tidak ada hasil yang ditemukan

TINJAUAN YURIDIS TERHADAP PERLINDUNGAN P

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "TINJAUAN YURIDIS TERHADAP PERLINDUNGAN P"

Copied!
22
0
0

Teks penuh

(1)

TINJAUAN YURIDIS TERHADAP PERLINDUNGAN PENDUDUK SIPIL TERHADAP

PENGGUNAAN UNMANNED AERIAL VEHICLE DALAM SITUASI PERANG

BERDASARKAN HUKUM HUMANITER INTERNATIONAL

(STUDI KASUS TERHADAP PENGGUNAAN DRONE DALAM PERANG OLEH

AMERIKA SERIKAT)

Diajukan untuk melakukan penelitian hukum

Dalam rangka memenuhi tugas Hukum Internasional

Oleh

Habibie Hendra Carlo

NIM : 010001500194

Dosen :Prof.Dr.Kuntoro,SH.MH.

JURUSAN ILMU HUKUM

FAKULTAS HUKUM

UNIVERSITAS TRISAKTI

(2)

DAFTAR ISI

DAFTAR ISI...2

PENDAHULUAN...3

A. Latar Belakang...3

B. Rumusan Masalah...5

C. Tujuan Penelitian...5

D. Metode Penelitian...5

1. Jenis Penelitian...5

2. Pendekatan...6

3. Data Penelitian...6

4. Teknik Pengumpulan Data...6

5. Analisa Data...7

KERANGKA TEORI...8

1. Tinjauan mengenai Hukum Internasional...8

2. Tinjauan umum mengenai Hukum Humaniter...10

3. Tinjauan umum mengenai Penggunaan Drone dalam situasi perang...11

4. Tinjauan umum mengenai Hukum Perjanjian Internasional...13

5. Tinjauan umum mengenai tanggung jawab negara...14

ANALISIS DAN PEMBAHASAN...18

3.1 Keabsahan penggunaan drone dalam perang berdasarkan hukum humaniter internasional...18

2.2 Pertanggungjawaban negara dalam penggunaan drone pada masa perang...19

BAB IV. PENUTUP...20

Kesimpulan...20

(3)

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi yang terjadi di seluruh dunia menyebabkan terjadinya

pergeseran nilai – nilai dan cara – cara berperang. Perkembangan teknologi di bidang alat tempur menyebabkan

berubahnya nilai – nilai perlindungan terhadap penduduk sipil dalam kondisi perang. Unmanned Aerial Vehicle

(Drone) sebagai salah satu hasil dari kemajuan teknologi telah digunakan sebagai alat tempur oleh beberapa

negara. Namun, Penggunaan Drone kerap kali menimbulkan berbagai permasalahan yang sebelumnya tidak

ditemukan dalam perang konvensional. Pengaturan mengenai penggunaan Drone dalam situasi perang menjadi

sangat penting karena penggunaan drone dapat berpotensi menyebabkan dampak yang sangat besar terhadap

perlindungan penduduk sipil. Secara umum penggunaan drone untuk keperluan militer mulai digunakan secara

massive oleh Amerika Serikat sejak peristiwa 9/11 , dalam serangan melawan teroris. Tahun 2002, CIA, Badan

Intelijen Amerika, pertama kali menggunakan drone jenis Predator, yang menargetkan Osama Bin Laden di

provinsi Paktia, Afghanistan. Namun, Penggunaan Drone yang sebelumnya digunakan dalam pemberantasan

terorisme sangat berpotensi untuk menjadi senjata pemusnah massal apabila tidak diatur penggunaannya di dalam

hukum international.

Menurut Arlina Permanasari, Hukum mengenai perang diatur dalam Hukum Humaniter Internasional. Tujuan

dari hukum humaniter internasional adalah untuk memanusiakan perang.1 Menurut KGPH. Haryomataram2, tujuan utama hukum humaniter adalah memberikan perlindungan dan pertolongan kepada mereka yang menjadi korban

perang, baik mereka yang secara nyata/aktif turut serta dalam permusuhan maupun tidak turut serta dalam

permusuhan. Maka dapat disimpulkan bahwa hukum humaniter pada hakikatnya tidak melarang perang, tetapi

mengatur perang. Dalam hal ini hukum humaniter mengatur alat dan cara berperang, serta mengatur perlindungan

terhadap korban perang.3

11. Permanasari, Arlina, Pengantar Hukum Humaniter (Jakarta:International Committe of the Red Cross, 1999) , 11- 12

22. Haryomataram, KGPH, Pengantar Hukum Humaniter (Jakarta: Rajawali Pers, 2005), 3

(4)

Di dalam Hukum humaniter international terdapat beberapa prinsip diantaranya prinsip kepentingan militer ,

prinsip kesatriaan, dan prinsip pembedaan. Dalam prinsip pembedaan, negara yang sedang berperang diwajibkan

untuk mengindentifikasi objek yang akan diserang. Negara wajib melakukan identifikasi apakah objek yang akan

diserang merupakan objek militer atau objek sipil. Selain itu, Negara pun wajib mengidentifikasi subjek yang akan

diserang yang dibagi menjadi 3 diantaranya Combatant, Non-Combatant, dan Civilian. Dalam menggunakan

drone , Negara yang sedang berperang wajib untuk menghormati prinsip pembedaan ini. Namun, Dalam

penerapannya seringkali penggunaan drone menimbulkan pelanggaran terhadap prinsip perbedaan. Selain itu,

sangat sulit untuk melakukan identifikasi baik terhadap objek maupun subjek penyerangan apabila penyerangan

dilakukan dengan menggunakan drone.

Pada tahun 2002 , Amerika Serikat melakukan penyerangan terhadap Afganistan dengan menggunakan

Drone dalam rangka menangkap Osama Bin Laden. Beberapa hari kemudian jurnalis di lapangan mulai

melaporkan bahwa drone justru membidik warga sipil yang sedang membawa besi tua. Berita tersebut membuat

publik mempertanyakan kebijakan penggunaan drone di Amerika. Namun, drone terus digunakan oleh Amerika di

medan perang. Sebuah lembaga think tank, Stimson Center, di Washington, pertengahan tahun ini melaporkan

bahwa penggunaan drone di lapangan justru berpotensi mengancam stabilitas di medan perang. Salah satu

Lembaga pemerhati hak asasi manusia, Amnesty International, bahkan menyebut penggunaan drone oleh AS

berada diluar jalur hukum dan kemanusiaan. Dalam situsnya, Amnesty International menyebutkan,"Hukum

internasional mengizinkan penggunaan senjata mematikan namun dalam batasan yang sangat sempit. (Amnesty

International) menyerukan pemrintah AS untuk tunduk pada hukum internasional yang berlaku."4

Tanggung jawab atas penggunaan Drone yang tidak sesuai dengan aturan HHI. Aturan HHI terhadap pesawat

udara militer berlaku bagi Drone: Konvensi Den Haag dan Protokol Tambahan 1977, Hukum Kebiasan

Internasional dibidang HHI, termasuk dalam rancangan RAW (Rule of Air Warfare) Den Haag 1922-1923 yang

dirumuskan oleh Komite Ahli Hukum. Contohnya drone tidak boleh dijatuhkan ke pemukiman yang banyak

penduduknya sama seperti aturan terhadap pesawat udara milter (Konvensi Den Haag IV) RAW mengatur tentang

(5)

penggunaan peralatan tanpa kabel termasuk juga pesawat. Dapat juga digunakan untuk membatasi penggunaan

drone. Namun RAW sampai sekarang belum menjadi konvensi. Tetapi aturan-aturannya sudah digunakan oleh

negara-negara dalam praktek berperang, maka sudah mengikat berdasarkan hukum kebiasaan internasional. Prinsip

pembedaan berkaitan pertempuran dari udara yang relevan terhadap drone.5

Dengan melihat latar belakang tersebut, penulis sangat tertarik untuk membahas masalah ini dengan mengambil

judul “Tinjauan Yuridis Penggunaan Unmanned Aerial Venichle dalam situasi perang berdasarkan Hukum

Humaniter Internasional”

B. Rumusan Masalah

Berdasarkan Latar belakang diatas maka Permasalahan yang akan diteliti dalam karya ilmiah hukum ini adalah

- Bagaimanakah keabsahan penggunaan drone dalam situasi perang berdasarkan hukum humaniter internasional ?

- Bagaimanakah pertanggungjawaban negara terhadap kerusakan yang disebabkan oleh penggunaan drone dalam

situasi perang ?

C. Tujuan Penelitian

Berdasarkan permasalahan diatas, maka tujuan penelitian ini adalah

- Ingin Mendeskripsikan keabsahan penggunaan drone dalam situasi perang berdasarkan hukum humaniter

internasional.

- Ingin mendeskripsikan pertanggungjawaban negara terhadap kerusakan yang disebabkan oleh penggunaan drone

dalam situasi perang.

D. Metode Penelitian

1. Jenis Penelitian

Jenis Penelitian yang akan digunakan dalam penelitian ini adalah penelitian hukum normative. Menurut

Soejono Soekanto, Penelitian hukum normative cenderung mencitrakan hukum sebagai disiplin preskriptif dimana

hanya melihat hukum dari sudut pandang norma – normanya saja, yang tentunya bersifat preskriptif. 6

(6)

2. Pendekatan

Pendekatan penelitian adalah cara mengadakan penelitian.7 Dari ungkapan konsep tersebut jelas bahwa yang dikehendaki adalah suatu informasi dalam bentuk deskripsi dan menghendaki makna yang berada di balik bahan

hukum.

Jenis penelitian yang akan digunakan dalam penelitian hukum ini adalah penelitian normative, maka dapat

digunakan lebih dari satu pendekatan.8 Dalam penelitian ini akan digunakan pendekatan perundang – undangan dan pendekatan kasus.

Pendekatan perundang – undangan dilakukan untuk meneliti pengaturan mengenai penggunaan drone dalam

situasi perang di dalam Geneva Convention, Den Hauge Convention, maupun peraturan lain di bidang hukum

humaniter internasional. Sedangkan, Pendekatan kasus dilakukan untuk menganalisis penggunaan drone dalam

perang seperti pada kasus Katanga maupun pada perang Amerika Serikat – Afghanistan.

3. Data Penelitian

Penelitian ini menggunakan data sekunder yaitu :

Data sekunder adalah bahan hukum dalam penelitian yang diambil dari studi kepustakaan yang terdiri dari bahan

hukum primer, bahan hukum sekunder dan bahan tersier. Data sekunder diperoleh dengan studi dokumentasi dan

penelusuran literature yang berkaitan dengan hukum humaniter dan teori yang mendukungnya.

a. Bahan hukum primer adalah Bahan hukum yang bersifat autoritatif artinya memiliki suatu otoritas mutlak dan

mengikat.

b. Bahan hukum sekunnder adalah Bahan hukum yang memberikan penjelasan mengenai bahan hukum primer.

c. Bahan tersier adalah Bahan hukum yang relevan. (contoh: kamus hukum internasional).

66. Soerjono Soekanto dan Sri Mamudji, Penelitian hukum normatif tinjauan singkat (Jakarta:Rajawali Pers, 2006).

77. Suharsimi Arikunto, Prosedur penelitian: Suatu pendekatan praktek (Jakarta: Rineka Cipta, 2002).

(7)

4. Teknik Pengumpulan Data

Teknik Pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah dengan melakukan studi

kepustakaan yaitu pengumpulan data melalui literatur dan dokumen lain yang berkaitan dengan

permasalahan yang ada.

5. Analisa Data

(8)

KERANGKA TEORI

1. Tinjauan mengenai Hukum Internasional

Menurut Brierly “Hukum ada dalam setiap masyarakat; dan tidak akan ada masyarakat tanpa adanya suatu

sistem hukum yang mengatur hubungan diantara setiap anggota masyarakat”. Dalam Hubungan Internasional

sering terjadi perbedaan pendapat dan kepentingan diantara Negara – negara dalam sebuah hubungan Internasional

sehingga diperlukan hukum yang mengatur hubungan antara negara – negara tersebut. Dalam perkembanganya

terdapat banyak istilah mengenai hukum internasional yakni “Hukum Bangsa – Bangsa dan “Hukum Antar

Negara”.9 Menurut Mochtar Kusumaatmadja , Hukum Internasional Publik adalah Keseluruhan kaidah dan asas hukum yang mengatur hubungan atau persoalan yang melintasi batas negara antara: a) Negara dengan negara; b)

Negara dengan subjek hukum lain bukan negara atau subjek hukum bukan negara satu sama lain.10 Dalam Hukum Internasional terdapat subjek – subjek hukum internasional :

- Negara

- Organisasi Internasional

- Palang Merah Internasional

- Takhta Suci Vatican

- Pihak – Pihak yang bersengketa (Beligerent)

- Individu

Untuk mengatur hubungan diantara subjek – subjek hukum internasional maka diperlukan suatu aturan – aturan

yang mengikat diantara subjek hukum internasional. Berdasarkan Pasal 38 Piagam Mahkamah Internasional,

Sumber Hukum Internasional adalah:

- Perjanjian Internasional

- Kebiasaan Internasional

- Prinsip – prinsip hukum umum

- Yurisprudensi

(9)

- Doktrin

Di dalam Hukum Internasional terdapat 2 aliran utama yaitu

a) Golongan Naturalis : Prinsip – prinsip hukum dalam semua sistem hukum bukan berasal dari buatan manusia,

tetapi berasal dari prinsip – prinsip hukum yang berlaku secara universal, sepanjang masa dan yang dapat ditemui

dengan akal sehat.

b) Golongan Positivis : Hukum yang mengatur hubungan antara negara adalah prinsip – prinsip yang dibuat oleh

negara – negara dan atas kemauan mereka sendiri. Dasar hukum internasional adalah kesepakatan bersama yang

diwujudkan dalam perjanjian – perjanjian dan kebiasaan – kebiasaan internasional.11

1111. Boer Mauna, Hukum International (Pengertian Peranan dan Fungsi dalam era Dinamika Global) (Bandung;

(10)

2. Tinjauan umum mengenai Hukum Humaniter

Di dalam hubungan internasional, sering terjadi sengketa diantara subyek – subyek hukum internasional.

Meskipun dalam konvensi penyelesaian sengketa internasional secara damai, dianjurkan agar sengketa

internasional sebaiknya diselesaikan dengan cara damai12 namun kita tidak dapat menutupi fakta bahwa terkadang perang dapat menjadi alternative yang dipilih dalam menyelesaikan sengketa diantara kedua negara. Di dalam

perang diperlukan suatu aturan – aturan yang membatasi agar hak – hak warga sipil tetap terlindungi dalam situasi

perang. Hukum ini disebut dengan “Hukum Humaniter”. Menurut Mochtar Kusumaatmadja, “Hukum humaniter

adalah bagian dari hukum yang mengatur ketentuan – ketentuan perlindungan korban perang, berlainan dengan

hukum perang yang mengatur perang itu sendiri dan segala sesuatu yang menyangkut cara melakukan perang itu

sendiri”.13 Haryomataram membagi hukum humaniter menjadi 2 aturan pokok yaitu:14

1. Hukum yang mengatur mengenai cara dan alat yang boleh dipakai untuk berperang (Hukum Den Haag)

2. Hukum yang mengatur mengenai perlindungan terhadap kombatan dan penduduk sipil dari akibat perang.

(Hukum Jenewa)

Hukum humaniter tidak dimaksudkan untuk melarang perang, tetapi hukum humaniter mencoba agar suatu

perang dapat dilakukan dengan lebih memperhatikan prinsip – prinsip kemanusiaan . Menurut Frederic De

Mullinen, Tujuan hukum humaniter adalah:

1. Memberikan perlidungan terhadap kombatan maupun penduduk sipil dari penderitaan yang tidak perlu.

2. Menjamin hak asasi manusia yang sangat fundamental bagi mereka yang jatuh ke tangan musuh. Kombatan

yang jatuh ketangan musuh harus dilindungi dan dirawat serta berhak diperlakukan sebagai tawanan perang.

3. Mencegah dilakukannya perang secara kejam tanpa mengenal batas.15 Dalam hukum humaniter terdapat 3 asas utama yaitu:16

1. Asas Kepentingan militer

1212. Pasal 1 Konvensi Penyelesaian Sengketa International dengan cara damai

1313. Mochtar Kusumaatmadja, Hukum internasional humaniter dalam pelaksanaan dan penerapannya di Indonesia( 1980), 5.

(11)

Berdasarkan asas ini maka pihak yang bersengketa dibenarkan menggunakan kekerasan untuk menundukkan

lawan demi tercapainya tujuan dan keberhasilan perang.

2. Asas Perikemanusiaan

Berdasarkan asas ini maka pihak yang bersengketa diharuskan untuk memperhatikan perikemanusiaan dimana

mereka dilarang untuk menggunakan kekerasan yang dapat menimbulkan luka yang berlebihan atau penderitaan

yang tidak perlu.

3. Asas Kesatriaan

Asas ini mengandung arti bahwa di dalam perang, kejujuran harus diutamakan. Penggunaan alat – alat yang

tidak terhormat, berbagai macam tipu muslihat dan cara – cara yang bersifat khianat dilarang.

Selain asas – asas diatas, terdapat suatu asas yang penting didalam hukum humaniter internasional yakni asas /

Prinsip pembedaan. Prinsip pembedaan adalah suatu asas yang membedakan atau membagi penduduk dari suatu

negara yang sedang berperang atau yang sedang terlibat dalam konflik bersenjata ke dalam dua golongan, yakni

kombatan dan penduduk sipil. Pembedaan ini diperlukan untuk mengetahui mereka yang boleh turut serta dalam

permusuhan, sehingga boleh dijadikan sasaran atau objek kekerasan, dan mereka yang tidak boleh turut serta dalam

permusuhan sehingga tidak boleh dijadikan sasaran atau objek kekerasan.

3. Tinjauan umum mengenai Penggunaan Drone dalam situasi perang

The unmanned aerial vehicle yang lebih umum dikenal sebagai drones merupakan pesawat tanpa awak dengan

kendali jarak jauh yang sengaja dibuat untuk kepentingan militer.17 Pesawat ini termasuk dalam kategori pesawat tempur paling moderen, memiliki konfigurasi otomatis autopilot, dilengkapi dengan berbagai sensor serta

diprogram untuk bermanuver rutin sesuai dengan pengaturan awal.18 Pada dasarnya, berbagai jenis drone terbagi dalam dua kategori besar, yaitu drone yang sengaja diprogram untuk melakukan pengintaian serta pengawasan dan

drone yang dipersenjatai dengan rudal ataupun bom.19 Pesawat tempur tanpa awak ini memiliki nilai lebih dengan

1717. Air Force officials announce remotely piloted aircraft pilot training pipeline", www.af.mil. Diakses pada 21 Desember 2017

1818. Taylor, A. J. P. Jane's Book of Remotely Piloted Vehicles.

(12)

tidak menempatkan pilot dalam situasi yang beresiko tinggi.Konfigurasi dari penggunaan pesawat tanpa awak ini

bersifat aerodinamis, taktis dan memberikan keuntungan ekonomi.20

Perkembangan senjata yang digunakan dalam peperangan, konflik maupun dalam perlindungan untuk sebuah

negara dan keamanan internasional tetap berada dalam koridor regulatif dalam Pasal 36 dari Protokol Tambahan I

dari Konvensi Jenewa 1949.21 Pasal ini bermaksud untuk menjaga perkembangan dari persenjataan yang digunakan baik oleh negara dan organisasi- organisasi internasional agar tetap menghormati, menjaga dan tidak melewati

batas-batas dari prinsip-prinsip hukum internasional yang telah ada.22Dewasa ini, penggunaan remote- controlled weapon systems merupakan sebuah refleksi dari sejumlah peristiwa yang meresahkan dunia internasional.

Kemungkinan setiap pengembangan senjata membawa situasi global kepada tahap apa yang sering disebut sebagai

security dilemma.23

Apakah penggunaan drone bersenjata merupakan agresi atau tindakan membela diri yang sah,

keduanya harus berlangsung dalam situasi konflik bersenjata dan memenuhi kriteria

perhubungan yang relevan (lihat di subbagian bawah tentang perhubungan konflik) keduanya juga akan dinilai

berdasarkan jus in bello yang berlaku, khususnya HHI. Dengan demikian, mereka harus mematuhi, minimal, aturan

HHI yang berlaku pada perilaku perang, khususnya aturan-aturan yang berkaitan dengan tindakan pencegahan

dalam serangan, pembedaan, dan proporsionalitas, dan keduanya tidak harus menggunakan senjata yang

penggunaannya melanggar hukum berdasarkan HHI.24 Menurut Stuart Casey Maslen, Hukum kebiasaan melarang

2020. Ibid.

2121. Texts and commentaries of 1949 Conventions & Additional Protocols

2222. Agenda [( Agenda. 2012. The Morality of Drone Warfare. Terdapat dalam: http://castroller.com/podcasts/

TheAgendaVideo/3019369 "he Morality of Drone Warfare"].(2012).

2323. Afhseen John Radsan; Murphy "Measure Twice, Shoot Once: Higher Care for Cia-Targeted Killing" University of Illinois Law Review, 2011 (2011). 1201–1241.

2424. Sabrina Mirza, DRONES- An Inhumanly Attack: Analisa Hukum Humaniter Internasional, https://

(13)

penggunaan, baik dalam konflik bersenjata internasional atau non-internasional, senjata yang sifatnya membabi

buta, serta senjata yang sifatnya berlebihan hingga menyebabkan cedera atau penderitaan yang tidak perlu.25

4. Tinjauan umum mengenai Hukum Perjanjian Internasional

Perjanjian Internasional adalah Suatu persetujuan internasional yang telah diatur oleh hukum internasional dan dirumuskan dalam bentuk tertulis:

(1) Antara satu atau lebih negara dan satu atau lebih organisasi internasional

(2) Sesama Organisasi internasional, baik persetujuan itu berupa satu instrument atau lebih dari satu instrument yang saling berkaitan tanpa memandang apapun namanya.26

Subjek hukum internasional yang memiliki kemampuan untuk mengadakan perjanjian internasional adalah27 1. Negara

7. Bangsa yang sedang memperjuangkan haknya.

Dalam perumusan perjanjian internasional terdapat beberapa langkah yang harus dilalui yakni: 1. Penunjukan wakil – wakil yang akan melakukan perundingan

2. Penerimaaan naskah perjanjian 3. Pengontentikasian naskah perjanjian 4. Persetujuan untuk terikat pada perjanjian

Persetujuan untuk terikat pada perjanjian dapat dilakukan dengan beberapa cara :

1. Persetujuan untuk terikat pada perjanjian yang dinyatakan dengan cara penandatanganan.

2. Persetujuan untuk terikat pada perjanjian yang dinyatakan dengan pertukaran instrument – instrument yang membentuk perjanjian.

3. Persetujuan untuk terikat pada perjanjian yang dinyatakan dengan ratifikasi , akseptasi, atau persetujuan. 2525. Stuart Casey Maslen, Serangan Drone menurut jus ad bellum, jus in bello, dan hukum hak asasi manusia internasional. International Review of the red cross, 94, No.886 (2012)

2626. Pasal 2 ayat (1) butir a konvensi wina 1986

(14)

4. Persetujuan untuk terikat pada perjanjian yang dinyatakan dengan cara aksesi 5. Persetujuan untuk terikat pada sebagian dari perjanjian28

5. Tinjauan umum mengenai tanggung jawab negara

Pertanggungjawaban negara timbul dalam hal negara itu merugikan negara lain. Pertanggungjawaban negara

dibatasi pada perbuatan yang melanggar hukum internasional. Perbuatan negara yang merugikan negara lain

namun tidak melanggar hukum internasional tidak akan menimbulkan pertanggungjawaban negara. Tanggung

jawab negara muncul sebagai akibat dari prinsip persamaan dan kedaulatan negara yang terdapat dalam hukum

internasional.29

Secara garis besar tanggung jawab negara dibagi menjadi :

a.Tanggung jawab perbuatan melawan hukum (delictual liability)

Tanggung jawab ini lahir dari setiap kesalahan atau kelalaian suatu negara terhadap orang asing di dalam wilayah

negaranya atau wilayah negara lain. Hal ini dapat timbul karena :

 Eksplorasi ruang angkasa

 Eksplorasi nuklir

 Kegiatan Lintas Batas Nasional

b. Tanggung jawab atas pelanggaran perjanjian

Pertanggungjawaban negara timbul karena suatu negara melanggar perjanjian internasional (treaty) yang dibuat

dengan negara lain yang mengakibatkan kerugian terhadap negara lainnya.

Menurut Sharon Williams,30 ada empat kriteria yang dapat digunakan untuk menetapkan adanya pertanggungjawaban negara yaitu :

1. Subjective fault criteria

2828. Ibid, 93 - 148

2929. Malcolm N Shaw, International Law, (Cambrige:Cambrigde University Press, 1997), 541

(15)

2. Objective fault criteria

3. Strict Liability

4. Absolute Liability

1. Subjective fault criteria menentukan arti pentingnya kesalahan, baik dolus maupun culpa si pelaku untuk

menetapkan adanya pertanggungjawaban negara. Dalam konsep objective fault criteria ditentukan adanya

pertanggungjawaban negara yang timbul dari adanya suatu pelanggaran terhadap suatu kewajiban internasional.

Jika suatu negara dapat menunjukkan adanya forcé majeure atau adanya tindakan pihak ketiga, negara yang

bersangkutan dapat dibebaskan dari pertanggungjawaban tersebut.

2. Konsep strict liability membebani negara dengan pertanggungjawaban terhadap perbuatan atau tidak berbuat

yang terjadi di wilayahnya yang menimbulkan pencemaran dan mengakibatkan kerugian di wilayah negara lain,

meskipun berbagai persyaratan pencegahan pencemaran telah diterapkan. Dalam konsep ini acts of God, tindakan

pihak ketiga atau forcé majeure dapat digunakan sebagai alasan pemaaf (exculpate). Menurut konsep absolute

liability tidak ada alasan pemaaf yang dapat digunakan seperti dalam strict liability, sehingga dalam konsep ini

terdapat total pertanggungjawaban walaupun segala standar telah dipenuhi.31

Dalam keadaan-keadaan tertentu, suatu pelanggaran terhadap suatu kewajiban internasional tidak mengakibatkan

negara tersebut bertanggungjawab terhadapnya. Keadaan-keadaan yang dimaksud secara umum adalah:

1. Adanya persetujuan dari negara yang dirugikan (consent).32 Persetujuan ini harus diberikan sebelum atau saat pelanggaran terjadi. Persetujuan yang diberikan setelah terjadi pelanggaran berarti penanggalan hak untuk

mengklaim ganti rugi, tetapi tidak menghilangkan unsur pelanggaran hukum internasional.

2. Tindakan mempertahankan diri (self defense) Yang menjadi tolak ukur adalah bahwa tindakan tersebut harus

sesuai dengan piagam PBB.33

3. Keadaan memaksa ( force majeure) 3131. Ibid

(16)

Pasal 23

ILC Draft Articles on Responsibility of States for Internationally Wrongful Act (2001) yang mengatakan kesalahan

negara dapat dihindari apabila tindakan itu disebabkan karena adanya kekuatan yang tak dapat diduga sebelumnya

di luar kontrol atau pengawasan suatu negara yang membuatnya secara materiil tidak mungkin memenuhi

kewajiban internasional tersebut.34

4. Keadaan yang berbahaya ( distress)

Tindakan yang oleh si pelaku memang tidak ada cara lain karena alasan yang berbahaya guna menyelamatkan

jiwanya atau keselamatan jiwa orang lain yang berada di bawah pengawasannya.35

5. Keadaan yang sangat diperlukan (necessity ) Suatu negara dapat melakukan suatu tindakan yang “merupakan

satu -satunya jalan untuk menyelamatkan kepentingan yang esensil terhadap bahaya yang sangat besar”. Perbedaan

antara Doctrine of Necessity dengan Force Majeure adalah, dalam Doctrine of Necessity tindakan pelanggaran

dilakukan karena tindakan tersebut adalah satu-satunya cara untuk melindungi kepentingan vitalnya, sedangkan

Force Majeure adalah keadaan dimana kekuatan yang bersifat di luar kemampuan dan tidak dapat dihindari.36

3434. Ibid

(17)

ANALISIS DAN PEMBAHASAN

3.1 Keabsahan penggunaan drone dalam perang berdasarkan hukum humaniter internasional

Penggunaan drone dalam masa perang merupakan salah satu permasalahan baru dalam hukum humaniter

internasional. Di dalam hukum humaniter internasional dikenal beberapa asas yakni asas kepentingan militer, asas

kesatriaan, dan asas peri kemanusiaan. Setiap tindakan yang dilakukan pada masa perang harus didasarkan pada

asas dan prinsip di dalam hukum humaniter internasional. Dalam hukum humaniter internasional, terdapat

beberapa prinsip yang telah diakui sebagai hukum kebiasaan internasional. Salah satu prinsip yang telah diakui

sebagai hukum kebiasaan internasional adalah prinsip perbedaan. Prinsip perbedaan mewajibkan suatu negara

untuk membedakan antara militer dan warga sipil serta objek militer dan objek sipil. Penggunaan drone pada masa

perang seringkali menimbulkan masalah baru yakni apakah penggunaan drone dalam masa perang bertentangan

dengan prinsip perbedaan sebagaimana diatur dalam hukum humaniter internasional. Berdasarkan putusan kasus

Katanga,37 Penggunaan alat bukti drone dalam bentuk pengamatan udara diizinkan didalam international criminal court sehingga putusan ini telah memberikan legitimasi terhadap penggunaan drone dalam rangka melakukan

pengamatan udara. Namun, apakah pengunaan drone yang diperlengkapi oleh rudal maupun roket diperkenankan

di dalam hukum humaniter internasional. Salah satu syarat serangan di dalam hukum humaniter internasional

adalah serangan tersebut tidak boleh membabi buta (widespread) dan tidak boleh ditargetkan kepada objek maupun

penduduk sipil.38 Namun dapatkah dipastikan bahwa serangan yang dilakukan dengan menggunakan drone tidak akan membabi buta. Dalam serangan yang dilakukan oleh Amerika Serikat seringkali ditujukan kepada objek sipil

maupun penduduk sipil. Pengidentifikasian yang dilakukan dengan mendasarkan pada pola – pola tingkah laku

bukan dengan identifikasi individual secara spesifik merupakan salah satu pelanggaran terhadap hukum humaniter

internasional. Amerika seringkali menjustifikasi korban sipil yang meninggal akibat operasi drone amerika serikat

sebagai dampak yang tidak dapat dihindari. Namun, untuk dapat diklasifikasi sebagai dampak yang tidak dapat

dihindari serangan itu harus didasari oleh adanya kepentingan militer. Apabila serangan yang dilakukan oleh

3737. Katanga, ICC-01/04-01/07, ¶¶161-165

(18)

Amerika Serikat tidak didasari oleh adanya kepentingan militer maka Amerika Serikat melalui penggunaan drone

dalam perang dapat diklasifikasikan sebagai pelanggaran terhadap prinsip perbedaan. Menurut Rubiyanto,39 Setiap konflik militer yang muncul, selalu menimbulkan korban lebih banyak dari pihak sipil, oleh karenanya perlu ada

tekanan internasional terhadap militer yang melanggar hukum humaniter baik melalui sanksi politik, sanksi

ekonomi maupun sanksi militer.

2.2 Pertanggungjawaban negara dalam penggunaan drone pada masa perang

Sebagai salah satu peserta Geneva Convention dan Den hauge convention, Amerika terikat dalam peraturan –

peraturan dalam hukum humaniter dan wajib mematuhi segala ketentuan – ketentuan dalam hukum humaniter.

Dengan melakukan pengeboman dengan menggunakan drone yang ditujukkan terhadap objek sipil maka Amerika

telah melanggar prinsip perbedaan. Selain itu serangan yang dilakukan oleh Amerika dapat dikategorikan sebagai

widespread dan systematic. Dalam hal penggunaan drone pada masa perang yang dilakukan oleh Amerika telah

melanggar ketentuan hukum humaniter internasional, maka Negara yang bersangkutan wajib bertanggung jawab

atas tindakan melanggar hukum yang dilakukan. Maka, jika kita melihat dalam penggunaan drone dalam perang

yang dilakukan oleh Amerika telah melanggar hukum humaniter internasional. Dalam hal ini setiap tindakan yang

dilakukan oleh Amerika Serikat telah memenuhi unsur – unsur pertanggungjawaban negara. Selain itu, ketiadaan

alasan pemaaf yang dapat menjustifikasi tindakan Amerika Serikat membuktikan bahwa Amerika Serikat tidak

mempunyai alasan untuk bebas dari pertanggungjawabanya. Sehingga Amerika Serikat seharusnya diwajibkan

untuk melakukan pemulihan kerusakan yang diakibatkan oleh serangan Drone yang dilakukan oleh Amerika

Serikat.

(19)

BAB IV. PENUTUP

Kesimpulan

Penggunaan drone pada masa perang diizinkan di dalam hukum humaniter internasional, namun dalam penggunaan

drone negara harus memperhatikan prinsip – prinsip dan asas dalam hukum humaniter internasional..Penggunaan

drone tanpa memperhatikan prinsip – prinsip dan asas dalam hukum internasional akan menyebabkan pelanggaran

terhadap hukum humaniter internasional. Apabila serangan yang dilakukan bertentangan dengan hukum humaniter

internasional, maka Negara dapat dimintakan pertanggungjawaban untuk melakukan pemulihan terhadap

(20)

Daftar Pustaka

Buku

Adolf, Huala. Aspek-aspek Negara dalam Hukum Internasional, Jakarta: CV Rajawali, 1991

Arikunto, Suharsimi. Prosedur penelitian: Suatu pendekatan praktek, Jakarta: Rineka Cipta, 2002.

De mullinen, Frederic. Handbook on the law of the war for Armed Forces, Geneva:ICRC, 1987.

Haryomataram. Sekelumit tentang hukum humaniter, Surakarta: Sebelas maret University Press, 1994.

Ibrahim, Jhonny. Teori dan Metodologi Penelitian Hukum Normatif , Malang: Bayumedia Publishing, 2006.

Kusumaatmadja, Mochtar. Hukum internasional humaniter dalam pelaksanaan dan penerapannya di Indonesia,

1980

Kusumaatmadja, Mochtar. Pengantar Hukum Internasional, Bandung: Alumni, 2002.

Mauna, Boer. Hukum International (Pengertian Peranan dan Fungsi dalam era Dinamika Global): Bandung;

Alumni, 2015.

Melzer, Nils. Interpretive Guidance on the Notion of Direct Participation in Hostilities Under International Humanitarian Law, Geneva: International Commite of the Red Cross, 2009.

Parthiana, I Wayan, Hukum Perjanjian Internasional Bagian 1, Jakarta: Mandar Maju, 2002.

Permanasari, Arlina, et al, Pengantar Hukum Humaniter, Jakarta: ICRC, 1999.

Shaw, Malcolm N, International Law, Cambrige: Cambrigde University Press, 1997.

Soekanto, Soerjono dan Sri Mamudji, Penelitian hukum normatif tinjauan singkat, Jakarta: Rajawali Pers, 2006.

(21)

Jurnal

Maslen, Stuart Casey. Serangan Drone menurut jus ad bellum, jus in bello, dan hukum hak asasi manusia

internasional. International Review of the red cross, 94, No.886 (2012)

Radsan, Afhseen John; Murphy. "Measure Twice, Shoot Once: Higher Care for Cia-Targeted Killing", University

of Illinois Law Review, 2011 (2011).

Rubiyanto, Perkembangan hukum humaniter dalam konflik militer internasional, Jurnal ilmiah UNTAG Semarang,

5, No.2 (2016)

William, Sharon. “Public International Governing Trans-boundary Pollution” Univ. of Queensland Law Journal,

13, No.2 (1984)

Artikel

Agenda [( Agenda. 2012. The Morality of Drone Warfare. Terdapat dalam:

http://castroller.com/podcasts/ TheAgendaVideo/3019369 "he Morality of Drone Warfare"].(2012). Diakses

pada 21 Desember 2017.

CNN Indonesia, Penggunaan drone yang mengundang kontroversi, https://www.cnnindonesia.com/

internasional/2014103011294-134-8859/penggunaan-drone-yang-mengundang-kontroversi/ Diakses pada 1 Desember 2017

Jane Meyer, ‘The Predator war’, dalam The New Yorker, 26 Oktober 2009, http://www.newyorker.com/

reporting/2009/10/26/091026fa_fact_mayer. Diakses pada 21 Desember 2017.

Sabrina Mirza, DRONES- An Inhumanly Attack: Analisa Hukum Humaniter Internasional, https: //www.

academia.edu/3818434/DRONES_An_Inhumanly_Attack_Analisa_Hukum_Humaniter_Internasional , Diakses

pada 21 Desember 2017.

Universitas Syiah Kuala, Drone dalam perspektif hukum humaniter internasional, Dalam http://www.law.

(22)

Referensi

Dokumen terkait

Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan, maka dapat disimpulkan bahwa baik secara simultan maupun parsial iklim organisasi dan kompetensi berpengaruh

Sehingga dapat dikatakan bahwa respon siswa terhadap proses pembelajaran dengan menerapkan model pembelajaran kooperatif tipe Think Pair Share (TPS) dengan

Dari deskripsi yang telah dijelaskan, maka dalam penelitian ini penulis akan merancang pembuatan sensor tubidimeter dalam mengukur kekeruhan air untuk kualitas air

Jadi dapat diketahui bahwa pihak Unit Remaja Anak dan Wanita Polda telah aktif dalam melakukan upaya pre-emtif guna mencegah terjadinya kejahatan prostitusi online

Kedua, merupakan jenis lain dalam cara reproduksi untuk ragam hias ini dapat kita perhatian yang tiap bagian merupakan suatu kelompok dan merupakan himpunan untuk pola

Hubungan yang menyatakan bahwa apa yang di nyatakan dalam klausa pertama berlawanan,atau tidak sama dengan apa yang di nyatakan dalam klausa kedua.. •

Puji Syukur Kehadirat Tuh an Yang Maha Esa atas segala nikmat dan karunia yang telah dilimpahkan sehingga penulis dap at menyelesaikan skripsi yang berjudul

Konflik yang muncul tersebut adalah Wandi merasa bosan dengan kangkung yang kemudian diungkapkan dengan nada menyindir melalui perkataan hidup sayur kangkung, sayur kanggung