• Tidak ada hasil yang ditemukan

Fuqaha dan Kaderisasi Tinjauan Pada Masa

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "Fuqaha dan Kaderisasi Tinjauan Pada Masa"

Copied!
15
0
0

Teks penuh

(1)

1

FUQAHA DAN KADERISASI

(TINJAUAN PADA MASA DULU, KINI DAN KE DEPAN)

Jurists Islam and Regeneration

Artinya bahwa segala perilaku, sifat dan kepribadian Nabi hendaknya terwariskan pada diri seorang fuqaha atau ulama. Selain itu, seorang fuqaha atau ulama dituntut tidak hanya menguasai pengetahuan agama saja, melainkan pengetahuan umum dan teknologi juga perlu dimiliki. Seorang fuqaha atau ulama memiliki tanggung jawab terhadap umat yang dibimbingnya, sehingga perlu adanya suatu in stitusi pengkaderan fuqaha atau ulama yang siap menghadapi perkembangan kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi dewasa ini.

Pendidikan kader ulama pada masa kini dan yang akan datang mutlak diperlukan mengingat banyak sekali peran yang dapat dilakukan oleh peserta kader, sementara tan tangan yang harus dihadapinya semakin berat dan kompleks. Untuk itu, berbagai aspek yang berkaitan dengan penyelenggaraan peningkatan kader ulama tersebut perlu diupayakan sebaik-baiknya, sehingga dapat melahirkan ulama yang sebenarnya.

Kata Kunci: Fuqaha, Ulama, Kaderisasi

Abstract

Jurists Islam or scholars as the inheritors of the Prophets is a central predicate in this life. This means, all behavior, the nature and personality of the Prophet should be passed on to the person of a jurist or scholar. In addition, a jurists or clerics is demanded as mastered in knowledge of religion, but knowledge and technology needs too. A jurist Islam or scholar has a responsibility towards the people were guidance, so we need for a cadre of jurists or clerics institutions are ready to face the development of advanced science and technology today.

Education cadre of scholars in the present and the future is absolutely necessary given the many roles that it can be done by a cadre of participants, while the challenges to be faced increasingly heavy and complex. Therefore, various aspects related to the implementation of the increase is necessary that the cadre of scholars as well as possible, so that scholars can bear the truth.

(2)

2

Pendahuluan

Di zaman Rasulullah saw. fungsi dan peran keulamaan dipegang langsung oleh beliau dengan dibantu oleh para sahabatnya. Berbagai persoalan yang muncul di tengah masyarakat, baik yang menyangkut masalah-masalah ritual keagamaan maupun sosial kemasyarakatan ketika itu dapat ditanyakan langsung kepada Nabi saw. untuk memperoleh jawabannya. Sepeninggal Rasulullah saw., maka fungsi dan peran keulamaan dipegang oleh para sahabat, terutama khulafa al-rasyidun dan amawiyin. Dalam masa ini timbullah penafsiran-penafsiran terhadap nash-nash yang diterima Rasul dan terbukalah pintu istinbath terhadap masalah-masalah yang tidak ada nash-nya yang jelas (Ash-Shiddieqy, 1993: 43). Para sahabat bertindak selaku musyarri (pembuat peraturan), menerangkan kedudukan-kedudukan nash dan menghubung-kan satu sama lainnya serta memberi fatwa dalam hal-hal yang tidak ada nash (Ash-Shiddieqy, 1993: 44). Nash itu baik berhubungan dengan ibadah maupun fiqh (hukum Islam). Setelah masa khulafa al-rasyidun dan amawiyin, selanjutnya masa para thabi’in dan thabi’thabi‘in hingga masa sekarang ini, yaitu ulama-ulama kontemporer.

Dinamika Islam pada abad ke-17 dan ke-18, termasuk dinamika hukum Islam di Indonesia bersumber dari jaringan ulama yang berpusat di Makkah dan Madinah. Terdapat usahausaha sadar di antara ulama dalam jaringan untuk membarui dan merevitalisasi ajaran -ajaran Islam. Tema pokok pembaruan mereka adalah rekonstruksi sosio-moral masyarakat muslim. Karena hubungan-hubungan ekstensif dalam jaringan ulama, semangat pembaruan tadi segera menemukan berbagai ekspresinya di bagian dunia muslim (Azra, 2005: 8).

(3)

3 penerapan kepahaman ilmu mereka, termasuk dalam hal ini keilmuan pada bidang hukum Islam. Itu berarti bahwa produk hukum Islam kontemporer masa kini dan masa depan, pada dasarnya terwujud karena ada jaringan ulama yang kuat seperti yang telah disebutkan.

Masa sekarang istilah ulama seringkali diterminologikan sebagai orang yang cakap dalam bidang agama saja, padahal term ulama yang merupakan bentuk jamak dari kata ‘alim itu memiliki arti yang luas karena ia mencakup arti orang yang memahami berbagai ilmu pengetahuan, termasuk ilmu-ilmu umum dan menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi (iptek). Berkenaan dengan inilah, maka term ulama masa kini masih memerlukan redefinisi. Di sisi lain, untuk kepentingan masa depan, maka perlu pula adanya kaderisasi ulama secara berkesinambungan, misalnya yang terlaksana sekarang adalah Pendidikan Kader Ulama (PKU).

Pengkaderan ulama sangat diperlukan eksistensinya karena masa depan Islam, termasuk pengamalannya di tengah-tengah masyarakat membutuhkan fatwa ulama. Ajaran Islam masa depan yang berhadapan dengan problematika global, terutama yang terkait dengan hukum memerlukan fatwa ulama.

Berdasarkan pemaparan di atas yang menjadi pokok permasalahan pada p enelitian ini adalah eksistensi fuqaha kaitannya dengan kaderisasi yang ditinjau pada masa kini dan ke depan. Penelitian ini diharapkan dapat memberikan gambaran kepada pihak terkait, khususnya penyelenggara pengkaderan tentang model-model pengkaderan pada masa kini dan ke depan beserta tantangan yang dihadapi oleh ulama pada masa kini dan masa ke depan.

Metode Penelitian

(4)

4 atau grafik serta bentuk statistik. Metode pengumpulan data yang digunakan adalah penelitian kepustakaan (library research), yaitu penelitian yang dilakukan dengan mencatat dan membahas serta menganalisa buku-buku atau referensi yang menjadi sumber pokok dan penunjang dalam penelitian ini. Dalam mengolah dan menganalisis data menggunakan metode deduktif, induktif dan komparatif.

Hasil dan Pembahasan Penelitian

Metode Kaderisasi Fuqaha pada Masa Rasulullah dan Khulafa al-Rasyidun

Di zaman Nabi saw. fungsi dan peran keulamaan dipegang langsung oleh beliau dengan dibantu oleh para sahabatnya yang memiliki kriteria keilmuan. Berbagai persoalan yang muncul di tengah masyarakat, baik yang menyangkut masalah-masalah ritual keagamaan, maupun sosial kemasyarakatan ketika itu dapat ditanyakan langsung kepada Nabi saw. untuk memperoleh jawabannya.

Dapatlah dipahami bahwa dalam kacamata fiqh siyasah, Nabi saw. berperan ganda. Satu sisi beliau sebagai ulama, dan di sisi lain beliau sebagai umara. Peran ganda Nabi saw. ini, telah membentuk integritas ri’asah al-din wa al-daulah, yakni seorang pemimpin agama sekaligus pemimpin negara. Sepeninggal Nabi saw., dikenal gelar dengan sebutan khalifah (pengganti) yang diberikan secara berturut-turut kepada Abu Bakar, ‘Umar bin Khattab, Utsman

bin Affan dan Ali bin Abi Thalib. Rama (2002: 52-54) berpendapat bahwa pada masa Rasulullah saw. dan khulafa al-rasyidun dalam proses penciptaan kader menggunakan metode, yaitu: a. Metode Tanya Jawab

(5)

5 biasanya sahabat bertanya kepada Nabi saw., lalu Nabi saw. menjawab, akan tetapi terkadang pula Nabi saw. melemparkan pertanyaan kepada sahabat untuk menarik p erhatian para sahabat. b. Metode Taqririyah

Metode ini terlihat saat Nabi saw. membenarkan dengan cara mendiamkan perbuatan yang dilakukan oleh sahabat yang sebelumnya tidak ada petunjuk dari Nabi saw. Setelah perbuatan tersebut dilakukan dan diketahui olehnya, lalu mendiamkan atau tidak melarangnya. c. Metode Kissah

Metode kissah ini ialah menceritakan keadaan umat manusia zaman dahulu untuk dijadikan i’tibar seperti bagaimana kaum Tsamud mengalami kehancuran akibat dari perbuatan durhaka terhadap Allah swt.

d. Metode Khutbah

Metode ini adalah salah satu yang sering digunakan Nabi saw. untuk menyampaikan ajaran atau pelajaran kepada umat Islam. Contoh: sewaktu Beliau pertama kali menyampaikan ajaran Islam kepada beberapa orang muslim di Mekkah. Itulah sebabnya sehingga metode ini selanjutnya menjadi tuntunan pada pelaksanaan shalat Jum’at.

e. Metode Fi’liyah (Demonstrasi)

Nabi saw. sendiri dalam masalah menegakkan shalat pernah mengajar sahabatnya dengan menggunakan metode demonstrasi di depan mata mereka, sehingga lebih jelas dan mudah menirunya. Contoh dalam sebuah hadisnya: “shallu kama raitumuniy ushalli y

(6)

6 Masa Pembentukan Mazhab (Sepeninggal Rasulullah saw.)

Setelah masa khulafa al-rasyidun berakhir dan kepemimpinan berpindah ke Mu’awiyah, lahir fenomena baru, karena sebagaimana diketahui bahwa Mu’awiyah dibanding sahabat

lainnya, bukanlah tipe seorang pemimpin agama, tetapi dia merupakan pemimpin politik yang piawai. Akhirnya mulai masa ini, terjadi pemisahan kepemimpinan di bidang agama (ulama) dan kepemimpinan di bidang politik (umara’).

Ketika kepemimpinan tidak lagi berada di satu tangan, maka ulama dan umara’ menempati dua posisi yang berbeda. Umara’ yang bijak selalu menempatkan ulama sebagai penasehat mereka. Ulama dalam pandangan umara’, adalah orang yang lebih tahu tentang hukum Islam, baik yang berkaitan dengan masalah keagamaan maupun urusan duniawi.

Meski tidak dipungkiri sepeninggal Nabi saw. muncullah beberapa mazhab di kalangan sahabat Nabi, seperti mazhab Umar, Aisyah, Ibn Umar, Ibn Abbas, Ali dan sebagainya. Para sahabat dapat dikelompokkan dalam dua golongan besar, yaitu: 1) Kelompok Ahl al-Bait dan dan para pengikutnya, seperti: Ali dan kedua putranya, Abu Dzar, Miqdad, Ammar ibn Yazir, Hudzaifah, Abu Rafi’ Maula Rasulullah, Ummi Salamah dan sebagainya; 2) Kelompok di luar Ahl

al-Bait, seperti: Abu Bakar, Aisyah, Umar, Ustman, Abu Hurairah (Rahmat, 2007: 180).

(7)

7 hadis dan lebih banyak berpijak pada penalaran rasional dan melihat sebab hukum (illat) dan tujuan syara (maqasid syari’iyyah). Madrasah Ahl al-Bait tumbuh “di bawah tanah” mengikuti para imam mereka, karena tekanan dan penindasan. Mereka mengembangkan esoterisme dan disimulasi untuk memelihara fikih mereka. Jadi dalam upaya kaderisasi, baik Madrasah al-Khulafa’ dan Madrasah Ahl al-Bait, menempatkan pemimpin mereka sebagai panutan sesuai

dengan sumber pokok pengambilan hukum yang dipergunakan pemimpin mereka.

Pada zaman kekuasaan Bani Abbasiyah timbullah beberapa mazhab, seperti mazhab Hanafi, mazhab Maliki, mazhab Syafi’i dan mazhab Hanbali. Keempat imam tersebut dalam

mengkader para pengikutnya untuk pengambilan keputusan hukum (fiqh) bertitik tolak pada beberapa sumber hukum, seperti: Alquran dan al-sunnah, ijma, dan pendapat para sahabat; qiyas, istihsan, mashalih mursalah, sadd al-zara’I, istishab, syar’u man qablana, dan sebagainya. Dari keempat imam mazhab di atas dalam pengambilan keputusan hukum antara satu sama lain hampir sama, namun perbedaannya hanya dalam skala priorititas sumber hukum mana yang didahulukan sesuai kondisi pada saat itu. Begitu pula pada saat pengkaderan murid-muridnya, sumber-sumber hukum tersebut yang diperkenalkan kepada murid-muridnya.

Masa Kini dan Masa Depan

(8)

8 Pertama, melalui jalur pendidikan formal. Mereka harus diberi kesempatan untuk meningkatkan pendidikannya pada perguruan tinggi yang secara khusus mencetak para muballigh secara konsepsional. Melalui pendidikan ini, mereka selain dapat berperan sebagai praktisi ulama tetapi juga sebagai perancang, konseptor, pengamat dan evakuator dalam bidang dakwah yang semakin maju dan berkembang. Kedua, melalui jalur pelatihan secara terprogram sebagaimana dilakukan oleh Koordinator Dakwah Islam (KODI) DKI Jakarta selama ini. Hal ini penting dilakukan karena selain lebih terarah kepada tugasnya sebagai muballig calon ulama masa depan, juga dianggap efisien dan proporsional. Jalur pelatihan ini selain didukung oleh tenaga (pemateri) yang handal, berpengalaman dan penuh dedikasi, juga harus pula didukung oleh sarana dan prasarana yang modern. Dengan cara demikian, mereka akan menjadi tenaga -tenaga muballig yang benar-benar propesional dan kelak akan menjadi ulama yang pendapatnya dapat menjadi rujukan (Nata, 2003: 156).

(9)

9 Selain itu, dilihat dari segi fungsi dan perannya, pengkaderan ulama harus mampu menyadarkan pada calon ulama tentang fungsinya yang amat strategis dalam rangka pembinaan umat. Dengan menyadari fungsinya ini, ia akan melaksanakan tugasnya sebagai pan ggilan moral, dan bukan karena mengharapkan keuntungan sesaat.

Peran Ulama Masa Kini dan Masa Depan dalam Menentukan Hukum

Hukum dapat dipahami sebagai ketentuan-ketentuan yang bersumber dari nash Alquran dan Sunnah. Tata kehidupan perlu diatur dengan norma-norma hukum yang diambil dari ajaran-ajaran Islam, karena semua manusia selain hidup di dunia juga akan mengalami kehidupan di akhirat yang kebahagiaan dan kesengsaraannya ditentukan oleh akumulasi pahala dari perbuatan-perbuatannya di dunia.

Warisan Islam yang bisa dipelajari untuk dikembangkan dan dijadikan acuan bagi umatnya kini ada dua, yaitu ajaran yang tertuang dalam Alquran dan hadis. Kajian terhadap ajaran-ajaran Alquran dan hadis, erat kaitannya dengan al-ra’yu yang selanjutnya akan melahirkan rangkaian pemikiran teoritis. Dikatakan demikian, karena dengan al-ra’yu akan memperkaya informasi faktual tentang dinamika hukum-hukum Islam.

Dalam kaitan dengan pembuatan hukum, maka Salim (1994: 2) menyatakan bahwa: “fikih Islam menganut pandangan bahawa hukum tidak bersumber dari Allah dan Rasul -Nya,

(10)

10 Berdasar dari uraian sebelumnya dapat dipahami bahwa sumber-sumber hukum dalam Islam ada empat, yakni Alquran, hadis, ra’yu, dan pendapat ulama. Keempat sumber hukum yang disebutkan ini, juga merupakan sumber nilai dan norma yang oleh Shaifuddin Anshari mengklasifikasinya atas dua, yakni sumber pokok dan sumber tambahan. Sumber pokok, adalah Alquran dan hadis, dan sumber tambahan adalah ijtihad, yakni ra’yu dan pendapat ulama, atau selainnya, misalnya qiyas, istihsan, istislah, saddu al-syara’i.

Sumber pokok hukum Islam, yakni Alquran dan hadis, tidak hanya berisi tuntunan ritual belaka, tetapi juga berisi ajaran-ajaran dasar berupa nilai-nilai yang sangat diperlukan dalam penyusunan tertib masyarakat di samping aturan-aturan yang telah ditetapkan Allah dan Rasul-Nya untuk diamalkan. Namun suatu saat, Alquran dan hadis tersebut memerlukan interpretasi lebih lanjut, dan dengan upaya interpretasi itulah melibatkan ra’yu. Dalam kenyataannya, interpretasi hukum yang dihasilkan ra’yu ulama seringkali ditemukan perbedaan pendapat. Namun perbedaan itu bukanlah merupakan ‘aib asalkan saja produk hukum yang dihasilkannya

itu tetap mengacu pada sumber pokoknya, yaitu Alquran dan hadis.

Persoalan lain yang dihadapi adalah sejauh mana kewenangan para ulama masa kini membuat hukum. Hal itu amat penting karena dalam sistem fikih Islam sebagaimana yang telah disebutkan sumber hukum yang diakui selain Alquran dan Sunnah adalah ijma’ dan qiyas. Bahkan juga beberapa sumber lainnya yang diperselisihi seperti istihsan dan maslahat mursalah. Mungkin ada yang berpendapat bahwa apa yang disebut sebagai sumber hukum ini adalah beberapa metode pembuatan.

(11)

11 yang digali; yang demikian itu disebut fikih tekstual (al-fiqh al-manshusah). Juga ulama dapat mengetahui hukum tentang suatu perbuatan setelah menggunakan lebih banyak nalar karena obyek hukum yang dimaksudkan tidak disebut secara tegas dan nash-nash syariat; yang demikian disebut fikih kontekstual berdasarkan ijtihad (al-fiqh al-ijtihadi).

Berkenaan dengan itu, dapat dirumuskan bahwa para ulama memiliki berbagai kelebihan dan keutamaan serta ciri-ciri khusus yang tidak dimiliki oleh makhluk selainnya (al-Gazali, Mukhtasar ..., 1993 M./1414 H.: 14). Salah satu kelebihan dan keutamaan yang dimilikinya ialah diberikannya amanah untuk menetapkan hukum, dan kewenangannya ini hal ini mengacu pada kedudukan mereka sebagai pewaris nabi (warasat al-anbiya), yakni melanjutkan estapet risalah kenabian, termasuk membuat hukum setelah para Nabi dan Rasul telah tiada.

(12)

12 Peran ulama sebagai pembuat keputusan hukum disebut menempatkan posisi ulama masa kini dan masa depan sebagai tahkim, yaitu sebagai pencari solusi terhadap berbagai persoalan yang muncul di tengah-tengah masyarakat. Dalam Alquran, dijumpai ayat yang menjadi landasan bagi pelaksanaan peran para ulama dalam mencari solusi hukum terhadap persoalan-persoalan yang muncul di tengah-tengah masyarakat. Ayat tersebut terdapat dalam Q.S. al-Baqarah/2: 213 yang terjemahnya: “Manusia itu adalah umat yang satu (setelah timbul perselisihan) maka mengutus para nabi sebagai pemberi berita gembira dan pemberi peringatan, dan Allah menurunkan bersama mereka ....” (Departemen Agama RI., 1992: 51).

Ada beberapa ide pokok yang terkandung dalam ayat di atas. Pertama, bahwa Allah swt. menciptakan manusia pada mulanya sebagai umat yang satu (sebelum terjadinya tragedi pertikaian); Kedua, bahwa Allah mengutus para Nabi untuk membawa berita gembira dan memberi peringatan kepada umat manusia; Ketiga, bahwa Allah menyertakan al-Kitab kepada para Nabi sebagai acuan untuk memecahkan berbagai problema yang menjadi perselisihan yang terjadi di tengah-tengah masyarakat. Tiga ide pokok dalam ayat pada dasarnya merupakan tugas Nabi saw., namun di era kini adalah menjadi tugas ulama sebagai pewaris para Nabi.

Hanya saja, tetap harus diakui bahwa peran ulama suatu saat nanti dapat saja berubah, dan hal itu dilatarbelakangi adanya tipologi ulama yang bervariasi di masa kini. Sekurang-kurangnya terdapat lima tipologi masa kini ini, yaitu: ulama plus, ulama pulus, ulama dunia, ulama akhirat, dan ulama dunia dan akhirat.

(13)

13 Dalam menguraikan kelima tipologi ulama tersebut, beliau berpendapat bahwa golongan yang pertama dan terakhir sajalah yang memperoleh keberuntungan.

Demikian pula Imam al-Gazali dalam Ihya Ulumuddin, menjelaskan dua tipe ulama, yaitu: ulama akhirat dan ulama dunia (ulama su’). Dengan rinci mengemukakan tipologi ulama dengan argumentasi absah. Selanjutnya ia mengemukakan tanda-tanda ulama akhirat sebagai berikut: (1) Tidak mencari kemegahan dunia dan menjadikan ilmunya untuk kepentingan dunia; (2) Perilakunya sejalan dengan ucapannya (akhlak al-mahmudah); (3) Mengajarkan ilmunya untuk kepentingan akhirat, mengutamakan ilmu yang dapat mendekatkan dirinya dengan Tuhan, serta menjauhi perdebatan yang sia-sia; (4) Mengejar kehidupan akhirat dengan mengamalkan ilmunya dan menunaikan berbagai ibadah; (5) Menjauhi godaan penguasa jahat; (6) Tidak tergesa-gesa mengeluarkan fatwa sebelum menemukan dalil; (7) Senang kepada ilmu yang dapat mendekatkan diri kepada Allah, cinta kepada musyahadah, muraqabah, dan optimis terhadap rahmat-Nya; (8) Berusaha semaksimal mungkin untuk mencapai haqq al-yakin; (9) Senantiasa khasyah kepada Allah, ta’zhim akan kebesarannya, hidup sederhana dan berakhlak mulia; (10) Menjauhi segala yang membatalkan ilmu dan kesucian hatinya; dan (11) Memiliki ilmu yang berpangkal dalam hati (al-Gazali, Ihya …, 1992: 60-68).

(14)

14 ulamalah yang menggantikan para Nabi dan Rasul dalam mengemban risalah tersebut untuk disampaikan kepada umat manusia.

Kesimpulan

Pengertian fuqaha (ulama) adalah mereka yang bertaqwa, berbudi luhur, menguasai berbagai bidang ilmu pengetahuan, serta mengimplementasikannya dalam masyarakat. Namun dalam konteks keindonesiaan terminologi ulama diidentikkan dengan fukaha). Bahkan dalam pengertian sehari-hari, ulama adalah fukaha dalam bidang ibadah saja. Dalam upaya menciptakan ulama masa depan, maka pembinaan generasi dalam bentuk pengkaderan ulama sangat dibutuhkan, dan hal ini dapat dilakukan melalui jalur pendidikan formal dan melalui jalur pelatihan secara terprogram. Dalam pengkaderan tersebut, harus diisi dengan materi-materi yang benar-benar dibutuhkan dalam melaksanakan tugas keulamaan masa depan.

Dalam upaya pengkaderan, baik pada masa Rasulullah dan Khulafa’ al-Rasyidun, masa pembentukan mazhab, maupun masa kini dan ke depan, memiliki tata cara (metode) yang berbeda. Pada masa Rasulullah saw. dan Khulafa’ al-Rasyidun segala persoalan yang timbul dapat langsung ditanyakan kepada Rasul saw. atau sahabatnya; Pada masa pembentukan mazhab, para ulama mempergunakan sumber-sumber pokok dalam pengambilan keputusan hukum (fiqh) dengan skala prioritas urutan sumber hukum tersebut; Sedangkan pada masa kini dan sekarang, upaya pengkaderan ulama melalui jalur pendidikan formal maupun pelatihan.

(15)

15 sumber pokok dan selebihnya adalah sumber tambahan. Karena demikian halnya, maka batas kewenangan ulama dalam membuat hukum adalah sesuatu yang memang tidak ditemukan secara jelas dalam Alquran dan hadis.

Daftar Pustaka

Anshari, Endang Saifuddin. 1969. Wawasan Islam: Pokok-pokok Pikiran Islam dan Umatnya. Cet.I; Bandung: Pustaka ITB.

Azra, Azyumardi. 2005. Jaringan Ulama: Timur Tengah dan Kepulauan Nusantara Abad XVII dan XVIII. Cet. II; Jakarta: Prenada Media.

Al-Bukhariy. Abi Abdillah Muhammad bin Ismail bin Ibrahim bin al-Mugirah bin Bardzbah. 1991-1997. Shahih al-Bukhariy, al-Kitab al-Adzan, al-Bab al-Adzan Lilmusafir idza Kanu Jama‘atan, No. Hadis: 595, dalam Mausu’ah al-Hadits al-Syarif ver. 2 [CD ROM]. Jami‘ al-Huquq Mahfudzah li Syirkah al-Baramij al-Islamiyah al-Dauliyah.

Departemen Agama RI. 1992. Al-Qur’an dan Terjemahnya. Jakarta: Proyek Pengadaan Kitab Suci al-Qur’an.

Dewan Redaksi. 1994. Ensiklopedi Islam. Jilid 5. Cet. III; Jakarta: PT. Ichtiar Baru Van Hoeve. Gazali, Muhammad bin Muhammad Abu Hamid. 1993 M./1414 H. Mukhtasar Ihya’ Ulum al-Din.

Cet. I; Beirut: Dar al-Fikr.

______. 1992. Ihya’ Ulum al-Din. Juz 1. Singapura: Sulaiman Mar’a.

Haq, Hamka. 2003. Syariat Islam: Wacana dan Penerapannya. Makassar: Yayasan Ahkam. Mahjuddin, H. 2003. Masailul Fiqhiyah: Berbagai Kasus yang Dihadapi Hukum Islam Masa Kini.

Cet. IV; Jakarta: Kalam Mulia.

MUI Sulawesi Selatan. 2000. Brosur Pendidikan Kader Ulama. Makassar.

Nata, H. Abuddin. 2003. Mengatasi Kelemahan Pendidikan Islam di Indonesia. Cet. I; Jakarta: Prenada Media.

Rahmat, Jalaluddin. 2007. Dahulukan Akhlak di Atas Fiqih. Cet. I; Jakarta: Mizan.

Rama, H. Bahaking. 2002. Sejarah Pendidikan Islam. Cet. I; Jakarta: PT. Pradotama Wiranegara Gemilang.

Salim, H. Abd. Muin. 1994. “Konsepsi Hukum dalam Alquran,” Makalah Seminar Tanggal 15 Juni 1994.” Ujungpandang: Fakultas Syariah IAIN Alauddin.

Referensi

Dokumen terkait

mengembangkan dirinya sendiri (Development From Within) sehingga terbentuk kelompok yang mandiri dan produktif. Mitra kerja dalam pembentukan kelompok pendukung ASI ini

AMBLYOPIA DAFTAR ISI BAB I I.PENDAHULUAN...3 BAB II II.DEFINISI...4 III.EPIDEMIOLOGI...4 IV.PATOFISIOLOGI..... BAB

Tujuan dari Praktik Pengalaman Lapangan (PPL) adalah untuk membentuk mahasiswa praktikan agar menjadi calon tenaga kependidikan yang profesional, sesuai

Hasil penelitian menggunakan analisis LQ dapat disimpulkan bahwa sektor yang menjadi peran sektor basis di Kabupaten Boyolali selama tahun penelitian (2005-2009) yaitu

departemen pemerintah dengan mengadopsi pendekatan dalam LSM..  Mendidik

Maksud penyusunan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Deli Serdang tahun 2009 - 2014 adalah untuk menjabarkan visi, misi dan program Bupati dan

1) Fungsi informatif , organisasi dapat dipandang sebagai suatu sistem pemrosesan informasi. Maksudnya, seluruh anggota dalam suatu organisasi berharap dapat

Nama barang diisi, kemudian Harga, Stok,Gambar, Keterangan, Kategori tidak diisi lalu klik tombol simpan Nama barang: (terisi) Harga: (kosong) Stok: (kosong) Gambar: