commit to user
KONSEP PERENCANAAN DAN PERANCANGAN
VILLAGE RESORT DI KAWASAN CANDI RATU BOKO
DENGAN KONSEP CULTURAL HERITAGE TOURISM
TUGAS AKHIR
Diajukan Sebagai Syarat untuk Mencapai
Gelar Sarjana Teknik Arsitektur
Universitas Sebelas Maret
Disusun Oleh : KURNIA DWI PRAWESTI
NIM. I.0206013
PRODI ARSITEKTUR
JURUSAN ARSITEKTUR FAKULTAS TEKNIK UNIVERSITAS SEBELAS MARET
commit to user
v
DAFTAR ISI
HALAMAN JUDUL……….….i
LEMBAR PENGESAHAN ………..…….…….ii
KATA PENGANTAR ………..…….…….iii
HALAMAN PERSEMBAHAN ……….iv
DAFTAR ISI ………..………..v
DAFTAR GAMBAR ……….. x
DAFTAR TABEL ………..xii BAB I PENDAHULUAN ... I - 1
A. LATAR BELAKANG MASALAH ... I - 1 1. Umum ... I - 1 2. Khusus ... I - 2 B. PERMASALAHAN DAN PERSOALAN ... I - 4 1. Permasalahan ... I - 4 2. Persoalan ... I - 4 C. TUJUAN DAN SASARAN ... I - 5 1. Tujuan ... I - 5 2. Sasaran ... I - 6 D. LINGKUP PEMBAHASAN ... I - 6 1. Lingkup Pembahasan ... I - 6 2. Batasan ... I - 6 E. METODE PEMBAHASAN ... I - 7 1. Strategi desain ... I - 7 2. Metode Pencarian Data ... I - 8 3. Metode Analisis ... I - 10 4. Kerangka Perencanaan dan Perancangan ... I - 12 F. SISTEMATIKA PEMBAHASAN ... I - 13
BAB II TINJAUAN PUSTAKA ………..……… II - 1
commit to user
C. PENDEKATAN ARSITEKTURAL YANG DIGUNAKAN ... II - 21 1. Arsitektur Pelestarian ... II - 21 2. Kontekstual dalam Arsitektur ... II - 25 D. PRESEDEN ... II - 27 2. Potensi Obyek Wisata Budaya di Yogyakarta dan Sekitar ... III - 3 B. TINJAUAN KAWASAN CANDI RATU BOKO... III - 6 1. Tinjauan Sejarah Arkeologi Kawasan Candi Ratu Boko ... III - 8 2. Tinjauan Sosial Desa Bokoharjo ... III - 12 3. Potensi di Kawasan Candi Ratu Boko ... III - 19BAB IV VILLAGE RESORT DENGAN KONSEP
CULTURAL HERITAGE TOURISM YANG DIRENCANAKAN …………... IV - 1
A. RENCANA GAGASAN RESORT RATU BOKO
commit to user
vii 2. Pola Kegiatan ... IV - 10 3. Kebutuhan Kamar pada Resort ... IV - 14
BAB V ANALISIS PENDEKATAN KONSEP PERACANGAN .…………. …..V - 1
commit to user
viii 4. Analisa Jaringan Listrik ... V - 57 5. Analisa JaringanTelepon... V - 58 6. Sistem keamanan ... V - 59 7. Sistem transportasi dalam site ... V - 62
BAB VI KONSEP PERENCANAAN DAN PERANCANGAN… .……… VI - 1
A. KONSEP CULTURAL HERITAGE TOURISM ... VI - 1 B. KONSEP PERUANGAN ... VI - 1
1. Konsep Kebutuhan Ruang ... VI - 2 2. Konsep Besaran Ruang ... VI - 3 C. KONSEP PENGOLAHAN SITE ... VI - 3 1. Konsep sirkulasi ... VI - 3 2. Konsep Penataan Site ... VI - 4 D. KONSEP TAMPILAN BANGUNAN ... VI - 5 E. KONSEP SISTEM STRUKTUR ... VI - 7 F. KONSEP UTILITAS ... VI - 9 1. Konsep Jaringan Air Bersih ... VI - 9 2. Konsep Jaringan Air Kotor ... VI - 9 3. Konsep Drainase ... VI - 10 5. Konsep JaringanTelepon ... VI - 10 6. Konsep Sistem keamanan ... VI - 11 7. Konsep Sistem Transportasi dalam Site……… VI - 12
commit to user
ix
DAFTAR GAMBAR
commit to user
x Gambar 3. 24 Tata Guna Lahan Kawasan Candi Ratuboko I ... III -18 Gambar 3. 25 View ke Gunung Merapi ... III -20 Gambar 3. 26 Potensi View Candi Ratu boko ... III -21 Gambar 3. 27 Hamparan Sawah di Sekeliling Kawasan Candi ratu Boko ... III -21 Gambar 3. 28 Tampak Kawasan Ratu Boko dari atas ... III -21 Gambar 3. 29 Kegiatan warga bergotong royong di dapur
commit to user
commit to user
commit to user
xiii
DAFTAR TABEL
commit to user
commit to user
Village
Resort
di Kawasan Candi Ratu Boko
Dengan Konsep Cultural Heritage Tourism
Kurnia Dwi Prawesti – I0206013
Jurusan Arsitektur Fakultas Teknik Universitas Sebelas Maret Surakarta
ABSTRAKSI
Kata Kunci: Resort, Ratu Boko, Budaya, Kontekstual
Candi Ratu Boko merupakan suatu kawasan arkeologi yang berdampingan dengan kehidupan masyarakat lokal. Kawasan ini memiliki potensi budaya sejarah dan budaya sosial yang keduanya menjadi faktor penting untuk menarik minat pengunjung untuk datang. Di kawasan ini, pengunjung dapat menkmati pengalaman sejarah dengan berkunjung ke kawasan Candi serta dapat merasakan pengalaman budaya sosial dengan berinteraksi dengan masyarakat setempat. Untuk menggabungkan kedua potensi budaya tersebut, salah satunya dengn konsep Resort.
Pengunjung yang datang dapat menginap selama beberapa hari untuk mendapat dan mempelajari sejarah dan sosial masyarakat yang ada di Kawasan candi Ratu Boko ini. Resort dengan konsep budaya warisan sejarah ini direncanakan agar pengunjung yang menginap dapat menikmati sejarah Candi Ratu boko dengan berkegiatan konservasi Candi serta berinteraksi dengan masyarakat setempat. Selain itu pengunjung juga dapat menjalani kehidupan sehari-hari penduduk setempat, seperti menggembala, bertani, dan lainnya.
commit to user
Village Resort, Ratu Boko Temple Area
With the concept of Cultural Heritage Tourism
Kurnia Dwi Prawesti - I0206013
Department of Architecture Faculty of Engineering Eleven University of Surakarta March
ABSTRACT
Keyword : Resort, Ratu Boko, Cultural, Contextual
Ratu Boko temple is an archaeological area adjoining the life of local communities. This region has the potential of cultural history and social culture that they become an important factor to attract visitors to come. In this area, visitors can enjoy historical experience with a visit to the Temple area and can feel the experience of social culture by interacting with the local community. To combine both cultural potential, one of them with lessconcepts Resort.
Visitors who come to stay for several days to receive and study the history and socialcommunities in this area Ratu Boko temple. Resort to the concept of cultural heritage is planned so that visitors who stay can enjoy the history of the Temple of Queen Boko Temple with conservation activism and interact with local communities. In addition visitors can also undergo daily life of local residents, such as herding, farming, and others.
commit to user
I-0
BAB I ... I - 1 A. LATAR BELAKANG MASALAH ... I - 1 1. Umum ... I - 1 2. Khusus ... I - 2 B. PERMASALAHAN DAN PERSOALAN ... I - 4 1. Permasalahan ... I - 4
2. Persoalan ... I - 4
commit to user
I-1
BAB I
PENDAHULUAN
A. LATAR BELAKANG MASALAH
1. Umum
Yogyakarta banyak dikunjungi, karena potensi wisata yang beragam, seperti wisata alam, wisata budaya, maupun wisata belanja dan potensi potensi wisata ini banyak menarik wisatawan dari berbagai kalangan, baik wisatawan lokal maupun mancanegara. Dan untuk memenuhi kebutuhan akomodasi kegiatan wisata bagi wisatawan tersebut, dibutuhkan fasilitas penginapan yang beragam jenis, harga, dan fasilitas penginapan, seperti losmen, homestay, hotel berbintang sampai dengan yang memiliki tema khusus seperti village resort. Tingkat angka kunjungan dan pemesanan pada berbagai jenis penginapan di Yogyakarta menunjukan bahwa pariwisata di Yogyakarta sangat diminati oleh wisatawan terutama dari luar kota dan mancanegera.
Pada tahun 2010 Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Yogyakarta mencatat sebanyak 1,25 juta wisatawan yang datang mengunjungi Yogyakarta dan pada tahun 2011 Dinas pariwisata menargetkan jumlah kunjungan akan meningkat menjadi 2,5 juta wisatawan. Dengan peningkatan pengunjung yang datang ke Yogyakarta, bisnis jasa perhotelan juga akan meningkat. Belum lagi wisatawan yang datang dengan tujuan wisata ke daerah di sekitar Yogyakarta, namun memilih menginap di Yogyakarta. Hal ini sangat mempengaruhi okupansi hotel yang berada di Yogyakarta, sehingga bisnis perhotelan juga akan meningkat.
commit to user
I-2
hotel dan resort yang tersedia di Yogyakarta masih memiliki banyak kesamaan dalam hal fasilitas yang disediakan, Sedangkan wisatawan yang datang (terutama wisatawan mancanegara) lebih tertarik dengan resort jenis khusus, seperti mountain resort, beach resort, ataupun themed resort. Jika dilihat dari potensi kearifan lokal masyarakat yang banyak ditemukan di Yogyakarta, salah satu tema resort yang sangat potensial untuk dikembangkan adalah village
resort, yaitu resort yang mengahadirkan nuansa pedesaan dan memungkinkan
pengunjung untuk dapat berinteraksi dengan kehidupan masyarakat di sekitarnya. Sehingga selain memiliki zona privasi yang tinggi, village resort juga memiliki zona interaksi agar pengunjungnya dapat berbaur dengan lingkungan pendukung resort tersebut.
2. Khusus
Candi Ratu Boko yang terletak 5 km ke arah selatan dari Candi Prambanan merupakan salah satu tujuan wisata yang sangat potensial bagi Yogyakarta dan daerah sekitar. Candi ini merupakan salah satu Candi tertua dari peradaban Hindu-Budha yang tergolong besar. Sejak ditemukan pada tahun 1700-an sampai saat ini, keadaan candi Ratu Boko masih banyak yang berupa puing-puing bangunan dan belum direstorasi karena berbagai petimbangan.
commit to user
I-3
memiliki ciri dan cara hidup masyarakat pedesaan yang masih menjunjung tinggi nilai-nilai bermasyarakat Jawa secara umum. Seperti, rasa persaudaraan antar masyarakat yang masih kental, ritual-ritual adat yang masih diselenggarakan, serta keramahan masyarakatnya. Nilai- nilai tersebut masih melekat sampai saat ini dan masih dapat dirasakan oleh wisatawan yang ingin mengunjungi kawasan Candi Ratu Boko,
Potensi yang tidak kalah penting yang ada di Kawasan Candi Ratu Boko dan dapat mendukung pariwisata kawasan ini adalah potensi pemandangan alam, berupa bentangan lansekap alami, panorama pegunungan, hamparan sawah penduduk yang luas, serta panorama sunset dan sunrise yang menjadi latar belakang kawasan ini menambah nilai jual yang potensial dari pariwisata Kawasan Candi Ratu Boko.
Ketiga potensi yang ada di kawasan Candi Ratu Boko, bila dimanfaatkan idealnya dapat mendukung peningkatan pariwisata di kawasan ini. Dan dengan mengimplementasikan potensi budaya, sejarah serta kearifan lokal masyarakat dalam suatu konsep wisata yang berkesinambungan diharapkan mampu menyerap minat wisataan lokal maupun mancanegara untuk mengunjungi dan menikmati Kawasan Candi Ratu Boko ini.
commit to user
I-4
ataupun resort yang paling dekat hanya berada di kawasan Candi Prambanan, yang berada 5 km dari Candi Ratu Boko.
Potensi yang sangat besar di Kawasan Candi Ratu Boko yang dapat menambah kunjungan pariwisata, namun masih minim fasilitas akomodasi penginapan yang tersedia di kawasan ini, maka kawasan Candi Ratu Boko masih membutuhkan tambahan fasilitas penunjang dalam hal akomodasi penginapan. Salah satu bentuk dan jenis akomodasi penginapan yang diperkirakan sesuai untuk mendukung pariwisata di Kawasan ini adalah jenis village resort, karena village resort adalah jenis resort yang dapat mengakomodir keinginan wisatawan
yang membutuhkan suatu suasana yang berbeda dengan penginapan lainnya, yang juga dapat memberikan pengalaman baru bagi pengunjung mengenai wisata warisan kebudayaan yang ada di wilayah yang dikunjungi, dan dapat mengintegrasikan semua potensi yang ada di kawasan candi Ratu Boko menjadi satu kesatuan konsep wisata yang berkesinambungan.
B. PERMASALAHAN DAN PERSOALAN
1. Permasalahan
Bagaimana cultural heritage tourism dapat di wujudkan dalan suatu konsep Village Resort di Kawasan Candi Ratu Boko yang kontekstual dengan lingkungannya, berupa nilai sejarah Kawasan Candi Ratu Boko beserta kearifan lokal masyarakat yang tinggal di sekitar Kawasan Candi, yang mengakomodir kebutuhan dan keinginan pengunjung?
2. Persoalan
commit to user
I-5 · Bagaimanakah pola hubungan ruang dalam kawasan Site yang
direncanakan?
· Seberapakah besaran ruang yang dibutuhkan dalam kawasan Site yang direncanakan?
· Bagaimanakah tata letak bangunan-bangunan pada program ruang kawasan (siteplan/ konsep landscape) berikut sirkulasi kawasan sesuai dengan penzoningan hasil dari analisis site berdasarkan pada nosie, matahari dan angin, serta view ke dalam dan view ke luar?
· Bagaimanakah suasana kawasan fisik bangunan eksterior dan interior yang memperhatikan aspek kenyamanan bagi pengunjung, dan sesuai dengan konsep perancangan kawasan Resort Ratu Boko yang sesuai dengan alam dan budaya setempat termasuk bentuk bangunan, bentuk atap, pengisi dinding, serta material yang digunakan?
· Bagaimanakah konsep sistem struktur berupa pondasi, dinding dan atap yang sesuai dengan konsep budaya setempat?
· Bagaimanakah sistem utilitas yang mampu mendukung keberadaan kawasan Resort Ratu Boko dan sistem maintenance khusus terhadap seluruh sarana pada kawasan wisata tersebut?
C. TUJUAN DAN SASARAN
1. Tujuan
Menyusun Konsep dan Desain Perencanaan dan Perancangan sebuah village Resort di kawasan Candi Ratu Boko yang menekankan kepada konsep cultural heritage tourism, yang melibatkan kegiatan masyarakat dan kegiatan
commit to user
I-6
acuan desain Kawasan Village Resort di Kawasan Candi Ratu Boko dengan Konsep Cultural Heritage Tourism.
2. Sasaran
Mengaplikasikan konsep cultural heritage tourism terhadap lokasi
kawasan wisata Resort Ratu Boko sebagai kawasan resort dengan konsep budaya yang melibatkan dan memberikan kontribusi kepada masyarakat di sekitar Kawasan Candi Ratu Boko dan Kawasan Candi Ratu Boko sendiri dalam bentuk
· Konsep kegiatan di dalam resort
· Konsep Peruangan bangunan
· Konsep tampilan bangunan
· Konsep struktur bangunan di dalam kawasan
· Konsep lansekap kawasan
D. LINGKUP PEMBAHASAN
1. Lingkup Pembahasan
Pembahasan diorientasikan untuk menjawab permasalahan arsitektural
yang sesuai dengan tujuan dan sasaran kawasan Village Resort Ratu Boko, Sleman, Yogyakarta.
2. Batasan
Pembahasan dibatasi pada:
· Pembahasan konsep perencanaan dan perancangan kawasan Resort di area Candi Ratu Boko, Sleman, Yogjakarta sebagai area perencanaan.
commit to user
I-7
interaksi pengunjung dengan masyarakat di sekitar Kawasan Candi Ratu Boko.
E. METODE PEMBAHASAN
1. Strategi desain
Membuat desain resort dengan konsep cultural tourism dengan tujuan dapat menjadikan suatu objek wisata dengan memanfaatkan potensi wisata Candi Ratu Boko yang ada akan berhasil dilakukan secara maksimal apabila telah dapat menjawab sasaran yang telah dibuat, antara lain dengan cara:
a. Eksplorasi kondisi kawasan baik secara makro maupun mikro mengenai Area Taman Candi Ratu Boko sehingga dapat menentukan batas kawasan yang sesuai digunakan sebagai kawasan resort tanpa merusak area cagar budaya pada Candi Ratu Boko.
b. Eksplorasi kebudayaan yang dimiliki oleh area Taman Candi Ratu Boko dan sekitar, termasuk kesenian, sejarah, maupun cara hidup masyarakat pada Kawasan Candi Ratu Boko yang dapat diambil dan dihadirkan pada konsep kawasan resort yang direncanakan.
c. Menganalisis aktivitas yang terjadi dalam sebuah resort serta Kawasan Taman Candi Ratu Boko, sehingga didiapat penjabaran kebutuhan ruang, besaran ruang, hubungan antar ruang dan tipe – tipe bangunan.
commit to user
I-8
e. Menentukan pola kegiatan pemukiman, pertanian, penginapan, pendidikan kebudayaan, dan wisata/rekreasi sehingga dapat menetukan sirkulasi yang sesuai.
f. Mengkaji teori arsitektur kontekstual, dan arsitektur pelestarian yang kemudian dapat diterapkan dalam desain fisik fasilitas – fasilitas pengelola, penginapan, maupun wisata.
g.
Menganalisis mengenai peraturan tentang Pelestarian Cagar Budaya,sehingga kawasan resort dalam kawasan Taman Candi Rat Boko tidak merusak cagar Budaya Candi Ratu Boko, dan dapat memberikan kontribusi bagi preservasi dan konservasi Candi Ratu Boko.
2. Metode Pencarian Data
Metode pencarian data yang digunakan dalam melakukan konsep perencanaan dan perancangan Village Resort di Kawasan Candi Ratu Boko dengan konsep Cultural Heritage Tourism adalah:
a. Primer 1) Observasi
§ Kondisi eksisting lingkungan di sekitar daerah Bokoharjo, Sleman, Yogyakarta dan kemungkinan lokasi dan tapak yang akan dibangun resort Ratu Boko dengan konsep cultural tourism
§ Mengamati kondisi sosial ekonomi, kebiasaan dan potensi yang dimiliki warga daerah Ratu Boko(Bokoharjo, Sleman)
§ Mengamati potensi sejarah kawasan Candi Ratu Boko. 2) Wawancara
commit to user
I-9
b. Sekunder 1) Studi Literatur
§ Teori-teori dan artikel yang berhubungan dengan masalah pengembangan kawasan wisata di Indonesia.
§ Teori dan artikel yang berhubungan dengan masalah culture tourism.
§ Artikel yang berisi tentang resort dengan konsep culture tourism yang akan digunakan sebagai studi banding.
2) Internet
§ Artikel-artikel yang berhubungan dengan perencanaan dan perancangan kawasan wisata di daerah cagar budaya.
§ Artikel-artikel mengenai culture tourism di dunia. 3) Dokumen pemerintah
§ Data Kependudukan dan perkembangannya serta jumlah sarana pariwisata di Sleman dari BPS Yogyakarta.
§ Undang-undang dan peraturan pemerintahan lainnya 4) Tugas Akhir yang sesuai
§ Referensi pola pikir dan metode pengerjaannya
§ Bahan studi perbandingan
commit to user
I-10 3. Metode Analisis
1) Analisis Programatik
Merupakan anlisis untuk menentukan kegiatan yang direncanakan. 2) Analisis Kebutuhan Ruang
Merupakan analisis untuk menentukan Ruang yang akan dihadirkan dalam Resort berdasarkan kegiatan yang akan direncanakan pada Resort.
3) Analisis hubungan ruang
Merupakan analisis untuk menentukan kedekatan hubungan antara ruang yang satu dengan ruangan lain, berdasarkan kelompok kegiatan dengan - Matriks Hubungan Ruang
- Diagram Pola Hubungan Ruang 4) Analisis Besaran Ruang
Merupakan analisi untuk menghitug besar ruang yang dibutuhkan dengan menggunakan standar pada Referensi mengenai Perancangan resort dengan mempertimbangkan jumlah pengguna yang direncanakan,
sirkulasi, dan jumlah ruangan yang dibutuhkan. 5) Analisis Kawasan
- Analisis pemilihan site
commit to user
I-11
- Analisis pengaruh matahari dan angin
Merupakan analisis pengaruh sinar matahari dan angin terhadap site dan rencana untuk mengantisipasi pengaruh negatif bagi site.
- Analisis View
Merupakan analisis view yang tampak dari dalam site untuk menentukan potensi bagian site yang dimanfaatkan untuk bukaan (pemandangan) serta view dari luar site untuk menentukan tampilan bangunan yang perlu di ekspos, melalui survey secara langsung. - Analisis Noise
Merupakan analisis pengaruh noise (kebisingan) terhadap site karena alam dan lingkungan sekitar untuk menentukan perletakan bangunan berdasarkan ruang yang akan dipengaruhi oleh kebisingan, melalui survey dan pengamatan.
- Analisis Perletakan bangunan
Hasil analisis berdasarkan tata guna lahan, pengaruh matahari dan angin, view ke dalam dan ke luar, serta noise untuk mendapatkan rencana perletakan bangunan pada site.
6) Analisis Tampilan bangunan
commit to user
I-12
7) Analisis Struktur
Merupakan Analisis struktur yang akan digunakan pada Bangunan Resort termasuk atap, dinding, dan pondasi yang sesuai dengan kondisi
site.
8) Analisis Utilitas
Merupakan Analisis utilitas yang akan diterapkan pada resort meliputi jaringan air bersih, jaringan air kotor, drainase, jaringan listrik, dan system keamanan yang sesuai dengan kondisi site.
4. Kerangka Perencanaan dan Perancangan
Gambar 1. 1 Skema Kerangka Perencanaan dan Perancangan
Sumber : Analisi Penulis, 2011
commit to user
I-13 F. SISTEMATIKA PEMBAHASAN
· Bab I berupa Pendahuluan yang menjabarkan mengenai latar belakang, permasalahan dan persoalan, tujuan dan sasaran, metode pencarian data, metode pembahasan, sistematika pembahasan dan pola pikir pembahasan.
· Bab II berisi Tinjauan Pustaka yang menjabarkan tinjauan teori tentang konsep cultural tourism dalam perencanaan resort dan melakukan tinjauan teoritis terhadap fungsi resort, standar cultural heritage tourism pada sebuah kawasan dan preseden terkait dengan konsep cultural heritage tourism.
· Bab III berisi Tinjauan Lokasi yang menjabarkan tinjauan lokasi kawasan wisata dalam konteks Sleman dan Candi Ratu Boko serta tinjauan kawasan Bokoharjo sebagai lokasi perencanaan dan perancangan kawasan wisata dengan konsep cultural heritage tourism, serta potensi kondisi masyarakat sekitar kawasan tersebut, dan tinjauan site kawasan wisata itu sendiri.
· Bab IV berisi tentang Villa Resort dengan Konsep Cultural Heritage Tourism yang direncanakan berupa gagasan mengenai konsep resort yang direncanakan beserta kegiatan-kegiatan yang akan terjadi dalam Resort.
· Bab V berisi Pendekatan Konsep Perancangan yang menjabarkan analisis pendekatan konsep melalui dasar-dasar pertimbangan, serta alternatif- alternatif yang muncul dalam proses analisis dalam perencanaan dan perancangan Resort Ratu Boko, sebagai fasilitas akomodasi di Kawasan Candi Ratu Boko dengan konsep Culture Heritage Tourism.
· Bab VI berisi Konsep Perencanaan dan Perancangan yang menjabarkan kesimpulan penyusunan konsep dasar perencanaan dan perancangan Resort di kawasan Candi Ratu Boko berdasarkan analisis-analisis tahap
commit to user
commit to user
I-15 TUGAS AKHIR
VILLAGE RESORT DI KAWASAN CANDI RATU BOKO
DENGAN KONSEP CULTURAL HERITAGE TOURISM
KURNIA DWI PRAWESTI I 0206013
PRODI ARSITEKTUR
JURUSAN ARSITEKTUR
FAKULTAS TEKNIK
UNIVERSITAS SEBELAS MARET SURAKARTA
commit to user
commit to user
II-1
BAB II
KAJIAN PUSTAKA
Dalam Bab ini akan menjabarkan mengenai teori village Resort, budaya dan wisata, serta wisata budaya dalam suatu konteks yang berkaitan, pendekatan arsitektur yang berhubungan dengan wisata budaya, serta preseden-preseden yang berkaitan dengan wisata budaya.
A. VILLAGE RESORT
Village Resort merupakan suatu resort (tempat rekreasi dan wisata) yang
mengakomodir wisatawan untuk menikmati suasana pedesaan dan menjadi salah satu layanan dari suatu resort. Village resort merupakan penggabungan dari suatu desa wisata dengan resort yang digabungkan fungsinya dan disajikan kepada pengunjung dalam bentuk suatu fasilitas wisata. Village resort terdiri atas 2 unsur utama yairu village (desa) dan Resort. Dan penjabaran dari masing-masing unsur tersebut adalah sebagai berikut.
1. Resort
Resort merupakan salah satu akomodasi menginap yang dilengkapi
dengan fasilitas rekreasi yang lainnya. resort biasanya identik dengan hotel berbintang, villa, ataupun bungalow. Namun berdasarkan beberapa referensi, pengertian resort yang yang baku antara lain
Resort adalah suatu perubahan tempat tingga untuk sementara bagi seseorang di luar tempat tinggalnya dengan tujuan antara lain untuk mendapatkan kesegaran jiwa dan raga serta hasrat ingin mengetahui sesuatu. Dapat juga dikaitkan dengan kepentingan yang berhubungan dengan kegiata olah raga, kesehatan, konvensi, keagamaan serta keperluan usaha lainnya. (Dirjen Pariwisata , Pariwisata Tanah air Indonesia, hal. 13, November, 1988)
commit to user
II-2
Resort adalah tempat wisata atau rekreasi yang sering dikunjungi orang dimana pengunjung datang untuk menikmati potensi alamnya. (A.S. Hornby, Oxford Leaner’s Dictionary of Current English, Oxford University Press, 1974)
Secara umum, resort berada di area-area tertentu yang tidak sebegitu ramai dengan memiliki panorama yang indah, seperti pantai dan pegunungan. Namun tidak menutup kemungkinan untuk keberadaan suatu resort di wilayah khusus, seperti perkampungan/pedesaaan ataupun situs bersejarah tertentu. 2. Desa
Suatu kelompok masyarakat membutuhkan suatu ruang untuk hidup dalam kelompok untuk mewujudkan suatu kultur hidup yang khas. Ruang tersebut berupa pemukiman yang disebut sebagai desa. Perkembangan dari desa yang mengalami perubahan sesuai globalisasi menjadi kota,namun tetap ada ruang yang tetap bertahan dengan kultur tertentu dan tetap menjadi desa seperti pada masa kini. Menurut Prof.Drs.Bintato,
Desa merupakan perwujudan atau kesatuan geografis, social, ekonomi, politik dan kultural yng terdapat di suatu daerah dalam hubungan dan pengaruhnya secara timbale balik dengan daerah lain.
Pola peruangan desa bersifat agraris yang sebagian atau keseluruhan terisolasi dari kota. Tempat kediaman penduduk mencerminkan tingkat penyesuaian penduduk terhadap lingkungan alam, seperti iklim, tanah, topografi, tata air, sumber alam, dan lain-lain. Tingkat penyesuaian penduduk desa terhadap lingkungan alam bergantung faktor ekonomi, sosial, pendidikan dan kebudayaan.
Ciri-ciri masyarakat desa antara lain sebagai berikut :
commit to user
II-3 2) Masyarakat bersifat homogeny seperti dalam hal mata pencahariaan, agama
dan adat istiadat.
3) Diantara warga desa mempunyai hubungan yang lebih mendalam dan erat bila dibandingkan dengan masyarakat lain di luar batas wilayah.
4) Mata pencahariaan utama para penduduk biasanya bertani.
5) Faktor geografis sangat berpengaruh terhadapa corak kehidupan masyarakat.
6) Jarak antara tempat bekerja tidak terlalu jauh dari tempat tinggal
Indonesia memilik area pedesaaan yang luas yang sebagian besar penduduk tinggal di pedesaan. Dengan keadaaan itulah yang membuat Indonesia khas dengan kehidupan pedesaan.
3. Resort Village
Resort Village merupakan penggabungan desa wisata dengan resort.
Bisa diartikan sebagai sebuah kawasan desa yang di dalamnya terdapat resort
sehingga pengunjungresort bisa berinteraksi dengan penduduk desa.
Kegiatan di dalam resort dan kegiatan di dalam desa saling berhubungan
dan dengan tujuan adanya resort di dalam desa mampu memberikan kontribusi
secara ekonomi terhadap penduduk desa.
4. Prinsip desain
Penekanan perencanaan resort dengan tujuan pleasure dan rekreasi adalah adanya kesatuan antara bangunan dengan lingkungan sekitarnya, sehingga dapat diciptakan harmonisasi yang selaras.
commit to user
II-4 tinggi, maka sangat perlu disediakan pula fasilitas yang dapat dipergunakan untuk fungsi nonrekreatif seperti, function room dan banguet.(Anonim 1)
Setiap lokasi yang akan dikembangkan sebagai suatu tempat wisata memiliki karakter yang berbeda, yang memerlukan pemecahan yang khusus. Dalam merencanakan sebuah hotel resort perlu diperhatikan prinsip-prinsip desain sebagai berikut.(Anonim 2)
1) Kebutuhan dan persyaratan individu dalam melakukan kegiatan wisata.
- Suasana yang tenang dan mendukung untuk istirahat, selain fasilitas olah raga dan hiburan.
- Aloneness (kesendirian) dan privasi, tetapi juga terdapat kesempatan untuk
berinteraksi dengan orang lain, berpartisipasi dalam aktivitas kelompok.
- Berinteraksi dengan lingkungan, dengan budaya baru, dengan negara baru dengan standar kenyamanan rumah sendiri.
2) Pengalaman unik bagi wisatawan.
- Ketenangan, perubahan gaya hidup dan kesempatan untuk relaksasi.
- Kedekatan dengan alam, matahari, laut, hutan, gunung, danau, dan sebagainya.
- Memiliki skala yang manusiawi.
- Dapat melakukan aktivitas yang berbeda seperti olah raga dan rekreasi.
- Keakraban dalam hubungan dengan orang lain di luar lingkungan kerja.
- Pengenalan terhadap budaya dan cara hidup yang berbeda. 3) Menciptakan suatu citra wisata yang menarik
- Memanfaatkan sumber daya alam dan kekhasan suatu tempat sebaik mungkin.
commit to user
II-5
- Pengolahan terhadap fasilitas yang sesuai dengan tapak dan iklim setempat.
Dengan penerapan prinsip desain resort, resort yang direncanakan akan dikatakan berhasil jika sesuai dengan kebutuhan dan keinginan pengunjung sebagai sasaran didirikannya suatu resort.
B. CULTURAL TOURISM
Cultural tourism yang berarti juga wisata budaya terdiri dari kata wisata
dan budaya yang unsur dari kedua kata tersebut saling mendukung. Untuk menciptakan suatu kegiatan wisata yang memiliki unsur budaya ataupun kebudayaan yang dapat dimanfaatkan sebagai sebuah kegiatan pariwisata
Secara umum kegiatan pariwisata dan kebudayaan memiliki hubungan yang penting. Berdasarkan studi yang dilakukan pada program “Culture, Tourism
and Development” oleh UNESCO disebutkan bahwa
:
“Pariwisata berpusat pada prinsip-prinsip dasar pertukaran antara masyarakat, baik ekspresi dan pengalaman budaya (Appadurai 2002). Pariwisata adalah budaya, dan praktek-paktek dan struktur yang sangat banyak merupakan perluasan dari bingkai budaya normatif yang muncul.”
Dalam sub-bab Teori Pariwisata, menjabarkan tentang pengertian Budaya, Pariwisata, Pelaku pariwisata, Fasilitas Wisata, serta Kegiatan Wisata Budaya.
1. Budaya
Budaya sering dikaitkan dengan sesuatu yang bersifat lama,turun menurun dan khas dari suatu kehidupan masyarakat. Namun, budaya tidak hanya bermakna kuno dan khas namun, memiliki pengertian yang lebih luas lagi.
commit to user
II-6 maupun non fisik yang diperoleh melalui proses belajar dan adaptasi terhadap lingkungan.
Untuk membahas kebudayaan, ada suatu cakupan pengertian wujud dan isi kebudayaan yang telah dipaparkan secara jelas oleh Koentjaraningrat. Dalam menjelaskan isi kebudayaan, Koentjaraningrat merujuk pada konsepsi B. Malinowski tentang unsur-unsur budaya universal (cultural universals), sebagai berikut: (1) bahasa, (2) teknologi, (3) sistem mata pencarian hidup atau ekonomi, (4) organisasi sosial, (5) sistem pengetahuan, (6) religi, dan (7) kesenian.
Menurut Koentjaraningrat setiap unsur kebudayaan itu dapat mempunyai tiga wujud, yaitu:
1) Wujud kebudayaan sebagai kompleks gagasan, konsep, dan pemikiran manusia.
2) Wujud kebudayaan sebagai suatu kompleks aktivitas. 3) Wujud kebudayaan sebagai benda.
Menurut J.J. Hoenigman, wujud kebudayaan dibedakan menjadi tiga: gagasan, aktivitas, dan artefak.
1) Gagasan (Wujud ideal)
commit to user
II-7 2) Aktivitas (tindakan)
Aktivitas adalah wujud kebudayaan sebagai suatu tindakan berpola dari manusia dalam masyarakat itu. Wujud ini sering pula disebut dengan sistem sosial. Sistem sosial ini terdiri dari aktivitas-aktivitas manusia yang saling berinteraksi, mengadakan kontak, serta bergaul dengan manusia lainnya menurut pola-pola tertentu yang berdasarkan adat tata kelakuan. Sifatnya konkret, terjadi dalam kehidupan sehari-hari, dan dapat diamati dan didokumentasikan.
3) Artefak (karya)
Artefak adalah wujud kebudayaan fisik yang berupa hasil dari aktivitas, perbuatan, dan karya semua manusia dalam masyarakat berupa benda-benda atau hal-hal yang dapat diraba, dilihat, dan didokumentasikan. Sifatnya paling konkret di antara ketiga wujud kebudayaan. Dalam kenyataan kehidupan bermasyarakat, antara wujud kebudayaan yang satu tidak bisa dipisahkan dari wujud kebudayaan yang lain. Sebagai contoh: wujud kebudayaan ideal mengatur dan memberi arah kepada tindakan (aktivitas) dan karya (artefak) manusia.
Berdasarkan pengertian dan penjabaran dari para ahli budaya, budaya menacakup segala gagasan, tingkah laku, dan benda yang dihasilkan oleh manusia. Kekhasan dari sebuah kebudayaan merupakan suatu hasil dari gagasan, tingkah laku, dan benda yang diturunkan oleh leluhur dari suatu kelompok masyarakat tertentu kepada keturunannya dalam kelompok yang sama dan tidak dimiliki oleh kelompok lain.
commit to user
II-8
2. Pariwisata
Pariwisata merupakan salah satu kebutuhan manusia yang penting. Ketika seseorang merasa penat dengan aktivitas sehari-hari, pariwisata merupakan salah satu jawaban untuk mengatasi kepenatan tersebut. Pariwisata biasanya identik dengan bepergian ke suatu tempat yang berbeda dengan tempat tinggal seseorang. Pariwisata dapat dilakukan perseorangan ataupun berkelompok sebagai usaha mencari keseimbangan atau keserasian dan kebahagiaan dengan lingkungan hidup dalam dimensi sosial, budaya, alam dan ilmu. Pengertian pariwisata berdasarkan sumber adalah sebagai berikut.
Pariwisata adalah rangkaian kegiatan yang dilakukan manusia baik dilakukan perorangan ataupun berkelompok di dalam wilayah negara sendiri atau negara lain. Kegiatan tersebut dapat menggunakan kemudahan jasa dan faktor penunjang lainnya yang diadakan oleh pemerintah dan atau swasta agar dapat mewujudkan keinginan wisatawan. (Karyono,1997)
Namun, kegiatan pariwisata tidak harus dilakukan dengan bepergian ke tempat yang jauh. Pariwisata dapat dilakukan di tempat yang dekat namun bisa memberikan hiburan dan kesegaran jiwa bagi pelaku pariwisata.
a. Konsep Pariwisata
Dalam suatu kegiatan pariwisata, diharapkan pengunjung mampu mendapatkan keinginan dan kebutuhannya dalam mendapatkan hiburan dan beristirahat. Pengembangan pariwisata yang berkelanjutan selayaknya mampu memberi manfaat terhadap tiga sasaran, yaitu(Anonim 3):
1) Memenuhi harapan wisatawan dari sisi kualitas pengalaman (quality of experience)
commit to user
II-9 Selain itu konsep pengembangan kawasan juga mempertimbangkan kelestarian nilai-nilai simbolik, cultural, dan tradisi lokal. Hal yang perlu dilestarikan antara lain (Anonim 4):
1) artefak sebagi peninggalan sejarah 2) Lingkungan alam
3) Nilai budaya setempat
Dengan menjawab ketiga sasaran serta meperhatikan hal-hal yang perlu dilestarikan tersebut, maka kegiatan pariwisata berkelanjutan akan terlaksana.
b. Jenis-Jenis Pariwisata
Pariwisata dapat dilakukan dimana saja. Berdasarkan atraksi wisata yang ditawarkan macam-macam jenis pariwisata yang saat ini ada antara lain:
1) Wisata Alam
Merupakan suatu perjalanan wisata yang bertujuan untuk menikmati pemandangan dan kehidupan liar atau daerah alami yang belum dikembangkan.
2) Wisata Tirta Atau Air
Wisata tirta adalah kegiatan rekreasi yang dilakukan di perairan laut, pantai, sungai, danau dan waduk.
Aktivitas-aktivitas wisata air berupa santai di pasir menikmati lingkungan yang alami, berenang dan bermain air, tur keliling, dan surfing menggunakan papan seluncur , diving, dan ski air
3) Rekreasi Air
commit to user
II-10 · Berjalan-jalan mengelilingi tempat wisata untuk menikmati pemandangan
alam.
· Bermain : melakukan kegiatan rekreasi alam pada playground, bermain air.
4) Wisata Olahraga Rekreatif
· Berenang : biasa dilakukan di kolam renang maupun di perairan terbuka
· Memancing : kegiatan mencari ikan diperairan
· Sepeda air : merupakan olah raga yang bersifat rekreatif / kesenangan 5) Wisata seni dan budaya
Merupakan suatu perjalanan wisata dengan tujuan untuk mempelajari adat-istiadat, budaya, kesenian, tata cara kehidupan masyarakat dan kebiasaan yang terdapat pada suatu tempat, daerah tertentu.
Wisata seni dan budaya dapat dijewantahkan dengan memberikan sajian wisata berupa
· Pentas seni tradisional : merupakan kegiatan rekreasi yang menampilkan potensi kesenian daerah
· Air craft: kegiatan memperjual belikan hasil karya kerajinan penduduk
setempat untuk dijual sebagai souvenir.
· Pameran kesenian tradisional, berupa pameran alat-alat musik tradisional Dari berbagai jenis pariwisata yang ada, tujuan utama dari pengunjung adalah mendapatkan pengalaman baru dan pleasure.
c. Pelaku Pariwisata
commit to user
II-11
Setiap orang yang berpergian dari tempat tinggalnya untuk berkunjung ke tempat lain dengan menikmati perjalanan dari kunjungan itu. (Inpres no.9 tahun 1969 )
Seseorang tanpa membedakan jenis kelamin , ras, bahasa, suku bangsa, dan agama yang memasuki wilayah suatu negara yang mengadakan perjanjian yang lain daripada negara dimana orang biasanya tinggal dan berada disitu lebih dari 24 jam dan tidak lebih dari 6 bulan, dalam jangka waktu 12 bulan berturut-turut. Untuk tujuan non imigran yang legal seperti perjanjian wisata,rekreasi, olah raga, kesehatan, alasan keluarga, studi, ibadah keagamaan atau urusan usaha.(Oka A. Yoeti,1988)
Seorang pengunjung untuk sekurang-kurangnya satu malam tapi tidak lebih dari satu tahun dan yang menjadi maksud utama kunjungannya adalah tidak melaksanakan suatu kegiatan yang mendatangkan penghasilan dari negeri yang dikunjungi.(Deparpostel 1992).
Berdasarkan sifat perjalanan, lokasi dimana perjalan dilakukan dapat diklasifikasikan sebagai berikut.:
1) Wisatawan Asing ( Foreign Tourist )
Orang asing yang melakukan perjalanan wisata, yang datang memasuki suatu negara lain dan bukan merupakan merupakan negara dimana ia tinggal.
2) Wisatawan Asing ( Domestic Foreign Tourist )
Orang asing yang berdiam atau bertempat tinggal disuatu negara karena tugas dan melakukan perjalanan wisata diwilayah negara dimana ia tinggal.
3) Wisatawan Lokal ( Domestic Tourist )
Seorang warga negara yang melakukan perjalanan wisatadalam wilayah negaranya sendiri tanpa melawati perbatasan negaranya.
4) Indigenous Foreign Tourist
commit to user
II-12 5) Transit Tourist
Wisatawan yang sedang melakukan perjalanan kesuatu negara tertentu yang terpaksa mampiratau singgah pada suatu pelabuhan, airport, station, bukan atas kemauannya sendiri.
6) Bussines Tourist
Orang yang melakukan perjalanan untuk tujuan bisnis bukan untuk wisata, tetapi ia melakukan perjalanan wisata setelah urusan bisnisnya selesai.
Sedangkan wisatawan menurut tujuan dan lama tinggalnya dapat dibedakan menjadi 3 jenis:
1) Visitor
Seseorang yang mengunjungi suatu daerah yang berbeda dengan tempat tinggalnya dengan tujuan tidak untuk mencari uang / bekerja di tempat yang di kunjunginya.
2) Tourist
Pengunjung sementara yang tinggal minimum 24 jam di daerah yang dikunjungi dengan tujuan mencari kesenangan, berlibur, rekreasi, berolahraga, ataupun juga untuk melakukan kegiatan keagamaan
3) Exursionist
Pengunjung yang tinggal kurang dari 24 jam di daerah yang dikunjunginya.
commit to user
II-13
d. Motivasi Wisatawan Melakukan Kegiatan Wisata
Motivasi wisatawan dalam mengunjungi sebuah objek wisata ternyata penting diketahui untuk menentukan jenis wisata, fasilitas yang diperlukan, dan kebutuhannya. Pada hakikatnya tujuan seseorang melakukan kegiatan wisata antara lain
· Untuk bersantai baik jasmani ataupun rohani.
· Menikmati keindahan alam serta menambah pengetahuan tentang budaya setempat.
· Demi kesehatan dan kesegaran, seperti mendapat cahaya matahari, udara segar, mandi air panas dan perjalanan khusus.
· Mencari kesenangan, kenyamanan, kegembiraaan serta hal-hal lucu.
· Melakukan kegiatan aktif dalam bidang olah raga terutama olah raga air, seperti arung jeram, memancing, berenang.
· Mencari hal yang bersifat spiritual dan perenungan.
3. Cultural Tourism (Wisata Budaya)
Wisata budaya merupakan salah satu jenis pariwisata yang fokus kegiatan wisatanya mengacu pada kebudayaan.
Pengertian wisata budaya menurut Sillerberg (2001), wisata budaya didefinisikan sebagai
Kunjungan berbagai individu dari luar komunitas asli yang termotivasi oleh daya tarik sejarah, seni, pengetahuan, gaya hidup atau warisan yang ditawarkan oleh suatu komunitas, daerah, kelompok atau institusi. Sedangkan menurut The Cultural Tourism Industry Group (2000),
Wisata budaya merupakan suatu hiburan dan pengalaman yang mendidik dan yang menggabungkan kesenian dengan warisan alam, sosial, sejarah. Ini merupakan suatu pilihan pariwisata yang mendidik orang-orang mengenai aspek-aspek tampilan, kesenian, arsitektur, dan sejarah suatu tempat tertentu.
Keragaman pendekatan hubungan antara pariwisata dan budaya
commit to user
II-14 menyentuh setiap aspek kehidupan manusia, bisa dikatakan bahwa segala
sesuatu adalah budaya. Menurut pandangan ini, pariwisata semua bisa
dianggap sebagai "pariwisata budaya", karena "semua gerakan orang
memenuhi kebutuhan manusia akan keragaman, cenderung meningkatkan
tingkat budaya individu dan menimbulkan baru, pengalaman pengetahuan
dan pertemuan.
Richards (1996) mengemukakan bahwa
Pendekatan awal untuk hubungan antara pariwisata dan budaya cenderung didasarkan pada pendekatan "situs dan monumen", di mana atraksi budaya suatu negara atau wilayah pada dasarnya dilihat sebagai situs budaya fisik yang penting bagi pariwisata .
Dalam studi kasus Australia, definisi "budaya" tidak terbatas pada
· Sejarah dan warisan
· Gastronomy dan produk-produk pertanian · Pertanian dan anggur (termasuk daerah · Budaya peristiwa (misalnya festival) · industri Kreatif
· Arsitektur · Kerajinan tangan
Berdasarkan A.G Khrisna Menon dalam Studi yang diterbitkan UNESCO
mengenai kebudayaan yang dapat dijadikan aset wisata dalam Case
Study on The Effects of Tourism on Culture and The Environment,
menjelaskan mengenai kebudayan yang dipengaruhi faktor sosial dan
commit to user
II-15
· Faktor Sejarah
Tabel 2. 1 Faktor sejarah yang memepengaruhi warisan budaya
Kelompok Kriteria Pertimbangan
Faktor Sejarah Site sejarah arkeologi Reruntuhan kuno
Benteng,Istana
Event sejarah Legenda
Event yang lain
Sumber : UNESCO, 2002
· Faktor Sosial
Tabel 2. 2 Faktor Sosial yang mempengaruhi warisan budaya
Kelompok Kriteria Pertimbangan
Faktor sosial Fitur khas lokal Masyarakat etnik,
lingkungan, gaya hidup,
pakaian, perhiasan
Tari tradisional, music
tradisional, cerita rakyat
Fitur kesenian dan
arsitektural
Arsitektur local, sculpture
Kerajinan lokal
Kepercayaan setempat Tempat berziarah
Ritual
Festival dan pasar malam Pasar malam religi
Festival
Sumber : UNESCO, 2002
Kedua faktor tersebut merupakan faktor yang dominan yang mempengaruhi kebudayaan yang ada di kawasan Candi Ratu Boko. Penjabaran mengenai Cultural Herritage Tourism adalah sebagai berikut
a. Cultural Herritage Tourism
Cultural Herritage tourism adalah salah satu wisata budaya yang
berkonsentrasi pada warisan budaya. Pengertian Cultural Herritage Tourism menurut Silberberg (1995) adalah
commit to user
II-16
pada mengalami lingkungan budaya, termasuk lanskap, seni visual dan pertunjukan dan gaya hidup khusus, nilai-nilai, tradisi, dan acara.
Wisata Warisan Budaya merupakan salah satu pariwisata yang mengangkat warisan sejarah dan gaya hidup masyarakat pada suatu wilayah dan akan berpengaruh bagi perekonomian dari wilayah tersebut. Menurut Richard (1996)
Budaya pariwisata warisan penting untuk berbagai alasan, tetapi memiliki dampak ekonomi dan sosial yang positif, itu menetapkan dan memperkuat identitas, membantu melestarikan warisan budaya, dengan budaya sebagai instrumen memfasilitasi harmoni dan pengertian antara orang-orang, mendukung budaya dan membantu memperbaharui pariwisata.
National Trust for Historic Preservation adalah sebuah organisasi yang
menangani warisan budaya Amerika, menjabarkan cara untuk menentukan programnya untuk menjadikan sebuah wisata budaya warisan yang sukses dan berkelanjutan melalui 4 tahap. Yaitu:
1) Menilai potensi
Menilai potensi daerah untuk wisata warisan budaya merupakan langkah penting pertama. Evaluasi aset dalam lima bidang meliputi atraksi, layanan pengunjung, kemampuan organisasi, perlindungan, dan pemasaran
commit to user
II-17 2) Merencanakan dan mengatur
Membuat penggunaan sumber daya baik manusia dan keuangan sebagai kunci untuk membuka pintu bagi pariwisata warisan budaya berkelanjutan.
a) Sumber Daya Manusia
Sebuah masyarakat yang bersatu dapat mencapai banyak hal, yaitu dengan mulai mengatur membangun konsensus lokal yang mendukung pariwisata warisan budaya.
b) Sumber Daya Keuangan
Tujuannya adalah untuk pendanaan jangka panjang yang stabil. Peluang untuk meningkatkan pencapaiannya yaitu jika telah terbangun konsensus lokal yang kuat, kemudian menjadikannya sebagai salah satu masalah pendanaan yang dapat dibantu oleh berbagai pihak.
3) Mempersiapkan, melindungi dan mengelola a) Mempersiapkan
commit to user
II-18 b) Melindungi
Untuk memastikan bahwa sumber daya pariwisata warisan budaya memiliki masa yang panjang dan produktif yaitu dengan melindunginya. Mengembangkan rencana pelestarian yang komprehensif dapat memberikan panduan secara umum untuk membantu melindungi situs bersejarah. Mekanisme regulasi dan perencanaan lainnya termasuk:
· Mencari petunjuk sumber daya bersejarah
· Menggunakannya untuk menentukan zonasi penggunaan lahan dan pembatasan pada kepadatan pembangunan dekat situs bersejarah yang sensitif
· Menetapkan tata cara pengkajian desain untuk menetapkan pedoman desain sehingga renovasi dan bangunan baru akan sesuai dengan struktur sejarah di sekitarnya dan me-review desain untuk melaksanakan pedoman.
· Memberikan bantuan desain untuk seseorang yang tertarik untuk merehabilitasi kepemilikannya
· Membutuhkan review pembongkaran sehingga pemilik properti tidak sembarangan meruntuhkan bangunan yang memiliki makna bersejarah.
· Mengembangkan peraturan yang mengatur hal-hal seperti ukuran, bahan, pencahayaan dan penempatan tanda-tanda.
c) Mengelola
commit to user
II-19 untuk tempat dan struktur, tetapi juga koordinasi beberapa kegiatan dan mempertahankan momentum pada berbagai proyek secara bersamaan. Untuk menjaga pekerjaan yang wajar dan layak, perlu mengembangkan rencana pengelolaan.
Sebuah warisan yang dikelola dengan baik dengan program wisata budaya adalah salah satu penyeimbang persaingan wisata.
4) Pemasaran untuk kesuksesan
Untuk menarik orang-orang ke dalam komunitas, dan pengembangan untuk jangka waktu yang panjang, banyak-rencana pemasaran berjenjang yang dapat dilakukan. Tujuannya adalah untuk mencapai target pasar dan untuk merebut kesempatan untuk bermitra dengan lokal, negara bagian regional, atau kelompok nasional. Empat komponen dalam rencana pemasaran adalah hubungan masyarakat, iklan, bahan grafis, dan promosi
b. Prinsip Dasar Cultural Tourism
Untuk mewujudkan kegiatan wisata budaya, perlu dipertimbangkan prinsip dasar dalam wisata budaya.
Menurut ICOMOS (1999), terdapat prinsip-prinsip dasar dalam wisata budaya, yaitu :
commit to user
II-20 2) Hubungan antara tempat historis dan wisata bersifat dinamis serta
melibatkan nilai-nilai yang mempunyai konflik. Hal tersebut harus dapat dikelola dalam suatu cara yang mendukung generasi saat ini dan yang akan datang.
3) Perencanaan wisata dan konservasi untuk tempat-tempat warisan budaya harus dapat menjamin bahwa pengalaman yang didapatkan pengunjung akan berharga, memuaskan dan menggembirakan.
4) Masyarakat asli dan penduduk di pemukiman harus dilibatkan dalam perencanan konservasi dan wisata.
5) Aktivitas wisata dan konservasi harus menguntungkan bagi penduduk asli.
6) Program wisata budaya harus dapat melindungi dan meningkatkan karakteristik warisan alam dan budaya.
Dengan meninjau prinsip dasar wisata budaya yang telah dijabarkan menurut ICOMOS tersebut, dapat memberikan acuan untuk mendesain suatu fasilitas pariwisata yag berlatarkan kebudayaan.
c. Keuntungan dari Cultural Tourism
Pariwisata budaya sangat menarik karena banyak manfaat yang dapat memberikan kepada masyarakat lokal.
Menurut National Trust untuk preservasi Sejarah di AS, manfaat ini meliputi:
· Meciptakan pekerjaan dan bisnis · Meningkatkan pendapatan pajak · Diversifikasi ekonomi lokal
commit to user
II-21 · Menarik pengunjung tertarik dengan sejarah dan pelestarian
· Meningkatkan pendapatan atraksi bersejarah. · Melestarikan tradisi dan budaya lokal.
· Membangkitkan investasi lokal dalam sumber daya bersejarah. · Membangun kebanggaan masyarakat dalam warisan
· Meningkatkan kesadaran dari situs atau signifikansi daerah itu.
Manfaat dari wisata budaya seperti yang dijabarkan dari National Trust yang meninjau wisata budaya di AS pada dasarnya memiliki kesamaan
dengan wisata budaya yang ada di negara-negara lain, begitu pula yang ada di Indonesia. Dengan meninjau keuntungan dari wisata budaya tersebut, akan memberikan argumen yang kuat dalam menciptakan sebuah fasilitas wisata yang berlatar belakang kebudayaan.
C. PENDEKATAN ARSITEKTURAL YANG DIGUNAKAN
Pada sub bab ini menjabarkan tentang pendekatan arsitektural yang berkaitan dengan perencanaan resort yang akan dibuat, yaitu arsitektur pelestarian, serta kontektualisme.
1. Arsitektur Pelestarian
Arsitektur pelestarian adalah salah satu cabang arsitektur yang meninjau pelestarian sebagai salah satu aspek dalam mendesain suatu ruang. Dengan mengacu kepada kaidah- kaidah pelestarian, akan didapat suatu desain arsitektur yang berkelanjutan tanpa merusak nilai historis yang ada site yang akan dirancang.
a. Pengertian Pelestarian
commit to user
II-22 penting bagi generasi selanjutnya. Namun demikian tindakan pelestarian makin menjadi kompleks jika dihadapkan pada kenyataan sebenarnya. Tindakan pelestarian yang dimaksudkan guna menjaga karya seni sebagai kesaksian sejarah, kerap kali berbenturan dengan kepentingan lain, khususnya dalam kegiatan pembangunan. James Mastron (1982)mengungkapkan bahwa hal ini menggambarkan begitu kompleksnya masalah yang ada dalam aktivitas pelestarian.
Berbagai pengertian dan istilah pelestarian coba diungkapkan oleh para ahli perkotaan dalam melihat permasalahan yang timbul berdasarkan konsep dan persepsi tersendiri. Berikut pernyataan para ahli :
· Nia Kurmasih Pontoh (1992:36), mengemukakan bahwa konsep awal
pelestarian adalah konservasi, yaitu upaya melestarikan dan melindungi sekaligus memanfaatkan sumber daya suatu tempat dengan adaptasi terhadap fungsi baru, tanpa menghilangkan makna kehidupan budaya.
· Eko budihardjo (1994:22), upaya preservasi mengandung arti
mempertahankan peninggalan arsitektur dan lingkungan tradisional/kuno persis seperti keadaan asli semula. Karena sifat prservasi yang stastis, upaya pelestarian memerlukan pula pendekatan konservasi yang dinamis, tidak hanya mencakup bangunannya saja tetapi juga lingkungannya (conservation areas) dan bahkan kota bersejarah (histories towns). Dengan pendekatan konservasi, berbagai kegiatan
commit to user
II-23
· Dalam Piagam Burra Tahun 1981 (Sumargo, 1990), disepakati istilah
konservasi sebagai istilah bagi semua kegiatan pelestarian, yaitu segenap proses pengelolaan suatu tempat agar makna kultral yang dikandungnya terpelihara dengan baik. Konservasi dapat meliputi segala kegiatan pemeliharaan dan sesuai dengan situasi dan kondisi setempat dapat pula mencakup preservasi, restorasi, rekontruksi, adaptasi dan revitalisasi.
· Mundardjito (2002) : Terbentuknya suatu kota dalam banyak sisi dapat
dilihat sebagai suatu produk dari perkembangan kebudayaan di dalamnya terdapat perwujudan ideologi sosial serta perkembangan teknologi yang membantu mengkonstruksikan suatu daerah menjadi kota yang kita kenal kini. Artinya, terbentuknya kota sedikit banyak berdasarkan atas pengetahuan, norma, kepercayaan dan nilai-nilai budaya dari masyarakatnya di masa lalu.
b. Manfaat Pelestarian
commit to user
II-24 Menurut Shirvani (1985:44-45) terdapat beberapa manfaat yang dapat diperoleh dari pelestarian bangunan dan kawasan bersejarah di antaranya :
1. Manfaat kebudayaan yaitu sumber-sumber sejarah yang dilestarikan dapat menjadi sumber pendidikan dan memperkaya estetika.
2. Manfaat ekonomi yaitu adanya peningkatan nilai property, peningkatan pada penjualan ritel dan sewa komersil, penanggulangan biaya-biaya relokasi dan peningkatan pada penerima pajak serta pendapatan dari sektor pariwisata.
3. Manfaat sosial dan perencanaan, karena upaya pelestarian dapat menjadi kekuatan yang tepat dalam memulihkan kepercayaan masyarakat.
c. Lingkup Kegiatan Pelestarian
Lingkup kegiatan pelestarian mencakup objek-objek yang dianggap sesuatu yang patut dijaga karena terdapat nilai-nilai ilmu pengetahuan dan manfaat lain bagi kehidupan umat manusia sehingga ditetapkan sebagai objek pelestarian. Berikut lingkup kegiatan pelestarian diantara :
1. Lingkungan alami (Natural Area) ; daerah pesisir, daerah pertanian hutan, daerah archeologis dan lain-lain.
2. Kota dan Desa (Town and Villages) seperti Williamsburg, Deerfield, dan Nantucket di USA atau west Wycmbe dan Lacock di Inggris.
3. Garis cakrawala dan koridor pandang (Skylines and View Corridor) seperti pengendalian terhadap ketinggian bangunan dan pengarahan pandangan terhadap ‘view’ dan ‘vista’ yang baik.
commit to user
II-25 5. Wajah jalan (Street-Scapes) seperti pelestarian fasade
bangunan-bangunan dan perlengkapan jalan.
6. Bangunan (Buildings) merupakan obyek pelestarian yang paling tua dan paling lazim.
7. Benda dan penggalan seperti puing-puing akibat ledakan, bagian tembok kota, fasade bangunan, trem listrik, kereta kabel, dan sebagainya.
2. Kontekstual dalam Arsitektur
Berkaitan dengan arsitektur pelestarian, kontektual dalam arsitektur meruapakan suatu pendekatan yang sangat berhubungan erat. Dengan menggunakan prinsip kontekstual dalam arsitektur, desain yang akan dibuat akan sesuai dengan kawasan site yang memiliki cagar budaya dan tidak mengaburkan nilai sejarah dan budaya yang sudah ada.
a. Pengertian Kontekstual
Kontekstual berarti situasi yang tidak memungkinkan sebuah obyek ada di satu tempat tanpa mengindahkan obyek-obyek yang sudah ada di tempat itu lebih dahulu. Dengan demikian perhatian dipusatkan pada karakteristik obyek-obyek yang sudah ada daripada obyek-obyek yang akan dibuat.
Berdasarkan definisinya, desain kontekstual haruslah:
· Fit (pas) pada lingkungannya
· Merespon lingkungannya
· Menjadi perantara bagi lingkungannya, mungkin melengkapi pola implisit dari layout jalan atau memperkenalkan sesuatu yang baru.
b. Sejarah Konteksualisme
commit to user
II-26 Lingkungan semakain putus dengan sejarah ataupun akar budayanya. Kontektualisme juga menjawab permasalahan saat munculnya arsitektur modern, dimana site denga permukaan rata dan kosong menjadi kebutuhan dan penerapan ideal prinsip-prinsip arsitektur modern. Padahal hal tersebut mengakibatkan suatu bangunan dikonsepsikan sebagai obyek bebas tanpa hubungan dengan konteks lain dari ruang bebas urban grid empat persegi panjang. Grid tersebut berfungsi sebagai penghapus konteks sehingga setiap site sejauh mungkin dapat digunakan sebagai site ideal modern, yaitu; site rata dan kosong tanpa ada hubungan dengan built environtment sekitarnya, lain dari semua obyek arsitektural dan dialokasikan dengan system grid.
Menurut penganut kontekstualisme, kegagalan arsitektur modern dan perencanaan kotanya adalah:
· Kurangnya pengertian tentang urban context
· Penekanan yang berlebihan pada obyek dan bukannya pada jaringan antar mereka.
· Mendesain dari luar ke dalam. Bukannya dari dalam ke luar.
Kontekstualism / urbanism menurut Cohan dan Hurt bermaksud memeluk
jiwa/ spirit bangunan-bangunan tua dengan lingkungannya yang bersejarah ke dalam desain baru, bukan bentuknya.
Dengan begitu, bangunan baru yang dibangun akan sesuai dengan bangunan lama yang sudah akan, dan akan memeperkuat nilai pada bangunan lama.
c. Karakter desain pada kontektualisme
commit to user
II-27 desain baru. Kontekstual memiliki arti lebih spesifik, tidak hanya berdiri sendii, bahkan cenderung menjadi bangunan yang bersifat latar belakang.
Teknik mendesain dengan faham kontekstualisme dapat dikembangkan untuk dapat memeberikan jawaban khususnya untuk kondisi-kondisi yang bersifat morfologis, tipologis, dan pragmatis menjadi bersifat pluralistik dan fleksibel. Selain itu juga dogmatis rasional atau terlalu berorientasi pada kaidah- kaidah yang terlalu universal.
D. PRESEDEN
Preseden yang ada merupakan preseden dari beberapa resort yang memiliki konsep kegiatan cultural tourism di dalamnya serta bangunan selain resort yang berprinsip pada arsitektur pelestarian dan arsitektur kontekstual.
1. Amanjiwo Resort
commit to user
II-28
Gambar 2. 1 Amanjiwo Resort Sumber : www.amanjiwo.com , 2011 2. Manohara Hotel
commit to user
II-29
Gambar 2. 2 Manohara Hotel Sumber : www.manohara-hotel.com , 2011
3. Desa Seni Resort
commit to user
II-30
Gambar 2. 3 Desa Seni Sumber : www.desaseni.com , 2011
4. Museum Louvre
Museum Louvre yang terletak di Paris, Perancis ini merupakan salah satu karya IM Pei berupa sebuah piramida kaca yang memiliki gaya futuristic yang
sangat kontras dengan bangunan yang klasik. Piramida dan lobi bawah tanah
commit to user
II-31
Gambar 2. 4 Museum Louvre, Perancis Sumber : wikipedia.com, 2011
Pembangunan piramida menimbulkan kontroversi karena banyak orang menganggap struktur futuristik tersebut terlihat berbeda di depan Museum Louvre
dengan arsitekturnya yang klasik. Sementara yang lainnya bangga atas gaya arsitekturnya yang kontras sebagai penggabungan berhasil antara bangunan lama dan baru, klasik dan ultra-modern.
E. KESIMPULAN
Village resort merupakan sebuah resort yang menampilkan suasana desa
commit to user
II-32 dengan menggabungkan budaya sosial dari sebuah kehidupan di desa dengan kebudayaan lain yang ada di lingkungan sekitarnya terutama Kawasan Candi Ratu Boko yang memiliki hasil budaya masa lampau berupa artefak, yaitu Candi Ratu Boko itu sendiri.
Dari ide mengenai village resort dengan konsep cultural heritage tourism, preseden yang dapat dijadikan acuan mendesain adalah konsep pedesaan yang ditampilkan pada Desa Seni Resort, konsep jiwa candi yang ditampilkan di Hotel Amanjiwo dengan menampilkan arsitektural berbau Candi Borobudur, konsep pelestarian pada preseden Hotel Manohara yang berada di Candi Borobudur dengan perletakan Hotel yang berada dalam kawasan Candi, serta konsep
kontekstual yang di tampilkan dalam preseden Museum Louvre yang berada di
Paris, Perancis.
Dengan menampilkan konsep cultural heritage tourism dalam desain village
resort, akan berimbas bagi peningkatan perekonomian bagi daerah yang menjadi
commit to user
3. Cultural Tourism (Wisata Budaya) ... II-13 Wisata budaya merupakan salah satu jenis pariwisata yang fokus kegiatan wisatanya mengacu pada kebudayaan. ... II-13 Pengertian wisata budaya menurut Sillerberg (2001), wisata budayadidefinisikan sebagai ... II-13 C. PENDEKATAN ARSITEKTURAL YANG DIGUNAKAN ... II-21 1. Arsitektur Pelestarian ... II-21 2. Kontekstual dalam Arsitektur ... II-25 Berkaitan dengan arsitektur pelestarian, kontektual dalam arsitektur
commit to user
II-34 setiap site sejauh mungkin dapat digunakan sebagai site ideal modern, yaitu; site rata dan kosong tanpa ada hubungan dengan built environtment sekitarnya, lain dari semua obyek arsitektural dan dialokasikan dengan system grid. ... II-25 Menurut penganut kontekstualisme, kegagalan arsitektur modern dan
perencanaan kotanya adalah: ... II-26 Kontekstualism / urbanism menurut Cohan dan Hurt bermaksud memeluk jiwa/ spirit bangunan-bangunan tua dengan lingkungannya yang bersejarah ke dalam desain baru, bukan bentuknya. ... II-26 Dengan begitu, bangunan baru yang dibangun akan sesuai dengan
bangunan lama yang sudah akan, dan akan memeperkuat nilai pada
bangunan lama. ... II-26 Kontekstualisme sering disalah tafsirkan sebagai pola pemikiran yang hanya memepertimbangkan konteks sebagai unsur penting dalam pendekatan desain baru. Kontekstual memiliki arti lebih spesifik, tidak hanya berdiri sendii, bahkan cenderung menjadi bangunan yang bersifat latar belakang. II-26
Teknik mendesain dengan faham kontekstualisme dapat dikembangkan untuk dapat memeberikan jawaban khususnya untuk kondisi-kondisi yang bersifat morfologis, tipologis, dan pragmatis menjadi bersifat pluralistik dan fleksibel. Selain itu juga dogmatis rasional atau terlalu berorientasi pada kaidah- kaidah yang terlalu universal. ... II-27 D. PRESEDEN ... II-27 1. Amanjiwo Resort ... II-27 Merupakan salah satu resort dari kelompok aman resort. Berada di
Magelang Jawa Tengah yang memiliki kelas internasional. Aman jiwo Resort berada di pedesaan di Pegunungan Menoreh dengan background
commit to user
II-35 Gambar 2. 1 Amanjiwo Resort ...II-28 Gambar 2. 2 Manohara Hotel ...II-29 Gambar 2. 3 Desa Seni ...II-30 Gambar 2. 4 Museum Louvre, Perancis ...II-31
Tabel 2. 1 Faktor sejarah yang memepengaruhi warisan budaya ...II-15 Tabel 2. 2 Faktor Sosial yang mempengaruhi warisan budaya ...II-15
commit to user
IV - 1
VILLAGE RESORT DENGAN KONSEP CULTURAL
HERITAGE TOURISM YANG DIRENCANAKAN
Berdasarkan data dan teori yang berkaitan dengan Resort yang akan direncanakan, maka muncul ide dan gagasan mengenai rencana resort yang akan dibuat berdasarkan konsep Cultural tourism yang menjadi sarana akomodasi kawasan Taman Candi Ratu Boko yang berdasarkan pada pendidikan mengenai budaya.
A. RENCANA GAGASAN RESORT RATU BOKO PADA KAWASAN CANDI
RATU BOKO,SLEMAN
1. Kawasan Candi Ratu Boko merupakan kawasan cagar budaya. Oleh karena itu, pengembangan kawasan candi berupa fasilitas akomodasi juga sesuai dengan peraturan-peraturan pelestarian.
2. Ratu Boko sejak ditemukan dan dilestarikan oleh pemerintah, telah memiliki penghuni yang menghuni kawasan sekitar candi. Oleh karena itu, perencanaan kawasan resort juga tidak mengesampingkan kehidupan penduduk yang ada di sekitar area candi. Namun juga memiliki hubungan simbiosis mutualisme antara pengelola resort, pengunjung, dan penduduk sekitar. Dan penduduk sekitar sebanyak mungkin terlibat dalam aktivitas atraksi budaya yang akan disajikan dalam resort yang direncanakan.
commit to user
IV - 2 peraturan.
4. Kebudayaan arkeologi dimanfaatkan sebaik mungkin dalam atraksi dalam candi berupa pendidikan konservasi
5. Jenis atraksi budaya dalam kawasan candi Ratu Boko: a. Budaya sejarah
Budaya sejarah yang dimaksud adalah sejarah Ratu Boko serta perjalanan ke dalam candi sendiri, serta program pendidikan konservasi yang merupakan program kejasama dengan BP3 dalam konservasi candi, dimana pengunjung mendapat pengalaman dalam melakukan kegiatan konservasi berupa tindakan pemeliharaan dan perawatan candi serta pengetahuan tentang candi.
b. Budaya masyarakat
Pengunjung dapat merasaan kehidupan penduduk dengan terlibat dalam kegiatan masyarakat desa, bersosialisasi dengan masyarakat, serta mengamati dari dekat kehidupan penduduk. Kegiatan yang dapat dilakukan oleh pegunjung seperti: bertani, meronda, bercengkrama dengan penduduk, memasak makanan khas pedesaaan daerah Yogyakarta, menggembalakan ternak, mencari makan ternak serta mencari kayu. Pengunjung dapat melakukan kegiatan yang diinginkan dan penduduk dapat mendampingi kegiatan tersebut sesuai keinginan.
c. Budaya seni pertunjukan