• Tidak ada hasil yang ditemukan

Dampak Asean Economic Community Terhadap

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "Dampak Asean Economic Community Terhadap"

Copied!
7
0
0

Teks penuh

(1)

DAMPAK ASEAN ECONOMY COMMUNITY TERHADAP TENAGA KERJA

INDONESIA

Barnabas Dewantara Catur Saputro

Program Studi Administrasi Bisnis, FISIP, UPN “Veteran” Yogyakarta, email : [email protected]

ABSTRAK

Rencana integrasi ASEAN melalui ASEAN Economic Community yang bertujuan untuk dapat mencapai integrasi ekonomi berdampak pada perubahan bukan hanya pada perubahan di pemerintahan dan politik saja, namun juga berdampak pada dunia bisnis dan ekonomi. Integrasi ekonomi ini akan membuat adanya satu pasar bebas dimana hambatan-hambatan dalam transaksi internasional menjadi hampir tidak ada. Integrasi ekonomi ini berdampak hampir pada semua sektor di Indonesia yang salah satunya adalah pasar tenaga kerja Indonesia. Indonesia sebagai salah satu negara dengan penduduk terbesar dalam negara-negara ASEAN lainnya mempunyai tantangan yang sangat serius dalam penerapan ASEAN Economic Community ini. Berdasar pada hal tersebut Indonesia mempunyai pekerjaan yang cukup besar dalam membangun kualitas sumber daya manusia yang berdaya saing internasional. Kesimpulan dari penulisan ini adalah masalah-masalah pendidikan di Indonesia yang menjadi perhatian utama agar dapat menciptakan sumber daya manusia yang berdaya saing internasional.

Kata kunci: AEC, Peluang, SDM, Tantangan

PENDAHULUAN

(2)

2020, yaitu pada bidang keamanan politik (ASEAN Political-Security Community), ekonomi (ASEAN Economic Community), dan sosial-budaya (ASEAN Socio-Culture Community).

ASEAN Economic Community merupakan wujud nyata realisasi dari integrasi ekonomi yang dituangkan dalam ASEAN Vision 2020, yang didasarkan pada konvergensi kepentingan negara-negara anggota ASEAN untuk memperdalam dan memperluas integrasi ekonomi melalui inisiatif yang ada dan baru dengan batas waktu yang jelas. Berikut ini merupakan karakteistik utama dari AEC yaitu:

Gambar 1. Karakteristik ASEAN Economic Community (Sumber: setneg.go.id)

Berdasarkan gambar diatas dapat dilihat bahwa, karakteristik ini saling berkaitan satu sama lain. Dengan memasukkan unsur-unsur yang dibutuhkan dari masing-masing karakteristik dan harus memastikan konsistensi dan keterpaduan dari unsur-unsur serta pelaksanaannya yang tepat dan saling mengkoordinasi di antara para pemangku kepentingan yang relevan (www.asean.org).

(3)

Gambar 2. Tabel Global Competitiveness Index (GCI) 2013-2014 (Sumber: World Economic Forum diolah Sutrisno Budiharto)

Berdasarkan gambar diatas dapat dilihat bahwa Indonesia menempati urutan ke 5 dari negara ASEAN atau urutan ke 38 dari negara di dunia dengan tingkat daya saing yang cukup rendah dibandingkan dengan negara ASEAN lainnya seperti, Singapura, Malaysia, Brunei Darussalam. Maka dari itu penulis mengangkat topik ASEAN Economic Community sebagai pembahasan dari sisi SDM sebagai salah satu point penting dalam meningkatkan daya saing Indonesia di dunia internasional khususnya AEC.

DAMPAK AEC TERHADAP TENAGA KERJA INDONESIA

Dalam penerapan nya AEC (ASEAN Economic Community) ini memiliki tantangan dan peluang untuk Indonesia sebagai langkah awal dalam memasuki pasar internasional dan memacu Indonesia untuk lebih meningkatkan daya saingnya dalam pasar internasional. Tantangan dan peluang yang diperoleh dari penerapan AEC ini dapat dijadikan sebagai batu loncatan bagi Indonesia agar dapat bersaing dengan negara-negara lainnya dalam pasar internasional dimulai dari ASEAN terlebih dahulu.

Peluang AEC (ASEAN Economic Community)

Pembentukan AEC akan memeberikan peluang bagi negara-negara anggota ASEAN untuk memperluas cakupan skala ekonomi, mengurangi kemiskinan dan kesenjangan sosial ekonomi, meningkatkan daya tarik sebagai tujuan bagi investor dan wisatawan, mengurangi biaya transaksi perdagangan, serta memperbaiki fasilitas perdagangan dan bisnis. Di samping itu, pembentukan AEC juga akan memberikan kemudahan dan peningkatan akses pasar intra-ASEAN serta meningkatkan transparansi dan mempercepat penyesuaian peraturan-peraturan dan standarisasi domestik.

Beberapa potensi Indonesia untuk merebut persaingan AEC 2015, antara lain:

1. Indonesia merupakan pasar potensial yang memiliki luas wilayah dan jumlah penduduk yang terbesar di kawasan (40% dari total penduduk ASEAN). Hal ini dapat menjadikan Indonesia sebagai negara ekonomi yang produktif dan dinamis yang dapat memimpin pasar ASEAN di masa depan dengan kesempatan penguasaan pasar dan investasi.

2. Indonesia merupakan negara tujuan investor ASEAN. Proporsi investasi negara ASEAN di Indonesia mencapai 43% atau hampir tiga kali lebih tinggi dari rata-rata proporsi dari negara-negara ASEAN di ASEAN yang hanya sebesar 15%.

(4)

ekspornya, hal ini berarti peluang untuk meningkatkan ekspor ke intra-ASEAN masih harus ditingkatkan agar laju peningkatan ekspor ke intra-ASEAN berimbang dengan laju peningkatan impor dari intra-ASEAN.

4. Liberalisasi perdagangan barang ASEAN akan menjamin kelancaran arus barang untuk pasokan bahan baku maupun bahan jadi di kawasan ASEAN karena hambatan tarif dan non-tarif sudah tidak ada lagi. Kondisi pasar yang sudah bebas di kawasan dengan sendirinya akan mendorong pihak produsen dan pelaku usaha lainnya untuk memproduksi dan mendistribusikan barang yang berkualitas secara efisien sehingga mampu bersaing dengan produk-produk dari negara lain. Di sisi lain, para konsumen juga mempunyai alternatif pilihan yang beragam yang dapat dipilih sesuai dengan kebutuhan dan kemampuan, dari yang paling murah sampai yang paling mahal. Indonesia sebagai salah satu negara besar yang juga memiliki tingkat integrasi tinggi di sektor elektronik dan keunggulan komparatif pada sektor berbasis sumber daya alam, berpeluang besar untuk mengembangkan industri di sektor-sektor tersebut di dalam negeri.

5. Indonesia sebagai negara dengan jumlah populasi terbesar akan memperoleh keunggulan tersendiri, yang disebut dengan bonus demografi. Perbandingan jumlah penduduk produktif Indonesia dengan negara-negara ASEAN lain adalah 38:1000, yang artinya bahwa setiap 100 penduduk ASEAN, 38 adalah warga negara Indonesia. Bonus ini diperkirakan masih bisa dinikmati setidaknya sampai dengan 2035, yang diharapkan dengan jumlah penduduk yang produktif akan mampu menopang pertumbuhan ekonomi dan peningkatan pendapatan per kapita penduduk Indonesia.

Tantangan AEC 2015

Untuk dapat menangkap peluang-peluang dari AEC 2015 tantangan yang harus dihadapi Indonesia adalah meningkatkan daya saing dengan negara-negara ASEAN lainnya. Faktor-faktor untuk meningkatkan daya saing, yang masih menjadi tantangan bagi Indonesia, yaitu salah satunya adalah daya saing dalam bidang sumber daya manusia atau tenaga kerja Indonesia yang masih kalah bersaing dengan negara-negara ASEAN lainnya.

Bonus demografi yang dimiliki Indonesia, tidak akan memberikan keuntungan apa pun tanpa adanya perbaikan kualitas SDM. Data dari ASEAN Productivity Organization (APO) menunjukkan dari 1000 tenaga kerja Indonesia hanya ada sekitar 4,3% yang terampil , sedangkan Filipina 8,3%, Malaysia 32,6%, dan Singapura 34,7%.

(5)

lulusan Perguruan Tinggi. Hal ini sangat berbanding terbalik dengan Malaysia yang sebagian besar penduduknya lulusan Strata-1.

Kesempatan memperoleh pendidikan secara di seluruh Indonesia sulit untuk dilakukan sehingga kesadaran untuk menempuh pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi sangat rendah. Kondisi ini mengakibatkan tenaga kerja Indonesia hanya dilirik sebagai buruh atau tenaga kerja kasar di pasar tenaga kerja internasional. Hal ini disebabkan oleh kondisi Indonesia yang memiliki luas wilayah yang begitu besar sehingga kemerataan pendidikan dari kota ke desa sulit dilakukan. Beberapa era pemerintahan belakangan ini sudah mencoba melakukan kemerataan pendidikan dari tingkat desa sampai ke kota melalui beberapa program seperti wajib belajar 12 tahun dari tingkat SD sampai ke SMA, namun demikian hal tersebut tidak serta merta dapat berjalan dengan baik sesuai dengan rencana yang sudah diprogram oleh pemerintah.

Pembangungan pendidikan yang sudah dilaksanakan sejak Indonesia merdeka telah memberikan hasil yang cukup mengagumkan sehingga secara umum kualitas sumber daya manusia Indonesia jauh lebih baik. Namun dibandingkan dengan negara-negara ASEAN lainnya Indonesia saat ini masih jauh tertingal. Oleh karena itu, upaya yang lebih aktif perlu ditingkatkan agar bangsa Indonesia tidak menjadi tenaga kerja kasar atau buruh dalam pasar tenaga kerja internasional. Upaya untuk membangun sumber daya manusia berdaya saing tinggi, berwawasan iptek, serta bermoral dan berbudaya bukanlah suatu pekerjaan yang relatif ringan untuk dilakukan. Hal ini disebabkan dunia pendidikan Indonesia masih menghadapi berbagai masalah internal yang cukup mendasar dan bersifat kompleks. Indonesia saat ini masih menghadapi sejumlah masalah yang sifatnya berantai sejak jenjang pendidikan dasar sampai pendidikan tinggi. Rendahnya kualitas pada jenjang sekolah dasar sangat penting untuk segera diatasi karena sangat berpengaruh terhadap pendidikan selanjutnya, terdapat beberapa masalah internal yang dihadapi pendidikan di Indonesia, antara lain sebagai berikut:

1. Rendahnya pemerataan kesempatan belajar disertai banyaknya peserta didik yang putus sekolah, serta banyaknya lulusan yang tidak melanjutkan ke jenjang pendidikan yang lebih tinggi.

2. Rendahnya mutu akademik seperti penguasaan ilmu pengetahuan alam (IPA), matematika, serta bahasa terutama bahasa inggris sebagai bahasa internasional yang merupakan kunci sumber daya manusia Indonesia untuk memasuki pasar tenaga kerja internasional.

3. Rendahnya efisiensi internal karena lamanya masa studi melampaui waktu standar yang sudah ditentukan.

(6)

Dengan demikian pertambahan kebutuhan akan tenaga kerja hauh lebih kecil dibandingkan pertambahan jumlah lulusan lembaga pendidikan.

5. Terjadi kecenderungan menurunnya akhlak dan moral yang menyebabkan lunturnya tanggung jawab dan kesetiakawanan sosial, seperti terjadinya tawuran pelajar. kenakalan remaja, dan masalah-masalah pelajar lainnya yang dianggap sangat kompleks.

Masalah-masalah yang terjadi diatas merupakan sedikit dari masalah-masalah tentang pendidikan di Indonesia yang menjadi pekerjaan besar bagi pemerintah dan seluruh rakyat Indonesia pada saat ini. Langkah-langkah strategis yang perlu diambil dalam menangani masalah pendidikan di Indonesia agar dapat meningkatkan daya saing sumber daya manusia Indonesia dalam pasar tenaga kerja internasional adalah sebagai berikut:

1. Pemerataan pendidikan di Indonesia. Pemerataan pendidikan dapat dilakukan jika program pemerataan ini didukung oleh seluruh pihak baik pemerintah maupun rakyat Indonesia secara keseluruhan. Pemerataan pendidikan dapat dimulai dari pembangunan infrastruktur-infrastruktur pendidikan seperti, pembangunan gedung sekolah di seluruh wilayah Indonesia dari sekolah dasar sampai perguruan tinggi, pemberian beasiswa bagi yang kurang mampu, dan pendistribusian guru-guru sampai ke pelosok negeri.

2. Peningkatan mutu akademik pendidikan. Peningkatan mutu akademik dapat dilakukan dengan berbagai cara yang salah satunya adalah meningkatkan profesionalisme guru dan pendidik. Kurikulum dan panduan manajemen yang telah disusun sedemikian rupa tidak akan berhasil dilakukan jika tanpa guru dan pendidik yang profesional. UU Sisdiknas No. 20/2003 Pasal 42 ayat (1) menyebutkan bahwa pendidik harus memiliki kualifikasi minimum dan sertifikasi sesuai dengan jenjang kewenangan mengajar, sehat jasmani dan rohani, serta memiliki kemampuan untuk mewujudkan tujuan pendidikan nasional. Uraian pasal 42 itu cukup jelas bahwa untk menjadi guru sebagai tahapan awal harus memenuhi persyaratan kualifikasi minimal. Penigkatan kualitas guru dan pendidik dapat dilakukan dengan memberikan pelatihan-pelatihan yang berkaitan dengan kurikulum yang sedang dijalankan yang berkaitan dengan hardsskill dan softskill.

(7)

KESIMPULAN DAN SARAN

Dari pembahasan diatas dapat disimpulan beberapa hal sebagai berikut:

1. Dalam penerapan AEC 2015 Indonesia memiliki peluang-peluang yang dapat dijadikan sebagai batu loncatan untuk memasuki pasar internasional yang lebih luas.

2. Dalam peningkatan kualitas sumber daya manusia yang berdaya saing tinggi yang menjadi perhatian utama ialah masalah-masalah pendidikan di Indonesia yang harus segera diselesaikan dalam rangka persiapan menuju AEC 2015 yang sebentar lagi akan datang.

Dari penulisan ini penulis memberikan saran antara lain:

1. Pemerintah harus berperan aktif dalam meningkatkan kualitas sumber daya manusia Indonesia agar dapat bersaing dengan tenaga kerja negara-negara ASEAN lainnya.

2. Perlu adanya dukungan dari seluruh lapisan masyarakat untuk membantu meningkatkan kualitas sumber daya manusia yang berdaya saing internasional.

DAFTAR PUSTAKA

Chairil, Erwin, Hardyanto, Palma, Yuhardi. (Rabu, 04 Juni 2014). Peluang dan Tantangan

Indonesia Pada ASEAN Economic Community 2015.

http://www.setneg.go.id

.

Tanggal

Akses

16-06-2015,

http://www.setneg.go.id/index.php?

option=com_content&task=view&id=7911

Prihandini, 2012. Pengaruh ASEAN Economic Community Terhadap Strategi Akuisisi Yang

Dilakukan Maybank ke BII

Gambar

Gambar 1. Karakteristik ASEAN Economic Community (Sumber: setneg.go.id)

Referensi

Dokumen terkait

c) Fokus Meja Hijau adalah proses keseluruhan pengembangan aplikasi dan teknik atau metode yang dipergunakan dalam penyelesaian permasalahan serta pertanggungjawaban revisi

Media-mediapun berbondong-bondong memberitakan kisah suksesnya dan dengan segera Merry Riana dikenal sebagai seorang entrepreneur wanita yang sukses dan menjadi Motivator

Website adalah kumpulan dari beberapa halaman web dimana informasi dalam bentuk teks, gambar, suara, dan lain-lain dipersentasikan dalam bentuk hypertext dan dapat

(3) Penyusunan penjelasan atau keterangan dan/atau naskah akademik sebagaimana dimaksud pada ayat (1) untuk rancangan Peraturan Daerah yang berasal dari anggota DPRD,

Populasi pada penelitian ini adalah lansia yang berusia 60 tahun dan atau 60 tahun keatas, mengalami demensia dan tinggal di Panti Sosial Tresna Werda Yogyakarta Unit

Metode yang digunakan yaitu analisis kurva pertumbuhan berdasarkan hubungan besarnya absorbansi dari sampel bakteriosin yang diukur dengan spektrofotometer UV-Vis pada

Sanksi hukum orang yang menikahkan pelaku poligami tanpa izin pengadilan agama dalam tinjauan hukum Islam tidak ada perbedaan tidak ada perbedaan pelaku poligami dan orang

Proses observasi yang dilakukan oleh tim pendamping, dan kemudian sangat terbantu oleh berbagai masukan, hasil dialog dengan para warga yang terlibat dalam