STUDI EKOSISTEM TERUMBU KARANG DI PULAU

Teks penuh

(1)

STUDI EKOSISTEM TERUMBU KARANG DI PULAU

MENJANGAN KECIL, CEMARA KECIL DAN CEMARA BESAR

BALAI TAMAN NASIONAL KARIMUNJAWA

Dilaksanakan dan disusun untuk dapat mengikuti ujian praktikum (responsi) pada mata kuliah Koralogi

Oleh:

Nama : Ghina Aghniatus Sholihah

NIM : H1K013008

Kelompok : 8

Asisten : Priyati Lestari

FAKULTAS PERIKANAN DAN ILMU KELAUTAN UNIVERSITAS JENDERAL SOEDIRMAN

(2)

I. MATERI DAN METODE I.1. Materi

I.1.1. Alat

Alat yang digunakan dalam praktikum koralogi ini diantaranya ialah perlengkapan snorkeling, roll meter 20 m, Coral Finder Tool, Hand Touly Counter, kartu identifikasi,

underwater camera, alat tulis bawah air, GPS.

I.1.2. Bahan

Bahan yang digunakan dalam praktikum koralogi ini diantaranya ialah

I.2. Metode

I.2.1. Pengamatan Ekosistem Terumbu Karang

Pengambilan data di lapangan dilakukan dengan metode LIT (Line Intercept Transect), Belt Transect dan pengamatan bebas. Transek dilakukan dengan membentangkan roll meter

sepanjang 10 meter sejajar garis pantai. Tunggu 10 menit untuk member kesempatan komunitas ikan karang kembali menempati habitatnya. Sepanjang transek, dicatat life form karang, jenis substrat, ikan karang, dan biota avertebrata asosiasi. Kemudian masukkan data pengamatan ke dalam table yang tersedia dan hitung persentase penutupan karang hidup. Tidak lupa juga, catat pengukuran parameter kualitas air.

I.2.2. Pengamatan Dan Identifikasi Penyakit Karang

Pengamatan dan identifikasi penyakit karang dilakukan dengan metode survey sepanjang Line Intercept Transec (LIT), jika ditemukan adanya penyakit karang (tissue loss, perubahan

(3)

I.2.3. Identifikasi Genus Karang (Coral Finder Tool)

Metode yang digunakan untuk mengidentifikasi genus karang dilakukan dengan menggunakan Coral Finder Tool. pada halaman pertama Coral Finder Tool dilihat pada kolom key group untuk melihat bentuk pertumbuhan karang yang akan diidentifikasi (apakah karang

tersebut memiliki bentuk pertumbuhan branching, massive, dll). Selanjutnya menentukan bentuk dan mengukur besar koralit pada karang tersebut menggunakan kaca pembesar dan penggaris untuk alat ukur. Setelah itu, akan langsung diarahkan pada halaman utama (look alike) yang menggambarkan bentuk koloni dan koralit karang serta satu kolom characters yang menjelaskan tentang karakteristk atau cirri khusus dari genus karang. Kemudian bandingkan karang yang sedang diamati dengan gambar karang pada kolom colony, corallites dan close up, kemudian mengkonfirmasi cirri-ciri karang tersebut dengan karakteristik kunci yaitu deskripsi dalam teks tebal pada kolom characters, langkah selanjutnya melihat gambar karang yang terdapat pada kolom scaled (skala) untuk menyesuaikan bentuk koralit karang dalam skala atau ukuran yang sebenarnya. Setelah karakteristik karang yang diamati dengan contoh karang pada Coral Finder sesuai, kemudian dicatat nama genus karang yang telah diamati sesuai dengan keterangan nama genus yang terdapat di atas gambar karang pada Coral Finder.

I.3. Waktu Dan Tempat

Praktikum ini dilakukan pada tanggal 1-2 November 2015 di Pulau Menjangan Kecil, Cemara Kecil dan Cemara Besar Karimunjawa.

(4)

A.

Gambar 1. Diadema setosum (www.thepeggs.uwclub.net) Klasifikasi menurut Arnold & Birtles 1989 adalah sebagai berikut:

Kingdom : Animalia

Phylum : Echinodermata Class : Echinoidea

Ordo : Diadematoida

Famili : Diadematoidae Genus : Diadema

Spesies : Diadema setosum

Deskripsi menurut Setiawan (2010) ialah badan hitam dengan duri panjang di bagian atas serta duri halus dan pendek di bagian bawah tubuh. Hidup di daerah terdapat banyak karang mati dan rubble. Pemakan alga bentik yang terdapat di karang mati dan rubble. Terdapat di Indo-Pasifik Barat: Laut Merah - Pulau-pulau di Indo-Pasifik Selatan dan Jepang.

(5)

Gambar 2. Echinometra mathaei (en.wikipedia.org) Klasifikasi Echinometra mathaei adalah sebagai berikut:

Kingdom : Animalia

Phylum : Echinodermata Class : Echinoidea

Ordo : Camarodonta

Famili : Echinometridae Genus : Echinometri

Spesies : Echinometra mathaei

(http://www.marinespecies.org/)

Deskripsi menurut Setiawan (2010) ialah berwarna hitam dengan duri pendek di sekujur badan berwarna coklat dan kadang di ujungnya berwarna putih. Biasa ditemukan di sela daerah berbatu di area terumbu karang, membuat lobang dan tinggal disana. Terdapat di daerah tropis dan subtropis di Indo-Pasifik Barat.

(6)

Gambar 3. Chaetodon lunula (www.oceanlight.com) Klasifikasi Chaetodon lunula adalah sebagai berikut:

Kingdom : Animalia Phylum : Chordata

Class : Actinopterygii Ordo : Perciformes

Famili : Chaetodontidae Genus : Chaetodon

Spesies : Chaetodon lunula

(http://www.fishbase.org/) Deskripsi menurut Setiawan (2010) ialah memiliki panjang max 14 cm, sangat mirip dengan C.trifasciatus dimana perbedaannya terletak di pangkal ekor yang berwarna biru abuabu. Hidup di area terumbu karang dengan range kedalaman 3-20m, juvenile bersembunyi di celah karang bercabang. Terdapat dari jepang, Hawai - Australia. Pemakan polip karang / Coralivore.

(7)

Gambar 4. Chrysiptera rollandi (animal-world.com) Klasifikasi Chrysiptera rollandi adalah sebagai berikut:

Kingdom : Animalia Phylum : Chordata

Class : Actinopterygii Ordo : Perciformes

Famili : Pomacentridae Genus : Chrysiptera

Spesies : Chrysiptera rollandi

(www.coremap.or.id) Deskripsi menurut Setiawan (2010) memiliki Panjang max 7,5 cm, warna bervariasi, umumnya badan bagian kepala kebawah hingga belakang dorsal gelap dan bagian bawahnya putih krem. Biasa ditemukan didaerah karang, karang dengan rubble, laguna.Range kedalaman 2-35 m. Terdapat Samudra Hinia timur dan Pasifik barat. Pemakan Zooplankton.

(8)

Gambar 5. Abudefduf sexfasciatus (www.reef.org) Klasifikasi Klasifikasi Abudefduf sexfasciatus adalah sebagai berikut: Kingdom : Animalia

Phylum : Chordata

Class : Actinopterygii Ordo : Perciformes

Famili : Pomacentridae Genus : Abudefduf

Spesies : Abudefduf sexfasciatus

(http://www.fishbase.org/) Deskripsi menurut Setiawan (2010) memiliki Panjang max 16 cm, badan putih dan agak kehijaun saat dewasa dengan 5 garis hitam, ciri khasnya adalah memiliki garis hitam di bagian cagak ekornya. Hidup di daerah pantai, karang berbatu dan trumbu karang yang baik. Biasa berada di karang lunak dan koloni hydroid. Range kedalaman 1 - 20 m. terdapat di Indo-Pasifik . pemakan Zooplankton dan alga / omnivore.

(9)

Gambar 6. Hemiglyphidodon plagiometopon (www.eol.org) Klasifikasi Hemiglyphidodon plagiometopon adalah sebagai berikut: Kingdom : Animalia

Phylum : Chordata

Class : Actinopterygii Ordo : Perciformes

Famili : Pomacentridae

Genus : Hemiglyphidodon

Spesies : Hemiglyphidodon plagiometopon

(http://www.marinespecies.org/)

Deskripsi menurut Setiawan (2010) memiliki Panjang max 18 cm, badan coklat gelap, bagian kepala coklat terang dengan gradasi coklat gelap di belakangnya. Juvenil berwarna kuning oranye di bagian perut dan coklat di punggungnya dengan banyak garis biru dan spot di muka dan bagian belakang. Biasa dijumpai di daerah laguna yang terlindung, pantai berkarang di daerah banyak alga dengan substrat karang becabang. Range kedalaman 1-20 m. terdapat di Thailand, China, Philippines, Indonesia, New Guinea, Laut Timor (Ashmore Reef), Australia barat, Great Barrier Reef, New Britain dan Kep. Solomon. pemakan Alga.

(10)

Gambar 7. Neopomacentrus azysron (www.picture-worl.org)

Klasifikasi Klasifikasi Hemiglyphidodon plagiometopon adalah sebagai berikut: Kingdom : Animalia

Phylum : Chordata

Class : Actinopterygii Ordo : Perciformes

Famili : Pomacentridae

Genus : Neopomacentrus

Spesies : Neopomacentrus azysron

(www.coremap.org/)

Deskripsi menurut Setiawan (2010) memiliki Panjang max 8 cm, badan abu-abu hijau kebiruan dengan sirip belakang dorsal, anal dan sirip ekor kuning. Spot hitam dipangkal sirip dada serta di operculum atas. Hidup Di daerah lereng karang dan alur karang yang lebih dalam. Dalam kelompok kecil di daerah sub-tidal. Range kedalaman 1 - 12 m. terdapat di Indo-Pasifik Barat: Afrika Timur - Kep. Indo-Malay dan Vanuatu, Taiwan, Australia, PNG dan Kep. Solomon. pemakan: Zooplankton.

(11)

Gambar 8. Amblyglyphidodon curacao (www.fishesofaustralia.net.au) Klasifikasi Amblyglyphidodon curacao adalah sebagai berikut:

Kingdom : Animalia Phylum : Chordata

Class : Actinopterygii Ordo : Perciformes

Famili : Pomacentridae

Genus : Amblyglyphidodon

Spesies : Amblyglyphidodon curacao

(www.fishesofaustralia.net.au) Deskripsi menurut Setiawan (2010) memiliki Panjang max 13 cm. Populasi di Indonesia berwarna hijau dengan garis kehitaman saat dewasanya. Papua berwarna lebih keperakan dengan garis kehijaun. Hidup di Daerah laguna dan lereng karang bagian luar, Juvenil sering terlihat dekat karang lunak jenis Sarcophyton dan Sinularia. Makan sering berkelompok didaerah karang. Range kedalaman 1 - 40 m. terdapat di Pasifik barat ( Rowley shoals, Malaysia - Samoa dan Tonga. Utara kep.Ryukyu - selatan GBR). Pemakan Zooplankton dan filamentous alga.

(12)

Gambar 9. Caesio caerulaureus(www.fishesofaustralia.net.au)

Klasifikasi Klasifikasi Caesio caerulaureusadalah sebagai berikut:

Kingdom : Animalia Phylum : Chordata

Class : Actinopterygii Ordo : Perciformes

Famili : Lutjanidae Genus : Caesio

Spesies : Caesio caerulaureus

(www.fishesofaustralia.net.au) Deskripsi menurut Setiawan (2010) adalah Panjang max 35 cm, memiliki garis kuning emas memanjang dari pangkal ekor hingga diatas mata, serta strip hitam di kedua ujung cagak sirip ekornya. Hidup di Area terumbu karang yang jernih, sering ditemukan schooling dalam jumlah besar bersama jenis caesionidae lainnya. Range kedalaman 5-50 m. terdapat Hampir diseluruh perairan Indonesia.

(13)

Gambar 10. Chrysiptera rex (www.kudalaut.eu) Klasifikasi Chrysiptera rex adalah sebagai berikut:

Kingdom : Animalia Phylum : Chordata

Class : Actinopterygii Ordo : Perciformes

Famili : Pomacentridae Genus : Chrysiptera

Spesies : Chrysiptera rex

(www.fishesbase.org) Deskripsi menurut Setiawan (2010) adalah Panjang max 7 cm. juvenil pink cerah, Bagian atas badan krem kecoklatan, kepala abu-abu. Badan bawah putih krem. Hidup di karang dari dangkal hingga lereng karang. Range kedalaman 1-20 m. terdapat sepanjang Indo-Pasifik barat. pemakan Alga.

(14)

Gambar 11. Caesio cuning (australianmuseum.net.au) Klasifikasi Caesio cuning adalah sebagai berikut:

Kingdom : Animalia Phylum : Chordata

Class : Actinopterygii Ordo : Perciformes

Famili : Lutjanidae Genus : Caesio

Spesies : Caesio cuning

(australianmuseum.net.au) Deskripsi Menurut Allen et al (2007), ikan ekor kuning dapat mencapai panjang hingga 50 cm. Ikan ekor kuning biasanya membentuk scooling yang besar dan dapat ditemui di kedalaman 1 - 60 meter. Makanan utama ikan ekor kuning merupakan zooplankton. Dari seluruh family caesionidae, spesies ini merupakan jenis yang paling toleran terhadap perairan yang keruh Spesies ini terdapat perairan laut tropis Indo-Pasifik Barat. Pemakan zooplankton.

(15)

Gambar 12. Caesio xanthonota (www.meerwasser-lexikon.de) Klasifikasi Caesio xanthonota adalah sebagai berikut:

Kingdom : Animalia Phylum : Chordata

Class : Actinopterygii Ordo : Perciformes

Famili : Lutjanidae Genus : Caesio

Spesies : Caesio xanthonota

(www.fishebase.org) Deskripsi menurut Setiawan (2010) adalah Panjang max 40 cm, berwarna biru keperakan dengan warna kuning hampir 1/2 badan hingga bagian kepala.Sirip ekor berwarna kuning. Hidup di Daerah karang namun umumnya berada di kolom perairan. Aktif schooling dengan caesionid lain di kolom perairan karang. Range kedalaman 0-50 m. terdapat di Timur Afrika hingga Indonesia (tidak di laut merah and Persia). Pemakan Zooplankton.

(16)

Gambar 13. Amphiprion ocellaris (commons.wikimedia.org) Klasifikasi Amphiprion ocellaris adalah sebagai berikut:

Kingdom : Animalia Phylum : Chordata

Class : Actinopterygii Ordo : Perciformes

Famili : Pomacentridae Genus : Amphiprion

Spesies : Amphiprion ocellaris

(www.fishesbase.org) Deskripsi menurut Setiawan (2010) adalah Panjang max 11 cm (TL), warna badan oranye dengan tiga garis putih lebar, bagian yang tengah berbentuk segitiga maju ke dekat sirip dada. Sirip ekor bulat. Hidup di Daerah karang yang dangkal dan tenang. Diurnal, protandrous hermaprodit. Berpasangan monogamy. Berasosiasi dengan anemone jenis: Heteractis magnifica, Stichodactyla gigantea, dan Stichodactyla mertensii . Range kedalaman 1-15 m. terdapat di

Indo-Pasifik barat. pemakan Omnivora.

(17)

Gambar 14. Pygoplites diacanthus (www.nature-pictures.org) Klasifikasi Pygoplites diacanthus adalah sebagai berikut:

Kingdom : Animalia Phylum : Chordata

Class : Actinopterygii Ordo : Perciformes

Famili : Pomacanthidae Genus : Pygoplites

Spesies : Pygoplites diacanthus

(www.fishesbase.org) Deskripsi menurut Setiawan (2010) adalah Panjang max 25 cm (TL), bagian mata gelap dengan garis kebiruan dekat mata. Badan kuning dengan garus lengkung putih dibatasi hitam dari dekat insang hingga pangkal ekor, dari sirip punggung hitam kebiruan. Bagian belakang sirip anal garis lengkung kuning dan biru berjalan sejajar dengan kontur tubuh; sirip ekor kuning. juvenil dengan bintik hitam besar pada bagian basal lunak sirip dorsal. Biasa terdapat didaerah karang yang sehat di laguna atau lereng karang. Soliter , berpasangan atau berkelompok. Distribusi: Indo-Pasifik. Tipe pemakan: Tunikata dan spong / zoobenthos.

(18)

Gambar 15. Pomacentrus moluccensis (okinawa-zukan.com) Klasifikasi Pomacentrus moluccensis adalah sebagai berikut:

Kingdom : Animalia Phylum : Chordata

Class : Actinopterygii Ordo : Perciformes

Famili : Pomacentridae Genus : Pomacentrus

Spesies : Pomacentrus moluccensis

(www.fishesbase.org) Deskripsi menurut Setiawan (2010) adalah Panjang max 9 cm (TL), badan kuning dengan batas sirip anal berwarna hitam. Habitat: Laguna, terumbu karang dengan banyak karang bercabang. Range 1-14 m. Distribusi: Pasifik barat. Tipe pemakan: Alga dan krustacea planktonic.

(19)

Gambar 16. Dischistodus prosopotaenia (zipcodezoo.com) Klasifikasi Dischistodus prosopotaenia adalah sebagai berikut:

Kingdom : Animalia Phylum : Chordata

Class : Actinopterygii Ordo : Perciformes

Famili : Pomacentridae Genus : Dischistodus

Spesies : Dischistodus prosopotaenia

(www.fishesbase.org) Deskripsi menurut Setiawan (2010) adalah Panjang max 17 cm (TL), badan hijau kecoklatan dengan garis putih besar. Soliter dan teritorial. Habitat: Mendiami daerah berpasir di laguna dan terumbu karang. Range kedalaman 1 – 12 m. Distribusi: Indo-west Pasifik (varian normal tersebar dari Singapura - Sulawesi, varian yang bagian dada agak kuning dari Papua - timur Australia dan Vanuatu). Tipe pemakan: Omnivora.

(20)

Gambar 17. Dischistodus melanotus (www.inaturalist.org) Klasifikasi Dischistodus melanotus adalah sebagai berikut:

Kingdom : Animalia Phylum : Chordata

Class : Actinopterygii Ordo : Perciformes

Famili : Pomacentridae Genus : Dischistodus

Spesies : Dischistodus melanotus

(www.fishesbase.org) Deskripsi menurut Setiawan (2010) adalah Ciri-ciri: Panjang max 16 cm (TL), bagian badan atas dari kepala hingga tengah dorsal hijau kehitaman dengan batas kuning dan sebagian perut bawah dekat anal. Badan putih dengan bercak pink disekitar insang. Habitat: Memilih di daerah pasir dan rubble di area laguna dan terumbu karang. Range kedalaman 1 - 12 m. Distribusi: Pasifik barat. Tipe pemakan: Alga bentik.

(21)

Gambar 18. Chaetodontoplus mesoleucus (www.kudalaut.eu) Klasifikasi Chaetodontoplus mesoleucus adalah sebagai berikut:

Kingdom : Animalia Phylum : Chordata

Class : Actinopterygii Ordo : Perciformes

Famili : Pomacanthidae

Genus : Chaetodontoplus

Spesies : Chaetodontoplus mesoleucus

(www.fishesbase.org) Deskripsi menurut Setiawan (2010) adalah Ciri-ciri: Panjang max 18 cm (TL), sekilas mirip Chaetodontidae namun dibedakan dari opercula tulang belakangnya yang kuat. Badan 2/3 hitam

abu-abu dan sisnya putih. Garis hitam memanjang dari kepala hingga bawah.sebagian muka depan kuning dengan mulut biru. Ekor kuning. Habitat: Daerah terumbu karang dan jarang di laut terbuka. Range kedalaman 1-20m. Distribusi: Indo-west pasifik (Indonesia-Jepang, SriLanka-timur. Tipe pemakan: Sponge, tunikata dan alga berfilamen / zoobenthos.

(22)

a b

Gambar . White band disease (WBD) (a) dokumentasi pribadi (b) referensi (www.whoi.edu)

WBD secara visual diidentifikasi oleh garis putih yang memisahkan jaringan hidup dari jaringan mati. Jaringan karang ditemukan pengelupasan atau peluruhan dimana kerangka yang terkena meninggalkan garis putih. Dalam kebanyakan kasus, kerangka karang tidak tetap telanjang lama, karena kekosongan digantikan oleh alga berfilamen. Ini, dikombinasikan dengan tingkat yang cepat menyebar, sebanyak 2,06 cm2 hari, memungkinkan WBD menjadi penyakit karang hanya dikenal mampu secara drastis mengubah struktur dan komposisi terumbu. (Lentz et al, 2011).

(23)

Gambar . (a) dokumentasi pribadi (b) referensi

Pola tersebar di permukaan koloni karang yang tersebar di permukaan karang kehilangan jaringan menghasilkan luka yang mungkin linier, annular atau tidak teratur dalam bentuk goresan. Kerusakan damselfish tercatat jika ada daerah baru menggores polip karang dijajah oleh rumput ganggang dan secara aktif dipertahankan oleh Stegastes spp. atau Microspathodon chrysuru. Scarids, seperti Sparisoma viride, juga dapat merusak jaringan karang. Karena kesulitan dalam menilai kerusakan koloni, kerusakan disebabkan damselfishes kadang-kadang hasil dari predasi scarid atau bekas luka dari penyakit sebelumnya.

(24)

a b

Gambar . White syndrome disease (WSD) (a) dokumentasi pribadi (b) referensi (www.eorhawaii.org)

White syndrome disease (WSD) adalah istilah untuk penyakit karang yang menunjukkan

(25)

Gambar . White Patch/Pox Disease (WPD) (a) dokumentasi pribadi (b) referensi (www.npr.org)

Dianggap eksklusif untuk Acropora palmata, penyakit cacar putih pertama kali didokumentasikan di Timur Rocks kering Reef off Key West, Florida pada tahun 1996. Koloni kerangka karang terkena penyakit cacar putih menampilkan berbentuk bercak putih tidak teratur di mana mendasari kerangka karang tersebut, biasanya dikelilingi oleh jaringan sehat. Sejak laporan pertama dari penyakit cacar putih pada tahun 1996, penyakit ini telah mempengaruhi A. palmata seluruh Karibia dan bertanggung jawab untuk penurunan 85% dalam A. palmata dari tujuh terumbu karang di Florida Keys antara 1996 dan 1999 (Muller et al, 2008).

Telah diusulkan bahwa sebagian besar penyakit karang, termasuk cacar putih, lebih banyak terjadi pada saat suhu air yang tinggi. Hubungan antara anomali suhu hangat dan sindrom putih telah didokumentasikan dari survei tahunan sepanjang Great Barrier Reef, tetapi sangat tergantung pada tutupan karang. Temperatur tinggi yang mungkin terkait dengan meningkat nya kerentanan dari karang untuk penyakit menular dan efek sekunder dari host karena anomaly suhu air tinggi (Muller et al, 2008).

II.4. Parameter Kualitas Perairan

(26)

a) Suhu

Terumbu karang dapat tumbuh berkembang optimal pada suhu 23-25 oC bahkan dengan toleransi suhu 36-40 oC (Nybakken, 1992 dalam Purbani, 2014). Kenaikan suhu 2° C - 4° C dapat merusak jaringan karang dan kenaikan 4° C - 5° C mengakibatkan kematian karang. Tingkat suhu yang ekstrim akan mempengaruhi binatang karang, seperti metabolisme, reproduksi dan pengapuran (kalsifikasi) (Supriharyono, 2000).

b) Salinitas

Salinitas optimum bagi pertumbuhan karang 32‰ - 35‰ (Nybakken, 1992 dalam Purbani, 2014). Pada perairan bersalinitas rendah seperti muara sungai jarang ditemukan terumbu karang dan pada daerah bercurah hujab tinggi akan menyebabkan terumbu karang mengalami gangguan, begitu juga pada perairan yang kadar garamnya sangat tinggi. Terumbu karang yang ada di reef flat mampu beradaptasi dalam waktu singkat dengan salinitas rendah saat terjadinya hujan, namun hujan lebat dalam waktu yang lama dengan perubahan salinitas drastis akan merusak komunitas karang di daerah tersebut (Veron, 1986).

c) pH

Menurut Tomascik et al (1997) habitat yang cocok bagi pertumbuhan terumbu karang yaitu habitat yang memiliki kisaran pH 8,2 – 8,5.

d) Kecerahan

(27)

cahaya yang cukup laju fotosintesis akan berkurang dan bersamaan dengan itu kemampuan karang untuk menghasilkan kalsium karbonat dan membentuk terumbu akan berkurang pula (Nybakken, 1992 Purbani, 2014). Faktor yang mempengaruhi penetrasi cahaya antara lain kondisi cuaca, kekeruhan dan waktu pengamatan (Supriharyono, 2000).

II.5. Identifiasi Genus Karang (Coral Finder Tool)

(28)

yang sebenarnya. Setelah karakteristik karang yang diamati dengan contoh karang pada Coral Finder sesuai, kemudian dicatat nama genus karang yang telah diamati sesuai dengan keterangan

nama genus yang terdapat di atas gambar karang pada Coral Finder.

Coral Finder merupakan buku panduan lapangan yang dikeluarkan oleh CoralHub dengan fungsi sebagai alat bantu dalam mengidentifikasi jenis karang sampai level Genus dengan 3 langkah cepat dan mudah untuk dimengerti. Coral Finder sangat cocok untuk pemula yang ingin belajar mengidentifikasi karang karena sistematis penggunaan Coral Finder ini cukup jelas dan mudah. Coral Finder merupakan 'jembatan' antara Karang Hidup yang ada di perairan dengan Buku Taksonomi Karang 'Coral of The World' dari Veron yang terdiri dari 3 Volume. Coral Finder mempermudah penggunanya dengan meringkas genus-genus karang sebanyak kurang lebih 66 Genus di daerah Indo-Pasific kedalam suatu buku panduan jenis karang yang bisa dibawa ke dalam air (Faizal, 2010).

Gambar 25. Goniastrea (coral.aims.gov.au)

(29)

Phylum : Cnidaria Class : Anthozoa

Ordo : Scleractinia Famili : Faviidae

Genus : Goniastrea (www.iucnredlist.org)

Koloni massive dan beberapa berupa lembaran atau encrusting. Koralit cerioid dengan bentuk polygonal dengan sudut yang tajam, membulat atau memanjang cenderung meandroid. Septa selalu dengan pali yang nyata dan membentuk mahkota mengelilingi kolumela. Marga ini mempunyai 10 jenis (Suharsono, 2008).

(30)

Allen G, et al. 2007. Reef Fish Identification Tropical Pasific. New World Publication, Inc. Jacksonville, Florida, USA. 457 P.

Dunsmore Rikki Grobber, victor bonito, Thomas k. frazer. 2006. Potential inhibitors to recovery

of Acropora palmata populations in St. John, US Virgin Islands. Marine ecology progress

series. Vol. 321 : 123-132.

Faizal Ibnu, 2010. Coral Finder : Cara Cepat Dalam Identifikasi Karang. Terangi, Jakarta.

Lentz Jennifer A., Jason K. Blackburn, Andrew J. Curtis. 2011. Evaluating Patterns Of A White-Band Disease (WBD) Outbreak In Acropora Palmata Using Spatial Analysis: A Comparison Of Transect And Colony Clustering. Plos One. Vol. 6 (7) : 1-10.

Muller E. M., et al. 2008. Bleaching Increases Likelihood Of Disease On Acropora Palmata (Lamarck) In Hawksnest Bay, St John, US Virgin Islands. Coral Reefs. 27:191–195. Nybakken, J.W. 1992. Biologi Laut: Suatu Pendekatan Ekologis. Penerbit : Gramedia. Jakarta. Purbani Dini,Terry Louise Kepel Dan Amadhan Takwir. 2014. Kondisi Terumbu Karang Pulau

Weh Pasca Bencana Mega Tsunami. Depik. 2 : 1-16.

Setiawan Fakhrizal. 2010. Identifikasi Ikan Karang Dan Invertebrate Laut. Wildlife Conservation Society. Manado, Indonesia.

Suharsono. 2008. Jenis-Jenis Karang Di Indonesia. Coremap. LIPI, Jakarta.

Supriharyono. 2000. Pengelolaan Ekosistem Terumbu Karang. Penerbit Djambatan. Jakarta. Raymundo L., and C. Drew Harvell. 2008. Coral Disease Handbook. Coral Reef. Melbourne,

Australia.

Veron, J.E.N. 1986. Coral Of Australia And The Indo-Pacific. Angus & Robertos. Australia. Work Thierry M., Robin Russell And Greta S. Aeby. 2012. Tissue Loss (White Syndrome) In

Figur

Gambar 1. Diadema setosum (www.thepeggs.uwclub.net)

Gambar 1.

Diadema setosum (www.thepeggs.uwclub.net) p.4
Gambar 2. Echinometra mathaei (en.wikipedia.org)

Gambar 2.

Echinometra mathaei (en.wikipedia.org) p.5
Gambar 3. Chaetodon lunula (www.oceanlight.com)

Gambar 3.

Chaetodon lunula (www.oceanlight.com) p.6
Gambar 4. Chrysiptera rollandi (animal-world.com)

Gambar 4.

Chrysiptera rollandi (animal-world.com) p.7
Gambar 5. Abudefduf sexfasciatus (www.reef.org)

Gambar 5.

Abudefduf sexfasciatus (www.reef.org) p.8
Gambar 6. Hemiglyphidodon plagiometopon (www.eol.org)

Gambar 6.

Hemiglyphidodon plagiometopon (www.eol.org) p.9
Gambar 7. Neopomacentrus azysron (www.picture-worl.org)

Gambar 7.

Neopomacentrus azysron (www.picture-worl.org) p.10
Gambar 8. Amblyglyphidodon curacao (www.fishesofaustralia.net.au)

Gambar 8.

Amblyglyphidodon curacao (www.fishesofaustralia.net.au) p.11
Gambar 9. Caesio caerulaureus (www.fishesofaustralia.net.au)

Gambar 9.

Caesio caerulaureus (www.fishesofaustralia.net.au) p.12
Gambar 10. Chrysiptera rex (www.kudalaut.eu)

Gambar 10.

Chrysiptera rex (www.kudalaut.eu) p.13
Gambar 11. Caesio cuning (australianmuseum.net.au)

Gambar 11.

Caesio cuning (australianmuseum.net.au) p.14
Gambar 12. Caesio xanthonota (www.meerwasser-lexikon.de)

Gambar 12.

Caesio xanthonota (www.meerwasser-lexikon.de) p.15
Gambar 13. Amphiprion ocellaris (commons.wikimedia.org)

Gambar 13.

Amphiprion ocellaris (commons.wikimedia.org) p.16
Gambar 14. Pygoplites diacanthus (www.nature-pictures.org)

Gambar 14.

Pygoplites diacanthus (www.nature-pictures.org) p.17
Gambar 15. Pomacentrus moluccensis (okinawa-zukan.com)

Gambar 15.

Pomacentrus moluccensis (okinawa-zukan.com) p.18
Gambar 16. Dischistodus prosopotaenia (zipcodezoo.com)

Gambar 16.

Dischistodus prosopotaenia (zipcodezoo.com) p.19
Gambar 17. Dischistodus melanotus (www.inaturalist.org)

Gambar 17.

Dischistodus melanotus (www.inaturalist.org) p.20
Gambar 18. Chaetodontoplus mesoleucus (www.kudalaut.eu)

Gambar 18.

Chaetodontoplus mesoleucus (www.kudalaut.eu) p.21
Gambar . White band disease (WBD) (a) dokumentasi pribadi (b) referensi (www.whoi.edu)

Gambar .

White band disease (WBD) (a) dokumentasi pribadi (b) referensi (www.whoi.edu) p.22
Gambar . (a) dokumentasi pribadi (b) referensi

Gambar .

(a) dokumentasi pribadi (b) referensi p.23
Gambar . White syndrome disease (WSD) (a) dokumentasi pribadi (b) referensi

Gambar .

White syndrome disease (WSD) (a) dokumentasi pribadi (b) referensi p.24
Gambar 25. Goniastrea (coral.aims.gov.au)

Gambar 25.

Goniastrea (coral.aims.gov.au) p.28

Referensi

Memperbarui...