• Tidak ada hasil yang ditemukan

Persepsi Bunyi pada Tanaman Tomat terhadap Variansi Asam Klorida

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2019

Membagikan "Persepsi Bunyi pada Tanaman Tomat terhadap Variansi Asam Klorida"

Copied!
6
0
0

Teks penuh

(1)

Persepsi Bunyi pada Tanaman Tomat terhadap Variansi Asam Klorida

Dhynie Soesila,Wiji Astuti HM, Feti Utami

Abstrak

Persepsi tanaman merupakan sebuah kemampuan untuk menanggapi rangsangan. Persepsi tanaman berubah sejalan dengan stimulus yang diberikan. Untuk memahami persepsi tanaman diperlukan transformasi dalam biokomunikasi conscious

(sadar) melalui pengukuran dan relasinya dengan kondisi morfologi tanaman, sehingga respon terhadap stimulus pada tumbuhan tersebut dapat diketahui melalui ada tidaknya perubahan kenampakan morfologi tumbuhan tersebut. Tanaman tomat memiliki keunikan pada bagian batang, karena batangnya herbaceus, memilki sedikit jaringan sekunder namun dapat tumbuh tegak. Tanaman tomat merupakan tumbuhan dikotil dengan tipe berkas pengangkut kolateral terbuka. Fokus penelitian adalah persepsi bunyi tanaman tomat terhadap variansi asam klorida yang akan divisualisasikan melalui grafik.

Metode yang digunakan adalah mixed method eksperimen. Pengumpulan data dilakukan dengan membandingkan warna batang, kerapuhan dan pengukuran persepsi bunyi tanaman tomat ketika diberikan stimulus berupa larutan HCl 3% 4,2 mL dan 37% 4,2 mL pada tanah terhadap resistensi tomat yang tidak diberikan stimulus dengan menggunakan alat VFC.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa persepsi bunyi tanaman tomat pada perlakuan HCl 3% 4,2 mL dan HCl 37% 4,2 mL terdapat perbedaan dari tahap pre test, test dan tahap post test dalam waktu 15 menit. Pada perlakuan HCl 37 % 4,2 mL morfologi batang mengalami perubahan warna dari hijau ke merah kecoklatan.

Kata kunci: Persepsi, bunyi, tanaman tomat, asam klorida.

I. PENDAHULUAN

Bumi merupakan salah satu planet yang didalamnya terdapat sejumlah kehidupan. Kehidupan di dalamnya meliputi interaksi antar makhluk hidup baik hewan, tumbuhan, manusia ataupun lingkungan abiotiknya. Makhluk hidup dalam kehidupannya selalu mengadakan interaksi terutama manusia. Manusia akan berusaha menanggapi segala bentuk rangsangan baik itu yang berupa hal yang membahayakan ataupun sebaliknya. Tidak jauh berbeda debgan tanaman, tanaman juga mampu menanggapi rangsang ketika dalam keadaan bahaya sekalipun.

(2)

Penelitian yang sebelumnya oleh Backster (1968) percobaan awalnya melibatkan lampiran elektroda untuk mengukur bagaimana daun tanaman Dracaena massangeana

mengisap air dari tanah di dalam pot di kantornya dengan menggunakan mesin pendeteksi kebohongan. Tanaman bisa bereaksi terhadap rasa sakit yang tengah di derita pemeliharanya. Suatu hari jari Backster teriris sewaktu sedang merawat tanamannya. Ketika lukanya diolesi yodium, mesin poligraf mencatat reaksi yang begitu kuat. Bisa saja hal tersebut dianggap reaksi atas sakit yang dialami Backster, tetapi ia justru berkesimpulan jika tanaman itu bereaksi terhadap matinya sejumlah sel tubuh pemiliknya. Penelitian dari Backster yang lain yaitu udang laut dan pohon anggur hasil percobaannya menunjukkan jika tanaman-tanaman itu memperlihatkan reaksi kuat ketika udang-udang laut itu mati. Hal ini berarti kemampuan persepai pada tanaman dapat berfungsi secara bebas tanpa keterlibatan manusia.

Salah satu wujud persepsi tanaman yang tidak dapat diamati namun berfungsi sebagai bentuk biokomunikasi adalah bunyi dari tanaman. Bunyi merupakan sebuah gelombang longitudinal dalam sebuah medium, tanaman mampu berkomunikasi menggunakan bunyi sebagai bentuk respon terhadap stimulus. Persepsi merupakan salah satu bentuk biokomunikasi unconscious (bawah sadar) tanaman dalam menggambarkan kondisinya, baik ketika menerima stimulus berupa senyawa kimia maupun dalam keadaan kritis mati, sehingga secara tidak langsung suatu tanaman akan langsung merespon dari stimulus yang diberikan. Dengan kata lain suatu stimulus dapat berpengaruh terhadap perkembangan dan pertumbuhan suatu tanaman atau tidak. Untuk memahami persepsi tanaman diperlukan transformasi dalam biokomunikasi conscious (sadar) melalui pengukuran dan relasinya dengan kondisi morfologi tanaman, sehingga respon terhadap stimulus pada tumbuhan tersebut dapat diketahui melalui ada tidaknya perubahan kenampakan morfologi tumbuhan tersebut.

Tanaman tomat memiliki akar tunggang, akar cabang serta akar serabut yang berwarna kepuith-putihan dan berbau khas. Perakaran tanmanan tidak terlalu dalam, menyebar ke segala arah hingga kedalaman rata-rata 30-40 cm, namun dapat mencapai kedalaman hingga 60-70 cm. Akar tanman tomat berfungsi untuk menopang berdirinya tanaman serta menyerap air dan unsur hara ke dalam tanman. Oleh karena itu, kesuburan tanaman di bagian atas sangat berpengaruh terhadap pertumbuhan tanaman, dan produksi buah, serta benih tomat yang dihasilkan (Redaksi Agromedia,2007). Menurut Lawrence 1951, Becker brink jr 1965 serta Heywood 1974 tanaman tomat diklasifikasikan sebagai berikut :

Kingdom : Plantae (Tumbuhan)

Sub Kingdom : Tracheobionta (Tumbuhan berpembuluh) Super Divisi : Spermatophyta (Menghasilkan biji) Divisi : Magnoliophyta (Tumbuhan berbunga) Kelas : Magnoliopsida (berkeping dua / dikotil) Sub Kelas : Asteridae

Ordo : Solanales

Famili : Solanaceae (suku terung-terungan) Genus : Solanum

Spesies :Solanum lycopersicum L.

(3)

daun majemuk menyirip ganjil. Bunga tomat berwarna kuning dan tersusun dalam tandan bunga yang disebut rasemosa dan terdiri atas 4-12 bunga per tandan. Bunganya hermafrodit dan aktinomorf, kalik dan korola masing-masing terdiri atas 5 sepal dan 5 petal yang saling berlekatan. Buah tomat termasuk buah buni, dengan beragam bentuk maupun ukurannya. Buah beruang 2 atau lebih yang mengandung sejumlah biji. Diameter buh 2-8 cm. Kulit buah berwarna merah atau kuning ketika masak. Warna buah ditentukan oleh pigmen likopen dan betakaroten. Likopen menyebabkan warna merah pada buah, sedangkan beta karaoten bertanggung jawab terhadap warna kuning (LIB,2015).

Clorida (Cl) merupakan salah satu unsur mikronutrien yang dibutuhkan oleh tumbuhan. Klor berfungsi sebagai pemindah hara tanaman, meningkatkan osmose sel, mencegah kehilangan air yang tidak seimbang, memperbaiki penyerapan ion lain,untuk tanaman kelapa dan kelapa sawit dianggap hara makro yang penting. Juga berperan dalam fotosistem II dari proses fotosintesis, khususnya dalam evolusi oksigen. Sedangkan bila dalam bentuk asam klorida (HCl) merupakan larutan jernih, tidak berwarna dalam air. HCl juga dapat diserap oleh tanaman sebagai nutrisi mikro Cl bila tersedia dalam konsentrasi rendah, sedangkan bila dalam konsentrasi tinggi mampu mempengaruhi dan bahkan merusak tanaman karena HCl merupakan asam pekat dengan kata lain HCl dapat memberikan stress atau cekaman pada tanaman.

Cekaman adalah segala kondisi perubahan lingkungan yang mungkin akan menurunkan atau merugikan pertumbuhan atau perkembangan tumbuhan. Sebagai bagian dari ekofisiologi, bidang ini dinamakan fisiologi cekaman. Cekaman biologis ialah segala perubahan kondisi lingkungan yang mungkin akan menurunkan atau merugikan pertumbuhan atau perkembangan tumbuhan ( fungsi normalnya ). Menurut Mulyani (2006) faktor lingkungan yang sering dialami oleh tanaman adalah cekaman dimana faktor ini akan mengurangi laju pada proses fisiologi. Dalam keadaan cekaman seperti ini tanaman memiliki cara tersendiri untuk menghadapi efek yang akan merusak pada dirinya yang ditimbulkan oleh cekaman. Setiap tanaman akan memberikan respon yang berbeda-beda untuk menghadapi cekaman, semua tergantung pada jenis tanamannya. Apabila tanaman mampu dalam menghadapi cekaman yang terjadi maka tanaman itu bisa dikatakan sebagai tanaman yang memiliki tingkat resisten yang sangat tinggi terhadap cekaman. Tanaman melakukan adapatasi pada cekaman dengan cara meekanisme morfologi dan fisiologi. Mekanisme yang paling mudah diketahui adalah morfologi karena pada mekanisme ini yang terlihat perubahannya adalah secara morfologi organ-organ tanaman yang meliputi akar, batang, daun dan lain – lain.

(4)

II. METODE PENELITIAN

` Penelitian ini dilakukan pada bulan Desember 2014. Metode yang digunakan pada penelitian ini adalah mix – methods eksperimen. Pengumpulan data dilakukan dengan membandingkan warna batang, kerapuhan dan pengukuran bunyi tanaman tomat ketika diberikan stimulus berupa larutan HCl 3% 4,2 ml pada tanah terhadap resistensi tomat dengan stimulus larutan HCl 37% 4,2 ml.

Alat yang digunakan dalam lain adalah alat ukur VFC (Voltage to Frequency Conferter), jarum pentul, laptop. Sedangkan bahan yang digunakan antara lain 2 tanaman tomat (Solanum lycopersicum), HCl dengan konsentrasi 3% dan 37% dengan volume 4,2 ml. Teknik analisis data mempergunakan audacity untuk memberikan gambaran tentang bagaimana persepsi bunyi tanaman tomat, ketika diberikan stimulus berupa HCl 3% 4,2 mL dan 37% 4,2 mL.

Cara kerja dari penelitian ini yaitu 2 tanaman tomat disiapkan dalam media tanam kemudian diukur bagian batangnya dengan menggunakan alat VFC dan dicatat hasilnya sebagai kontrol. Lalu satu tanaman tomat diberi HCl 3% dan yang satunya diberi HCl 37% dengan volume masing-masing 4,2 ml dan keduanya diukur pula dengan menggunakan VFC dan dicatat hasilnya yang berupa bunyi dan morfologi dari tanamn tomat.

III. HASIL DAN PEMBAHASAN

Penelitian menunjukkan bahwa tanaman tomat yang diberikan stimulus berupa HCl 3% 4,2 mL dan 37% 4,2 mL. Secara morfologi, tanaman tomat yang diberi stimulus 3% menunjukan pertumbuhan tanaman lebih baik, mulai dari tinggi tanamam, batang yang kokoh dan warna tanaman yang hijau dibandingkan dengan tanaman tomat diberi stimulus HCl 37%. Tanaman tomat yang diberi stimulus HCl 37% terjadi perubahan warna dan kerapuhan batang, tanaman tomat yang semula berwarna hijau segar menjadi coklat layu. Perbandingan persepsi bunyi tanaman tomat diberi stimulus 3% dan 37% dapat dilihat pada gambar dibawah ini :

1.

Gambar 1. Sebelum diberi stimulus

2.

(5)

3.

Gambar 3. Pemberian Stimulus HCl 37%

Tanaman tomat merupakan tanaman herbaceus atau bertipe batang basah, sehingga secara morfologi perubahan yang terjadi pada batang ketika diberikan stimulus akan terlihat. Pada percobaan ini digunakan perlakuan dengan penambahan HCl (asam klorida) yang disuntikan di tanah. HCl merupakan unsur hara mikro yang dibutuhkan oleh tanaman dalam jumlah sedikit, ion Cl berperan penting dalam transfer elektron didalam klorofil, sehingga terbentuk senyawa ATP berenergi tinggi. ATP yang terbentuk dapat digunakan dalam proses fotosintesis. Konsentrasi HCl 1 - 5% baik bagi tanaman, namun konsentrasi melebihi 5% akan menyebabkan tanaman layu bahkan mati. Ketika HCl dengan konsentrasi 37% disuntikan ke dalam tanah, kondisi larutan tanah yang semula encer akan menjadi pekat, ph tanah berubah menjadi asam. Sehingga jumlah anion di dalam tanah lebih banyak dari pada jumlah kation. HCl merupakan senyawa yang baik dalam menghantarkan listrik, dimana H+ adalah kation dan CL- adalah anion, apabila kation dan anion bertemu akan terjadi polarisasi menyebabkan adanya kelistrikan sehingga dapat mengantarkan muatan yang berguna bagi proses pengangkutan air dan unsur hara dari tanah ke daun.

Tanaman tomat dapat tumbuh optimal pada tanah dengan pH 5,5 – pH 6,8 tetapi tanaman tomat masih toleran pada derajat keasaman dengan pH 5 – pH 7. Derajat keasaman tanah berpengaruh terhadap kegiatan organisme tanah terutama dalam penguraian bahan organik tanah dan tersedianya zat-zat hara yang dapat diserap oleh tanaman (Bina Karya Tani, 2009).

(6)

berubah menjadi warna merah muda dan batang yang semula kokoh menjadi rapuh sehingga lama-kelamaan tumbuhan akan mati.

Pengukuran bunyi tanaman tomat dilakukan dengan alat VFC, berdasarkan grafik persepsi bunyi tanaman tomat ketika tidak diberi stimulus menunjukan intensitas bunyi yang cukup stabil yaitu pada -27 db sampai -5,8 db. Berbeda dengan tanaman tomat yang diberi stimulus HCl 3% memiliki intensitas bunyi -28,6 db sampai -7,1db dan tanaman tomat yang diberi HCl 37% sebanyak 4,2 ml dalam waktu 1 jam menunjukkan perubahan intensitas bunyi yaitu dari -29,1 db sampai -7,7db. Apabila resistensi turun maka intensitas bunyinya menurun. Intensitas bunyi yang kuat menyebabkan ikatan antar ion semakin kuat sehingga laju pengangkutan air dan unsur hara dari dalam tanah ke tumbuhan dapat berlangsung dengan lancar, namun apabila intensitas bunyi kecil atau rendah maka daya tarik menarik atau ikatan antar ion semakin lemah maka proses pengangkutan air dan unsur hara tidak berjalan lancar sebab daya hantar listrik atau daya hantar muatan yang membantu dalam proses pengangkutan air dan unsur hara juga akan semakin kecil. Pemberian HCl 37% menunjukan penurunan aktivitas pertumbuhan dari batang yang tegak berubah menjadi semakin layu. Sehingga dapat dikatakan semakin tinggi resistensi dan intensitas bunyi maka aktivitas tanaman tomat juga akan cenderung stabil. Sedangkan semakin rendah resistensi dan intensitas bunyi maka aktivitas pertumbuhan tanaman tomat akan cenderung menurun bahkan mati.

IV. KESIMPULAN

Secara morfologi, tanaman tomat yang diberi stimulus 3% menunjukan pertumbuhan tanaman lebih baik, mulai dari tinggi tanamam, batang yang kokoh dan warna tanaman yang hijau dibandingkan dengan tanaman tomat diberi stimulus HCl 37%. Tanaman tomat yang diberi stimulus HCl 37% terjadi perubahan warna dan kerapuhan batang, tanaman tomat yang semula berwarna hijau segar menjadi coklat layu. Persepsi bunyi tanaman tomat ketika tidak diberi stimulus menunjukkan intensitas bunyi yang berbeda-beda, semakin pekat pemberian konsentrasi HCl maka intensitas bunyi semakin rendah dan resistensi tanaman semakin rendah pula.

V. DAFTAR PUSTAKA

Backster, Cleve. 1968. Evidence of a Primary Perception in Plant Life: International Journal of Parapsychocology volume 4: Parapsychology foundation inc New York.

Bina Karya Tani.2009. Pedoman Bertanam Tomat. Bandung: Yrama Widya. Mulyani, Sri E. S. 2006. Anatomi Tumbuhan. Yogyakarta: Kanisius.

LIB.2015.Http:// lib.ui.ac.id/file?file=digital/124338-BIO.Diakses tanggal 30 Maret 2014. Pracaya. 1998. Bertanam Tomat. Yogyakarta : Kanisius.

Gambar

Gambar 1. Sebelum diberi stimulus
Gambar 3. Pemberian Stimulus HCl 37%

Referensi

Dokumen terkait

Penelitian Juniarini (2014) yang berjudul “Pengaruh Pendekatan Matematika Realistik terhadap Hasil Belajar Matematika Ditinjau dari Kemampuan Numerik Siswa Kelas V SD

KEKASARAN DAN RATE OF METAL REMOVAL PADA PERMUKAAN BENDA KERJA PADA PROSES ELECTRICAL DISCHARGE MACHINING DIE SINKING AKIBAT VARIASI ARUS, ON TIME DAN OFF TIME

Hasil penelitian menunjukkan ada perbedaan yang signifikan pada skala subjective well-being warga binaan pemasyarakatan antara kelompok eksperimen dan kontrol

Atas ketidakkonsistenan hasil penelitian mengenai manajemen laba maka penelitian ini perlu dilakukan untuk menguji kembali pengaruh beban pajak tangguhan dan beban

Mencuci tangan dengan sabun  adalah salah satu tindakan sanitasi dengan membersihkan tangan dan jari jemari menggunakan air dan sabun oleh manusia untuk menjadi bersih dan

Kualitas pelayanan merupakan suatu pernyataan tentang sikap, hubungan yang dihasilkan dari perbandingan antara ekspektasi (harapan) dengan kinerja (hasil).

bersedia meluangkan waktu, tenaga dan pikiran untuk memberikan bimbingan dan pengarahan dalam penyusunan skripsi ini. Segenap Dosen Pengajar Fakultas Ilmu Tarbiyah IAIN

Kompetensi kunci : Keterampilan umum yang diperlukan agar kriteria unjuk kerja tercapai pada tingkatan kinerja yang dipersyaratkan untuk peran / fungsi pada