• Tidak ada hasil yang ditemukan

FENOMENA MARAKNYA ALIRAN SESAT DI INDONE

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "FENOMENA MARAKNYA ALIRAN SESAT DI INDONE"

Copied!
16
0
0

Teks penuh

(1)

FENOMENA MARAKNYA ALIRAN SESAT

DI INDONESIA

Oleh : Galih

---

BAB I

Prinsip ke-Tuhanan dan Paham Keyakinan

Sejak sebelum Republik ini diproklamasikan, para pendahulu dan pejuang bangsa kita telah sadar akan adanya esensi nilai agama sebagai landasan negara. Hal tersebut mengacu pada kultur budaya masyarakat Nusantara yang bisa dikatakan religius, walaupun masih terdapat paham animisme dan dinamisme.

Jika kita cermati, di dalam Pembukaan UUD 1945 ataupun Pancasila yang meletakkan nilai keagamaan dalam sila pertama, mengandung arti bahwa nilai spiritual keagamaan merupakan landasan dasar pemahaman individu terhadap kehidupan kebangsaan dan kemasyarakatan.

(2)

memberikan kesejahteraan batin bagi masyarakat, selain sebagai pemenuhan hak azazi dari setiap manusia.

Namun demikian, seiring dengan perkembangan pola pikir masyarakat serta pengaruh era globalisasi telah merubah peta spiritual yang ada. Pola pikir masyarakat yang cenderung kritis, paham baru seperti sekulerisme maupun atheis serta fenomena global yang melunturkan kaidah-kaidah agama telah menggerogoti pola hidup keagamaan masyarakat, sehingga hal tersebut memunculkan paham-paham dan pengertian baru. Paham baru tersebut bukan hanya merupakans uatu bentuk prinsip dan pandangan baru bagi kaumnya, akan tetapi juga bentuk-bentuk penumpukkan ataupun pencapuran berbagai paham yang telah ada, sehingga irisan perbedaan tersebut menimbulkan banyak pertentangan dan silang pendapat yang berpotensi tindak kekerasan dan unstabilitas daerah.

(3)
(4)

BAB II

Kemunculan Paham Baru

Keyakinan merupakan hal yang paling dasar dalam setiap pemikiran manusia, demikian juga dengan agama. Banyak sekali aliran dan sekte dalam sebuah ajaran agama. Tidak hanya agama Islam saja, tetapi agama yang lain juga terdapat hal yang sama. Hal tersebut didasarkan pada pemikiran setiap insan dalam mempersepsikan pandangan sebuah ajaran agama berbeda-beda. Lingkungan, faktor pendidikan dan pengalaman menjadi sifat penentu seseorang dalam memahami suatu ajaran yang bisa menghasilkan sudut pandang yang berbeda. Apalagi di dalam kehidupan demokrasi kita mengenal kebebasan berpendapat, yang juga kebebasan memaknai ajaran agama, dan memeluk agama.

Kebebasan berpendapat tersebut memunculkan berbagai paham baru yang berkembang. Hal ini merupakan buah dari keanekaragaman yang ada di Indonesia, konsekuensi sebuah negara yang terdiri dari beragam kultur dan budaya pasti membuahkan perbedaan empati maupun simpati dalam menelaah sebuah ajaran. Perang keyakinan telah ada sejak jaman dahulu, bahkan yang terjadi dalam sebuah syiar agama adalah sebuah fenomena mempertahankan keyakinan.

(5)

tidak menghasut dan merugikan orang, serta mengganggu stabilitas norma hukum maupun norma kemasyarakatan lainnya.

Kebijakan pemerintah yang secara tegas menolak atheis memang perlu terus ditegakkan. Disamping itu ketentuan bahwa setiap warga negara wajib memeluk agama merupakan sesuatu ketentuan yang benar. Hal ini disadari bahwa keberadaan manusia merupakan kehendak-Nya dan keyakinan yang melandasi iman dan taqwa seseorang merupakan modal utama yang berguna bagi pembangunan. Seperti diketahui bahwa ilmu pengetahuan saja tidak cukup diandalkan untuk melaksanakan pembangunan. Jika hanya ilmu pengetahuan belaka, maka keterarahan implementasi manusia sangat diragukan, sisi baik dan buruk akan saling mempengaruhi, tergantung dari karakter masing-masing individu. Oleh karena itu, iman dan taqwa sangat dibutuhkan guna mengarahkan sikap dan perbuatan manusia, apalagi dalam melaksanakan pembangunan dan kegiatan kemasyarakatan yang mengikat kebutuhan dan kehidupan orang banyak.

(6)

Diterbitkannya SKB antara Departemen Agama, Departemen Dalam Negeri dan Departemen Hukum dan HAM tentang keberadaan Ahmadiyah memang banyak menimbulkan pro dan kontra di masyarakat. Hal tersebut karena pendapat yang berlainan dari masing-masing pihak. Satu pihak berpendapat bahwa Ahmadiyah melecehkan agama Islam dengan mengambil nama dan ajaran yang ada didalamnya, kemudian diubah dengan bentuk baru. Sedangkan pihak lain menghargai pendapat adanya Ahmadiyah sebagai implementasi dari adanya kebebasan memeluk agama dan menganut keyakinan sebagaimana diatur dalam undang-undang. Hal tersebut perlu ditelaah dari berbagai sisi secara naluri dengan melibatkan hati dan pikiran yang jernih.

Beberapa alasan yang menyebabkan timbulnya isme baru di kalangan masyarakat, selain karena faktor internal karakter dan keyakinan pribadi, juga karena pengaruh eksternal sebagai akibat dari (1) kurangnya nilai spiritual yang mantap dalam sistem kemasyarakatan, (2) kurang intensnya syiar agama dalam masyarakat, (3) melemahnya nilai toleransi dan interaksi antar masyarakat, (4) kesalahan tafsir kebebasan demokrasi bahwa bebas itu bisa apa saja, tetapi tidak memandang suatu ikatan nilai tertentu, (5) desakan arus global, serta (6) kemungkinan intervensi kepentingan politis tertentu.

Ajaran Lia Eden, maupun Ahmadiyah, Salamullah, Isa Bugis, Baha’i,

(7)
(8)

BAB III

Kisi-Kisi Kebijakan

Dalam setiap perbedaan ideologi tentu saja akan menghasilkan suatu ekses/dampak. Demikian pula halnya suatu pandangan teologi. Berbagai perbedaan pendapat dapat menimbulkan suatu disintegritas, kekacauan maupun tindak kriminal. Apalagi jika intervensi pihak asing turut mewarnai kehidupan spiritual umat dengan tujuan politis tertentu, seperti yang dikemukakan oleh Prof. Dr. Achmad Satori Ismail, Ketua Umum IKADI (Ikatan Da’i Indonesia).

Regulasi yang telah dibentuk pemerintah ternyata masih banyak belum bisa mengantisipasi dan mengatasi berbagai permasalahan yang timbul dari adanya paham-paham baru yang mengganggu paham yang telah eksis, sehingga menimbulkan pertentangan, bahkan celah-celah yang bisa menggerogoti eksistensi dan kredibilitas negara sebagai penyelenggara pelayanan pemerintah serta pembangunan, terutama pembangunan spiritual. Berbagai kajian dan seminar telah diselenggarakan sebagai upaya menyadarkan pemerintah tentang pentingnya kejelasan dan ketegasan regulasi. Namun demikian, langkah bijak yang ditempuh pemerintah masih jauh dari yang diharapkan masyarakat, bahkan kebijakan baru yang aspiratif terhadap pendapat masyarakat belum terrealisasi.

(9)

masalah besar jikalau pemerintah mampu membentuk suatu persepsi baru dan keseragaman persepsi mengenai toleransi beragama. Disamping itu, ketegasan dan kejelasan yang menyebutkan penyimpangan bentuk agama lain, ataupun pengalihan ajaran dan keyakinan, serta mengatasnamakan agama tertentu dengan syariat yang berbeda dan menyimpang adalah salah dan suatu tindakan melanggar hukum yang bisa dijatuhi sanksi. Dengan upaya tegas tersebut pemerintah sebenarnya bisa mengendalikan maraknya keyakinan semu dan pembajakan ajaran agama yang ada di masyarakat. Keyakinan pribadi sesungguhnya hak pribadi yang tabu untuk disebarkan kepada publik. Dikawatirkan hal tersebut dapat pula mempengaruhi dan membujuk publik, sehingga menimbulkan kelompok-kelompok baru yang saling bertentangan.

Secara politik sangat disadari, agama memiliki peran yang besar. Bahkan sebagian percaturan politik di Indonesia didominasi oleh kalangan agama. Tokoh agama – tokoh agama banyak yang melimpah kedudukan dan jabatannya sebagai tokoh politik. Hal tersebut dikarenakan masyarakat Indonesia sangat menghargai keyakinan terhadap Tuhan Yang Maha Esa, sehingga ceramah maupun saran dan masukan yang dilontarkan tokoh agama sangat berpengaruh terhadap opini, pendapat, dan persepsi masyarakat. Tokoh agama juga merupakan tokoh masyarakat yang memiliki kekuatan untuk membentuk dan mengubah karakter publik, serta sebagai pemimpin yang mampu menggerakan massa. Sehingga pengikut para tokoh agama ini berpeluang menentukan posisi politik sebuah ideologi yang mengemudikan roda bangsa.

(10)

menjadi wahana untuk mengkotak-kotakkan persatuan bangsa, tetapi juga melemahkan kondusivitas wilayah.

Semua agama memandang hidup sebagai sebuah anugerah dan tugas dalam mengisi kehidupan dengan perbuatan mulia yang diyakini sebagai suatu hal yang wajib dan harus dilakukan. Dalam melaksanakan tugas di muka bumi ini, para pemeluk agama tentunya memerlukan suatu kelengkapan, termasuk di dalamnya adalah kemampuan ekonomi, walaupun ada suatu pandangan bahwa ekonomi yang dipergunakan untuk menjalani kehidupan hanya berupa cakupan finansial seadanya, tidak lebih dari kata sederhana. Namun antara keyakinan dan ekonomi tidak ada benang merah yang tebal, paling tidak hanya berupa tuntunan-tuntunan dalam menyelenggarakan roda perekonomian berbasis syariat agama.

(11)

Mengakomodir kompleksitas permasalahan tersebut diatas, pemerintah hendaknya mampu memberikan suatu sarana advokasi dan fasilitasi yang melibatkan para tokoh masyarakat, tokoh agama dari segala sekte guna menyatukan pendapat, opini dan persepsi mengenai berbagai hal yang perlu diatur. Kapasitas dan kredibilitas masing-masing pemuka publik diharapkan membentuk suatu solusi bagi pemenuhan kebutuhan spiritual masyarakat. Dengan mufakat yang dicapai dari semua kalangan agamawan yang ada, kebijakan pemerintah dapat dibentuk untuk memenuhi kebutuhan masing-masing umat agama, sekaligus juga memberikan jalan keluar adanya kejadian sebagai akibat dari asimilasi dan akulturasi budaya agama yang ada.

Fenomena aliran baru bukan sesuatu hal yang gampang dimengerti. Ini adalah fenomena yang halus, tapi rumit. Makanya, ketika ada protes menentang aliran baru dan diikuti aksi main hakim sendiri, sangat jelas hal itu mengisyaratkan bahwa orang Indonesia pada umumnya sangat peduli pada masalah etis, seperti berbagai masalah yang menjadi topik nasional yang biasanya berkaitan dengan agama, nilai masyarakat, adat, maupun harga diri.

Mengingat hal itu, kriteria politik menjadi suatu pandangan yang penting untuk lebih diperhatikan. Kondisi pluralitas dan kebhinnekaan yang ada di tubuh NKRI sangat berpotensi menjadi sebuah chaos yang merugikan, bahkan mengancam integrasi bangsa. Untuk itu, stabilitas dan kondusivitas menjadi titik penting tujuan pembangunan spiritual melalui pemenuhan kebutuhan masyarakat dalam menganut dan menjalankan ajaran agama sesuai dengan keyakinannya.

(12)

perlu lebih digalakkan. Solidaritas sosial dapat mengikis dampak negatif munculnya berbagai paham yang menyimpang, yang saling merugikan dan menimbulkan perpecahan, selain sebagai wahana memperkokoh persatuan dan kesatuan bangsa. Yang terpenting dari itu semua adalah bagaimana kita menyikapi perbedaan-perbedaan yang ada tersebut secara arif, bukan sebuah selisih, akan tetapi menghargainya sebagai ruas jalan yang berbeda dalam menggapai satu impian yang sama.

Agama kita adalah agama terbaik bagi kita, belum tentu bagi yang lainnya. Masalah pluralitas memang sering menggerus keutuhan negeri ini, bahkan kadang-kadang berada pada level yang sangat mengerikan. Oleh karena itu, hendaknya keberagaman itu bukan harus dirayakan, tapi suka atau tidak suka, itu adalah takdir yang menjadi tanggung jawab bersama ketika kita berbagi dalam sebuah negara.

Kesampingan perbedaan dan selisih yanga ada, hal lain yang justru lebih penting adalah memaknai perbedaan sebagai potensi yang mendukung pembangunan. Upaya tersebut dapat diwujudkan melalui pembuatan kebijakan-kebijakan yang lebih penting bagi pencapaian tujuan pembangunan masyarakat yang madani, termasuk dalam segi pemenuhan kebutuhan spiritual masyarakat dengan dititikberatkan pada :

(13)

keagamaan dalam suatu hubungan interaksi yang harmonis guna mewujudkan cita - cita bersama, menyejahterakan masyarakat;

(2) Meningkatkan mutu dan relevansi pendidikan formal dan informal keagamaan, hal ini dimaksudkan agar masyarakat dapat memperoleh pendidikan agama, sehingga kedepannya kualitas spiritual masyarakat bertambah tebal, secara internal lebih sadar akan arti penting agama dan pengaruh pola – pola yang merusak agama, serta secara ekternal tidak mudah goyah oleh berbagai pengaruh baru yang muncul.

Mengenai berbagai bentuk paham baru yang telah berkembang dalam masyarakat, terlepas dari segala bentuk penyebabnya, tentu saja kita tidak dapat membenarkan apa yang dilakukan oleh penganut aliran yang sedang naik daun, tetapi menolaknya dalam hal ini bukan berarti mematikan demokrasi dalam menghargai pendapat orang. Jika hal tersebut hanya berupa wacana, berarti itu adalah sebuah opini yang harus kita hargai, karena berbicara tentang kepercayaan adalah sesuatu yang sangat khusyuk dan Ilahi sehingga keragaman memahami Tuhan memang sangat mungkin terjadi. Bahkan, bagi banyak orang, memahami kebenaran adalah sebuah proses pencarian tiada henti, bukan sebuah status quo yang stagnan. Akan tetapi jika hal tersebut telah berkembang menjadi sebuah organisasi ataupun kegiatan yang bisa meresahkan masyarakat, menyelewengkan nilai-nilai susila dan hukum, serta mengatasnamakan agama lain itu adalah suatu hal yang harus ditindak secara tegas.

(14)

tindak keresahan yang sudah mengacu pada perpecahan adalah kewenangan aparat kepolisian untuk menindaklanjuti.

Selain itu, upaya yang paling penting juga adalah diterbitkannya aturan baku yang jelas dan tegas mengatur tentang agama yang ada di Indonesia, mengatur bagaimana menghargai, bertoleransi, kriteria

(15)

BAB IV

Sikap positif

Urusan teologi, memang sudah sepantasnya menjadi urusan pihak organisasi keagamaan seperti Muhammadiyyah, MUI, NU, PHDI, WALUBI, dsb untuk berkecimpung secara mendalam membina umat dan mengamati apa yang berkembang di masyarakat. Bersamaan dengan itu, informasi dari masyarakat dan peran pengawasan pemerintah melalui Kanwil Depag hendaknya juga lebih diintensifkan. Hal demikian dapat mencegah terjadinya pengartian bebas menganut keyakinan dan memeluk serta memaknai agama, sehubungan dengan meluasnya perkembangan paham baru yang menyimpang. Untuk itu pengawasan secara terus menerus dan sikap preventif dalam menyebarluaskan kemaslahatan spiritual, hendaknya lebih ditingkatkan. Demikian pula dengan bimbingan yang diberikan secara terus menerus serta monitoring juga perlu diintensifkan, karena berdayaguna untuk menjauhkan munculnya paham yang menyimpang dari pakem.

(16)

Hal kedua yang perlu ditekankan adalah kedekatan tokoh agama dengan masyarakat. Apalagi didalam perkembangan dunia global yang membawa banyak pilihan, masyarakat sangat memerlukan suatu rujukan yang logis dan religius. Selain sebagai pembentuk public opinion, tokoh agama menduduki peran yang penting dalam hal integrasi bangsa. Kedekatan tokoh agama dengan masyarakat inilah yang berperan sebagai tonggak persatuan. Karena kesadaran toleransi dan keuletan religius berdayaguna sebagai modal bangsa untuk melanjutkan pembangunan dan mengikis riak-riak disintegritas.

Hubungan yang selaras antara tokoh agama dan masyarakat disamping untuk menjembatani aspirasi rakyat untuk sampai kepada pemerintah, sekaligus juga secara internal menjadi indikator perkembangan keagamaan yang ada dalam masyarakat.

Dengan harmonisasi interaksi yang erat, penyimpangan ajaran bisa ditekan, Tri Kerukunan Umat Beragama terpelihara, serta stabilitas wilayah akan terwujud dengan kondusif. Iklim yang demikian merupakan sarana utama melanjutkan pembangunan dan daya tarik investasi yang kesemuannya dapat menjadi wahana akselerasi mewujudkan kesejahteraan masyarakat lahir dan batin. (G/*)

Referensi

Dokumen terkait

Varian somaklonal yang muncul pada tanaman hasil kultur in vitro lebih beragam, yaitu percabangan melebar, percabangan berlebihan, daun pentafoliat, steril partial,

Berdasarkan hasil penelitian yang peneliti lakukan dapat diambil simpulan sebagai berikut: Peningkatan kemampuan membaca anak Taman Kanak kanak sering menjadi

Penerapan halal lifestyleI sudah banyak dilakukan pada berbagai bidang tersebut, jika dalam pasar modal syariah penerapan halal lifestyle dengan mengubah investasi dalam

dari pemegang hak cipta.. iii Universitas Indonesia.. iv Universitas Indonesia.. v Universitas Indonesia Puji syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT, karena

Dibawah ini merupakan salah satu ruang lingkup Cyber Law yang diartikan sebagai pencemaran nama

Berdasarkan kedua model yang dikembangkan, yaitu model penambahan inhibitor pada saat awal maupun model penambahan inhibitor secara kontinu (lihat Gambar 8 dan Gambar 11),

(2) Permohonan pembetulan, pembatalan, pengurangan ketetapan dan penghapusan atau pengurangan sanksi administratif atas SKPDKB BPHTB, SKPDKBT BPHTB dan STPD BPHTB

Berdasarkan analisis data tersebut, dapat dianalisis bahwa siswa yang mengalami miskonsepsi sebesar 18%, tidak paham konsep 14%, memahami konsep 31%, paham sebagian