Peran Aktif Mahasiswa dalam Mewujudkan IAIN sebagai Pusat Islamic Studies
Dengan:
Membangun dan Memperkuat Basis Kajian Keilmuan melalui organisasi Oleh: Sufi Sahlan Ramadhan
Islamic Studis atau studi islam secara harfiah adalah kajian-kajian mengenai hal-hal yang berkaitan dengan islam. Berbicara tentang kajian bisa berarti suatu penelaahan secara mendalam, pembahasan, penelitian, dan sejenisnya baik yang dilakukan secara individual, kelompok atau forum tertentu. Kajian ini bertujuan untuk memperoleh jawaban terhadap suatu persoalan, baik itu jawaban filosofis/teoritis, teknis operasional maupun jawaban deskripsi/pemetaan.1
Secara umum, arah dan tujuan studi islam dapat dirumuskan sebagai berikut:2
1. Untuk mempelajari secara mendalam tentang apa sebenarnya hakikat gama islam itu, dan bagaimanaposisi sertaa hubungannya dengan agama-agama lain dalam kehidupan budaya manusia.
2. Untuk mempelajari secara mendalam pokok-pokok isi ajaran agama islam yang asli, dan bagaimana penjabaran serta operasionalisasinya dalam pertumbuhan dan pengembangan budaya dan peradaban islam sepanjang sejarah.
3. Untuk mempelajari secara mendalam sumber dasar ajaran agama islam yang tetap abadi dan dinamis, dan bagaimanaa aktualisasinya.
4. Untuk mempelajari secara mendalam prinsip-prinsip dan nilai-nilai dasar ajaran agama islam, dan bagaimana realisasinya dalam membimbing dan mengarahkan serta mengontrol perkembangan budaya dan peradaban manusia pada zaman modern ini. Ketika berbicara mengenai islamic studis dalam pengembangan sebuah institut, maka tidak bisa dilepaskan dari sebuah lembaga pendidikan islam. IAIN merupakan lembaga pendidikan formal yang secara resmi menyelenggarakan kegiatan pembelajaran secara sistematis, terencana, sengaja, dan terarah yang dilakukan oleh pendidik profesional dengan program yang dituangkan ke dalam kurikulum tertentu.3 Maka dapat diambil sebuah pengertian bahwa studi islam di IAIN merupakan kajian-kajian mengenai hal-hal yang berkaitan dengan Islam dalam perspektif keilmuan.
Sementara itu, kajiian keilmuan Islam juga tidak bisa dilepaskan dari Al-Qu’an dan Hadis
yang menjadi pokok dan dasar dari ajaran agama Islam. Namun pengertian ini seringkali
1 Buseri, Kamrani. Antologi Pendidikan Islam dan Dakwah. (Yogyakarta: UII Press, 2003).hlm. 135.
2 http://stydyislam.blogspot.com/2012/01/pengertian-studi-islam.
dimaknai secara sangat terbatas sehingga menimbulkan kesan dikotomi ilmu pengetahuan. Dikotomi tersebut bisa dilihat dari cap (stigma) yang diberikan kepada Perguruan Tinggi Islam (PTI) sebagai sebuah lembaga pendidikan yang hanya mengkaji tentang keagamaan saja. Cap ini tidak hanya datang dari masyarakat tapi juga dari pemerintah yang tentunya secara tidak langsung berdampak pada lambannya pengembangan kajian keilmuan di PTI dalam hal ini IAIN. Oleh karena itu, perlu sekiranya penulis sampaikan tujuan pendidikan Islam menurut para ahli:4
1) Naquib al-Attas menyatakan bahwa tujuan pendidikan yang penting harus diambil dari pandangan hidup (philosophy of life). Jika pandangan hidup itu islam maka tujuannya adalah membentuk manusia sempurna (insan kamil) menurut islam.
Pemikiran naquib al-Attas ini tentu masih bersifat global dan belum operasional. Definisi tersebut mengandaikan bahwa semua proses pendidikan harus menuju pada nilai kesempurnaan manusia. Insan kamil atau manusia sempurna yang diharapkan tersebut hendaknya diberikan indikator-indikator yang dibuat secara lengkap dan diperjenjang sesuai dengan jenis dan jenjang pendidikan sehingga tujuan pendidikan tersebut dapat operasional dan mudah diukur.
Namun satu hal yang dapat penulis tangkap dari pendapat tesebut bahwa pandangan hidup yang dimaksud mengarah pada keluasan dimensi kehidupan manusia. Islam bukanlah merupakan pandangan hidup yang ekslusif. Islam membuka diri pada aspek geografis dan sosio-cultural dimana ia berkembang dan dihayati pemeluknya.
2) Muhammad athiyah al-Abrasyi merumuskan tujuan pendidikan islam secara lebih rinci. Dia menyatakan bahwa tujuan pendidikan islam adalah untuk membentuk akhlak mulia, persiapan menghadapi kehidupan dunia-akhirat, persiapan untuk mencari rizki, menumbuhkan semangat ilmiah, dan menyiapkan profesionalisme subjek didik. Dari lima tujuan pendidikan tersebut semuanya harus menuju pada titik kesempurnaan yang salah satu ndikatornya adalah adanya nilai tambah secara kuantitatif dan kualitatif.
3) Umar muhammad at-Taumi asy-Syaibani mengemukakan bahwa tujuan tertinggi dalam pendidikan islam adalah persiapan untuk kehidupan dunia dan akhirat. Bagi asy-Syaibani, tujuan pendidikan adalah untuk memproses manusia yang siap untuk berbuat dan memakai fasilitas di dunia ini guna beribadah kepada Allah, bukan manusia siap pakai dalam arti siap dipakai oleh lembaga, pabrik atau yang lainnya. Jika yang terakhir ini dijadikan tujuan dan orientasi pendidikan maka pendidikan hanya ditujukan sebagai alat produksi tenaga kerja dan memperlakukan menusia
sebagai mesin dan robot. Pendidikan seperti ini tidak akan mencetak manusia trampil dan kreatif yang memiliki kebebasan dan kehormatan.
4) Ali khalil abu al-‘Ainaini mengemukakan bahwa hakikat pendidikan Islam adalah perpaduan antara pendidikan jasmani, akal, akidah, akhlak, perasaan, keindahan, dan kemasyarakatan. Adanya nilai keindahan atau seni yang dimasukkan oleh al-‘Ainaini dalam tujuan pendidikan agak berbeda dengan definisi yang dikemukakan para ahli lainnya. Keindahan dan seni memang harus dieksplisitkan karena kesempurnaan secara riil pada akhirnya ada pada nilai seni. Jika sesuatu tersebut telah menyentuh wilayah seni maka kesempurnaan dan keindahan dari sesuatu tersebut sudah riil dan menjadi bagian darinya.
5) Konferensi pendidikan islam di makkah (1977) merumuskan tujuan pendidikan yaitu untuk menimbulkan pertumbuhan yang seimbang dari seluruh kepribadian total manusia melalui latihan spiritual, intelektual, rasional diri, perasaan, dan kepekaan tubuh manusia, oleh karena itu pendidikan seharusnya memenuhi pertumbuhan manusia dalam seg la aspeknya: spiritual, intelektual, imajinatif, fisik, ilmiah, linguistik, baik secara individual maupun secara kolektif dan memotivasi semua aspek untuk mencapai kebaikan dan kesempurnaan. Tujuan terakhir pendidikan islam adalah perwujudan penyerahan mutlak kepada allah, baik pada tingkat individu, masyarakat, maupun kemanusiaan pada umumnya.
Pernyataan tersebut telah memberikan arah, wawasan, orientasi, dan tujuan pendidikan Islam yang sepenuhnya bertitik tolak dari ajaran Islam itu sendiri, yaitu membentuk manusia yang berkepribadian muslim yang bertakwa dalam rangka melaksanakan tugas kekhalifahan dan peribadatan kepada Allah untuk mencapai kebahagiaan hidup di dunia dan akhirat. Semua definisi tentang tujuan pendidikan tersebut secara praktis bisa dikembangkan dan diaplikasikan dalam sebuah lembaga yang mampu menguntegrasikan, menyeimbangkan, dan mengembangkan kesemuanya dalam sebuah institusi pendidikan. Indicator-indikator yang dibuat hanyalah untuk mempermudah capaian tujuan pendidikan, dan bukan untuk membelah dan memisahkan antara tujuan yang satu dengan tujuan yang lain.
Eksistensi Mahasiswa
terhadap terminologi perguruan tinggi (IAIN) tidak bisa dilepaskan dari suplemen utama, yaitu mahasiswa.5 Diskusi yang muncul dalam diskursus perguruan tinggi selama ini cenderung berpusat pada kehidupan mahasiswa. Seperti tema paper ini yang menempatkan mahasiswa sebagai subjek dalam pengembangan IAIN sebagai pusat Islamic Studies. Hal ini sebagai konsekuensi logis sebagai agrevitas mereka dalam merespon sebuah perubahan ketimbang kelompok lain dari sebuah simtem civitas akademika.
Dalam konteks pengembangan keilmuan di PTI atau dalam hal ini IAIN, secara konkret hal-hal yang dapat dilakukan mahasiswa dalam sebuah basis kajian antara lain:
1) Peningkatan kajian terhadap bidang ilmu di IAIN yang mencakup tiga hal: aqidah, muamalah, dan akhlaqul karimah.
2) Pendalaman sampai tahap operasional mengenai studi bahasa asing (arab-inggris). Proses pembelajaran dengan menggunakan bahasa asing merupakan upaya yang patut dilakukan mengingat sarjana saat ini dituntut untuk mampu memahami dan mengkomunikasikan ilmu dalam wilayah yang tidak terbatas dengan menggunakan bahasa internasional.
3) Peningkatan kreativitas dan probduktivitas dalam karya tulis ilmiah. Hal ini karena komunikasi keilmuan lewat karya tuklis ilmiah yang dapat diakses secara nasional maupun internasional merupakan promo gratis dan memiliki gengsi keilmuan yang tinggi.
4) Menempatkan Al-Quran dan Sunnah tidak hanya diposisikan sebagai ilmu, tetapi juga harus diposisikan sebagai dasar yang melandasi pemikiran dan tulisan sehingga perkembangan IPTEK akan tetap dalam bingkai spirit Al-Quran dan Sunnah.
5) Pendampingan terhadap kebijakan kampus agar tetap sejalan dengan pengembangan kompetensi mahasiswa dan pengembangan kajian keilmuan Islam itu sendiri.