• Tidak ada hasil yang ditemukan

EFFORT INCREASING MATH LEARNING ACHIEVEMENT ON MATERIAL OPERATION OF MIXED ASSEMBLY WITH THINK PAIR SHARE APPROACH IN CLASS IV SDN 2 SIDOREJO PANGKALAN BUN

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "EFFORT INCREASING MATH LEARNING ACHIEVEMENT ON MATERIAL OPERATION OF MIXED ASSEMBLY WITH THINK PAIR SHARE APPROACH IN CLASS IV SDN 2 SIDOREJO PANGKALAN BUN"

Copied!
8
0
0

Teks penuh

(1)

UPAYA MENINGKATKAN PRESTASI BELAJAR MATEMATIKA PADA MATERI OPERASI HITUNG CAMPURAN DENGAN PENDEKATAN THINK PAIR SHARE

(TPS) PADA KELAS IV SDN 2 SIDOREJO PANGKALAN BUN

Kastaniah

Sekolah Dasar Negeri 02 Sidorejo

Jl. Jenderal Sudirman No. 43 Kode Pos 74112 Pangkalan Bun

Abstrak

Matematika merupakan salah satu ilmu dasar dewasa ini yang telah berkembang sangat pesat baik dari segi materi maupun kegunaannya. Oleh sebab itu, konsep-konsep dasar matematika harus dikuasai anak sejak dini yang pada akhirnya terampil dan dapat menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari. Alasan pemilihan judul dalam penelitian ini adalah karena dari tahun ke tahun masalah yang dihadapi oleh siswa hampir sama, yaitu banyak siswa mengalami kesulitan pada saat menyelesaikan soal pada operasi hitung campuran. Dengan menggunakan pendekatan think pair share (TPS) diharapkan dapat meningkatkan prestasi belajar siswa kelas IV SDN 2 Sidorejo dalam materi operasi hitung campuran. Metode dalam penelitian ini adalah terdiri dari dua siklus dimana tiap siklus meliputi perencanaan, tahap pelaksanaan, pengamatan, dan refleksi. Adapun yang menjadi objek penelitian adalah siswa kelas IV SDN 2 Sidorejo tahun pelajaran 2015/2016 sebanyak 29 siswa yang terdiri dari 15 siswa laki-laki dan 14 siswa perempuan. Berdasarkan hasil penelitian, partisipasi siswa dalam proses belajar mengajar dari siklus I sebesar 65,51% menjadi 86,21% pada siklus II, sehingga diperoleh peningkatan 20,7 %.

Katakunci : pendekatan think pair share (TPS), hasil belajar siswa dan matematika

EFFORT INCREASING MATH LEARNING ACHIEVEMENT ON MATERIAL OPERATION OF MIXED ASSEMBLY WITH THINK PAIR SHARE APPROACH

IN CLASS IV SDN 2 SIDOREJO PANGKALAN BUN

Abstract

Mathematics is one of the basic science today that has grown very rapidly both in terms of material and its usefulness. Therefore, the basic concepts of mathematics must be mastered by children from an early age who are ultimately skilled and able to apply them in everyday life. The reason of the title selection in this research is because from year to year the problems faced by students are almost the same, that is, many students have difficulty when solving the problem on mixed count operation. By using think pair share approach (TPS) is expected to improve student achievement grade IV SDN 2 Sidorejo in material mixed count operations. The method in this research consists of two cycles where each cycle includes planning, implementation stage, observation, and reflection. As for the object of research is the fourth grade students SDN 2 Sidorejo 2015/2016 school year as many as 29 students consisting of 15 male students and 14 female students. Based on the result of research, student participation in teaching and learning process from cycle I is 65,51% to 86,21% in cycle II, so that obtained 20,7% increase.

Keyword : think pair share approach, student learning outcomesand mathematics

PENDAHULUAN

Matematika merupakan salah satu ilmu dasar yang telah berkembang sangat pesat baik dari segi materi maupun kegunaannya. Oleh sebab itu, konsep-konsep dasar matematika harus dikuasai anak sejak dini yang pada akhirnya terampil dan dapat menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari. Pelajaran matematika di sekolah berfungsi mengembangkan kemampuan menghitung, mengukur, menurunkan dan menggunakan rumus matematika yang diperlukan dalam kehidupan sehari–hari melalui pengukuran dan geometri, aljabar, peluang dan statistika, kalkulus dan trigonometri. Matematika juga berfungsi mengembangkan kemampuan mengkomunikasikan gagasan melalui model matematika yang dapat berupa kalimat dan persamaan matematika, diagram, grafik atau tabel.

(2)

kemampuan menyampaikan informasi atau mengkomunikasikan gagasan antara lain melalui pembicaraan lisan, grafik, peta, diagram dalam menjelaskan gagasan.

Dengan diterapkannya kurikulum 2006 yaitu kurikulum berbasis kompetensi diharapkan siswa dapat aktif dalam belajarnya. Oleh sebab itu guru harus mampu merangsang pemikiran siswa, membiarkan siswa mengungkapkan gagasan dan konsepnya sehingga dengan sendirinya siswa dapat aktif dan kreatif dalam membangun pengetahuan dan pemahamannya. Dengan demikian diharapkan dapat meminimalisasi siswa yang mengalami kesulitan dalam belajarnya sehingga hasil belajar dapat lebih meningkat. Untuk mengetahui penyebab kesulitan belajar yang dialami siswa peneliti melakukan observasi awal di lapangan dan wawancara langsung dengan guru yang bersangkutan dan dari observasi awal diketahui beberapa hal yaitu antara lain kondisi kelas yang akan diteliti di mana kelas empat hanya ada satu kelas dan siswa dalam kelas berjumlah 29 orang siswa, sedangkan pola pembelajaran yang digunakan masih menggunakan pembelajaran langsung, yang hal ini terlihat dari guru sebagai penyampai informasi atau materi dan siswa hanya duduk, mendengarkan, memperhatikan, mencatat dan sesekali tanya jawab antara guru dan siswa.

Hal di atas diperkuat dari hasil wawancara dengan siswa SDN 2 Sidorejo yang menyatakan bahwa siswa paling banyak mengalami kesulitan dan memahami materi termasuk materi operasi hitung campuran bilangan bulat, Peneliti juga menganggap pembelajaran pada pokok bahasan ini bermasalah karena nilai rata-rata dari ulangan harian hanya mencapai 5,8. Padahal dalam sistem penilaian Kurikulum Berbasis Kompetensi siswa dianggap tuntas belajar apabila mendapat nilai minimal 7,5 untuk ranah kognitif. Selain itu juga selama ini pembelajaran yang dilakukan masih mengutamakan guru sebagai pusat atau sumber pemberi informasi dan siswa hanya mengharapkan atau mengandalkan penjelasan dari guru saja dan siswa tidak dituntut aktif dan kreatif dalam membangun pemahaman mereka terhadap materi yang diajarkan, sehingga kesempatan siswa mengalami kesulitan dalam belajarnya sangat besar. Diketahui pula bahwa siswa kelas IV tidak dikelompokkan berdasarkan kepintarannya.

Untuk mengatasi persoalan di atas maka pengajaran matematika senantiasa harus berkembang dinamis, tidak hanya terpaku pada pola tertentu saja, melainkan harus dicari alternatif lain agar diperoleh hasil pembelajaran yang ingin dicapai. Keadaan ini menunjukkan perlu adanya pembenahan pada proses pembelajaran dan salah satu upaya untuk memperbaikinya dengan cara menerapkan model pembelajaran yang mampu meningkatkan aktivitas dan hasil belajar siswa. Selain itu melalui proses pembelajaran berbagai keterampilan siswa diantaranya bekerja sama, memecahkan masalah dan menghargai pendapat orang lain harus dikembangkan. Sementara itu keragaman yang terjadi pada siswa juga berpengaruh pada pelaksanaan proses pembelajaran. Misalnya saja perbedaan suku, agama, ras, kelas sosial, kemampuan maupun ketidakmampuan yang ada sehingga siswa membutuhkan rasa persatuan dan kesatuan dalam proses belajar mengajar ataupun dalam kehidupan sosial. Sehingga dibutuhkan suatu pembelajaran yang kondusif, terbuka dan demokratis antara guru dengan siswa maupun siswa dengan siswa.

Salah satu model pembelajaran yang dapat digunakan untuk membantu siswa SDN 2 Sidorejo dalam meningkatkan aktivitas dan hasil belajar siswa tentang materi operasi hitung campuran pada bilangan bulat adalah dengan menerapkan model pembelajaran kooperatif dengan pendekatan think pair share (TPS). Model pembelajaran yang monoton dapat mengurangi motivasi siswa untuk belajar, karena siswa merasa jenuh dengan model pembelajaran yang sama secara terus menerus diberikan guru. Keluhan guru kelas pada umumnya adalah sikap siswa yang kurang aktif mengikuti penyajian materi matematika. Jika hal ini yang terjadi maka dengan sendirinya hasil belajarnya dapat menurun. Berdasarkan uraian diatas, penelitian ini fokus pada upaya meningkatkan prestasi belajar matematika pada materi operasi hitung campuran melalui pendekatan think pair share (TPS).

METODE PENELITIAN

(3)

penelitian ini, peneliti bertindak sebagai pengajar yang mengajar siswa dengan berpedoman pada rencana pembelajaran.

Jenis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data kualitatif dan kuantitatif. Data kualitatif digunakan karena dalam penelitian ini menggunakan observasi aktivitas siswa dan aktivitas guru terhadap model pembelajaran kooperatif tipe TPS . Dalam penelitian ini juga menggunakan data kuantitatif, yaitu berupa skor yang diperoleh dari tes akhir siswa setelah model pembelajaran kooperatif tipe TPS diberikan. Penelitian tindakan kelas ini menggunakan model Kemmis dan Mc Taggart yang mencakup empat komponen yaitu perencanaan, tindakan, pengamatan dan refleksi (Umaedi, 1999: 21). Keempat komponen ini membentuk siklus. Untuk lebih jelasnya dapat dikemukakan bentuk desainnya sebagai berikut:

Gambar 1. Desain Pelaksanaan Tindakan dalam PTK model Kemmis dan Mc Taggart.

Prosedur Kerja yang Diteliti

Prosedur dalam penelitian ini merupakan siklus kegiatan yang terdiri dari tiga siklus dan masing-masing siklus meliputi perencanaan (planning), pelaksanaan tindakan (action), observasi (observation) dan reflection. Pendekatan Think Pair Share (TPS) sebagai upaya pemecahan masalah dalam mengoperasikan bilangan bulat meliputi sejumlah rencana tindakan yang direncanakan sebanyak tiga siklus yaitu sebagai berikut.

a) Rencana Tindakan Siklus 1 (a) Rencana (Planning)

1. Guru menyiapkan soal-soal yang harus dikembangkan dan diajukan oleh siswa secara tertulis yang dikerjakan melalui kelompok-kelompok kecil. Guru mengkoreksi hasil pekerjaan kelompok. Selanjutnya mencatat sejumlah kelompok yang pekerjaannya benar secara meyakinkan.

2. Dokumentasi kondisional meliputi data hasil ulangan materi operasi hitung campuran, angket dan observasi guru terhadap pembelajaran matematika yang akan berlangsung. 3. Identifikasi masalah dan klasifikasi semua masalah-masalah yang dihadapi oleh siswa dan

guru dalam kegiatan belajar mengajar.

4. Menggunakan alat peraga garis bilangan sebagai upaya meningkatkan prestasi belajar siswa dalam operasi hitung bilangan bulat.

(b) Tindakan Siklus 1

1. Guru menyiapkan pengajaran.

2. Guru memberikan soal-soal pada siswa.

3. Guru mengevaluasi tingkat daya serap siswa terhadap proses pembelajaran.

Sesuai yang diinginkan guru, maka rencana penelitian ini berupa prosedur kerja dalam penelitian tindakan yang akan dilaksanakan di dalam kelas. Pelaksanaan tindakan siklus 1 yang direncanakan, yaitu:

(4)

2. Merencanakan pembelajaran dengan menerangkan materi tentang pokok bahasan operasi hitung bilangan bulat dilanjutkan dengan contoh soal-soal.

3. Memberikan kesempatan kepada siswa untuk berperan aktif dalam proses pembelajaran seperti bertanya, mengungkapkan pendapat, diskusi, dan sebagainya.

4. Guru memberikan soal-soal latihan setiap sub pokok bahasan selesai. 5. Guru memberikan soal-soal tes pada akhir siklus.

6. Observasi/pengamatan. Kegiatan observasi dilakukan untuk mengumpulkan data aktivitas pembelajaran, baik data pembelajaran guru (peneliti) maupun data pembelajaran siswa. Guru menyiapkan tes observasi yang dilakukan dengan data pengukur.

(c) Refleksi

Data dikumpulkan kemudian dianalisis oleh peneliti. Analisis dilakukan dengan cara mengukur, baik secara kuantitatif maupun kualitatif.

1. Apakah terjadi peningkatan prestasi belajar sebelum digunakan alat peraga garis bilangan? 2. Apakah penggunaan alat peraga cukup efektif?

3. Berapakah jumlah siswa yang mengalami peningkatan hasil belajar? Sudahkah mencapai target yang diinginkan sesuai dengan yang diharapkan?

4. Sudahkah guru menerapkan struktur pengajaran Matematikayang baik?

b) Rencana Tindakan Siklus 2 (a) Perencanaan Ulang

Berdasarkan refleksi 1 maka diadakan perencanaan ulang yang meliputi: 1. Identifikasi Masalah

Masalah siklus 1 yang belum berhasil pada pokok bahasan operasi hitung bilangan bulat. 2. Rencana Tindakan

Penggunaan alat peraga harus lebih sering dilakukan agar siswa lebih mudah memahami pokok bahasan tersebut.

(b) Tindakan siklus 2

1. Guru melakukan tindakan pada siklus 1. 2. Guru memberikan soal-soal latihan.

Tindakan siklus 2 sesuai dengan perencanaan yang diprogramkan yaitu:

1. Dasar dari siklus 1, maka permasalahan dapat diidentifikasi dan dirumuskan.

2. Mengontrol siswa yang kurang aktif dengan cara pendekatan dan bimbingan khusus. 3. Guru menerangkan kembali materi yang kurang dipahami siswa beserta contoh-contohnya. 4. Merencanakan kembali pembelajaran dengan pemanfaatan pendekatan TPS

5. Siswa diberi soal-soal latihan untuk dibahas kembali. 6. Guru memberikan soal-soal pada akhir siklus 2. (c) Observasi/ pengamatan

Peneliti melakukan tindakan ulang pada siklus 1 (d) Refleksi

Peneliti menganalisis semua tindakan pada siklus 1 dan siklus 2, kemudian melakukan refleksi dengan adanya metode yang dilakukan dalam tindakan kelas. Siswa mengalami peningkatan hasil belajar, melalui pendekatan TPS yang digunakan dalam tindakan kelas berhasil meningkatkan prestasi belajar siswa dalam operasi hitung campuran.

HASIL DAN PEMBAHASAN

Berdasarkan temuan dilapangan maka hasil dari penelitian ini dibagi menjadi tiga pembahasan yaitu Pertama, Paparan data pra tindakan; Kedua, Paparan data tindakan siklus I; Ketiga, Paparan data tindakan siklus II. Berikut pemaparannya:

1. Paparan Data Pratindakan

(5)

rencana penelitian dan waktu yang akan dilaksanakan dan penulis juga memberitahukan bahwa guru kelas tersebut diminta sebagai pengamat dalam pelaksanaan tindakan penelitian.

Sebelum pelaksanaan tindakan, pada hari Senin, 22 Februari 2016 penulis memberikan tes prasyarat yang dimulai pukul 08.55-10.00 WIB. Tes prasyarat diikuti oleh seluruh siswa kelas IV yang berjumlah 29 orang. Berdasarkan hasil tes prasyarat ditentukan anggota kelompok belajar. Pembentukan kelompok belajar didasarkan pada keheterogenan siswa dalam hal kemampuan akademik jenis kelamin dan suku. Adapun jumlah kelompok belajar yang terbentuk adalah 5 kelompok, dimana 4 kelompok beranggotakan 5 siswa dan 1 kelompok beranggotakan 4 siswa. Adapun prosedur pemilihan anggota kelompok dilakukan sebagai berikut. Setelah diadakan tes awal, nama siswa diurutkan dari perolehan skor tertinggi ke skor terendah. Selanjutnya siswa diambil secara acak untuk dimasukan kedalam kelompok belajar dengan melihat hasil skor tes awal mereka pada pembentukan kelompok berdasarkan kemampuan akademik ini ada yang terdiri dari dua laki-laki. Anggota kelompok tersebut dipertukarkan dengan pertimbangan keduanya termasuk dalam akademik sama.

Setelah diberikan tes prasyarat , kemudian siswa diberitahukan bahwa pada pembelajaran selanjutnya akan diterapkan belajar kooperatif tipe TPS. Penulis menerangkan kepada siswa tentang belajar kooperatif tipe TPS serta ketentuan-ketentuan yang berlaku dalam belajar kooperatif. Adapun ketentuan tersebut adalah sebagai berikut:

1. Setiap peserta didik hendaknya mempersiapkan dengan baik pada saat pengajar menyampaikan materi pelajaran.

2. Pada saat belajar kelompok, semua anggota kelompok duduk dalam anggota kelompok yang telah ditentukan.

3. Anggota kelompok yang belum mengerti, dan anggota kelompok yang belum mengerti diminta bertanya kepada teman sekelompok yang lebih mengerti.

4. Setiap anggota kelompok diharapkan berani menyampaikan pendapat atau gagasan dan juga hendaknya dapat mendengarkan dengan baik penjelasan temannya pada saat belajar dalam kelompok.

5. Semua anggota kelompok sebaiknya berusaha agar terjadi diskusi secara aktif dalam kelompoknya.

2. Paparan Data Tindakan Siklus I

Kegiatan yang dilakukan pada tindakan I meliputi perencanaan, pelaksanaan, observasi dan refleksi.

1) Perencanaan Tindakan Siklus I

Pada proses perencanaan tindakan siklus I ini ada beberapa kegiatan yang dilakukan oleh penulis, yaitu:

a. Menyiapkan rencana pembelajaran, lembar observasi. b. Menyiapkan daftar nama anggota kelompok.

c. Menyiapkan lembar kerja siswa (LKS 1) d. Menyiapkan tes tindakan siklus I

2) Pelaksanaan Tindakan Siklus I

Sebelum pelaksanaan tindakan siklus I, penulis telah merancang rencana pembelajaran untuk pertemuan pertama yaitu tentang operasi hitung campuran. Rencana pembelajaran terlebih dahulu dikonsultasikan dengan teman sesama guru. Rencana pembelajaran siklus I dilengkapi dengan LKS dan tes akhir siklus I. Sesuai dengan rencana siklus I akan dilaksanakan dalam satu kali pertemuan, belajar kooperatif tipe TPS, tindakan dimulai dengan penyajian materi. Pada tahap penyajian materi, penulis bertindak sebagai pengajar dan dua rekan guru kelas bertindak sebagai pengamat.

Deskripsi Aktivitas Guru

(6)

jawab. Penyajian materi menggunakan waktu 15 menit, yaitu sesuai dengan rencana pembelajaran 1 yang telah ditetapkan. Dalam penyajian materi penulis merasa kekurangan waktu, karena waktu yang hanya 15 menit harus digunakan untuk bertanya jawab, membahas contoh soal dan untuk mencatat. Pada penyajian materi, untuk mendapatkan definisi pengajar menunjukan dengan memberi contoh dalam kehidupan sehari-hari, Selanjutnya pengajar menyimpulkan. Kemudian siswa dipersilahkan mencatat hal-hal yang dianggap penting yang berkaitan dengan materi yang telah diajarkan. Sebelum jam pelajaran berakhir, diberikan pekerjaan rumah yang diambil dari soal latihan pada buku siswa.

Deskripsi Aktivitas Siswa

Pada pertemuan pertama saat guru menyajikan materi, siswa mendengarkan dan memperhatikan penjelasan guru, jika ada hal yang belum dipahami siswa bertanya langsung kepada guru. Setelah penyajian materi secara singkat, kemudian siswa duduk mengelompok berdasarkan kelompok mereka masing-masing yang telah ditentukan sebelumnya. Pada pertemuan pertama, belum terlihat kegiatan atau aktivitas diskusi. Terlihat seluruh siswa masih bekerja dan berpikir masing-masing, tidak ada yang bertanya dan tidak ada yang memberi penjelasan. Karena ini masih tahap awal ada kecanggungan yang nampak dalam gerak gerik siswa, mereka mulai ribut dan bertanya pada kelompok lain. Setelah mendapat arahan dari pengajar siswa terlihat mulai aktif tapi masih ada siswa dalam kelompoknya yang kelihatan acuh tak acuh atau pasif. Salah satu kelompok subjek penelitian, kelompok 5 misalnya ketika membahas LKS 1, subjek S-18 terlihat menulis sendiri, demikian pula S-8, S-20, dan S-14, bahkan S-27 kelihatan diam, nampaknya tidak mengerti sama sekali. Tetapi S-27 tidak memiliki keberanian untuk bertanya.

Setelah waktu untuk mengerjakan LKS selesai, kemudian siswa mengumpulkan hasil pekerjaan kelompok mereka. Dan salah satu kelompok menempelkan hasil pekerjaan kelompoknya dipapan tulis dan kelompok lain dipersilahkan untuk memberi tanggapan. Pada saat paparan kelompok tergambar ada semangat dan motivasi dari siswa, mereka mulai menanggapi hasil kerja kelompok yang ada dipapan tulis. Setelah kerja kelompok dan membahas LKS 1 selesai, siswa duduk ketempat duduknya semula dan bersama-sama dengan pengajar menyimpulkan segala hal yang telah diperoleh untuk pertemuan pertama. Kemudian siswa mencatat hal-hal yang dianggap penting yang berkaitan dengan materi yang diajarkan. Sebelum jam pelajaran berakhir guru memberikan pekerjaan rumah dan karena waktu jam pelajaran sudah selesai maka penghargaan kelompok diberikan pada pertemuan selanjutnya.

Tes

Untuk melihat penguasaan siswa terhadap materi pada siklus I dilakukan tes akhir siklus I yang dikerjakan secara individual. Tes ini dilaksanakan setelah belajar kelompok selesai yang dimulai dari pukul 09.50-10.10 WIB. Tes terdiri dari 5 soal berbentuk uraian yang mencakup materi yang telah dipelajari dan soal-soal ini sejajar dengan soal-soal yang terdapat pada LKS 1. Berdasarkan data yang diperoleh pada tes perorangan itu menunjukkan hasil belajar siklus I memperoleh rata-rata tingkat penguasaan siswa 67,96%, dan persentasi siswa yang memperoleh tingkat penguasaan lebih dari 65% adalah 65,51% atau 19 siswa dari 29 siswa.

3) Hasil Observasi

(7)

kelompok dalam diskusi kelas, pengajar memilih salah satu kelompok menempelkan hasil pekerjaan mereka dipapan tulis, kemudian dikomentari oleh kelompok lain.

Dari hasil observasi yang dilakukan pengamat terhadap kegiatan siswa dalam pembelajaran siklus I, belum semua siswa aktif dalam berdiskusi, masing-masing tampaknya masih berpikir sendiri-sendiri. Setiap saat mereka membahas LKS 1 tetapi mereka belum bekerja secara tim. Ada siswa yang masih terlihat menunggu temannya bekerja, dan kerjasama siswa tampaknya belum optimal. Diantara 5 kelompok subjek penelitian terlihat didalam kelompok antara 2 sampai 3 orang siswa sudah berani mengungkapkan gagasannya dan berani menanyakan hal-hal yang kurang jelas sementara yang lainnya lagi masih ragu-ragu dan lebih sering menunggu atau diam saja. Siswa yang berkemampuan tinggi cukup aktif membantu temannya yang berkemampuan rendah atau sedang. Pada saat ada yang memberikan penjelasan, secara umum masing-masing siswa mendengarkan dengan baik penjelasan dari temannya, tapi ada juga sebagian siswa yang masih sering kelihatan melamun pada saat temannya memberi penjelasan.

4) Refleksi

Pelaksanaan tindakan siklus I ini dimaksudkan untuk melihat peran pengajar dan siswa pada saat menerapkan belajar kooperatif tipe TPS dalam rangka meningkatkan pemahaman siswa terhadap operasi hitung campuran. Berdasarkan hasil observasi pada tindakan siklus pertama, selanjutnya dirancang kembali tindakan siklus kedua berdasarkan hasil refleksi dari tindakan siklus pertama. Hal-hal yang perlu diperhatikan yaitu:

a.Pengajar hendaknya mempersiapkan lembar uraian materi secara ringkas untuk dibagikan kepada siswa.

b.Penghargaan kelompok hendaknya dilakukan sebaiknya pada pertemuan yang sama, agar siswa termotivasi mengikuti model pembelajaran yang diberikan.

c.Pengajar hendaknya menjelaskan kembali aturan pelaksanaan belajar kooperatif tipe TPS.

d.Penulis membagikan LKS sebanyak 2 lembar pada setiap kelompok.

e.Sebelum melanjutkan materi, penulis mengingatkan kembali tentang materi sebelumnya.

Berdasarkan hasil observasi, catatan lapangan dan nilai tes siklus yang diberikan diakhir pembelajaran dan diskusi yang dilakukan penulis dengan 2 pengamat maka siklus ini perlu diulang.

3. Paparan Data tindakan Siklus II 1) Perencanaan Tindakan Siklus II

Pada kegiatan ini ada beberapa hal yang dilakukan oleh penulis: a. Menyiapkan rencana pembelajaran, lembar observasi. b. Menyiapkan lembar uraian materi.

c. Menyiapkan lembar kerja siswa. d. Menyiapkan tes akhir tindakan siklus I 2) Pelaksanaan Tindakan Siklus II

Penulis menyediakan rencana pembelajaran untuk siklus II tentang operasi hitung campuran yang dilengkapi dengan LKS II dan tes akhir siklus II, yang juga dikonsultasikan dengan teman sejawat berdasarkan refleksi pada siklus I. Pertemuan tindakan siklus II dilaksanakan pada hari Kamis 7 Maret 2016 mulai pukul 07.10-08.30 WIB. Pada tahap penyajian materi, penulis bertindak sebagai pengajar, dan rekan guru bidang studi matematika bertindak sebagai pengamat.

Deskripsi Aktivitas Guru

(8)

melihat tugas yang dikerjakan siswa serta memperhatikan peran setiap anggota kelompok. Sekali-sekali penulis memuji kelompok yang bekerja baik. Jika ada kelompok yang mengalami kesulitan, pengajar memberikan bimbingan seperlunya. Setelah kerja kelompok selesai, siswa duduk ketempat semula dan bersama-sama dengan pengajar menyimpulkan segala hal yang telah dipelajari, kemudian mempersilahkan siswa mencatat hal-hal yang dianggap penting yang berkaitan dengan materi yang telah diajarkan. Sebelum jam pelajaran berakhir, diberikan pekerjaan rumah yang diambil dari soal latihan pada buku siswa.

Deskripsi Aktivitas Siswa

Pada saat pengajar menyajikan materi, siswa mendengarkan atau memperhatikan penjelasan pengajar, jika ada hal yang belum dipahami siswa bertanya langsung kepada pengajar.

Tes

Untuk melihat penguasaan siswa terhadap materi pada siklus II dilakukan tes akhir siklus II yang dikerjakan secara individual. Tes ini dilaksanakan setelah belajar kelompok selesai yang dimulai dari pukul 08.05-08.35 WIB. Tes terdiri dari 2 soal uraian. Untuk tes akhir tindakan siklus II ini secara keseluruhan rata-rata skor tingkat penguasaan siswa 77% yang memperoleh tingkat penguasaan lebih dari 65% adalah 86,21% atau 25 siswa dari 29 orang siswa.

KESIMPULAN

Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa Pertama, dalam proses pelaksanaannya penulis melakukan uji coba tindakan kelas siklus I, hasilnya perlu diulang kembali karena tidak sesuai dengan target yang ingin dicapai oleh penulis. Partisipasi siswa pada siklus I hanya sebesar 6,51%. Kedua, berdasarkan hasil tes akhir tindakan siklus II, rata-rata skor tingkat penguasaan siswa 77% yang memperoleh tingkat penguasaan lebih dari 65% adalah 86,21% atau 25 siswa dari 29 orang siswa. Partisipasi siswa pada siklus II naik sebesar 20,7%.

DAFTAR PUSTAKA

Bermawi, M. 2005. Strategi Pembelajaran Aktif. CTSD. Yogyakarta

Imam, dkk. 2004. Bahasa Indonesia: Materi Pelatihan Terintegrasi Buku 2 (INA-10: Pengembangan Keterampilan Berbicara. Depdiknas. Jakarta

Johnson, B Elaine. 2008. Contextual Teaching and Learning. Mirza Media Utama. Bandung

Milan, Riyanto. 2002. Pendekatan dan Metode Pembelajaran Bahan Penataran untuk Instruktur. Proyek Peningkatan Mutu. Malang

Oemar, Hamalik. 2003. Pendekatan Baru Strategi Belajar Mengajar Berdasarkan CBSA. Sinar Baru Algensindo. Bandung

Parera, Jos D. 1982. Belajar Mengemukakan Pendapat. Arlangga. Jakarta Tim. 2002. Kamus Besar Bahasa Indonesia. Jakarta

Gambar

Gambar 1. Desain Pelaksanaan Tindakan dalam PTK model Kemmis dan   Mc Taggart.

Referensi

Dokumen terkait

Tahapan awal yang dilakukan untuk mencari bahan-bahan pustaka yang menunjang, baik sebagai bahan dasar penelitian maupun sebagai pendukung dan refrensi yang

Kemudian dalam hal disiplin belajar mahasiswa aktivis, berdasarkan hasil penyajian data sebelumnya diketahui bahwa sebagian besar responden berusaha untuk

Oleh sebab itu penting kiranya melakukan penelitian lanjut untuk melihat bagaimana desain program yang didasarkan community governance tersebut diaplikasikan dalam

Setelah dilakukan rekomendasi perbaikan, didapatkan hasil rekomendasi tersebut memberikan perubahan secara positif yaitu dalam satu hari akan menghasilkan tumpukan karung

Pengolahan tanah dalam usaha budidaya pertanian bertujuan untuk menciptakan keadaan tanah olah yang siap tanam baik secara fisis, kemis, maupun biologis, sehingga tanaman

Praktek pengajaran mikro adalah program persiapan yang paling utama sebelum mahasiswa melakukan PPL. Praktik pengajaran micro diberikan sebagai bekal dalam

(4) Permohonan pembetulan sebagaimana dimaksud ayat (1), pengurangan ketetapan, penghapusan atau pengurangan sanksi administrasi sebagaimana dimaksud pada ayat (2) dan

Analisis statistik menunjukkan ada beda nyata pada perlakuan pemberian abu sabut kelapa dengan perlakuan kontrol 100% pemupukan KCl ataupun perlakuan 0% abu pada