• Tidak ada hasil yang ditemukan

| membacaruang Vol 2 Fiksi Jendela

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2017

Membagikan " | membacaruang Vol 2 Fiksi Jendela"

Copied!
94
0
0

Teks penuh

(1)

RUANG

#11

RUANG

#11

JENDELA . WINDOW

FIKSI

#11

RUANG

juli 2017

Ivan Nasution - Purwanti Wulandari - Margaret Arni - Oudyse Samodra

PHL Architects - Fath Nadizti - Lukman Hakim - Rifandi Nugroho

(2)
(3)

tidak akan terwujud tanpa kontribusi dari:

Ivan Nasution

Purwanti Wulandari

Margaret Arni

Oudyse Samodra

PHL Architects

Fath Nadizti

Lukman Hakim

Rifandi S Nugroho

Siti Amrina Rosada

R U A N G # 1 1 : F I K S I

(4)

Pada akhirnya, beragam teknik untuk mengolah iksi berpotensi untuk menjadi alat kritik realitas atau alat advokasi atas masa depan yang diharapkan. Dalam level yang lebih subtil, ia membuat pembaca lebih awas terhadap kebaikan atau kekejaman realitas. Fiksi dalam konteks arsitektur akan membuka ruang yang lebih bebas terhadap interpretasi arsitektur dan kota, melalui imajinasi-imajinasi baru.

Setelah merenungkan bersama relasi antara iksi dan arsitektur lewat “Cermin”, kita melangkah menuju volume kedua, “Jendela”. Di dalam kompilasi ini, delapan kontributor mengajak pembaca untuk masuk ke dalam dunia rekaan mereka. Mereka menggunakan iksi untuk menyampaikan isu-isu arsitektur secara lebih subtil, yang diwujudkan dalam berbagai media. Dari komik, cerita pendek hingga karya arsitektur utopis.

Ivan Nasution dan Purwanti Wulandari akan membuka “Jendela” dengan “Almari Kuriositas” yang berisi dialog antara arsitektur dan biologi yang terjadi dalam tiga babak. Kemudian Margaret Arni akan mengajak kita melihat “Kota Taman” yang berisi imajinasi radikal tentang Garden City untuk mencapai kota ideal masa kini. Setelah itu ada komik “Paduraksa” dari Oudyse Samodra yang membayangkan lenturnya batasan ruang dan waktu di kota masa depan.

Masih tentang kota yang akan datang, PHL Architects mengusulkan sebuah megastruktur mandiri untuk komunitas tepi sungai Ciliwung dalam “Envisioning Tatlin’s Tower”. Setelah itu, Fath Nadizti akan membagi ceritanya ketika berusaha “Kabur Dari Bandara”.

Selanjutnya ada kolaborasi antara Lukman Hakim, fotografer dan dua penulis iksi, Theoresia Rumthe dan Puti Karina Puar, yang menghasilkan”Interpretasi dalam Ruang”. Rifandi Nugroho kemudian mengajak kita untuk menikmati “Makan Malam Bersama Randu” untuk membahas ketahanan pangan dan permakultur. Dan sebagai penutup, rangkaian perjalanan volume ini berakhir dalam “Mencari Tanah Surga” karya Siti Amrina Rosada yang menceritakan anjing untuk membahas kegelisahannya tentang arsitektur dan kehidupan.

Setelah “Cermin” mengajak kita untuk mereleksikan hal-hal keruangan, perkotaan dan lingkungan binaan melalui kerangka iksi, kini “Jendela” akan mengajak kita tenggelam dalam narasi-narasi iksional. Fiksi tidak lagi digunakan sebagai kacamata, melainkan ruh yang menstimulasi pengalaman dan imajinasi serta membangkitkan keberanian untuk mengritisi keseharian kita dalam ruang, kota, dan lingkungan binaan.

Selamat menikmati dunia-dunia baru di dalam “Jendela”. Dan, sampai jumpa di edisi RUANG yang selanjutnya!

PEMBUKA

(5)

Almari Kuriositas

Ivan Nasution & Purwanti Wulandari

Kota Taman

Margaret Arni

Paduraksa

Oudyse Samodra

Envisioning Tatlin’s Tower

PHL Architects

Kabur dari Bandara

Fath Nadizti

Ruang dalam Interpretasi

Lukman Hakim, Puti Karina Puar, Theoresia

Rumthe

Makan Malam Bersama Randu

Rifandi S. Nugroho

Mencari Tanah Surga

Siti Amrina Rosada

ISI

vol.2: Jendela

esai

esai

esai

esai esai

komik

essay

fotograi,

esai

8

20

28

42

50

60

68

(6)

K O N T R I B U T O R

IVAN NASUTION

Ivan Nasution lulus dari Arsitektur

ITB pada tahun 2006 lalu bekerja

di Park+Associates Architect,

Singapura. Di tahun 2011, Ia

menyelesaikan pendidikan penelitian

pascasarjana di Berlage Institute

Rotterdam. Saat ini Ivan bekerja

sebagai peneliti di Centre for Sustainable Asian Cities, National University Singapore. Di sela waktu

luangnya, Ia aktif menjadi fasilitator bagi Participate in Design, sebuah organisasi nirlaba yang bergerak di bidang desain, perencanaan, dan pendidikan.

PURWANTI WULANDARI lulus dari

Biologi ITB pada tahun 2006,

lalu bekerja sebagai koordinator acara bertema lingkungan hidup sekaligus manajer keuangan di Greeners Media Lestari yang

bekerja sama dengan Oxfam GB.

Setelah menyelesaikan pendidikan pascasarjana Magister Sains

Manajemen di Sekolah Bisnis dan Manajemen ITB, ia menjadi peneliti

muda untuk beberapa proyek pemerintah maupun internasional

IN

PW

MA

seperti proyek ‘Enhancement of Global Carbon Sequestration From Indonesian Tropical Forest’ yang didanai oleh Islamic Development Bank. Selain

menyukai berwisata, ia juga peduli dengan pendidikan anak-anak sehingga sempat berkecimpung di Komunitas Sahabat Kota,

Bandung. Saat ini tinggal di

Singapura sebagai seorang ibu dari satu putri dan perencana keuangan paruh waktu.

MARGARET ARNI

Margaret Arni Bayu Murti menyelesaikan jenjang S1 di Jurusan Arsitektur Universitas Pancasila pada tahun 2003.

Lalu menyelesaikan jenjang S2 di Program Pascasarjana Kajian Pengembangan Perkotaan

Universitas Indonesia pada tahun 2006. Saat ini, penulis menjadi

dosen tidak tetap di jurusan

Arsitektur, Fakultas Teknik, Universitas Pancasila peminatan

(7)

OUDYSE SAMODRA

Lulus dari jurusan Arsitektur ITS

di tahun 2015. Hijrah ke Pulau

Dewata dari sebelum wisuda untuk program internship, yang akhirnya setelah kelulusan memutuskan untuk bekerja

dan menetap di Bali. Memiliki

minat pada media presentasi visual karena dapat menciptakan beragam makna tanpa terikat satu pengertian. Pernah menjuarai

kompetisi “The Fake Movement”

yang diselenggarakan PIN Architecture pada September

2015.

PHL ARCHITECTS

PHL Architects is an award

winning architectural irm with

specialisation in sustainable tall buildings, commercial,

hospitality, ofice, leisure and

cultural buildings, including urban design. Since its formation, PHL Architects has won several awards and their works have been published and exhibited in numerous events such as in

Tokyo, Hong Kong and The

Hague in Netherlands.

FATH NADIZTI

Alumnus program double-degree

Arsitektur ITS Surabaya dan Urban Design Saxion Hogeschool

Belanda tahun 2013. Kemudian

melanjutkan program magister

Urban Studies di University College London karena penasaran

dengan sistem kehidupan berkota.

Saat ini aktif berkomunitas dan

berarsitektur di Bandung.

PHL

FN

(8)

RIFANDI S . NUGROHO

Rifandi Septiawan Nugroho adalah penggemar wacana dan ar sip ar sitektur. Saat ini bekerja par uh waktu di OMAH Libr ar y dan ar sitek junior di RAW Architects. Pada tahun

2015 menyelenggarakan

pamer an ar sip Harjono Sigit ber sama teman-temannya di Sur abaya.

SITI AMRINA ROSADA

Tahun 2013 lalu menjadi

lulusan Ar sitektur Brawijaya,

saat ini menetap di

Palangka Raya. Sampai saat

ini kebanyakan ber kar ya

lewat fotogr afi, tulisan, dan

ar sitektur.

RSN

SAR LUKMAN HAKIM

Lukman Hakim, menyelesaikan

studi sarjana Teknik Lingkungan

ITB pada tahun 2012, lalu

mulai ber kar ya pada bidang

visual dan menelur kan video

klip per tamanya untuk

Tulus-Teman Hidup. Selama dua

tahun ber ikutnya ia bekerja

di per usahaan retail asal

Jepang sebagai Store Manager.

Kemudian hingga kini ia

kembali belajar di dunia visual

dengan menjadi asisten salah

satu fotogr afer Indonesia,

(9)

R U A N G

Editorial Board :

Ivan Kurniawan Nasution Mochammad Yusni Aziz

Roianisa Nurdin

Fath Nadizti Laras Primasari

web : www.membacaruang.com

facebook : /ruangarsitektur

twitter : @ruangarsitektur

email: [email protected]

segala isi materi di dalam majalah elektronik ini

adalah hak cipta dan tanggung jawab masing-masing

penulis. penggunaan gambar untuk keperluan

tertentu harus atas izin penulis.

(10)
(11)

9

ALMARI

KURIOSITAS

Ivan Nasution & Purwanti Wulandari

Babak 1: Pertanyaan Besar

Singapura, 2014.

"Aku punya pertanyaan untukmu,”

ujarnya seraya mengeluarkan kertas kusam yang berisi coretan kata-kata dari saku roknya. Dia menarik nafas, terdiam sejenak, mengamati kertas tadi, lalu dengan hati-hati bertanya: "Apakah kamu percaya dengan

kehidupan?” - "Tentu saja!” Aku

tertawa, "Pertanyaan macam apa itu! Apakah kehidupan merupakan

sesuatu yang harus dipercaya?” Dia

mempertanyakan sesuatu yang janggal di lokasi yang banal, di tempat duduk seberang sungai menghadap barisan rumah toko di bawah

Kiri: Die Wunderkam-mer ou la Chambre des merveilles (Erik Desmazières, 1997) Almari Kuriositas (Cabinets of Curiosities) ialah suatu ruang berisi koleksi

berbagai macam benda alam tak lazim yang menanti untuk dikategorikan. Batas-batasnya yang ambang membuka ruang-ruang keingintahuan.

gedung-gedung pencakar langit

Boat Quay. "Faktanya kita hidup dan

melihat orang-orang yang hidup pula.

Bukankah kehidupan itu menjadi

suatu hal yang harus dipercaya oleh

seseorang yang hidup?” pikirku.

Dia lantas tersenyum, seperti lega mendengar jawabanku. Kemudian dia kembali membuka mulutnya, "Lalu, menurutmu, apa yang manusia harus lakukan untuk terus hidup dalam kehidupan ini?”

Babak 2: Neri

Paris, 2023.

Burgundy de Bruno baru saja

(12)

10

Neri, or the Life of Architecture. Dalam

tulisan itu Bruno berpendapat

bahwa kini arsitektur hidup. Neri Oxman, seorang arsitek-ilmuwan, telah meniupkan nyawa pada tubuh arsitektur. "Arsitektur yang hidup" tak lagi sebatas metafora tentang bagaimana kehidupan lain mencipta arsitektur yang dinamis, tumbuh dan berkembang. Arsitektur tidak lagi hanya sebuah benda mati yang berasal dari bahan baku yang pernah hidup, kini ia hidup dan mampu membusuk kembali ke alam.

Neri muncul pada saat yang

tepat bersama eksperimen Bio-Arsitekturnya. Eksperimen tersebut

mematikan dilema produksi benang sutra yang telah ada sejak ribuan tahun lalu – perdebatan antara komoditas dan moralitas. Sutra telah menjadi komoditas unggulan

pendiri globalisasi kuno melalui Jalur

Sutra. Namun, proses produksinya melibatkan pengorbanan kehidupan sebuah spesies makhluk hidup – kepompong-kepompong ulat sutra direbus hidup-hidup untuk menghasilkan benang sutra. Neri menemukan cara untuk merekayasa sistem struktur hidup yang sekuat baja itu, sekaligus jalan untuk memanen benang sutra tanpa harus merebus satu organisme pun.

Lantas bagaimana cara arsitektur

memperoleh hidup dari organisme lain?

Babak 3: Alba Si Kelinci

Teheran, 2010.

Hal pertama yang Fallan lihat ketika memasuki ruangan Aramis, sang

ahli genetika, ialah sepenggal artikel lama di dinding, bertajuk kontroversi organisme transgenik – organisme yang memperoleh unsur kehidupan (gen) dari orgaisme lain.

"Alba yang malang, hidup hanya 2.5

tahun. Ia mati karena sengketa kedua orang tuanya, seorang ilmuwan dan seorang seniman. Hingga kini, dunia

October 2000

Meet Alba. Shown here with Chicago artist Eduardo Kac, she looks like a typical albino rabbit. But under ultraviolet light, Alba takes on a whole new look.

(13)

11

about designing a luorescent rabbit.

However, animal rights activists and some religious leaders have denounced Alba's creators for exploiting the animal and tampering with nature. he rabbit has made international headlines and has provoked a debate about the ethics of genetically engineering a creature in order to make an artistic statement. In this sense, at least, Kac's vision for transgenic art has been fulilled.

hanya mengetahuinya sebatas foto.

Tidak ada yang benar-benar tahu

apakah ia benar-benar hidup atau

hanya hidup di cerita sang seniman,”

ujar Aramis sambil berjalan masuk dari lubang pintu.

"Tadi salah satu peneliti Anda

meminta saya untuk menunggu di

ruangan ini.”

"Semoga Anda tidak menunggu lama.

Silakan duduk, Tuan Fallan.” Aramis lalu duduk di kursinya, "Boleh Anda

jelaskan mengenai konsep "perabot hidup" yang Anda singgung lewat

surel tiga hari yang lalu.”

Fallan, sang arsitek, mengeluarkan lembaran sketsa dan kolase foto,

“Baiklah, sebaiknya kita tidak buang

waktu. Ya. "Perabot hidup" saya artikan sebagai sebuah objek yang memperoleh kemampuan dari makhluk hidup, ia akan menjadi bagian dari peralatan kebutuhan

sehari-hari manusia. Bayangkan

ketika kota tidak lagi memerlukan

listrik untuk penerangan. Tapi,

hal-hal keseharian yang tidak terduga, misalnya tanaman rambat, akan berpendar untuk menerangi jalan-jalan, dinding-dinding bangunan, dan langit-langit ruangan. Sebut saja, sebuah Parthenocissus... ummm...

albae.”

Aramis tersenyum, dan mempersilahkan Fallan untuk bercerita lebih jauh.

"Kita bisa menguji dari skala kecil, misalnya interior rumah. Dengan keahlian Anda, kita rekayasa Parthenocissus

(14)

12

Parthenocissus, dan meredup ketika

terang. Kita juga perlu memodiikasi

jam biologisnya untuk memiliki sifat dorman dari sebuah rangsangan, sentuhan misalnya. Parthenocissus albae ini akan mengurai GFP tadi ketika disentuh, jadi pendaran tadi akan hilang. ON/OFF button. C'est facile, Mademoiselle Aramis?”

Aramis nampak makin penasaran,

"Menarik. Menarik, Tuan Fallan…

Apakah ini serupa dengan konsep yang mendasari Rumah Biophilia Tuan

yang masyhur itu? Saya membaca sebuah artikel yang bercerita tentang bagaimana Anda membuat kerangka bangunan yang dibiarkan tidak selesai, kecuali elemen infrastrukturnya. Rangka itu akan disisipi secara oportunistis oleh ruang hidup manusia atau liarnya alam. Seolah mereka hidup berdampingan, tapi sedang berkompetisi untuk hidup di alam, antara memakan atau dimakan,

memangsa atau dimangsa.”

"Ha ha ha… Nona Aramis, Anda

terlalu banyak membaca jurnal yang selalu ingin berpolemik, beretorika segar, dan hal-hal aneh

lainnya.” Fallan sejenak terdiam lalu

selanjutnya berkata, "Saya seorang pragmatis, Nona. Hal terpenting bagi saya adalah bagaimana kehidupan manusia tetap berjalan dan bagaimana hal-hal di sekitar

kita bermanfaat. Jadi, rumah yang

tadi Nona sebut, adalah usaha meletakkan alam dan bentuk kehidupan di dalamnya bersama dengan ruang hidup manusia. Hal ini semata-mata untuk meningkatkan produktivitas, mengurangi stres,

juga merawat manusia.” Fallan

(15)

gerak-13 isyarat siap berdiskusi.

"Tuan Fallan memiliki pandangan yang sangat unik. Dengan ilosoi ini, menurut Tuan, apa pengertian "kehidupan" bagi disiplin arsitektur?

Babak 4: Hidup dan Kehidupan

Singapura, 2014.

"Kami sangat percaya dengan kehidupan. Disiplin ilmu kami menyelidiki sesuatu yang hidup serta karakteristik kehidupannya. Bios dan

logos,” katanya sambil memasukkan

kertas catatan tadi kembali ke dalam saku roknya.

Dia lalu bertanya soal 'apa itu

arsitektur?' "Hmmmm… Arsitektur

tidak sesederhana archi (kepala) dan tekton (pembangun). Mustahil

untuk mencapai deinisi tunggal, karena setiap arsitek punya deinisi

masing-masing tentang arsitektur.”

Aku menjawab dengan yakin.

"Lalu, bagaimana dengan deinisimu

sendiri?”, air mukanya berubah serius.

"Ahem!”, aku membersihkan tenggorokanku. "Bagiku arsitektur

itu berwajah majemuk. Ia adalah keindahan juga anti-keindahan. Ia instrumen ideologis sekaligus pembongkar norma. Ia narasi, kadang-kadang propaganda. Ia juga

hanya sebuah latar belakang. Tidak

ada yang benar-benar melihat arsitektur kecuali sang arsitek

sendiri.”

"Kalimat terakhirmu unik ya, kami mempelajari disiplin ilmu biologi untuk menemukan dan mengamati berbagai kehidupan alam ini. Sementara kalian mempelajari arsitektur untuk menemukan apa arsitektur itu sendiri. Apakah hanya itu makna hidup arsitektur, atau ada

unsur hidup atau kehidupan lain?”

ujarnya ketus.

"Tentu saja! Kami memperhatikan

kehidupan manusia. Kami mempelajari kebutuhan, keinginan, perilaku, dan kebiasaan manusia. Pengetahuan ini berguna untuk merupa ruang-ruang hidupnya. Dengan kata lain arsitektur bisa dikatakan sebuah kontainer yang

berisi kehidupan penghuninya.” "Ironis. Bukankah hidup itu dinamis. Bagaimana hidup bisa ditampung?

Seperti kelinci percobaan yang hidup dan dikurung dalam lab,

(16)

14

tengah ruangan. Walau memiliki pengkondisian udara, ia tetap terekspos cahaya matahari – sebuah kombinasi buatan dan alami. Pergerakan sinar matahari digunakan untuk memandu pergerakan ulat sutra yang bergerak ke daerah

yang lebih gelap dan dingin. 6.500

ulat didatangkan dari peternakan untuk melengkapi paviliun sutra

sintetis tadi. Ulat-ulat itu melengkapi

struktur setengah bola tadi dengan memberi protein perekat dengan sulaman sutra biologis dengan total

sepanjang 6.500 kilometer. Kini

buatan menginspirasi alam.

Eksperimen ini produktif, ngengat

dari ulat sutra pekerja paviliun

memroduksi 1.5 juta telur yang dapat mengisi 250 paviliun

tambahan. Neri mengklaim bahwa dengan membangun jaringan aktor-aktor (petani, ulat sutra, cetakan, tangan robot) ini, kita dapat

meningkatkan produktivitas tanpa harus mengeksploitasi alam.

Babak 6: Etika

Teheran, 2010.

"Oh, Tuan Fallan. Mengapa kehidupan

kita selalu berujung pada produktivitas, dan alam selalu dieksploitasi agar memberi keuntungan bagi manusia. Aneh memang ketika konsep ekonomi dikawinkan dengan ekologi. Kehidupan

lora dan fauna dalam berbagai

ekosistem dipaksa mendukung kehidupan manusia dalam basis untung rugi. Kami, ilmuwan, semua memegang satu tujuan, mencari kebenaran bukan

pembenaran.”

Babak 5: Jaringan

Paris, 2023.

Langkah pertama Neri meminjam kehidupan untuk arsitektur ialah dengan membuka penutup laboratorium yang kemudian membawanya ke peternakan ulat sutra. Neri mengambil beberapa spesimen ulat sutra untuk melakukan dua observasi. Pertama, Neri memetakan pergerakan ulat saat memintal protein sutra menjadi kepompong. Kedua, ia bereksperimen dengan berbagai bentuk wadah (kotak, datar, melingkar bahkan tak berbentuk) untuk memediasi metamorfosis ulat sutra. Ada dua temuan kunci dari eksperimen itu. Pertama, pemetaan arsitektur kepompong yang jelimet. Rupanya kepompong tersusun dari satu jenis protein dengan dua konsentrasi yang berbeda, satu bertindak sebagai struktur yang lain sebagai perekat. Kedua, proses pemintalan dan bentuk kepompong dipengaruhi oleh bentuk lingkungan sekitarnya. Dua hal ini menjadi basis bagi Neri untuk mengimitasi protein struktur sutra menjadi cetakan-cetakan yang dibuat oleh tangan-tangan robotik dari benang-benang sutra alami. Alam menginspirasi buatan.

Dengan habitat-habitat artiisial ini,

Neri lalu mengontaminasi lab-nya dengan dunia luar. Ia memindahkan lab-nya ke sebuah ruang antara,

sebuah galeri. Cetakan-cetakan

(17)

15 luas. Seolah-olah temuan kita, bangunan yang kita usulkan, ide atau gagasan kita tak terbantahkan karena keilmiahan metode, kelogisan pola pikir, keahlian merupa, dan kebaruan temuan. Absolut. Kita jadi memperoleh kuasa bukan karena kesetaraan temuan kita dengan masyarakat, tapi karena keabsolutan gravitasi dan ilmu pengetahuan yang

terjadi di ruang ideal dan hampa.”

Aramis menarik napas panjang, "Keabsolutan Kuasa seperti ini absurd, Tuan.”

Babak 7: Kesejajaran Hidup dan Kuasa Keilmuan

Paris, 2023.

Neri menolak keabsolutan kuasa keilmuan. Ia malah bekerja untuk menjaga keseimbangan dalam sebuah jaringan yang labil dan tak tentu. Ia menjadi juru bicara dan penerjemah dari berbagai kepentingan aktor dan aktan – pertanian dan petani sutra, pasar dan kapital, moralitas dan komoditas, dan

arsitektur-struktur dan biologi. Tugas Neri ialah

merekayasa relasi dan aliansi mereka

secara halus dan spesiik untuk

merespon kepentingan bersama dari aktor-aktan tersebut.

Di tahap ketiga dari paviliun sutra, Neri memproduksi massal cetakan-cetakan struktur sutra sintetis dan mengirimkannya

kembali ke peternakan. Cetakan ini

menjadi habitat baru bagi ulat-ulat sutra. Mereka dapat memilin sutra, bermetamorfosis, dan berkembang biak tanpa menjadi korban komoditas. Petani sutra tetap dapat Aramis menarik napas dan

melanjutkan, "Kita hidup di era

postfaktisch dan ada hal yang lebih menarik dari sekedar mencari kebenaran, yaitu bagaimana sesuatu diterima oleh masyarakat sebagai kebenaran. Dalam kontroversi Alba, ada hal-hal menarik yang jarang dibahas, tertutup oleh kesuksesan

organisme transgenik. Berpendarnya

Alba hanya tahap awal dari proyek

sang dalang, Eduardo Kac. Dua

tahapan berikutnya merupakan hal yang paling menantang bagi Alba, dialog publik dan integrasi sosial. Ia akan menjadi subjek sosial yang digiring dari ruang laboratorium ke ruang publik untuk didiskusikan status ketransgenikannya.

Etiskah percepatan proses evolusi

kehidupan ini? Apakah sesuatu yang menantang akal ini akan diterima atau ditolak oleh masyarakat? Siapkah masyarakat hidup bersama organisme transgenik dalam

kehidupan sehari-hari?”

"Nona Aramis, perlukah dialog itu?

Bukankah jika sesuatu membuahkan

hasil bagi manusia, tidak perlu ada penjelasan berikutnya? Lagi pula, masyarakat hanya mengekor para

penemu.”

"Tuan Fallan, membangun dialog

(18)

16

memanen benang-benang sutra yang terpilin di cetakan-cetakan struktur tadi, tidak lagi harus merebus kepompong sutra

hidup-hidup. Bentuk pertanian sutra

mengalami perubahan drastis, karena batas antara buatan dan alami melebur bersama. Hal ini juga mengubah pola produksi sutra. Ia tetap menjadi komoditas andalan dan kapitalisme global tetap dapat berjalan. Simetri kepentingan berbagai aktor ini membuat keilmuan kembali mempunyai kuasa untuk mempengaruhi dan memberi arah kepada masyarakat.

Neri melampaui kategori arsitek atau ilmuwan dengan menjadi seorang aktor sosial. Muatan pengetahuan dikembalikan ke dan dikaitkan dengan masyarakat dan kehidupan alam. Dengan menyeberangi perbatasan antara biologi dan arsitektur, ilmuwan dan arsitek-insinyur, ia menyetarakan hubungan antara ulat sutra, struktur sutra sintetis-biologis, pertanian dan petani sutra, moralitas dan komoditas, pasar dan kapital, dan arsitektur-struktur dan biologi. Neri

'mengubah dunia sekitar' agar menyesuaikan dengan kondisi-kondisi di dalam laboratorium. Babak 8: Evolusi

Teheran, 2010.

"Setelah dikondisikan di laboratorium dan ruang publik, pada tahap akhir, Alba akan diintegrasikan ke sebuah dunia baru, ruang privat keluarga Kac. Ia akan diberi perhatian, kasih sayang dan dipastikan tumbuh dan bersosialisasi dengan spesies

lain. Dengan begitu, ia menjadi 'normal', layaknya hewan-hewan domestik lainnya. Implikasinya, percepatan evolusi dan rekayasa genetika akan menjadi sesuatu yang lumrah dalam kehidupan sehari-hari. Chimaera bisa jadi bagian dari

masyarakat, Tuan Fallan.” Aramis

menyandarkan punggungnya ke kursi dan memandang langit-langit,

lalu melanjutkan, "Tuan bilang,

kota terbentuk dari perkumpulan manusia, pertukaran pengetahuan, dan transaksi untuk pemenuhan kehidupannya. Manusia sebagai pusat kehidupan kota. Antroposentris. Sementara alam dan kehidupan sekitarnya akan menyesuaikan dengan kehidupan manusia.

Umat manusia memang istimewa, Tuan Fallan. Manusia adalah spesies

paling muda, namun mampu merupa

wajah bumi. Bahkan sangat drastis

jika dibandingkan dengan

spesies-spesies lain. Bukan karena akalnya,

tapi karena obsesinya terhadap kendali dan ketakutannya terhadap acaknya alam. Manusia berkembang dan berinovasi semata-mata untuk mengukuhkan kendali terhadap kehidupan. Kota, jaringan jalan, air, dan listrik, pola pengelolaan tanah dan pengaturan perumahan, atau penggambaran batas-batas geopolitik lahir guna mengatur dan menaklukkan alam. Menggambar dan memetakan setiap jengkal bumi, tanah, dan air agar semua terlihat.

Tidak ada yang tersembunyi. Lalu

manusia mengklaim kepemilikan.

(19)

17 kita bisa hidup di tempat yang

tidak pernah hidup ini?” Dia mulai

meracau di luar nalar.

"Kota ini hidup! Semua kota yang ada dihidupkan dan menghidupi

manusia. Coba, ceritakan apa ciri-ciri sesuatu yang hidup?”

"Setidaknya, ada delapan

kualitas: (1) memiliki organisasi sel, (2) berkembang biak, (3) bermetabolisme, (4) mampu

meregulasi kondisi internal tubuh,

(5) mewariskan karakter genetis, (6)

merespons stimulus, (7) tumbuh dan berkembang, serta (8) beradaptasi

melalui evolusi.”

"Kalau hanya itu, kota jelas-jelas sebuah organisme yang hidup. Ia memiliki organisasi ruang-ruang dan bangunan. Ia juga memiliki struktur kunci yang satu dimiliki oleh setiap kota: misalnya, jalan, ruang terbuka, dan pemukiman. Ia

tumbuh dan berkembang. Tentunya

ia beradaptasi dan berevolusi sesuai dengan perkembangan

perilaku penghuninya. Jelas-jelas ia

bermetabolisme, setidaknya, sesuatu yang diterima oleh kota akan diolah dan diproses menjadi sampah atau emisi. Ia juga merespons pergerakan ekonomi, jika ekonomi itu bisa

dikatakan stimulus.”

“Ayolah, itu semua hanya metafora.

Kita selalu terjebak dalam dua kubu

realitas, objektif dan iktif. Secara

objektif kita melihat sungai ini, gedung-gedung di seberang sungai, jalan-jalan yang menuntun manusia ke sana, dan pepohonan yang

mengiringinya. Tapi, kita semua juga percaya dengan narasi realitas iktif

Manusia tak lagi mampu beradaptasi dengan lingkungan. Sehingga selama ribuan tahun, yang dilakukan hanyalah mengubah lingkungan dan kehidupan sekitar agar dapat mendukung keberlangsungan hidup. Memaksa lingkungan berevolusi dengan eksplorasi, eksploitasi, domestikasi, dan mutasi. Manusia menciptakan temuan-temuan yang

memperpanjang fungsi isik dan

mental, agar bisa berjalan dengan lebih cepat, berkomunikasi dengan lebih singkat, mengingat dengan lebih akurat, dan menghitung dengan lebih

cermat.”

"Memang apa salahnya dengan tidak

berevolusi, Nona Aramis?”

"Makhluk hidup telah mengalami beberapa kali kepunahan di bumi

ini, Tuan Fallan. Selama ini alasan

terjadinya kepunahan adalah sesuatu yang di luar kendali dan kuasa manusia – perubahan komposisi senyawa kimia di bumi, kenaikan permukaan laut yang drastis,

supervolcano, atau bahkan supernova dalam skala semesta. Sementara, era kepunahan, antroposen yang sedang berjalan sejak puluhan ribu tahun lalu hingga saat ini, disebabkan

oleh kehidupan manusia. Bukankah

probabilitasnya besar bahwa manusia akan mengalami kepunahan berikutnya, bahkan mungkin dalam

waktu dekat?”

Babak 9: Kota

Singapura, 2014.

"Jika kehidupan manusia dan

alam tidak ingin punah, kita harus

(20)

18

yang kita karang tentang mengapa kota adalah bentuk yang ideal untuk kehidupan manusia. Mengganti alam hidup dengan lingkungan binaan

yang tak bernyawa. Terinspirasi dari

sesuatu yang hidup, tidak serta

merta membuatnya hidup. Coba jelaskan, apakah kota bereproduksi?” “Tenang-tenang... Hmmmm...

tentunya perkembangan ekonomi di satu kota akan mempengaruhi kota lainnya, kadang kala hubungan antara desa dan kota dapat memicu dan

memacu desa menjadi kota. Jadi ya,

sebuah kota akan melahirkan kota

yang lain. Reproduksi aseksual!” “Konyol!”

“Ha ha ha... ummm... Menurutmu,

kalau kota ini hidup, apakah ia akan mati? Lihatlah semua orang

di gedung-gedung pencakar itu,

sepertinya ia tidak akan mati.”

"Omong kosong! Oke, kalau ia memang hidup, maka aturan ini berlaku: tidak ada sesuatu hidup yang tak mati. Kalau tidak mati, berarti memang ia tidak pernah hidup. Lihatlah semua bangunan di depanmu, mereka semua menampung beribu kehidupan manusia yang dinamis, tapi mereka

sendiri statis dan putus asa…

menunggu giliran kapan mereka

akan… mati – lalu terdekomposisi

dan entah terlahir kembali dalam

(21)

19

“...itu semua hanya

metafora. Kita selalu

terjebak dalam dua kubu

realitas, objektif dan

iktif. Kita semua percaya

dengan narasi realitas

iktif yang kita karang

tentang mengapa kota

adalah bentuk yang ideal

untuk kehidupan

manusia. Terinspirasi

dari sesuatu yang hidup,

tidak serta merta

mem-buatnya hidup.”

(22)
(23)

21

KOTA TAMAN

“Konon, seringkali ada wanita yang menjelma pohon di sepanjang Loftus Road, sebuah jalan yang di kanan-kirinya dipenuhi baris pepohonan seperti hutan buatan, jalan itu terus memanjang ke arah barat, menuju matahari terbenam.

Pohon-pohon itulah, entah siapa yang memulainya, kemudian dicurigai dan diyakini sebagai jelmaan manusia.”

Margaret Arni

menipis akibat penebangan hutan atau kebakaran serta sulitnya me-menuhi kebutuhan ruang terbuka hijau di kota-kota besar, , saya

meny-etujui mitos ala Kota London itu. Bisa

kau bayangkan, jika semakin banyak laki-laki yang tidak tepat janji, betapa

hijaunya kota itu. Tunggu, saya tidak

boleh menggunakan jenis kelamin tertentu sebagai dan melabelinya

se-bagai penipu atau bukan. Bagaimana

jika, pengingkar janji setiap - ter-masuk penipu, dan siapa punber-jenis kelamin apapun ia, akan dikutuk berubah menjadi pohon?, k. Koruptor Potongan cerita pendek berjudul

‘Sebatang Pohon di Loftus Road’

karya Sungging Raga akan menyisa-kan mata basah terutama bagi

mere-ka yang terlalu sentimentil. Benarmere-kah

ada perempuan yang menjadi po-hon karena janji dengan seorang pria tidak terbukti? Saya sempat berpikir, kenapa pohon? Kenapa bukan batu seperti kutukan Ibu Si Malin Kun-dang?

Namun, melihat bumi kondisi hutan di Indonesia yang rusak semakin ru-sak karena jumlah pohon semakin

(24)

termasuk di dalamnya. Jika jumlah

penipu terus meningkat, saya kira, bumi akan kembali hijau. Saya bukan-nya menyumpahi setiap orang beru-bah menjadi penipu supaya jumlah

pohon bertambah, namun hal “gila” harus dilakukan hal “gila” untuk me -nyelamatkan alam, paling tidak untuk kota-kota di negeri ini.

***

Adalah Ebenezer Howard, peran -cang kota taman asal Inggris, yang telah memikirkan konsep sebuah

kota mandiri seluas 405 hektare yang mampu menampung 32.000 jiwa penghuni pada 1902. Hunian

akan mengelilingi lapangan besar berupa taman yang terpusat. Area pertokoan diletakkan di tepi dalam kota, mengelilingi taman tadi, sedan-gkan pasar dan industri diletakkan di bagian lingkaran paling luar. Setelah area itu, kota dikelilingi oleh

ham-paran tanah pertanian seluas 2.023

hektare.

Taman publik yang berada di pusat

kota itu tentulah bisa disambangi oleh siapa pun. Di satu sudutnya terdapat taman bunga yang sedang dipandangi oleh lansia yang duduk di kursi roda, ditemani oleh anaknya yang masih mengenakan pakaian kerja. Lalu terdengar tawa anak-anak yang kesenangan bermain ayunan atau papan luncur. Para ibu menem-ani anak-anaknya, bersenda gurau dengan sesamanya sambil menikmati kue yang mereka buat tadi siang.

Cuitan burung gereja di dahan po -hon kersen semakin menambah keramaian di taman itu. Lebah dan

kupu-kupu berlomba mengisap bunga pohon tabebuya, sementara laba-laba asyik menganyam sarang di antara dedaunan semak, juga para semut yang sibuk mengangkut remah kue yang terjatuh di tanah.

Taman itu memiliki beberapa kolam

untuk menampung air hujan yang tu-run pada musimnya. Di dalam kolam-kolam itu terdapat ikan air tawar dan di permukaan airnya tumbuh be-berapa kelompok bunga teratai ber-warna ungu yang memanjakan mata.

Capung berwarna kuning terbang

bebas mendekati air kolam, terdiam beberapa detik lalu pergi. Di tepian salah satu kolam kecil, para remaja duduk-duduk membaca buku atau membuka laptop. Sore itu, mereka berdiskusi tentang ‘masyarakat

ekolo-gis’. Di sebuah halaman buku, terbaca

ciri-ciri masyarakat ekologis. Salah sa-tunya adalah menciptakan pendidikan lingkungan untuk anak-anak. Remaja-remaja tadi tampak asyik menulis ringkasan dan menggambar beberapa sketsa untuk menunjukkan kegiatan yang telah dilakukan oleh keluarga masing-masing: memilah, mendaur ul-ang, atau mengolah sampah menjadi kompos.

Di sudut lain terdapat ruang terbuka berlantai konblok sebagai tempat pedagang kaki lima berjualan. Den-gan gerobak berbahan bambu dan kayu, para penjual menjajakan es

krim atau makanan ringan. Beberapa

pasangan muda duduk di bangku ta-man yang diteduhi pohon Ketapang Kencana sambil menikmati roti

(25)

23 Reuse, Reduce and Recycle. Semua

orang sudah hafal kode warna pada masing-masing tempat dan kemana harus membuang sampah yang ada di tangannya.

Ketika mata beralih ke arah rumah-rumah, kau bisa melihat petak yang tidak penuh dengan bangunan.

Koe-isien dasar bangunan hanya berkisar 30 persen dari keseluruhan lahan.

Rumah-rumah berpagar tanaman di bagian depan dan memiliki pohon tanjung yang menaungi jalan ling-kungan. Mereka meneduhkan orang yang berjalan di siang hari. Sedang-kan pada lahan di bagian belaSedang-kang di-tanami dengan pohon buah mangga, rambutan, atau belimbing. Pun tana-man sayuran seperti tomat, cabai, kacang panjang tampak ranum, siap dipanen dan dimasak untuk makan malam. Rumah-rumah membangun resapan air hujan di dalam tanah

dan bak penampung air hujan yang diletakkan di dekat teras belakang. Wadah-wadah tadi menampung air cadangan untuk menyiram tanaman atau mencuci alat dapur. Walikota kota tersebut juga menyediakan panel surya yang diletakkan di beberapa ti-tik pada atap untuk warganya sebagai upaya pemanfaatan energi terbaru-kan. Warga dapat membeli panel-pan-el tersebut dengan harga terjangkau

atau mencicilnya. Cadangan listrik dari

panel tersebut akan dipakai untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga, sehingga warga tidak perlu membayar tagihan yang terlampau mahal setiap bulannya.

Bangunan umum seperti sekolah dil -etakkan tidak jauh dari permukiman.

Taman Kanak-kanak atau Sekolah

Dasar dapat dicapai dengan berjalan kaki melalui sebuah jalur. Sementara itu, sekolah tingkatan lebih tinggi

(26)

24

batasan tertentu melalui sirip-sirip di dinding bangunan.

Di bagian atas bangunan terdapat roof garden yang dipakai sebagai ruang terbuka hijau. Di pekarangan atap ini terdapat pula panel-panel surya yang menghasilkan energi ca-dangan bagi kantor tersebut. Parkir didominasi oleh sepeda dan minim roda empat. Kota ini juga dilalui pat dicapai dengan sepeda atau bus

sekolah. Di suatu pagi, para anak berkelompok dan berjalan menuju sekolahnya. Sambil bersenda gurau mereka melangkah dengan pasti tanpa khawatir akan terserempet

kendaraan bermotor. Jalur pejalan

kaki di kota taman itu dibatasi oleh jalur hijau dengan pohon semak dan peneduh. Ketika menyeberang, ter-dapat jalur penyeberangan khusus anak-anak dan para pengasuh yang mengantar mereka ke sekolah.

Para pedagang melakukan jual-beli di perbatasan kota. Di situ, orang dari berbagai tujuan datang untuk me-menuhi kebutuhan rumah tangga.

Bus pengantar dari rumah-rumah

berhenti di terminal. Kemudian, para penumpang berjalan di jalur peja-lan kaki yang mengantar mereka ke bangunan pasar atau pertokoan. Sayur-mayur dan daging dipanen dari pertanian lokal dan kota lainnya.

Tidak jauh dari sana, tampak bangu -nan-bangunan kantor dan sebuah pusat perbelanjaan yang menjadi

pendukung ekonomi kota. Bangu

-nan-bangunan setinggi 10 lantai itu

tampak ramah dengan kaca yang bercorak dipadukan dengan bing-kai beton agar burung-burung tidak terkecoh dan menabraknya. Ketika menengok ke dalam bangunan, kau akan menemukan meja-meja kerja yang bersih karena sejumlah laporan tidak lagi dicetak di atas kertas.

Pend-ingin ruangan diatur pada suhu 25 derajat Celcius saja. Lampu-lampu

hanya dinyalakan jika perlu. Ruang-ruang kerja menjadi lingkungan yang menyehatkan karena cahaya mataha-ri dipersilakan masuk, namun dalam

(27)

25 Sepeda menjadi aset penting yang

miliki oleh setiap warga. Kau akan di-hormati jika memiliki sepeda; bukan karena mobil murah atau mewah!

Jalur sepeda yang diiringi oleh jalur

hijau membuat pesepeda tidak kepa-nasan, walau kota ini beriklim tropis

lembap. Jalur–jalur itu memiliki lebar 1,5 meter dan dicat kuning dengan

simbol sepeda yang membuat ken-daraan roda empat enggan parkir di

atasnya. Ingat, jalur sepeda juga dihor-mati sama seperti jalur pejalan kaki.

Jalur pejalan kaki yang menjadi jalur

utama anak-anak pergi ke sekolah

memiliki lebar 4 meter. Disediakan

pula jalur tuna netra dan kursi roda untuk orang tua atau kelompok difa-bel. Setiap pagi, kau bisa melihat pe-mandangan dimana para tuna netra berjalan beriringan dengan anak-anak

yang sedang bersenda gurau atau pemuda-pemudi yang berjalan cepat takut tertinggal bus.

Industri sedang dan ringan

pen-dukung Kota Taman diletakkan di

pinggiran kota. Zona ini tidak ber-batasan langsung dengan permuki-man, melainkan dengan hutan kota. Di dalam kawasan industri terdapat berbagai fasilitas seperti hunian un-tuk pekerja, perkantoran, dan ruang terbuka. Industri pun menerapkan tema hijau, sehingga tidak berlim-bah yang memberlim-bahayakan, juga tidak

merusak lingkungan sekitarnya. Tem -pat pembuangan akhir sampah kota terletak tidak jauh dari zona perin-dustrian itu. Sampah-sampah diolah dengan menggunakan alat penghan-cur berteknologi tinggi. Panas yang dikeluarkan dialirkan menjadi tenaga listrik; ampas sampah dibuat sebagai campuran bahan untuk jalan. Pengo-lahan ini menjadi mudah karena tiap warga sudah memilah sampah ru-mah tangga antara organik dan non organik.

Sebuah kota tentu harus mampu bertahan dalam hal pangan, sehing-ga jalur pertanian akan terhampar mengelilingi kota. Permukiman untuk pengelola sawah, kebun, dan ternak diletakkan di dalam kawasan

perta-nian itu. Teori Gideon Golany bahwa

kota hanya menampung perdagan-gan, bisnis, dan jasa seakan usang.

“Saya tidak mau warga mati kelapa -ran karena lahan persawahan habis diganti oleh pusat perbelanjaan atau perkantoran! Pertanian harus tetap ada dan hidup berdampingan

den-gan kehidupan modern kota,” kata

(28)

26

kan luas ruang-ruang terbuka publik, dan mendukung wisata dalam kota. Wisata seperti ini akan mengurangi keinginan warga kota untuk terbang dengan pesawat, yang menggunakan energi tak terbarukan, ke kota-kota atau negara-negara lain demi un-tuk melihat air terjun, misalnya. Para pemimpin dunia saling berjabat tan-gan dan sepakat untuk mengurangi limbah dan sampah. Hutan dihijau-kan kembali; perbaidihijau-kan tanah bekas tambang atau kebun sawit dilakukan

secara intensif. Jual-beli karbon tidak

berlaku, sebab masing-masing negara sudah bertanggungjawab menjaga hutannya.

‘Gerakan bumi hijau’ akan diinisiasi

dan digalakkan hingga pada taraf hukum. Setiap murid yang terlam-bat masuk sekolah harus membawa sebuah tanaman untuk ditanam di sekolah. Atau, di ekstrim lain, seorang narapidana diharuskan bercocok tanam dan merawat taman di ka-wasan lembaga permasyarakatan. Koruptor akan dihukum sekaligus membayar denda untuk menanami hutan kota.

Pada suatu masa, manusia menjadi

pengasuh alam. Binatang dan pepo -honan menjadi teman dalam hidupn-ya. Anak-anak hidup bahagia di antara pepohonan dan ruang terbuka se-hinga tidak perlu takut kehabisan air bersih. Kemudian tidak perlu ada lagi tangis para perempuan untuk

merim-bunkan London (atau Jakarta).

Kota-kota taman itu telah menjadi juru se-lamat bagi bumi dari kehancuran.. Walikota. Memang, hasil tidak

ter-lampau besar, namun cukup untuk

memenuhi hidup 32.000 jiwa pen -duduk kota itu. Kelengkapan hasil pertanian lainnya diperoleh dari kota lain. Kerjasama para walikota menja-di salah satu kesuksesan kota taman.

Mereka tidak berpikir bahwa, ’kota saya yang paling baik’ atau ‘kota kamu

yang mendapat untung, kota saya

tidak’, namun bagaimana cara meny -atukan keberadaan mereka sehingga kota-kota tetap memiliki dasar peng-hijauan dan ketahanan pangan.

Setelah Kota Taman itu berhasil, ber -bagai kota-kota lain di dunia

kemu-dian menyadari kekurangan masing-masing dan mengubah cara hidup warga dan tatanan kota. Mereka memiliki target untuk mengurangi pemakaian kendaraan pribadi, men-ingkatkan jumlah transportasi mas-sal serta pemakaiannya,

(29)

27

“Pada suatu

masa, manusia

menjadi

pengasuh alam.

Binatang dan

pepohonan

menjadi teman

dalam hidupnya.”

(30)
(31)

29

PADURAKSA

Oudyse Samodra

Foto: Megastruktur dalam Paduraksa ©Oudyse Samodra

Oudyse Samodra invites us to enter his new world, Paduraksa. In this dystopian future, technology blurs the boundary between the past and the present, as well as the truth and our memory. A giant megastructure is erected in Kuta Beach, where it stands not only to protect the land from the rising sea level, but also becomes the gate for any tourist who would like to meet those who

(32)
(33)
(34)
(35)
(36)
(37)
(38)
(39)
(40)
(41)
(42)
(43)

41

“You take delight

not in a city's

seven or seventy

wonders, but in

the answer it gives

to a question of

yours.”

(44)
(45)

43 global air temperature and pollutants, further deteriorating our living condi-tions.

The Third International Tatlin’s Tower was designed in 1919 by Russian ar

-chitect, Vladimir Tatlin. A tremendous

structure that was meant to serve as a political propaganda hub for the city, state and the world beyond. It was

the result of the nation’s ego in com -peting against big developed coun-tries to gain worldwide recognition

and inluence. They want to challenge

modernity at that time so the

ENVISIONING

TATLIN’S

TOWER

PHL Architects

Most cities around the world are facing environmental problems as a result of rapid population growth. Industrial urbanization has also worsened the effect of the

increas-ing population. To fulill the need for

more space, many forest and farm-lands have been cleared for housing, high-rise buildings and commercial areas, resulting in a poorer envi-ronment in cities and at large. With lesser farmlands comes a lack of steady food production to support the needs of highly populated

cit-ies. The loss of forests also increases

Market perspective. ©PHL Architects

A sustainable megastructure for the Ciliwung River. In this utopia, PHL Archi-tects rethink and redesign the Tatlin’s Tower to become a self-sustaining

(46)

44

fered the effects of an expanding

population and urbanization. The river

used to support a rich ecosystem, but

that is no longer the case. The river

today has a high-density area – with

an estimated 472 people per hectare

– causing the decrease of river width

and rough water low. Therefore, many problems such as loods (1 to 3

meters high every year); water

popu-lation and sanitation; poor air quality; electricity deicit; and a lack of pub -lic space have become major issues

in the neighborhoods along Ciliwung

river.

Tatlin’s tower is almost 400 meters

in height and consists of a declined

“backbone and skeleton” structure

surrounded by two helices that sup-port the podiums inside– a massive box, a pyramid, a tube and

hemi-sphere. By studying the spaces creat -ed by the structure, it can be inferr-ed that the tower has the potential to support various activities, programs,

tower could surpass other countries’ monuments, such as Eiffel tower and

the statue of Liberty.

Alas, the tower is only known as an utopian symbol because it was nev-er built. As the ideology of the tow-er has appealed to many ovtow-er the years, we try to rethink on its design and reuse possibilities to solve cur-rent problems. We look to nature as a basis for us to create new thoughts in this modern society –to establish new sustainable system, concepts and technological improvements; and to invent a livable and sustain-able city of tomorrow.

“NEW” TATLIN’S TOWER AT CILIWUNG RIVER, JAKARTA

Our research project is set near to

the Ciliwung River, the longest pol

-luted river in Jakarta. Many buildings

have been built along its riverbanks,

and as such, Ciliwung river has suf

-Top left:

Farm perspective ©PHL Architects Top right: Residential area perspective ©PHL Architects Middle right: Program relation-ship diagram ©PHL

(47)
(48)

46

The market in the tree conservation area is set aside to sell the farming’s

excess production; each space rises above the ground and is connected

by bridges. The residential areas are

located inside the core of each space and are surrounded by farming, which is located in spaces between the resi-dential area and skeleton structure

throughout the tower. The main pur -pose of farming is to ensure a con-tinuous availability of food supplies for those in residence – vegetables, meat,

ish and dairy products – the excess

will be sold in the fresh produce

market. At least 10 percent surplus

can be generated for each product.

One tower can be occupied by 9000 people, and hence allows 19 hectares

of land to be restored to its natural state.

and technologies. Additional struc-tures and vertical transportations can be incorporated and its vast surfaces will be utilized in many dif-ferent ways.

In order to enable the Earth to re -cover its ecosystem, the proposed design intends to clear the land on

the Ciliwung riverside by moving people into the tower. The proposed

programs in the tower includes housing livestock farming; ish and insects farming; public spaces; en-ergy production; water and air

treat-ments; and puriier plants.

There are three main zones: pub -lic, residential and production ar-eas. Public areas are located on the ground and in each of the podiums.

Top:

Concept diagram ©PHL Architects

Bottom right:

(49)
(50)

48

In the end, by rethinking and

rede-signing the Tatlin’s Tower, we try to

propose new spaces in the city where communities can come together to live and work in self-sustaining towers.

By envisioning the tower after 100

years, we offer a different provocative thought on how new modern socie-ties can adapt with the development of technology and new spaces that will change urban concepts and social relationships, while healing our nature.

Together with the wind-generated

propellers, the photovoltaic

pan-els that cover the tower’s surfaces

will be able to generate a constant

supply of electricity. The water tur -bine also generate electricity by

us-ing gravity- Ciliwung river water is

pumped up through the backbone structure and runs down the double helix. During this time, the water will

be puriied and stored in a reservoir

beneath. The cleaned water will also

be distributed along its way down to the residential and farming areas.

Top:

(51)

49

“We try to propose

new spaces in

the city where

communities can

come together to

live and work in

self-sustaining

towers.”

(52)
(53)

51

KABUR

DARI BANDARA

Fath Nadizti

Akhirnya pesawat yang aku tumpangi mendarat di Surabaya siang itu. Setelah pramugari mengumumkan bahwa kami sudah bisa keluar dari pesawat, aku segera berdiri di lorong untuk ikut antri keluar bersama para penumpang

lain yang juga sudah siaga. Tidak banyak yang bisa dilakukan ketika terhimpit

dalam antrian seperti ini. Paling hanya melihat gedung terminal yang berada di luar, atau memperhatikan orang-orang disekitarku dengan seksama. Sep-erti mengintip layar sentuh ponsel yang tampak bercahaya dari balik bahu laki-laki yang berdiri beberapa senti didepanku. Posturnya tidak terlalu tinggi, tapi badannya berisi. Ia mengenakan kemeja putih, sedangkan jas berwarna

gelap yang senada dengan celananya menggantung di tangan kanannya. Je -marinya bergerak di atas layar, mencari nomor seseorang. Ia berhenti pada

satu nama, kemudian menekan layar untuk menelepon. “Halo,” katanya, “Saya sudah mendarat nih. Tolong jemput di kedatangan domestik ya.” Hening se

-jenak. Lalu ia melanjutkan, “Iya, didepan Rumah Makan Padang Salero aja, kayak biasanya.” Lalu pembicaraan berakhir. Enak juga ada yang menjemput,

pikirku. Sementara aku harus mencari taksi untuk bisa keluar dari bandara ini. Persisnya yang online, supaya lebih murah.

Kiri: Kabur dari bandara menggu-nakan taksi online (Sumber: dokumen penulis)

(54)

52

Karena pintu pesawat yang tidak kunjung dibuka, laki-laki berkemeja putih

itu akhirnya mengajakku bicara. Ia memiringkan badannya ke arahku. Tampak

tangan kirinya yang masih menggenggam ponsel sambil mengapit koran yang sudah lusuh. Ia bertanya tentang tentang moda transportasi apa yang akan kugunakan untuk keluar dari bandara ini. Setelah aku mengatakan rencanaku

untuk menaiki taksi online, ia berkata, “Taksi online dilarang di bandara ini, lho.”

“Oh, begitu ya?” tanyaku tidak percaya.

“Iya. Nanti di terminal kedatangan, kalau mbak nggak langsung pesan taksi

bandara atau terlihat nggak ada yang jemput, pasti banyak supir-supir taksi

yang deketin. Nawar-nawarin taksi mereka.” Ia menjelaskan.

“Jadi taksi dengan merek selain koperasi bandara boleh ngambil penumpang, tapi yang online nggak?” Aku mencoba memastikan.

“Iya, begitu.” Jawabnya dengan yakin. “Penumpang pasti lebih milih naik taksi online karena tarifnya lebih murah. Jadinya mereka dilarang ngambil penump

-ang dari bandara ini.” Lalu ia menjelaskan, “Kalau ketahuan, penump-angnya akan dipaksa turun. Terus supir taksi onlinenya akan disuruh nyetir keliling bandara sampai bensinnya habis. Dan nggak cuma itu…”

Aku masih mendengarkan.

“Dia juga mungkin akan disuruh push-up atau jalan jongkok atau hitung jum

-lah daun, terserah petugas. Pokoknya hukuman isik yang aneh-aneh. Supaya

pada kapok dan nggak ngambil penumpang dari bandara ini lagi. Dulu pernah

ada yang berontak, eh malah mobilnya dipukul sampai lecet…”

Adrenalinku naik. Rupanya di bandara ini memiliki sistem pengawasan yang cukup ketat. Seperti penjara. Petugas bandara berperan seperti pengawas yang mengawasi, mengarahkan, dan memberi sanksi; sedangkan para pe-numpang seperti tahanan yang diawasi, diarahkan, dan diberi sanksi jika mel-anggar. Dan bandara ini adalah penjara tempat mereka beradu.

“Biasalah, takut kalau penghasilan turun. Berebut penumpang, berebut rejeki. Seperti nggak ada yang ngatur saja…” Lanjutnya.

Aku sudah tidak terlalu mendengarkan celotehan berikutnya tentang re-jeki, iman, dan ketuhanan, karena yang ada dalam pikiranku sekarang adalah bagaimana caranya agar bisa kabur dari bandara ini menggunakan taksi online.

Secara naluriah aku memang selalu memilih yang lebih murah, tapi kali ini bukan soal uang. Kali ini soal prinsip bahwa tidak ada sistem yang sempurna.

(55)

53 membaca di mana atau berdiskusi dengan siapa, tapi, intinya, selalu ada celah yang bisa membawa kita keluar dari sebuah sistem. Dan itulah yang akan aku lakukan siang ini.

Para penumpang mulai bergerak keluar dari pesawat. Aku mengikuti arus sampai akhirnya menginjakkan kaki di garbarata. Detik itu juga, resmi sudah

pengawasan bandara ini terhadapku. Tidak ada jalan lain selain lorong gar -barata yang memanjang lurus didepanku. Lima orang petugas berseragam biru muda berdiri di dekat pertemuan antara lorong itu dengan pesawat. Dua dari mereka menggunakan rompi hijau berspotlight. Mereka semua berbincang dengan suara rendah sambil sesekali melihat kami, kecuali satu

yang membawa papan alas tulis. Badannya tinggi, dan bahu kirinya agak mir

-ing. Tangan kanannya terus bergerak, menulis di atas kertas pada papan itu,

sambil memperhatikan kami satu-satu. Sekilas aku melirik kertas-kertas itu,

dan tampak seperti daftar penumpang. Tapi aku segera memalingkan wa -jah sebelum mata kami beradu. Setelah beberapa langkah, aku bisa melihat

koridor terminal kedatangan yang melintang di ujung garbarata. Tergantung

papan penunjuk arah di langit-langit yang menginstruksikan untuk belok kiri

menuju Meja Transfer, Sabuk Bagasi, dan Terminal Kedatangan. Semua orang

berbelok. Aku berjalan sambil memicingkan mata pada benda kecil berwarna putih yang berada didekat pertemuan antara dinding dan langit-langit termi-nal. Kamera pengawas, kataku dalam hati. Dan ada lebih banyak lagi disepan-jang koridor itu. Aku semakin merasa diawasi.

Sebenarnya ponselku sudah aktif sejak didalam pesawat dan aplikasinya

su-dah bisa digunakan untuk memesan taksi. Tapi tidakkah akan terlihat dari layar

bahwa aku sedang memesan taksi online? Seperti aku bisa melihat layar pon-sel lelaki yang berada didepanku tadi? Oh iya, ngomong-ngomong, dimana ia

sekarang? Aku tidak melihatnya sejak berbelok di garbarata. Biarlah. Mungkin

dia sudah bergegas ke rumah makan padang itu karena sudah dijemput.

Aku terus berjalan menuju terminal kedatangan sambil menutupi layar ponsel,

diam-diam memesan taksi online. Tidak lama, aku melirik layar ponselku dan sudah ada tanda bahwa pesananaku dikonirmasi oleh seorang pengemudi. Untuk keamanan dan keselamatan pengemudi itu, aku tidak bisa menuliskan

namanya, jenis dan nomor polisi mobilnya, serta nama aplikasi layanan taksi

online dalam tulisan ini. Jadi, mari kita anggap saja namanya Eko, pengemudi Honda hitam dengan nomor polisi L 5555 XX, dan berada dalam manaje

-men layanan taksi online ‘Kekinian’. Kemudian aku -menelepon Eko melalui

aplikasi Kekinian untuk menentukan tempat penjemputan.

(56)

54

“Halo?” jawab suara di seberang.

“Halo? Dengan driver ‘Kekinian’ ya?” Tanyaku begitu saja.

“Mbak, tolong jangan sebut merek ya. Nanti kita ketahuan.” Kali ini suara itu

terdengan keras.

“Eh, maaf…” kataku, kaget.

“Langsung panggil nama saja. Saya Eko, dan kita teman lama.”

Lalu aku segera mengendalikan diri.

“Ohh, Eko apa kabar?” Aku mencoba melakukan instruksinya. “Nah, iya begitu…” Ia terdengar lega.

“Jadi mau jemput saya dimana? Kejutan nih, kita udah lama nggak ketemu…”

Aku mulai bisa mengikuti skenarionya.

“Mbak tahu toko roti di terminal keberangkatan domestik?”

“Keberangkatan Domestik?” aku mengulangi, “Roti Boy atau Dunkin Do

-nut’s?”

“Iya, Keberangkatan Domestik. Area drop off disana cukup lebar untuk saya berhenti. Lokasi persisnya tepat didepan Roti Boy.”

Oh, aku paham. “Boleh, masih inget kok Roti Boy tempat kita ketemuan dulu…” kataku, menyetujui.

“Oke.” lanjutnya. “Mbak pakai baju apa supaya bisa saya kenali?”

“Jaket jeans warna biru dongker biasanya. AC pesawat selalu dingin sih…”

“Baik. Saya naik Honda warna hitam ya, nomor polisi L 5555 XX. Tolong di -hafalkan, supaya terlihat kalau mbak sudah tahu mau naik mobil apa, dan bisa

langsung menuju kendaraan.”

“Sipdeh. Saya jalan kesana ya. Nggak sampai lima menit kok…”

“Nanti saya nggak bisa turun dari mobil karena terminal kedatangan sedang padat. Saya akan nyalakan lampu dim mobil kalau saya sudah lihat mbak.” Ia melanjutkan, “Dan kalau mbak mau kontak saya, sebaiknya ketika sudah di terminal keberangkatan. Jangan lihat layar ponsel terlalu sering, apalagi sambil

mencari mobil. Nanti bisa ketahuan kalau mbak sedang nunggu taksi dari

aplikasi. Biasa saja, seperti nggak ada hubungan antara ponsel mbak dengan mobil-mobil yang ada di terminal.”

(57)

55

“Oke, sampai ketemu ya, Eko!” Aku mengakhiri pembicaraan agar bisa berge -gas.

“Satu lagi mbak,” rupanya ia belum selesai, “kalau mbak sudah lihat saya, lam -baikan tangan ya. Ingat, kita teman lama yang sudah bertahun-tahun nggak

ketemu. Jangan terlihat seperti driver dan penumpang.” lanjutnya. “Sampai ketemu lima menit lagi.”

Klik.

Oke, aku benar-benar harus bergegas. Perjalanan dari koridor terminal

ke-datangan ini ke area drop off Terminal Keberangkatan Domestik masih pan -jang. Aku baru sadar kalau ada beberapa petugas bandara berseragam putih

berdiri didekatku, didepan toko oleh-oleh yang penuh dengan Bandeng Pres

-to khas Jawa Timur. Aku berpura-pura melihat tumpukan kardus bergambar

ikan yang berada dibelakang mereka sambil diam-diam memasukkan ponsel ke dalam saku celanaku. Aku cukup yakin kalau layar ponselku sudah mati. Para petugas itu lalu beranjak ke arah yang berlawanan. Aku jadi sedikit lega, walaupun kamera pengawas berada dimana-mana. Karena siapa yang bisa

menjamin kalau percakapanku dengan Eko tadi tidak ada yang mendengar?

Lalu aku berjalan cepat agar tidak terlalu menarik perhatian. Ingatanku tentang

denah bandara ini masih cukup bagus. Tapi aku harus berlagak seperti sudah

lama tidak mengunjungi kota ini, apalagi bandaranya, sehingga aku berjalan

sambil melihat ke kanan dan kiri. Meja Transfer baru saja aku lewati, berarti setelah ini adalah tempat makan bakso… toko batik… toilet… musholla… etalase oleh-oleh khas daerah… toko buku… layar berisi jadwal penerban

-gan… dan akhirnya Starbucks di sisi kanan koridor. Sabuk Bagasi dan Terminal

Kedatangan berada di lantai bawah dan bisa dicapai menggunakan eskalator yang ada di samping kedai kopi itu. Aku berbelok ke kanan menuju eskalator bersama para penumpang lain, menaikinya, lalu diam saja diatasnya. Membi-arkan tangga otomatis itu membawaku satu lantai lebih rendah.

Detik berikutnya Terminal Kedatangan menyambutku dari sisi kiri dengan

langit-langitnya yang tinggi dan salah satu sisi dindingnya yang masih saja berisi

papan-papan iklan berukuran besar. Sabuk Bagasi meliuk-liuk di sisi dinding

penuh iklan itu. Dikerumuni penumpang, porter, dan troli barang. Makin ban-yak petugas bandara di ruangan ini. Mereka yang berdiri didekat pintu keluar mencocokkan stiker pada barang bagasi dengan yang dimiliki penumpang untuk memastikan bagasi yang diambil sudah sesuai. Ada lagi yang mengawa-si ketertiban proses pengambilan bagamengawa-si. Ada juga yang memastikan semua orang keluar melalui pintu kaca otomatis diseberang sabuk bagasi.

(58)

56

tika ia melihatku berjalan kearah pintu kaca yang berada di sisi kanan eskala-tor. Aku tahu pintu itu langsung menuju terminal keberangkatan domestik. Rencanaku untuk menghindari meja pemesanan taksi bandara gagal sudah.

Pintu kaca otomatis itu sekarang sudah terbuka didepanku. Udara lembap

dan berat langsung menghantam wajahku. Menambah keringat yang sudah muncul sejak tadi karena adrenalin yang tinggi. Ada pagar besi yang tidak

mengijinkan para penumpang untuk lurus langsung ke area kedatangan. Jika

mengambil arah kiri, berarti kita akan menggunakan angkutan umum dan

pemesanan dapat dilakukan di meja yang sudah disediakan. Termasuk taksi bandara. Tentu saja aku mengambil arah kanan, karena Eko ‘si teman lama’

yang akan membawaku keluar dari tempat ini.

“Taksi, mbak?”

“Diantar kemana? Malang? Pasuruan?”

“Boleh mbak, dalam kota dua ratus ribu saja…”

“Sewa sehari juga bisa, mbak. Mau pakai driver apa lepas kunci..?”

“Sama saya nggak usah pakai argo. Pasnya saja mbak mau berapa?

Benar saja. Banyak sekali orang yang menawariku taksi. Aku menolak mereka

semua dengan mengatakan kalau sudah ada yang menjemput.

“Mana, mbak?”

“Lama lho nunggu yang jemput. Surabaya macet. Sama saya aja..”

Dan mereka mengekoriku. Mengikuti kemana aku berjalan. Memastikan aku

benar-benar dijemput dan tidak perlu taksi. Tuhan.

Sampai akhirnya aku menjauhi Terminal Kedatangan dan mulai masuk di Ter -minal Keberangkatan Domestik. Orang-orang tadi sudah berhenti

mengiku-tiku. Berganti dengan penumpang yang lalu-lalang dan jumlahnya jauh lebih banyak. Benar kata Eko, area drop off penuh. Banyak mobil yang berhenti.

Dan, buruknya, hampir semua bertipe Honda berwarna hitam.

Aku mulai panik. Padatnya kendaraan membuatku tidak bisa melihat plat

no-mor mobil dengan seksama. Dimana Eko? Bagaimana caranya menghubungi dia tanpa dicurigai? Banyak sekali petugas bandara disini. Aku tidak mau misi ini gagal. Aku melihat Roti Boy yang kami sepakati, lalu berjalan kesana sambil

mengeluarkan ponsel. Kupilih panggilan terakhir dari menu telepon.

Tuuutt…

(59)

57

Tidak diangkat. Aku kembali melihat deretan mobil didepan toko roti ini.

Sambil melipat tangan dan berusaha terlihat santai dengan

mengetuk-ketu-kan kakiku ke lantai. Terminal Keberangkatan Domestik sedikit berubah, tapi

aku sudah tidak fokus untuk mengamatinya. Aku hanya bisa melirik jam besar yang berada diatas layar jadwal penerbangan.

Satu menit.

Dua menit.

Tiba-tiba ada sebuah cahaya lampu kendaraan.

Honda berwarna hitam, kataku dalam hati. Aku mendekat perlahan. L 5555 XX. Eko. Itu Eko. Senyumku merekah. Pintu pengemudi terbuka, lalu mun -cul seorang laki-laki muda berambut ikal yang tersenyum ke arahku. Sesuai

skenario, aku melambaikan tangan kearahnya sambil berkata “Hai!” dengan

setengah berteriak. Ia membalas dengan lebih bersemangat lalu

mengingat-kan, “Cepetan masuk! Macet banget!” Aku bergegas mendatanginya kemu -dian duduk di kursi penumpang depan agar tidak terlihat seperti pengguna

taksi. Eko mengeluarkan mobilnya dari antrian, lalu melaju dengan lambat di

lajur paling kanan. Aku lega.

“Selamat siang, mbak. Maaf atas ketidaknyamannnya ya. Ini untuk menghindari pengawasan dari pihak bandara…” Ia menjelaskan. Iya, aku bisa maklum. Dan

justru bersemangat, karena berhasil kabur dari bandara ini menggunakan tak-si online yang dilarang. Aku berhatak-sil keluar dari tak-sistem pengawasan bandara

terhadap taksi online melalui celah yang telah ditemukan Eko. Well, entah

siapa diantara kami yang menemukan celah dan berhasil keluar dari sistem, tapi yang jelas kami sudah duduk manis di dalam mobil Honda hitam ini. Menuju gerbang keluar. Memang benar, tidak ada sistem yang sempurna.

Eko bercerita bahwa para petugas bandara sekarang semakin canggih dalam mengawasi praktik taksi online. “Ada yang pura-pura jadi penumpang,” ka

-tanya. “Bahkan banyak juga yang pakai baju preman, berbaur dengan

orang-orang di terminal, sambil mengawasi layar ponsel dan mendengarkan

pem-bicaraan mereka.”

Aku cukup kaget dengan fakta yang terakhir. Jika itu benar, siapapun yang be -rada disekitarku selama be-rada di bandara ini bisa saja petugas yang sedang

menyamar. Berarti, bisa saja misi ini sebenarnya sudah ketahuan.

“Tapi syukurlah siang ini lancar…” lanjutnya sambil melambatkan mobil. Kami mendekati Terminal Kedatangan yang juga macet karena ramai. Mobil pun

(60)

58

Rumah Makan Padang Salero. Aku bisa melihat lelaki berkemeja putih yang

tadi satu pesawat denganku. Ia memakai jas hitamnya. Jadi tampak seperti

mata-mata, pikirku. Ia memegang papan alas menulis dan membolak-balik kertasnya. Lalu seorang petugas bandara berseragam biru muda

mengham-pirinya. Bahu kirinya miring. Aku mengerenyitkan dahi, merasa ada sesuatu

yang familiar. Mereka berdua berbincang dengan serius, mendiskusikan daftar penumpang yang ada di papan itu. Si bahu miring menjelaskan sesuatu den-gan bahasa tubuhnya, seperti gerakan menelepon dan melambaikan tanden-gan. Mereka berdua lalu diam, kemudian mengalihkan pandangannya. Kearahku. Pandangan kami beradu. Mobil kami sudah mulai bergerak, tapi kami masih saling mentap. Ada yang tidak beres, pikirku. Lelaki berkemeja putih itu lalu mengeluarkan walkie talkie dari saku jasnya, kemudian bibirnya bergerak sep-erti mengatakan sesuatu. Aku terbelalak. Misi ini ketahuan. Ia pasti salah satu petugas berpakaian preman. Ia pasti bekerja sama dengan si bahu miring itu. Ia sengaja bertanya tentang bagaimana rencanaku keluar dari bandara ini.

“Maaf, mbak, apa ada uang receh untuk bayar parkir? Gate-nya ada di depan...” Eko mengagetkanku.

Aku baru sadar kalau kami belum benar-benar keluar dari bandara ini. kami masih diawasi. Dan di depan sana, sudah ada petugas bandara yang sedang

bicara melalui walkie talkie. Aku pasrah. Maafkan aku, Eko, kataku dalam hati.

(61)

59

"Kali ini soal prinsip

bahwa tidak ada

sistem yang

sempurna. Termasuk

sistem pengawasan

bandara ini

terhadap taksi...selalu

ada celah yang bisa

membawa kita keluar

dari sebuah sistem.

Dan itulah yang akan

aku lakukan siang

ini."

(62)
(63)

61

RUANG DALAM

INTERPRETASI

Lukman Hakim bersama Puti Karina Puar & Theoresia Rumthe

Ada rasa penasaran yang begitu besar untuk tahu bagaimana orang mengin-terpretasikan karya saya. Memahami bagaimana ruh mereka melebur den-gan memori dan pengalaman personal tiap individu, untuk melahirkan

se-buah makna baru. Untuk mewujudkan itu, saya berkolaborasi dengan dua

rekan baik saya yang juga aktif menulis. Saya memberi mereka dua foto ruang

kamar saya, untuk menjadi sumber inspirasi tunggal karya iksi mereka. Saya

tidak memberikan batasan dalam ruang imajinasi mereka. Karena pencipta harusnya sudah mati, saat karya sampai di tangan penikmat.

Foto oleh Lukman Hakim

Sebuah foto dapat memantik seribu makna. Lantas, apakah yang akan

ter-cipta dari tangan penulis iksi saat saya melepaskan makna dan konteks foto

(64)
(65)

63

Belajar Mengenai Patah

Theoresia Rumthe

Patah. Adalah rasa yang perlu dikenali. Tetap harus dipeluk dan dijadikan se -bagai sebuah pengalaman perjalanan. Seperti salah satu dari bagian tubuhmu, peluk ia erat. Pagi ini saya bangun dengan melihat dua buah mawar putih yang

tumbuh segar di halaman. Tetapi ada satu bahkan dua—mawar lainnya yang layu, terkulai begitu saja—patah.

Selama saya hidup, patah bukan hal yang baru. Banyak orang suka mengiden

-tiikasi kata ini dengan “patah hati” atau “kehilangan” atau “ada sesuatu yang terlepas dari dalam dirimu, padahal sebelumnya begitu melekat.”

Ketika bercerita tentang patah, saya ingat Ayah. Ayah mengalami patah (hati) yang begitu tidak dapat dijelaskan ketika Ibu meninggal. Kejadiannya, sudah setahun lebih, tetapi rasa patah itu masih ada. Sampai di sini saya menyadari

satu hal: ada rasa patah yang begitu lekat, susah untuk dilepas. Bahkan waktu,

mustahil untuk menyembuhkannya.

Ketika Ibu meninggal, Ayah seperti kehilangan sesuatu yang tidak dapat saya jelaskan. Hanya saja, hal tersebut dapat dirasakan. Saya lalu merasa bahwa, rasa patah atau kehilangan semacam itu, akan terjadi di dalam diri kita, apabila kita memang nantinya akan kehilangan orang yang begitu kita cintai. Maka, berhati-hatilah dengan cinta!

<

Referensi

Dokumen terkait