• Tidak ada hasil yang ditemukan

DARI BANDARA

Dalam dokumen | membacaruang Vol 2 Fiksi Jendela (Halaman 53-61)

Fath Nadizti

Akhirnya pesawat yang aku tumpangi mendarat di Surabaya siang itu. Setelah pramugari mengumumkan bahwa kami sudah bisa keluar dari pesawat, aku segera berdiri di lorong untuk ikut antri keluar bersama para penumpang

lain yang juga sudah siaga. Tidak banyak yang bisa dilakukan ketika terhimpit

dalam antrian seperti ini. Paling hanya melihat gedung terminal yang berada di luar, atau memperhatikan orang-orang disekitarku dengan seksama. Sep-erti mengintip layar sentuh ponsel yang tampak bercahaya dari balik bahu laki-laki yang berdiri beberapa senti didepanku. Posturnya tidak terlalu tinggi, tapi badannya berisi. Ia mengenakan kemeja putih, sedangkan jas berwarna

gelap yang senada dengan celananya menggantung di tangan kanannya. Je -marinya bergerak di atas layar, mencari nomor seseorang. Ia berhenti pada

satu nama, kemudian menekan layar untuk menelepon. “Halo,” katanya, “Saya sudah mendarat nih. Tolong jemput di kedatangan domestik ya.” Hening se

-jenak. Lalu ia melanjutkan, “Iya, didepan Rumah Makan Padang Salero aja, kayak biasanya.” Lalu pembicaraan berakhir. Enak juga ada yang menjemput,

pikirku. Sementara aku harus mencari taksi untuk bisa keluar dari bandara ini. Persisnya yang online, supaya lebih murah.

Kiri: Kabur dari bandara menggu-nakan taksi online (Sumber: dokumen penulis)

Ketika sebuah sistem pengawasan begitu rapi dan terstruktur, masih mampukah kita melawan?

52

Karena pintu pesawat yang tidak kunjung dibuka, laki-laki berkemeja putih

itu akhirnya mengajakku bicara. Ia memiringkan badannya ke arahku. Tampak

tangan kirinya yang masih menggenggam ponsel sambil mengapit koran yang sudah lusuh. Ia bertanya tentang tentang moda transportasi apa yang akan kugunakan untuk keluar dari bandara ini. Setelah aku mengatakan rencanaku

untuk menaiki taksi online, ia berkata, “Taksi online dilarang di bandara ini, lho.”

“Oh, begitu ya?” tanyaku tidak percaya.

“Iya. Nanti di terminal kedatangan, kalau mbak nggak langsung pesan taksi

bandara atau terlihat nggak ada yang jemput, pasti banyak supir-supir taksi

yang deketin. Nawar-nawarin taksi mereka.” Ia menjelaskan.

“Jadi taksi dengan merek selain koperasi bandara boleh ngambil penumpang, tapi yang online nggak?” Aku mencoba memastikan.

“Iya, begitu.” Jawabnya dengan yakin. “Penumpang pasti lebih milih naik taksi online karena tarifnya lebih murah. Jadinya mereka dilarang ngambil penump

-ang dari bandara ini.” Lalu ia menjelaskan, “Kalau ketahuan, penump-angnya akan dipaksa turun. Terus supir taksi onlinenya akan disuruh nyetir keliling bandara sampai bensinnya habis. Dan nggak cuma itu…”

Aku masih mendengarkan.

“Dia juga mungkin akan disuruh push-up atau jalan jongkok atau hitung jum

-lah daun, terserah petugas. Pokoknya hukuman isik yang aneh-aneh. Supaya

pada kapok dan nggak ngambil penumpang dari bandara ini lagi. Dulu pernah

ada yang berontak, eh malah mobilnya dipukul sampai lecet…”

Adrenalinku naik. Rupanya di bandara ini memiliki sistem pengawasan yang cukup ketat. Seperti penjara. Petugas bandara berperan seperti pengawas yang mengawasi, mengarahkan, dan memberi sanksi; sedangkan para pe-numpang seperti tahanan yang diawasi, diarahkan, dan diberi sanksi jika mel-anggar. Dan bandara ini adalah penjara tempat mereka beradu.

“Biasalah, takut kalau penghasilan turun. Berebut penumpang, berebut rejeki. Seperti nggak ada yang ngatur saja…” Lanjutnya.

Aku sudah tidak terlalu mendengarkan celotehan berikutnya tentang re-jeki, iman, dan ketuhanan, karena yang ada dalam pikiranku sekarang adalah bagaimana caranya agar bisa kabur dari bandara ini menggunakan taksi online. Secara naluriah aku memang selalu memilih yang lebih murah, tapi kali ini bukan soal uang. Kali ini soal prinsip bahwa tidak ada sistem yang sempurna.

53 membaca di mana atau berdiskusi dengan siapa, tapi, intinya, selalu ada celah yang bisa membawa kita keluar dari sebuah sistem. Dan itulah yang akan aku lakukan siang ini.

Para penumpang mulai bergerak keluar dari pesawat. Aku mengikuti arus sampai akhirnya menginjakkan kaki di garbarata. Detik itu juga, resmi sudah

pengawasan bandara ini terhadapku. Tidak ada jalan lain selain lorong gar -barata yang memanjang lurus didepanku. Lima orang petugas berseragam biru muda berdiri di dekat pertemuan antara lorong itu dengan pesawat. Dua dari mereka menggunakan rompi hijau berspotlight. Mereka semua berbincang dengan suara rendah sambil sesekali melihat kami, kecuali satu

yang membawa papan alas tulis. Badannya tinggi, dan bahu kirinya agak mir

-ing. Tangan kanannya terus bergerak, menulis di atas kertas pada papan itu,

sambil memperhatikan kami satu-satu. Sekilas aku melirik kertas-kertas itu,

dan tampak seperti daftar penumpang. Tapi aku segera memalingkan wa -jah sebelum mata kami beradu. Setelah beberapa langkah, aku bisa melihat

koridor terminal kedatangan yang melintang di ujung garbarata. Tergantung

papan penunjuk arah di langit-langit yang menginstruksikan untuk belok kiri

menuju Meja Transfer, Sabuk Bagasi, dan Terminal Kedatangan. Semua orang

berbelok. Aku berjalan sambil memicingkan mata pada benda kecil berwarna putih yang berada didekat pertemuan antara dinding dan langit-langit termi-nal. Kamera pengawas, kataku dalam hati. Dan ada lebih banyak lagi disepan-jang koridor itu. Aku semakin merasa diawasi.

Sebenarnya ponselku sudah aktif sejak didalam pesawat dan aplikasinya

su-dah bisa digunakan untuk memesan taksi. Tapi tidakkah akan terlihat dari layar

bahwa aku sedang memesan taksi online? Seperti aku bisa melihat layar pon-sel lelaki yang berada didepanku tadi? Oh iya, ngomong-ngomong, dimana ia

sekarang? Aku tidak melihatnya sejak berbelok di garbarata. Biarlah. Mungkin

dia sudah bergegas ke rumah makan padang itu karena sudah dijemput. Aku terus berjalan menuju terminal kedatangan sambil menutupi layar ponsel,

diam-diam memesan taksi online. Tidak lama, aku melirik layar ponselku dan sudah ada tanda bahwa pesananaku dikonirmasi oleh seorang pengemudi. Untuk keamanan dan keselamatan pengemudi itu, aku tidak bisa menuliskan

namanya, jenis dan nomor polisi mobilnya, serta nama aplikasi layanan taksi

online dalam tulisan ini. Jadi, mari kita anggap saja namanya Eko, pengemudi Honda hitam dengan nomor polisi L 5555 XX, dan berada dalam manaje

-men layanan taksi online ‘Kekinian’. Kemudian aku -menelepon Eko melalui

aplikasi Kekinian untuk menentukan tempat penjemputan.

54

“Halo?” jawab suara di seberang.

“Halo? Dengan driver ‘Kekinian’ ya?” Tanyaku begitu saja.

“Mbak, tolong jangan sebut merek ya. Nanti kita ketahuan.” Kali ini suara itu

terdengan keras.

“Eh, maaf…” kataku, kaget.

“Langsung panggil nama saja. Saya Eko, dan kita teman lama.”

Lalu aku segera mengendalikan diri.

“Ohh, Eko apa kabar?” Aku mencoba melakukan instruksinya. “Nah, iya begitu…” Ia terdengar lega.

“Jadi mau jemput saya dimana? Kejutan nih, kita udah lama nggak ketemu…”

Aku mulai bisa mengikuti skenarionya.

“Mbak tahu toko roti di terminal keberangkatan domestik?”

“Keberangkatan Domestik?” aku mengulangi, “Roti Boy atau Dunkin Do

-nut’s?”

“Iya, Keberangkatan Domestik. Area drop off disana cukup lebar untuk saya berhenti. Lokasi persisnya tepat didepan Roti Boy.”

Oh, aku paham. “Boleh, masih inget kok Roti Boy tempat kita ketemuan dulu…” kataku, menyetujui.

“Oke.” lanjutnya. “Mbak pakai baju apa supaya bisa saya kenali?”

“Jaket jeans warna biru dongker biasanya. AC pesawat selalu dingin sih…” “Baik. Saya naik Honda warna hitam ya, nomor polisi L 5555 XX. Tolong di -hafalkan, supaya terlihat kalau mbak sudah tahu mau naik mobil apa, dan bisa

langsung menuju kendaraan.”

“Sipdeh. Saya jalan kesana ya. Nggak sampai lima menit kok…”

“Nanti saya nggak bisa turun dari mobil karena terminal kedatangan sedang padat. Saya akan nyalakan lampu dim mobil kalau saya sudah lihat mbak.” Ia melanjutkan, “Dan kalau mbak mau kontak saya, sebaiknya ketika sudah di terminal keberangkatan. Jangan lihat layar ponsel terlalu sering, apalagi sambil

mencari mobil. Nanti bisa ketahuan kalau mbak sedang nunggu taksi dari

aplikasi. Biasa saja, seperti nggak ada hubungan antara ponsel mbak dengan mobil-mobil yang ada di terminal.”

55

“Oke, sampai ketemu ya, Eko!” Aku mengakhiri pembicaraan agar bisa berge -gas.

“Satu lagi mbak,” rupanya ia belum selesai, “kalau mbak sudah lihat saya, lam -baikan tangan ya. Ingat, kita teman lama yang sudah bertahun-tahun nggak

ketemu. Jangan terlihat seperti driver dan penumpang.” lanjutnya. “Sampai ketemu lima menit lagi.”

Klik.

Oke, aku benar-benar harus bergegas. Perjalanan dari koridor terminal

ke-datangan ini ke area drop off Terminal Keberangkatan Domestik masih pan -jang. Aku baru sadar kalau ada beberapa petugas bandara berseragam putih

berdiri didekatku, didepan toko oleh-oleh yang penuh dengan Bandeng Pres

-to khas Jawa Timur. Aku berpura-pura melihat tumpukan kardus bergambar

ikan yang berada dibelakang mereka sambil diam-diam memasukkan ponsel ke dalam saku celanaku. Aku cukup yakin kalau layar ponselku sudah mati. Para petugas itu lalu beranjak ke arah yang berlawanan. Aku jadi sedikit lega, walaupun kamera pengawas berada dimana-mana. Karena siapa yang bisa

menjamin kalau percakapanku dengan Eko tadi tidak ada yang mendengar?

Lalu aku berjalan cepat agar tidak terlalu menarik perhatian. Ingatanku tentang

denah bandara ini masih cukup bagus. Tapi aku harus berlagak seperti sudah

lama tidak mengunjungi kota ini, apalagi bandaranya, sehingga aku berjalan

sambil melihat ke kanan dan kiri. Meja Transfer baru saja aku lewati, berarti setelah ini adalah tempat makan bakso… toko batik… toilet… musholla… etalase oleh-oleh khas daerah… toko buku… layar berisi jadwal penerban

-gan… dan akhirnya Starbucks di sisi kanan koridor. Sabuk Bagasi dan Terminal

Kedatangan berada di lantai bawah dan bisa dicapai menggunakan eskalator yang ada di samping kedai kopi itu. Aku berbelok ke kanan menuju eskalator bersama para penumpang lain, menaikinya, lalu diam saja diatasnya. Membi-arkan tangga otomatis itu membawaku satu lantai lebih rendah.

Detik berikutnya Terminal Kedatangan menyambutku dari sisi kiri dengan

langit-langitnya yang tinggi dan salah satu sisi dindingnya yang masih saja berisi

papan-papan iklan berukuran besar. Sabuk Bagasi meliuk-liuk di sisi dinding

penuh iklan itu. Dikerumuni penumpang, porter, dan troli barang. Makin ban-yak petugas bandara di ruangan ini. Mereka yang berdiri didekat pintu keluar mencocokkan stiker pada barang bagasi dengan yang dimiliki penumpang untuk memastikan bagasi yang diambil sudah sesuai. Ada lagi yang mengawa-si ketertiban proses pengambilan bagamengawa-si. Ada juga yang memastikan semua orang keluar melalui pintu kaca otomatis diseberang sabuk bagasi.

56

tika ia melihatku berjalan kearah pintu kaca yang berada di sisi kanan eskala-tor. Aku tahu pintu itu langsung menuju terminal keberangkatan domestik. Rencanaku untuk menghindari meja pemesanan taksi bandara gagal sudah.

Pintu kaca otomatis itu sekarang sudah terbuka didepanku. Udara lembap

dan berat langsung menghantam wajahku. Menambah keringat yang sudah muncul sejak tadi karena adrenalin yang tinggi. Ada pagar besi yang tidak

mengijinkan para penumpang untuk lurus langsung ke area kedatangan. Jika

mengambil arah kiri, berarti kita akan menggunakan angkutan umum dan

pemesanan dapat dilakukan di meja yang sudah disediakan. Termasuk taksi bandara. Tentu saja aku mengambil arah kanan, karena Eko ‘si teman lama’

yang akan membawaku keluar dari tempat ini.

“Taksi, mbak?”

“Diantar kemana? Malang? Pasuruan?”

“Boleh mbak, dalam kota dua ratus ribu saja…”

“Sewa sehari juga bisa, mbak. Mau pakai driver apa lepas kunci..?” “Sama saya nggak usah pakai argo. Pasnya saja mbak mau berapa?

Benar saja. Banyak sekali orang yang menawariku taksi. Aku menolak mereka

semua dengan mengatakan kalau sudah ada yang menjemput.

“Mana, mbak?”

“Lama lho nunggu yang jemput. Surabaya macet. Sama saya aja..”

Dan mereka mengekoriku. Mengikuti kemana aku berjalan. Memastikan aku

benar-benar dijemput dan tidak perlu taksi. Tuhan.

Sampai akhirnya aku menjauhi Terminal Kedatangan dan mulai masuk di Ter -minal Keberangkatan Domestik. Orang-orang tadi sudah berhenti

mengiku-tiku. Berganti dengan penumpang yang lalu-lalang dan jumlahnya jauh lebih banyak. Benar kata Eko, area drop off penuh. Banyak mobil yang berhenti.

Dan, buruknya, hampir semua bertipe Honda berwarna hitam.

Aku mulai panik. Padatnya kendaraan membuatku tidak bisa melihat plat

no-mor mobil dengan seksama. Dimana Eko? Bagaimana caranya menghubungi dia tanpa dicurigai? Banyak sekali petugas bandara disini. Aku tidak mau misi ini gagal. Aku melihat Roti Boy yang kami sepakati, lalu berjalan kesana sambil

mengeluarkan ponsel. Kupilih panggilan terakhir dari menu telepon.

Tuuutt… Tuuutt…

57

Tidak diangkat. Aku kembali melihat deretan mobil didepan toko roti ini.

Sambil melipat tangan dan berusaha terlihat santai dengan

mengetuk-ketu-kan kakiku ke lantai. Terminal Keberangkatan Domestik sedikit berubah, tapi

aku sudah tidak fokus untuk mengamatinya. Aku hanya bisa melirik jam besar yang berada diatas layar jadwal penerbangan.

Satu menit. Dua menit.

Tiba-tiba ada sebuah cahaya lampu kendaraan.

Honda berwarna hitam, kataku dalam hati. Aku mendekat perlahan. L 5555 XX. Eko. Itu Eko. Senyumku merekah. Pintu pengemudi terbuka, lalu mun -cul seorang laki-laki muda berambut ikal yang tersenyum ke arahku. Sesuai

skenario, aku melambaikan tangan kearahnya sambil berkata “Hai!” dengan

setengah berteriak. Ia membalas dengan lebih bersemangat lalu

mengingat-kan, “Cepetan masuk! Macet banget!” Aku bergegas mendatanginya kemu -dian duduk di kursi penumpang depan agar tidak terlihat seperti pengguna

taksi. Eko mengeluarkan mobilnya dari antrian, lalu melaju dengan lambat di

lajur paling kanan. Aku lega.

“Selamat siang, mbak. Maaf atas ketidaknyamannnya ya. Ini untuk menghindari pengawasan dari pihak bandara…” Ia menjelaskan. Iya, aku bisa maklum. Dan

justru bersemangat, karena berhasil kabur dari bandara ini menggunakan tak-si online yang dilarang. Aku berhatak-sil keluar dari tak-sistem pengawasan bandara

terhadap taksi online melalui celah yang telah ditemukan Eko. Well, entah

siapa diantara kami yang menemukan celah dan berhasil keluar dari sistem, tapi yang jelas kami sudah duduk manis di dalam mobil Honda hitam ini. Menuju gerbang keluar. Memang benar, tidak ada sistem yang sempurna.

Eko bercerita bahwa para petugas bandara sekarang semakin canggih dalam mengawasi praktik taksi online. “Ada yang pura-pura jadi penumpang,” ka

-tanya. “Bahkan banyak juga yang pakai baju preman, berbaur dengan

orang-orang di terminal, sambil mengawasi layar ponsel dan mendengarkan

pem-bicaraan mereka.”

Aku cukup kaget dengan fakta yang terakhir. Jika itu benar, siapapun yang be -rada disekitarku selama be-rada di bandara ini bisa saja petugas yang sedang

menyamar. Berarti, bisa saja misi ini sebenarnya sudah ketahuan.

“Tapi syukurlah siang ini lancar…” lanjutnya sambil melambatkan mobil. Kami mendekati Terminal Kedatangan yang juga macet karena ramai. Mobil pun

berhenti. Aku jadi sempat memperhatikan terminal itu dengan seksama. Masih ada kios Soto Lamongan kesukaanku. Dan tidak jauh dari situ, ada

58

Rumah Makan Padang Salero. Aku bisa melihat lelaki berkemeja putih yang

tadi satu pesawat denganku. Ia memakai jas hitamnya. Jadi tampak seperti

mata-mata, pikirku. Ia memegang papan alas menulis dan membolak-balik kertasnya. Lalu seorang petugas bandara berseragam biru muda

mengham-pirinya. Bahu kirinya miring. Aku mengerenyitkan dahi, merasa ada sesuatu

yang familiar. Mereka berdua berbincang dengan serius, mendiskusikan daftar penumpang yang ada di papan itu. Si bahu miring menjelaskan sesuatu den-gan bahasa tubuhnya, seperti gerakan menelepon dan melambaikan tanden-gan. Mereka berdua lalu diam, kemudian mengalihkan pandangannya. Kearahku. Pandangan kami beradu. Mobil kami sudah mulai bergerak, tapi kami masih saling mentap. Ada yang tidak beres, pikirku. Lelaki berkemeja putih itu lalu mengeluarkan walkie talkie dari saku jasnya, kemudian bibirnya bergerak sep-erti mengatakan sesuatu. Aku terbelalak. Misi ini ketahuan. Ia pasti salah satu petugas berpakaian preman. Ia pasti bekerja sama dengan si bahu miring itu. Ia sengaja bertanya tentang bagaimana rencanaku keluar dari bandara ini.

“Maaf, mbak, apa ada uang receh untuk bayar parkir? Gate-nya ada di depan...” Eko mengagetkanku.

Aku baru sadar kalau kami belum benar-benar keluar dari bandara ini. kami masih diawasi. Dan di depan sana, sudah ada petugas bandara yang sedang

bicara melalui walkie talkie. Aku pasrah. Maafkan aku, Eko, kataku dalam hati.

Apapun bisa terjadi padanya setelah ini. Dan mungkin padaku juga. Kalau su-dah begini, aku menyesal karena tidak terlalu mendengarkan celotehan pria berkemeja putih itu tentang rejeki, iman, dan ketuhanan.

59

"Kali ini soal prinsip

bahwa tidak ada

Dalam dokumen | membacaruang Vol 2 Fiksi Jendela (Halaman 53-61)

Dokumen terkait