81
Mencari Tanah
Surga
Siti Amrina Rosada
Pada sebuah kota di Pulau J.
Aku adalah seekor anjing
Jika kalian, para manusia ingin
mendengarkannya, aku akan bercer-ita tentang upayaku untuk menemu-kan sebuah tanah surga.
Dua tahun lalu, aku lahir di sebuah celah sisa ruang-ruang manusia. Ibuku adalah seekor anjing dengan cinta buta
kepada tuannya. Beberapa hari sebe -lum aku lahir, ibuku tertinggal-dibawa oleh seorang manusia yang menjadi rumahnya. Ibuku selalu menggunakan kata "tertinggal-dibawa", sehingga dia
Anjing jalanan di ka-wasan Taj Mahal, Agra. Saat mengambil foto ini, sang fotografer
terlibat konik dengan
pihak keamanan yang tidak senang. “The subjects in our documentary beleive it comes from an imposition of Western values, this idea that for a country to be “modern,” it shouldn’t have community dogs.” – Jesse Alk, Pa-riah Dog Movie (Sumber: https://www. instagram.com/pariah-dogmovie/)
“Aku adalah seekor anjing, dan kerena kalian para manusia adalah binatang-binatang yang kurang rasional daripada aku, kalian katakan saja pada diri
kalian, “Anjing-anjing tidak berbicara!” Namun demikian, kalian sepertinya mempercayai sebuah kisah di mana mayat-mayat bisa bicara dan tokoh-tokoh
menggunakan rangkaian kata-kata yang tak mungkin bisa mereka mengerti. Anjing-anjing bisa berbicara, tetapi hanya pada mereka yang tahu bagaimana
mendengarkannya.”
-Aku Seekor Anjing, dalam Namaku Merah karangan Orhan Pamuk
selalu menunggu di titik yang sama sekalipun si manusia tak kunjung da-tang menjemputnya.
Aku bukan ibuku, jadi aku tak perlu mengikuti penantiannya. Aku ingin berkelana, menemui tanah surga se-bagaimana yang diceritakan banyak
anjing di sekitarku. Tanah surga itu
berada di balik tembok-tembok ko-koh. Konon katanya, di sana terda-pat sebuah halaman berumput yang sangat luas sehingga para anjing tak perlu menahan hasrat
“An old Pariah Dog thinks about crossing the street in Park
Circus, a dificult place
for stray animals in Kolkata.” – Jesse Alk, Pariah Dog Movie (Sumber: https://www. instagram.com/pariah-dogmovie/)
untuk berlari. Di sana juga terdapat gedung-gedung yang dapat
melind-ungi kami dari panas dan hujan. Tem -pat itu banyak didatangi manusia yang sedang belajar, dan tak jarang mereka memberi makanan untuk binatang berkaki empat yang ada di sana.
Aku adalah anjing mahal
Konon katanya, aku dibeli dengan harga melebihi harga sepeda motor keluaran terbaru. Aku adalah an-jing pedigree, salah satu ras unggul di muka bumi ini yang diperanakan pada kennel terkemuka. Satu hal lain yang pasti, sedari kecil sampai seka-rang tampilanku memang lucu sekali.
Berulang kali, Tuanku mengatakan itu
saat bermain-main denganku, atau ketika bermain dengan temannya sambil bermain denganku.
Tuanku sangat menyayangi aku.
Sekalipun buluku rontok di perten-gahan tahun, atau biar aku harus dibawa ke dokter setiap tiga bulan
sekali, Tuanku selalu memanjakan
aku. Makanan, minuman, mainan, sampai tempat tidur, semua disedia-kan untukku.
Kadang, ketika berlari pagi bersama
Tuanku atau sekedar jalan-jalan
bersama, aku sering melihat anjing-anjing jalanan yang tak memiliki apa yang aku miliki. Melihat mereka se-lalu membuatku bersyukur dengan
apa yang aku miliki. Aku memiliki Tu -anku. Karena jika aku tidak memiliki
Tuanku, aku tak akan bisa tinggal di
bumi ini.
Aku adalah anjing pejabat
Semua yang hidup memiliki tem-patnya masing-masing. Sehingga
ada-83
There are two type of person…
(Sumber: https://www. instagram.com/pariah-dogmovie/)
lah sebuah kesalahan jika seseorang melanggar tempat di mana dia se-harusnya. Misalnya, jika aku khilaf lalu
naik ke atas sofa, maka Tuanku akan
menegurku sehingga aku turun dari sana.
Tuanku adalah seorang pejabat di
sebuah perguruan tinggi kenamaan
di negeri ini. Beberapa kali, aku per -nah di bawa ke sana. Semisal acara pertemuan pencinta anjing atau sekedar menemani tuanku lari pagi. Menurutku, semua tentang kampus
ini hebat. Tapi tuanku selalu menge -luhkan beberapa hal kecil yang perlu diselesaikan. Salah satunya adalah tentang binatang-binatang liar yang berkeliaran di salah satu wilayah kampus.
Sore ini, aku berbaring di lantai sam-bil menggigiti mainanku. Di sofa itu,
Tuanku duduk bersama beberapa
tamunya. Mereka membicarakan tentang keberadaan anjing dan
kuc-ing liar yang semakin meresahkan di kampus. Kehadiran mereka mem-bawa kesan kumuh dan kotor, sangat bertentangan dengan citra kampus sebagai universitas nomor satu di negeri ini.
Sambil berguling-guling, aku menden-gar bahwa mereka berencana men-gadakan pengendalian hewan liar di hari libur kampus. Mereka membic-arakan kemungkinan penolakan dari organisasi pencinta hewan, namun
Tuanku menyahut marah, bahwa
mereka seharusnya malah lega, ka-rena keputusan ini membawa sektor pemerintahan untuk terlibat dalam kegiatan penertiban satwa domestik.
Berulang kali mereka berkata, bah -wa rencana mereka untuk memin-dahkan hewan-hewan liar itu entah ke mana bukanlah hal yang melang-gar hukum.
Ah, hukum. Akhirnya aku mengerti maksud tuanku dan tamunya.
Lay-aknya sofa yang di-olah bagi manusia untuk duduk,
kam-pus Tuanku ini diolah
bagi manusia untuk belajar. Sofa dan kampus bukanlah tempat bagi anjing. Lagi pula, seperti yang sering
diucap-kan Tuanku, arsitek
kampus ini susah-susah merancang tidak untuk ditiduri, apalagi dikencingi, oleh anjing-anjing liar itu.
84
Anjing jalanan di ka-wasan Taj Mahal, Agra. Saat mengambil foto ini, sang fotografer
terlibat konik dengan
pihak keamanan yang tidak senang. “The subjects in our documentary beleive it comes from an imposition of Western values, this idea that for a country to be “modern,” it shouldn’t have community dogs.” – Jesse Alk,
Pa-riah Dog Movie (Sumber: https://www. instagram.com/pariah-dogmovie/)
Aku adalah makhluk Tuhan (juga)
Aku kira, aku sudah sampai di tanah surga. Aku sudah menemukan hamparan rerumputan luas dan berlarian di atasnya. Aku bertemu banyak teman seperjuangan lainnya, kucing-kucing yang mendesis ketika melihatku, dan beberapa anjing lain yang mengen-dusi bokongku.
Aku pun telah memiliki teman, se-orang anjing tua yang tampaknya
begitu akrab dengan manusia. Banyak
manusia memanggilnya dengan
sebu-tan "Bobby" lalu mengusap perutnya. Bersama anjing itu, aku merasakan
sentuhan-sentuhan penuh kasih dari tangan manusia. Mereka menggaruk-garuk telinga dan kepalaku, sambil melemparkan beberapa potong ayam dari piring makan.
Untuk pertama kalinya malam itu,
aku merasakan hangatnya keset se-bagai alas tidurku.
Namun, semua berubah ketika pagi datang. Waktu itu tidak seramai ke-tika aku tiba di tanah surga ini. Hanya ada beberapa manusia dengan pa-kaian yang sama. Aku mendatangi mereka, mengharapkan sentuhan yang sama seperti tangan-tangan kemarin. Namun, aku salah.
Sentuhan itu begitu kasar.
Tangan-tangan itu menyeretku, memaksaku masuk ke dalam sebuah kerangkeng besi yang diletakkan di atas mobil. Aku masih tak percaya ketika aku terkurung di sana. Kaki-kaki ku men-gais, mencoba keluar dari penjara itu.
Tapi percuma.
Terdengar banyak suara keras yang
menyeramkan. Semakin lama se-makin banyak anjing dan kucing lain yang berada di atas mobil terbuka ini. Mereka sama-sama di dalam kerang-keng. Mereka sama-sama mencoba keluar. Seekor anjing di sudut sana mulai merintih. Rintihan itu menulari kami semua, termasuk aku.
Ketika matahari begitu terik, mobil pun berjalan. Diiringi suara gong-gongan dan meongan yang ramai. Di antara tangisan-tangisan itu, aku mencoba berdoa.
Tuhan, bukankah semua di dunia ini milik-Mu?
Semoga aku dan lainnya baik-baik saja. Semoga nanti aku kembali ke tanah surga ini. Semoga nanti di sana
85 tempat kami menuju adalah tanah
surga yang lain. Semoga aku masih bisa berlari di atas rumput. Semoga masih ada cukup keset bagiku untuk mencari hangat. Semoga selalu ada tangan-tangan lembut yang meng-garuk-garuk kepalaku.
Mobil masih berjalan tanpa aku tahu ke mana tujuannya. Suara keras kem-bali terdengar, seakan menyuruh kami untuk diam. Aku mencoba me-nahan rintihan, namun tubuhku lah yang menjadi gemetar.
Seekor kucing di sebelahku menatap nanar, badannya bergetar hebat sam-pai air kencingnya keluar. Aku sebe-narnya tahu, tapi menolak untuk men-gaku. Kami semua tahu, ke mana akhir
jalan ini. Lalu apa kabar doaku? Entah.
Karena kata mereka yang mendaku hegemoni ketuhanan, aku adalah haram.
"The domination–exploitation of human beings begins with animals, wild beasts and cattle; the humans associated with these inaugurated an experience that would turn back against them: killings, stockbreeding, slaughters, sacriices and (in order better to submit) castration."
- Henri Lefebvre dalam
Rhythmanalysis: Space, Time and Everyday Life
Sementara itu, di Pulau S.
Aku seperti lolongan anjing
Kamu tahu, ketika satu anjing melo-long maka anjing-anjing yang lain pun akan mengangkat wajahnya ke langit ikut sumbang suara. Karena itulah, lo-longan anjing sering terdengar terus bersahutan tiada henti, sampai akh-irnya mati sendiri.
Aku hadir di setiap titik temu manu-sia-manusia yang mengelompokkan diri, lewat lenggokan lidah yang me-nari, atau sentuhan-sentuhan huruf yang dibentuk oleh jemari.
Kisahku hari ini adalah di sebuah pasar sana, seekor anjing menggigit tangan manusia. Namun, tak ada yang menyampaikan alasan mengapa si anjing menggigit tangan manusia, atau bagaimana konteks kejadian yang sebenarnya terjadi, sehingga
86
Namaku menjadi umpatan: Anjing!
Waktu itu aku baru saja mengais apa yang disebut oleh manusia sebagai sampah. Melakukan kegiatan ini se-hari-hari membuat aku sulit percaya, bahwa para nenek moyang dicerita-kan bisa berlari kencang mengikuti indera penciuman yang tajam untuk mendapatkan buruan.
Maksudku, coba lihat saja sekitar kita. Apa yang bisa diburu oleh an-jing dalam kota ini? Manusia bahkan menyemen pasir sehingga tak ada lagi tempat untukku buang air. Para anjing tua sering berkisah, hidup an-jing dan manusia cukup harmonis sebelum segelintir manusia dengan kuasa berlimpah membuat maklu-mat bahwa ruang bumi adalah mi-lik mereka, lalu membaginya dengan teman-teman mereka.
Maka hari itu seperti biasa penciumanku memilah aroma di antara sampah se-buah pasar. Aku baru saja menggigit tu-diriku menjadi berimbang di semua
sisi. Memang begitulah kedatangan se-buah kabar, hadir dan dibentuk lewat pilihan-pilihan yang ingin ditampilkan.
Berawal dari sana, kehadiranku
ditambah dengan cerita keresahan manusia akan keberadaan anjing-an-jing tanpa rumah yang mulai meng-ganggu. Lalu sebagai pamungkas, cukup dipantiklah satu kata yang se-lama ini menghantui; rabies.
Kamu tahu, bagaimana hebatnya se-buah kata? Kata bisa menjadi senjata, bisa juga menjadi target jika
diguna-kan sebagai penanda. Tanyadiguna-kanlah
bagaimana arti kata "teroris" bagi pada muslim di negeri barat sana. Kalau kamu sudah mau mati, coba nanti tanyakan berapa juta nyawa yang berpisah dengan dunia karena satu kata "komunis" saja.
Lalu kamu bayangkan saja, bagaimana satu kata rabies itu itu bereaksi den-gan kenyataan bahwa manusia me-mang tak ingin berbagi ruang.
“This child’s mother is standing by as her daughter roughly plays with a strange street dog at the
Manaka-mana temple. If something goes wrong here, there can be ter-rible consequences for the local street dogs, at least that’s how it happens in most places.”- Jesse Alk, Pariah Dog Movie (Sumber: https://www. instagram.com/pariah-dogmovie/)
87 lang yang berasal dari sepotong ayam,
ketika aku mencium bau ketakutan dari seekor anjing lain yang berlari.
Anjing itu berlari ke arahku. Di be-lakangnya satu anjing dan dua ma-nusia yang sama-sama berseragam mengejar dengan sebuah senjata di tangan mengarah pada si anjing. Aku melepaskan makanan pertam-aku di hari terakhirku, dan ikut
ber-lari. Banyak manusia bilang bahwa
aku adalah anjing, yang berarti aku
tak bisa berpikir. Tapi, aku tahu apa
itu rasa takut. Aku tahu tahu rasanya harus berjuang untuk selamat dari kesakitan. Sehingga, biar dadaku begitu gaduh karena degupan, kaki-kakiku gemetar dirambah kengerian, aku harus terus berlari.
Aku adalah anjing petugas
Mengapa seekor anjing bisa mengusir anjing lainnya? Mungkin tanyamu begitu. Karena aku adalah seorang petugas,
maka pekerjaanku adalah menjalankan tugas. Saat ini, tugasku adalah anjing. Lain waktu tugasku juga bisa berupa manusia, dengan berbagai ragamnya.
Bersama para petugas manusia, aku
membantu membubarkan peda-gang pinggir jalan, pemukim pinggir sungai, sampai pengemis pinggir tro-toar. Kalau kamu manusia bertanya mengapa seekor anjing bisa mengu-sir anjing lainnya, aku anjing juga bisa bertanya mengapa seorang manusia bisa mengusir manusia lainnya. Alasannya adalah karena aku berdi-ri di atas legalitas, menyingkirkan mereka yang kemudian disebut ilegal. Penyingkiran-penyingkiran tersebut adalah mandat yang harus dipatuhi oleh kami para pekerja. Kali ini, ilegalitas yang harus disingkirkan adalah anjing.
Anjing-anjing ini hidup di ruang pub-lik, tapi mereka hidup tanpa kepemi-likan. Mereka tak memiliki manusia yang memiliki ruang bagi tempat
“Street dog inds a
meal at the Dakshine-swar Kali temple, while a crow waits for leftovers.” – Jesse Alk, Pariah Dog Movie (Sumber: https://www. instagram.com/pariah-dogmovie/)
Aku merasakan sentuhan di puncak kepala. Lembut, seperti sentuhan beberapa manusia yang kadang da-tang dengan suara lembut dan
ma-kanan yang tak kalah lembutnya. Tapi
kelembutan itu tak mampu mengusir sakitku. Apakah tangan ini pula yang
melubangi bahuku? Entah. Manusia
begitu banyak wajahnya.
Kematian mulai tampak diujung sana. Kedua tangannya terbuka lebar menyambutku. Apa memang di san-alah seharusnya aku berada, yang manusia sebut tanah surga? Karena dalam ruang bumi ini tempat hidup untukku tampaknya juga tak ada.
Jika bertanya kepada Tuhan bagiku
adalah haram, maka biar aku tanya-kan pada evolusi. Mengapa aku harus lahir, jika tampaknya aku tak punya hak untuk hidup di bumi sekalipun aku dan manusia sama-sama berasal dari anti materi?
-Terinspirasi dari fakta eleminasi hewan
domes-tik di berbagai tempat, dan sebuah iksi ber -judul Namaku Merah buatan Orhan Pamuk.
mereka tinggal. Atau seperti aku, mereka pun tidak memiliki instansi yang menaungi mereka. Karena nya mereka harus pergi.
Aku menggonggong nyaring. Lalu,
satu… dua… tiga… DOR!
Aku anjing yang akan mati
Jika berdoa pada Tuhan bagiku ada -lah haram, haruskah aku bertanya
pada evolusi? Karena sepertinya Tu -han berdusta saat berkata bahwa semua di dunia ini adalah milik-Nya. Khalifah di muka bumi ini memetak tanah satu persatu, lalu berteriak bahwa itu milik mereka.
Kematian itu tak ada rasanya. Na-mun, jalan bertemu dengannya be-gitu menyiksa.
Aku adalah seekor anjing. Aku jatuh dengan sebuah panas yang me-lubangi bahuku. Panas yang meny-eret nafasku, memaksa untuk ber-temu kematian sekalipun aku masih belum ingin bertemu dengannya.
Mass Culling di Kara-chi, Pakistan. Anjing-anjing yang telah mati
diracun dikumpulkan di jalan. (Sumber: Reuters, dapat dilihat pada http://bit.ly/2wGec6G)
89