SALINAN
PERATURAN MENTERI NEGARA LINGKUNGAN HIDUP
REPUBLIK INDONESIA
NOMOR 12 TAHUN 2011
TENTANG
TATA CARA PENYUSUNAN PERATURAN PERUNDANG-UNDANGAN DI
KEMENTERIAN LINGKUNGAN HIDUP
DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA
MENTERI NEGARA LINGKUNGAN HIDUP REPUBLIK INDONESIA,
Menimbang : a. bahwa dalam rangka pelaksanaan ketentuan Pasal 63
ayat (1) huruf a Undang-Undang Nomor 32 Tahun
2009
tentang
Perlindungan
dan
Pengelolaan
Lingkungan Hidup, Menteri bertugas dan berwenang
menetapkan kebijakan nasional;
b.
bahwa Keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup
Nomor
44
Tahun
2000
tentang
Mekanisme
Penyusunan Peraturan Perundang-undangan dan
Keputusan Menteri sudah tidak sesuai lagi dengan
perkembangan keadaan, sehingga perlu dilakukan
perubahan;
c.
bahwa
berdasarkan
pertimbangan
sebagaimana
dimaksud dalam huruf a dan huruf b, perlu
menetapkan Peraturan Menteri Negara Lingkungan
Hidup
Republik
Indonesia
tentang
Tata
Cara
Penyusunan
Peraturan
Perundang-undangan
di
Kementerian Lingkungan Hidup;
Mengingat : 1. Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2009 tentang
Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup
(lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2009
Nomor 140, Tambahan Lembaran Negara Republik
Indonesia Nomor 5059);
2.
Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2011 tentang
Pembentukan
Peraturan
Perundang-undangan
(Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2011
Nomor 82, Tambahan Lembaran Negara Republik
Indonesia Nomor 5234);
Undang-Undang, Rancangan Peraturan Pemerintah Pengganti
Undang-Undang, Rancangan Peraturan Pemerintah,
dan Rancangan Peraturan Presiden;
4.
Peraturan Presiden Nomor 1 Tahun 2007 tentang
Pengesahan, Pengundangan, dan Penyebarluasan
Peraturan Perundang-undangan;
5.
Peraturan Presiden Republik Indonesia Nomor 24
tahun 2010 tentang Kedudukan, Tugas, dan Fungsi
Kementerian Negara Serta Susunan Organisasi, Tugas,
dan Fungsi Eselon I Kementerian negara;
6.
Peraturan Menteri Negara Lingkungan Hidup Nomor
16 Tahun 2010 tentang Organisasi dan Tata Kerja
Kementerian Lingkungan Hidup;
MEMUTUSKAN:
Menetapkan : PERATURAN MENTERI NEGARA LINGKUNGAN HIDUP
REPUBLIK
INDONESIA
TENTANG
TATA
CARA
PENYUSUNAN PERATURAN PERUNDANG-UNDANGAN DI
KEMENTERIAN LINGKUNGAN HIDUP.
BAB I
KETENTUAN UMUM
Pasal 1
Dalam Peraturan Menteri ini yang dimaksud dengan:
1.
Peraturan perundang-undangan adalah peraturan tertulis yang
memuat norma hukum yang mengikat secara umum dan dibentuk
atau ditetapkan oleh lembaga negara atau pejabat yang berwenang
melalui prosedur yang ditetapkan dalam Peraturan
Perundang-undangan.
2.
Peraturan Pemerintah adalah peraturan perundang-undangan yang
ditetapkan oleh Presiden untuk menjalankan Undang-Undang
sebagaimana mestinya.
3.
Peraturan Presiden adalah Peraturan Perundang-undangan yang
ditetapkan oleh Presiden untuk menjalankan perintah Peraturan
Perundang-undangan
yang
lebih
tinggi
atau
dalam
menyelenggarakan kekuasaan pemerintahan.
4.
Penyusunan
peraturan
perundang-undangan
adalah
proses
pembuatan
peraturan
perundang-undangan
yang
mencakup
tahapan perencanaan, penyusunan, pembahasan, pengesahan atau
penetapan, dan pengundangan.
5.
Materi muatan peraturan perundang-undangan adalah materi yang
dimuat dalam peraturan perundang-undangan sesuai dengan jenis,
fungsi, dan hierarki peraturan perundang-undangan.
pembentukan peraturan perundang-undangan di Kementerian
Lingkungan Hidup yang disusun secara terencana, terpadu, dan
sistematis.
7.
Pengusul adalah pejabat setingkat eselon I yang mengajukan usul
penyusunan peraturan perundang-undangan.
8.
Pengundangan adalah penempatan peraturan perundang-undangan
dalam Lembaran Negara Republik Indonesia, Tambahan Lembaran
Negara Republik Indonesia, Berita Negara Republik Indonesia,
Tambahan Berita Negara Republik Indonesia, Lembaran Daerah,
Tambahan Lembaran Daerah, atau Berita Daerah.
9.
Kepala Biro Hukum adalah pejabat eselon II yang menyelenggarakan
tugas dan fungsi di bidang penyusunan peraturan
perundang-undangan.
10. Menteri
adalah
menteri
yang
menyelenggarakan
urusan
pemerintahan di bidang perlindungan dan pengelolaan lingkungan
hidup.
Pasal 2
Peraturan Menteri ini bertujuan untuk memberikan pedoman kepada
seluruh unit kerja di Kementerian Lingkungan Hidup dalam
penyusunan peraturan perundang-undangan.
Pasal 3
Ruang lingkup Peraturan Menteri ini meliputi:
a.
perencanaan penyusunan peraturan perundang-undangan; dan
b.
pelaksanaan penyusunan peraturan perundang-undangan.
Pasal 4
Penyusunan peraturan perundangan dalam bentuk
undang-undang dilaksanakan sesuai ketentuan peraturan perundang-undang-undang-undangan
mengenai pembentukan peraturan perundang-undangan.
Pasal 5
(1) Jenis peraturan perundang-undangan yang diatur dalam Peraturan
Menteri ini meliputi:
a.
Peraturan Pemerintah;
b.
Peraturan Presiden; dan
c.
Peraturan Menteri.
(2) Peraturan Menteri sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf c,
meliputi peraturan yang:
a.
diperintahkan oleh undang-undang, peraturan pemerintah, atau
peraturan presiden; dan
b.
materi muatannya dalam rangka penyelenggaraan urusan di
bidang perlindungan dan pengelolaan lingkungan hidup.
BAB II
PERENCANAAN PENYUSUNAN
PERATURAN PERUNDANG-UNDANGAN
Pasal 6
(1) Perencanaan penyusunan peraturan perundang-undangan dilakukan
dalam Proreg KLH yang dikoordinasikan oleh Kepala Biro Hukum.
(2) Proreg KLH sebagaimana dimaksud pada ayat (1) disusun
berdasarkan masukan dari pengusul.
Pasal 7
(1) Proreg KLH ditetapkan oleh Menteri untuk jangka waktu 1 (satu)
tahun.
(2) Apabila peraturan perundang-undangan yang telah masuk dalam
Proreg KLH tidak dapat diselesaikan dalam waktu 1 (satu) tahun,
peraturan perundang-undangan tersebut menjadi prioritas Proreg
KLH tahun berikutnya.
BAB III
PELAKSANAAN PENYUSUNAN PERATURAN PERUNDANG-UNDANGAN
Bagian Kesatu
Peraturan Pemerintah dan Peraturan Presiden
Pasal 8
(1)
Berdasarkan Proreg KLH sebagaimana dimaksud dalam Pasal 6,
pengusul harus:
a. menyelesaikan kajian teknis tentang materi muatan yang akan
dituangkan dalam rancangan peraturan pemerintah atau
peraturan presiden; dan
b. menyusun rancangan peraturan pemerintah atau peraturan
presiden berdasarkan kajian teknis sebagaimana dimaksud dalam
huruf a.
(2)
Dalam menyusun rancangan sebagaimana dimaksud pada ayat (1)
huruf b, pengusul harus melibatkan Biro Hukum dan unit terkait
sejak perencanaan penyusunan.
Pasal 9
(1) Pengusul mengajukan rancangan peraturan pemerintah atau
peraturan presiden sebagaimana dimaksud dalam Pasal 5 huruf a
dan b kepada Kepala Biro Hukum untuk diproses lebih lanjut.
(3) Tanggapan sebagaimana dimaksud pada ayat (2) dapat berupa:
a.
pemberitahuan untuk diperbaiki terhadap rancangan peraturan
pemerintah atau peraturan presiden, kepada pengusul; atau
b.
persetujuan untuk diproses lebih lanjut terhadap rancangan
peraturan pemerintah atau peraturan presiden.
(4) Pemberitahuan terhadap rancangan peraturan pemerintah atau
peraturan presiden, sebagaimana dimaksud pada ayat (3) huruf a
harus disertai dengan alasan.
Pasal 10
(1) Apabila rancangan peraturan pemerintah atau peraturan presiden
yang diajukan oleh pengusul telah disetujui untuk diproses lebih
lanjut sebagaimana dimaksud dalam Pasal 9 ayat (3) huruf b, Kepala
Biro Hukum melakukan pembahasan antarkementerian terkait.
(2) Dalam melaksanakan pembahasan antarkementerian sebagaimana
dimaksud
pada
ayat
(1),
Menteri
menetapkan
panitia
antarkementerian.
(3) Keanggotaan panitia antarkementerian sebagaimana dimaksud pada
ayat (2) terdiri atas unsur kementerian/lembaga pemerintah
nonkementerian yang terkait dengan substansi rancangan peraturan
pemerintah atau peraturan presiden.
(4) Rancangan peraturan pemerintah atau peraturan presiden hasil
pembahasan panitia antarkementerian sebagaimana dimaksud pada
ayat
(1)
harus
disepakati
oleh
seluruh
anggota
panitia
antarkementerian.
Pasal 11
Menteri menyampaikan rancangan peraturan pemerintah dan peraturan
presiden hasil kesepakatan pada pembahasan antarkementerian
sebagaimana dimaksud dalam Pasal 10 ayat (5), kepada Menteri Hukum
dan Hak Asasi Manusia untuk dilakukan pengharmonisasian,
pembulatan,
dan
pemantapan
konsepsi
rancangan
peraturan
pemerintah dan peraturan presiden.
Pasal 12
(1)
Hasil proses pengharmonisasian, pembulatan, dan pemantapan
konsep rancangan dapat berupa:
a. pengembalian kepada Menteri untuk diperbaiki; atau.
b.
persetujuan untuk diproses lebih lanjut.
(2)
Dalam hal rancangan mendapat persetujuan sebagaimana dimaksud
pada ayat (1) huruf b, Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia
menyampaikan rancangan tersebut kepada Presiden untuk proses
penetapan atau pengesahan rancangan melalui:
Pasal 13
Dalam hal adanya keberatan dari pihak yang berkepentingan,
rancangan yang telah disampaikan kepada Presiden sebagaimana
dimaksud dalam Pasal 12 ayat (2) dapat diklarifikasi oleh:
a.
Menteri Sekretaris Negara, untuk Peraturan Pemerintah; atau
b.
Menteri Sekretaris Kabinet, untuk Peraturan Presiden.
Pasal 14
(1) Peraturan pemerintah dan peraturan presiden yang telah disetujui
atau disahkan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 12 ayat (1) huruf
b, diundangkan dalam Lembaran Negara Republik Indonesia.
(2) Tata cara pengundangan sebagaimana dimaksud pada ayat (1)
dilaksanakan
sesuai
dengan
peraturan
perundang-undangan
mengenai
pengesahan,
pengundangan,
dan
penyebarluasan
peraturan perundang-undangan.
Bagian Kedua
Peraturan Menteri
Pasal 15
(1) Pengusul mengajukan rancangan peraturan menteri atau keputusan
menteri sebagaimana dimaksud dalam Pasal 5 huruf c kepada Kepala
Biro Hukum.
(2) Berdasarkan Proreg KLH sebagaimana dimaksud dalam Pasal 5,
pengusul harus:
a.
menyelesaikan kajian teknis tentang materi muatan yang akan
dituangkan dalam rancangan peraturan menteri; dan
b.
menyusun rancangan peraturan menteri berdasarkan kajian
teknis sebagaimana dimaksud dalam huruf a.
(3) Dalam menyusun rancangan sebagaimana dimaksud pada ayat (2)
huruf b, pemrakarsa wajib melibatkan Biro Hukum dan unit teknis
terkait sejak perencanaan penyusunan.
Pasal 16
(1) Kepala Biro Hukum memberi tanggapan terhadap rancangan
peraturan Menteri yang diajukan sebagaimana dimaksud dalam Pasal
15 ayat (2) huruf b paling lama 10 (sepuluh) hari kerja sejak
rancangan diterima.
(2) Tanggapan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dapat berupa:
a.
pemberitahuan
untuk
disempurnakan
kembali
rancangan
peraturan Menteri kepada pengusul; dan
Pasal 17
(1) Apabila rancangan peraturan Menteri yang diajukan oleh pengusul
telah disetujui untuk diproses lebih lanjut sebagaimana dimaksud
dalam Pasal 15 ayat (2) huruf b, Kepala Biro Hukum melakukan
pembahasan dengan pengusul dan unit terkait.
(2) Pembahasan
sebagaimana
dimaksud
pada
ayat
(1)
dapat
menyertakan pihak terkait di luar Kementerian Lingkungan Hidup
sesuai dengan kebutuhan.
(3) Hasil pembahasan sebagaimana dimaksud pada ayat (2) dituangkan
dalam bentuk rancangan final.
(4) Rancangan final sebagaimana dimaksud pada ayat (3) dimintakan
paraf persetujuan kepada pengusul.
Pasal 18
(1)
Kepala Biro Hukum menyampaikan rancangan final yang telah
dimintakan paraf sebagaimana dimaksud dalam Pasal 17 ayat (3)
kepada Menteri untuk ditetapkan.
(2)
Peraturan Menteri yang telah ditetapkan sebagaimana dimaksud
pada ayat (1) diundangkan dalam Berita Negara Republik Indonesia.
(3)
Peraturan Menteri yang telah diundangkan dalam Berita Negara
sebagaimana dimaksud pada ayat (2) dibuatkan salinan dan
ditandatangani oleh Kepala Biro Hukum
Pasal 19
Tata cara penyusunan peraturan perundangan-undangan sebagaimana
dimaksud dalam Pasal 8 sampai dengan Pasal 18 sebagaimana
tercantum dalam Lampiran yang merupakan bagian yang tidak
terpisahkan dari Peraturan Menteri ini.
BAB IV
PERAN SERTA MASYARAKAT
Pasal 20
(1)
Agar masyarakat dapat memberi masukan secara lisan dan/atau
tertulis atas rancangan peraturan perundang-undangan, Kepala Biro
Hukum dapat melakukan:
a. sosialisasi; dan/atau
b. seminar, lokakarya, dan/atau diskusi.
BAB V
KETENTUAN PENUTUP
Pasal 21
Pada saat Peraturan Menteri ini mulai berlaku, Keputusan Menteri
Negara Lingkungan Hidup Nomor 44 Tahun 2000 tentang Mekanisme
Penyusunan Peraturan Perundang-undangan dan Keputusan Menteri
dicabut dan dinyatakan tidak berlaku.
Pasal 22
Peraturan Menteri ini mulai berlaku pada tanggal diundangkan.
Agar setiap orang mengetahuinya, memerintahkan pengundangan
Peraturan Menteri ini dengan penempatannya dalam Berita Negara
Republik Indonesia.
Ditetapkan di Jakarta
pada tanggal 28 November 2011
MENTERI NEGARA LINGKUNGAN HIDUP
REPUBLIK INDONESIA,
ttd.
BALTHASAR KAMBUAYA
Diundangkan di Jakarta
Pada tanggal 7 Desember 2011
MENTERI HUKUM DAN HAK ASASI MANUSIA
REPUBLIK INDONESIA
ttd.
AMIR SYAMSUDDIN
BERITA NEGARA REPUBLIK INDONESIA TAHUN 2011 NOMOR
Salinan sesuai dengan aslinya
Kepala Biro Hukum dan Humas,
LAMPIRAN
PERATURAN MENTERI NEGARA
LINGKUNGAN HIDUP
NOMOR TAHUN
TENTANG TATA CARA PENYUSUNAN
PERATURAN PERUNDANG-UNDANGAN
DI KEMENTERIAN LINGKUNGAN HIDUP
TATA CARA PENYUSUNAN PERATURAN PERUNDANGAN-UNDANGAN
A.
Proses Penyusunan Peraturan Pemerintah/Peraturan Presiden
No.
Tahapan
Pelaksana
Keterangan
1.
Pengajuan
rancangan
peraturan
pemerintah (RPP)/
rancangan
peraturan presiden
(RPerpres)
dalam
program
penyusunan
RPP/RPerpres
Menteri
Negara
Lingkungan
Hidup
(Menteri
Negara LH)
Pengajuan
disampaikan
kepada Menteri Hukum dan
Hak
Asasi
Manusia
(Menkumham)
2.
Pengajuan izin
penyusunan
RPP/RPerpres ke
presiden
Menteri Negara
LH
Pokok-pokok pengaturan
RPP/RPerpres
3.
Penyusunan
RPP/RPerpres
Unit Pengusul
Sesuai UU No. 12 Tahun
2011 tentang Pembentukan
Peraturan
Perundang-undangan
4.
Penyampaian
RPP/RPerpres
Kepada Kepala Biro
Hukum
Unit Pengusul
Memorandum penyampaian
RPP/RPerpres
5.
Pembentukan
panitia
antarkementerian
Menteri Negara
LH
1.
Surat berisi permintaan
keanggotaan panitia
antarkementerian.
2.
Ditetapkan dalam Surat
Keputusan Menteri
Negara LH paling lama 30
hari sejak tanggal surat
permintaan keanggotaan
PAK.
3.
Kepala Biro Hukum dan
Humas secara fungsional
bertindak sebagai
No.
Tahapan
Pelaksana
Keterangan
6.
Meminta masukan
kepada masyarakat
Kepala Biro
Hukum
1.
Penyebarluasan
RPP/RPerpres melalui
pemuatan dalam Website
2.
Pertemuan dengan
pemangku kepentingan
guna menampung
masukan
3.
Masukan digunakan
untuk penyempurnaan
RPP/RPerpres
4.
Penyempurnaan
masukan dilakukan oleh
Tim Kecil
7.
Pembahasan
Antarkementerian
(PAK)
Kepala Biro
Hukum
1.
Setiap PAK sah apabila
dihadiri oleh Wakil dari
Menkumham dan
Sekretariat Negara
8.
Penyampaian
RPP/RPerpres
kepada
Menkumham untuk
proses harmonisasi
Kepala Biro
Hukum
1.
Mengirimkan surat dari
Menteri Negara LH ke
Menkumham
2.
Menyampaikan
RPP/RPerpres final
sebagai lampiran
9.
Harmonisasi
Direktur
Harmonisasi
Peraturan
Perundang-undangan,
Menkumham
1.
Pertemuan dengan
sektor terkait
2.
MenKumham
mengirimkan surat
kepada Menteri Negara
LH bahwa proses
Harmonisasi telah selesai
10.
Permohonan
persetujuan
Presiden
Menkumham
Mengirimkan Surat
permohonan persetujuan
RPP/RPerpres kepada
presiden melalui Sekretariat
Negara dengan melampirkan
RPP/RPerpres yang telah
diharmonisasi
11.
Klarifikasi terhadap
RPP/RPerpres
-
Kementerian
Sekretariat
Negara (untuk
RPP)
-
Kementerian
Sekretariat
Kabinet (untuk
RPerpres)
Jika diperlukan
12.
Paraf persetujuan
dari
Menteri/Pimpinan
Biro Hukum dan
Humas
No.
Tahapan
Pelaksana
Keterangan
lembaga terkait
13.
Penetapan RPP
menjadi PP atau
Rperpres menjadi
Perpres
RPP sah menjadi Peraturan
Pemerintah / RPerpres sah
menjadi Peraturan Presiden
14.
Pengundangan
Kemkumham
Penempatan dalam
lembaran negara dan
tambahan lembaran negara
B.
Proses Penyusunan Peraturan Menteri
No.
Tahapan
Pelaksana
Keterangan
1.
Pengajuan Rancangan
Peraturan
Menteri
(RPermen) ke dalam
program
regulasi
Kementerian
Lingkungan Hidup
Unit
Pengusul
Pengajuan
disampaikan
kepada Kepala Biro Hukum
2.
Penyusunan Kajian
Teknis
Unit
Pengusul
Penyusunan kajian teknis
dengan melibatkan Kepala
Biro Hukum
3.
Penyusunan RPermen
Unit
Pengusul
Penyusunan RPermen dengan
melibatkan Kepala Biro
Hukum dan unit teknis
terkait
4.
Penyampaian RPermen
Kepada Kepala Biro
Hukum
Unit
Pengusul
Eselon I Unit pengusul
menyampaikan memo kepada
Sekretaris Kementerian LH
dengan tembusan kepada
Kepala Biro Hukum mengenai
:
a.
Pokok-pokok pengaturan
dalam Rpermen
b.
RPermen baik dalam
bentuk soft copy maupun
hard copy
c.
Notulensi pembahasan
RPermen dengan
pemangku kepentingan
5.
Masukan dari
masyarakat
Kepala Biro
Hukum
Untuk mendapatkan saran
dan masukan baik secara
tertulis maupun lisan.
6.
Pembahasan RPermen Kepala Biro
Hukum
1.
Pertemuan I: Klarifikasi
No.
Tahapan
Pelaksana
Keterangan
2.
Pertemuan II :
Pembahasan RPermen
3.
Pertemuan III dan
seterusnya (bila
diperlukan).
7.
Finalisasi
Kepala Biro
Hukum
1.
Pembacaan ulang terhadap
RPermen (naskah bersih)
2.
Permohonan paraf
persetujuan oleh eselon II
unit pengusul pada tiap
halaman RPermen dan
eselon I di bagian tanda
tangan nama menteri
(sesuai dengan Permen
Tata Naskah Dinas)
8.
Penandatanganan,
penetapan dan
penomoran
Menteri
Negara LH
1.
Permohonan
penandatanganan melalui
memo dari Sekretaris
Kementerian LH
2.
Dilampiri dengan final
RPermen yang akan
ditanda tangani
3.
Setelah ditandatangani,
permen dimintakan nomor
9.
Pengundangan dalam
berita negara
Kepala Biro
Hukum
Disampaikan dengan surat
dari Kepala Biro Hukum
kepada Direktur Harmonisasi
Peraturan
Perundang-undangan, Kemkumham
dengan lampiran berupa 3
naskah asli dan 1 soft copy
(font: 15 pt,
Times New
Roman
, A4)
10.
Salinan
Kepala Biro
Hukum
1.
Salinan ditanda tangani
oleh Kepala Biro Hukum
2.
Penyampaian salinan
kepada unit pengusul
3.
Pengarsipan
4.
Penyebarluasan melalui
C. BAGAN ALIR PENYUSUNAN PERATURAN PEMERINTAH/PERATURAN PRESIDEN
Terkait Presiden
Masyara-kat
(1) (2) (3) (4) (5) (6) (7) (8) (9) (10)
1. Pengajuan rancangan peraturan pemerintah dalam program penyusunan peraturan pemerintah.
2. Pengajuan izin penyusunan RPP ke Presiden
3. Penyusunan RPP
4. Penyampaian RPP kepada Biro Hukum dan Humas
5. Pembentukan panitia antar Kementerian
6. Meminta masukkan kepada masyarakat
7. Pembahasan Antar Kementerian (PAK)
8. Penyampaian RPP kepada Menkumham untuk proses harmonisasi
9. Harmonisasi
No Kegiatan
Pelaksana Unit
pengusul
Kepala Biro Hukum
Menteri Negara
LH
Kemen kumham
Setneg/ Setkab
Sektor
Terkait Presiden
Masyara-kat
(1) (2) (3) (4) (5) (6) (7) (8) (9) (10)
11. Klarifikasi terhadap RPP/Rperpres
12. Paraf persetujuan dari
Menteri/Pimpina n lembaga terkait
13. Penetapan RPP menjadi PP atau Rperpres menjadi Perpres
14. Pengundangan
11
13 12
7
D. BAGAN ALIR PENYUSUNAN PERATURAN MENTERI
No. Kegiatan
1. Pengajuan rancangan Peraturan Menteri dalam program regulasi KLH.
2. Penyusun-an Kajian Teknis dan Rancangan Peraturan Menteri
3. Penyampaian RPermen kepada Biro Hukum dan Humas
4. Kepala Biro Hukum dan Humas Memberi-kan tanggapan
-pengem-balian Humas Melakukan pembahasan dengan pengusul dan unit terkait
6. Meminta
masukkan kepada masyara-kat
7. Perumus-an Rancangan Final Rpermen
8. Penandatanganan Permen
9. Pengun-dangan