• Tidak ada hasil yang ditemukan

IND PUU 7 2011 Permen LH 12 th 2011 PENYUSUNAN PUU KLH1

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2017

Membagikan "IND PUU 7 2011 Permen LH 12 th 2011 PENYUSUNAN PUU KLH1"

Copied!
15
0
0

Teks penuh

(1)

SALINAN

PERATURAN MENTERI NEGARA LINGKUNGAN HIDUP

REPUBLIK INDONESIA

NOMOR 12 TAHUN 2011

TENTANG

TATA CARA PENYUSUNAN PERATURAN PERUNDANG-UNDANGAN DI

KEMENTERIAN LINGKUNGAN HIDUP

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

MENTERI NEGARA LINGKUNGAN HIDUP REPUBLIK INDONESIA,

Menimbang : a. bahwa dalam rangka pelaksanaan ketentuan Pasal 63

ayat (1) huruf a Undang-Undang Nomor 32 Tahun

2009

tentang

Perlindungan

dan

Pengelolaan

Lingkungan Hidup, Menteri bertugas dan berwenang

menetapkan kebijakan nasional;

b.

bahwa Keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup

Nomor

44

Tahun

2000

tentang

Mekanisme

Penyusunan Peraturan Perundang-undangan dan

Keputusan Menteri sudah tidak sesuai lagi dengan

perkembangan keadaan, sehingga perlu dilakukan

perubahan;

c.

bahwa

berdasarkan

pertimbangan

sebagaimana

dimaksud dalam huruf a dan huruf b, perlu

menetapkan Peraturan Menteri Negara Lingkungan

Hidup

Republik

Indonesia

tentang

Tata

Cara

Penyusunan

Peraturan

Perundang-undangan

di

Kementerian Lingkungan Hidup;

Mengingat : 1. Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2009 tentang

Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup

(lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2009

Nomor 140, Tambahan Lembaran Negara Republik

Indonesia Nomor 5059);

2.

Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2011 tentang

Pembentukan

Peraturan

Perundang-undangan

(Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2011

Nomor 82, Tambahan Lembaran Negara Republik

Indonesia Nomor 5234);

(2)

Undang-Undang, Rancangan Peraturan Pemerintah Pengganti

Undang-Undang, Rancangan Peraturan Pemerintah,

dan Rancangan Peraturan Presiden;

4.

Peraturan Presiden Nomor 1 Tahun 2007 tentang

Pengesahan, Pengundangan, dan Penyebarluasan

Peraturan Perundang-undangan;

5.

Peraturan Presiden Republik Indonesia Nomor 24

tahun 2010 tentang Kedudukan, Tugas, dan Fungsi

Kementerian Negara Serta Susunan Organisasi, Tugas,

dan Fungsi Eselon I Kementerian negara;

6.

Peraturan Menteri Negara Lingkungan Hidup Nomor

16 Tahun 2010 tentang Organisasi dan Tata Kerja

Kementerian Lingkungan Hidup;

MEMUTUSKAN:

Menetapkan : PERATURAN MENTERI NEGARA LINGKUNGAN HIDUP

REPUBLIK

INDONESIA

TENTANG

TATA

CARA

PENYUSUNAN PERATURAN PERUNDANG-UNDANGAN DI

KEMENTERIAN LINGKUNGAN HIDUP.

BAB I

KETENTUAN UMUM

Pasal 1

Dalam Peraturan Menteri ini yang dimaksud dengan:

1.

Peraturan perundang-undangan adalah peraturan tertulis yang

memuat norma hukum yang mengikat secara umum dan dibentuk

atau ditetapkan oleh lembaga negara atau pejabat yang berwenang

melalui prosedur yang ditetapkan dalam Peraturan

Perundang-undangan.

2.

Peraturan Pemerintah adalah peraturan perundang-undangan yang

ditetapkan oleh Presiden untuk menjalankan Undang-Undang

sebagaimana mestinya.

3.

Peraturan Presiden adalah Peraturan Perundang-undangan yang

ditetapkan oleh Presiden untuk menjalankan perintah Peraturan

Perundang-undangan

yang

lebih

tinggi

atau

dalam

menyelenggarakan kekuasaan pemerintahan.

4.

Penyusunan

peraturan

perundang-undangan

adalah

proses

pembuatan

peraturan

perundang-undangan

yang

mencakup

tahapan perencanaan, penyusunan, pembahasan, pengesahan atau

penetapan, dan pengundangan.

5.

Materi muatan peraturan perundang-undangan adalah materi yang

dimuat dalam peraturan perundang-undangan sesuai dengan jenis,

fungsi, dan hierarki peraturan perundang-undangan.

(3)

pembentukan peraturan perundang-undangan di Kementerian

Lingkungan Hidup yang disusun secara terencana, terpadu, dan

sistematis.

7.

Pengusul adalah pejabat setingkat eselon I yang mengajukan usul

penyusunan peraturan perundang-undangan.

8.

Pengundangan adalah penempatan peraturan perundang-undangan

dalam Lembaran Negara Republik Indonesia, Tambahan Lembaran

Negara Republik Indonesia, Berita Negara Republik Indonesia,

Tambahan Berita Negara Republik Indonesia, Lembaran Daerah,

Tambahan Lembaran Daerah, atau Berita Daerah.

9.

Kepala Biro Hukum adalah pejabat eselon II yang menyelenggarakan

tugas dan fungsi di bidang penyusunan peraturan

perundang-undangan.

10. Menteri

adalah

menteri

yang

menyelenggarakan

urusan

pemerintahan di bidang perlindungan dan pengelolaan lingkungan

hidup.

Pasal 2

Peraturan Menteri ini bertujuan untuk memberikan pedoman kepada

seluruh unit kerja di Kementerian Lingkungan Hidup dalam

penyusunan peraturan perundang-undangan.

Pasal 3

Ruang lingkup Peraturan Menteri ini meliputi:

a.

perencanaan penyusunan peraturan perundang-undangan; dan

b.

pelaksanaan penyusunan peraturan perundang-undangan.

Pasal 4

Penyusunan peraturan perundangan dalam bentuk

undang-undang dilaksanakan sesuai ketentuan peraturan perundang-undang-undang-undangan

mengenai pembentukan peraturan perundang-undangan.

Pasal 5

(1) Jenis peraturan perundang-undangan yang diatur dalam Peraturan

Menteri ini meliputi:

a.

Peraturan Pemerintah;

b.

Peraturan Presiden; dan

c.

Peraturan Menteri.

(2) Peraturan Menteri sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf c,

meliputi peraturan yang:

a.

diperintahkan oleh undang-undang, peraturan pemerintah, atau

peraturan presiden; dan

b.

materi muatannya dalam rangka penyelenggaraan urusan di

bidang perlindungan dan pengelolaan lingkungan hidup.

(4)

BAB II

PERENCANAAN PENYUSUNAN

PERATURAN PERUNDANG-UNDANGAN

Pasal 6

(1) Perencanaan penyusunan peraturan perundang-undangan dilakukan

dalam Proreg KLH yang dikoordinasikan oleh Kepala Biro Hukum.

(2) Proreg KLH sebagaimana dimaksud pada ayat (1) disusun

berdasarkan masukan dari pengusul.

Pasal 7

(1) Proreg KLH ditetapkan oleh Menteri untuk jangka waktu 1 (satu)

tahun.

(2) Apabila peraturan perundang-undangan yang telah masuk dalam

Proreg KLH tidak dapat diselesaikan dalam waktu 1 (satu) tahun,

peraturan perundang-undangan tersebut menjadi prioritas Proreg

KLH tahun berikutnya.

BAB III

PELAKSANAAN PENYUSUNAN PERATURAN PERUNDANG-UNDANGAN

Bagian Kesatu

Peraturan Pemerintah dan Peraturan Presiden

Pasal 8

(1)

Berdasarkan Proreg KLH sebagaimana dimaksud dalam Pasal 6,

pengusul harus:

a. menyelesaikan kajian teknis tentang materi muatan yang akan

dituangkan dalam rancangan peraturan pemerintah atau

peraturan presiden; dan

b. menyusun rancangan peraturan pemerintah atau peraturan

presiden berdasarkan kajian teknis sebagaimana dimaksud dalam

huruf a.

(2)

Dalam menyusun rancangan sebagaimana dimaksud pada ayat (1)

huruf b, pengusul harus melibatkan Biro Hukum dan unit terkait

sejak perencanaan penyusunan.

Pasal 9

(1) Pengusul mengajukan rancangan peraturan pemerintah atau

peraturan presiden sebagaimana dimaksud dalam Pasal 5 huruf a

dan b kepada Kepala Biro Hukum untuk diproses lebih lanjut.

(5)

(3) Tanggapan sebagaimana dimaksud pada ayat (2) dapat berupa:

a.

pemberitahuan untuk diperbaiki terhadap rancangan peraturan

pemerintah atau peraturan presiden, kepada pengusul; atau

b.

persetujuan untuk diproses lebih lanjut terhadap rancangan

peraturan pemerintah atau peraturan presiden.

(4) Pemberitahuan terhadap rancangan peraturan pemerintah atau

peraturan presiden, sebagaimana dimaksud pada ayat (3) huruf a

harus disertai dengan alasan.

Pasal 10

(1) Apabila rancangan peraturan pemerintah atau peraturan presiden

yang diajukan oleh pengusul telah disetujui untuk diproses lebih

lanjut sebagaimana dimaksud dalam Pasal 9 ayat (3) huruf b, Kepala

Biro Hukum melakukan pembahasan antarkementerian terkait.

(2) Dalam melaksanakan pembahasan antarkementerian sebagaimana

dimaksud

pada

ayat

(1),

Menteri

menetapkan

panitia

antarkementerian.

(3) Keanggotaan panitia antarkementerian sebagaimana dimaksud pada

ayat (2) terdiri atas unsur kementerian/lembaga pemerintah

nonkementerian yang terkait dengan substansi rancangan peraturan

pemerintah atau peraturan presiden.

(4) Rancangan peraturan pemerintah atau peraturan presiden hasil

pembahasan panitia antarkementerian sebagaimana dimaksud pada

ayat

(1)

harus

disepakati

oleh

seluruh

anggota

panitia

antarkementerian.

Pasal 11

Menteri menyampaikan rancangan peraturan pemerintah dan peraturan

presiden hasil kesepakatan pada pembahasan antarkementerian

sebagaimana dimaksud dalam Pasal 10 ayat (5), kepada Menteri Hukum

dan Hak Asasi Manusia untuk dilakukan pengharmonisasian,

pembulatan,

dan

pemantapan

konsepsi

rancangan

peraturan

pemerintah dan peraturan presiden.

Pasal 12

(1)

Hasil proses pengharmonisasian, pembulatan, dan pemantapan

konsep rancangan dapat berupa:

a. pengembalian kepada Menteri untuk diperbaiki; atau.

b.

persetujuan untuk diproses lebih lanjut.

(2)

Dalam hal rancangan mendapat persetujuan sebagaimana dimaksud

pada ayat (1) huruf b, Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia

menyampaikan rancangan tersebut kepada Presiden untuk proses

penetapan atau pengesahan rancangan melalui:

(6)

Pasal 13

Dalam hal adanya keberatan dari pihak yang berkepentingan,

rancangan yang telah disampaikan kepada Presiden sebagaimana

dimaksud dalam Pasal 12 ayat (2) dapat diklarifikasi oleh:

a.

Menteri Sekretaris Negara, untuk Peraturan Pemerintah; atau

b.

Menteri Sekretaris Kabinet, untuk Peraturan Presiden.

Pasal 14

(1) Peraturan pemerintah dan peraturan presiden yang telah disetujui

atau disahkan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 12 ayat (1) huruf

b, diundangkan dalam Lembaran Negara Republik Indonesia.

(2) Tata cara pengundangan sebagaimana dimaksud pada ayat (1)

dilaksanakan

sesuai

dengan

peraturan

perundang-undangan

mengenai

pengesahan,

pengundangan,

dan

penyebarluasan

peraturan perundang-undangan.

Bagian Kedua

Peraturan Menteri

Pasal 15

(1) Pengusul mengajukan rancangan peraturan menteri atau keputusan

menteri sebagaimana dimaksud dalam Pasal 5 huruf c kepada Kepala

Biro Hukum.

(2) Berdasarkan Proreg KLH sebagaimana dimaksud dalam Pasal 5,

pengusul harus:

a.

menyelesaikan kajian teknis tentang materi muatan yang akan

dituangkan dalam rancangan peraturan menteri; dan

b.

menyusun rancangan peraturan menteri berdasarkan kajian

teknis sebagaimana dimaksud dalam huruf a.

(3) Dalam menyusun rancangan sebagaimana dimaksud pada ayat (2)

huruf b, pemrakarsa wajib melibatkan Biro Hukum dan unit teknis

terkait sejak perencanaan penyusunan.

Pasal 16

(1) Kepala Biro Hukum memberi tanggapan terhadap rancangan

peraturan Menteri yang diajukan sebagaimana dimaksud dalam Pasal

15 ayat (2) huruf b paling lama 10 (sepuluh) hari kerja sejak

rancangan diterima.

(2) Tanggapan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dapat berupa:

a.

pemberitahuan

untuk

disempurnakan

kembali

rancangan

peraturan Menteri kepada pengusul; dan

(7)

Pasal 17

(1) Apabila rancangan peraturan Menteri yang diajukan oleh pengusul

telah disetujui untuk diproses lebih lanjut sebagaimana dimaksud

dalam Pasal 15 ayat (2) huruf b, Kepala Biro Hukum melakukan

pembahasan dengan pengusul dan unit terkait.

(2) Pembahasan

sebagaimana

dimaksud

pada

ayat

(1)

dapat

menyertakan pihak terkait di luar Kementerian Lingkungan Hidup

sesuai dengan kebutuhan.

(3) Hasil pembahasan sebagaimana dimaksud pada ayat (2) dituangkan

dalam bentuk rancangan final.

(4) Rancangan final sebagaimana dimaksud pada ayat (3) dimintakan

paraf persetujuan kepada pengusul.

Pasal 18

(1)

Kepala Biro Hukum menyampaikan rancangan final yang telah

dimintakan paraf sebagaimana dimaksud dalam Pasal 17 ayat (3)

kepada Menteri untuk ditetapkan.

(2)

Peraturan Menteri yang telah ditetapkan sebagaimana dimaksud

pada ayat (1) diundangkan dalam Berita Negara Republik Indonesia.

(3)

Peraturan Menteri yang telah diundangkan dalam Berita Negara

sebagaimana dimaksud pada ayat (2) dibuatkan salinan dan

ditandatangani oleh Kepala Biro Hukum

Pasal 19

Tata cara penyusunan peraturan perundangan-undangan sebagaimana

dimaksud dalam Pasal 8 sampai dengan Pasal 18 sebagaimana

tercantum dalam Lampiran yang merupakan bagian yang tidak

terpisahkan dari Peraturan Menteri ini.

BAB IV

PERAN SERTA MASYARAKAT

Pasal 20

(1)

Agar masyarakat dapat memberi masukan secara lisan dan/atau

tertulis atas rancangan peraturan perundang-undangan, Kepala Biro

Hukum dapat melakukan:

a. sosialisasi; dan/atau

b. seminar, lokakarya, dan/atau diskusi.

(8)

BAB V

KETENTUAN PENUTUP

Pasal 21

Pada saat Peraturan Menteri ini mulai berlaku, Keputusan Menteri

Negara Lingkungan Hidup Nomor 44 Tahun 2000 tentang Mekanisme

Penyusunan Peraturan Perundang-undangan dan Keputusan Menteri

dicabut dan dinyatakan tidak berlaku.

Pasal 22

Peraturan Menteri ini mulai berlaku pada tanggal diundangkan.

Agar setiap orang mengetahuinya, memerintahkan pengundangan

Peraturan Menteri ini dengan penempatannya dalam Berita Negara

Republik Indonesia.

Ditetapkan di Jakarta

pada tanggal 28 November 2011

MENTERI NEGARA LINGKUNGAN HIDUP

REPUBLIK INDONESIA,

ttd.

BALTHASAR KAMBUAYA

Diundangkan di Jakarta

Pada tanggal 7 Desember 2011

MENTERI HUKUM DAN HAK ASASI MANUSIA

REPUBLIK INDONESIA

ttd.

AMIR SYAMSUDDIN

BERITA NEGARA REPUBLIK INDONESIA TAHUN 2011 NOMOR

Salinan sesuai dengan aslinya

Kepala Biro Hukum dan Humas,

(9)

LAMPIRAN

PERATURAN MENTERI NEGARA

LINGKUNGAN HIDUP

NOMOR TAHUN

TENTANG TATA CARA PENYUSUNAN

PERATURAN PERUNDANG-UNDANGAN

DI KEMENTERIAN LINGKUNGAN HIDUP

TATA CARA PENYUSUNAN PERATURAN PERUNDANGAN-UNDANGAN

A.

Proses Penyusunan Peraturan Pemerintah/Peraturan Presiden

No.

Tahapan

Pelaksana

Keterangan

1.

Pengajuan

rancangan

peraturan

pemerintah (RPP)/

rancangan

peraturan presiden

(RPerpres)

dalam

program

penyusunan

RPP/RPerpres

Menteri

Negara

Lingkungan

Hidup

(Menteri

Negara LH)

Pengajuan

disampaikan

kepada Menteri Hukum dan

Hak

Asasi

Manusia

(Menkumham)

2.

Pengajuan izin

penyusunan

RPP/RPerpres ke

presiden

Menteri Negara

LH

Pokok-pokok pengaturan

RPP/RPerpres

3.

Penyusunan

RPP/RPerpres

Unit Pengusul

Sesuai UU No. 12 Tahun

2011 tentang Pembentukan

Peraturan

Perundang-undangan

4.

Penyampaian

RPP/RPerpres

Kepada Kepala Biro

Hukum

Unit Pengusul

Memorandum penyampaian

RPP/RPerpres

5.

Pembentukan

panitia

antarkementerian

Menteri Negara

LH

1.

Surat berisi permintaan

keanggotaan panitia

antarkementerian.

2.

Ditetapkan dalam Surat

Keputusan Menteri

Negara LH paling lama 30

hari sejak tanggal surat

permintaan keanggotaan

PAK.

3.

Kepala Biro Hukum dan

Humas secara fungsional

bertindak sebagai

(10)

No.

Tahapan

Pelaksana

Keterangan

6.

Meminta masukan

kepada masyarakat

Kepala Biro

Hukum

1.

Penyebarluasan

RPP/RPerpres melalui

pemuatan dalam Website

2.

Pertemuan dengan

pemangku kepentingan

guna menampung

masukan

3.

Masukan digunakan

untuk penyempurnaan

RPP/RPerpres

4.

Penyempurnaan

masukan dilakukan oleh

Tim Kecil

7.

Pembahasan

Antarkementerian

(PAK)

Kepala Biro

Hukum

1.

Setiap PAK sah apabila

dihadiri oleh Wakil dari

Menkumham dan

Sekretariat Negara

8.

Penyampaian

RPP/RPerpres

kepada

Menkumham untuk

proses harmonisasi

Kepala Biro

Hukum

1.

Mengirimkan surat dari

Menteri Negara LH ke

Menkumham

2.

Menyampaikan

RPP/RPerpres final

sebagai lampiran

9.

Harmonisasi

Direktur

Harmonisasi

Peraturan

Perundang-undangan,

Menkumham

1.

Pertemuan dengan

sektor terkait

2.

MenKumham

mengirimkan surat

kepada Menteri Negara

LH bahwa proses

Harmonisasi telah selesai

10.

Permohonan

persetujuan

Presiden

Menkumham

Mengirimkan Surat

permohonan persetujuan

RPP/RPerpres kepada

presiden melalui Sekretariat

Negara dengan melampirkan

RPP/RPerpres yang telah

diharmonisasi

11.

Klarifikasi terhadap

RPP/RPerpres

-

Kementerian

Sekretariat

Negara (untuk

RPP)

-

Kementerian

Sekretariat

Kabinet (untuk

RPerpres)

Jika diperlukan

12.

Paraf persetujuan

dari

Menteri/Pimpinan

Biro Hukum dan

Humas

(11)

No.

Tahapan

Pelaksana

Keterangan

lembaga terkait

13.

Penetapan RPP

menjadi PP atau

Rperpres menjadi

Perpres

RPP sah menjadi Peraturan

Pemerintah / RPerpres sah

menjadi Peraturan Presiden

14.

Pengundangan

Kemkumham

Penempatan dalam

lembaran negara dan

tambahan lembaran negara

B.

Proses Penyusunan Peraturan Menteri

No.

Tahapan

Pelaksana

Keterangan

1.

Pengajuan Rancangan

Peraturan

Menteri

(RPermen) ke dalam

program

regulasi

Kementerian

Lingkungan Hidup

Unit

Pengusul

Pengajuan

disampaikan

kepada Kepala Biro Hukum

2.

Penyusunan Kajian

Teknis

Unit

Pengusul

Penyusunan kajian teknis

dengan melibatkan Kepala

Biro Hukum

3.

Penyusunan RPermen

Unit

Pengusul

Penyusunan RPermen dengan

melibatkan Kepala Biro

Hukum dan unit teknis

terkait

4.

Penyampaian RPermen

Kepada Kepala Biro

Hukum

Unit

Pengusul

Eselon I Unit pengusul

menyampaikan memo kepada

Sekretaris Kementerian LH

dengan tembusan kepada

Kepala Biro Hukum mengenai

:

a.

Pokok-pokok pengaturan

dalam Rpermen

b.

RPermen baik dalam

bentuk soft copy maupun

hard copy

c.

Notulensi pembahasan

RPermen dengan

pemangku kepentingan

5.

Masukan dari

masyarakat

Kepala Biro

Hukum

Untuk mendapatkan saran

dan masukan baik secara

tertulis maupun lisan.

6.

Pembahasan RPermen Kepala Biro

Hukum

1.

Pertemuan I: Klarifikasi

(12)

No.

Tahapan

Pelaksana

Keterangan

2.

Pertemuan II :

Pembahasan RPermen

3.

Pertemuan III dan

seterusnya (bila

diperlukan).

7.

Finalisasi

Kepala Biro

Hukum

1.

Pembacaan ulang terhadap

RPermen (naskah bersih)

2.

Permohonan paraf

persetujuan oleh eselon II

unit pengusul pada tiap

halaman RPermen dan

eselon I di bagian tanda

tangan nama menteri

(sesuai dengan Permen

Tata Naskah Dinas)

8.

Penandatanganan,

penetapan dan

penomoran

Menteri

Negara LH

1.

Permohonan

penandatanganan melalui

memo dari Sekretaris

Kementerian LH

2.

Dilampiri dengan final

RPermen yang akan

ditanda tangani

3.

Setelah ditandatangani,

permen dimintakan nomor

9.

Pengundangan dalam

berita negara

Kepala Biro

Hukum

Disampaikan dengan surat

dari Kepala Biro Hukum

kepada Direktur Harmonisasi

Peraturan

Perundang-undangan, Kemkumham

dengan lampiran berupa 3

naskah asli dan 1 soft copy

(font: 15 pt,

Times New

Roman

, A4)

10.

Salinan

Kepala Biro

Hukum

1.

Salinan ditanda tangani

oleh Kepala Biro Hukum

2.

Penyampaian salinan

kepada unit pengusul

3.

Pengarsipan

4.

Penyebarluasan melalui

(13)

C. BAGAN ALIR PENYUSUNAN PERATURAN PEMERINTAH/PERATURAN PRESIDEN

Terkait Presiden

Masyara-kat

(1) (2) (3) (4) (5) (6) (7) (8) (9) (10)

1. Pengajuan rancangan peraturan pemerintah dalam program penyusunan peraturan pemerintah.

2. Pengajuan izin penyusunan RPP ke Presiden

3. Penyusunan RPP

4. Penyampaian RPP kepada Biro Hukum dan Humas

5. Pembentukan panitia antar Kementerian

6. Meminta masukkan kepada masyarakat

7. Pembahasan Antar Kementerian (PAK)

8. Penyampaian RPP kepada Menkumham untuk proses harmonisasi

9. Harmonisasi

(14)

No Kegiatan

Pelaksana Unit

pengusul

Kepala Biro Hukum

Menteri Negara

LH

Kemen kumham

Setneg/ Setkab

Sektor

Terkait Presiden

Masyara-kat

(1) (2) (3) (4) (5) (6) (7) (8) (9) (10)

11. Klarifikasi terhadap RPP/Rperpres

12. Paraf persetujuan dari

Menteri/Pimpina n lembaga terkait

13. Penetapan RPP menjadi PP atau Rperpres menjadi Perpres

14. Pengundangan

11

13 12

(15)

7

D. BAGAN ALIR PENYUSUNAN PERATURAN MENTERI

No. Kegiatan

1. Pengajuan rancangan Peraturan Menteri dalam program regulasi KLH.

2. Penyusun-an Kajian Teknis dan Rancangan Peraturan Menteri

3. Penyampaian RPermen kepada Biro Hukum dan Humas

4. Kepala Biro Hukum dan Humas Memberi-kan tanggapan

-pengem-balian Humas Melakukan pembahasan dengan pengusul dan unit terkait

6. Meminta

masukkan kepada masyara-kat

7. Perumus-an Rancangan Final Rpermen

8. Penandatanganan Permen

9. Pengun-dangan

MENTERI NEGARA LINGKUNGAN HIDUP

REPUBLIK INDONESIA,

Referensi

Dokumen terkait

(5) Pengintegrasian antara bank sampah dengan penerapan EPR sebagaimana dimaksud pada ayat (2) huruf c dilaksanakan sesuai Lampiran III yang merupakan bagian

Menurut Pasal 2 Peraturan Pemerintah Nomor 27 Tahun 1999, Analisis Mengenai Dampak Lingkungan Hidup merupakan bagian kegiatan studi kelayakan rencana usaha dan/atau kegiatan.

(1) Gubernur dapat menetapkan ambang batas emisi gas buang kendaraan bermotor lama di daerahnya sama atau lebih ketat dari ambang batas kendaraan bermotor lama sebagaimana

keberadaannya di dalam air laut. Baku mutu air laut di daerah hanya dapat ditetapkan dalam Peraturan Daerah provinsi, dengan ketentuan lebih ketat dari baku mutu air

(Jumlah kerugian ini akan bertambah besar bila diikuti terjadinya kerugian lingkungan dan/atau kerugian masyarakat dan/atau biaya pemulihan). Menggunakan prinsip biaya

Untuk mencapai visi, misi, tujuan dan sasaran strategis sebagaimana telah diuraikan dalam Bab II, ditetapkan kebijakan dan strategi Kementerian Lingkungan Hidup, yang

bahwa berdasarkan pertimbangan sebagaimana dimaksud dalam huruf a dan huruf b serta untuk melaksanakan ketentuan Pasal 21 ayat (1) Peraturan Pemerintah Nomor 82 Tahun 2001

Dalam Bab 1 Ketentuan Umum peraturan ini, yang dimaksud Limbah adalah sisa suatu usaha dan atau kegiatan, sedangkan Limbah Bahan Berbahaya dan Beracun (untuk selanjutnya