SCREENING DAFTAR EFEK SYARIAH (DES) DI PT.
BETONJAYA MANUNGGAL TBK YANG TERDAFTAR DI
DES
SKRIPSI
OLEH
MOCH. AYNUL YAQIN
NIM. C04211031
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SUNAN AMPEL
FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS ISLAM
PROGRAM STUDI EKONOMI SYARIAH
SURABAYA
SCREENING DAFTAR EFEK SYARIAH (DES) DI PT.
BETONJAYA MANUNGGAL TBK YANG TERDAFTAR DI
DES
SKRIPSI
Diajukan kepada
Universitas Islam Negeri Sunan Ampel Surabaya Untuk Memenuhi Salah Satu Persyaratan Dalam Menyelesaikan Program Sarjana Strata Satu
Ilmu Ekonomi Syariah
Oleh:
Moch. Aynul Yaqin NIM: C04211031
Universitas Islam Negeri Sunan Ampel
Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam
Program Studi Ekonomi Syariah
Surabaya
ABSTRAK
Skripsi ini merupakan hasil penelitian lapangan yang dilaksanakan di Galeri Investasi BEI STIESIA dan di Seminar Ekonomi Syariah bersama OJK
dengan judul “Screening Daftar Efek Syariah (DES) di PT. Betonjaya
Manunggal Tbk yang Terdaftar di DES”. Penelitian ini bertujuan untuk
menjawab pertanyaan: 1) Bagaimana implementasi screening DES di PT.
Betonjaya Manunggal Tbk (BTON)? 2) Bagaimana strategi keuangan BTON dalam mengendalikan ambang toleransi dari DSN-MUI pada rasio keuangan screening DES?
Untuk menjawab pertanyaan di atas, penulis melakukan penelitian kualitatif dan mengumpulkan data dengan teknik wawancara dan dokumentasi. Wawancara dilakukan dengan staf OJK, staf BEI Surabaya, dan Ketua Galeri Investasi BEI STIESIA. Setelah data terkumpul, data tersebut dianalisis dengan metode deskriptif dengan pola piker induktif.
Hasil penelitian menyimpulkan bahwa BTON melakukan screening
DES melalui 2 tahap. Tahap yang pertama dengan melihat kegiatan usahanya. BTON melakukan kegiatan usaha memproduksi besi dan baja (bukan memproduksi dzat yang diharamkan dan bukan perusahaan yang bergerak di bidang keuangan konvensional). Tahap yang kedua dengan menganalisa dan menghitung rasio keuangan. Hasil penghitungan pada laporan keuangan yang berakhir pada 31 Desember 2013 diperoleh utang berbasis bunga dibandingkan dengan total aset sebesar 0,06% dan pendapatan berbasis bunga dibandingkan total pendapatan sebesar 8%. Artinya BTON terdaftar di DES yang berlaku pada 1 Juni 2014. Sedangkan hasil penghitungan pada laporan keuangan yang berakhir pada 31 Desember 2014 diperoleh utang berbasis bunga dibandingkan dengan total aset sebesar 0,09% dan pendapatan berbasis bunga dibandingkan total pendapatan sebesar 30%. Artinya BTON tidak terdaftar di DES yang berlaku pada 1 Juni 2015 karena rasio keuangan BTON tidak memenuhi kriteria penerbitan DES. Strategi keuangan yang diterapkan BTON dalam
mengendalikan ambang batas toleransi dari DSN-MUI pada rasio screening
DES ialah yang pertama dengan menekan jumlah utang berbasis bunga seminimal mungkin dan meningkatkan jumlah aset baik aset lancar maupun tidak lancar. Yang kedua meningkatkan kapasitas produksi besi dan baja agar hasil dari penjualan produk meningkat dan berusaha untuk mengurangi pendapatan berbasis bunga.
DAFTAR TRANSLITERASI ... ix
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah ... 1
B. Identifikasi dan Batasan Masalah... 9
C. Rumusan Masalah ... 10
D. Kajian Pustaka ... 10
E. Tujuan Penelitian ... 13
F. Kegunaan Hasil Penelitian ... 13
G. Definisi Operasional... 14
H. Metode Penelitian... 15
I. Sistematika Pembahasan ... 18
BAB II PASAR MODAL SYARIAH A. Pasar Modal Syariah ... 20
1. Pengertian Pasar Modal Syariah ... 20
2. Sekilas Pasar Modal Syariah ... 20
4. Fungsi Pasar Modal ... 24
5. Dasar Hukum ... 26
6. Produk di Pasar Modal Syariah ... 27
7. Indeks Syariah di Indonesia ... 31
8. Daftar Efek Syariah (DES)... 33
B. Proses Screening DES... 34
BAB III IMPLEMENTASI SCREENING DES DI PT. BETONJAYA MANUNGGAL TBK A. Gambaran Umum PT. Betonjaya Manunggal Tbk ... 39
1. Sejarah Pendirian PT. Betonjaya Manunggal Tbk ... 39
2. Visi dan Misi BTON ... 40
3. Struktur Organisasi BTON ... 41
B. Implementasi screening DES di BTON ... 43
C. Strategi Keuangan BTON dalam Mengendalikan Ambang Batas Toleransi dari DSN-MUI pada Rasio Keuangan screening DES ... 49
BAB IV SCREENING DES DI PT. BETONJAYA MANUNGGAL TBK A. Analisis Implementasi Screening DES di PT. Betonjaya Manunggal Tbk ... 53
DAFTAR TABEL
Tabel Halaman
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
Dalam Islam, investasi merupakan kegiatan muamalah yang sangat
dianjurkan, karena dengan berinvestasi, harta yang dimiliki menjadi produktif
dan juga mendatangkan manfaat bagi orang lain. Allah berfirman dalam surat
al-Baqarah ayat 261:
Artinya:“Perumpamaan (nafkah yang dikeluarkan oleh) orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah adalah serupa dengan sebutir benih yang menumbuhkan tujuh bulir, pada tiap-tiap bulir seratus biji. Allah melipat gandakan (ganjaran) bagi siapa yang dia kehendaki. dan Allah Maha luas
(karunia-Nya) lagi Maha Mengetahui”.1
Untuk mengimplementasikan seruan investasi tersebut, maka harus
diciptakan suatu sarana untuk berinvestasi. Banyak pilihan orang untuk
menanamkan modalnya dalam bentuk investasi. Salah satu bentuk investasi
2
adalah menanamkan hartanya di pasar modal. Pasar modal pada dasarnya
merupakan pasar untuk berbagai instrumen keuangan atau surat-surat berharga
jangka panjang yang bisa diperjualbelikan, baik dalam bentuk utang maupun
modal sendiri.
Pasar modal merupakan salah satu pilar penting dalam perekonomian
dunia saat ini. Banyak industri dan perusahaan yang menggunakan institusi
pasar modal sebagai media untuk menyerap investasi dan media untuk
memperkuat posisi keuangannya. Secara faktual, pasar modal telah
menjadi financial nerve-centre (saraf keuangan dunia) ekonomi dunia modern.
Bahkan, perekonomian modern tidak akan mungkin eksis tanpa adanya pasar
modal yang terorganisir dengan baik. Setiap hari terjadi transaksi triliunan
rupiah melalui institusi ini.2
Pasar modal memiliki dua peran penting, yaitu sebagai sumber
pendanaan bagi perusahaan yang membutuhkan dana untuk pengembangan
usahanya dan sebagai sarana investasi bagi para pemodal yang memiliki
kelebihan dana. Sumber pendanaan suatu perusahaan dapat diperoleh dari
internal dan eksternal. Dari internal bersumber pada laba yang diperoleh
perusahaan dari kegiatan usahanya. Selain itu, dapat pula diperoleh dari
pinjaman pemegang saham (pemilik perusahaan). Pinjaman ini dapat berbasis
konvensional (bunga) atau berbasis syariah yang meninggalkan unsur bunga
(riba). Untuk memperoleh pendanaan dari eksternal, perusahaan dapat
3
memperoleh dana dari utang (debt), baik jangka panjang maupun jangka
pendek, serta dari setoran modal (equity).
Utang jangka pendek dapat diperoleh dari pasar uang, yaitu sektor
perbankan, baik yang konvensional, maupun yang berbasis syariah. Sumber
pendanaan dari utang jangka panjang dan ekuitas dapat diperoleh dari pasar
modal melalui penawaran umum.
Di pasar modal, perusahaan dapat melakukan penawaran umum
obligasi (utang jangka panjang) atau penawaran umum saham (ekuitas).
Penerbitan obligasi dapat dilakukan dengan berlandaskan pada basis
konvensional, yaitu menerbitkan obligasi yang menggunakan sistem bunga
(riba) atau dengan berbasis syariah, yaitu menerbitkan obligasi syariah atau
yang dikenal dengan istilah sukuk. Karakteristik dari efek obligasi, baik yang
berbasis konvensional, maupun syariah adalah adanya jatuh tempo sehingga
pada saat jatuh tempo, penerbitnya (emiten) harus mengembalikan dana
kepada pemegang efek tersebut.3
Selain sebagai sarana sumber pendanaan bagi perusahaan, pasar modal
memiliki peran sebagai sarana investasi bagi masyarakat yang memiliki
kelebihan dana. Masyarakat atau investor dapat menginvestasikan dananya
pada produk pasar modal berupa saham, obligasi, efek beragun aset, reksa
dana, dan efek lainnya. Pilihan produk investasi tersebut dapat berbasis
konvensional maupun berbasis syariah.
3 Otoritas Jasa Keuangan, Pasar Modal Syariah Konsep Umum, (Jakarta: OJK Direktorat Pasar
4
Indonesia sebagai negara muslim terbesar di dunia merupakan pasar
yang sangat besar untuk pengembangan industri keuangan syariah. Investasi
syariah di pasar modal yang merupakan bagian dari industri keuangan syariah
mempunyai peranan yang cukup penting untuk dapat meningkatkan pangsa
pasar industri keuangan syariah di Indonesia. Meskipun perkembangannya
relatif baru dibandingkan dengan perbankan syariah maupun asuransi syariah,
tetapi seiring dengan pertumbuhan yang signifikan di industri pasar modal,
maka diharapkan investasi syariah di pasar modal akan mengalami
pertumbuhan yang pesat.4
Pertumbuhan pesat perbankan dan asuransi syariah telah mendorong
kebutuhan pasar akan perlunya produk-produk yang mampu mengatasi
masalah likuiditas industri keuangan syariah. Kehadiran pasar modal berbasis
integrasi produk syariah di Indonesia diharapkan dapat membantu bank dan
asuransi syariah mengoptimalkan penggunaan sumber dana yang tersedia
sesuai dengan prinsip syariah sembari menjaga keseimbangan antara likuiditas
dan tingkat keuntungan. Selain itu, kehadiran produk syariah di pasar modal
Indonesia juga membuka peluang berinvestasi bagi masyarakat yang meyakini
bahwa produk investasi konvensional mengandung elemen-elemen yang
diharamkan syariah.
Kehadiran produk syariah di pasar modal Indonesia ditandai dengan
peluncuran produk danareksa syariah pada 3 Juli 1997 oleh PT. Danareksa
Invesment Management. Namun, produk syariah di pasar modal Indonesia
5
dinyatakan hadir secara resmi pada 14 Maret 2003, dengan penandatanganan
nota kesepahaman antara Badan Pengawas Pasar Modal dan Lembaga
Keuangan (Bapepam dan LK) dengan Dewan Syariah Majelis Ulama
Indonesia (DSN-MUI). Penandatanganan nota kesepahaman antara Bapepam
dan LK (saat ini menjadi Otoritas Jasa Keuangan) dan DSN-MUI menjadi
pijakan dukungan yang kuat terhadap pengembangan pasar modal berbasis
syariah di Indonesia yang menyepakati adanya pola hubungan koordinasi,
konsultasi, dan kerja sama untuk pengaturan yang efektif dan efisien dalam
rangka akselerasi pertumbuhan produk keuangan syariah.
Pengembangan pasar modal syariah berbasis produk di Indonesia
mencapai tonggak penting sejak penerbitan Daftar Efek Syariah (DES)
tertanggal 30 November 2007. DES merupakan kumpulan efek (surat
berharga) yang tidak bertentangan dengan prinsip-prinsip syariah di pasar
modal. DES diterbitkan oleh Bapepem dan LK sesuai dengan peraturan yang
berlaku dan ditinjau ulang setiap enam bulan pada bulan Mei dan November.
Efek yang dimuat dalam DES terdiri dari Surat Berharga Syariah Negara
(SBSN), sukuk atau obligasi syariah, dan saham syariah.5
Penerbitan DES ini bertujuan untuk memberikan panduan investasi
bagi reksa dana syariah, asuransi syariah, dan investor syariah lainnya serta
digunakan sebagai acuan pihak penerbit indeks saham syariah, seperti Jakarta
Islamic Index (JII) dan Indeks Saham Syariah Indonesia (ISSI).
6
Pada periode penerbitan DES pertama kali, DES memuat sukuk
korporasi dan saham yang memenuhi kriteria efek syariah. Dalam
perkembangannya, DES hanya memuat saham yang memenuhi efek syariah
dan tidak memuat sukuk korporasi mengingat karakteristik sukuk sudah
memenuhi prinsip syariah.
Perkembangan jumlah saham yang dimuat dalam DES menunjukkan
tren yang meningkat. Jumlah saham yang dimuat dalam DES pada periode
awal penerbitan DES tahun 2007 berjumlah 174 emiten, sedangkan pada tahun
2013 berjumlah 331 emiten.6
Tidak semua emiten yang telah melakukan go public terdaftar di DES,
hanya emiten yang telah melakukan screening DES dan dinyatakan lolos dari
OJK bisa terdaftar di DES. Untuk bisa terdaftar di DES emiten harus
melakukan screening DES sebagai berikut :
1) Emiten tidak melakukan kegiatan usaha yang bertentangan dengan
prinsip-prinsip syariah seperti:
a. Perjudian dan permainan yang tergolong judi.
b. Perdagangan yang tidak disertai dengan penyerahan barang/jasa.
c. Perdagangan dengan penawaran atau permintaan palsu.
d. Bank berbasis bunga.
e. Perusahaan pembiayaan berbasis bunga.
f. Jual beli risiko yang mengandung unsur ketidakpastian (gharār) dan
judi (maysīr), antara lain asuransi konvensional.
6 Otoritas Jasa Keuangan, Pasar Modal Syariah Saham Syariah, (Jakarta: OJK Direktorat Pasar
7
g. Memproduksi, mendistribusikan, memperdagangkan dan menyediakan
barang atau jasa yang haram dzatnya, barang atau jasa yang haram
bukan karena dzatnya yang ditetapkan oleh DSN-MUI, dan barang
atau jasa yang merusak moral dan bersifat muḍarāt.
h. Melakukan transaksi yang mengandung unsur suap (rishwah).
2) Jika kegiatan usaha emiten atau perusahaan publik tidak bertentangan
dengan prinsip-prinsip syariah sebagaimana telah dijelaskan sebelumnya,
maka proses screening dilanjutkan pada kriteria rasio keuangan, yaitu:
a. Total utang yang berbasis bunga dibandingkan dengan total asset tidak
lebih dari 45%.
b. Total pendapatan bunga dan pendapatan tidak halal lainnya
dibandingkan dengan total pendapatan usaha (revenue) dan
pendapatan lain-lain tidak lebih dari 10%.
3) Emiten atau perusahaan publik yang memenuhi kriteria tersebut di atas,
tercantum dalam DES yang diterbitkan oleh Otoritas Jasa Keuangan
(OJK).7
PT. Betonjaya Manunggal Tbk atau dengan kode saham BTON
didirikan 27 Februari 1995 dan mulai melakukan kegiatan komersialnya pada
bulan Mei 1996. Kantor pusat dan pabrik beralamat di Jl. Raya Krikilan No.
434, Km 28 Driyorejo – Gresik, Jawa Timur.
Berdasarkan Anggaran Dasar Perusahaan, ruang lingkup kegiatan
BTON terutama meliputi bidang industri besi dan baja. Saat ini BTON
8
bergerak dalam bidang industri besi beton yang dipasarkan di dalam negeri
dengan fokus pada target pasar distributor, toko besi dan end user.
Pada tanggal 29 Juni 2001, BTON memperoleh pernyataan efektif dari
BAPEPAM DAN LK untuk melakukan penawaran umum perdana saham
BTON kepada masyarakat sebanyak 65.000.000 dengan nilai nominal
Rp100,00 per saham dengan harga penawaran Rp120,00 per saham.
Saham-saham tersebut dicatatkan pada BEI pada tanggal 18 Juli 2001.
BTON telah terdaftar di DES sejak tahun 2007. Tahun tersebut ialah
tahun dimana DES untuk pertama kalinya diterbitkan. Dari tahun 2007
sampai dengan tahun 2014 BTON selalu terdaftar di DES.8
Untuk mengembangkan usahanya tersebut, BTON membutuhkan dana
yang dapat diperoleh dari internal dan eksternal. Dari internal bersumber pada
laba atau pendapatan yang diperoleh perusahaan dari kegiatan usahanya baik
dari pendapatan berbasis bunga dan pendapatan yang tidak berbasis bunga.
Sedangkan eksternal bersumber dari pinjaman (utang) jangka pendek dan
jangka panjang baik yang diperoleh dari perbankan (berbasis bunga) dan non
perbankan.
Berdasarkan latar belakang yang telah diuraikan di atas, mendorong
peneliti untuk mengambil judul “Screening Daftar Efek Syariah (DES) di
PT. Betonjaya Manunggal Tbk yang Terdaftar di DES”.
9
B. Identifikasi dan Batasan Masalah
1. Identifikasi Masalah
Berdasarkan latar belakang masalah di atas, maka identifikasi masalah
yang muncul adalah:
a. Adanya kriteria emiten aktif dan emiten pasif dalam proses screening
DES.
b. Mekanisme screening DES bagi emiten yang ingin terdaftar di DES.
c. Model pendanaan BTON untuk mengembangkan usahanya.
d. Implementasi screening DES di BTON.
e. Strategi keuangan BTON dalam mengendalikan ambang batas
toleransi dari DSN-MUI pada rasio keuangan screening DES.
2. Batasan Masalah
Berdasarkan hasil identifikasi masalah di atas, maka penelitian ini
akan dilakukan pembatasan masalah agar penelitian ini lebih terarah dan
terfokus. Penelitian ini terfokus hanya pada implementasi screening DES
dan strategi keuangan BTON dalam mengendalikan ambang batas
toleransi dari DSN-MUI pada rasio keuangan screening DES.
C. Rumusan Masalah
Berdasarkan uraian pada latar belakang, identifikasi dan batasan
masalah, maka rumusan masalah yang diangkat dalam penelitian ini adalah:
1. Bagaimana implementasi screening DES di PT. Betonjaya Manunggal
10
2. Bagaimana strategi keuangan PT. Betonjaya Manunggal Tbk dalam
mengendalikan ambang batas toleransi dari DSN-MUI pada rasio
keuangan screening DES?
D. Kajian Pustaka
Kajian pustaka adalah deskripsi ringkasan tentang kajian atau
penelitian yang sudah pernah dilakukan di seputar masalah yang diteliti,
sehingga terlihat jelas bahwa kajian yang akan dilakukan ini tidak merupakan
pengulangan atau duplikasi dari kajian atau penelitian yang telah ada.
Penelitian ini berjudul “Screening DES di PT. Betonjaya Manunggal
Tbk yang Terdaftar di DES”. Penelitian ini tentu tidak lepas dari berbagai
penelitian terdahulu yang dijadikan sebagai pandangan dan juga referensi serta
acuan dalam penyusunan skripsi ini. Adapun penelitian terdahulu sebagai
berikut:
Penelitian pertama yang dilakukan oleh Nani Sustiyandari yang
berjudul “Analisis Rasio Keuangan Terhadap Laporan Keuangan pada PT.
Indofood Tbk yang Terdaftar di DES” bertujuan melihat kinerja keuangan
pada PT. Indofood Tbk yang terdaftar di DES. Hasil penelitian ini
menunjukkan bahwa kinerja keuangan PT. Indofood Tbk dari tahun 2010
sampai tahun 2012 ialah cukup baik karena kinerja keuangannya masih di
atas rata-rata industri yang terdaftar di DES.9
9 Nani Sustiyandari, “Analisis Rasio Keuangan Terhadap Laporan Keuangan pada PT. Indofood
11
Penelitian Nani Sustiyandari memiliki kesamaan dengan penelitian ini
yaitu obyeknya menggunakan emiten yang terdaftar DES dan data yang
digunakan untuk penelitian ialah laporan keuangan emiten yang terdaftar di
DES. Perbedaan penelitian tersebut dengan penelitian saya adalah penelitian
tersebut membahas tentang kinerja keuangan emiten yang terdaftar di DES,
sedangkan penelitian saya membahas tentang implementasi screening DES
dan strategi keuangan BTON dalam mengendalikan ambang batas toleransi
dari DSN-MUI pada rasio keuangan screening DES.
Penelitian kedua yang dilakukan oleh Septi Widiawati yang berjudul
“Analisis Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Islamic Social Reporting
Perusahaan-Perusahaan yang Terdapat pada DES” bertujuan untuk
mengetahui ukuran perusahaan, profitabilitas, dan tipe industri berpengaruh
positif terhadap Islamic Social Reporting pada perusahaan yang terdapat di
DES. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa ada pengaruh positif antara
ukuran perusahaan, profitabilitas, dan tipe industri terhadap Islamic Social
Reporting pada perusahaan yang terdapat di DES.10
Penelitian Septi Widiawati memiliki kesamaan dengan penelitian ini
yaitu obyek penelitiannya menggunakan emiten yang terdaftar di DES.
Perbedaan penelitian tersebut dengan penelitian saya adalah penelitian
tersebut membahas tentang ada tidaknya pengaruh positif antara ukuran
perusahaan, profitabilitas, dan tipe industri terhadap Islamic Social Reporting
pada perusahaan yang terdapat di DES, sedangkan penelitian saya membahas
10 Septi Widiawati, “Analisis Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Islamic Social Reporting
12
tentang implementasi screening DES dan strategi keuangan BTON dalam
mengendalikan ambang batas toleransi dari DSN-MUI pada rasio keuangan
screening DES.
Penelitian ketiga yang dilakukan oleh Akhmad Firdaus yang berjudul
“Pengaruh Rasio Likuiditas, Aktivitas, Profitabilitas terhadap Harga Saham
Syariah pada Industri Barang Konsumsi yang Terdaftar di DES” bertujuan
menganalisis Current Ratio (CR), Inventory Turnover (ITO), Account
Receivables Turnover (ARTO), Return On Equity (ROE), dan Earning Per
Share (EPS) baik secara parsial maupun simultan berpengaruh terhadap harga
saham syariah pada industri barang konsumsi yang terdaftar di DES. Hasil
penelitian ini menunjukkan bahwa ada pengaruh signifikan baik secara parsial
maupun simultan antara CR, ITO, ARTO, ROE, EPS terhadap harga saham
syariah pada industri barang konsumsi yang terdaftar di DES.11
Penelitian Akhmad Firdaus memiliki kesamaan dengan penelitian ini
yaitu obyeknya menggunakan emiten yang terdaftar DES dan data yang
digunakan untuk penelitian ialah laporan keuangan emiten yang terdaftar di
DES. Perbedaan penelitian tersebut dengan penelitian saya adalah penelitian
tersebut membahas pengaruh rasio likuiditas, aktivitas, profitabilitas terhadap
harga saham syariah baik secara parsial maupun simultan pada industri
barang konsumsi yang terdaftar di DES, sedangkan penelitian saya membahas
tentang implementasi screening DES dan strategi keuangan BTON dalam
11 Akhmad Firdaus, “Pengaruh Rasio Likuiditas, Aktivitas, Profitabilitas terhadap Harga Saham
Syariah pada Industri Barang Konsumsi yang Terdaftar di Daftar Efek Syariah (DES”)
13
mengendalikan ambang batas toleransi dari DSN-MUI pada rasio keuangan
screening DES.
E. Tujuan Penelitian
Adapun tujuan yang hendak dicapai dalam penelitian ini adalah:
1. Mendeskripsikan implementasi screening DES di BTON.
2. Mendeskripsikan strategi keuangan BTON dalam mengendalikan
ambang batas toleransi dari DSN-MUI pada rasio keuangan screening
DES.
F. Kegunaan Hasil Penelitian
Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat dan
berguna dalam dua aspek:
1. Aspek Teoretis
Hasil penelitian ini diharapkan dapat menambah khazanah keilmuan di
bidang Ekonomi Islam umumnya, khususnya di bidang pasar modal
syariah tentang sreecing DES.
2. Aspek Terapan (Praktis)
a. Bagi investor, dapat memberikan pandangan, informasi, serta
penjelasan kepada seluruh investor khususnya pada investor muslim
agar mengetahui proses sreening DES khususnya pada PT. Betonjaya
Manunggal Tbk.
14
manajemen PT. Betonjaya Manunggal Tbk dalam mengambil
kebijakan atau strategi keuangan agar emiten tersebut tetap terdaftar di
DES dengan mengendalikan rasio keuangannya terutama yang
berkaitan dengan screening DES.
c. Bagi penelitian selanjutnya, dapat dijadikan bahan acuan untuk
penelitian selanjutnya yang berkaitan dengan sreening DES.
G. Definisi Operasional
Penelitian ini berjudul “Screening Daftar Efek Syariah (DES) di PT.
Betonjaya Manunggal Tbk yang Terdaftar di DES”. Agar mempermudah
dalam memahami tulisan skripsi ini maka penulis akan memuat penjelasan
tentang pengertian yang bersifat operasional dari konsep/variabel penelitian
sehingga bisa dijadikan acuan dalam menelusuri, menguji, atau mengukur
variabel tersebut melalui penelitian, yakni :
1. Screening
Screening adalah proses penyaringan untuk mengidentifikasi sesuatu yang
tidak diketahui/tidak terdeteksi dengan menggunakan berbagai test/uji
yang dapat diterapkan secara tepat dalam sebuah skala yang benar.
2. DES
DES adalah kumpulan efek yang tidak bertentangan dengan
15
H. Metode Penelitian
1. Data yang Dikumpulkan
Data yang dikumpulkan ini adalah data proses BTON terdaftar di DES dan
laporan keuangannya.
2. Sumber Data
Adapun sumber data yang dipakai pada penelitian ini adalah sebagai
berikut:
a. Sumber data primer yaitu data yang tertuang dalam item-item pertanyaan
yang terangkum dan dihasilkan dalam bentuk wawancara dengan staff
OJK, staff BEI Kantor Perwakilan Surabaya, dan Pojok Bursa STIESIA
selaku mitra dari BTON.
b. Sumber data sekunder adalah sumber data pendukung dan pelengkap data
penelitian. Sumber data sekunder diambil dari berbagai literatur yang
ada seperti buku-buku, dokumen-dokumen, internet dan kepustakaan lain
yang berkaitan dengan pembahasan dalam skripsi ini.12
3. Teknik Pengumpulan Data
Cara yang ditempuh untuk kepentingan pengumpulan data dalam penelitian
ini, yaitu:
Penelitian lapangan
Dalam penelitian lapangan ini, penulis bermaksud untuk mendapatkan
data primer dengan menggunakan 2 cara:
16
1) Wawancara, digunakan sebagai tehnik pengumpulan data apabila
peneliti ingin melakukan studi pendahuluan untuk menemukan
permasalahan yang harus diteliti, dan juga apabila peneliti ingin
mengetahui hal-hal dari responden yang lebih mendalam. Cara ini
adalah untuk memperoleh dan menggali data dengan mengadakan
tanya jawab langsung kepada staff OJK, staff BEI Kantor Perwakilan
Surabaya, dan Ketua Galeri BEI STIESIA selaku mitra dari BTON.
2) Dokumentasi, merupakan catatan peristiwa yang sudah berlalu.
Dokumen bisa berbentuk tulisan, gambar, atau karya-karya
monumental dari seseorang. Dokumen yang berbentuk tulisan
misalnya laporan keuangan, catatan harian, sejarah kehidupan (life
histories), cerita, biografi, peraturan, kebijakan. Dokumen yang
berbentuk gambar, misalnya foto, gambar hidup, sketsa, dan lain-lain.
Dokumen yang berbentuk karya misalnya karya seni, yang dapat
berupa gambar, patung, film, dan lain-lain. Studi dokumen merupakan
pelengkap dari penggunaan metode observasi dan wawancara dalam
penelitian kualitatif.13 Cara ini untuk memperoleh data laporan
keuangan BTON.
4. Teknik Pengolahan Data.
Setelah data berhasil diambil dari seluruh sumber yang ada, maka penulis
menggunakan teknik pengolahan data sebagai berikut:
17
a. Editing, yaitu pemeriksaan kembali dari semua data yang diperoleh
terutama dari segi kelengkapannya, kejelasan makna, keselarasan antara
data yang ada dan relevansi dengan penelitian. Dalam hal ini, penulis
akan mengambil data yang akan dianalisis dengan rumusan masalah
saja.
b. Organizing, yaitu menyusun kembali data yang telah didapat dalam
penelitian yang diperlukan dalam kerangka paparan yang sudah
direncanakan dengan rumusan masalah secara sistematis. Penulis
melakukan pengelompokan data yang dibutuhkan untuk dianalisis dan
menyusun data tersebut dengan sistematis untuk memudahkan penulis
dalam menganalisa data.14
c. Penemuan hasil, yaitu dengan menganalisis data yang telah diperoleh
dari penelitian untuk memperoleh kesimpulan mengenai kebenaran
fakta yang ditemukan yang akhirnya merupakan sebuah jawaban dari
rumusan masalah.
5. Teknik Analisis Data.
Analisis data adalah proses mencari dan menyusun secara sistematis
data yang diperoleh dari hasil wawancara, catatan lapangan, dan
dokumentasi, dengan cara mengorganisasikan data ke dalam kategori,
menjabarkan ke dalam unit-unit, melakukan sintesa, menyusun ke dalam
pola, memilih mana yang penting dan yang akan dipelajari, dan membuat
kesimpulan sehingga mudah difahami oleh diri sendiri maupun orang lain.
18
Analisis data merupakan upaya mencari dan menata secara sistematis
catatan hasil wawancara dan dokumentasi lainnya untuk meningkatkan
pemahaman peneliti tentang kasus yang diteliti dan menyajikannya sebagai
temuan bagi orang lain. Sedangkan untuk meningkatkan pemahaman
tersebut analisis perlu dilanjutkan dengan cara mencari makna. Untuk
menganalisa data yang telah diperoleh dan hasil penelitian, penulis
menggunakan metode deskriptif analitis.
Deskriptif analitis yaitu sebuah metode dimana prosedur pemecahan
penelitian yang diselidiki dengan menggambarkan dan melukiskan subyek
atau obyek pada seseorang atau lembaga pada saat sekarang dengan
berdasarkan fakta yang tampak sebagaimana adanya. Kemudian dianalisa
dengan data yang ada.15
I. Sistematika Pembahasan
Untuk menghasilkan suatu tulisan yang teratur dan terarah, peneliti
menguraikan penelitian ini dalam lima bab sebagai berikut:
Bab pertama berupa pendahuluan, yang berisi latar belakang masalah,
identifikasi dan batasan masalah, rumusan masalah, kajian pustaka, tujuan
penelitian, kegunaan hasil penelitian, definisi operasional, metode penelitian,
teknik pengolahan data dan sistematika pembahasan.
Bab dua berfungsi sebagai dasar kajian untuk menjawab permasalahan
yang ada pada penelitian ini. Dalam bab ini, dibahas teori-teori yang menjadi
19
dasar pedoman tema penelitian yang diangkat teori tentang pasar modal
syariah berkaitan dengan peraturan dalam melakukan penerbitan efek syariah.
Dalam bab tiga, dimuat deskripsi data yang berkenaan dengan variabel
yang diteliti secara objektif, meliputi gambaran mengenai BTON secara
umum, sejarah berdirinya, visi dan misi, struktrur organisasi, implementasi
screening DES di BTON, serta strategi keuangan BTON dalam
mengendalikan ambang batas toleransi dari DSN-MUI pada rasio keuangan
screening DES. Setelah mengetahui gambaran umum objek penelitian,
tersebut dapat membantu dalam proses penelitian khususnya proses analisis
data dapat terbantu.
Kemudian, bab empat berisi analisis hasil penelitian yang dilakukan
oleh peneliti yang mengacu pada rumusan masalah. Pertama, mengenai
implementasi screening DES di BTON. Kedua, strategi keuangan BTON
dalam mengendalikan ambang batas toleransi dari DSN-MUI pada rasio
keuangan screening DES.
Bab lima merupakan bab penutup yang berisi kesimpulan hasil
penelitian dan saran-saran yang dapat bermanfaat bagi banyak pihak,
Khususnya mengetahui implementasi screening DES dan strategi keuangan
20
BAB II
PASAR MODAL SYARIAH DAN PROSES SCREENING DES
A. Pasar Modal Syariah
1. Pengertian Pasar Modal Syariah
Definisi pasar modal sesuai dengan Undang-Undang Nomor 8 Tahun
1995 tentang Pasar Modal (UUPM) adalah kegiatan yang bersangkutan
dengan penawaran umum dan perdagangan efek, perusahaan publik yang
berkaitan dengan efek yang diterbitkannya, serta lembaga dan profesi yang
berkaitan dengan efek.1
Berdasarkan definisi tersebut, terminologi pasar modal syariah dapat
diartikan sebagai kegiatan dalam pasar modal sebagaimana yang diatur
dalam UUPM yang tidak bertentangan dengan prinsip syariah. Oleh karena
itu, pasar modal syariah bukanlah suatu sistem yang terpisah dari sistem
pasar modal secara keseluruhan.
Secara umum kegiatan pasar modal syariah tidak memiliki perbedaan
dengan pasar modal konvensional, namun terdapat beberapa karakteristik
khusus pasar modal syariah yaitu bahwa produk dan mekanisme transaksi
tidak bertentangan dengan prinsip-prinsip syariah.2
2. Sekilas Pasar Modal Syariah
Sejarah pasar modal syariah di Indonesia dimulai dengan
diterbitkannya reksa dana syariah tahun 1997. Selanjutnya, BEI meluncurkan
JII pada tahun 2000 dengan tujuan untuk memandu investor yang
menginginkan investasi dananya secara syariah.
21
Pada tahun 2001, untuk pertama kali DSN-MUI mengeluarkan fatwa
yang berkaitan langsung dengan pasar modal, yaitu Fatwa Nomor
20/DSN-MUI/IV/2001 tentang pedoman pelaksanaan investasi untuk reksa dana
syariah.
Selanjutnya pada tahun 2002, instrument investasi syariah di pasar
modal terus bertambah dengan kehadiran sukuk (obligasi syariah). Instrument
ini merupakan sukuk pertama dengan akad mudharabah.
Tahun 2003 merupakan tonggak sejarah dalam perkembangan pasar
modal syariah di Indonesia karena DSN-MUI mengeluarkan fatwa yang
melandasi produk-produk syariah di pasar modal, yaitu Fatwa Nomor
40/DSN-MUI/X/2003 tentang pasar modal dan pedoman umum penerapan
prinsip syariah di bidang pasar modal.
Sejarah pasar modal syariah juga dapat ditelusuri dari perkembangan
institusional dalam pengaturan pasar modal syariah yang dimulai dari
kerjasama antara Bapepam dan DSN-MUI. Kerjasama tersebut menunjukkan
adanya kesepahaman antara Bapepam dan DSN-MUI untuk mengembangkan
pasar modal berbasis syariah di Indonesia.3
Dari sisi kelembagaan, pengembangan pasar modal syariah sebelum
terbentuknya OJK dilaksanakan oleh Bapepam dan LK yang salah satu tugas
dan fungsinya mengembangkan pasar modal syariah. Pada struktur OJK,
fungsi, tugas, dan wewenang pengaturan dan pengawasan pasar modal,
khususnya pasar modal syariah berada pada direktorat pasar modal syariah.
Direktorat pasar modal syariah memiliki fungsi melakukan pengkajian
dan pengembangan akad serta lembaga dan profesi penunjang, penyusun DES,
22
serta pelayanan informasi dan penyuluhan di bidang pasar modal syariah
dalam rangka penyelenggaraan system pengaturan dan pengawasan sektor
pasar modal yang terintegrasi terhadap keseluruhan kegiatan di sektor jasa
keuangan.4
Tabel 2.1
Tabel Perkembangan Pasar Modal Syariah
Tahun Perkembangan
1997 Efek syariah pertama yaitu reksa dana syariah
2000 Indeks syariah yaitu Jakarta Islamic Index (JII)
2001 Fatwa DSN-MUI No.20/DSN-MUI/IV/2001 terkait reksa dana syariah
2002 Sukuk Korporasi
2006 Regulasi pasar modal syariah (IX.A.13; IX.A.14; II.K.1)
2007 Daftar Efek Syariah (DES)
2008 Undang-Undang SBSN No.19 tahun 2008 tentang Sukuk Negara
2011 Indeks Saham Syariah Indonesia (ISSI) dan online trading syariah
2013 ETF syariah
Sumber : Otoritas Jasa Keuangan
23
3. Konsep Dasar Pasar Modal Syariah
Gambar 2.1. Skema Konsep Dasar Islam
Untuk memahami konsep dasar pasar modal syariah, perlu kiranya
memahami kaidah penetapan hukum Islam terlebih dahulu. Hukum Islam
atau yang dikenal dengan syariah bersumber dari Alquran dan Hadits. Untuk
memudahkan dalam pemahaman dan pelaksanaannya, para ulama melakukan
perumusan hukum Islam yang hasilnya disebut dengan fiqih.5
Fiqih terbagi menjadi dua, fiqih ibadah dan fiqih muamalah. Fiqih
ibadah merupakan hubungan manusia dengan Allah sebagai penciptanya.
Kaidah yang digunakan dalam pelaksanaan ibadah adalah semua tidak boleh
dilakukan kecuali ada perintah atau ketentuannya. Dengan demikian, dalam
24
menjalankan ibadah, manusia hanya boleh melakukan apa yang telah
ditetapkan di dalam Alquran dan Hadits.
Sedangkan kaidah fiqih muamalah meliputi seluruh aspek kehidupan
manusia dengan dilandasi hubungan antar sesama manusia. Salah satu bentuk
muamalah adalah perniagaan. Kaidah yang digunakan dalam bermuamalah
adalah semua boleh dilakukan sepanjang tidak ada dalil yang melarangnya.
Kegiatan muamalah yang dilarang adalah kegiatan spekulasi dan manipulasi
yang didalamnya mengandung unsur gharār, riba, maysīr, rishwah, maksiat
dan kedzaliman. Dalam melakukan muamalah, manusia hanya perlu
memperhatikan hal-hal yang dilarang.6
Dengan demikian, manusia diberikan kebebasan untuk menciptakan
berbagai pola perniagaan sepanjang tidak bertentangan dengan syariah.
Kegiatan pasar modal termasuk dalam kelompok muamalah, sehingga
transaksi dalam pasar modal diperbolehkan sepanjang tidak ada larangan
menurut syariah.
4. Fungsi Pasar Modal
Pasar modal memiliki dua peran penting, yaitu sebagai sumber
pendanaan bagi perusahaan yang membutuhkan dana untuk pengembangan
usahanya dan sebagai sarana investasi bagi para pemodal yang memiliki
kelebihan dana. Baik sebagai sumber pendanaan, maupun sarana investasi,
pasar modal menyediakan produk-produk yang berbasis konvensional dan
berbasis syariah.
Sumber pendanaan suatu perusahaan dapat diperoleh dari internal dan
eksternal. Dari internal bersumber pada laba yang diperoleh perusahaan dari
25
kegiatan usahanya. Selain itu, dapat pula diperoleh dari pinjaman pemegang
saham (pemilik perusahaan). Pinjaman ini dapat berbasis konvensional
(bunga) atau berbasis syariah yang meninggalkan unsur bunga (riba). Untuk
memperoleh pendanaan dari eksternal, perusahaan dapat memperoleh dana
dari utang (debt), baik jangka panjang maupun jangka pendek, serta dari
setoran modal (equity).
Utang jangka pendek dapat diperoleh dari pasar uang, yaitu sektor
perbankan, baik yang konvensional, maupun yang berbasis syariah. Sumber
pendanaan dari utang jangka panjang dan ekuitas dapat diperoleh dari pasar
modal melalui penawaran umum.7
Di pasar modal, perusahaan dapat melakukan penawaran umum
obligasi (utang jangka panjang) atau penawaran umum saham (ekuitas).
Penerbitan obligasi dapat dilakukan dengan berlandaskan pada basis
konvensional, yaitu menerbitkan obligasi yang menggunakan sistem bunga
(riba) atau dengan berbasis syariah, yaitu menerbitkan obligasi syariah atau
yang dikenal dengan istilah sukuk. Karakteristik dari efek obligasi, baik yang
berbasis konvensional, maupun syariah adalah adanya jatuh tempo sehingga
pada saat jatuh tempo, penerbitnya (emiten) harus mengembalikan dana
kepada pemegang efek tersebut.
Selain sebagai sarana sumber pendanaan bagi perusahaan, pasar modal
memiliki peran sebagai sarana investasi bagi masyarakat yang memiliki
kelebihan dana. Masyarakat atau investor dapat menginvestasikan dananya
pada produk pasar modal berupa saham, obligasi, efek beragun aset, reksa
26
dana, dan efek lainnya. Pilihan produk investasi tersebut dapat berbasis
konvensional, maupun berbasis syariah.
5. Dasar Hukum
Sebagai bagian dari sistem pasar modal di Indonesia , kegiatan di pasar
modal yang menerapkan prinsip-prinsip syariah juga mengacu kepada
Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1995 tentang Pasar Modal berikut
peraturan pelaksananaannya (Peraturan Bapepam-LK, Peraturan Pemerintah,
Peraturan Bursa dan lain-lain). Bapepam dan LK selaku regulator pasar
modal di Indonesia, memiliki beberapa peraturan khusus terkait pasar modal
syariah, sebagai berikut:
1. Peraturan Nomor II.K.1 tentang Kriteria dan Penerbitan Daftar Efek
Syariah (Penerbitan DES).
2. Peraturan Nomor IX.A.13 tentang Penerbitan Efek Syariah.
3. Peraturan Nomor IX.A.14 tentang Akad-akad yang Digunakan dalam
Penerbitan Efek Syariah.
Peraturan-peraturan terkait pasar modal syariah tersebut disusun
berdasarkan fatwa DSN-MUI. Penyusunan peraturan, khususnya terkait
dengan pasar modal syariah, merupakan salah satu dari beberapa bentuk
kerjasama yang dilakukan antara OJK dengan DSN-MUI.8
6. Produk di Pasar Modal Syariah
Produk syariah di pasar modal antara lain berupa surat berharga atau
efek. Berdasarkan Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1995 tentang Pasar
Modal (UUPM), efek adalah surat berharga, yaitu surat pengakuan utang,
surat berharga komersial, saham, obligasi, tanda bukti utang, Unit Penyertaan
27
kontrak investasi kolektif, kontrak berjangka atas efek, dan setiap derivatif
dari efek.
Sejalan dengan definisi tersebut, maka produk syariah yang berupa
efek harus tidak bertentangan dengan prinsip syariah. Oleh karena itu efek
tersebut dikatakan sebagai efek syariah. Dalam Peraturan Bapepam dan LK
Nomor IX.A.13 tentang Penerbitan Efek Syariah disebutkan bahwa efek
syariah adalah efek sebagaimana dimaksud dalam UUPM dan peraturan
pelaksanaannya yang akad, cara, dan kegiatan usaha yang menjadi landasan
pelaksanaannya tidak bertentangan dengan prinsip - prinsip syariah di pasar
modal. Sampai dengan saat ini, efek syariah yang telah diterbitkan di pasar
modal Indonesia meliputi:
1. Saham Syariah
Bukti kepemilikan atas suatu perusahaan yang memenuhi kriteria
berdasarkan prinsip-prinsip syariah di pasar modal.9 Suatu saham dapat
dikategorikan sebagai saham syariah jika saham tersebut diterbitkan oleh:
i. Emiten atau perusahaan publik yang secara jelas menyatakan dalam
anggaran dasarnya bahwa kegiatan usaha emiten atau perusahaan
publik tidak bertentangan dengan prinsip-prinsip syariah (emiten atau
perusahaan publik aktif).
ii. Emiten atau perusahaan publik yang tidak secara jelas menyatakan
dalam usaha emiten atau perusahaan publik tidak bertentangan dengan
prinsip-prinsip syariah (emiten atau perusahaan publik pasif) dan
memenuhi kriteria sebagai berikut:
Kriteria emiten atau perusahaan publik pasif adalah:
28
a) Tidak melakukan kegiatan usaha yang bertentangan dengan
prinsip-prinsip syariah seperti:
Perjudian dan permainan yang tergolong judi.
Perdagangan yang tidak disertai dengan penyerahan
barang/jasa.
Perdagangan dengan penawaran atau permintaan palsu.
Bank berbasis bunga.
Perusahaan pembiayaan berbasis bunga.
Jual beli risiko yang mengandung unsur ketidakpastian (gharār)
dan judi (maysīr), antara lain asuransi konvensional.
Memproduksi, mendistribusikan, memperdagangkan dan
menyediakan barang atau jasa yang haram dzatnya, barang atau
jasa yang haram bukan karena dzatnya yang ditetapkan oleh
DSN-MUI, dan barang atau jasa yang merusak moral dan
bersifat muḍarāt.
Melakukan transaksi yang mengandung unsur suap (rishwah).10
b) Jika kegiatan usaha emiten atau perusahaan publik tidak
bertentangan dengan prinsip-prinsip syariah sebagaimana telah
dijelaskan sebelumnya, maka proses screening dilanjutkan pada
kriteria rasio keuangan, yaitu:
1) Total utang yang berbasis bunga dibandingkan dengan total
asset tidak lebih dari 45%.
29
2) Total pendapatan bunga dan pendapatan tidak halal lainnya
dibandingkan dengan total pendapatan usaha (revenue) dan
pendapatan lain-lain tidak lebih dari 10%.
2. Reksa Dana Syariah
Reksa dana syariah sebagaimana reksa dana pada umumnya yang tidak
bertentangan dengan prinsip-prinsip syariah di pasar modal merupakan
salah satu alternatif investasi bagi masyarakat pemodal, khususnya
pemodal kecil dan pemodal yang tidak memiliki banyak waktu dan
keahlian untuk menghitung risiko atas investasi mereka. Reksa dana
dirancang sebagai sarana untuk menghimpun dana dari masyarakat yang
memiliki modal, mempunyai keinginan untuk melakukan investasi,
namun hanya memiliki waktu dan pengetahuan yang terbatas.11
3. Sukuk
Sukuk merupakan istilah baru yang dikenalkan sebagai pengganti dari
istilah obligasi syariah. Sukuk secara terminologi merupakan bentuk
jamak dari kata "sakk" dalam Bahasa Arab yang berarti sertifikat atau
bukti kepemilikan. Sementara itu, Peraturan Bapepam dan LK Nomor
IX.A.13 memberikan definisi sukuk sebagai berikut: “efek syariah berupa
sertifikat atau bukti kepemilikan yang bernilai sama dan mewakili bagian
yang tidak tertentu (tidak terpisahkan atau tidak terbagi) atas:
a. aset berwujud tertentu.
b. nilai manfaat atas aset berwujud tertentu baik yang sudah ada maupun
yang akan ada.
c. Jasa yang sudah ada maupun yang akan ada.
30
d. aset proyek tertentu.
e. kegiatan investasi yang telah ditentukan.
Sebagai salah satu efek syariah, sukuk memiliki karakteristik yang
berbeda dengan obligasi. Sukuk bukan merupakan surat utang, melainkan
bukti kepemilikan bersama atas suatu aset/proyek. Setiap sukuk yang
diterbitkan harus mempunyai aset yang dijadikan dasar penerbitan
(underlying asset). Klaim kepemilikan pada sukuk didasarkan pada
aset/proyek yang spesifik. Penggunaan dana sukuk harus digunakan untuk
kegiatan usaha yang halal. Imbalan bagi pemegang sukuk dapat berupa
imbalan, bagi hasil, atau marjin, sesuai dengan jenis akad yang digunakan
dalam penerbitan sukuk.12
7. Indeks Syariah di Indonesia
1. Indeks Saham Syariah Indonesia (ISSI)
ISSI merupakan indeks saham yang mencerminkan keseluruhan
saham syariah yang tercatat di BEI. Konstituen ISSI adalah keseluruhan
saham syariah tercatat di BEI dan terdaftar dalam DES. Konstituen ISSI
direview setiap 6 bulan sekali (mei dan november) dan dipublikasikan
pada awal bulan berikutnya. Konstituen ISSI juga dilakukan penyesuaian
apabila ada saham syariah yang baru tercatat atau dihapuskan dari DES.
Metode perhitungan indeks ISSI menggunakan rata-rata tertimbang dari
kapitalisasi pasar. Tahun dasar yang digunakan dalam perhitungan ISSI
adalah awal penerbitan DES yaitu Desember 2007. Indeks ISSI
diluncurkan pada tanggal 12 Mei 2011.
2. Jakarta Islamic Index (JII)
31
JII pertama kali diluncurkan oleh BEI (pada saat itu masih bernama
Bursa Efek Jakarta) bekerjasama dengan PT. Danareksa Investment
Management pada tanggal 3 Juli 2000. Meskipun demikian, agar dapat
menghasilkan data historikal yang lebih panjang, hari dasar yang
digunakan untuk menghitung JII adalah tanggal 2 Januari 1995 dengan
angka indeks dasar sebesar 100. Metodologi perhitungan JII sama dengan
yang digunakan untuk menghitung IHSG yaitu berdasarkan Market Value
Weigthed Average Index dengan menggunakan formula Laspeyres.
Saham syariah yang menjadi konstituen JII terdiri dari 30 saham
yang merupakan saham-saham syariah paling likuid dan memiliki
kapitalisasi pasar yang besar. BEI melakukan review JII setiap 6 bulan,
yang disesuaikan dengan periode penerbitan DES oleh Bapepam-LK.
Setelah dilakukan penyeleksian saham syariah oleh Bapepam dan LK
yang dituangkan ke dalam DES, BEI melakukan proses seleksi lanjutan
yang didasarkan kepada kinerja perdagangannya.13
Adapun proses seleksi JII berdasarkan kinerja perdagangan saham
syariah yang dilakukan oleh BEI adalah sebagai berikut:
1) Saham-saham yang dipilih adalah saham-saham syariah yang
termasuk ke dalam DES yang diterbitkan oleh Bapepam-LK.
2) Dari saham-saham syariah tersebut kemudian dipilih 60 saham
berdasarkan urutan kapitalisasi terbesar selama 1 tahun terakhir.
3) Dari 60 saham yang mempunyai kapitalisasi terbesar tersebut,
kemudian dipilih 30 saham berdasarkan tingkat likuiditas yaitu
32
urutan nilai transaksi terbesar di pasar reguler selama 1 tahun
terakhir.14
8. Daftar Efek Syariah (DES)
DES adalah kumpulan efek yang tidak bertentangan dengan
prinsip-prinsip syariah di pasar modal, yang ditetapkan oleh OJK atau pihak yang
mendapat persetujuan dari OJK. Pihak yang mendapat persetujuan dari OJK
atau pihak penerbit DES adalah pihak selain OJK yang menerbitkan DES
yang berisi efek syariah yang tercatat di bursa efek luar negeri. Pihak yang
ingin menerbitkan DES harus memenuhi persyaratan sebagai pihak penerbit
DES sesuai Peraturan Nomor II.K.1 tentang Kriteria dan Penerbitan DES dan
mengajukan permohonan kepada OJK.
DES merupakan panduan investasi bagi pihak pengguna DES, seperti
manajer investasi (pengelola reksa dana syariah), asuransi syariah, dan
investor yang berkeinginan untuk berinvestasi pada portofolio efek syariah,
serta panduan bagi pihak yang ingin menerbitkan ISSI.15 DES yang
diterbitkan OJK dapat dikategorikan menjadi 2 jenis yaitu:
1. DES Periodik
DES periodik merupakan DES yang diterbitkan secara berkala yaitu
DES yang terbit paling lambat 5 hari kerja sebelum berakhirnya bulan
33
DES insidentil merupakan DES yang diterbitkan tidak secara berkala.
DES insidentil diterbitkan antara lain yaitu:
Penetapan saham yang memenuhi kriteria efek syariah syariah
bersamaan dengan efektifnya pernyataan pendaftaran emiten yang
melakukan penawaran umum perdana atau pernyataan pendaftaran
perusahaan publik atau IPO.
Penetapan saham emiten dan atau perusahaan publik yang
memenuhi kriteria efek syariah berdasarkan laporan keuangan
berkala yang disampaikan kepada OJK setelah surat keputusan DES
secara periodik ditetapkan.16
B. Proses Screening DES
Proses penerbitan dan pernyataan pendaftaran saham syariah dari emiten
wajib mengikuti ketentuan yang diatur dalam peraturan yang secara khusus
mengatur efek syariah yaitu peraturan Bapepam dan LK Nomor IX.A.13,
IX.A.14, II.K.1, dan sepanjang tidak diatur dalam peraturan tersebut, maka wajib
mengikuti regulasi Bapepam dan LK yang telah eksis mengatur penerbitan saham
konvensional, yaitu Peraturan Nomor IX.A.1 tentang Ketentuan Umum
Pengajuan Pendaftaran, Peraturan Nomor IX.B.1 tentang Pedoman Mengenai
Bentuk dan Isi Pernyataan Pendaftaran Perusahaan Publik, dan ketentuan tentang
penwaran umum yangb terkait lainnya.17
Dalam penerbitan saham syariah, Bapepam dan LK mengatur dua cara
penerbitan saham syariah. Masing-masing saham memiliki metode penerbitan
yang berbeda, yaitu:
16 Otoritas Jasa Keuangan, Pasar Modal Syariah Konsep …, 11.
34
1. Emiten syariah aktif
Emiten syariah aktif ialah saham syariah yang diterbitkan oleh emiten
yang menyatakan bahwa kegiatan usaha serta cara pengelolaan usahanya
dilakukan berdasarkan prinsip syariah. Emiten syariah aktif yang hendak
menerbitkan saham syariah wajib memenuhi seluruh kreiteria dari ketentuan
umum Peraturan Nomor IX.A.13 tentang Penerbitan Efek Syariah.
Memenuhi aturan pendaftaran dan penerbitan efek di pasar modal, yaitu
Peraturan Nomor IX.A.1 tentang Ketentuan Umum Pengajuan Pendaftran,
Peraturan Nomor IX.B.1 tentang Pedoman Mengenai Bentuk dan Isi
Pernyataan Pendaftaran Perusahaan Publik, dan ketentuan tentang penawaran
umum yang terkait lainnya.
Dalam prospectus yang dikeluarkan oleh emiten syariah aktif wajib
diungkapkan sejumlah informasi tambahan, yaitu:
a) Bahwa dalam anggara dasar dimuat ketentuan bahwa kegiatan usaha
serta pengelolaan usahanya dilakukan berdasarkan prinsip syariah di
pasar modal.
b) Jenis usaha, produk barang, jasa yang diberikan, aset yang dikelola,
akad, dan cara pengelolaan emiten tidak bertentangan dengan prinsip
syariah di pasar modal.
c) Emiten memiliki anggota direksi dan anggota komisaris yang mengerti
kegiatan yang bertentangan dengan prinsip syariah di pasar modal.
Bagi emiten yang menerbitkan efek syariah berupa saham hanya dapat
mengubah anggaran dasar yang terkait dengan kegiatan dan cara pengelolaan
usahanya menjadi tidak lagi memenuhi prinsip syariah di pasar modal hanya
35
(minimal diusulkan oleh 10% pemegang saham) dan usulan tersebut telah
disetujui dalam rapat Umum Pemegang Saham (RUPS).18
Emiten yang mengubah anggaran dasar yang terkait dengan kegiatan
dan cara pengelolaan usahanya menjadi tidak lagi memenuhi prinsip syariah
di pasar modal wajib menyelesaikan hak-hak pemegang saham yang tidak
menyetujui perubahan anggaran dasar dimaksud dengan cara menjamin
pembelian saham pemegang saham tersebut pada harga wajar.
2. Emiten syariah pasif
Emiten syariah pasif yaitu emiten yang tidak menyatakan bahwa
kegiatan usaha serta cara pengelolaan usahanya dilakukan berdasarkan
prinsip syariah. Bagi emiten pasif yanf tidak menyatakan bahwa kegiatan
usaha serta pengelolaan usahanya tidak dilakukan berdasarkan prinsip
syariah, maka Bapepam dan LK akan menelaah saham tersebut terlebih
dahulu dan memasukkannya ke dalam DES sepanjang tidak melakukan
kegiatan usahan yang bertentangan dengan kriteria syariah sebagaimana
disebut dalam ketentuan Peraturan IX.A.13. Selain itu, emiten wajib
memenuhi rasio keuangan tertentu, yaitu :
a) Total utang yang berbasis bunga dibandingkan dengan total aset tidak
lebih dari 45%
b) Total pendapatan bunga dan pendapatan tidak halal lainnya
dibandingkan dengan total pendapatan usaha (revenue) dan pendapatan
lain-lain tidak lebih dari 10%.
Semua emiten yang bisnis utamanya bertentangan dengan prinsip
syariah seperti bisnis rokok, minuman keras, perjudian, bank, dan asuransi
36
konvensional dikecualikan. Setelah dilakukan penelaahan terhadap bisnis
utamanya, Bapepam dan LK menelaah apakah emiten memiliki masalah
hukum yang masuk dalam kategori melanggar aturan pemerintah. Setelah itu,
Bapepam dan LK akan menelaah rasio keuangan emiten sesuai dengan
kriteria yang telah ditetapkan.
Sayangnya, hingga saat ini Bapepam dan LK masih belum mewajibkan
emiten syariah pasif memiliki standar laporan keuangan yang memuat
beberapa hal terkait pemenuhan prinsip syariah dalam aktivitas usahanya.
Beberapa isu penting seperti laporan pendapatan non halal yang berasal dari
pendapatan bunga perbankan konvensional, pembayaran zakat, dan
sebagainya masih belum terlihat diakomodasi dalam laporan keuangan.19
37
BAB III
IMPLEMENTASI SCREENING DES DI PT. BETONJAYA MANUNGGAL
TBK
A. Gambaran Umum PT. Betonjaya Manunggal Tbk
1. Sejarah Pendirian PT. Betonjaya Manunggal Tbk
PT. Betonjaya Manunggal Tbk (BTON) didirikan pada tanggal 27
Februari 1995 berdasarkan akta No. 116 Notaris Suyati Subadi, SH., di
Gresik. Akta tersebut telah mendapatkan pengesahan dari Menteri
Kehakiman Republik Indonesia melalui surat keputusan No.
C2-10.173.HT.01.01. tahun 1995 tanggal 16 Agustus 1995 dan diumumkan
dalam berita negara no. 18 tanggal 1 Maret 1996. Anggaran dasar telah
mengalami beberapa kali perubahan. Perubahan terakhir tercatat pada Akta
Notaris Dian Silviyana Khusnarini, SH. No. 54 tanggal 26 Juni 2014,
mengenai perubahan susunan Dewan Komisaris dan Direksi. Akta tersebut
telah diberitahukan kepada Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia No.
AHU-19626.40.22.2014 tanggal 15 Juli 2014. Perseroan menjadi perusahaan
publik sejak tahun 2001 dan tercatat di BEI.
Sesuai dengan Anggaan Dasar Perseroan, ruang lingkup kegiatan
perseroan terutama meliputi bidang industri besi dan baja. Perseroan mulai
beroperasi secara komersial pada bulan Mei tahun 1996 dan saat ini bergerak
di bidang industri besi beton polos berukuran 6 – 12 mm dengan total
38
Mengedepankan komitmen untuk memberikan pelayanan dan produk
berkualitas terbaik, BTON fokus pada pasar domestik dengan target pasar
distributor, took besi, and end user.
Didukung sumber daya manusia yang kompeten dan strategi bisnis
yang mumpuni di bidang industri besi beton, BTON siap berkembang untuk
mempertahankan bisnisnya di masa depan.
2. Visi dan Misi BTON
BTON sebagai perseroan yang bergerak dalam bidang industri besi
beton memiliki visi dan misi. Adapun visi dan misi tersebut adalah:
VISI
Menjadi perusahaan terkemuka di Indonesia dalam bidang industri besi
beton berskala kecil menengah.
MISI
a. Menjadi perusahaan yang terpercaya, menyediakan produk bermutu
tinggi dan pelayanan terbaik untuk memenuhi kepuasan pelanggan secara
total.
b. Ingin selalu diingat sebagai perusahaan terbaik dibidangnya dengan
memberikan keuntungan bagi pemegang saham dan kesempatan bagi
karyawan untuk mengembangkan dirinya.
c. Mengandalkan diri pada pengembangan sumber daya manusia, penerapan
teknologi maju, dan kerja sama untuk mencapai tujuan perusahaan.1
39
3. Struktur Organisasi BTON
Dewan Komisaris : Gwi Gunato Gunawan
: Dr. Bambang Hariadi, M.Ec., Ak.
Komite Audit : Dr. Bambang Hariadi, M.Ec., Ak.
: Rahmad Zuhri, SE., M.S.A., Ak.
: Isomuddin, SE.
Direktur Utama : Gwi Gunadi Gunawan
Sekretaris Perusahaan : Saiful Fuad, SE.
Internal Audit : Agung Nuryanto, SE.
Direktur Operasional : Drs. Andy Soesanto, M.B.A., MM.
Direktur Keuangan : Jenny Tanujaya, M.B.A.
Kabag Produksi : Hasan Theyer
Kabag Pemasaran : Sudjiatmini Cahyowati
Kabag Akuntansi : Novi Tjahjaning Rahayu, SE.
40
Bagan Struktur Organisasi BTON
Gambar 3.1. Bagan Struktur Organisasi BTON Dewan
Komisaris
Kabag Pemasaran
Kabag Akuntansi
Kabag Keuangan Kabag
Produksi
Direktur Keuangan Direktur
Operasional
Internal Audit Sekretaris
Perusahaan Komite
Audit
41
B. Implementasi Screening DES di BTON
Screening DES merupakan proses penyaringan yang dilakukan oleh pihak
terkait yaitu OJK terhadap komponen-komponen yang telah ditetapkan OJK
melalui Peraturan Nomor II.K.1 tentang Kriteria dan Penerbitan DES. Screening
DES sendiri dilakukan melalui dua tahap, yaitu screening dari kegiatan usaha
emiten dan screening rasio keuangan. Untuk mengetahui proses screening DES
terutama di BTON, dilakukan beberapa wawancara terhadap pihak yang
berkompeten dalam bidangnya, seperti yang akan dipaparkan berikut ini :
1. DES yaitu kumpulan dari efek syariah yang telah melalui screening. Efek
efek tersebut seperti saham syariah, sukuk, dan reksa dana syariah. Dasar
hukum yang melandasi DES yaitu Peraturan Nomor II.K.1. tentang Kriteria
dan Penerbitan DES. DES diterbitkan dengan tujuan sebagai panduan
investasi bagi investor muslim serta acuan pihak penerbit indeks saham
syariah, seperti JII dan ISSI. DES ada dua macam berdasarkan waktu
penerbitan DES, yaitu DES periodik (terbit paling lambat 5 hari kerja
sebelum berakhirnya bulan Mei dan November, berlaku efektif setiap tanggal
1 Juni dan 1 Desember) dan DES isidentil (terdapatnya penetapan saham
yang memenuhi kriteria syariah ketika emiten tersebut IPO). Dalam DES
periodik yang berlaku 1 Juni yang digunakan penelaahan oleh OJK ialah
laporan keuangan emiten yang berakhir pada tanggal 31 Desember tahun
sebelumnya, sedangkan yang berlaku 1 Desember yang digunakan
penelaahan oleh OJK ialah laporan keuangan emiten yang berakhir pada
tanggal 30 Juni pada tahun yang sama.
Perusahaan jika ingin listing di DES harus melakukan screening DES. Ada
42
screening dari laporan keuangan tepatnya pada total utang dibandingkan total
aset tidak lebih dari 45% serta pendapatan dibandingkan dengan total
pendapatan tidak lebih dari 10%. BTON merupakan salah satu dari ratusan
emiten yang ada di DES yang mana untuk bisa listing di DES ada semacam
screening DES yang telah dipaparkan sesuai dengan peraturan Nomor II.K.1
tentang Kriteria dan Penerbitan DES. Dari segi bisnis, BTON merupakan
emiten yang memproduksi besi dan baja, bukan emiten yang bergerak dalam
bidang perbankan, sedangkan pada financial BTON total utang dibanding
total aset kurang dari 45% (laporan keuangan 31 Desember 2013 sebesar
0,06% dan laporan keuangan 31 Desember 2014 sebesar 0,09%). Sedangkan
pendapatan non halal dibandingkan dengan total pendapatan ialah kurang
dari 10% pada tahun 2013 sebesar 8% akan tetapi, tahun 2014 sebesar 30%.
Itu artinya BTON dinyatakan memenuhi kriteria dan terdaftar di DES yang
berlaku pada 1 Juni 2014, sedangkan DES periodik yang berlaku pada 1 Juni
2015 BTON delisting karena rasio keuangannya pada pendapatan tidak
memenuhi kriteria DES.2
2. DES merupakan kumpulan dari efek syariah yang telah ditelaah oleh OJK
sesuai dengan Peraturan Nomor II.K.1 tentang Kriteria dan Penerbitan DES,
efek yang dimuat dalam DES misalnya saham syariah, sukuk (korporasi dan
negara), dan reksa dana syariah. Dasar hukum yang melandasi DES yaitu
Peraturan Nomor II.K.1 tentang Kriteria dan Penerbitan DES yang mana
peraturan tersebut ialah peraturan yang melibatkan kementerian keuangan,
Bapepam dan LK (sekarang OJK) dan DSN-MUI. Tujuan dari penerbitan
DES itu sendiri ialah sebagai panduan investasi bagi reksa dana syariah,
43
asuransi syariah, dan investor syariah lainnya serta acuan pihak penerbit
indeks saham syariah, seperti JII dan ISSI. DES ada dua macam berdasarkan
waktu penerbitan DES, yaitu DES periodik (terbit paling lambat 5 hari kerja
sebelum berakhirnya bulan Mei dan November, berlaku efektif setiap tanggal
1 Juni dan 1 Desember) dan DES isidentil (terdapatnya penetapan saham
yang memenuhi kriteria syariah ketika emiten tersebut IPO). Dalam DES
periodik yang berlaku 1 Juni yang digunakan penelaahan oleh OJK ialah
laporan keuangan emiten yang berakhir pada tanggal 31 Desember tahun
sebelumnya, sedangkan yang berlaku 1 Desember yang digunakan
penelaahan oleh OJK ialah laporan keuangan emiten yang berakhir pada
tanggal 30 Juni pada tahun yang sama.
Tidak semua perusahaan di Indonesia ini bisa masuk ke DES, melainkan
hanya perusahaan yang sudah melakukan pencatatan sahamnya di BEI atau
dengan kata lain perusahaan tersebut sudah go public, dan sebutan untuk
perusahaan yang sudah melakukan go public ialah emiten. Agar emiten bisa
terdaftar ke dalam DES ada beberapa kriteria yang harus dipenuhi oleh
emiten tersebut yaitu yang pertama emiten tersebut dalam kegiatan usahanya
tidak bertentangan dengan prinsip syariah, seperti tidak melakukan kegiatan
usaha yang termasuk perjudian, memproduksi produk yang dilarang syariah,
jasa keuangan yang berbasis bunga, dll. Yang kedua ialah emiten tersebut
dalam laporan keuangannya harus tidak melebihi ketentuan yang ditetapkan
oleh DSN-MUI seperti utang berbasis bunga dibandingkan dengan total aset
tidak lebih dari 45% serta pendapatan non halal dibandingkan dengan total