• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB IV PEMBAHASAN. peraturan perundang-undangan yang

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "BAB IV PEMBAHASAN. peraturan perundang-undangan yang"

Copied!
32
0
0

Teks penuh

(1)

commit to user

108 BAB IV PEMBAHASAN

Imigrasi memiliki peran besar sebagai penjaga pintu gerbang negara.

Dikatakan demikian karena fungsi keimigrasian adalah turut serta dalam menjaga ketertiban dan keamanan negara dari gangguan dan ancaman baik dari dalam maupun dari luar negeri serta menjadi bagian dari urusan pemerintahan negara dalam memberikan pelayanan Keimigrasian, penegakan hukum, keamanan negara, dan fasilitator pembangunan kesejahteraan masyarakat dalam melaksanakan peraturan lalu – lintas orang masuk atau keluar wilayah suatu negara sesuai dengan kebijakan negara yang telah ditetapkan/digariskan oleh pemerintahnya dan peraturan perundang – undangannya.

Dalam pelaksanaan tugas keimigrasian, keseluruhan aturan hukum keimigrasian ditegakkan kepada setiap orang baik Warga Negara Indonesia maupun Warga Negara Asing yang berada di wilayah hukum Indonesia. Implementasi dari tugas menjaga keamanan dan ketertiban itu adalah melakukan tindakan preventif yang berupa pengawasan orang asing dan tindakan represif berupa pemberian sanksi keimigrasian. Sanksi administratif diberikan oleh Imigrasi terhadap berbagai kasus pelanggaran administratif, sedangkan kasus – kasus yang bersifat pidana keimigrasian diproses secara pro yustisia di pengadilan. Sesuai dengan judul pengamatan yaitu mengenai “PROSEDUR PENGAWASAN DAN PENINDAKAN KEIMIGRASIAN TERHADAP PELANGGARAN IZIN TINGGAL WARGA NEGARA ASING DI SEKSI PENGAWASAN DAN PENINDAKAN KEIMIGRASIAN KANTOR IMIGRASI KELAS 1 YOGYAKARTA“, penulis mendapatkan informasi berupa wawancara dan dokumen / arsip secara langsung dari para pegawai Seksi Pengawasan dan Penindakan Keimigrasian (WASDAKIM).

Seksi Pengawasan dan Penindakan Keimigrasian mempunyai tugas melakukan pengawasan dan penindakan keimigrasian terhadap orang asing di lingkungan Kantor Imigrasi Kelas 1 Yogyakarta yang bersangkutan berdasarkan peraturan perundang-undangan yang berlaku. Dalam melaksanakan tugas dan

(2)

commit to user

tanggung jawabnya, Seksi Pengawasan dan Penindakan Keimigrasian (WASDAKIM) ini terdapat 9 (sembilan) pegawai yang masing-masing mempunyai tugas sebagai berikut :

1. Kepala Seksi Pengawasan dan Penindakan Keimigrasian;

2. Kasubsi Pengawasan Keimigrasian;

3. Kasubsi Penindakan Keimigrasian;

4. Dibantu oleh 4 (empat) staf di Seksi Pengawasan Keimigrasian; dan 5. Dibantu oleh 2 (dua) staf di Seksi Penindakan Keimigrasian

Salah satu tugas dari Seksi Pengawasan dan Penindakan Keimigrasian (WASDAKIM) adalah melakukan Pengawasan Keimigrasian meliputi pengawasan terhadap lalu lintas orang asing yang masuk dan keluar Wilayah Indonesia serta pengawasan terhadap keberadaan dan kegiatan Orang Asing di Wilayah Indonesia, serta melakukan tindakan keimigrasian terhadap Orang Asing yang diduga melakukan pelanggaran keimigrasian khususnya pelanggaran terhadap izin tinggal.

Keberadaan dan kegiatan Orang asing di wilayah Indonesia ditentukan dengan jenis visa yang digunakan selama berada di wilayah Indonesia serta mengenai tujuan keberadaannya yaitu untuk berwisata, bekerja atau yang lainnya.

Dalam hal orang asing yang berada di wilayah Indonesia juga memerlukan pengawasan dari Pejabat Keimigrasian. Hal ini dilakukan untuk mengawasi segala kegiatan orang asing tersebut di Indonesia agar tidak menyalahgunakan izin tinggalnya. Kebanyakan orang asing yang berada di wilayah Indonesia adalah untuk berlibur atau berwisata, tetapi tidak menutup kemungkinan adanya orang asing yang melanggar izin keimigrasian seperti melebihi batas waktu izin tinggal yang tertera pada visa (overstay), menggunakan visa wisata untuk bekerja di Indonesia atau pelanggaran izin keimigrasian lainnya. Kegiatan orang asing yang dilakukan selama berada di Indonesia apabila tidak sesuai dengan visa yang digunakan maka akan menimbulkan masalah-masalah dalam pengawasannya, karena kegiatan- kegiatan tersebut tentu tidak sejalan dan bahkan bertentangan atau membahayakan kepentingan nasional.

(3)

commit to user A. Prosedur Pengawasan Keimigrasian

Pengawasan Orang Asing dilakukan oleh Pejabat Imigrasi di Tempat Pemeriksaan Imigrasi, Kantor Imigrasi, Kantor Wilayah Kementerian Hukum Dan HAM maupun Direktorat Jenderal Imigrasi. Pengawasan Keimigrasian terhadap Orang Asing dilakukan pada saat permohonan Visa, masuk atau keluar Wilayah Indonesia, pemberian Izin Tinggal, serta saat berada dan melakukan kegiatan di Wilayah Indonesia. Berikut hasil wawancara dengan Bapak Tommy Martino Sriyatna selaku Petugas Tempat Pemeriksaan Imigrasi (TPI) Bandara Adi Sucipto, ketika ditanya prosedur pengawasan terhadap Warga Negara Asing :

“Pertama kita cek dulu lewat sistem. Diliat dari apanya dulu yang bermasalah. Masalahnya itu misalnya dia memakai izin tinggalnya tidak sesuai. Misalnya Warga Negara Asing tersebut memiliki izin tinggal tapi Izin Tinggal Kunjungan dan ternyata disini dia malah bekerja sebagai pengajar, ya kita lakukan tindakan. Biasanya nanti dilimpahkan ke Seksi Pengawasan Dan Penindakan Keimigrasian (WASDAKIM). Nanti Seksi Pengawasan Dan Penindakan Keimigrasian (WASDAKIM) langsung melakukan pengecekan di lapangan. Biasanya yang perlu dicurigai itu seperti Warga Negara Asing yang bolak balik indonesia memakai Visa On Arrival (VOA), nanti akan di cek, selama di indonesia kegiatan yang bersangkutan apa saja.”

Berikut hasil wawancara dengan Bapak P. Hananto Kuscahyono, SH selaku Kepala Seksi Pengawasan dan Penindakan Keimigrasian ketika ditanya mengenai Prosedur Pengawasan Keimigrasian:

“Prosedur pengawasan keimigrasian tidak hanya dilakukan oleh Seksi Pengawasan Keimigrasian saja tapi seluruh petugas imigrasi turut membantu dalam mengawasi. Pengawasan Keimigrasian yang dilakukan adalah pengawasan terhadap kegiatan Warga Negara Asing selama di Indonesia. Misalnya Warga Negara Asing tersebut diberikan izin tinggal untuk bekerja tapi dalam hal tertentu diluar jam kerja, yang bersangkutan berjualan untuk mendapatkan penghasilan tambahan, hal tersebut termasuk pelanggaran izin tinggal. Begitu terbukti, kita tangkap yang bersangkutan kita tindak sesuai proses keimigrasian. Jadi selama mereka di Indonesia semua kegiatan mereka kita awasi.

Unsur Intelijen dalam pelaksanaan fungsi Pengawasan dan Penindakan Keimigrasian sangat penting. Intelijen yang ada di Imigrasi itu nanti yang akan dikerahkan. Kalau Intelijen di Kantor

(4)

commit to user

Imigrasi Kelas 1 Yogyakarta sendiri belum ada, tapi sifatnya masih melekat di Seksi Pengawasan dan Penindakan Keimigrasian (WASDAKIM). Intelijen sendiri tugasnya memberi informasi, setelah mendapat informasi baru ditindaklanjuti oleh petugas.”

Prosedur Pengawasan Keimigrasian yang dilakukan Seksi Pengawasan dan Penindakan Keimigrasian (WASDAKIM) terhadap Izin Tinggal Warga Negara Asing, dilakukan sesuai ketentuan Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 31 Tahun 1994 Tentang Pengawasan Orang Asing dan Tindakan Keimigrasian, dimana dalam melakukan pengawasan keimigrasian terdapat 2 pengawasan yang dilakukan, yaitu pengawasan Administrasi dan pengawasan lapangan.

1. Prosedur Pengawasan Administrasi

Dalam Pengawasan Administrasi Keimigrasian yang dilakukan Seksi Pengawasan dan Penindakan Keimigrasian (WASDAKIM), prosedur pengawasan keimigrasian diawali dengan memperoleh data orang asing yang berada di wilayah Republik Indonesia. Hal tersebut berfungsi sebagai sarana pelaksanaan Fungsi Keimigrasian agar dapat melakukan pemantauan dan mendapatkan informasi mengenai keberadaan dan kegiatan orang asing tersebut di Indonesia. Pengawasan administratif terhadap Orang Asing di Seksi Pengawasan dan Penindakan Keimigrasian (WASDAKIM) dilakukan dengan:

a. pengumpulan, pengolahan, serta penyajian data dan informasi mengenai:

1) Pelayanan Keimigrasian bagi Orang Asing;

2) Lalu lintas Orang Asing yang masuk atau keluar Wilayah Indonesia;

3) Orang Asing yang telah mendapatkan keputusan pendetensian;

4) Orang Asing yang dalam proses penentuan status Keimigrasian dan/atau penindakan Keimigrasian;

(5)

commit to user

5) Orang Asing yang mendapatkan izin berada di luar Rumah Detensi Imigrasi setelah terlampauinya jangka waktu pendentesian; dan

6) Orang Asing dalam proses peradilan pidana.

b. penyusunan daftar nama Orang Asing yang dikenai Penangkalan atau Pencegahan; dan

c. pengambilan foto dan sidik jari.

Data dan Informasi mengenai Orang Asing dapat diperoleh melalui Sistem Informasi Manajemen Keimigrasian (SIMKIM) atau E-Office.

Pengawasan Administrasi Keimigrasian ini bersifat tertutup/rahasia. Sistem Informasi Manajemen Keimigrasian (SIMKIM) hanya dapat diakses oleh instansi dan/atau lembaga pemerintahan terkait sesuai dengan tugas dan fungsinya. Berikut merupakan halaman utama dari Sistem Informasi Manajemen Keimigrasian (SIMKIM) dengan keterangan seperti gambar dibawah berikut ini :

Gambar. 4.1

Halaman Utama Sistem Informasi Manajemen Keimigrasian Seksi Pengawasan dan Penindakan Keimigrasian (WASDAKIM)

(6)

commit to user

Selain melalui Sistem Informasi Manajemen Keimigrasian, Seksi Pengawasan dan Penindakan Keimigrasian (WASDAKIM) juga dapat mengetahui apakah Warga Negara Asing tersebut melakukan pelanggaran keimigrasian khususnya terhadap izin tinggal dengan cara pemeriksaan Dokumen Keimigrasian Orang Asing yang bersangkutan. Pemeriksaan ini dapat dilakukan saat di Tempat Pemeriksaan Imigrasi ketika kedatangan atau keberangakatan Warga Negara Asing yang bersangkutan atau di Kantor Imigrasi melalui pemberkasan, dimana saat Warga Negara Asing yang bersangkutan melakukan pengajuan / perpanjangan / alih status berkas permohonan izin tinggal atau saat pengembalian dokumen keimigirasian.

Pengawasan Administrasi Keimigrasian merupakan bagian yang tidak dapat dipisahkan dalam skema Standar Operasional Prosedur Pengajuan Permohonan Izin Tinggal di Kantor Imigrasi, seperti dibawah ini :

(7)

commit to user 114

Alur Kegiatan Pelaksanaan Mutu Baku

Keterangan

Statuskim Bendahara Tata Usaha Wasdakim Forsakim Kelengkapan Hari Ke- Output

1

Menerima Permohonan, memeriksa kelengkapan persyaratan, dan

memberikan Tanda Terima Permohonan

Berkas Permohonan dan Dokim

1 Tanda Terima Permohonan

Persyaratan permohonan sesuai peraturan yang berlaku

2

Memasukan data pemohon ke aplikasi Izin Tinggal di Sistem Informasi Manajemen Keimigrasian

Berkas

Permohonan 1 Data pemohon

di komputer

3 Memeriksa data pemohon pada daftar cekal di Sistem Aplikasi E-Office

Berkas Permohonan dan Dokim

1 Verifikasi Data Cekal

Apabila masuk dalam daftar cekal ditindaklanjuti pada alur SOP Cekal 4 Meneliti keabsahan dokumen dan

penjamin Tidak Masalah ? Dokim dan

Paspor 2

Tanda Tangan pada Dokim dan Paspor 5 Melakukan pemindaian dokumen

permohonan Ya

Berkas Permohonan dan Dokim

2

Data hasil pindai dokumen 6

Melakukan penelitian data dan informasi serta memberikan persetujuan oleh pejabat berwenang

Masalah ? Ya Tanda Terima

Permohonan 2 Paraf

persetujuan

Apabila ada ketidaksesuaian ditindaklanjuti pada alur SOP ketidaksesuaian

7

Menerima pembayaran sesuai permohonan dan memberikan tanda bukti bayar

Tidak Slip Tanda

Bukti Pembayaran

3

Hasil Pembayaran Izin Tinggal

Tanda bukti bayar digunakan untuk pengambilan Dokim selesai

8 Melakukan pengambilan foto dan sidik jari pemohon sebagai data biometrik

Slip Tanda Bukti Pembayaran

3

Foto biometrik dan sidik jari pemohon

9

Memberikan nomor register, mencetak Kartu Izin Tinggal (Terbatas/Tetap) dan menerakan Izin Tinggal

(Kunjungan/Terbatas/Tetap) pada paspor pemohon

Berkas Permohonan dan Dokim

3

Nomor register pemohon dalam sistem

10 Memberikan pengesahan oleh Kepala Kantor atau pejabat yang ditunjuk

Dokim dan

Paspor 3

Tanda tangan pada Dokim dan Paspor

Pengesahan dilakukan oleh Kakanim atau pejabat yang ditunjuk

11

Memindai fotokopi halaman Paspor yang terdapat peneraan Izin Tinggal sebagai arsip

Dokim dan

Paspor 3

Data hasil pindai dokumen

Koreksi data pada sistem bila perlu

12 Menyerahkan Dokumen Keimigrasian yang telah selesai kepada pemohon

Bukti pengambilan Dokim

3

Paspor yang telah diterakan cap Izin Tinggal

Pemohon menunjukan tanda bukti bayar sebagai syarat sebagai syarat pengambilan dokim

13 Melakukan pengarsipan berkas yang telah selesai

Berkas selsai dan ekspedisi ke Forsakim

3 Arsip berkas selesai

Skema. 4.1

Standar Operasional Prosedur Pengajuan Permohonan Izin Tinggal di Kantor Imigrasi

Loket

Entry

Pindai

P/2

P/1

Loket

Selesai

(8)

commit to user

Dalam skema Standar Operasional Prosedur Pengajuan Permohonan Izin Tinggal diatas, setiap Warga Negara Asing yang melakukan pengajuan / perpanjangan / alih status permohonan izin tinggal baik Izin Tinggal Kunjungan/Terbatas/Tetap, harus mengikuti alur pemeriksaan keabsahan Dokumen Keimigrasian yang dilakukan oleh Seksi Pengawasan dan Penindakan Keimigrasian (WASDAKIM) sebagai bagian dari Prosedur Pengawasan Administrasi Keimigrasian.

Undang – Undang Nomor 6 Tahun 2011 Tentang Keimigrasian menetapkan bahwa setiap orang yang masuk atau keluar Wilayah Indonesia wajib memiliki Dokumen Keimigrasian yang sah dan masih berlaku yang dikeluarkan oleh Pejabat Imigrasi atau pejabat dinas luar negeri. Dokumen Keimigrasian yang dimaksud berisi Dokumen Perjalanan dan Izin Tinggal yang sah dan masih berlaku. Izin Tinggal yang diberikan kepada Orang Asing sesuai dengan Visa yang dimilikinya.

Pejabat Imigrasi berhak melakukan pemeriksaan keabsahan Dokumen Keimigrasian serta meneliti data dan informasi Orang Asing yang bersangkutan. Dalam skema di atas dijelaskan, setelah Seksi Status Keimigrasian memasukkan data pemohon ke dalam Sistem Aplikasi E- Office, maka berkas tersebut kemudian di ekspedisi ke bagian Seksi Pengawasan dan Penindakan Keimigrasian untuk diperiksa keabsahan dokumennya. Pemeriksaan berkas Permohonan Pengajuan / Perpanjangan / Alih Status Izin Tinggal ini antara lain meliputi :

1. Berkas yang masuk ke bagian Seksi Pengawasan dan Penindakan Keimigrasian, kemudian diserahkan kepada Kepala Sub Bagian Seksi Pengawasan dan Penindakan Keimigrasian untuk diperiksa keabsahan dan kebenaran dokumen dan penjamin. Keabsahan dan kebenaran Dokumen yang dipersyaratkan sesuai dengan ketentuan perundang – undangan, antara lain :

a. Dokumen Perjalanan/Paspor;

b. Visa/VOA

(9)

commit to user

Petugas pemeriksa melakukan pemeriksaan pada Dokumen Keimigrasian yang bersangkutan antara lain halaman yang memuat biodata Paspor, Visa, dan Izin Masuk. Bagi orang asing yang melakukan perpanjangan Izin Tinggal, selain harus melampirkan Dokumen Keimigrasian, permohonan diajukan juga oleh Penjamin dengan melampirkan :

a. Surat Penjamin dari Penjamin;

b. Tiket untuk kembali ke negara asal atau meneruskan ke negara lain, dan;

c. Surat kuasa bermaterai cukup dalam hal pengurusan melalui kuasa.

Dalam pemeriksaan keabsahan dokumen perjalanan (paspor) dan visa, Pejabat Imigrasi melakukan pengecekan sebagai berikut :

a. Dokumen Perjalanan/Paspor

Gambar. 4.2 Paspor

1) Apakah paspor tersebut masih berlaku; dilihat dari validitasnya;

2) Apakah foto yang di paspor sama dengan orang yang membawanya. Atau foto yang di paspor sama dengan orang yang ada di Formulir Dokumen Keimigrasian;

No Passport

Foto Pemilik Paspor

Authority Personal No Surname

Given Name

Date Of Issue

Date Of Expiry Sex

Date Of Birth Nationality

(10)

commit to user

3) Apakah paspor tersebut berlaku untuk negara yang akan dituju atau juga untuk transit;

4) Apakah paspor dalam keadaan baik, tidak sobek dan tidak ada halaman yang hilang.

b. Visa

Gambar 4.3 Visa

1) Apakah Visa dalam keadaan baik, tidak sobek/terpotong dan tidak ada halaman yang hilang.

2) Negara Tujuan, apakah sudah sesuai dengan visanya;

3) Negara Transit

Place Of Issue

Surname/Given Name

Nationality Visa Type/Length Of Stay

Register Number

Date Of Issue

Date Of Expiry

No Passport

Length Of Stay (VOA) – 30 days Cap Tanda Masuk

Di TPI

Keterangan dan Paraf Petugas Pemberi

Perpanjangan Izin Tinggal

(11)

commit to user

(a) Kalau hanya singgah di airport, apakah diperlukan visa transit atau tidak;

(b) Kalau harus transit dan mau memasuki negara transit, yang bersangkutan harus bisa menunjukkan :

 Tiket untuk melanjutkan perjalanan ke negara ketiga (selanjutnya), atau mempunyai dana cukup untuk membeli tiket menuju ke negara ketiga.

Anak – anak juga diperlakukan sama seperti orang dewasa;

4) Negara Keberangkatan, kalau kembali ke negara tersebut;

5) Apakah di dalam paspor tercantum istri/anak yang ikut (paspor keluarga), sehingga harus diperiksa pula apakah visa tersebut juga berlaku bagi istri/anak yang ada di dalam paspor;

6) Validitas atau masa berlakunya visa tersebut.

7) Apakah cap tanda masuk yang tertera pada visa sudah sesuai dengan jenis visa.

Gambar 4.4

Cap Tanda Masuk

2. Setelah Kepala Sub Seksi Pengawasan dan Penindakan Keimigrasian memeriksa keabsahan dan kebenaran dokumen dan penjamin serta tidak diketemukannya ketidaksesuaian, maka Kepala Sub Seksi Pengawasan atau Kepala Sub Seksi Penindakan Keimigrasian akan membubuhkan tanggal pemeriksaan berkas dan dokumen dan paraf pejabat imigrasi pada formulir permohonan dokumen keimigrasian.

Visa Kunjungan

Visa On Arrival (VOA)

Visa Terbatas

Visa Terbatas Saat Kedatangan

(12)

commit to user Gambar 4.5 Catatan Pejabat Imigrasi

Formulir Permohonan Dokumen Keimigrasian

Kemudian berkas Permohonan Pengajuan / Perpanjangan / Alih Status Izin Tinggal tersebut diserahkan kepada staf pengadministrasian keimigrasian, untuk di cek kembali apakah berkas Orang Asing yang bersangkutan sudah lengkap dan tidak masuk ke dalam daftar Cegah – Tangkal Keimigrasian.

3. Staf Pengadministrasian Keimigrasian selanjutnya membuka Menu Aplikasi E-Office. Berikut merupakan bentuk konfigurasi tahapan pada Menu Aplikasi E-Office dalam prosedur pemeriksaan kelengkapan dokumen pemohon dan pemeriksaan daftar cekal di Aplikasi E-Office, seperti berikut :

a. User Login

Gambar. 4.6 User Login E-Office

Tanggal Pemeriksaan Berkas Masuk Daftar Cekal atau Tidak Paraf Pejabat

Imigrasi pemeriksa Ada Kelainan

pada surat / berkas atau tidak

(13)

commit to user

Pada Tahap ini, staf pengadministrasian keimigrasian memasukan NIP dan Password Kepala Seksi Pengawasan dan Penindakan Keimigrasian untuk dapat masuk ke Sistem Informasi Manajemen Keimigrasian dan E-Office.

b. Catatan Keabsahan Dokumen

Gambar. 4.7

Catatan Keabsahan Dokumen E-Office

Pada Tahap ini, staf pengadministrasian keimigrasian memeriksa kembali kelengkapan dokumen yang terlampir. Jika dokumen yang disyaratkan dalam berkas permohonan Pengajuan / Perpanjangan / Alih Status Izin Tinggal terlampir lengkap, maka staf pengadministrasian keimigrasian akan mengisi kolom keterangan dengan keterangan

“Ada”.

c. Pemeriksaan Cekal

Gambar. 4.8

Pemeriksaan Cekal E-Office

(14)

commit to user

Petugas pemeriksa sebagaimana dimaksud di atas, apabila :

1) tidak menemukan permasalahan mengenai keabsahan dan/atau kebenaran formal dalam berkas permohonan, petugas pemeriksa wajib mencatatkan pada kolom hasil pemeriksaan “tidak ditemukan dari hal-hal yang meragukan” dan klik “lanjutkan”

untuk kemudian melanjutkan berkas permohonan kepada Kepala Seksi Status Keimigrasian untuk tahapan pemindaian;

2) mendapatkan berkas permohonan yang patut diduga/diragukan keabsahan dan/atau kebenarannya, petugas pemeriksa meneruskan berkas permohonan kepada Kepala Seksi Pengawasan dan Penindakan Keimigrasian guna penelitian lebih lanjut, dengan ketentuan:

a) terhadap penyerahan berkas permohonan dimaksud, petugas pemeriksa wajib mencatat informasi “bahwa permohonan sedang ditindaklanjuti dengan penelitian”

pada kolom catatan dan kemudian klik “tangguhkan”; dan b) atas kesimpulan hasil penelitian oleh Kepala Seksi

Pengawasan dan Penindakan Keimigrasian, wajib dicatatkan pada kolom hasil temuan, dan kemudian klik

“lanjutkan” untuk tahapan pemindaian yang akan dilakukan oleh Seksi Status Keimigrasian.

Pelaksanaan pengawasan administrasi keimigrasian dapat berdasarkan atas data/informasi keimigrasian, informasi masyarakat, maupun informasi dari media cetak atau elektronik. Berdasarkan data atau sumber yang diperoleh, kemudian dilakukan pengumpulan bahan informasi, untuk kemudian dilakukan analisa kasus. Hasil pengawasan administratif yang diperoleh merupakan data Keimigrasian yang dilakukan melalui Sistem Informasi Manajemen Keimigrasian.

(15)

commit to user 2. Prosedur Pengawasan Lapangan

Setelah dilakukan analisa kasus pada pengawasan administrasi dan diduga terjadi pelanggaran keimigrasian yang memerlukan pengawasan lapangan, maka akan dibentuk tim pengawasan orang asing (PORA) dengan berkoordinasi dengan instansi atau lembagi lain. Setelah tim pengawasan orang asing (PORA) terbentuk, prosedur selanjutnya adalah mempersiapkan keperluan administrasi untuk pengawasan lapangan antara lain surat perintah pemeriksaan ke tempat yang diduga terjadi pelanggaran keimigrasian, Kartu Pengenal Setiap Petugas dan keperluan administrasi lainnya serta persiapan alat – alat yang dibutuhkan selama pengawasan lapangan seperti kamera pengintai, tape recorder, dan alat lainnya.

Dalam prosedur pelaksanaan Pengawasan lapangan, Pejabat Imigrasi atau yang ditunjuk melakukan pengawasan lapangan sesuai dengan Petunjuk Pelaksanaan Pengawasan Keimigrasian dengan melakukan wawancara untuk memperoleh keterangan tambahan, melakukan pengamatan baik secara terang – terangan atau sembunyi – sembunyi, melakukan pelacakan, pembututan dan penyusupan bila diperlukan. Berikut hasil wawancara dengan Bapak R. Dyka Lakshana Putra, Amd. Im, SH selaku Kepala Sub Seksi Pengawasan Keimigrasian, ketika ditanya prosedur pengawasan terhadap Warga Negara Asing :

“Mengenai prosedur pengawasan keimigrasian, kita biasanya dapat dari pemberkasan, misalnya seperti berkas alih status, jika ada pemberkasan yang seperti itu kita wajib untuk cek lapangan.

Sekarang ini ada sistem yang baru yaitu sistem visa online, kita melakukan pemberkasan dari sana, dari sana kita baru ke lapangan. Pengawasan administrasi harus dibarengi juga dengan pengawasan lapangan. Sedangkan untuk Warga Negara Asing pemegang izin tinggal kunjungan, kita gak bisa pengawasan langsung kalau dia cuma liburan kecuali dia berbuat masalah, tapi jika Warga Negara Asing tersebut berbuat masalah seperti mabuk – mabukan atau bikin kerusuhan, itu langsung ditangani sama kepolisian dulu baru biasanya diserahkan ke kita untuk diproses secara administrasi keimigrasian. Untuk orang asing pemegang izin tinggal kunjungan biasanya kita sudah menempatakan petugas kita dibandara untuk kedatangan dan keberangkatan

(16)

commit to user

untuk pemeriksaan dokumen perjalanan atau dokumen keimigrasian yang dibawa.”

Pejabat Imigrasi yang berwenang dalam melaksanakan pengawasan orang asing bertanggung jawab terhadap pelaksanaan tugasnya, sehingga diwajibkan kepadanya untuk setiap selesai pelaksanaan tugas pengawasan orang asing membuat evaluasi dan dilaporkan kepada Pejabat yang mengeluarkan Surat Perintah dengan memuat hasil Pemantauan Keimigrasian/Pengawasan Lapangan, Kendala/hambatan, dan Saran. Berikut hasil wawancara dengan Bapak R. Dyka Lakshana Putra, Amd. Im, SH selaku Kepala Sub Seksi Pengawasan Keimigrasian ketika ditanya mengenai Prosedur Pelaporan Pengawasan Keimigrasian ke Kantor Imigrasi Kelas 1 Yogyakarta :

“Untuk prosedur pelaporan pengawasan keimigrasian ke kantor, sebelumnya kita melakukan pemberkasan dulu, jika berkas dirasa sudah komplit akan diadakan rapat kecil, kemudian baru kita cari targetnya kemana, begitu kita dapet targetnya, dilakukan wawancara, dokumentasi, selesai itu kembali baru kita buat laporan pengawasan.”

Dalam pelaksanaan Standar Operasional Prosedur Permohonan Pengajuan / Perpanjangan / Alih Status Izin Tinggal, Izin Tinggal dapat diberikan dalam waktu paling lama 3 (tiga) hari kerja terhitung sejak wawancara dan dilakukannya pembayaran biaya Imigrasi, tapi apabila diperlu adanya pengawasan lapangan untuk memastikan tidak adanya pelanggaran keimigrasian maka jangka waktu tersebut diperpanjang dalam waktu paling lama 4 (empat) hari kerja.

Pada prosedur pengawasan keimigrasian, Pejabat Imigrasi atau yang ditunjuk berhak melakukan pemeriksaan lebih lanjut dan melakukan penahanan dokumen keimigrasian orang asing yang bersangkutan bila terdapat dugaan pelanggaran keimigrasian khususnya pelanggaran izin tinggal. Berikut hasil wawancara dengan Bapak R. Dyka Lakshana Putra, Amd. Im, SH selaku Kepala Sub Seksi Pengawasan Keimigrasian ketika

(17)

commit to user

ditanya mengenai Pengawasan Keimigrasian terhadap kegiatan Warga Negara Asing :

“Misalnya seperti lembaga bahasa, disana yang akan kursus harus memakai izin tinggal kunjungan yang disana ditulis keterangan misalnya untuk kursus, tapi nyatanya misalnya dia kedapatan dia memakai Visa On Arrival yang jelas - jelas untuk liburan, ya pasti paspornya kita ambil dulu (ditahan pejabat imigrasi), kalau paspor kita ambil, sebagai tanda kalau dia pemegang paspor kita kasih berupa surat tanda penerimaan. Kita pegang copy-nya dia pegang aslinya. Nanti dia datang ke kantor imigrasi, sesuai prosedur kita laksanakan pembuatan Berita Acara Pemeriksaan (BAP), biasanya kita kasih batas waktu paling maksimal 7 hari untuk menghadap ke kantor imigrasi.“

Dalam rangka pengawasan Keimigrasian, penanggung jawab penginapan juga wajib memperlihatkan buku tamu dan daftar isian orang asing serta memberikan keterangan tentang tamu orang asing. Data dan informasi Orang Asing yang bersangkutan wajib diserahkan kepada Pejabat Imigrasi apabila diminta. Data dan informasi yang diperoleh akan diperiksa, apakah Orang Asing tersebut melakukan Pelanggaran atau Tindak Pidana Keimigrasian. Berikut hasil wawancara dengan Bapak R. Dyka Lakshana Putra, Amd. Im, SH selaku Kasubsi Pengawasan Keimigrasian :

“Kalau formulir pengawasan Warga Negara Asing biasanya kita bagikan ke hotel - hotel atau tempat penginapan turis untuk informasi ada cek in sama cek out turis yang menginap, biasanya dari mereka (penanggung jawab penginapan) sudah memberikan berupa list daftar tamu yang menginap di tempat mereka. Dari list daftar tamu itu kita melakukan pengawasan.”

Bila ada dugaan pelanggaran keimigrasian khususnya pelanggaran izin tinggal selama Pengawasan Keimigrasian, Pejabat Imigrasi atau yang ditunjuk berhak memanggil orang asing yang bersangkutan untuk kemudian dibuatkan laporan kejadian berupa berita acara pemeriksaan (BAP) dan berita acara pendapat (BAPEN) mengenai dugaan terjadinya pelanggaran atau tindak pidana keimigrasian.

Dari hasil berita acara pemeriksaan (BAP) dan berita acara pendapat (BAPEN) baik dalam Pengawasan Administrasi maupun Pengawasan

(18)

commit to user

Lapangan mengenai dugaan terjadinya pelanggaran, maka akan dikeluarkan keputusan kepala kantor imigrasi mengenai apakah telah terjadi perbuatan melanggar undang-undang keimigrasian atau tidak. Apabila keputusan tersebut menetapkan bahwa terjadi pelanggaran keimigrasian ataupun tindak pidana Keimigrasian terhadap izin tinggal, maka dilanjutkan ke tahap Tindakan Keimigrasian atau Penyidikan dalam rangka proses Yustisia

B. Prosedur Tindakan Keimigrasian

Bagi orang asing yang terbukti melakukan pelanggaran keimigrasian menurut Undang – Undang Republik Indonesia No 6 Tahun 2011 Tentang Keimigrasian yang telah diuraikan pada Bab III, maka Seksi Pengawasan dan Penindakan Keimigrasian (WASDAKIM) berhak melakukan tindakan keimigrasian berupa pengusiran (deportasi) yang kemudian ditangkal atau tidak boleh memasuki wilayah Indonesia dalam kurun waktu tertentu serta proses penyidikan keimigrasian terhadap pelaku tindak pidana keimigrasian yang dilakukan oleh Penyidik Pegawai Negeri Sipil (PPNS) Imigrasi melalui system yang dikenal dengan istilah system peradilan pidana (Criminal Justice System) sesuai dengan KUHAP (pro yustisia) apabila yang bersangkutan diduga atau terbukti secara langsung melakukan tindak pidana keimigrasian.

Berikut hasil wawancara dengan Bapak Bambang Dwi .P. selaku Kasubsi Penindakan Keimigrasian ketika ditanya mengenai Prosedur Penindakan Keimigrasian Terhadap Pelanggaran Izin Tinggal Warga Negara Asing :

“Saat yang bersangkutan mengajukan permohonan lewat Seksi Statuskim, berkas tersebut kan masuk ke Seksi pengawasan dan Penindakan Keimigrasian, disini kami proses sesuai prosedur yang ada.”

Berikut hasil wawancara dengan Bapak P. Hananto Kuscahyono, SH selaku Kepala Seksi Pengawasan dan Penindakan Keimigrasian ketika ditanya mengenai Prosedur Penindakan Keimigrasian Terhadap Pelanggaran Izin Tinggal Warga Negara Asing :

“Dalam pelanggaran keimigrasian tindakannya tidak harus deportasi saja, tapi juga ada tindakan pidananya yaitu dimasukkan

(19)

commit to user

ke dalam penjara tapi tetap akhirnya akan tetap dikenakan tindakan administrasi keimigrasian berupa pendeportasian.

Penjara tetap dipenjara umum bukan di rumah deteni. Rumah deteni itu sifatnya sementara, seperti Warga Negara Asing yang selesai proses hukumannya terus dalam proses pemulangan maka di masukan ke dalam ruang deteni dulu tidak dapat langsung dipulangkan. Dulu namanya ruang karantina sekarang ruang Deteni. Jadi biasanya yang dimasukan rumah/ruang Deteni adalah orang yang dalam proses pemulangan atau orang yang tidak memiliki Izin Tinggal atau dokumen keimigrasian dalam hal pemberkasan orang tersebut di masukan ke dalam ruang Deteni. Jika lebih dari 30 hari, orang tersebut dapat dilimpahkan ke rumah deteni di Semarang. Jadi misalkan orang asing tidak memiliki paspor, akan dimasukan ke ruang deteni dulu, selama di ruang deteni dilakukan proses pemberkasan, nanti dikonfrimasi ke kedutaan yang bersangkutan apakah benar yang bersangkutan merupakan warga negara tersebut, kalau tidak ada negara yang mengakui, kemungkinkan yang bersangkutan tidak memiliki kewarganegaraan, dan biasanya mereka akan ditaruh di rumah deteni sampai yang bersangkutan meninggal.”

1. Tindakan Administrasi Keimigrasian

Selama mengadakan pengamatan yang dilakukan penulis pada Seksi Pengawasan dan Penindakan Keimigrasian (WASDAKIM) Kantor Imigrasi Kelas 1 Yogyakarta, penulis mengamati beberapa contoh kasus pelanggaran keimigrasian khususnya Izin Tinggal yang ditangani oleh Seksi Pengawasan dan Penindakan Keimigrasian (WASDAKIM). Kasus pelanggaran keimigrasian khususnya Izin Tinggal Warga Negara Asing tersebut masuk ke dalam bentuk pelanggaran yang dapat dikenai Tindakan Administrasi Keimigrasian. Kasus yang ditangani antara lain seperti pemalsuan dokumen keimigrasian dan visa untuk mendapat izin tinggal, penyalahgunaan visa, izin tinggal yang melebihi batas waktu (overstay) dan pelanggaran izin keimigrasian lainnya yang dilakukan oleh orang asing, baik yang menyangkut izin keberadaanya maupun kegiatannya selama berada di wilayah Indonesia.

Berikut hasil wawancara dengan Bapak Bambang Dwi .P. selaku Kasubsi Penindakan Keimigrasian ketika ditanya mengenai faktor apa saja yang membuat Warga Negara Asing izin tinggalnya bisa melebihi batas waktu (overstay) dan melakukan pelanggaran izin keimigrasian lainnya :

(20)

commit to user

“Faktornya biasanya untuk yang overstay, lupa masa habis berlakunya, misalnya harusnya tanggal sekian dia perpanjangan, tapi dia lupa.”

Bapak R. Dyka Lakshana Putra, Amd. Im, SH selaku Kasubsi Pengawasan Keimigrasian dalam wawancara tersebut menjelaskan mengenai faktor yang membuat Warga Negara Asing izin tinggalnya bisa melebihi batas waktu (overstay) dan melakukan pelanggaran izin keimigrasian lainnya :

“Faktor lainnya biasanya untuk Warga Negara Asing izin tinggalnya melebihi batas waktu (overstay), salah menghitung masa habis berlakunya jadi misalnya tertera di visa tanggal 12 januari 2015 dengan Visa Kunjungan (211) dengan masa berlaku 60 hari, mereka menghitung masa berlakunya biasanya dari tanggal 13 januari 2015 padahal tanggal 12 januari 2015 itu sudah dihitung 1 hari. Dan alasan lainnya biasanya, kalau yang overstay itu biasanya mereka belum dapet kiriman uang. Kalau yang melanggar izin tinggal, contohnya misalnya dia bekerja di PT A dengan sehingga Dokumen Keimigrasiannya menggunakan sponsor PT A, tapi ternyata dia juga bekerja sebagai guru les bahasa untuk mendapatkan penghasilan tambahan, disitu kan sudah tidaksesuai dengan izin tinggalnya, sehingga dia bisa dikenakan prosedur tindakan keimigrasian.”

Bagi Warga Negara Asing yang izin tinggalnya melebihi batas waktu (overstay), dengan konsekuensi Warga Negara Asing yang bersangkutan dapat dikenakan Tindakan Administrasi Keimigrasian berupa dikenai biaya beban sesuai peraturan perundang – undangan dan/atau Deportasi dan namanya dimasukan ke dalam daftar penangkalan sesuai pasal 75 ayat 1 dan ayat 2 huruf (a) dan (f) Undang – Undang Nomor 6 Tahun 2011 Tentang Keimigrasian. Berikut salah satu kasus Warga Negara Asing yang izin tinggalnya melebihi batas waktu (overstay), dengan keterangan sebagai berikut (identitas Warga Negara Asing, penulis berikan dalam bentuk Inisial untuk menjaga kerahasiaan informasi yang bersangkutan) :

Nama : MR C;

Jenis Kelamin : Laki – Laki;

Nomor Paspor : 12CZ99761;

(21)

commit to user

Kebangsaan : PERANCIS;

Dari keterangan batas kadaluarsa (date of expiry) dari Visa atau Izin Tinggal yang bersangkutan, diketahui bahwa MR C adalah warga negara Perancis pemegang paspor atas nama yang bersangkutan nomor 12CZ99761.

Bahwa yang bersangkutan adalah pemegang Visa Republik Indonesia dengan Izin Tinggal Terbatas dan pada tanggal 20 Februari 2015 yang bersangkutan mengajukan permohonan perpanjangan izin tinggalnya, ternyata telah overstay selama 3 (tiga) hari dan menyatakan sanggup membayar biaya beban tersebut.

Berdasarkan ketentuan pasal 78 ayat 1 Undang-Undang Nomor 6 Tahun 2011 tentang Keimigrasian yaitu orang asing pemegang izin tinggal yang telah berakhir masa berlakunya dan masih berada dalam wilayah Indonesia kurang dari 60 (enam puluh) hari dari batas waktu izin tinggal dikenai biaya beban overstay sesuai dengan perundang - undangan yang berlaku yaitu sebesar Rp. 300.000,- per hari dan perpanjangan izin kunjungannya dapat dilanjutkan. Pada berkas yang bersangkutan akan dilampirkan surat perintah membayar biaya beban overstay, yang harus dibayarkan pada bagian administrasi.

Selain Tindakan Administrasi Keimigrasian diatas, terdapat pula Tindakan Administrasi Keimigrasian berupa pemulangan/deportasi (2K31) bagi Warga Negara Asing yang telah melanggar hukum keimigrasian. Berikut salah satu kasus Warga Negara Asing yang mendapatkan Tindakan Administrasi Keimigrasian berupa pemulangan/deportasi (2K31) karena diduga melakukan pemalsuan Dokumen Keimigrasian atau Visa untuk memperoleh izin tinggal kunjungan di Indonesia. Dengan identitas sebagai berikut :

(22)

commit to user

Nama : MR D;

Jenis Kelamin : Laki – Laki;

Tempat / Tanggal Lahir : Lospalos, 02 Februari 1989;

Kebangsaan : TIMOR LESTE;

Nomor Paspor : C0088782;

Dokumen Keimigrasian : Visa Kunjungan 211 (30 hari) yang diterbitkan Kedutaan Besar RI di Dili, Timor Leste pada tanggal 12 Januari 2015;

Dalam kasus ini kejanggalan berasal dari Visa Kunjungan 211 (30 hari) yang tertempel pada Paspor yang bersangkutan. Kepala Sub Seksi Pengawasan dan Penindakan Keimigrasian (WASDAKIM) Kantor Imigrasi Kelas 1 Yogyakarta, merasa janggal dengan bentuk Visa yang tertempel pada paspor saat melakukan pemeriksaan keabsahan Dokumen Keimigrasian yang bersangkutan. Hal ini disebabkan yang bersangkutan diduga melakukan pemalsuan Dokumen Keimigrasian atau Visa untuk memperoleh izin tinggal kunjungan di Indonesia dalam rangka mencari tempat untuk belajar.

Berikut hasil wawancara dengan Bapak Bambang Dwi .P. selaku Kasubsi Penindakan Keimigrasian ketika ditanya mengenai kronologis kasus dugaan pemalsuan Dokumen Keimigrasian atau Visa yang dilakukan oleh Warga Negara Timor Leste :

“Kami menduga visa tersebut palsu, karena menurut saya pribadi selama 25 tahun saya kerja di Kantor Imigrasi belum pernah menemukan Visa yang bentuknya potong – potongan terus tempelannya tumpuk – tumpukan. Baru kali ini di Kantor Imigrasi Kelas 1 Yogyakarta. Awalnya yang bersangkutan melakukan permohonan perpanjangan Izin Tinggal Kunjungan, di Seksi Statuskim itu diperiksa dan diduga bahwa visa yang bersangkutan palsu, kemudian dilempar ke Seksi Pengawasan Dan Penindakan Keimigrasian. Dan diduga terjadi pelanggaran, maka kita panggil yang bersangkutan untuk dimintai konfrimasi dari mana yang bersangkutan mendapatkan Visa tersebut, mencari Visa dengan siapa, pertama kali yang bersangkutan masuk dimana, waktu masuk apakah ada kendala dengan Visa tersebut. Pengajuan permohonannya sendiri kita tolak, kita keluarkan yang bersangkutan dari Indonesia. Kalau yang bersangkutan ingin masuk lagi ke Indonesia, yang bersangkutan

(23)

commit to user

harus membuat Visa baru dengan catatan Visa tersebut tidak terpotong – potong.“

Kasus ini bermula pada tanggal 16 Februari 2015, bahwa yang bersangkutan pada tanggal tersebut melakukan permohonan perpanjangan Izin Tinggal Kunjungan menggunakan Visa Kunjungan 211 (30 hari) di Kantor Imigrasi Kelas 1 Yogyakarta. Setelah mengisi formulir dan melengkapi persyaratan, yang bersangkutan mengajukan berkas permohonan kepada petugas loket. Kemudian petugas loket memeriksa kelengkapan dokumen persyaratan, setelah dirasa lengkap, berkas permohonan yang bersangkutan diterima dan di proses oleh Seksi Status Keimigrasian. Saat melakukan pemeriksaan berkas, Pejabat Imigrasi Seksi Status Keimigrasian merasa ada yang janggal dengan Dokumen Keimigrasian yang bersangkutan kemudian berkas yang bersangkutan di ekspidisikan ke Seksi Pengawasan dan Penindakan Keimigrasian (WASDAKIM) untuk diteliti dan diverifikasi lebih lanjut mengenai keabsahan Dokumen Keimigrasian yang dimiliki pemohon.

Berkas permohonan yang masuk ke Seksi Pengawasan dan Penindakan Keimigrasian (WASDAKIM), kemudian secara diperiksa untuk diteliti dan diverifikasi lebih lanjut mengenai keabsahan Dokumen Keimigrasian yang dimiliki pemohon. Setelah memeriksa halaman paspor pemohon, Kepala Sub Seksi Penindakan Keimigrasian, Bapak Bambang Dwi .P. dan Kepala Sub Seksi Pengawasan Keimigrasian, Bapak R. Dyka Lakshana Putra, merasa curiga bahwa Visa yang tertera pada paspor yang bersangkutan adalah palsu.

Hal ini didasari pada pada halaman paspor yang bersangkutan, Visa yang tertempel dalam keadaan terpotong-potong. Berikut gambar dari visa yang bersangkutan :

(24)

commit to user

Nomor Register Visa berupa tempelan

Nomor MRZ berupa potongan-potongan

Bagian visa terbagi menjadi dua

Visa yang dipotong dengan gunting/cutter antara bagian kanan dan kiri tidak presisi

Visa yang dipotong dengan gunting/cutter antara bagian kanan dan kiri tidak presisi

(25)

commit to user

Setelah pemeriksaan Dokumen Keimigrasian, Kepala Sub Seksi Pengawasan dan Penindakan Keimigrasian (WASDAKIM) melaporkan kepada Kepala Seksi Pengawasan dan Penindakan Keimigrasian (WASDAKIM) bahwa ada dugaan pemalsuan Visa pada halaman paspor yang bersangkutan. Kepala Seksi Pengawasan dan Penindakan Keimigrasian (WASDAKIM), Bapak P. Hananto Kuscahyono, SH akhirnya memutuskan untuk segera memanggil yang bersangkutan (pemilik Dokumen Keimigrasian) untuk dimintai keterangan lebih lanjut.

Pemohon yang masih berada diruang tunggu langsung diarahkan untuk menemui Kepala Sub Seksi Penindakan Keimigrasian, Bapak Bambang Dwi .P. untuk dimintai keterangan lebih lanjut mengenai Visa yang dimiliki.

Kepala Sub Seksi Penindakan Keimigrasian meminta pemohon menceritakan bagaimana yang bersangkutan memperoleh Visa Kunjungan tersebut. Pemohon menceritakan bahwa yang bersangkutan mencari Visa Kunjungan tersebut bersama kakaknya memperoleh Visa Kunjungan tersebut di Kedutaan Besar RI di Dili. Yang bersangkutan menceritakan bahwa pada saat pembuatan Visa, menurut petugas kedutaan alat pencetak Visa tersebut mengalami kerusakan sehingga Visa yang tercetak terlihat seperti terpotong- potong. Ketika ditanya mengenai kegiatan yang bersangkutan selama di Indonesia, yang bersangkutan menjawab bahwa kedatangannya ke Indonesia dalam rangka melanjutkan belajar dan kuliah di Yogyakarta. Yang bersangkutan berencana belajar dan kuliah di STMIK AMIKOM Yogyakarta.

Kemudian Kepala Sub Seksi Penindakan Keimigrasian memeriksa kembali berkas yang bersangkutan, namun didalam berkas tersebut tidak dilampirkan surat rekomendasi izin belajar atau pelatihan dari instansi yang berwenang, sebagaimana diatur dalam Petunjuk Pelaksanaan Direktur Jenderal Imigrasi Nomor F-309.IZ.01.10 Tahun 1995 tentang Tatacara Pemberian, Perpanjangan, Penolakan, dan Gugurnya Izin Keimigrasian. Ketika ditanya mengenai surat rekomendasi izin belajar atau pelatihan dari instansi yang berwenang, yang bersangkutan tidak dapat menjawab pertanyaan yang

(26)

commit to user

diajukan. Setelah mendengarkan keterangan yang bersangkutan, pihak Seksi Pengawasan dan Penindakan Keimigrasian (WASDAKIM) meminta agar yang bersangkutan kembali besok ke Seksi Pengawasan dan Penindakan Keimigrasian (WASDAKIM) untuk dimintai keterangkan lebih lanjut dan diproses secara prosedur penanganan tindakan keimigrasian dengan urutan sebagai berikut :

1. BAP (Berita Acara Pemeriksaan)

Dikeluarkan oleh Kasubsi Penindakan Keimigrasian. Staf Pengawasan Keimigrasian ditunjuk sebagai Petugas Pemeriksa, ditugaskan untuk melakukan pemeriksaan dan mengajukan beberapa pertanyaan kepada orang asing tersebut untuk memeproleh keterangan sehubungan dengan keberadaannya di Indonesia dan cara yang bersangkutan dalam memperoleh Visa Kunjungan tersebut .

2. BAPEN (Berita Acara Pendapat)

Dikeluarkan oleh Kepala Seksi Pengawasan dan Penindakan Keimigrasian (WASDAKIM) yang menyatakan bahwa MR D telah diduga melakukan pemalsuan Visa pada halaman paspor yang bersangkutan.

3. Surat Keterangan Penolakan Permohonan

Dikeluarkan oleh Kepala Seksi Pengawasan dan Penindakan Keimigrasian (WASDAKIM) untuk disetujui oleh Kepala Kantor Imigrasi dengan pertimbangan-pertimbangan bahwa permohonan yang bersangkutan ditolak dan untuk segera meninggalkan wilayah Republik Indonesia atas nama MR D ke negara asalnya yaitu Timor Leste dan dasar hukum yang mengeluarkan terduga dengan melampirkan tembusan kepada pihak yang bersangkutan.

Oleh pejabat Imigrasi, MR D diperiksa dan didengar keterangannya, yang bersangkutan diberikan beberapa selama proses pemeriksaan berlangsung. Pada pelaksanaan Berita Acara Pemeriksaan (BAP), yang bersangkutan telah hadir untuk dimintai keterangkan lebih lanjut mengenai

(27)

commit to user

dugaan pemalsuan Visa pada halaman paspor yang bersangkutan. Dari pernyataan yang bersangkutan selama pelaksanaan Berita Acara Pemeriksaan (BAP), dapat dijelaskan bahwa yang bersangkutan mencari mencari Visa Kunjungan tersebut bersama kakaknya yang bernama MR F di Kedutaan Besar Republik Indonesia di Dili pada tanggal 12 Jauari 2015. Setelah persyaratan yang bersangkutan dimasukkan loket dengan membayar biaya 55 Dolar Amerika, yang bersangkutan menunggu selama 3 hari untuk mengambil Visa tersebut. Akan tetapi setelah yang bersangkutan mendapatkan dan melihat Visa tersebut yang bersangkutan kaget dan yang bersangkutan menanyakan kepada petugas loket (nama petugas yang bersangkutan tidak tahu) mengapa Visa yang bersangkutan seperti itu (tertemel terpotong – potong). Petugas loket menjawab bahwa tidak apa – apa dan bisa dipakai untuk masuk Indonesia.

Saat itu sebenarnya yang bersangkutan tidak puas dengan jawaban petugas loket dan yang bersangkutan merasa sangsi dengan Visa tersebut, yang bersangkutan juga sudah meminta ganti Visa yang baru akan tetapi kata petugas loket untuk mengganti Visa tersebut membutuhkan waktu lagi sekitar 1 (satu) minggu lamanya. Karena waktu yang bersangkutan punya hanya tinggal 4 (empat) hari untuk berangkat ke Indonesia sehingga tidak bisa mengganti Visa dengan yang baru maka dengan terpaksa yang bersangkutan menggunakan Visa tersebut dikarenakan yang bersangkutan sudah memesan tiket pesawat yang berangkat pada tanggal 19 Januari 2015 dan yang bersangkutan juga percaya pada apa yang dikatakan petugas loket bahwa Visa tersebut tidak apa – apa dan dapat digunakan untuk masuk ke Indonesia.

Yang bersangkutan menjelaskan bahwa ini merupakan pertama kalinya yang bersangkutan datang ke Indonesia. Yang bersangkutan pertama kali mendarat di Bandara Ngurah Rai, Bali pada tanggal 19 Januari 2015. Pada saat yang bersangkutan melewati Tempat Pemeriksaan Imigrasi (TPI) Bandara Ngurah Rai, Bali yang bersangkutan tidak mendapat kendala atau masalah yang berhubungan dengan Visa tersebut.

(28)

commit to user

Pada saat pembuatan berita acara pemeriksaan, yang bersangkutan menceritakan kronologis ketika yang bersangkutan mendarat di Indonesia, bahwa yang bersangkutan turun dari pesawat mengikuti penumpang yang lain untuk antri di Tempat Pemeriksaan Imigrasi (TPI). Tiba saat yang bersangkutan sampai di konter pemeriksaan paspor, lalu yang bersangkutan menyerahkan paspornya untuk diperiksa oleh petugas Imigrasi dan diberi cap tanda masuk tanpa petugas imigrasi bertanya sedikitpun mengenai Visa yang bersangkutan. Setelah paspor yang bersangkutan selesai diperiksa dan diberi cap tanda masuk, yang bersangkutan diarahkan oleh petugas ke ruang transit untuk melanjutkan perjalanan ke Yogyakarta.

Setelah pelaksanaan pemberkasan Berita Acara Pemeriksaan (BAP), maka Seksi Pengawasan dan Penindakan Keimigrasian (WASDAKIM) akan menganalisis kasus tersebut dan dibuatkan Berita Acara Pendapat (BAPEN).

Melalui Berita Acara Pemeriksaan (BAP) dan Berita Acara Pendapat (BAPEN) dapat disimpulkan tindakan keimigrasian yang diperlukan, untuk itu berkas Berita Acara Pemeriksaan (BAP), Berita Acara Pendapat (BAPEN) dan data penunjang lainnya diekspedisikan ke Kepala Kantor Imigrasi Kelas 1 Yogyakarta dan Divisi Keimigrasian, Kantor Wilayah Kementerian Hukum Dan HAM Republik Indonesia.

Pada kasus diatas bahwa yang bersangkutan atas nama MR D seorang laki - laki berkebangsaan Timor Leste telah diduga melakukan pelanggaran keimigrasian yaitu pemalsuan izin tinggal (visa) yang yang tertempel dalam keadaan terpotong – potong serta yang bersangkutan dalam rangka belajar sebagai siswa atau mahasiswa namun tidak dapat melampirkan surat rekomendasi izin belajar atau pelatihan dari instansi yang berwenang, dari adanya hasil pemeriksaan yang bersangkutan dikenai Tindakan Administratif Keimigrasian berupa penolakan permohonan dan diminta untuk segera meninggalkan wilayah Indonesia (2K31). Dengan alasan tersebut, Negara Indonesia melalui Kantor Imigrasi ( dalam hal ini Kantor Imigrasi Kelas 1 Yogyakarta) berhak menolak permohonan perpanjangan izin tinggal kunjungan yang bersangkutan dan meminta yang bersangkutan untuk segera

(29)

commit to user

meninggalkan wilayah Republik Indonesia paling lambat 7 (tujuh) hari sejak diterbitkannya Surat Keterangan Penolakan Permohonan Dan pejabat Imigrasi (Seksi Pengawasan Dan Penindakan Keimigrasian) telah melaksanakan tugas dan tanggung jawabnya dengan baik

2. Tindak Pidana Keimigrasian (Pro Yustisia)

Selama melakukan pengamatan di Seksi Pengawasan dan Penindakan Keimigrasian Kantor Imigrasi Kelas 1 Yogyakarta, penulis belum menemukan Tindakan Keimigrasian yang bersifat Pro Yustisia. Mengenai tata cara/prosedur Penindakan Keimigrasian yang bersifat Pro Yustisia, data dan informasi yang diperoleh penulis sebagian besar berdasarkan hasil wawancara yang dilakukan penulis terhadap beberapa narasumber. Berikut hasil wawancara dengan Bapak Bambang Dwi .P. selaku Kasubsi Penindakan Keimigrasian ketika ditanya mengenai Tindakan Pro Yustisia :

“Jika ada tindak pidana itu biasanya pro yustisia, tindakan pro yustisia itu kepala yang buat. Yang termasuk tindakan pro yustisia seperti memalsukan paspor/ijin tinggal itu bisa masuk ke dalam tindakan pidana. Misalnya overstay yang terlalu lama (lebih dari 60 hari) dan tidak bisa pulang itu juga bisa dimasukan ke dalam tindakan pidana.”

Peran Penyidik Pegawai Negeri Sipil (PPNS) sangatlah penting, penyidik yang mengetahui, menerima laporan atau pengaduan tentang terjadinya suatu peristiwa yang patut diduga merupakan tindak pidana keimigrasian wajib segera melakukan tindakan penyidikan yang diperlukan.

Penyidikan yang dilakukan merupakan serangkaian tindakan penyidik dalam hal dan menurut cara yang diatur dalam undang – undang ini untuk mencari serta mengumpulkan bukti yang dengan bukti itu membuat terang tentang tindak pidana keimigrasian yang terjadi dan guna menemukan pelakunya.

Penyidikan tindak pidana keimigrasian dilakukan berdasarkan Hukum Acara Pidana.

Orang asing yang diduga atau secara langsung terbukti melakukan tindak pidana keimigrasian (pro yustisia), maka tindakan hukum dan

(30)

commit to user

penyidikannya dapat dilakukan langsung oleh PPNS atau melalui aparat kepolisian, setelah melalui proses pengadilan atau setelah menunggu keputusan dari proses peradilan dan/atau tersangka selesai melaksanakan hukuman pidana (bila terbukti melakukan tindak pidana keimigrasian/non keimigrasian), kemudian langsung dikenai pada tindakan hukum secara administratif (tindakan administrasi keimigrasian) melalui keputusan pejabat administrasi negara (Pejabat Imigrasi).

Berikut hasil wawancara dengan Bapak R. Dyka Lakshana Putra, Amd.

Im, SH selaku Kasubsi Pengawasan Keimigrasian ketika ditanya mengenai peran PPNS :

“Dalam melakukan penyidikan tindak pidana keimigrasian, PPNS Keimigrasian menyelenggarakan adminisrasi penyidikan keimigrasian yang meliputi administrasi penyidikan untuk pemberkasan dan administrasi penyidikan bukan untuk pemberkasan. Kelengkapan administrasi penyidikan untuk pemberkasan disesuaikan dengan tindak pidananya. Secara umum misalnya ada kasus tindak pidana keimigrasian, kita biasanya bisa kita pra-peradilankan lewat kita (imigrasi) karena kita ada PPNS, tapi untuk kelemahannya karena pengurusan izin penyidikan untuk PPNS-nya harus diupdate tempat perpanjangannya dan itu relatif lama, jadi dari yang seharusnya bisa kita selesaikan jadi harus kita lempar ke kejaksaan. Nanti biasanya prosesnya panjang, karena lewat pengadilan sampai terduga dinyatakan bersalah atau tidak. Untuk PPNS apabila kita dapat memecahkan kasus, istilahnya sampe pro yustisia (P21), itu nanti kita dapet reward untuk kantor dan untuk diri sendiri.

Setelah tindakan pro justisia dilaksanakan, pelaku tersebut juga akan tetap dikenakan tindakan administrasi keimigrasian sesuai peraturan perundang – undangan yang berlaku.”

Dari pengamatan penulis, prosedur pengawasan dan penindakan keimigrasian pada Seksi Pengawasan dan Penindakan Keimigrasian Kantor Imigrasi Kelas 1 Yogyakarta telah sesuai dengan peraturan dan perundang-undangan yang berlaku, antara lain :

 Undang – Undang Nomor 6 Tahun 2011 Tentang Keimigrasian;

(31)

commit to user

 Peraturan Pemerintah No. 31 Tahun 2013 Tentang Peraturan Pelaksanaan Undang – Undang Republik Nomor 6 Tahun 2011 Tentang Keimigrasian;

 Peraturan Pemerintah Republik Indonesia No. 31 tahun 1994 tentang Pengawasan Orang Asing dan Tindakan Keimigrasian;

 Petunjuk Pelaksanaan Direktur Jenderal Imigrasi Nomor F- 338.IL.01.10 Tahun 1995 Tentang Tata Cara Pengawasan Orang Asing;

dan

 Petunjuk Pelaksanaan Direktur Jenderal Imigrasi Nomor : F- 314.IL.02.10 Tentang Tata Cara Tindakan Keimigrasian, 1995.

Mengenai kendala yang dihadapi Petugas dalam pelaksanaan Pengawasan Keimigrasian dan Penindakan Pelanggaran Keimigrasian khususnya terhadap pelanggaran Izin Tinggal Warga Negara Asing. Berikut hasil wawancara dengan Bapak R. Dyka Lakshana Putra, Amd. Im, SH selaku Kepala Sub Seksi Pengawasan Keimigrasian ketika ditanya mengenai kendala yang dihadapi dalam pelaksanaan Pengawasan Keimigrasian :

“Kendala yang dihadapi biasanya, pertama lokasi yang dicari tidak ketemu. Kedua cuaca yang tidak mendukung. Ketiga data pendukung yang diperoleh kurang seperti data penjamin yang mereka lampiran saat pengajuan/perpanjangan/alihstatus seperti KTP, KK dan lain – lain.

Misalnya data yang bersangkutan masukan ke dalam data penjamin ternyata rumah orangtuanya, atau rumah kontrakan yang lama. Karena kalau mau pindah alamat itu kan juga harus lapor ke kantor imigrasi ke bagian Forsakim.”

Berikut hasil wawancara dengan Bapak P. Hananto Kuscahyono, SH selaku Kepala Seksi Pengawasan Dan Penindakan Keimigrasian ketika ditanya mengenai kendala yang dihadapi dalam pelaksanaan Pengawasan Dan Penindakan Keimigrasian :

“Kendala yang dihadapi dalam pelaksanaan Pengawasan Dan Penindakan Keimigrasian secara umum, itu Sumber Daya Manusia yang terbatas. Kita dalam 1 Wilayah Kantor Imigrasi Kelas 1 Yogyakarta membawahi 1 Kota Madya dan 4 Kabupaten. Kita tidak seperti kepolisian yang disetiap daerah ada polres, di dalem polres ada

(32)

commit to user

polsek yang memberi laporan per daerah. Pengawasan kita lakukan dengan jumlah petugas yang terbatas, tidak sebanding dengan mengawasi besarnya luas wilayah pengawasan. Tapi bukan berarti dalam kendala kemampuan (quality) Sumber Daya Manusia, melainkan jumlah (quantity) Sumber Daya Manusia yang terbatas. Kalau dari kemampuan berbahasa, kita sudah dilatih untuk mampu berbahasa Inggris.”

Dapat kita ambil garis besarnya bahwa Pemerintah Indonesia melalui Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia memberikan wewenang kepada Kantor Imigrasi untuk menindak tegas orang – orang khususnya Warga Negara Asing yang melanggar hukum keimigrasian tanpa mengenyampingkan Hak Asasi Manusia mereka. Berikut merupakan laporan statistik Tindakan Keimigrasian Terhadap Pelanggaran Izin Tinggal Warga Negara Asing Tahun 2014 :

Keterangan Jumlah

Penindakan (Deportasi) 19

Pemulangan (EPO Crew) 0

Persetujuan Berangkat (Penolakan Permohonan) 6 Penangguhan Izin Tinggal Kunjungan 577 Penangguhan Izin Tinggal Terbatas 145

Penangguhan Izin Tinggal Tetap 2

Tabel 4.1

Laporan Statistik Tindakan Keimigrasian

Terhadap Pelanggaran Izin Tinggal Warga Negara Asing Tahun 2014 Untuk melengkapi data atau informasi diatas, penulis melampirkan dokumen / arsip mengenai wujud dari tindakan keimigrasian yang berupa surat perintah membayar bagi Warga Negara Asing yang izin tinggalnya melebihi batas waktu (overstay), surat penolakan permohonan Warga Negara Asing berkebangsaan Timor Leste dikarenakan dugaan pemalsuan Visa untuk mendapatkan izin tinggal kunjungan di wilayah Indonesia serta beberapa dokumen keimigrasian lainnya.

(Lihat dalam daftar lampiran)

Gambar

Foto Pemilik Paspor
Gambar 4.3  Visa

Referensi

Dokumen terkait

/ Ketrampilan LANSIA SEJAHTERA BIMBINGAN 1.. Tahapan pelaksanaan dilakukan oleh masing-masing seksi sesuai dengan uraian tugas dan tanggung jawab serta kewenangan

dapat merefleksikan dimensi, keterampilan, dengan menampilkan tema-tema yang menarik dan kontekstual.yakni kecakapan hidup yang terkait dengan pendidikan personal dan

Berdasarkan hasil analisis tambahan untuk melihat hubungan antara religious coping dengan subjective well-being pada ODHA di Yayasan Sebaya yang dilihat dari data

(n=85) Asiakassuhteiden hallinta (n=85) Strategiaprosessin hallinta (n=35) Rahoituksen suunnittelu (n=85) Henkilöstöhallinto ja henkilöstön kehittäminen (n=84) Palveluiden

Perhitungan koefisien korelasi menunjukkan bahwa tidak ada hubungan antara peningkatan dosis fraksi air ekstrak buah kayu putih terhadap penurunan nafsu makan dan berat badan

Watts (2003) juga menyatakan hal yang sama bahwa konservatisme merupakan salah satu karakteristik yang sangat penting dalam mengurangi biaya keagenan dan meningkatkan kualitas

Sekitar 3,9% ibu hamil merupakan pengidap hepatitis dengan risiko transmisi maternal kurang lebih sebesar 90% anak yang tertular secara vertikal dari ibu dengan HBsAg (+) selama