Optimasi Efektivitas Gliserol Dan Kitosan Dalam Pembuatan Plastik Biodegradable Dari Pemanfaatan Biji Durian Dengan Metode Inversi Fasa
Afiyatun Inayahdan Heny Kusumayanti
Prodi S-Tr Teknologi Rekayasa Kimia Industri, Departemen Teknologi Industri, Sekolah Vokasi, Universitas Diponegoro Email : [email protected]
RIWAYAT ARTIKEL Disubmit 10 Maret 2022 Diterima 21 Maret 2022 Diterbitkan 27 April 2022
ABSTRAK
Masalah lingkungan dari pembuangan limbah plastik turunan minyak bumi telah menjadi isu penting karena sifatnya yang sulit diuraikan. Oleh karena itu, upaya telah dilakukan untuk mempercepat tingkat degradasi material polimer dengan mengganti beberapa atau seluruh polimer sintetis dengan polimer alami. Pemanfaatan biji durian menjadi salah satu upaya dalam memanfaatkan zero waste product. Biji durian memiliki kandungan pati yang cukup tinggi berupa 25.9 gram amilopektin dan amilosa sebesar 20.3 gram sehingga berpotensi sebagai alternatif pengganti bahan yang memerlukan sifat-sifat pati. Pada penelitian ini pembuatan plastik biodegradable dari pemanfaatan biji durian akan dilakukan dengan metode inversi fasa menggunakan penambahan gliserol dan kitosan. Tujuan dilakukannya penelitian ini yaitu untuk mengetahui pengaruh variabel konsentrasi gliserol, kitosan dan waktu degradasi yang optimum untuk menghasilkan film plastik biodegradable dengan kualitas dan kuantitas yang baik. Sehingga dengan penelitian ini mampu memberikan analisa pengaruh penggunaan kitosan dan gliserol terhadap kualitas plastik biodegradable biji durian. Hasil penelitian uji kelarutan air bioplastik dengan nilai kadar air terbaik ditunjukkan oleh variasi gliserol 4 mL yaitu 80.25% dan yang menghasilkan nilai absorpsi terendah sebesar 76.2%. jika dibandingkan dengan persen penyerapan air plastik konvensional, nilai persen penyerapan bioplastik yang dihasilkan masih sangat tinggi.
KATA KUNCI
Plastik biodegradable; gliserol;
kitosan
doi https://doi.org/10.21776/ub.jkptb.2022.010.01.08
1. Pendahuluan
Plastik konvensional membutuhkan waktu sekitar 50 tahun agar dapat mengalami dekomposisi secara alamiah, sementara bioplastik yang bersifat biodegradable dapat mengalami dekomposisi 10 hingga 20 kali lebih cepat [1]. Hasil degradasi bioplastik dapat digunakan sebagai makanan hewan ternak atau sebagai pupuk kompos. Plastik biodegradable yang terbakar relatif tidak akan menghasilkan senyawa kimia berbahaya.
Sementara itu, kualitas tanah pun akan meningkat dengan adanya plastik biodegradabel. Hal itu disebabkan karena hasil penguraian mikroorganisme dapat meningkatkan unsur hara di dalam tanah [2].
Tujuan penambahan pati kedalam polimer sintetis adalah untuk dapat mendegradasi plastik secara alami.
Bioplastik berbahan dasar pati dapat didegradasi oleh mikroorganisme dengan cara memutus rantai polimer menjadi monomer-monomernya. Butiran halus dari pati berbeda untuk masing-masing jenis tanaman tetapi tetap memiliki komposisi umum yaitu amilosa (fraksi terlarut) dan amilopektin (fraksi tidak terlarut). Sumber utama penghasil pati adalah biji-bijian serealia (jagung, gandum, sorgum, beras, biji durian dan biji nangka), umbi (kentang), akar (singkong dan ubi jalar) dan bagian dalam dari batang tanaman (sagu). Biji durian dan singkong termasuk kedalam kategori pati yang biji-bijian serealia dan akar [3]. Kandungan pati biji durian cukup
tinggi sekitar 42.1% dibanding dengan pati singkong 34.7% dan potensi kandungan pati biji durian cukup tinggi perlu dimanfaatkan, salah satunya untuk menjadi bahan baku bioplastik.
Plastik biodegradable berbahan dasar pati/amilum dapat didegradasi oleh bakteri pseudomonas dan bacillus memutus rantai polimer menjadi monomer – monomernya. Senyawa-senyawa hasil degradasi polimer selain menghasilkan karbon dioksida dan air, juga menghasilkan senyawa organik lain yaitu asam organik dan aldehid yang tidak berbahaya bagi lingkungan. Dalam penelitian terapan ini, pembuatan plastik biodegradable menggunakan metode inversi fasa dengan menambahkan gliserol dan kitosan. Tujuan dilakukannya penelitian ini yaitu untuk mengetahui pengaruh variabel konsentrasi gliserol, kitosan dan waktu degradasi yang optimum untuk menghasilkan film plastik biodegradable dengan kualitas dan kuantitas yang baik. Sehingga dengan penelitian ini mampu memberikan analisa pengaruh penggunaan kitosan dan gliserol terhadap kualitas plastik biodegradable biji durian.
2. Metode 2.1 Alat dan Bahan
Bahan yang digunakan adalah tepung biji durian yang berbentuk kering dan kitosan murni 100% yang terbuat dari cangkang atau kulit curstacea yang didapat dari daerah Yogyakarta Kabupaten Bantul. Selain itu terdapat bahan pendukung lainnya seperti gliserol pharma grade lebih tinggi diatas food grade dengan kemurnian 99.7%, asam asetat 1% merk 100063 dan aquadest yang didapat dari Laboratorium Teknologi Rekayasa Kimia Industri, Universitas Diponegoro. Alat yang digunakan adalah magnetic stirer model SH-3, kompor listrik, gelas bekker PYREX 250 mL, neraca digital OHAUS CL201T, baskom, kain saring, kaca pengaduk, labu takar PYREX 100 mL, termometer dan nampan plastik.
2.2 Pembuatan Plastik biodegradable
Analisa uji laboratorium dilakukan di Laboratorium Terpadu UNDIP Jawa Tengah. Variabel yang digunakan dengan menggunakan factorial design 2” (Tabel 1) parameter yang diteliti adalah uji kelarutan air, uji kuat tarik dan optimasi plastik biodegradable.
Tabel 1. Rancangan Penelitian
Run Variabel Berubah Interaksi
Rendemen (%)
W n T Wn WT nT WnT
1 - - - + + + - A1
2 + - - - - + + A2
3 - + - - + - + A3
4 + + - + - - - A4
5 - - + + - - + A5
6 + - + - + - - A6
7 - + + - - + - A7
8 + + + + + + + A8
Keterangan :
W = waktu pengadukan n = volume gliserol t = volume kitosan
2.3 Uji Laboratorium
Plastik biodegradable dilakukan uji laboratorium di Lab Terpadu Undip Jawa Tengah untuk diuji kuat tarik.
Untuk menguji uji kuat tarik menggunakan SP-X-1123 [4].
3. Pembahasan
3.1. Plastik Biodegradable
Penelitian ini menggunakan 3 variabel proses, yaitu volume penambahan kitosan (t) : (-) 1.5 gram dan (+) 2.5 gram, volume gliserol (n) : (-) 3mL dan (+) 4mL dan waktu pengadukan (w) : (-) 20 menit dan (+) 40 menit.
Hasil film berupa lembaran berwarna putih dan transparan, ketika jumLah air diberikan dan dipanaskan sampai suhu tertentu, ikatan hidrogen terbentuk sehingga gelatinisasi menyebabkan molekul pembentuk pati terikat erat.
Gambar 1. Hasil Plastik Biodegradable
Sifat fisis plastik biodegradable yang dibuat dengan metode inversi fasa dengan bahan baku tepung pati biji durian. Penentuan variable pada penelitian ini menggunakan Faktorial Desain tiga variable berubah berupa volume kitosan, volume gliserol dan waktu pengadukan. Hasil yang didapat diketahui pada Tabel 2.
Tabel 2. Hasil Yield Plastik Biodegradable
Run Variabel Berubah Interaksi Output
waktu gliserol kitosan tn tw nw wnt Yield (gram)
1 - - - + + + - 12
2 + - - - - + + 11.483
3 - + - - + - + 14.069
4 + + - + - - - 10.707
5 - - + + - - + 14.586
6 + - + - + - - 8.121
7 - + + - - + - 13.293
8 + + + + + + + 6.829
JumLah 91
Rata-Rata 11.386
Keterangan : t = volume kitosan n = volume gliserol w = waktu pengadukan
Pada Tabel 2 menunjukan bahwa yield yang yang dihasilkan memiliki nilai sesuai dengan tanda dari level variabel proses waktu gelatinitas, penggunaan variabel lama waktu (-) 20 menit menghasilkan yield yang lebih sedikit dari level atas (+) 40 menit. Untuk melakukan optimasi dalam penelitian ini perlu diketahui variabel proses yang sangat berpengaruh dalam penelitian ini dengan cara quicker method yaitu menghitung main effect dan interaksi terhadap yield.
Tabel 3. Hasil Perhitungan Efek Utama dan Interaksi Terhadap Yield
Efek Nilai
I1, w -4.201
I2, n -0.323
I3, t -1.358
I12, wn -0.711
I13, wt -2.262
I23, nt -0.970
I123, tnw 0.711
Pada Tabel 3 menunjukan hasil bahwa ketiga variabel yang di teliti lama waktu (w) merupakan variabel yang paling mempengaruhi dalam proses gelatinitas jika dilihat dari perhitungan quicker method yang menghasilkan jumLah nilai paling besar dengan nilai -4.201.
Tabel 4. Penentuan Variable Pengaruh
P (%) Efek
7.14 -4.201
21.71 -2.262
35.71 -1.358
50.0 -0.970
64.29 -0.711
78.57 -0.323
92.86 0.711
Gambar 2. Hasil Optimasi
Pada Gambar 2 menunjukan bahwa titik X1 menjauhi dari kerapatan. Dari hasil analisa tersebut, dapat di tentukan variabel optimasi dengan lama waktu (w) sebagai variabel berubah. Variabel tetap menggunakan penambahan kitosan dan volume gliserol.
3.2. Uji Kuat Tarik Variasi Kitosan dengan Gliserol 4 mL
Pada pengujian kuat tarik pada plastik biodegradable biji durian dengan menggunakan metode inversi fasa. Pengujian kuat Tarik yang dilakukan bertujuan untuk mengetahui seberapa besar kemampuan suatu struktur dalam menahan beban tanpa mengalami kerusakan.
Gambar 3. Hasil Uji Kuat Tarik Variasi Kitosan Dengan Gliserol 4 mL
Pada Gambar 3 diatas menunjukkan bahwa sifat mekanik bioplastik yang dihasilkan menunjukan sifat yang berlawanan antara kuat tarik dan elongasinya. Nilai kuat tarik meningkat seiring bertambahnya konsentrasi kitosan, hal ini dapat dilihat pada tabel yaitu untuk variabel pertama tidak ada penambahan kitosan menghasilkan nilai kuat tarik 3.72 MPa, untuk variabel kedua dengan kitosan 0.5 gram menghasilkan nilai kuat tarik 6.721 MPa, untuk variable ketiga dengan kitosan 1 gram menghasilkan nilai kuat tarik 4.78 MPa, untuk variabel keempat dengan kitosan 1.5 gram menghasilkan nilai kuat tarik 5.31 MPa dan untuk variabel terakhir dengan kitosan 2 gram menghasilkan nilai kuat tarik 6.75 MPa. Terjadinya perubahan sifat mekanik bioplastik dengan penguat kitosan tersebut disebabkan oleh pengaruh banyaknya penguat yang digunakan. Konsentrasi penguat yang semakin meningkat mengakibatkan kuat tarik yang semakin meningkat, untuk nilai kuat tarik dengan variasi kitosan yang paling optimum terdapat pada variable terakhir yaitu 2 gram dengan nilai kuat tarik 6.75 MPa. Pada penelitian ini menggunakan gliserol 4mL berdasarkan proses menurunkan kekuatan intermolekuler bioplastik dimana penambahan maksimal gliserol adalah 5 mL. Hal ini dikarenakan jika kita menambahkan gliserol melebihin 5 mL akan menyebabkan produk cepat rusak atau berkurang kualitas daya serap air.
Beradasarkan standar bioplastik SNI 7188.7:2016 besarnya nilai kuat tarik untuk plastik adalah 24.7 - 302 MPa. Hasil kuat tarik bioplastik dari pati biji durian dan kitosan pada penelitian ini adalah nilai kuat tarik terbaik didapatkan pada variasi rasio pati yaitu 3.15 MPa, yang belum memenuhi Standar Nasional Indonesia 7188.7:2016 [5]. Penurunan nilai kuat Tarik disebabkan oleh gugus OH dari kitosan yang berlebihan sehingga menyebabkan ikatan hidrogen yang terbentuk menjadi putus karena tersisipi molekul gliserol. Selain itu, menurut Buzarovska (2008) menyebutkan bahwa penurunan hasil nilai kuat tarik disebabkan oleh distribusi yang tidak sempurna dari masing-masing komponen penyusun pada film plastik [6]. Dari data yang didapat dapat disimpulkan bahwa kitosan sangat berpengaruh dalam kuat tarik karena kitosan merupakan senyawa turunan kitin yang merupakan penguat alami dimana kitosan akan membantu menjaga daya kuat tarik dari plastik biodegradable yang dihasilkan [1].
3.3. Optimasi Plastik Biodegradable
Hasil pembuatan bioplastik dengan menggunakan bahan baku pati biji durian dengan plastikizer gliserol dan kitosan dengan pengaruh variable berubah yaitu waktu pengadukan dan variabel bebas yaitu volume gliserol dan volume kitosan dengan metode factorial desain. Hasil optimasi ditunjukkan pada Tabel 5.
y = 0.701x + 2.881 R² = 0.9353
0 2 4 6 8
0 gr 0.5 gr 1 gr 1.5 2 gr
Kuat tarik ( MPa)
Kitosan ( gram )
Uji Kuat Tarik Variasi Kitosan dengan Gliserol 4 mL
Tabel 5. Hasil Optimasi Plastik Biodegradable Terhadap Yield
Waktu Pengadukan Volume Gliserol Berat Kitosan Yield (gram)
20 menit 3.5 1.5 14.397
25 menit 3.5 1.5 16.207
30 menit 3.5 1.5 16.983
35 menit 3.5 1.5 9.226
40 menit 3.5 1.5 6.898
Pada Tabel 5 menunjukan bahwa waktu pengadukan pada menit ke 20 hingga 30 mengalami kenaikan terhadap yield yang di hasilkan dan mengalami penurunan yield pada waktu ke 35 dan 40 menit. Penggambaran grafil hasil optimasi plastik biodegradable dapat dilihat pada Gambar 4.
Gambar 4. Grafik Optimasi plastik biodegradable
Berdasarkan yield plastik biodegradable yang dihasilkan seperti yang tersaji pada Gambar 4, dapat di ketahui bahwa waktu pengadukan dalam keadaan optimum pada suhu 30 menit dengan yield sebesar 16.983 gram dengan kondisi operasi lainnya volume gliserol 3.5 dan berat kitosan 1.5. Semakin lama waktu pengadukan menyebabkan proses gelatinitas semakin homogen. Tetapi jika reaksi telah mencapai kondisi setimbangnya, penambahan waktu tidak akan meningkatkan kekentalan suspensi pati. Hal ini dikarenakan karena harga konstanta kesetimbangan reaksi K akan turun yang berarti reaksi bergeser kearah pereaksi atau hasil menurun. Sehingga dapat diambil kesimpulan bahwa hasil yield pada plastik biodegradable yang optimum adalah 16.983 gram. Jika dibandingkan dengan penelitian [7] dimana pada penelitian tersebut menggunakan bahan limbah cair tapioka, air kelapa, Za, acetobacter cylinum, asam asetat, NaOH 1%,sorbitol, aquades dan gula putih sehingga yield yang dihasilkan dengan lama pengadukan 30 menit menghasilkan nilai yield optimum sebesar 42.1 gram.
Penyebab penurunan yield dalam bertambahnya waktu adalah larena terjadi proses retrogradasi dan sineresis, semakin lama waktu pengadukan suspensi pati dalam air maka pengembangan granula semakin menurun. Mekanisme pengembangan tersebut disebabkan karena molekul-molekul amilosa dan amilopektin secara fisik hanya dipertahankan oleh adanya ikatan hidrogen yang lemah. Waktu pengadukan yang semakin meningkat akan menyebabkan ikatan hidrogen semakin lemah, sedangkan dilain pihak molekul air memiliki energi kinetik yang lebih tinggi sehingga dengan mudah berpenetrasi ke dalam granula. Pada akhirnya jika waktu pengadukan masih tetap naik, maka granula akan pecah sehingga molekul pati akan keluar terlepas dari granula masuk ke dalam sistem larutan indeks refraksi pati yang membengkak itu mendekati indeks refraksi air dan hal inilah yang menyebabkan sifat translusen.
20 18 16 14 12
10 0 5 10 15 20 25 30 35 40 45
Waktu
yield
3.4. Uji Kelarutan Air
3.4.1. Pengaruh Variabel Gliserol dengan Kitosan 1 gr terhadap Uji Kelarutan Air
Hasil pembuatan bioplastik dengan bahan baku pati biji durian dengan penambahan gliserol dan kitosan dengan pengaruh waktu pengadukan 20 menit dan 40 menit. Uji kelarutan dalam air ditunjukkan pada Gambar 5.
Gambar 5. Pengaruh Variabel Gliserol Pada Uji Kelarutan Air
Berdasarkan Gambar 5, kenaikan persentase kelarutan air terjadi jika semakin besar konsentrasi gliserol.
Kemampuan film plastik biodegradable larut dalam air dipengaruhi oleh adanya gugus -OH pada plastik yang berasal dari gliserol, ikatan ini menyebabkan film plastik biodegradable ini masih memiliki sifat hidrofilik atau larut dalam air [8]. Plastikizer gliserol berfungsi untuk meningkatkan elastisitas dengan mengurangi derajat ikatan hidrogen dan meningkatkan jarak antara molekul dari polimer. Semakin banyak penggunaan plastikizer maka akan meningkatkan kelarutan terutama yang bersifat hidrofilik akan meningkatkan kelarutan dalam air.
Gliserol memberikan kelarutan yang tinggi dibandingkan sorbitol pada bioplastik berbasis pati [4], [9]. Tujuan dilakukan Uji kelarutan air adalah untuk mengetahui terjadinya ikatan dalam polimer serta tingkatan atau keteraturan ikatan dalam polimer dan memperkirakan kestabilan bioplastik terhadap pengaruh air. Proses terdifusinya molekul pelarut kedalam polimer akan menghasilkan gel yang menggembung. Sifat kelarutan bioplastik terhadap air ditentukan dengan uji kelarutan dalam air, yaitu persentase penggembungan film oleh adanya air [10].
Berdasarkan hasil uji kelarutan tersebut, dapat dilihat bahwa film plastik biodegradable terbaik adalah yang memiliki konsentrasi gliserol paling tinggi yaitu 5 mL dengan presentase kelarutan air sebesar 80,99%
sedangkan film plastik biodegradable yang terendah kelarutannya yaitu yang memiliki konsentrasi gliserol paling rendah yaitu 3 mL dengan presentase kelarutan air sebesar 80.15%. Hasil penelitian uji kelarutan air bioplastik dengan nilai water uptake terbaik ditunjukkan oleh variasi gliserol yaitu 80.25% dan yang menghasilkan nilai penyerapan terendah sebesar 76.2%. jika dibandingkan dengan persen penyerapan air plastik konvensional, nilai persen penyerapan bioplastik yang dihasilkan masih sangat tinggi, dimana nilai standar uji kelarutan air pada plastik konvensional polipropilen dan polietilen yaitu sebesar 0.01% [11].
4. Kesimpulan
Berdasarkan pembuatan plastik biodegradable yang dihasilkan pada penelitian terapan ini didapatkan variasi konsentrasi gliserol dan kitosan mempengaruhi sifat mekanis dan biodegradabilitas bioplastik. Ketika gliserol divariasikan dari 3 mL menjadi 5 mL kekuatan tarik meningkat 2.65 MPa menjadi 7.73 MPa dan berbanding lurus juga pada saat variasi konsentrasi Kitosan dari 0 gram menjadi 2 gram kekuatan tarik meningkat dari 3.72 MPa menjadi 6.75 MPa, Biodegradabilitas bioplastik dengan variasi plastikizer gliserol yang paling optimum adalah pada konsentrasi 5 mL dalam waktu 21 hari.
Sedangkan bioplastik pada variasi konsentrasi kitosan pada konsentrasi 0 gram dalam waktu 21 hari. Untuk uji kelarutan variasi plastilizer gliserol yang paling optimum adalah pada 5 mL dengan nilai kelarutan air sebesar 80.99% sedangkan untukvariasi kitosan yang paling optimum adalah pda konsentrasi 0 gram dengan nilai
80.15 80.5 80.25 80
76.2 y = -0.84x + 81.94
R² = 0.5389 72
74 76 78 80 82
3 3.5 4 4.5 5
Kelarutan Air (%)
Variasi Gliserol (mL)
Pengaruh Variabel Gliserol dengan Kitosan 1 gr terhadap Uji Kelarutan Air
kelarutan 90%. Dari uji yang telah dilakukan pada setiap sampel plastik biodegradable yang di uji variable yang paling optimum adalah variable pertama dengan variasi kitosan 0 gram dengan gliserol 4 mL serta variasi gliserol 5 mL dengan kitosan 1 gram.
Hasil penelitian uji kelarutan air bioplastik dengan nilai water uptake terbaik ditunjukkan oleh variasi Gliserol 4mL yaitu 80.25% dan yang menghasilkan nilai penyerapan terendah sebesar 76.2%. jika dibandingkan dengan persen penyerapan air plastik konvensional, nilai persen penyerapan bioplastik yang dihasilkan masih sangat tinggi, dimana nilai standar uji ketahanan air pada plastik konvensional polipropilen dan polietilen yaitu sebesar 0.01%. Berdasarkan standar bioplastik SNI 7188.7:2016 besarnya nilai kuat tarik untuk plastik adalah 24.7 - 302 MPa. Hasil kuat tarik bioplastik dari pati Biji durian dan kitosan pada penelitian ini adalah nilai kuat tarik terbaik didapatkan pada variasi rasio pati yaitu 3.15 MPa, yang belum memenuhi Standar Nasional Indonesia 7188.7:2016.
Daftar Pustaka
[1] P. Coniwanti, L. Laila, and M. R. Alfira, “Pembuatan Film Plastik Biodegredabel Dari Pati Jagung Dengan Penambahan Kitosan Dan Pemplastis Gliserol,” J. Tek. Kim., vol. 20, no. 4, pp. 22–30, 2014.
[2] S. Aripin, B. Saing, and E. Kustiyah, “Studi Pembuatan Bahan Alternatif Plastik Biodegradable Dari Pati Ubi Jalar Dengan Plasticizer Gliserol Dengan Metode Melt Intercalation,” J. Tek. Mesin, vol. 6, no. 2, p.
18, Mar. 2017, doi: 10.22441/jtm.v6i2.1185.
[3] B. Samsuri, “Penggunaan Pragelatinisasi Pati Singkong Suksinat Sebagai Matriks Dalam Sediaan Tablet Mengapung Verapamil HCl,” Universitas Indonesia, 2008.
[4] T. Bourtoom, “Plasticizer effect on the properties of biodegradable blend from rice starch-chitosan,”
Songklanakarin J. Sci. Technol., vol. 30, no. SUPPL. 1, pp. 149–155, 2008.
[5] Badan Standarisasi Nasional Indonesia, Kriteria ekolabel - Bagian 7: Kategori produk tas belanja plastik dan bioplastik mudah terurai. Indonesia, 2016.
[6] A. Buzarovska, A. Grozdanov, M. Avella, G. Gentile, and M. Errico, “Potential use of rice straw as filler in eco-composite materials Faculty of Technology and Metallurgy , University of St Cyril and Methodius , Rudjer Boskovic 16 , 1000 Skopje , Macedonia Institute for Chemistry and Technology of Polymers ( ICTP ), Via Ca,” Aust. J. Crop Sci., vol. 1, no. 2, pp. 37–42, 2008.
[7] P. Bernanetha, N. Nasirudin, and D. Prihandoko, “Pembuatan Plastik Biodegradable Nata De Cassava Sebagai Bahan Edible Film Ramah Lingkungan,” J. Rekayasa Lingkung., vol. 18, Feb. 2020, doi:
10.37412/jrl.v18i1.17.
[8] Utami, R. Meilina, L. Latifah, and N. Widiarti, “Sintesis Plastik Biodegradable dari Kulit Pisang dengan Penambahan Kitosan dan Plasticizer Glisero,” IJCS - Indones. J. Chem. Sci., vol. 3, no. 2252, pp. 163–167, 2014.
[9] Y. Darni and H. Utami, “Studi Pembuatan dan Karakteristik Sifat Mekanik dan Hidrofobisitas Bioplastik dari Pati Sorgum,” J. Rekayasa Kim. dan Lingkung., vol. Vol. 7, no. No. 4, pp. 190–195, 2010.
[10] N. Al Ummah, “Ketahanan Biodegradable Plastic Berbasis Tepung Biji Durian (Durio Zibethinus Murr) Terhadap Air dan Pengukuran Densitasnya,” Universitas Negeri Semarang., 2013.
[11] Boedeker, “BOEDEKER PLASTIC INC.,” 2013. https://www.boedeker.com/.