Tradisi Carok di Madura Alami Pergeseran Makna
UNAIR NEWS – Benarkah “tradisi” carok pada masyarakat etnis Madura sekarang ini sudah mengalami pergeseran makna? Itulah faktanya yang ditemukan dalam penelitian Program Kreativitas Mahasiswa bidang Sosial Humaniora (Soshum) oleh lima mahasiswa Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Airlangga (UNAIR).
Fadillah dan empat temannya yaitu Fadhli, Lidya, Wildan dan Amanda, menemukan beberapa data baru yang belum pernah ditemukan dalam penelitian carok sebelumnya.
Seperti diketahui, mengutip Wikipedia, carok merupakan tradisi bertarung (berkelahi) yang disebabkan karena alasan tertentu yang berhubungan dengan harga diri kemudian diikuti antar kelompok dengan menggunakan senjata (biasanya celurit).
Tetapi Tim PKMP-SH yang lebih menekankan pada pergeseran makna carok itu sendiri, menemukan bahwa carok yang dulunya terjadi hanya karena hal-hal serius seperti perebutan perempuan, merebut isteri orang, rebutan tanah warisan, dan lain-lain, sekarang mengalami pergeseran dimana hanya karena salah perkataan atau menerima hinaan yang sepele saja bisa terjadi carok.
PKMP-SH yang meneliti tentang carok ini merupakan salah satu PKM yang bergerak di bidang penelitian dan berhasil memperoleh dana dari DIKTI. PKMP-SH tentang carok ini mengambil tema yang sangat sensitif, tetapi juga menarik yaitu tentang tradisi carok yang ada di Madura, Jawa Timur.
M Fadhillah membenarkan bahwa carok adalah tradisi pembelaan harga diri yang sudah menjadi budaya sangat melekat di daerah Madura, dimana disini jika ada seseorang yang merasa diinjak- injak harga dirinya ia akan menantang berkelahi orang yang
menghinanya tersebut dengan menggunakan senjata celurit.
Carok ini bisa terjadi karena beberapa hal seperti jika ada seseorang yang istrinya direbut oleh orang lain, maka seseorang tersebut tidak segan-segan untuk menantang berkelahi orang yang mengambil isterinya.
”Sebab di daerah Madura harga diri adalah nomor satu dan sangat dijunjung tinggi, tetapi kelompok PKM-SH disini memberikan sentuhan baru dari penelitian-penelitian carok yang sudah ada sebelumnya,” katanya.
Karena itu tim PKMP-SH yang mengupas tentang carok ini, ingin memfokuskan pandangan orang-orang yang berada diluar Madura agar tidak memandang bahwa segala bentuk kekerasan yang dilakukan dengan menggunakan celurit di daerah Madura adalah tradisi carok dan juga ingin memperlihatkan data baru yang belum ada pada penelitian carok sebelumnya, misalnya tentang pergeseran-pergeseran tradisi carok pada sekarang ini yang sudah berubah dari tradisi carok pada awalnya. (*)
Penulis : Bambang ES
Mahasiswa UNAIR Kembangkan Skrup Tulang Anti Bakteri Berbasis Polimer dan Keramik
UNAIR NEWS – Patah tulang merupakan cedera yang lazim dijumpai pada korban kecelakaan. Penanganan kasus ini adalah dengan dilakukannya fiksasi internal tulang menggunakan sekrup dan plat berbasis logam, yaitu platina dan stainstess steel.
Namun, penggunaan kedua bahan ini bukanlah tanpa kendala.
Kendala pertama, meskipun logam platina memiliki sifat mekanik yang baik, tetapi harganya relative mahal. Kedua, penggunaan stainless steel dalam jangka waktu lama bisa menyebabkan korosi yang membahayakan tubuh. Selain itu, metode ini dirasa kurang efektif karena skrup dan plat yang digunakan harus diambil setelah tulang tersambung kembali. Pengambilan sekrup inilah yang kemudian menyisakan lubang pada tulang dan menimbulkan permasalahan baru.
Setelah mempelajari dari persoalan diatas, lima mahasiswa Teknobiomedik, Fakultas Sains dan Teknologi (FST) Universitas Airlangga melakaukan upaya dan menawarkan alternatif solusi dalam penanganan kasus patah tulang dengan hasil penelitian eksakta yang didanai oleh DIKTI Kemenristek Dikti.
Salah seorang dari tim PKMP sedang meneliti di lab di FST. (Foto: Dok Tim)
Penelitian berjudul “Biodegradable Bone Screw Anti Bakteri Berbasis Komposit Nano Hidroksiapatit Poly (1,8 Octadienol-Co- Citrate)” itu dikerjakan oleh Imroatus (Teknobiomedik 2012), Andini (Teknobiomedik 2012), Nurul (Teknobiomedik 2014), Bagus (Teknobiomedik 2014), dan Rhisma (Teknobiomedik 2014) dengan
dibawah bimbingan Dr. Prihartini Widiyanti, drg. M.Kes.
S e k r u p t e r s e b u t t e r b u a t d a r i n a n o h i d r o k s i a p a t i t [Ca10(PO4)6(OH)2] dan POC [Poly (1,8-octanediol-co-citrate)].
Y a n g k e d u a , m a t e r i a l i n i d i p i l i h s e b a g a i k a n d i d a t biodegradable bone screw karena POC memiliki sifat nontoksik, biokompatibel, biodegradable, sintesisnya relative mudah, dan meningkatkan sifat mekanik. Sedangkan nano hidroksiapatit berfungsi sebagai filler karena kompatibel terhadap jaringan tulang. Kemudian kitosan sebagai coating yang bersifat anti- bakteri melalui kelompok amino bermuatan positif yang mengikat muatan negative membran bakteri.
Hasil dari karakterisari sekrup tulang ini memiliki kekerasan 1482,68 MPa, sehingga sudah diatas kekerasan tulang manusia yakni 150-664 MPa dan kekuatan tekan sebesar 8,14 MPa sesuai dengan kuat tekan tulang cancellous antara 2-12 MPa. Sedangkan dari uji anti bakteri, telah terbukti bahwa bahan kitosan sebagai coating ini mampu menghambat pertumbuhan bakteri Staphylococcus aureus di sekitar luka.
”Keunggulan dari sekrup ini diantaranya: biodegradable karena setelah tulang terfiksasi, screw akan terdegradasi dalam sistem metabolisme tubuh, sehingga tidak perlu dilakukan pengambilan kembali,” tutur Imroatus, Ketua Tim PKM Penelitian Eksakta ini.
“Semoga PKMPE (Proposal Kreativitas Mahasiswa Penelitian Eksakta) ini lolos hingga PIMNAS (Pekan Ilmiah Mahasiswa Nasional) ke-29 mendatang, di IPB,” kata Andini berharap. (*) Penulis : Binti Quratul Masrurah
Editor : Bambang Bes
Ciptakan Lingkungan Sehat dengan Mengonsumsi Tanaman Herbal
UNAIR NEWS – Lima mahasiswa prodi Ilmu Kesehatan Masyarakat, Fakultas Kesehatan Masyarakat (FKM) Universitas Airlangga berhasil mengedukasi masyarakat di Kelurahan Banjarsari, Kecamatan Glagah, Kabupaten Banyuwangi untuk berperilaku sehat. Dengan kegiatan bertajuk “HEART” (House of Herbal Tea) diciptakanlah lingkungan sehat dengan membudayakan mengonsumsi tanaman herbal yang sangat potensial di daerah tersebut.
”Rasanya eman (sayang) sekali kalau kekayaan potensi seperti ini tidak bisa dimanfaatkan secara optimal untuk menunjang kesehatan masyarakat,” kata Siti Mufaidah, ketua kelompok Program Kreativitas Mahasiswa Pengabdian Masyarakat (PKM-M) ini. Selain dia keempat temannya adalah Inriza Yuliandari, Ferium Trah Ismaya, Tuhu Uboyo Wicaksono, dan Nilam Yusika Sari.
Bagi mahasiswa FKM UNAIR ini, untuk mewujudkan lingkungan tempat hunian yang sehat harus menciptakan kondisi yang bersih, nyaman, aman, dan sehat untuk dihuni. Sedang lingkungan sehat selalu beriringan dengan kondisi masyarakat yang mandiri, yang salah satu indikatornya dapat dilihat dari ketersediaan sumber daya alam (SDA), sumber daya manusianya (SDM), dan sarana prasarana pendukung kebutuhan masyarakat yang memadai. Selain itu potensi daerah juga harus dimunculkan.
Berdasarkan hasil pengamatan mereka, tanaman herbal di Kelurahan Banjarsari memiliki potensi besar untuk dikembangkan menjadi produk yang lebih praktis dan sehat untuk dikonsumsi guna menunjang derajat kesehatan masyarakat. Sedangkan selama ini banyaknya jenis tanaman herbal di kelurahan ini belum
dimanfaatkan secara optimal oleh masyarakat.
“Melihat potensi seperti itu kami bergerak untuk memberdayakan masyarakat agar SDA yang ada lebih berdayaguna untuk kesehatan masyarakat,” tambah Siti Mufaidah.
Mereka kemudian membuat proposal pengabdian ini dengan judul
“HEART (House of Herbal Tea) sebagai Upaya Pemberdayaan Ibu PKK Menuju Desa Sehat dan Mandiri 2016 di Kelurahan Banjarsari Kecamatan Glagah Kabupaten Banyuwangi.” Dengan salah satu tujuannya agar kegiatan “HEART” (House of Herbal Tea) ini dapat menjadi sarana promosi kesehatan dengan pentingnya mengonsumsi bahan herbal untuk mengurangi penggunaan obat kimia, proposal ini mendapat dukungan dana dari Direktorat Pendidikan Tinggi (Dikti) Kemenristek Dikti untuk Program Kreativitas Mahasiswa (PKM) 2016.
Kegiatan pengabdian tersebut dilaksanakan selama tiga bulan dengan beberapa tahapan pembinaan, mulai dari pra-pengiriman proposal hingga tahap pelaksanaan. Melalui kegiatan ini akan muncul berbagai tujuan yang nanti akan bermanfaat bagi masyarakat. Luaran yang dihasilkan antara lain: terbentuk serta berdayanya ibu-ibu PKK di kelurahan Banjarsari, terbentuknya kelompok diskusi tanaman herbal, terbentuknya duta mother “HEART”, terbentuknya pekarangan toga di setiap rumah, terbentuknya peluang usaha “house of herbal tea”, dan lain-lain.
”Tetapi tujuan khusus kegiatan ini adalah untuk menumbuhkan kesadaran masyarakat tentang pentingnya meminum teh setiap hari dan menciptakan rumah produksi yang bernama HEART (House of Herbal Tea),” tambahnya.
Dengan berdasarkan tahapan yang telah dirancang tersebut, diharapkan tidak hanya masyarakat Kelurahan Banjarsari, Kecamatan Glagah, Kabupaten Banyuwangi yang tertarik untuk ikut serta dalam menyukseskan kegiatan seperti ini demi mencapai derajat kesehatan yang tinggi. (*)
Penulis : Bambang Edy S.
Mengedukasi Siswa ABK Menggunakan Boneka Boncabe
UNAIR NEWS – Diantara Program Kreatifitas Mahasiswa (PKM) 2016 yang diselenggarakan oleh Direktorat Pendidikan Tinggi (Dikti) adalah PKM Pengabdian kepada Masyarakat (PKM-M). Berkenaan dengan itu, salah satu PKM-M karya mahasiswa Universitas Airlangga yang lolos dan memperoleh pendanaan dari Dikti adalah PKM-M “Boncabe” (Boneka Cerdas, Pandai dan Berbakat) dengan tema “Hidup Sehat dan Bersih Bersama Boncabe”. Boncabe ini sudah terbukti mengedukasi anak-anak berkebutuhan khusus (ABK) ketika dipraktikkan di Yayasan Cita Hati Bunda, Sidoarjo.
Tim PKM-M Boncabe tersebut terdiri dari Lidya Victoria (Ilmu Politik FISIP 2013), Fadhli Zul Fauzi (FISIP, Ilmu Politik 2013), Moch. Yazid Abdul Z.A (Fak. Vokasi, Hiperkes dan Keselamatan Kerja 2014), Yasdad Al Farisi (FISIP, Ilmu Politik 2013), dan M. Habib Hidayatulloh (FKM, Kesehatan Masyarakat 2014).
Menurut Lidya Victoria, Ketua Tim PKM-M ini, boneka ini dalam praktiknya disertakan bersama alat peraga yang lain seperti gambar dan video untuk berkomunikasi dengan anak-anak ABK.
Mengapa dipilih alat ini, karena alat peraga seperti boneka, gambar, dan video animasi itu sangat mudah dicerna dan menarik perhatian bagi anak-anak, khususnya ABK.
Seperti diketahui, Yayasan Cita Hati Bunda ini sebelumnya bernama Pusat Pendidikan dan Terapi Anak Berkebutuhan Khusus
“Cita Hati Bunda”, berdiri pada 23 April 2004. Kemudian
diresmikan menjadi badan hukum berupa yayasan dengan nama Yayasan Cita Hati Bunda berdasarkan Akta Notaris No. 25 tanggal 16 Maret 2006 oleh notaris Ony Septy Pontuanto SH.
Dipilihnya Yayasan Cita Hati Bunda sebagai aplikasi Boncabe ini karena di yayasan yang memiliki 20 tenaga pengajar dan 39 murid anak dengan kebutuhan khusus yang berbeda diantaranya 29 anak Autisme, 5 anak ADHD, 2 anak Cereberal Palsy, 2 anak Tuna Rungu, 3 anak Slow Learner, dan 3 anak Down Syndrome. ABK yang ada di Yayasan Cita Hati Bunda ini rata-rata berusia tujuh hingga 15 tahun, dan diantaranya dari keluarga dengan ekonomi menengah kebawah.
Dengan tema “Hidup Sehat dan Bersih Bersama Boncabe”, PKM-M Boncabe ini memiliki empat program kerja yang dilaksanakan dalam delapan kali pertemuan. Pada pertemuan pertama dan kedua dengan program “Boncabe Bersih”, disinilah siswa ABK di yayasan ini diajarkan tujuh langkah cuci tangan, membuang sampah pada tempatnya, mengganti baju kotor dan mandi.
Seusai kegiatan, Tim PKM-M Boncabe membaur bersama siswa ABK di Yayasan Cita Hati Bunda, Sidoarjo. (Foto: Dok Tim)
Pada pertemuan selanjutnya, yaitu pertemuan ke-3 dan ke-4, dengan program bernama “Senyum Ceria Boncabe”, anak-anak diajarkan pentingnya menjaga kesehatan gigi, cara menyikat gigi dengan benar, dan cara merawat gigi yang baik. Pada pertemuan ke-5 dan ke-6 dengan program bernama “Makanan Bergizi Pilihan Boncabe” diajarkan materi tentang pentingnya sarapan dan pilihan menu makanan yang bergizi. Kemudian pada dua pertemuan terakhir dengan tema “Olahraga Rutin, Aktivitas Sehat dan Tubuh Kuat” diberikan materi tentang anjuran untuk berolahraga secara rutin agar bisa selalu sehat dalam menjalani aktivitas sehari-hari.
”Konsep PKM-M Boncabe ini sasaran kami memang agar anak-anak ABK di sebuah sekolah bisa menerapkan pola hidup sehat pada setiap kegiatan dan keseharian mereka, agar kesehatan mereka juga bisa tetap terus terjaga,” kata Moch. Yazid Abdul Z.A menambahkan.
Tim PKM-M Boncabe berharap dengan konsep dan materi Boncabe ini para guru yang ada di Yayasan Cita Hati Bunda dapat terus melanjutkan pelajaran terhadap anak-anak ABK siswanya, meskipun tim PKM-M Boncabe sudah tidak ada di yayasan ini.
Dengan berakhirnya program-program yang sudah diberikan Tim PKM-M Boncabe diharapkan tim mahasiswa UNAIR ini mampu membuat modul dan CD program agar dapat diterapkan pada yayasan- yayasan anak berkebutuhan khusus (ABK) lainnya. (*)
Penulis : Bambang Bes
Mahasiswa FKM Ajak Warga
Arisan Sampah Plastik
UNAIR NEWS – Masalah besar akan selalu diawali oleh hal-hal yang seringkali disepelekan. Salah satu contohnya adalah menumpuknya sampah dan terjadinya banjir dibeberapa kota saat memasuki musim hujan. Hal tersebut merupakan akibat dari sikap acuh tak acuh masyarakat yang membuang sampah tidak pada tempatnya, khususnya sampah plastik yang dihasilkan dari sampah konsumsi masyarakat sehari-hari.
Keprihatinan itulah yang membuat lima mahasiswa UNAIR dari Fakultas Kesehatan Mayarakat (FKM) bergerak untuk melakukan suatu perubahan, kelima mahasiswa tersebut yakni Muafa Mahdi Ramadhan (2015), Muhammad Faris Rasyid (2015), Fenti Nur Aini Amallia (2015), Annisa Dwinda Shafira (2013) dan Miftahol Hudhah (2013). Salah satu perubahan yang mereka wujudkan untuk menanggulangi sampah plastik ialah membuat sebuah terobosan baru yang dinamakan Arisan Sampah Plastik (ASPAL). Inovasi dari kelompok yang tergabung dalam PKM-M tersebut telah disetujui dan akan di danai oleh Dikti.
“Sama kaya arisan pada umumnya, hanya saja ada inovasi lain, kalau biasanya arisan itu ngumpulin uang, kita ngumpulinnya pakai sampah,” ujar Muafa.
Kelima mahasiswa tersebut memilih Kawasan Sidotopo sebagai tempat pengaplikasian inovasi ASPAL, karena di kawasan tersebut terdapat gunungan sampah yang menumpuk dan juga sungai yang tergenang oleh sampah yang sebagian besar merupakan sampah plastik.
Untuk mekanisme pelaksanaan program ASPAL, kelompok PKM tersebut menganjurkan para warga sekitar untuk mengumpulkan sampah plastik di sekitar kawasan tersebut, kemudian Muafa dan timnya akan datang untuk mengumpulkan setoran sampah plastik warga setiap dua minggu sekali.
Di akhir bulan setelah sampah plastik terkumpul, Muafa dan
kawan-kawan menjual sampah plastik yang terkumpul kepada pengepul, lalu hasil jual per orang dari sampah plastik tersebut akan disisihkan 3000 rupiah setiap bulannya untuk iuran arisan. Oleh karena itu, Muafa dan kelompok mengharuskan warga agar setiap bulannya bisa mengumpulkan sampah plastik yang nilai jualnya 3000 rupiah atau setara dengan 1,5 kilogram sampah plastik. Dengan demikian, selain bisa mendapatkan hasil jual sampah plastik, warga juga mendapatkan jatah uang dari arisan bulanan.
Launching kegiatan ASPAL dengan Ketua RW setempat. (Foto:
Istimewa)
Inovasi tersebut mendapat respon positif dari warga sekitar, terbukti dengan banyaknya warga yang bepartisipasi dalam kegiatan program ASPAL ini. Bahkan antusias warga sekitar terlihat dari beragam saran yang diterima oleh kelompok PKM dari UNAIR tersebut, salah satunya adalah usulan agar sampah kardus maupun besi yang tak terpakai juga ikut dikategorikan dalam sampah kegiatan ASPAL.
“Awalnya kita diskusikan dulu, pada akhirnya kita terima tapi tetep memprioritaskan sampah plastik,” tegas Muafa.
Mereka berharap dengan adanya kegiatan ASPAL ini, kesadaran warga terhadap pemanfaatan sampah plastik meningkat dan dapat memberi pandangan kepada warga tentang sampah plastik yang dapat dijadikan kegiatan bernilai ekonomi.
“Kami juga berharap, kegiatan ini tetap berlanjut karena program ini baik untuk masyarakat sendiri, juga untuk mengurangi sampah lingkungan, dan yang kedua, kegiatan ini bisa jadi contoh di kawasan lain dan sebagai percontohan dalam pengelolaan sampah plastik,” pungkas Muafa saat diwawancarai di Radio UNAIR. (*)
Penulis : Faridah Hari Editor : Dilan Salsabila
Hadirkan Varian Baru, Mahasiswa UNAIR Produksi Meises Berbahan Buah Naga
UNAIR NEWS – Seringkali Orangtua kehabisan akal dalam memilih makanan pelengkap yang bergizi untuk anak dengan harga relatif terjangkau. Salah satu makanan yang menjadi favorit anak-anak adalah meises (butiran coklat) karena rasanya manis dan bisa diolah dengan berbagai makanan seperti susu atau roti. Sejauh ini, belum ada inovasi dari varian meises. Hal inilah yang kemudian menginspirasi lima mahasiswa Fakultas Farmasi Universitas Airlangga yaitu Riyantita Tunjung Sari (2014), Alfu Rahmawati (2014), Arnia Nurlitasari (2014), Pingkan Nasuke (2014), dan Citra Dewi Arum Pitaloka (2013) untuk menciptakan varian baru meises dengan bahan dasar buah naga.
Mereka menggunakan buah naga sebagai bahan dasar karena memiliki kandungan vitamin yang banyak, antioksidan tinggi,
dan vitamin C yang tiga kali lebih banyak dari buah jeruk.
“Produk kami namanya Mera-mera. Diberi nama demikian karena warna meisesnya merah seperti buah naga,” jelas Riyantita, selaku ketua tim PKM.
Komposisi dari meises ini terdiri dari buah naga sebagai bahan utama, gula sebagai pemanis, lesitin sebagai pengemulsi, perisa vanili, dan pengawet natrium benzoate. Untuk mendapatkan kandungan gizi dari buah naga, buah terlebih dahulu dimasukkan oven dengan tujuan untuk mengurangi kadar air tanpa mengurangi kandungan vitamin. Selain itu, proses oven ini mengakibatkan warna yang dihasilkan pada meises lebih mencolok. Untuk rasa yang dihasilkan, meises ini memadukan antara rasa manis khas meises dan rasa masam dari buah naga.
Dalam proses pembuatan meises, beberapa hambatan seringkali muncul, salah satunya adalah bentuk meises yang menggumpal karena suhu saat proses oven yang tidak tepat.
Sejauh ini, target pemasaran “Mera-mera” adalah anak-anak.
Untuk itu, tim PKM-K ini membuat kemasan yang unik untuk menarik perhatian anak-anak. Ruang lingkup pemasarannya sendiri tidak hanya di Surabaya, tapi sudah meluas ke Malang, Sidoarjo, Madura, bahkan sampai Thailand.
“Kami berharap ide kami segera mendapatkan hak paten untuk kemudian bisa diproduksi dan dipasarkan lebih luas lagi,”
imbuh Riyantita. (*)
Penulis : Afifah Nurrosyidah Editor : Dilan Salsabila
Program KASIH WUS untuk Tekan Angka Keguguran dan Kecacatan Bayi Lahir
UNAIR NEWS – Beragam pengabdian telah dilakukan oleh sivitas akademika UNAIR. Tidak hanya dosen, banyak mahasiswa yang juga turut andil untuk mengentaskan permasalahan yang ada di masyarakat. Salah satunya adalah yang dilakukan oleh Nurul Tri Wahyudi (FKH/2013), Rizqi Zuoida (FKM/2013), Anjar Ani (FKp/2013), Arya Bagaskara (FKH/2013), Romy Muhammad Dany (FKH/2013). Bertempat di Posyandu Wonokusumo Surabaya, Nurul Tri Wahyudi dan tim melalui Program Kreativitas Mahasiswa – Pengabdian Masyarakat (PKM-M), melakukan program KASIH WUS (Kader Usaha Sehat Wanita Usia Subur), hal tersebut dilakukan sebagai langkah preventif toxoplasmosis guna menekan angka keguguran dan kecacatan lahir bayi.
Nurul Tri Wahyudi yang akrab dengan sapaan Tri mengungkapkan, bahwa ide tersebut muncul dari banyaknya persepsi mengenai kucing yang berkembang di masyarakat. Ada sebagian yang suka memelihara hewan tersebut, ada juga yang sama sekali tidak menyukainya karena faktor kesehatan. Bagi Tri, persepsi tersebut tidaklah salah, kucing memang membawa penyakit, namun pengetahuan tentang cara merawat dan mengantisipasi penyakit yang dibawa sangatlah penting dikenal oleh masyarakat.
“Banyak masyarakat yang enggan memelihara kucing karena bulunya, padahal kotoran kucing itu yang membawa penyakit toxoplasmosis, yang mana penyakit infeksi ini bisa menyebabkan keguguran dan kecacatan lahir bayi,” jelas Ketua Tim PKM tersebut.
Tri dan tim, konsen pada kegiatan tersebut karena penyakit yang dibawa sama berbahayanya dengan HIV/AIDS. Terlebih, kucing merupakan hewan peliharaan yang sangat dekat dengan
manusia.
“Sebenarnya penyakit ini sama dengan AIDS, menurunkan imun, berbahaya lagi saat hamil, bisa keguguran, cacat pada bayi dan keterbelakangan mental,” tegasnya.
Menambahkan pernyatan Tri, Rizqi Zuroida menjelaskan, bahwa PKM-M yang diusungnya bersama tim merupakan tahap pencegahan untuk mengedukasi masyarakat, pasalnya masyarakat Indonesia belum paham dengan penyakit tersebut. Selain itu, demi menyukseskan program tersebut, maka disusun menjadi berbagai tahap, mulai sosialisasi kepada kader posyandu, sosialisasi kepada wanita usia subur, sosialisasi toxoplasma secara umum.
TIM KASIH WUS bersama Anggota BSMI (Foto: Istimewa)
“Pertama kami memang adakan sosialisasi agar mereka paham, setelah itu kami mendatangkan Prof. Dr. Lucia Tri Suwanti, drh., selaku pembina kami, dengan datangnya beliau pemahaman warga agar lebih mantap,” jelas mahasiswa yang akrab disapa Rizqi tersebut.
Rizqi juga menambahkan setelah sosialisasi, tahap selanjutnya yakni membentuk kader. Setidaknya ada 10 orang posyandu, 5 orang volunteer untuk selanjutnya bisa dikembangkan ke RT sekitar.
“Saya harap dengan program ini, Wonokusumo bisa jadi kampung teladan,” tambah Rizqi.
Di akhir wawancara, Tri juga berharap bahwa masyarakat bisa memahami potensi dan bahaya dari hewan yang ada di lingkungan, dengan demikian masyarakat lebih sehat dan terhindar dari kecacatan. (*)
Penulis : Nuri Hermawan Editor : Dilan Salsabila
Mahasiswa FST Temukan Selaput Penutup Organ Pencernaan untuk Atasi Kasus Gastroschisis
UNAIR NEWS – Lima mahasiswa prodi Teknobiomedik Fakultas Sains dan Teknologi (FST) Universitas Airlangga, dalam inovasi penelitiannya berhasil membuat selaput penutup organ pencernaan untuk menangani kasus gastroschisis yaitu kelainan dinding perut yang terbuka. Padahal kasus yang umumnya menimpa pada bayi yang baru lahir itu, di Indonesia masih merupakan kasus dengan resiko cukup tinggi.
Mengapa masih berisiko tinggi, berdasarkan hasil penelitian karena di Indonesia masih banyak terdapat kehamilan usia
sangat muda akibat pernikahan usia dini. Kemudian karena paritas tinggi, yaitu semakin banyaknya kelahiran pada seorang ibu (atau ibu banyak melahirkan) walau hal ini masih ada kaitannya dengan kehamilan pada usia tua, serta karena kekurangan asupan gizi pada ibu hamil.
S e d a n g k a n s a l a h s a t u s o l u s i u n t u k m e n a n g a n i k a s u s gastroschisis tersebut adalah menutupnya dengan selaput penutup organ pencernaan yang bersifat sementara sampai dilakukannya operasi penutupan abdomen pada bayi tersebut.
Tindakan ini dikenal dengan menggunakan teknik SILO (silastic springs-loaded silo).
Hasil temuan Karina Dwi Saraswati (22), Fadila Nashiri Khoirun Nisak (22), Inas Fatimah (22), Fulky A’yunni (21), dan Claudia Yolanda Savira (21) ini bahkan menarik perhatian Direktorat Pendidikan Tinggi (Dikti) Kemenristek Dikti, yang kemudian memberi dana pengembangan penelitian melalui Program Kreativitas Mahasiswa Penelitian Eksakta (PKM-PE). Di bawah bimbingan Dr. Prihatini Widiyanti, drg. M.Kes mereka mengemas hasil penelitian ini dalam judul “Studi In Vivo Poly-Lactid- Co-Glicolic-Acid (PLGA) dengan Coating Kitosan Sebagai Selaput Penutup Organ Pencernaan Untuk Aplikasi Kelainan Dinding Perut Yang Terbuka.”
Diterangkan oleh Karina, sebagai ketua kelompok, pada umumnya SILO tersebut terbuat dari bahan dasar silikon yang bersifat toksik, sehingga kelima mahasiswa FST UNAIR tersebut berhasil membuat selaput penutup organ pencernaan yang terbuat dari bahan Poly-Lactid-co-Glicolic-Acid (PLGA) dilapisi Kitosan yang bersifat biokompatibel (dapat diterima oleh tubuh) dan tidak mengandung senyawa toksik.
“Pemilihan material PLGA ini dikarenakan sifat PLGA tersebut elastis, biokompatibel, serta tahan degradasi dalam waktu yang cukup lama. Selain itu penambahan coating atau pelapisan kitosan ini dimaksudkan untuk meningkatkan biokompatibilitas, meningkatkan proliferasi dan cell attachment, sehingga yang
diharapkan selaput penutup organ pencernaan dapat menutup organ pencernaan sementara sampai pada saatnya dimasukkan kembali ke dalam rongga abdomen,” tambah Karina Dwi Saraswati.
Hasil pengujian gugus fungsi menunjukkan bahwa meningkatnya pita serapan pada bilangan gelombang 1747,50 cm yang merupakan gugus amida I menunjukkan keberadaan kitosan yang terbentuk bersama PLGA. Hasil kekuatan tarik untuk setiap variasi adalah 4,78 MPa (PLGA) dan 12,96 MPa (PLGA-kitosan).
Hasil Uji Sitotoksisitas PLGA-Kitosan menunjukkan persentase batas minimal sel hidup yaitu lebih dari 60%. Ini menandakan bahwa membran Spring-loaded silo ini tidak bersifat toksik.
Selain itu, dari hasil Uji Morfologi tidak terlihat pori pada permukaan silo yang dikarenakan pori membran sangatlah kecil.
Ukuran pori ini sesuai untuk diaplikasikan sebagai selaput penutup sementara organ pencernaan yang memiliki ukuran pori 0,1–10 mikro. Pada saat ini diakui masih dalam tahap pengujian pada hewan coba, tetapi berdasarkan hasil uji secara in-vitro, membran Poly-Lactid-co-Glicolic-Acid (PLGA) yang dilapisi kitosan memiliki potensi sebagai kandidat selaput penutup organ pencernaan yang baik. (*)
Penulis : Bambang Bes
83 Persen Remaja Tidak Bisa Lepas dari Media Sosial Barang Sehari Pun
UNAIR NEWS – Lima “Srikandi” Fakultas Keperawatan (FKp) Universitas Airlangga merasa prihatin terhadap perkembangan
teknologi komunikasi yang sedang berkembang dengan munculnya beragam media sosial (medsos). Sebab pada hakikatnya medsos itu mampu “mendekatkan yang jauh” namun akhir-akhir ini juga
“menjauhkan yang dekat”. Karena itulah kelima mahasiswa ini mengkaji tentang psikologi perkembangan manusia dan merasa terpanggil untuk mencari tahu sejauh mana fenomena medsos ini mempengaruhi proses berfikir dan bersosialisasi kaum muda.
Lima mahasiswa Fak. Keperawatan UNAIR tersebut adalah Siska Kusuma Ningsih, Dinda Salmahella, Evi Nur Laili Rahma Kusuma, Fenny Eka Juniarty, dan Fitria Kusnawati. Hasil kajiannya mereka jadikan proposal Program Kreativitas Mahasiswa – Penelitian Sosial Humaniora (PKMP Soshum) berjudul
“Pengenyampingan Interaksi Sosial secara Langsung oleh Masyarakat sebagai Dampak Munculnya Jejaring Sosial (Medsos)”.
Bahkan hasil kajian tersebut lolos dan meraih dana hibah dari Dirjen Dikti Kementerian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi (Kemenristek Dikti) tahun 2016.
Mereka tak bisa memungkiri bahwa hadirnya medsos punya pengaruh luar biasa terhadap proses sosialisasi masyarakat di era global sekarang ini. “Mendekatkan yang jauh” merupakan kalimat yang mencerminkan betapa medsos ini mampu menjadi wadah yang menghubungkan orang-orang dari berbagai belahan dunia menjadi sangat mudah untuk berkomunikasi.
”Namun bagaimana dengan quote “Menjauhkan yang dekat.” Apakah Anda pernah berpikir lebih lanjut tentang ini? Tentu, ini muncul sebagai momok yang sangat menyakitkan bagi sekelompok yang peduli terhadap sosialnya,” kata Siska Kusuma Ningsih, ketua kelompok tim ini.
KELIMA mahasiswa Fakultas Keperawatan yang meneliti tentang gadget dan lingkungan sosialnya. (Foto: Istimewa)
TAK BISA LEPAS DARI SOSMED
Yang menarik, jawaban atas kuesioner terhadap remaja usia 13-25 di kawasan Kelurahan Mulyorejo Kota Surabaya, dalam intensitas penggunaan medsos selama 24 jam, sebanyak 83%
responden menyatakan tidak bisa lepas dari media sosial miliknya, walau hanya sehari saja. Kemudian 57% responden menyatakan sangat setuju dan pernah mengalami “dicuekin”
(tidak diperhatikan) oleh teman terdekatnya gara-gara asyik bermain media sosial di gadget-nya.
“Fenomena yang sering terjadi pada saat berkumpul, kebayakan hanya terfokus pada gadget–nya masing-masing tanpa memperhatikan apa yang terjadi dan yang sedang diperbincangkan orang-orang di sekelilingnya. Sungguh memiriskan, namun jelas ini banyak terjadi di lingkungan terdekat kita. Artinya, tanpa kita sadari sedikit demi sedikit medsos telah mampu menumbuhkan dampak negatif dan berkembang cepat akhir-akhir ini,” tambah Siska.
Pada orang seperti ini, komunikasi secara langsung tak lagi
memiliki esensi yang bermakna. Mereka beranggapan bahwa mengekspresikan sesuatu yang sedang dirasakannya saat ini melalui sosmed, akan jauh lebih nyaman dan menyenangkan jika dibandingkan harus menyatakan secara verbal kepada orang-orang di sekitarnya. Bahkan parahnya, hanya demi melihat sesuatu yang sedang terjadi dan apa yang sedang nge–hit saat ini, mereka rela untuk tidak bersatu dalam lingkungan sosialnya.
Dalam konteks lebih lanjut, peneliti tidak menyalahkan penggunaan media sosial bagaimaapun bentuknya. Namun yang menjadi perhatian peneliti adalah bagaimana orang-orang bijak mampu menggunakan sosmed secara bijak pula. Berkomunikasi sesuai yang perlu dikomunikasikan melalui sosmed, namun percayalah bahwa berkomunikasi secara langsung dalam lingkup sosial akan jauh memberikan keterkaitan hubungan yang harmonis.
“Update jejaring sosial boleh sih, tapi tetap ingatlah bahwa Anda hidup dalam suatu lingkungan social,” ujar Evi Nur Laili Rahma Kusuma, menambahkan.
Kelima mahasiswa Fak Keperawatan itu berharap adanya penelitian ini dapat tercapainya keseimbangan sosial dari penggunaan sosmed di era yang sedang berkembang saat ini.
Seperti contoh akan lebih memahami arti interaksi sosial yang berintelegensi baik dan dapat mengembangkan kualitas kehidupan, baik untuk dirinya maupun untuk lingkup sosialnya.
Selain itu juga dapat menilai pola penggunaan sosmed yang sedang berkembang, sehingga dapat membentuk pola-pola pemikiran yang kreatif dan berpendidikan dalam mengatasi problematika yang muncul. (*)
Penulis : Tim PKM Sosial Humaniora Editor : Bambang Bes
Prihatin Akan Budaya Mengemis, Pemuda Madura Ikuti Komunitas Binaan Mahasiswa UNAIR
UNAIR NEWS – Semangat untuk mengembangkan pendidikan terus bermunculan dari putra putri Universitas Airlangga. Salah satunya ialah dibentuknya komunitas baru yang bergerak dalam bidang pendidikan, Komunitas Saghara Elmo. Saghara Elmo berasal dari bahasa Madura. Saghara yang berarti lautan, dan Elmo adalah ilmu.
Program Komunitas tersebut adalah mengumpulkan buku-buku dari p a r a d o n a t o r . B u k u y a n g t e l a h t e r k u m p u l k e m u d i a n didistribusikan untuk taman baca di Dusun Kokon, Kecamatan Manding, Kabupaten Sumenep. Ide mendirikan komunitas tersebut bermula dari kegelisahan lima mahasiswa UNAIR yakni Imamatul Khair (Sastra Inggris), Niken Cahyani (Sastra Inggris), Husnul Muasyaroh (Psikologi), Nikmatus Solicha (Ilmu Informasi dan Perpustakaan) dan Arika Kamelia (Akuntansi). Mereka juga bekerjasama dengan komunitas lain dari Jakarta untuk mencapai tujuan mulia mereka.
Iim, sapaan akrab Imamatul Khair, bersama rekan-rekannya kemudian mengajukan ide tersebut untuk dikembangkan dalam sebuah pengabdian masyarakat. Proposal yang ia kirim pada Program Kreativitas Mahasiswa (PKM) Pengabdian Masyarakat berjudul “Saghara Elmo sebagai Upaya Menghilangkan Budaya Bhurmain di Dusun Planggaran, Branta Tinggi, Tlanakan, Pamekasan, Madura”. Proposal tersebut akhirnya diterima dan Dikti bersedia untuk mendanai program tersebut. Hal ini semakin mendekatkan Iim dengan harapannya untuk mengembangkan pendidikan di salah satu wilayah di pulau garam tersebut.
“Daerah tersebut dipilih bukan tanpa observasi terlebih dahulu. Di wilayah tempat kami mengabdi terlihat bahwa sering sekali orang tua mengajak putra putri mereka mengemis (Bhurmain) di wisata Api Tak Kunjung Padam,” ujar Iim selaku ketua kelompok PKM.
Program Komunitas Shagara Elmo yang diberi nama “Minggu Berlayar” tersebut direalisasikan setiap minggunya di MI (Madrasah Ibtidaiyah) Darul Mukhlisin di Dusun Planggaran, Branta Tinggi, Tlanakan, Pamekasan, Madura.
“Program Minggu Berlayar diharapkan dapat menjadi media yang akan mengurangi, bahkan menghilangkan kebiasaan tidak baik di masyarakat daerah tersebut. Dalam Program Minggu Berlayar, kami mengusung perpaduan pendidikan karakter dan akademik secara project-based learning,” lanjutnya kemudian.
Pada tahap realisasi, Komunitas Shagara Elmo memberikan materi pembelajaran yang berbeda setiap minggunya, seperti Fun Science, I-Youth, World Wide, dan Kidspreneur.
Pada Minggu, (8/5) tim pengabdian tersebut mengadakan kegiatan Kidspreneur yaitu melukis Tote Bag. Kegiatan ini mengenalkan tata cara berwirausaha sejak dini kepada peserta didik. Selain itu, Komunitas Shagara Elmo juga turut membangun sebuah perpustakaan yang dijuluki Smart Library. Program Minggu Berlayar juga menyediakan konsultasi materi sekolah di sesi
“Klinik Ilmu”.
Foto bersama anggota komunitas Saghara Elmo dengan anak-anak didikinya (Foto: Istimewa)
Berbagai program yang dijalankan tim disambut baik oleh pemuda lokal Madura. Seiring berjalannya waktu, komunitas ini berusaha untuk mengajak dan merekrut pemuda lokal Madura agar mau bergabung menjalankan program Minggu Berlayar.
Selanjutnya, Iim dan rekan-rekannya dibantu oleh belasan pemuda Madura lainnya untuk menjalankan program ini. Iim dan rekan-rekannya berharap agar Program Minggu Berlayar tidak berhenti ketika program PKM tersebut selesai, namun tetap menjadi sebuah program rutin yang memiliki nilai positif.
“Saya bisa belajar banyak hal dari kegiatan Minggu Berlayar.
Banyak pembelajaran yang saya dapat dari Kakak-kakak di Komunitas Saghara Elmo. Terlebih saya juga sangat senang karena bisa mengabdi untuk memajukan minat anak-anak di bidang pendidikan di Madura,” ujar Sasmitha, salah satu relawan di Program Minggu Berlayar yang merupakan siswa SMA kelas XI. (*) Penulis : Binti Q. Masruroh
Editor : Dilan Salsabila