• Tidak ada hasil yang ditemukan

LAPORAN HASIL PENELITIAN BOPTN UIN RADEN MAS SAID SURAKARTA 2021

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "LAPORAN HASIL PENELITIAN BOPTN UIN RADEN MAS SAID SURAKARTA 2021"

Copied!
111
0
0

Teks penuh

(1)

LAPORAN HASIL

PENELITIAN BOPTN UIN RADEN MAS SAID SURAKARTA 2021

WISATA HALAL BERBASIS TRIPOT (CULTURAL, NATURAL, AND RELIGIOUS/BELIEF TOURISM) SEBAGAI SARANA PENGEMBANGAN DAN PEMBERDAYAAN MASYARAKAT

Diajukan untuk Laporan Hasil penelitian yang dibiayai oleh BOPTN Penelitian DIPA UIN Raden Mas Said Surakarta

Tahun Anggaran 2021

Oleh:

Peneliti:

Ketua

Nama : Prof. Dr. H. Giyoto, M.Hum

NIP : 196702242000031001

Prodi/ Jurusan : Pendidikan Bahasa Inggris Fakultas : Fakultas Adab dan Bahasa

Anggota 1

Nama : H. Ahmad Fauzi, MA

Anggota 2

Nama : Elen Inderasari, M.Pd.

LEMBAGA PENELITIAN DAN PENGABDIAN PADA MASYARAKAT INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI SURAKARTA

TAHUN 2021

A.6

(2)

2 Daftar Isi

Daftar Isi ... 2

BAB I ... 5

PENDAHULUAN ... 5

A. Latar Belakang Masalah ... 5

B. Rumusan Masalah ... 16

C. Tujuan Penelitian ... 16

BAB II ... 17

KAJIAN TEORI DAN LITERATURE REVIEW ... 17

A. Kajian Penelitian Terdahulu yang Relevan ... 17

B. Konsep Tata Kelola Pengembangan dengan Berbasis Tripot ... 18

1. Konsep Monopot (Alam/Budaya/Agama) ... 18

2. Konsep BIPOT (Alam dan Agama, Agama dan Budaya, Budaya dan Alam) ... 19

3. Konsep Tripot ... 20

4. Pariwisata Halal dalam Tatakelola Destinasi Wisata Berbasis Tripot ... 22

5. Tata Kelola Keberlangsungan dengan Pemberdayaan Masyarakat dalam Strategi Pengembangan Berbasis Tripot ... 26

BAB III ... 28

METODOLOGI PENELITIAN ... 28

A. Metode dan Teknik Pengumpulan Data ... 28

1. Lokasi Penelitian ... 28

2. Teknik Pengumpulan Data ... 28

3. Uji Validasi Data ... 29

4. Teknik Analisis Data ... 29

(3)

3

B. Temuan ... 30

C. Karakteristik Lokasi Penelitian ... 31

1. Makam Sunan Muria dan Sunan Kudus ... 31

2. Bayan dan Sembalun di Lombok ... 43

BAB IV ... 47

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN ... 47

A. Hasil Penelitian ... 47

a. Model Tata kelola Pengembangan wisata Halal Berbasis Tripot di wilayah di Jawa dan Lombok tahun 2020 ... 53

b. Strategi Pemberdayaan Partisipasi Masyarakat dalam Pengembangan keberlangsungan destinasi wisata di Jawa dan Lombok tahun 2020 ... 65

B. Pembahasan ... 74

a. Model Tata kelola Pengembangan wisata Halal Berbasis Tripot di wilayah di Jawa dan Lombok tahun 2020 ... 74

b. Strategi Pemberdayaan Partisipasi Masyarakat dalam Pengembangan keberlangsungan destinasi wisata di Jawa dan Lombok tahun 2020 ... 78

BAB V ... 82

KESIMPULAN DAN REKOMENDASI ... 82

A. Kesimpulan ... 82

DAFTAR PUSTAKA ... 83

LAMPIRAN ... 86

1. RAB BANTUAN PENELITIAN ... 86

2. Surat Pengumuman Penandatangan Kontrak Penelitian Litapdimas Lanjutan 2021 ... 91

3. Scan SK LP2M no 223 Th 2020 Ttg Penerima dana bantuan penelitian, publikasi ilmiah dan pengabdian kepada masyarakat dari BOPTN ... 98

4. Lampiran Foto ... 111

(4)

4

(5)

5 BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah

Wisata halal adalah konsep yang secara global telah menjadi tren dengan mengikuti perkembangan model shariah. Perkembangan model syariah sudah terlebih dahulu dimulai di beberapa sektor salah satunya dalam sektor ekonomi, seperti bank syariah, sharia finance, sharia market dan lain sebagainya. Tren wisata halal atau halal tourism menjadi strategi yang tepat untuk dapat menarik perhatian dari 1,8 miliar muslim di dunia yang mampu menjadi target pasar dengan prospek yang baik. Penelitian yang telah dilakukan oleh Bastaman pada 2017 menunjukkan bahwa halal market memiliki keuntungan sebesar US$ 2,1 triliun per tahun dan meningkat menjadi US$500 miliar per tahun karena pertumbuhan penduduk muslim secara global. Bahkan diperkirakan akan mencapai US$30 triliun pada tahun 2050.

Konsep wisata halal ini menjadi daya tarik bagi turis muslim dan non- muslim, hal tersebut dibuktikan dengan perkembangan popularitas wisata halal yang dilakukan oleh beberapa negara dengan mayoritas nonmuslim. Jepang menaruh perhatian besar pada masalah wisata halal yang akhirnya membuat program paket wisata ramah muslim. Misalnya yang dilakukan oleh perusahaan pariwisatanya Miyako International Tourist Co. Ltd. Dengann pola menawarkan wisata halal dengan menyediakan makanan halal, fasilitas beribadah dan lain sebagainya yang mampu memberikan kenyamanan bagi wisatawan muslim. Tidak hanya Jepang, Rusia telah melihat potensi wisata halal dan menarik banyak penutur bahasa Rusia Muslim dan mencoba mempromosikan produk halal di setiap pameran tahunan. Aksi tersebut kemudian diikuti oleh China, Prancis, Turki, UEA, dan negara bagian lainnya yang mulai menyadari pentingnya wisatawan muslim. Selanjutnya, Malaysia telah berupaya memposisikan diri sebagai tujuan wisata Islam dengan melakukan branding yang memberikan image bahwa Malaysia adalah Negara yang tepat untuk mengenal Islam dan sejarah Islam (Bastaman, 2017).

(6)

6

Pariwisata Indonesia dapat mengembangkan wisata halal sebagaimana yang telah dilakukan oleh Malaysia untuk semakin menarik perhatian wisatawan asing. Mengingat Indonesia merupakan negara dengan penduduk muslim terbanyak di dunia. Berdasarkan data Kemendag pada tahun 2018 populasi muslim di Indonesia mencapai 231.069.932 juta jiwa atau 12,7 persen dari total populasi muslim di dunia. Jumlah populasi muslim di Indonesia terus bertambah seiring dengan perkembangan penduduk. Kondisi inilah yang mampu dimanfaatkan oleh Indonesia dalam mengembangkan konsep wisata halal di berbagai wilayah yang mendukung. Perlu diingat bahwa industri pariwisata merupakan tulang punggung devisa negara dan merupakan pemberdayaan masyarakat yang efektif, masif, dan lebih sustainable dibandingkan program lainnya seperti padat karya, pelatihan-pelatihan yang bersifat proyek kegiatan sementara.

Menurut Siti Daulah Khoiriati (dalam Widyastuti dkk, 2018) dengan penduduk muslim terbesar di dunia, Indonesia mampu mengikuti tren dan mengambil bagian dalam pasar pariwisata halal di dunia dengan memperkenalkan konsep halal untuk beberapa destinasi wisata. Dengan bertambahnya persaingan di dunia pariwisata, tidak lagi cukup hanya mengandalkan daya tarik wisata alam dan budaya, diperlukan strategi kreatif untuk menarik wisatawan global yaitu wisata halal. Berdasarkan GMTI 2018 di tujuan Organisasi Kerjasama Islam (OKI) grup, Malaysia terus berada di puncak indeks untuk tahun kedelapan berturut-turut dengan skor indeks 80,6. Malaysia telah berhasil mempertahankan kepemimpinannya sebagai salah satu destinasi terbaik bagi wisatawan muslim ditinjau dari berbagai kriteria yang dianalisis. Indonesia masih peringkat kedua tujuan wisata halal dunia, di bawah Malaysia.

Pada tahun 2015, Mataram di Indonesia memenangkan Penghargaan Destinasi Halal Terbaik 2015 dan Penghargaan Bulan Madu Halal Terbaik 2015 yang diadakan di Abu Dhabi. Prestasi ini menjadi penggerak untuk meramaikan potensi wisata halal di berbagai provinsi atau daerah di Indonesia. Reputasi ini telah digambarkan oleh Travel and Tourism Competitiveness Index (TTCI) di 2017 yang secara resmi dirilis oleh World Economic Forum (WEF). Setelah 2015

(7)

7

posisi Indonesia dari 70 papan teratas meningkat menjadi 50. Ke depan, Indonesia bisa diproyeksikan naik di 30 besar di dunia dan untuk alasan ini, pengembangan sektor pariwisata kemungkinan akan mampu menandingi Thailand atau Malaysia dalam 4 atau 5 tahun.

Indonesia memiliki potensi yang besar untuk mengembangkan destinasi wisata halal bagi wisatawan domestik ataupun asing. Banyak destinasi wisata berbasis Islam yang mampu menarik wisatawan, baik dari segi tempat yang memiliki sejarah Islam ataupun penduduknya yang masih Islami. Seperti di wilayah Jawa yaitu Kota Kudus dan Lombok yang memiliki banyak material destinasi wisata religi sehingga dapat dikembangkan dengan lebih massif demi mendorong perkembangan ekonomi lokal. Wilayah pulau Jawa memiliki banyak situs keagamaan khususnya Islam yang mampu menarik wisatawan lokal maupun asing, misalnya wisata ziarah ke makam walisongo yang setiap tahunnya mampu menarik jutaan turis lokal. Walisongo sendiri merupakan tokoh-tokoh yang memiliki makna mendalam bagi muslim dan makam Walisongo menjadi lokasi utama yang mampu menarik perhatian muslim. Kondisi ini kemudian berkembang dengan tidak hanya fokus ke makamnya saja namun ke lingkungan di sekitar masjid yang tentunya menjadi bagian yang tidak terlewatkan oleh wisatawan.

Selain Jawa yang menjadi bagian daya tarik, pulau Lombok merupakan bagian dari Nusa Tenggara Barat (dulu bagian dari Provinsi Kepulauan Sunda Kecil).

Bedanya dengan Bali adalah masyarakat Lombok memiliki tradisi yang kuat dengan budaya Islam. Kekuatan utama Pulau Lombok adalah keindahan alam yang lebih alami dan masih belum banyak diketahui wisatawan jika dibandingkan dengan Bali. Pariwisata di Lombok berbeda dengan Bali yang mayoritas masyarakatnya beragama Hindu dengan berbagai adat budaya yang melekat, Lombok memiliki ciri khas sendiri dengan budaya dan tradisi Islam yang masih lekat dalam masyarakat. Kedua wilayah, Pulau Jawa dan Pulau Lombok dikenal memiliki tradisi dan cara hidup Islam yang kuat. Kedua pemerintah daerah berusaha untuk mengelola sektor pariwisata sekaligus melestarikan budaya dan tradisi lokal. Salah satu strategi yang diusulkan dan didukung oleh lokal

(8)

8

pemerintah di Pulau Lombok adalah untuk menciptakan dan mempromosikan wisata halal sebagai kekuatan dan daya tarik.

Prestasi yang telah ditorehkan Pulau Lombok adalah dinobatkan sebagai destinasi halal terbaik dunia (Batik the Inflight Majalah, 2016). Strategi Pulau Lombok adalah untuk membedakan Lombok Pulau Bali. Panorama alam Lombok sebagian besar masih tergolong murni, belum terjamah oleh pembangunan modern terlalu banyak, kecuali jalan dan beberapa infrastruktur publik, seperti Bandara. Lombok juga kaya dengan budaya dan kearifan lokal, dari kuliner hingga keindahan alam, sesuatu yang ingin dipertahankan oleh pemerintah.

Branding wisata halal baru ini juga untuk membedakan Lombok dan Kudus dengan destinasi pariwisata lainnya di Indonesia, seperti pariwisata Bali yang dianggap oleh beberapa orang sebagai terlalu barat, seolah-olah Bali telah kebarat- baratan meskipun agama Hindu mengakar kuat pada budaya masyarakat Bali.

(9)

9

Gambar 1 Masjid KunoBayan, Masyarakat Adat Bayan dan Hutan Adat Bayan di Pulau Lombok Sumber: Data Dokumentasi

Pertama pada gambar di atas adalah Masjid Kuno Bayan yang ditetapkan sebagai cagar budaya oleh pemerintah dan merupakan masjid bersejarah bagi adat Bayan.

Masjid tersebut berdiri sejak abad-17 dan bersama dengan masyarakat Bayan menjaga nilai-nilai agama dan adat istiadat yang telah ada. Sementara pada gambar Kedua nampak pada masjid dan menara Kudus didirikan oleh Sunan Kudus. Masjid menara kudus didirikan oleh Sunan Kudus pada tahun 1549 Masehi atau tahun 956 Hijriyah. Berdasarkan sejarah bangunan tersebut

(10)

10

menggunakan bahan batu Baitul Maqdis dari Palestina sebagai batu pertama

.

Serta pada gambar ketiga, situs bersejarah yang ada di Gunung Muria, selain makam Sunan Muria adalah Masjid Sunan Muria yang dibangun oleh Sunan Muria sebagai sarana untuk berdakwah beliau di sekitar lereng Gunung Muria.

Masjid ini berada di Desa Colo, Kecamatan Dawe, Kudus. Masjid ini terletak dipuncak Gunung Muria atau sebelah timur makam Sunan Muria. Sunan Muria yang bernama asli Raden Umar Said ini lahir dan membangun masjidnya tersebut, karena di antara para Walisongo. Masjid ini diperkirakan dibangun pada masa hidup Sunan Muria yaitu sekira abad ke-15 hingga 16. Masjid menjadi simbol dakwah Sunan Muria di lereng Gunung Muria, dalam mendakwahkan Islam kepada masyarakat sekitar yang pada waktu itu banyak yang memeluk Hindu dan Budha.

Esensi pada gambar berbagai wisata di atas baik, Lombok, Kudus, dan Muria menunjukkan bahwa dalam satu lokasi dengan tujuan utama adalah Masjid Kuno Bayan, wisatawan dapat menikmati 3 (tiga) hal sekaligus yaitu religi (masjid), alam dan masyarakat adat setempat. Sehingga dapat dikatakan bahwa pengembangan sektor wisata halal di Lombok mampu mengangkat agama, budaya dan alam dalam satu package yang ditawarkan kepada wisatawan. Sedangkan di Kota Kudus terdapat Menara Kudus dan Makam Sunan Muria yang berada di atas ketinggian dan harus melewati keindahan alam yang dapat dinikmati oleh wisatawan selama perjalanan serta berbagai budaya yang telah mengakat kuat membentuk sebuah kebiasaan untuk melestarikannya salahsatunya acara buka luwur makam para Wali Allah.

Beberapa literature menyebutkan bahwa dalam wisata religi wisatawan akan melihat sisi lain di luar dari sejarah religious yang di datangi, seperti kondisi lingkungan sekitar, masyarakatnya, adat istiadat ataupun budaya yang ada dalam masyarakat (Taylor, 2007; UNEP, 2016; Cortese et al, 2019). Religious tourism can be defined as the visit of sacred places, to participate or follow-up in religious ceremonies and the pilgrimage in the form of visits or activities to fulfill religious duties in the evaluation of tourism understanding (Heidari dkk, 2018).

Artinya wisata religi memiliki fokus pada esensi wisata yang dilakukan yaitu

(11)

11

untuk ziarah, sehingga pemahaman akan wisata religi ini perlu dikembangkan dengan matang agar dapat berjalan dengan baik. Dalam agenda yang di tuliskan oleh United Nation Environment Programme (UNEP) pada 2016 menjelaskan rencana pengembangan lingkungan, religi dan budaya masyarakat dengan menempatkannya pada satu konsep pariwisata. Agenda yang rencananya terealisasikan pada 2030 disini menyasar pengunjung tempat-tempat religi yang di sakralkan seperti gereja, masjid, pura ataupun kuil untuk bersosialisasi langsung dengan masyarakat sekitar. Jurnal yang ditulis oleh Taylor pada 2007 menyebutkan bahwa konsep religi, alam dan budaya memiliki keterkaitan satu sama lain yang tidak dapat dipisahkan, karena ketika berbicara tentang religi maka akan berkaitan dengan habit sesorang dalam kesehariannya dan bagaimana perlakuannya terhadap alam semesta. Cortese et al (2019) menuliskan jika wisata religi tidak hanya melakukan perjalanan secara religious namun wisatawan umumnya akan mengamati kebiasaan masyarakat disekitar lokasi wisata dan tertarik dengan adat yang masih menyatu dengan kepercayaan masyarakat setempat.

Oleh sebab itu, industri wisata halal di Indonesia memerlukan tata kelola yang efektif dalam upaya memberdayakan masyarakat yang relatif pasif. Tata kelola destinasi wisata merupakan hal yang sangat mendasar dalam industri pariwisata. Hal tersebut meliputi perencanaan, pelaksanaan, monitoring, dan follow up yang saling bersinergi satu dengan lainnya. Keberlangsungan tata kelola tersebut memegang peran vital dan sentral yang dapat meningkatkan atau menghentikan kunjungan para wisatawan. Oleh karena untuk meningkatkan keberlagsungan sebuah objek wisata, maka diperlukan perencanaan yang mampu mempertahankan keberlangsungan atau sustainability destinasi, daya kunjung, dan daya tarik wisata. Keberlangsungan ini memerlukan model pendekatan tata kelola yang bertema tinggi baik bagi linkungan alam, keyakinan/agama, adat kebiasaan budaya masyarakat setempat maupun keberterimaan bagi kecondongan ketertarikan pengunjung. Daya dukung ini sekaligus menjadi daya tarik masyarakat yang mencakup: a) daya tarik alamnya, b) adat kebiasaannya, dan c) agamanya; sehingga keberlangsungan destinasi wisata tersebut akan sekaligus

(12)

12

menjadi tanggung jawab masyarakat. Ketika suatu tata kelola destinasi wisata melibatkan dan memasukan ketiga aspek di atas maka tata kelola tersebut memakai strategi pemberdayaan Tripot (tiga potensi: alam, agama, dan adat kebiasaan masyarakat).

Strategi pemberdayaan tripot (tiga potensi: alam, agama, dan adat kebiasaan masyarakat) masih belum banyak diperhatikan oleh pengelola pariwisata di Indonesia, nampak terlihat dari wisata-wisata yang sebagian besar hanya menampilkan satu atau dua potensi saja dan melupakan potensi lain yang mampu dilibatkan. UNEP (2016) justru menekankan bahwa untuk menjaga keutuhan destinasi wisata dapat menggunakan pendekatan culture dan religi sebagai fondasi utama masyarakat agar menjaga lingkungan dan alam disekitarnya. Lingkungan merupakan potensi utama dalam mengembangkan destinasi wisata. Seperti yang diungkapkan oleh Ban Ki-moon, UN Secretary- General dalam Jurnal UNEP “Protecting our environment is an urgent moral imperative and a sacred duty for all people of faith and people of conscience.”.

memeilihara lingkungan adalah masalah moral yang berkaitan dengan kewajiban seluruh umat manusia, dan dalam UNEP ditegaskan bahwa agama dan budaya adalah pondasi utama dalam menjaga dan melestarikan lingkungan.

Kondisi yang kini terlihat di Indonesia adalah mulai banyak destinasi wisata yang terbengkalai, mangkrak atau punah seiring perkembangan waktu.

Kondisi demikian berdampak pada peran alam, budaya lokal, atau agama setempat yang mengiringi. Destinasi wisata Indonesia akan kokoh tatakelola memiliki daya dukung budaya, nilai-nilai kepercayaan, dan alam sekitar. Daya dukung ini mampu menjadi bagian destinasi wisata di Indonesia sekaligus sebagai pendekatan keberlangsungan destinasi wisata. Beberapa contoh objek dan fasilitas wisata yang mangkrak, seperti di: 1) Lombok: ketersediaan layanan jasa hotel yang mulai tidak terawat, sampah dan tiang-tiang kayu yang roboh di beberapa bagian pada Bounty Beach Club Bungalows yang terletak di Gili Meno, Taman Labuhan Haji, telah menghabiskan puluhan miliar juga terancam mangkrak tidak dilanjutkan pembangunannya; 2) Bali: Taman Rekreasi Bedugul Hotel, kawasan rekreasi yang memadukan arena bermain dan pelestarian sejumlah satwa yang

(13)

13

dilindungi itu, sempat beroperasi beberapa bulan akhirnya tidak berlanjut, pengembangan destinasi pariwisata baru mulai banyak di Bali-Nusa Penida tetapi meninggalkan keberlanjutan objek destinasi lama. Pengembangan Pantai pahawang Lambung sepenuhnya belum secara maksimal tersenuh untuk di eksplor pada wisatawan lokal dan luar.3) Kudus: wisata religi dengan istilah wisata ziarah wali sering membawa masalah pelik yakni pola wisatawan yang membuang sampah seenaknya, serta karakter wisatawan yang sangat banyak dengan pola datang untuk beribadah dengan memanfaatkan waktu sebentar tanpa bersifat stay menginap.

Penelitian ini secara khusus mengangkat bahwa konsep tripot (tiga potensi: alam, agama, dan adat kebiasaan masyarakat) adalah strategi pengembangan dan pemberdayaan masyarakat yang ideal dilakukan demi pertumbuhan industri wisata halal secara berkelanjutan. Melihat tingginya animo masyarakat tentang wisata berbasis religi disini dapat dimanfaatkan oleh pemerintah dengan memperhatikan tata kelola masyarakat dan budaya yang ada di sekitar lokasi tempat wisata. Perlunya tata kelola mengidentifikasi destinasi wisata salah satunya dengan upaya interseksi antara kepercayaan/agama dengan budaya dan alam. Pendekatan ini diperlukan dalam perencanaan tata kelola, keberlangsungan, dan pemberdayaan masyarakat. Apabila salah satu dari ketiga unsur di atas berlawanan dengan destinasi maka keberlangsungan kunjungan dan objek tersebut terancam punah akhirnya banyak masyarakat kehilangan mata pencaharian dan tidak terberdayakan.

Penelitian yang banyak dilakukan selama ini berkisar pada monopot yang memiliki daya tarik hanya satu potensi (missal alam) dan bipot yang sudah menggabungkan dua potensi daya tarik wisata (alam dan religi). Berikut adalah penelitian sebelumnya dengan bentuk pembeda dengan penelitian yang akan dilakukan berdasarkan model Tripot mmaksimalkan tiga potensi alam, budaya, religi (kepercayaan).

(14)

14

Tabel 1. Hasil Temuan Berbagai Penelitian Sebelumnya Tentang Pengembangan Tata Kelola Wisata No Potensi Tahun penelitian dan

Jurnal

Peneliti Judul artikel Hasil

1 Budaya (bipot)

November 2019 dalam Journal of Cultural Heritage Tourism

Siamak seyfi, Michael Hall, Mostafa

Rasoolimanesh

Exploring Memorable Cultural Tourism Experiences

Menemukan bahwa pengalaman wisatawan dalam melibatkan dirinya dalam kegiatan budaya membuat kujungannya lebih berkesan bertempat pada situs- situs budaya di Paris

2 Budaya (bipot)

2017 dalam Gadjah Mada Journal of Tourism Study

Aleksandra Drinic

A Review of Cultural Tourism Development Planning

Menjelaskan bahwa ada hubungan yang erat antara daya dukung penguasa pada unsur produk budaya, seperti atraksi, objek budaya, biro wisata, akomodasi, souvenir, promosi, transportasi dalam pengembangan wisata budaya.

3 Budaya (bipot)

2012 International Journal of Culture,

Tourism and

Hospitality Research

Ferhan Gezici

dan Ebru

Kerimoglu

Culture, Tourism and Regeneration Process in Istanbul

Bahwa kebijakan nasional dan lokal dapat membuat pariwisata budaya itu nyata dan tidak nyata berdasarkan review terhadap proyek yang ada yang memiliki berbagai konflik baik konflik konsumsi, ekonomi, produksi, perkembangan ekonomi dan kualitas hidup. Ini semua sebagai reproduksi yang unik dan berseri.

4 Budaya (bipot)

2018, Journal of Hospitality and Tourism

Management

Greg Richards Cultural Tourism: A Review of Ecent Research and Trends

Wisata budaya berkembang karena wisata konsumsi, motivasi budaya, konservasi cagar budaya, ekonomi wisata budaya, antropologi dan ekonomi kreatif.

Perpindahan daya tarik dari nyata menjadi hal-hal yang tidak fisik, lebih ke keaslian/pribumi, minoritas, dan lebih menyebar secara geografis sehingga merubah mobilitas, kreativitas, dan pertunjukan wisata

(15)

15 5 Semua jenis 2009,Tourism

Analysis

Sebastian Vengesayi,

Tourism Destination Attractiveness:

Attracttion, Facilities, and People as Predictor

Menemukan kontribusi utama pada daya tarik suatu destinasi wisata dapat diukur dengan: pertama, daya tarik objek sebagai penentu inti sedangkan fasilitas dan layanan serta tenaga manusia sebagai pelengkap yang saling mengisi.

6 Alam (monopot)

2002, Annal of Tourism Research

Jinyang Deng, Brian King, Thomas Bauer

Evaluating Natural Attractions for Tourism

Mengusulkan struktur hirarkis dalam mengukur area alam yg terlarang dengan menugaskan berbagai proritas pada berbagai unsur strukturnya. Dengan menggunakan standard Deviation Method, Taman Victorian dikategorikan ke dalam empat level.

7 Agama (monopot)

Journal of

Environment

Fariba Azizzadeh

Pathology of Tourist Attraction Problems in St. Mry Chursh of Urmia Iran

Menemukan penyebab terbengkalainya gereja tua sebagai daya tarik destinasi wisata. Penyebabnya adalah birokrasi yang panjang dari kementerian terkait, banyaknya pembatasan kebebasan, jarak yang jauh dari Urmia ke objek wisata lainnya, isu politik di Iran dan efek cuaca yang tidak nyaman.

8 Sosial

Budaya dan alam (Bipot)

Journal of

Environment Management

Yuliia Matvieieva, Luliia Myroshnyc Henko, Larysa Valenkevych

Optimization Model of Socio-Ecological- Economic Development of the Aministrative Territory

Mengusulkan model tata kelola yang imbang antara sosial budaya, alam, dan ekonomi sehingga pemanfaatan anggaran diusulkan untuk menciptkana keseimbangan antara aktivitas sosial budaya, ekonomi, dan aktivitas lingkungan alam.

Penelitian yang akan dilakukan dalam studi ini adalah mencari model tata kelola yang mengintegrasikan tiga potensi alam, agama, dan sosial budaya (adat istiadat) sebagai daya tarik wisata dan sekaligus sebagai strategi pemberdayaan partisipasi masyarakat sehingga keberlangsungan destinasi wisata terjamin dan tidak mahal.

(16)

16 B. Rumusan Masalah

Berdasarkan uraian latar belakang masalah di atas, maka dapat dirumuskan masalah sebagai berikut:

1. Bagaimana Model Tata kelola Pengembangan wisata Halal Berbasis Tripot di wilayah di Jawa dan Lombok tahun 2020?

2. Bagaimana Strategi Pemberdayaan Partisipasi Masyarakat dalam Pengembangan keberlangsungan destinasi wisata di Jawa dan Lombok tahun 2020?

C. Tujuan Penelitian Penelitian ini bertujuan untuk:

1. Menjelaskan Model Tata kelola Pengembangan wisata Halal Berbasis Tripot di wilayah di Jawa dan Lombok tahun 2020.

2. Menjelaskan Strategi Pemberdayaan Partisipasi Masyarakat dalam Pengembangan pengembgan keberlangsungan destinasi wisata di Jawa dan Lombok tahun 2020.

(17)

17 BAB II

KAJIAN TEORI DAN LITERATURE REVIEW

A. Kajian Penelitian Terdahulu yang Relevan

Lingkungan merupakan asset berharga bagi industry pariwisata. Artinya dengan dengan tata kelola yang baik terhadap sector lingkungan maka akan menaikkan nilai pariwisata dan ekonomi yang ada (Glyptou, dkk, 2002).

Begitupula dengan menjaga dan melestarikan lingkungan adalah investasi utama bagi pelaku industry pariwisata demi keberlangsungan pariwisata (Renato Casagrandi dan Sergio Rinaldi, 2002). Perlu ditekankan bahwa keberlangsungan sosial dan ekologi pada pariwisata yang berbasis alam meliputi tumbuh-tunbuhan, tanah, spesies tanaman lainnya dan opini masyarakat terkait konservasi alam dan pariwaisata dihubungkan dengan aspek demografis dan ekonomis (Anne Törn, 2007).

Wacana tentang keseimbangan aktivitas ekonomi, sosial budaya dan lingkungan dapat dilakukan dengan penciptaan model tata kelola yang memperhatikan sosial, alam dan budaya yang berimbang, namun wacana ini belum pernah terealisasikan dan masih dalam tahap usulan. Berkembbangnya sebuah wisata budaya dikarenakan adanya konservasi cagar budaya, ekonomi wisata budaya, konsumsi, antropologi, ekonomi kreatif dan motivasi budaya.

Kreativitas, pertunjukan wisata dan mobilitas menjadi kegiatan yang dilakukan dan dipertontonkan dalam wisata dibandingkan dengan hal-hal yang sifatnya fisik (Greg Richards, 2018). Pembahasan tentang perkembangan pariwisata dengan mengaitkan unsur-unsur kearifan lokal disini pernah dilakukan dengan mengambil lokasi Lombok dan Sumatra Barat yang memiliki konsep wisata halal namun berbeda sama sekali dalam prakteknya. Perbedaan ini terdapat pada keunikan masyarakat dan budaya dari masing-masing tempat dan menunjukkan bahwa konsep wisata yang sama tidak akan menghasilkan produk serupa jika dikaitkan dengan kondisi lingkungan dan masyarakat sekitarnya (Bastaman, 2017)

Penelitian ini sangat berbeda dengan penelitian di atas dimana penelitian ini merancang model pendekatan dengan tiga poin utama keberlangsungan

(18)

18

pariwisata dan pemberdayaan dengan pendekatan Tripot yang meliputi: potensi alam, potensi sosial budaya, dan potensi keyakinan/agama. Dimana ketiganya saling menginterseksi antar satu dengan yang lainnya mendukung keberlangsungan destinasi wisata, dengan tujuan untuk strategi pemberdayaan masyarakat sehingga keberlangsungan destinasi dan indutri wisata dapat bertahan lama.

B. Konsep Tata Kelola Pengembangan dengan Berbasis Tripot 1. Konsep Monopot (Alam/Budaya/Agama)

Wisata alam adalah bentuk kegiatan rekreasi dan pariwisata yang memanfaatkan potensi sumberdaya alam, baik dalam keadaan alami maupun setelah ada usaha budi daya, sehingga memungkinkan wisatawan memperoleh kesegaran jasmaniah dan rohaniah, mendapatkan pengetahuan dan pengalaman serta menumbuhkan inspirasi dan cinta terhadap alam (Anonymous, 1982 dalam Saragih, 1993). Wisata alam merupakan kegiatan rekreasi dan pariwisata yang memanfaatkan potensi alam untuk menikmati keindahan alam baik yang masih alami atau sudah ada usaha budidaya, agar ada daya tarik wisata ke tempat tersebut. Wisata alam digunakan sebagai penyeimbang hidup setelah melakukan aktivitas yang sangat padat, dan suasana keramean kota.

Wisata religi merupakan sebuah perjalanan untuk memperoleh pengalaman dan pelajaran (Ibrah). Wisata religi juga merupakan sebuah perjalanan atau kunjungan yang dilakukan baik individu maupun kelompok ke tempat dan institusi yang merupakan penting dalam penyebaran dakwah dan pendidikan Islam (Shihab, 2007: 549).). Wisata religi dilakukan dalam rangka mengambil ibrah atau pelajaran dan ciptaan Allah atau sejarah peradaban manusia untuk membuka hati sehingga menumbuhkan kesadaran bahwa hidup di dunia ini tidak kekal. Bentuk-bentuk Wisata Religi Wisata religi dimaknai sebagai kegiatan wisata ke tempat yang memiliki makna khusus, biasanya berupa tempat yang memiliki makna khusus. Seperti: (a) Masjid sebagai tempat pusat keagamaan dimana masjid digunakan untuk beribadah sholat, I’tikaf, adzan dan iqomah, (b) Makam dalam tradisi Jawa, tempat yang mengandung kesakralan makam dalam

(19)

19

bahasa Jawa merupakan penyebutan yang lebih tinggi (hormat) pesarean, sebuah kata benda yang berasal dan sare, (tidur). (c) Candi sebagai unsur pada jaman purba yang kemudian kedudukannya digantikan oleh makam.

Wisata budaya adalah kegiatan wisata yang bertujuan untuk mengenai hasil kebudayaan setempat seperti upacara adat, lagu daerah, rumah adat, dan tarian daerah (Soedjatmoto Adiksukarko, 2006). Seiring perjalanan serupa ini disatukan dengan kesempatan–kesempatan mengambil bagian dalam kegiatan- kegiatan budaya, seperti eksposisi seni (seni tari, seni drama, seni musik, dan seni suara), atau kegiatan yang bermotif kesejarahan dan sebagainya.

2. Konsep BIPOT (Alam dan Agama, Agama dan Budaya, Budaya dan Alam)

Terdapat 3 model perpaduan aset atau daya tarik pariwisata di Indonesia, yaitu model Bipot atau Bio-Potensi pariwisata yang mencakup potensi wisata alam dan budaya, alam dan agama, kemudian budaya dan agama.

a. Bipot Alam dan Budaya

Bio-potensi antara alam dan budaya sangat banyak dijumpai di Indonesia.

Kedua paduan aset wisata ini mampu mendorong majunya perekonomian masyarakat dalam sektor pariwisata. Alam sebagai aset penting bagi bangsa jika dipadukan dengan kekayaan budaya akan mengkokohkan pondasi kemajuan bangsa. Dalam hal pariwisata, sebagai contoh yaitu Desa Wisata Sembungan yang merupakan salah satu destinasi wisata alam yang juga dikembangkan dan dikelola secara mandiri oleh masyarakat setempat melalui Pokdarwis (kelompok sadar wisata) di kabupaten Wonosobo memiliki dua aset alam dan budaya. Objek wisata alam di sana adalah Bukit Sikunir dan Telaga Cebong. Namun, sampai saat ini, kekayaan alam dan budaya belum termanfaatkan dengan baik. Minimnya promosi dan pemanfaatan budaya lokal masih menjadi pekerjaan rumah bagi pemerintah dan masyarakat sekitar (Rahayu, 2018: 107). Model pengelolaan Bipot Alam dan budaya di Indonesia sudah banyak dijumpai dan diimplementasikan oleh para pelaku pariwisata. Namun, dalam kenyataannya, pemanfaatan objek wisata masih

(20)

20

kurang maksimal dan seringkali berbenturan dengan aspek kepercayaan lokal masyarakat sekitar.

b. Bipot Alam dan Agama

Bio-Potensi Alam dan Agama adalah perpaduan aset yang mengedepankan kekayaan alam dan kepercayaan keyakinan beragama. Dalam hal ini, unsur alam dan situs keagamaan berperan kritis dalam meningkatkan minat wisatawan suatu daerah. Sebagai contoh, di Ambarawa terdapat sebuah situs keagamaan yang dipadu dengan keindahan alam yang sangat terkenal bernama Gua Maria. Tempat ini menjadi situs ziarah khas umat Katolik, berupa bangunan utama yang dibentuk seperti gua. Kondisi alam berupa gua dan adanya keyakinan keagamaan membuat tempat ini menjadi destinasi wisata yang bermanfaat bagi masyarkat sekitar. Irisan antara alam dan budaya jika dikembangkan dengan serius akan membuat sebuah destinasi wisata menjadi aset kekayaan suatu daerah yang berperan dalam mengurangi angka kemiskinan di Indonesia.

c. Bipot Budaya dan Agama

Bio-Potensi Budaya dan Agama di sini dapat dijelaskan sebagai perpaduan antara potensi kekayaan budaya (kearifan lokal, tradisi, mitos, legenda, dll) dan kepercayaan terhadap ketuhanan/keagamaan. Selain Bali, sebagai contoh penggunaan model bipot ini adalah makam Imogiri, Yogyakarta. Selain budaya jawa yang menjadi magnet wisatawan, tradisi keagamaan (dalam hal ini yaitu prosesi pemakaman) yang menggunakan keyakinan agama Islam dibalut budaya tradisi Islam Jawa lama menjadi agenda pariwisata yang tidak pernah surut sepanjang tahun. Secara singkat, irisan antara potensi wisata alam dan agama cukup mendorong kemajuan pariwisata.

3. Konsep Tripot

Model pengembangan tata kelola Tripot merupakan integrasi atau kesatuan interplay antara potensi daya tarik alam, adat/budaya dan agama

(21)

21

masyarakat yang di dalamnya tidak ada keberlawanan antarpotensi tetapi saling mendukung. Suatu destinasi dengan model Tripot akan mendapat dukungan dan pembenaran dari nilai agama (halal), budaya lokal, dan alam/lingkungan sehingga pariwisata halal dapat dikembangkan dengan pemberdayaan masyarakat. Dengan pemberdayaan masyarakat tersebut melalui rutinitas kehidupannya atau adat kebiasaan maka keberlangsungan dapat diyakini lebih mudah dan lama. Tripot merupakan perkembangan selanjutnya dari model pengembangan tatakelola Bipot, dimana satu destinasi wisata hanya didukung oleh dua potensi, seperti: 1.

Potensi alam dengan budaya, 2. Potensi alam dengan agama, 3. Potensi agama dengan budaya masyarakat. Sedangkan model Bipot merupakan tingkat lebih kokoh daya dukungnya dibandingkan dengan Model Monopot yang hanya memiliki satu titik daya tarik, seperti wisata alam, atau wisata religi, atau wisata budaya.

Berikut merupakan konsep model tatakelola pengembangan destinasi wisata yang berbasis Tripot.

(22)

22

4. Pariwisata Halal dalam Tatakelola Destinasi Wisata Berbasis Tripot Agama merupakan faktor penting yang dapat membantu membentuk budaya, sikap dan nilai-nilai masyarakat. Berdasarkan pada pemahaman Islam tentang Tuhan, manusia dan alam, pariwisata adalah bagian dari agama dan perjalanan mendasar dalam Islam. Perjalanan didorong untuk menjalani hidup sehat tanpa stres, untuk membangun dan memperkuat hubungan di seluruh komunitas Muslim dan memperluas pengetahuan tentang budaya lain dan untuk

“memperkuat subordinasi individu kepada Tuhan melalui pengetahuan tentang keindahan dan kelimpahan ciptaannya” (Hasharina, 2006 dalam Bastaman, 2017).

Istilah wisata halal dalam literatur pada umumnya disamakan dengan beberapa istilah seperti Islamic tourism, syari’ah tourism, halal travel, halal friendly tourism destination, Muslim-friendly travel destinations, halal lifestyle, dan lain-lain. Dari sisi industri, wisata halal merupakan suatu produk

(23)

23

penting dalam menjaga keberlangsungan dan keberterimaan masyarakat sekitar tanpa menghilangkan jenis pariwisata konvensional yang munkin hanya monopot maupun bipot. Agama dan keyakinan masyarakat merupakan aspek penting yang selama ini dinomorsuakan dalam pengembangan dstinasi wisata. Destinasi wisata halal merupakan cara baru untuk mengembangkan pariwisata Indonesia yang menjunjung tinggi alam, budaya dan nilai-nilai Islami tanpa menghilangkan keunikan dan orisinalitas adat dan keindahan alamnya destinasi tersebut.

Fenomena pariwisata tidak hanya terbatas pada jenis ziarah/religi tertentu saja, tetapi berkembang menjadi bentuk baru nilai-nilai universal seperti kearifan lokal, manfaat bagi masyarakat, dan unsur pembelajaran. Dengan demikian bukan tidak mungkin jika wisatawan muslim menjadi pendatang baru pada segmen yang sedang berkembang di kancah pariwisata dunia. Saat ini, wisata Islam dianggap sebagai tempat yang sangat menjanjikan di dalam waktu dekat, mengingat pariwisata Islam telah menerima banyak minat dalam beberapa tahun terakhir.

Menurut Sofyan (2012), definisi wisata syariah lebih luas dari wisata religi, yaitu wisata yang berlandaskan nilai-nilai syariah Islam. Seperti yang direkomendasikan oleh World Tourism Organization (WTO), konsumen wisata syariah bukan hanya muslim tapi juga non muslim yang ingin menikmati kearifan lokal.

Secara kontekstual kriteria wisata syariah adalah berorientasi pada kepentingan publik, memiliki orientasi pencerahan, penyegaran, dan ketenangan, terhindar dari kemusyrikan dan takhayul, bebas dari maksiat, menjaga keamanan dan kenyamanan, menjaga kelestarian lingkungan, serta menjunjung tinggi nilai- nilai sosial budaya dan kearifan lokal. Selanjutnya istilah wisata syariah juga dikenal dengan istilah pariwisata Halal. Wisata halal merupakan konsep wisata baru dan bukan wisata religi seperti umroh dan menunaikan haji. Wisata halal adalah wisata yang terbuka kapan saja meskipun hari libur, dengan menyesuaikan gaya hari libur sesuai kebutuhan dan permintaan wisatawan muslim. Misalnya, hotel yang membawa prinsip syariah tidak menyajikan minuman beralkohol dan memiliki fasilitas kolam renang dan spa terpisah bagi laki-laki dan perempuan.

(24)

24

Selanjutnya, pengkategorian barang dan jasa terkait pariwisata yang dirancang, diproduksi, dan disajikan ke pasar dapat dipertimbangkan di bawah pariwisata Islam atau Halal. Penggunaan terminologi seperti itu sudah umum dalam penggunaan sehari-hari misalnya perjalanan halal, hotel, maskapai penerbangan, makanan dll. Konsep Halal, yang berarti diperbolehkan dalam bahasa Arab, tidak hanya diterapkan pada makanan, tetapi juga mencakup Syariah apa pun produk yang sesuai mulai dari transaksi bank hingga kosmetik, vaksin dan dalam hal ini pariwisata. Hal ini berarti menawarkan paket wisata dan tujuan yang dirancang khusus untuk melayani dan memenuhi kebutuhan Muslim.

Menurut MasterCard & CrescentRating pada Global Muslim Travel Index (2016) ada lima kebutuhan wisatawan Muslim berbasis agama yang perlu dipertimbangkan oleh setiap tujuan wisata halal. Lima kebutuhan berbasis agama diidentifikasi sebagai bidang utama bagi wisatawan Muslim.

a. Makanan Halal

Makanan halal sejauh ini merupakan layanan terpenting yang diperhatikan oleh wisatawan Muslim saat bepergian. Penerimaan berbagai tingkat jaminan makanan halal bervariasi di antara umat Islam. Keberterimaan juga bervariasi tergantung pada wilayah asal musafir Muslim. Memiliki gerai makanan dengan jaminan Halal yang tepat yang mudah diidentifikasi adalah pilihan yang dicari oleh pengunjung Muslim dari Asia Tenggara dan Eropa Barat.

b. Fasilitas Beribadah

Sholat adalah salah satu elemen sentral dari praktik dan ibadah Islam dan itu adalah yang kedua dari lima rukun Islam. Menurut laporan Pew Research Center, 63 persen Muslim melakukan lima doa harian. Saat bepergian, beberapa dari mereka akan menggabungkan beberapa doa dan melakukannya tiga kali sehari. Untuk memenuhi kebutuhan ini, layanan dan fasilitas yang sering dikunjungi oleh wisatawan Muslim perlu dilengkapi dengan mushola. Pertimbangan penting lainnya adalah ritual Wudhu. Wudhu dilakukan sebelum seorang Muslim

(25)

25

melakukan sholatnya. Ini membutuhkan mushola untuk memiliki fasilitas keran untuk berwudhu.

c. Water-usage Friendly Washroom

Bagi umat Islam, air memainkan peran kunci dalam kemurnian dan kebersihan, yang keduanya merupakan aspek inti dari iman.

Kebersihan fisik ditekankan sebagai komponen penting menjadi seorang Muslim. Dengan demikian, perhatian spesial diberikan pada kebersihan di kamar kecil. Ini mencakup penggunaan air di toilet.

Tersedianya keran air bersih adalah salah satu hal yang penting bagi orang Islam.

d. Ramadhan Service

Meskipun umat Islam cenderung jarang bepergian selama bulan Ramadhan, masih banyak yang mencari untuk menghabiskan waktu jauh dari rumah, terutama jika periode ini bertepatan dengan liburan sekolah. Selain itu, semakin banyak Muslim mengambil liburan selama dua festival Muslim. Destinasi yang ingin menarik wisatawan selama periode ini harus mampu mengakomodasi kebutuhan khusus mereka selama bulan puasa. Salah satu contohnya adalah katering Halal sebelum fajar oleh hotel.

e. No-non Halal Activities

Muslim menganggap beberapa kegiatan sebagai 'Haram' atau non- Halal. Ketika datang untuk bepergian, umumnya berpusat pada kebutuhan lingkungan yang ramah keluarga. Karena itu, beberapa Muslim lebih memilih untuk menghindari fasilitas yang menyajikan alkohol, memiliki diskotek, atau berdekatan dengan resor perjudian.

Daya tarik wisata yang dinikmati oleh pengunjung tidak berlawanan dan merusak keyakinan beragama masyarakat atau pengunjung sendiri, sehingga dapat diciptakan destinasi wisata halal. Objek wisata halal ini mencakup, setidaknya, empat objek, yakni: kuliner yang halal (halal to eat), souvenir yang halal (halal to

(26)

26

buy), kegiatan wisata yang halal (halal to do), halal untuk dilihat (halal to see).

Ketika destinasi wisata ini menyediakan daya tarik wisata yang halal maka partisipasi masyarakat sekitar dapat diberdayakan dalam mendukung keberlangsungan destinasi wisata karena kegiatan beragama dapat sekaligus menjadi daya tarik wisata tersendiri. Sehingga ketika daya tarik alam dan daya tarik adat istiadat atau budaya terintegrasi dengan daya tarik kegiatan dan keyakinan beragama maka agama masyarakat sekitar atau pengunjung akan sekaligus melindungi dan memelihara destinasi wissata tersebut.

Desain tripot (tiga potensi yaitu agama, budaya dan alam) dalam wisata halal ini sangat mungkin dilakukan di beberapa destinasi wisata di Indonesia.

Karena umumnya, ketika wilayah memiliki potensi agama yang kuat maka perkembangan budaya dan alam disekitarnya akan mengikuti kondisi beragama dalam masyarakat. Ataupun dalam wilayah-wilayah yang memiliki tempat-tempat sacral maka cenderung akan dijaga dan dilestarikan dengan baik agar tidak merusak atau mencemari. Inilah yang dapat diangkat dalam memahami konsep wisata halal dalam lingkup tripot tersebut.

5. Tata Kelola Keberlangsungan dengan Pemberdayaan Masyarakat dalam Strategi Pengembangan Berbasis Tripot

Keberlangsungan destinasi wisata akan menjadi lebih optimal manakala daya tarik wisata tersebut merupakan kebiasaan atau kegiatan masyarakat setempat baik itu berupa ibadah agama, bekerja, kegiatan adat, atau dalam menjaga keindahan alamnya. Ketika daya tarik wisata tersebut merupakan kegiatan kebiasaan masyarakat maka dengan sendirinya masyarakat akan menjaga, merawat, melindungi dan mempertahankannya sehingga keberlangsungan tersebut tidak memerlukan dana yang besar dalam memelihara keberlangsungannya. Keterlibatan masyarakat dalam memeliharan daya tarik ini dapat digambarkan dalam gambaran berikut ini.

(27)

27

Kegiatan masyarakat dalam gambar tersebut dapat sekakigus menjadi daya tarik wisata di samping sebagai strategi menjaga keberlangsungan destinasi wisata karena partisipasinya merupakan kegiatan rutin masyarakat setempat baik itu berupa profesi, ibadah, atau melaksanakan adat masyarakat. Profesi dapat mencakup petani pada lahan terracing field dalam strategi membentuk lahan untuk bertani atau bahkan tanaman dan hasilnya, nelayan, penjual souvenir, penyedia jasa atraksi wisata dan lainnya. Ibadah rutin sebagai daya tarik wisata dapat berupa ritual hari besar keagamaan baik berupa ritual terkait manusia yakni dari lahir sampai meninggal, ritual keagamaan terkait alam dan ritual terkait langsung dengan Tuhan atau Allah baik yang sifatnya insidental maupun yang memiliki siklus waktu yang periodik. Adat sebagai daya tarik wisata dapat berupa upacara adat baik terkait manusia, alam maupun objek tertentu yang memiliki cerita rakyat yang kuat.

(28)

28 BAB III

METODOLOGI PENELITIAN

A. Metode dan Teknik Pengumpulan Data

Metode yang digunakan dalam penelitian ini yaitu penelitian kualitatif.

Metode penelitian yang digunakan berupa pengembangan untuk menghasilkan produk tertentu, dan menguji keefektifan sebuah produk tersebut (Sugiyono, 2009: 407). Dengan kata lain dalam penelitian ini akan menghasilkan sebuah produk atau hasil berupa Model Tata Kelola Pengembangan Halal Tourism di Pulau Eksotis (Jawa-Lombok) Indonesia Berbasis Tripot (Cultural, Natural, and Religious/belief Tourism): Strategi Keberlangsungan Destinasi Wisata dan Pemberdayaan Masyarakat.

1. Lokasi Penelitian

Pelaksanaan penelitian di Jawa dan Lombok yang memiliki penduduknya mayoritas muslim. Jawa dipilih karena adanya sejarah wali songo yang menyebar Islam dan memiliki beberapa peninggalan baik berupa situs, sikap beragama, ritual keagamaan yang menyatukan adat kebiasaan dengan budaya setempat.

Lombok dipilih dengan pertimbangan bahwa pemerintah provinsi Lombok telah lama menetapkan Lombok sebagai destinasi wisata halal. Objek di daerah tersebut akan diseleksi secara purposive menurut beberapa pertimbangan, yakni: usia destinasi wisatanya, jumlah kunjungan wisata yang relatif meningkat, memiliki daya tarik alam, adat kebiasaan, dan agama. Objek tersebut dipakai sebagai modelling dengan tipe karaketristik yang sama dalam tata kelola tripot.

2. Teknik Pengumpulan Data

Pengumpulan data pada penelitian ini dilakukan dengan menggunakan: 1) Wawancara dilakukan pada informan primer yakni masyarakat lokal setempat, Pemkab, stakeholder, pemuka agama, dan penyedia layanan jasa dan informan sekunder wisatawan domestik dan mancanegara, 2) Observasi, destinasi objek wisata, kehidupan masyarakat lokal, kebijakan pemkab, 3) Angket

(29)

29

(Questionnaire), kisi-kisi Model Tatakelola Pengembangan Halal Tourism di Pulau Eksotis Indonesia (Jawa dan Lombok) Berbasis Tripot (cultural, Natural, and Religious/belief Tourism): Strategi Keberlangsungan Destinasi Wisata dan Pemberdayaan Masyarakat.

3. Uji Validasi Data

Untuk mencapai kevalidan instrumen penelitian yang nantinya akan digunakan dalam penelitian ini, maka instrumen tersebut divalidasi oleh dosen ahli (expert judgment) atau professional judgment. Hasil validasi kemudian dianalisis apakah item-item dalam skala terdapat kesulitan dalam penggunaan kata-kata, bahasa atau pilihan jawaban yang kurang tepat.

4. Teknik Analisis Data

Penelitian ini menggunakan metode penelitian kualitatif dengan analisis data model Miles and Hubermann yaitu model analisis interaktif. Dalam model ini analisis data dapat dilakukan sejak tahap pengumpulan data. Selain itu kesimpulan yang telah ditarik perlu diverifikasi dengan komponen-komponen yang ada dalam model interaktif. Model ini memiliki tiga komponen penelitian:

a. Reduksi Data (Data Reduction)

Pada tahapan ini, data yang diperoleh dicatat dalam uraian yang lebih terperinci. Berdasarkan uraian rinci tersebut kemudian data disederhanakan, yang tidak terpakai dibuang, sehingga data menjadi jelas dan fokus. Data yang diambil berupa deskripsi kondisi objektif tentang (1) kebutuhan model tata kelola halal tourism, yakni makanan dan minuman halal, souvenir yang halal/dibenarkan agama, kegiatan wisata yang halal, dan tontonan yang halal; (2) pelaksanaan strategi pemberdayaan masyarakat, yakni keterlibatan masyarakat dalam memelihara, melindungi, dan beraktivitas pada destinasi wisata tersebut yang juga sebagai daya tarik wisata.

b. Penyajian Data (Data Display)

Pada tahap ini, data yang telah direduksi kemudian dilakukan perakitan data secara teratur dan terperinci sehingga mudah dipahami dan dilihat. Dalam penyajiannya, data diorganisasikan berdasarkan informasi yang ditemukan dengan

(30)

30

cara masing-masing data dijabarkan dan diperbandingkan antara satu dengan yang lainnya untuk dicari perbedaan dan persamaannya. Informasi yang ada diorganisasikan berdasarkan to do, to eat, to see, dan to buy. Selain itu juga diorganisasikan dalam potensi wisata monopot, bipot dan tripot.

c. Penarikan Simpulan (Conclusing Drawing)

Langkah ini merupakan langkah terakhir yaitu penarikan kesimpulan, tentang hasil yang diperoleh sejak awal penelitian. Penarikan kesimpulan dilaksanakan dengan cara menganalisis dari semua hal yang terdapat dalam pengumpulan data, reduksi data dan penyajian data. Setelah dilakukan seleksi, klasifikasi dan analisis terhadap data, kemudian dapat ditarik kesimpulan berupa model tata kelola berbasis tripot. Dari penarikan kesimpulan tersebut maka dapat dilihat apakah komponen tripot telah menyatu dalam satu destinasi ada dan terimplementasi baik secara sadar maupun tidak oleh pengelola atau masyarakat setempat. Analisis kualitatif ini digunakan untuk mengkonfirmasi aspek-aspek pembentuk keberlangsungan destinasi wisata dan partisipasi masyarakat sekitarnya. Hasil dari telaah mendalam ini digunakan sebagai dasar untuk menyusun alternatif tata kelola model tripot.

B. Temuan

Apabila pengelolaan destinasi wisata yang berkembang ini mencakup pengembangan daya tarik alam, agama, dan adat kebiasaan di destinasi tersebut maka dapat ditetapkan model tata kelola tripot merupakan alternatif tata kelola destinasi wisata yang baik untuk pengembangan dan pembukaan destinasi wisata lainnya dan juga dapat digunakan sebagai dasar-dasar edukasi masyarakat pengelola wisata dan masyarakat sekitarnya.

Penelitian ini akan menghasilkan keluaran berupa:

1. Laporan hasil penelitian, bisa dijadikan sebagai model Model Tata kelola bagi Pemprov dan Pemkab khususnya Dinas Pariwisata dalam Bidang “Wisata Halal Berbasis Tripot Sebagai Sarana Pengembangan Dan Pemberdayaan Masyarakat.”

2. Jurnal Nasional atau Jurnal Internasional.

(31)

31 C. Karakteristik Lokasi Penelitian

Penelitian ini mengambil lokasi di wilayah Jawa dan Lombok. Wilayah Jawa disini peneliti memilih Kudus sebagai lokasi penelitian mengingat di Kudus terdapat makam sunan Muria dan Sunan Kudus serta kondisi alam di Kudus yang masih asri dan alami, masyarakat Kudus yang mayoritas muslim. Sedangkan untuk wilayah Lombok yang masih kental dengan adat istiadat, agama dan kondisi alamnya, peneliti memilih lokasi Bayan di Lombok Utara dan Sembalun di Lombok Timur untuk penelitian lebih lanjut.

1. Makam Sunan Muria dan Sunan Kudus

Kota Kudus memiliki sejarah wisata halal yang lengkap dengan kompleks makam Sunan Kudus dan Sunan Muria yang tidak hanya menawarkan wisata religi/ziarah namun juga dapat menikmati keindahan alam dan lingkungan masyarakat sekitar.

a. Pesona Alam Gunung Muria dan Makam Sunan Muria

Muria yang merupakan salah satu nama gunung yang popular di Kudus, pastinya memiliki keindahan alam yang asri lagi sejuk untuk dinikmati. Letak geografis kawasan Muria berada di paling ujung utara di Kabupaten Kudus yang berjarak -+18 KM dari pusat kota. Air terjun montel merupakan salah satu wisata alam di Muria dan ikon air terjun di Kudus yang dapat menarik wisatawan untuk berkunjung. Air terjun montel merupakan air terjun yang cukup besar dibanding dengan air terjun lainnya yang barada di lereng gunung muria yang belum adanya pengelolaan. Air terjun montel berada di antara desa Colo dan desa Japan, kecamatan Dawe, Kab. Kudus.

Lokasinya yang berada di dataran tinggi serta diantara rimbunya pepohonan, dan tanaman hijau menjadikan suasana di wisata ini memiliki hawa yang sejuk dan terlihat alami akan merelaksasi jiwa dan pikiran. Air terjun montel memiliki ketinggian kurang lebih 50 meter dengan debit air yang sangat deras di musim-musim penghujan. Disamping itu di bawah air terjun terdapat kolam alami yang dapat digunakan berselam atau sekedar membasuh muka untuk menikmati segarnya air muria.

(32)

32

Berhubung tata letak air terjun ini berada diantara dua desa, maka wisata ini memiliki dua akses yang berbeda. Pertama, lewat jalur barat atau desa Colo yaitu menggunakan jalan yang serupa dengan jalan ojek kemakam Sunan Muria. Dari tempat parkir sepeda motor wisatawan harus berjalan kaki sekitar 10 menit kearah utara. Kedua, lewat jalur timur atau lewat desa Japan.

wisatawan juga bisa menggunakan jalur ini dengan jalan kaki sekitar 10 menit kearah barat dari tempat parkir motor. Akan tetapi jalan dari arah sini lebih sulit untuk dilalui karena masih jalan satu tapak. Berbeda halnya dengan jalur barat yang sudah dibuatkan jalan sejak tahun 80an. Fasilitas yang tersedia di pariwisata ini antara lain area parkir, mushola, warung makan, kios-kios yang menjual cindera mata, WC, dan penyewaan celana pendek.

Di samping air terjun montel, Wisata alam di Muria juga memiliki sendang Air Tiga Rasa yang lokasinya berada di hutan lindung wilayah perhutani sebelah utara air terjun montel. Desa terdekat dan rute akses untuk berkunjung ke tempat ini ialah melewati desa Japan, kecamatan Dawe. Objek wisata ini sebagaimana air terjun montel, memiliki udara yang sejuk yang mampu merefleksikan jiwa dan pikiran karena berada di tengah hutan dan di kelilingi oleh rimbunan pohon dan tumbuhan hijau yang di lindungi oleh pemerintah. Objek wisata yang telah ramai pengunjung sejak tahun 2000an khususnya pada bulan Muharram ini, terletak disebelah timur laut makam Sunan Muria. Adapun rute dari terminal makam Sunan Muria, kearah timur sekitar satu kilo meter menuju desa Japan, kemudian dari Japan menuju ke Rejenu menembus kebun kopi dan hutan dengan jarak 2 KM. Jalur ke Rejenu meskipun melewati hutan akan tetapi sudah dibuat jalan beraspal sehingga sepeda motor bisa sampai di lokasi.

Sendang Air Tiga Rasa ini ditemukan kembali oleh masyarakat Japan pada tahun 1997 berbentuk sumber mata air dan dibentuk kubangan kecil dengan ukuran 20 cm dengan kedalaman 30 cm untuk menampung mata air tersebut. Setiap kubangan memiliki nama yang berbeda, di ujung timur memiliki nama maa' ad dawa' yang berarti air obat artinya: dengan wasilah

(33)

33

air ini diyakini mampu menyembuhkan semua penyakit, di tengah memiliki nama maa'ad dunya yang berarti air dunia artinya agar semua urusan dunia diberi kemudahan, sedangkan yang bagian pojok barat bernama maa'al 'ilmi yang berarti air ilmu artinya agar diberi kemudahan dalam menerima ilmu.

Pihak pengelola makam syekh Hasan Sadzali, masih membiarkan ke-tiga sendang tersebut masih terlihat alami diantara rerimbunan semak dan pepohonan. Hanya saja bagian lantai dan pagar sendang yang sudah tersusun batu bata dan semen. Sesuatu nilai wisata yang menjadikan sendang ini terlihat unik adalah rasa airnya berbeda-beda meskipun jarak antara ke-tiga sumber mata air tersebut berdekatan. Sarono yang merupakan penjaga makam Syekh Sadzali menyatakan bahwa selama ini air tiga rasa memang dikeramatkan. Dari masing-masing sendang mempunyai rasa yang berbeda, namun rasa tersebut tergantung orang yang meminumnya. Kunardi penjaga makam juga, mengatakan Suatu hari Kiai Basyir Mu'jiz dalail al-khairot dari Jekulo, Kudus pernah berziarah dan mencicipi air tersebut dan beliau menyatakan bahwa rasanya manis. Akan tetapi pernah juga ada pengunjung yang mengatakan bahwa air tersebut rasanya pahit, Masyarakat memiliki keyakinan bahwa sendang air tiga rasa memiliki khasiat yang berbeda-beda seperti: obat dari segala penyakit, mempermudah usaha atau rezeki, dan memberikan kewibawaan. Khasiat air ini telah dibuktikan oleh beberapa pendatang, bahkan ada yang membawa galon untuk membawa pulang air tersebut. Khasiat air tiga rasa ini dipercaya masyarakat dari dulu sampai sekarang, dan dari mulut kemulut. Sesuai penuturan kepala desa japan pada 25 April 2011 "Khasiat air tiga rasa itu kita ketahui justru dari pengunjung, yang mengatakan air tiga rasa dapat digunakan sebagai obat penyakit dalam dan juga penglaris" (Afif Andi Wibowo, 2011:70) Sendang ini juga tidak pernah habis meskipun diambil terus menerus oleh wisatawan di musim kemarau ataupun musim hujan.

Sendang air tiga rasa merupakan peninggalan syekh Hasan Sadzali yang berasal dari timur tengah tepatnya Bagdad, irak. Sejarah syekh Hasan Sadzali tidak ada dalam literatur yang membahas mengenai beliau dan hanya

(34)

34

diketahui oleh cerita masyarakat secara turun temurun. Akan tetapi, meskipun tidak ada yang menulis dalam buku, tetapi sejak tahun 1997an sebelum banyak diekspos oleh media sudah ada pengunjung dari Jawa Timur, Sumatra, dan Jawa Tengah sendiri untuk berziaroh kemakam beliau untuk mencari keberkahan. Sejarah syekh sadzali dari masyarakat sekitar terdapat dua versi. Pertama, beliau adalah seseorang dari Bagdad yang di panggil oleh Sunan Muria untuk membantu berdakwah untuk menyebarkan agama islam.

Akan tetapi, beliau di iri oleh murid-murid Sunan Muria karena khawatir bisa mengungkuli Sunan Muria. Akhirnya beliau diasingkan dihutan sebelah utara makam sunan muria yang bernama gropyok. Dan beliau pindah ke hutan sebelah timurnya yang bernama Rejenu. Nama rejenu sendiri berasal dari tembung jawa resenu yang berarti perihatin.

Kedua, Mengutip dari akun media sosial "Pesona Japan Muria" pada tahun 1920an pernah ada seorang peziarah yang berasal dari timur tengah datang ke tanah Jawa untuk mencari makam leluhurnya. Setelah sampai daerah kudus, dengan didampingi penerjemah bahasa, mereka mencari keterangan dari kiai dan masyarakat setempat dan akhirnya diajak pergi ziarah ke daerah Rejenu. Sesampainya di makam tua tersebut, mereka duduk bertafakur dan membaca beberapa do'a, lalu mengeluarkan sebungkus tanah yang mereka bawa serta beberapa benda lain. Setelah dicocokan dengan tanah yang ada disana dengan cara menjumput dan mencium tanah makam, seketika mereka berseru memuji nama tuhan dan bersyukur karena makam leluhurnya yang telah lama mereka cari akhirnya telah ditemukan. Sejak itu mereka berpesan kepada masyarakat sekitar untuk merawat dan menjaga makam tersebut karena orang yang dimakamkan disitu termasuk wali Allah.

Hal ini diperkuat oleh pernyataan Habib Luthfi Pekalongan, dan kiai-kiai dari jawa timur yang peranah berziarah bahwa di Rejenu memang terdapat makam seorang wali sepuh yang termasuk paling pertama kali ke tanah jawa yaitu syekh Hasan Sadzali. Pada waktu penataan komplek juga ditemukan satu pecahan batu kuno yang berukir tulisan 1267 (samarnya angka terakhir

(35)

35

sehingga kurang jelas untuk dibaca) menjadi bukti dasar bahwa syekh Hasan Sadzali telah ada sebelum wali Sembilan.

Makam syekh Hasan Sadzali yang letaknya berada di tengah hutan mulai dikelola dan dibuatkan bangunan masjid, pagar area sendang tiga rasa dan gapuro oleh bapak Maskat persorangan dari desa Jetak, kecamatan Kaliwungu pada tahun 1997 M. Setelah berjalannya waktu, dan akses jalan sudah bisa dilalui sepeda motor, pengelolaan makam diambil alih oleh yayasan bekerja sama dengan pemilik hutan dan pemerintahan desa Japan, kecamatan Dawe. Misi utama para pengurus makam dan sendang air tiga rasa rejenu ialah untuk menjaga tempat religi di tengah alam ini agar senantiasa dalam ketenangan dan kedamaian, serta menjaga alam agar selalu hijau dan rimbun. Sebagaimana kakbah yang ada penggantian kiswah pada sekala waktu tertentu, pergantian luwur para waliyullah khususnya wali songo, makam syekh Hasan Sadzali juga melaksanakan kegiatan tersebut sejak awal dikelola. Ganti luwur syekh Hasan Sadzali dilakukan setiap tanggal 25 Muharram dengan kegiatan-kegiatan pendamping seperti pembagian nasi berkah, tahtiman Quran di tanggal 24 Muharram, tahlil umum, dan pengajian akbar. Hari-hari ramai pengunjung di makam syekh Hasan Sadzali dan air tiga rasa Rejenu biasanya hari kamis malam jum'at yang kebanyakan ialah rombongan bapak-bapak dan ibu-ibu, pada hari minggu dan hari libur yang kebanyakan anak-anak muda dan keluarga yang ingin berwisata alam dan menikmati secara langsung air tiga rasa ditempatnya. Disamping hari itu, juga ada bulan Muharram yang didalamnya terdapat hari ganti luwur, bulan Rojab, dan bulan Sya'ban.

b. Masjid dan Menara Kudus yang Bersejarah

Kompleks Masjid dan Menara Kudus berada di wilayah Desa Kauman Menara. Kauman merupakan sebuah desa yang berada di kecamatan Kota kabupaten Kudus, tepatnya berada di sekitar Masjid Menara Kudus.

Desa Kauman merupakan desa terkecil di Kabupaten Kudus. Adapun jumlah penduduknya 324 orang terdiri dari 149 laki-laki dan 175 perempuan.

Penduduk desa Kauman 100 persen beragama Islam. Luas wilayah Kauman

(36)

36

yaitu 3,40 Ha, yang terdiri dari 3 Rukun Tangga (RT), 1 Rukun Warga (RW).

Jenis industry yang berkembang di desa Kauman adalah pembuatan rukuh border, kerudung border, konveksi, dan makanan ringan. (Badan Pusat Statistik, Kecamatan Kota Kudus Dalam Angka 2016. BPS Kabupaten Kudus, 2017).

Pada zaman dahulu daerah itu masih banyak orang yang tidak baik abangan. Kemudian setelah kedatangan Sunan Kudus akhirnya daerah tersebut menjadi daerah yang baik atau orang kaum. Mayoritas warga di tempat itu menjadi orang kaum dan ahli agama. Pada waktu selanjutnya desa tersebut dinamakan desa Kauman. Untuk memudahkan masyarakat dalam menyebut desa tersebut maka dinamakan “Kauman Menara”. Kebetulan di daerah ini juga terdapat bangunan Menara Kudus yang didirikan oleh Sunan Kudus. Di samping itu, nama Kauman Menara juga untuk membedakan desa kauman dari daerah yang lain. ( Fathur Rozak, Tokoh Masyarakat Kauman, Wawancara, Kauman, 9 Mei 2017).

Ja’far Shodiq atau yang lebih dikenal dengan sebutan Sunan Kudus adalah putera dari R. Usman Haji yang bergelar dengan sebutan Sunan Ngudung di Jipangpanolan (ada yang mengatakan letaknya disebelah utara di Kota Blora). Silsilah Ja’far Shodiq, Sunan Kudus, ialah:

Sayyid Abdul Muttholib – Sayyid Abdulloh – Sayyiduna Muhammad Rasulullah SAW – Sayyidah Fatimah – Sayyid Husain – Sayyid Ali Zainal Abidin – Sayyid Muhammad Baqir – Sayyid Ja’far Shodiq – Sayyid Ali Al- Aridli – Sayyid Muhammad An-Naqib – Sayyid Isa Ar-Rumi – Sayyid Ahmad Al-Muhajir – Sayyid Ubaidillah – Sayyid Alwi – Sayyid Muhammad – Sayyid Alwi – Sayyid Ali Kholi’Qosim – Sayyid Muhammad Shohibul Mirbath – Sayyid Alwi (makam di Hardro Maut) – Sayyid Abdul Malik (makam di India) – Sayyid Abdullah Khan (makam di India) – Sayyid Husain Jamaluddin / Syekh Jumadal Kubro (makam di Bugis) – Syekh Maulana Malik Ibrahim (Makam di Gresik) – Raja Pendita – Sayyid Utsman Haji – Sayyid Ja’far Shodiq (Sunan Kudus). (H. Hamid Sumardi, Sejarah

(37)

37

Waliyulloh di Kajeksan Kudus yang Menjadi Pejabat Kadipaten Kudus, Kudus : Al Chamidiyyah Press, 2010, hlm 32-33).

Semasa hidupnya Sunan Kudus mengajarkan agama Islam di sekitar daerah Kudus khususnya dan di Jawa Tengah pesisir utara umumnya. Beliau terhitung salah satu ulama, guru besar agama yang telah mengajar serta menyiarkan agama Islam di daerah Kudus dan sekirtarnya. Terkenal dengan keahliannya dalam ilmu agama, terutama dalam ilmu tauhid, usul, hadist, sastra mantiq dan lebih-lebih di daalam ilmu fiqih. Oleh sebab itu beliau di gelari dengan sebutan sebagai Waliyyul ‘ilmi. Menurut Riwayat beliau juga termasuk salah seorang pujangga yang berinisiatif mengarang cerita-cerita pendek yang bersifat filsafat serta berjiwa agama. Diantara buah ciptaannya yang dikenal, ialah Gending Maskumambang dan Mijil. (Solichin Salam, Sekitar Walisongo, Kudus: Menara Kudus, 1960, hlm 47).

Di samping bertindak sebagai guru agama, juga sebagai salah yang kuat syariatnnya. Sunan Kuduspun menjadi Senopati dari kerajaan Islam di Demak. Beliau adalah sosok yang kuat dan gagah berani. Karena keberaniannya yang luar biasa serta kedudukannya sebagai panglima perang, maka tidaklah keliru apabila dikatakan bahwa Sunan Kudus itu adalah senopatinya kerajaan Demak. Beliau setiap saat siap sedia berkorban untuk keselamatan kerajaan Demak. Rupanya memamng Sunan Kudus berdarah militer pula. Hal ini dapat dilihat dari kebiasaan beliau yang senantiasan menegakkan disiplin dan juga selalu taat kepada pimpinan.

Diantara peninggalan Sunan Kudus masih ada sampai sekarang adalah Masjid Menara Kudus yang dulunya Bernama Masjid Al Aqsa.

Bangunan masjid ini dibagun pada tahun 1549 M atau berada di Mihrab masjid. Selain bangunan masjid ada juga bangunan Menara Kudus yang dibangun pada tahun1609 M. Menara Kudus digunanakan untuk muadzin menabuh bedug sebagai tanda masuknya sholat merupakan bangunan yang mendapat seni bangunan zaman pra-islam. Menara dibangun dengan menggabungkan cork arsitektur Candi Jago di Singhasari dan Menara Kulkul di Bali. ( H. Em. Nadjib Hasan dan Maesah Anggni, Op.Cit., hlm. 06). Dari

(38)

38

bangunan ini terlihat bagaimana upaya dari Sunan Kudus untuk menyebarkan agama Islam dngan mengadopsi budaya yang telah lebih lama di Kudus.

Karena sebelum adanya Sunan Kudus, masyarakat masih banyak yang memeluk agama Hindu. Beliau menggunakan cara kebijaksanaan sehingga masyarakat tidak merasa dipaksa dalam memeluk agama Islam. (Fahmi Yusron, Juru Kunci Langgar Bubrah, Wawancara, Kudus, 19 Mei 2017)

Adapun beberapa tempat bersejarah di desa Kauman Menara antara lain adalah:

(a) Masjid Al Aqsho Menara Kudus

Sejarah Al Aqsho Menara Kudus merupakan salah satu peninggalan Sunan Kudus. Masjid ini didirikan pada tahun 956 H atau 1549 M. hal ini berdasarkan pada inskripsi tersebut ditulis dengan bahasa dan huruf Arab yang telah using dan banyak hurufnya yang sudah tidak terang (rusak). Namun peneliti Saudara M. Dzya Shahab mencoba untuk mengartikan dalam Bahasa Indonesia yakni:

“Dengan atas nama Tuhan Yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang. Telah mendirikan Masjid Aqsa ini dan negri Kudus khalifah pada zaman ‘Ulama dari keturunan Muhammad untuk membeli kemuliaan sorga yang kekal…, Untuk mendekati Tuhan di negeri Kudus, membina masjid Al Manar (?) yang dinamakan al Aqsa khalifatullah di bumi ini. ….. Yang Agung dan mujtahid sayyid (tuan) yang arief (maha mengetahui kamil (yang sempurna) Fadhil (yang melebihi) al maksus (yang dikhususkan), bi-‘inayati (dengan pemeliharaan) al Qaadli (penghulu=hakim) Ja’far Shodiq… pada tahun 956 Hijrah Nabi Muhammad SAW.”

(Solichin Salam, Kudus Purbakala Dalam Pejuangan Islam, Kudus: Menara Kudus, 1977, hlm 30)

Pada prasasti inskirpsi berhuruf Arab (candra sengkala lamba) diatas mihrab (pengimaman) Masjid Al Aqso Menara Kudus tertulis bahwa Qadli Ja’far ash-Shadiq (Kanjeng Sunan Kudus) membangun Masjid Al-Aqsha dan daerah Kudus pada 19 Rajab 956 Hijriyyah, bertepatan dengan hari Selasa Legi 23 Agustus 1549 Tahun Umum (TU). Hari jadi Masjid Menara Kudus inilah sebagai symbol berdirinya kota Kudus, satu-satunya nama kota di Indonesia yang menggunakan Bahasa Arab (al-Qudsy). Masjid Menara Kudus adalah artefak fisik

Gambar

Gambar 1 Masjid KunoBayan, Masyarakat Adat Bayan dan Hutan Adat Bayan di Pulau Lombok  Sumber: Data Dokumentasi
Tabel 1. Hasil Temuan Berbagai Penelitian Sebelumnya Tentang Pengembangan Tata Kelola Wisata  No  Potensi   Tahun penelitian dan
Gambar 2 Reruntuhan Pasca Gempa di Masjid KunoBayan  Sumber: Data Dokumentasi
Tabel 4  Peran Stakeholder
+5

Referensi

Dokumen terkait